Tag Archives: Karangasem

ARJANA, Sang Pengungsi

Hingga saat ini ribuan pengungsi masih tinggal di GOR Swecapura salah satu pusat pengungsian di Klungkung. Foto Anton Muhajir.

Oleh Ni Kadek Kasih

Arjana berasal dari Nangka. Ia mengungsi sejak 22 September 2017 di Banjar Gumung.

Pertama kali ia mengungsi di Banjar Tohpati selama 3 hari. Kemudian ia dan keluarganya digusur oleh Badan SAR Nasional karena tempatnya mengungsi dianggap bisa kena awan panas menembus. Diperkirakan hujan abu dan lahar dingin sampai di tempat itu. H

Hingga akhirnya dia diungsikan di Banjar Gumung. Sampai di sana Arjana merasa sangat cemas dan takut. Lama kelamaan, ia merasa tenang karena semua keluarga sudah ada di sana mendampinginya.

Di pengungsian Arjana merasa senang, karena dia mendapat teman baru. Ia juga mendapat sumbangan sembako dan pakaian. Tetapi ia juga mencemaskan tentang di mana ia akan melanjutkan sekolah, sementara sekolahnya masih dalam keadaan KRB III.

Ia pun sibuk mencari teman yang senasib dengannya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Febri dan Kasih. Mereka pun merencanakan untuk melanjutkan sekolah di SMP 4 Bebandem.

Setelah hamper seminggu mengungsi, Arjana pun mulai bosan. Apa sebab? Karena suasananya sangat panas dan banyak ada nyamuk.

Ia juga kurang nyaman karena setiap akan buang air kecil atau besar, ia selalu mengantre karena WC yang ada hanya 1 dan itu pun jauh dari tempat pengungsian Arjana.

Hal yang menyenangkan adalah banyak mendapat sumbangan tetapi sekarang sumbangan mulai menipis dan kekurangan air bersih. Arjana pun mulai resah dengan keadaannya saat ini.

Arjana mulai memperhatikan keadaan pengungsi dan supaya ia cepat kembali ke rumah dan belajar di SMP 3 Bandem, berkumpul dengan sahabat-sahabatnya dulu. Merangkai kenangan manis di Spentriba. [b]

The post ARJANA, Sang Pengungsi appeared first on BaleBengong.

Pengalaman Saya di Pengungsian

Anak-anak pengungsi Gunung Agung menggambar sebagai hiburan di tempat mengungsi. Foto Herdian Armandhani.

Oleh Putu Devi Yunita Eka Putri

Pada suatu hari di pengungsian rasanya itu gelisah, karena di tempat pengungsian itu sangat sempit. Tidurnya pun harus berdesak-desakkan sama orang-orang.

Tetapi saya merasa gembira dan senangnya saat bertemu dengan teman-teman baru. Senangnya lagi dapat sekolah di SMP favorit. Saya di situ bertemu teman-teman dan diajak bermain.

Sepulang sekolah sorenya kan dapat makan. Makanannya cuma tahu, tempe. Rasanya bosan. Lama kelamaan pun saya bosan di sana. Saya pun pulang ke Karangasem.

Tidak lama kemudian saya disuruh mengungsi lagi ke Kastala. Di sana tempatnya tidak terlalu sempit, tapi banyak nyamuk dan kalau panas sangat gerah sekali. Lalu kalau hujan saya takut longsor. Tapi kalau pagi harinya saya dapat bertemu dengan teman-teman. Saya dapat main ke sungai dapat main air di situ karena pengungsiannya dekat sama sungai dan kita pun dapat bersenang-senang di sana.

Saya pun dapat ikut les nari. Saya pun suka dengan tari-tarian. Saya dapat nari di Pura-Pura sama teman-teman saya. Hati saya amat bahagia.

Sekian dari cerita saya jika ada salah kata saya mohon maaf. [b]

The post Pengalaman Saya di Pengungsian appeared first on BaleBengong.

Pengalaman Saya di Pengungsian

Anak-anak pengungsi Gunung Agung menggambar sebagai hiburan di tempat mengungsi. Foto Herdian Armandhani.

Oleh Putu Devi Yunita Eka Putri

Pada suatu hari di pengungsian rasanya itu gelisah, karena di tempat pengungsian itu sangat sempit. Tidurnya pun harus berdesak-desakkan sama orang-orang.

Tetapi saya merasa gembira dan senangnya saat bertemu dengan teman-teman baru. Senangnya lagi dapat sekolah di SMP favorit. Saya di situ bertemu teman-teman dan diajak bermain.

Sepulang sekolah sorenya kan dapat makan. Makanannya cuma tahu, tempe. Rasanya bosan. Lama kelamaan pun saya bosan di sana. Saya pun pulang ke Karangasem.

Tidak lama kemudian saya disuruh mengungsi lagi ke Kastala. Di sana tempatnya tidak terlalu sempit, tapi banyak nyamuk dan kalau panas sangat gerah sekali. Lalu kalau hujan saya takut longsor. Tapi kalau pagi harinya saya dapat bertemu dengan teman-teman. Saya dapat main ke sungai dapat main air di situ karena pengungsiannya dekat sama sungai dan kita pun dapat bersenang-senang di sana.

Saya pun dapat ikut les nari. Saya pun suka dengan tari-tarian. Saya dapat nari di Pura-Pura sama teman-teman saya. Hati saya amat bahagia.

Sekian dari cerita saya jika ada salah kata saya mohon maaf. [b]

The post Pengalaman Saya di Pengungsian appeared first on BaleBengong.

Matinya Tulamben akibat Krisis Gunung Agung

Suasana pantai Tulamben yang biasanya ramai kini sepi sejak status Gunung Agung naik jadi Awas. Foto I Nyoman Suastika.

Pariwisata pun mati suri di Tulamben sejak status Gunung Agung menjadi Awas.

Gunung Agung merupakan salah satu gunung di Kabupaten Karangasem. Setelah Gunung Agung berstatus awas pada 22 Oktober 2017, sebagian warga yang berada di radius 12 km pun dievakuasi ke berbagai daerah di Bali.

Warga yang dievakuasi adalah mereka yang tinggal di 28 desa di Kabupaten Karangasem. Salah satunya Desa Tulamben.

Desa Tulamben merupakan salah satu desa yang terdampak langsung terhadap bencana Gunung Agung setalah statusnya menjadi Awas atau pada level 4.

Desa Tulamben masuk dalam KRB 2. Dalam hal ini kena zona merah. Dalam zona ini tidak di perbolehkan ada aktivitas apapun di Desa Tulamben. Sehingga semua warga dianjurkan untuk mengungsi ke berbagai daerah di Bali.

Jumlah warga Tulamben 11.843 jiwa. Sebagian besar mengungsi.

Dengan penetapan Desa Tulamben masuk KRB 2 maka aktivitas tidak ada sama sekali, termasuk kegiatan pariwisata.

Kegiatan pariwisata di Tulamben adalah penyelaman dan snorkling. Tulamben merupakan objek wisata yang sudah terkenal dengan keindahan bawah lautnya. Ada situs kapal tenggelam pada Perang Dunia kedua pada tahun 1942. Kapalnya lebih dikenal dengan nama USAT LIBERTY Tulamben Wreck.

USAT LIBERTY Wreack Tulamben berlokasi di Br. Dinas Tulamben. Banjar ini merupakan satu dari enam dusun di kedesaan Tulamben yang terdampak langsung oleh penutupan aktivitas pariwisata Tulamben.

Dengan ditutupnya aktivitas objek wisata ini, otomatis semua pengusaha tutup dari aktivitas penyelaman. Begitu pula warga yang ikut pengungsi.

Warga Tulamben tergantung dengan pariwisata. Dengan demikian perekonomian masyarakat menurun drastis.

Berdasarkan pantauan pagi tadi, Minggu, 29 Oktober 2017 di Pusat Parkir dan pantai Tulamben tidak ada pengunjung sama sekali. Padahal biasanya pada pukul 9.00 mulai wistawan terutama asing sudah berdatangan.

Bahkan semua waruh ditutup seolah-olah bukan Tulamben yang dulu.

Dampak bencana ini sangat besar, misalnya masyarakat harus hilang pekerjaan, pendapatan masyarakat menurun, juga tidak ada kunjungan wisatawan. Tulamben seperti pariwisata yang mati suri.

Warga Br. Dinas Tulamben mengungsi ke berbagai daerah seperti Desa Tembok, Penuktukan, Sambirenteng, dan desa lainnya. Di pengungsian tidak ada aktivitas sama sekali. Mereka hanya bercanda tawa sedangkan untuk anak-anak diizinkan sekolah di lokasi pengungsiannya.

Harapan ke depan ada solusi untuk membantu warga yang terkena bencana ini dengan demikian dapat meringankan beban warga di pengungsian. Selain juga semoga ada pihak terkait membantu menjaga kawasan Pariwisata Tulamben. [b]

The post Matinya Tulamben akibat Krisis Gunung Agung appeared first on BaleBengong.

Susah Senang Hidup di Tempat Pengungsian

Pengungsi Gunung Agung di Desa Bungaya, Karangasem selesai mengikuti kelas jurnalisme warga BaleBengong pada Minggu (22/10). Foto Anggara Mahendra.

Oleh Ni Luh Astiti

Perkenalkan nama saya Ni Luh Astiti, biasa disapa Astiti. Saya berasal dari Desa Muntig tetapi sekarang mengungsi di Desa Culik. Di pengungsian saya dan keluarga tidur di atas karpet dan makanan kami nasi telur dan mie.

Di sana kami hidup mandiri dan saling bagi-berbagi. Setiap pagi saya bangun pukul 4.30 mengantar orang tua pulang dan bersiap-siap mau ke sekolah. Di pengungsian saya pun dapat belajar Bahasa Inggris. Kami dibimbing oleh kakak-kakak yang ada di Rumah Sehat.

Hal yang paling membuat saya malu ialah di saat mandi kami mandi bersama-sama. Putra-putri bercampur hanya memakai celana pendek dan baju dalam.

Sebenarnya kami sudah bosan tinggal di pengungsian karena setiap malam orang-orang ribut bercerita, saya jadi susah tidur.

Dan makanannya hanya mie telur nasi itu yang membuat saya bosan.
Hal paling terkesan ialah di saat kami dikunjungi artis dan ibu Bupati Karangasem. Kami pun dapat foto selfie di pengungsian.

Kami bermain setiap pagi kami berangkat ke sekolah. Sekolah kami hanya menumpang. Awalnya kami sekolah di SMKN 1 Kubu tetapi sekolah kami ditutup. Karena itu kami menumpang sekolah di SMK 1 Abang. Di sana siswa-siswanya ramah. Halaman sekolahnya dipenuhi tanaman obat.

Hal paling menyenangkan di saat sore kami olahraga bersama seperti bulutangkis, voli dan yang lain. Malamnya kami menonton karena sudah disediakan televisi oleh-orang yang menyumbang.

Jika hari petang kami diajak sembahyang di tempat pengungsian. Karena tempat yang kami tinggali adalah Pura Dalem Setra, maka kami diajak sembahyang setiap hari memohon lindungannya.

Di tempat pengungsian banyak orang-orang yang menyumbang. Hal yang membuat saya sedih saya harus berpisah dengan kakek nenek saya. Kakek saya dirawat di rumah sehat. Hal yang paling membuat saya sedih setiap malam saya teringat almarhum ayah saya karena saya baru ditinggalkan.

Hal yang membuat saya bertanya-tanya kapan Gunung Agung akan meletus. Kami sudah lama mengungsi tapi Gunung Agung tidak kunjung meletus hanya berstatus Awas, Awas dan Awas.

Yang membuat saya malu kepada ibu saya setiap pagi saya meminta uang bekal untuk ke sekolah di samping itu ibu saya tidak bekerja hanya mengandalkan hewan ternak. Ibu saya kebingungan kemana harus mencari uang untuk bekal saya. Setiap pagi saya hanya bisa mengantar pulang dan sore menjelang malam saya menjemput ibu saya. [b]

The post Susah Senang Hidup di Tempat Pengungsian appeared first on BaleBengong.