Tag Archives: Pendidikan

Siapkah Kita untuk Pembelajaran Jarak Jauh?

sumber gambar: internshala blog

Banyak lembaga pendidikan tinggi, dosen, maupun mahasiswa yang belum mempunyai pengalaman melakukan pembelajaran jarak jauh sama sekali. Hal ini menimbulkan kegagapan dari sisi dosen, mahasiswa, maupun pengelola pendidikan tinggi.

Penyebaran virus corona yang dimulai di kota Wuhan – Tiongkok, pada akhir tahun 2019, menjadi semakin menyebar tidak terkendali ke seluruh dunia pada awal tahun 2020. Hingga akhirnya, Indonesia mengumumkan kasus pertama pasien positif covid-19 (penyakit yang disebabkan oleh virus corona) pada awal Maret 2020.

Hingga 3 April 2020, di Indonesia terdapat 1.986 pasien yang dinyatakan positif Covid-19, 181 jiwa meninggal dunia dan 134 dinyatakan sembuh dari infeksi virus corona. Secara global, virus corona telah menjangkiti 900.306 jiwa dan merenggut korban 45.693 jiwa (info dari akun Twitter @BNPB_Indonesia 4 April 2020).

Berbagai upaya dalam meredam penyebaran virus corona telah dilakukan oleh aparat yang berwenang. Berbagai intervensi medis seperti menyediakan tes cepat, menyiapkan fasilitas, infrastruktur, obat-obatan, alat perlindungan diri dan tenaga medis khusus untuk menangani infeksi virus corona, maupun menyiapkan berbagai panduan dan melakukan kampanye secara masif untuk menghindarkan diri dari kemungkinan tertular maupun menularkan virus, maupun melakukan berbagai upaya guna menekan penyebaran virus.

Salah satunya aparat yang berwenang telah mendorong diterapkannya menjaga jarak fisik (physical distancing, yang menggantikan istilah social distancing). Konsekuensi dari menjaga jarak fisik adalah masyarakat diminta untuk menjauhi kerumunan, menutup tempat-tempat umum yang tidak terkait dengan pelayanan kesehatan maupun objek-objek untuk menunjang kehidupan yang mendasar, serta melakukan pekerjaan dan bersekolah dari rumah (work from home/WFH maupun school from home/SFH).

Bersekolah dari rumah tidak hanya dilakukan oleh jenjang pendidikan sekolah dasar dan menengah saja, namun juga dilakukan oleh jenjang pendidikan tinggi. Dosen dan mahasiswa harus melakukan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi seperti grup bertukar pesan instan, kelas virtual, video conference, maupun surat elektronik untuk menggantikan pembelajaran tatap muka yang selama ini biasa dilakukan.

Memang sudah ada universitas yang telah melakukan pembelajaran jarak jauh, contohnya program pembelajaran jarak jauh yang telah lama dilakukan oleh Universitas Terbuka (UT). Universitas Terbuka bahkan sebelum banyak tersedia teknologi komunikasi online (seperti email, kelas online, video conference), telah berpengalaman melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan jasa pengiriman dokumen melalui pos. Serta berbagai pembelajaran jarak jauh yang sudah mulai marak diselenggarakan oleh berbagai universitas terkemuka lainnya jauh hari sebelum pandemik covid-19 terjadi.

Namun, bila dikalkulasi, tentu saja lebih banyak lembaga pendidikan tinggi, dosen, maupun mahasiswa yang belum mempunyai pengalaman melakukan pembelajaran jarak jauh sama sekali. Tentu saja hal ini menimbulkan kegagapan dari sisi dosen, mahasiswa, maupun pengelola pendidikan tinggi.

Pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan teknologi informasi, entah berupa kelas virtual (contohnya aplikasi Google Classroom dan Edmodo) maupun video conference (contohnya menggunakan aplikasi dari Zoom, Google Meet, Skype, dan Webex) membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengoperasikannya. Sehingga dosen harus tertatih-tatih dalam mengejar ketertinggalan dalam menguasai aplikasi pembelajaran jarak jauh tersebut. Belum lagi materi maupun ujian yang akan berbeda bila harus diterapkan tanpa tatap muka, sehingga dosen juga harus mempersiapkan materi pembelajaran dan soal ujian yang berbeda.

Banyak dosen yang merasa tertekan dengan teknologi baru yang harus mereka kuasai dalam waktu singkat tersebut. Praktek trial and error seringkali dilakukan untuk mengatasi gagap teknologi, bahkan ada yang menyerah saat menghadapi situasi yang pelik. Beruntung apabila ada kolega yang mau berbagi dan mendampingi dosen yang kesulitan menerapkan pembelajaran jarak jauh, apabila tidak ada, maka frustrasi, keputusasaan, dan ketidakberdayaan-lah yang dirasakan oleh dosen.

Mahasiswa yang merupakan generasi native digital, tentu saja mempunyai keunggulan dalam penguasaan teknologi informasi baru tersebut. Mereka sudah terbiasa dengan penggunaan aplikasi baru yang menuntut penguasaan berbagai perangkat yang dimiliki aplikasi tersebut.

Panduan resmi maupun video tutorial bisa dengan mudah mereka peroleh dari layanan video maupun situs resmi aplikasi. Namun bukan berarti mahasiswa tidak menemukan kendala dalam pembelajaran jarak jauh. Mahasiswa juga mempunyai keterbatasan terkait dengan perangkat yang dimiliki, kuota internet yang terbatas, serta ketidakpaduan antar pengajar maupun kelas pembelajaran jarak jauh sehingga dosen memberikan tugas yang terlampau berat dan tenggang waktu yang tidak realistis bagi mahasiswa, apalagi di situasi khusus seperti ini.

Tentu saja berbagai hal ini menjadi permasalahan tersendiri bagi mahasiswa saat mengikuti perkuliahan jarak jauh, yang tentu saja hal tersebut akan memengaruhi prestasi akademik dan kesehatan mental mahasiswa pada saat krisis pandemi covid-19.

Pengelola pendidikan tinggi juga tidak kalah gagapnya dengan situasi ini. Aturan, panduan, fasilitas maupun infrastruktur yang masih berlubang sana-sini menghambat pembelajaran jarak jauh. Pengelola pendidikan tinggi juga harus menggandeng pihak eksternal untuk mendukung pendidikan jarak jauh ini. Ikatan alumni, programer, penyedia layanan internet, dan stakeholder lainnya harus dirangkul untuk mendukung suksesnya pembelajaran jarak jauh di tengah masa krisis.

Situasi pandemi covid-19 ini adalah situasi yang di luar kebiasaan, sehingga harus dihadapi juga dengan inovasi dan tindakan yang diluar kebiasaan pula. Perlu ada kolaborasi yang apik dari pengelola pendidikan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, pihak eksternal kampus, maupun pengambil kebijakan pendidikan tinggi di pusat untuk mendukung situasi yang mengharuskan pembelajaran jarak jauh ini. Tentu saja tujuannya untuk mendukung bersekolah dari rumah guna menekan penyebaran covid-19 serta pembelajaran tetap dapat berjalan dengan baik walau di tengah masa krisis.

Pewarta Warga Cilik di Kelas Jurnalisme Warga Nusa Penida 2020

Dua anak perempuan 9 tahun muncul dari balik pintu Kantor Camat Nusa Penida, pada 15 Februari 2020. Senyumnya penuh semangat. Keduanya mengapit buku tulis dan pulpen. Seorang laki-laki dewasa mendampingi.

Keduanya, Kirana dan Widya kemudian jadi peserta yang paling aktif karena tekun menyimak, mengajak bermain, membuat karya video ponsel, sampai mengajari salam khas Klungkung.

“Salam Gema Shanti,” teriak Kirana sambil menaruh tangan kanan di dada, diikuti jawaban, “damai.”

Panitia dari Balebengong baru pertama kali mengikuti salam ini. Ohya, ada pengalaman lain dari Kirana. Salam Semangat dengan gerakan tangan. Seperti apa gerakannya? Semoga berjumpa lagi dengan kedua pewarta warga cilik lagi untuk sama-sama mengikuti gerakannya ya.

Selain Kirana dan Widya, ternyata ada dua pewarta remaja lain juga yang ikut, keduanya remaja laki-laki dari Dusun Nyuh Kukuh, lokasi program pengelolaan sampah yang dihelat Yayasan Wisnu bersama PPLH Bali, didukung GEF SGP.

Jadi selama dua hari, masing-masing berlangsung setengah hari, ada 10 warga anak muda Nusa Penida yang terlibat Kelas Jurnalisme Warga pada 2020 ini. Hal mengejutkan, latar belakang peserta dan usianya sangat beragam, dari usia 10-30an tahun. Akhirnya kami mengubah strategi dan materi, dari pembelajaran orang dewasa jadi inklusif agar dipahami anak-anak.

Sisi positifnya, anak-anak memberikan energi selama pelatihan termasuk dalam membuat karya. Bahkan salah satu karya mereka jadi favorit dalam sesi apresiasi. Total ada 10 karya dari peserta dan panitia pendamping berupa 6 video ponsel durasi satu menit, 2 esai foto, dan 2 artikel.

Hal menarik lainnya, seluruh narasumber adalah warga Nusa Penida, yakni Gede Sukara (foto, pengelola akun wisata @maemelalikenusapenida), Santana Dewa (penulis, videografer, tim Nusa Penida Destination), dan narsum tamu untuk sesi apresiasi dan motivasi, Wayan Sukadana (pengusaha, penulis, dan pendiri akun informasi Nusa Penida Destination). Tim Balebengong jadi fasilitator keseluruhan kegiatan.

Pada hari pertama adalah perkenalan dengan cara bermain. Iin dan Juni dari Balebengong meminta tiap orang menyebut nama dan rahasia mereka, tapi diikuti gaya tubuh, kemudian diikuti seluruh peserta. Makin sulit gerakannya, makin seru dan mengundang tawa.

Kemudian dimulai dengan sesi perkenalan tentang media jurnalisme warga Balebengong, apa manfaat dan dampak portal berita yang dikelola dengan gaya seperti ini. Apa yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan desa dalam penyebaran informasi, potensi, dan pengawasan fasilitas publik.

Pengantar manfaat menulis berlangsung singkat untuk memperkenalkan standar umum seperti 5 W+1H untuk kelengkapan tulisan. Berikutnya diisi pengenalan foto ponsel oleh Gede Sukara. Juga berlangsung singkat karena langsung praktik. Sesi lebih panjang di pengenalan video ponsel oleh Dewa Santana, diikuti praktik langsung.

Sebelum pulang, ada sesi pengenalan program dan isu di Nusa Penida oleh Gede Sugiarta, Koordinator Program terkait sejumlah kegiatan dari GEF SGP di Nusa. Sejumlah pertanyaan pemantik adalah apakah hanya pariwisata yang bisa dikembangkan di Nusa, padahal masih ada potensi pertanian dan lautnya. Bahkan keduanya bisa saling mendukung. Belum lagi dampak-dampak industri pariwisata yang harus dihadapi seperti sampah, limbah, dan akses air bersih.

Hari kedua adalah membuat karya, peserta langsung menyelesaikan di rumah setelah memastikan rencana dan ide yang akan dieksekusi. Seluruh peserta sudah memiliki idenya, misal dari Nyuh Kukuh hendak mendokumentasikan kegiatan pengangkutan sampah yang mereka lakukan tiap hari dengan moci, aktivitas TPST, latihan menari ngelawang, megambel, dan lainnya.

Kirana dan Widya akan membuat video dari sekitar mereka. Di sesi apresiasi karya, Kirana membuat video pondel satu menit tentang rumahnya, diedit dengan tambahan lagu “Tentang Rumahku” dari band folk Bali, Dialog Dini Hari. Sementara Widya membuat video ponsel satu menit tentang aktivitas pantai, taman bermainnya.

Gede Arnawa memantapkan hati membuat karya tentang kain Rangrang, khas Nusa Penida. “Hal unik dari kain tenun Ranrang adalah, kita bisa mengenakannya di kedua sisi. Tak seperti kain lain, jika dijahit hanya kelihatan bagus di satu sisi,” sebutnya.

Potensi Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali sebagai penghasil Kain Tenun Rangrang menurutnya kini makin tenggelam. Rangrang merupakan kain bebali berwarna-warni terang dengan inspirasi motif berasal dari keadaan geografis wilayahnya yaitu daerah pegunungan dan perbukitan. Menurut I Made Tanglad salah satu perajin Kain Tenun Rangrang asal Nusa Penida, tidak ada bukti tertulis yang berkaitan dengan sejarah keberadaan Kain Tenun Rangrang.

Ia juga menambahkan bahwa dahulu hanya terdapat 3 penenun Kain Tenun Rangrang. Seiring berlalunya waktu mereka mengajarkan teknik menenun tersebut ke beberapa sanak saudara mereka hingga akhirnya banyak masyarakat sekitar yang tertarik dan mulai belajar menenun.

Peserta lain, Nova membuat karya esai yang menyedihkan tentang pengalamannya jadi buruh bangunan untuk sebuah proyek di Nusa, dan belum dibayar. Ia menuliskan kekecewaanya dengan halus lewat gaya sastra, untuk menyuarakan haknya.

Di sesi akhir, semua peserta memilih karya terbaik pilihan mereka. Terpilih video ponsel pendek tentang Ngelawang oleh Juni Anaya yang mendokumentasikan kegiatan belajar nari dan Ngelawang di Rumah Belajar.

Motivasi dari Alumni

Jelang penutupan, hadir Wayan Sukadana, salah satu tokoh muda dan penggerak di Nusa. Sebelumnya ia bekerja di Dekranasda Kabupaten Klungkung, dan berhenti setelah memantapkan diri mengurus akomodasi yang sedang dibangun di rumahnya, Dusun Semaya, Desa Suana. Sentra pertanian rumput laut yang masih bertahan.

Ia berkisah, mulai menulis di Kompasiana, salah satu portal jurnalisme warga yang difasilitasi Kompas. Menurutnya selain bebas beropini, hal penting adalah data dan fakta. Terutama jika mengkritik sebuah kebijakan.

Pada 2012-2013, Sukadana mengingat di Nusa Penida saat itu banyak jalan rusak, air mati tidak ada yang tahu, banyak proyek pemerintah hadir seperti energi terbarukan tapi mangkrak.

Cikal bakal lahirnya nusapenidamedia.com dengan mengundang tim Balebengong/Sloka Institute untuk menghelat Kelas Jurnalisme Warga di Desa Sakti. Menurutnya inilah cikal bakal pergerakan anak muda Nusa lewat tulisan dan hasilnya secara rutin diterbitkan di Nusapenidamedia.com. Bahkan menurutnya konten atau isunya kerap diambil media mainstream.

Saat ini ia mengembangkan akun medsos yang memposting aneka informasi di page Fb bernama Nusa Penida Destination. Ia mengajak para peserta ikut membagi info dengan cara mengirim pesan atau lewat nomor WA.

Nusapenidamedia.com menurutnya saat ini agak vakum karena sejumlah pegiatnya memiliki usaha sendiri-sendiri. Namun ia masih semangat berkarya dan membuat sejumlah program literasi media.

“Saya ingin lihat seberapa penting pelatihan ini dan seberapa penting pengaruhnya. Nilai jual kalian adalah tulisan. Dewa dulu bukan siapa-siapa, karena sering nulis intens, ada peluang kolaborasi,” sebutnya. Menurutnya tulisan juga bisa cuci otak pembaca, contohnya jika air mati, jalan rusak kalau tidak ada yang posting maka tak ada yang merespon.

Rumah Belajar

Lokasi kegiatan direncanakan di Rumah Belajar (learning center) Banjar Ped, Desa Nyuh. Namun saat itu sarana yang diperlukan belum siap seperti area layar proyektor, papan plano, meja, dan lainnya. Masukan lokasi alternatif dari warga adalah Kantor Camat Nusa Penida.

Dibantu salah seorang alumni Kelas Jurnalisme Warga Nusa Penida pada 2013 sebelumnya yang bekerja di kantor camat, surat dikirim untuk peminjaman lokasi. Kami menindaklanjuti dengan mengontak Camat sekaligus mengundang untuk membuka acara. Pengelolaan konsumsi oleh salah satu staf kantor Camat yang mengurus kebersihan.

Jurnalisme warga (citizen journalism) adalah jurnalisme yang dikelola oleh warga, dari warga, dan untuk siapa saja. Sebagai aliran baru dalam jurnalisme, yang berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, jurnalisme warga merupakan alternatif dari media umum yang sudah ada seperti koran, radio, dan televisi.

Dalam jurnalisme warga, warga tidak hanya menjadi konsumen media tapi juga bisa terlibat dalam proses pengelolaan informasi itu sendiri mulai membuat, mengawasi, mengoreksi, menanggapi, atau sekadar memilih informasi yang ingin dibaca.

BaleBengong.id adalah portal yang dibangun sebagai upaya mewujudkan jurnalisme warga di sejak 2007. Dalam jurnalisme warga (citizen journalism), warga tidak hanya jadi objek berita, tapi sekaligus subjek. Warga terlibat aktif untuk menulis atau sekadar memberi respon atas sebuah kabar.

Jurnalisme warga memberikan kesempatan pada tiap warga untuk menggunakan sudut pandangnya sendiri dalam menulis. Objektivitas bukan hal penting dalam tulisan-tulisan di portal ini. Semua penulis menggunakan subjektivitas masing-masing. Namun semua berdasarkan fakta dan kejujuran (fairness). Karena itu pertanggungjawaban tiap kabar ada di kontributor.

Selain itu, kekuatan lain adalah partisipasi dan berpihak. Mendorong warga biasa untuk menulis, memotret, atau mendokumentasikan sendiri. Kemudian, informasi haruslah berpihak pada kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan atau tak mendapat tempat pada media arus utama. Tulisan-tulisan di media dibuat dengan perspektif advokasi pada kelompok perempuan, anak, orang miskin, dan kelompok termarjinalkan lain.

Tantangan dan Solusi

Perkembangan jurnalisme warga juga masih menghadapi tantangan. Salah satunya pada kapasitas warga untuk memproduksi informasi itu sendiri. Meskipun infrastruktur untuk memproduksi informasi tak lagi susah didapatkan, kapasitas warga untuk menggunakannya masih terbatas.

Kapasitas warga untuk menyampaikan informasi juga masih terbatas. Ini memang salah satu persoalan dalam perkembangan jurnalisme warga yaitu kurangnya kemampuan warga untuk menyampaikan informasi dalam bentuk yang lebih menarik untuk dibaca seperti dalam media arus utama.

Selain kurangnya kapasitas seperti kepercayaan diri untuk menulis, juga penggunaan blog dan internet. Medium ini terbukti sebagai pendukung masifnya perkembangan jurnalisme warga.

Putu Semiada, Membangun Manusia lewat Bahasa

Lewat tempat kursusnya, Putu Semiada tak hanya mengajarkan bahasa.

Putu Semiada memiliki mimpi besar untuk membangun tempat belajar di kampung halamannya setelah lulus dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Namun, mimpinya tak langsung bersambut, karena ia memutuskan untuk bekerja.

Mimpi yang tinggi, membuatnya nekat memutuskan pilihan. Pada tahun 2000 ia memutuskan bekerja sekaligus membuka tempat kursus bahasa Inggris.

Semiada memulai dengan 20 orang anak di kampungnya, Blahbatuh, Gianyar. Dia dibantu oleh seorang guru. “Saat itu saya tidak tahu marketing, saya hanya buka les. Tanpa sengaja ketemu dengan seorang guru, lalu dia kirim muridnya ke tempat les saya,” ceritanya.

Mendampingi murid 20 orang, nyatanya tidak menjamin kemajuan tempat kursus itu. Setelah sekian tahun sejak berdiri, kurang lebih 7 tahun tempat les dibuka, ia mulai mendapatkan sindirian dari orang-orang sekitarnya.

Kondisi Tempat kursus Prima Santhi waktu itu bagaikan hidup segan mati tak mau. Putu Semiada hampir menyerah dengan menutup tempat les itu. Karena tempat lesnya, seperti orang Bali bilang, buyung gen sing ada lewat (lalat aja ngga ada yang lewat).

“Bagaimana bisa survive?” tanyaya.

Namun, di sisi lain ia teringat kembali alasan awal membuka tempat kursus bahasa Inggris ini. Selain ingin membagikan kemampuan yang ia miliki, juga karena ia melihat anak-anak di desanya keluar desa untuk ikut les bahasa Inggris.

“Saya lihat banyak anak-anak di desa yang les ke luar desa. Akhirnya saya berpikir kenapa nggak saya coba saja buka tempat les bahasa Inggris dengan bianya murah,” pikirnya.

Istimewanya, tak sekadar mengajarkan bahasa Inggris, dia menyelipkan ajaran pembangunan karakter di Prima Santhi. Sehingga dia sesekali menjuluki tempat kursusnya dengan “more than learning English”.

Gayung bersambut. Pada tahun 2006 usaha Putu menarik temannya untuk membantu. Dengan memberikan beasiswa untuk anak tidak mampu yang ikut kursus di Prima Santhi. Sepuluh anak dipilih untuk kursus gratis. “Dia membantu, tetapi tidak meminta imbal balik apapun. Itu yang sekaligus mendongkrak hidup saya mulai dikenal,” katanya.

Usaha Putu kembali mendapat dukungan dari teman lamanya pada tahun 2009. “Sama teman saya itu, saya disuruh berhenti bekerja, katanya, ngapain saya ngerjain tempat kursus beginian. Trus saya jawab, lalu apa yang bisa saya kembangkan? Dikasitahu kembangkan aja bahasa Inggrismu,” dia lanjut bercerita.

Tahun 2010 kemudian tanpa sengaja ketemu lagi dengan teman lamanya. “Saya langsung dikasi kata-kata kasar. Kalo orang mungkin sudah jerih (nyerah) tapi saya tidak. akhirnya saya nekat. 2010 saya berhenti bekerja, saya nekat. Istilahnya lagasin bayunya, itu yang saya tulis di Buku Lagasin Bayune.”

Lalu tantangan apa yang akan dihadapi ketika memutuskan berhenti dari pekerjaan? Tidak salah, bahwa tantangan itu datang dari orang terdekat. Istrinya sendiri. Namun, Putu berhasil meyakinkan istrinya. “Karena saya pikir meski kursus saya ngga jalan, saya masih bisa survive karena ada istri kerja.”

Setelah berhenti bekerja, Putu dimentoring teman lamanya. Cara mentoringnya simpel. Yaitu dengan fokus pada apa pun yang dilakukan. Artinya, membesarkan apa yang kamu lakukan. Tidak neko-neko. Dia memegang teguh konsep fokus membangun kursus ini.

“Kalau seperti pizza, kan d imana-mana sama, tapi topingnya saya perbaiki. Saya adakan lomba, workshop, tidak dibayar. Bahwa kami tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi termasuk story telling bagaimana sebuah kursus yang di desa itu bisa mendatangkan native speaker.”

Singkat cerita, Putu menganggap apa pun dukungan yang dilakukan temannya seperti beasiswa buat anak-anak yang tidak mampu, sangat ia syukuri. Sekecil apapun hasil yang diperoleh dia syukuri. Dia percaya syukur itu mendekatkan dengan energi.

Melewati banyak perjuangan, Putu seperti menuai bibit yang gigih ia tanam. Sekarang kursus Putu terus berkembang dengan memiliki 350 anak di Prima Santhi. Ia percaya, hasil ini didapatkan dengan jalan fokus.

“Sebenarnya saya ngga nyangka, karena sesuai konsep Lagasang Bayune, saya melakukan segala sesuatu dengan gembira,” katanya.

Seperti anak-anak yang tidak memikirkan target atau jumlah. Dengan kita melakukan sesuatu dengan gembira, masak sih ngga ada reward. Ketika menghadapi konsumen dengan wajah gembira tanpa cemberut pasti konsumen senang, pasti akan ada hasilnya, entah dari orang tersebut atau orang lain.

Seiring usahanya membuka tempat kursus, Putu tidak tinggal diam. Spanjang perjalanan ia tuang menjadi karya. Hingga tahun 2019 Putu Semiada sudah melahirkan tiga karyanya dalam bentuk buku. Buku pertama berjudul Lagasang Bayune bercerita tentang bagaimana ia membangun kursus dan ketemu orang-orang yang mendukung.

Kedua, ketika Putu ikut gerakan dan mulai bertemu dengan orang-orang baru. Kisah ini ada di buku kedua berjudul Tegtegan Bayune. Ketiga itu Lemesin Bayune, baru terbit 2019. Buku ini ditulis mengingat umurnya yang terus bertambah.

“Saya berpikir apa sih yang saya cari dalam hidup? Keluarga sudah punya. Istri sehat walaupun tidak kaya-kaya amat, tapi bisa membiayai hidup. Jadi saya pikir hidup tenang-tenang saja,” katanya.

Melalui buku ketiga ini Putu mengingatkan bahwa keinginan adalah sumber kesengsaraan. [b]

Pendidikan Ekologi yang Relevan untuk Bali

Gubernur Bali Wayan Koster telah mengemukakan 22 misi Provinsi Bali.

Misi nomor 4 pembangunan Bali tahun 2018-2028 adalah tersediannya pendidikan yang adil, merata, terjangkau, dan berkualitas serta melaksanakan wajib belajar 12 tahun. Misi tersebut menyenangkan untuk dilihat saat dipampang di depan tembok atau didengar oleh siaran media.

Bagaimana pelaksanaannya hari ini dan di masa depan? Marilah lihat situasi di lapangan.

Di Bali masih ada sekolah yang tidak layak fasilitasnya. Di Karangasem, ada sekolah yang atapnya rawan runtuh. Ini membahayakan guru dan siswa saat sedang belajar. Kasus serupa juga terjadi di Jawa Timur hingga menyebabkan murid dan guru meninggal dunia.

Sekolah negeri unggulan di Bali fasilitasnya di atas kelayakan, sementara sekolah bukan unggulan sarana dan prasarana boleh jadi tidak memadai. Itu yang terjadi kota. Belum lagi bila membandingkan kondisi infrastruktur fisik pendidikan di dalam kota dengan di pinggir kota hingga pelosok desa.

Dari fasilitas fisik yang belum memadai, sekarang kita akan melihat praktik pendidikan yang ada. Murid-murid SD hingga SMA mempelajari ilmu pengetahuan alam. Proses pembelajaran tidak hanya melalui buku teks khusus pelajaran sekolah.

Di hampir semua perpustakaan sekolah, amat sedikit buku yang bertema ekologi pulau Bali tersedia. Seharusnya pemerintah mencetak buku tersebut dan didistribusikan ke sekolah sekolah di Bali agar guru dan siswa memahami ekologi pulau ini.

Guru selayaknya mengajak siswa menonton film bersama mengenai flora dan fauna Bali, ekosistem pulau Bali dan masalah lingkungan yang terjadi di Bali saart ini. Film Kala Benoa yang menjelaskan akibat kerusakan lingkungan karena reklamasi Teluk Benoa dapat diputar di seluruh sekolah pulau Bali. Sekolah perlu mengadakan kerja sama dengan para pembuat film yang bertema ekologi pulau Bali sebagai media pendidikan siswa.

Murid-murid yang belajar ilmu alam di sekolah tidak banyak yang mengetahui macam-macam spesies tanaman budidaya dan liar yang hidup di Bali beserta kondisi tanah yang cocok untuk tanaman tersebut. Bila dibaca secara dangkal mungkin ini dianggap tidak penting. Namun, pendidikan ilmu alam harus sesuai dengan kondisi nyata di tempat di mana sekolah itu berdiri. Siswa perlu mengetahui hal tersebut supaya dapat meneliti manfaat tanaman tersebut bagi manusia dan lingkungannya dan dapat mengembangkan perekonomian desa dari sumber alam yang ada.

Murid-murid tidak tahu persis jumlah spesies burung, ikan dan hewan lainnya yang ada di Bali apalagi statusnya dalam konservasi. Mungkin hanya jalak bali yang paling diketahui. Sekolah sampai saat ini tidak mengajarkan kepada muridnya tragedi lingkungan yang telah terjadi di Bali mulai dari punahnya harimau Bali hingga hutan yang kurang dari sepertiga luas pulau.

Saat siswa diajak ke sawah, hutan dan padang penggembalaan, guru perlu membimbing siswa untuk mengidentifikasi spesies burung yang ada di situ dan memahami hubungan antara burung dengan hewan lain dan tanaman lain di sawah sehingga siswa belajar ekologi melalui pengalaman.

Bagi siswa yang tinggal tak jauh dari taman nasional Bali Barat sekolah perlu mengadakan perjalanan ilmiah ke sana lebih dari sekali. Dengan demikian siswa semakin mengapresiasi fauna dan flora liar Bali. Sekolah dapat memfasilitasi siswa yang menimba ilmu di Tabanan untuk melihat praktik pemeliharaan burung hantu untuk mewujudkan sawah organik di tempat yang dijuluki desa burung hantu.

Guru perlu mengajak siswa untuk membandingkan kondisi sawah di Jatiluwih dan Ubud sepuluh tahun yang lalu dengan sekarang saat sawah semakin digusur dengan akomodasi pariwisata.

Belum Reflektif

Pendidikan alam yang diajarkan di sekolah belum reflektif dalam arti menghubungkannya dengan keadaan di lapangan. Di sekolah murid diajari pentingnya hutan di pegunungan dan perbukitan. Mereka mengetahui peran amat berharga hutan bakau bagi pesisir dan nelayan.

Murid-murid tidak diberi kesempatan untuk berpikir kritis penyebab hutan terdegradasi yang terhubung dengan kebijakan pembangunan. Murid-murid amat jarang diajak melakukan belajar lapangan melihat langsung kondisi hutan bakau, sawah dan hutan pegunungan yang tersisa. Siswa mempelajari dampak pestisida dan pupuk kimia bagi ekosistem sawah dan sekitarnya tapi tidak pernah berdialog langsung dengan petani yang menggunakkannya tersebut untuk memberikan pendidikan kecil agar mengurangi pemakaiannya demi kesehatan lingkungan.

Bali termasuk kawasan Segitiga Koral (Coral Triangle). Ini berarti terdapat terumbu karang dan padang lamun yang merupakan eksositem laut terkaya di dunia. Murid memang mendapatkan informasi mengenai fungsi terumbu karang dan padang lamun serta kegiatan manusia yang dapat merusak terumbu karang dan lamun hingga akibat yang ditimbulkan.

Namun, pada pelajaran di sekolah guru jarang menginformasikan jenis jenis koral dan lamun yang ada di Bali kepada siswanya. Akibatnya kesadaran untuk peduli laut masih belum cukup. Di tepi pantai, sering terdapat sampah yang akan mencapai padang lamun dan terumbu karang sehingga mengakibatkan biota laut terancam.

Pendidikan alam bagi siswa di Bali tidak hanya untuk mengenal kondisi ekosistem dan jenis jenis mahluk hidup yang ada di dalamnya. Siswa perlu diberi pendidikan untuk mengolah hasil alam dari tanah Bali. Tidak hanya mengolah daun kelapa, tetapi mengolah bagian pelepah kelapa, nira kelapa, kulit kelapa dan batang kelapa.

Siswa perlu melihat langsung penggilingan padi menjadi beras. Mereka dapat berkesempatan mempelajari pengolahan sisa sisa tanaman padi seperti pembuatan minyak dari bekatul dan pengolahan jerami padi menjadi tikar. Saat mempelajari pengolahan hasil laut, murid murid memperoleh peluang untuk mengolah limbah ikan menjadi tepung atau sesuatu yang memiliki nilai guna.

Pendidikan alam seperti betujuan agar siswa peka bahkan peduli terhadap keragaman hayati dan keberadaan spesies di ekosistem terpenting bagi orang Bali yaitu sawah. Harapannya, mereka bisa bersama-sama menahan laju alih fungsi sawah serta menggalakkan pertanian ekologi yang ramah lingkungan. Dalam mempelajari ekologi, guru mengajarkan kepada siswa untuk menghubungkannya dengan aspek keadilan sosial dimana setiap orang berhak atas air bersih, udara segar, makanan sehat dan lingkungan yang layak huni.

Yang terpenting siswa perlu diberi kesempatan berpikir kritis melihat dampak lingkungan dari pembangunan Bali yang mengabaikan lingkungan. Kurikulum pendidikan ilmu alam untuk Bali hendaknya tidak sekedar menjiplak saja apa yang dipraktikkan dari Jakarta. Dinas Pendidikan Bali perlu menyesuaikannya dengan kondisi alam dan budaya yang ada. [b]

Literasi dan Aksi Siberkreasi Class 2020 di Bali

Paramuda termasuk kawan penyandang disabilitas bergabung dalam literasi dan aksi Siberkreasi Class 2020 di Denpasar, Bali.

Sebanyak 150 orang peserta dan panitia Siberkreasi Class 2020 memadati Rumah Sanur, Denpasar pada 27 Januari 2020. Para peserta melebihi target 100 orang sehingga ruangan semi terbuka ini terlihat penuh. Dua orang Juru Bahasa Isyarat menjadi jembatan komunikasi pada kawan Tuli.

Sacha Stevenson, Youtuber dari Kanada yang fasih berbahasa Indonesia ini bercerita tentang pengalamannya melihat dampak penyebaran konten yang kurang valid di Bali. Ketika itu ada video viral seorang bule menabrak orang, dikejar banyak orang, lalu dihakimi. Menurutnya data korban dilebih-lebihkan, jauh dari kenyataan.

Video viral penghakiman massa juga tersebar luas di beberapa akun info dan medsos sekitar 26 Januari. Seorang laki-laki muda dipukul dan ditendang beramai-ramai oleh banyak orang, disebut sebagai pencuri helm. Fakta dari kepolisian menyatakan ia bukan pencuri helm, namun naas, korban sudah meninggal akibat kekerasan yang diterimanya.

Beberapa hal ini dibahas dalam sesi talkshow Siberkreasi Class 2020. Selain penyebaran hoaks dan mudahnya warga menghakimi, juga didiskusikan cara produksi konten-konten yang lebih bermakna. Sacha menyebut ia senang membuat konten cara belajar Bahasa Inggris dengan cara menyenangkan. “Harus entertaining, editingnya harus bagus, ada thumbnail, tapi tetap educate,” seru perempuan yang kerap terlihat di sejumlah film televisi dan mukim di Bali.

Di awal 2020 ini, Siberkreasi menginisiasi program baru, yakni “Siberkreasi Class” yang hadir untuk mengajak netizen Indonesia memahami pentingnya etika di dunia siber serta mampu memanfaatkan teknologi untuk memproduksi konten positif yang berguna bagi masyarakat luas. Inisiasi tersebut tentunya tidak terlepas dari keadaan yang mulai cukup mengkhawatirkan dengan masifnya perkembangan informasi dan teknologi yang tidak diimbangi dengan pemahaman literasi digital. Akibatnya, lahir mentalitas “sumbu pendek” saat melihat berita di media sosial dan internet.

Kegiatan Siberkreasi Class ini berlangsung pada Senin, 27 Januari 2020, di Rumah Sanur Creative Hub, Sanur, Bali. Dibuka oleh Prof Dr. Henri Subiyakto, Staf Ahli Menteri Bidang Hukum, dan Ida Bagus Ludra sebagai Kabid IKP Diskominfo Provinsi Bali. Dengan mengangkat tema “Be Social Media Peacemaker”, acara ini akan digelar dalam bentuk Gelar Wicara (Talkshow) dan Lokakarya (workshop).

Henri mengatakan perkembangan media digital yang marak saat ini sudah selayaknya diimbangi dengan literasi digital yang perlu dijalankan di semua lini masyarakat. Salah satunya dengan menggandeng komunitas-komunitas kreatif serta masyarakat untuk menyebarkan gagasan, meningkatkan kemampuan untuk memproduksi konten positif, dan mengeksekusi gerakan masif untuk meningkatkan kebijakan dalam bermedia sosial.

Gelar wicara ini menghadirkan Yosi Mokalu, ketua umum Siberkreasi, sebagai moderator panelis gelar wicara yang diisi oleh Akhyari Hananto (GNFI), Sacha Stevenson (kreator konten), Luh De Suriyani, (aktivis dan penggiat Literasi Digital BaleBengong), serta Putri Alam (Google Indonesia).

Ada sejumlah apresiasi dan program yang diberikan perusahaan medsos pada pembuat konten seperti Youtube for Change. Yosi, personil Project Pop adalah salah satu peraihnya dan berbagi pengalamannya dari London saat diundang mengikuti program. Misalnya reaching-out, menjangkau follower yang suka komen ngawur, dengan siasat komunikasi tertentu.

Selain gelar wicara, terdapat pula tiga lokakarya, pertama lokakarya “Pembuatan Konten untuk Difabel” yang diisi oleh Andi Muhyiddin (Liputan6.com). Kedua, lokakarya “Mesin AIS dan Dampaknya pada Platform Digital dan Jurnalisme” oleh Antonius Malau (Kasubdit Pengendalian Konten Internet Ditjen Aptika Kominfo), dan Dessy Sukendar (Facebook Indonesia). Terakhir, lokakarya mengenai “Fact Checking” oleh Giri Lumakto (Mafindo). Ketiga lokakarya bisa dipilih oleh peserta dan dilaksanakan secara paralel selama dua jam.

Masifnya perkembangan teknologi dan informasi ibarat pisau bermata dua, memiliki dua dampak, yakni positif maupun negatif. Dengan masifnya perkembangan tersebut, tidak jarang muncul berbagai dampak negatif, seperti perpecahan yang disebabkan oleh misinformasi hoax, dan, cyber bullying, hingga adanya berbagai penipuan secara daring.

Dengan ini, perlu ditingkatkan kemampuan masyarakat dalam penggunaan internet secara baik sehingga dampak negatif internet dapat lebih ditekan. Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi merupakan gerakan sinergis yang mendorong pengguna internet/netizen di Indonesia dalam menggunakan internet secara lebih bijak dan bertanggung jawab. Gerakan ini diinisiasi oleh beberapa kementerian, lembaga, komunitas/organisasi, media dan juga private sector.

Menkominfo Johnny G. Plate memberikan tanggapan atas terbentuknya gerakan Siberkreasi sebagai suatu program yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan literasi digital di era perkembangan internet dan teknologi yang semakin masif ini. “Mereka terlibat dalam memberdayakan masyarakat dalam memahami perlindungan data, literasi digital, pengembangan kurikulum, dan tata kelola ruang siber. Gerakan ini telah secara efektif bersama-sama dalam melawan hoax dan cyber-bullying yang merajalela”, ujarnya.

Setelah dua tahun sejak diluncurkan pada 27-29 Oktober 2017 di Jakarta, siberkreasi telah berhasil mewadahi 103 lembaga/komunitas dari berbagai unsur, menjangkau 442 lokasi dengan lebih dari 185.000 peserta aktif yang dikemas dalam program- program sinergi, dan menyebarluaskan 73 buku seri literasi digital yang telah diunduh sebanyak 180.000 kali.