Tag Archives: sampah

Denpasar, Kota Wisata dengan Tumpukan Sampah Menggunung

Akibat kebakaran di TPA Suwung, sampah menumpuk di jalan-jalan Denpasar.

Denpasar, kota wisata yang terkenal di dunia kini jadi berwajah tidak indah lagi. Bau tidak sedap menyebar di pinggir jalan dari tumpukan sampah yang meluber ke jalanan. Siapa yang disalahkan atas kebakaran ini? Apakah musim kemarau yang panjang?

Sistem pengelolaan sampah masih klasik yakni kumpulkan, angkut dan buang. Sama sekali tidak ada pengelolaanya. Apakah kita tidak mau berubah?

Kita tahu teori  3R dengan menggunakan ulang (reuse), mengurangi (reduce) dan mendaur ulang (recycle) tapi tidak dijalankan. Masyarakat diminta memisakan sampah, tetapi truk sampah malah menggabungkannya. Terus siapa yang salah?

Akibatnya sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung terus menggunung tanpa ada pengelolaan dengan baik. Bahkan semua TPA menerapkan open dumping. Sampah dibiarkan menumpuk begitu saja tanpa pengelolaan. Harusnya kalau manajemen sampahnya baik bisa jadi zero waste di TPA.

Kenapa kita tidak menerapkan sanitary landfill yang benar?

Mari kita pikir lagi. Sampah organik itu tinggal dikubur selama tiga bulan sudah jadi kompos. Sampah anorganik sebagian besar bisa dijual dan di daur ulang. Hanya sedikit yang butuh dibuang ke TPA. Namun, kenyataanya berbeda. Kita sibuk membuang sampah ke TPA hingga menggunung dan mencemari lingkungan.

Sampah yang menggunung di TPA suwung adalah sampah plastik. Sudah cukup studi banding karena sekarang saatnya berbuat. Bank sampah sebenarnya ide yang baik, tetapi kapasitasnya terbatas dan masyarakat harus bawa sampah ke tempatnya. Untuk masyarakat kota yang sibuk hal ini jarang bisa dikerjakan.

Program mengurangi penggunaan plastik sudah baik tetapi coba kita lihat di tempat sampah. Masih banyak yang dijadikan pembungkus sampah adalah plastik.

Mari berubah karena kita butuh aksi bukan puisi.

Pemerintah Kota Denpasar harus hadir untuk permasalahan ini. Sediakan tempat sampah organik dan non organik di setiap rumah. Kemudian angkut dengan truk terpisah. Berdayakan tempat pembuangan sampah sementara terpadu (TPST) 3R agar sampah dikelola dengan baik, sampah organik dijadikan kompos dan anorganik di jual.

Sampah organik itu dikubur akan jadi kompos dan tidak dicari lalat. Sehingga sampah yang terbuang ke TPA sangat sedikit. Ke depannya TPA bisa jadi lahan pertanian yang subur jika sudah ditinggalkan dan tidak ada penolakan dari masyarakat.

Tidak seperti sekarang ini sampah dicampur kemudian ditumpuk menggunung. Banyak lalat bertebaran ditambah bau menyengat. Siapa daerahnya bersedia dijadikan TPA kalau seperti itu? Mari berubah karena kita butuh aksi bukan puisi.

Sebaiknya pengurangan sampah dilakukan dari rumah tangga. Sampah organik bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi kompos dengan alat sederhana. Sampah anorganik dapat dibawa ke Bank Sampah ataupun di kelola TPST 3R terdekat. Ke depannya jumlah sampah yang dikirim ke TPA dapat diminimalisir.

Dengan perkembangan teknologi bisa saja sampah di TPA diolah menjadi listrik. Untuk itu diperlukan sosialisasi pada masyarakat secara berkelanjutan dan didukung fasilitas, pendanaan dan kebijakan yang berjalan secara sinergi. [b]

The post Denpasar, Kota Wisata dengan Tumpukan Sampah Menggunung appeared first on BaleBengong.

Road to TrashStock Musik Artistik Plastik

The festival TrashStock is coming back on 4th &5th August at Kulidan Kitchen & Space (Sukawati).

The event “Road To TrashStock” that took place in Rumah Sanur on Saturday 12th was the opportunity to rewind what happened since its creation in 2015 and introduce the 2018 theme of animal protection.

TrashStock is a community using the “Musik Artistik Plastik” mix for an annual two days art exhibition and concert event highlighting the plastic pollution issue through positive messages and beautiful artwork created with or inspired by plastic trash.

TrashStock’s Volunteer Team

Bali is famous for its creativity, and more and more artists are using trash to express their care for Bali’s daunting plastic pollution. Made Bayak and Vifick Bolang made inspiring speeches about their passion for environmental awareness through trash inspired artwork before Gus Dark introduced “No Littering Propaganda”, part of TrashStock social program assisting artists and NGOs using art for educational campaigns. To do so, 13 cartoons have been printed on large banners to be placed in strategic locations by communities who would register their interest in educating their village through cartoons suggesting negative behaviours in a sarcastic, yet positive way.

Banner donated to Bibit Hijau community

The event was also the occasion of unveiling the 2018 poster design, presented by Sanjaya Adi Putra, designer at Catalyze Communications but also known as the guitarist of Pygmy Marmoset’s duo.

The essence of TrashStock would have not been fully represented without music, and two local bands of young Indonesian talents Bingkai Senja and Manja, sang their care for Bali’s ecosystem.

Manja

More information about TrashStock on Facebook & Instagram via @TrashStockBali and trashstockbali@gmail.com

 

The post Road to TrashStock Musik Artistik Plastik appeared first on BaleBengong.

Ini Lho Para Penggerak Kepedulian pada Sampah

Salah satu penggerak bank sampah di Denpasar saat presentasi di kegiatan GaraGara Sampah. Foto KPS Bali.

Berbagai komunitas peduli sampah di Bali menggelar acara bersama.

Mengusung tema GaraGaraSampah, Komunitas Peduli Sampah (KPS) Bali mengenalkan beragam inisiatif untuk mengurangi, mengelola, atau membuat produk menarik dari sampah. Salah satu cara sederhana adalah dengan membawa tas belanja.

Kegiatan GaraGara Sampah diadakan pada Sabtu, 24 Maret 2018, di Plaza Renon, Denpasar. Ada diskusi, pameran, dan pertukaran tas belanja.

Banyak alasan kenapa kegiatan ini perlu dilakukan.

Indonesia adalah negara nomor dua setelah China yang dinyatakan lautnya penuh dengan sampah plastik. Sebagai daerah tujuan pariwisata, Bali juga menjadi soroton karena citra tentang sampah di laut yang menjadi viral di media sosial sehingga dibaca dan dilihat orang seluruh dunia.

Tentu saja ini bisa menjadi ancaman dan tantangan untuk seluruh masyarakat Bali di masa depan jika tidak melakukan perubahan.

Di sisi lain, gaya hidup manusia modern penggunaan plastik terus membudaya. Hal ini dikarenakan plastik murah, ringan dan tidak mudah pecah. Dalam tiap menit, Indonesia menggunakan kantong plastik lebih 1 juta. Dalam hitungan menit pula kantong plastik sudah berada di bak sampah atau bahkan beterbangan jatuh di sungai, hingga laut.

Pada tahun 2016 pemerintah mengeluarkan kebijakan kantong plastik berbayar. Hasil evaluasi di tahun 2017 atas kebijakan ini cukup dianggap signifikan hampir 50 persen penurunan penggunaan plastik. Sayangnya, kondisi ini ternyata belum menjawab perubahan sampah yang beredar di laut atau pantai-pantai di Indonesia.

Menurut Badan Lingkungan PBB (UNEP), tiap tahunnya kota-kota di dunia menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton. Sementara Bank Dunia memperkirakan pada tahun 2025, jumlah ini bertambah hingga 2,2 milir ton.
Tata kelola sampah yang sangat yang buruk, terutama di negara-negara berkembang, menjadi salah satu pemicunya.

Sebagai contoh daur ulang sampah di Indonesia termasuk rendah, kurang dari 50 persen. Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan juga sangat rendah karena budaya membuang sampah dari generasi ke generasi terus terjadi di Indonesia.

Beberapa kejadian fatal akibat tatakelola sampah yang buruk sering terjadi di Indonesia, puncak kejadian fatal yang menimbulkan korban ratusan orang terjadi dalam tragedi longsornya sampah di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 yang silam. Tragedi ini kemudian disepakati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap tahun di Indonesia.

Antisipasi

Banyak cara untuk menangani sampah agar tidak makin menjadi masalah. Ada antisipasi pengelolaan sampah yang dikenal dengan konsep 3R atau reuse (menggunakan ulang), reduce (mengurang), dan recycle (mendaur ulang). Ada juga beberapa inisiasi dalam pengembangan konsep Bank Sampah.

Jumlah kota yang mengembangkan Bank Sampah meningkat dari 22 kota menjadi 41 kota pada tahun 2012. Jumlah unit Bank Sampah juga bertambah dari 471 menjadi 585 unit, meningkat sekitar 24 persen (Zika Zakiya. Sumber: UNEP, Kompas.com, Kementerian LH, 2015).

Salah satu konsep yang saat ini juga diperkenalkan di Indonesia yang dimotori Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) adalah konsep Circular Economy atau ekonomi memutar. Strategi produksi dan konsumsi yang menghasilkan nol sampah adalah sebuah pilihan yang bisa diterapkan di Indonesia. Agar ekonomi dapat bersiklus, pemerintah bersama semua komponen terkait yang ada perlu mengembangkan sistem edukasi, kelembagaan serta berbagai aspek kepemerintahan lainnya yang memampukan sistem ekonomi melingkar.

Pulau Bali sampai saat ini menghasilkan sampah kurang lebih 10 ribu meter kubik setiap hari. Jumlah sampah plastik adalah 11 persen dari jumlah seluruhnya. Adapun Kota Denpasar berkontribusi membuang sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung 2.700 meter kubik setiap harinya.

Sampah akan bertambah volumenya saat menjelang upacara agama Hindu, mencapai 3.000 meter kubik. Jumlah ini belum termasuk yang dibuang ke got, sungai, tepi jalan dan lahan-lahan kosong. Akibat sampah dibuang sembarangan, beberapa kota termasuk Denpasar, sering mengalami banjir ketika musim hujan tiba. Sampah menyumbat got sehingga air hujan meluap dan banjir di kawasan perumahan serta jalanan.

Di Bali, sudah banyak individu dan komunitas yang melakukan respon gara gara sampah, dan sukses mengelola sampah. Berbagai macam bentuk sesuai profesi masing-masing orang berkarya bisa jasa, musik, fotografi, lukis, bank sampah, hastakarya, teknologi dan banyak lagi.

Kegiatan Komunitas Peduli Sampah Bali di Denpasar Bali. Foto KPS Bali.

Inilah profil sebgaian dari mereka yang berbagi pengalaman dalam agenda GaraGaraSampah Sabtu ini.

Made Bayak, Seniman Ecoplastic

Seniman lukis yang prihatin terhadap persoalan sampah. Sudah lima tahun terakhir ini karya lukisnya menggunakan dengan media plastik. Banyak diundang ke mana-mana untuk pameran dan mengajarkan kepada anak-anak lokal dan internasional dengan bentuk karyanya.

Luh Riawati, Bali Wastu

Memulai jejaknya dengan jasa pengangkutan sampah bersama sang suami, kemudian bergabung di Denpasar Clean and Green (DCG) Berlians tahun 2012 membawa seorang Riawati dengan latar belakang S2 Ekonomi ini akhirnya bisa mengembangkan hampir 100 bank sampah di seluruh Bali. Bekerja sama dengan Yayasan Unilever hingga hari ini terus mendampingi kelompok PKK untuk membentuk Bank Sampah.

Yudi Mahendra, Pagan Asri/DCG Berlians

Menjadi kepala dusun membuat laki-laki yang berusia 47 tahun ini merasa dirinya harus menjadi contoh masyarakatnya dalam mengatasi masalah sampah. Sejak bergabung di DCG Berlians tahun 2012 dan akhirnya dipercaya menjadi Ketua, tidak hentinya berkreasi mengatasi masalah sampah. Mulai dari membuat karya barang bekas menjadi kerajinan yang bernilai ekonomis. Memperkaryakan orang lain sehingga memiliki penghasilan sampingan.

Febriadi Prama, Pengembang Gringgo

Jaman now kalau tidak kenal teknologi serasa sudah ketinggalan jaman. Anak-anak muda juga tidak kalah dengan yang senior, menemukan konsep penting dalam penanganan sampah. Febri dengan kawan-kawannya di Gringgo telah membaca keresahan masyarakat untuk menemukan lokasi pembuangan sampah atau penjualan sampah. Saat ini masyarakat dengan modal HP android sudah bisa mengunduh Gringgo melalui Google play/play store. Akan muncul Gringgo, disana bisa ditemukan informasi seputar sampah dan solusinya .

Made Murah, TPST 3R Kertalangu

TPST 3R Kertalangu adalah tempat pengelolaan sampah terpadu yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Denpasar. Sebagai TPST pemerintah, Made Murah staf DLHK ditugasi sebagai manajer operasional. TPST 3R ini telah berhasil memproduksi kompos dari sampah masyarakat dan saat ini telah mengembangkan jasa baru yakni menjemput sampah besar gratis. Jadi tidak ada alasan lagi masyarakat bingung membuang sampah besar.

Ketut Suarnaya, DCG Berlians

Wujud sebagai anggota DCG Berlians adalah andil dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Pengalaman membuktikan bahwa seorang Suarnaya mampu mempengaruhi kebijakan dibidang sampah di Kabupaten Klungkung. Setelah belajar di Jepang 2016 dan menangani pilot projet pengelolaan sampah di Desa Takmung dengan sukses, Suarnaya mempengaruhi Bupati agar membuat anggaran untuk penanganan sampah tingkat kabupaten.

Alhasil semua sudah terpenuhi, kabupaten Klungkung anggaran 2017 telah menggelontorkan dana 1 M untuk prasarana sampah. Setelah Klungkung, desa Kesiman Petilan Denpasar juga menjadi sasaran. Saat ini telah dipercaya sebagai pengurus BUMDES bidang pengelolaan Sampah.

Komang Sudiarta (Komang Bmo), Komunitas Malu Dong

“Malu Dong Buang Sampah Sembarangan”. Tulisan itu tidak sekadar slogan biasa, tetapi sudah menjadi jargon penggugah nurani. Dia adalah Man Bmo yang menginisiasi. Hampir delapan tahun gerakan komunitas Malu Dong mengerahkan banyak relawan muda di seluruh Bali. Saat itu Man Bmo melihat banyak masyarakat sudah kehilangan rasa malu membuang sampah sembarangan. Mengubah perilaku yang sudah mengakar tidak mudah, maka strategi yang tepat adalah mengajak anak muda peduli sampah. Aksi selain clean up, dan edukasi ke sekolah dan banjar juga ada kegiatan pameran.

Sumbangan Tas Belanja

Selain diskusi, pada kegiatan GaraGara Sampah juga ada sumbangan tas belanja.

Kegiatan ini sejalan dengan gerakan Diet Kantong Plastik yang sudah menjadi gerakan seluruh dunia. Tujuannya untuk mengurangi penggunakan plastik agar menghemat sumber daya alam dan mengurangi pencemaran.

Oleh karena itu KPS Bali jugamenggelar DONASI SHOOPING BAG. Menggunakan tas yang bisa digunakan berkali-kali dimasa depan diharapkan menjadi tren atau gaya hidup. Siapapun yang memiliki tas kain yang bisa digunakan berkali-kali bisa disumbangkan kepada orang lain bisa di kumpulkan melalui KPS Bali.

Menurut Catur Yudha Hariani dari Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali upaya pemerintah menjadi kurang maksimal karena jumlah sampah dan sumber daya tidak seimbang. “Oleh karena itu perlu kerja sinergi dari stakeholder diantaranya pemerintah, LSM, swasta, masyarakat, desa adat dan mass media untuk mengampanyekan isu sampah ini,” kata Catur yang juga penggagas kegiatan GaraGara Sampah.

Surya Anaya, Koordinator Komunitas Peduli Sampah Bali menambahkan sinergi para pegiat lingkungan dan Sampah dengan Pemerintah dan Sektor Swasta dengan dukungan masyarakat akan menyatukan kekuatan untuk mengelola sampah yang semakin lama semakin besar volumenya setiap hari. “Upaya penanganan dari hulu ke hilir dalam tata kelola sampah menjadi lebih mudah dilakukan,” katanya. [b]

The post Ini Lho Para Penggerak Kepedulian pada Sampah appeared first on BaleBengong.

Nyepi di Bali: Antara Banyaknya Sampah vs Penurunan Polusi

Proses mengarak ogoh-ogoh termasuk kegiatan yang bisa menghasilkan sampah jika tidak ditangani dengan baik. Foto Anton Muhajir.

Bali, terima kasih. Keberanianmu menyepi di era globalisasi, sangat luar biasa bagi alam ini.

Terlepas dari esensimu mengajak kami untuk melaksanakan catur brata penyepian dan mengevaluasi diri melalui tri kaya parisudha. Tak sedikit yang mengakui, udara pagi hari pasca Nyepi sangat menyenangkan, segar, bersih tanpa polusi. Belum lagi manfaat hemat listrik yang dirasakan oleh penduduk di Bali.

Saya pernah tahu, terdapat tulisan ilmiah dari seorang abdi pengetahuan bernama Anak Agung Gde Raka Dalem [1] beberapa tahun lalu. Tulisan itu menggambarkan tabel perbandingan jumlah polutan yang di produksi di beberapa wilayah di Bali setiap hari dengan ketika Bali merayakan Nyepi.

Hasilnya tentu saja mudah diduga. Hari raya nyepi yang tanpa aktivitas selama 24 jam berhasil mereduksi jumlah polutan di udara seperti SO2, CO, O3, NO2 dan NO hingga 40 persen [2]. Siapa yang tidak merayakan segarnya udara pagi hari di Ngembak Geni sehabis Nyepi? Hampir tidak ada.

Semua berbangga. Hanya penduduk Bali satu-satunya di dunia yang bisa bekerja sama untuk menciptakan suasana sedemikian rupa. Nyepi pun disebut-sebut sebagai obat ampuh dalam upaya merawat bumi yang mulai renta. Banyak pula yang berandai-andai menginginkan Nyepi agar dilakukan lebih sering lagi di lebih banyak lokasi. Apa kalian kalian memiliki pemikiran yang sama? Saya juga.

Sampai akhirnya tukar pikiran dengan seorang kawan menghasilkan pemikiran yang lain.

Nyepi tahun ini, saya habiskan di rumah bersama dengan dua orang kawan, yang sama-sama perantauan dari desa. Kami memutuskan tidak bersama keluarga dengan alasan berbeda-beda. Kami menikmati semua kesederhanaan dan indahnya tapa brata penyepian. Hingga pagi harinya kami merayakan Ngembak Geni dengan mengunjungi pantai terdekat dan bermaksud untuk olahraga.

Pantai sudah ramai sekali meskipun saat itu masih sangat pagi. Banyak pemuda dan pemudi desa bersiap untuk memusnahkan ogoh-ogoh representasi dari asurisampad. Lalu, apa yang mengubah pikiran saya terkait duplikasi Nyepi di berbagai lokasi?

Sampah.

Kita boleh saja bangga, senang, bahagia saat menghirup segarnya udara bersih sehabis Nyepi di pagi hari. Tapi, jika kita lebih jeli memperhatikan sekeliling. Indra penciuman kita akan malu akan kemampuan indra penglihatan kita di sepanjang jalan-jalan. Banyak sekali sampah bertebaran. Terutama di lajur pengarakan ogoh-ogoh sebagai aktifitas bhuta yadnya hingga ke pusat kota.

Dapat dipastikan sampah plastik mineral berbentuk gelas dan botol ada dimana-mana. Waaah! Hilang sudah rasa bangga. Rasa malu mulai menyergap.

Jika dipikir dengan logika, benar saja. Kita bisa lihat gejala peningkatan konsumerisme dalam menyambut hari raya ini. Kita berbondong-bondong berbelanja, yang dari desa bahkan berbelanja hingga ke kota. Dan yang berdomisili di kota, tak lupa membeli bekal untuk di bawa ke desa. Swalayan-swalayan, supermarket, minimarket hingga gerai waralaba ramai tak terkira. Antrean menuju kasir panjang luar biasa.

Dan bisa dibayangkan, hampir semua jajanan dan bahan-bahan masakan yang terbeli dibungkus plastik! Sayangnya lagi, Negara kita ini masih minim mengenai tata kelola sampah yang baik. Terlebih lagi, sampah plastik. Kebanyakan sih, seperti yang sudah-sudah selama ini, dibuangnya ke aliran sungai hingga bermuara ke laut Bali yang kita banggakan keindahannya selama ini.

Mungkin kawan-kawan juga sudah melihat atau hanya sekadar mendengar. Nama Bali baru saja tercemar akibat sebuah video viral seorang penyelam berkebangsaan Inggris bernama Rich Horner. Dalam videonya, Rich Horner memperlihatkan ia sedang menyelam di perairan Nusa Penida, tepatnya di Manta Point. Bukannya keindahan alam bawah laut Bali yang tertangkap kamera, melainkan gumulan sampah plastik di mana-mana. [3] Menyedihkan.

Pengakuan mengenai pelonjakan volume sampah mendekati hari raya juga dilontarkan oleh Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Denpasar, I Ketut Wisada. Dalam wawancaranya, Wisada menyampaikan bahwa saat hari normal, volume sampah hanya mencapai 2.700 meter kubik per hari dengan rata-rata setiap orang per harinya menghasilkan sampah 1,4 kilogram. Namun, menjelang hari raya, terjadi kenaikan produksi sampah hingga 60% – 70%. Itu hanya perhitungan sampah individual, belum termasuk dengan sampah kelompok, yakni sampah yang diproduksi selama melasti dan bhuta yadnya.

Perhitungan itu pun masih terdata dalam satu kota, belum wilayah lainnya. Hanya sebatas kuantitatif sampah plastik, belum lagi sampah organik. I Ketut Wisada menambahkan, fenomena tersebut biasa dikenal dengan istilah peningkatan sampah luar biasa, terjadi menjelang hari-hari besar seperti hari raya. [4]

Mengingat semua itu, masih pantaskah kita menyebut Bali berkontribusi dalam penyelamatan bumi di Hari Raya Nyepi? Sementara di saat yang bersamaan, justru Nyepi memproduksi sampah plastik yang luar biasa lebih banyak lagi. Jika hal seperti ini bisa dirumuskan dalam formulasi matematika sederhana, yang bahkan anak di bangku sekolah dasarpun bisa mengerjakannya.

Nyepi di Bali adalah NOL.

Mengapa? Angka +1 (plus satu) diberikan untuk penurunan polusi, dan harap kita mawas diri menerima angka -1 (minus satu) untuk peningkatan volume sampah, terlebih yang plastik. Belum lagi fakta bahwa kedua hal tersebut terjadi hanya satu hari, di hari raya Nyepi yang selama ini kita agungkan segala berkah dan amanahnya.

Ditambah, kekurangan kita dalam manajemen pengolahan sampah hingga saat ini. Yang tak ayal lagi, justru membuat daftar kekurangan lebih panjang dari kelebihan yang dimiliki.

Semoga, Nyepi kali ini benar-benar menjadi media intropeksi diri. Sejatinya apapun yang terjadi di dunia ini tetap membuat kita tetap memiliki sifat Abhyasa. Abhyasa yang artinya untuk perbuatan baik lakukanlah dan biasakanlah hal itu setiap hari, tidak perlu menunggu Nyepi. Minimalisir penggunaan plastik, hematlah terhadap air dan listrik, dan mulai bertanggung jawab terhadap kelestarian bumi.

Setidaknya, dimulai dari membuang sampah tidak sembarangan. Bukannya sejak kecil kita diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya? Mengapa justru ketika kita dewasa, kita malah memberi kesempatan pada ego untuk merasakan menang walaupun hanya sementara? Toh, apapun dampaknya terhadap bumi ini, kita juga yang merasakannya.

Selain itu, semoga di kesempatan Nyepi kali ini kita menjadi lebih mawas diri dan mencapai sifat Sthitaprajña. Memulai hidup berkeseimbangan lahir dan batin, tidak terlalu bergembira bila apabila melakukan kebaikan dan mendapat keberuntungan, serta tidak putus asa bila menghadapi kemalangan atau kedukaan.

Selamat hari Raya Nyepi, tahun baru Caka 1940. [b]

 

Referensi

[1] A. Raka Dalam, Kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan hidup, Denpasar: UPT Universitas Udayana, 2007.
[2] N. L. R. Tirtawati, “Makna Hari Raya Nyepi Bagi Lingkungan,” Lingkungan, pp. 1-5, 10 June 2016.
[3] 60detiknews, “Laut Nusa Penida Bali Penuh Sampah Plastik,” Sumber berita terkini dan terpercaya, pp. 1-2, 8 Maret 2018.
[4] D. K. d. P. K. Denpasar, “Laporan Volume Sampah Kota Denpasar,” Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Denpasar, Denpasar, 2015.

 

The post Nyepi di Bali: Antara Banyaknya Sampah vs Penurunan Polusi appeared first on BaleBengong.

Menyoal Sampah dan Galian Tanah di Lahan ‘Basah’

Terkadang saya suka merasa kasihan dengan para pemilik lahan kosong yang kebetulan bersebelahan dengan lahan terbangun di lingkungan Kecamatan Kuta Utara. Mengapa demikian ? Sekedar informasi, kawasan Kecamatan Kuta Utara saat ini merupakan lahan basah yang bisa dikatakan sangat diminati oleh para wisatawan maupun investor untuk menanamkan modal mereka dalam bentuk villa maupun apartemen, lantaran [...]