Intip Kelebihan Pristine E-Bidet, Dudukan Toilet Terbaik untuk Para Ibu Hamil

Para ibu hamil selalu menghadapi permasalahan harus sering ke toilet untuk buang air kecil, hal ini dikarenakan bagian rahim yang terus membesar dan menekan kandung kemih. Oleh karena itu, volume air urin yang ditampung semakin sedikit sehingga membuat para ibu hamil melakukan buang air kecil menjadi lebih sering. Akan tetapi, kondisi ini terkadang cukup mengkhawatirkan terutama ketika harus ke toilet pada malam hari, karena pada saat posisi masih mengantuk lantai toilet yang licin dapat membuat terjatuh dan bisa berbahaya untuk kehamilan. Untuk itu, American Standard menghadirkan sebuah produk toilet elektronik sebagai solusi yang tepat.

American Standard adalah sebuah perusahaan penyedia perlengkapan kamar mandi yang telah terpercaya selama lebih dari 140 tahun. Salah satu produk terbarunya yaitu pristine e-bidet sebuah dudukan toilet elektronik yang memiliki banyak kelebihan, antara lain:

● Higienis. Karena fitur semprotan air yang terdapat didudukkan toilet pristine e-bidet dapat dilepaskan dan mudah untuk dibersihkan, sehingga Anda dapat membersihkan baik bagian depan maupun belakang dengan baik.
● Mengedepankan kenyamanan. Dudukan toilet jenis ini juga telah dibekali dengan fitur pengering yang suhunya dapat di atur menyesuaikan keinginan Anda.
● Anda tidak perlu repot meraih tombol trigger spray saat ingin membilas, karena sudah ada tombol otomatis sehingga proses pembilasan jadi lebih praktis dan bebas air yang berceceran ke lantai.

Dengan beberapa kelebihan seperti di atas, sudah pasti tidak akan ada lagi masalah lantai toilet menjadi licin dan para ibu hamil juga tidak perlu khawatir meskipun harus sering buang air kecil. Anda dapat memasang pristine e-bidet ini sebagai solusi toilet kamar mandi yang akan menjamin keamanan dan kenyamanan anggota keluarga.

Itulah ulasan mengenai kelebihan pristine e-bidet sebuah produk terbaru dari American Standard yang sejak di luncurkan langsung mendapat respon positif karena menjadi perabotan untuk toilet kamar mandi terbaru menjadi lebih nyaman dan mengutamakan kebersihan. Jadi, percayakan segala perabotan kamar mandi atau toilet Anda hanya di American Standard yang telah terpercaya memiliki produk yang berkualitas dan terjamin.

Nivea Men Produk Perawatan Wajah Pria Terbaik

Layaknya seorang wanita, pada saat ini sebagian besar kalangan pria juga membutuhkan berbagai macam perlengkapan wajah yang akan digunakan untuk merawat dan menjaga wajah agar tetap bersih. Dengan memiliki wajah yang terjaga kebersihannya maka semua pria akan mampu memiliki penampilan yang menarik dan kepercayaan diri yang tinggi. Perawatan wajah laki-laki sebetulnya bisa dilakukan dengan cara […]

Pemilahan Sampah di Rumah, Solusi Krisis Sampah di Bali

 

Keindahan Pulau Bali terancam oleh kerusakan yang sulit dihindari karena masalah sampah yang menjadi berita keseharian media massa. Saat ini saluran air yang  ada di seluruh pulau dibanjiri oleh sampah terutama sampah plastik. Hal ini mengundang perhatian dan keprihatinan banyak pihak, termasuk Yayasan Bumi Samaya yang concern terhadap permasalahan sampah di Bali.

Sean Nino, peneliti Yayasan Bumi Samaya mengatakan, salah satu solusi mengatasi masalah sampah di Bali adalah pemilahan sampah yang dimulai dari rumah. Masing-masih rumah tangga mesti ikut peduli terhadap sampah dengan cara memilah sampah antara sampah organik dan non-organik.

Cara yang kelihatannya sepele ini mampu mengurangi masalah, karena sampah yang telah dipilah akan dibawa petugas sampah untuk dibawa ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di mana sampah organik bisa diolah menjadi pupuk dan sampah non-organik seperti botol plastik dapat dijual dan didaur ulang.

Nino menjelaskan, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah kini telah diatur undang-undang di mana telah ada kerangka kebijakan sehingga provinsi dan desa di Indonesia memiliki kewenangan untuk membangun dan mengoperasikan infrastruktur mereka sendiri.

Contohnya, Bank sampah dan sistem pengumpulan sampah terdesentralisasi skala kecil kini telah banyak ada di desa-desa di Bali dan terbukti telah berhasil mengurai permasalahan sampah yang ada.

Hal tersebut juga dilakukan oleh Yayasan Bali Sasmaya dengan menggandeng pemerintah desa untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan sampah yang dilakukan salah satunya di Desa Pererenan, Badung dengan membangun TPST yang dikelola secara mandiri yang sejauh ini mendapat respon positif dari masyarakat.

Hasil dari pengolahan sampah sebenarnya cukup besar dan ini bisa menjadi pemasukan desa dan bisa dijadikan badan usaha milik desa. Hanya saja, belum banyak desa yang mau melakukan hal ini. Untuk itu, Yayasan Bali Sasmaya terus melakukan sosialisasi agar banyak desa di Bali membuat TPST termasuk kepada siswa sekolah dasar guna memberi pengetahuan betapa penting kesadaran dan kepedulian terhadap sampah dan lingkungan sekitar.

Program yang dilakukan Yayasan Bali Sasmaya adalah program ‘Merah Putih Hijau’ bertujuan menyelesaikan masalah sampah dengan mendesentralisasi pemilahan dan memastikan terjadinya pengolahan sampah terpadu dengan memberdayakan masyarakat lokal untuk mengelola dan mengolah sampah yang mereka hasilkan di wilayah mereka sendiri.

Dalam program ini proyek pengolahan sampah dilakukan Yayasan Bumi Sasmaya salah satunya di desa Pererenan, Badung yang telah berjalan. Caranya dengan mengajak masyarakat untuk memilah sampah antara sampah organik dan non-organik mulai dari masing-masing rumah dan untuk yayasan ini mengajak kepala desa untuk membuat peraturan desa, bagi yang tidak memilah sampah tidak diambil oleh petugas sampah. Cara itu mampu menggugah kesadaran warga desa untuk memilah sampah dan meningkatkan kepedulian terhadap sampah dari rumah masing-masing.

Dalam sebuah diskusi yang dilakukan Yayasan Bumi Sasmaya baru-baru ini di Denpasar dijelakan, sampah di Bali 65% berupa sampah organik. Sisanya sampah non-organik seperti logam, kaca, dan plastik serta kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di beberapa kabupaten di Bali yang penuh dan menimbulkan masalah baru.

Yayasan ini mengajak kepala desa untuk membuat peraturan desa terkait sampah. Peraturan ini terbukti sangat efektif membuat masyarakat sadar dan bertanggung jawab terhadap sampah. Setelah sampah dipilah kemudian dibawa ke tempat pengolahan dan diolah menjadi pupuk kompos. Cara ini mampu mengatasi permasalahan sampah di desa Pererenan, Badung.

Selain di desa Pererenan, Badung lokasi lain tempat dilakukannya program pengolahan sampah yakni di desa Baturiti Tabanan dan desa Penestenan, Ubud. Rencananya, program akan dilakukan di desa-desa lain di berbagai kabupaten/kota di Bali.

Seperti diketahui, TPST bisa dikelola oleh desa dan menjadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang di Bali tersebar di berbagai kabupaten. Sayangnya, banyak TPST tidak berjalan atau mangkrak karena kurangnya dana dan SDM. Yayasan Bumi Sasmaya siap melakukan kerja sama untuk mengelola TPST secara terarah dan profesional.

 

 

The post Pemilahan Sampah di Rumah, Solusi Krisis Sampah di Bali appeared first on BaleBengong.

Melihat Indonesia yang Adil di #FlashBloggingKupang




*Tulisan ini bernilai LIMA BELAS LEMBAR UANG SERATUS RIBU RUPIAH dan SEBUAH PIAGAM PENGHARGAAN sebagai Kompensasi dari Gelar "TERBAIK 1" Sesi Kompetisi Menulis di Acara #FlashBloggingKupang #MenujuIndonesiaMaju - Aston Hotel Kupang, 20 Juli 2018


Adalah sebuah kebetulan yang menyenangkan, saat saya kembali ke Kupang untuk mengikuti tes lanjutan Beasiswa Bahasa Inggris, sebuah kegiatan dari  Direktorat Kemitraan Komunikasi (Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo) yang bekerja sama dengan Dinas Kominfo Provinsi Nusa Tenggara Timur, juga diadakan di kota ini. Tepat tiga hari setelah tes tersebut selesai dilaksanakan.

Saya pikir, ini kesempatan yang baik untuk bergabung pada acara #flashbloggingkupang #menujuindonesiamaju sebelum menentukan jadwal kembali ke Ende. Maka dari itu, ketika saya mendapatkan pengumuman kegiatan yang dibagikan kawan-kawan di beberapa grup, saya memutuskan untuk mendaftar.


Poster Kegiatan #FlashBloggingKupang #MenujuIndonesiaMaju



#flashbloggingkupang #menujuindoensiamaju merupakan sebuah acara yang mengajak generasi muda Indonesia yang senang menulis di blog untuk berkumpul bersama dan saling berbagi. Demikian ungkap Ibu Niken Widiastuti selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo, pada sambutan yang beliau berikan.

Lebih lanjut, Ibu Niken menyampaikan, sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa saat ini arus informasi begitu deras terjadi. Baik yang berisi konten positif, maupun juga konten negatif. Blogger dapat mengambil peranan penting dalam deseminasi informasi dengan menyebarkan kebaikan seperti etika penulisan dan penyebaran informasi yang baik di dunia digital.

Ke depannya, Ibu Niken berharap, para blogger memiliki kontribusi lebih dalam menyebarkan informasi positif dan mendukung kemajuan Indonesia tak hanya di bidang teknologi saja.

Nah, di acara ini, saya menemukan satu hal menarik yang patut saya bagikan kepada kawan-kawan. Jadi, acara #flashbloggingkupang terdiri atas beberapa sesi yang dibawakan oleh Pemateri yang berbeda.

Salah satu sesi yang cukup menancap dalam hati saya, ugh, soalnya saya sampai menitikkan air mata haru pada laki-laki bertubuh ceking dan baik hati itu. Yap, siapa lagi kalau bukan Presiden kita tertjinta, Bapak Ir. Joko Widodo. Sesi ini dibawakan oleh Bapak Andoko Arta, Tim Komunikasi Presiden, “Sudut Istana.”

Padahal sejujurnya, belakangan, saya agak susah terharu dan berderai air mata, saking jenuhnya melihat hal yang sama di hidup ini #eh.

Di tengah sesi ini, Bapak Andoko, menayangkan sebuah video yang tautannya bisa kawan-kawan tonton di sini: SATU HARGA, SATU INDONESIA



Saya kutip cerita Bapak Joko Widodo yang tertulis pada tautan tersebut:

Bertahun-tahun lamanya, warga daerah arah hulu Sungai Mahakam di Kalimantan membeli bahan bakar minyak dengan harga berkali-kali lipat dari harga BBM di kota besar. Sebagaimana yang dialami warga di sebagian besar Papua, satu liter bensin di punggung Kalimantan ini pernah mencapai Rp45.000. 

Masalahnya di distribusi BBM yang tidak mudah karena medan yang tak ramah. Tapi apa pun taruhannya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus kita wujudkan. Daerah yang terpencil, daerah terdepan, daerah terluar, tetaplah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kini, warga di wilayah terpencil di sekitar hulu Sungai Mahakam menikmati harga BBM yang sama dengan kota-kota lain di Indonesia.

Dan inilah perjuangan mendistribusikan BBM dari Samarinda ke Long Apari di pelosok Kalimantan Timur, dengan kapal dan perahu yang menyusuri sungai berair deras sejauh ratusan kilometer.

Ketika menonton video ini, hati saya haru biru, saya lalu teringat dua perjalanan yang saya lakukan ke Sumba pada tahun 2016 bersama kawan-kawan GAMASTIM BALI, ceritanya bisa kalian baca di sini: MAIWA LA HUMBA, MARI MEMBANGUN YANG BAIK dan ke Fatule’u beberapa bulan lalu bersama kawan-kawan Komunitas Buku Bagi NTT, ceritanya bisa kalian baca di sini: MENGHIDUPI LITERASI, SUSAH-SUSAH GAMPANG


Saya pikir, ini hal yang menarik bahwa di tahun 2018 ini, masih ada masyarakat di beberapa daerah di Indonesia yang tidak bisa mengalami kehidupan nyaman dan sejahtera sebagaimana saudara-saudaranya di kota, atau meskipun daerah terpencil, tetapi sudah mendapatkan perhatian dari Pemerintah. Baik Pemerintah Pusat, maupun juga Pemerintah Daerah setempat. Jalanan masih buruk, tak ada listrik, tak ada air bersih dan jauh dari pusat teknologi.

Video ini memacu semangat saya untuk mengunggah tulisan ini. Selain sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras Pemerintah di masa Bapak Presiden Ir. Joko Widodo, sekaligus memohon perhatian kepada Beliau (semoga beliau memiliki kesempatan untuk membaca, akan baik jika Panitia berkenan meneruskannya).

Harapan saya, Bapak Jokowi memiliki kesempatan yang lain atau mendelegasikan tim terkait untuk meninjau kerja Pemerintah Provinsi maupun juga Kabupaten di daerah-daerah pelosok di Nusa Tenggara Timur. 

Bagaimanapun juga, salah satu fokus Pembangunan Bapak Jokowi adalah Infrastruktur, mengutip apa yang diungkapkan oleh Bapak Maxi Manafe selaku Moderator pada #flashbloggingkupang hari ini, "Jika ingin Indonesia maju, harus membangun Nusa Tenggara Timur. Kemajuan NTT, juga merupakan kemajuan Indonesia."

Dua cerita yang saya sertakan melalui tautan pada tulisan ini, hanyalah segelintir dari sekian banyaknya pekerjaan yang belum dilaksanakan secara maksimal di Provinsi ini.

Dengan itu, bukan hanya warga wilayah terpencil di sekitar Hulu Sungai Mahakam seperti Long Bagun, Ulu Riam dan Long Apari, tetapi juga, kaka-adik, bapa-mama, nona-nyong di Amfoang, Timor atau Umbu dan Rambu di Kambata Mbapa Mbuhang, Sumba, memiliki kesempatan yang sama menikmati Indonesia yang Satu dan Indonesia yang Adil. Bukan hanya Satu Harga, Satu Indonesia. Tetapi juga, Satu Jalan, Satu Indonesia.


SALAM INDONESIA RAYA!!! 


Yuhuuu, dapat payung :) gara-gara jempol sekseh di twitter


Yeah jadi yang TERBAIK 1 ^^


Nyari kopi

Sabtu 14 Juli 2018Kangen rute kebun kopi, saya pilih lewat plaga sampai desa mengani dan desa belantih. Nanjak iya dingin iya. Daerah ini spesial kopi arabika. Rasa kopi lebih asam. Harga lebih mahal dari kopi robusta. Mampirlah di sebuah warung desa buat beli kopi. Hanya 2.000 segelas. Entah itu kopi apa yg disajikan bu dagang. […]