Surat Terbuka untuk Kandidat Cagub dan Cawagub Bali

Koordinator ForBALI menunjukkan surat terbuka yang dikirimkan kepada calon gubernur dan wakil gubernur Bali 2018 terkait dengan reklamasi Teluk Benoa. Foto ForBALI.

ForBALI melayangkan surat terbuka menjelang Pilgub 2018.

Surat setebal tujuh halaman dari Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) itu ditujukan kepada para calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali yang akan berkontestasi pada Pilgub Bali 2018 maupun partai politik penyokong kedua kandidat.

ForBALI telah mengirimkan surat ke masing-masing kandidat dan partai pendukungnya pada 15 dan 16 Januari 2018.

Menurut Koordinator Umum ForBALI, Wayan Gendo Suardana, surat terbuka tersebut mereka layangkan agar isu tolak reklamasi Teluk Benoa dan pembatalan Perpres 51 tahun 2014 tidak hanya menjadi komoditas politik untuk menaikan elektabilitas. “Dengan surat ini kami sah untuk menguji keseriusan mereka dalam menolak reklamasi,” kata Gendo.

Perjuangan menolak rencana reklamasi Teluk Benoa sudah berjalan selama lima tahun. Selama kurun waktu itu, menurut Gendo, sebenarnya banyak hal yang bisa mereka lakukan dalam kurun waktu 60 bulan ini. Namun, mereka tidak berbuat apa-apa,” papar Gendo.

ForBALI mengapresiasi sikap para kandidat Pilgub Bali 2018 yang tiba-tiba serius dengan janji jika terpilih akan menolak reklamasi Teluk Benoa dengan segala motif di belakangnya. Namun, menurut Gendo Suardana, sikap tersebut harus tetap diuji untuk benar-benar menunjukkan keseriusan.

“Rakyat jangan disuguhi lagi janji-janji politik hanya sekedar menaikan elektabilitas politik para calon,” ujarnya.

Surat terbuka kepada para kandidat Pilgub Bali 2018 dan partai pendukungnya juga didasarkan pada hasil penelurusan ForBALI atas sikap mereka selama ini dalam isu reklamasi Teluk Benoa. Para kandidat di Pilgub Bali 2018 dan partai pendukung seolah-olah mereka serius menolak reklamasi bahkan dengan mengeluarkan Pakta Integritas.

Menurut ForBALI Pakta Integritas adalah janji terhadap diri sendiri dan sikap penolakan yang dilontarkan tersebut adalah tanggung jawab moral. Kalaupun itu harus diterima dan dipercaya menolak reklamasi Teluk Benoa menurut ForBALI itu dilakukan bukan setelah terpilihnya menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur.

“Tidak perlu rasanya menunggu Para Cagub dan Cawagub menang Pilgub 2018 untuk membuktikan janji politik mereka guna menolak reklamasi Teluk Benoa termasuk memperjuangkan pembatalan Perpres Nomor 51 tahun 2014,” Gendo melanjutkan.

Jika memang serius, para kandidat cagub dan cawagub Bali bisa saja langsung membuktikan komitmennya saat ini juga. Misalnya dengan menulis surat kepada Presiden jokowi dalam kapasitas sebagai pejabat publik, minta Presiden menolak reklamasi Teluk Benoa dan membatalkan Perpres Nomor 51 tahun 2014. Bukti lain bisa dengan menulis surat kepada ketua umum masing-masing mita agar seluruh kader terasuk fraksi-fraksi di semua level kekuasaan baik DPR RI, DPRD Bali dan DPRD Kabupaten/kota se-Bali agar segera memperjuangan penolakan reklamasi dan pembatalan Perpres Nomor 51 tahun 2014.

Gendo menjelaskan logika sederhana. Kalau semisal urusan janji politik program pendidikan gratis atau kesehatan gratis maka pembuktiannya memang setelah para kandidat terpilih. Sebab sebelum mereka terpilih mereka tidak punya kewenangan dan kuasa anggaran. Namun, dalam konteks perjuangan penolakan reklamasi, tidak diperlukan kewenangan kuasa anggaran maupun kewenangan kebijakan selaku kepala daerah tetapi cukup dengan niat baik dan keberanian politik dengan menggunakan kapasitas yang ada.

“Menolak reklamasi Teluk Benoa dan meminta pembatalan Perpres Nomor 51 tahun 2014 dapat dilakukan sekarang juga tanpa harus menunggu menjadi Gubernur. Hal itu akan terjadi jika kandidat beserta parpol penyokongnya serius menolak reklamasi Teluk Benoa. Sangat gampang,” tegas Gendo.

Dalam surat terbuka yang dilayangkan, ForBALI mendesak agar para kandidat menyampaikan surat kepada Presiden Joko Widodo supaya menolak rencana reklamasi Teluk Benoa sebelum memasuki masa cuti dari jabatan politik.

Saat ini para kandidat cagub dan cawagub memang masih menjadi pejabat publik. I Wayan Koster sebagai anggota DPR RI, I.B. Rai Dharmawijaya Mantra sebagai Wali Kota Depasar dan I Ketut Sudikerta sebagai Wakil Gubernur Bali. Sebagai pimpinan partai di Bali, I Wayan Koster selaku Ketua DPD PDIP Bali dan Ketut Sudikerta selaku Ketua DPD Partai Golkar Bali juga diminta agar bersurat kepada Ketua Umum DPP partai politiknya masing-masing, meminta agar partainya mengeluarkan sikap politik menolak reklamasi Teluk Benoa sekaligus meminta pembatalan Perpres Nomor 51 Tahun 2014 kepada Presiden RI, Joko Widodo.

Selanjutnya ketua umum DPP PDIP dan Ketua Umum DPP Partai Golkar agar memerintahkan Fraksi-Fraksi di DPR RI melakukan upaya-upaya politik untuk menghentikan reklamasi Teluk Benoa dan meminta pembatalan Perpres Nomor 51 Tahun 2014. Hal sama berlaku pula bagi seluruh fraksi-fraksinya pada DPRD Bali dan seluruh DPRD Kabupaten/kota di Bali.

Gendo menambahkan, logikanya yang mengeluarkan rekomendasi kan DPP partai politiknya masing-masing, tidak bisa dilepaskan tanggung jawab mereka sebagai satu kesatuan struktur partai. Ketika DPP mengeluarkan rekomendasinya lalu calon yang direkomendasikan menyatakan penolakan reklamasi Teluk Benoa, maka iktikad politik itu juga itu berlaku bagi para pemberi rekomendasinya,” katanya.

“Apalagi beberapa partai politik telah membuat pakta integritas terkait sikap mendukung penolakan reklamasi Teluk Benoa. Sebab kasus ini kan kebijakannya level nasional,” Gendo menambahkan.

Terkait reklamasi Teluk Benoa, pihak yang memutuskan adalah Komisi IV DPR RI. Nah, Ketua Umumnya mereka seharusnya bisa memerintahkan fraksi-fraksinya menghentikan rencana reklamasi Teluk Benoa dan bersurat kepada Presiden agar membatalkan Perpres Nomor 51 Tahun 2014. “Hal sama juga berlaku bagi partai politik pengusung kandidat KBS-ACE dan MANTRA-KERTA di luar partai politik PDI P dan GOLKAR,” tandas Gendo. [b]

Catatan: Surat Terbuka dari ForBALI untuk kandidat calon gubernur dan wakil gubernur Bali terkait rencana reklamasi bisa dibaca di tautan berikut.

The post Surat Terbuka untuk Kandidat Cagub dan Cawagub Bali appeared first on BaleBengong.

Jalan Pulang Bernama Puisi – Pengantar “Catatan Pulang”

Menulis bagi saya sebuah terapi dan katarsis.

Terlebih setelah saya divonis mengidap skizofrenia pada usia 25 tahun, sesuatu yang membuat langit terasa runtuh dan memorak-porandakan mimpi serta harapan.

Saya menekuni puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya, komunitas seni di kota kelahiran saya, Negara. Di sana saya mengenal dunia sastra dan puisi menjadi oase yang menyejukkan serta mengisi dahaga batin dan pencarian saya akan makna hidup. Ada kegembiraan yang saya rasakan saat puisi-puisi saya dimuat di koran lokal. Saya makin bersemangat menulis dan mengirimkan karya ke media massa.

Kegemaran menulis puisi berlanjut saat saya pindah ke Denpasar melanjutkan studi di universitas, hingga musibah itu datang pada 2009; saya mengalami gangguan jiwa yang membuat saya tak bisa menyelesaikan studi dan kembali ke kampung halaman. Dalam masa penyembuhan, puisilah tempat saya berekspresi dan mengeluarkan semua beban yang mengganjal.

Puisi menjadi tempat pulang, tempat saya menemukan rumah yang sebenarnya. Saya mendapat kekuatan dan optimisme melalui jalan sunyi puisi.

Pada 2014 saya memberanikan diri untuk keluar dari kampung halaman dan bekerja. Ternyata tidak mudah, saya mengalami pergulatan hebat tetapi saya tak menyerah pada keadaan dan penyakit yang saya derita. Menjadi jurnalis adalah pilihan saya setelah beberapa kali mencoba berbagai pekerjaan. Di sela-sela rutinitas saya tetap menulis puisi dan merambah pada esai seni budaya yang dimuat di beberapa media cetak dan online.

Impian menerbitkan buku puisi tercapai berkat dukungan Komunitas Peduli Szikofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Rumah Berdaya Denpasar, tempat saya bergiat beberapa tahun terakhir. Maka lahirlah buku puisi “Catatan Pulang”, di mana judul diambil dari salah satu sajak dalam buku tersebut.

Sebanyak 67 sajak terhampar dalam buku kumpulan puisi pertama saya ini yang ditulis dalam kurun waktu 16 tahun, 2001 hingga 2017 dan menjadi “cacatan” atas berbagai hal yang saya alami dan rasakan; tentang cinta, perjuangan menghadapi skizofrenia, kerinduan dan pencarian makna hidup. Saya berharap buku ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja, terutama bagi teman-teman ODS (Orang Dengan Skizofrenia) yang sedang berjuang menghadapi penyakit dan juga stigma.

Peluncuran buku puisi “Catatan Pulang” akan digelar pada Sabtu, 20 Januari 2018 bertempat di Rumah Berdaya Denpasar, Jalan Hayam Wuruk 179 Denpasar. Acara akan diisi dengan tour galeri seni Rumah Berdaya, pemutaran film dan ngobrol sore bersama Abu Bakar (Aktor/sutradara teater) dan Nanoq da Kansas (Penyair, aktivis seni) serta pembacaan puisi.

Kehadiran kerabat dan sahabat pencinta sastra akan sangat berarti bagi saya. Terima Kasih. [b]

The post Jalan Pulang Bernama Puisi – Pengantar “Catatan Pulang” appeared first on BaleBengong.

Perayaan Siwaratri di Desa Pekraman Bukit Jangkrik, Bermaknakah?

Anak muda di Gianyar merayakan Siwalatri dengan cara berbeda.

Perayaan Hari Siwalatri di Desa Pakraman Bukit Jangkrik, Samplangan, Gianyar tampak berbeda dengan perayaan-perayaan Siwaratri sebelumnya. Pada perayaan kali ini Paguyuban Seka Truna Truni Bukit Jangkrik melaksanakan nuasen yang diadakan di Pura Pucak Bukit Jangkrik.

Rangkaian Nuasen ini dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan acara penampilan Drama Inovatif Pesraman Satya Giri Bukit Jangkrik. Pada Nuasen ini juga diadakan sedikit latihan persiapan drama yang akan ditampilkan pada Piodalan Pura Pucak Bukit Jangkrik pada 2 Februari 2018 nanti.

Tak hanya itu, dalam rangka Nuasen ini juga dilaksanakan persembahyangan di beberapa pura di Bukit Jangkrik. [b]

The post Perayaan Siwaratri di Desa Pekraman Bukit Jangkrik, Bermaknakah? appeared first on BaleBengong.

Latar Belakang Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali 2018

Latar belakang pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali pada Pilkada tahun 2018 ini sebaiknya diketahui oleh para calon pemilih sebelum memutuskan untuk memberikan suara kepada salah satu calon. Jangan hanya ikut-ikutan tanpa mengetahui latar belakang serta visi-misi dan program kerja yang ditawarkan. Dua pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali sudah diumumkan yaitu Wayan Koster – Cok Ace, dan pasangan lainnya yaitu Rai Mantra – Sudikerta. Bagaimanakah latar belakang keempat orang tersebut?

Saya mungkin salah satu orang awam yang tidak/belum tahu banyak latar belakang kedua pasang calon Gubernur Bali. Jadi saya mungkin bisa mewakili pandangan orang awam tentang latar belakang masing-masing dari keempat orang tersebut sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Bali. Apa yang saya tulis disini adalah tanpa googling lagi, jadi murni apa yang saya ketahui selama ini saja.

Kita mulai dari Wayan Koster. Yang saya tahu dia adalah politikus dari PDIP. Kalau tidak salah dia adalah anggota DPR RI, eh DPR apa DPD sih? DPR sih kayaknya. Pertama kali saya tahu namanya adalah ketika membaca-baca koran lokal Bali beberapa tahun lalu. Itu saja yang ketahui tentang Wayan Koster. Selebihnya yang saya tahu adalah baliho Wayan Koster mulai bertebaran di jalan-jalan mungkin sejak sekitar setahun yang lalu, dengan singkatan KBS (Koster Bali Satu) yang artinya siap maju sebagai calon gubernur Bali.

Selanjutnya Cok Ace. Latar belakang Cok Ace mungkin yang paling sedikit yang saya tahu. Kalau tidak salah Cok Ace adalah mantan Bupati Gianyar. Cok Ace juga kayaknya sempat maju sebagai calon gubernur (apa wakil ya?) beberapa tahun lalu, tapi gagal menang. Kalau tidak salah Cok Ace juga ketua PHRI, yang kemungkinan besar sangat dikenal di dunia usaha pariwisata.

Selanjutanya Rai Mantra. Latar belakang Rai Mantra sebenarnya tidak banyak juga yang saya tahu, tapi saya follow akun instagram Rai Mantra dan melihat beberapa aktivitasnya. Yang jelas Rai Mantra adalah putra mantan gubernur sekaligus tokoh terkenal dari Bali, Ida Bagus Mantra. Rai Mantra sekarang masih aktif sebagai Walikota Denpasar yang menurut saya walau diam-diam tapi apa yang ada di Denpasar banyak yang keren menurut saya. Contoh kecil seperti penataan daerah taman kota Lumintang, lapangan Puputan Badung dan Tukad Badung. Juga kegiatan Denpasar Festival. Itu saja tentang Rai Mantra.

Terakhir Sudikerta. Yang saya tahu Sudikerta saat ini masih aktif sebagai wakil Gubernur Bali, jadi bisa dikatakan sebagai incumbent. Sebelumnya Sudikerta pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Badung berpasangan dengan A.A. Gde Agung dari Puri Mengwi. Sudikerta adalah politisi senior dari partai Golkar.

Jadi, begitulah latar belakang masing-masing calon gubernur dan wakil gubernur Bali tahun 2018. Latar belakang ini adalah murni dari apa yang saya ketahui saja sebagai orang awam. Mengingat apa yang saya ketahui sangat sedikit, saya dan mungkin masyarakat calon pemilih lainnya khususnya yang belum menentukan pilihan sangat berharap masing-masing pasangan calon menunjukkan dan mensosialisasikan lagi latar belakang masing-masing dan tentunya yang terpenting adalah visi, misi serta program kerja yang ditawarkan. Sehingga kita bisa menimbang-nimbang mana yang lebih cocok untuk dipilih nanti.

Baca Juga:

Ini Dia Ponsel Pintar Murah Yang Tidak Murahan Di JD

Memiliki ponsel pintar merupakann idaman setiap orang. Mengapa demikian? Karena setiap sisi kehidupan manusia modern saat ini tidak bisa dilepaskan dari kehadiran ponsel pintar. Mulai dari sekedar bercakap cakap dengan kawan atau saudara, membaca berita dan informasi terkini, sampai mengatur segala urusan rumah tangga dan pekerjaan, ponsel pintar diperlukan kehadirannya.

Sayangnya saat ini, ponsel pintar berkualitas makin sulit digapai karena harganya yang kian mahal. Bayangkan untuk menebus ponsel pintar merk terkenal, orang harus merogoh kocek sangat dalam. Bahkan ada ponsel pintar yang harganya sama dengan harga sebuah sepeda motor.

Untungnya saat ini telah hadir HP Lenovo, sebuah merk ponsel yang terkenal dengan produk ponsel berkualitas dengan harga yang bersahabat. Meskipun dibanderol dengan harga murah, ponsel pintar Lenovo bukanlah ponsel murahan yang memberi fitur seadanya. Ada segudang fitur menarik yang ditawarkan oleh ponsel pintar Lenovo yang disesuaikan dengan keinginan penggunanya.

Untuk entry level atau kelas pemula, Lenovo menawarkan ponsel pintar A7700 yang sudah dilengkapi dengan RAM 2GB dan kapasitas penyimpanan sebesar 16GB. Ponsel pintar yang dijual dengan harga 1,3 jutaan ini telah dilengkapi dengan kamera depan 2MP dan kamera belakang 8MP. Sedangkan untuk dapur pacu menggunakan CPU Quad-core 1.0 GHz Cortex-A53. Ponsel pintar ini telah mendukung semua jenis koneksi internet yang ada di Indonesia, termasuk 4G atau LTE.

Untuk kelas menengah, Lenovo menawarkan ponsel Lenovo K6 Power. Dengan harga sekitar 1,9 jutaan, Lenovo K6 Power dilengkapi kamera depan sebesar 8MP dan kamera belakang sebesar 16MP. Untuk dapur pacu, Lenovo K6 Power menggunakan CPU Octa-core 1.4 GHz Cortex-A53, dengan RAM sebesar 3GB dan media simpan sebesar 32GB. Seperti halnya Lenovo A7700, Lenovo K6 Power juga mendukung semua koneksi data yang ada di Indonesia.

Untuk kelas high level, Lenovo menawarkan ponsel pintar Lenovo Vibe X3. Kelebihan utama dari Lenovo Vibe X3 adalah dapur pacunya yang telah mengusung teknologi Hexa-core (4×1.4 GHz Cortex-A53 & 2×1.8 GHz Cortex-A57). Sedangkan untuk kamera depan berukuran 8MP dan kamera belakang 21MP. Untuk RAM, Lenovo Vibe X3 menawarkan RAM sebesar 3GB dengan media simpan sebesar 32GB. Dengan banderol harga 4,6 jutaan, rasanya pas dengan kemampuan yang ditawarkan oleh ponsel pintar ini.

Demikian sekelumit barisan produk Lenovo yang bisa dibeli online dan tentu saja dengan kemampuan yang ditawarkan tersebut, ponsel pintar Lenovo bisa menjadi salah satu ponsel pintar pilihan keluarga Anda.