Tag Archives: Budaya

“Memanen Hujan” sebelum Ditelan Pesta Kembang Api

Kalender tahun 2018 telah memasuki lembar terakhir.

Namun, tidak banyak hujan yang turun tahun ini. Buku SD zaman dahulu yang mengatakan bahwa musim penghujan akan hadir ketika memasuki bulan yang berakiran “er” mungkin sudah tidak relevan.

Hujan baru mulai turun saat memasuki November. Itupun hanya beberapa hari sekali hadir kemudian hilang.

Hujan yang turun pun memicu beragam reaksi. Mulai dari mengisi jok motor dengan mantel yang kemudian siap dikenakan ketika hujan turun, menepi untuk menghindarinya, mengambil payung kemudian menggunakan kesempatan ketika hujan untuk membuang sampah di selokan.

Terjebak kemacetan akibat air hujan menggenangi jalan raya atau bahkan bangun dini hari untuk menyelamatkan barang-barang dari genangan hujan yang masuk bertamu ke dalam rumah.

Setidaknya itu merupakan sekelumit cerita kasar ketika hujan turun di area perkotaan. Ketika hujan menjadi momok yang bisa mengacaukan segala rencana yang disusun rapi.

Hal berbeda terjadi di belahan timur Bali. Mereka menunggu hujan turun. Ketika di Tulamben, Kubu, Karangasem sebagai sebuah desa tujuan turis memiliki air bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjamu turis, di salah satu dusun yang jaraknya hanya sekitar 8 km warga harus bersabar.

Menandai purnama untuk bisa mengumpulkan air hujan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka akan air. Ketika lumbung-lumbung air mereka kosong, maka bergantung pada air tangkian menjadi jalan keluar untuk tetap bisa bertahan.

Masuk lebih ke dalam ke sisi utara kaki Gunung Agung, situasi warga yang menunggu hujan turun juga terjadi. Lumbung air hujan seolah menjadi hal wajib dimiliki untuk mengurangi biaya membeli air bersih.

Cerita-cerita dari bagian timur Bali tentang warga menunggu hujan yang tidak datang seperti biasanya, apa yang mereka gunakan untuk menandai kapan hujan akan turun, hubungan hujan dengan profesi mereka dan bagaimana mereka bertahan dengan tetap menggantungkan kebutuhan airnya dari hujan secara turun-temurun.

Kesulitan Akses

Narasi sebuah perjalanan dan berhasil terkumpul, dirajut dengan terburu-buru dan ala kadarnya oleh I Ni timpal kopi dalam sebuah video dan kumpulan tulisan berjudul “Memanen Hujan”.

Di tengah pesatnya kemajuan industri pariwisata yang mengonsumsi air bersih (air sungai dan atau air tanah) ternyata di beberapa wilayah di Bali masih kesulitan untuk mendapatkan akses akan ketersediaan air untuk kebutuhan hidup mereka.

Lalu seberapa layakkah air hujan dikonsumsi ketika definisi air bersih layak minum membuat ada istilah air mentah dan air matang? Serangkaian pertanyaan yang kemudian membuat I Ni timpal kopi bersama Taman Baca Kesiman (TBK) dan Teater Kalangan membuat sebuah acara kecil akhir tahun bertajuk “Memanen Hujan”.

Narasi kecil warga tentang hujan yang berhasil dirajut (I Ni Timpal Kopi) coba untuk dibicarakan dalam sebuah ruang dialog (Taman Baca Kesiman) dan kemudian bagaimana hujan diterjemahkan dalam pertunjukan (Teater Kalangan).

Acara “Memanen Hujan” akan berlangsung pada 22 Desember 2018, di Taman Baca Kesiman jalan Sedap Malam 234, Kesiman, Denpasar. Acara yang bertepatan dengan Hari Ibu akan dibuka pukul 16.00 WITA dengan kegiatan mendongeng oleh Daivi C.

Pukul 18.00 acara akan dilanjutkan dengan pemutaran video berjudul “Memanen Hujan”, dilanjutkan dengan obrolan tentang “hujan, air dan ceritanya” bersama Arya “Boby” Ganaris (aktivis lingkungan dan Direktur Manikaya Kauci), Roberto Hutabarat (antropolog dan penggiat pertanian) dan Petra Schneider (eco development) yang dipandu Adi Apriayantha.

Setelah obrolan santai acara akan dilanjutkan dengan pementasan Teater Kalangan berjudul TU.BUHU.Jan. pada pukul 20.30 WITA.
Acara “memanen hujan” akan ditutup dengan penampilan akustik dari; Rimbahera, Ayik&Iam, Soul and Kith serta music selector Lokasvara.

Selain itu akan nada rilisan zine dari I Ni timpal kopi edisi 36 yang merangkum narasi dalam bentuk kumpulan tulisan dan bisa dibawa pulang.

“Memanen Hujan” mencoba merayakan musim hujan yang tidak lagi bisa diduga dan membuka segala obrolan yang mungkin bisa dibangun dari Hujan yang turun. Jadi, mari bergabung berbagi kisah sebelum gelegar kebisingan kembang api dan pesta akhir tahun menelan semua suara kecil.

Informasi serta rincian lebih lanjut mengenai kelangsungan acara, bisa menghubungi I Ni timpal kopi instagram @initimpalkopi. [b]

The post “Memanen Hujan” sebelum Ditelan Pesta Kembang Api appeared first on BaleBengong.

Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping

Ini cerita-cerita kecil dari perupa-perupa Futuwonder.

Perupa dan pembuka pameran, ada yang membawa keluarganya ke pameran Futuwonder: Efek Samping. Ini jarang terjadi di suatu pembukaan pameran di Bali, karena perupanya jarang ajak keluarga atau tidak mau keluarganya datang.

Mereka memperlihatkan dan menyatakan dukungan pada anaknya, istri, maupun pasangannya, kalau ini adalah sebuah perayaan lahirnya anakmu.

Hiruk pikuk dunia seakan terhenti ketika ada dua perupa perempuan bertukar identitas menumbuk bawang di dalam Karja Art Space, Ubud pada tanggal 20 Oktober 2018 sore.

Performance art Andita Purnama berkolaborasi dengan Citra Sasmita hanyalah salah satu karya dari 24 karya yang disuguhkan untuk Pameran Efek Samping, bagian dari Proyek Masa Subur yang digagas Futuwonder.

Futuwonder, kolektif yang terdiri dari empat perempuan pekerja seni – manajer seni Ruth Onduko, perempuan perupa Citra Sasmita, pekerja desain lepas Putu Sridiniari, dan penulis serta kurator independen Savitri Sastrawan. Awal mula terbentuknya Futuwonder adalah karena impian keempat perempuan pekerja seni tersebut ingin mewadahi hal-hal di kesenian yang masih kurang dilihat dan termasuk perempuan di kesenian.

Masa Subur menjadi salah satu proyek yang dibuat oleh Futuwonder yang bertujuan mewadahi terjadinya suatu pameran. Kali ini, dengan tema Efek Samping, Futuwonder ingin membentuk sebuah pameran yang lintas disiplin dan menjawab pertanyaan, “Benarkah perempuan perupa terbatasi atau dibatasi dalam berkarya dan berkesenian?” dengan fokus di Indonesia.

Dari tulisan kuratorial yang telah ditulis, Futuwonder menemukan bahwa sebenarnya kalau dilhat balik sejarah besar dan kecil seni rupa Indonesia, perempuan perupa atau perempuan pekerja seni, selama ini dibatasi berkeseniannya.

Dengan itu, pembukaan Pameran Efek Samping yang didatangi sebagian besar perupa yang ikut dan dibuka oleh perempuan pekerja seni Bali ternama juga, secara tidak langsung menjadi sebuah perayaan bersama kalau perempuan pekerja seni itu mampu melakukan sesuatu juga. Segala dinding dan terjal yang menghalang itu hilang seketika.

Pembuka pameran, Sinta Tantra, perempuan perupa Inggris keturunan Bali, menyatakan bahwa seni mungkin tidak memberikan kami jawaban. Tetapi terus mempertanyakan dan dengan seni kita dapat berbagi tentang harapan, impian, cinta dan ketakutan. Dengan percakapan kita dapat membuat komunitas dan dengan komunitas kita dapat beraksi dan membuat perubahan.

Sedangkan pembuka pameran berikutnya, Ayu Laksmi, perempuan pekerja seni yang dikenal sebagai penyanyi dan pemeran seorang ibu di beberapa film Indonesia. Ia menyatakan bahwa semua perupa yang hadir untuk pembukaan pameran ini telah melalui penderitaan, dan karya-karya yang dibuat adalah seperti melahirkan anak, yang sudah sepatutnya diempu. Masa Subur, Efek Samping menjadi tema yang sangat kuat dan ia salut dengan kerja keras Futuwonder mewujudkannya menjadi nyata. Kedua pembuka merasa bahwa keseriusan, dukungan dan kegiatan seperti ini harus terus dilanjutkan.

Ada cerita Patricia Paramitha, lulusan Arsitektur itu akhirnya memutuskan untuk menekuni melukis dan menggambar. Ibunya menceritakan bahwa ia sangat mendukung penuh. Ibu dan adik-adiknya turut ikut ke Ubud menemaninya.

Patricia sangat senang ketika lolos Open Call Futuwonder, dan ternyata ada cerita lain di balik itu. Dilansir di akun Instagram milik Patricia, ketika ia datang ke Ubud saat kuliah arsitektur dan jatuh cinta. Jika dapat kesempatan ke Bali lagi, ia akan berkunjung ke Ubud. Saat ia masih bekerja sebagai arsitek, seorang teman menekankan ia harus bisa ikut pameran seni sesekali.

Pengalamannya dapat mengikuti Pameran Efek Samping dan di Bali, mencentang wishlist (impian) Patricia untuk jalan-jalan ke Bali bersama keluarganya. Mengikuti pameran, serta menjadi sangat spesial karena pameran itu di Ubud.

Ada cerita Siti Nur Qomariah, yang akrab dipanggil Ibu Kokom, partisipan paling senior yang lolos Open Call Futuwonder, yang datang ke pembukaan pameran bersama suaminya menggunakan sepeda motor dari Solo, Jawa Tengah. Suaminya, Pak Santo lah yang membantunya mendaftarkan diri untuk ikut Open Call.

Ibu Siti sempat vakum dari berkarya selama 20 tahun karena hal pribadi dengan Pak Santo. Ia sangat didukung untuk berkarya dan aktif berpameran lagi. Cerita itu sangat menyentuh dan bukti nyata bahwa perempuan pekerja seni itu mampu melakukan apa yang dilakukan serta tidak seharusnya dibatasi.

Ada cerita Khairani L. Imania, panggilannya Hanny, yang sendirian ke Bali. Ini pertama kali ia travel lagi sejak melahirkan anaknya, kini sudah balita. Hanny dosen Tipografi di Malang, mendokumentasikan perjalannya melalui tulisan-tulisan uniknya. Ia bahkan meninggalkan sebuah postcard dengan kata-kata “Thank you Bali” untuk dibagikan secara cuma-cuma selama pameran berlangsung.

Karyanya sukses mengubah kata Empower ke Women, terinspirasi dari M.C. Escher, seniman Belanda yang bermain pola-pola tak biasa di karyanya. Ia memposisikan dirinya sebagai perempuan perupa yang dapat melakukan metode tersebut. Tipografi dan kata-kata adalah elemen-elemen yang bisa digunakan untuk suatu pernyataan (statement). Keunikan Hanny mengeksplorasi itu sangat menarik.

Berbicara tentang Bahasa, menjadi bahasan yang menarik setelah pembukaan pameran, saat beberapa perempuan perupa berkumpul dan berbagi tentang Pameran Efek Samping. Ika Vantiani dan Salima Hakim, yang karyanya penuh dengan pembahasan bahasa, menarik perhatian perupa lainnya.

Kata “perempuan” di Kamus Besar Bahasa Indonesia diperlakukan tidak bijak dan kata “homo” (yang artinya laki-laki [man]) pada setiap spesies manusia sebelumnya, menjadi pertanyaan eksistensi perempuan dari ribuan tahun. Membicarakan suatu kata di bahasa melalui kesenian menjadi metode menarik ditelusuri dan diperbincangkan.

Di kesenian, bahasa sangat berhubungan dan kesenian dapat menjembatani bahasa-bahasa sensitif ini untuk dibawa ke permukaan. Ada bahasan juga perupa lebih baik dari historiografer, karena penggalian paling sensitif pun dapat disampaikan. Elemen-elemen memori itu bisa utuh dipersembahkan.

Ini sempat dibahas oleh Elvira Dyangani Ose pada katalog Gothenburg Biennale yang ia kurasi berjudul A Story Within A Story, Within A Story, Within A Story… (2015). Perupa memiliki perspektif yang non-konvensional dan daya ingatan berbeda termasuk narasi-narasi yang terpinggirkan.

Ada juga pernyataan bahwa kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kegiatan seperti Pameran Efek Samping dirasakan sangat sukses sebagai pameran yang menyuguhkan beragam media serta pesannya. Setiap perupa memiliki cara yang tidak sama merespon atau mengkreasikan karya membicarakan Efek Samping.

Setelah melihat keseluruhan karya secara langsung, sebelumnya hanya dengan per foto yang dikirim peserta, dan membaca lagi latar belakang serta bertemu langsung dengan perupa-perupanya, terlihat bahwa karya-karya Pameran Efek Samping ini tidak hadir karena visual dan konsep yang kuat saja. Latar belakang serta pengetahuan masing-masing perupa merepresentasikan tema Efek Samping.

Pameran ini menjadi pameran yang beda feel-nya, karena penyelenggara adalah perempuan dan partisipan adalah perempuan. Ada pengunjung yang merasakan sensitifitas perempuan itu. Energi yang diekspresikan seorang perempuan memang dinyatakan beda, seperti yang dilansir buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens (2007) oleh Farah Wardani, Wulan Dirgantoro, dan Carla Bianpoen.

Beberapa hal sensitif yang tidak bisa dihadirkan oleh perupa laki-laki tetapi bisa disampaikan oleh perempuan perupa.

Itu pula yang dilansir oleh Saras Dewi dan Sinta Tantra, selaku narasumber Diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” yang diadakan Futuwonder. Sinta menyatakan bahwa energi seorang perempuan itu selalu suatu yang positif karena ada rasa mengayomi dan mengempu, rasa ini dapat ditemukan melalui karya-karya maupun aktifitas yang dilakukannya.

Saras Dewi berbagi bagaimana perempuan perupa dapat mengangkat hal-hal yang cukup sensitif dan menghadirkan lewat sebuah karya dengan berbagai bentuknya. Kedua narasumber ini merasakan bahwa hal-hal ini hadir dalam Pameran Efek Samping.

Elemen-elemen kecil ini, cerita-cerita kecil ini, memperkaya kehadiran Pameran Efek Samping di Karja Art Space, Ubud. Galeri yang letaknya jauh dari kebisingan kota Ubud, menjadi bagian Ubud yang jarang dilalui orang-orang Indonesia, banyak yang kaget bagaimana tempat ini nyempil disini.

Karya-karya 25 perempuan pekerja seni yang terpajang di dalamnya tidak saja menjawab pertanyaan adanya Efek Samping itu tetapi juga mempertanyakan lagi apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
Pembahasan perempuan dan kesenian sepertinya tidak berhenti pada kekaryaan saja, tetapi masih banyak lagi. Suatu sisterhood – tali persaudaraan – akhirnya terbentuk dari acara ini dan itu sesuatu yang tidak dilupakan para perempuan perupa yang ikut, juga untuk Futuwonder sendiri. [b]

The post Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping appeared first on BaleBengong.

Saatnya Perempuan Menjadi Tuan akan Tubuhnya Sendiri


Siang hari itu lahirlah percakapan yang membuat saya pilu.

Percakapan ini terjadi lantaran seorang pria tampan masuk ke lift di kampus tempat saya menimba ilmu. Setelah satu lantai berlalu, pria tersebut keluar. Kemudian terjadilah percakapan ini.

Bayangkanlah sebuah lift, dengan keempat sisi terbuat dari kaca, di dalamnya ada saya dan tiga perempuan lain yang tidak saya kenali. Mari kita sebut ketiga perempuan ini dengan perempuan 1, perempuan 2 dan perempuan 3.

“Ya ampun. Ganteng sekali mas itu,” kata perempuan 1.

Perempuan 2 menimpali. “Pasti sudah punya pacar yang cantik.”

“Belum tentu juga, sih,” jawab perempuan 3.

“Kapan ya aku punya pacar kayak begitu?” tanya perempuan 1.

“Jangan bermimpi. Kita enggak cantik jadi gak mungkin dilirik sama mas yang tampan begitu,” perempuan 3 merespon.

“Kalau aku mah, ada yang mau aja udah alhamdulilah banget,” perempuan 2 menyahut.

Mungkin Anda, saya, atau kita sering mendengarkan percakapan seperti itu di toilet umum, pusat perbelanjaan, sekolah menengah atas atau mungkin di dalam rumah kita sendiri.

Percakapan ini membuat miris, ironis dan suram. Sebuah gambaran tentang bagaimana para perempuan muda ini hidup dan tumbuh tanpa melihat diri mereka sebagai ciptaan yang menarik dan sudah seharusnya patut bersyukur jika ada pria yang menyukai mereka.

Terus Berbeda

Saya percaya menjadi perempuan di era milenial ini memang tidak mudah. Kita berhadapan dengan begitu banyak definisi cantik dan menarik.

Tapi apakah cantik itu?

Menurut sumber yang saya baca, manusia sudah bergumul dengan definisi cantik sejak berabad-abad lalu, definisi cantik di setiap era pun berbeda. Pada peradaban Mesir kuno definisi cantik adalah perempuan dengan pinggang yang tinggi, bahu yang sempit dan tubuh yang ramping.

Kemudian, pada era peradaban Yunani kuno, penggambaran wanita cantik adalah wanita yang bertubuh penuh dan berkulit terang. Sedangkan pada era Dinasti Han wanita cantik adalah wanita yang berpinggang kecil, bermata besar, dan berkulit pucat dengan kaki yang kecil.

Pada era kejayaan Romawi kriteria cantik berubah menjadi perempuan berdada penuh, berpinggang penuh dengan kulit cerah. Pada era Victorian definisi cantik sangat dipengaruhi oleh Ratu Victoria. Perempuan bertubuh agak penuh dengan dada tumpah akibat korset super ketat adalah pengertian perempuan cantik.

Pada era 1920an, perempuan berdandan agak tomboi, dengan dada rata dan memotong rombot mereka pendek yang disebut gaya rambut bob menjadi tren bagi kalangan perempuan.

Namun, tren tomboy itu tidak berlangsung lama. Pada era keemasan Hollywood maka kecantikan merujuk pada sosok Marilyn Monroe yakni perempuan berdada montok namun berpinggang kecil dengan bibir penuh dianggap sebagai perempuan impian.

Memasuki trend 1960an, yang dikenal sebagai era Swinging London perempuan menarik adalah perempuan yang ramping dengan kaki kecil dan panjang. Lalu memasuki era 1990an, era di mana Kate Moss dijadikan ikon kecantikan. Sehingga, lahirlah anggapan bahwa wanita cantik adalah wanita yang tampak homeless, kurus, tinggi dengan tulang pipi yang unik.

Di era postmodern ini, definisi cantik sudah berbeda lagi. Perempuan cantik adalah perempuan berkulit cerah, berdada besar dengan bokong tinggi plus perut super rata sebagai tanda bahwa perempuan tersebut hidup sehat.

Sulit Diukur

Yang menarik adalah bagaimana definisi cantik ini lebih merupakan konsensus komunitas, sebuah penilaian abstrak yang entah disadari atau tidak telah berakar dan diyakini oleh semua orang dan dijadikan standar kualitas perempuan. Definisi cantik sungguh berbeda dari satu kebudayan ke kebudayaan lainnya.

Di sinilah bagaimana cantik itu dianggap sebagai konsensus dan bagaimana definisi tsb mempengaruhi kepercayaan diri perempuan. Hasilnya adalah definisi cantik menurut masyarakat memainkan peranan sangat vital pada hubungan perempuan dan kepercayaan diri mereka.

Seperti yang kita ketahui, definisi kita akan tubuh kita adalah refleksi dari keadaan mental, sosial, fisik, psikologis dan biologis hingga sejarah. Kita tidak serta merta langsung merasa bahwa kita bukan orang cantik tanpa landasan-landasan pengalaman dan masuknya nilai-nilai tsb dalam sejarah kehidupan kita.

Konsep definisi cantik secara umum terdiri dari dua yakni kecantikan eksternal dan kecantikan internal. Kecantikan eksternal sangat terkait erat dengan penampilan fisik sedangkan kecantikan dari dalam adalah sesuatu yang erat kaitannya dengan kepercayaan diri, serta kemampuan berempati dan membawakan diri.

Kecantikan internal ini sungguh sulit diukur.

Yang ingin saya coba jelaskan adalah bagaimana kita secara tidak sadar sudah dibebani oleh sesuatu yang abstrak dan didestruksi oleh konsep tersebut.

Simone Beauvoir dalam bukunya “The Second Sex” mengajukan sebuah pertanyaan esensial, “What is a woman?”

Beauvoir mengklaim bahwa wanita tak lain adalah apapun yang diputuskan oleh lelaki. Dengan kata lain, kecantikan, tubuh dan penampilan kita akan kita sesuaikan dengan definisi cantik sesuai apa yang para pria imajinasikan. Akibatnya, makna kita sebagai perempuan sudah barang tentu tereduksi.

Apakah ini tidak menyedihkan? Untuk saya ini sungguh kemunduran akal sehat dan nurani.

Komoditas Media

Definisi yang begitu tergantung akan imajinasi masyarakat khususnya kaum pria ini semakin dibebani lagi oleh kebutuhan komoditas media. Ada begitu banyak merek yang menggunakan definisi ini untuk mengeruk keuntungan. Media menjadi salah satu alat terbaik menyebarluaskan paham cantik ini serta mengambil keuntungan darinya.

Perempuan di era internet ini menjadi terobsesi dengan membentuk tubuh, mulai dari alis, mata, hidung, perut hingga kaki sesuai dengan para model yang ada di televisi atau sekumpulan perempuan populer di media sosial seperti instagram.

Apakah itu salah? Apakah berolahraga dan berdandan adalah hal salah?

Tentu tidak. Saya tidak menyebutkan ini adalah salah, melainkan motivasi dan obsesi kita yang perlu dikaji. Apakah kita berdandan dan berolahraga untuk menjadi cantik seperti yang mereka inginkan? Dan jika kita melakukannya untuk mereka maka apakah kita telah menjadi tuan atas tubuh kita?

Dan bagaimana jika kita gagal menjadi salah satu perempuan dalam definisi cantik itu? Maka tak heran akan ada perempuan-perempuan yang mengeluarkan dialog-dialog seperti yang saya temui di lift tersebut.

Sungguh menyedihkan, keunikan setiap manusia digeneralisasi oleh sebuah definisi.

Refleksi kepercayaan diri yang terdekstruksi ini membawa perempuan kepada sikap submisif. Yang lebih membahayakan dari semuanya adalah kehilangan daya kekuatan dan menggantungkan kepercayaan diri hanya pada validasi dari kaum pria. Ini sungguh celaka.

Sungguh sulit membayangkan bahwa setiap keunikan perempuan yang mampu membawanya menjadi pribadi unik harus tenggelam oleh selaput-selaput pengertian dan nilai-nilai abstrak yang lahir dari imajinasi pria.

Ciptaan Unik

Dan apakah kita akan menjadi perempuan cantik setelah kita membebaskan diri kita dari definisi itu? Definisi cantik adalah sebuah konsensus abstrak yang secara bersamaan dianggap benar oleh sebagian besar populasi, dan membebaskan diri dari definisi tsb adalah sebuah keberanian untuk menjadi tuan akan tubuh, akan pilihan dan sikap dalam menentukan kepemilikan hidup kita sendiri sebagai seorang perempuan.

Saya tidak bisa membayangkan bahwa saya hanya mengucap syukur kegirangan di depan kaca ketika seorang pria menyebutkan saya cantik. Perempuan adalah cantik, untuk setiap kekurangan kita. Dan untuk menampilkan sisi menarik dari kita, yang dibutuhkan adalah kematangan mental, pembebasan dari kebiasaan membandingkan diri dari perempuan lain yang kita anggap lebih menarik dan pastinya kita harus memiliki kemerdekaan untuk memilih pria macam apa yang boleh berdiri di samping kita bukan dengan pasrah tanpa daya menerima siapapun yang datang.

Kecantikan bukan hanya fisik. Bukan hanya mulusnya kulit. Bukan hanya perut yang rata sehabis pilates atau bola mata yang besar dan bulat.

Kecantikan juga lahir terpancar dari bagaimana kita tersenyum setiap hari karena menyadari bahwa baik saya, Anda dan kita semua adalah ciptaan yang unik. Memancarkan kematangan emosi dan kemampuan berempati pada manusia lain, dan menghargai tubuh kita tanpa validasi dari kaum lawan jenis akan membuat anda menghargai tubuh dan eksistensi Anda dan percayalah itulah yang dunia butuhkan dari Anda dan itulah yang akan memancarkan keunikan Anda.

Saya selalu berbisik dalam hati. Semoga setiap perempuan hari ini tidak selalu hidup dengan validasi keberadaannya dari pria yang ada di sekitarnya. Semoga ya semoga. [b]

The post Saatnya Perempuan Menjadi Tuan akan Tubuhnya Sendiri appeared first on BaleBengong.

Selepas Live Dubbing, Terbitlah “Anak-anak Kangen”

(Beberapa pemeran saat live dubbing berlangsung. Foto Vifick Bolang)

Sore itu matahari yang sudah condong ke barat menyilaukan mata saya.

Di salah satu sudut Veranda Café, saya dan dua orang teman mengobrol sembari menunggu kedatangan rombongan Sanggar Anak Tangguh. Kami yang kompak mengenakan dress code merah akhirnya duduk membelakangi matahari karena sudah tidak kuat menahan silau.

Tepat saat saya menyantap potongan garlic bread terakhir, sebuah bis berwarna putih dengan ukuran besar, berhenti di depan kafé. Bis itulah yang mengantarkan Anak Tangguh dari Guwang, Sukawati menuju Denpasar.

Satu per satu mereka turun. Seketika suasana jadi ramai karena mereka tak sendiri. Para orang tua juga mendampingi. Bahkan guru sekolahnya pun tak ketinggalan memboyong istri dan anaknya yang masih balita untuk ikut menyaksikan pertunjukan live dubbing film Be the Reds besutan sutradara asal Korea, Kim Yoongi, dalam acara pembukaan Minikino Film Week 4, 6 Oktober lalu.

“Di sini ya tempat pentasnya?”

“Wiiih, di sini ya? Di sini ya?”

“Di mana yang lain?”

Begitu pertanyaan yang meluncur ketika mereka menghampiri kami di dalam kafé. Melihat raut yang sangat antusias itu, kami langsung mengarahkan agar mereka menuju venue acara di Danes Art Veranda.

Para panitia yang tersebar di sekeliling terlihat sibuk memastikan apakah semua sudah siap atau belum. Malam itu kami duduk di deretan bangku depan. Mengikuti arahan dari Jong, kami mengambil posisi masing-masing. Sesekali mereka bertanya juga.

“Jam berapa kita tampil?”

“Masih lama ya?”

“Kita tampil setelah acara apa?”

Rupanya mereka sudah tidak sabar.

(Pemeran live dubbing berpose bersama sutradara Kim Yoongi sebelum pertunjukan dimulai. Foto @krisnamahay)

MFW4 sendiri telah diawali dengan beberapa pre-event, seperti Youth Jury Camp 2018, yang mengundang remaja berusia 13-17 tahun dari berbagai kota di Indonesia untuk menjalani pelatihan intensif selama 3 hari. Mereka terpilih untuk menonton dan menilai program-program internasional kategori anak dan remaja, lalu menentukan nominasi sebagai peraih penghargaan International Youth Jury Award 2018.

Selain itu ada pula Begadang Filmmaking Competition 2018 juga kembali diadakan. Kompetisi berskala nasional ini menantang peserta memproduksi sebuah film pendek dalam waktu hanya 34 jam.

Pada malam pembukaan, MFW4 juga memutarkan beberapa film yang mewakili masing-masing program di dalamnya. Beberapa filmmaker juga tampak hadir malam itu. Termasuk Kim Yoongi, sutradara film Be the Reds yang ditemani produsernya.

Layar lebar kembali padam. Beberapa film pendek yang mengantarkan pada acara puncak, telah usai. Itu tandanya giliran kami tiba. Kami kembali memastikan semua perlengkapan sudah siap tanpa ada yang kurang. Sambil memastikan pula anak-anak mengingat dialog masing-masing. Beberapa kali saya dan teman-teman membisikkan kata-kata penyemangat untuk mereka. Rasanya seperti akan menghadapi sidang. Nervous.

Bersama Teater Kalangan, proses ini dilakukan kira-kira satu atau hampir dua bulan. Devy Gita sebagai Pimpinan Produksi, menjadi jembatan koordinasi antara Minikino dan Kalangan. Sementara saya, Jong, dan Desi, fokus untuk melatih anak-anak yang terlibat. Aguk dan Tress akan fokus di properti dan tambahan lainnya. Begitu rencananya.

Namun, dalam perjalanannnya, ternyata tidak semudah di bayangan. Jadwal kakak-kakak ini ternyata cukup padat, sehingga harus menambah personel agar bias saling menopang. Muncullah Dedek, Bebe, dan Jacko yang membantu menjadi mentor (meskipun kata ini terdengar agak kejam, tapi dipakai saja) bagi Anak Tangguh.

Tidak dipungkiri pula, bagi saya pribadi ini adalah sebuah tantangan. Selain harus menyocokkan jadwal, tentu juga karena menghadapi anak-anak, benar-benar perlu pendekatan khusus. Saya sempat hampir putus asa ketika beberapa kali jadwal latihan, tetapi mereka sama sekali tidak datang. Atau ketika kami terlambat beberapa menit karena macet, mereka sudah membubarkan diri tak mau menunggu. Bahkan ketika harusnya latihan dengan serius, mereka masih asyik bermain dan ribut.

Ah, rasanya ingin menghilang seketika. Apalagi saat itu mengetahui bahwa sang sutradara dan produser film akan hadir di MFW4. Rasanya semakin tidak karuan.

Melihat tim yang tidak menyerah, berusaha menyesuaikan dengan situasi dan menyadari bahwa mereka masih anak-anak pun, membuat saya memaklumi sikap dan keinginan mereka untuk bermain. Jadi, memang kakaknyalah yang harus mengalah dan menurunkan egonya untuk selalu dituruti. Bias jadi pula saat itu saya yang tidak menikmati momen, sehingga muncul perasaan berlebihan. Akhirnya setelah damai dengan diri sendiri, saya tidak jadi putus asa dan menyesuaikan kembali agar menemukan ritme.

Tapi syukurnya, anak-anak ini luar biasa. Mereka mampu membawa suasana di dalam film menjadi hidup dengan dubbing mereka. Usia antara mereka dengan tokoh yang ada di film itu kami perkirakan sepantaran, apalagi masing-masingnya memiliki karakteristik khas yang dibawa pula ke dunia live dubbing itu.

Dengan menggunakan bahasa Bali dan Indonesia, cerita ini menjadi sangat dekat dengan audiens (terutama yang memakai atau mengerti kedua bahasa tersebut), sebab celetukan-celetukan khas Bali dan Guwang pun termasuk di dalamnya. Jadi benar-benar terasa seperti sedang melihat sekelompok anak banjar sedang bermain di lapangan bola.

Terlepas dari itu, film Be the Reds sendiri memang film yang menarik. Tak hanya memperlihatkan bahwa pertandingan sepak bola adalah sebuah momen perayaan dan keriangan, tetapi juga nilai-nilai dalam keluarga yang diselipkan dengan halus.

“Saya sangat bahagia. Saya tidak menyangka akan ada yang merespon filmnya dalam format live dubbing seperti itu,” jelas Kim Yoongi dalam bahasa Inggris yang terbata-bata.

Selepas 26 menit pertunjukan itu, saya benar-benar merasa bersyukur dan banyak belajar. Bersyukur telah menjadi bagian dari proses yang membutuhkan perjuangan, belajar untuk tidak memaksakan sesuatu, dan dari proses ini juga saya kembali diingatkan bahwa untuk bekerjasama dengan siapa pun, proses saling mengenal itu sangat penting. Jangan sampai terkalahkan oleh ego masing-masing.

Beberapa waktu selepas pertunjukan, tiba-tiba muncul sebuah grup WhatsApp bernama “Anak-Anak Kangen”, yang ternyata dibuat oleh Pagar, salah satu pemeran live dubbing. Anggotanya adalah seluruh pemeran dan para mentor. Ternyata ada janji yang saat itu belum kami tepati: membagikan es krim pada mereka. Janji ini muncul semasa latihan, sebagai “sogokan” agar prosesnya bisa lebih lancar.

(Keceriaan saat janji es krim ditepati. Foto arsip Anak-Anak Kangen)

Akhirnya janji ini ditepati 13 November 2018 di Kulidan Kitchen & Space yang kembali menjadi titik temu. Meski tidak bisa hadir dengan lengkap, kami harap bisa mengobati kangen mereka.

Sampai jumpa lagi ya, Dik.. [b]

The post Selepas Live Dubbing, Terbitlah “Anak-anak Kangen” appeared first on BaleBengong.

Bulung Buni dan Lawar Gedang di Lidah Pengisah Kuliner

Misshotrodqueen merekam kuliner Jembrana. Apa kejutan dari kabupaten Bali Barat ini?

Oleh Wendra Wijaya

Dunia kuliner selalu menghadirkan pengalaman menarik. Apalagi, Indonesia kaya akan sumber makanan yang bisa diolah menjadi apa saja. Kekayaan kuliner Indonesia, dengan berbagai rasa dan keunikannya menunjukkan betapa dunia kuliner adalah dunia yang begitu luas, imaji rasa yang tak terbatas.

Membincang kuliner Indonesia, tentu tak bisa lepas dari sosok Ade Putri Paramadita. Lahir dan besar di keluarga pecinta makanan, pemilik Kedai Aput ini juga tercatat sebagai host web serial Akarasa di VICE Indonesia serta pembawa acara di radio dan web serial YouTube FoodieS berjudul 6×6.

Sepanjang pengalamannya sebagai “pencerita kuliner”, Ade Putri banyak menjumpai keunikan. Berkali-kali ia menyempatkan diri mengunjungi pasar-pasar tradisional wilayah yang dikunjunginya, berburu panganan dengan cita rasa “asing” yang nantinya akan dikisahkannya kembali.

“Yang paling berkesan justru ketika saya mencicipi bulung buni kuah pindang di Bali. Bayangkan, sudah aromanya menyengat, warna kuahnya tak menarik dan nyaris tak terdefinisikan, tapi justru memiliki cita rasa yang unik. Dan kalau kita sadari, sesungguhnya bulung buni itu sangat mahal di Eropa. Nah, di sini saya malah menemukannya di warung kecil tanpa nama,” kisahya, saat menjadi narasumber Jah Megesah Vol. 02: Commercial Photography – The Magic of Storytelling, Sabtu (17/11) di Mendopo Ksari, Negara, Jembrana.

Di Jembrana, juri Aqua Reflection’s Jakarta’s Best Eats 2018 dan Iron Chef Indonesia ini juga menyempatkan diri blusukan di pasar dan beberapa kedai makanan seputaran kota. Salah satu tempat yang sempat dikunjungi food stylist ini adalah pedagang Lawar Gedang (lawar papaya) di Pasar Dauh Waru. Dalam akun instagram @misshotrodqueen, ia membagikan pengalamannya dengan bahasa yang menyenangkan. “Sebagian pasti ingat dengan julukan lawarwati yang menempel di saya. Kegilaan saya pada lawar memang berlebihan. Tapi gimana dong… Enak sih! Awalnya dulu saya pikir lawar itu hanya terbuat dari nangka. Ternyata macam-macam variasinya… ,” tulisnya, yang ditutup dengan ucapan, “Matur suksma, Mbok. Jaen niki.”

Selain mengunjungi pasar, Ade yang juga merupakan bagian dari Aku Cinta Makanan Indonesia –sebuah gerakan yang mempromosikan pelestarian makanan tradisional Indonesia, tersebut sempat mencicipi Warung Bu Agung (Beten Ketapang), Warung Beten Poh, dan beberapa tempat lainnya. Bahkan ia juga tak segan menghentikan kendaraan ketika menemukan nama makanan yang terdengar asing baginya. Seperti pelasan tawonI, yang dijumpainya di daerah Lelateng, Negara.

Kebiasaan blusukan ini bukan kali pertama dilakukannya. Pernah di sebuah acara di kota yang berbeda, ia meminta panitia mengantarkannya ke pasar tradisional. “Saat itu kami baru tiba dini hari. Ketika saya bertanya siapa yang bersedia menemani saya ke pasar waktu pagi, mereka hanya bengong. Akhirnya saya diberi kunci mobil. Jadilah saya ke pasar sendiri, hahaa… ,” kisahnya.

Kecintaan pada kuliner berimbas pula pada keinginan Ade untuk meningkatkan “derajat” makanan tradisional ke posisi yang lebih terhormat. Salah satunya, dengan upaya penyajian yang lebih kreatif, dengan tetap memertahankan originalitas rasa makanan Indonesia. Pada titik ini, komersialisasi berlaku aktif. Pertambahan nilai suatu makanan tentu memerlukan upaya yang lebih serius dalam penyampaian gagasan. Misal melalui media foto, yang menarik secara angle dan komposisi. Kondisi ini tidak hanya berlaku di dunia kuliner saja, namun dapat pula diaplikaskan pada produk apa pun.

Melalui storytelling, Ade beranggapan metode ini lebih mampu menarik minat calon konsumen pada produk yang dipromosikan. Sebab dengan storytelling, produsen tidak memberikan hard information, namun lebih pada penekanan nilai yang terkandung dalam produk yang dijual.

“Dengan bahasa yang ringan, sesuai gaya bahasa kita dalam keseharian, akan lebih mudah memancing ketertarikan. Ini lebih sebagai upaya menarik minat semata. Jika calon konsumen sudah tertarik, besar kemungkinannya produk kita akan dibeli,” tukas Ade yang sering diminta menyusun menu makanan bagi beberapa restaurant dan hotel di Indonesia.

The post Bulung Buni dan Lawar Gedang di Lidah Pengisah Kuliner appeared first on BaleBengong.