Tag Archives: Pendidikan

Active Citizens: Menjadi Warga Aktif dan Berdaya

Para peserta pelatihan Active Citizens di Bali, Maret lalu. Foto oleh Feri Latief.

Masalah sosial bukan hanya urusan pemerintah, tapi tugas seluruh elemen masyarakat.

Setidaknya hal inilah yang menjadi titik balik dari program Active Citizens, ketika masyarakat seharusnya turut aktif dalam proses pembangunan. British Council memperkenalkan program Active Citizens dengan melatih sekumpulan individu yang berasal dari berbagai negara di dunia.

Mereka yang mengikuti pelatihan nanti akan terjun ke masyarakat dan melaksanakan metode Active Citizens sebagai salah satu metode pencarian solusi bagi masyarakat.

Emma Yunita, selaku manajer program British Council menyebutkan bahwa peserta yang diundang adalah kelompok-kelompok yang telah memulai aksi dan terlibat dengan masyarakat. Program pelatihan ini bertujuan agar para peserta dapat menggunakan metode Active Citizens di komunitasnya masing-masing.

“Program Active Citizens tidak hanya untuk memberdayakan masyarakat, tetapi menjalin hubungan yang baik dengan partner,” jelas Emma Yunita.

Di Indonesia, program ini diperkenalkan pada Maret lalu. Sekitar 30 peserta dari lembaga swadaya masyarakat, universitas, institusi pemerintah dan wirausaha sosial ikut berlatih menjadi fasilitator Active Citizens di Mercure Nusa Dua, Bali. Tak hanya dari Indonesia, beberapa peserta berasal dari Fiji, Samoa dan Vietnam.

BaleBengong terpilih menjadi salah satu peserta dari Bali yang mengikuti pelatihan tersebut.

Program pelatihan fasilitator ini dipandu oleh para fasilitator berpengalaman dari berbagai negara, Charo Lanao Madden (UK), Karl Belizaire (UK), Sivendra Michael (New Zealand), Jimmy Febriyadi (Indonesia) dan Marge Defensor (Filipina).

Pelatihan ini sangat menyenangkan karena banyak permainan. Tidak ada meja, tapi hanya kursi yang ditata melingkar. Bahkan, tak ada kesempatan menggunakan laptop maupun ponsel. Meskipun padat, pelatihan dilaksanakan secara interaktif selama lima hari.

Program diawali dengan perkenalan dengan masing-masing peserta dan fasilitator. Perkenalannya pun tidak hanya menyebutkan nama dan asal lembaga saja, melainkan menyebutkan nama dan arti di balik nama tersebut. Inilah pengantar modul pertama, yaitu mengenal diri sendiri, identitas dan budaya.

Setelah pengenalan diri, selanjutnya peserta berlatih kemampuan komunikasi, identifikasi tantangan dalam masyarakat dan perencanaan aksi untuk perubahan sosial. Pelatihan tidak hanya dilakukan dalam kelas yang besar.

Demi pelatihan lebih intensif, para peserta juga dibagi menjadi kelompok kecil untuk melakukan uji coba menjadi fasilitator dalam sesi Home Teams.

Berlatih menjadi fasilitator Active Citizens dalam ‘Home Teams’. Foto oleh Feri Latief.

Para peserta ternyata bukan hanya pemula. Mereka datang dari tingkat pengalaman yang berbeda dalam hal ketrampilan fasilitasi. Ada yang baru belajar hingga telah berpengalaman puluhan tahun. Namun, kesenjangan pengalaman ini juga tidak membuat para peserta membentuk kelompok-kelompok tertentu. Semuanya dapat berbaur dan saling berbagi pengalaman masing-masing.

Senele Tualaulelei, seorang pelatihan bisnis dari Samoa telah berpengalaman menjadi pelatih selama lebih dari 10 tahun. Senele mengaku pelatihan ini sangat berguna baginya untuk mengembangkan pelatihan bisnisnya di negara asal.

“Saya merasa senang dapat mengikuti pelatihan Active Citizens ini dan akan menerapkannya di negara saya,” ungkap Senele.

Pembelajaran penting selama pelatihan bahwa sebuah perubahan sosial tidak hanya dilakukan para pemimpin besar, namun dimulai dari hal terkecil. Konsep Active Citizens mengedepankan pemberdayaan komunitas untuk lebih mandiri dalam memecahkan masalah di lingkungannya.

Salah satu sesi dalam program Active Citizens. Foto oleh Feri Latief.

Tentu, partisipasi berbagai lembaga dan pemegang kebijakan juga perlu ambil bagian. Active Citizens dapat menjadi metode yang menarik untuk melakukan perubahan sosial untuk dunia yang lebih baik. [b]

The post Active Citizens: Menjadi Warga Aktif dan Berdaya appeared first on BaleBengong.

#BreakTheSilence Seminar untuk Menggunakan Suara dengan Bijak

Anton Muhajir, salah satu narasumber, sedang membagikan pengalamannya bermedia sosial. Foto: Dokumentasi Panitia.

Pernah dengar Facebook Global Digital Challenge (FGDC)? 

Inilah salah satu program kampanye platform media sosial terbesar abad ini, Facebook. Platform jejaring sosial ini mengajak mahasiswa di seluruh dunia untuk menunjukkan kepada masyarakat.

Bahwa media sosial dapat menjadi wadah positif yang memberikan banyak keuntungan jika dipergunakan dengan bijak.

Salah satu kampus di Indonesia yang terpilih untuk ikut pada program kerja sama dengan EdVenture Partners ini adalah Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar. Lima mahasiswa Undiknas yang berhasil lolos seleksi pada tahap pendaftaran peserta adalah; Sean Conti dari Jurusan Manajemen, Deviyanti Putri dan Upayana Wiguna dari Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ada Pipin Carolina dari Jurusan Ilmu Hukum, Fakultas Hukum dan  Maria Pankratia dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Kegiatan ini dimulai dengan tahap seleksi sejak Januari 2017 dan akan berakhir pada pengumpulan laporan kegiatan pada Juni 2017. Para Peserta wajib mengirimkan esai yang menjelaskan motivasi mereka untuk terlibat dalam kegiatan ini.

Kelimanya terpilih setelah melewati proses seleksi cukup ketat dari pihak EdVenture Partners. Pada Februari 2017, tim ini pun mulai bekerja. Bersama dengan Luh Putu Mahyuni, Ph. D., CA, selaku Direktur Akademi dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Ida Nyoman Basmantra, MPD selaku Manager Team yang juga Koordinator Divisi Kelas Internasional, Undiknas Denpasar, tim ini membahas mengenai tema besar apa yang sebaiknya diangkat dalam kampanye ini.

Melihat situasi Bangsa dan Negara Indonesia yang mulai diserang berbagai macam isu radikalisme, pada akhirnya sebuah gagasan tentang #BreakTheSilence muncul. Sebuah kampanye yang menyasar para silence majority, orang-orang yang selama ini memiliki cukup wawasan dan memahami situasi namun lebih memilih diam.

Seperti ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa, “Dalam situasi perang, ketika kamu tidak memihak siapa pun, kamu sebenarnya sedang mendukung pihak yang berkuasa.” Kampanye ini berusaha mengajak lebih banyak orang untuk peduli dan menentukan sikap sehingga tidak semakin banyak orang-orang picik yang mengambil kesempatan ini untuk menghancurkan segala sesuatu yang sudah susah payah dibangun oleh para pendahulu.

Menindaklanjuti ide ini, beberapa konsep kegiatan dirancang. Antara lain kunjungan ke panti asuhan, kompetisi foto dan video bercerita, pembuatan video testimoni dan social experiment serta produksi film.

Ada juga Seminar bertajuk “Pluralisme Dalam Hubungannya dengan Media Sosial.” Seminar ini diadakan pada 29 Mei 2017, diikuti 250 Mahasiswa/I Undiknas Denpasar serta melibatkan 30 orang Panitia yang bekerja sama mensukeskan kegiatan.

Seminar #BreakTheSilence membahas tentang Bagaimana memaknai Keberagaman dan menyuarakannya secara bijak melalui Media Sosial yang ada sehingga memberikan dampak baik yang besar bagi seluruh masyarakat dunia.”

Hadir selaku Pembicara, ada Dea Rangga, Selebgram; Yoga Arsana dan Sugi Suwartana, pasangan Youtubers; dan Anton Muhajir, Editor, Jurnalis dan Blogger. Kepada para peserta yang hadir, keempat narasumber dan Tim Facebook Global Digital Challenge saling berbagi pengalaman dan anjuran tentang penggunaan media sosial di tengah arus informasi yang berlebihan seperti sekarang ini.

Melalui Seminar ini, diharapkan makin banyak mahasiswa yang disadarkan untuk menggunakan internet serta media sosial dengan bijak, juga tidak alpa untuk meneruskan pesan baik ini kepada orang-orang yang mereka temui di lingkungan sekitar mereka.

Saatnya bersikap, peduli dan menggunakan suaramu dengan bijak! Lebih lengkap tentang Kampanye #BreakTheSilence Team, Undiknas Denpasar, bisa dilihat di:

Facebook Page: Break The Silence
Instagram: @undiknasfgdc_
Twitter: @BreakUrSilence
Channel Youtube: Undiknas FGDC

Jangan lupa untuk Follow dan Subscribe akun-akun di atas. Terima Kasih. Salam Bhineka Tunggal Ika. Break The Silence by Breaking Your Silence!

The post #BreakTheSilence Seminar untuk Menggunakan Suara dengan Bijak appeared first on BaleBengong.

Kabzeel Rehuel raih UN nilai tertinggi Se-Bali.

kabarportal.com – Kabzeel Rehuel yang akrab disapa Kabzeel tersebut memantabkan diri dengan pelolehan nilai Ujian Nasioanl (UN) tertinggi se-Bali dari jurusan Bahasa. Siswi yang menempuh pendidikan di Sekolah Negeri (SMA N) Seririt tersebut sempat tidak percaya jika dirinya telah meraih Read More ...

Preslisst 8 Diakhiri dengan Banjir Apresiasi

Bedah buku di Presslist 8 Madyapadma SMA 3 Denpasar. Foto Madyapadma.

Hari ini Apresiasi Sineas dan Jurnalis (Presslist) 8 berakhir.

Ajang apresiasi karya jurnalistik oleh tim jurnalistik SMA 3 Denpasar, Madyapadma, bagi anak muda itu pun mendapatkan banyak apresiasi, termasuk dari Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra.

Walaupun tak hadir karena urusan yang tidak dapat diwakilkan, Rai Mantra tetap memberikan apresiasi terhadap Madyapadma Journalistic Park melalui pesan suara dan ditampilkan dihadapan para tamu dan peserta lomba.

“Saya bangga dengan Madyapadma SMAN 3 Denpasar karena mampu berkarya sebesar ini. Saya juga berharap agar tidak berhenti sampai di sini saja. Sukses terus untuk Madyapadma. Semangat dan salam kreatif,” ucap beliau pada pesan suara tersebut.

Apresiasi itu bukan tanpa sebab. Sebanyak 439 orang dari empat provinsi (Bali, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Tengah) yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Indonesia, ikut serta dalam rangkaian acara Presslist 8.

Hal tersebut lekas mengundang tepuk tangan seluruh undangan dan peserta lomba yang hadir di penutupan Presslist 8. Tak hanya itu, banyak pihak yang juga mengapresiasi kegiatan tahunan Madyapadma ini.

“Anak-anak Madyapadma, kalian ‘gila’. Meskipun sebenarnya ada sedikit kegetiran. Tetap semangat untuk kalian keseribu kalinya,” ungkap I Gede Ari Martana, guru pembina salah satu peserta lomba dari SMP Saraswati 1 Denpasar melalui pesan singkat.

Dalam sambutannya, I Wayan Bagus Perana Sanjaya selaku Ketua Presslist 8 sangat mengharapkan agar Presslist tahun berikutnya dapat lebih sukses dari ini.

Pada penyelenggaraan Presslist hari kedua, diadakan acara Bedah Buku dengan mengundang Desak Putu Diah Dharmapatni sebagai pembicara. Adapun buku yang dibedah adalah buku terbitan Madyapadma, “Bali Punya Nilai” yang ditulis oleh I Wayan Bagus Perana Sanjaya.

“Acaranya ini bagus, apalagi untuk orang-orang yang mau nulis, jadi tau gimana cara buat buku yang bener, banyak hal baru yang didapat disini,” ucap Chandra Rika Kartika (16), salah seorang peserta bedah buku.

Selain itu, juga diadakan pengumuman pemenang Lomba Koran Dinding (Kording) tingkat SMP se-Indonesia serta Pelatihan dan Lomba Karikatur tingkat SMP/SMA-SMK se-Bali, yang menghadirkan Jango Paramartha, kartunis ternama dari Bog-Bog Magazine.

“Hasil karikatur dari para peserta belum sesuai harapan saya, paling baru 65 persen. Ya saya harap agar peserta lebih banyak membaca dan melihat karikatur sang juara sehingga dapat menambah wawasan mereka mengenai karikatur,” tutur Jango.

Adapun Juara 1 Lomba Karikatur diraih oleh I Made Adi Wirya Darma (SMPN 10 Denpasar). Joshella Zacharias (SMA Tunas Daud) dan Komang Lanang Rama S. (SMPN 7 Denpasar) meraih juara 2 (dua) dan 3 (tiga).

Sementara itu, Pegansha Post (SMP Saraswati 1 Denpasar) keluar sebagai jawara Lomba Kording SMP. Disusul oleh Kreator (SMP Tunas Daud) dan Gatra Sisya (SMPN 9 Denpasar) menduduki posisi ke-2 (dua) dan 3 (tiga).

Ada juga pengumuman Lomba Majalah tingkat SMP se-Indonesia dan Lomba Fotografi tingkat SMP/SMA-SMK se-Bali di akhir acara. Majalah Genitri (SMPN 9 Denpasar) ‘merajai’ lomba Majalah, tahun ini. Disusul juara 2 (dua) dan 3 (tiga) diraih oleh majalah Gana Spenuda (SMP Nusa Dua) dan majalah Wagiswari (SMPN 10 Denpasar).

Adapun jawara Lomba Fotografi diraih oleh Ade Gita Ahimsa (SMP Dwijendra). Sementara I Kadek Wahyu Maharta (SMAN 8 Denpasar) dan Angelica Audrey Maharani (SMA Tunas Daud), masing-masing berhasil menjadi juara 2 (dua) dan 3 (tiga).

Sesuai dengan tema “Beda Warna, Satu Jiwa Indonesia”, Presslist 8 akhirnya ditutup secara resmi setelah seluruh undangan, peserta, dan panitia menyanyikan lagu “Kemesraan” dengan saling berpegangan tangan, sambil menyatakan pesan persatuan.

Mulai saat ini, tepat di Presslist 8. Kita kembali pada persatuan kita. [b]

The post Preslisst 8 Diakhiri dengan Banjir Apresiasi appeared first on BaleBengong.

Petisi Pelajar: Reformasi Pendidikan Indonesia

Pembacaan petisi Reformasi Pendidikan oleh siswa SMA 3 Denpasar. Foto Madyapadma.

Pelajar di Denpasar menyampaikan lima tuntutan. Apa saja itu?

Apresiasi Sineas dan Jurnalis (PRESSLIST), agenda tahunan Madyapadma Journalistic Park SMA 3 Denpasar, diadakan untuk ke delapan kalinya. Beragam kegiatan digelar, seperti lomba kording dan petisi.

Dengan menghadirkan konsep “siaran televisi”, acara ini resmi dibuka setelah diputar video opening Presslist 8 pada Jumat kemarin di SMAN 3 Denpasar.

Presslist 8 kali ini memakai konsep “siaran televisi” berkaitan dengan peluncuran Konvergensi Media yang dilakukan seluruh media di bawah naungan Madyapadma Journalistic Park. Di antaranya bidang media cetak (MP News), media online (www.madyapadma-online.com), media film dan televisi (MPTV Online), bidang penyiaran radio (Radio Online Voice of Trisma), serta media feature radio (Kantor Berita Radio Feature).

Seluruh bidang tersebut akan berintegrasi untuk mengulas secara mendalam sebuah fenomena. “Ini dilakukan untuk memudahkan masyarakat mengakses berita melalui banyak media kita,” tutur Vira Niyatasya Shiva Duarsa (16), Pemimpin Umum Madyapadma Journalistic Park.

Tak hanya itu, Madyapadma juga menyelenggarakan deklarasi petisi bertajuk “Reformasi Pendidikan Indonesia: Pendidikan yang Membebaskan Menuju Manusia Merdeka!”. Mengenai latar belakang terselenggaranya petisi, Galuh Sri Wedari (16), Koordinator Bidang Petisi mengungkapkan, “tidak ada yang tahu, bahwa selama ini siswa itu resah akan sistem pendidikannya sendiri.” Petisi ini dijalankan melalui website https://www.change.org.

Diluncurkan pula 17 (tujuh belas) buku karya tim Madyapadma, diantaranya “Bali Punya Nilai”, “Indonesia Tanah Apiku”, “Tombak Tumpul Pendidikan Indonesia”, “Kumpulan Foto Jurnalistik, Human Interest dan Essay Foto: Potret Bali Kini”, “Mencari Sekolah Manusia”, “Jejak Bahari Orang Bali”, “Research Series: Madyapadma Goes to International”, dan sebagainya. Bahkan buku “Research Series: Madyapadma Goes to International” merupakan buku terbitan Madyapadma pertama yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Ada juga peluncuran Album Kompilasi Berita Radio Features Volume 2 bertajuk “17”, yang di dalamnya terdapat 17 berita radio feature hasil karya tim Madyapadma. Dan pameran buku bertajuk “Madyapadma Bookfair” yang mengundang berbagai penerbit buku se-Bali. Madyapadma juga menghidupkan kembali website Madyapadma Digital Library (Digilib) yang akan menampilkan buku-buku dan jurnal penelitian karya tim Madyapadma secara elektronik.

Ketut Suyastra (56), Kepala Sekolah SMAN 3 Denpasar mengatakan bahwa acara ini patut dibanggakan, “Saya ingin acara ini terus dilakukan setiap tahunnya mengingat membludaknya peserta dan dampak positif yang didapat dari acara ini,” ungkapnya.

Apresiasi berdatangan tidak hanya dari Suyastra semata. Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra mengungkapkan di balik terselenggaranya Presslist 8, terdapat proses pembelajaran yang sangat berharga.

“Percayalah, kelak semua proses yang kalian lewati dapat menjadi berkah ke depannya. Terus berkreativitas hingga akhir hayat,” ujarnya melalui pesan singkat saat acara berlangsung.

Peserta lomba kording SMA 3 Denpasar mewawancarai narasumber. Foto Madyapadma.

Pada hari pertama Presslist 8 telah diselenggarakan pengumuman Anugerah Blog/Web Madyapadma tingkat Pelajar/Mahasiswa/Umum se-Bali dan Lomba Resensi Buku tingkat SMP, SMA/SMK, dan Mahasiswa se-Bali.

Putu Gede Semara Pura (SMAN 1 Denpasar) meraih gelar Most Educative Blog  dan I Made Wisnu Adi Wiryawan (SMK Rekayasa Denpasar) meraih gelar Most Helpful Blog.

Sementara itu, Putu Ayu Mandalay (SMPN 9 Denpasar) meraih gelar Resensi Terbaik tingkat SMP dengan judul resensi “Perhatian Pada Tanah Bali Lewat Teluk Benoa”. Resensi Terbaik tingkat SMA/SMK diraih oleh Felisia Putri Natalie (SMA CHIS Denpasar) dengan judul “Teluk Benua, di Antara Modernisasi dan Kontroversi”, dan Resensi Terbaik tingkat Mahasiswa diraih oleh Ni Putu Sri Utami Dewi (Politeknik Negeri Bali) dengan judul “Menentang Reklamasi Lewat Riset dan Ekspedisi”.

Kemarin juga diadakan Lomba Koran Dinding (Kording) tingkat SMA/SMK se-Bali. Peserta membuat Kording secara on the spot dengan durasi waktu 6 (enam) jam di SMAN 3 Denpasar.

Berikut adalah materi petisi “Reformasi Pendidikan Indonesia:

Pendidikan yang Membebaskan Menuju Manusia Merdeka!”

Dunia pendidikan Indonesia carut marut. Sehari-hari di sekolah mayoritas siswa menyontek. Bagi siswa menyontek adalah hal yang lumrah. Guru pun sebagian seolah melakukan pembiaran jika menyontek. Bahkan saat ujian yang pengawasannya dilakukan lintas sekolah, seolah ada kesepakatan antar pengawasan juga melakukan pembiaran.

Di sisi lain kebijakan Dinas Pendidikan di masing-masing daerah mentarget sekolah dengan nilai tinggi. Jadilah sekolah berlomba menaikan atau mengkatrol nilai siswa. Jadinya nilai-nilai yang ada di raport ataupun ijasah tidak menjamin kemampuan siswa seperti nilai yang tercantum. Kurikulum pun ikut carut marut. Materi sangat padat dan menjadi beban siswa. Ada juga sertifikasi guru, tujuannya baik tetapi nyatanya berbeda. Sertifikasi tidak menjamin kualitas guru sebagai PENDIDIK.

Beragam kebijakan dikeluarkan pemerintah pusat maupun daerah, nyatanya kebijakan reaktif. Misalnya soal Ujian Nasional yang arahnya menyimpang dari UU Sistem Pendidikan Nasional itu sendiri. Dan banyak lagi kebijakan pemerintah yang tidak menyelesaikan masalah utama pendidikan Indonesia. Selama ini kebijakan Pendidikan Indonesia semakin menjauh dari amanat pembukaan UUD 1945: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa!

Padahal, hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Dimana pendidikan adalah untuk membantu manusia muda untuk mencapai kedewasaan atau menemukan jati dirinya yang berlangsung seumur hidup. Maka, pendidikan bukanlah hanya sebatas doktrin semata, bukan hanya mencakup semua yang mungkin diketahui dari aneka materi yang diajarkan, sebab dalam pendidikan tak hanya mengenal soal cipta, namun juga rasa dan karsa (kognitif, afektif, psikomotorik) yang kelak berguna bagi tumbuh kembang menuju MANUSIA SEUTUHNYA. Bahkan bapak pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, mengajarkan bahwa setiap anak memiliki tumbuh dan perkembangan kodratnya sendiri, dan pendidikan hanyalah berfungsi untuk merawat dan menuntun sesuai dengan kodratnya. Yang diutamakan adalah kompetensi siswa, bukan hanya nilai semata!

Berdasar dari kenyataan tersebut, menyimpulkan bahwa penerapan dan hakikat pendidikan kita masih ada kesenjangan. Maka dari itu, kami menuntut kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Muhadjir Effendy serta Pemerintah di daerah masing-masing (Gubernur, Bupati/Walikota) untuk membenahi pendidikan. Kelima tuntutan kami selaku siswa dan masyarakat yang peduli pendidikan adalah:

1. Kembalikan sistem pendidikan Indonesia pada hakikat pendidikan yang mencerdaskan dan memanusiakan manusia.

2. Mendesak pemerintah agar menerapkan kurikulum pendidikan Indonesia yang berorientasi pada proses pembelajaran dengan pendekatan prinsip menemukan dan mengembangkan keberagaman potensi siswa.

3. Mendorong kemerdekaan dan kebebasan guru dalam MENDIDIK siswa sesuai hakikat pendidikan yang mencerdaskan dan memanusiakan manusia.

4. Hapus Ujian Nasional (UN) dan kembalikan evaluasi pendidikan siswa kepada guru dan sekolah sesuai amanat hakikat pendidikan dan UU RI NO. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional serta pisahkan evaluasi pendidikan siswa dengan pemetaan pendidikan yang dilakukan pemerintah.

5. Pengalokasian dana pendidikan sebesar 20% dari APBN sesuai amanat Amandemen UUD 1945 dan 20% dari APBD sesuai UU RI NO. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional digunakan secara murni dan konsekuen untuk dunia pendidikan yang sesungguhnya. [b]

The post Petisi Pelajar: Reformasi Pendidikan Indonesia appeared first on BaleBengong.