Tag Archives: Budaya

Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian

Setelah lepas dari tubuh, ruh tidak pergi begitu saja.

Tulisan ini saya buat sebagai catatan atas hasil bacaan terhadap salah satu jenis kakawin berjudul Aji Palayon. Kakawin ini umumnya ditembangkan dalam ritual kematian, khususnya di beberapa wilayah di Bali yang kebetulan saya singgahi.

Seperti berikut inilah isinya yang saya campur adukkan dengan tafsir-tafsir.

Pertama, kakawin ini mengucapkan rasa rendah hati pengarangnya yang menyebut dirinya orang yang serba kekurangan [para tucca], ibarat burung kecil yang banyak omong. Saya tidak tahu, burung jenis apa yang dimaksud. Mungkin burung kakak tua yang tidak hinggap di jendela. Atau burung hantu yang tidak seram tapi lucu.

Cerita dimulai dengan adegan ketika ruh berada di Kahyangan. Keadaan yang demikian, menyebabkan sahabat serta keluarga merasa bahagia. Bagaimanakah caranya keluarga dan sahabat tahu saat ruh berada di Kahyangan? Dalam kakawin ini tidak dijelaskan.

Ada satu petunjuk yang bisa digunakan untuk mengetahui caranya. Bait selanjutnya menjelaskan perihal orang mati yang konon telah melepaskan lima indria yang mengikat. Lima indria itu berturut-turut ialah mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit.

Kenapa kelimanya disebut mengikat? Karena dari kelima indria itulah manusia menikmati objek indrianya. Mata menikmati rupa dan warna. Hidung menikmati aroma. Telinga menikmati suara. Lidah menikmati rasa. Kulit menikmati sentuhan. Kelima objek itulah yang dinikmati oleh lima indria.

Lalu siapakah biang kerok dari segala perilaku penikmatan itu? Menurut shastranya, biang kerok itu bernama Pikiran.

Pikiranlah yang menginginkan terus menerus menikmati objek indria karena pikiran telah berhasil diikat. Kakawin Aji Palayon menjelaskan, orang yang mati dengan cara yang benar telah berhasil melebur segala racun pikiran yang mengikat itu.

Apa yang digunakan untuk melebur? Menurut pencerita Aji Palayon, peleburan itu dilakukan dengan sepuluh aksara suci dan Aji Kalepasan. Kita bicarakan nanti saja tentang kedua hal ini, sebab konon rahasia. Rahasia artinya halus, jadi untuk membicarakannya kita harus menggunakan suara yang halus. Bisik-bisik.

Bahagialah ruh yang merasa lepas dari kurungannya. Apakah kurungan ruh? Tubuh. Tubuh ini tidak lebih dari sekadar kurungan yang mengurung ruh. Lepas dari kurungan tubuh sudah sangat dinanti-nanti oleh ruh. Tentu saja, tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada terlepas dari penantian.

Setelah lepas dari tubuh, ruh tidak pergi begitu saja. Menurut ceritanya, ruh akan bertemu dengan sosok Barong Hitam yang diselimuti oleh kabut putih. Terkejutlah ruh itu. Kemudian ia ingat kembali dengan tubuhnya. Didekati tubuhnya sambil berucap sedih.

“O, tubuhku tempatku belajar dulu. Aku tak akan melupakan kasihmu. Tapi karena telah tiba waktuku, aku harus meninggalkanmu. Semoga kelak kita bertemu kembali”

Meminjam Tubuh

Tidak hanya sampai di situ, sang ruh ingin berbicara dengan orang-orang yang datang menjenguknya. Tapi tidak bisa. Tidak akan ada manusia hidup yang bisa mendengar suara Ruh, apalagi menyentuhnya. Tetapi ada satu jalan yang bisa ia tempuh. Ia bisa meminjam tubuh orang lain, saat orang tidur dan memakai wangi-wangian.

Artinya, Ruh bisa saja masuk saat menemukan orang yang tepat. Orang yang tepat ditemukan pada saat yang tepat pula. Saat yang tepat adalah saat tidur, orang yang tepat adalah orang yang memakai wangi-wangian. Saya sangat yakin, maksudnya bukanlah parfum. Mungkin kemenyan?

Meski demikian, jika ruh berhasil bicara dengan meminjam tubuh orang lain. Mestilah yang masih hidup memilih kata-kata yang dikatakan. Maksudnya menyaring, mana ucapan Ruh yang boleh atau tidak dilakukan. Hati-hati, katanya!

Kerasukan. Tampaknya itulah yang dimaksudkan oleh Aji Palayon. Dalam konteks ini, kerasukan terjadi karena ruh menginginkan mediator untuk mengatakan sesuatu. Saya penasaran juga, bagaimana jika ruh yang merasuki itu ingin melakukan sesuatu dan tidak hanya sekadar berkata-kata. Membelai kekasih misalkan?

Di dalam tradisi Bali, kerasukan bukanlah sesuatu yang tabu. Komunikasi ruh, barangkali itulah yang dimaksudkan. Ruh orang mati ditanya tentang ini dan itu. Tetapi Aji Palayon menyebutkan dengan jelas, bahwa segala yang dikatakan saat komunikasi itu berlangsung haruslah disaring-saring. Jangan sampai terjerumus.

Aji Palayon menceritakan bahwa ruh mengatakan terimakasih kepada seluruh orang yang menjenguknya. Ruh itu juga mendoakan agar semua orang yang datang mendapatkan kebahagiaan. Tidak terkecuali Pendeta yang menyelesaikan upacara kematiannya. Pada upacara itu, Pendeta juga bertugas membersihkan ruh menjadi Dwijati. Dwijati berarti lahir dua kali. Maksudnya adalah semacam ritual penyucian ruh agar lebih suci.

Dwijati juga sebutan untuk orang yang melakukan penyucian saat masih hidup. Penyucian ini dilakukan dengan ritual tertentu. Penjelasan tentang ritual ini sangatlah panjang. Jadi saya tidak akan menerangkannya lebih lanjut dalam tulisan ini.

Ruh yang telah lepas itu kemudian terbang mengawang-awang. Diibaratkan seperti api yang meninggalkan sumbunya. Seperti burung bebas dari sangkarnya. Kemana perginya ruh itu? Menurut Aji Palayon, perginya ke Sanggar. Yang dimaksud Sanggar adalah Merajan. Di sana menghadap kepada Tri Sakti.

Siapakah Tri Sakti juga tidak dijelaskan secara detail dalam teks. Tapi kita bisa menelusurinya tidak dalam teks, tapi dalam kontek. Sangat mungkin yang dimaksudkan sebagai Tri Sakti adalah Dewa-dewa yang berada di Rong Tiga. Kehadapan Rong Tiga, sang Ruh mengucapkan selamat tinggal.

Kemudian Ruh menghadap ke Pura Dalem. Di kuburan didengarnya suara menjerit. Ternyata Dewi Durga sedang dihadap oleh para punggawanya. Ada beberapa nama yang disebutkan: Anja-anja, Kumangmang, Raregek, Papengka, Kalika, Keteg-keteg, dan Bragala. Semua makhluk itu mendekat hendak memakan sang ruh.

Sang Ruh ketakutan dan hendak lari. Saat itu Dewi Durga menahannya, dan mengatakan agar jangan takut. Sang Ruh kemudian memuja Dewi Durga. Ada beberapa nama Dewi Durga yang disebutkan oleh sang Ruh.

Nama-nama itu sesuai dengan keberadaannya: Sang Hyang Bhagawati saat berada di Bale Agung. Sang Hyang Durga saat ada di kuburan. Sang Hyang Bherawi saat ada di Patunon. Dewi Putri saat berada di Gunung Agung. Dewi Danu saat ada di puncak Gunung Batur. Dewi Gayatri jika berada di pancuran dan telaga. Sang Hyang Gangga saat berada di segala sungai. Dewi Sri saat berada di sawah.

Setelah pujaan itu dilakukan, Dewi Durga mempersilahkan sang Ruh untuk melanjutkan perjalanan. Ada suatu ciri yang diberikan oleh pencerita Aji Palayon tentang kapan mestinya ruh itu pergi dari Pura Dalem. Cirinya bernama Bintang Siang. Bintang Siang konon juga menjadi ciri kalau matahari akan segera terbit.

Bagaimanakah wujudnya? Sebaiknya kita lihat dengan mata kepala sendiri. Bintang jenis apa yang berada di antara peralihan gelap dan terang itu. Peralihan atau perbatasan selalu saja mistis, dan jika perbatasan itu dicirikan oleh Bintang Siang. Artinya Bintang Siang juga mistis. Setidaknya begitulah menurut Aji Palayon.

Lalu kemanakah perginya Ruh setelah selesai menghadap Durga di Pura Dalem? Mari kita lanjutkan nanti. [b]

The post Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian appeared first on BaleBengong.

Minikino Lanjutkan Perjalanan Layar Tancap di Lombok

Dari Bali, kegembiraan MFW5 berlanjut ke pulau tetangga, Lombok.

Kegembiraan festival film pendek selama sepekan penuh di pulau Bali, Minikino Film Week 5, baru saja usai. Kini, kegembiraan berlanjut dengan Pop Up Cinema Roadshow kembali ke pulau Lombok pada 31 Oktober – 5 November 2019.

Minikino kembali mengadakan POST FESTIVAL POP-UP CINEMA ke Lombok. Kegiatan ini bekerja sama dengan Rotary Disaster Relief (RDR) D3420 dan Rotary Club Mataram, didukung oleh PICTURES PURIN, Yayasan KINO MEDIA dan Program Anak-Anak Festival Film Pendek Clermont-Ferrand.

Roadshow Minikino Film Week 5 di Lombok dimulai pada hari Jumat, 1 November 2019. Para relawan berjumlah tujuh orang berangkat sehari sebelumnya dan menempuh perjalanan selama hampir tujuh jam dengan dua kendaraan membawa berbagai perlengkapan pemutaran layar tancap atau yang disebut pop-up cinema.

Pagi hari dibuka melakukan workshop visual story telling bersama remaja di Desa Karang Bajo, Lombok Utara. Peserta workshop sejumlah 8 orang dengan beragam profil. Ada dua orang peserta yang masih kuliah sambil menjadi guru TK, ada yang sekolah tingkat SMU, bahkan ada yang masih bersekolah dan memutuskan untuk menjadi Youtuber.

Rata-rata para peserta workshop sudah kenal produksi video. Pengambilan gambar dilakukan dengan HP, mengedit, serta menyebarkan hasil videonya ke sosial media dan platform seperti Youtube.

Fasilitator workshop I Made Suarbawa dan Edo Wulia memulai pelatihan dengan perkenalan diri, mulai dari seluruh tim kerja Minikino sampai peserta; dengan teknik visual storytelling.

Keseluruhan peserta yang hadir diminta untuk melakukan visualisasi dirinya masing-masing ke dalam gambar. Ada yang membuat 3 gambar pada sehelai kertas, ada juga yang 4. Dari situlah mereka bercerita siapa mereka, apa yang mereka lakukan dan apa harapan mereka ke depan.

Sesi kedua workshop adalah membaca gambar. Ada dua teknik yang diterapkan pada lokakarya, yaitu Deskripsi dan Narasi. Teknik Deskripsi mengungkap apa yang ada dalam gambar. Sementara teknik Narasi diarahkan membuat cerita apa yang mungkin terjadi di balik gambar. Langkah berikutnya adalah membangun narasi dari beberapa gambar.

Sebenarnya bagian ini adalah pengenalan teknik editing. Dalam artian, susunan gambar ketika 3 buah gambar disusun menghasilkan cerita. Kemudian semua peserta diajak mencoba salah satu gambar digantikan dengan gambar lain. Para peserta menemukan cerita serta efek yang berbeda dari susunan gambar yang baru itu.

Sesi ketiga adalah bagian di mana para fasilitator workshop memancing teman-teman remaja untuk menceritakan sesuatu tentang desa mereka. Ada beberapa usulan di sana; menceritakan Desa Adat Bayan, yang merupakan desa asal-usul dari masyarakat Karang Bajo. Para remaja menganggap desa tersebut sebagai asal-usul mereka. Mereka masih mengikuti upacara dan kegiatan di rumah adat serta masjid tua yang ada di sana.

Ide lain saat workshop adalah menceritakan tentang kondisi desa mereka; tentang masjid, lapangan, ruang publik dan rumah mereka.

Antusias

Keseluruhan workshop seharusnya selesai pada pukul 12, tapi karena para peserta masih antusias maka seluruh ide cerita tadi dicatat. Sesi workshop tetap dibubarkan sementara karena para peserta harus pergi ke masjid untuk sholat Jumat. Seusai sholat jumat, kami berkumpul lagi, dan akhirnya diputuskan untuk mengangkat ide cerita tentang masjid.

Masijd desa saat gempa Lombok 2018 rusak dan banyak retak sehingga tak ada yang berani menggunakan. Akhirnya Masjid tersebut diratakan dengan tanah dan rencananya akan dibangun. Saat ini mereka menggunakan Masjid sementara, sebuah Masjid darurat yang dibangun di atas lapangan yang semula merupakan lapangan voli.

Pada sesi setelah sholat Jumat, para remaja peserta workshop menceritakan masjid sebagai subjek ide cerita. Mereka bercerita bagaimana kondisi Masjid sebelum gempa, setelah gempa, dan apa rencana untuk masjid itu ke depannya. Cerita mereka lengkap tentang renovasi sampai rencana pembangunan yang tahan gempa. Di sana tercermin harapan mereka dan desanya. Mereka juga menceritakan tentang trauma yang masih ada, dan bagaimana caranya mengatasi trauma tersebut.

Setelah para peserta workshop merekam suara dan cerita, mereka melanjutkan pengambilan gambar. Ada yang mengambil gambar puing-puing Masjid, kemudian saat Masjid darurat digunakan, serta lingkungan lapangan yang menjadi pasar sekaligus Masjid juga. Saat gempa Lombok 2018, lapangan luas bernama Ancak tersebut menjadi titik pusat pengungsian, baik warga dari Karang Bajo sendiri, maupun luar Desa Karang Bajo.

Ada para peserta yang sangat aktif sekali selama workshop. Mereka bercerita dengan artikulatif dan memiliki pengetahuan yang baik tentang desa mereka. Baihaqi dan Febi, merupakan beberapa peserta yang memiliki channel Youtube dengan followers 20 ribuan.

Mereka menciptakan karakter; seorang ibu yang mereka sebut sebagai ibu terkuat di Lombok. Uniknya, yang memerankan karakter Ibu adalah Febi, seorang laki-laki remaja. Genrenya adalah komedi, kerap meliput berbagai kegiatan di seputaran Lombok, termasuk isu-isu yang berkaitan dengan isu-isu kebersihan dan sampah.

Tak terasa sore mulai menjelang dan sudah saatnya membangun layar untuk memutar film di pop-up cinema alias layar tancap malam pertama ini di Desa Karang Bajo. Pemutaran film malam ini diadakan di Lapangan Ancak, tepat di sebelah Masjid darurat merupakan tempat pemutaran layar tancap malam ini.

Hasilnya diputar pada akhir sesi layar tancap. Pemutaran baru bisa dilakukan setelah sholat Isha sekitar pukul 8 malam atau lewat 15 malam ini.

Film-film pendek yang diputar malam ini ialah program film pendek untuk semua umur, termasuk program film pendek untuk usia 7-10 tahun yang dipilih khusus oleh Festival Film Pendek Internasional Clermont-Ferrand untuk Minikino Film Week 5. Mereka adalah SNEJINKA karya sutradara Natalia Chernysheva dari Rusia, PANIEK! karya Joost Lieuwma & Daan Velsink dari Netherland, LE LION ET LE SINGE karya Benoit Feroumont dari Belgia, DVA TRAMVAYA karya Svetlana Andrianova dari Rusia, dan THE BIRD & THE WHALE karya Carol Freeman dari Irlandia.

Ada pula VIVAT MUSKETEERS! karya Anton Dyakov dari Russia, LE RENARD MINUSCULE karya Aline Quertain & Sylwia Szkiladz dari Prancis, Belgia dan Switzerland serta HORS PISTE karya sutradara Léo Brunel, Loris Cavalier, Camille Jalabert, Oscar Malet dari Prancis.

Selain itu juga diputar empat film pendek dari Indonesia yaitu ARA NGIDAANG NAANANG karya sutradara Putu Yuli Supriyandana, SALAH TAMPI karya I Made Suisen, FADE OUT karya Achmad Rezi Fahlevie, dan PENDEKAR TAFSIR MIMPI karya sutradara Kevin Muhammad yang juga merupakan pemenang kompetisi pembuatan film pendek 34 Jam Begadang Filmmaking Competition 2019. [b]

Keterangan: Artikel dibuat bersama dengan I Made Suarbawa dan Rickdy Vanduwin S.

The post Minikino Lanjutkan Perjalanan Layar Tancap di Lombok appeared first on BaleBengong.

Kalung Badong, Pelengkap Sunatan di Loloan yang Kian Langka

Loloan masih memelihara pernak-pernik budaya Bugis Makassar dan Melayu.

Hal ini dapat kita lihat pada saat acara sunatan atau lebih popular disebut khitanan. Salah satu yang unik yaitu pemakaian kalung bugis pada anak yang akan disunat. Namanya kalung badong.

Sangat jarang masyarakat yang memiliki kalung badong. Sehingga, tak jarang kalung badong menjadi rebutan warga yang berusaha meminjam kalung tersebut untuk menyunat anaknya.

Kadang kala untuk menetapkan hari acara sunatan anaknya, seorang warga menetapkan harinya sesuai jadwal atau giliran dapat meminjam kalung badong tersebut kepada pemiliknya. “Rebutan kalung badong” sering membuat pemilik kalung badong kebingungan. Mereka harus menghadapi dua orang yang datang bersamaan untuk meminjam kalung badong tersebut.

Hal ini biasa terjadi pada musim sunatan. Biasanya sunat dilaksanakan pada bulan-bulan Rabiul Awal. Masyarakat Loloan baik di kelurahan Loloan Timur maupun di kelurahan Loloan Barat lebih akrab menyebut dengan nama bulan Maulud.

Kata Badong sendiri berasal dari serapan kata bugis. Bado berarti pelengkap. Sehingga kalung badong bermakna sebagai pelengkap dalam acara sunatan tersebut. Selain kalung badong, juga perlengkapan yang disiapkan kuarik pendamping dari kalung badong, tombak bandrangan dan kain setalam bersama senjata peninggalan warisan dari Bugis-Makassar.

Kalung Badong sebagai pelengkap perhiasan anak dalam prosesi khitan umumnya digunakan di masyarakat Loloan, baik Loloan Timur maupun Loloan Barat. Biasanya kalung badong Loloan dikalungkan di leher dengan kuarik dan aksesoris batu permata. Anak yang dikhitan memakai songket atau kain tenun berwarna kuning.

Secara umum pemakaian kalung badong untuk prosesi khitan anak lelaki cukup memasyarakat di tahun 1970 an hingga tahun 1990. Anak yang dikhitan tampak berseri dengan kalung badong leher sebelum dilakukan khitan. Kalung badong beserta kuarik tidak akan dilepas di leher sang anak jika sang anak belum sembuh dan pulih setelah dikhitan.

Prosesi khitan yang komplet biasanya menggunakan perlengkapan kalung badong komplet dengan kuarik, tombak bandrangan serta kain setalam dan rantasan, sajian yang disiapkan di saat prosesi khitan dilaksanakan.

Kekuatan magis dari Kalong Badong kadang mengundang rasa heran juga. Pernah seorang anak disunat tanpa memakai kalung badong. Selang beberapa menit sejak disunat tampak darah mengucur deras tiada henti, sehingga tuan rumah panik.

Akhirnya seseorang berusaha mencarikan atau meminjam kalung badong. Ketika kalung badong tersebut dikalungkan ke leher sang anak, ajaib, darah pun berhenti mengucur. Sang anak berhenti dari tangisannya.

Hanya sayang sekali saat ini pemakaian dari kalung badong dalam prosesi khitanan sudah sangat jarang, kecuali para keturunan Bugis-Makassar yang tetap berusaha melestarikannya di tengah derasnya era zaman android yang kini semakin memasyarakat.

Pemakaian kalung badong saat ini di Loloan, sudah tergantikan dengan kalung perhiasan dari emas. Sudah sangat jarang sekali masyarakat yang memilik kalung badong tersebut. [b]

The post Kalung Badong, Pelengkap Sunatan di Loloan yang Kian Langka appeared first on BaleBengong.

Minikino Film Week 2019: 140 Program 3754 Penonton

Festival film pendek Minikino Film Week 5 mendapat pengakuan internasional.

Minikino Film Week 5, Bali International Short Film Festival telah berakhir pada Sabtu, 12 Oktober 2019 lalu. Bertempat di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, festival film pendek internasional MFW5 menutup seluruh rangkaian acaranya dengan mengumumkan pemenang kompetisi dan peraih penghargaan film pendek terbaik untuk masing-masing kategori.

Malam penghargaan tersebut dihadiri oleh para sutradara, tamu dan undangan festival dari berbagai negara. Hadir juga para pendukung acara, serta sponsor festival. Semuanya berkumpul kembali setelah berpencar ke berbagai penjuru pulau Bali selama satu minggu sebelumnya.

Direktur Festival MFW5 Edo Wulia dalam laporannya menyampaikan, tahun ini MFW5 kedatangan 68 tamu festival, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Penonton yang hadir tercatat ada 3754 orang dari 140 program yang berbeda, termasuk didalamnya yaitu 119 pemutaran serta 21 talks dan forum diskusi di 9 lokasi Micro Cinema dan 3 Pop Up Cinema. Di antaranya banyak ditemui nama-nama profesional, sutradara dan pelaku festival lain yang juga hadir, termasuk salah satu founder dari Clermont-Ferrand Short Film Festival; Roger Gonin dan direktur Tampere Film Festival; Jukka-Pekka Laakso yang sekaligus menjadi salah satu dewan juri tahun ini.

Pemenang kompetisi nasional tahunan Begadang Filmmaking Competition 2019 diraih oleh kelompok produksi Small Time Pictures dari Sleman, Jawa Tengah dengan film pendeknya berjudul “Pendekar Tafsir Mimpi”. Direktur Eksekutif MFW5 Made Suarbawa mengatakan, film pendek dengan durasi empat menit tiga puluh empat detik tersebut terpilih karena berhasil menampilkan idenya yang segar, menghibur, berani menabrakkan hal nyeleneh hingga memunculkan orisinalitas, tapi tetap dengan batasan elemen maupun waktu produksi yang sempit, yang menjadi persyaratan kompetisi.

Sedangkan untuk penghargaan internasional, diumumkan secara berturut-turut, Best Children Short yang diraih oleh Aviv Kaufman dari Israel dengan film pendek berjudul “Milestone”, Best Documentary diraih oleh Johan Palmgren dari Swedia dengan judul “The Traffic Separating Device”, Best Animation diraih oleh Florentine Grelier dari Perancis dengan judul “My Juke Box”, Best Audio Visual Experimental diraih oleh Daphne Lucker dari Netherland dengan judul “Sisters”, lalu Programmer’s Choice dinobatkan pada “Eva” arahan Xheni Alushi dari Swiss. Selanjutnya, Best Fiction diraih oleh Amanda Nell Eu dari Malaysia dengan judul “Vinegar Baths”. Dan terakhir diumumkan adalah penghargaan yang paling bergengsi, yaitu The Best Short Film of the Year dianugerahkan kepada film “Fauve” arahan Jeremy Comte dari Kanada.

Fransiska Prihadi sebagai direktur program, bekerja bersama susunan dewan juri yang sudah mulai bekerja mempertimbangkan film-film pilihan ini sejak bulan Juni 2019. Fransiska menegaskan kembali, “Minikino mendapat kehormatan atas dukungan dan perhatian dari tokoh-tokoh yang kami kagumi. Prestasi kerja dan pencapaian mereka sudah menjadi perhatian kami sejak lama,” katanya.

Mandy Marahimin adalah produser terkemuka Indonesia, saat ini film terbarunya juga sedang beredar di bioskop-bioskop utama, kemudian Putu Kusuma Wijaya, sutradara dan penulis dengan pengalaman yang sangat luas, selalu membantu kami sejak awal dengan berbagai masukan berharga.

Lalu Sanchai Chotirosserane yang menjabat  sebagai Deputy Director dari the Film Archive Thailand, serta Jukka-Pekka Laakso saat ini menduduki posisi tertinggi sebagai direktur Tampere Film Festival di Finlandia. TFF adalah salah satu dari jajaran festival film pendek terpenting dan bergengsi di dunia yang sudah menjadi perhatian Minikino sejak lama.

Pengumuman penghargaan masih berlanjut. MFW Youth Jury 2019 tahun ini terdiri dari Kayla Amare Budiwarman, Benedictus Richi Tamrin, Stella Melody Winata dan Qiu Mattane Lao. Keempat remaja ini menjalani pelatihan apresiasi film langsung dari komite bulan Juni lalu. Perwakilan dari dewan Youth Jury 2019 yang hadir pada malam itu, Qiu dan Stella mengumumkan keputusan mereka untuk film pendek peraih penghargaan Youth Jury Award 2019, yaitu “Sisters” karya Daphne Lucker dari Netherland.

Qiu membacakan tulisan yang ditulis bersama oleh para Youth Jury 2019, “Sisters adalah film pendek yang segar, liar, dan sarat eksperimen, film ini berhasil menyampaikan kisah yang rumit dalam sebuah pengalaman audio visual yang sulit dilukiskan kata-kata. Kami terhanyut dan terharu dalam aliran cerita dan nuansa dalam film tersebut. Film ini tidak menyuapkan ceritanya pada penonton, tapi menawarkan ruang untuk interpretasi yang sangat personal. Film yang sangat indah.”

Lebih lanjut Stella dan Qiu menjelaskan, “Kami menyaksikan film ini menggabungkan dua bentuk seni, yaitu tari dan sinema ditambah dengan musik untuk menampilkan sebuah kualitas mahakarya, namun sekaligus tetap mudah dinikmati penonton awam.”

Malam penghargaan MFW5 ditutup dengan pemutaran film pendek peraih Best Short Film of the Year yaitu “FAUVE”. Tidak ada kalimat panjang yang diucapkan dewan juri dalam memilih film ini selain, “It’s just wooohh, a real great film!”.

Sebelum acara benar-benar berakhir, Edo Wulia menambahkan bahwa, agenda MFW5 masih berlanjut sampai dengan rangkaian acara post-festival, yakni gelaran Pop Up Cinema pada 31 Oktober-4 November 2019 mendatang di Lombok yang bekerjasama dengan Rotary D3420 Disaster Relief , Rotary Club Mataram di Lombok dan didukung oleh Purin Pictures. Workshop dan Pop Up Cinema Lombok ini akan diadakan di Santong Mulya, Lombok Utara, kemudian di Dopang, Lombok Barat, serta Penimbung, Lombok Barat.

Seluruh daftar peraih penghargaan 2019 sudah dapat dilihat di halaman website https://minikino.org/filmweek/mfw5/2019-awards-winner. Semoga perhelatan internasional ini bisa memberikan inspirasi bagi pelaku produksi film pendek Indonesia, untuk berani lebih serius lagi dan terus menggali kedalaman karya-karyanya.

The post Minikino Film Week 2019: 140 Program 3754 Penonton appeared first on BaleBengong.

Ayam di Bali, dari Aduan hingga Persembahan

Ada yang menganggap keramat, banyak pula yang mengadunya hingga tamat.

Kebun itu luasnya tak seberapa. Persis berada di seberang jalan, sebelum Pura Dalem Gunung Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Badung. Klangsah, anyaman kelabang yang terbuat dari daun kelapa tua, memagari kebun sekaligus menjadi atap peneduh beberapa bilik.

Sekitar 20 ayam dalam kurungan, dijajarkan rapi di depan pintu masuk. Di sebelahnya, berdiri papan memajang potret-potret lelaki berdestar, berambut gondrong memegang ayam.

Pelestarian Ayam Bali Exhibition, kata-kata itu begitu jelas terpampang. Lelaki dalam potret itu, Apung namanya.

Apung, lahir di tanah Bali, sejak kecil sudah memiliki kecintaan terhadap alam khususnya ayam. Awalan isi buklet itu, saya baca sepintas.

Kemudian menjadi amat menarik karena kalimat berikutnya: “Mulai tahun 1993, Apung berekseperimen dengan pembiakan, menghadirkan isi naskah lontar menjadi bentuk ayam yang layak seutuhnya menjadi persembahan di berbagai upacara adat sesuai dengan kitab.”

“Bagi masyarakat Hindu, ayam adalah representasi dari tiga tingkatan eksistensi manusia: etis, estetis dan religius. Karenanya ayam lazim digunakan dalam upacara keagaman sebagai bentuk dari harmonisasi hubungan vertikal manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa.”

“Beda upacara, beda pula ayam yang harus dihadirkan. Begiu pula beda daerah, beda pula dengan tradisinya walaupun sama-sama di tanah Bali”.

Begitu isi buklet itu dengan sedikit pemenggalan alinea biar lebih enak dibaca.

Ayam Ganteng

Di satu kesempatan, Pak Apung lalu bercerita di antara ayam-ayam kesayangannya. Semenjak kelas 4 SD ia sudah menyukai ayam. Baginya ayam itu adalah seni yang indah.

Ayam yang ganteng, ia jaga supaya tidak dipotong. Dia senang melihat bulunya, bentuknya, semisal tanpa ekor – sangkur namanya, bentuk jambul, kuncir, kaki dan sebagainya.

Budidaya ayam Bali telah ia rintis sejak tahun 1993. Ia mendapat filosofi besar dari orang-orang yang datang ke rumahnya. Yang memberi identifikasi tentang jenis ayam- ayam tertentu untuk upacara.

“Begini, kalau ayam itu berhasil saya ternak ada orang cari ke rumah ternyata ayam itu layak untuk dipakai upacara,” katanya.

“Untuk mencross-checknya, saya mencari buku-buku dan bertanya dengan sulinggih-sulinggih. Kalau sulinggih, Wrespati Kalpa, kalau bebotoh, Pengayam-ayam,” tambahnya lagi.

Ia baca naskahnya berkali-kali. Membayangkan bentuknya lalu berusaha mengembangbiakkannya. Bertanya-tanya ke kampung-kampung, lalu mengawinkannya di rumah. “Saya bayangkan. Ayamnya tidak ada di gambar,” ceritanya.

Betul saja, lontar pengayam-ayam yang ia sebutkan memuat 43 jenis ayam dengan sekian ciri keutamaan, hari baik, arah dan seterusnya. Sedangkan Wrespati Kalpa, memuat perihal jenis ayam-ayam tertentu sebagai kelengkapan upacara meruwat atau mebayuh.

Untuk Mengharmoniskan

Seorang pendeta yang hadir, Ida Ratu Peranda Ishana Manuaba, menjelaskan tentang fungsi ayam dalam ritual keagamaan hindu di Bali. Dalam penjelasannya, fungsi ayam dalam agama hindu paling banyak digunakan pada caru, yadnya caru bhuta yadnya.

Beliau menjelaskan, caru itu asal katanya dari car yang artinya harmonis. Kita mengharmoniskan energi mikrokosmos yang ada di dalam diri kita dengan energi alam semesta, makrokosmos, dengan sarana ayam yang disebut dengan caru.

“Kenapa pakai ayam? karena ayam punya energi, kreatifitas dan etos kerja yang baik,” dalam sebuah video dokumenter yang diputar disana, beliau menjelaskan.

Video pendek berjudul The Chosen Rooster juga turut diputar. Ada tiga sulinggah yang menjadi narasumber. Selain Ida Ratu Peranda Ishana Manuaba, ada juga Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Beliau menjelaskan bahwa bagi masyarakat Bali, ayam adalah kebutuhan yang sama sekali tidak bisa dikesampingkan.

Segala ritual di Bali pasti memakai ayam dengan berbagai warna bulu, warna kaki dan banyak sekali warna-warna spesifik untuk upacara.

Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Ananda juga turut menjelaskan kaitan ayam dengan sistem religi bagi umat Hindu di Bali. Ayam hampir tak pernah absen dalam setiap upacara.

Menurut Mpu Jaya Acharya, dalam klasifikasi tentang karakter dari binatang ada tiga pembagian: klaster wise (kebijaksanaan; satyam), klaster enerjik – rajasik, klaster pemalas. Ayam masuk dalam klaster enerjik.

“Kehadiran ayam dalam bentuk ritual di bali itu adalah bagaimana membangun kreatifitas dan dinamiasasi. Karena ayam itu kreatif,” jelasnya.

Ayam Keramat

Video The Chosen Roster adalah bentuk kerja sama Apung Thanks To Bali dengan Cinemawithoutwall. Videonya sendiri bisa ditonton di Youtube.

Di eksibisi Pelestarian Ayam Bali Apung Thanks To Bali itu, Pak Apung turut mengajak karibnya dan mereka yang ia temukan dalam perjalanan preservasi ini. Ada Mangku Gede Sandi yang datang dari Celukan Bawang, Gerokgak, Buleleng. Mereka bertemu di Pasar Hewan Beringkit ketika Pak Apung membeli ayamnya.

Ada juga Ibu Kadek Sasmitara dari desa Dawan Klungkung yang piawai membuat Tali Kupas dari Gedebong, pelepah batang pisang kering. Juga ada kakek berusia 68 tahun dari Dawan yang piawai membuat tas ayam kisa dari daun kelapa tua.

Apung mengundang teman-temannya dari delapan kabupaten untuk ia titipi ayam-ayamnya dan kemudian dibudidayakan lagi.

Ayam Bali adalah ayam yang keramat. Disebutkan dalam literatur-literatur kuno, yang fungsinya sama pentingnya dengan sarana-sarana persembahan lain yang mengantarkan pada satu tujuan. Bila tujuan itu mulia, tak ada usaha yang sia-sia.

Dalam laman Instagram yang bernama apungthankstobali, tertulis: I cannot stand here. I have to do something to make sure that they are here to stay, with us Balinese People. This is my path to nirvana.

Bagi Pak Apung, ini adalah jalannya. [b]

The post Ayam di Bali, dari Aduan hingga Persembahan appeared first on BaleBengong.