Tentang; Joko Pinurbo



*Penyair Favorit Saya 😀

Pertemuan saya dan Joko Pinurbo adalah sebuah kebetulan semata, saat itu saya belum teguh bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Hari itu, Sabtu. Entah tanggal berapa, di tahun 2012. Saya masih bekerja di sebuah Travel Korea yang berkantor di Duty Free Shopping (DFS) Mall Bali Galeria. Sabtu adalah akhir minggu yang berarti kita hanya bekerja setengah hari, yang artinya juga, ada waktu untuk berjalan-jalan sebentar mengunjungi toko buku di gedung sebelah.

Saya memasuki Gramedia Toko Buku, yang ternyata saat itu sedang cuci gudang sepertinya. Banyak buku-buku lama bertebaran di pintu masuk dengan label “Diskon besar-besaran”

Cukup lama saya berkeliling, mengitari buku-buku tersebut. Menggali bagian-bagian tertentu yang menumpuk terlalu tinggi, mencoba menemukan buku yang sekiranya menarik. Lalu, buku ini mencuat di antara keramaian. Saya terpaku pada judul buku ini. Lucu. Saya lihat nama penulisnya, hm asing. Belum pernah dengar. Saya buka beberapa halaman, detik itu juga saya jatuh cinta.

Akan tetapi _saya memang manusia yang agak tidak menyenangkan bagi diri sendiri jika urusan beli-membeli_ tidak saya ambil bukunya. Saya memutuskan pulang saja setelah sempat menelaah beberapa buku lagi. Sepanjang jalan, bait-bait puisi yang saya baca itu menghantui. Pun ketika sudah berada di dalam Sarbagita, lagu yang saya dengarkan dari headphone seakan berirama dengan bait-bait tersebut. Saya coba ingat sekali lagi namanya, Joko Pinurbo. Hm…

Hari Minggu berlalu. Saya beraktivitas dengan baik.

Hari Senin, kembali bekerja. Dalam perjalanan, saya berdiri di dalam Sarbagita karena tidak cukup tempat duduk, para penumpang berdesakan, dan lagi-lagi saya terkenang Joko Pinurbo. Saya memutuskan akan mencari tahu beliau saat tiba di meja kerja nanti, tentu saja melalui internet.

Tiba di Kantor, ini penemuan saya:

Menarik, beliau memiliki satu blog khusus untuk puisi-puisinya. Semuanya adalah puisi yang menggelitik. Pertama kali saya bersinggungan dengan puisi prosa se-luar biasa ini. Tekad saya akhirnya bulat, saya akan membeli buku ini saat pulang kerja.

Namun di tengah kesibukan, saya tiba-tiba menjadi cemas. Baru sekarang saya menjadi sangat cemas. Bagaimana jika bukunya sudah terjual sejak sabtu sore kemarin . Ketika saya mengurungkan niat saya membeli? Duh kenapa pula tidak saya sembunyikan saja dulu buku itu dibalik tumpukan buku lain.

Kemudian sebuah pesan mampir ke hape saya, dari teman saya, Lieke Ramopolii (yang lebih sering saya sapa Usi).
“Basez, nanti sore ke Gramed MBG yuk, saya mo beli My Stupid Boss yang baru. Lagi ada diskon gede juga katanya di sana.”
Hohoho… tentu saja saya ringan jari membalas pesan singkat tersebut dengan “Oke”

Sore harinya kami bertemu di depan Gramedia Toko Buku. Setelah menemani Usi membeli MSB, kami bersama-sama membongkar-bangkir tumpukan buku yang dilelang tersebut. Buku yang saya cari itu lenyap, saya memutar beberapa kali untuk mencarinya. Tak jua berpapasan. Ah, apakah sudah laku? Saya terduduk. Lemas.

Untuk menyenangkan hati, saya mencoba mencari sasaran lain. Mungkin saya akan jatuh cinta kesekian kalinya di tempat ini, meskipun saya sendiri tidak yakin karena saya tidak semudah itu jatuh cinta pada karya orang lain #eh

Sebuah buku kumpulan cerpen Cecep Syamsul Hari “saya tahu, saya akan mati, di laut” berhasil menenangkan hati saya. Sedikit. Langsung saya angkut, namun saya masih saja galau. Saya pergi lagi ke tumpukan yang sama, tempat di mana sabtu kemarin saya menemukan buku tersebut. Di antara buku-buku sastra yang sudah cukup lawas. Lama saya di sana, menanti keajaiban, sebagaimana biasanya sebab saya tak mudah putus harapan. Saya melihat Usi Lieke masih sabar menanti sembari melihat-lihat beberapa buku. Dan yeah saya menemukannya, tepat di samping buku kumpulan cerpen Stefanny Irawan “Tidak Ada Kelinci di Bulan” yang akhirnya saya bawa pulang juga. Hahahaha….

Setelah hari itu, saya ganyang habis isi buku ini. Buku ini menemani saya ke banyak tempat, di banyak situasi, dua puisi saya yang terinspirasi dari puisi-puisi JokPin ada yang langsung saya tuliskan saja di buku ini. Hampir setiap hari saya memosting puisi-puisi beliau di halaman facebook saya. Dahulu sekali, saya memiliki postingan wajib setiap hari. Saya beri judul “Photo of The Day.” Foto-foto bercerita yang saya temukan di Google, saya padupadankan dengan puisi-puisi Jokpin. Salah satunya yang ini:

Belakangan saya lebih sering memostingnya bersama foto-foto sendiri. Lebih afdol nampaknya hihihi.

***

Dua atau tiga tahun kemudian, baru saya ketahui bahwa Joko Pinurbo adala seorang Taurus yang hari lahirnya tepat sehari sebelum saya lahir. Beliau juga adalah seorang Mantan Seminari. Hahahaha, Saya memiliki irisan yang sangat hm kentara dengan sebutan SEMINARI. Sementara cita-cita Imam saya masih saja menyala. Wew, coba ada Seminari Perempuan! hah…

***

Beberapa hari sebelum Natal Tahun 2015, saya dikirimkan sebuah buku. Buku kumpulan puisi Joko Pinurbo yang terbit pertama kali, masih dengan cover cetakan pertama. Beserta tanda tangan beliau. Nyata-nyata!

Terima Kasih kepada Mario Ferdinandus Lawi, yang meskipun baik hati namun sampai saat ini tetap saja saya tidak bisa berhenti untuk tidak menyukai dirimu #eh hahahahaha….
Bonus pembatas buku yang adalah boarding pass KPG-MOF atas nama LAWI/MARIO, Mr, yang tulisannya mulai kabur. Wkwkwkwkw…..
Mario mengirimkannya karena ia tahu saya sangat gandrung pada Jokpin!

4Things about this package :1. Mengapa nama penerima dan pengirim ditulis semuanya di bagian depan amplop?! Dannn oh c’mon, kenapa nama penerimanya bukan yang di tempat sewajarnya,pengirimnya pasti berasa superior nih! 2. Teknik membungkus paket yang mengerikan. Untungnya saya terbiasa terima paket dengan isolasi full seluruh amplop. Su ke orang kirim bom kah apa! 3. Jagungnya macam su berumur dan berjamur, harus ada doa pelepasan ‘rewos’ sebelum dikonsumsi dan terjadi sesuatu!4. Ketemu sesuatu didalam buku yang diduga digunakan pengirim sebagai pembatas buku, ketika melakukan sebuah perjalanan ke kota yang tertera pada boarding pass. Semacam pamer skali ih!Hahahaha,,,, all of above things is just for fun. The best part is, I got Joko Pinurbo special edition with his signature was there from Mario F. Lawi. The Best Enemy in this ” Semesta”For your information, he is really bad guy with some sweet sugar and red hot chili peppers!Merry Christmas,L.a.w.i!‪#‎christmastgift‬

***

Di hari Ulang Tahun beliau yang ke-54, hari ini, saya hanya ingin menyampaikan: Meskipun belum pernah bersua (saya harap kita segera bertemu, pak tua) saya selalu merasa JokPin adalah manusia Kampret pertama yang merubah selera berpuisi saya menjadi LEBIH KAMPRET (baca: aneh tetapi menyenangkan!)

Panjang Umur, Serta Mulia. Tak boleh lupa Bahagia \m/

Berikut, salah satu puisi saya yang mengotori buku beliau. Hahahaha….

Salam,
Maria Pankratia yang Wani(TA)urus


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *