Puisi di Santarang Edisi Oktober 2016

Oleh #MariaPankratia

Menunggu Ibu Mati

Bertahun-tahun lalu, kegemaran Ibu adalah membikin aku panik
Jika Ibu harus mandi tengah malam, selalu ada cerita yang mengikuti
bahwa ia akan segera mati
Jika Ibu sedang tak enak hati dan mengklaim dirinya sendiri frustrasi,
selalu ada cerita yang mengikuti bahwa ia akan segera mati
Jika Ibu sedang gelisah atau bingung, selalu ada cerita yang
mengikuti bahwa ia lebih baik mati saja
Ibu memiliki cita-cita untuk mati muda sehingga dapat memantau
kesedihanku akan kehilangan dia
Namun, hingga kini, Ibu tak kunjung mati
Maka, ketika Ibu mengulang lagi cerita-cerita yang bagiku selalu
sama saja
Aku tak lagi cemas, aku memilih menyumbat kupingku dengan suara
erangan birahiku sendiri
Sebab, aku bukan cuma bosan melainkan juga menunggu kematian
yang sesungguhnya mendatangi Ibu
Atau, sebaiknya aku mati lebih dulu?

Ende, 2016

Harus Pulang

Di kotaku, laut seperti tumpah
Sebab punggung-punggung bukit yang menjulang menumpuknya
begitu rupa
Seolah atap-atap kediaman dinaungi biru samudera
Di kampungku, sumber-sumber mata air bergejolak keluar dari cerukceruk pegunungan
Seumpama orgasme yang melesak kasar dan tak kunjung usai
Dan kamu masih khawatir bertanya ―untuk apa kamu pulang, Mar?

Ende, 2016

Menara Jiwa

Jika aku harus kembali
Rumah adalah tempat lulus uji
Atas genangan air mata dan gulungan benang tawa yang entah kapan
selesai
Pulang tidak pernah menjadi pilihan
Karena rumah bukan tujuan atau pun pesinggahan
Rumah adalah menara kekekalan
Di mana sukma hidup; menjalar menjelma kerinduan
Rindu yang tak kunjung selesai

Sumba, 2016


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *