Situasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi pada Remaja di Denpasar: Temuan dari Penelitian Kisara 2016

Hallo sahabat Kisara!!! Baru-baru ini Kisara telah merilis penelitian tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang telah dilakukan pada 1,200 remaja yang dipilih dari dari 24 sekolah (8 SMP, 8 SMA, dan 8 SMK) di Kota Denpasar selama bulan Juli-September 2016. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan di dua jurnal yang berbeda, yaitu di jurnal internasional Global Health Management...

Tumpek Kandang, Penghormatan Bali pada Hewan

Lukisan yang menggambarkan masyarakat Bali dan anjingnya. Foto Agus Juniantara.

jing anjing anjing anjing kintamani
beli dari pulau bali
jing anjing anjing anjing kintamani
senyumnya manis sekali

Lagu Shaggy Dog berjudul Anjing Kintamani itu asyik sekali untuk didengarkan. Band dari Yogyakarta itu mengutip tentang anjing asal Bali yang dijadikan tema lagu ini. Mereka mengisyaratkan bahwa anjing Kintamani ini merupakan hewan yang ramah untuk dipelihara.

Ternyata kata “Bali” tidak hanya merujuk pada pantai pasir putihnya, tetapi juga hewan endemik berkaki empat yang setia.

Hubungan masyarakat Bali dengan hewan tidak hanya sebatas tuan dan majikan. Masyarakat Bali memiliki tradisi dan hari raya yang secara khusus sebagai bentuk penghormatan kepada para hewan. Hal ini tercermin dari perayaan hari raya Tumpek Kandang yang jatuh hari Sabtu Wuku Uye (Pawukon dalam kalender Bali) kemarin.

Pada hari Tumpek Kandang, masyarakat melakukan upacara untuk Dewa Siwa dalam wujud Rare Angon (seorang anak pengembala). Para peternak, yang memiliki hewan peliharaan, serta masyarakat Bali umumnya merayakan ritual ini setiap 210 hari sekali.

Nilai-nilai menyayangi dan saling menghormati sesama makhluk ciptaan Tuhan di dunia ini juga tertuang dalam filosofi Tri Hita Karana. Tiga hal penyebab kebahagiaan di dunia dengan hidup selaras. Selaras dengan alam beserta isinya salah satunya contohnya.

Bahkan, dalam cerita Mahabarata, sang Yudistira dalam perjalannya menuju Kahyangan ditemani seekor anjing yang setia. Hewan bukan hanya sebagai alat kesenangan penyalur hobi atau pembajak sawah, tetapi hewan sebagai “teman yang mendukung” manusia dalam kesehariannya.

Pesan moral ini juga terdapat dalam kebudayaan agama lain semisal The Seven Sleepers.

Manusia bukan sebagai subjek yang berdiri sendiri, tetapi berdampingan dan selaras dengan seluruh ciptaan Tuhan. Perlindungan-perlindungan tentang hewan beserta alam secara turun temurun terwarisi melalui cerita folklor kedaerahan. Dunia  kekinian mengenalnya dengan sebutan animal welfare.

Animal atau hewan memiliki hak sama untuk hidup dengan layak di dunia sebagaimana kodratnya. Sekali lagi, sesuai sesuai kodratnya. Bukan memanjakanya secara berlebihan hingga menjadikannya lelucon ataupun menyiksa dan mengonsumsinya dengan brutal.

Dok Akun Instagram @Blungbangperkasa

Kepedulian saat Nyepi

Kembali lagi pada budaya Bali tentang rasa menyayangi dan mengasihi para hewan. Tahun ini Tumpek Kandang jatuh pada Sabtu, 17 Maret 2019. Perlu adanya nostalgia kembali tentang relevansi nilai animal welfare cita rasa Bali ini. Perlu disadari, perayaan ini bukanlah sekadar seremonial tetapi juga  bagaimana sekilas ingatan untuk selaras terhadap alam menjadi kesadaran bersama.

Pada rangkaian hari raya Nyepi pekan lalu, terdapat fenomena sosial yang dituangkan dalam beragam wujud ogoh-ogoh. Adanya ogoh-ogoh Save Dog Bali, ogoh-ogoh Himsa Karma yang dipersonifikasikan bagaimana manusia menyiksa binatang demi kepuasannya, dan yang paling menarik yakni ogoh-ogoh Sog? Manu Petaka.

Ogoh-ogoh Sog? Manu Pataka buah karya STT Acarya Perkasa Banjar Blungbang, Penarungan, Mengwi, Badung mengangkat tema tentang unsur kehidupan di alam. Konsep ogoh-ogoh ini mengambarkan ketika manusia menjadi malapetaka bagi alamnya sendiri. Rakus, tamak, dan terlalu sombong karena menganggap manusia berdiri sendiri.

Manusia dapat memunahkan makhluk lain dengan semena-menanya. Mungkin di Bali isu tentang pelanggaran animal welfare lebih mengarah kepada anjing Bali. Anjing yang dibiarkan liar tak terurus hingga mengidap virus rabies dan berujung pada eliminasi massal.

Tidak semua anjing mungkin berakhir mati dengan tenang, bisa saja singgah dulu di piring para penyantap. Untuk hal ini bukan hanya anjing liar, tetapi yang terpelihara dengan baik pun bisa menjadi target jika dibiarkan berkeliaran terlalu jauh dari rumahnya.

Sementara isu di luar Bali? Beraneka! Tentang plastik yang menjadi bagian jeroan ikan. Macan dan monyet yang diburu dan dipamerkan di media sosial. Penyimpangan orang utan yang “viral”. Gajah yang berontak dan balas dendam karena rumahnya digusur dan dibakar untuk lahan pertanian. Masih dan terlalu banyak untuk dijadikan contoh. Masih dan terus terjadi hingga hari ini.

Kebenarannya, bukan hanya Bali yang memiliki filosifi tentang menjaga alam, menyayangi hewan, dan hidup selara. Hampir di seluruh pelosok Indonesia, budaya dan tradisi tentang animal welfare dapat dirujuk dan menjadi panutan. Andai manusia di Indonesia “eling” dengan akar budaya dan jati dirinya. Mungkin memang perlu pematik tentang fenomena ini. Influencer dari negara barat misalnya. Karna bangsa ini masih menjadi pengikut arus deras budaya dan tren negri orang. Bukanlah hal negatif memang karena Indonesia masih “galau” tentang karakternya.

Menuju pada bagian penutup, bukan kesimpulan positif ataupun kritik yang perlu ditekankan dalam tulisan ini. Semoga ini menjadi nostalgia dan pengingat tentang budaya Indonesia serta relevansinya pada hari ini. Indonesia tetaplah bangsa yang besar meski masih banyak hal compang camping yang membalut kesehariannya. [b]

The post Tumpek Kandang, Penghormatan Bali pada Hewan appeared first on BaleBengong.

Berkunjung ke Plaga Saat Panen Gemitir Tiba


Seorang petani memanen bunga gemitir di Plaga. Foto Anton Muhajir.

Hujan deras turun di Desa Belok Sidan awal bulan lalu.

Langit gelap di kawasan pegunungan berjarak sekitar 60 km utara Denpasar tersebut. Namun, derasnya hujan justru membersihkan desa sejuk di ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut itu.

Begitu hujan selesai, udara desa di Kecamatan Plaga, Kabupaten Badung itu makin terasa segar. Daun-daun makin menghijau. Begitu pula kuning terang bunga gemitir (Tagetes erecta L.) di kebun milik Wayan Jirna. Bunga berbentuk bulat itu mekar kuning terang di antara daun-daun menghijau.

Made Kastika bersama tiga buruh harian lainnya memanen bunga gemitir di lahan seluas 20 are milik Jirna. Menggunakan gunting, dia memotong satu per satu bunga sebesar kira-kira sekepal tangan orang dewasa itu dan memasukkannya ke keranjang.

Ketika keranjang itu sudah penuh, dia akan membawanya ke tempat pengumpulan.

Tidak hanya menjadi sarana sembahyang bagi umat Hindu Bali, bunga gemitir kini juga menjadi sumber pendapatan baru bagi petani di Bali, seperti halnya Jirna.

Sejak sekitar lima tahun lalu, Jirna dan petani lain di kawasan Plaga mulai menanam bunga gemitir. Bunga ini melengkapi komoditas lain yang sudah ada sebelumnya seperti sayuran, kopi, dan buah-buahan.

“Dulu coba-coba saja pas mulai. Ternyata hasilnya bagus,” kata Jirna.

Dari 1 hektare lahan miliknya, Jirna kini menanam bunga gemitir 20 are. Dia memilih lahan yang di pinggir jalan. Kemudahan untuk terlihat dari jalan raya menjadi salah satu alasannya. Kebun bunga gemitir Jirna ini memang berada persis di pinggir jalan utama yang menghubungkan dua kabupaten yaitu Badung dan Bangli.

Dengan warna merah menyala, bunga gemitir menarik mata termasuk bagi serangga. Foto Anton Muhajir.

Kebutuhan Sembahyang

Secara ekonomi, menurut Jirna, hasil budi daya bunga gemitir juga bagus. Petani tidak memerlukan lahan atau bedengan khusus. “Guludannya pakai yang sudah ada. Bisa gantian pula dengan tanaman cabai atau tomat,” kata Kastika.

Ketika berumur 55 hari, bunga pun sudah siap dipanen antara 5 – 10 kali selama satu kali musim tanam. Dalam setahun, petani menanam gemitir 2-3 kali bergantian dengan komoditas lain, seperti cabai atau tomat.

“Kalau bunganya tidak terlalu bagus, lima kali panen sudah dicabut,” ujar Jirna.

Sekali panen, dari 20 are lahan miliknya, Jirna bisa mendapatkan bunga potong, nama lain gemitir, sebanyak 900 kg. Kalau sepi hanya sekitar sepertiganya. Dia kemudian menjual bunga itu langsung ke pasar di Denpasar.

Bunga gemitir saat ini menjadi salah satu kebutuhan di Bali. Umat Hindu Bali menjadikan bunga ini sebagai salah satu perlengkapan banten, sesaji saat sembahyang, sehari-hari. Karena permintaan makin banyak, petani pun makin banyak yang membudidayakannya.

Menurut Jirna harga per kilogram bunga gemitir juga relatif. Tergantung pasar. Ketika permintaan banyak sedangkan persediaan sedikit harganya bisa sampai Rp 100 ribu. “Kalau sekarang suplainya lagi banyak, jadi harganya turun. Paling hanya Rp 10 ribu,” katanya.

Jirna mengatakan bunga gemitir saat ini memang makin banyak ditanam di berbagai tempat. Tidak hanya di kawasan sejuk seperti Plaga, tetapi juga daerah lain termasuk Karangasem. “Sekarang makin menyebar ke mana-mana,” tambahnya. Bunga gemitir memang relatif mudah dibudidayakan.

Menurut Kastika salah satu masalah dalam budidaya bunga gemitir hanya busuk daun dan cacar daun. “Kadang-kadang juga batangnya kering tidak mau berbunga,” ujarnya. Namun, secara umum penyakit semacam itu dengan mudah bisa diatasi.

Petani menyiapkan bunga gemitir untuk dikirimkan ke pasar. Foto Anton Muhajir.

Tempat Selfie

Toh, meskipun harga bunga gemitir sedang turun, petani bisa mendapatkan pemasukan dari cara lain dengan menjadikan kebunnya sebagai lokasi berfoto-foto, seperti milik Jirna. Lokasinya yang berada di samping Jembatan Tukad Bangkung, jembatan tertinggi di Bali, membuatnya menjadi salah satu lokasi favorit pengunjung.

Dia memasang papan untuk pengunjung: Rp 5.000 per orang.

Sepanjang jalan dari Badung menuju Plaga kebun-kebun semacam ini dengan mudah ditemukan di kanan kiri jalan. Dengan warna kuning mencolok, bunga gemitir langsung menarik mata, termasuk bagi Sri Utami dan teman-temannya.

Siang itu, sepulang dari Kintamani, dia sengaja lewat Plaga meskipun agak memutar. Ketika lewat salah satu kebun di Desa Plaga, dia pun berhenti lalu berfoto-foto. Petani di belakangnya sedang memanen bunga seperti halnya di kebun milik Jirna.

“Bagus buat lokasi selfie,” katanya lalu tertawa.

Menurut Utami, kebun bunga gemitir bisa menjadi pemandangan menarik terutama ketika sudah mekar bunganya. Bunga kuning merekah bisa jadi objek foto yang menarik bagi dia dan teman-temannya.

Made Weti, pemilik kebun mengatakan makin banyak pengunjung datang ke kebun bunga gemitir miliknya. Umumnya mereka anak-anak muda dan berombongan. Kadang ada yang bayar, tetapi tak sedikit yang hanya berfoto lalu pergi begitu saja.

“Tidak apa-apa. Yang penting tidak merusak kebun saya,” ujarnya.

Ketika musim liburan, dalam satu hari bisa 100an orang yang datang untuk berfoto-foto. Namun, ketika sepi seperti saat ini karena musim hujan, dapat 30 tamu saja sudah untung.

Selain pengunjung lokal, menurut Weti, banyak pula tamu asing datang ke kebunnya, terutama dari Cina. Umumnya mereka melakukan foto-foto sebelum menikah (pra wedding) sehingga Weti memberikan harga khusus.

“Lumayanlah buat tambahan pendapatan,” katanya.

Dari semula hanya di Plaga, kebun buga gemitir semacam itu kini makin marak di Bali. Beberapa tempat wisata pun memiliki kebun khusus gemitir di lahannya. Pemandangan seperti itu menambah panjang lokasi-lokasi menarik untuk berwisata alam di Pulau Dewata. [b]

Catatan: tulisan ini juga terbit di Mongabay Indonesia.

The post Berkunjung ke Plaga Saat Panen Gemitir Tiba appeared first on BaleBengong.

Denpasar, Harapan dari Balik Bukit


Lalu lintas Denpasar dan kota-kota lain di Bali bagian selatan makin macet. Foto Anton Muhajir.

Oleh Kiki Dewanti

Kapankah kita sampai? Berapa jam lagi?

Saya mual. Muak sekali. Harus berapa belokan lagi? Begitu terus sampai kepala saya gusar dengan jalanan ini. Kenapa begitu jauh? Haruskah membelakangi bukit?

Terbuanglah banyak energi, uang bahkan waktu saya.

Kota ini begitu kecil. Saya jarang sekali menyukainya. Berada di bagian utara yang terpelosok dari hiruk-pikuk. Di mana letak indahnya? Pantai hitam pekat, bau kekerasan, ketidakramahan untuk sesuatu yang baru pun sangat sering saya jumpai.

Hanya senja yang selalu sama. Namun, saya tak setuju jika senja berada di sini. Senja terlalu indah menari di atas laut hitam kota mati ini. Senja terlalu mewah untuk dihidangkan dalam piring seng lusuh penuh cacian.

Hanya senja yang bisa saya nikmati di sini. Andai saya bisa mengantongi senja agar bahagia saya selama di kota ini. Agar bisa saya ceritakan bagaimana malangnya lelaki pedagang nasi yang tak bisa mencintai wanita.

Terlalu sering saya mengutuk kota ini. Lebih baik saya melarikan diri. Menghilangkan jejak dari keterpurukan yang benar-benar membuat saya menjadi manusia kosong. Lari ke seberang bukit yang menjanjikan berjuta keindahan.

Keterpurukan yang semakin jelas karena seharusnya pada November lalu saya menggunakan toga dan sah menjadi ‘pengangguran berpendidikan’. Hahaha. Namun, di sanalah letak kebahagiaan orang tua saya. Melihat gadis kecilnya menggunakan toga dan menyandang gelar sebagai Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris.

Setelah kekecewaan menampar dengan keras, lagi-lagi sebuah keterpurukan menghantam saya. Masalah hati lebih tepatnya. Asmara dua tahun kandas karena benda mati. Bagaimana rasanya cintamu ditolak hanya karena sebuah benda mati? Singkat saja ya, biar gak baper lagi. Hahaha.

Saya memutuskan untuk penenangan jiwa ke Denpasar. Ya, Ibu Kota yang malah menurut saya dapat menenangkan jiwa dan pikiran, di samping stigma orang-orang bahwa Denpasar adalah kota yang berisik.

Hampir sama seperti Jakarta, kata mereka. Tak kerja maka tak makan. Keras, pengap dan hidup yang serba harus berjuang. Berjuang dengan macet, dengan biaya hidup dan jauh dari kata damai.

Tapi, bagi saya di sini saya akan dengan sangat mudah bisa berkembang dan juga melupakan kelam di tahun 2018.

Bulan November akhir, saya mulai sering tinggal di Denpasar. Entah berkunjung ke berbagai Festival, mengunjungi teman lama, mabuk-mabukan bahkan mencari tambatan hati yang baru hanya sebagai pelampiasan semata.

Dua minggu di Denpasar dan hanya dua sampai tiga hari saja pulang ke Singaraja. Saya mencari membenaran diri ke kedua orangtua. Untuk menenangkan diri.

Syukurnya saya mempunyai orangtua yang sangat fleksibel atas pilihan anak-anaknya. Setelah selesai kuliah, hidupmu kau bawa sendiri. Namun tetap dengan dijejali pertanyaan ‘kapan ngurus Skripsinya?’. Saya sedikit mengacuhkan itu, karena hanya perlu tenang untuk sementara waktu.

Hal yang paling mendorong saya ketika ingin berpijak ke Denpasar adalah keinginan kuat untuk berkembang dan melupakan kelam suram dunia di seberang bukit. Saya melihat banyak sekali teman menjadi orang baru ketika bisa bertahan hidup di kota ini. Dalam konteks positif tentunya. Ada yang sukses dalam berteater, bermusik bahkan berbisnis.

Bagi saya, banyak hal yang mereka pelajari ketika hidup di kota besar ini. Dari mengelola uang, waktu juga rasa rindu ingin pulang. Mereka benar-benar menata diri dan hidup ketika berada jauh dari rumah.

Membagi antara waktu bekerja dan senang-senang. Mana uang untuk makan, menabung dan juga hura-hura. Hal tersebut yang sangat saya ingin pelajari dan memberikan diri tantangan agar saya tak lagi menjadi manusia manja.

Tak sulit bagi saya untuk beradaptasi disini. Karena basic-nya saya adalah manusia dengan flekibelitas tingkat astronot. Hahaha. Saya mudah sekali bergaul kemanapun angin membawa. Hanya saja mungkin ada beberapa hal kecil yang benar-benar membuat saya sedikit belajar. Belajar menghargai uang.

Di sini harga beli lumayan tinggi. Sangat berbeda dengan Singaraja yang apa-apa serba murah. Hanya dengan Rp 10 ribu, saya bisa mendapatkan sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauk, es teh manis dan sebatang rokok eceran.

Di sini saya sangat jarang menemukan warung makan yang bisa mendapatkan hal yang sama ketika hidup di Singaraja. Dan juga saya lebih berpikir untuk mengeluarkan sepeser uang untuk hal yang tidak perlu. Belanja ini-itu melulu melihat harga.

Namun, yang saya temui di sini adalah ketersediaan hiburan tanpa batas. Waduh berat juga nih. Harus irit, tapi hiburan ada di mana-mana. Yang di mana harus keluar uang lebih untuk sekedar Say Hello dengan teman lama. Ya namanya juga hidup ya harus ada yang dikorbankan.

Harapan saya besar di kota ini. Seperti harapan kedua orangtua kepada saya. Memberikan kehidupan yang lebih baik, memberikan pelajaran berharga dan juga memberikan suatu proses pendewasaan diri.

Saya lahir di Denpasar. Tumbuh besar dan bermain juga di Denpasar. Tepatnya di Komplek Perumahan Tentara di Jalan Sudirman. Banyak sekali kenangan yang tertanam, bahkan saya tak sanggup melupakan bagaimana serunya bermain sepeda sampai jatuh dan pingsan. Mengumpulkan kartu Yugi-Oh, dan bermain Nintendo yang pada zamannya sudah sangat seru sekali.

Saya ingin hidup kembali ditempat masa lalu saya tumbuh. Dalam kehidupan kota hiruk-pikuk ini, saya juga lebih menghargai waktu untuk merindukan rumah. Kehidupan di sini begitu cepat, pengap dan keras. Di mana saya terus dituntut untuk melakukan sesuatu agar aku bisa terus bertahan hidup. Di sinilah proses pendewasaan hidup dimulai.

Setelah beberapa bulan menetap di sini, saya merasakan ada sedikit yang berubah dalam hidup. Mulai dari cara pandang orang, mengenal manusia jenis baru, belajar hal-hal yang tak pernah saya tahu sebelumnya. Dan yang paling penting adalah mendapat pekerjaan yang lumayan mendukung kehidupan di sini.

Harapan yang terus muncul ketika bangun tidur dan menjelang tidur adalah membuat orangtua mengatakan ‘iya, itu anak saya yang di sana’ dengan bangga dan meneteskan air mata.

Denpasar, bantu saya untuk mewujudkan kebanggaan orangtua. Saya sudah hampir gagal untuk membanggakan mereka, tetapi harapan saya masih kuat denganmu. Bantu saya untuk hidup yang lebih baik. [b]

The post Denpasar, Harapan dari Balik Bukit appeared first on BaleBengong.