Tag Archives: Budaya

Gerakan Masa Subur 25 Seniman Perempuan

Karya Ika Vantiani

Masa Subur adalah momentum bagi para pekerja seni khususnya perempuan untuk tumbuh berkembang.

“Pameran kelompok 25 perempuan perupa di Indonesia, Efek Samping dibuka pada hari Sabtu, 20 Oktober hingga 9 November 2018, di Karja Art Space, Ubud, Bali. Digagas dan diselenggarakan oleh Futuwonder sebuah kolektif lintas disiplin, pameran Efek Samping ini merupakan salah satu program dari proyek seni Masa Subur yang ditujukan untuk memantik tumbuh suburnya peran aktif perempuan pekerja seni di wilayah seni rupa kontemporer.

Masa Subur: Efek Samping
Futuwonder sebagai sebuah kolektif baru dibentuk pada awal tahun 2018 oleh 4 perempuan pekerja seni dari berbagai latar belakang profesi. Mereka adalah Citra Sasmita (perupa), Putu Sridiniari (konsultan desain lepas), Savitri Sastrawan (kurator/penulis), dan Ruth Onduko (manajer seni).

Proyek Masa Subur adalah gagasan awal dari rangkaian program yang telah mereka kerjakan sejak pertengahan tahun 2018, salah satunya adalah penyelenggaraan pameran yang pesertanya adalah perempuan pekerja seni.

Awalnya proyek seni ini diajukan untuk salah satu hibah seni tapi sayangnya tidak lolos. “Meskipun dana hibah tidak turun, kami tetap melanjutkan proyek ini secara swadaya dan swadana, kami punya visi dan misi ke depan yang kami yakini penting bagi tumbuh suburnya peran aktif perempuan di wilayah seni rupa kontemporer, khususnya di Bali,” jelas Ruth Onduko.

Pameran bisa menjadi pemantik bagi pelaku seni lainnya untuk melakukan hal serupa, saling mendukung, bekerjasama agar tercipta eksositem seni oleh dan untuk perempuan semakin progresif dari sisi kualitas dan kuantitas. Masa Subur adalah momentum bagi para pekerja seni khususnya perempuan untuk tumbuh berkembang.

Terus berdiskusi, masing-masing anggota Futuwonder memetakan permasalahan yang terjadi dalam situasi berkesenian para perempuan seniman berdasarkan pengalamannya di Bali. “Representasi perempuan seniman di Bali sangat minim dan hampir tidak ada konsolidasi untuk merubah keadaan. Situasi ini menjadi status quo, sesuatu yang niscaya atau istilah Bali-nya: nak mule keto (sudah dari dulu begitu). Ekosistem kesenian tidak berkembang untuk mengakomodir perempuan seniman selain itu tuntutan kewajiban di institusi keluarga maupun adat menghambat pergaulan di ranah kreatif dan intelektual”, ungkap Putu Sridiniari.

Futuwonder melihat bahwa ada banyak potensi dari perempuan pekerja seni di Bali yang sangat baik namun secara kuantitas mereka jarang muncul di event-event pameran kontemporer yang adadi Bali. Sebagian besar perempuan pekerja seni yang menghadirkan antithesis dari selera estetika dalam arus utama seni rupa pun menghadapi beberapa tantangan seperti sulitnya apresiasi dan kesempatan memamerkan karya dalam ruang yang representatif. Ketika berbagai ide dapat bertemu sehingga memantik diskursus karya-karya perempuan pekerja seni dapat berjalan dinamis. Menjadikan perempuan turut aktif dalam memberikan sumbangsih pengetahuan dan wacana dalam dunia seni rupa.

Citra Sasmita menambahkan permasalahan yang dihadapi perempuan dalam dunia seni rupa global. Wacana perempuan dalam seni rupa pun kerap kali dianggap wacana yang sifatnya insidental. Karena terpengaruh tren feminisme yang sedang bekerja dalam situasi politik dunia. Sehingga alih-alih masyarakat bisa menikmati karya seni secara objektif namun yang menjadi “efek samping” adalah adanya kecurigaan dalam pembacaan karya perempuan yang selalu diasosiasikan dengan visual banal dan radikal. Hal yang tidak perlu dibesar-besarkan karena hanya menghadirkan ekspresi personal yang tidak akan memberikan dampak secara luas dalam pembacaan wacana seni rupa.

Proyek Masa Subur mencoba menghadirkan produktifitas perempuan pekerja seni yang tidak hanya aktif berkarya namun aktif juga dalam memproduksi ide dan gagasan. Futuwonder dalam seleksi karya menawarkan metode yang disebut PKK (Program Kurasi Kolektif). Sebuah metode untuk memberikan penilaian dan pemilihan karya peserta Open Call berdasarkan beberapa kriteria yang disepakati oleh Futuwonder. Yaitu visual dan kecakapan peserta dalam membuatkarya seni, gagasan dan korelasi karya dengan tema besar Masa Subur.

Tercatat lebih dari 100 aplikasi dari berbagai kota dan daerah di Indonesia. Tidak hanya peserta dari Jawa dan Bali namun peserta dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi juga turut mengirimkan karya dan ide terbaik mereka dalam mengangkat permasalahan keperempuanan, pengalaman sosial dan kultural serta tantangan yang mereka hadapi sebagai perempuan.

Seniman yang akhirnya terpilih dari proses seleksi PKK adalah Ika Yunita Soegoro, Ni Luh Listya Wahyuni, Sekar Puti, Santy Wai Zakaria, Siti Nur Qomariah, Patricia Paramita, Nuri F.Y, Tactic Plastic Project, Findy Tia Anggraini, A.Y Sekar F, Christine Mandasari Dwijayanti, Venty Vergianti, Irene Febry, Osyadha Ramadhana, Evy Yonathan, Caron Toshiko Monica, Khairani Larasati Imania, Luna Dian Setya, Dea Widya, Sumie Isashi, dan Salima Hakim. Sedangkan seniman undangan yang dipilih untuk merepson tema Masa Subur adalah Mangku Muriati, Ika Vantiani, Andita Purnama, dan Citra Sasmita.

Sebagai anggota Futuwonder yang berkecimpung di dunia kuratorial Savitri Sastrawan menjelaskan bahwa pameran Efek Samping adalah pameran yang menghadirkan kekaryaan perempuan pekerja seni Indonesia saat ini. Sembari memperkaya penulisan dokumentasi peristiwa seni rupa oleh perempuan pekerja seni.

“Saat Open Call, kami menekankan bahwa yang kami cari adalah karya dari disiplin apapun dalam bentuk dua dimensi. Kami tidak ingin terpaku pada satu disiplin saja mengingat seni rupa sudah berkembang banyak metode-metodenya,” jelasnya. Karena yang diterima sesuai harapan, Efek Samping dapat dibentuk menjadi pameran seni yang lintas disiplin. Eksplorasi material maupun gagasan ada banyak macam dari yang sifatnya kerajinan seperti keramik, desain seperti desain grafis, sampai yang seni murni seperti lukisan. Melalui karya-karya mereka juga, kami dapat menjawab Efek Samping itu bersama,” tambah Savitri.

Salah satu peserta undangan adalah Mangku Muriati pelukis gaya klasik Wayang Kamasan yang karyanya mengangkat tema diluar kebiasaan wayang Kamasan pada umumnya. Karya Mangku Muriati yang menggambarkan kehidupan perempuan masa kini sebagai wanita karir.

Karya Mangku Muriati

Lalu ada karya Irene Febry, seri The Gender Issue, yang menggunakan material kertas sebagai metode “bahasa” untuk menyampaikan gagasannya. Karyanya memaparkan perbedaan gender yang keduanya mempunyai posisi sama penting.

Medium tekstil dan proses menjahit sebagai metode menulis ulang sebuah sejarah juga hadir di beberapa karya pameran Efek Samping. Tekstil sangatlah dekat dengan keseharian kita dan kecenderungan ditemukan dalam bentuk tradisi. Seperti Her story: Let’s start from the
beginning, shall we? oleh Salima Hakim mengilustrasi ulang evolusi manusia dalam ‘jenis’ perempuan daripada laki-laki yang telah kita kenal lama.

Penggunaan foto-bordir muncul di karya Dea Widya, mengangkat eksistensi perempuan pada sejarah, yakni keberadaan para Nyai, seperti ‘perempuan yang dihapus namanya’ dalam sejarah. Karya dua foto-bordir ini seperti mendistorsi image perempuan dimasa lalu, dengan sentuhan ‘ambigu’. Permainan komposisi, efek bayangan menimbulkan narasi baru dimana idenitas pada masa itu juga ‘ambigu’.
Dua puluh lima seniman yang berpameran di pameran Efek Samping ini mempunyai gaya, metode, pilihan medium, cara tutur dan tema yang beragam dan menarik. Pameran dibuka tanggal 20 Oktober 2018 oleh Sinta Tantra dan Ayu Laksmi dan akan berlangsung hingga 9 November 2018 di Karja Art Space.

Selain pameran, akan hadir rangkaian acara diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” yang akan menghadirkan Saras Dewi (dosen filsafat) dan Sinta Tantra (seniman) pada 27 Oktober 2018. Selain itu ada workshop Happy Plastic bersama Tactic Plastic Project pada 21 Oktober 2018. Pameran ini juga turut memeriahkan gelaran festival literasi UWRF sebagai salah satu art exhibiton program dan bagian dari Bali Arts Road program sampingan Art Bali 2018. (Siaran Pers)

The post Gerakan Masa Subur 25 Seniman Perempuan appeared first on BaleBengong.

Bincang Seni Panggung Bersama Jim Adhi Limas

Jim Adhi Limas saat berbicara di Bentara Budaya Bali. Foto Bentara Budaya Bali.

Setelah menetap di Perancis, legenda teater itu kini ke Bali.

Legenda teater Jim Adhi Limas, hadir ke Bentara Budaya Bali (BBB) pada Rabu, 3 Oktober 2018. Salah seorang pendiri Studiklub Teater Bandung (STB) itu berbagi pengalamannya perihal seni panggung.

Jim Adhi Limas didampingi sang adik, Lawrence Limas. Di usinya yang telah 81 tahun, masih penuh semangat menceritakan pengalamannya berkelana puluhan tahun di Eropa. Hadir pula dramawan senior Abu Bakar, pegiat seni pertunjukan I Gusti Putu Sudarta, Muda Wijaya, serta sastrawan Wayan Jengki Sunarta.

Mereka hadir bersama anak-anak muda dan para pegiat teater di Bali.

Menekuni dunia seni panggung sedini muda telah membawa Jim Adhi Limas berkelana ke Perancis. Juga kota-kota penting lain di Eropa, bahkan negeri-negeri di belahan benua lainnya.

Pada tahun 1967 Jim hijrah ke Perancis untuk mempelajari seni peran di Comedie Francaise Conservatoire dan Unierversitaire Internationale du Theatre de Paris. Sejak itu ia lalu menetap di Perancis dan belakangan menjadi warga negara setempat.

Diakuinya, hidup sebagai aktor tidaklah mudah. Mendapatkan sebuah peran di panggung ataupun film butuh waktu berbulan-bulan.

Menurut Jim memiliki bakat luar biasa tidak cukup untuk membawa seorang aktor pada puncak kesuksesan bila ia tidak sabar dengan proses. Banyak aktor-aktor berbakat justru hilang dan undur dari panggung.

“Namun, hanya mereka yang tekun dan sungguh yang mampu terus bertahan serta terus hadir,” ungkapnya.

Meski mengakui tidak selalu mendapat peran-peran pokok atau penting dalam sebuah pertunjukan. Jim rupanya pernah memerankan Slima, pelakon utama dalam naskah “Slimane ou l’homme-cailloun” karya Jean Pelegri, seniman Perancis asal Afrika Utara.

Jim juga dikenal karena perannya dalam film “Diva” (1981), “Bitter Moon” (1992), “Un amour de sorciere” (1997), dan A Monk’s Awakening (2005). Dia bertutur pula mengenai pengalamannya di dunia film dan upaya “Penemuan Diri” sebagai seorang aktor.

Teater Modern Tertua

Bersama kawan-kawannya, Jim mendirikan Studiklub Teater Bandung (STB) pada 13 Oktober 1958. Selama kurun waktu 9 tahun (hingga 1967), Jim dan kawan-kawan STB telah mementaskan sekitar 29 lakon. STB boleh dikata adalah kelompok teater modern tertua di Indonesia, hingga kini menjadi rujukan belajar bagi banyak seniman dan aktor panggung.

Jim mengungkapkan, bagian terpenting dari periode keaktoran dan pergulatannya di panggung teater justru adalah sewaktu ia masih berproses bersama STB di Bandung. Situasi yang serba tidak mudah kala itu, malahan menjadikan proses berteater mereka lebih “kaya” dan mendalm.

Menurut Jim, meski tidak satupun anggota STB yang pernah pergi keluar negeri, tetapi mereka sangat getol mencari berbagai rujukan atau referensi, membaca naskah-naskah asing lalu melakukan adaptasi selaras konteks sosial dan kultural setempat, sekaligus mengembangkan imajinasi tak terbatas.

Dalam perbincangan hangat tersebut mengemuka pula berbagai persoalan dan dilematik yang kini dihadapi sejumlah pegiat teater, khususnya di Bali, salah satunya dikisahkan Abu Bakar. Di mana dengan berbagai kecanggihan dan kemudahan yang ada sekarang secara tidak langsung justru membatasi para kreator atau aktor dalam berproses. Segalanya serba instan, semata mengedepankan keriuhan dan unsur hiburan yang artifisial, serta kurang memiliki kedalaman.

Jim melihat anak-anak muda sekarang, khususnya dalam bidang teater dan film, harus menggali lebih jauh lagi sampai ke akar mula sejarah seni pertunjukan guna lebih memperkaya dan memperdalam penciptaan atau kekontemporeran mereka saat ini.

“Harus ada satu upaya bersama untuk melakukan perubahan cara pandang dan pola pikir agar generasi kini (milenial) tidak hanyut dalam kebanalan yang semata artifisial,” kata Jim menanggapi. [b]

The post Bincang Seni Panggung Bersama Jim Adhi Limas appeared first on BaleBengong.

Merayakan Kebersamaan dalam Kama Bang Kama Petak

Suasana Pembukaan Pameran MJK di Bentara Budaya Bali.

Kama Bang Kama Petak adalah sebuah kesadaran dari mana eksistensi manusia berasal.

Sejumlah perupa lintas asal yang tergabung dalam Malam Jumat Kliwon Art atau MJK Community menggelar pameran bersama di Bentara Budaya Bali (BBB), Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, Bypass Ketewel, Sukawati, Gianyar. Pameran bertajuk “Kama Bang Kama Petak” ini dibuka secara resmi pada Minggu, 23 September lalu.

Selaras tema yang diusung, pameran ini merupakan sebuah upaya MJK Art Community untuk merayakan semangat kebersamaan dan keberagamaan, baik dalam proses cipta mereka maupun kehidupan keseharian. Kama Bang Kama Petak sendiri diyakini ditandai oleh dua unsur hidup yang berbeda tetapi satu sama lain hakikatnya menyatu; sesuai filosofi yang dihayati masyarakat Bali yaitu “Rwa Bhineda”.

Pameran diikuti 28 seniman dari berbagai kota di Indonesia, antara lain Sumatera Barat, Palembang, Medan, Lampung, Sulawesi Selatan, Yogyakarta, Kediri, Pemalang, Surabaya, juga Bali. Terdapat 48 karya lukisan dan 4 karya tiga dimensi yang dipamerkan di BBB hingga 4 Oktober 2018 mendatang.

Budayawan Bali, Prof. Dr. I Made Bandem, M.A., turut memberikan pemaknaan atas pameran ini. “Kama Bang dan Kama Petak ini sesungguhnya ada pada diri manusia, sebuah simbolisme Rwa Bhinneda, laki-laki (petak) dan perempuan (bang), atau simbol dari cinta, sebuah tema yang sangat universal. Melihat pilihan tema ini, saya meyakini akan ada sesuatu karya besar lahir dari komunitas MJK,” ungkapnya.

Selaras itu, Made Susanta Dwitanaya, kurator dan pengamat seni rupa, turut mengungkapkan pemaknaan lebih jauh tentang “Kama Bang Kama Petak” sebagai sebuah kesadaran bahwa eksistensi manusia sesungguhnya berasal dari pertemuan dua unsur yang berbeda. Eksistensi manusia dilatarbelakangi oleh dua unsur yang berbeda, bersinergi dan melahirkan harmoni.

Turut memaknai pembukaan pameran ditampilkan pula performing art berupa kolaborasi pembacaan puisi dan permainan suling oleh I Dewa Mustika dan Putu Bonuz Sudiana.

Adapun seniman yang terlibat dalam pameran ini antara lain: Adi Gunawan, Agus Gibbon Priyanto, Agus Putu Suyadnya, Dani Heriyanto, Dedy Sufriadi, Deskhairi, Gusmen Heriadi, Hari Gita, Hayatuddin, I Dewa Made Mustika, I Made Arya Palguna, I Putu Bonuz Sudiana, Iqi Qoror, Jesaya Jerry P, Joni Antara, M. Andi Dwi Iskaryanto, Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, Norman Hendrasyah, Nyoman Sujana Kenyem, Riki Antoni, Robi Fathoni, Safrul, Seno Andrianto, Suroso Isur, Tjokorda Bagus Wiratmaja, Tofan Muhammad Ali Siregar, Wayan Upadana, dan Wisnu Ari Tjokro.

Wisnu Ari Tjokro, selaku koordinator pameran MJK di Bali, mengungkapkan bahwa ini merupakan kelanjutan dari semangat pameran mereka sebelumnya, yakni “Tulang Rusuk” yang digelar di Bentara Budaya Jakarta tahun 2017 lalu.

Ia pun mengungkapkan perjalanan MJK selama hampir 10 tahun dengan segala lika liku dan hiruk pikuknya. “Mencari gagasan untuk tema pameran atau mendapatkan titik temu di setiap perjumpaan, selalu dibutuhkan konsistensi dan energi tak sedikit. Menilik kembali semangat itu, kami harus melihat ke belakang dan memulai mencari kesegaran yang harusnya mengembirakan dimasa depan,” ujarnya. [b]

The post Merayakan Kebersamaan dalam Kama Bang Kama Petak appeared first on BaleBengong.

Menanti Kolaborasi Okokan dan Drum Perkusi di Soundrenaline

Bali Ekstreme Drummer dan Tim Okokan yang berlatih di Kediri, Tabanan. Foto Mario Lourdi.

Tersebutlah babad tentang asal muasal gunung-gunung di Bali.

Sebuah cerita lama (Babad Batudewa) menyebut tentang beliau, Bhatara Hyang Pasupati, yang beristana di Giri Mahameru. Beliau sangat kasihan melihat Pulau Bali dan Selaparang yang bergoyang bagaikan perahu.

Kemudian, Hyang Pasupati memenggal lereng Gunung Mahameru yang diturunkan di Pulau Bali dan di Selaparang, Ki Badawangnala ada di dasar gunung, Sang Naga Basukih yang mengikat gunung, Sang Naga Taksaka yang menerbangkan gunung. Sang Naga ini kemudian memunculkan empat gunung (Catur Lokapala) yaitu di timur Gunung Lempuyang, di selatan Gunung Andakasa, di barat gunung Batukaru dan sebelah utara gunung Mangu, dekat dengan gunung Tulukbiyu.

Pada saat itu hujan lebat. Gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara gemuruh. Pulau Bali pun bergetar. Dengan lamanya hujan, meletuslah Gunung Agung (Hyang Tohlangkir) yang mengeluarkan lahar panas.

Selayaknya kisah tersebut, beberapa bulan belakangan aktivitas Gunung Agung pun kembali aktif. Peristiwa ini pula yang menjadi inspirasi garapan bernama Giri Tohlangkir. Giri Tohlangkir dalam beberapa lontar Bali adalah sebutan untuk Gunung Agung itu sendiri.

“Tantangannya adalah bagaimana mempresentasikan Gunung Agung dengan segenap spirit dan magisnya ke dalam bebunyian dalam bentuk garapan kolaborasi,” ujar Putu Hendra Brawijaya Putra selaku produser garapan ini.

Berangkat dari latar belakang tersebut, kemudian tercetuslah ide untuk menggabungkan okokan dan drum perkusi ke sebuah kolaborasi yang disebut “Bali Project”. Kolaborasi ini akan ditampilkan dalam gelaran Soundrenaline 2018 pada 8 & 9 September 2018 pukul 18.30 WITA.

Okokan adalah instrumen bebunyian berbentuk lonceng kayu yang biasanya digantungkan di leher sapi. Hanya saja dengan ukuran lebih besar. Munculnya instrumen ini tentunya tidak lepas dari Bali yang memiliki kelompok masyarakat agraris dengan tradisi bercocok tanam. Okakan dimainkan dengan cara menggantungkannya pada sebuah pikulan yang kemudian digoyang-goyangkan.

Kolaborasi Menggetarkan

Kali ini para pemain okokan akan berkolaborasi dengan kelompok perkusi Bali Extreme Drummer (BXD) untuk Bali Project. Tentunya hal ini sangat membanggakan apalagi bisa menjadi bagian dari keberagaman ekspresidi Soundrenaline 2018.

“Harapannya kolaborasi ini dapat menginspirasi para penikmat musik dan seni kreatif tanah air terutama Pulau Dewata,” ujar I Gusti Putu Adnyana, Koordinator Okokan Brahma Diva Kencana, Delod Puri, Kediri, Tabanan.

Sekaha (kelompok) penabuh okokan terdiri dari 60 orang dan pemain perkusi recycle dari Bali Extreme Drummer terdiri dari 11 orang. Memadukan okokan dengan drum dan perkusi adalah pilihan tepat. Selain melengkapi lapisan bunyi garapan ini, latar belakang gamelan Bali yang didominasi oleh instrumen musik pukul juga menjadi pertimbangan.

Sekeha (Kelompok) Okokan Brahma Diva Kencana sendiri merupakan salah satu komunitas seni okokan paling berpengaruh di Bali saat ini. Penampilan mereka di beberapa festival besar selalu membuat penonton terpukau dengan vibrasi suara yang seolah-olah membawa kita ke dimensi berbeda.

Di sisi lain, BXD menjadi inspirasi bagi penggiat seni di Bali karena kiprah para anggotanya sebagian besar adalah drummer dari band-band yang sedang emerging di Bali. Komunitas ini juga pernah menggetarkan panggung Soundrenaline di tahun 2017 bersama Navicula.

Gede Putra Budi Noviyana selaku arranger mengatakan cara paling masuk akal membuat aransemen garapan ini adalah dengan memecah gamelan okokan menjadi beberapa potongan, kemudian menyisipkan bagian perkusi BXD lalu menggabungkannya. Nova juga dikenal sebagai drummer dari band Scared Of Bums, di mana band tersebut akan berbagi panggung dengan “Bali Project” di Soundrenaline 2018.

Sejatinya kedua kelompok ini, yaitu Sekaha Okokan Brahma Diva Kencana dan Bali Extreme Drum belum pernah bertemu apalagi berkolaborasi. Karena itu proyek ini menjadi tantangan bagi kedua belah pihak untuk dapat menggabungkan ekspresi berbeda menjadi sebuah karya yang dapat menginspirasi.

Untuk itu mereka beberapa kali latihan setelah susunan musikal (aransemen) dibuat dan disepakati. Latihan kolaborasi ini dilaksanakan beberapa kali di Banjar Delod Puri, Kediri, Tabanan, Bali. Tantangan terbesar yaitu ketika bagaimana membuat sebuah harmoni melibatkan lebih dari 75 orang dengan karakter instrumen berbeda-beda. [b]

The post Menanti Kolaborasi Okokan dan Drum Perkusi di Soundrenaline appeared first on BaleBengong.

Inilah Sejumlah Mitos tentang Tanah Lot

Tanah Lot menjadi salah satu tempat wisata populer di Bali. Foto Komang Putrayasa (Flickr).

Apakah kalian pernah mengunjungi Pura Tanah Lot?

Rasanya kurang lengkap kalau ke Bali tidak mampir ke tempat ini. Pura Tanah Lot merupakan tempa persembahyangan bagi umat Hindu Bali. Di tempat ini ada dua pura. Satu di atas bongkahan batu dan yang satu berada di atas tebing di pinggir pantai.

Tanah Lot merupakan tempat wisata eksotis dengan pemandangan laut dan keindahan matahari tenggelamnya. Namun, pernahkah kalian mendengar mitos tentang tempat tersebut?

Ada beberapa mitos tersebar di kalangan masyarakat sekitar. Nah, kali ini kita akan membahas beberapa mitos tersebut, tetapi sebelumnya mari kita lihat sejarah tempat ini.

Sejarah Pura Tanah lot

Menurut legenda, dikisahkan pada abad ke -15, Bhagawan Dang Hyang Nirartha atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari Jawa ke Bali.

Yang berkuasa di pulau Bali pada saat itu ialah Raja Dalem Waturenggong. Beliau menyambut baik dengan kedatangan dari Dang Hyang Nirartha dalam menjalankan misinya. Penyebaran agama Hindu pun berhasil sampai ke pelosok-pelosok desa di Pulau Bali.

Dikisahkan, Dang Hyang Nirartha melihat sinar suci dari arah laut selatan Bali. Maka Dang Hyang Nirartha mencari lokasi sinar tersebut. Tibalah beliau di sebuah pantai di Desa Beraban Tabanan.

Pada masa itu Desa Beraban dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, yang sangat menentang ajaran dari Dang Hyang Nirartha dalam menyebarkan agama Hindu. Bendesa Beraban Sakti menganut aliran monotheisme.

Lalu Dang Hyang Nirartha melakukan meditasi di atas batu karang yang menyerupai bentuk burung beo. Saat itu batu karang tersebut berada di daratan.

Dengan berbagai cara Bendesa Beraban Berusaha mengusir Dang Hyang Nirartha dari tempat meditasinya.

Berdasarkan legenda, Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batukarang di tengah lautan.

Setelah peristiwa itu Bendesa Beraban Sakti kemudian mengakui kesaktian Dang Hyang Nirartha. Dia pun menjadi pengikutnya untuk memeluk agama Hindu bersama dengan seluruh penduduk setempat.

Sebelum meninggalkan Desa Beraban, Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada bendesa Beraban. Keris tersebut memiliki kekuatan untuk menghilangkan segala penyakit yang menyerang tanaman.

Keris tersebut disimpan di Puri Kediri dan dibuatkan upacara keagamaan di Pura Tanah Lot setiap enam bulan sekali.

Semenjak upacara tersebut rutin dilakukan penduduk Desa Beraban, kesejahteraan penduduk pun meningkat dengan pesat. Hasil panen pertanian melimpah dan mereka hidup dengan saling menghormati.

Adanya Tanah Lot sebagai tempat wisata populer di Bali saat ini turut meningkatkan kesejahteraan warga Desa Beraban. Namun, hati-hati. Tanah Lot juga memiliki sejumlah mitos.

Apa saja itu?

1. Membawa pasangan akan membuat hubungan cepat berakhir.

Konon, kalau kita membawa pasangan ke Tanah Lot, hubungan cepat berakhir. Menurut saya mitos ini rasanya kurang tepat karena banyak pasangan yang datang ke tempat ini mengaku hubungan mereka baik-baik saja.

Bahkan teman saya yang sering pergi melakukan persembahyangan ke sana dengan pacarnya baik-baik saja. Mungkin mitos ini berkembang untuk menjaga kesucian agar tempat itu tidak digunakan untuk hal yang negatif.

2. Ular Suci Penjaga pura Tanah Lot

Selain itu ada juga mitos tentang ular suci penjaga pura. Ular yang berada di tempat ini berjenis ular laut yang bisanya sangat mematikan.

Kenyataannya, ular di sana sangat jinak. Malah, konon katanya ular yang berada di dalam sebuah goa ini bisa mengabulkan permintaan sekaligus sebagai penjaga pura tersebut.

Tempat ular ini biasanya dijaga pawangnya. Kita dikenakan biaya untuk bisa memegang dan berfoto dengannya.

3. Air suci yang membuat awet muda

Mitos lain yang dipercaya masyarakat adalah air di Tanah Lot bisa membuat orang awet muda. Banyak pengunjung datang untuk membuktikan mitos itu sendiri, tetapi belum ada penelitian tentang kebenaran air suci ini.

Nah, itulah tadi mitos yang melekat pada Pura Tanah Lot. Untuk kalian yang ingin liburan di Bali jangan lupa mampir ke obyek wisata ini. [b]

The post Inilah Sejumlah Mitos tentang Tanah Lot appeared first on BaleBengong.