Tag Archives: SASTRA

Jalan Pulang Bernama Puisi – Pengantar “Catatan Pulang”

Menulis bagi saya sebuah terapi dan katarsis.

Terlebih setelah saya divonis mengidap skizofrenia pada usia 25 tahun, sesuatu yang membuat langit terasa runtuh dan memorak-porandakan mimpi serta harapan.

Saya menekuni puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya, komunitas seni di kota kelahiran saya, Negara. Di sana saya mengenal dunia sastra dan puisi menjadi oase yang menyejukkan serta mengisi dahaga batin dan pencarian saya akan makna hidup. Ada kegembiraan yang saya rasakan saat puisi-puisi saya dimuat di koran lokal. Saya makin bersemangat menulis dan mengirimkan karya ke media massa.

Kegemaran menulis puisi berlanjut saat saya pindah ke Denpasar melanjutkan studi di universitas, hingga musibah itu datang pada 2009; saya mengalami gangguan jiwa yang membuat saya tak bisa menyelesaikan studi dan kembali ke kampung halaman. Dalam masa penyembuhan, puisilah tempat saya berekspresi dan mengeluarkan semua beban yang mengganjal.

Puisi menjadi tempat pulang, tempat saya menemukan rumah yang sebenarnya. Saya mendapat kekuatan dan optimisme melalui jalan sunyi puisi.

Pada 2014 saya memberanikan diri untuk keluar dari kampung halaman dan bekerja. Ternyata tidak mudah, saya mengalami pergulatan hebat tetapi saya tak menyerah pada keadaan dan penyakit yang saya derita. Menjadi jurnalis adalah pilihan saya setelah beberapa kali mencoba berbagai pekerjaan. Di sela-sela rutinitas saya tetap menulis puisi dan merambah pada esai seni budaya yang dimuat di beberapa media cetak dan online.

Impian menerbitkan buku puisi tercapai berkat dukungan Komunitas Peduli Szikofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Rumah Berdaya Denpasar, tempat saya bergiat beberapa tahun terakhir. Maka lahirlah buku puisi “Catatan Pulang”, di mana judul diambil dari salah satu sajak dalam buku tersebut.

Sebanyak 67 sajak terhampar dalam buku kumpulan puisi pertama saya ini yang ditulis dalam kurun waktu 16 tahun, 2001 hingga 2017 dan menjadi “cacatan” atas berbagai hal yang saya alami dan rasakan; tentang cinta, perjuangan menghadapi skizofrenia, kerinduan dan pencarian makna hidup. Saya berharap buku ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja, terutama bagi teman-teman ODS (Orang Dengan Skizofrenia) yang sedang berjuang menghadapi penyakit dan juga stigma.

Peluncuran buku puisi “Catatan Pulang” akan digelar pada Sabtu, 20 Januari 2018 bertempat di Rumah Berdaya Denpasar, Jalan Hayam Wuruk 179 Denpasar. Acara akan diisi dengan tour galeri seni Rumah Berdaya, pemutaran film dan ngobrol sore bersama Abu Bakar (Aktor/sutradara teater) dan Nanoq da Kansas (Penyair, aktivis seni) serta pembacaan puisi.

Kehadiran kerabat dan sahabat pencinta sastra akan sangat berarti bagi saya. Terima Kasih. [b]

The post Jalan Pulang Bernama Puisi – Pengantar “Catatan Pulang” appeared first on BaleBengong.

Seleksi Penulis UWRF 2018 Telah Dibuka!

Jadilah satu dari 15 penulis muda di UWRF 2018 mendatang.

Yayasan Mudra Swari Saraswati, lembaga nirlaba yang menaungi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), dengan bangga mengumumkan bahwa Seleksi Penulis Emerging Indonesia untuk UWRF 2018 kembali dibuka. Seleksi ini adalah sebuah program festival yang diadakan untuk menemukan calon-calon bintang sastra Indonesia.

Dari seleksi ini, UWRF akan memilih 15 Penulis Emerging Indonesia yang kehadiran serta partisipasinya di Festival akan didanai sepenuhnya oleh UWRF. Pemilihan akan didasari pada sejumlah kriteria, termasuk kualitas karya, prestasi, dan konsistensi dalam berkarya, serta dedikasi pada pengembangan kesusastraan Indonesia.

Seleksi akan dilakukan oleh tim UWRF dan Dewan Kurator yang beranggotakan penulis-penulis senior Indonesia. Nama-nama anggota Dewan Kurator akan dirahasiakan hingga pengumuman pemenang.

Seleksi yang ditujukan khusus untuk penulis berkewarganegaraan ini memiliki syarat dan ketentuan sebagai berikut:

  • Penulis adalah warga negara Indonesia.
  • Tidak ada batasan umur untuk mengikuti seleksi ini.
  • Menulis karya sastra, baik berupa puisi, prosa (cerpen, novel atau novelet), naskah drama maupun karya non-fiksi.
  • Karya dapat berupa buku dan kumpulan naskah yang belum ataupun sudah pernah diterbitkan di media massa.
  • Penulis yang sudah menerbitkan buku dapat mengirimkan beberapa buku karyanya.
  • Bagi penulis yang belum menerbitkan buku dapat mengirimkan 30 karya puisi terbaik atau 8 karya cerpen terbaik, atau 5 karya essai, atau 3 naskah drama.
  • Koresponden dan pengumuman seleksi akan dilakukan melalui email.
  • Penulis yang mengikuti seleksi wajib mengisi formulir online di www.ubudwritersfestival.com.

Batas akhir untuk pengiriman karya jatuh pada 8 Februari 2018. 15 pemenang terpilih akan diumumkan pada akhir Mei 2018.

Sebanyak 15 penulis yang terpilih akan diterbangkan dari kota asal masing-masing ke Ubud, Bali untuk mengikuti UWRF 2018 pada 24-28 Oktober 2018 sebagai pembicara dan berpartisipasi dalam kegiatan festival yang meliputi; panel diskusi, pembacaan karya, workshop, peluncuran buku, pementasan, serta beberapa acara Satellite yang diadakan di beberapa kota di Indonesia.

Karya-karya terpilih mereka juga akan diterbitkan dalam buku bilingual Antologi 2018 dan diluncurkan di UWRF 2018. Seluruh biaya penerbangan dan akomodasi pemenang selama di Ubud akan ditanggung oleh Emerging Writers Patron, yaitu program pendanaan khusus bagi para pemenang terpilih.

Sejak diadakan untuk pertama kalinya pada tahun 2008, Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini sukses memperkenalkan penulis-penulis Indonesia ke dalam kancah internasional. Beberapa alumni Seleksi Penulis Emerging Indonesia adalah Aan Mansyur (2009), Kurnia Effendi (2010), Avianti Armand (2011), Sunlie Thomas Alexander (2012), Mario F. Lawi (2013), Faisal Oddang (2014), Norman Erik Pasaribu (2015), Rio Johan (2015), Ni Made Purnamasari (2016), Joseph Rio Haminoto (2016), dan Azri Zakkiyah (2016).

Emerging adalah istilah yang digunakan oleh UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas namun belum memperoleh publikasi yang memadai. Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini adalah bagian dari komitmen Yayasan Mudra Swari Saraswati untuk mendukung kehidupan masyarakat Indonesia melalui program-program seni dan budaya. Selain itu, tujuan diselenggarakannya program ini adalah untuk menemukan bakat-bakat sastra dari pelosok nusantara Indonesia. [b]

The post Seleksi Penulis UWRF 2018 Telah Dibuka! appeared first on BaleBengong.

Dicky Senda dan Tanggung Jawab Sosial Orang Mollo

Dunia sihir Mollo dari Dicky Senda di UWRF 2017

Gempita Ubud Writers and Readers Festival 2017 telah berakhir pada penghujung bulan Oktober lalu, akan tetapi kesan dan pesan dari setiap momen yang dilewati masih tersisa hingga kini.

Salah satu yang cukup menarik perhatian khalayak ramai adalah kehadiran salah satu orang muda dari pedalaman Mollo, Timor Tengah Selatan pada festival penulis dan pembaca terbesar di Asia Tenggara itu.

Christian Dicky Senda atau biasa disapa dengan Dicky, lahir pada tahun 1986 di Mollo Utara, salah satu kecamatan yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Ia seorang penikmat sastra, film, dan kuliner.

Dicky telah menerbitkan beberapa buku, di antaranya puisi Cerah Hati (2011), kumpulan cerpen Kanuku Leon (2013) dan Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi (2015). Dicky pernah hadir dan memperkenalkan karyanya di Makassar International Writers Festival (2013), Temu I Sastrawan NTT (2013), Asean Literary Festival (2014 dan 2016), Temu II Sastrawan NTT (2015), Festival Sastra Santarang (2015), Bienal Sastra Salihara (2015) dan Literature & Ideas Festival Salihara (2017). Pernah mengikuti program residensi seni dan lingkungan di Bumi Pemuda Rahayu Jogjakarta (2015) dan Asean-Japan Residency Program (2016).

Dicky cukup aktif bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Solidaritas Giovanni Paolo dan Forum SoE Peduli. Dicky kini menggagas kewirausahaan sosial bernama Lakoat Kujawas, sebuah proyek integrasi komunitas kesenian, perpustakaan, ruang kerja, dan homestay di desa Taiftob.

Hadir pada UWRF kali ini, Dicky mengisi empat program menarik di antaranya; Preserving Culture untuk memperkenalkan budaya dan tradisi orang Mollo bersama empat pembicara lainnya di Taman Baca, Ubud. Mempresentasikan Lakoat Kujawas pada Festival Club @Bar Luna. Mendemonstrasikan kemampuannya memasak aneka masakan khas Timor pada program The Kitchen-Food Memories from The Heart of Timor di Toko Toko.

Selain itu, Dicky meluncurkan buku kumpulan cerpen ketiganya berjudul “SAI RAI” di Sri Ratih Cottage pada tanggal 28 Oktober 2017 lalu. Peluncuran ini dihadiri oleh banyak pengunjung, baik itu penulis, pembaca maupun juga mereka yang terlanjur penasaran dengan isi buku yang mengangkat fiksi penyihir Mollo ini.

 

Dicky Senda pada program The Kitchen-Food Memories from The Heart of Timor di Toko Toko.

Sai Rai merupakan kumpulan 19 cerita pendek, berkisah tentang dunia sihir orang Mollo yang selama ini mendapat stigma. Sesungguhnya, orang-orang yang disebut penyihir atau Suanggi dalam bahasa setempat adalah orang-orang yang sama seperti masyarakat kebanyakan (di Bali terkenal sebutan “Leak”). Mereka hanya kebetulan memiliki kemampuan tertentu yang membuat mereka terlihat berbeda. Menurutnya ini harus diangkat dan menjadi bahan untuk didiskusikan terutama kaum muda yang selama ini telah hanyut dalam pemahaman keliru.

Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur pada umumnya, Suanggi adalah orang-orang yang selalu memberikan energi negatif, mereka pasti orang yang membunuh dan hal buruk lain disematkan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Dicky menemukan bahwa di Mollo ada jenis-jenis penyihir adalah orang-orang baik. Mereka menolong dan menyelamatkan manusia, seperti dukun. Terkadang mereka juga meramalkan nasib kehidupan, baik itu kehidupan manusia maupun juga lingkungan sekitar. Mereka hadir sebagai pengantara spiritual yang menjaga keseimbangan alam dan manusia.

Alex Jebadu dalam bukunya berjudul Bukan Berhala menuliskan, pengantara spiritual berperan sebagai penyembuh ulung dan peramal yang sanggup melihat apa yang terjadi di masa datang dan membaca titipan pesan dari dunia seberang, menyingkapkan pengetahuan mulia dengan kekuatan gaib. Ia juga berperan sebagai pelindung bagi semua anggota masyarakat yang datang kepadanya. Ia merupakan semacam roh pelindung karena ia diyakini berada dalam persekutuan dengan roh-roh dunia. Ia dipandang sebagai yang Ilahi dalam rupa manusia.

Raja-raja dan kaisar-kaisar diyakini sebagai dewa-dewi dalam rupa manusia-mahluk adikodrati. Mereka merupakan pengantara rakyat dengan dunia roh-roh. Dan peran ini telah ada jauh lebih dahulu dari pahlawan yang mengandalkan kekuatan fisik atau pemerintah politis. Praktik keagamaan ini masih terpelihara bentuk aslinya di dalam sejumlah masyarakat tradisional Afrika dan Melanesia. Pengantar spiritual dianggap sebagai mahluk transenden yang mulia, sebuah saluran komunikasi bagi para dewa dan roh-roh untuk berkomunikasi dengan manusia.

Setelah kaum misionaris Katolik masuk dan Kristenisasi terjadi di daratan Pulau Timor, orang-orang yang dipercaya sebagai pengantara spiritual ini justru dipandang sebagai orang yang buruk, yang tidak menjalankan hidup sesuai dengan perintah dan menjauhi larangan Tuhan seperti yang dituliskan di dalam kitab suci.

Belum lagi, isu politik yang berkembang dan mengharuskan warga  Indonesia memeluk salah satu agama yang diakui Negara. Sehingga mau tidak mau, pilihan terbaik untuk bertahan hidup adalah meninggalkan semuanya atau siap dibumihanguskan.

Dicky meyakini bahwa kehadiran para penyihir (Suanggi) atau pengantara spiritual ini telah membuat suatu komunitas/kebudayaan berjalan dengan sangat harmonis. Ia menyebut saat ini adalah sebaliknya, kita malah semakin meninggalkan hal tersebut. Kita berjalan sangat mundur dan dengan bangganya kita mengklaim diri bahwa kita adalah manusia-manusia modern.

Manusia modern sesungguhnya adalah mereka yang selalu memikirkan tentang keberlangsungan alam semesta ini. Menyiapkan tempat yang layak untuk dihuni anak cucu, generasi kita berpuluh-puluh tahun mendatang.

Bagi Dicky, penting untuk menulis hal tersebut dan diketahui banyak orang. Oleh karena itu, sebagai anak muda Mollo, ia merasa memiliki tanggung jawab sosial untuk mengembalikan semua pada tempat yang seharusnya.

“Jangan sampai kita terpengaruh oleh stigma yang telah dibentuk oleh kelompok tertentu dan meninggalkan semuanya karena merasa itu adalah pilihan terbaik. Kita akan sangat rugi besar,” Ungkap Dicky

Mengapa orang Mollo sangat hebat dengan dongeng atau cerita-cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat? Karena kecintaan dan keterikatan mereka kepada alam yang begitu kuat. Hal-hal seperti itu yang sudah mulai dilupakan oleh generasi-generasi yang akan melanjutkan kehidupan orang Mollo, mungkin juga ini terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia termasuk di Nusa Tenggara Timur.

Hutan Fatumnasi di Kaki Gunung Mutis. Dok. Herworld

Berbicara tentang kekuatan orang Mollo akan dongeng yang tersebar di antara masyarakat, tidak terlepas dari mitos. Seorang pemikir strukturalis berkebangsaan Perancis, Roland Barthes yang getol mempraktikan model linguistic dan semiology Saussurean mengungkapkan Mitos lahir dari pengalaman kultural dan personal seseorang yang dibentuk sebagai makna konotasi yang kemudian berkembang kembali menjadi makna denotasi atau makna sebenarnya/harfiah.

Salah satu yang bisa menjadi gambaran atau contoh, masih diambil dari salah satu cerpen Dicky Senda berjudul “Kanuku Leon.” Ada sebuah kalimat yang berbunyi; Kenyataan tentang sebuah gunung purba di Timor yang konon menjadi tempat bersemadi seorang raja bernama Fatuneno yang sering berganti rupa menjadi manusia dan seekor ayam jantan sakti. Karena kesaktiannya, ia mampu menikahi matahari dan lahirlah anak-anak dari matahari; si sulung Penguasa Negeri Timur, berikutnya Penguasa Mataair, dan si bungsu Penguasa Gunung Emas. Dengan persetujuan raja langit, raja bumi dan segenap alam semesta, mereka bertiga tumbuh menjadi tiga lelaki berjiwa ksatria.

Secara denotasi, kalimat tersebut hanya menceritakan tentang sebuah gunung purba, seorang Raja yang bisa berganti rupa menjadi manusia dan seekor ayam jantan dan Sang Raja yang menikahi Matahari. Akan tetapi seturut makna konotasi, bagi orang Mollo, Gunung merupakan simbol tempat berlindung bagi masyarakat zaman purba. Tempat di mana sumber rasa aman dan kekuatan. Raja Fatuneno melambangkan seorang pencipta yang mahakuasa dan pemurah serta dapat menjelma dalam banyak rupa, mampu mengendalikan matahari dan alam semesta. Demikianlah mitos berkembang dalam bentuk dongeng di tengah kehidupan masyarakat Mollo, menjadi sebuah kontrol sosial yang mendatangkan keseimbangan dalam keberlangsungan hidup manusia dan alam semesta secara turun temurun.

Orang-orang Mollo. Dok. Dicky Senda

Dicky berharap, cerita-cerita yang telah ia tulis mendapat tempat di hati dan pikiran para generasi muda, khususnya di NTT. Agar isu-isu seperti ini menjadi akrab di telinga dan masuk ke dalam ruang-ruang diskusi sehingga suatu waktu dapat menjadi pertimbangan oleh pihak tertentu, seperti pemerintah dalam menentukan kebijakan yang mendukung kehidupan masyarakat NTT itu sendiri.

Tentu saja setiap orang bisa memakai caranya untuk kembali ke lingkungan mereka, ke kampung halaman masing-masing. Dicky telah membukanya dengan jalan sastra, teman-teman seniman yang lain atau akademisi mungkin bisa melakukannya dengan caranya sendiri.

Sebuah pesan yang ingin Dicky sampaikan bahwa, “penting bagi orang muda di Indonesia dan NTT khususnya untuk mulai sadar dengan situasi lingkungan di sekelilingnya. Kesadaran tentang, “siapa saya?”

Dalam hal ini, kita berbicara tentang identitas. Roh kita, ke mana saja kita pergi, identitas itu harus selalu dibawa. Sebagai anak muda NTT, kita tidak seharusnya malu dengan kebudayaan kita sendiri.

Pada akhirnya, SAI RAI adalah tentang bagaimana kita memilih jalan pulang untuk kembali ke dalam pelukan ibu semesta. Menemukan siapa kita sesungguhnya dan memaknai itu di sepanjang hidup kita. Sudahkah kamu membacanya?

 

The post Dicky Senda dan Tanggung Jawab Sosial Orang Mollo appeared first on BaleBengong.

UWRF Berhasil Mempersatukan Pencinta Sastra Seluruh Dunia

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017 berjalan sukses.

Program tahunan ini kembali menjadi kancah pertukaran ide, inspirasi, dan pembelajaran antara penulis dan pembaca dari Indonesia dan negara-negara lain pada 25-29 Oktober lalu. Mengusung tema Origins atau Asal Muasal dalam bahasa Indonesia, program selama lima hari tersebut diisi ratusan program yang disusun berdasarkan sesuai tema.

UWRF tahun 2017 ini membawa 160 lebih figur-figur mengagumkan dari 30 negara di seluruh dunia untuk tampil di atas satu panggung. Mereka berkolaborasi atas nama sastra dan seni.

Nama-nama besar dunia sastra nasional maupun internasional seperti NH. Dini, Sutardji Calzoum Bachri, Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, Joko Pinurbo, Intan Paramaditha, Trinity, Jung Chang, Ian Rankin, Simon Winchester, Madeleine Thien, Han Yujoo, dan masih banyak lagi, tampil berdampingan dengan seniman, desainer, sutradara, penari, musisi, dan aktor seperti Pierre Coffin, Djenar Maesa Ayu, Chicco Jericho, Voice of Baceprot, Kan Lumé, Lulu Lutfi Labibi, dan Sakdiyah Ma’ruf.

UWRF juga dengan bangga mempersembahkan sebuah penghargaan Lifetime Achievement Award kepada legenda hidup sastra Indonesia, NH. Dini, pada malam Gala Opening (25/10/2017) di Puri Saren Ubud.

Highlight lain dari UWRF 2017 adalah hadirnya 16 penulis emerging yang dipilih dari Seleksi Penulis Emerging Indonesia. Mereka yang datang dari beberapa tempat di seluruh pelosok Indonesia, tampil dalam sesi-sesi diskusi bersama pembicara-pembicara terkenal dunia dan meluncurkan buku Antologi 2017.

Sebanyak 72 diskusi atau Main Program di tiga venue utama UWRF, yaitu NEKA Museum, Indus Restaurant, dan Taman Baca selalu ramai dihadiri pengunjung. Mereka antusias mendengar diskusi-diskusi mendalam seperti di sesi Beyond the Front Page yang menghadirkan jurnalis-jurnalis top Asia untuk mendiskusikan isu-isu global terkini.

Di sesi Moving Images bersama beberapa pembuat film, penggalian kisah di balik layar dimulai dengan bahasan mengenai pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Serta masih banyak lagi sesi menginspirasi lainnya.

Setiap hari para pencinta sastra dan seni tersebut terus memenuhi lokasi-lokasi tempat 200 program UWRF yang terdiri dari sesi-sesi diskusi, workshop, Special Event, pemutaran film, panggung musik, pembacaan puisi, dan program pengembangan karier Emerging Voices yang tersebar di beberapa tempat di Ubud.

Tak ada satupun dari mereka yang terlihat mengkhawatirkan status Gunung Agung yang sedang Awas. Festival tetap berjalan lancar dan berhasil mengundang 25.000 lebih pengunjung. Banyak dari mereka adalah turis yang untuk pertama kalinya mengunjungi Bali.

Dari data yang dikumpulkan tim UWRF, saat penyelenggaraan festival, termasuk kehadiran penulis mancanegara dan pencinta sastra dalam dan luar negeri, telah berkontribusi lebih dari Rp 10 miliar. Perputaran tersebut dari para pengunjung selama enam hari untuk biaya akomodasi di banyak penginapan, transportasi, restauran, spa, yoga, souvenir, museum, galeri, dan acara budaya di sekitar Ubud dan Bali.

Ini adalah sebuah kontribusi dalam menggerakan ekonomi lokal, terutama di bidang pariwisata.

Jumlah tersebut tentunya sangat membanggakan dan sesuai dengan misi organisasi nirlaba yang menaungi UWRF, Yayasan Mudra Swari Saraswati, yaitu untuk memperkaya kehidupan masyarakat lokal melalui program-program seni dan budaya. Dari data tersebut juga tercatat bahwa 96% pengunjung yang hadir akan datang kembali untuk UWRF 2018.

Di acara penggalangan dana di Museum Blanco pada tanggal 26 Oktober lalu, berhasil terkumpul dana sebesar Rp 15 juta. Dana itu selanjutnya akan diserahkan kepada Kopernik, organisasi nirlaba di Ubud, yang akan diteruskan kepada masyarakat di daerah-daerah sekitar Gunung Agung yang terkena dampak aktifitas vulkanik. Malam penggalangan dana ini menghadirkan grup Papermoon Puppet Theater dan grup tari yang diketuai Eko Supriyanto, koreografer asal Indonesia yang berkiprah di panggung internasional. Setiap pengunjung yang hadir dikenakan biaya sebesar Rp 100 ribu sebagai bentuk donasi.

“Kendati persiapan UWRF dibayangi oleh ketakutan akan aktifitas vulkanik Gunung Agung, kami tetap bertekad untuk terus mendukung masyarakat Bali, yang mana adalah asal muasal terselenggaranya festival ini sendiri,” ujar Janet DeNeefe.

“UWRF lahir sebagai bentuk pemulihan dari sebuah tragedi, dan UWRF tahun ini adalah bukti bahwa selama 14 tahun penyelenggaraannya, UWRF terus bertahan dan berkembang dari tahun ke tahunnya,” lanjutnya.

“Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua penulis dan pembaca yang telah membantu keberhasilan UWRF tahun ini, baik di komunitas sastra dan seni maupun industri pariwisata Pulau Bali. Dari data yang tercatat tahun ini, hampir semua pengunjung ingin kembali lagi tahun depan dan kami juga sudah tidak sabar untuk kembali membawakan sebuah perhelatan sastra dan seni yang selalu ditunggu-tunggu ini pada tahun 2018.” ujar Founder & Director UWRF, Janet DeNeefe.

Ubud Writers & Readers Festival dijadwalkan untuk kembali lagi di tahun 2018 pada tanggal 24 hingga 28 Oktober. Tema UWRF 2017 akan diumumkan di website UWRF awal tahun depan. [b]

The post UWRF Berhasil Mempersatukan Pencinta Sastra Seluruh Dunia appeared first on BaleBengong.

Wajah Baru Bahasa Indonesia dalam Tanda bagi Tanya

Sesi diskusi bersama Joko Pinurbo. Foto Iin Valentine.

Sabtu, 28 Oktober 2017 menjadi hari bersejarah bagi Frischa Aswarini.

Hari itu dia merupakan peluncuran buku kumpulan puisi pertamanya yang berjudul Tanda bagi Tanya. Buku berisi 33 puisi pilihan yang ditulis sejak tahun 2009 sampai 2017 itu banyak berkisah tentang “perjalanan”.

“Tidak hanya perjalanan bersifat fisik, yaitu perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain, bertemu orang dan budaya yang berbeda, tetapi juga perjalanan yang sifatnya lebih ke pengalaman  batin,” ujar Frischa.

Menurut gadis yang lahir pada 17 Oktober 1991 ini, setiap perjalanan yang ia lalui selalu diwarnai dengan munculnya aneka pertanyaan. Seluruhnya ikut menentukan cara pandangnya terhadap sekian peristiwa, budaya, bacaan, dan hal lainnya.

Kecintaan Frischa terhadap puisi tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak di bangku SMP, puisi sudah tumbuh dalam dirinya. Hingga akhirnya ia belajar menulis di Komunitas Sahaja. Puisi-puisinya pernah disiarkan di beberapa media seperti Bali Post, Kompas, Tempo, Pikiran Rakyat, Indopos, Le Banian, dan lainnya.

Sejumlah karyanya juga telah diterjemahkan ke bahasa Perancis dan Inggris, serta dibukukan dalam antologi puisi: Couleur Femme (Forum Jakarta-Paris, Alliance Francaise de Denpasar, 2010), Happiness, The Delight-Tree 2 (United Nations SRC Society of Writers, 2016).

Tak hanya menulis, alumnus Jurusan Sejarah Universitas Udayana ini juga aktif dalam kegiatan kesusastraan. Ia pernah diundang dalam program penulisan puisi Mastera (Majlis Sastera Asia Tenggara) Banten (2012), sebagai pembicara di Ubud Writers and Readers Festival (2013) dan Bali Beza, Kuala Lumpur (2012). Namun, perjalanannya ketika mengikuti kegiatan kepemudaan Canada World Youth (Kemenpora RI, 2014-2015) merupakan pengalaman yang mengilhami sejumlah sajak dalam buku Tanda bagi Tanya.

Judul Tanda bagi Tanya sendiri sebenarnya ditemukan secara tidak sengaja oleh Frischa dalam salah satu puisinya yang berjudul Hangus Rotiku, yang menurutnya dapat mewakili keseluruhan isi bukunya. Selain tergambarkan melalui judul, ilustrasi pada buku pertamanya tersebut pun semakin mendukung karakter puisi-puisinya. Uuk Paramahita adalah seniman di balik ilustrasi-ilustrasi tersebut.

Suasana ketika audiens meminta Frischa menandatangani bukunya. Foto Iin Valentine.

Momen peluncuran buku tersebut menjadi makin istimewa karena Joko Pinurbo, salah satu penyair ternama di Indonesia, hadir untuk membedah anak-anak rohani Frischa yang baru dilahirkan itu.

Menurut penyair yang akrab disapa Jokpin itu, sajak-sajak Frischa memiliki karakter kontemplatif, seperti kebanyakan penyair Bali, sehingga sajaknya tidak bisa dibaca hanya sekali. Perlu kesunyian agar sajak-sajak itu bisa benar-benar dinikmati, di mana hanya ada pembaca dan puisi itu sendiri.

“Satu-satunya cara mengembangkan tradisi puisi indonesia yang sudah dibangun dengan baik oleh Amir Hamzah dan Chairil Anwar, adalah dengan menggali dan memanfaatkan sekreatif mungkin potensi yang terkandung dalam bahasa Indonesia,” ujarnya.

Jokpin pun mengungkapkan bahwa ia melihat wajah bahasa Indonesia yang baru ketika membaca sajak-sajak karya Frischa. Bahasa yang lembut, hangat, lincah, dan imajinatif. Sehingga bisa keluar dari wajah bahasa Indonesia yang mengerikan.

“Bahasa Indonesia hari-hari ini menunjukkan karakter yang bagi saya sendiri, banyak segi negatifnya. Karena bahasa Indonesia sekarang ini adalah bahasa yang dikuasai oleh bahasa pejabat, politisi, pengacara, plus bahasa haters. Inilah bahasa Indonesia yang sedang berkembang di berbagai media, khususnya media sosial,” tambahnya.

Jokpin merasa prihatin ketika generasi muda harus menerima wajah bahasa Indonesia dengan versi yang buruk. Dengan hadirnya sajak-sajak Frischa, Jokpin memiliki optimisme bahwa bahasa Indonesia, di tangan para penyair, bisa tumbuh semakin mekar.

Puisi Frischa ini semacam pengingat untuk penyair-penyair yang lain bahwa menulis puisi itu, bagaimana pun tidak bisa instan. Prosesnya panjang. Salah satunya adalah proses pematangan kata-kata melalui kontemplasi. Kontemplasi dalam hal ini bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi dilihat sebagai proses batin yang harus dialami oleh seorang penyair untuk mengolah dan mengendapkan kata-kata. Sehingga kata-kata yang muncul dalam sajak, tidak hanya sebagai kata mentah yang belum diolah.

Pujian demi pujian terhadap karya Frischa terus dilontarkan Jokpin pada peluncuran buku yang berlangsung di Gramedia Level 21 Mall Denpasar saat itu. “Karya yang bagus, akan bisa dirasakan oleh sekian banyak orang, seakan-akan kita seleranya sama. Sebetulnya karena puisinya. Puisi yang bagus itu dapat menembus berbagai selera,” begitu kata Jokpin ketika salah satu puisi yang disukainya juga menjadi kesukaan sang moderator yang memandu diskusi. [b]

The post Wajah Baru Bahasa Indonesia dalam Tanda bagi Tanya appeared first on BaleBengong.