Tag Archives: Budaya

Pertemuan, Ketersesatan, dan Harapan Kecil di Tahun 2018

Oleh Agus Wiratama

Kalau diingat-ingat, pertemuan ini bisa dikatakan sangat miris.

Kurang elok rasanya menceritakan hal ini. Tetapi sebagai catatan awal tahun Teater Kalangan, akan saya ceritakan juga bagaimana awal pertemuan saya dengan Teater Kalangan. Saya tersesat karena ketidaksengajaan meskipun sebenarnya kecintaan saya terhadap kesesatan ini mulai dipupuk sejak awal kuliah secara perlahan.

Ya, awalnya saya merasa kesepian. Bisa dikatakan pada saat itu saya “krisis eksistensi”.

Ketika itu saya sudah berada di ujung masa kuliah (masih sama seperti sekarang), terlebih ketika itu saya seperti tokoh aku dalam naskah Putu Wijaya yang berjudul “Matahari Terakhir”. Ditinggalkan oleh Nensi dan dipenjara oleh kesepian. Sepi karena teman-teman sudah mulai sibuk bergulat dengan tugas akhir kuliah. Sementara saya, sibuk mehibur diri.

Saya juga sudah renta di organisasi kemahasiswaan yang dulunya menjadi tempat mendapat eksistensi. Itulah lonjakan awal pertemuan saya dengan Teater Kalangan, meskipun orang-orang di dalamnya yang sudah saya kenal sejak menjadi balita di Kampus Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), tepatnya di Komunitas Cemara Angin.

Masa paceklik itu membuat saya bersemangat mengunjungi berbagai acara sastra dan teater di Singaraja. Sejak itu pula saya mulai belajar hidup di tengah-tengah ketersesatan dan keterasingan itu. Namun, secara perlahan semua berangsur-angsur menjadi tak asing.

Ternyata, masa paceklik itu mengantarkan saya bertemu dengan Teater kalangan yang memberi kesempatan untuk belajar mendengar orang ngobrol dengan topik yang asing, dan belajar menulis curhatan seperti sekarang.

Teater Kalangan juga telah mengantarkan saya bertemu dengan Komunitas Mahima yang akhirnya menjadi rumah. Rumah sekaligus tempat saya belajar menulis, dan belajar ngobrol, meskipun setiap tikar obrolan dibuka saya selalu mencari sudut mati yang sepi untuk diam. Di rumah belajar Komunitas Mahima, saya bertemu dengan Made Adnyana Ole dan Kadek Sonia Piscayanti.

Sutradara Teater Kalangan, I Wayan Sumahardika mengatakan saya “tersesat”, mendengar itu saya tertawa. “Daripada tersesat, kan lebih baik tersesat sekali” pikiran itu membuat saya pasrah “terdorong” (baca: diantar) untuk lebih mengenali pelaku-pelaku dunia tersebut. Ya, saya dipertemukan dengan orang-orang yang sebelumnya hanya saya kenal melalui pembicaraan.

Lantas, setelah pertemuan itu, saya merasa menjadi serpihan kecil yang mengambang di tengah lautan luas. Pembicaraan, lelucon, gerak-gerik tubuh orang-orang itu ternyata sangat asing. Sangat berbeda dari apa yang selama ini saya lakukan dan bayangkan.

Pertemuan-pertemuan ini seolah-olah seperti sangat teratur. Usai babak pertama sebagai penonton untuk beradaptasi, babak-babak selanjutnya saya bertemu dengan kelompok-kelompok teater di Denpasar sebagai pelaku. Orang yang diperkenalkan pertama dan terkadang menggertak saya kalau diam tak berkomentar di lingkaran adalah Jong. Setelah mengenal sosok ini, saya teringat iklan motor di media “Si gesit irit” absurd, susah dijelaskan. Sama seperti Suma dan Gede Gita.

Orang-orang inilah yang menanam banyak hal pada saya. Suma, selain mengantar saya untuk semakin tersesat, ia selalu meyakinkan saya untuk berani memiliki cita-cita. Saya selalu diingatkan. “Ikut berteater tidak harus menjadi aktor atau sutradara, tapi gunakan teater untuk menjadi apa yang kau inginkan,” katanya. Di sini saya baru sadar bahwa teater tak hanya soal sutradara, aktor, panggung, dan penonton. Teater lebih dari itu adalah sebuah jembatan untuk mencapai tujuan.

Gede Gita yang sering mengajak saya curhat dan membicarakan hal-hal yang terkadang tidak bisa saya pahami, sesekali juga dengan senang hati mau menemani saya untuk membicarakan tulisan saya dan menyadari kekurangan-kekurangan di dalamnya, selain mengingatkan saya pentingnya hidup bersama agar tidak merasa sendirian. Sementara pertemuan saya dengan Jong memang tak seintens pertemuan saya dengan Suma dan Gede Gita, tetapi dengan semangatnya yang selalu berkobar itu, semakin mantaplah saya untuk yakin akan hal yang ingin saya dapatkan dari teater.

Pertemuan akhirnya berlanjut pada pertemuan dengan beberapa teman-teman dari Teater Angin dan Teater Orok. Pertemuan-pertemuan seperti ini akhirnya membuat saya tidak merasa sendiri lagi. Dan yang terpenting, saya tidak berpikir tentang “Nensi” lagi.

Pada beberapa proses, saya lebih banyak bertugas sebagai tim produksi, dan pernah juga sebagai properti. Tetapi, pada Wisata Monolog Teater Kalangan yang berlangsung Desember tahun lalu, saya menjadi salah satu aktor. Di situ saya mendapat hal-hal baru lagi.

Sebenarnya, pada diskusi-diskusi kecil, hal-hal itu pernah dibicarakan, tetapi ketika saya merasakannya secara langsung, hal-hal itu menjadi benar-benar baru. Di situ saya belajar subteks, kesadaran tubuh, kesadaran ruang, dan alasan berteater. Lalu, pada proses itu berlangsung, saya rasanya ingin menyerah saja, sebab saya tak mampu memahami teks.

Diri saya sendiri memang susah untuk saya pahami. Sangat bertentangan. Sebab pada satu sisi saya ingin belajar, tapi di sisi lain saya dengan mudah ingin menyerah, terlebih ketika melihat kemampuan teman-teman saya yang sudah jauh melampaui kemampuan saya.

Ketika melihat kiri-kanan, semua sudah menancapkan tiang pondasi untuk berdiri, sementara tiang saya sendiri tak mampu terbangun dengan kokoh. Situasi seperti inilah yang membuat saya selalu ingin menyerah.

Tetapi, saya tak bisa kembali. Ini benar-benar ketersesatan. Apabila saya kembali, saya akan merasa asing di dunia seperti sebelum bergabung Teater Kalangan. Mungkin juga apabila kembali hal itu malah akan membuat saya menjadi arogan karena telah mencicipi teater dengan setengah-setengah.

Jadi, pilihan saya adalah bertahan di sini dan terus belajar di lingkaran ini. Sama seperti program teater kalangan yang telah tersusun untuk tahun 2018, saya pun sudah menyiapkan target tahun ini. Sederhana, saya tidak ingin terus-merus berada di sudut mati setiap obrolan dibuka. Ya, pada tahun ini saya harus bisa ngobrol, bukan pendengar saja, tentunya selain memperkokoh pondasi untuk identitas saya di lingkaran ini.

Umur saya masih sangat muda di dunia seperti ini, maka orientasi itu terus berlangsung hingga saat ini. Namun, itulah proses. Dalam hal ini saya selalu mendapat sesuatu yang baru meskipun bila ditanya “apa saja yang kau dapat?” saya akan menjawab secara tertatih-tatih. Apa daya, daya serap yang tak terlalu tinggi membuat atrisi informasi lebih tinggi ketimbang yang mampu ditampung. Namun, sadar dengan kemampuan yang terbatas membuat saya selalu bersyukur bisa bergabung di Teater kalangan yang telah membuat saya tidak merasa sendirian dan memperkenalkan banyak hal-hal baru. [b]

Biodata Penulis

Agus Wiratama lahir di Pengembungan, 19 Agustus 1995. Asal Br. Pengembungan, Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Bali. Kini menetap di Singaraja untuk menempuh S1 di jurusan Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Berproses dan mengenal sastra pertama kali di Komunitas Cemara Angin. Sempat menjadi wakil kepala suku Komunitas Cemara Angin periode 2015/2016.

Mulai belajar menulis di Komunitas Mahima. Sempat berproses dengan Teater Kampung Seni Banyuning, UKM Teater Kampus Seribu Jendela, dan Teater Ilalang SMA LAB Undiksha. Cerpennya meraih juara harapan dalam lomba penulisan cerpen HMJ Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha se-Bali. Kini, sembari mengejar cita-cita jadi cerpenis, ia nyambi jadi aktor dan tim produksi di Teater Kalangan.

The post Pertemuan, Ketersesatan, dan Harapan Kecil di Tahun 2018 appeared first on BaleBengong.

Mengintip Hari Depan Teater Kalangan

Teater Kalangan saat tampil di Malam Anugerah Jurnalisme Warga 2017 di Taman Baca Kesiman. Foto Wayan Martino.

Oleh Wulan Dewi Saraswati

Kami membuka tahun baru dengan catatan ini sungguh bahagia.

Seperti mengintip masa mendatang dan membungkus rapi pengalaman. Melewati tahun-tahun sebelumnya bersama Teater Kalangan adalah pengalaman yang senantiasa menjadi bekal bagi karya selanjutnya.

Berbagai kegiatan yang telah dilalui bersama tentu membuat semua kawan di Teater Kalangan semakin matang. Kematangan itu bisa dilihat salah satunya pada catatan ini. Catatan singkat ini saya tulis dari sudut pandang sebagai seseorang yang ikut nimbrung bersama Teater Kalangan.

Jika ditelisik beberapa tahun lalu ketika masih bernama Teater Tebu Tuh, kelompok ini memang sudah menawarkan hal berbeda. Kecenderungan yang digarap adalah kolosal menggunakan banyak pemain, komikal, interaktif, dan mengedepankan konsep artistik. Namun, Tebu Tuh belum memperlihatkan penawaran untuk bermain di luar daerah asal yakni Singaraja.

Sedikit nostalgia, saya sempat melihat penampilan Tebu Tuh pada Parade Teater Muda Bali Utara yang saat itu mementaskan naskah ADUH karya Putu Wijaya. Saya pun ikut pada garapan film pendek Doll Education yang berhasil menyabet juara 1 se-Bali.

Pada saat-saat itu sudah kentara orientasi sutradara yakni wacana besar dan padat, dipresentasikan secara kolosal dengan karakter komikal.

Sesudah ‘Reformasi’

Sebagaimana saya ketahui, Teater Kalangan telah di‘baptis’ sebagai sebuah nama yang dipilih oleh Sumahardika pada acara Mimbar Teater Indonesia yang digelar di Taman Budaya Surakarta Jawa Tengah, 23 September 2016. Pada saat itulah Teater Kalangan tampil kali pertama dengan naskah Rintik karya Danarto.

Bisa dibilang pada waktu itu pula Teater Kalangan diresmikan sebagai kelompok teater. Tentu tidak sembarang kelompok yang berhak tampil pada Mimbar Teater Indonesia. Maka dari itu, kelahiran Teater Kalangan telah disambut dan disaksikan oleh berbagai teater di Indonesia yang hadir pada acara tersebut. Kejadian itu pula adalah sebuah reformasi dari Sumahardika dan kawan-kawan.

Bersama beberapa kawan, Sumahardika membuat sebuah reformasi. Saya melihat hal itu sungguh dipersiapkan. Terutama visi, misi atau lebih kerennya ideologi dari Teater Kalangan sudah disiapkan dengan hati-hati, teliti, dan inovatif.

Kreativitas yang dimiliki oleh kawan-kawan yang bergabung di Teater Kalangan cukup unik dan menarik. Anggota yang tergabung tidak profesinal sebagai aktor, sebagai artistik, musisi, EO, atau singkatnya tidak belajar formal terkait hal itu. Kawan-kawan bergabung untuk belajar bersama, diskusi, bertukar ide, beradu argumen guna mendalami lagi materi-materi yang telah didapat serta mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam keaktoran, artistik, bahkan penulisan.

Saya berpikir bahwa poros energi Teater Kalangan terletak pada tataran wacana. Teater Kalangan membidik wacana sosial menjadi puitis sebagai sebuah tema dan bentuk pemanggungan. Maka tidak cukup kiranya bila diejawantahkan dalam dramaturgi Stanislavski. Bila pertarungan politik dan kontestasi ideologi menjadi daya ungkap dari Teater Kalangan, maka dramaturgi Brechtian adalah pondasi yang sesuai.

Tidak sampai di sana, pada produksi XIII Teater Kalangan yakni Wisata Monolog mempunyai bentuknya sendiri. Pementasan ini membawa isu-isu perjuangan kaum bawah sebagai bentuk provokasi. Adapun pementasan monolog Bali yang merupakan pementasan ke-100 dari Festival Monolog Putu Wijaya merupakan tindakan membangun nyali dan melek terhadap situasi politik.

Hal lain itu juga terlihat pada garapan Malala, produksi penutup tahun 2017 Teater Kalangan. Sutradara Santiasa Putu Putra melihat bahwa Malala adalah wacana yang ingin diperbincangkan. Kemudian, saya sebagai pemain diarahkan untuk menampilkan secara forum discussion group (FG).

Di satu sisi memang naskah ini adalah naskah monolog tetapi naskah tidak menutup kemungkinan untuk mengajak penonton beragumen. Naskah Malala memang menuntut keterlibatan penonton mengkritisi peran tunggal ayah. Penonton diajak berdiskusi bersama tentang keadaan Malala.

Pada saat itu, hal yang terpenting adalah membangun daya kritis penonton terhadap isu yang tampilkan, selain memang membuat suasana seperti berada di Bale Banjar.

Di sisi lain mengusung wacana sosial, penawaran menarik juga terlihat pada beberapa pementasan di Denpasar seperti Buah Tangan dari Utara. Tubuh aktor adalah hal utama sebagai daya ungkap. Hal ini sangat unik mengingat wacana tersebut diterjemahkan ke dalam idiom-idiom gerak pada tubuh si aktor.

Ada pula inovasi dalam respon puisi. Teater Kalangan sempat merespon beberapa puisi saya kemudian ditampilkan di Bentara Budaya Bali dan LittleTalks Ubud. Pada saat itu garapan condong pada gerak dan kekuatan bunyi.

Selanjutnya kami fokus untuk menggarap musik atau bunyi yang bertajuk Bebunyian. Pada pementasan Pidato Gila dan Damai pun Teater Kalangan bahkan menampilkan musik dalam bentuk live band.

Daya ungkap pada tataran wacana, konsep tubuh dan bunyi, sudah saya paparkan. Terakhir yang menjadikan Teater Kalangan menjadi segar adalah penggarapan penonton. Salah satunya yakni mengundang penonton.

Beberapa pementasan yang besar dan ingin melibatkan penonton dari prosfesional teater, berbagai disiplin ilmu, bahkan penonton awam tentu perlu ajakan resmi. Nampaknya tidak cukup hanya mengandalkan media sosial. Tidak cukup membuat cuplikan pementasan. Tidak cukup undangan lewat Facebook.

Kini undangan lebih serius, lebih intim, dan lebih formal. Kami mengundang kawan-kawan dalam bentuk kartu undangan atau mini famflet. Kami mengharapkan kehadiran para undangan untuk menyaksikan, mengkritisi, mengapresiasi karya kami dengan cara mereka. Dengan undangan ini, kami pun merasakan bahwa pementasan yang ditampilkan tentu tidak boleh sekadar atau hanya kejutan-kejutan belaka. Kami menjadi termotivasi untuk serius menggarap, tekun berlatih, dan menyadari kebutuhan penonton yang ingin menyaksikan pementasan penuh makna juga segar.

Mengintip Hari Depan
Nampaknya Teater Kalangan tidak saja beranjak dari apa yang ada. Teater Kalangan sudah meyakini bahwa yang ada perlu diberi makna agar semakin berharga. Memberi makna sebagai respon terhadap lingkungan sekitar adalah hal yang tengah dilakukan.

Secara Ekologis sebagaimana yang dikatakan Benny Yohanes bahwa teater adalah gejala kesenian berdimensi sosial dan intelektual, yang berlingkungan dan melingkungankan diri. Teater lahir melalui lingkungan sosial-intelektual kesenian yang secara kondusif kemudian menetaskan embrio sifat genetik dan hereditas keteaterannya. Hal itulah yang menjadi bekal sekaligus identitas sikap teater yang diambil Teater Kalangan.

Sikap Ekologis yang dipilih ini muncul berkat relasi-relasi yang berperan dalam pembangunan wacana pada pementasan Teater Kalangan. Relasi yang dimaksud bisa dipisahkan menjadi dua.

Pertama peran personal, seperti keterlibatan kawan-kawan musisi, film, aktivis, seniman tari, koreografer, pelukis, dsb. Peran kawan-kawan berbagai disiplin ilmu tentu meyakinkan kita bahwa teater tidak dibangun hanya dari seni peran, tetapi ada pula ilmu-ilmu lain yang tidak kalah penting sebagai unsur pembangun teater.

Kedua, relasi ruang. Respon-respon terhadap ruang akan mempengaruhi daya kreativitas artistik teater. Ruang beserta isinya harus mampu direspon agar terjadi proses pemaknaan. Seperti yang telah dilakukan pada ruang baca, kafé, tanah kosong, ruang bawah tanah, panggung terbuka, atau pemanfaatan benda bekas, bambu, panci, gambelan, kardus, dan lain-lain.

Teater Kalangan adalah penawaran bagi masa depan teater, khususnya di Bali. Tidak hanya bertumpu bahwa teater adalah bentuk swadaya, yadnya, atau panggilan hati.

Lebih dari itu, teater Kalangan melangkah kini pada tataran akal budi, pengembangan konsep, komposisi penyajian, dan tentu pertarungan wacana. Penonton tidak hanya diberikan ruang untuk menyaksikan, tetapi penonton diberi kesempatan untuk terlibat langsung di dalamnya. Kini menonton teater tidak seserius yang dipikirkan. Menonton teater adalah sarana rekreasi, refleksi, dan cerminan terhadap situasi lingkungan kini.

Tantangan masih terbuka luas. Menaklukkan wacana, bertarung dengan waktu, serta merawat persaudaraan adalah krikil yang harus disikapi bijak. Mengatur pola latihan, membagi waktu antara pribadi dan keluarga, serta menjalin silaturahmi sesama pejuang seni perlu dibina lebih lanjut.

Hari depan masih cerah membara. Harapan terhadap Teater Kalangan masih begitu panjang. Banyak kesempatan untuk tekun berkarya. Tentu masih ada ruang untuk berkarya selama gairah belajar terjaga. [b]

Denpasar, awal tahun 2018.

Ni Luh Putu Wulan Dewi Saraswati berasal dari Desa Busung Biu, Buleleng. Lahir di Denpasar, 10 Juli 1994. Telah menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, kemudian mendalami linguistik di Pascasarjana Universitas Udayana. Kini menjadi guru bahasa Indonesia untuk penutur asing di Yayasan Cinta Bahasa.

Saat ini bergabung di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan. Antologi puisinya bertajuk Seribu Pagi Secangkir Cinta telah terbit pada tahun 2017. Ia dapat dihubungi melalui [email protected], Facebook: Wulan Dewi Saraswati, dan Twitter: @wulansaraswati.

The post Mengintip Hari Depan Teater Kalangan appeared first on BaleBengong.

Minikino Film Therapy, Nonton dan Diskusi selama Januari

Suasana nonton bersama Minikino (dok. Minikino)

Minikino membuka tahun baru dengan Film Therapy.

Film Therapy adalah program film pendek untuk mengangkat konsep memperkenalkan karya film pada fungsinya yang lebih serius. Tak sekadar hiburan.

Dalam ilmu medis, terutama yang berkaitan dengan kesehatan mental, film ternyata juga digunakan sebagai suplemen untuk terapi psikologi. Bahkan sudah banyak buku mulai ditulis. Menurut pakar psikologi Gary Solomon pengarang buku The Motion Picture Prescription and Reel Therapy, film therapy adalah penggunaan film layar lebar atau televisi untuk tujuan terapi.

Namun, Edo Wulia sebagai programmer film pendek bulan ini juga menekankan bahwa film sebagai refleksi suatu gagasan dan emosi, tentu tidak terbatas hanya memengaruhi penonton. Film juga bisa mempengaruhi semua pihak yang terlibat dalam produksi. Pelatihan produksi film juga bertujuan untuk pembentukan karakter, merangsang kesadaran kerja sama serta membentuk karakter kepemimpinan.

Minikino telah melakukan beberpa kali pelatihan dengan hasil yang memuaskan.

M.E., salah satu film pendek dari Inggris yang diputar pada Minikino Film Theraphy (dok. Minikino)

Program Minikino Film Therapy menayangkan lima karya film pendek internasional yaitu M.E. (3 menit 10 detik) dengan sutradara Alexandra Hohner dari Inggris, FRIED BARRY (3 menit 32 detik) sutradara Ryan Kruger dari Afrika Selatan, ESTELA (23 menit) karya Hilda Lopes Pontes dari Brazil, LITUANIA (19 menit 59 detik) dengan sutradara Iker Arce dari Spanyol, dan AXIOMA (15 menit 22 detik) karya sutradara Elisa Possenti dari Italia.

Durasi total seluruh tayangan adalah 66 menit. Seperti biasa, nonton bersama akan diakhiri dengan tanya jawab santai bersama penonton.

Edo Wulia dalam mempersiapkan program ini juga secara khusus menghubungi beberapa pihak, salah satunya Birgit Wolz, Ph.D., MFT, pengarang buku dan juga seorang praktisi psikoterapi berbasis di California, Amerika Serikat. Birgit melakukan terapi kejiwaan menggunakan film sebagai medium terapinya. Klip video pendek dari Birgit akan membuka tayangan program Minikino Film Therapy dengan sebuah pengantar singkat bagaimana film therapy bekerja.

Di Denpasar, Minikino juga menghubungi Yohanes K. Herdiyanto, Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali yang bertempat di Rumah Berdaya, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar. Dalam kesempatan ini Minikino mengundang Yohanes K. Herdiyanto dan KPSI untuk ikut meramaikan acara sekaligus menjadi nara sumber bagi penonton umum yang mungkin penasaran tentang KPSI.

Program Minikino Film Therapy akan ditayangkan di tiga tempat berbeda. Jadwal terdekat adalah di Rumah Film Sang Karsa, Buleleng, pada Sabtu,13 Januari 2018. Selanjutnya Minihall Irama Indah, Denpasar, pada Sabtu, 27 Januari 2018. Terakhir di Universitas Sanata Dharma ruang Observasi, Fakultas Psikologi di Yogyakarta pada Senin, 29 Januari 2018.

Semua acara terbuka untuk umum, namun konten tayangan ini mungkin kurang dipahami untuk usia penonton anak-anak. Lebih detail mengenai jadwal, sinopsis film dan acaranya dapat dengan mudah dilihat di situs web Minikino.

Selain sebagai perkenalan awal untuk bidang psikoterapi Cinema Therapy, program film ini tetap mempertahankan unsur hiburannya, karena ditujukan untuk penonton umum dan bahkan yang masih awam.

Minikino sebagai organisasi film pendek pertama di Indonesia, telah memulai aktivitasnya sejak 2002. Salah satu kegiatan yang dirancang pertama kali pada masa awal adalah Screening & Diksusi Bulanan. Sesuai namanya, kegiatan ini berlanjut secara rutin setiap bulan, terus menerus dilakukan sampai saat ini.

Kegiatannya utama dalam mempersiapkan Screening & Diksusi Bulanan mencakup kurasi film-film pendek, perencanaan program dan mengurus perijinan penggunaan film. Kemudian mengurus izin penggunaan tempat acara, serta melakukan publikasi acara. Kerja rutin ini kemudian ditutup dengan pengarsipan. Tentu saja semua ini memerlukan dedikasi tenaga dan pikiran yang tidak sedikit, namun setelah berlangsung berulang kali akhirnya semuanya menjadi semakin terbiasa.

Seiring juga dengan berkembangnya pilihan film yang tersedia dan reputasi yang terbangun selama lebih dari 15 tahun. Semua pekerjaan dilakukan dan diatur bersama para relawan yang bekerja secara bergantian di dalam organisasi Minikino dari tahun ke tahun.

The post Minikino Film Therapy, Nonton dan Diskusi selama Januari appeared first on BaleBengong.

Tahun Baru: Tak Ada Resolusi, Hiduplah Dengan Spontan!

Bulan Desember sebentar lagi berlalu dan tahun baru segera tiba.

Di sebuah grup WA seorang kerabat mengirim tulisan tentang resolusinya di tahun 2018 dan menanyakan kepada anggota grup lain apa resolusi mereka di tahun yang baru. Saya tak membalas percakapan itu.

Sudah lama saya tak menyambut tahun baru dengan membuat resolusi. Yang saya lakukan paling banter berdoa di penghujung tahun, doa yang berisikan ungkapan terima kasih dan tak minta ini-itu. Saya tak mau menjadi pengemis dan berdagang dengan Tuhan. Saya percaya bahwa hidup penuh dengan misteri, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan jadi saya membiarkan hidup berjalan sebagaimana mestinya tanpa dibebani dengan berbagai harapan dan permintaan.

Membuat resolusi sepertinya telah menjadi kebiasaan banyak orang, terlebih lagi di era media sosial seperti sekarang segala hal baru bisa ditiru orang dengan cepat tanpa tahu makna dan esensinya, hanya ikut-ikutan saja. Tahun Baru membawa harapan baru bagi orang-orang tersebut; mendapat jodoh, kenaikan pangkat, pernikahan, mobil dan rumah baru dan lain sebagainya.

Bagi saya berharap oleh saja, namun harapan tanpa aksi adalah percuma. Kita hanya mengulang kebiasaan dari tahun ke tahun dan lupa bahwa hidup mesti diwarnai dengan tindakan nyata dan tak hanya sekadar bermimpi dan berharap.

Menulis tentang resolusi saya teringat Osho (1931-1990), mistik yang saya kagumi. Suatu hari ia pernah ditanya oleh seorang muridnya: “Jika seseorang ingin membuat resolusi, apa yang akan Anda sarankan?” Osho berkata: “Ini dan hanya ini yang bisa menjadi resolusi Tahun Baru: Saya memutuskan untuk tidak membuat resolusi karena semua resolusi adalah pembatasan untuk masa depan. Semua keputusan adalah pemenjaraan. Anda memutuskan hari ini untuk besok. Anda telah menghancurkan hari esok. Biarkan esok memiliki keberadaannya sendiri, biarlah itu datang dengan caranya sendiri! Biarlah ia membawa pemberiannya sendiri.

Resolusi berarti Anda hanya akan mengizinkan ini dan Anda tidak akan mengizin itu. Resolusi berarti Anda ingin matahari terbit di barat dan tidak di timur. Jika matahari terbit di timur, Anda tidak akan membuka jendela Anda; Anda akan menjaga jendela Anda terbuka ke barat.

Apa itu resolusi? Resolusi adalah perjuangan. Resolusi adalah ego. Resolusi mengatakan, “Saya tidak bisa hidup secara spontan.” Dan jika Anda tidak bisa hidup secara spontan, Anda sama sekali tidak hidup – Anda hanya berpura-pura. Jadi hanya ada satu resolusi di sana: saya tidak akan pernah membuat resolusi. Hilangkan semua resolusi! Biarkan hidup menjadi spontanitas alami.”

Saya sependapat dengan Osho. Hilangkan semua resolusi dan biarkan hidup menjadi spontanitas alami; hidup dari waktu ke waktu. Itu akan menjadikan hidup lebih indah. Resolusi ibarat sebuah penjara; kita mesti siap-siap kecewa jika harapan kita tak terpenuhi. Kita kemudian menyalahkan Tuhan karena tak mengabulkan keinginan dan harapan kita. Persis seperti anak kecil, ngambek jika tak dibelikan mainan atau permen.

Biarlah masa depan datang dengan berbagai paradoks dan misterinya. Toh juga sebenarnya tak ada yang namanya tahun “baru”. Kita menyebut tahun baru karena hanya kalender dan waktu berganti sesuai konsep dan kesepakatan kita soal waktu. Dan, dalam sebuah sajak Chairil Anwar menulis; “Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?”. [b]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The post Tahun Baru: Tak Ada Resolusi, Hiduplah Dengan Spontan! appeared first on BaleBengong.

Tahun Baru: Tak Ada Resolusi, Hiduplah Dengan Spontan!

Bulan Desember sebentar lagi berlalu dan tahun baru segera tiba.

Di sebuah grup WA seorang kerabat mengirim tulisan tentang resolusinya di tahun 2018 dan menanyakan kepada anggota grup lain apa resolusi mereka di tahun yang baru. Saya tak membalas percakapan itu.

Sudah lama saya tak menyambut tahun baru dengan membuat resolusi. Yang saya lakukan paling banter berdoa di penghujung tahun, doa yang berisikan ungkapan terima kasih dan tak minta ini-itu. Saya tak mau menjadi pengemis dan berdagang dengan Tuhan. Saya percaya bahwa hidup penuh dengan misteri, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan jadi saya membiarkan hidup berjalan sebagaimana mestinya tanpa dibebani dengan berbagai harapan dan permintaan.

Membuat resolusi sepertinya telah menjadi kebiasaan banyak orang, terlebih lagi di era media sosial seperti sekarang segala hal baru bisa ditiru orang dengan cepat tanpa tahu makna dan esensinya, hanya ikut-ikutan saja. Tahun Baru membawa harapan baru bagi orang-orang tersebut; mendapat jodoh, kenaikan pangkat, pernikahan, mobil dan rumah baru dan lain sebagainya.

Bagi saya berharap oleh saja, namun harapan tanpa aksi adalah percuma. Kita hanya mengulang kebiasaan dari tahun ke tahun dan lupa bahwa hidup mesti diwarnai dengan tindakan nyata dan tak hanya sekadar bermimpi dan berharap.

Menulis tentang resolusi saya teringat Osho (1931-1990), mistik yang saya kagumi. Suatu hari ia pernah ditanya oleh seorang muridnya: “Jika seseorang ingin membuat resolusi, apa yang akan Anda sarankan?” Osho berkata: “Ini dan hanya ini yang bisa menjadi resolusi Tahun Baru: Saya memutuskan untuk tidak membuat resolusi karena semua resolusi adalah pembatasan untuk masa depan. Semua keputusan adalah pemenjaraan. Anda memutuskan hari ini untuk besok. Anda telah menghancurkan hari esok. Biarkan esok memiliki keberadaannya sendiri, biarlah itu datang dengan caranya sendiri! Biarlah ia membawa pemberiannya sendiri.

Resolusi berarti Anda hanya akan mengizinkan ini dan Anda tidak akan mengizin itu. Resolusi berarti Anda ingin matahari terbit di barat dan tidak di timur. Jika matahari terbit di timur, Anda tidak akan membuka jendela Anda; Anda akan menjaga jendela Anda terbuka ke barat.

Apa itu resolusi? Resolusi adalah perjuangan. Resolusi adalah ego. Resolusi mengatakan, “Saya tidak bisa hidup secara spontan.” Dan jika Anda tidak bisa hidup secara spontan, Anda sama sekali tidak hidup – Anda hanya berpura-pura. Jadi hanya ada satu resolusi di sana: saya tidak akan pernah membuat resolusi. Hilangkan semua resolusi! Biarkan hidup menjadi spontanitas alami.”

Saya sependapat dengan Osho. Hilangkan semua resolusi dan biarkan hidup menjadi spontanitas alami; hidup dari waktu ke waktu. Itu akan menjadikan hidup lebih indah. Resolusi ibarat sebuah penjara; kita mesti siap-siap kecewa jika harapan kita tak terpenuhi. Kita kemudian menyalahkan Tuhan karena tak mengabulkan keinginan dan harapan kita. Persis seperti anak kecil, ngambek jika tak dibelikan mainan atau permen.

Biarlah masa depan datang dengan berbagai paradoks dan misterinya. Toh juga sebenarnya tak ada yang namanya tahun “baru”. Kita menyebut tahun baru karena hanya kalender dan waktu berganti sesuai konsep dan kesepakatan kita soal waktu. Dan, dalam sebuah sajak Chairil Anwar menulis; “Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?”. [b]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The post Tahun Baru: Tak Ada Resolusi, Hiduplah Dengan Spontan! appeared first on BaleBengong.