Menyoal Tantangan Intelektual Muda Bali ala Ngurah Suryawan

Ngurah Suryawan saat peluncuran bukunya, Menyoal Bali yang Berubah. Foto Bentara Budaya Bali.

Tantangan intelektual Bali terkini bukanlah perspektif inward looking dan kejumudan.

Saya sudah lama sekali tidak menulis opini ataupun esai ringan. Apalagi yang menanggapi tulisan dari Ngurah Suryawan: kawan lama di kolektif Etnohistori di Jogja. Alasannya sederhana, kualitas tulisan Ngurah jarang yang ada perlu ditanggapi.

Namun, beberapa minggu lalu Ngurah menulis esai bagus sekali di harian Kompas tentang Papua. Jadi mungkin, saya membatin, kawan Ngurah masih bisa diajak berpikir serius.

Tulisan ini ingin menanggapi corat-coret Ngurah di website Tatkala, soal apa yang Ngurah sebut sebagai tantangan bagi intelektual muda Hindu Bali.

Hindu atau Bali?

Inti dari corat-coret kawan Ngurah sebenarnya penting. Namun, ketika digores oleh pena Ngurah jadi terkesan kabur dan bertele-tele. Intinya kira-kira begini. Ngurah berangkat dari observasi kalau intelektual Bali tidak terdengar kiprahnya di kancah pemikiran nasional dan global. Saru gremeng, ujar Ngurah.

Menurut Ngurah, kemungkinan besar karena intelektual muda Hindu Bali berperilaku seperti katak dalam tempurung: hanya melihat Bali sebagai jagat pentas satu-satunya. Akibatnya, intelektual Bali dan Hindu terancam terjerumus dalam fenomena inward looking dan berpikir picik. Yang dibahas hanya Bali, dan sayangnya lagi, pembahasannya dominan soal membela kebudayaan Bali.

Saran kawan Ngurah, intelektual Bali dan Hindu perlu bergerak melampaui keBalian sendiri: melampaui romantisme pada kebudayaan dan masa lalu.

Ada beberapa catatan untuk kawan Ngurah dan poin penting yang berusaha ia bahas. Catatan pertama tentu saja: apa betul demikian sebagaimana yang disampaikan kawan Ngurah?

Bali dan Hindu dihela dalam satu hentakan napas dalam tulisan Ngurah, seakan-akan dua kategori itu simetris, kongruen, dan identik. Sebagai seorang antropolog yang pernah menulis Bali, Ngurah tentu harusnya tahu ini keliru. Bali tidak selalu identik dengan Hindu, apalagi Hindu modern ala Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang kita kenal sekarang.

Orang Bali ada yang Kristen dan Katolik, bahkan orang Bali ada yang Muslim. Mungkin lebih banyak lagi orang Bali yang tidak beragama Hindu modern ala PHDI dengan tri sandya tiga kali dan sebagainya. Mereka yang belajar studi agama memahami betul kalau kategori Hindu (yang di India dan bahkan yang dilekatkan di kebudayaan Bali) tersebut adalah konstruksi sosial.

Ketidakpahaman kawan Ngurah akan ketidaksimetrisan kategori Bali dan Hindu itu sendiri terlihat jelas ketika ia abai akan beberapa intelektual Bali yang sebenarnya kiprahnya sangat terdengar dan dominan di kancah pemikiran nasional. Tidak usah jauh jauh, kawan Ngurah sebenarnya bisa melihat rekan kita sendiri yang bernama Made “Tony” Supriatma.

Made adalah ahli studi politik militer di Indonesia, dan juga ahli studi Papua, studi yang belakangan kawan Ngurah coba geluti. Ia dididik di Cornell dibawah Ben Anderson dan diakui di level nasional sebagai salah seorang pemikir studi militer Indonesia. Made bahkan pentas jauh lebih dahulu di level nasional dibandingkan beberapa peneliti muda terdepan terkini di studi militer Indonesia—yang kebetulan saya kenal baik—seperti Evan Laksmana di Center for Strategic and International Studies (CSIS) atau Muhamad Haripin di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Saya rasa kawan Ngurah abai melihat Made persis karena di analisis kawan Ngurah, intelektual Hindu dan intelektual Bali itu adalah dua istilah yang dapat dipertukarkan. Made Tony kebetulan tidak dapat diringkus dengan pas oleh dua kategori Hindu dan Bali tadi. Namun, justru disitulah letak pentingnya Made Tony: ia telah berhasil melampaui penjara kategori Hindu, Bali, dan bahkan mungkin Katolik itu sendiri.

Saya tahu masih banyak intelektual Bali lain yang pentas di level nasional dan gaung kiprahnya sangat terdengar. Ada dua orang Bali yang kini jadi jurnalis terdepan di Tempo. Ada satu orang Bali yang kini jadi ahli batas maritim di level nasional. Jika tidak terdengar oleh Ngurah, mungkin karena kawan Ngurah masih terjebak dalam penjara kategori Bali dan Hindu.

Intelektual Bali yang berkiprah di pentas nasional tersebut mungkin sekali sudah melampai penjara dua kategori tersebut dan telah menjadi, simply, orang Indonesia saja.

Tidak Berhenti Belajar

Catatan kedua. Jika memang kiprah intelektual Bali gaungnya tidak sekencang kiprah pemikir non-Bali, seperti yang Ngurah tuduhkan, mungkin sekali bukan karena mereka selalu berpikir inward looking dan jadi “jago-jago penjaga kebudayaan” untuk mengutip istilah lawas favorit kawan Ngurah. Mungkin sekali karena mereka telah berusaha berkiprah di pentas nasional, tetapi karena keterbatasan mereka masing-masing, tidak mampu menjadi salah satu pemikir yang terbaik.

Ngurah saya rasa adalah salah satu contoh yang bagus. Selepas berkutat dengan studinya tentang Bali, Ngurah kini mencoba berkiprah di pentas nasional dengan menjadi pemikir tentang Papua. Sejauh mana kiprah kawan Ngurah berhasil, masih kita nantikan.

Beberapa resep menjadi pemikir dan intelektual yang berhasil saya rasa kawan Ngurah sudah mafhum. Sebagai misal, jadilah pemikir merdeka dan bukan pemikir minder tukang kutip sarjana lain, menulis dengan logika yang runtut dan bahasa yang jernih, dan yang paling penting, proses belajar tidak berhenti seusai meraih gelar doktor. Justru gelar doktor itu menambah beban harapan pembaca pada sang intelektual.

Saya rasa tantangan intelektual Bali terkini bukanlah perspektif inward looking dan kejumudan pada peran menjadi jago kebudayaan. Tantangan mereka kini adalah keluar dari zona nyaman repetisi tema pemikiran, dan tentu saja kemalasan untuk belajar dan mengembangkan diri.

Tulisan ini ingin saya tutup dengan dengan ucapan penyemangat pada kawan Ngurah: mungkin sekali kawan Ngurah nanti jadi intelektual Bali berikutnya yang kiprahnya terdengar di pentas nasional dan tidak hanya membahas soal budaya Bali. Dengan catatan, tentu saja, kawan Ngurah tidak berhenti belajar. [b]

The post Menyoal Tantangan Intelektual Muda Bali ala Ngurah Suryawan appeared first on BaleBengong.

Ape to? Kau Urek e?

Endy Suryanta menunjukkan kerajinan tangan yang ia buat dengan memanfaatkan batok kelapa. Foto Bali Tribune.

Cerita pahit getir usaha kecil menengah di Bali.

Kesuksesan para pegiat usaha kecil dan menengah di Bali ternyata diawali dengan pengalaman getir. Mereka melalui hidup dengan penuh perjuangan. Mimpi untuk merengkuh kesuksesan selalu mengiang dalam keseharian hidup.

Memelihara mimpi itulah yang menjadi pemandu hidup mereka. Jalan terbuka. Berbagai kesempatan kemudian hadir silih berganti. Ketika kita melihat mereka sukses hari ini, dibaliknya penuh dengan cerita perjuangan.

Ape jemak gae to kau urek,” sindir seorang krama (anggota) banjar kepada Yande suatu waktu.

Pekerjaan yang dipilihnya dianggap remeh karena selalu mengeruk buah kelapa untuk diambil tempurungnya. Usaha rumah tangga yang dilakukan awalnya berada di lingkungan banjar.

Banyak keluhan ketika itu ia dapatkan. Salah satunya tetangga di banjar yang tidak nyaman karena genangan air selalu meluber hingga ke pinggir jalan. Situasi seperti ini merugikan masyarakat lain. Bau busuk air kelapa yang menggenang membuat para tetangga mulai menunjukkan sikap tidak suka.

Namun, Yande bersama dengan adik dan keluarganya tetap bekerja dan berusaha untuk mengurangi genangan air kelapa di halaman depan rumahnya. Perlahan namun pasti ia mulai memikirkan untuk pindah ke tempat lain. Semuanya tercapai karena usaha batok kelapanya berkembang dengan pesat ketika itu.

Sindiran kau urek ini masih membekas hingga kini. Ledekan itu Yande jadikan motivasi untuk semakin jengah (semangat) terus berjuang dalam hidupnya. Perlahan-lahan, pesanan datang silih berganti.

Ia dan istrinya berhasil menabung dan membeli tanah yang lebih luas di sekitar desanya. Tanah ini ia rencanakan untuk tempat tinggal juga gudang seluruh kegiatan usahanya. Ia juga bermimpi dengan tempat barunya ini, ia bisa mendidik anak-anak muda untuk menekuni usaha batok kelapa dengan serius.

Perlahan tapi pasti, kini, cita-citanya itu mendekati kenyataan. Yande dengan tangan terbuka menerima kunjungan dari berbagai pihak yang ingin belajar tentang usaha batok kelapanya. Tidak hanya yang berasal dari Bali, tetapi juga dari daerah lain yang melakukan studi banding. Yande juga menyiapkan kamar-kamar untuk bermalam selama proses belajar di rumahnya.

Ngacung

Kini kerajinan batok kelapa bernama “Yande Batok” sudah terkenal hingga ke luar negeri. Siapa menyangka juga jika sebelum memiliki workshop seperti sekarang, ia melalui jalan berliku merintis usahanya. Yande mengakui bahwa awal mula terjun ke usaha batok kelapa ini karena begitu banyaknya kelapa di daerah mereka di Banjarangkan, Klungkung ketika itu.

Yande bersama dengan adiknya merintis usaha batok kelapa ini dengan tujuan untuk memanfaatkan potensi yang besar dari buah kelapa tersebut. Pada tahun 1997, Yande mendapatkan ide awalnya dari adiknya untuk coba memanfaatkan kelapa yang berlimpah untuk dijadikan kerajinan tangan. Pada saat itu harga kelapa adalah Rp 1.000 per tiga butir.

Tahun 1997-1998 adalah masa-masa awal dan sulit dari perjuangan Yande bersama adiknya untuk merintis usaha batok kelapa ini. Pada tahun-tahun ini, ia berjuang untuk mengenalkan produknya dan mencari pelanggan. Yande dengan mengendarai Vespa membawa empat tas plastik yang berisi contoh-contoh kerajinan batok kelapa yang diproduksinya.

Ia ngacung (menawarkan barang) ke daerah pariwisata Kuta. Masuk dari satu toko ke toko lainnya tanpa mengenal lelah. Hasil kerja kerasnya itu adalah ia berhasil mengenalkan barang produksinya dan mendapatkan langganan baru. Ini adalah langkah awal yang baik pada saat itu untuk memperkenalkan produk batok kelapanya kepada masyarakat.

Yande menuturkan bahwa masa-masa ngacung itu adalah masa terberat dalam hidupnya. Pada masa ngacung inilah titik balik dari kehidupannya. Ketegarannya untuk terus mencari order (pesanan) akhirnya perlahan-lahan membuahkan hasil.

Contoh-contoh produk batok kelapa yang diproduksinya perlahan mulai dikenal oleh publik. Pada saat ngacung di Kuta itulah ia mendapatkan pesanan dari seorang yang tidak dia sangka sebelumnya. Yande mengaku sering menawarkan dagangannya di kawasan Kuta, terutama di sekitaran Toko Joger yang terkenal saat itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa suatu saat nanti Mr. Joger yang menjadi pemilik dari Joger akan membeli hasil kerajinannya.

Yande mengisahkan pada suatu hari ia menawarkan kerajinan batok kelapa miliknya kepada sesorang yang berdiri di depan Joger. Saat itu memang hari keberuntungannya. Tanpa Yande menyangka, laki-laki yang ia hampiri itu kemudian memesan barangnya ratusan buah. Sungguh ia sangat senang sekali.

Yang membuat Yande makin semringah adalah Mr. Joger, yang ia baru ketahui belakangan mengatakan bahwa potongan yang ia dapatkan hanya 2 persen, tidak 10 persen seperti penjual yang menaruh barang di Joger. Saat ini usahanya sudah maju dan berhasil untuk membuat Gudang dan rumah baru serta menyerap tenaga kerja di desanya.

Pesanan pun hadir silih berganti. Kini, bekerja sama dengan pemerintah dan Perusahaan Angkasa Pura, ia mengenalkan kerajinan batok kelapa hingga keluar negeri. Pemerintah juga semakin terbuka dan selalu mengajak Yande untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan pembinaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) kerajinan tangan di Klungkung maupun di Bali secara umum.

Tidak hanya sampai di Bali. Yande juga membuka pintu workshopnya bagi pegiat-pegiat UKM yang ingin sungguh-sungguh belajar di tempatnya.

Limbah

Jika Yande fokus untuk “hanya” menggunakan batok (tempurung) kelapa untuk memproduksi kerajinan, tidak demikian yang dilakukan oleh Endy Suryanta. Anak muda ini justru secara cerdik melihat limbah kelapa yang tidak dipergunakan.

Selama ini yang menjadi prioritas memang hanya tempurung (batok) kelapanya. Sementara bagian yang lain, meski sudah dimanfaatkan, namun tetap tidak maksimal. Celah inilah yang dilihat Endy untuk kemudian memutar otak untuk menjadikannya bernilai guna.

Limbah batok kelapa yang biasanya hanya digunakan untuk kayu bakar tersebut disulap oleh Endy Suryanta menjadi berbagai kerajinan tangan yang cantik, bermanfaat, dan juga bernilai ekonomis. Dengan kerajinan limbah batok kelapa ia bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Hal itu berawal dari banyaknya limbah batok kelapa yang berada di sekitar rumahnya (Lihat “Endy Sukses Olah Limbah Batok Kelapa”, Tribun Bali, 12 Agustus 2019).

Endy memulai usahanya sejak tahun 2017 di Tabanan. Ia mengumpulkan batok-batok kelapa yang sudah tidak terpakai lalu dibuat menjadi produk mangkok, gelas, hingga lampu hias. “Supaya batok kelapa tidak terbuang sia-sia, saya berpikir kenapa tidak dipakai untuk kerajinan saja,” ujarnya.

Kini setelah usahanya mulai berkembang, ia mulai melangkah maju untuk membuka pasar. Ia melakukan produksi dan pemasaran produknya sendiri. Oleh sebab itulah ia aktif untuk mengikuti pameran dan promosi lainnya. Hal ini ia lakukan untuk mencari peluang mempromosikan produknya.

Harga kerajinan tangannya juga bervariasi dari mulai dari Rp 5000 sampai dengan Rp 5.800.000. Bahkan sekarang juga ada hiasan meja yang laku terjual Rp.7.800.000. Apabila dalam sebulan penjualannya ramai, Endy mengaku bisa meraup keuntungan bersih sampai Rp 6.000.000 per bulan.

Ke depannya ia ingin terus berkarya dengan menghasilkan berbagai bentuk kerajinan tangan yang unik dan tentunya bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. “Siapa tahu ke depannya bisa memotivasi adik-adik yang lain untuk berkarya dan semoga batok kelapa tidak lagi hanya dipandang sebelah mata,” ungkapnya (Lihat “Endy Sukses Olah Limbah Batok Kelapa”, Tribun Bali, 12 Agustus 2019).

Kisah Yande dan Endy bisa menjadi cermin bahwa hal yang tampak remeh dan tidak berguna di sekeliling kita bisa menjadi peluang besar.

Kau urek, adalah sindiran pejorative (merendahkan) yang diterima Yande pada awalnya. Namun, sekarang ia bisa dengan kepala tegak mengatakan bahwa dengan kau meurek lah ia bisa sukses seperti sekarang. Yande juga selalu mengingatkan kepada anaknya bahwa apa yang mereka lihat sekarang adalah berkat jasa kau (tempurung kelapa).

Sindiran kau urek membuatnya jengah dan kemudian bangkit berjuang dalam hidupnya hingga bisa sukses seperti sekarang. [b]

The post Ape to? Kau Urek e? appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Ipuk

Uji coba ujian masuk PTN. Foto Muri.org

Belakangan ini perasaan Men Coblong seperti roller coaster, entah mengapa.

Pokoknya tidak stabil. Kadang perasaannya menengok ke kanan, kadang ke kiri. Kadang ke bawah, belum selesai nengok ke bawah sudah nengok ke atas. Belum tuntas sudah melirik ke samping.

“Perasanmu itu mirip para pejabat saja. Hari ini ngomong A, besok B. Besoknya lagi Z, besoknya lagi I,” sahut sahabatnya serius.

Men Coblong mengamini pernyatakan ketus sahabatnya itu. Banyak sekali kejadian aneh minggu ini. Pertama, kabar yang membuat Men Coblong patah hati akut. Patah hati yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata.

Sebagai Ibu dari seorang anak lelaki, Men Coblong sudah merasa cukup memberi sedikit remah-remah ilmu untuk anak semata wayangnya. Anak lelaki kecil yang dulu selalu ditimang-timang, dikelonin, disuapin. Pokoknya perhatian Men Coblong full sejuta persen untuk anak lelakinya itu.

“Punya anak cuma satu saja, kau seperti punya anak sepuluh,” suatu hari sahabatnya berkata serius pada Men Coblong.

Men Coblong tidak menyalahkan sahabatnya itu karena dia memiliki anak lima orang. Tiga orang dokter spesialis, satu orang dokter muda, anak bungsunya baru saja diterima di jalur mandiri juga di fakultas kedokteran.

Setiap melihat mata Men Coblong menatap sahabatnya itu terbersit rasa seperti roller coaster. Bagaimana bisa perempuan itu membiayai penuh kelima orang anaknya di fakultas kedokteran. Bahkan nomor empat dan lima lolos di fakultas kedokteran di sebuah universitas ternama di Jawa dengan jalur mandiri.

Berapa biaya yang harus dia rogoh? Pasti sedalam sumur bor yang dibuat tetangga 60-80 meter ke bawah tanah.

Untuk sahabatnya itu pasti lebih, karena merogoh uang untuk jalur mandiri juga tidak kecil. Ah, enaknya jika punya duit. Walapun Men Coblong dengar bisik-bisik duit sahabatnya itu hasil korupsi yang ditanam di dalam tubuh masa depan anak-anaknya.

Mimih Dewa Ratu!

Men Coblong tidak ingin berpikir buruk, karena sahabatnya itu di depan Men Coblong tidak terlihat petantang-petenteng. Biasa saja. Walaupun Men Coblong tahu barang-barang yang melekat ditubuhnya branded, dijamin belum keluar di publik fashion di indonesia, apalagi muncul di Bali.

“Eh, jangan salah kamu Men Coblong. Sekarang ini banyak orang di Bali yang tidak kalah branded dengan orang-orang Jakarta, bahkan lebih gaya. Mau bukti?” tanya sahabat yang lain sambil menunjukkan betapa banyaknya artis-artis di Indonesia sudah migrasi bak burung ke tempat-tempat pariwisata dari Sanur, Kuta, sampai Ubud.

Ya, ya, ya! Orang yang tinggal di Bali saat ini memang tidak kalah fashionable dengan orang-orang di kota besar lain. Bahkan suatu hari sahabat Men Coblong yang berlibur ke Bali juga mengaku saat ini banyak orang-orang aneh.

“Bali sudah terlalu padat, sudah macet di sana-sini. Bagaimana menurutmu? Apakah pariwisata masih jadi andalan?” tanya sahabat Men Coblong itu serius.

Men Coblong terdiam menggaruk-ngaruk kepala. Bingung. Linglung. Meimkirkan sahabatnya yang uangnya sedalam sumur bor. Sehingga memudahkan perempuan itu untuk mencari sekolah-sekolah favorit.

“Ada uang, seluruh hidup ini bisa dibeli. Mau sekolah model apa?” tanya sahabat Men Coblong itu serius. Men Coblong menciut, persis seperti tikus-tikus cucut yang bersuara mencicit dan meninggalkan jejak yang baunya minta ampun.

Ah, mungkin seperti itukah rasa iri yang melabur hati dan pikiran Men Coblong.

Men Coblong meringis teringat bagaimana sulitnya mencari sekolah saat ini. Untungnya Men Coblong menerapkan sistem tak ketat. Bahkan sejak berumur dua tahun anak semata wayangnya sudah masuk sekolah. Untuk tingkat dasar sengaja dipilih sekolah swasta mahal sedikit dan buat migren asap dapur tidak apa-apa.

Karena jika pendidikan dasar tidak kuat, kasihan para siswa jika setiap ganti menteri ganti aturan main. Bayangkan kalau kemampuan akademik serba pas.

Berhubung kantong tidak sedalam sumur bor Men Coblong pun menyekolahkan anaknya di beragam sekolah non formal, dari les Kumon, sampai les di salah satu tempat les yang cukup mahal juga. Tujuannya jika masuk sekolah menengah bisa nyebur langsung ke sekolah negeri yang dijamin biayanya tidak mahal seperti sekolah swasta.

Men Coblong pun sedari awal sudah mempersiapkan kemana harus masuk SMP, lalu lanjut SMA yang mana. Terus mau kuliah ke mana?

“Kalau anak masih SD sudah mikir kuliah, bisa ambrol otakku, Men Coblong. Hidup sudah rumit kok terus ditambah kerumitan baru,” sahut teman lain.

Akhirnya benar saja. Tahun 2019 jalur masuk perguruan tinggi diubah. Jalur pertama alur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Seleksi masuk PTN berdasarkan prestasi dan juga portofolio akademik siswa. Penilaiannya dilihat dari kompetensi sekolah dan prestasi siswanya. Misalnya akreditasi sekolah, nilai rapor, dan persyaratan lain berdasarkan PTN yang dipilih.

Gagal di jalur undangan Men Coblong pun mencoba jalur kedua Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Ini menjadi jalur masuk PTN yang paling banyak mengalami perubahan.

Pertama, dari daya tampung yang berubah menjadi minimal 40 persen dari kuota daya tampung setiap prodi di PTN. Kuota ini berdasarkan hasil dari Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) saja atau hasil UTBK dan kriteria lain yang disepakati PTN.

Pelaksanaan tes juga tidak lagi berupa ujian tulis, melainkan menggunakan komputer. Peserta SBMPTN harus membayar biaya UTBK sebagai syarat pendaftaran sebesar Rp200.000 per satu kali tes. Target untuk sekolah di luar Bali harus dibuang karena sistem yang tidak bisa diprediksi.

Kalau ikut alur masuk yang ketiga adalah Ujian Mandiri. Jalur ini diatur dan ditetapkan oleh masing-masing PTN. Pada tahun 2019, kuota daya tampung untuk jalur Mandiri adalah maksimal 30 persen dari kuota daya tampung setiap prodi di PTN.

Proses seleksi dan penerimaan calon mahasiswa dari jalur ini dapat menggunakan hasil dari UTBK. LTMPT melayani jasa pengolahan data UTBK untuk jalur Mandiri bagi lulusan tahun 2017, 2018 dan 2019. Dijamin untuk jalur ini Men Coblong tidak punya tabungan sedalam sumur bor.

“Sebetulnya kalau kita mau ikut Bidikmisi bisa juga sih, Mi. Minimal biaya kuliah akan ditanggung dan dapat uang saku. Tetapi aku tidak mau cari surat miskin, karena kita kan tidak miskin. Miskin itu tidak punya rumah, tidak punya motor, apalagi mobil,” anak semata wayang Men Coblong berkata cukup detail.

Dia sempat berbisik, bagaimana kakak kelasnya yang tinggal di sebelah rumah justru mencari surat miskin. Padahal punya rumah di Denpasar, punya mobil besar dan harganya dua kali lipat dari harga mobil Men Coblong. Mobil itu selalu diparkir dipinggir jalan, tidak peduli tetangga terganggu atau tidak, yang penting dia tidak terganggu. Jika ada anak-anak menyentuh mobilnya dia akan ngamuk, dan penuh sumpah serapah.

Prestasi akademik anaknya di atas rata-rata, bahkan lolos di perguruan tinggi negeri favorit. Jalur undangan lagi. Hebat!

“Untuk apa pinter tapi punya moral seperti itu, masak tidak miskin ngaku miskin,” sahut anak Men Coblong. Men Coblong mengelus dada untunglah berarti pendidikan moral tumbuh baik, di dalam hati dan pikiran anaknya.

Men Coblong makin panas ketika mengetahui tetangga depan rumah bangga mampu mendapatkan beasiswa untuk orang miskin dengan mengaku miskin, bahkan tega memanipulasi rumah. Lalu rumah siapa yang dipotret?

“Rumah tetangga di kampung,” tawanya meringis penuh kemenangan. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Ipuk appeared first on BaleBengong.

Digital Marketing di Rakernas APJI V 2019

Sebagai salah satu fasilitator Google Gapura Digital Bali, saya ditunjuk bertugas sebagai pembicara di RAKERNAS APJI (Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia) pada Sabtu, 14 September 2019, bertempat di Ballroom Hotel Prama Bali.

RAKERNAS APJI V Bali 2019

Sungguh beruntung sebagai manusia, diantara para peserta seminar ada Ibu Dewi Motik duduk di jajaran kursi paling depan. Dewi Motik Pramono nama lengkapnya adalah seorang pengusaha perempuan terkenal di Indonesia. Beliau aktif dalam berbagai kegiatan usaha, pendidikan dan kemasyarakatan. Selain sebagai pengusaha Motik juga dikenal sebagai penulis, pengajar, dosen dan motivator.

Di awal pembukaan, saya sempat bilang bahwa bersyukur bisa bertemu live dengan beliau dimana selama ini hanya tahu lewat TV saja hehehe. Beliau menjawab, “I Love You.” Saya balas, “I love you too.” Gerrrrr seisi ruangan. Selama saya presentasi, Bu Dewi Motik kadangkala melempar guyonan menimpali pembicaraan. Suasana seminar jadi renyah.

Dewi Motik APJI

Saya berikan materi fokusnya tentang Google Bisnisku dan SEO (Search Engine Optimization). Para pengurus APJI mayoritas sudah punya aset digital (website dan media sosial). Maka tinggal memberikan trik dan tips nya saja untuk menjuara di dunia digital.

Ada peristiwa menarik seusai seminar. Sebelum foto bersama Bu Dewi Motik menghampiri saya dan bilang, “Mas, kamu tuh tinggi, gagah, ganteng namun sayang kaos mu kekecilan, jadi nggak matching dengan postur mu.” MasyaAllah saya langsung tersipu malu hehehe. Google Gapura Digital hanya berikan kaos sebagai seragam presentasi. Namun Bu Dewi Motik benar adanya, forum itu terlalu terhormat dan formal. Bu Dewi Motik dari dulu penampilan nya selalu terlihat anggun dan glamour. Ah akhirnya saya protes ke Project Officer setelah seminar usai hahaha.

Terima kasih kepada Nikki, salah satu Project Officer Gapura Digital Bali yang merekam hampir 30 menit lebih pemaparan saya dari awal hingga akhir. Pas sesuai waktu yang diberikan panitia. Mayan untuk senyum-senyum di hari tua nanti. Ini videonya:

Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas kesempatan nya membersamai para pengusaha jasaboga Indonesia. Semoga bermanfaat.

Dewi Motik APJI RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019 RAKERNAS APJI V Bali 2019