Tag Archives: Pendidikan

Preslisst 8 Diakhiri dengan Banjir Apresiasi

Bedah buku di Presslist 8 Madyapadma SMA 3 Denpasar. Foto Madyapadma.

Hari ini Apresiasi Sineas dan Jurnalis (Presslist) 8 berakhir.

Ajang apresiasi karya jurnalistik oleh tim jurnalistik SMA 3 Denpasar, Madyapadma, bagi anak muda itu pun mendapatkan banyak apresiasi, termasuk dari Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra.

Walaupun tak hadir karena urusan yang tidak dapat diwakilkan, Rai Mantra tetap memberikan apresiasi terhadap Madyapadma Journalistic Park melalui pesan suara dan ditampilkan dihadapan para tamu dan peserta lomba.

“Saya bangga dengan Madyapadma SMAN 3 Denpasar karena mampu berkarya sebesar ini. Saya juga berharap agar tidak berhenti sampai di sini saja. Sukses terus untuk Madyapadma. Semangat dan salam kreatif,” ucap beliau pada pesan suara tersebut.

Apresiasi itu bukan tanpa sebab. Sebanyak 439 orang dari empat provinsi (Bali, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Tengah) yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Indonesia, ikut serta dalam rangkaian acara Presslist 8.

Hal tersebut lekas mengundang tepuk tangan seluruh undangan dan peserta lomba yang hadir di penutupan Presslist 8. Tak hanya itu, banyak pihak yang juga mengapresiasi kegiatan tahunan Madyapadma ini.

“Anak-anak Madyapadma, kalian ‘gila’. Meskipun sebenarnya ada sedikit kegetiran. Tetap semangat untuk kalian keseribu kalinya,” ungkap I Gede Ari Martana, guru pembina salah satu peserta lomba dari SMP Saraswati 1 Denpasar melalui pesan singkat.

Dalam sambutannya, I Wayan Bagus Perana Sanjaya selaku Ketua Presslist 8 sangat mengharapkan agar Presslist tahun berikutnya dapat lebih sukses dari ini.

Pada penyelenggaraan Presslist hari kedua, diadakan acara Bedah Buku dengan mengundang Desak Putu Diah Dharmapatni sebagai pembicara. Adapun buku yang dibedah adalah buku terbitan Madyapadma, “Bali Punya Nilai” yang ditulis oleh I Wayan Bagus Perana Sanjaya.

“Acaranya ini bagus, apalagi untuk orang-orang yang mau nulis, jadi tau gimana cara buat buku yang bener, banyak hal baru yang didapat disini,” ucap Chandra Rika Kartika (16), salah seorang peserta bedah buku.

Selain itu, juga diadakan pengumuman pemenang Lomba Koran Dinding (Kording) tingkat SMP se-Indonesia serta Pelatihan dan Lomba Karikatur tingkat SMP/SMA-SMK se-Bali, yang menghadirkan Jango Paramartha, kartunis ternama dari Bog-Bog Magazine.

“Hasil karikatur dari para peserta belum sesuai harapan saya, paling baru 65 persen. Ya saya harap agar peserta lebih banyak membaca dan melihat karikatur sang juara sehingga dapat menambah wawasan mereka mengenai karikatur,” tutur Jango.

Adapun Juara 1 Lomba Karikatur diraih oleh I Made Adi Wirya Darma (SMPN 10 Denpasar). Joshella Zacharias (SMA Tunas Daud) dan Komang Lanang Rama S. (SMPN 7 Denpasar) meraih juara 2 (dua) dan 3 (tiga).

Sementara itu, Pegansha Post (SMP Saraswati 1 Denpasar) keluar sebagai jawara Lomba Kording SMP. Disusul oleh Kreator (SMP Tunas Daud) dan Gatra Sisya (SMPN 9 Denpasar) menduduki posisi ke-2 (dua) dan 3 (tiga).

Ada juga pengumuman Lomba Majalah tingkat SMP se-Indonesia dan Lomba Fotografi tingkat SMP/SMA-SMK se-Bali di akhir acara. Majalah Genitri (SMPN 9 Denpasar) ‘merajai’ lomba Majalah, tahun ini. Disusul juara 2 (dua) dan 3 (tiga) diraih oleh majalah Gana Spenuda (SMP Nusa Dua) dan majalah Wagiswari (SMPN 10 Denpasar).

Adapun jawara Lomba Fotografi diraih oleh Ade Gita Ahimsa (SMP Dwijendra). Sementara I Kadek Wahyu Maharta (SMAN 8 Denpasar) dan Angelica Audrey Maharani (SMA Tunas Daud), masing-masing berhasil menjadi juara 2 (dua) dan 3 (tiga).

Sesuai dengan tema “Beda Warna, Satu Jiwa Indonesia”, Presslist 8 akhirnya ditutup secara resmi setelah seluruh undangan, peserta, dan panitia menyanyikan lagu “Kemesraan” dengan saling berpegangan tangan, sambil menyatakan pesan persatuan.

Mulai saat ini, tepat di Presslist 8. Kita kembali pada persatuan kita. [b]

The post Preslisst 8 Diakhiri dengan Banjir Apresiasi appeared first on BaleBengong.

Petisi Pelajar: Reformasi Pendidikan Indonesia

Pembacaan petisi Reformasi Pendidikan oleh siswa SMA 3 Denpasar. Foto Madyapadma.

Pelajar di Denpasar menyampaikan lima tuntutan. Apa saja itu?

Apresiasi Sineas dan Jurnalis (PRESSLIST), agenda tahunan Madyapadma Journalistic Park SMA 3 Denpasar, diadakan untuk ke delapan kalinya. Beragam kegiatan digelar, seperti lomba kording dan petisi.

Dengan menghadirkan konsep “siaran televisi”, acara ini resmi dibuka setelah diputar video opening Presslist 8 pada Jumat kemarin di SMAN 3 Denpasar.

Presslist 8 kali ini memakai konsep “siaran televisi” berkaitan dengan peluncuran Konvergensi Media yang dilakukan seluruh media di bawah naungan Madyapadma Journalistic Park. Di antaranya bidang media cetak (MP News), media online (www.madyapadma-online.com), media film dan televisi (MPTV Online), bidang penyiaran radio (Radio Online Voice of Trisma), serta media feature radio (Kantor Berita Radio Feature).

Seluruh bidang tersebut akan berintegrasi untuk mengulas secara mendalam sebuah fenomena. “Ini dilakukan untuk memudahkan masyarakat mengakses berita melalui banyak media kita,” tutur Vira Niyatasya Shiva Duarsa (16), Pemimpin Umum Madyapadma Journalistic Park.

Tak hanya itu, Madyapadma juga menyelenggarakan deklarasi petisi bertajuk “Reformasi Pendidikan Indonesia: Pendidikan yang Membebaskan Menuju Manusia Merdeka!”. Mengenai latar belakang terselenggaranya petisi, Galuh Sri Wedari (16), Koordinator Bidang Petisi mengungkapkan, “tidak ada yang tahu, bahwa selama ini siswa itu resah akan sistem pendidikannya sendiri.” Petisi ini dijalankan melalui website https://www.change.org.

Diluncurkan pula 17 (tujuh belas) buku karya tim Madyapadma, diantaranya “Bali Punya Nilai”, “Indonesia Tanah Apiku”, “Tombak Tumpul Pendidikan Indonesia”, “Kumpulan Foto Jurnalistik, Human Interest dan Essay Foto: Potret Bali Kini”, “Mencari Sekolah Manusia”, “Jejak Bahari Orang Bali”, “Research Series: Madyapadma Goes to International”, dan sebagainya. Bahkan buku “Research Series: Madyapadma Goes to International” merupakan buku terbitan Madyapadma pertama yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Ada juga peluncuran Album Kompilasi Berita Radio Features Volume 2 bertajuk “17”, yang di dalamnya terdapat 17 berita radio feature hasil karya tim Madyapadma. Dan pameran buku bertajuk “Madyapadma Bookfair” yang mengundang berbagai penerbit buku se-Bali. Madyapadma juga menghidupkan kembali website Madyapadma Digital Library (Digilib) yang akan menampilkan buku-buku dan jurnal penelitian karya tim Madyapadma secara elektronik.

Ketut Suyastra (56), Kepala Sekolah SMAN 3 Denpasar mengatakan bahwa acara ini patut dibanggakan, “Saya ingin acara ini terus dilakukan setiap tahunnya mengingat membludaknya peserta dan dampak positif yang didapat dari acara ini,” ungkapnya.

Apresiasi berdatangan tidak hanya dari Suyastra semata. Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra mengungkapkan di balik terselenggaranya Presslist 8, terdapat proses pembelajaran yang sangat berharga.

“Percayalah, kelak semua proses yang kalian lewati dapat menjadi berkah ke depannya. Terus berkreativitas hingga akhir hayat,” ujarnya melalui pesan singkat saat acara berlangsung.

Peserta lomba kording SMA 3 Denpasar mewawancarai narasumber. Foto Madyapadma.

Pada hari pertama Presslist 8 telah diselenggarakan pengumuman Anugerah Blog/Web Madyapadma tingkat Pelajar/Mahasiswa/Umum se-Bali dan Lomba Resensi Buku tingkat SMP, SMA/SMK, dan Mahasiswa se-Bali.

Putu Gede Semara Pura (SMAN 1 Denpasar) meraih gelar Most Educative Blog  dan I Made Wisnu Adi Wiryawan (SMK Rekayasa Denpasar) meraih gelar Most Helpful Blog.

Sementara itu, Putu Ayu Mandalay (SMPN 9 Denpasar) meraih gelar Resensi Terbaik tingkat SMP dengan judul resensi “Perhatian Pada Tanah Bali Lewat Teluk Benoa”. Resensi Terbaik tingkat SMA/SMK diraih oleh Felisia Putri Natalie (SMA CHIS Denpasar) dengan judul “Teluk Benua, di Antara Modernisasi dan Kontroversi”, dan Resensi Terbaik tingkat Mahasiswa diraih oleh Ni Putu Sri Utami Dewi (Politeknik Negeri Bali) dengan judul “Menentang Reklamasi Lewat Riset dan Ekspedisi”.

Kemarin juga diadakan Lomba Koran Dinding (Kording) tingkat SMA/SMK se-Bali. Peserta membuat Kording secara on the spot dengan durasi waktu 6 (enam) jam di SMAN 3 Denpasar.

Berikut adalah materi petisi “Reformasi Pendidikan Indonesia:

Pendidikan yang Membebaskan Menuju Manusia Merdeka!”

Dunia pendidikan Indonesia carut marut. Sehari-hari di sekolah mayoritas siswa menyontek. Bagi siswa menyontek adalah hal yang lumrah. Guru pun sebagian seolah melakukan pembiaran jika menyontek. Bahkan saat ujian yang pengawasannya dilakukan lintas sekolah, seolah ada kesepakatan antar pengawasan juga melakukan pembiaran.

Di sisi lain kebijakan Dinas Pendidikan di masing-masing daerah mentarget sekolah dengan nilai tinggi. Jadilah sekolah berlomba menaikan atau mengkatrol nilai siswa. Jadinya nilai-nilai yang ada di raport ataupun ijasah tidak menjamin kemampuan siswa seperti nilai yang tercantum. Kurikulum pun ikut carut marut. Materi sangat padat dan menjadi beban siswa. Ada juga sertifikasi guru, tujuannya baik tetapi nyatanya berbeda. Sertifikasi tidak menjamin kualitas guru sebagai PENDIDIK.

Beragam kebijakan dikeluarkan pemerintah pusat maupun daerah, nyatanya kebijakan reaktif. Misalnya soal Ujian Nasional yang arahnya menyimpang dari UU Sistem Pendidikan Nasional itu sendiri. Dan banyak lagi kebijakan pemerintah yang tidak menyelesaikan masalah utama pendidikan Indonesia. Selama ini kebijakan Pendidikan Indonesia semakin menjauh dari amanat pembukaan UUD 1945: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa!

Padahal, hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Dimana pendidikan adalah untuk membantu manusia muda untuk mencapai kedewasaan atau menemukan jati dirinya yang berlangsung seumur hidup. Maka, pendidikan bukanlah hanya sebatas doktrin semata, bukan hanya mencakup semua yang mungkin diketahui dari aneka materi yang diajarkan, sebab dalam pendidikan tak hanya mengenal soal cipta, namun juga rasa dan karsa (kognitif, afektif, psikomotorik) yang kelak berguna bagi tumbuh kembang menuju MANUSIA SEUTUHNYA. Bahkan bapak pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, mengajarkan bahwa setiap anak memiliki tumbuh dan perkembangan kodratnya sendiri, dan pendidikan hanyalah berfungsi untuk merawat dan menuntun sesuai dengan kodratnya. Yang diutamakan adalah kompetensi siswa, bukan hanya nilai semata!

Berdasar dari kenyataan tersebut, menyimpulkan bahwa penerapan dan hakikat pendidikan kita masih ada kesenjangan. Maka dari itu, kami menuntut kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Muhadjir Effendy serta Pemerintah di daerah masing-masing (Gubernur, Bupati/Walikota) untuk membenahi pendidikan. Kelima tuntutan kami selaku siswa dan masyarakat yang peduli pendidikan adalah:

1. Kembalikan sistem pendidikan Indonesia pada hakikat pendidikan yang mencerdaskan dan memanusiakan manusia.

2. Mendesak pemerintah agar menerapkan kurikulum pendidikan Indonesia yang berorientasi pada proses pembelajaran dengan pendekatan prinsip menemukan dan mengembangkan keberagaman potensi siswa.

3. Mendorong kemerdekaan dan kebebasan guru dalam MENDIDIK siswa sesuai hakikat pendidikan yang mencerdaskan dan memanusiakan manusia.

4. Hapus Ujian Nasional (UN) dan kembalikan evaluasi pendidikan siswa kepada guru dan sekolah sesuai amanat hakikat pendidikan dan UU RI NO. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional serta pisahkan evaluasi pendidikan siswa dengan pemetaan pendidikan yang dilakukan pemerintah.

5. Pengalokasian dana pendidikan sebesar 20% dari APBN sesuai amanat Amandemen UUD 1945 dan 20% dari APBD sesuai UU RI NO. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional digunakan secara murni dan konsekuen untuk dunia pendidikan yang sesungguhnya. [b]

The post Petisi Pelajar: Reformasi Pendidikan Indonesia appeared first on BaleBengong.

Siswa SD Tanam Mangrove di Pantai Putri Menjangan

Sejumlah siswa SD menanam bibit mangrove di Pantai Putri Menjangan, Desa Pejarakan, Gerokgak, Buleleng.

Sekitar 80 siswa sekolah dasar (SD) itu terlihat bersemangat.

Mereka ikut menanam bibit mangrove di Pantai Putri Menjangan, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Selasa dua hari lalu. Dengan bimbingan guru-gurunya, menanam bibit mangrove di pantai.

Mereka tidak hirau bahkan senang meski harus berkubang dengan lumpur.

Aksi tanam mangrove ini digagas Natural Concervation Forum (NCF) Putri Menjangan selaku pengelola pantai itu sebagai rangkaian aksi peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April.

Mereka sengaja melibatkan siswa-siswa SD untuk memberikan edukasi tentang pentingnya tanaman mangroves untuk menjaga keseimbangan lingkungan alam.

Selain itu, pada Rabu kemarin, aktivis NCF Putri Menjangan juga memberikan materi pendidikan lingkungan dengan mendatangi sekolah-sekolah dasar di Desa Pejarakan. Selanjutnya pada 22 April mendatang, mereka juga akan kembali melibatkan siswa SD dalam aksi bersih-bersih lingkungan di Labuan Lalang, pelabuhan menuju Pulau Menjangan di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak.

“Kami melibatkan siswa SD ini untuk memberikan pendidikan dan pengenalan lingkungan sejak dini,” kata anggota badan pendiri, NCF Putri Menjangan, Abdul Hari.

Dia melanjutkan materi pendidikan terutama tentang pentingnya mangrove bagi lingkungan, seperti dapat mencegah abrasi, tempat bertelurnya ikan dan lainnya.

NCF Putri Menjangan adalah sebuah komunitas aktivis lingkungan yang mengelola Pantai Putri Menjangan. Di pantai itu mereka berupaya membudidayakan sejumlah jenis mangrove, yang sebelumnya mangrove di pantai itu sudah banyak dibabat warga yang belum paham tentang fungsinya. S

elain rutin menanam bibit mangrove, mereka juga sudah melakukan pembibitan mangrove. [b]

The post Siswa SD Tanam Mangrove di Pantai Putri Menjangan appeared first on BaleBengong.

Presslist 8: Ajang Peluncuran Kompilasi dan Petisi

Ruangan itu penuh orang lalu lalang.

Laptop, kertas dan kabel di mana-mana. Dingin penyejuk ruangan tak mencegah peluh keluar dari dahi mereka. Tak heran mengapa sesibuk dan serumit itu. Para pelajar SMA 3 Denpasar itu sedang mengerjakan proyek besar super fantastis.

“Kita akan meluncurkan kompilasi feature radio,” kata I Putu Dika Ariantika (16), Koordinator Panitia Online.

Proyek berinovasi baru itu sebenarnya membuatnya bingung. Dia tak begitu paham dengan hal-hal terkait feature radio. Memang Madyapadma pernah mempunyai kompilasi feature radio beberapa tahun sebelumnya. Namun, itu larut termakan waktu.

Dengan berbekal pengetahuan seadanya dan kepercayaan dari teman-teman, kali ini mereka mencoba mengangkat kembali apa yang dulu tenggelam. Hasilnya akan diresmikan pada puncak acara PRESSLIST 8, 21-22 April 2017.

Tak cukup hanya satu, kali ini ia menduakan tugasnya. Ya, warna baru lainnya yang akan menghiasi Presslist 8 adalah adanya launching Website Madyapadma Digital Library.

Jurnal dan Buku terbitan Madyapadma akan dimuat di web, dan bisa dibaca secara online. “Nanti yang mau baca bisa lewat online, dan tertarik bisa dibeli online atau di beli secara hardcopy,” ucapnya.

Sejenak Dika termenung, bukan memikirkan tentang perempuan, tetapi masalah-masalah yang menghiasi kerjaan barunya ini. “Susah sekali menepati jadwal yang udah direncanain. Satu lewat, jadwal yang lain jadi kacau juga,” katanya.

Tak semua orang bisa mengerjakan tugas dengan tepat waktu, apalagi ketika mereka harus mengerjakan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Maklum sajalah. “Lagi sebentar aja selesai. Yeay…!” teriak salah satu temannya membuyarkan kegalauannya itu,

Benar saja, tak banyak waktu yang mereka miliki untuk bergalau ria. “Aku sudah diberi tanggung jawab, ini pasti bisa dan harus bisa. Astungkara,” ucapnya dengan mata yang menyiratkan setitik ketenangan dan semangat yang berkobar.

Di sudut ruangan lain, ada seorang gadis sedang bergulat keras dengan laptopnya. Dia gadis berbakat yang sedang menjalankan misi tak kalah besarnya dari Dika.

Galuh Sri Wedari (16), pemimpin Redaksi Madyapadma, yang di kali ini menjadi Koordinator dalam Bidang Petisi perihal Reformasi Pendidikan Indonesia yang akan dideklarasikan pada PRESSLIST 8 nantinya.

Tak jarang ia terlihat kebingungan dan bertanya kesana-kemari. Terlihat sedikit ketakutan di matanya. “Sulitnya menyiapkan materi yang akan digunakan. Karena kita harus bertanggung jawab dengan apa yang kita tulis,” katanya.

“Banyak data yang membuat aku bingung, kadang bikin goyah dengan pendirian sendiri, tapi balik lagi hakikat pendidikan yang selalu jadi pedoman ku,” tegasnya.

Misinya dalam petisi kali ini adalah untuk menyadarkan pada orang-orang bahwa pendidikan kita sudah lama ‘sakit’, Dan untuk mengajak orang-orang untuk mulai bersama menjaga dan mencari obat penawar untuk memulihkan sakit itu.

“Seru sekali mengerjakan petisi ini, aku jadi banyak belajar, jadi banyak baca buku, pengetahuan jadi bertambah luas. Aku juga belajar untuk berpikir cepat,” serunya dengan senyum seakan menenggelamkan kelelahannya.

“Semoga petisi ini bisa memberikan dampak positif bagi pendidikan kita, membantu memberikan titik terang. Dan semoga sekolah bisa menjadi tempat yang menyenangkan, dan semua ceria,” harapnya dengan helaan nafas panjang yang diakhiri senyum semangatnya. [b]

The post Presslist 8: Ajang Peluncuran Kompilasi dan Petisi appeared first on BaleBengong.

Lentera Maya untuk Melawan Berita Dusta

Film Lentera Maya bercerita tentang radikalisme dan berita palsu di Internet.

Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah pengguna internet aktif.

Menurut APJII, dalam lima tahun sejak tahun 2011, sebanyak 132,7 juta penduduk Indonesia aktif berinternet. Sebesar 97,4 persen di antaranya melakukan aktivitas di media sosial (medsos).

Tingginya aktivitas media sosial tenyata memunculkan berbagai risiko. Salah satunya penyebaran berita dusta atau ‘hoax’. ICT Watch dan WatchdoC mendokumentasikan permasalahan berita palsu ini ke dalam sebuah film dokumenter berjudul Lentera Maya. Pembuatan film ini didukung Ford Foundation dan difasilitasi oleh Sekretariat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo.

Lentera Maya merupakan film kelima dari seri dokumenter ICT Watch yang mendokumentasikan bagaimana orang Indonesia berinternet. Film produksi ICT Watch memiliki lisensi gratis, karena itu film ini lebih banyak disebarkan melalui acara nonton bareng dan diskusi. Film ini telah ditonton di 7 kota di Indonesia sejak awal 2017.

Kini kesempatan menonton Lentera Maya sampai juga di Bali, 22 Maret lalu. Lokasi pemutaran film kali ini berada di luar Kota Denpasar, yaitu Balai Budaya Ida I Dewa Agung Istri Kanya Semarapura. Sebagai penyelenggara lokal, BaleBengong.net mengajak beberapa komunitas mengambil peran dalam acara nonton bareng ini, seperti Cineclue Klungkung, Bali Blogger Community, Nusa Penida Media, dan JCI Semarapura.

Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta menyempatkan diri hadir dan membuka acara nonton bareng ini. Meskipun tidak ikut menonton hingga akhir film Lentera Maya, Suwirta bercerita tentang kehebohan berita penculikan anak di Klungkung. Ada empat orang menjadi sasaran amuk massa karena dikira pelaku penculikan anak.

“Semuanya berawal dari penyebaran informasi di media sosial. Padahal kita belum tahu kebenarannya,” ungkap Suwirta.

Film berdurasi 40 menit ini menceritakan tentang dampak penyebaran berita palsu ternyata begitu besar. Meskipun awalnya berita palsu disebar karena keisengan pembuatnya. Nyatanya, berita palsu juga mampu mengundang kericuhan yang dahsyat, bahkan meningkatkan rasa kebencian. Film ini berusaha menyadarkan bahwa berita palsu bukan hanya karena iseng semata melainkan telah menjadi sumber pendapatan bagi si pembuatnya.

Usai menonton, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama Matahari Timoer (ICT Watch), Bambang Dwi Anggoro (Kasubdit Teknologi dan Infrastruktur e-Governement, Dirjen Aptika Kemkominfo), Wayan Suweca (Kasat Intelkam Polres Klungkung) dan perwakilan BaleBengong.net. Wayan Sukadana dari Nusa Penida Media bertindak menjadi moderator.

Wayan Sukadana langsung memberikan kesempatan kepada penonton yang hadir saat itu. Beberapa di antaranya adalah para finalis Jegeg Bagus Klungkung, komunitas JCI Semarapura. Pertanyaan awal yang muncul adalah cara mengidentifikasi berita palsu.

Beragam jawaban terlontar dari para pembicara. Kasat Intelkam Polres Klungkung, Wayan Suweca mengungkapkan perlunya membandingkan berita dari berbagai sumber. Referensi dapat diambil dari berbagai sumber berita, bahkan bertanya pada teman terdekat mengenai berita yang diterima.

Wayan Suweca juga memberi contoh soal penyebaran isu provokatif menjelang Nyepi. Sebuah foto ogoh-ogoh yang berisi foto Raja Salman tiba-tiba beredar. Foto ini pun langsung menyulut emosi para netizen. Namun, belum ada yang menemukan keberadaan ogoh-ogoh yang dimaksud.

“Kami masih menyelidiki di mana keberadaan ogoh-ogoh itu. Katanya di Bali. Ada juga yang bilang di Jembrana. Belum ada yang tahu,” jelas Wayan Suweca.

Bambang Dwi Anggoro, perwakilan Dirjen Aptika Kemkominfo menambahkan bahwa hoax bisa berawal dari candaan. Menurutnya, jika tidak yakin pada informasi yang diterima, maka sebaiknya jangan disebarkan dulu.

“Langkah pertama jangan disebarkan, sepenting dan sehebat apapun informasi itu,” ungkap Bambang.

Langkah berikutnya, hampir sama dengan yang disampaikan Wayan Suweca, bertanya pada teman-teman. Lalu, mencari sumber informasi lain untuk membuktikan kebenaran berita yang beredar. Untuk itu, referensi dari berbagai sumber akan sangat membantu kita terhindar dari penyebaran informasi palsu, bahkan mencegah terjadinya kerusuhan.

Diskusi film Lentera Maya di Klungkung Bali bersama Kemkominfo, Polres Klungkung, ICT Watch dan BaleBengong.

Matahari Timoer, perwakilan ICT Watch melihat kondisi media sosial saat ini dipenuhi berbagai macam kebencian dan intoleransi. Smeua orang merasa paling benar, sementara orang yang berbeda pendapat diusir, dikucilkan, dan dianggap tidak pantas hidup di Indonesia. Semuanya berawal dari media sosial yang mampu menyebarkan informasi dalam sekejap, mempengaruhi banyak orang dan kemudian menjadi viral.

“Tentu kita ingat pada saat Pilpres, banyak orang yang unfriend gara-gara berbeda pilihan presiden. Padahal pilihannya kan cuma dua, kalau tidak Prabowo ya Jokowi,” ujar Matahari Timoer.

Kebencian memang mudah menular. Matahari Timoer menilai saat ini adalah masa kegelapan internet. Kehadiran ‘Lentera Maya’ dimaksudkan agar menjadi penerang jalan. Lentera itu bukanlah mereka yang berbicara dalam film ini.

“Ini adalah film dokumenter nggak ada artisnya. Bintangnya adalah kita semua yang hadir dan menonton film ini,” jelas Matahari Timoer.

Matahari Timoer berpendapat hoax tidak akan berhenti jika kita terus menangkal hoax terus menerus, justru akan melelahkan. Pemblokiran situs-situs berita palsu pun tidak akan berdampak besar, karena satu situs diblokir, maka akan tumbuh lebih banyak lagi. Data Kemkominfo menyebutkan saat ini tercatat ada 40.000 situs penyebar hoax. Tentu penutupan situs sebanyak ini tidak akan efektif.

MT, sapaan singkat Matahari Timoer mengimbau peserta diskusi untuk melawan hoax dengan hal-hal kreatif. Bukan hanya dengan literasi digital, tapi juga kreativitas digital. Contohnya dengan pembuatan vlog atau blog tentang wisata Klungkung, atau informasi lokal yang belum banyak diketahui orang.

“Istilahnya, skip hoax, be creative. Jadilah lebih kreatif dalam menangkal hoax,” jelasnya.

Di samping itu, MT juga mengajak peserta diskusi untuk menghargai perbedaan pandangan sebagai suatu hal yang wajar. Penanggap informasi di internet dapat berasal dari beragam latar belakang, mulai dari kubu konservatif, moderat, hingga radikal. Semua kelompok ini pasti memiliki perbedaan pandangan, namun sebagai konsumen informasi sebaiknya jangan jadi sumbu pendek. Jadilah bijaksana sebagai pengguna internet.

“Ketika melihat suatu perbedaan, jangan lihat dulu mana yang salah dan mana yang benar, Lihatlah keunikan dari perbedaan itu,” ungkap MT sembari menutup diskusi.

Keunikan dari masing-masing kelompok akan memunculkan rasa saling menghargai. Setiap orang berhak atas pilihannya masing-masing, terlepas dari salah dan benar. Teknologi akan terus berganti, namun penggunanya seharusnya tetap bijaksana dalam menyikapi pergantian dan perbedaan. [b]

The post Lentera Maya untuk Melawan Berita Dusta appeared first on BaleBengong.