Tag Archives: Pendidikan

Ki Hajar Dewantara Award, sebuah Penghargaan untuk Dedikasi

Ki Hajar Dewantara (KHD) Award adalah sebuah penghargaan yang diinisiasi oleh SEAMEO QITEP in Science. Untuk menghormati para guru sains yang telah berupaya untuk mengembangkan dan membawa proses belajar mengajar hingga ke tingkat yang sangat baik dan penuh kreativitas.

Siang itu saya sampai di Gedung LPMP Bali bertepatan dengan jeda menuju sharing session kedua dalam acara “International Conference on Science Education and Teacher Professional Development”. Orang-orang berpakaian rapi yang saat itu saya perkirakan sebagai peserta, menyebar di sekitar gedung. Ada yang sedang makan siang di ruang makan, mengobrol di koridor, ada juga yang berjalan sambil melihat-lihat di sekeliling.

Sambil berusaha tetap terlihat cool dan tenang di tengah kebingungan harus ke mana, saya mencoba menghubungi seorang panitia. Syukurnya ia segera datang dan bersedia menjadi kompas yang menuntun saya. Sambil mengenalkan diri dan menggambarkan sekilas tentang acara ini, kami berjalan menyusuri koridor menuju sebuah aula yang cukup besar.

Sharing session bersama Lau Chor Yam dan
Dr. Habibah Abdul Rahim. Foto arsip penyelenggara.

Ratusan kursi yang tersusun rapi belum terisi penuh saat saya sampai di aula tersebut. Para panitia tampak berada di wilayah tugas masing-masing, sementara narasumber bersiap di baris depan menunggu waktu untuk disilahkan memulai sesinya.

Berbekal buku panduan dari panitia, saya ambil posisi di deretan belakang sambil mencari tahu apa sebenarnya SEAMEO, QITEP in Science, dan Ki Hajar Dewantara Award yang terdengar asing di telinga. Dan setelah mendapat asupan dari beberapa sumber di internet pula, saya merasa tercerahkan. Istilah-istilah yang disebutkan tadi, ternyata beruhubungan dengan upaya menjawab tantangan dunia pendidikan terutama di bidang sains.

Tantangan dalam dunia pendidikan saat ini tidak hanya sebatas bagaimana memberi layanan yang adil dan merata bagi masyarakat, bagaimana menumbuhkan minat belajar dan suasana yang menyenangkan dalam prosesnya, tetapi juga meningkatkan kompetensi tenaga pendidik sebagai upaya untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif. Sebab guru dan tenaga kependidikan diminta untuk membekali siswanya dengan kompetensi yang cukup sehingga mereka siap untuk menjadi warga dan pekerja aktif di abad ke-21.

Sebagai lembaga yang diharapkan untuk meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan terutama di bidang sains, The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) berupaya mengatasi tantangan ini dengan mendirikan sebuah lembaga, Center of Quality Improvement of Teacher and Education Personnel  (QITEP) in Science.

QITEP in Science  menyediakan sebuah forum bagi para guru, akademisi, peneliti dan pengamat pendidikan untuk berkumpul, mendiskusikan, dan menyebarluaskan pengalaman mereka dalam memfasilitasi proses pembelajaran melalui konferensi internasional tersebut.

Konferensi yang diadakan tiap dua tahun sekali ini bertujuan untuk menyediakan program yang relevan dan berkualitas dalam pengembangan guru dan tenaga kependidikan di bidang sains melalui pengembangan kapasitas, sumber daya, penelitian dan, kolaborasi.

Konferensi yang berlangsung pada 17-19 September 2018 ini dihadiri oleh lebih dari 100 guru dari berbagai daerah yang menjadi bagian dari SEAMEO, termasuk penerima Ki Hajar Dewantara (KHD) Award.

Bertemakan “Innovation in Teaching, Learning, and Student Engagement through the Implementation of Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM)”, forum ini menghadirkan beberapa narasumber yang membagi pengalaman mereka dalam mengimplementasikan STEM di masing-masing negara. Mereka adalah Lau Chor Yam (Academy of Singapore Teacher), Dr. Habibah Abdul Rahim (Malaysia), Lee Saw Im (Malaysia) yang merupakan pemenang KHD Award edisi pertama, dan Herwin Hamid (Indonesia).

STEM sendiri merupakan singkatan dari pendekatan pembelajaran antara Science, Technology, Engineering and Mathematics. Pelaksanaannya dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif, melatih kerja sama, dan softskill. Pendekatan ini mampu menciptakan sebuah sistem pembelajaran secara aktif karena keempat aspek dibutuhkan secara bersamaan untuk menyelesaikan masalah.

“Belajar itu bukan melalui transfer ide secara langsung dari guru kepada muridnya. Dibutuhkan pendekatan-pendekatan khusus dan beberapa mode dalam berkomunikasi,” jelas Lau Chor Yam dalam Bahasa Inggris.

Di menit-menit terakhir penyampaiannya, lebih lanjut lagi diterangkan bahwa penting pula bagaimana membuat siswa mengerti sains melalui sebuah konsep, bukan hafalan semata. Maka dari itu, upaya meningkatkan mutu pendidikan perlu dilakukan secara bertahap dan mengacu pada rencana strategis. Keterlibatan seluruh komponen pendidikan dalam perencanaan dan realisasi program sangat dibutuhkan dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan. Inovasi adalah kunci untuk meningkatkan kompetensi terutama di era digital ini.

Minat siswa untuk melanjutkan karir di bidang sains, tergantung pada beberapa faktor seperti, apakah mereka menikmati pelajarannya dan merasa senang saat belajar. Pengalaman-pengalaman di dalam kelas itu yang pada akhirnya memupuk keinginan siswa tersebut akan ke arah mana nantinya. Sehingga, membuat suasana belajar yang menyenangkan dan penuh inovasi, menjadi hal yang sangat penting untuk dikembangkan agar para lulusan sekolah mampu berpikir fleksibel, dan juga banyak alternatif yang dikuasai dalam pemecahan masalah yang dihadapinya.

Para pemenang Ki Hajar Dewantara Award setelah menerima penghargaan. Foto arsip penyelenggara.

Sosok-sosok seperti para narasumber inilah yang akan diapresiasi dalam Ki Hajar Dewantara (KHD) Award. Ini adalah sebuah penghargaan yang diinisiasi oleh SEAMEO QITEP in Science untuk menghormati para guru sains yang telah berupaya untuk mengembangkan dan membawa proses belajar mengajar hingga ke tingkat yang sangat baik dan penuh kreativitas.

Penghargaan ini terinspirasi dari Ki Hajar Dewantara yang bukan merupakan sosok asing lagi dalam dunia pendidikan. Kontribusi dan komitmennya dalam memperjuangkan pendidikan hingga mendirikan Taman Siswa, membuatnya dianugerahi sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Penyelenggara memberikan beasiswa untuk guru-guru yang terpilih sebagai nominasi KHD Award berupa biaya program, akomodasi, konsumsi, dan transportasi selama program berlangsung. Setelah melalui rangkaian tahapan diskusi, dan presentasi, akhirnya terpilihlah tiga orang yang berhak mendapatkan penghargaan sebagai pemenang.

Posisi pertama, diraih oleh Koh Chee Kiang (Singapore) dengan judul penelitian “FOSTERING THE JOY OF LEARNING THROUGH PHYSICS INQUIRY AND STEM ACTIVITIES”, pemenang kedua adalah Bryant C Acar (Philipines) dengan penelitiannya yang berjudul “GUIDED AND IMMERSIVE TRAINING APPROACH TO ENHANCE KNOWLEDGE AND SKILLS IN SCIENCE INVESTIGATORY PROJECT”, dan posisi ketiga berhasil diraih oleh Dini Siti Anggraeni (Indonesia) dengan penelitian yang berjudul “INTEGRATING ENGINEERING DESIGN PROCESS: AN EFFORT TO IMPROVE STUDENTS’ PROBLEM SOLVING SKILL THROUGH STEM LEARNING”.

Semoga ke depannya, seluruh komponen pendidikan baik guru, institusi, komite, kurikulum, pemerintah, serta siswa, dapat bekerja sama untuk menciptakan inovasi dan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga siswa tidak terburu takut dan tertekan ketika mendengar kata “belajar” dan harus masuk ke sebuah ruangan bernama “kelas”.

The post Ki Hajar Dewantara Award, sebuah Penghargaan untuk Dedikasi appeared first on BaleBengong.

Karya Anak Trisma Juarai Lomba Film Nasional

Penentuannya melalui proses panjang sejak Januari 2018.

Kania, film yang disutradarai siswa SMA 3 Denpasar AAI Sari Ning Gayatri berhasil meraih juara 3 dalam Lomba Kreasi Audiovisual Sejarah (LKAS) 2018 bertema “Sejarah Identitas Negeriku”. Lomba diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah dilakukan pada Jumat, 5 Oktober 2018 di Kantor Kemendikbud di Jakarta.

Penentuan pemenang karya perekaman dokumenter sejarah ini melalui melalui proses panjang.

Ada tiga tahap yang dilalui. Pertama, sejak akhir Januari 2018 panitia memilih 60 dari 654 proposal peserta dari seluruh Indonesia yang dibagi menjadi 3 region.

Peserta yang lolos diberi kesempatan mengikuti workshop perekaman film dokumenter sejarah. Masing-masing region terdiri dari 20 peserta. Bali termasuk Region 2.

Tahap kedua, seluruh peserta lulusan workshop ditugasi membuat film sejarah sesuai proposal yang mereka ajukannya pada seleksi awal.

Selanjutnya, dari 60 karya yang masuk, juri memilih 10 karya finalis di tahap ketiga. Penjurian dilaksanakan pada Jumat, 31 Agustus 2018, di Jakarta.

Penjurian dilakukan oleh tim juri terdiri dari M. Abduh Aziz, S.S (Direktur PFN), Dr. Bondan Kanumoyoso (Universitas Indonesia), Totot Indrarto (Praktisi Film), Dra. Triana Wulandari, M.Si. (Direktorat Sejarah), dan Syukur Asih Suprojo, S.S. (Direktorat Sejarah).

Dewan juri menetapkan 10 karya film dokumenter untuk masuk nominasi dan keputusan dewan juri bersifat mutlak tidak dapat diganggu gugat.

Sebuah Perjalanan dan Pencarian karya AAI Sari Ning Gayatri termasuk salah satu dari sepuluh finalis sebelum kemudian ditetapkan sebagai juara 3. [b]

The post Karya Anak Trisma Juarai Lomba Film Nasional appeared first on BaleBengong.

Kenapa Pendidikan Ingin Semakin Tinggi?

Saat seseorang yang telah bekerja sambil menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi maka biasanya seseorang ini akan mengambil kelas karyawan. Untuk sebagian orang mungkin akan berpikir buat apa kuliah lagi jika sudah bekerja. Apa tidak cape gitu bekerja sambil kuliah? Bagaimana cara mengatur waktunya? Pasti itu akan timbul dari seseorang yang berpikiran jika menempuh pendidikan di  bangku kuliah itu tidak ada gunanya jika sudah mendapat pekerjaan. Selain itu juga mungkin akan muncul pertanyaan buat apa ya seseorang yang sudah bekerja ini kuliah lagi? Ada 3 hal yang membuat seseorang yang sudah mendapat pekerjaan mengambil pendidikan di sebuah perguruan tinggi diantaranya adalah :

  1. Ingin Mendapat Gelar Akademik

Alasan seseorang mengambil pendidikan di perguruan tinggi sambil bekerja adalah untuk mendapat gelar akademik. Misal seseorang yang bekerja itu hanya lulus SMA dan ingin mendapat sebuah gelar akademik misal Ahli Madya atau Kesarjanaan.  Dan menurut beberapa orang gelar akademik ini merupakan sebuah gengsi atau prestise.

  1. Ingin Naik Jabatan

Seseorang yang telah bergelar kesarjanaan strata satu dan sudah bekerja di sebuah perusahaan kadang ada yang mengambil kuliah lagi untuk mendapat gelar kesarjanaan strata dua. Hal ini dilakukan seseorang ini setelah dia mendapat gelar kesarjanaan strata duanya itu agar bisa naik jabatan di tempatnya bekerja.

  1. Ingin Mendapatkan Pekerjaan Dan Penghasilan Yang Lebih Baik

Alasan lain seseorang yang sudah bekerja tapi mencari ilmu lagi di bangku kuliah adalah untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya. Jenjang pendidikan yang ditempuh seseorang memang akan menentukan posisi kerja seseorang di suatu tempat yang juga akan mempengaruhi kepada penghasilan bulanannya.

Itulah 3 hal yang membuat seseorang yang sudah mendapatkan pekerjaan namun mengambil pendidikan lagi di perguruan tinggi.

The post Kenapa Pendidikan Ingin Semakin Tinggi? appeared first on Devari.

Belajar Filsafat, Hendak Menjadi Apa?

Belajar filsafat di zaman sekarang dianggap sebagai hal yang aneh.

Pak Wawan, begitu saya memanggilnya. Bapak dua anak asal Jembrana ini saya kenal sekitar dua tahun lalu melalui Facebook. Ia pengusaha yang suka menulis. Bacaan, pengetahuan, dan pergaulannya sangat luas.

Ia penulis tetap majalah Wartam, majalah Hindu yang kini berkembang menyebarkan pengetahuan agama dan filsafat bagi masyarakat.

Pak Wawan pemegang ijazah master ilmu agama dan kebudayaan, yang berguna bagi hobi menulisnya selain sibuk mengurus perusahaan. Ia senang berdiskusi dan ngobrol ngalor-ngidul. Tak hanya dengan para pemikir dan cendikiawan tetapi juga dengan anak-anak muda, di mana ia menularkan dan berbagi pengetahuan.

“Memauk,” begitu ia mengistilahkannya.

Beberapa waktu lalu saya mampir ke rumahnya, setelah mengambil honor tulisan ke kantor redaksi koran di bilangan Padangsambian, Denpasar. Kami berbincang panjang tentang banyak hal; kebanyakan soal filsafat. Jadilah jebolan universitas bertemu dengan pemuda yang ‘hampir’ lulus universitas bertemu dan “memauk”, diselingi isapan rokok dan secangkir kopi.

Ia memberi masukan berarti untuk saya soal bahasa dalam tulisan dan saya senang sekali dikritiknya. Jadi tak sekadar puja-puji dan ucapan selamat di media sosial yang saya dapat saat mempublikasikan tulisan saya.

Sarjana dan Otodidak

Di Bali, tak banyak pengusaha yang mempunyai hobi menulis. Jika pun ada bisa dihitung dengan jari. Terlebih yang mengambil studi hingga strata dua atau tiga. Biasanya, mereka yang melanjutkan studi ke tingkat lanjut adalah pendidik atau PNS yang meningkatkan kompetensi dan sertifikasi.

Berbeda dengan Pak Wawan. Ia menuntut ilmu murni untuk meningkatkan pengetahuan dan penguasaan terhadap berbagai teori sosial dan humaniora.

Menurutnya, itu sangat berguna bagi hobi menulisnya. Gelar pendidikan yang didapat bisa jadi hanyalah sebuah formalitas. Beberapa kawan menyarankannya melamar menjadi dosen, tetapi ia belum mau karena minat utamanya adalah wirausaha.

“Saya masih banyak tanggungan, menghidupi keluarga. Jika menjadi dosen itu hanya memenuhi ego pribadi saya tanpa melihat kenyataan bahwa ada anak dan istri yang perlu dinafkahi,” begitu ia berujar.

Saya beberapa kali menemui orang seperti Pak Wawan, yang giat menuntut ilmu baik pada insitusi formal seperti universitas maupun belajar sendiri secara otodidak. Keduanya menurut saya sama, karena belajar sejatinya tak harus di sekolah dan universitas.

Pak Wawan mengaku, dengan banyak membaca berbagai ragam buku ia mendapat pengetahuan berlimpah. Ditambah dengan pergaulan intelektual baik di kampus maupun di luar kampus. Hal tersebut diakuinya memberi dampak besar bagi karier menulisnya.

Pak Wawan salah satu contoh orang yang selalu belajar meskipun telah tamat dari universitas. Meski telah meraih gelar tinggi tak membuatnya berhenti menuntut ilmu dan menggali diri. Ijazah dan gelar pendidikan yang dimiliki tak membuatnya berpuas diri. Ia seorang sarjana sekaligus otodidak.

Perbedaan keduanya hanyalah soal ijazah. Jika menuntut ilmu di universitas mendapat ijazah sebagai tanda kelulusan sedangkan bagi yang belajar secara non-formal atau otodidak tidak mendapatkannya. Dalam banyak kasus kaum otodidak bahkan mempunyai kemampuan yang melebihi tamatan universitas.

Kenapa demikian? Saya pikir karena kaum otodidak lebih bebas mengeksplorasi ilmu tanpa sekat-sekat seperti yang ada di universitas. Sejauh pengalaman saya yang pernah mengenyam bangku universitas, ilmu yang didapat di universitas begitu parsial, sesuai dengan disiplin ilmu yang diminati.

Bahkan, tak jarang menumbuhkan sikap “fanatik” terhadap jurusan atau program studi yang dimasuki, sehingga buku-buku yang dibaca hanya seputar disiplin ilmu yang dipelajari .

Tak mau membaca buku di luar disiplin ilmu yang digeluti. Padahal, untuk mengkaji sebuah fenomena sosial misalnya kita perlu disiplin lintas-ilmu sehingga tulisan atau karya akademik menjadi lebih tajam dan bersifat holistik atau menyeluruh.

Pada Pak Wawan, ia sejak lama mengandrungi dan menekuni ilmu filsafat. Menurutnya, ilmu filsafat memberinya cara berpikir kritis dan terstruktur. Lebih jauh lagi, ilmu filsafat membuatnya paham cikal-bakal pengetahuan yang ada di dunia sebab ilmu filsafat adalah ibu dari segala ilmu.

Ilmu filsafat membuatnya makin dalam melihat segala sesuatu, yang awalnya sebelum mengenal filsafat pandangannya seperti kebanyakan orang hanya di permukaan.

Filsafat; barang aneh?

Namun, belajar filsafat di zaman sekarang dianggap sebagai hal yang aneh, di tengah-tengah budaya massa di mana orang tak mau berpikir yang rumit. Alhasil, filsafat identik dengan ilmu orang tua dan serius. Bahkan, oleh beberapa pihak dianggap sebagai hal berbahaya karena membuat seseorang menjadi atheis. Menyangsikan banyak hal termasuk keberadaan Tuhan.

Anggapan yang belum tentu benar, sebab jika melihat etimologi, filsafat berasal dari kata “philo” atau ilmu dan “sofia” yang berarti kebijaksanaan. Filsafat adalah ilmu tentang kebijaksanaan, atau dengan kata lain dengan mempelajari ilmu filsafat seseorang diharapkan menjadi bijaksana.

Mengapa ilmu filsafat tak berkembang khusunya di negara dunia ketiga seperti Indonesia? Salah satunya adalah ketidakjelasan arah atau ketidakterhubungan antara dunia pendidikan dengan realitas konkret kontemporer.

Trayektori Pendidikan

Wahyu Budi Nugroho, Sosiolog Universitas Udayana menyebutnya sebagai “trayektori pendidikan”. Timbulnya trayektori pendidikan ditengarai oleh perceraian antara teori dengan praksis yang kemudian memunculkan klasifikasi ilmu ke dalam dikotomi low science dan high science.

“Persoalan menjadi kian pelik manakala dihadapkan pada tatanan kapitalisme-lanjut yang begitu mensakralkan ukuran-ukuran ekonomi sehingga beberapa ilmu pengetahuan (disiplin) dirasa tak lagi relevan keberadaannya. Hal inilah yang nantinya memunculkan problem “alienasi nilai guna ilmu pengetahuan,” katanya.

Di sisi lain, posmodernitas yang memayungi tatanan kapitalisme-lanjut turut memicu kontestasi antara legitimasi dengan otodidaktisme yang berujung pada diskursus seputar kepakaran formal dan non-formal.

Wahyu menjelaskan, tak dapat dipungkiri, usaha guna merujuk perceraian antara teori dengan praksis telah diupayakan oleh banyak pihak (pemikir), beberapa di antaranya seperti; Immanuel Kant, Karl Marx, Nietzsche, Frankfurt Schule, Ali Syariati, dan Pierre Bourdieu.

Namun, pada akhirnya, perceraian tersebut ajeg terjadi jua.

Menurutnya, memang persoalan terkait bukan disebabkan oleh kurang matang, sistematis, dan “meyakinkannya” berbagai pemikiran serangkaian tokoh di atas, melainkan lebih pada fakta kehidupan artifisial yang diciptakan oleh aparatus-aparatus spat-kapitalismus dalam payung (pos) modernitas.

“Hal inilah yang kemudian turut menyebabkan terjadinya dikotomi antara low science dengan high science dalam dunia pendidikan,” ujarnya.

Wahyu menuturkan, pertanyaan yang kerap menyeruak kala seseorang tengah berjibaku dengan ilmu-ilmu yang terklasifikasi dalam low science adalah “hendak menjadi apa?” Low science bisa dimisalkan seperti filsafat, antropologi, dan sosiologi.

“Lebih jauh, mari mulai dengan satu pernyataan: “Menjadi seorang filsuf”, agaknya pernyataan tersebut begitu abstrak. Menjadi filsuf, untuk apa? Seberapa besar kemungkinan profesi tersebut akan memberikan penghasilan berlimpah? Atau jangan-jangan, tak ada lagi profesi filsuf di era sekarang?” pungkasnya.

Dunia Sunyi

Hal lainnya, kata Wahyu, seberapa besar kemungkinan profesi tersebut akan memberikan penghasilan berlimpah? Atau jangan-jangan, tak ada lagi profesi filsuf di era sekarang? Serangkaian pertanyaan tersebut kiranya bakal muncul tatkala pernyataan di atas tercetus—menjadi seorang filsuf.

Dan memang, profesi sebagai filsuf tak lagi diakui masyarakat di era sekarang, jikapun ada profesi tersebut merupakan “achieved status”, artinya memerlukan berbagai “kualifikasi formal” guna menyandangnya, ambilah misal Romo Magnis, S. T. Sunardi, dan Yasraf Amir Piliang yang telah diakui sebagai para filsuf tanah air, kesemuanya lahir dari rahim pendidikan formal, menyandang gelar doktor atau profesor, memiliki karya-karya yang terjamin secara ilmiah-akademis, dan berbagai kualifikasi formal-akademis lainnya.

Ilmu filsafat dan “filsuf” adalah dunia yang sunyi. Tak heran, karena kurangnya peminat jurusan filsafat di sebuah universitas di Indonesia ditutup. Tak punya nilai jual. Hanya segelintir orang yang mau suntuk dan tekun mempelajarinya. Mungkin hanya Pak Wawan dan teman-teman diskusinya, larut dalam pemikiran sarat renungan saat bertemu dan “memauk” bersamanya. [b]

The post Belajar Filsafat, Hendak Menjadi Apa? appeared first on BaleBengong.

Kegairahan Pers Pelajar Bali Menekuni Jurnalisme

Sebagian pemenang Kording tingkat SMP yang diikuti sekolah luar Bali

Menjadi juri di sebagian perhelatan event Presslist oleh Madyapadma Journalistic Park SMA Negeri 3 Denpasar kadang menekan jiwa. Apakah kita sudah membuat karya jurnalistik sebaik kawan-kawan pers pelajar SMP dan SMA ini?

Mari tengok karya anak SMP yang berlaga di lomba Koran Dinding (Kording) tahun ini, Presslist ke-9. Tema besarnya, Menjalin Indonesia. Tantangannya, bagaimana tim Kording merespon isu ini dengan situasi sekitarnya. Bagaimana praktik toleransi, kebanggaan menjadi Indonesia, dan pembelaan pada isu-isu yang membuat Indonesia ini kaya dengan keragamannya.

Anak-anak usia di bawah 16 tahun ini bahkan ada yang membuat liputan utama soal wacana kebangsaan dan ancaman organisasi kemasyarakatan yang mengancam kebhinekaan. Ada juga yang membuat survei di sekolah, apa yang mereka cari jika berteman. Salah satunya muncul soal kesamaan agama. Walau masih terasa diarahkan atau ingin verbal menulis soal kebangsaan, upaya mereka mempelajari isu ini pasti bukan hal gampang.

Menjalin Indonesia tak hanya soal keragaman etnis, nasionalisme, dan jargon kebangsaan. Namun soal keadilan sosial, akses jaminan kesehatan apakah sudah adil, dan hal-hal keseharian lainnya. Termasuk hak anak-anak akan lapangan sepak bola yang aman atau jalur sepeda ke sekolah, kan.

Di rubrik lain juga membuat tertegun, misalnya di Tajuk Rencana tentang apa sikap redaksi atas Laput yang mereka buat. Juga karya-karya di rubrik Resensi. Karena buku yang dikupas sama, saya buru-buru pinjam bukunya di panitia.

Buku berjudul Bali Punya Nilai karya Wayan Bagus Perana Sanjaya, siswa SMAN 3 Denpasar ini untungnya bisa dilahap dalam 30 menit, kumpulan opini yang mudah dibaca. Semua artikel resensi peserta Kording menarik, membuat ingin membaca bukunya. Isinya juga menggugah, bagaimana anak muda melihat bagian dari basa basi Bali, mengutip judul buku Aryantha Soetama.

Nominasi dan pemenang lomba Kording bisa dilihat di website Madyapadma ini, unit kegiatan siswa yang fokus pada jurnalistik dan penelitian. Sementara untuk lomba majalah tingkat SMP juara 1 diraih Progress dari SMP Cipta Dharma, juara 2 GANA SPENUDA dari SMP Nusa Dua Kuta Selatan, dan juara 3 Genitri dari SMP Negeri 9 Denpasar.

Sedangkan juara lomba karikatur diraih oleh A.A Gede Bayu Tridivtha Wiradiningrat dari SMK Bali Dewata sebagai juara 1, Putu Garas Prahmantara dari SMK TI Bali Global Denpasar sebagai juara 2 dan Wanda Muthia Almirasari dari SMA Negeri 6 Denpasar sebagai juara 3. Kartunis Jango Paramartha, pendiri majalah Bogbog menjadi juri dan pelatih workshop karikatur.

Puncak Presslist tahun ini pada 2 September lalu juga heboh, sama dengan perhelatan tahun-tahun sebelumnya. Kerja besar karena diluncurkan aneka karya serius. Kalau membaca ringkasan acara di bawah ini, bahkan bisa capek duluan.

Tim Madyapadma merilis MP News (Koran Madyapadma) versi online yang diterbitkan sejak tahun 2010 hingga edisi tahun 2018 berjumlah 66 edisi, Kemudian peluncuran 9 buku terbaru karya anak-anak pegiat Madyapadma yang dibuat sendiri, tidak mencetak dalam jumlah massal.

Sebanyak 9 buku yang dibuat sendiri tanpa cetak secara massal yang dirilis saat puncak Presslist 9 dan YSA 6.

Walikota Denpasar IB Dharmawijaya Mantra menyerahkan Hak Kekayaan Intelektual digital (e-HKI) untuk karya siswa SMA Negeri 3 Denpasar yang telah berlomba di event Internasional. Selanjutnya ada pameran poster ilmiah Bali Youth International Exhibition (BYRIE) berisi rangkuman hasil penelitian pelajar 11 negara yang akan dipilih poster terbaik.

Dalam rangkaian Presslist juga dihelat lomba film dalam Youth Sineas Award (YSA) ke-6. Mereka menghelat Bioskop Trisma (Bisma) pemutaran film karya Madyapadma.

Kalian pemimpin Indonesia saat era keemasan, 25 tahun lagi. Tetap berakar dan rendah hati, eda ngaden awak bisa, depak anake ngadanin,” seru Ida Bagus Sudirga, Kepala Sekolah SMAN 3 Denpasar soal kalimat petuah yang bermakna biarkan orang lain yang menilai ini.

Cok Istri Mega Wulandari, Ketua Panitia Acara Presslist 9 dan YSA 6 ini bersemangat memandu rekan-rekannya selama perhelatan yang menguras tenaga di sela-sela waktu sekolah sampai sore ini.

Youth Sineas Award tahun ini diikuti fiksi 52 film dan 29 film dokumenter. “Ada total 801 orang yang terlibat,” urainya riang.

Aula SMAN 3 Denpasar yang kerap menjadi pusat kegiatan puncak terlihat penuh dengan deretan karya aneka lomba. Makin ramai dengan belasan anak-anak pers pelajar yang melakukan lomba reportase lapangan. Gairah yang makin sulit ditemukan di jurnalis media-media mainstream.

The post Kegairahan Pers Pelajar Bali Menekuni Jurnalisme appeared first on BaleBengong.