Tag Archives: Budaya

Jejak Latihan dan Kekaguman yang Tertinggal

Begitu pedas latihan kali ini. Setiap hari adalah latihan dan ngobrol.

Setiap pukul empat hingga pukul enam sore, terkadang agak molor sedikit, adalah waktu latihan berkeringat dan ngobrol. Istirahat dua jam, lalu dilanjutkan nonton film bersama dan ngobrol lagi.

Obrolan inilah yang biasanya memakan waktu agak banyak. Namun, dari sana banyak hal bisa direnungkan dan kemudian bisa digunakan dalam banyak hal pula. Tidak hanya pada pementasan. Topik yang dibahas bukan hanya soal teater, tetapi lebih pada hal “apa yang menarik” dan “bagi siapa”.

Setiap hari, menu latihan adalah meremukkan tubuh. Pada beberapa sesi, latihan dilakukan dengan sangat individual dan begitu intim. Latihan ini untuk lebih mengenali badan kasar yang (mungkin) apabila dilanjutkan bisa mencapai ranah lebih dalam lagi.

Latihan, nonton film sebegai refrensi, dan diskusi sengaja disusun menjadi program yang melelahkan dan semoga bermanfaat kemudian. Namun, jadwal latihan yang ketat dan melelahkan ini justru membuat kami (para pelaku) menjadi lebih bernafsu.

Efek itu kemudian saya sadari setelah beberapa kali nonton film dilakukan dan kemudian dihentikan karena dirasa cukup – tempo latihan menjadi kendur. Satu per satu dari kami jeda barang sebentar dengan alasan masing-masing. Kami sepakat hal seperti ini bukanlah sesuatu yang tabu karena “jujur” untuk memilih dan “ikhlas” menerima keputusan menjadi hal yang penting.

Kali ini, kata-kata klise tersebut seolah-olah memiliki akar yang kuat. Mungkin karena kesepakatan yang secara tidak langsung menempel. Selain itu, kami percaya, latihan baru dimulai ketika rasa bosan mencuri kesempatan untuk mampir.

“Jujur” dan “ikhlas” tidak hanya berlaku pada saat minta izin untuk tidak ikut latihan, tetapi juga terhadap gerak. Dalam proses pencarian ini, kami dituntut sadar dengan diri sendiri, sadar dengan tubuh sendiri, sadar dengan keinginan sendiri, dan yang tidak kalah pentingnya adalah sadar dengan napas yang merupakan tangkai bunga pikiran yang suka keluyuran.

Jadi, gerakan yang dilakukan adalah gerakan milik sendiri yang digali dari kesadaran akan kemampuan tubuh.

Pada proses ini, sutradara tidak terlalu turut campur. Sutradara hanya mengingatkan hal-hal yang sebaiknya (tidak harus) dilakukan. Dari latihan-latihan ini, ada banyak temuan yang sangat jarang saya pikirkan dan ternyata menarik.

Temuan-temuan itu sangat sederhana, misalnya “ketika menggerakkan tangan dengan posisi tangan lurus lalu ditekuk, ada otot lain yang ikut merespon” atau “ternyata panjang lengan saya hanya sepanjang ujung jari hingga telapak tangan”.

Hal-hal sederhana semacam inilah yang menjadi topik obrolan kami setelah latihan. Padahal saya sendiri tak sepenuhnya yakin, ini bisa dibawa ke atas panggung. Kami dibuat sibuk membicarakan diri sendiri dan sibuk mengagumi diri sendiri. Namun, bukankah sudah semestinya sesekali kita memelihara rasa kagum pada tubuh sendiri?

Kekaguman inilah yang terbangun dalam latihan, sehingga saya menjadi lebih percaya pada tubuh sendiri dan tak berharap meminjam tubuh orang lain.

Sesekali, latihan kami memang mirip dengan latihan militer. Namun, latihan militer diimbangi dengan menu latihan kesadaran tubuh melahirkan sesuatu yang beraroma beda. Kesadaran menjadi bumbu yang lebih sedap dari pada “micin pada sambal ulek” pada latihan ini.

Latihan seperti militer ini pertama-tama memang harus memperhatikan bentuk gerakan secara detail, tapi keterbatasan melakukan gerakan membuat kami harus menggali ke dalam diri dan bertanya “bagian mana yang harus ditekan, dikunci, dilemaskan, dan seperti apa jadinya apabila tubuhku yang seperti ini bergerak begitu?” bagi saya sendiri menemukan dan menyadari titik-titik itu memberi kepuasan tersendiri.

Latihan seperti ini berlangsung kurang lebih selama satu bulan, sebelum akhirnya semua berubah bukan karena negara api menyerang, tetapi karena hari pentas “berlagak akrab” dengan mendekatkan dirinya. Tanpa niat meninggalkan hasil latihan sebelumnya, kami mulai mencari bentuk pentas, tentu kembali pada otoritas sutradara.

Kali ini sutradara memang mempunyai andil sangat besar, tapi sumbangan latihan selama sebulan sebelumnya nyata-nyata meninggalkan jejak yang tegas pada setiap pemain.

Dengan stimulus berupa film-film, wacana yang dipungut dari penjajagan di lapangan, obrolan di jalan, artikel-artikel, dan hasil latihan pada bulan sebelumnya, akhirnya kami berusaha melahirkan gerakan-gerakan yang kami anggap sesuai pada tubuh masing-masing.

Saya rasa saya sendiri masih tersesat dan terjebak pada latihan sebelumnya. Bagaimana tidak, latihan yang sibuk pada diri sendiri belum mampu saya lepaskan. Bahkan, pada proses peggarapan bentuk pentas ini, saya masih terjebak pada kesibukan mengenali diri.

Sungguh belum mampu rasanya saya sadar bahwa nanti, saya akan ditonton. Bukankah kesadaran ditonton adalah hal yang penting dalam pementasan? Hal ini masih menjadi masalah yang bukan bagi saya sendiri, beberapa kawan pun mengaku demikian.

Sebagaimana kami menanam kagum pada diri sendiri, seperti itu pula kami menyimpan kagum pada para pelaku jogged. Seka joged, penabuh, dan penari yang memandang joged bukan hanya dari segi estetika. Tetapi lebih dari itu, joged adalah benang penyambung hidup.

Mungkin inilah salah satu peninggalan yang masih tertancap tegas karena latihan satu bulan sebelumnya – menanam dan memelihara kekaguman.

Bagi saya sendiri, proses ini memang tak mudah. Sama halnya dengan kesulitan mendefinisikan “joged jaruh” sebagai sebuah tari pergaulan yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat modern. Pada pentas yang akan datang, kesulitan inilah yang akan kami tampilkan. Kebingungan yang kami sepakati. Lagi sekali, kami sepakat, benar salah bukanlah hal yang terpenting, sebab setiap arena kultural memiliki aturan main masing-masing.

Rasanya, sungguh berlebihan jika saya yang ikut berproses di dalam pementasan kali ini menceritakan banyak hal tentang proses yang telah berlangsung. Namun, itulah perasaan yang pada akhirnya muncul setelah stimulus berupa latihan-latihan tersuntikkan. Pementasan yang akan berlangsung beberapa hari lagi, akan lebih banyak bercerita tentang proses kami selama ini.

Pentas ini, menjadi presentasi latihan beberapa bulan belakangan. Maka dari itu, mari saksikan “Joged Adar dan Kesibukan Melupakannya”. [b]

The post Jejak Latihan dan Kekaguman yang Tertinggal appeared first on BaleBengong.

Catatan sehabis Menonton Capung Hantu

Lakon Kamareka berakhir dengan penutup yang sedikit garib.

Sang pengawi, berhasrat pada tokoh perempuan rekaannya dan tak terima ia didekati lelaki lain. Ia lantas ingin mengenyahkan sang tokoh lelaki dan memasukkannya kembali ke dalam keropak.

Sang perempuan menahan, berseru agar dirinya saja yang dimasukkan lalu disusul sang ibu angkat dan tokoh-tokoh lain pun bak tersedok ke dalam keropak; kembali menjadi tokoh yang hidup di dalam teks.

Seperti jentera, klimaks lakon cinta ini adalah kembali ke kuasa sang pengawi.

Saya duduk di bangku penonton ketika sekumpulan mudi-mudi bernyanyi sembari menatap bulan dan berkasak-kusuk tentang mitos-mitos bulan. Sungkan rasanya membincangkan lakon yang hanya saya tonton separuh.

Meski begitu, saya terkesima dengan akhir lakon ini. Kamareka dibesut sastrawan muda asal Bangli peraih Sastra Rancage 2018 berbahasa Bali, Nirguna aka IGA Darma Putra. Doi juga rajin menulis catatan “perjalanan” lirisnya di portal tatkala.co dengan tag Sekar Sumawur.

Kamareka adalah lakon pertama yang dipentaskan di Gedung Ksiarnawa, pada Minggu 20 Mei 2018 dalam Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya. Setelahnya dipentaskan Drama Musikal berjudul Capung Hantu garapan Komunitas Sekali Pentas.

Capung Hantu diadaptasi dari cerita pendek karangan Made Adnyana Ole yang berjudul asli Capung Hantu, Dayu Bulan dan lain-lain (2007). Sehari jelang pentas, kisi-kisi menyoal Capung Hutan yang ditulis Sutradara Teater Kalangan Wayan Sumahardika, dipublikasikan di portal tatkala.co, nongol sebagai pemantik.

Seorang petani membuka adegan. Ia bercerita tentang guyubnya sebuah desa. Tapi ternyata, ada riak ketakutan yang terpelihara: capung. “Siapa yang berani menangkap capung kemudian mematahkan sayapnya siap-siap tidak akan kembali ke desa…”

Dalam tempo yang cepat, prolog yang cukup bikin roma menggeligis itu disusul oleh keceriaan muda-muda yang bernyanyi dan menari menyambut pagi.

Adegan-adegan berjalan progresif; ada 3 bocah lelaki yang bermain-main, ayah yang menyuruh anaknya pulang karena hari beranjak larut, hiruk pikuk jual-beli di pasar juga gosip yang menyebar, petuah seorang ibu pada anak semata wayangnya, kisah cinta yang terlarang hingga dagelan capung-capung hantu yang mesti hijrah karena lingkungan yang cemar.

Dayu Bulan kehilangan Ajinya ketika ia masih berada dalam kandungan ibunya. Konon, Ajinya menghilang lantaran mitos Capung Hantu – ia dikira menghilang akibat menangkap dan mematahkan sayap capung hantu.

Dayu Biang, ibu Dayu Bulan menjadi perempuan yang getas – ia berusaha melindungi putrinya menjaganya ketat agar tak sembarang bermain terlebih melarangnya bermain dengan capung-capung hantu. Dalam sebuah percakapan, Dayu Biang menasehati Dayu Bulan yang saat itu masih berusia 8 tahun, agar kelak ia memilih pasangan yang segolongan dengannya; berasal dari keturunan bangsawan seperti dirinya.

Selama pementasan Capung Hantu, saya bergumul di kursi penonton selama 2 jam lebih menawar kebosanan yang hampir buncah di durasi ke 90 menit. Saya menunggu hal horor atau mengejutkan lebih awal. Cerita menanjak begitu pelan hingga menuju klimaks. Adegan di pasar yang terlalu lama-juga perkenalan Dayu Bulan dengan Wayan cs untuk tidak menyebutnya mubazir – terlalu banyak mengambil slot.

Mungkin itu adalah soal tempo, tapi saya percaya sang sutradara telah sangat bijak memilah dan menempatkan urgensi adegan demi adegan. Entah bosan atau kebentur jam malam, beberapa penonton mulai meninggalkan gedung sebelum drama ini usai. Bunyi kentongan yang ditepak beramai-ramai mencari Dayu Bulan kemudian mengakhiri drama musikal ini.

Drama musikal ini berdurasi sekitar 2 jam, mulai sekitar pukul 8.30 PM dan berakhir sekitar pukul 10.30 PM. Aksi pemainnya kocak, terlebih yang menjadi Capung paling bongsor. Lagu-lagunya tidak menjemukan dan pas dengan suasana yang dibangun di atas panggung. Saya memuji akting aktor yang memerankan Dayu Biang; begitu subtil dan natural.

Satu lagi, para pemain berkomunikasi dengan penonton, berbaur dan tetiba nongol dari bangku penonton. Cair melampaui batasan panggung.

Mitos mendapat tempat yang terhormat dan tak sembarang bisa digugat. Ada yang meletakannya di dunia surealisme dan ada yang menalarnya dengan ilmiah. Kamareka memikat saya dengan (gagasan) akhir ceritanya, dan Capung Hantu memikat saya dengan drama dan musiknya yang menghibur.

Saya pulang dengan hati bungah dan menuliskan memori ini sebelum lesap diiringi lagu Mars Penyembah Berhala-nya Melancholic Bitch. Suara Ugoran Prasad, berseru seru: siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi…

Saya yakin, semesta tidak bisa pepat dalam ukuran 14 inchi. [b]

The post Catatan sehabis Menonton Capung Hantu appeared first on BaleBengong.

Bentara Budaya Putar Film Pendek Lintas Tema

Film-film pendek beragam tema dan genre diputar di Bentara Sinema.

Tak saja sinema pendek Indonesia yang ditayangkan, tetapi juga internasional, besutan sutradara-sutradara mumpuni. Ada pula diskusi bersama sineas Bali, I Gusti Made Ariyadi.

Program kali ini didukung oleh Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Indonesien, Pusat Kebudayaan Prancis Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, dan Udayana Science Club.

Sinema yang diputar antara lain dari program Short Export 2017, Omnibus KvsK (KITA VERSUS KORUPSI), film Perancis Au Sol (Grounded) dan 10 Film Animasi dari Puisi-Puisi Penyair Guillaume Apollinaire.

Selama dua hari pada pada 19-20 Mei, penonton diajak meresapi film-film yang menyuguhkan sisi imajinatif penuh arti dari adegan-adegan terpilih yang memfokuskan pada kedalaman cerita.

Misalnya saja, sejumlah film pendek animasi yang terangkum dalam bingkai Short Export 2017 kerja sama dengan Pusat Kebudayaan Jerman, Goethe Institut Indonesien, mengetengahkan kompleksitas hubungan antarmanusia yang berbeda latar tetapi memiliki suatu bahasa ungkap kemanusiaan yang sama yakni penghormatan pada kesetaran dan keadilan.

Short Export 2017 merangkum film-film pendek fiksi dan animasi terpilih dari Jerman, hasil seleksi lebih dari 500 entri pada Clermont-Ferrand Festival. Festival Film Pendek Internasional Clermont-Ferrand merupakan titik pertemuan paling penting untuk film pendek internasional.

Program ini merupakan kerja sama antara AG Kurzfilm – Asosiasi Film Pendek Jerman, Goethe-Institut Lyon, Festival Film Pendek Internasional Clermont-Ferrand, dan Kurz FilmAgentur Hamburg.

Tidak kalah menarik, film-film pendek animasi dari Perancis “En Sortant de l’école – Guillaume Apollinaire”. Seri animasi pendek ini merupakan sebuah upaya tafsir dari puisi-puisi penyair sohor dunia, Guillaume Apollinaire. Terangkum di dalamnya karya-karya puisi monumental, seperti Le Pont Mirabeu, Carte Postale, Automne, dan lainnya.

Sementara itu, sebuah film pendek Perancis bertajuk Au Sol (Grounded) mengisahkan perjuangan seorang perempuan bernama Evelyne bersama bayinya yang baru lahir harus berkelit dari peraturan bandara yang keras dan kaku, agar bisa berangkat ke London tepat waktu untuk pemakaman Ibunya.

Film ini mendapatkan penghargaan film terbaik pada sejumlah festival film internasional di antaranya: Aubagne International Film Festival 2015, Cabbagetown Short Film & Video Festival 2014, dan Cleveland International Film Festival 2016.

Juga Omnibus dari KPK bertajuk KvsK (Kita Versus Korupsi) dirilis pada tahun 2012 sebagai bentuk gerakan kesadaran akan perlawanan terhadap korupsi sedini usia muda melalui media film. Omnibus ini merangkum empat film pendek dari sutradara cemerlang Indonesia, di antaranya Emil Heradi, Lasja F.Susatyo, Ine Febriyanti, dan Chairun Nissa.

Sinema Bentara bulan ini masih diselenggarakan dengan konsep misbar, mengedepankan suasana nonton film bersama yang guyub, hangat, dan akrab dengan layar lebar di halaman Bentara Budaya Bali. Acara ini dimeriahkan pula Pasar Kreatif Misbar serta penampilan sejumlah kelompok anak muda kreatif di Bali melalui pentas akustik. [b]

The post Bentara Budaya Putar Film Pendek Lintas Tema appeared first on BaleBengong.

Bentara Budaya Gelar Obituari Penyair Vivi Lestari

Sudah setahun lebih penyair Vivi Lestari berpulang sejak April 2017 lalu.

Kini melalui program Dialog Sastra #60 Bentara Budaya Bali (BBB) akan mengetengahkan diskusi mengenai capaian karya-karya puisi Putu Vivi Lestari. Agenda yang akan berlangsung pada Jumat, 18 Mei 2018 itu, sekaligus sebentuk obituari bagi Vivi.

Putu Vivi Lestari merupakan salah satu penyair muda yang sangat berbakat dan tumbuh pada pertengahan 1990-an. Selain menulis puisi, dia juga aktif di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Dia juga rajin menyiarkan puisi, prosa liris, dan esai di ruang apresiasi sastra Bali Post Minggu yang diasuh Umbu Landu Paranggi.

Karyanya banyak menyuarakan tentang persoalan perempuan dalam kaitannya dengan urusan tubuh, domestik, budaya patriarki, dan berbagai persoalan lainnya.

Obituari bagi Putu Vivi Lestari ini menghadirkan bedah dan diskusi buku puisi “Ovulasi yang Gagal”, buku antologi puisi tunggalnya yang diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi, 2017. Sebagai pembicara yakni Made Sujaya dan Puji Retno Hardiningtyas dipandu oleh Wayan Jengki Sunarta.

Acara dimaknai pula pemutaran video “Vivi di Mata Kawan-kawan”, musikalisasi puisi oleh Teater Cakrawala dan teaterisasi puisi oleh Teater Sangsaka, pembacaan puisi oleh Pranita Dewi, Dewi Pradewi, Wulan Saraswati, dan Muda Wijaya, serta orasi budaya oleh Wayan Juniartha, wartawan The Jakarta Post dan Ketua Program Indonesia UWRF.

Program Obituari ini ditandai pula acara testimoni dari rekan dan sahabat, yang merefleksikan kehangatan persahabatan serta pergaulan kreatif mereka selama ini.

Bentara Budaya Bali pernah menggelar acara Obituari bagi penyair Wayan Arthawa, pelukis Wahyoe Wijaya, kurator seni rupa Thomas Freitag, koreografer dan penari I Nyoman Sura, pematung I Ketut Muja, serta kartunis dan cerpenis I Wayan Sadha, aktor teater Kaseno, pelukis Tedja Suminar serta maestro tari Ida Bagus Oka Blangsinga.

Obituari adalah program penghormatan pada dedikasi, totalitas dan capaian para seniman lintas bidang, serta aktif membangun atmosfir pergaulan kreatif yang produktif, diantara melalui partisipasinya pada agenda seni budaya di Bentara Budaya Bali. Selain menghadirkan kembali karya-karya unggul mereka juga akan ada bincan warisan kreativitas berikut sumbangsihnya pada kemajuan seni budaya.

Selain menulis, Vivi bekerja sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Pada 2007, Vivi menikah dengan pelukis Ketut Endrawan. Mereka dikarunia dua anak. Pada tanggal 8 April 2017, Vivi menghembuskan nafas terakhir di RSUP Sanglah, Denpasar.

Puisi-puisi Vivi pernah dimuat di Kompas, Bali Post, Bali Echo, Suara Merdeka, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal PUISI, Majalah Coast Lines, Pikiran Rakyat, Majalah Sastra Horison, Media Indonesia, dan Jurnal Kebudayaan CAK.

Puisi-puisinya juga bisa dijumpai dalam sejumlah antologi bersama, antara lain Angin (Teater Angin, Denpasar, 1997), Ginanti Pelangi (Jineng Smasta, Tabanan, 1999), Art and Peace (Buratwangi, Denpasar, 2000), Karena Namaku Perempuan (FKY, 2005), Selendang Pelangi (Indonesia Tera, 2006), Herbarium: Antologi Puisi 4 Kota (Pustaka Pujangga, Lamongan, 2007), dan lain-lain.

Vivi pernah meraih sejumlah penghargaan sastra, antara lain “Lima Terbaik” lomba catatan kecil yang digelar Komunitas Jukut Ares Tabanan (1999), “Sepuluh Terbaik” lomba cipta puisi pelajar SLTA tingkat nasional yang diadakan Jineng Smasta-Tabanan (1999), Juara II lomba cipta puisi dalam pekan orientasi kelautan yang diadakan Fakultas Sastra Unud (1999), “Sembilan Puisi Terbaik” Art & Peace 1999, Juara II lomba cipta puisi dengan tema “Bali pasca tragedi Kuta” (2003).

Selain pernah mengisi acara di Bentara Budaya Bali, Vivi membacakan pula puisi-puisinya pada sejumlah acara sastra tingkat nasional, antara lain Pesta Sastra Internasional Utan Kayu 2003 di Denpasar, Cakrawala Sastra Indonesia 2004 di TIM Jakarta, Ubud Writers and Readers Festival 2004, Festival Kesenian Yogyakarta XVII 2005, Printemps de Poetes 2006 di Denpasar, Temu Sastra Mitra Praja Utama VIII di Banten (2013). [b]

The post Bentara Budaya Gelar Obituari Penyair Vivi Lestari appeared first on BaleBengong.

Akhirnya Jejak dan Curahan J’Orok pun Tertinggal

Salah satu diskusi usai pementasan Jejak Teater Orok. Foto Teater Orok.

Apa yang kalian pikirkan saat membaca kalimat J’Orok atau Jejak Orok?

Suatu hal yang negatif? Atau sesuatu yang kotor? Ini semua jauh dari itu, kok. Dari namanya sih J’OROK kependekan dari Jejak Orok. Memang Teater Orok buat apa, sih, sampai meninggalkan jejak segala? Sok sibuk, dari namanya sih udah serem banget ya.

Tentang J’OROK

Jejak Orok sendiri dilaksanakan di tiga wilayah, yaitu dari awal kita mulai dari Jembrana, terus ke Singaraja, dan akhirnya di Bangli.

Jejak Orok merupakan nama lain dari Pentas Keliling ini. Sesuai namanya, kami sepakat untuk memberikan suatu hal yang disebut dengan “Jejak” atau kenangan dan kesan sambil silaturahmi ketika kami melakukan sebuah pementasan. Kali ini kebetulan hanya berfokus di naskah Drama Pinangan karya Anton P. Chekov.

Syukurlah, sesuai dengan namanya “Jejak Orok” mungkin sedikit berhasil meninggalkan jejak di tempat tersebut. Terimakasih teman-teman yang sudah menerima jejak kami ini. Salam hangat buat kalian. Khusus buat cewek-cewek, salam kangen yaaaa..

Terlalu beban memang suatu tanggung jawab dipikirkan tanpa dijalankan. Kebetulan Yoga Pramana menjadi ketua panitia Pentas Keliling. Awal proses mengingat Yoga baru pertama ada di Teater Orok dan syukur masih bertahan hingga sekarang. Apalagi sangat minim pengalaman tentang teater dan tetek bengek teater. Apalagi dia kurang dalam relasi teater, pengetahuan teater, dan hal lain tentang teater.

Saya hanya bisa melihat, “Ooh, ini maksudnya. Oh, ini artinya toh. Oo begitu..” Namun, pada akhirnya berjalan dengan sendirinya. Mengalir begitu saja. Dedikit demi sedikit mulai masuk, walau sangat sedikit yang masuk tentang apa itu teater.

Sedikit cerita tentang awal mula menjadi Sekretaris Pentas Keliling. Kaget awalnya waktu ditawarin jadi sekretaris acara… Eh, bukan ditawarin ding, tapi disuruh dengan sangat amat singkat, padat, dan jelas. Kurang lebih begini bunyinya kalau tak salah ingat, “Novi, kamu jadi sekre pentas keliling ya, nanti kalo ada yang nggak ngerti langsung tanya sama kak Wiwid aja.”

“Sempet mikir ini orang ngapain coba. Tak ada angin, tak ada apa, tiba-tiba dikirimin chat kayak gitu, kan syok loh.. (yang merasa ngechat sorry ya, wkwkwk). Tapi dari hari itu saya mulai belajar tentang apa yang nanti bakal disebut sebagai jejak,” ujar Novi, sang sekretaris Pentas Keliling.

Poster Teater Orok di Jembrana.

Jejak Pertama di Negara

Nah, sesuai dengan keterangan di atas, pementasan pertama kami lakukan di Negara, ibu kota Kabupaten Jembrana, tepatnya di Panggung Terbuka Rompyok Kopi punyanya Bli Nanoq Da Kansas.“badai_di_atas_kepalanya” itu nama instagramnya, kalau penasaran langsung kepoin saja. Hehehe.. Kalau nama Instagram kami “teater_orok”. Follow yaaa.

Waktu sesi diskusi, pertanyaan dan masukan yang diberikan bisa dibilang sangat serius dan pastinya membangun dong…. Kalau kami boleh jujur, sesi diskusi ini bisa dibilang tidak begitu hangat, sedikit agak serius dan menegangkan tetapi sangat bermanfaat dan membangun. Terima kasih teman-teman atas masukannya.

Secara keseluruhan sih asyik. Apalagi tempatnya, asyik tenan, rek! Suksma banget tempatnya, Bli Nanoq. Kami tunggu kedatangan kawan-kawan badai di Teater Orok.

Jejak Kedua di Singaraja

Karena kami pentas dan bermain di kampus, otomatis penontonnya juga anak-anak kampus. Kalangan muda gitu. Asyik.. Karena itu, ketika selesai pementasan dan pas sesi diskusi jadi lebih intim dan hangat. Mungkin karena umurnya tak beda jauh. Diskusi pun lebih enak, hangat, dan cantik. Samp-sampai hal yang ngawur pun ditanyakan tanpa ada batasan. Kami pun merespon dan menanggapi dengan hangat juga.

Terima kasih, Singaraja..

Jejak Terakhir di Bangli

Nah, waktu di Bangli, kebetulan kami bekerja sama dengan Komunitas Bangli Sastra Komala. Kami meminjam tempat yang sangat bernuansa desa banget dan adem ayem. Hehehe.. Becanda becanda.

Kami meminjam.. Umah Bata!! Begitulah teman teman Bangli menyebutnya. Rumah ini milik Bli Putu Suiraoka. Anggota Komunitas Bangli Sastra Komala ini juga dosen Politeknik Kesehatan Denpasar… To to tolih not, to orang ci adem ayem, dosen yeee nok, wkwwk… Pak Putu, becanda saja kok ini. Hehehe..

Singkat cerita, sesi diskusi pun terjadi. Diskusi kami tidak jauh berbeda dengan di Jembrana, sangat berjarak dan dingin. Mungkin karena daerah tinggi, makanya dingin. Tetapi, memang benar. Pada saat sesi diskusi pertanyaan, kritikan, dan saran sangat tegang dan pastinya sangat dingin. Yang bertanya juga banyakan kalangan yang berumur alias tua-tua.

Namun, secara pribadi kami sangat mengapresiasi penonton yang bela-belain nonton pementasan kami, bela-belain bangun dari gulungan selimut yang hangat, hanya untuk menonton pementasan standar ini.

Suksma banget semeton Bangli, semeton Bangli emang mantap!!!

Curahan oleh Yoga Pramana

Sedikit cerita. Teman-teman banyak mengatakan, sibuk ini, Kak. Sibuk ituu, kak. Alahh…. Banyak yang bilang gabeng, ada juga yang bilang ini gak penting. Beberapa temen saja sih yang bilang gitu. Hehehe.. Ada yang tiba-tiba di hari H hilang, tak ada kabar sampai sekarang. Jujur memang kecewa sih kadang-kadang tetapi bagaimana lagi? Cuma hanya bisa menjalankan dan berusaha ini harus baik. Yaa, setidaknya berjalanlahh.

Dan, akhirnya pentas keliling berjalan hingga berakhir di Bangli. Iya sihh, emang yang datang dari kita sendiri. Itu pun itu-itu saja. Padahal di sini fungsinya kita mulai lembaran baru kan? Pembelajaran baru, pemikiran yang beda sehingga rasa dan tujuan kita jadi satu. Namun, entah kenapa, itu tidak terjadi atau memang saya sendiri yang kurang sampai-sampai kita dikritik oleh beberapa orang. Ini lho fungsi kita ngumpul di Teater Orok, untuk mencari jalan keluar agar lebih baik.

Tapi kenapa? Kalian bilang gabenglah, inilah, itulahh. Dari hati yang sangat dalam, ayo dong berikan solusi. Bantu aku juga. Jangan ngomong tok kalian.

Aku gak enak juga sama kakak-kakak kita yang mau lengser. Kak Nando dan Kak Wiwid (penyedia transportasi), Kak Tress (manusia yang gak ada kerjaan. Hehehe), juga Novi (pembuat segala jenis surat-surat yang diperlukan). Hanya mereka saja yang kita BEBANI. Yang lain mana?

Ayolah ikut berproses. Malu sama mereka lohh, Hmm.. Ingin nangis rasanya saya, nok. Bukan sih menunut ya, kita sama-sama sibuk. Kembali lagi bagaimana cara kita membelah diri untuk mengatur semuanya. Banyak tugas? Cang liu tugas masih!

Sebenarnya masih banyak curahan hati saya, tapi saya yakin setengah curahan lagi mungkin tidak akan teman-teman baca. Hehehe..

Kata Mutiara

“Kalau menjadi pemimpin itu, tak harus ada tindakan yang membuat semua orang merasa tidak nyaman. Pemikiran saya, jadi pemimpin itu, kita harus ada di tengah tengah semua, kenapa? Iya, supaya kita tau bagaimana sih cara kita agar semuanya berjalan dengan baik sesuai dengan curahan keluh kesah teman-teman kita. Maka dari itu, jadi pemimpin harus mampu menjaga moral, sifat rendah hati, etika, dan menjadi pendengar yang baik bagi teman temannya dan mampu mempraktekkannya bukan sekedar argumen”

Kiranya begitu kata kata mutiara saya. Kirang langkung sinampura, hanya sebuah kutipan biasa dari manusia yang biasa biasa.

Curahan oleh Novi Antari

Emang sih di awal-awal berat rasanya di saat harus ngurus ini itu dari awal. Mulai dari bikin proposal, surat, dan lain-lain tetapi untungnya masih ada Kak Wiwid yang selalu bisa ditanyain soal ini.

Terima kasih, Kakak. Dari sini saya tahu bagaimana ribetnya ngurus surat. Belum lagi ada nih yang tiba-tiba nyuruh buat surat permohonan kerja sama dan buat catatan sedikit katanya untuk dijadikan bahan bacaan saat mentas. Ya sebut saja namanya Kak Tress. Jancuk kali kakak satu ini tak tau apa lagi sibuk. Hehehe…

Namun, di sini saya bener-bener belajar tentang apa itu pementasan dan bagimana persiapannya yang bisa dibilang tidak gampang. Jadi sekalian mau bilang makasi juga nih buat yang sudah bantu selama kegiatan ini.

Di samping yang udah disebut di atas, ada yang bikin kesal juga kadang-kadang sama mereka. Di awal-awal semua semangat beli inilah itulah, cari inilah itulah dalam pentas keliling, tetapi semakin kebelakang apa? Semuanya sedikit demi sedikit ngilang. SIBUK kepanitiaan, ada acara, dan apalah itu lagi.

Jujur pengen banget komen di grup waktu ada yang bilang gitu tetapi tak ada gunanya juga. Toh semua juga nggak bisa diubah lagi kan? Ya kali menyuruh mereka nggak datang di acara itu dan nyuruh bantu di Orok saja. Maunya sih gitu, tapi sok-sokan jadi orang sabar. Nggak tahu saja yang lain keselnya kayak apa pas baca grup isinya gitu semua.

Satu yang aku rasain setelah ikut di JEJAK OROK ini, tujuan awal kita belum tercapai. Memang sih sudah susah senang bareng-bareng selama persiapan mulai dari latihan sampai pentas di satu tempat ke tempat lain, tetapi tetap yang dibilang mau mempererat hubungan intern itu rasanya belum maksimal. Semua kayak masih mementingkan ego masing-masing.

Ingin rasanya ikut-ikutan begitu di saat semua tugas di luar Orok diharuskan selesai. Namun, balik lagi kalo diingat-ingat ada orang-orang yang seharusnya cuma jadi pengawas acara kayak Kak Tress, Kak Nando, dan Kak Wiwid s aja semangat masak kita yang bisa dibilang masih belajar ini nyerah sih?

Untung banget rasanya ada mereka yang selalu siap bantu acara ini termasuk juga Kaka Iin. Jangan hilang di Orok yaaa, Kakak-kakak.

Satu yang ingin banget saya bilang ke temen-temen yang terlibat di JEJAK OROK ini, yuk sama-sama belajar. Kalau kata kakak-kakak yang lain, “Yuk, berproses sama-sama. Nggak ada yang nggak bisa kalau kalian mau nyoba”.

Udah, ah. Segini saja ceritanya. Semoga ada gambaran tentang proses kami kemarin. Satu kalimat terakhir yang selalu disebut-sebut selama JEJAK OROK….. JEG POKOKNE SEMANGAT!!!!

Sedikit catatan kecil dari kami bertiga (Tress, Yoga, dan Novi).

Untuk teman-teman Teater Orok (khususnya) jangan kapok-kapok menulis. Sesungguhnya sebuah tulisan tidak kalah saing dengan hasil dokumentasi pementasan lohh. Jadi jangan segan-segan untuk menulis (apapun) itu. Tentang teater, sastra, kuliner, bahkan tentang cewek juga. Hehehe..

Jeg tulis gen malu. Benar salahnya belakangan. Amanlah. Jangan sampai berhenti menulis lohh pada fase ini. Sudah itu saja, sih.

Ohh iyaa kita juga punya dokumentasi lahh selama pentas keliling ini di saluran YouTube kami. Kira-kira berdurasi 5-6 menit. Silakan ditonton, yaaaaa..

Akhir kata dari kami Salamm Budayaaa!!! Teater Orok………. AYEE! [b]

The post Akhirnya Jejak dan Curahan J’Orok pun Tertinggal appeared first on BaleBengong.