Tag Archives: Budaya

The Heron and The Fish: Menikmati Cerita dalam Drama

The Heron and The Fish, pertunjukan drama tari bersumber dari cerita rakyat. Foto oleh Diah Dharmapatni.

Kapan terakhir kali menikmati dongeng?

Dongeng begitu identik dengan anak-anak. Tapi, sesungguhnya banyak makna kehidupan terkandung pada setiap kisah. Orang dewasa terkadang mulai lupa menikmati cerita-cerita, seperti dongeng, legenda, cerita rakyat, fabel dan lain sebagainya.

Cerita merupakan sebuah media lintas generasi untuk menyampaikan pesan moral. Sebuah media bagi orang tua untuk mendidik anaknya. Untuk itu, cerita menjadi lebih hidup dan berkembang jika ia terus berada di dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu sumber cerita itu berasal dari Panca Tantra, bagian dari sastra India yang menggunakan hewan sebagai karakter dalam cerita. Menurut Ambar Andayani, dalam makalah Transformasi Teks Dari Pancatantra India Ke Tantri Kamandaka Jawa Kuno: Telaah Sastra Bandingan, Panca Tantra menyebar di seluruh India dalam bahasa Sansekerta pada 200 SM. Kisah Panca Tantra berisi tuntunan perilaku bijaksana dalam hidup atau ajaran tentang ketatanegaraan.

Panca Tantra masuk ke Indonesia melalui penyebaran agama Hindu. Ajaran tersebut akhirnya digubah ke dalam bentuk cerita bernama Tantri. Cerita Tantri sangat populer di Jawa dan Bali sebagai cerita dengan karakter binatang atau fabel. Lebih lanjut dalam tulisan Astarini Ditha, TANTRI, Kekuatan Sebuah Dongeng, cerita Tantri di Bali juga diterjemahkan ke dalam seni pertunjukan, seperti drama tari Gambuh dan wayang kulit Tantri.

Kali ini, sebuah drama tari modern mengambil salah satu kisah Tantri bertajuk The Heron and The Fish atau dalam Bahasa Indonesia, Bangau, Ikan dan Kepiting dipertunjukan di Bali. Pertunjukan ini hadir di dua waktu dan tempat yang berbeda. Sabtu, 17 Juni di Teater Beji Bali Purnati Center for the Arts (Batuan) dan Minggu, 18 Juni di  Wantilan Water Garden ARMA Resort (Ubud).

Si Bangau sedang menghasut para Ikan. Foto oleh Diah Dharmapatni.

Drama tari ini merupakan adaptasi dari cerita rakyat dari Jawa Tengah. Di Bali, kisah ini serupa dengan cerita Pedanda Baka. Kisah Pedanda Baka bercerita tentang seekor burung bangau yang berpura-pura menjadi seorang pendeta agar ikan-ikan bersedia menghampirinya. Seekor kepiting berusaha mengingatkan ikan-ikan itu bahwa itu adalah tipu muslihat si bangau.

Namun pada pertunjukan ini tidak menampilkan tokoh pendeta, hanya ada tiga karakter yaitu Bangau, Ikan dan Kepiting. Drama tari ini disutradarai oleh Evan Silver asal Chicago, Amerika Serikat. Evan adalah seniman teater yang berhasil meraih beasiswa Henry Luce untuk melakukan residensi seni di Bali selama 10 bulan. Selama residensi, Evan membaca cerita-cerita rakyat nusantara, termasuk kisah Tantri.

Evan memilih cerita Bangau, Ikan dan Kepiting bukan tanpa sebab. Menurutnya, cerita ini sangat tepat menggambarkan situasi Indonesia, bahkan dunia. Kehidupan manusia yang carut-marut akibat informasi palsu yang mudah tersebar dan tampak benar. Hal ini dapat terlihat dari bagaimana karakter Bangau yang ingin memakan Ikan dengan tipu muslihatnya.

“Lewat pertunjukan ini, saya ingin menghidupkan kembali cerita itu di tengah-tengah kita dalam bentuk yang berbeda, gabungan drama dan tari,” ungkap Evan.

Beberapa penonton turut merespon judul versi Bahasa Inggris dan Indonesia pada drama tari ini. Judul The Heron and The Fish memang sangat menonjol dalam publikasi acara. Padahal, terjemahan judul dalam Bahasa Indonesia menjadi Bangau, Ikan dan Kepiting. Lalu, mengapa Kepiting tak muncul dalam judul versi Bahasa Inggris?

Evan beralasan ingin menonjolkan  dua tokoh utama dalam cerita ini, yaitu Bangau yang menipu Ikan. Sementara, Kepiting berada di antara dua tokoh utama tersebut.

Kolaborasi Seniman Indonesia

Kolaborasi dalam drama tari ini sangat unik karena melibatkan seniman dari berbagai wilayah di Indonesia. Para aktor di antaranya, Anwari (Madura) sebagai Kepiting, Willy Heramus (Kalimantan) sebagai Bangau dan anak-anak Desa Batuan (Bali) sebagai ikan-ikan.

Meskipun tampil di wilayah pariwisata, drama tari ini dipentaskan dalam Bahasa Indonesia. Namun, para Warga Negara Asing (WNA) tetap dapat mengikuti jalan cerita berkat penyanyi asal Filipina, Sandrayati Fay yang bertugas sebagai penyanyi latar dan narator. Selain Sandrayati Fay, Budali juga turut mengisi musik latar dari gendang khas Madura.

Ahli ogoh-ogoh ramah lingkungan dari Bali, Marmar Herayukti juga terlibat dalam pembuatan wayang Ikan. Sementara itu, kostum Bangau dirancang oleh Evan Silver dan dikerjakan bersama ahli topeng Bali, Ida Bagus Alit. Alur pertunjukan tak akan sempurna tanpa Nuy Darmadjaja asal Jakarta yang bertindak sebagai manajer panggung.

Willy Heramus, si Bangau, adalah seorang penari Dayak lulusan jurusan tari di ISI Yogyakarta. Penari asal Pontianak, Kalimantan Barat ini tampil dalam pertunjukan reguler di Bali Nusa Dua Theatre.  Sepanjang pengalamannya sebagai penari, Willy mengaku baru pertama kali menggunakan topeng. Oleh sebab itu, penampilannya sebagai Bangau menjadi tantangan tersendiri baginya.

Si Bangau siap menerkam Si Ikan. Foto oleh Diah Dharmapatni.

Anwari, si Kepiting, adalah seorang aktor teater tubuh sekaligus pendiri Padepokan Seni Madura Center for the Arts. Ia adalah salah satu dari 16 aktor asal Indonesia yang diundang untuk mengikuti pelatihan Suzuki Method of Actor Training di Jepang, tahun lalu. Dalam garapan ini, Anwari merasakan hal yang lucu ketika berperan sebagai Kepiting.

“Proses ini begitu menyenangkan, sekaligus lucu. Biasanya saya menangkap dan memakan kepiting. Tapi, sekarang malah harus jadi kepiting itu,” ujar Anwari.

Lebih lanjut, Evan menjelaskan pertunjukan ini adalah pengalaman pertamanya menyutradarai sebuah garapan dalam Bahasa Indonesia. Evan sendiri belum genap setahun berada di Indonesia, namun dirinya tampak cukup fasih berbahasa Indonesia. Evan berupaya memahami Bahasa Indonesia untuk memudahkannya menjadi pengarah pertunjukan, termasuk mengarahkan anak-anak yang berperan sebagai Ikan.

“Salah satu hal yang cukup sulit mengarahkan anak-anak untuk berekspresi sesuai naskah. Mereka banyak tersenyum, padahal seharusnya ketakutan oleh si Bangau. Tapi itulah serunya,” tutur Evan.

Anak-anak Desa Batuan berperan sebagai Ikan dalam The Heron and The Fish. Foto oleh Diah Dharmapatni.

Para seniman berlatih bersama selama dua minggu di Yayasan Bali Purnati, Desa Batuan, Sukawati. Nuy, sebagai manajer panggung mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk pertunjukan ini. Ia mengaku sangat bangga dapat bekerja dengan para seniman berbakat.

“Ini semua berkat para seniman yang benar-benar passionate di bidangnya. Bahkan, sebelum saya minta berkoordinasi satu sama lain, mereka sudah menemukan chemistry-nya,” kata Nuy.

Pada bagian akhir drama tari ini, anak-anak yang tadinya berperan sebagai ikan menghampiri Sandra sembari menanyakan mengapa ceritanya begitu sedih. Sandra pun menjelaskan pesan moral di dalam cerita tersebut.

“Jangan mudah percaya pada siapapun, percaya pada kata hati sendiri,” jelas Sandra saat menutup drama tari The Heron and The Fish. [b]

The post The Heron and The Fish: Menikmati Cerita dalam Drama appeared first on BaleBengong.

Pertanyaannya, Gianyar Kota Pusaka untuk Siapa?

Pawai budaya di Gianyar Kota Pusaka saat berlangsung Rakernas JKPI VI di Gianyar April 2017 lalu. Foto JKPI.

Kabupaten Gianyar terpilih menjadi anggota Organisasi Kota Pusaka Dunia.

Keputusan Gianyar sebagai anggota Organization of World Heritage Cities (OWHC) ini menambah panjang kota di Indonesia yang sudah masuk OWHC lebih dulu, Surakarta (Jawa Tengah) dan Denpasar (Bali). Namun, selain mendatangkan harapan, dia juga melahirkan sejumlah pertanyaan.

Pertama sisi optimistik bahwa gelar kota pusaka yang disandang Gianyar akan serta-merta akan menaikkan citra Gianyar sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya. Wayan Geriya, misalnya memberikan batasan sangat prestisius terkait Gianyar sebagai Kota Pusaka. “…satu identitas kaya potensi, besar harapan dan dalam makna. Kaya potensi mencakup totalitas pusaka alam, budaya, dan saujana yang tersebar di seluruh kecamatan …,” tulisnya di Pusaka Budaya, halaman 11.

Ini sebuah rumusan sangat brilian dari pakar budaya yang sudah tidak diragukan lagi bobot pemikirannya.

Selanjutnya Geriya juga menjelaskan soal kemungkinan-kemungkinan sinergi yang bisa terbangun antara program Kota Pusaka dengan pariwisata dan ekonomi kreatif. Semua bermuara kepada pemahaman agar keseluruhan strategi dan program Kota Pusaka bisa meningkatkan kesejahteraan warga dan memperkokoh sendi-sendi kebudayaan Kabupaten Bumi Seni.

Keseluruhan ide tersebut sangat baik dan mulia. Kabupaten Gianyar memang layak menyandang sebutan kota pusaka karena warisan sejarah baik berupa artefak maupun ide-ide adiluhung yang menghidupi berbagai tebaran artefak tersebut.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Dr. Laretna T. Adhisakti, dosen Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pelopor gerakan kota pusaka di Indonesia. Menurutnya pusaka sebagai warisan leluhur bukan hanya tinggalan berwujud (tangible) namun juga tinggalan intangible. Seluruh peninggalan benda dan tak benda tersebut harus dilestarikan, dikembangkan, dan dijadikan aset daerah sehingga memiliki nilai ekonomi.

Ada semacam kesadaran bersama yang terekam dalam berbagai ulasan terkait diseminasi kesadaran tentang pentingnya kota pusaka, yaitu pentingnya pemanfaatan pariwisata sebagai medium edukasi masyarakat sekaligus sarana menghasilkan manfaat ekonomi kota pusaka bagi masyarakat luas. Kesadaran ini melegakan karena pengakuan pentingnya melibatkan aspek pariwisata akan menghasilkan manfaat ganda.

Pertama, pesan-pesan kota pusaka akan menjangkau khalayak lebih luas, yakni masyarakat lokal dan wisatawan. Kedua, melalui pengembangan pariwisata kesejahteraan masyarakat sekitar tinggalan heritage akan dapat ditingkatkan. Kondisi demikian akan bisa menimbulkan dampak berbalik berupa munculnya rasa kepemilikan yang kuat dari masyarakat terhadap keberadaan situs.

Perlu Didalami

Setelah mencoba memahami ide besar ‘kota pusaka’, sebagai orang yang awam dalam dirkursus kebudayaan, menurut saya sekurang-kurangnya terdapat dua isu yang mesti lebih didalami.

Pertama, soal kaitan warisan pusaka dengan pariwisata. Menjadikan warisan pusaka sebagai destinasi wisata tentu sah-sah saja. Namun, persoalannya tentu tidak sesederhana seperti mengembangkan destinasi jenis lain, semisal destinasi berbasis alam atau buatan.

Pengembangan destinasi pariwisata berbasis pusaka atau heritage membutuhkan strategi khusus, mengingat bahwa ia termasuk pariwisata minat khusus. Aspek yang dikemas dan ‘dijual’ dalam destinasi berbasis heritage adalah cerita dan makna di balik sebuah situs, bukan perwujudan fisik heritage an sich.

Kondisi ini membutuhkan upaya lebih keras dalam mengemas sebuah warisan pusaka sebagai destinasi wisata populer. Masyarakat di sekitar situs atau warisan pusaka juga harus dipastikan bisa terlibat dalam upaya pengembangan tersebut.

Bagaimana hal tersebut hendak dilakukan? Seperti apakah respon masyarakat Gianyar yang tinggal di sekitar situs terhadap pariwisata?

Kedua, konsep kota pusaka dihadirkan tentu dengan maksud agar semua warisan budaya yang dikategorikan sebagai pusaka bisa dilestarikan sehingga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Perlu diingat bahwa konsep pelestarian berbeda dengan preservasi. Dalam pelestarian terdapat aspek penambahan dan penyesuaian, sedangkan preservasi hanya mengawetkan.

Pertanyaan saya adalah bagaimana gerakan kota pusaka melihat peran generasi muda (anak-anak, remaja, orang dewasa pemula) dalam pelestarian pusaka di Gianyar? Atau bagaimana pemahaman generasi muda terhadap warisan pusaka yang begitu kaya di daerahnya?

Tulisan singkat ini tidak bermaksud menjawab tuntas dua isu di atas. Paling tidak saya ingin menyumbangakan beberapa poin pemikiran yang sekiranya dapat menjadi pijakan awal manakala kita ingin menelaah lebih mendalam kedua isu tersebut.

Kendala Pengembangan

Besarnya potensi pengembangan berbagai warisan pusaka Gianyar, khususnya yang bertipe tinggalan arkeologi tidak serta merta berdampak terhadap kehidupan perekonomian warganya, sebagaimana cita-cita gerakan kota pusaka. Dari hasil serangkaian wawancara di beberapa tempat di Kecamatan Tampaksiring tahun lalu, hal ini akibat beberapa kendala dalam pengembangan berbagai potensi yang ada.

Ada beberapa kendala.

Pertama, kendala Sumber Daya Manusia (SDM), di mana kurangnya SDM yang berkualitas dalam mengembangkan pariwisata berbasis heritage. Banyak anak muda sekitar situs lebih memilih untuk merantau dan bekerja ke luar desa atau daerahnya.

Kedua, sebagian besar warga masyarakat masih kesulitan berkomunikasi dalam bahasa Inggris ataupun asing lain dengan wisatawan. Faktor ini menyebabkan minimnya kemampuan warga dalam menyampaikan informasi seputar potensi wisata yang dimiliki kepada calon wisatawan.

Ketiga, kesadaran masyarakat, di mana opini masyarakat yang selalu menginginkan agar hasil dari suatu proses pariwisata tersebut dapat dinikmati dalam tempo yang cepat (instant). Padahal, agar proses tersebut dapat berjalan dengan baik, waktu yang dibutuhkan akan cukup lama.

Keempat, rendahnya inovasi dan kreatifitas warga dalam mengelola potensi yang dimiliki. Sangat sulit menemukan figur-figur yang berani berpikir ‘keluar cangkang’ (out of the box) di daerah penelitian. Sebagian besar warga masih menganut cara berpikir normal yang bussiness as usual. Berperilaku, berucap, dan berpikir sebagaimana lazimnya orang lain pada umumnya.

Kelima, status tinggalan purbakala yang disandang oleh berbagai obyek wisata memengaruhi rendahnya inisiatif masyarakat dalam mengembangkan pemanfaatan situs sebagai destinasi wisata. Ada semacam kekhawatiran kolektif apabila situs tersebut dikembangkan atau dimanfaatkan sebagai destinasi wisata, maka kegiatan itu akan dikategorikan sebagai langkah melanggar UU Kepurbakalaan. Kaburnya batas-batas zone konservasi dengan zone pemanfaatan membuat berbagai pihak termasuk para pemimpin di desa ragu-ragu dalam mengembangkan pariwisata di situs-situs yang terdapat di wilayahnya.

Menjadi Virus

Kondisi-kondisi ini menimbulkan kesan bahwa respon masyarakat kurang baik dalam mengelola segenap potensi heritage (pusaka) yang ada. Masyarakat seakan-akan tidak bisa memanfaatkan potensi yang ada untuk bisa menarik minat kunjungan wisatawan. Hambatan-hambatan internal di atas menjelma menjadi virus yang mengkandaskan berbagai potensi yang sesungguhnya sangat kaya. Masyarakat, baik elite maupun warga, terperangkap dalam sikap dan cara berpikir yang instant, tidak mau repot, dan menggantungkan segalanya kepada Pemerintah.

Dalam berbagai kesempatan tergambarkan dengan jelas, bagaimana besarnya tingkat ketergantungan warga masyarakat terhadap langkah-langah yang diambil pemerintah, dalam hal ini pihak Dinas Pariwisata. Seorang bendesa di Tampaksiring misalnya menyampaikan harapan. “Kami sangat berharap pihak Dinas Pariwisata sungguh memberikan perhatian bagi pengembangan potensi pariwisata desa kami,” katanya.

Ungkapan demikian jamak muncul dalam acara-acara Dinas semisal sosialisasi desa wisata atau acara-acara lainnya. Masyarakat menganggap pemerintah bisa melakukan segalanya bagi kepentingan mereka.

Pola dan sikap mental demikian juga tidak berubah banyak manakala pemerintahan desa sedang mendapatkan kucuran dana desa dalam tiga tahun terakhir. UU No 16 Tahun 2014 tentang Desa mengamanatkan agar pemerintah desa kreatif dalam menggali potensi yang dimiliki desa. Bahkan desa dimandatkan untuk membentuk BUMdes (Badan Usaha Milik Desa).

Namun, ketentuan ini belum mampu memaksa pemerintah desa menjalankannya. Dana Desa lebih banyak dihabiskan untuk proyek-proyek fisik yang lebih populis tinimbang untuk menginisiasi program-program pemberdayaan dan penumbuhan kreativitas ekonomi warga desa.
Generasi Millenial

Rendahnya respon masyarakat terhadap pengembangan situs menjadi destinasi wisata, salah-satunya akibat kurangnya pemahaman terhadap keberadaan pusaka tersebut. Keberadaan warisan pusaka sudah semestinya dipahami sebagai khasanah warisan leluhur yang terus dimaknai dan direvitalisasi.

Dalam mewarisi pusaka-pusaka tersebut, perasaan bangga semata tidaklah cukup. Apalagi sekadar bangga yang diikuti perasaan jemawa berlebihan. Kebanggaan akan lebih elok bila dilanjutkan dengan minat dan upaya tekun untuk mengetahui nilai-nilai filosofis dan makna dalam tinggalan pusaka tersebut.

Satu hal penting yang juga layak dipertimbangkan adalah karakter dari generasi muda saat ini. Kepada siapa kita akan mentransfer cerita (story) dan makna sejarah (history) warisan pusaka.

Generasi muda era kini (usia 25 tahun ke bawah) sering disebut sebagai generasi X. Mereka lahir pada tahun 1980 sampai tahun 1995 dan tumbuh besar di era milenium baru. Mereka tumbuh pada era digital sebagai ciri dari revolusi teknologi informasi, sehingga sering juga disebut generasi native digital.

Bagaimana sifat dan karakteristik mereka? Generasi X atau generasi milenial berada dalam paparan teknologi digital setia saat. Mereka mengomsumsi informasi dari banjir bah informasi yang melanda dari berbagai perangkat teknologi digital (televisi, telepon genggam, laptop). Merekalah generasi yang selalu menjinjing gawai ke mana pun pergi, tidak tahan lama membaca diktat tebal dan serius, terbiasa menulis hanya dalam 150 karakter, berfoto selfie di berbagai tempat eksotis yang didatangi, dan menggunggah berbagai aktivitasnya ke sosial media.

Sebagai pekerja mereka adalah tipe si pembosan, tidak bisa diatur, memuja kebebasan berekspresi, dan anti kemapanan. Bagaimanakah kita hendak menyampaikan pesan-pesan kota pusaka kepada generasi milenial yang memiliki cara yang amat sangat berbeda dalam mengkomsumsi informasi ini?

Apabila pendekatan yang dipakai masih menggunakan pola-pola konvensional, yakni model penyampaian pesan secara satu arah, indoktrinasi, pidato yang dipenuhi ujaran menggurui, dan formalistik, maka dapat dipastikan tujuan kita untuk meningkatkan pemahaman generasi muda akan menemui kegagalan. Generasi milenial tersebut dalam waktu cepat akan berpaling dari kita. Mereka tidak akan mengindahkan materi yang kita sampaikan. Mereka mungkin mau mengikuti dan mendengarkan pemaparan kita, namun tangan dan pikiran mereka akan sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Apa yang Harus Dilakukan?

Agar transfer informasi mencapai tujuannya secara maksimal, maka penyampaian pesan kota pusaka harus menggunakan gaya berkomunikasi generasi milenial. Para aktivis gerakan kota pusaka mesti bisa menggunakan medium komunikasi yang lazim dipakai generasi muda; baik piranti maupun konten atau substansinya.

Pirantinya adalah Internet dengan segenap medium pendukungnya, seperti media sosial (Facebook, Instagram, Twitter, Path, Line, dll), blog, vlog, dan sebagainya. Konten menyangkut materi penyampaian pesan, penyampai pesan, dan gaya penyampaian. Menyangkut penyampai pesan alangkah baiknya dicoba menggunakan idola para generasi millenial sebagai duta kota pusaka, misalnya artis atau aktor film.

Tak kalah penting adalah pendekatan terhadap berbagai komunitas generasi muda seperti komunitas blogger, komunitas film pendek, komunitas YouTuber, komunitas jalan-jalan, komunitas fotografi, dan kelompok pekerja kreatif lain. Komunitas-komunitas yang diikat oleh hobi dan minat yang sama tersebut kini menjamur jumlahnya. Mereka menggunakan media sosial untuk menjalin komunikasi dan menampilkan beragam aktivitas yang dilakukannya.

Sudahkah mereka dilibatkan selama ini?

Maka saya membayangkan untuk menyebarkan kecintaan terhadap warisan pusaka Gianyar ini nantinya akan dirancang serangkaian program yang berbasis pendekatan terhadap anak muda, seperti: lomba film dokumenter bertema pusaka Gianyar melalui medium YouTube, lomba foto obyek-obyek warisan pusaka dengan medium Instagram, diskusi antar komunitas dengan mengundang narasumber artis via Skype, lomba desain kaos bertema kota pusaka, lomba menulis melalui medium blog, bersepeda menjelajahi berbagai tinggalan heritage DAS Pekerisan, field research dengan narasumber ilmuwan arkeologi, dan lain-lainnya. [b]

The post Pertanyaannya, Gianyar Kota Pusaka untuk Siapa? appeared first on BaleBengong.

Tradisi Medelokan Penganten

Tradisi medelokan penganten adalah sebuah tradisi yang ada di desa adat Kerobokan dan mungkin ada juga di desa atau daerah lainnya di Bali. Tradisi medelokan penganten ini seperti namanya merupakan kegiatan medelokan (menengok / kondangan) ke rumah penganten baru. Kegiatan ini dilakukan oleh Sekeha Teruna-Teruni atau biasa disingkat menjadi STT. STT adalah sebuah organisasi kepemudaan yang kedudukannya biasanya di bawah sebuah Banjar. Banjar adalah sebuah organisasi adat yang berada di bawah sebuah Desa Adat. Desa Adat dan Banjar adalah organisasi adat di Bali yang bisa dikatakan sebagai nyawa kehidupan adat dan beragama di Bali. Jadi STT merupakan generasi penerus dan tulang punggung untuk mewujudkan slogan “ajeg bali” yang selama ini digaungkan oleh pemerintah dan masyarakat di Bali.

Tradisi medelekokan penganten ini hanyalah salah satu diantara banyak kegiatan lain yang menjadi program kerja sebuah STT. Kegiatan lain misalnya pembuatan ogoh-ogoh, penggalian dana, perayaan ulang tahun dan lainnya. Tidak jarang juga ada STT yang melakukan kegiatan bakti sosial. Hebatnya, STT ini tetap eksis sejak jaman dulu hingga kini walau hanya berkedudukan di bawah adat dan juga dengan pendanaan yang lebih banyak secara mandiri.

Kembali tentang tradisi medelokan penganten, kegiatan ini umumnya dilakukan pada malam hari di hari pernikahan atau sehari setelah hari pernikahan. Ada yang menggabungkan kegiatan medelokan penganten ini dengan acara resepsi namun ada juga yang khusus dalam sebuah acara tersendiri. Kalau di desa adat Kerobokan, umumnya tradisi medelokan penganten ini dilakukan secara tersendiri.

Tradisi medelokan penganten ini dihadiri oleh Kelihan Banjar, Kelihan (ketua) STT dan seluruh anggota STT. Seluruh hadirin baik laki-laki maupun perempuan menggunakan pakaian adat madya, sedangkan mempelai tentunya menggunakan pakaian adat yang lebih spesial. Selain dari anggota STT mempelai pria, hadir juga anggota STT dari mempelai wanita. Jika kedua mempelai berasal dari banjar yang berlainan, maka dalam acara tersebut akan bertemulah dua kelompok STT. Tentunya tidak sedikit dari mereka yang sudah saling kenal.

Acara tradisi medelokan penganten biasanya dimulai sekitar pukul 20.00. Kedua mempelai akan duduk di depan para hadirin, di sebuah kursi mempelai yang sudah dihias sedemikian indah. Sedangkan hadirin, para tetua dan tuan rumah duduk menghadap ke depan. Acara dibawakan oleh MC dengan susunan acara yang umumnya dimulai sambutan-sambutan dari tuan rumah (biasanya tetua dari mempelai), Kelihan Banjar, Ketua STT. Kemudian diikuti dengan kesan dan pesan dari beberapa anggota STT yang dipilih. Disinilah mental para anggota STT diuji untuk berbicara di depan banyak orang, apalagi biasanya diminta menggunakan bahasa Bali halus. Tidak sedikit yang menjadi tertawaan karena banyak diantara mereka sangat grogi ketika berbicara, bahkan ada yang tidak mampu berbicara sepatah kata pun ketika berdiri di depan.

Acara puncak dalam tradisi medelokan penganten biasanya disebut dengan acara “Sekapur Sirih”. Acara ini akan dibawakan oleh MC khusus yang biasanya suka melawak. Dalam acara ini kedua mempelai akan diminta berdiri dan diwawancarai atau lebih tepatnya dijahilin, bahkan seringkali kedua mempelai diminta melakukan hal-hal khusus, konyol dan lucu. Misalnya mereka diminta berdiri saling membelakangi lalu diminta menebak pernak-pernik pakaian pasangannya, maksudnya untuk membuktikan apakah mereka saling perhatian. Atau mereka diberi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dalam sebuah kertas, lalu dicocokkan apakah jawabannya sama.

Dalam acara puncak tradisi medelokan penganten yang paling khas adalah saat kedua mempelai diminta berdiri saling berhadapan, kemudian ada satu orang yang memegang sumping (kue nagasari) dengan sebuah garpu, lalu kedua mempelai diminta memakan/menggigit kue itu tanpa menyetuhnya. Jadi terlihat seperti akan berciuman. Kadang yang memegang agak jahil, ketika akan digigit kue itu dipindah sehingga terlihat benar berciuman. Oya, karena acara inilah dulu tradisi medelokan penganten ini lebih dikenal dengan acara “ngalih sumping”, di samping itu dulu konsumsi yang dibagikan untuk undangan acara sumping. Kini seiring perkembangan jaman, sumping tidak lagi menjadi menu utama, diganti dengan berbagai kue lainnya. Bahkan sudah menjadi hal lumrah dalam acara medelokan penganten para undangan juga disuguhkan makanan seperti halnya acara resepsi.

Oya, dalam acara tradisi medelokan penganten juga biasa diselipkan berbagai acara hiburan, seperti musik akustik dan lainnya. Jika ada dana lebih, ada juga yang menambahkan acara hiburan tradisional seperti joged bumbung, topeng, lawak dan lainnya.

Demikianlah tradisi medelokan penganten, semoga tradisi ini tetap ada dan terus terjaga. Karena banyak sekali nilai positif yang bisa diambil dalam tradisi medelokan penganten ini. Pertama tentu saja dalam menjaga kekompakan dan persatuan di kalangan generasi muda, meningkatkan solidaritas dan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Melalui kegiatan medelokan penganten ini generasi muda juga bisa banyak belajar tentang organisasi, belajar berbicara di depan umum dan ikut melestarikan budaya dan bahasa Bali. Dan masih banyak lagi hal-hal positif lainnya. Selain oleh para generasi muda di internal STT masing-masing, para orangtua selaku warga adat di Banjar juga wajib terus membimbing dan memberi perhatian kepada generasi mudanya.

Baca Juga:

Meluruskan Kesalahpahaman tentang Nganten Pada Gelahang

Ilustrasi pernikahan secara adat di Bali. Foto thebridedept.com.

Pernikahan Pada Gelahang kembali menjadi pembicaraan.

Beberapa teman mengirimkan tautan berita tentang Nganten Pada Gelahang menurut Budaya Bali. Berita itu tentang Wirama dari Tabanan yang melakukan Nganten Pada Gelahang dengan istrinya.

Menurut saya pemahaman bapak dalam berita itu berbeda dengan yang saya pahami tentang adat dan hakekat adat Bali itu sendiri.

Berita tentang Widarma dari Tabanan itu menunjukkan bahwa akibat Nganten Pada Gelahang dia harus berstatus sebagai penanggung jawab keluarga atau purusa di tempat yang laki maupun perempuan. Artinya si bapak bertanggung jawab atas mrajan, tempat sembahyang di rumah orang Hindu Bali, baik pihak laki maupun perempuan. Dia juga menjadi anggota banjar di dua tempat berbeda.

Jika pemahaman ini yang diikuti, maka pernikahan semacam ini hanya mungkin dilakukan kalau rumah kedua pengantin pria dan wanita berdekatan.

Bagaimana kalau pengantin pria dari Selat, Karangasem di ujung timur Bali dan pengantin wanita dari Gilimanuk, Jembrana di ujung Bali bagian barat? Ngurus dua mrajan, mebanjar di dua tempat yang jarak tempuhnya bisa 10 jam pulang pergi.

Sangat memberatkan dan super sulit. Silit pun jadi panas kalau berkendara dari ujung timur pulau Bali ke ujung Barat.

Sistem Khas

Prinsip dasar dari semua jenis perkawinan di Bali adalah meneruskan ahli waris untuk merawat merajan. Ini karena sistem agama di Bali yang khas, sesuatu yang bahkan di Indiapun mungkin tidak ada.

Perawatan merajan terkait dengan hubungan timbal balik antara roh leluhur dan sentana. Roh leluhur yang sudah “mendapat tempat baik” akan menuntun gerak langkah keturunannya. Demikian juga, roh leluhur itu hanya dapat mencapai alam kesucian bila didoakan oleh keturunannya.

Tanpa doa dari anak keturunannya, roh leluhur akan telantar sehingga nasibnya lebih buruk dari anak telantar di Indonesia. Di Indonesia, anak telantar dipelihara. Di Bali, roh leluhur yang telantar tidak diurusi negara. Hanya anak keturunan garis lurus (anak menantu) yang bisa mendoakannya agar mendapat tempat semestinya.

Jadi, kalau ada keluarga putung atau tidak punya ahli waris, risiko masa depan di sunya loka akan menjadi tanda tanya. Hanya anaklah yang akan paling punya peran relevan untuk mendoakan leluhurnya. Sebab, anak terikat dengan hutang (Pitra Rna) pada orang tua dan leluhur di atasnya.

Salah satu cara tetua Bali untuk mencegah putungnya suatu keluarga adalah dengan Nganten Pada Gelahang. Nganten Pada Gelahang yang saya pahami bukanlah dalam arti suatu keluarga secara terus menerus memiliki dua purusa. Dua purusa itu akan sangat menyulitkan.

Kepemilikan dua purusa semestinya hanya sementara saja sampai dengan mereka beranak pinak. Ketika mereka sudah beranak pinak, tinggal dibagi mana anak yang ikut trah keluarga asal istri dan mana anak yang ikut trah keluarga asal suami. Ini tergantung perjanjian waktu menikah pada gelahan.

Setelah semua keluarga sudah memiliki ahli waris, maka status dua purusa itu bisa dihentikan dan menganut sistem satu purusa seperti keluarga di Bali umumnya. Tinggal dibuat upacara untuk ikrar atau sumpah tentang perubahan status dari dua purusa menjadi satu purusa.

Tergantung Kesepakatan

Sekali lagi ini tergantung kesepakatan sewaktu Nganten Pada Gelahang. Siapa yang akan menjadi purusa ketika mereka sudah beranak pinak dan semua keluarga sudah memiliki ahli waris.

Walaupun anak sudah dibagi trahnya, bukan berarti anak harus dipisah dari orang tuanya. Anak-anak tentu saja tetap bisa diasuh oleh orang tuanya, tetapi si orang tua harus sadar “trah” atau “soroh” dari anak-anaknya berbeda.

Hal terpenting, “pesidhikaran” si anak atau perikatan niskala antara anak dengan leluhurnya, tidak boleh dilupakan atau terputus.

Mengenai pesidhikaran ini, saya malah dengar dari LBH APIK, lembaga yang aktif mengadvokasi perempuan dan anak-anak. Benar memang istiah itu. Seorang anak itu boleh pindah asuh, tapi tidak boleh pindah kulit.

Contohnya saya mengajak anak asuh yang soroh atau klannya Pasek Gelgel sementara soroh saya lain. Meskipun saya yang mengasuh dia, tetapi pesidhikaran atau hubungan dia dengan Pasek Gelgel harus lanjut. Caranya, saat otononan, saya harus mengajaknya ke mrajan leluhurnya. Atau kalau jauh, tinggal disebut bahwa anak itu adalah trah Pasek Gelgel.

Pesidikiran ini konsep yang penting saat perceraian dan anak ikut ibunya. Si anak itu kan trah dari ayahnya. Tapi secara Undang-Undang (UU), si anak harus ikut ibu dan pesidhikarannya tidak boleh dihapus.

Si anak diasuh ibunya, tapi pas otonan atau odalan di keluarga ayahnya, si anak harus di ajak ke sana. Kalau sulit secara psikologis, cukup disembahyangi dari jauh. Yang penting identitas sorohnya tetap.

Misalnya setelah beranak pinak, suatu keluarga yang nganten pada gelahang sepakat untuk mengubah dua purusa menjadi satu purusa dengan status laki-laki sebagai purusa dan perempuan sebagai pradana. Salah seorang anaknya ikut trah dari keluarga asal pihak istri. Anak ini akan menjadi ahli waris (hak dan kewajiban) dari kakek nenek di pihak ibunya, bukan dari pihak ayahnya.

Saat hari raya dan otonannya, keluarga ini harus mengajak anak ini untuk bersembahyang di mrajan pihak istri. Setelah upacara selesai, anak itu bisa kembali berkumpul bersama orang tuanya. Ketika anak ini sudah dewasa dan kemudian menikah, maka upacaya harus di tempat kakek nenek pihak Ibu dan ia kemudian bertempat tinggal atau bertanggung jawab atas merajan di pihak leluhur ibunya.

Dengan demikian, tujuan perkawinan sudah tercapai. Semua mrajan, baik dari pihak pengantin laki atau perempuan sudah memiliki ahli waris. Artinya hubungan antara leluhur dengan preti sentana tidak putus.

Ikrar harus Benar

Sebenarnya sederhana. Yang penting ikrar saat Nganten Pada Gelahang itu harus benar. Agar catatan sipil di Mercapada dengan Catatan Sipil di Sorgaloka terjadi sinkronisasi. Ikrar saat menikah itu penting karena isinya sumpah yang saksikan oleh para dewa yang isinya mengikat sesuai dengan isi sumpah.

Agar isi sumpah fleksibel, tinggal dibuat pasal-pasal yang memuat aturan peralihan, perubahan-perubahan yang terjadi di kemudian hari. Catatan Sipil di Swargaloka akan menerima apapun sumpah yang diucapkan.

Pernahkan ada kejadian para dewa menolak sumpah manusia? Tidak pernah! Selalu disahkan.

Bhisma Putra Gangga mengangkat sumpah untuk tidak akan jadi raja, tidak akan menikah dan selalu setia pada Hastinapura. Sumpah itu terlalu berat. Orang tuanya Prabu Santanu dan Dewi Gangga, mungkin tidak setuju, tapi para dewa tepat mensahkannya.

Leluhur Pasek Pulasari (Dalem Tarukan), bersumpah agar anak keturunannya tidak makan burung dara. Sah! Adakah anak keturunannya yang berani melanggar?

Akibat sakralnya suatu sumpah dan perikatannya yang skala dan niskala, maka ucapan sumpah pada waktu nganten pada gelahang terlebih dulu harus dirumuskan oleh pihak mempelai pria dan wanita.

Soal mebanjar itu itu soal komunikasi. Kita bisa membanjar di 100 banjar, 2 banjar, atau 1 banjar. Tinggal komunikasi dengan pihak Prajuru. Yang terpenting dari Nganten Pada Gelahan adalah garis lurus antara leluhur dengan sentana tetap terjaga. Itu yang mengikat orang Bali.

Orang Bali di luar Bali mungkin saja tidak punya banjar seperti di Bali, namun soal hubungan dengan roh leluhurnya tidak pernah terputus. Hubungan leluhur dengan keturunannya, tidak terpengaruh dengan jumlah banjar yang ia ikuti. Mrajan dan Banjar adalah dua ranah yang berbeda. [b]

The post Meluruskan Kesalahpahaman tentang Nganten Pada Gelahang appeared first on BaleBengong.

Peta Seni dan Desain Pertama di Denpasar

Peta seni + desain DenPasar2017 yang pertama di luncurkan di CCG bersama dengan komunitas seni dan Kreatif di Bali tanggal 10 Juni 2017. Photo credit: Putu Eka Permata

Promosi Kota Denpasar dalam sebuah peta.

CushCush Gallery (CCG) meluncurkan peta seni + desain pertama bersama komunitas seni + kreatif di Bali, Sabtu lalu. Peluncuran ini masih dalam rangkaian program DenPasar2017, didukung Badan Pariwisata Bali, Badan Kreatif Denpasar (Bekraf) dan Badan Promosi Pariwisata (BPPD) Denpasar.

Peluncuran peta seni + desain DenPasar2017 diadakan saat  ‘Meet The Artists # 1’ di CCG, sebagai bagian dari rangkaian program 3 bulan yang diadakan bersamaan dengan pameran DenPasar2017. Peta seni + desain DenPasar2017 diresmikan oleh perwakilan dari Bekraf Denpasar Bapak Wayan Sudarta dan Bapak Putu Yuliartha, bersama dengan pendiri CCG Suriawati Qiu dan Jindee Chua, yang disaksikan oleh komunitas seni dan kreatif di Bali.

Peluncuran peta seni + desain DenPasar2017 diadakan saat ‘Meet The Artists # 1’ di CCG. Photo credit: I Wayan Martino

Peta ini berfokus pada informasi tentang tempat-tempat keberadaan kesenian, kreatifitas dan warisan budaya kota Denpasar. Peta gratis ini akan didistribusikan di tempat-tempat terpilih di Bali, untuk mengundang wisatawan lokal dan internasional datang menjelajahi pesona unik Denpasar.

“Harapannya, dapat memberikan perspektif artistik dan cerita-cerita menarik yang belum banyak mendapat perhatian, dan mengundang dunia untuk datang dan berkeliling di Denpasar,” tutur Ayu Indrawati, perwakilan CCG.

Tentang DenPasar 2017

DenPasar2017 adalah sebuah program baru di CushCush Gallery (CCG) yang bertujuan untuk menempatkan Denpasar dalam pemetaan rute seni dan desain di Bali. Diciptakan sebagai pameran kelompok tahunan di CushCush Gallery, Denpasar – Bali, pameran ini mengenalkan seniman dan kreatif muda yang berbasis di Bali, dengan karya-karya yang berbicara tentang Denpasar. Melalui open call pada bulan Januari 2017, 17 seniman dan kreatif diseleksi untuk merespon dan  menciptakan karya 2 dimensi dengan tema Pasar dan Bahasa Pasar.

Seniman terpilih adalah ADHIKA ANNISA NINUS (arsitek, penari, dan artis pertunjukan), DIAN SURI HANDAYANI (perancang perhiasan), MYRA JULIARTI (perancang busana), FARHAN ADITYASMARA (seniman visual dan dosen seni), IGPA MIRAH RAHMAWATI (seniman seni rupa dan dosen seni) , I GEDE JAYA PUTRA (seniman seni rupa), ANDRE YOGA (ilustrator dan seniman mural), I PUTU SUHARTAWAN (seniman seni rupa), I WAYAN MARTINO (fotografer), LUGU GUMILAR (barista dan ilustrator), NADJMA ACHMAD (perancang produk dan fotografer), SIDHI VHISATYA (illustrator dan seniman mural), SYAFIUDIN VIFICK (fotografer), TRI HARYOKO ADI (seniman mural), QOMARUZZAMAN ALAMRY (seniman komik), REEVO SAULUS (desainer grafis), dan YOGA WAHYUDI (perancang busana).

Tak Hanya Pameran Seni

DenPasar2017 bukan hanya pameran seni; tapi juga merupakan sebuah pergerakan. Selain bertujuan untuk memberi landasan bagi kesenian dan sastra untuk berbicara tentang pasar dan Denpasar sebagai bentuk dokumentasi dan penciptaan citra baru pada tahun 2017, CCG mendambakan DenPasar2017 untuk menjadi awal pemetaan kota Denpasar di dalam seni dan rute perjalanan kreatif di Bali.

Untuk menambah  lapisan dan memberikan perspektif yang lebih luas dengan tema ‘Bahasa Pasar’, CCG telah mengundang 4 seniman dan komunitas kreatif yang membawa pasar dan Denpasar sebagai tema utama mereka dalam penciptaan mereka untuk menunjukkan karya mereka, sebagai kolaborasi lebih lanjut untuk pameran DenPasar2017.

Mereka adalah Urban Sketchers Bali (komunitas sketsa kreatif), Swoofone (artis street art), KitaPoleng (komunitas pertunjukan seni) dan Masuria Sudjana (fotografer generasi ke-3 yang berbasis di Denpasar).Pameran DenPasar 2017 berlangsung dari tanggal 26 Mei sampai 26 Agustus 2017, bersamaan dengan Pesta Kesenian Bali (PKB) di Denpasar.

Selama 3 bulan pameran berlangsung, ada serangkaian program menarik termasuk sesi ‘Meet The Artists’, sebuah workshop tari kontemporer dengan KitaPoleng, Street Art Talk dengan artis ‘street art’ Swoofone, Slinat dan Bombdalove, Design Talk dengan desainer dan arsitek Budiman Ong, Fransiska Prihadi. (Cika) dan Nyoman Miyoga, sketsa workshop dengan Urban Sketchers Bali, presentasi fotografi oleh Masuria Sudjana dan pemutaran Arsip Bali 1928 yang dinarasikan oleh Marlowe Bandem.

Program ini terbuka untuk umum dan semua orang dipersilahkan untuk berpartisipasi. Sebagai bagian dari gerakan DenPasar2017, CCG meluncurkan peta art + desain DenPasar2017 yang pertama pada 10 Juni 2017 di CCG, bersama dengan komunitas seni dan kreatif di Bali.

Tentang CushCush Gallery (CCG)

CushCush Gallery (CCG) adalah bagian dari  keluarga CushCush yang bertujuan untuk memberikan ruang untuk kolaborasi kreatif dalam seni kontemporer + desain. CCG adalah galeri alternatif yang mencakup interaksi dan merayakan kreativitas multi-disiplin melalui eksplorasi persimpangan seni, desain, materialitas, teknik dan kerajinan.

CushCush Gallery dibuka pada tahun 2016 dengan pameran tunggal “Crucible”, yang merupakan hasil dari CCG creative-in-resident program  dari desainer, akademisi dan pendidik Australia: Ross McLeod. Pada saat yang sama, pameran “Future Canggu” di hadirkan oleh desainer magang dari RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology) yang merespon sebuah lokasi terpilih di Canggu, Bali.

Bekerja sama dengan inisiatif LagiLagi, CushCush Gallery bersama-sama mengorganisir workshop CHARCOAL FOR CHILDREN yang melibatkan seniman lokal dan internasional dan komunitas kreatif untuk mengeksplorasi arang gambar buatan sendiri bersama anak-anak. Dalam workshop ‘MAKE YOUR OWN CHARCOAL’, teknik bagaimana membuat arang secara DIY  dibagikan kepada peserta.

Pada tahun 2017, CushCush Gallery menyelenggarakan program pameran, residensi, workshop, dan kolaborasi sepanjang tahun yang berfokus pada pengembangan pengalaman seni + desain kontemporer di Denpasar dan Bali, dengan memfasilitasi pertukaran antara komunitas seniman dan kreatif  lokal dan internasional.

Informasi tambahan:
Situs web: www.cushcushgallery.com/ccg/denpasar-2017
Informasi umum dan permintaan media: [email protected]
Facebook: www.facebook.com/cushcush/
Instagram: https://instagram.com/cushcushgallery/

The post Peta Seni dan Desain Pertama di Denpasar appeared first on BaleBengong.