Tag Archives: SASTRA

“Sastra ODGJ”: Apakah Sekadar Racauan?

Menulis adalah terapi bagus bagi pengidap gangguan mental.

Novel bersampul perahu di tepi pantai itu tergeletak di meja. Di masa pandemi ini, ketika pemerintah menyarankan warga untuk berdiam di rumah, saya kembali membacanya. Beberapa bulan lalu, sang penulis Saka Rosanta memberikan novel itu pada saya.

Sebelumnya, ia banyak berdiskusi tentang penerbitan novel perdananya. Kebetulan kami sama-sama bergiat di komunitas sama, Rumah Berdaya Denpasar yang mendukung dan mendanai penerbitan dua buku kumpulan puisi saya.

Novel Saka termasuk dalam program itu. Dicetak di sebuah penerbit dan percetakan Yogyakarta dengan penerbitan mandiri atau self-publishing.

The Light Part 1, The Soul Cahaya Sang Jiwa, judul novel itu. Pada kata pengantar pengarang asal Buleleng, Bali ini menjelaskan novelnya bercerita tentang peperangan hebat dalam melawan diri sendiri saat mencari jati diri. Saya melihatnya sebagai novel semi-otobiografi karena banyak menceritakan kehidupan pengarangnya.

Dimulai dari kisah masa kecil yang berantakan, mencari cinta dan kasih sayang membawanya menjadi pribadi yang berbeda. Ada yang tumbuh dalam dirinya, dimulai dari bisikan-bisikan, insomnia dan ketakutan yang mendalam. Ia tumbuh menjadi manusia menakutkan. Sewaktu kecil, pengarang kerap kali mengalami kekerasan domestik yang menumbuhkan trauma dan menyebabkan gangguan mental.

Di masa SMA, luka batin memunculkan perasaan hampa dan kosong. Beberapa kali mencoba bunuh diri tapi gagal. Setamat SMA ia melanjutkan studi diploma pariwisata, lulus dengan nilai pas-pasan. Mencoba melamar kerja di kapal pesiar dan lolos seleksi.

Pengalaman bekerja di kapal pesiar, yang merupakan impian banyak pemuda Bali digambarkan dengan indah, tentu dengan kisah asmara yang mewarnai. Pengarang bertemu dengan wanita pujaan hatinya yang sama-sama bekerja di kapal pesiar. Mereka menikah di kemudian hari.

Suatu hari badai menerpa, ia berkelahi dengan rekan kerja yang membuat ia dipecat. Beban pekerjaan yang berat ditambah kondisi mental yang tak stabil menyebabkan ia tak bisa mengontrol dirinya. Tanda-tanda mengidap skizofrenia sudah lama ada tapi tak dihiraukan.

Hampir sepuluh tahun bekerja di laut dan akhirnya kehilangan pekerjaan membuatnya makin tenggelam dalam lautan kesedihan dan depresi. Semua dituliskan apa adanya, membuat pembaca larut dalam emosi yang dibangun dari awal cerita.

Sebagai pembaca, saya sangat menikmati novel Saka. Kata dan kalimat yang ditulisnya puitis. Hanya saja, pada dua bab terakhir jalan cerita sedikit membingungkan. Apa yang ditulisnya tak lebih dari solilokui, seperti berbicara sendiri, untuk tidak menyebutnya “meracau”.

Saya baru bisa paham setelah bertanya pada pengarang perihal hal ini. Saka menjelaskan, tokoh-tokoh dalam dua bab di novelnya adalah kepingan dirinya yang split atau terbelah. Ia menuliskan halusinasi yang dialami. Bagi pembaca awam ini tentu membingungkan.

Perlu dicatat, saat ia menulis novel ini beberapa waktu dalam keadaan relaps atau kambuh. Di waktu-waktu kritis itu dia menulis apa yang ada di pikirannya secara otomatis. Ia mengetik kata demi kata melalui aplikasi menulis di ponsel pintar, hingga ratusan halaman. Tak hanya satu naskah novel, tetapi lima!

Lebih Objektif

Kehadiran novel The Light [..] menambah karya sastra yang ditulis Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Di Indonesia, masih sedikit ODGJ yang telah pulih menulis kumpulan puisi, cerpen, esai atau memoar dan novel.

Buku Ratu Adil, Memoar Seorang Skizofren karya Satira Isvandiary yang terbit tahun 2004 silam adalah salah satu memoar yang ditulis oleh penyintas skizofrenia. Dalam memoarnya sang pengarang dengan sangat baik menulis apa yang dialami sehingga orang lain tahu tentang gangguan mental dan memetik pelajaran serta hikmah dari apa yang pernah dialami.

Buku lainnya, Gelombang Lautan Jiwa, terbit tahun 2013 merupakan memoar karya Anta Samsara mengisahkan kisah diri bergelut dengan skizofrenia, penyakit mental yang ditandai dengan delusi dan halusinasi serta tak bisa membedakan antara yang nyata dan tidak nyata.

Buku ini bagus. Saya telah membacanya dan apa yang ditulis tak menyiratkan penulisnya adalah pengidap gangguan jiwa. Memoar ditulis bertahun-tahun setelah sakit pertama, saat dalam kondisi baik dan telah pulih, sehingga bisa “berjarak” dan lebih objektif dalam mengisahkan pengalaman masa lalu.

Belum ada sebutan khusus bagi karya sastra yang ditulis oleh penyintas gangguan mental. Tidak seperti pada seni rupa terdapat genre tersendiri yakni art brut, karya seni rupa yang dibuat oleh ODGJ. Karya seni art brut biasanya memang memiliki warna berbeda dengan seniman kebanyakan.

Apa yang ditulis oleh Satira, Anta bahkan Saka tidak lain hanyalah keinginan untuk berbagi, cerita tentang diri yang diharapkan bisa berguna untuk orang lain, selain bagi pengarang. Karena, menulis adalah terapi yang bagus bagi pengidap gangguan mental dan sebagai medium katarsis.

Terapi menulis sangat mendukung penyembuhan dan pemulihan mental ODGJ. Dengan catatan, perlu “pengendapan” dan tidak ditulis secara emosional. Penyuntingan ketat adalah hal wajib yang perlu dilakukan.

Di sini peran editor sangat penting agar apa yang ditulis tidak disebut hanya sebagai racauan bahkan sampah pikiran melainkan karya sastra yang memiliki nilai yang sama dengan penulis yang bukan ODGJ. [b]

Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian

Setelah lepas dari tubuh, ruh tidak pergi begitu saja.

Tulisan ini saya buat sebagai catatan atas hasil bacaan terhadap salah satu jenis kakawin berjudul Aji Palayon. Kakawin ini umumnya ditembangkan dalam ritual kematian, khususnya di beberapa wilayah di Bali yang kebetulan saya singgahi.

Seperti berikut inilah isinya yang saya campur adukkan dengan tafsir-tafsir.

Pertama, kakawin ini mengucapkan rasa rendah hati pengarangnya yang menyebut dirinya orang yang serba kekurangan [para tucca], ibarat burung kecil yang banyak omong. Saya tidak tahu, burung jenis apa yang dimaksud. Mungkin burung kakak tua yang tidak hinggap di jendela. Atau burung hantu yang tidak seram tapi lucu.

Cerita dimulai dengan adegan ketika ruh berada di Kahyangan. Keadaan yang demikian, menyebabkan sahabat serta keluarga merasa bahagia. Bagaimanakah caranya keluarga dan sahabat tahu saat ruh berada di Kahyangan? Dalam kakawin ini tidak dijelaskan.

Ada satu petunjuk yang bisa digunakan untuk mengetahui caranya. Bait selanjutnya menjelaskan perihal orang mati yang konon telah melepaskan lima indria yang mengikat. Lima indria itu berturut-turut ialah mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit.

Kenapa kelimanya disebut mengikat? Karena dari kelima indria itulah manusia menikmati objek indrianya. Mata menikmati rupa dan warna. Hidung menikmati aroma. Telinga menikmati suara. Lidah menikmati rasa. Kulit menikmati sentuhan. Kelima objek itulah yang dinikmati oleh lima indria.

Lalu siapakah biang kerok dari segala perilaku penikmatan itu? Menurut shastranya, biang kerok itu bernama Pikiran.

Pikiranlah yang menginginkan terus menerus menikmati objek indria karena pikiran telah berhasil diikat. Kakawin Aji Palayon menjelaskan, orang yang mati dengan cara yang benar telah berhasil melebur segala racun pikiran yang mengikat itu.

Apa yang digunakan untuk melebur? Menurut pencerita Aji Palayon, peleburan itu dilakukan dengan sepuluh aksara suci dan Aji Kalepasan. Kita bicarakan nanti saja tentang kedua hal ini, sebab konon rahasia. Rahasia artinya halus, jadi untuk membicarakannya kita harus menggunakan suara yang halus. Bisik-bisik.

Bahagialah ruh yang merasa lepas dari kurungannya. Apakah kurungan ruh? Tubuh. Tubuh ini tidak lebih dari sekadar kurungan yang mengurung ruh. Lepas dari kurungan tubuh sudah sangat dinanti-nanti oleh ruh. Tentu saja, tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada terlepas dari penantian.

Setelah lepas dari tubuh, ruh tidak pergi begitu saja. Menurut ceritanya, ruh akan bertemu dengan sosok Barong Hitam yang diselimuti oleh kabut putih. Terkejutlah ruh itu. Kemudian ia ingat kembali dengan tubuhnya. Didekati tubuhnya sambil berucap sedih.

“O, tubuhku tempatku belajar dulu. Aku tak akan melupakan kasihmu. Tapi karena telah tiba waktuku, aku harus meninggalkanmu. Semoga kelak kita bertemu kembali”

Meminjam Tubuh

Tidak hanya sampai di situ, sang ruh ingin berbicara dengan orang-orang yang datang menjenguknya. Tapi tidak bisa. Tidak akan ada manusia hidup yang bisa mendengar suara Ruh, apalagi menyentuhnya. Tetapi ada satu jalan yang bisa ia tempuh. Ia bisa meminjam tubuh orang lain, saat orang tidur dan memakai wangi-wangian.

Artinya, Ruh bisa saja masuk saat menemukan orang yang tepat. Orang yang tepat ditemukan pada saat yang tepat pula. Saat yang tepat adalah saat tidur, orang yang tepat adalah orang yang memakai wangi-wangian. Saya sangat yakin, maksudnya bukanlah parfum. Mungkin kemenyan?

Meski demikian, jika ruh berhasil bicara dengan meminjam tubuh orang lain. Mestilah yang masih hidup memilih kata-kata yang dikatakan. Maksudnya menyaring, mana ucapan Ruh yang boleh atau tidak dilakukan. Hati-hati, katanya!

Kerasukan. Tampaknya itulah yang dimaksudkan oleh Aji Palayon. Dalam konteks ini, kerasukan terjadi karena ruh menginginkan mediator untuk mengatakan sesuatu. Saya penasaran juga, bagaimana jika ruh yang merasuki itu ingin melakukan sesuatu dan tidak hanya sekadar berkata-kata. Membelai kekasih misalkan?

Di dalam tradisi Bali, kerasukan bukanlah sesuatu yang tabu. Komunikasi ruh, barangkali itulah yang dimaksudkan. Ruh orang mati ditanya tentang ini dan itu. Tetapi Aji Palayon menyebutkan dengan jelas, bahwa segala yang dikatakan saat komunikasi itu berlangsung haruslah disaring-saring. Jangan sampai terjerumus.

Aji Palayon menceritakan bahwa ruh mengatakan terimakasih kepada seluruh orang yang menjenguknya. Ruh itu juga mendoakan agar semua orang yang datang mendapatkan kebahagiaan. Tidak terkecuali Pendeta yang menyelesaikan upacara kematiannya. Pada upacara itu, Pendeta juga bertugas membersihkan ruh menjadi Dwijati. Dwijati berarti lahir dua kali. Maksudnya adalah semacam ritual penyucian ruh agar lebih suci.

Dwijati juga sebutan untuk orang yang melakukan penyucian saat masih hidup. Penyucian ini dilakukan dengan ritual tertentu. Penjelasan tentang ritual ini sangatlah panjang. Jadi saya tidak akan menerangkannya lebih lanjut dalam tulisan ini.

Ruh yang telah lepas itu kemudian terbang mengawang-awang. Diibaratkan seperti api yang meninggalkan sumbunya. Seperti burung bebas dari sangkarnya. Kemana perginya ruh itu? Menurut Aji Palayon, perginya ke Sanggar. Yang dimaksud Sanggar adalah Merajan. Di sana menghadap kepada Tri Sakti.

Siapakah Tri Sakti juga tidak dijelaskan secara detail dalam teks. Tapi kita bisa menelusurinya tidak dalam teks, tapi dalam kontek. Sangat mungkin yang dimaksudkan sebagai Tri Sakti adalah Dewa-dewa yang berada di Rong Tiga. Kehadapan Rong Tiga, sang Ruh mengucapkan selamat tinggal.

Kemudian Ruh menghadap ke Pura Dalem. Di kuburan didengarnya suara menjerit. Ternyata Dewi Durga sedang dihadap oleh para punggawanya. Ada beberapa nama yang disebutkan: Anja-anja, Kumangmang, Raregek, Papengka, Kalika, Keteg-keteg, dan Bragala. Semua makhluk itu mendekat hendak memakan sang ruh.

Sang Ruh ketakutan dan hendak lari. Saat itu Dewi Durga menahannya, dan mengatakan agar jangan takut. Sang Ruh kemudian memuja Dewi Durga. Ada beberapa nama Dewi Durga yang disebutkan oleh sang Ruh.

Nama-nama itu sesuai dengan keberadaannya: Sang Hyang Bhagawati saat berada di Bale Agung. Sang Hyang Durga saat ada di kuburan. Sang Hyang Bherawi saat ada di Patunon. Dewi Putri saat berada di Gunung Agung. Dewi Danu saat ada di puncak Gunung Batur. Dewi Gayatri jika berada di pancuran dan telaga. Sang Hyang Gangga saat berada di segala sungai. Dewi Sri saat berada di sawah.

Setelah pujaan itu dilakukan, Dewi Durga mempersilahkan sang Ruh untuk melanjutkan perjalanan. Ada suatu ciri yang diberikan oleh pencerita Aji Palayon tentang kapan mestinya ruh itu pergi dari Pura Dalem. Cirinya bernama Bintang Siang. Bintang Siang konon juga menjadi ciri kalau matahari akan segera terbit.

Bagaimanakah wujudnya? Sebaiknya kita lihat dengan mata kepala sendiri. Bintang jenis apa yang berada di antara peralihan gelap dan terang itu. Peralihan atau perbatasan selalu saja mistis, dan jika perbatasan itu dicirikan oleh Bintang Siang. Artinya Bintang Siang juga mistis. Setidaknya begitulah menurut Aji Palayon.

Lalu kemanakah perginya Ruh setelah selesai menghadap Durga di Pura Dalem? Mari kita lanjutkan nanti. [b]

The post Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian appeared first on BaleBengong.

Inilah Lima Penulis Emerging di UWRF 2019

Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia merupakan wadah untuk menemukan calon bintang-bintang sastra masa depan Indonesia. Foto UWRF.

Sebanyak 1.217 penulis mengirimkan 1.253 karya.

Jumlah ini merupakan paling banyak sepanjang seleksi penulis emerging Indonesia yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2008. Bentuk karyanya berupa cerita pendek, puisi, dan naskah novel.

Pada 14 Januari-15 Maret lalu, Yayasan Mudra Swari Saraswati, lembaga nirlaba yang menaungi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), membuka seleksi penulis emerging Indonesia 2019. Selama rentang waktu tersebutlah karya-karya itu masuk.

Seleksi penulis emerging Indonesia merupakan wadah bagi para penulis-penulis berbakat Indonesia untuk menampilkan karya-karya terbaik mereka, serta membuka jalan di dunia kepenulisan profesional.

Pada tahun ke-16 penyelengaraan UWRF ini, Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga mengumumkan bahwa lima penulis emerging telah terpilih. Mereka akan tampil dalam perhelatan sastra, seni, dan budaya terbesar di Asia Tenggara pada 23-27 Oktober mendatang.

Dari rapat kuratorial yang diadakan pada Selasa pekan lalu, terangkum nama-nama penulis emerging terpilih yaitu Chandra Bientang dari D.K.I Jakarta, Ilhamdi Putra dari Padang, Sumatera Barat, Heru Sang Amurwabumi dari Nganjuk, Jawa Timur, Lita Lestianti dari Malang, Jawa Timur, dan Nurillah Achmad dari Jember, Jawa Timur.

Kelima nama tersebut dipilih langsung oleh Dewan Kurator UWRF 2019 yang terdiri dari penulis, jurnalis, dan sastrawan ternama Indonesia, yaitu Leila S. Chudori, Putu Fajar Arcana, dan Warih Wisatsana.

Proses kuratorial dimulai dari pembacaan awal yang dilakukan oleh Indonesian Program Manager UWRF, Wayan Juniarta. Dari tahap ini, terangkum daftar nominasi yang terdiri atas 30 karya dari 30 penulis.

Setiap kurator kemudian memilih 10 karya, yang kemudian disaring kembali menjadi lima karya terpilih. Setiap karya telah dibaca ulang dan didiskusikan oleh para kurator. Baik mengenai tema, pemilihan kata dan diksi, serta aspek kesusastraan lainnya.

Sejalan dengan komitmen UWRF untuk menempatkan kualitas karya sebagai parameter yang paling utama dalam proses seleksi, tahun ini UWRF kembali hanya memilih karya-karya terbaik.

Berpihak Akal Sehat

Menurut Fajar Arcana kelima karya ini dianggap mampu mendorong kesadaran untuk selalu berpihak kepada akal sehat. Sastra memang tidak menyodorkan solusi, tetapi harus mampu memberi “pencerahan” agar para penikmatnya mengutamakan penyelesaian dengan akal sehat.

“Secara istimewa, kelima karya terpilih hampir selalu berangkat problematika sosial-kultural yang terdapat di sekeliling mereka,” kata Fajar.

Oleh sebab itu, lanjutnya, nuansa lokalitasnya begitu menonjol, meski kemudian tidak jatuh pada etnosentrisme kaku. Problem-problem lokal itu ditafsir sedemikian rupa dan disajikan dalam bahasa estetik, yang kemudian kita ketahui memiliki nilai-nilai universal.

Lelia S. Chudori menambahkan tahun ini, karya penulis umumnya cerdas membuat lekukan pada plot hingga menimbulkan daya kejut. Membuat daya kejut pada cerita drama sebetulnya sangat sulit karena akan cenderung menjadi melodramatik atau akhir yang dipaksakan.

“Namun, para penulis ini berhasil membuat daya kejut sebagai bagian dari ceritanya dengan cara yang alamiah dan cerdas,” kata Leila.

Kelima penulis emerging terpilih datang dari latar belakang berbeda. Mereka adalah mahasiswa, penulis lepas, wiraswasta, karyawan swasta, dan ibu rumah tangga. Para penulis emerging terpilih ini berusia antara antara 25 tahun hingga 40 tahun. Semuanya terbukti memiliki kepiawaian dalam berbahasa Indonesia dengan baik.

“Sebagai penulis, mereka sudah tidak lagi bermasalah dengan Bahasa Indonesia sebagai media ekspresi, terbilang piawai dalam bertutur (mengatur plot, mengelola konflik, serta penyelesaian), dan memiliki keunikan secara stlistik maupun tematik,” komentar Warih Wisatsana.

Sorotan

Sama seperti tahun lalu, karya sastra berupa cerita pendek kembali menjadi sorotan. Empat dari lima karya penulis emerging yang terpilih berupa cerita pendek, sedangkan hanya satu karya berupa puisi.

Judul-judul cerita pendek karya penulis emerging antara lain: Anak Kucing Leti, Mahapralaya Bubat, Nyanyian Pilu Meo Oni yang Terdengar dari Hutan, dan Pada Hari Ketika Malam Lelap di Pangkuannya. Sementara, satu-satunya karya berupa puisi yang terpilih berjudul Alegori.

Warih Wisatsana selaku Dewan Kurator UWRF19 mencermati bahwa seluruh nominasi utama berupa karya prosa atau cerita pendek menggarap tema seputar lingkungan keseharian dan kaya dengan warna lokal seperti patriarki, adat, mitos, dan lain-lain.

Menurut Warih para penulis ini berhasil menggali tema tersebut secara mendalam. “Problematik yang diungkap tidak berhenti menjadi persoalan pribadi, melainkan menyuratkan juga pesan sosial yang lebih universal; mengkritisi berbagai hal yang dirasa tidak adil,” ujarnya.

Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia bertujuan untuk menjembatani para penulis emerging untuk lebih berkembang. Mereka mendapat kesempatan memperdengarkan karyanya kepada dunia bersama para penulis ternama dari Indonesia maupun internasional.

Mereka akan diterbangkan dari kota masing-masing ke Ubud untuk ikut berpartisipasi dalam mengisi panel-panel diskusi di UWRF 2019. Karya-karya mereka pun akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dibukukan dalam buku Antologi dwi bahasa, bersama dengan karya dari para penulis ternama Indonesia lainnya.

Deretan nama penulis ternama Indonesia yang akan melengkapi Antologi 2019 ini akan diumumkan bersamaan dengan pengumuman program lengkap UWRF19.

Sejalan dengan misi Yayasan untuk memperkaya kehidupan bangsa Indonesia melalui program pengembangan budaya dan komunitas, seleksi penulis emerging ini juga terbukti telah membukakan jalan bagi banyak penulis emerging Indonesia menuju karier kepenulisan yang lebih profesional. Sebagai contoh, para penulis emerging yang diundang ke UWRF 2018 tahun lalu telah menerbitkan buku-bukunya melalui Comma Books, sebuah penerbitan di bawah naungan KPG.

Karya-karya sastra penulis yang dulunya merupakan penulis emerging UWRF juga kerap dijumpai di koran-koran berita nasional Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa banyak sekali kesempatan yang bisa diraih para penulis emerging.

“Ubud Writers & Readers Festival telah menjadi landasan pacu bagi para penulis emerging dalam berkarya,” ujar Wayan Juniarta mewakili UWRF.

Emerging adalah istilah yang digunakan oleh UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas tetapi belum memperoleh publikasi memadai. Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia adalah bagian dari komitmen Yayasan Mudra Swari Saraswati untuk mendukung kehidupan masyarakat Indonesia melalui program-program seni dan budaya. Selain itu, program ini merupakan wadah untuk menemukan calon bintang-bintang sastra masa depan Indonesia. [b]

The post Inilah Lima Penulis Emerging di UWRF 2019 appeared first on BaleBengong.

Atavisme dalam Dua Buku Cerpen Penulis Muda

Dua buku cerpen Adnyana Ole dan Juli Sastrawan. Foto Angga Wijaya.

Dua sastrawan muda menghadirkan kembali hal-hal klasik di Bali.

Balai Bahasa Provinsi Bali menggelar bedah buku dua penulis muda Bali pada Selasa, 21 Agustus 2018, lalu. Diskusi bertempat di aula Balai Bahasa Provinsi Bali, Jalan Trengguli I No. 20, Penatih, Denpasar.

Dua buku yang dibedah adalah buku kumpulan cerita pendek “Gadis Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” karya Made Adnyana Ole dan “Lelaki Kantong Sperma” karya I Gede Agus Juli Sastrawan. Prof. I Nyoman Darma Putra, guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana tampil sebagai pembedah karya dipandu penulis dan aktivis sastra Wayan Jengki Sunarta.

Dalam penyampaiannya Darma Putra melihat kesamaan pada kedua buku kumpulan cerita pendek tersebut, yakni atavisme atau pencarian sesuatu yang klasik atau purba untuk ditampilkan kembali pada karya sastra.

“Atavisme pada karya Made Adnyana Ole terletak pada mitos-mitos di Bali yang ditulis kembali, sedangkan pada karya Sastrawan bisa dilihat pada penggalan surat dan pesan WA di cerpen-cerpennya,” ujarnya.

Istilah atavisme sebenarnya bukan hal baru. Pada 1971 sastrawan Subagio Sastrowardoyo pertama kali memperkenalkan istilah tersebut dalam buku ‘Bakat Alam dan Intelektualitas’ pada bab ‘Atavisme dalam Sajak’ (1969) untuk menyebut munculnya kembali ciri-ciri lama yaitu purba dan primitif yang sebelumnya sempat terpendam, misalnya ciri pantun dalam puisi modern.

Penting Dibicarakan

Darma Putra menyebut alasan mengapa atavisme penting dibicarakan dalam khasanah sastra.

Pertama, esensi karya sastra adalah kreativitas. Sastrawan berusaha keras untuk orisinal, inovatif, mencari identitas, dan tabu jadi epigon.

Kedua, atavisme merupakan fakta dalam dunia sastra. Perkembangan sastra bukanlah aliran yang patah tetapi sambung-sinambung dalam kerangka sistem sastra.

Ketiga, pemunculan ciri lama, purba, klasik adalah apresiasi atas kekayaan warisan sastra. Beda dengan poin pertama, pemanfaatan atavisme adalah kekaguman atas ciri purba karya sastra.

Sebagai alat analisis, atavisme lebih banyak digunakan dalam mengkaji puisi, walaupun gejala atavisme terdapat dalam prosa pun drama. Dengan atavisme sebagai alat analisis terbuka menyusun kritik inovatif. Walaupun atavisme jarang dipakai. Mungkin karena popularitas teori lain yang menjadi payungnya yakni intertekstualitas.

Buku cerpen “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” karya Made Adnyana Ole berisi sembilan cerpen dengan tema beragam, seperti masalah pariwisata, dilema humanistik politik 1965, mitos-mitos budaya Bali yang disampaikan dengan gaya realis, absurd, ironis bahkan humor.

“Atavisme dalam kumpulan cerpen ini lebih longgar tampak dalam setidaknya dua mitos: mitos politik dan mistik,” katanya.

Atavisme mitos politik muncul dalam cerita dengan tema atau latar politik anti-komunisme dari peristiwa 1965. Cerita ‘Men Suka’ paling kental, total, dan sebagai latar-sentuh dalam cerpen ‘Gede Juta’, ‘Siat Wengi’, dan ‘Darah Pembasuh Luka’. Atavisme mitos mistik muncul dalam cerita ‘Siat Wengi’ dan ‘Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci’.

Tema Seksualitas

Adapun buku kumpulan cerpen “Lelaki Kantong Sperma” karya Juli Sastrawan yang juga berisi sembilan cerpen didominasi tema seksualitas seperti homoseksualitas, korban seksual dan lain-lain dengan gaya realis, semi-absurd dan serius. Atavisme yang menonjol dalam cerpen-cerpen Juli adalah atavisme espitolari yaitu teknik penulisan prosa dengan menyisipkan surat atau dokumen.

Genre epistolari popular abad ke-18 dalam sastra Inggris dan Jerman. Novel awal Indonesia seperti Siti Nurbaya dan Student Hijo berisi sisipan surat. Epistolari muncul kembali dalam WA, dan banyak cerpen dewasa ini mengandung WA atau SMS.

“Cerpen ‘Di Ujung Percakapan Kontemporer’ misalnya, ada banyak WA dan diakhiri dengan surat. Epistolari penanda atavisme dalam cerpen ini. Juga beberapa cerpen “Percakapan Sembilan Pencarian”. Pada Cerpen ‘Laki-laki Kantong Sperma’ mengutip lagu Michael Learns to Rock ‘That’s Why (You Go Away).

“Entah apa istilah untuk lirik lagu masuk ke prosa, tapi ini juga ciri purba prosa yang berasal dari opera atau film India,” kata Darma Putra.

Ia menekankan, karya sastra tidak serta merta bermutu atau tidak bermutu hanya karena ada dengan ada atau tanpa atavisme.

“Mutu karya sastra ditentukan inovasi yang tercermin lewat orisinalitas kisah, isi, tema dan motif, serta orisinalitas bentuk misalnya struktur dan alur. Selain itu, inovasi style dan bahasa serta target pembaca atau “implied reader”, dan terakhir adalah agensi,” pungkasnya.

Seribu Tafsir

Terbitnya dua buku cerpen ini menandakan gairah kepenulisan yang tinggi dari penulis kontemporer Bali. Cerpen-cerpen dalam dua buku ini telah sampai ke tangan pembaca dan bebas untuk ditafsirkan, yang bisa jadi memiliki seribu tafsir berbeda, tergantung dari pembaca.

Selain itu, kehadiran kedua buku cerpen ini memberi kemungkinan baru akan tema dan teknis menulis cerpen. Walau tema seksualitas telah banyak digarap penulis perempuan seperti Djenar Maesa Ayu, yang barang tentu berbeda ketika ditulis dari pandangan laki-laki seperti Juli Sastrawan yang banyak mengangkat tema sama pada karyanya.

Juga tema peristiwa 1965 yang ditulis oleh Made Adnyana Ole tentu berbeda ketika dibandingkan dengan cerpen-cerpen Martin Aleida atau Putu Oka Sukanta yang notabena mengalami langsung dan menjadi tahanan politik akibat peristiwa tersebut. Sebagai “orang luar”, Ole menuliskan kembali apa yang pernah terjadi di sekitarnya yang ia dengar dari penuturan keluarga dan warga kampung tentang peristiwa 1965. Dua hal yang berbeda, tentunya.

Kemungkinan-kemungkinan baru pada cerpen penulis Bali dewasa ini menurut saya akan terus lahir dan memperkaya khazanah sastra Indonesia. Selamat untuk Ole dan Juli! [b]

The post Atavisme dalam Dua Buku Cerpen Penulis Muda appeared first on BaleBengong.

Bentara Budaya Gelar Obituari Penyair Vivi Lestari

Sudah setahun lebih penyair Vivi Lestari berpulang sejak April 2017 lalu.

Kini melalui program Dialog Sastra #60 Bentara Budaya Bali (BBB) akan mengetengahkan diskusi mengenai capaian karya-karya puisi Putu Vivi Lestari. Agenda yang akan berlangsung pada Jumat, 18 Mei 2018 itu, sekaligus sebentuk obituari bagi Vivi.

Putu Vivi Lestari merupakan salah satu penyair muda yang sangat berbakat dan tumbuh pada pertengahan 1990-an. Selain menulis puisi, dia juga aktif di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Dia juga rajin menyiarkan puisi, prosa liris, dan esai di ruang apresiasi sastra Bali Post Minggu yang diasuh Umbu Landu Paranggi.

Karyanya banyak menyuarakan tentang persoalan perempuan dalam kaitannya dengan urusan tubuh, domestik, budaya patriarki, dan berbagai persoalan lainnya.

Obituari bagi Putu Vivi Lestari ini menghadirkan bedah dan diskusi buku puisi “Ovulasi yang Gagal”, buku antologi puisi tunggalnya yang diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi, 2017. Sebagai pembicara yakni Made Sujaya dan Puji Retno Hardiningtyas dipandu oleh Wayan Jengki Sunarta.

Acara dimaknai pula pemutaran video “Vivi di Mata Kawan-kawan”, musikalisasi puisi oleh Teater Cakrawala dan teaterisasi puisi oleh Teater Sangsaka, pembacaan puisi oleh Pranita Dewi, Dewi Pradewi, Wulan Saraswati, dan Muda Wijaya, serta orasi budaya oleh Wayan Juniartha, wartawan The Jakarta Post dan Ketua Program Indonesia UWRF.

Program Obituari ini ditandai pula acara testimoni dari rekan dan sahabat, yang merefleksikan kehangatan persahabatan serta pergaulan kreatif mereka selama ini.

Bentara Budaya Bali pernah menggelar acara Obituari bagi penyair Wayan Arthawa, pelukis Wahyoe Wijaya, kurator seni rupa Thomas Freitag, koreografer dan penari I Nyoman Sura, pematung I Ketut Muja, serta kartunis dan cerpenis I Wayan Sadha, aktor teater Kaseno, pelukis Tedja Suminar serta maestro tari Ida Bagus Oka Blangsinga.

Obituari adalah program penghormatan pada dedikasi, totalitas dan capaian para seniman lintas bidang, serta aktif membangun atmosfir pergaulan kreatif yang produktif, diantara melalui partisipasinya pada agenda seni budaya di Bentara Budaya Bali. Selain menghadirkan kembali karya-karya unggul mereka juga akan ada bincan warisan kreativitas berikut sumbangsihnya pada kemajuan seni budaya.

Selain menulis, Vivi bekerja sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Pada 2007, Vivi menikah dengan pelukis Ketut Endrawan. Mereka dikarunia dua anak. Pada tanggal 8 April 2017, Vivi menghembuskan nafas terakhir di RSUP Sanglah, Denpasar.

Puisi-puisi Vivi pernah dimuat di Kompas, Bali Post, Bali Echo, Suara Merdeka, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal PUISI, Majalah Coast Lines, Pikiran Rakyat, Majalah Sastra Horison, Media Indonesia, dan Jurnal Kebudayaan CAK.

Puisi-puisinya juga bisa dijumpai dalam sejumlah antologi bersama, antara lain Angin (Teater Angin, Denpasar, 1997), Ginanti Pelangi (Jineng Smasta, Tabanan, 1999), Art and Peace (Buratwangi, Denpasar, 2000), Karena Namaku Perempuan (FKY, 2005), Selendang Pelangi (Indonesia Tera, 2006), Herbarium: Antologi Puisi 4 Kota (Pustaka Pujangga, Lamongan, 2007), dan lain-lain.

Vivi pernah meraih sejumlah penghargaan sastra, antara lain “Lima Terbaik” lomba catatan kecil yang digelar Komunitas Jukut Ares Tabanan (1999), “Sepuluh Terbaik” lomba cipta puisi pelajar SLTA tingkat nasional yang diadakan Jineng Smasta-Tabanan (1999), Juara II lomba cipta puisi dalam pekan orientasi kelautan yang diadakan Fakultas Sastra Unud (1999), “Sembilan Puisi Terbaik” Art & Peace 1999, Juara II lomba cipta puisi dengan tema “Bali pasca tragedi Kuta” (2003).

Selain pernah mengisi acara di Bentara Budaya Bali, Vivi membacakan pula puisi-puisinya pada sejumlah acara sastra tingkat nasional, antara lain Pesta Sastra Internasional Utan Kayu 2003 di Denpasar, Cakrawala Sastra Indonesia 2004 di TIM Jakarta, Ubud Writers and Readers Festival 2004, Festival Kesenian Yogyakarta XVII 2005, Printemps de Poetes 2006 di Denpasar, Temu Sastra Mitra Praja Utama VIII di Banten (2013). [b]

The post Bentara Budaya Gelar Obituari Penyair Vivi Lestari appeared first on BaleBengong.