Mari Merayakan Nyepi di Google

Mari merayakan dan memaknai Nyepi di Google, rumah bagi banyak orang, rumah kita yang baru.

Google adalah ranah di mana segala narasi hidup kontemporer kita muarakan, tempat segala ketidaktahukan kita tanyakan, kita kembalikan, kita awalkan.

Mesti diakui, Google telah bergerak menjadi “kawitan” baru bagi kita.

Mari kita mulai merayakan dan memaknai Nyepi di Google ini dengan memasukkan kata kunci “sejarah nyepi” di kotak persegi panjang yang kosong dan ajaib itu. Enter, lalu buka salah satu hasil penelusuran, kita akan menemukan narasi ini: Konflik antarsuku yang berkepanjangan di India, perebutan kuasa, terbentuknya kelompok-kelompok kepercayaan keagamaan yang berbeda, krisis sosial yang mengguncang.

Lalu semua diakhiri oleh kemenangan Suku Saka, di bawah kuasa Raja Kaniskha I, yang dinobatkan pada pinanggal kapisan Caitramasa 1 Saka (tahun 78 M). Kuasa Raja Kaniskha I membawa sebuah tatanan baru ke arah kebersamaan, kedamaian, toleransi, kerukunan.

Jika narasi di atas benar adanya, maka selain sebuah monumen kebangkitan ke arah tatanan baru yang damai, Nyepi sebagai perayaan tahun baru Saka adalah juga prasasti bagi sebentuk kekuasaan baru. Ia yang kita rayakan sebagai momen untuk mulat sarira, punya dimensi perebutan hegemoni di belakangnya. Ia yang kita maknai filsafat, memiliki jejak politik.

Saya teringat sebuah pemeo yang entah kapan dan di mana saya pernah membacanya: “Bahkan bertapa sendiri di hutan rimba pun, manusia tidak bisa bebas dari politik.”

Membaca narasi tentang asal usul penanggalan Saka di atas, saya teringat sejarah Pura Samuan Tiga. Ada keserupaan narasi antara keduanya. Pura yang terletak di wilayah yang diduga sebagai pusat pemerintahan Bali Kuna ini adalah sebuah situs musyawarah, di mana konsepsi Tri Murti di Bali bertonggak. Inilah situs dialog antar-yang-berbeda, namun bukan medan perang seperti yang melatarbelakangi tatanan baru yang dikomandoi Kaniskha I.

Pasamuan Agung yang dipimpin Mpu Kuturan di Pura Samuan Tiga dilatarbelakangi oleh riak-riak konflik antarsekte—yang jumlahnya dianggap terlalu banyak—di Bali ketika itu. Musyawarah besar ini kemudian melahirkan konsepsi anyar, semacam orde baru, yang kita gunakan hingga kini di Bali: Kahyangan Tiga.

Tatanan baru ini artinya meleburkan seluruh sekte, dan mengarahkannya untuk mengutamakan tiga dewa. Ada narasi penyeragaman di sini. Ada pemerian tentang penyamaan, bukan memelihara yang berbeda. Dengan bahasa yang lebih diplomatis: yang dipilih untuk meredam ledakan konflik antarsekte adalah pengerucutan dari banyak sekte (artinya, masing-masing memuja dewa utama) menjadi aliran tunggal dengan tiga dewa utama.

Untuk menuju tatanan damai, tentu rapat besar di Pura Samuan Tiga tidak lepas dari narasi kuasa politis. Penyeragaman adalah sebuah strategi politis. Konon ketika itu pemegang kendali Bali adalah Gunapriyadharmapatni dan Udayana, yang mengangkat Mpu Kuturan sebagai senapati sekaligus ketua dewan penasihat kerajaan yang membawahkan para senapati dan pendeta istana lainnya.

Konon pula sebelumnya, ketika masih di Jawa, Mpu Kuturan adalah seorang kepala pemerintahan di Girah. Dalam tubuh Mpu Kuturan bukan hanya ada kualitas kapandhitan, namun juga dimensi seorang politikus. Bahkan seorang politikus ulung, sebab dialah arsitek musyawarah agung itu.

Aji Saka
Kembali ke “sejarah nyepi” menurut Google. Setelah narasi tentang Kaniskha I, Google memberikan kita saran sosok yang berkali-kali disebut: Aji Saka.

Konon, ia adalah seorang pandhita yang tiba di Jawa pada tahun 456 M untuk menyosialisasikan sistem kalender Saka, termasuk perayaan pergantian tahunnya, yang kini kita kenal sebagai Nyepi. Jika mengikuti angka tahun kisah ini, maka umat Hindu di Jawa baru mulai mengetahui penanggalan Saka saat sistem itu sendiri telah berumur 378 tahun.

Pada sosok Aji Saka ini, kita menemukan jembatan antara peradaban sistem waktu nun jauh di India dengan yang kita pakai hingga saat ini di Bali.

Siapa sih Aji Saka ini?

Tampaknya, dialah pahlawan utama yang membuat kita bisa merayakan Nyepi hingga hari ini di Bali. Mari kita masukkan keyword “aji saka” ke dalam kotak ajaib Google. Enter, buka hasil teratas, kita diberi pemerian tafsiran ini: Aji Saka berasal dari Jambudwipa (India), seorang keturunan Suku Saka.

Ia jadi simbol kedatangan dharma (ajaran Hindu dan Budha) ke Tanah Jawa, dan karena namanya Saka (bahasa Jawa: pangkal), ia ditafsir sebagai tonggak peradaban dan tatanan baru di Tanah Jawa yang sebelumnya dikuasai raja raksasa yang zalim.

Pada sosok Aji Saka, kita bertemu lagi dengan narasi tentang tatanan anyar, ketenteraman baru, peradaban mulia, paralel dengan narasi tentang Raja Kaniskha I dan Mpu Kuturan. Dan Aji Saka juga tak lepas dari dimensi politik. Setelah mengalahkan Dewata Cengkar, sang raja raksasa zalim, ia kemudian mengambil alih tampuk kuasa atas Tanah Jawa (Medang Kemulan).

Kuasa mesti diraih untuk menyebarkan suatu tatanan baru. Kekuasaan baru hampir selalu identik dengan tatanan baru.

Yang menarik, Aji Saka juga dianggap sebagai asal-muasal carakan, sistem aksara yang dipakai hingga kini di Jawa, Sunda dan Bali. Aji Saka, sebagai tonggak peradaban, membawa aksara sebagai simbol peradaban.

Dari sini kita menemukan simpul pemaknaan sastra sebagai sebagai simbol luhur dan core dari suatu peradaban. Konon, carakan adalah prasasti yang ditulis Aji Saka untuk menghormati kesetiaan dua abdinya yang gugur karena pertarungan keduanya, yang konfliknya berpangkal pada kesalahpahaman atas tugas yang diberikan Aji Saka sendiri terhadap keduanya.

Tonggak aksara, sastra, sebagai pangkal peradaban, di sini dinarasikan sebagai sebuah penghormatan, pemuliaan. Namun kita tahu, ketika sastra masuk ranah politik, ia menjadi silat lidah, lidah yang lebih tajam dari silet.

Prasasti yang ditulisnya itu berbunyi: ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga. Inilah carakan atau 20 aksara Jawa, yang jika diuntai akan menjadi kalimat, “Hana caraka, data sawala, padha jayanya, maga bathanga.” Artinya, “Ada (dua) utusan (yang) punya perselisihan, sama-sama tangguh, (dan) inilah mayat (mereka).”

Anehnya, di Bali kini kita hanya mengenal carakan yang berjumlah 18. Aksara dha dan tha tidak ada dalam carakan Bali (namun masuk dalam kategori khusus). Saya sering berseloroh tentang hal ini: mungkin keduanya tenggelam di Selat Bali saat diangkut dari Jawa. Pada dasarnya yang terjadi adalah bahwa, tidak sebagaimana bahasa Jawa, bahasa Bali tidak membedakan ucapan antara da dan dha, serta ta dan tha.

Aji Saka, Syaikh Subakir dan Nabi Ishaq
Mari lihat-lihat lagi penelusuran Google tentang Aji Saka. Ada nama Jaka Linglung di sana, varian lain dari legenda Aji Saka di Jawa.

Abaikan hasil penelusuran Aji Saka sebagai nama kereta kelas ekonomi. Yang menarik bagi saya, Google menyajikan hubungan Aji Saka dengan Syaikh Subakir dan Nabi Ishaq. Ini tiba-tiba saja mengingatkan saya pada narasi tentang Borobudur sebagai peninggalan Nabi Sulaiman.

Lalu memori saya terbawa kepada narasi protes terhadap sinetron Angling Dharma pada 2002 dan 2011. Memang, rumah Google yang penuh hyperlink itu bisa menyinggahkan memori kita ke mana-mana. Tinggal klik saja, maka kita bisa keluyuran.

Oke, mari klik satu tautan tentang Aji Saka dan Syaikh Subakir. Narasi yang kita temukan adalah pemerian tentang nama Aji Saka yang tidak lain adalah gelar dari Syaikh Subakir, spesialis ekologi Islam kelahiran Persia yang dulu berdakwah di sekitar Magelang. Lalu tentang hubungan Aji Saka dengan Nabi Ishaq, narasi yang disajikan Google menguraikan tentang Aji Saka yang ditafsirkan sebagai Haji Saka, yang merupakan keturunan Nabi Ishaq.

Saya tidak paham dan tak punya pengetahuan tentang narasi-narasi ini, dan terlalu sensitif jika dibahas berpanjang-panjang.

Namun saya membaca Jawa sebagai ranah yang menarik justru karena banyaknya narasi yang tumpang tindih semacam itu. Narasi-narasi seperti di atas hampir lumrah di Jawa. Tentang asal usul wayang Jawa, misalnya, Sunan Kalijaga yang dipercaya sebagai pembaharu wayang Jawa diceritakan sebagai pangkal penafsiran Kalimasada (pusaka sakti yang dipegang Yudistira) sebagai “kalimat Syahadat”.

Kisah pertemuan Yudistira dengan Sunan Kalijaga termaktub dalam Serat Centhini, di mana Yudistira menjelang ajalnya menyerahkan Kalimasada kepada Sunan Kalijaga, dan sang sunan lalu memakamkan jenazah Yudistira secara Islam.

Saya membaca narasi-narasi yang demikian paralel dengan narasi tentang kedatangan suatu tatanan baru, peradaban baru, yang niscaya membawa (atau dibawa oleh) kekuasaan baru, kekuatan politik baru. Kuasa baru selalu mencoba membuat narasi-narasi agung untuk ditanamkan kepada rakyat, atau merebut narasi-narasi yang telah tertanam mendalam di benak rakyat dan kemudian mengkonstruksinya sebagai bagian integral dari tatanan baru yang dibawanya. Kita mesti menyadari bahwa dengan cara-cara demikianlah dinamika sejarah peradaban kita di bumi ini berjalan.

Nyepi di Bali
Oke, lewat Google saya jadi keluyuran dan melantur ke mana-mana. Kepala saya terlalu disetir oleh silang sengkarut hyperlink. Saya ingin mengakhirinya. Saya kosongkan kotak ajaib Google, lalu ingin kembali ke topik Nyepi dengan memasukkan kata kunci “nyepi di bali”.

Wow! Saya menemukan hasil fantastis: berbagai tawaran paket wisata di hotel-hotel saat Nyepi di Bali! Rupanya hasil saya mengulik sisi politis yang melekat pada sejarah Nyepi kalah pamor dibanding narasi tentang dimensi ekonomis di balik Nyepi bagi para penguasa kapital! So, mari merayakan (wisata) Nyepi di Bali.

Oke, Google, tunjukin promosi paket wisata Nyepi murah di Bali. [b]

The post Mari Merayakan Nyepi di Google appeared first on BaleBengong.

Ketika Pengerupukan, Ogoh-Ogoh dan Perayaan Nyepi menjadi Hal yang Biasa

Selamat Tahun Baru Caka 1939 untuk semeton tiang sareng sami, pengunjung halaman www.pandebaik.com dimanapun kalian berada. Ini adalah kali kesekian perhelatan Hari Raya Nyepi yang kami lalui tanpa kesan… Ya, Tanpa Kesan. Pengerupukan yang diramaikan oleh pawai Ogoh-ogoh sejak sore hingga dini hari, sehari sebelum Nyepi, kami lalui dengan melaksanakan Upacara sejak pagi hingga siang, […]

Trinity The Nekad Traveler “bukan sekedar film traveler”

Sejak dirilis pada 16 Maret 2017 lalu, film Trinity The Nekad Traveler tercatat sebagai film yang patut diperhitungkan diranah perfileman Indonesia, bagaimana tidak 11 hari pasca peluncurannya di kota-kota besar termasuk pulau Dewata Bali animo penonton cukup tinggi. Film yang diangkat dari kisah nyata traveler blog dan buku bestseller “the naked traveler” karya dari Trinity […]

Tips Ringan Menikmati Nyepi Sehari di Bali

Tradisi Hari Raya Nyepi sebagai Tahun Baru Caka Umat Hindu di Bali, sebentar lagi bakalan kita jelang bersama. Bagi kalian yang lahir, tinggal dan besar di Bali, saya yakin rasa Toleransi yang ada dalam diri sudah tidak ada masalah lagi. Meski agama dan kepercayaan yang dianut berbeda sekalipun. Akan tetapi bagi kalian yang baru saja […]

Switch Off 2017 Ajak Warga Bali Hemat Energi

Kampanye Switch Off untuk mengampanyekan hemat energi. Foto Herdian Armandhani.

Komunitas Earth Hour mengadakan kembali Kampanye Switch Off. 

Kegiatan tahunan ini dipusatkan di Lippo Mall Kuta Jalan Kartika Plaza, Kuta, Kabupaten Badung pada Sabtu (25/3) 2017. Switch Off merupakan kegiatan mematikan lampu selama satu jam.

Waktunya dari pukul 20.30 WITA hingga 21.30 WITA.

Kegiatan Swich Off serentak dilakukan di 35 Kota di Indonesia dan Kota-Kota lainnya di seluruh dunia. Kegiatan Switch off di Lippo Mall Kuta dihadiri ratusan masyarakat yang berdomisili di Denpasar dan Badung.

Tak ketinggalan berbagai Komunitas turut meramaikan kegiatan ini mulai dari Komunitas One Piece Dewata Bali, Komunitas Rotaract Club Bali Area, Komunitas Kawan Kita, Komunitas Receh Indonesia Regional Bali, Komunitas Leo Club Bali Shanti, Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara, WWF Bali, Marine Buddies Denpasar, Teman Edukasi, dan Komunitas Sobat Bumi.

Para tamu undangan beberapa jam sebelum perayaan Switch Off 2017 dihibur dengan aksi atraktif Marching Band Universitas Udayana, Tarian Tradisional dari Penari Ikatan Mahasiwa Sumatera Utara, Fire Dance, dan Zumba bertema Glow in the Dark.

Tamu undangan tampak begitu menikmati sajian hiburan yang dikemas dengan menarik. Turis asing pun banyak yang mengabadikan sajian hiburan pihak penyelenggara kegiatan Switch Off 2017 bahkan sampai berselfie ria.

Koordinator Earth Hour Kota Denpasar, Andri Purba dalam sambutannya mengatakan ucapan terimakasih kepada seluruh Masyarakat Bali dan Komunitas yang turut andil untuk melakukan kegiatan Switch Off 2017.

Kegiatan Switch Off 2017 bukan saja kegiatan mematikan kegiatan mematikan lampu selama satu jam saja tetapi bisa mengubah gaya hidup kita untuk hemat energi 1 jam setelahnya seperti menyalakan listrik seperlunya saja, tidak menggunakan air secara berlebihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan mengurangi penggunaan kantung plastik saat berbelanja.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakata Bali dan Komunitas yang turut andil datang dalam perayaan Switch Off 2017. Kegiatan ini tidak hanya mematikan lampu selama satu jam, namun bisa mengubah gaya hidup kita untuk hemat energi seperti menyalakan listrik seperlunya saja, tidak menggunakan air secara berlebihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan mengurangi penggunaan kantung plastik,” ungkapnya.

Sementara itu, Muhammad Erdi Lazuardi selaku Project Lead Leser Sunda WWF mengatakan bahwa satu jam mematikan lampu adalah simbol bijak menggunakan energi listrik, BBM , dan sumber energi lainnya. Satu jam tidak akan berarti bila tidak ada aksi. WWF turut serta ikut mendukung dalam gerakan Switch 0ff 2017. WWF memberikan ucapan terimakasih setinggi-tingginya bagi Masyarakat Bali di Bali dalam perayaan Hari Nyepi karena ikut andil besar dalam hemat energi.

Banyak saudara-saudara di luar Indonesia yang pasokan listriknya terbatas bahkan ada yang belum teraliri energi listrik.

“Mematikan lampu adalah simbol bijak menggunakan bijak energi, WWF sangat mendukung kegiatan Switch Off 2017, Kami ucapkan terimakasih unuk masyarakat Bali yang merayakan Nyepi karena Nyepi ikut andil dalam kegiatan hemat energi. Banyaka saudara kita di Indonesia yang krisis energi listrik bahkan ada yang belum teraliri listrik,” tuturnya

Erdi menambahkan bahwa kegiatan Switch Off 2017 adalah momentum masyarakat Indonesia khususnya di Bali untuk bisa bijaksana dalam penggunaan energi listrik.

Detik-detik jelang kegiatan Switch Off pihak panitia sudah membentuk kartus putih berbentuk 60+ di tengah panggung utama. Para tamu undangan diberikan lilin yang nantinya saat Switch Off akan dipasang di titik-titik gambar 60+ yang telah ditandai.

Saat MC menghitung mundur lampu di Mall Lippo Kuta serentak dimatikan. Undangan berduyun-duyun membentuk lingkaran besar dan meletakkan lilin simbol 60+. Ini Aksiku, Mana Aksimu? [b]

The post Switch Off 2017 Ajak Warga Bali Hemat Energi appeared first on BaleBengong.