Tag Archives: Budaya

Program S-EXPRESS 2017: Indonesia

Program tahunan S-Express Indonesia datang kembali.

Program Minikino ini telah dilakukan di Indonesia sejak 2003. Sampai saat ini, dia masih menjadi jalur distribusi satu-satunya yang menghubungkan berbagai negara-negara di Asia Tenggara dalam bentuk pertukaran program film pendek secara rutin satu kali tiap tahunnya.

S-Express juga meliputi kegiatan (pemutaran program film pendek) dan diskusi terbuka. Pesertanya para programmer dan filmmaker yang karyanya terpilih pada tahun tersebut. Kegiatan ini juga terbuka untuk penonton umum di masing-masing negara yang terlibat.

Program S-Express 2017 Indonesia secara resmi telah selesai dikurasi dan siap untuk didistribusikan kepada penonton. Telah terpilih 5 film pendek Indonesia yang tahun ini menampilkan esensi kemanusiaan dalam persaingan, harapan, kepercayaan dan agama, di mana sifat-sifat dasar manusia terlihat jelas.

Berikut adalah detail ke-5 film pendek dalam S-Express 2017 Indonesia:

  1. Ijum Balogo (sutradara: Husin / 2017 / durasi 02:20)
  2. Bunga dan Tembok (sutradara: Eden Junjung / 2016 / durasi: 16:27)
  3. Reform (sutradara: M. Ramza Ardyputra / 2016 / durasi: 6:06)
  4. Sepanjang Jalan Satu Arah (sutradara: Bani Nasution / 2016 / durasi: 16:00)
  5. Pangreh (sutradara: Harvan Agustriansyah / 2016 / durasi: 16:33)

Penyusun dan penanggung jawab program S-EXPRESS 2017 INDONESIA adalah Fransiska Prihadi, yang juga Direktur Program Festival Film Pendek Internasional the 3 Minikino Film Week, Bali, pada 7 – 14 Oktober 2017 nanti. Dalam acara tersebut akan diputar seluruh program film S-Express dari negara Asia Tenggara yang terlibat tahun ini yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Myanmar, dan Vietnam.

Program S-Express 2017 Indonesia direncanakan akan berkeliling dan diputar di berbagai negara. Beberapa festival film telah mengumumkan bahwa program ini akan diputar dan jadi bagian program di Thai Short Film & Video Festival di Bangkok (29 Agustus – 10 September 2017) serta Wathann Film Festival di Yangon, Myanmar (6-11 September 2017).

Minikino juga membangun kerja sama dengan beberapa festival film pendek dunia, yang saat ini  sedang dalam tahap kurasi serta programming. Karena itu tetap terbuka kemungkinan program S-Express 2017 Indonesia juga diputar di wilayah Internasional lebih luas lagi.

Tentang S-Express

Memperkenalkan program S-Express Indonesia lebih mudah disampaikan dengan memperkenalkan sejarah MINIKINO, sebuah organisasi film pendek yang lahir di Denpasar, Bali, tahun 2002.

Minikino dibentuk untuk memfokuskan kegiatannya pada penyebaran dan sosialisasi budaya film pendek. Secara konkret Minikino melakukan kegiatan rutin, sebuah bentuk festival film pendek sepanjang tahun berupa pemutaran program film pendek yang diikuti dengan diskusi yang dimoderasi.

Secara berkala Minikino juga mengadakan lokakarya dan secara intensif membuka jaringan-jaringan kerja baru dengan melakukan programming, menjalin hubungan pertukaran film pendek dengan organisasi-organisasi lain yang bersinggungan dengan kegiatan film pendek maupun film secara umum, serta juga menawarkan program film pendek untuk berbagai festival baik Nasional maupun Internasional.

Dalam perjalanan waktunya, Minikino semakin menyadari pentingnya kesadaran pada bentuk karya Film Pendek atau dalam termin bahasa Inggris disebut “Short Film”. Ketika Minikino didirikan oleh Tintin Wulia, Kiki Zayin dan Judith Goeritno oleh pada tahun 2002, sebuah trend populer di kalangan remaja Indonesia memberi label “Film Indie” atau “Film Independen” kepada sejenis film.

Namun, sayangnya, penggunaan istilah Film Indie di Indonesia tidak diikuti dengan penjabaran arti ataupun pemahaman lebih dalam terhadap istilah ini. Juga tidak ada kesadaran lebih dalam terhadap sejarah film dunia, dari mana istilah “independent film” ini berasal.

S-Express Short Film Program Exchange lahir pada 2002, diinisiasi oleh Yuni Hadi yang pada masa itu masih bekerja untuk Substation di Singapura, kemudian Amir Muhammad yang bekerja untuk Malaysian Shorts, dan Chalida Uabumrungjit  dari Thai Film Foundation.

S-Express adalah sebuah kegiatan tahunan yang melakukan pertukaran program film pendek secara regional . Film-film pendek yang dinilai menjadi tolok ukur perkembangan produksi film pendek di negara-negara yang terlibat didistribusikan. Diinisiasi oleh penggerak dari Singapura, Malaysia dan Thailand pada 2002, pertukaran ini secara resmi terjadi pada 2003 dalam bentuk screening dan diskusi di negara masing-masing. Program ini terbuka untuk masyarakat dan para penggiat film untuk berkesempatan menonton produksi film pendek negara tetangga mereka.

Minikino mempresentasikan kegiatan tersebut pada 2003 dan membuka pintu untuk mengirim program pendek Indonesia keluar, dipresentasikan kepada negara-negara lain.

Penayangan program S-Express merupakan kegiatan tahunan yang melibatkan kinerja yang bertahap, mulai dari pengurusan izin penggunaan karya, proses kurasi yang dilanjutkan dengan programming, kemudian dilanjutkan dengan penayangan program-program ini kepada masyarakat. Karena proses kurasi dan programming yang biasanya memakan waktu sepanjang tahun, program pada tahun sama biasanya baru bisa masuk ke jadwal-jadwal pemutaran pada tahun berikutnya. Kondisi ini umumnya terjadi pada tahun-tahun awal S-Express dijalankan.

S-Express pertama untuk Indonesia pada 2004 mengusung tema sebuah pertanyaan yang sering mengganggu para filmmaker, “What is the next step after I finished my film?”. Program ini ditayangkan di Indonesia pada September 2004 di Jakarta.

Programming dan penayangan program S-Express dilakukan  secara rutin setiap tahun sampai saat ini. Sejak tahun 2015, jaringan kerja dan program S-Express menjadi salah satu sub-program dari festival tahunan Minikino Film Week.

Tahun 2017, merupakan tahun ke 15 sejak S-Express pertamakali diinisiasi. MINIKINO dan semua programmer S-Express menjadi saksi sejarah perkembangannya, melihat berbagai film festival di regional Asia Tenggara yang bermunculan dan tumbuh, dan menggunakan program ini.

Bagi masing-masing negara yang terlibat, Program tahunan S-Express memiliki beragam makna yang berbeda-beda, dan lebih jauh merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan film pendek di Asia Tenggara. S-Express adalah sebuah gerakan penting dengan jaringan kerja yang mencengangkan. [b]

Kontak:
Edo Wulia, Minikino Director
Email: [email protected], [email protected]
Hp: +62 813 5322 9865

Fransiska Prihadi, Program Director of Minikino
email: [email protected]
Hp: +62 8123 866 228

web: minikino.org.

The post Program S-EXPRESS 2017: Indonesia appeared first on BaleBengong.

Simbiosis Mutualisme Lokal dan Pendatang di Bali

Para pemudik menunggu menjelang keberangkatan di Terminal Ubung, Denpasar pada Juni 2017. Foto Anton Muhajir.

“Susah ya gak ada orang Jawa..,”

Begitu kawan saya berujar saat hendak berangkat kerja. Dia bingung mencari penjual nasi yang pada hari-hari biasa mudah ditemui di pinggiran jalan Kota Denpasar.

Pada masa libur panjang Idul Fitri memang susah mencari pedagang kaki lima. Penyebabnya, para pedagang yang kebanyakan pendatang (baca: orang Jawa) pergi mudik ke kampung halaman merayakan hari besar agama Islam tersebut.

Biasanya seminggu atau dua minggu setelah Idul Fitri mereka akan balik ke Denpasar dan kembali bekerja sebagai pekerja non-formal. Misalnya pedagang kaki lima, buruh bangunan, pegawai salon dan spa, montir, pembantu rumah tangga, tukang cukur, bahkan pemulung dan tukang sampah. Sisanya bekerja di sektor pariwisata seperti karyawan hotel, supir, atau satpam.

Belum ada data pasti jumlah pendatang di Denpasar. Di sebuah portal berita yang saya baca saat puncak arus mudik Lebaran lalu jumlah pemudik di pelabuhan Gilimanuk yang meninggalkan Bali berjumlah 270 ribu orang.

Dari situ kita bisa tafsirkan besarnya jumlah penduduk pendatang di Bali. Persentasenya hampir 6 persen dari sekitar 4,2 juta penduduk Bali. Lebih dari 31 persen dari sekitar 840.000 penduduk Denpasar termasuk yang berasal dari berbagai kabupaten di Bali.

Jumlah pendatang yang menetap di Denpasar tak ayal membuat Denpasar menjadi sepi saat ditinggal mudik ketika Lebaran tiba. Ruas-ruas jalan menjadi lengang, warung-warung makan dan toko-toko tutup.

Di saat seperti ini Denpasar menunjukkan wajah aslinya sebagai kota urban seperti halnya Jakarta, tujuan urbanisasi yang sebagian besar penduduknya bukan warga asli melainkan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia.

Saya tak hendak menulis tentang relasi penduduk lokal maupun pendatang yang kerap dianggap sebagai ancaman bagi warga lokal.
Saya ingin menulis tentang relasi antara penduduk lokal dan pendatang yang “mesra” dan harmonis yang sejatinya sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Ini terbukti dengan adanya kantong-kantong penduduk muslim yang kita temui di beberapa daerah di Bali seperti di Karangasem, Buleleng dan Jembrana jauh sebelum para pendatang dari Jawa yang merantau dan menetap di Bali belasan tahun belakangan.

Cerita kawan saya di awal tulisan ini menunjukkan tergantungnya warga lokal terhadap pendatang. Sebab, sektor-sektor non-formal memang kebanyakan dikuasai oleh pendatang. Bukan berarti warga lokal tak ada yang berkecimpung di sektor non-formal seperti pedagang kaki lima. Ada tetapi tak sebanyak warga pendatang. Wacana warga pendatang yang disebut sebagai ancaman terhadap warga lokal hendaknya disikapi dengan arif agar tidak terjebak dalam isu rasial.

Saya melihat relasi warga lokal dan pendatang ibarat simbiosis mutualisme, saling membutuhkan dan menguntungkan. Bidang pekerjaan yang tak banyak dikuasai oleh warga lokal diambil alih oleh warga pendatang.

Jika memang tak ingin dikuasai warga pendatang ada baiknya warga lokal mulai mengisi sektor-sektor non-formal dan membuang jauh rasa gengsi yang sering menjadi penghambat kemajuan. Ekonomi Denpasar yang seakan “lumpuh” selama liburan Idul Fitri menjadi penanda bahwa warga pendatang berperan besar dalam perputaran ekonomi di Kota Denpasar.

Beberapa tahun terakhir ada wacana yang dicetuskan oleh seorang senator asal Bali yakni tentang pemberdayaan ekonomi orang Bali dengan memberi label “Sukla” untuk warung milik orang Bali. Label ini artinya bersih dan suci baik dari segi kebersihan maupun cara penyajian makanan.

Seorang teman dalam status FB-nya mempertanyakan istilah “sukla” ini. “Bukankah istilah sukla hanya untuk makanan atau persembahan kepada para Bhatara atau Dewa?” begitu tulis teman saya.

Kini di beberapa ruas Kota Denpasar kita temui warung berlabel agama, Warung Hindu, sebagai penanda bahwa warung tersebut adalah milik orang Bali dan beragama Hindu.

Di sebuah buku yang saya baca di masa lalu saat Soekarno berkunjung ke India heran melihat warung atau toko berlabel agama seperti warung Muslim atau Hindu. Saat itu di Indonesia tak ada warung seperti itu. Namun kini di negeri kita warung berlabel agama mudah kita jumpai. Kita menjadi begitu berbeda dan tersekat bahkan dalam urusan makan.

Jika ingin memberdayakan orang Bali menurut saya tak perlu membuat gerakan berbau rasial. Orang Bali mesti mau mengisi sektor non-formal yang selama ini diisi warga pendatang tanpa harus menciptakan label-label yang menjauhkan kita dari semangat keberagaman.

Pendidikan juga harus diperhatikan, akan sangat bagus jika banyak pemuda dan pemudi Bali mengenyam universitas baik di Bali maupun di luar Bali. Jika lapangan pekerjaan di Bali dirasa sedikit ada baiknya merantau ke luar daerah. Untuk mengasah diri dan mencari pengalaman baru.

Dengan demikian tak ada lagi yang merasa bahwa warga pendatang adalah ancaman bagi warga lokal, sebuah sentimen yang bisa memicu perpecahan dan dijadikan komoditas politik untuk meraih kekuasaan. [b]

The post Simbiosis Mutualisme Lokal dan Pendatang di Bali appeared first on BaleBengong.

Sejarah dan Kekuatan di Balik Topeng Singapadu

Pameran topeng singapadu di Bentara Budaya Bali Gianyar. Foto Bentara Budaya Bali.

Topeng Singapadu memiliki jejak sejarah panjang.

Tradisi seni topeng singapadu ini merujuk pada Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, desa asal topeng tersebut. Meski telah ada sejak abad ke-18, terbukti hingga kini tradisi tersebut tak pernah lekang oleh waktu.

Berangkat dari kesadaran merawat serta mengembangkan warisan budaya adi luhung tersebut, Asosiasi Seniman Singapadu dan Desa Singapadu, bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali (BBB) menyelenggarakan pameran retrospektif topeng bertajuk “Singapadu: The Power Behind The Mask”.

Pameran dibuka secara resmi pada Sabtu (6/8) di Jalan Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Gianyar, Bali.

Peresmian pameran ini ditandai pertunjukan Tari Kreasi Barong Api yang dikoreograferi oleh I Nyoman Cerita dan I Kadek Sugiarta. Sedangkan sebagai penata tabuh adalah I Wayan Darya.

Tari Barong Api menggambarkan kisah tentang Cokorda Agung Api, generasi pertama seniman topeng Singapadu, terinspirasi membuat Barong Ket dari kilauan cahaya matahari.

Cokorda Agung Api merupakan salah satu putra dari Dewa Agung Anom, kerap dikenal sebagai Sri Aji Wirya Sirikan, Raja atau Dalem Sukawati yang berasal dari Klungkung. Secara piawai, tujuh penari berpenampilan gagah meliukan tubuhnya menyerupai gerak-gerak meditatif dan gerak-gerak memahat serta sampai menjadi sebuah sungsungan yang menjadi persembahan masyarakat.

Pameran akan berlangsung hingga 13 Agustus 2017, menghadirkan beragam tapel dari bentuk topeng barong (Bebarongan) atau topeng dramatari (Patopengan) hingga karya sejumlah seniman muda berupa topeng-topeng modern dan kontemporer.

Sebanyak 165 karya topeng kreasi 68 seniman dipamerkan. Di antaranya terdapat Tapel Barong Ket, Tapel Celuluk, Topeng Sidakarya, hingga topeng-topeng yang dipakai untuk seni tari hiburan. Setiap topeng seolah menegaskan eksistensinya tersendiri, namun secara keseluruhan terangkai tak terpisahkan sebagai jati diri masyarakat Singapadu.

Sebagai kurator pameran adalah I Made Bandem dan I Wayan Dibia. “Kekuatan di balik topeng-topeng Singapadu ini adalah adanya rentangan sejarah panjang, legenda unik, estetika unggul, ikonografi tepat, seniman hebat, proses topeng yang rumit dan mampu membangkitkan taksu atau karisma” ungkap I Made Bandem, dalam sambutan pembukaan pameran.

Ini merupakan kali kedua Topeng Singapadu dipamerkan di BBB, sebelumnya diadakan 6 tahun lalu, tepatnya November 2011.

Pameran Topeng Singapadu ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Gusti Ngurah Wijana, mewakili Bupati Gianyar. Secara garis besar, beliau memberikan apresiasi sedalam-dalamnya atas upaya yang dilakukan seniman Singapadu untuk melestarikan tradisi serta seni topeng ini.

Seturut pameran ini digelar pula sebuah timbang pandang pada Sabtu (12/08), berangkat dari buku “Barong Kunti Sraya” karya Ni Luh Swasti Wijaya Bandem. Sebagai pembahas adalah Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA. dan I Ketut Kodi, SSP, M.Si.

Diskusi tersebut akan diawali tayangan dokumenter Barong Kunti Sraya 1928 hasil direpatriasi yang dilakukan oleh STMIK STIKOM Bali dan Arbiter Cultural and Traditions New York. [b]

The post Sejarah dan Kekuatan di Balik Topeng Singapadu appeared first on BaleBengong.

Pagelaran Seni untuk Merayakan Keberagaman

Indahnya Keragaman. Foto Anom Manik Agung

Sekelompok perupa mengajak kita meresapi nilai-nilai bangsa.

Sutasoma Organizer, nama kelompok tersebut, akan menggelar aneka kegiatan seni di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma Tegal Bingin, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Gianyar. Temanya “Bhinneka Tunggal Ika”.

Pagelaran seni itu akan dibuka secara resmi pada 5 Agustus 2017 nanti di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma. Dengan mengusung tema Bhineka Tunggal Ika, pelaksana ingin menyajikan sebuah pertunjukan yang mengajak pengunjung untuk kembali meresapi nilai-nilai yang termaktub dalam semboyan negara Indonesia ini.

Pagelaran kali ini merupakan kelahiran ddrama tari pewayangan “Sutasoma” dengan judul Purusada Santha. Dikerjakan dengan baik dan seksama oleh I Made Sukadana, I Wayan Purwanto dan I Wayan Jaya Merta dengan menciptakan sebuah koreografi, topeng dan musik yang baru.

Drama ini mengisahkan perjalanan calon Buddha dilahirkan kembali sebagai Sutasoma sekaligus tercetusnya konsep “Bhineka Tunggal Ika” itu dalam kisah perjalanannya.

I Wayan Purwanto menjelaskan proses kelahiran drama tari kreatif “Sutasoma”. Judul Purusada Santha diambil dari satu fragmen kisah Sutasoma yang digagas menjadi sebuah drama tari inovatif dan kreatif. Pertunjukan ini menggabungkan tarian, wayang wong, dan musik tetabuhan.

Penari akan menggunakan 17 topeng baru yang dibuat secara khusus oleh Cokorda Raka Sedana, mewakili 17 tokoh dalam drama tari pewayangan Sutasoma. “Pementasan ini merupakan proses kelahirannya. Ke depan akan terus kami sempurnakan dan kembangkan,” kata Purwanto.

Foto karya DP Arsa berjudul Beda tipis antara tidak faham dan salah mengartikan yang akan ikut dipamerkan.

Seniman Mancanegara

Selain menandai kelahiran drama tari Sutasoma, pagelaran seni Bhineka Tunggal Ika juga menampilkan dua pertunjukan tari lain, Purwa Sandhi Naya pada 10 Agustus 2017 dan Sunda Upasunda pada 12 Agustus 2017.

Purwa Sandhi Naya memiliki arti bertemunya budaya tradisi dengan budaya modern. Dalam acara ini disajikan pertunjukan tari topeng dan wayang, klasik dan kontemporer oleh seniman-seniman mancanegara dari Jepang, Meksiko, Argentina dan Amerika Serikat.

Pementasan Tari Purwa Sandhi Naya ini menunjukan spirit Unity in Diversity. Menunjukan tingginya nilai seni dan budaya bangsa Indonesia sehingga seniman mancanegara pun turut mempelajarinya.

Beberapa seniman terlibat dalam pertunjukan tari Purwa Sandhi Naya.

Kawamura Koheisai (Jepang) menampilkan wayang kontemporer “no Kage to Ongaku”. Kawamura menciptakan sebuah pulau fiktif bernama Pulau Walak dan berperan menjadi binatang-binatang penduduk pulau tersebut yang akan menuturkan kisah lewat cerita dan nyanyian.

Noopur Singha (Amerika), Dewa Ayu Eka Putri (Indonesia), Carolina Cazzulino (Argentina) akan menampilkan tari topeng kontemporer ‘Full Feeling Fotosintesis’ yang menunjukan rasa tentang hubungan manusia dengan alam sekitar.

Yukie Karula dan Takujiro Nakamura (Jepang) menampilkan tari topeng kontemporer, disajikan dalam 2 tarian: ‘Ototachibana hime’ menceritakan seorang pengorbanan istri raja yang akhirmya menjadi ratu laut. Tarian kedua ‘Yume Kannon’ menceritakan tentang alam mimpi seorang kakek yang bertemu dengan Dewi Kannon (Bodhisattva).

Mellisa Arriaga (Meksiko) menarikan tari topeng tradisi ‘Jauk Manis’ dimana dia belajar tari ini dari Ida Bagus Gede Surya Peradantha. Tarian ini menceritakan tentang karakter Raja yang keras dan lembut, dimana dia melakukan perjalanan untuk menemui rakyatnya.

Putu Kaoru Padma (Jepang), Emi Hatanaka (Jepang) dan I Wayan Yudiantara (Indonesia) akan menarikan tari tradisi ‘Telek’. Tarian ini biasanya ditarikan dalam sebuah upacara adat, di mana memohon kepada Tuhan untuk mendapatkan keselamatan dan dihindarkan dari bahaya.

Pertunjukan tari ketiga adalah fragmen tari topeng “Sunda Upasunda”. Tarian ini diambil dari kisah Mahabarata yang mengisahkan hidup dari Asura Sunda Upasunda, kakak beradik yang mempunyai kesaktian luar biasa, yang pada akhirnya meninggal karena keserakahan ingin menguasai tiga dunia.

Fragmen Sunda Upasunda ini mengingatkan para pemegang kekuasaan agar mempunyai kesadaran akan tanggung jawabnya, semakin besar jabatan dipegang, semakin tinggi tanggung jawabnya.

POSTER

Peristiwa Seni

Selain menggelar pertunjukan tari, dalam pagelaran seni “Bhineka Tunggal Ika” juga melibatkan seniman dan fotografer untuk merespon kelahiran tari dan topeng Sutasoma, merespon tarian Sunda Upasunda, Purwa Sandhi Naya dan juga tema besar tentang keberagaman.

Lontar berisi kisah Sutasoma milik I Wayan Mudita Adnyana, penulis lontar dari desa Tenganan Pegringsingan, Bali serta 17 topeng buatan Cokorda Raka Sedana pun turut dipamerkan.

Nyoman Wijaya menampilkan karya-karya drawingnya yang merekam sosok penari-penari dari tiga pertunjukan tari. Sementara, sekitar 15 fotografer merespon dengan berbagai ide dan eksekusi karya foto yang beragam. 15 Fotografer dari berbagai komunitas foto tersebut antara lain Doddy Obenk, Tjandra Hutama K, Djaja Tjandra Kirana, Mario Andi Supria, DP Arsa, Windujati, Stefanus Bayu, Firmansyah Cakman, Bayu Pramana, Wayan Budhiarta, Gede Apgandhi, Gede Puja, Anom Manik Agung, Widnyana Sudibya, dan Ida Bagus Alit.

DP Arsa salah seorang peserta pameran foto mengatakan mewujudkan gagasan menjadi sebuah peristiwa seni sebagai wujud reaksi dari kondisi negara ini adalah sebuah usaha yang patut diapresiasi. Apalagi jika bersumber pada tradisi bangsa sendiri.

“Selain sebagai sebuah pengingat mungkin juga sebagai alat penyadaran tentang nilai-nilai lama yang tetap, masih dan akan menjadi bagian dari republik ini,” ujarnya.

Pagelaran Seni “Bhineka Tunggal Ika” ini merupakan pagelaran skala internasional yang melibatkan seniman Indonesia dan Mancanegara. Sebuah manifestasi atas kecintaan akan budaya dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dengan visi dan misi memberikan edukasi, entertainment, dan rasa persatuan melalui seni.

Pameran karya-karya topeng, lontar, lukisan dan foto dapat dinikmati selama satu bulan dari 5 Agustus 2017 hingga 5 September 2017 di Rumah Topeng Wayang Setia Darma, Tegal Bingin, Mas, Ubud. Lokasi bisa dicek di peta berikut. [b]

The post Pagelaran Seni untuk Merayakan Keberagaman appeared first on BaleBengong.

Ngusung Bade di Laut Hanya Ada di Nusa Penida

Ngaben di laut ala Nusa Penida selalu menjadi atraksi wisata. Foto Santana Ja Dewa.

Ngaben massal di Pulau Nusa Penida selalu berbeda.

Ngarak bade adalah bagian prosesi upacara ngaben, hal umum di Bali. Nusa Penida tepatnya di Desa Pakraman Batumulapan, Desa Batununggul, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung setiap ngaben massal berbeda dari biasanya, bade diusung di laut.

Sajian budaya yang ditunggu warga, wisatawan serta fotografer. Mereka pun saksama menyaksikan.

Pasang surut laut penentu jalanya upacara ngaben. Karena itu, ngusung bade di laut pun sempat ditunda satu jam. Perkiraan awal ngusung bade di laut akan dilaksanakan tepat pukul 01.00 WITA. Namun, kondisi tidak memungkinkan.

Menurut Ketua Panitia I Wayan Geria ngusung bade di laut menjadi suguhan budaya yang paling dinanti masyarakat sekitarnya dari sejak dulu. “Sekarang, momen ini kami sengaja mengajak fotografer untuk datang mengabadikan momen budaya yang menarik,” katanya.

Proses ini lumayan menyita tenaga dan waktu yang lama. Pasalnya jarak menuju setra kurang lebih 500 m. Namun, dentuman gamelan membangkitan pengusung menjadi histeris selama tiga jam.

Prosesi ini sendiri melibatkan masyarakat Batumulapan. Mereka membantu ngusung bade, dua bade dan tiga petulangan yakni dua lembu dan gajahmina, gabungan ikan dengan gajah.

Ngaben kali ini sawa (simbol mereka yang meninggal) diikuti 16 dari 118 KK Banjar Jepun. Hasil rapat banjar menyepakati bahwa yang punya sawa saja yang dikenakan biaya sementara krama lainya sifatnya membantu baik perlengkapan upacara hingga pembakaran selesai.

Ida Bagus Putra Adnyana, fotografer senior anggota Perhimpunan Fotografer Bali ( PFB), mengatakan secara umum ngaben sekarang hampir mirip. Ini kemungkinan faktor mudahnya informasi, via TV atau Youtube. Karena itu antar-daerah saling ingin mirip atau membuat yang lebih bagus.

Kelebihan ngaben di Nusa Gede, nama lain Nusa Penida, adalah landscape sangat indah.

Karena tidak ada industri maupun polusi seperti di kota besar. Warna langit biru bersih. Dipadu dengan laut yang membiru. Secara fotografis ini akan memudahkan siapa saja memotret upacara ngaben di Nusa Penida.

Fotografer yang sudah melanglang buana pemeran di luar negeri ini berpendapat pemotretan ngaben di Nuda Penida menjadi luar biasa dan sangat indah. Dari sudut pandang pemotretan ngaben, fotografer tertantang untuk dapat mengabadikan spirit dari upacara itu.

Fotografer harus dapat menggambarkan sifat gotong royong spontan dan totalitas pengabdian untuk leluhur. ~ Gustra.

“Fotografer harus dapat menggambarkan sifat gotong royong spontan dan totalitas pengabdian untuk leluhur,” kata Gustra, panggilan akrabnya.

Menurut Gustra, mengarak bade di tengah laut adalah tradisi luar biasa. Banyak hal positif yang bisa dirasakan prosesi di laut ini.

“Kami sebagai fotografer, meski usia lebih dari setengah abad, tidak merasa kelelahan mengikuti prosesi ini. Baik karena keindahan alamnya, maupun semangat masyarakat yang penuh totalitas,” ujar Gustra sumringah.

Sementara Tjokorda Gde Romy Tanaya, Kepala Bidang Sumber Daya Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung yang kebetulan ikut rombongan PFB menyampaikan, perlunya memasukkan tradisi ngusung bade di laut ke kalender budaya.

Pihaknya berencana menjadikan tradisi ngusung bade di laut sebagai atraksi budaya untuk menunjang pariwisata. Caranya dengan membangun kerja sama dengan travel agent bahwa Nusa Penida mempunyai tradisi unik yaitu mengarak bade ke tengah laut.

“Tradisi ini tetap dilestarikan karena sangat unik dan hanya ada di Nusa Penida sehingga dapat menunjang kepariwisataan di Nusa Penida,” tutur pria penghobi fotografi ini. [b]

The post Ngusung Bade di Laut Hanya Ada di Nusa Penida appeared first on BaleBengong.