Tag Archives: Budaya

Melacak asal Kata Esa dalam Pancasila

Makna kata Esa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Komentar Eggi Sudjana tentang kata Esa memicu kontroversi.

Omongan pengacara tentang sila pertama Pancasila yang dikaitkan dengan Undang-Undang (UU) organisasi masyarakat (ormas) kembali mencuatkan polemik arti kata Esa.

Pernyataan Eggi Sudjana itu memperlihatkan kebingungannya mengartikan kata esa. Sudah ada banyak orang yang mempertanyakan pengetian kata esa yang selama ini diartikan satu, tunggal.

Lihat makna kata Esa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring.

Salah satunya seperti yang ditulis portal Apa Kabar Dunia dalam tulisan Esa pada Sila Pertama Bukan Berarti Satu.

Selama ini kita memaknai sila pertama Pancasila “Ketuhanan yang Maha Esa” sebagai pengakuan pada Tuhan yang Satu. Namun apa arti sesungguhnya Esa?

Nyatanya kata “Esa” yang diambil dari bahasa Sansekerta tidak mengartikan tunggal, atau satu.

Kata satu dalam bahasa sansekerta adalah EKA, bukan ESA. Lihat saja di semboyan Bhinneka Tunggal IKA. Bukan Bhinneka Tunggal ESA.

Lebih lanjut Apa Kabar Dunia menulis bahwa Esa itu adalah kata ambilan dari bahasa Sansekerta yang bentuk kata bendanya adalah Etad artinya Suchness, as this, as it is.

Untuk lebih jelasnya, bisa lihat di tautan berikut.

Ada juga sekelompok individu yang mengaitkan kata Maha Esa dengan MAHESA sebutan lain Dewa Siwa dalam keyakinan Hindu. Tentu rumus gutak-gatuk-gatuk seperti ini menyimpang jauh dari pola penyusunan kalimat dalam bahasa Sansekerta yaitu (maha) artinya “great” and (isha) meaning “lord, ruler”.

Pertemuan dua hurup A dan I dari kedua kata di atas berubah menjadi E, sehingga bentuk katanya menjadi mahesha. Pandangan sektarian seperti ini juga jauh menyimpang dari maksud dan cita-cita Pancasila itu sendiri, seperti yang dikatakan Bung Karno sang motor penggali Pancasila:

“Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.”

Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Al-Quran Hadits, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya.

Namun, marilah kita semuanya ber-Tuhan.

Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme-agama”. Hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan! ”

Dialektika Wisesa

Bahasa Melayu sebagai ibu dari bahasa Indonesia memiliki sejarah serapan terhadap bahasa lain, tak terkecuali bahasa Sansekerta. Ada sekitar 60 persen lebih bahasa Melayu kuno berakar pada bahasa Sansekerta.

Salah satunya kata Wisesa yang menurut kamus KKBI berarti 1 penguasa utama; dua kekuasaan yang tertinggi.

Kata wisesa berasal dari bahasa sansekerta Visesa yang menurut kamus Sansekerta berarti extraordinary, abundant (luar biasa, melimpah).

Makna kata Wisesa dalam kamus bahasa Sansekerta merupakan asal kata Esa.

Lawan kata visesa adalah nirvisesa, yakni keadaan tanpa berketuhanan.

Jejak-jejak penggunaan kata wisesa sebagai kata yang mengacu pada Tuhan masih kita lihat dalam tardisi agama Hindu Bali, yakni PARAMA WISESA untuk menyebut sifat Tuhan yang maha kuasa, atau SANG HYANG WIDI WASA, yang mana kata wasa juga diduga berasal dari kata wisesa, sebagai sifat yang maha mengetahui. Juga ada sebutan GURU WISESA untuk sebutan Tuhan sebagai salah satu dari empat Guru (catur gur ) dalam kepercayaan hindu.

Terusnya muncul kebingungan masyarakat terhadap arti kata esa pada dasar negara menunjukan bahwa pendidikan bahasa belum berjalan dengan baik dan fungsi balai bahasa belum maksimal sesuai harapan kita.

Lebih jauh menjadi tugas balai bahasa untuk menyelidiki, lalu memberikan pengertian yang benar terhadap kesimpang siuran makna bahasa di masyarakat. Apalagi menyangkut hal sepenting Pancasila sebagai dasar negara. Dengan demikian kesalahan memaknai artinya tidak berlarut-larut. [b]

The post Melacak asal Kata Esa dalam Pancasila appeared first on BaleBengong.

Pameran Bersama Perupa Tiga Negara

Perupa tiga negara menggelar pemaran bersama.

Pemeran ini merupakan ikatan berkesenian antar perupa lintas negara yaitu Malaysia, Indonesia dan Singapura. Negara Singa menjadi tuan rumahnya.

Temanya tentang berpikir positif dengan aktivitas tanpa kekangan dan bebas memilih jalan hidup sesuai apa yang diharapkan.

Masing-masing negara menyertakan perupa. Indonesia mengirimkan 12 perupa, salah satu di antaranya adalah I Made Arya Dwita Dedok. Perupa dari Bali ini menggandeng istrinya yang juga seorang perupa Grace Tjondronimpuno dan perupa Bali yang sering berpameran luar negeri I Ketut Lekung Sugantika.

Dari tuan rumah, sebanyak 17 perupa turut berpartisipasi sementara Malaysia paling sedikit menyertakan perupanya yakni 6 orang.

Pameran ini berlangsung pada 6 Oktober hingga 28 Oktober. Pecinta seni rupa, kolektor berkumpul melihat hasil karya masing-masing perupa.

“Bertemu rekan seniman lintas negara membuka cakrawala senirupa antar perupa itu sendiri,” ujar Dedok yang ikut berpartisipasi selama pameran i Hotel Nuve Heritage tersebut.

Dedok menambahkan pemeran seperti ini membuktikan bahwa sekat dan perbedaan tidak jadi masalah justru satu hati karena lewat seni.

Pameran ini sekaligus menjadi perayaan karya besar oleh perupa dari beragam latar belakang. Mereka melupakan perbedaaan untuk berkolaborasi mengambil isu-isu nyata dalam hidup sehari-hari.

Pameran ini benar-benar kalaborasi yang membungkam segala bentuk intrik masing-masing pembeda baik personal maupun negara. [b]

The post Pameran Bersama Perupa Tiga Negara appeared first on BaleBengong.

Nobar 3rdMFW bersama Sushrusa Deaf School

Anak-anak dari Sushrusa Deaf School ikut nonton bareng di 3rd MFW. Foto Vifick Bolang.

Minikino Film Week (MFW) memang sayang untuk dilewatkan.

Tahun ini, festival film pendek yang masuk tahun ketiga tersebut menghadirkan 209 film pendek yang dikemas dalam 42 program. Jumlah tersebut meningkat dari 88 film pendek di tahun pertama, dan 158 film di tahun kedua.

Dalam 42 program Minikino Film Week ketiga (3rdMFW) tersebut, program anak (Children Program) telah dilaksanakan di Gedung Merdeka, Kantor BPDP Provinsi Bali pada Senin, 9 Oktober kemarin.

Children Program ini dihadiri oleh puluhan anak-anak tuna rungu dari Sushrusa Deaf School. Acara dimulai pukul 10:00 WITA.

Ada 2 program film yang diputar, yaitu Tangible Dreams dan Children Program. Menurut penuturan seorang guru, anak-anak sudah bertanya-tanya film apa yang akan segera ditonton. “Anak-anak sangat terkesan sekali dengan kegiatan ini, bahkan sebelum acara mereka nanya nanti filmnya kayak apa?” jelas Ibu Raka, Kepala Sekolah di Sushrusa Deaf School.

Acara berlangsung begitu menyenangkan. Selama acara anak-anak sangat antuasias untuk mengikuti kegiatan. Mulai dari pemutaran bahkan hingga proses diskusi berlangsung.

Setelah nobar, anak-anak Sushrusa Deaf School mengikuti diskusi dan tanya jawab mengenai film. Foto Julian La Wele.

Setelah menonton film pendek bersama, acara dilanjutkan dengan proses diskusi dan tanya jawab mengenai film. Setiap anak yang berani menjawab pertanyaan mendapatkan hadiah sebuah tas dari Minikino.

Ini adalah pengalaman pertama bagi anak-anak di Sushrusa Deaf School untuk datang ke festival film. “Ini pengalaman pertama anak-anak, di sekolah sempat sih ada kegiatan nobar tapi layarnya kecil,” jelas Ibu Raka.

Di Sushrusa Deaf School anak-anak berjumlah 51 orang dan 7 orang guru. Yang datang ke acara berjumlah 52 orang termasuk guru-guru yang mendampingi.

Anak-anak begitu senang bisa diajak ikut datang ke festival. Beberapa teman mereka ada yang sakit, karena itu ada yang tidak bisa ikut datang ke acara.

Saat ditanya kesan setelah mengikuti acara, guru-guru menyatakan sangat senang. Sebab, Minikino sudah mengundang anak-anak sehingga mereka punya pengalaman baru dan akan menambah wawasan mereka. “Saya pribadi suka dengan kegiatan tadi, kegiatannya bagus, karena dengan melihat film kita jadi menambah wawasan,” jawab Bu Raka. [b]

The post Nobar 3rdMFW bersama Sushrusa Deaf School appeared first on BaleBengong.

Poligami, Harkat Perempuan dan Sisterhood

Foto Liputan6.com

Apa mungkin saya yang kurang update, atau memang sudah jadi tren, untuk memiliki istri lebih dari satu?

I dont talk about any religious laws here, karena saya inkompeten dalam membahas fenomena ini dari sisi agama. Saya bukan praktisi atau akademisi di bidang keagamaan. Saya hanya seorang wanita biasa, yang juga punya hak untuk bersuara dan berpendapat.

Beberapa hari ini, berseliweran foto dan video seorang pemuka agama memiliki istri lagi setelah dua pernikahan. Saya agak terkejut ketika membaca berita tersebut di UC News (memang bukan portal berita valid, tetapi saya akui sering membaca info dari portal ini) saya sangka hanya murid saja, tetapi oh ternyata sudah terkonfirmasi.

Sebagai wanita, saya tidak tahu lagi harus merasakan apa setelah membaca berita di atas. Terlalu sering saya membaca berita poligami, dari pemuka agama hingga artis dan kemudian masuk ke area skenario film dan literasi.

Saya pun sudah malas menyalahkan pria untuk fenomena seperti ini. Seolah-oleh sebagai wanita, kaum kita tidak dianugerahi otak untuk mengukur rasio dan tidak punya sikap untuk menentukan nasib.

Point of view saya sudah jauh berubah sehingga reaksi saya ketika membaca tentang poligami, pun ikut berubah. Saya masih ingat, ketika 10 tahun lalu saya bereaksi sangat reaktif terhadap sebagian besar kaum pria (tidak semua kaum pria) yang menganggap poligami adalah hal wajar, bahkan mengagumkan. Namun, tidak ketika usia saya sudah berkepala tiga.

Saya banyak membaca literatur dan pendapat-pendapat dari konsultan dan psikolog tentang pria sendiri. Pria memang bukan makhluk monogamis. Alamiahnya memang makhluk poligami, dipengaruhi oleh pola pikir mereka yang cenderung rasional (sehingga hampir semua hal dihitung dengan rasio). Termasuk dalam romansa, tentunya.

Apakah dengan menyalahkan sebagian besar pria akan membuat mereka tidak suka dan tidak bakal menerapkan poligami? Saya rasa tidak mungkin 🙂

Di Twitter, di akun saya @NataliaNatdr, ide untuk mengomentari poligami tercetus begitu saja setelah membaca banyak komentar terhadap kasus di atas. Banyak pemikiran baru, salah satunya adalah dengan menyarankan sesama wanita untuk koreksi diri mereka sendiri, termasuk koreksi diri saya sendiri, dalam menyikapi poligami.

Sense of belonging

Belonging means acceptance as a member or part. Such a simple word for huge concept. A sense of belonging is a human need, just like the need for food and shelter. Feeling that you belong is most important in seeing value in life and in coping with intensely painful emotions. (Karyn Hall, PhD – Mar 24th, 2014 – Psychology Today)

Sense of belonging atau konsep “merasa memiliki” awam diterapkan di tempat kerja untuk meningkatkan performance karyawan. Namun, di tulisan ini, saya hanya ingin mempertanyakan apakah bisa seorang istri mempertahankan perasaan memiliki kepada suaminya, apabila dia “rela” berbagi?

Mengapa kata rela saya beri tanda kutip, karena balik lagi ke pepatah, “hati manusia siapa yang tahu”, apalagi hati seorang perempuan. Jarang, karena tidak bisa saya bilang “tidak ada”, wanita yang mau berbagi cinta apalagi ranjang dengan wanita lain untuk berbagi suami.

By the way, saya jadi teringat judul film ketika menulis 2 kata -berbagi suami-.

Seberapa besar security Anda, ketika harus menerima kenyataan bahwa ada wanita lain yang tidur dengan suami yang sangat Anda cintai? Berpura-pura tidak apa-apa?

Saya paham, karena memang sifat manipulatif sangat mahir dilakukan oleh seorang wanita, dari sangat drama queen hingga terlihat begitu sabar.

Namun, yang saya tahu, perasaan seorang wanita itu begitu halusnya, hingga sanggup berkorban untuk apapun, meskipun itu menyakiti dirinya sendiri. Adapun, ketika seorang wanita bisa menerima, entah karena sudah ikhlas atau karena alasan lain, yang jelas dia sudah menumpulkan perasaan memiliki ini.

Yah, tidak salah juga apabila seorang wanita akhirnya bisa menerima kenyataan apabila pernikahannya tidak jauh beda dengan kelompok belajar, atau grup arisan. Itu pilihan masing-masing wanita.

Harkat perempuan dan sisterhood

Seringkali saya sangat tergugah dan terkesan dengan cerita-cerita inspiratif tentang keteguhan banyak wanita yang mengetahui apa yang sebenarnya mereka inginkan, tahu apa esensi tujuan hidup mereka dan berani untuk bersikap dan menentukan nasib mereka sendiri.

Belum pudar berita di mana para wanita di UEA memperjuangkan hak mereka untuk bisa menyetir mobilnya sendiri, pun ketika saya melihat video Laila Hzaineh yang diposting akun Twitter @levantina_ yang berbicara tentang emansipasi wanita Arab, atau sekadar melihat postingan Instagram seorang Maia Estianti, yang jauh lebih sukses ketika single kembali.

Wanita, dalam hal survival alias bertahan hidup, tetap berada di tempat yang sama/equal dengan pria. Wanita dan pria adalah Homo sapiens yang sama, spesies yang sama. Wanita juga bisa berpikir rasional seperti pria, dan bahkan jauh lebih bisa multitasking daripada sebagian besar pria (ibu rumah tangga-wanita karir-pengasuh anak-koki in one package, contohnya).

Wanita punya hak untuk bersuara (women have voice!). Oleh karena itu, wanita pun bisa menentukan apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka, bisa mandiri dan tidak memerlukan pria untuk sekadar bertahan hidup atau untuk melakukan pencapaian prestasi dalam hidup, apalagi untuk menjadi kaya.

Dan pula, wanita juga mengenal sisterhood yang kuat. Empati terhadap sesama wanita, saling mendukung dan tentunya tidak ada istilah menikung dan memaksakan kehendak. When women get united, they got stronger together.

Pertanyaan saya kembali: apakah bisa berbagi suami dengan sesama wanita memperkuat sisterhood dan meningkatkan harkat wanita?

I dont think so.

Tanyakan kepada diri sendiri, apakah saya sebagai wanita, perlu pria untuk hidup? Apakah sebagai wanita, saya perlu “memaksa” hati wanita lain untuk ikhlas ketika kita tidur dengan suaminya? Apakah apabila saya sebagai wanita, terlalu perduli dengan anggapan orang tentang ke-lajang-an?

Apakah saya tidak mencintai diri saya sendiri sehingga saya harus menumpulkan sense of belonging ketika suami saya harus kembali ke rumah istri pertamanya? Apakah saya harus iklas, atau terlihat bahagia? What are you supposed to do, dear women?

Setahu saya, dalam dunia pria, dikenal istilah brotherhood sehingga sering saya dengar istilah populer “bros before hoes”-teman dulu baru cewek. Seorang pria, yang “menikung” teman prianya dengan merebut kekasihnya dipandang sangat tidak sportif.

Saya pikir, sisterhood juga menggunakan prinsip yang sama. Ada empati dan simpati sana, dukungan untuk sama-sama maju. Apakah mungkin, dengan membantu pria berpoligami, anda mengikat sisterhood yang lebih kuat dengan istri (-istri) yang lain?

Belum lagi saya membahas tentang isu privasi yang terlanggar (namun apabila isu kamar tidur dan rumah tangga bukanlah isu privasi, silakan diabaikan saja).

Pop culture yang selalu menjelekkan ke-lajang-an dan mengagungkan pernikahan turut berperan juga dalam pilihan perempuan ke arah poligami. Janda (dan juga duda) dipandang sebagai pribadi yang tidak terhormat, bahkan ada yang menganggap hina, strata rendah, bahkan cacat secara sosial, sehingga secara tidak sadar, khalayak anggap mereka wajar diejek. Banyak yang takut menjadi kembali lajang karena anggapan ini.

Now let me tell you. Ketika Anda menyerah terhadap anggapan orang lain, ketika itu juga Anda tidak menyayangi diri Anda sendiri karena Anda tidak punya kontrol atas diri dan nasib sendiri. Terutama perempuan.

Tidak ada yang ingin pernikahan mereka berujung ke arah perpisahan. Semuanya bercita-cita hal yang sama. Namun, apabila tidak memungkinkan apakah anda tahan menyiksa diri sendiri?

Opini saya pribadi sih ini: saya lebih salut dengan wanita yang berani bertindak untuk kebahagiaan dirinya sendiri dengan menjadi lajang daripada bertahan menjadi wanita menyedihkan (yang apabila meninggal pun, pasangannya akan mencari pengganti). Tidak ada yang salah dengan menjadi wanita yang mandiri lho.

Panjang sekali nampaknya tulisan saya ini. Mudah-mudahan bisa jadi sarana introspeksi ke diri kita sebagai sesama wanita. Remember this, no demand if there is no supply. Kurang lebih artinya begini, tidak akan banyak dan leluasa pria berpoligami apabila sudah banyak wanita mandiri yang tidak mau dipoligami. Wanita mandiri adalah wanita yang tahu harkatnya, menjunjung sisterhood dan masih punya sense of belonging terhadap suami.

We are equal to men, when its time to decide where do we go, what will we do, what do we want. Hak setiap wanita untuk menentukan nasib, namun tidak mesti dengan cara berbagi suami dengan wanita lain. Back to ourselves. [b]

The post Poligami, Harkat Perempuan dan Sisterhood appeared first on BaleBengong.