Tag Archives: SASTRA

Dulu Ya Dulu, Sekarang Ya Sekarang (Catatan untuk Sugi Lanus)

Zaman telah berubah, termasuk soal nyastra.

Tulisan Sugi Lanus berjudul “Apakah jika Orang Bali Baca Karya Nietzsche Bisa Disebut “Nyastra”? – Merunut Kembali Arti Kata Sastra” yang dimuat di tatkala.co, 26 Agustus 2017 menarik dicermati. Penulis merunut arti kata sastra yang pingit dan sakral sekaligus mempertanyakan orang Bali yang membaca karya sastra penulis modern semacam Nietzsche, Kafka, Salman Rushdie atau Ayu Utami bisa disebut nyastra disertai berbagai argumen.

Sugi Lanus berpendapat kalau diamati secara saksama seseorang dikatakan nyastra apabila ia menekuni karya-karya sastra religius yang bernuansa Hindu (Sanskrit, Jawa Kuno, dan Bali) dan orang-orang yang menekuni kakawin Jawa Kuno atau Ramayana dan Sarasamuscaya serta berbagai tembang Jawa Kuno bisa dilabeli sebagai orang yang nyastra. “Sungguh sulit nampaknya bagi orang Bali bisa menyebut seseorang sebagai seorang yang nyastra bila ia menekuni karya-karya Nietzsche, Kafka, Salman Rushdie, atau Ayu Utami,” tulisnya.

Ia juga menyebut nyastraisme sudah memudar, seiring dengan arti kata sastra yang kian meluas. Menulis karya sastra sudah tidak relevan lagi disebut sebagai kegiatan “mencari tuhan”. Sastra sekarang dilihatnya sebagai karya-karya yang memperjuangkan ideologi dan ambisi pengarangnya, pengekspresian diri dan kegelisahan yang bebas, dibanding melihatnya sebagai jejak-jejak pencarian manusia dalam mencari Tuhan. Bukan lagi mengandung teks-teks suci, tetapi sebaliknya, mempertanyakan atau bahkan melawan kesucian.

Khas sarjana Sastra Bali, Sugi Lanus asyik bernostalgia dengan masa lalu di mana para penulis zaman dahulu sebelum menulis melakukan brata (puasa) dan aktivitas tersebut merupakan ekspresi pencarian Tuhan. Bahkan, penulis zaman dahulu menggunakan nama samaran untuk menghindarkan diri dari kepongahan. Ia kemudian membandingkan dengan penyair (Bali) zaman sekarang yang menulis dengan nama asli dan tak “malu” dengan publisitas.

Jika masa kini dibandingkan dengan masa lalu memang jauh berbeda dan tak seindah harapan. Bernostalgia memang asyik, namun kadang membuat kita hidup di masa lalu dan tak berpijak di masa kini serta cenderung utopis. Zaman telah berubah, banyak hal yang berkaitan dengan masa lalu kini punah dan berubah. Termasuk soal nyastra.

Sastra bagi saya ya sastra, produk kebudayaan suatu bangsa. Jika nyastra hanya diartikan sebagai hal yang suci dan religius maka lebih baik menyebutnya sebagai sastra tradisional-sakral dan sastra modern adalah sastra profan. Dikotomi ini lebih jelas sehingga tidak lagi ada klaim bahwa hanya mereka yang menekuni teks-teks kuno dan suci (Hindu) sebagai seorang yang nyastra.

Mereka yang belajar ilmu sastra di universitas baik Sastra Indonesia, Inggris, Jepang, Rusia Arab, Perancis atau sepanjang hidupnya sebagai pembaca dan penekun sastra (apapun) bisa disebut nyastra. Pengertian nyastra ala Sugi Lanus sangat sempit dan subyektif bagi saya, hanya berkutat pada etimologi dan latar pendidikannya sebagai sarjana Sastra Bali (dan orang Bali tentunya).

Daripada mengagung-agungkan masa lalu dan “mengutuk” masa kini ada baiknya kita mencari solusi melihat kurangnya minat generasi muda pada sastra, baik sastra Bali atau Jawa kuno. Para sarjana Sastra Bali yang notabena lebih paham karya masa lalu yang kebanyakan ditulis pada lontar ada baiknya menterjemahkan dan mereinterpretasi teks-teks kuno tersebut ke dalam bahasa Indonesia, atau mengemasnya secara digital sehingga generasi milenial bisa mengaksesnya tanpa perlu nangkil ke Griya, dengan aturan yang kadang merepotkan bagi generasi sekarang. Itu pun jika tak terbentur Aje Wera, sesuatu yang menjadi penghalang kemajuan ilmu.

Soal Nietzsche yang disebut sebagai ahli sastra anti-Tuhan tampaknya Sugi Lanus mesti membaca Nietzsche dengan kadar penghayatan yang sama ketika membaca Sarasmuscaya atau buku-buku “suci” lainnya. Pendapat saya, andaikan Nietzsche lahir di India ia akan disebut Rishi oleh masyarakat di sana. Rishi artinya “Sang Pelihat”, ia yang bisa melihat apa yang tak terlihat oleh orang kebanyakan. Rishi juga visioner, berpandangan jauh ke depan melampaui zamannya. Karya dan pemikiran Nietzsche baru dipahami dan dihargai jauh setelah ia meninggal dunia.

Jangan-jangan Tuhan pun tertawa melihat diskusi kita soal sastra dan nyastra ini. Itupun kalau Tuhan tak mati seperti kata Nietzsche. [b]

The post Dulu Ya Dulu, Sekarang Ya Sekarang (Catatan untuk Sugi Lanus) appeared first on BaleBengong.

Inilah Daftar Lengkap Pembicara UWRF 2017

 

Dari 16 pada Juli lalu menjadi 160 pembicara hingga saat ini.

Sebanyak 16 pertama nama pembicara nasional dan internasional yang akan hadir di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) telah diumumkan pada Juli lalu. Pekan lalu, perhelatan sastra dan seni terbesar di Asia Tenggara ini meluncurkan daftar lengkap nama pembicara. Begitu pula dengan program-program yang akan diadakan selama lima hari pada 25-29 Oktober mendatang.

Pada tahun ke-14 ini UWRF memastikan akan mendatangkan 160 pembicara. Penulis, seniman, jurnalis, musisi, pegiat, dan pelestari alam itu datang dari lebih dari 30 negara. Mereka akan berkumpul di jantung seni dan budaya pulau Bali, Ubud, bersama para penikmat sastra dan penggemar seni lainnya dari berbagai belahan dunia.

UWRF 2017 akan merayakan tema Origins atau ‘Asal muasal’. Tema yang membentangkan tajuk-tajuk besar seperti politik hingga teknologi, dan lingkungan hingga spiritual ini ditarik dari sebuah filosofi Hindu kuno yang berbunyi ‘Sangkan Paraning Dumadi’.

Akan hadir sosok-sosok yang membentuk serta membesarkan dunia sastra Indonesia seperti Sutardji Calzoum Bachri, sang Penyair yang mampu menyihir pembacanya dengan sajak-sajak puitis nan magis, dan Nh. Dini, salah satu Novelis terbesar Indonesia. Murti Bunanta, ahli sastra anak-anak yang telah mendapatkan banyak penghargaan internasional, serta Seno Gumira Ajidarma dan Leila S. Chudori, jurnalis TEMPO sekaligus penulis pemenang penghargaan yang setiap karyanya selalu mendulang pujian.

Nama-nama besar sastra Indonesia lainnya adalah penyair kawakan Joko Pinurbo, novelis buku Negeri 5 Menara Ahmad Fuadi, novelis The Da Peci Code dan penulis skenario, Ben Sohib, serta Trinity, penulis seri buku The Naked Traveler yang baru-baru ini diangkat ke dalam film layar lebar.

Bintang-bintang sastra internasional yang juga dipastikan akan hadir di UWRF adalah Saroo Brierley, pria di balik memoar A Long Way Home, yang diadaptasi menjadi sebuah film box office Hollywood berjudul Lion. Novelis kriminal paling terkenal di Britania Raya, Ian Rankin, penulis otobiografi Wild Swans yang laku terjual di seluruh dunia, Jung Chang, Madeleine Thien, penulis pemenang penghargaan asal Kanada, serta Han Yujoo, bintang sastra muda Korea.

Rumah, pembatas, asal usul, dan sejarah adalah beberapa tajuk utama yang berhubungan dengan tema ini, maka akan hadir juga sosok-sosok yang sepak terjangnya erat dengan tajuk-tajuk tersebut.

Jurnalis, penulis, dan pegiat ternama dunia, yang selama ini menjadi saksi pergolakan mengenai isu-isu besar dunia seputar politik, hak asasi manusia, pelestarian alam, dan pembatas akan bergabung dalam diskusi-diskusi di Main Program UWRF, seperti Andreas Harsono, Putu Oka Sukanta, Lijia Zhang, Michael Vatikiotis, Tom Owen Edmunds, Tim Flannery, dan Step Vaessen.

UWRF juga akan kedatangan sederet wanita hebat yang berkecimpung dalam bidang sastra dan kerap menyuarakan kegelisahan feminisme dalam karya-karya mereka. Djenar Maesa Ayu, penulis kontroversial yang baru saja meluncurkan film terbarunya, hUSh, Oka Rusmini, Penulis novel Tarian Bumi yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Jerman, Cokorda Sawitri, pegiat teater dan penulis dengan karya-karya yang berpusar pada pemberontakan wanita, serta Intan Paramadhita, penulis fiksi Sihir Perempuan.

Tidak ketinggalan Marina Mahathir, pegiat dan penulis dari negara tetangga, Malaysia yang giat memperjuangkan isu-isu wanita dan Jhoanna Lynn B. Cruz, Penulis Filipina pertama yang menerbitkan buku kumpulan kisah cinta sesama jenis di negara tersebut.

Di tahun 2017 ini UWRF membawakan program-program khusus untuk pengembangan karier anak muda di industri seni, dengan nama Emerging Voices. Dibagi dalam empat hari, setiap harinya akan berfokus pada satu tema seputar seni yaitu desain visual, film, fotografi, fashion, musik, serta tentunya penulisan.

Mereka yang akan menjadi pembicara adalah fashion designer kebanggan Indonesia saat ini, Lulu Lutfi Labibi, fotografer Agung Parameswara, sutradara Erick Est dan Rai Pendet, komikus Ary Wicahyana, street artist Wayan Subudi, dan ilustrator Kuncir Sathya Viku, sosok di balik poster tema UWRF 2017. Sedangkan Ahmad Fuadi dan Leila S. Chudori akan membagikan ilmu mereka di bidang kepenulisan.

“Dengan bermacamnya kewarganegaraan dan latar belakang pembicara di UWRF tahun ini, maka itu menjadi bukti mengapa Dr Anita Heiss, pembicara UWRF tahun lalu, menyebut Festival ini ‘sebuah perhelatan sastra paling multikultural, beragam, dan kental akan isu-isu terkini dunia’,” ujar Founder & Director UWRF, Janet DeNeefe.

“Di saat seperti ini, saat dunia ini dikelilingi oleh kejadian-kejadian pelik yang membuat kita sebagai manusia merasa tak berdaya, sangatlah penting untuk berkumpul dan mendengar serta membuka pandangan baru sebanyak-banyaknya. Juga bersama mengingat bahwa kita semua berasal dari tempat sama, dan akan kembali ke tempat sama juga,” tambahnya. [b]

The post Inilah Daftar Lengkap Pembicara UWRF 2017 appeared first on BaleBengong.

Api, Tanah, dan Air: Buku Puisi Tiga Perempuan

Saya menyukai malam itu.

Pada Minggu, 30 Juli 2017 di malam yang membuat perih mata minus dan silinder saya karena temaramnya Bentara Budaya Bali. Hampir pukul 20.00 WITA.

Pemain Teater Kalangan makin bikin pekat karena berpakaian hitam-hitam. Pembawa cahaya lampu mondar mandir menyinari tubuh mereka. Puisi “Membaca Pagi” merasuki malam.

Lapis demi lapis suara anak-anak Kalangan ini menyamankan mata saya. Merehatkannya karena saya memilih menyiagakan telinga untuk 14 baris puisi dari Ni Luh Putu Wulan Dewi Saraswati, perempuan 23 tahun ini.

Kujumpai kau saat pagi merahasiakan rindunya
Di sudut kamar kita saling bertukar cerita
Tentang siapa yang paling setia
…….

Teater Kalangan ini sungguh berenergi merespon Membaca Pagi. Mereka menghormati semua benda yang ada di taman Bentara Budaya tanpa property tambahan. Berlari memeluk pohon-pohon, menyapu dahannya. Mendekap jendela-jendela kaca. Berjingkat di lantai tanah. Berlari mengejar pagi.

Tapi pagi tak akan hadir secepat itu. Api dari puisi-puisi Kadek Sonia Piscayanti menjilat-jilat malam. Api yang bergeming saja, tapi membakar habis mereka yang merasa pernah menyambak rambut perempuan untuk menunjukkan kekuasaaanya. Mereka yang menginginkan perempuan tak bersuara. Atau melenyapkan teriakannya.

Api di sini bukan sekadar kemarahan. Ia adalah elemen penting dalam daur hidup semesta. Api yang menghangatkan, mematangkan masakan, dan melunakkan badan kasar jadi jiwa-jiwa.

If not because of this face
He won’t marry me
If not because of this face I wouldn’t be “we”

Now I don’t need a face
To please you
So I burn it
To know whether or not you still love me
Without my face

I know that it hurts you
But it hurts me even more
To have no face
And no love
And not even a single piece of ‘fire’ within

(puisi berjudul Failed Face)

Tumpek Landep, Gayatri Mantram, berpadu dengan lidah api biru. Api yang paling dinanti agar masakan cepat terhidang. Tak bikin pantat panci gosong.

Semoga kepalamu tak gosong membaca ini. Begini 9 baris pertamanya.

If freedom is free
I will write freely
I will write a poem about Balinese women
A woman who knows prison better than prisoners
A woman who hangs herself and fail
A woman who cries everyday and stays strong
A woman who gets a blame and remains calm
A woman who raise family and get black magic
A woman who does everything and gets nothing

(puisi berjudul No Turning Back)

Sonia, dalam diskusi peluncuran bukunya menyebut usia 33 tahun ini adalah saat yang tepat menerbitkan buku kompilasi puisi sendiri dan dalam bahasa Inggris. “Emang gue banget, tak mungkin akan dibandingkan dengan Ole. Karena selalu akan ada yang membandingkan,” ia tertawa. Adnyana Ole adalah suaminya, wartawan dan penyair. Karena buku puisinya ini dalam bahasa Inggris maka Ole menurutnya nggak bisa masuk.

Dosen jurusan Sastra Inggris di Undiksha ini merasa lebih nyaman menulis puisi terutama Burning Hair ini dalam bahasa Inggris karena kata-kata yang diinginkan jadi lebih lugas dan irit. Menulis Cerpen yang lebih panjang dan naratif, barulah ia merasa mengalir dalam bahasa Indonesia.

Selain refleksi dalam hidup, buku ini juga kado untuk diri sendiri. “Gak dikasi kado Ole, bikin sendiri,” serunya girang.

Buku ini juga untuk mereka yang tak berani bersuara. “Saya bukan malaikat, mereka perlu didengar. My hair.. my hair, rambut tercerabut akarnya. Ini kisah nyata seorang laki menyeret istrinya di depan banyak orang, dan warga menyalahkan si perempuan,” tutur ibu dengan dua anak ini tentang puisi Burning Hair.

Saya pernah berharap mempublikasikan kembali artikelnya, energi yang sama seperti Burning Hair ini, yang dihapus karena protes warganet. Pembaca ini tidak senang dengan isinya. Sonia memilih mengalah dengan menyabut karyanya dari web Tatkala.co, media online yang dibuat Ole.

Sementara buku puisi Wulan bak air, yang tenang kadang bergejolak. Mengalir ke pancuran-pancuran kenangan dan mimpinya. Berakhir di kolam puitik berjudul Seribu Pagi Secangkir Cinta ini. “Sangat sederhana, sebuah perjalanan saya,” kata mantan mahasiswa Undiksha dan kini S2 di Unud. Ia misalnya mengenang laki-laki yang kadang bikin kesal, kadang bikin kangen.

Virginia Helzainka berjudul Cocktail, Waves and Archer.  Suara-suara perlawanan menjejak padat bak tanah. Seperti perbicangan, yang kadang serius campur satir. “Kebanyakan soal hubungan anak dan ibu,” urainya. Kalau ibunya membaca karyanya ia bisa dijewer.

Gaya puisinya yang seperti bahasa lisan seperti ngobrol ini seturut dengan kesukaannya pada slam poetry. Sebuah genre pembacaan puisi yang dibawakan biasanya tanpa teks oleh slamer atau penyaji di panggung. Apa yang disampaikan tak harus persis sama dengan teks, bisa lebih berimprovisasi. Mereka terlihat seperti testimoni. Pertunjukkan poetry slam kerap dikompetisikan, dinilai juri dan penonton.

“Saya ketemu slam poetry di youtube, dapat jiwanya di sini. Ini slam poetry yang dibukukan. Bahasa nyablak, to the point. Emotional reading poetry, jadi tak bertele-tele seperti metafora. Refleksi diri sendiri dan teman-teman,” urai Virginia.

Ia juga mengaku lebih bisa mengekspresikan kata-kata dalam bahasa Inggris karena sejak kecil lebih banyak baca buku berbahasa Inggris. “Baru join Komunitas Mahima kenal bahasa Indonesia, dalam bahasa Inggris lebih percaya diri,” lanjut mahasiswa S2 Undiksha ini.

Tiga buku puisi yang diterbitkan oleh Mahima Institute Indonesia (Singaraja), didirikan Ole dan Sonia ini menjadi temu alumni dua pegiatnya, Wulan dan Virginia. Anak muda Mahima juga mewarnai perayaan ini dengan pementasan musikalisasi dan pembacaan puisi. Anak perempuan Sonia, Putik Padi juga ikut membacakan petikan karya ibunya.

Pembahas buku adalah Arif B. Prasetyo, lebih dikenal sebagai kurator lukisan. Ia mengulas panjang puisi-puisi yang dibahasnya. Misalnya pemberontakan perempuan terhadap kuasa patriarkhi pada karya Sonia. Virginia juga menampilkan pesan feminis namun lebih puitik misalnya protes soal politik tubuh. Sementara Wulan gelisah pada norma, nilai, dan komunitas.

Profil Penulis

Kadek Sonia Pisacayanti lahir di Singaraja, 4 Maret 1984, merupakan Dosen Jurusan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha. Ia mengajar bidang sastra seperti puisi, prosa, dan drama. Ia pernah diundang sebagai pembicara pada Ubud Writers and Readers Festival (2012-2013), Creative Writing Program, Griffith University, Gold Coast, Australia (2011-2012), serta pada ajang OzAsia Festival, Adelaide Australia (2013).

Ia menulis sekaligus menyutradarai naskah “Layonsari“ di Belanda dan Prancis pada acara Culture Grant dari Direktorat Pendidikan Tinggi Indonesia (2014).  Ia juga telah menerbitkan beberapa buku di antaranya, “Karena Saya Ingin Berlari Saya Ingin Berlari“ (Akar Indonesia, Yogyakarta, 2007), Buku Sastra “Literature is Fun“ (Pustaka Ekspresi, 2012), “The Story of A Tree“ (Mahima Institute Indonesia, 2014), The Art of Drama, The Art of Life (Graha Ilmu, 2014), A Woman Without A Name“ (Mahima Institute Indonesia, 2015).

Ni Luh Putu Wulan Dewi Saraswati, lahir di Denpasar, 10 Juli 1994, S1 di Undiksha, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, mendalami  linguistik di Pascasarjana Universitas Udayana.Kini menjadi guru bahasa Indonesia untuk penutur asing di Yayasan Cinta Bahasa, bergabung di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan. Terpilih sebagai mahasiswa berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha 2014 dan 2015, serta mengikuti pertukaran budaya, Muhibah Seni Undiksha di Belanda dan Prancis 2014.

Menjadi sutradara fragmentasi cerpen Penumpang karya Iwan Simatupang, Mega-Mega karya Arifin C. Noor; monolog Bahaya karya Putu Wijaya. Karyanya terhimpun dalam antologi Singa Ambara Raja dan Burung-burung Utara, Ginanti Tanah Bali, Kaung Bedolot, Di Ujung Benang, Klungkung: Tanah Tua Tanah Cinta, dan Lingga. Puisi dan cerpennya kerap dimuat dalam Koran Bali Post Minggu. Antologi puisinya bertajuk Seribu Pagi Secangkir Cinta telah terbit pada tahun 2017.

Virginia Helzainka, merupakan mahasiswi S-2 di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Ia pernah menulis naskah sekaligus menyutradai lakon “Trageditrisakti“ (2011), sebagai sutradara pada lakon “A Marriage Proposal“ oleh Anton Chekov (2015), sebagai perwakilan Jakarta Timur dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (2011). [b]

The post Api, Tanah, dan Air: Buku Puisi Tiga Perempuan appeared first on BaleBengong.

Agenda Sastra: Puisi, Dokter dan Kehidupan

Sampul buku kumpulan puisi karya sastrawan yang juga dokter. Foto Bentara Buaya Bali.

Dua dokter yang juga sastrawan akan tampil bersama.

Mereka, Prof. DR. dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd dan dr. Sahadewa SpOG (K), akan bersama-sama merayakan puisi dalam acara Pustaka Bentara “Puisi, Dokter, dan Kehidupan” di Bentara Budaya Bali (BBB).

Kedua dokter tersebut nbaru-baru ini merilis buku puisi terkini, yakni ‘Seberkas Puisi Cinta’, kumpulan puisi kedua karya Wimpie Pangkahila dan antologi puisi bilingual ‘Penulis Mantra (Tha Mantra Writer)’, yang merangkum puisi-puisi karya Sahadewa.

Agenda akan berlangsung Sabtu (17/06) pukul 19.00 WITA di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, Ketewel, Gianyar, Bali.

Akan hadir juga pembahas Narudin Pituin, pengamat dan kritikus sastra asal Bandung serta DR. Gede Artawan, dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang juga dikenal sebagai penyair serta kritikus sastra.

Masing-masing narasumber akan menelisik capaian estetik berikut kedalaman perenungan dalam karya sekaligus mencoba mengungkapkan proses kreatif mereka yang berlatar profesi sebagai dokter. Bertindak sebagai moderator dr. Oka Negara, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Memang, dunia sastra dipenuhi penulis-penulis dan pengarang-pengarang mumpuni yang memiliki latar sosial dan pekerjaan yang beraneka. Sebut saja Anton Chekov lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Moskwa dan Jean-Paul Sartre, dokter, filsuf, bahkan kritikus. Ada pula penyair Taufik Ismail, lulusan dokter hewan FKHP-UI Bogor serta novelis Václav Havel politikus yang sempat jadi presiden Cekoslavia.

Umumnya banyak yang bekerja sebagai jurnalis semisal Ernest Hemingway, Gunawan Mohamad, dan Pramudya Ananta Toer, serta novelis asal Perancis Émile Zola.

Wimpie Pangkahila, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, merupakan dokter yang multitalenta. Ia telah menulis dan mempublikasikan 23 buku dan ratusan makalah ilmiah terkait bidang yang ditekuninya, yaitu Andrologi dan Seksologi serta Anti-Aging Medicine.

Di antara kesibukan rutinnya, ia juga aktif menulis puisi yang sebagian telah diterbitkan dalam buku berjudul “Seberkas Puisi Untuk Negeri”. Puisinya juga diterbitkan dalam berbagai antologi puisi bersama penulis lain.

Sementara Sahadewa telah menulis puisi sejak SMP dan memulai publikasi puisi di majalah dinding kemudian berlanjut di koran Bali Post Minggu.

Pada tahun 1980-an, ia aktif berkompetisi di ruang apresiasi puisi Bali Post yang diasuh Umbu Landu Paranggi. Tahun 2015 Sahadewa menerbitkan kumpulan puisi tunggal “69 Puisi di Rumah Dedari” setelah membidani kelahiran komunitas puisi Kampung Puisi Bali, sekarang JKP.

Puisi-puisinya juga terhimpun dalam beberapa kumpulan puisi bersama Indonesia dan Asean serta komunitas penyair, diantaranya Nitramaya Penyair Nusantara, Tifa Nusantara, Lumbung Penyair Indonesia, Memo Penyair, Penyair negeri kertas, Bebas Melata Asean dan dusun Flobamora di Kupang.

Karya-karya Sahadewa belakangan ini dimuat di berbagai media dan kumpulan puisi bersama. Tahun 2016 buku puisinya diterbitkan HW project dalam edisi hard cover, edisi buku biasa, album CD lagu puisi, dan video klip.

Selain timbang pandang, program Pustaka Bentara ini dimaknai pula dengan pembacaan puisi, musikalisasi, serta pertunjukan Komunitas Api Undiksha Singaraja, Abhi n’ Freinds, melibatkan seniman dan kreator: Putri Suastini, April Artison, Fileski, Lanny Koroh, Ishack Sonlay, Shintya Setiawan dan Chumani JKP. [b]

The post Agenda Sastra: Puisi, Dokter dan Kehidupan appeared first on BaleBengong.

Rumah Batu Kakek Songkok

“Jadi juga pesan pasir?” tanya Sabang pada ayahnya, dengan napas tersengal.

SABANG tinggal tak jauh dari rumah Kakek Songkok, panggilan sang ayah oleh warga kampung. Ia memperhatikan sebuah pikap menurunkan pasir, lalu tergopoh-gopoh menghampiri ayahnya.

“Iye, kita bikin baru rumah kita, jadi rumah batu,” jawab Kakek dengan senyum mengembang sembari membenahi letak songkok. Karena songkok itulah ia dipanggil Kakek Songkok oleh warga kampung. Peci tak pernah lepas dari kepala Kakek. Bahkan, seluruh anaknya kerap memanggil ayah mereka dengan Kakek Songkok.

Ilustrasi cerpen Kompas Minggu 29 Januari 2017 karya Kun Adnyana
Ilustrasi oleh Kun Adnyana

Sabang mengerutkan kening, yang membuat Kakek teringat pertengkaran dengan putranya dua malam lalu saat Kakek mneyampaikan niat menjadikan rumahnya rumah batu.

“Kenapa harus rumah batu? Tak suahlah dengar kata orang,” cecar Sabang. Ia satu-satunya yang tidak setuju keinginan ayahnya mengubah rumah papan menjadi rumah batu. Bagi Sabang, rumah masa kecil harus tetap seperti sedia kala. Apalagi kalau ayahnya mengubah rumah hanya karena omongan tentangga.

“Bukan karena kata orang, sudah lama mau kuubah rumah ini. Lihat ko papannya, ibumu sudah berapa kali jatuh karena papan-papan itu sudah tua,” ujar Kakek Songkok lirih, tubuhnya berkeringat. Tidak sanggup ia beradu mulut dengan putra kesayangannya.

“Aih, tidak, tidak. Rumah kita harusnya biar begini saja. Di sini kenangan kita semua. Kenapa harus diubah?” Sabang setengah membentak ayahnya sambil menunjuk sekeliling rumah. Suaranya meninggi, mukanya merah padam menahan marah.

Sejak hasrat mengubah rumah muncul, dan dikabarkan ke seluruh keluarga, saat itu Sabang sudah menentang. Kakek mengalah, mencoba membujuk Sabang agar paham. Tapi, pertengkaran dua hari lalu itu kini bangkit kembali. Sabang memandang gundukan pasir itu. Ia bayangkan, tak lama lagi pasir-pasir itu akan dicampur semen, merekatkan batu-batu. Bagi Sabang, batu-batu itu bersatu padu melindas kenangan masa kecilnya di rumah kayu yang tak lama lagi akan dirobohkan. Ia banyak melihat keadaan itu terjadi pada kawan-kawan di kota saat sekolah dulu. Saat itu ia hanya tertawa karena yakin kampungnya tetap teguh mempertahankan rumah adat mereka, kenangan mereka akan hidup. Tapi, sekarang tampaknya akan pupus pula kebanggaan itu.

Sabang sadar, tak ada guna lagi menentang. Tak pantas lagi berharap. Semua bilah-bilah kayu itu, jendela-jendela, lantai, usuk, papan-papan, tempat semua kenangan masa kecil melekat dan menancap, akan segera lenyap. Rencana sedang dijalankan, keinginan tengah diwujudkan untuk melumat wujud sejarah sebuah keluarga. Semua akan tinggal kenangan yang mengambang. Melayang-layang mendesak-desak dada.

Mulut Saang terkunci, ia pulang tanpa pamit, membiarkan Kakek Songkok terdiam hampa. Memang, Sabang sangat keras soal rumah. Ia juga yang menentang saat ipar, suami kakak perempuannya, membangun rumah batu sedari awal mereka menikah.

Kakek berjalan terbungkuk ke arah balai bambu di bawah rumah panggungnya. Langkahnya lunglai, matanya kuyu. Istrinya menyusul. Mereka duduk dalam diam dielus angin sepoi yang biasa lewat di bawah rumah. Balai-balai ini tempat kesukaan pasangan tua itu. Pagi, siang, sore, bahkan malam, angin akan datang menghampiri, tak peduli musim apapun yang sedang hinggap di kampung. Tapi tak ada yang terlalu suka di balai saat malam. Selain karena gelap tak menyenangkan, nyamuk-nyamuk akan berpesta pora, membuat penghuni sibuk menggaruk sleuruh badan.

“Ah, kenapa aku marah ke Sabang. Harusnya tak usah sampai begitu,” bisik Kakek pada dirinya sendiri. Lama Kakek duduk diam, tenggelam dalam pikiran sendiri.

Sesekali Kakek Songkok memandang berkeliling, seolah ingin menelan rumah dengan tatapan matanya. Balai itu sendiri tanpa dinding papan. Kakek memasang bambu-bambu melintang di tengah tiang-tiang rangka rumah. Di situlah mereka biasa bercengkrama. Rumah mandar seperti rumah Kakek, besar, luas, dan memiliki tiang-tiang rangka yang kokoh sebagai penyangga. Orang-orang menyebut rumah ini rumah panggung. Tiang rangka yang digunakan tinggi, hingga tiga meter, sebelum mencapai papan pijakan rumah. Biasa dibuatkan tangga untuk bisa memasukinya.

Kakek Songkok menatap tangga rumahnya yang sudah berlubang, beberapa papannya lapuk dimakan usia. Seminggu lalu, cucu Kakek terluka karena berlari-lari di sekitar meja tamu. Ia terperosok di antara papan yang remuk karena tua. Kaki gadis kecil lima tahun itu berdarah-darah.

Kejadian itu menyadarkan kakek, rumahnya sudah renta. memperbaikinya menjadi rumah batu bagi Kakek seperti memastikan keluarganya aman, tak ada lagi yang perlu terluka.

Masih menekuri kerapuhan rumahnya sendiri, tiba-tiba menantu Kakek memberi salam, memanggil kembali Kakek dari buaian angin sepoi.

“O, Darman, sini, sini,” sapa Kakek Songkok mendengar suami anak sulungnya mengucap salam.

Masih berdiri Darman berujar, “Bagaimana jadinya pembangunan rumah ini, Kek?”

Kakek menghela napas, memandang sekeliling rumah lagi, lalu menatap Darman, sambil berkata muram, “Yah, Sabang tetap tak setuju. Tapi pemesanan bahan sudah berjalan, akan datang besok. Malam nanti kita bujuk lagi Sabang agar setuju ubah rumah.”

Darman mengangguk-angguk. Ia bukan orang Mandar. Tidak seperti Sabang dan Kakek Songkok. Ia tak pernah menikmati kebersamaan memindahkan rumah panggung beramai-ramai. Kebersamaan yang menyatukan warga kampung. Di tanah Mandar, masyarakat biasa saling bantu saat akan memindahkan rumah. Dari kampung sebelah pun datang mengangkat rumah panggung itu ke tempat baru.

Tawa riuh rendah bercampur masam bau keringat serta teriakan semangat selalu menyemarakkan pemindahan rumah. Semua lelaki kampung turun tangan, rumah panggung yang berat dengan tiang dan tangga itu akan dipindahkan dalam sekali waktu, bersama-sama. Setelah rumah pindah, masyarakat menikmati makanan ringan, seperti loka yanno, pisang goreng gurih sedap disantap selagi hangat, dan bubur kacang hijau yang disuguhkan oleh si empunya rumah. Kebersamaan itu mengikat masyarakat kampung. Sabang suka sekali membantu pemindahan rumah, ia akan bersenda gurau dengan pemuda kampung yang ikut serta. Apalagi ayahnya, Kakek Songkok, ditunggu-tunggu pemuda kampung karena selalu memberi guyon semangat saat akan memindahkan rumah. Hari-hari Sabang kecil riuh oleh pekik semangat dan kebersamaan warga. Tapi, itu semua tak pernah dirasakan Darman. Kenangan indah kebersamaan itulah yang merasuk dalam diri Sabang sehingga ia selalu menentang pembangunan rumah batu.

Darman datang dari pulau sebelah. Belum lama di tanah Mandar, ia merantau sebagai tukang listrik di Malaysia. Dengan uang hasil kerjanya, ia membangun rumah batu pertama di kampung itu. “Rumah panggung sudah ketinggalan zaman,” katanya sengit.

Tak disangka pembangunan rumah batu diikuti warga lain. Menimbulkan gengsi sendiri kata mereka. Hanya Sabang yanng berang, mengatakan rumah panggung adalah tradisi, adat yang harus mereka rawat. Dalam tiga tahun sejak Darman membangun rumah batu pertama itu, hampir seluruh warga yang mampu langsung mengubah rumah mereka menjadi rumah batu. Warga yang tidak mengubah rumahnya dianggap berkehidupan di bawah standar. Keberadaan rumah batu menentukan tingkat sosial mereka. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dipandang tidak mampu oleh warga sekampung.

Kepala kampung yang seolah peduli dengan kehidupan warganya melontarkan gagasana emmbantu warga yang tempat tinggalnya belum rumah batu, dengan memberi sumbangan dari dana desa. Ia menyampaikan gagasan itu dengan lembut, tetapi terasa sangat mendesak-desak, juga membujuk-bujuk, yang kemudian disambut riang gembira oleh warga. Pembangunan rumah batu dimulai. Hanya dua orang yang menolak: Sabang, yang tidak mau mengubah rumahnya sama sekali, dan Kakek Songkok, ayah Sabang, yang emngatakan ia punya cukup uang untuk emmbangun rumah batu, hanya menunggu waktu.

Sepeninggal Darman, Kakek menaiki tangga rumah emmbuat bunyi berderak dan kriut kencang. Ia berjalan ke kamarnya, berjingkat, menghindari lubang-lubang rapuh kayu rumah. Kakek lalu berbaring di dipan tanpa kapuk yang dipenuhi sarung dan baju-baju. Pikirannya dipenuhi rasa sesal karena pertengkaran dengan Sabang pagi tadi.

Belum lama terbaring, Kakek Songkok terlonjak oleh salam Sabang. Lekas-lekas Kakek merapikan sarung, menyambut Sabang, siap menerima gelegak marah putranya lagi.

Tapi kali ini Sabang datang dengan penuh kelembutan. “Sudah saya putuskan. Lanjutkan saja pembangunan rumah ini. Saya mendudung apa pun yang akan dilakukan” ujar Sabang pelan, terasa seperti igauan yang teduh.

Kakek setengah melongo, tergagap menjawab, “Ah, benar setuju ko?”

“Iye, kalau memang sudah diputuskan dan itu yang paling baik, teruskan,” kata Sabang. Kakek mengangguk-angguk senang, tak menyangka anaknya akan mendukung.

“Tapi bagaimana denganmu? Ubah juga rumahmu jadi rumah batu, ya?” bujuk Kakek.

Sabang hanya tersenyum kecil. Kakek merasa senyum putranya lebih dari cukup untuk sebuah persetujuan. “Nanti rumah ini juga punyamu, kan. Keluargamu bisa hidup baik di rumah batu, tak perlu panas-panas karena atap seng ini, nanti ganti juga jadi genteng,” tambah Kakek kegirangan.

Sabang memandang berkeliling. Matanya melahap kenangan masa kecil ketika tinggal di rumah kayu ini. Jatuh pertamanya di appan kayu, cengkeh pertama yang ia poteki semaca kanak, semua di ruang ini. Air mata Sabang menyiratkan ia sungguh tak rela menjadikan rumah ini rumah batu. Namun, ia sudah memutuskan meengikuti keputusan ayahnya. Kakek Songkok masih berkata tanpa henti tentang rumah batu saat Sabang pamit.

Pembangunan pun dimulai. Papan-papan rumah dibongkar, tiang-tiangnya dibongkar. Pasir dan semen dicampur, batu-batu disusun. Darman dan semua keluarga berdatangan membantu, atau sekadar melihat pembongkaran rumah tua mereka. Sabang tak pernah datang, tak juga muncul saat rumah selesai dibongkar. Dinding batu pertama sudah rampung, tapi Sabang tak juga tampak.

Banyak yang memuji, atau setengah menyindir, akhirnya Kakek Songkok memperbaiki rumah, dan tidak dipandang sebelah mata lagi oleh tokoh kampung . Ia hanya tersenyum menyaksikan rumahnya menjadi rumah batu. Meski heran mengapa putranya tak pernah menjenguk pembangunan rumah. Kakek tak terlalu gelisah, ia ingat perbincangan terakhir saat Sabang menyetujui keputusan tersebut.

Ketika rumah batu itu rampung, Kakek mengadakan syukuran kecil. Kepala kampung yang diundang memberikan sambutan betapa bijak keputusan Kakek Songkok untuk mengubah rumah, dan menguji betapa indah rumah-rumah batu di kampung yang ia pimpin. Sebelum syukuran, Sabang dipanggil, tapi yang dicari tak ada di rumah. Acara tetap berjalan tanpa kehadiran Sabang.

Masih subuh, saat akan bersiap ke kebun, Sabang menghampiri ibunya di depan rumah. Kakek minum kopi di teras.

“Ke amna saja ko? Kenapa tak pernah datang? Mau ke mana lagi?” tanya Kakek melambai pada Sabang.

“Saya mau pindah ke Ratte. Tak ada lagi yang sanggup saya bikin di sini, rumah kita juga sudah berubah,” ujar Sabang menahan isak. Ia menggendong ransel. Di motornya ada satu tas besar lagi, dipegang oleh Sarti, istri Sabang. Ia akan tinggal di kampung istrinya di Ratte, letaknya di balik bukit. Di sana ia bisa tetap tinggal di rumah panggung, terhindar dari tekanan untuk mengubah rumahnya menjadi rummah batu.

“Rumahmu ini bagaimana? Kami bagaimana?” tanya Kakek, melonjak dari duduknya, kaget saat Sabang memutuskan pergi.

“Tak apa. Rumah saya berikan pada Darman untuk anaknya, mau dijadikan rumah batu juga. Semua kan sudah aman dalam rumah batu. Lenyap kenangan kita, hilang juga saya,” jawab Sabang menghidupkan motornya. Ia berlalu, sedih.

“Saya sudah berusaha tahan. Dia tak mau dengar, aih,” tiba-tiba Darman datang, berusaha selekas mungkin sampai pada Kakek. Sabang sudah tak terlihat lagi.

Kakek Songkok duduk dengan tatapan kosong, matanya sembab, bayangan Sabang semakin jauh. Deru motornya kian sayup, begitu jauh. Angin tak kuasa lagi mengantarnya.

Dimuat di Kompas, Minggu 29 Januari 2017