Tasya Kamila Bercerita soal dirinya tembus Columbia University

foto by Google

foto by Google

Kabarportal.com – mendapatkan kesempatan yang jarang dimiliki oleh anak Indonesia lainnya. Tasya Kamila memperoleh beasiswa LPDP yang akan membawanya berkuliah di salah satu universitas bergengsi dunia. Jenjang pasca sarjana atau S2 di Columbia University jurusan public administration menjadi tujuannya. Gadis yang kini berusia 23 tahun ini mengatakan akan menghabiskan 2 tahun di Amerika Serikat untuk studinya ini.

Dan katanya ini merupakan kali pertama Tasya belajar di sekolah berkelas International. Lalu, apa ya hal yang menarik baginya dalam studi pertamanya di negeri orang?

Seperti yang dikutip pada laman Kapanlagi, Tasya mengatakan, “Aku belum pernah international school. Aku pengen menggali potensi aku seberapa jauh bisa menaklukan tantangan hidup di luar negeri sendiri”.

Menjelang dua minggu keberangkatan-nya ke AS, Tasya masih belum tahu pasti akan bagaimana kehidupan di sana. Namun, ia optimis bisa hidup mandiri di New York, kota tempat di mana kampusnya berada.

Tasya juga menceritakan jika tidak semua orang bisa diterima (Columbia University_Read). Menurut dia, kesempatan itu menjadi sebuah tantangan. “Aku sudah persiapkan dari Januari 2015. Alhasil perjuangan aku selama ini bisa dapat beasiswa dan mendapatkannya (jurusan public administration),” ungkapnya.

Serangkaian tes yang dilewati Tasya antara lain adalah tes GRE yang berguna untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa memahami bacaan yang rumit. Kemudian ada lagi tes spesifik yang terdiri dari matematika dan Bahasa Inggris, tes TOEFL, serta yang terakhir tes essay.

TOEFL yang digunakan dalam persyaratan masuk di Columbia University adalah TOEFL IBT yang tesnya menggunakan komputer. Di sini Tasya di uji kemampuan Reading, Listening, Writing dan Speaking. Skor maksimal dari ujian ini adalah 120 dan sekolahnya meminta untuk calon mahasiswa melebihi angka 100. Lalu, berapa skor Tasya?

“Sekarang kan paling tinggi 120. Sekolah aku minta 100. Aku di atas seratus,” kata cewek yang sebelumnya berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Akutansi ini.

Meski tak ada teman dekat, Tasya mengaku tak masalah dengan hal ini. “Kalau teman dekat (di sana) gak ada. Teman baru ada. Satu angkatan aku 400 orang, 3-nya orang Indonesia. Teman ku juga ada yang di sana, masih ada teman orang Indonesia sih,” ucapnya.

Mendapatkan beasiswa dan menjadi wakil dari Indonesia untuk menuntut ilmu di Columbia University tak dijadikan beban oleh Tasya. Baginya ini amanah yang akan memotivasi-nya untuk giat belajar di sana dan tujuannya adalah membawa pulang ilmu yang bermanfaat.

“Alasan aku (ambil S2) itu karena aku punya obsesi untuk jadi Menteri yah. Aku penyuka lingkungan, dan aku mengenali potensi aku di situ. Bidang lingkungan aku geluti. Makanya aku belajar jurusan itu,” pungkasnya. [KP/ GAP/ KL]


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *