Tag Archives: Budaya

I Made Suatjana, Penemu Font Bali Simbar dan Peramu Kalender Bali

I Made Suatjana saat menerima penghargaan dari Gubernur Bali Februari 2019 lalu.

Insinyur ini menggunakan teknologi untuk melestarikan aksara dan kalender Bali.

Amat menarik menelusuri profil budayawan I Made Suatjana. Dialah pembuat kalender Bali dan font aksara Bali Simbar. Keduanya produk teknologi ini telah menjadi bagian dari “harta nasional” bagi rakyat Bali.

Melalui font aksara Bali Simbar, rakyat Bali dan dunia secara umum dapat menulis aksara Bali secara digital. Di dunia yang kini serba canggih, budaya Bali dapat dikatakan tetap bertahan dan beradaptasi mengikuti medium perkembangan zaman.

Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali pada dewasa ini menjadi perhatian para warga Bali. I Wayan Koster selaku Gubernur menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali. Melalui Perda itu bahasa, aksara, dan sastra Bali sepatutnya dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Kebijakan ini sebagai bentuk perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan potensi bahasa, aksara, dan sastra Bali. Sebagai penegas perda tersebut lahirlah Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 80 Tahun 2018. Pergub ini antara lain mengatur adanya Bulan Bahasa Bali yang akan rutin dilaksanakan pada Februari setiap tahun.

Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali pertama kali diadakan pada Februari tahun ini. Ada seminar, pameran, perlombaan, serta penghargaan kepada masyarakat umum atau warga Bali yang turut berpartisipasi mengajegan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Panerima Anugerah

I Made Suatjana merupakan salah satu penerima Anugerah Bali Kerthi Nugraha Mahotama. Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi dalam mengembangkan aksara Bali dalam bentuk font Bali Simbar.

Patut dicermati, aksara Bali termasuk salah satu dari sedikit aksara di Indonesia yang telah didigitalisasi. Beberapa aksara yang bisa diunduh dengan bebas di Internet seperti aksara Batak Karo, Batak Mandaling, Batak Pakpak, Batak Simalung, Batak Toba, Incoung Kerinci, Lampung, Sunda, Jawa, dan Bugis.

Font Bali Simbar merupakan salah satu variasi program font yang menampilkan aksara Bali. Melalui program ini, huruf latin alfabet dapat dialihaksarakan menjadi aksara bali. Kini, font ini sangat berguna menjaga budaya Bali di dunia digital.

Sumbangan ini tak hanya sebagai inventarisasi budaya tetapi juga pengenalan Bali di aksara dunia. Orang-orang dari belahan dunia lain dapat mengakses dengan mudah font hasil karya I Made Suatjana ini. Bahkan font ini telah menjadi salah satu bentuk perlombaan untuk alih aksara di pendidikan tingkat SMP di Denpasar dan Badung.

Otak-atik Komputer

Lantas siapa I Made Suatjana ini? Bagaimana font ini bisa lahir dari tangan beliau?

I Made Suatjana merupakan warga Bali kelahiran Gadungan, Tabanan pada 14 Mei 1947. Pria yang kini menetap di Denpasar ini memiliki latar belakang pendidikan insiyur dan senang untuk mengutak-atik komputer.

Pada awal 1980an, Suatjana sudah meyakini komputer akan menggeser hal-hal yang dianggap konvensional. Saat itu komputer masih terbilang baru untuk Bali. Namun, Suatjana telah bercita-cita menjadikan komputer sebagai medium untuk melestarikan budaya Bali. Melalui kegemaranya tersebut, pada 1983, dia pun mulai mewujudkan idenya untuk memindahkan aksara Bali ke dalam program komputer.

Berbekal komputer berbasis DOS, Suatjana mencoba merangkai titik-titik hingga membentuk gambar dan pola seperti aksara Bali. Melalui Chiwriter, program berisi aneka simbol yang lazim digunakan untuk simbol matematika, kimia, dan fisika, aksara Bali memiliki peluang untuk diadaptasi dalam dunia digital.

Pada 1995 font aksara Bali bernama Bali Simbar pun rangkum dibuat.

Namun, prototipe ini belum sempurna seperti yang kini dapat diunduh dengan bebas dan gratis di internet. Perlu penyempurnaan dan koreksi tata letak dan bahasa. Sebab, aksara Bali memiliki pakem berbeda dengan huruf alfabet.

Setahun kemudian, dengan bantuan Yayasan Dwijendra, font Aksara Bali Simbar Dwijendra layak dipergunakan secara luas. Font ini dapat mendeteksi rupa aksara dan memperbaiki tata letak aksara agar sesuai dengan pakem.

Tidak hanya sampai penyempurnaan aksara. Pada awal 2000-an, teman Suatjana menyarankannya untuk mematenkan program itu ke Unicode. Ini adalah standardisasi komputasi dunia untuk teks dikoordinir Unicode Consortium yang berpusat di Amerika Serikat.

Akhirnya, pada 2006 font aksara Bali Simbar Dwijendra diakui dan dibakukan secara internasional. Bahkan, pada 2009, font Aksara Bali Simbar Dwijendra sudah dilengkapi dengan sistem perintah koreksi yang jika diaktifkan maka akan ada hasil koreksinya.

Kini, cita-cita Suatjana sudah tercapai. Gagasan tentang melestarikan budaya bangsa dengan memadukan teknologi sebagai media telah mendapat apresiasi dari semua kalangan.

Ini terbukti dengan diberikannya berbagai penghargaan dari pemerintah sebagai bentuk nyata apresiasi, termasuk Anugerah Bali Kerthi Nugraha Mahotama dari pemerintah Provinsi Bali.

Kalender Bali

Karya lain I Made Suatjana adalah kalender Bali yang kini memasuki tahun keempat. Kalender Bali cukup terbilang unik dari kalender lain pada umumnya. Kalender umum hanya menjabarkan tanggal dan keterangan hari-hari besar nasional. Adapun kalender Bali sedikit rumit dengan penjabaran hari-hari upacara keagamaan Bali yang terbilang banyak. Setiap harinya memiliki penjelasan tentang baik buruknya hari.

Ada hal mendasar yang membedakan kalender Masehi dengan kalender Bali. Kalender Masehi hanya menggunkan perhitungan matahari. Adapun kalender Bali menggunkan perhitungan bulan, matahari, dan kearifan lokal.

Kalender Bali menjabarkan lebih rinci fenomena pertanggalan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Bali yang terbilang kompleks. Di dalamnya termasuk mengenai hari baik maupun hari buruk untuk melakukan upacara agama.

Serupa alasan menekuni aksara Bali, penanggalan Bali menarik perhatian Suatjana untuk lebih mendalami warisan budaya leluhur yang adiluhung ini. Berbekal rasa ingin tahu dan lingkaran pertemanan Suatjana, dia pun mencari dan mengikuti perkembangan pertanggalan Bali.

Semula, pengetahuan ini hanya untuk konsumsi pribadi. Namun, lambat laun, Suatjana merasa perlu menyebarluaskan pengetahuan ini agar tidak terputus dan punah.

Kalender hasil karya Suatjana secara umum sama dengan kalender Bali terbitan ahli sebelum beliau. Sebut saja kalender Bali karya Bambang Gde Rawi, legenda dunia perkalenderan Bali. Atau kalender I Wayan Gina, kalender dari Kanwil agama Hindu maupun kalender perpustakaan Gedong Kirtya.

Namun, terdapat pojok menarik di setiap lembaran kalender yang memuat informasi tentang pengetahuan kalender dan budaya Bali. Seperti ditampilkan pada edisi 2019, ada informasi tentang sejarah pertanggalan India.

Kebutuhan Pokok

Kalender bagi rakyat Bali khususnya menjadi kebutuhan pokok dalam menjalanan aktivitas budaya. Adanya hari dan bulan untuk menikah, kematian, membangun rumah, membuat kegiatan, dan masih banyak lagi tentu bertolak dari hari apa yang baik.

Bahkan sempat karena kalender yang berbeda, ada kejadian yang mempengaruhi praktik budaya dan menunda acara berlansung.

Tidak semua hari layak untuk sesuatu hal meski pada dunia globalisasi hari ini, semua hari adalah sama dan tak berpengaruh namun budaya Bali menolak itu!

Tidak semua hari layak untuk segala hal. Meski pada era globalisasi hari ini, semua hari adalah sama dan tak berpengaruh. Namun, budaya Bali menolak itu!

Apa yang dilakukan I Made Suatjana sebenarnya bukanlah hal baru. Mengingat banyak warga Bali mungkin juga memiliki pengetahuan lebih yang harusnya disebarluaskan kepada warga Bali lainnya. Namun, Suatjana hadir dan berani untuk memberikan persembahan nyata dengan keseriusannya.

Aksara Bali Simbar dan kalender Bali bukan produk instan. Ada proses yang selalu menuntut keseriusan dan pengorbanan. Namun, proses tidak selalu menghianati hasil. Hasil yang dipanen seperti menanam pohon jati menunggu puluhan tahun untuk menikmatinya.

Tantangan warga Bali hari ini adalah arus globalisasi dunia yang deras menuju Bali. Budaya sebagai salah satu benteng haruslah dijaga dan dikembangkan agar tidak tergerus. Warga Bali memiliki potensi tersebut!

Melalui fasilitas pemerintah, dorongan-dorongan dari atas menuju bawah (up to bottom) harus sesuai porsinya. Inisiatif dari bawah ke atas (bottom to up) juga harus gencar diwacanakan. Tinggal bagaimana keberlanjutannya untuk warga Bali, rakyat Bali, dan budaya Bali.

Agar benang budaya yang coba diteruskan oleh I Made Suatjana dapat dilestarikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk menjaga Bali. Bisa saja di lain hari, warga Bali lainnya menjadi Suatjana kedua, ketiga, dan seterusnya dalam cerita membangun Bali. [b]

The post I Made Suatjana, Penemu Font Bali Simbar dan Peramu Kalender Bali appeared first on BaleBengong.

Ketika Janda Bali Harus Pulang “Melalung”


Jru Sukasih saat berbicara di Suka Duka di Tana Bali. Foto Iin Valentine.

“Lamun nak luh Bali cerai, jeg lalungine..”

Ni Nengah Budawati berkata ketus sambil menyetir mobilnya pada akhir lalu. Ia baru saja menemui seorang perempuan lanjut usia tak bisa naik motor. Jadi, perempuan itu harus ditemui di tempat kerjanya, sebuah toko di pusat Ubud.

Selembar surat dirogoh dengan cepat dari dalam tasnya. Budawati tak bisa turun karena posisi mobil menutup kendaraan lain. Tak ada lahan parkir sisa di kepadatan Ubud ini.

Beruntung, kliennya, ibu yang dituntut cerai karena suaminya ingin menikah lagi itu, sudah tiba di samping pintu mobil. Surat kuasa untuk Budawati sebagai pengacaranya pun ditandatangani.

Si Ibu terlihat panik, ia ingin sekali ngobrol dengan Budawati. Barangkali risau dengan persiapan sidangnya esok di Singaraja, Buleleng. Suaminya memasukkan berkas perkara cerai di kabupaten ujung utara Bali itu.

Dalam perjalanan menuju Denpasar, Budawati berkisah beberapa pengalamannya dimintai tolong mendampingi kasus-kasus perceraian yang merisak perempuan. Masalahnya, perempuan kerap tak mendapat bagian harta guna kaya (yang dihasilkan selama pernikahan).

Akibatnya, begitu bercerai ataupun ditinggal suaminya meninggal, dia pun “melalung” atau telanjang pulang ke rumah bajang.

Kisah menjadi janda di pulau dewata ini lebih benderang dibahas di Suka Duka Tana Bali seminggu kemudian. Ini adalah sebuah dialog kolaborasi Taman Baca Kesiman dan BaleBengong tiap bulan.

Malam itu, Jro bercerita lebih detail tentang kasus yang dia alami. Dia tampil berkebaya putih dan kamen batik, rambut putihnya disanggul rapi. Sepotong bunga menyembul.

Karena Janda

Jro Sukasih, perempuan kelahiran 1930an, mewarisi tanah hasil guna kaya setelah suaminya meninggal. Prahara yang menyesakkan jiwanya adalah guna kaya ini hendak dikuasai keponakan laki-lakinya. Hanya karena ia janda.

Menurut hukum adat, keponakannya itu memang akan mewarisi tetapi nanti setelah Bu Jero meninggal. Alasannya, empat anak kandung Jero semuanya perempuan, sudah menikah, dan ikut suami.

Bu Jero tidak mau menyerahkan begitu saja. Maka si ponakan laki-laki itupun menggugat di pengadilan. Menuntut agar Jero menyerahkan sertifikat harta atas nama almarhum suaminya.

Sudah empat tahun Bu Jero dan keluarganya berurusan dengan pengadilan dari tingkat pertama sampai banding untuk mempertahankan haknya.

Hasilnya, kasus ini dimediasi dengan kesepakatan Bu Jero tetap memegang sertifikat tanah dan bisa diperjualbelikan. Putusan yang dianggap di tengah-tengah.

“Tiang sakit, kenyel. Sakit jantung,” ia bicara perlahan.

Tak banyak menjelaskan kasusnya. Terlihat jelas ia sakit hati. Selanjutnya adalah kisah-kisah janda lain, termasuk seorang janda yang distigma bisa ngleak oleh kerabatnya.

Suka Duka di Tana Bali edisi ini bergulir jauh berbagi pengalaman dan kerisauan soal ketakutan menikahi laki-laki Bali, hak anak jika bercerai, dan kasus dimensi adat dan tradisi lainnya.

Rekomendasi

Ada apa dengan adat? Siapa yang bisa mengubahnya?

Saya mengingat pernah menghadiri sebuah rapat besar Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP). Rapat itu memutuskan sejumlah hal, masalah yang dihadapi desa-desa adat, dan dicari solusinya saat Pasamuhan Agung MUDP 2010.

Ketika itu, 15 Oktober 2010 MUDP menyertakan putusan. Salah satunya rekomendasi terkait kedudukan perempuan dalam perkawinan dan pewarisan menurut adat Bali.

Secara sederhana, putusan ini kurang lebih nuansanya suami istri dan saudara laki-laki mempunyai kedudukan sama untuk jamin anak dan cucunya memelihara termasuk kekayaan imaterial seperti pura. Laki-laki dan perempuan memiliki hak sama terhadap hak guna kaya.

Selama dalam perkawinan, suami dan istrinya mempunyai kedudukan yang sama terhadap harta guna kaya atau gono-gini. Nah!

Kemudian putusan soal status perkawinan juga memberikan jalan tengah. Di antaranya upacara patiwangi (karena turun kasta/nyerod) tak boleh lagi dilaksanakan karena merugikan perempuan. Jika kedua mempelai ingin punya status kapurusa dan predana yang sama bisa melaksanakan dengan status pada gelahang dengan dasar kesepakatan bersama.

Banjar Kekeran, Desa Penatahan, Kecamatan Penebel, Tabanan adalah salah satu desa yang sangat terbuka dengan model pada gelahang seperti ini.

Misalnya bila bercerai bisa kembali ke rumah dengan status mulih daa/teruna (remaja) dan dapat melakukan swadarma dan haknya seperti biasa.

Sejumlah masalah yang banyak muncul saat ini, salah satunya harta gono gini dianggap harta pusaka. “Saat pembagian hak gunakaya orang tua, menghadap notaris saya ditolak karena kawin ke luar (keluar keluarga besar),” keluh salah seorang perempuan yang ikut Pesamuhan saat itu.

“Saya seperti tak berhak atas harta karena selama perkawinan hasilnya “sampah” (kebutuhan makan) dan suami menghasilkan mutiara (harta tak bergerak),” sebut Budawati yang juga bicara saat itu.

Agresif

Ini putusan yang cukup agresif. Dikutip, dalam Kitab Manawa Dharmasastra menyebutkan perempuan sangat dimuliakan dan dihormati. “Di mana wanita dihormati, di sanalah para dewa merasa senang, tak dihormati tak ada upacara suci apa pun yang berpahala.”.

Pengurus dan desa adat pun didorong responsif gender. Tapi ini semulus daun keladi. Misalnya keturunan kapurusa (patrilineal) dikonstruksi sebagai laki-laki padahal maknanya tentang kewajiban.

Konsekuensinya, hanya laki-laki yang dianggap bisa bertanggungjawab secara adat dan agama. Padahal bisa saja status kapurusa ini perempuan kalau statusnya sentana rajeg.

Artinya perempuan juga berhak bertanggungjawab dalam hubungan dengan tempat suci (parahyangan), menyama braya (pawongan), dan lingkungan (palemahan). Kecuali perempuan ninggal kedaton penuh atau menikah dan berganti agama.

Bahwa anak kandung dan angkat baik laki-laki atau perempuan yang belum kawin memiliki kedudukan sama terhadap gunaya orang tuanya. Berhak atas harta gunaya setelah dikurangi sepertiga sebagai duwe tengah atau harta bersama.

Tak sedikit kearifan lokal yang bisa menjadi pertimbangan untuk distribusi waris secara adil ini. Misalnya paras paros atau kebersamaan dalam hak dan kewajiban, prinsip asih, asah, asuh dan sesana manut linggih atau hak sesuai kedudukan yang dimiliki.

Rekomendasi MUDP sudah hampir 10 tahun berlalu namun masih banyak kasus yang tak mempertimbangkan ujarannya. Lalu bagaimana? Ya bicara, ya menyurakannya. [b]

The post Ketika Janda Bali Harus Pulang “Melalung” appeared first on BaleBengong.

Pertarungan Tuhan Baru vs Tuhan Lama di Pulau Dewata



Senjakala Bali Dwipa karya Made Bayak.

Made Bayak bercerita tentang pameran tunggalnya di Amerika Serikat.

Rencana pameran ini sudah dirancang selama dua tahun. Dari awal tahun 2016 pertama kali proses interview karya dan aktivitas saya sebagai seniman (visual dan musik). Kurator dan penulis pameran ini adalah Peter Brosius, Alden DiCamilio dan Sarah Hitchner.

Judul Pameran old Gods | new Gods in Bali, bisa diartikan bebas Tuhan lama dan baru (di Bali), merupakan gagasan yang membingkai pameran tunggal ini. Berikut penjelasan tentang tema ini.

Berbicara Bali tidak akan pernah habis. Pulau kecil ini sudah sangat terkenal di mana-mana. Bahkan, saat masuk imigrasi di Amerika pun ini terjadi. Ketika saya ditanya “Kamu dari mana?”, saya jawab, “Indonesia..” mereka masih bertanya. Saat saya bilang dari Bali suasana menjadi lebih cair.

Tidak bisa dipungkiri juga popularitas Bali sebagai tujuan wisata dunia adalah sebuah kenyataan dan anugerah luar biasa. Alam yang konturnya berbukit, gunung dan danau, wilayah pedesaan dipenuhi sawah berpetak-petak, sungai-sungai mengalir seperti ular, pantai dengan pemadangan indah nan eksotis, masayarakat Bali yang masih menghidupi tembah sembahyang/pura-pura dengan napas spiritual peninggalan leluhur.

Semuanya menghasilkan banyak sekali bentuk-bentuk kebudayaan yang bisa kita lihat sampai saat ini. Semua gambaran brosur dan promosi wisata Bali adalah benar adanya.

Namun, ada wacana lain yang ternyata sangat miris seiring dengan semua gambaran pariwisata eksotis Bali. Ada “Tuhan” baru menyeruak di antara tuhan “lama” yang menjadi warisan leluhur di Bali. Ada sejarah kelam (pembunuhan masal) yang sampai saat ini masih tersembunyi kemudian coba dihilang ingatkan secara memori kolektif kita.

Peranan politik kebudayaan dengan ritual pembersihan tanah Bali dari hal-hal yang dianggap mengganggu keseimbangan sangat berhasil membuat sebagian besar generasi Bali tertidur dan mimpi indah tentang peninggalan Bali yang adiluhung. Kita disuguhi dan dipaksa mengonsumsi konsep-konsep seperti Tri Hita Karana dan bangga sudah merasa menyeimbangkan hidup dengan alam, manusia dan tuhan.

Karya kolaborasi Made Bayak dan anak istri, Sekala Niskala Bali Tolak Reklamasi

Tidak Terkendali

Padahal, di lain sisi kita membiarkan Teluk Benoa mau diuruk. Kita biarkan wilayah tempat suci kita dijual dan membangun beton-beton baru tidak terkendali. Kita biarkan sumber-sumber air kita kotor oleh sampah. Kita hanya asyik memenuhi hasrat supaya dibilang menjadi lebih modern.

Ada Dewa-dewa baru berwujud dolar dan investasi yang cenderung rakus dalam pawisata massal. Mereka mengabaikan semua aspek manusia, lingkungan dan tuhan di Bali. Wujud Dewa Konsumerisme yang menjangkiti kita adalah seberapa banyak barang baru yang kita punya. Itu menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang.

Hal paling mengkawatirkan adalah berkurangnya pasokan air tanah yang notabene sumber kehidupan bagi kebudayaan Bali. Tercemarnya sumber-sumber air dari sampah plastik dan limbah rumahan adalah dampak nyata yang bisa kita lihat dari ketidakpedulian.

Ini bukan persoalan anti pariwisata atau anti pembangunan, tapi bagaimana kebenaran itu seharusnya diketahui bersama, dipelajari sehingga kita bisa melangkah lebih percaya diri untuk melanjukan kebudayaan Bali. Harusnya kita bisa melahirkan sebuah budaya belajar, terbuka, dan bisa bersikap kritis terhadap diri kita sendiri.

Industry, hidden history and legacy the island of the gods karya Made Bayak.

Tentang Karya

Pameran ini bisa dikatakan kerja sama dengan salah satu dosen di universitas di Atlanta Amerika, University of Georgia (UGA) Departemen Antropologi, tepatnya berada di Athens Georgia. Untuk pameran karya-karya seni akan berlangsung di galeri Athens Institute for Contemporary Art (ATHICA). Pameran akan dibuka pada 25 Maret 2019 dan berlangsung hingga 28 April 2019.

Karya-karya yang dipilih kurator dan penulis merupakan keseluruhan tema dan gagasan yang menjadi ketertarikan saya sebagai seniman. Mulai dari tema lingkungan, pariwisata massal di Bali, kekerasan, kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM), serta keterlibatan seni dan kesenian pada perjuangan Bali tolak reklamasi. Pameran ini akan menyentuh karya-karya musik bersama band GEEKSSMILE di mana saya bergabung sebagai pemain gitar.

Ada sekitar 15 karya dengan berbagai ukuran yang akan dipajang selama pameran berlangsung. Ukuran karya terbesar adalah 2×3 meter dengan judul “Senja Kala Bali Dwipa”. Karya ini bercerita tentang cikal bakal pariwisata Bali dimulai dengan datangnya kapal Belanda KPM membawa orang-orang yang ingin melihat surga terakhir. Kemudian ada cerita bagaimana pembunuhan masal yang menghilangkan 80.000 jiwa manusia Bali dan tak pernah tercatat dalam sejarah resmi yang bisa kita pelajari.

Saya juga memajang sebuah karya instalasi tentang kosmologi Bali yang berkaitan erat dengan berbagai peristiwa di Bali. Kabarnya kosmologi ini pernah dipakai referensi untuk membuang potongan tubuh korban pembataian masal sesuai arah mata angin. Dia juga sempat digunakan sebagai tema perjuangan dan even besar menolak rencana busuk reklamasi Teluk Benoa.

Ada beberapa karya dalam ilustrasi buku Prison Songs bersama kawan-kawan Taman 65 di Denpasar juga akan dipamerkan. Dua buah karya kolaborasi saya dengan anak, Damar Langit Timur dan istri, Kartika Dewi juga dipilih dan diikutsertakan dalam pameran ini. Satu dengan judul “Skala Niskala Bali tolak reklamasi” dengan ukuran 2×2 meter. Satu lagi dengan judul “Reminder of the Nir Gender” dengan ukuran 170x300cm.

Selama pameran berlangsung akan ada banyak kegiatan mulai dari artist talk, diskusi panel, workshop, pemutaran video, diskusi kelas dan lainnya.

Kontak personal jika ada yang ditanya untuk mempertegas adalah dengan saya langsung, Made Bayak, bisa kirim pesan melalui WhatsApps 08174763566. Mohon sabar kalau responnya agak lambat. [b]

The post Pertarungan Tuhan Baru vs Tuhan Lama di Pulau Dewata appeared first on BaleBengong.

Mabuug-buugan, Mandi Lumpur untuk Sucikan Diri


Seorang warga bangkit dari lumpur saat ritual mebuug-buug di Kedonganan. Foto Anton Muhajir.

Dulu terhenti karena erupsi Gunung Agung dan tragedi 1965.

Selesai bersembahyang menurut Hindu Bali, ratusan orang berbaris satu-satu masuk hutan bakau di sisi timur Desa Kedonganan pada Jumat, 8 Maret 2019 lalu. Sebagian bernyanyi lagu dalam bahasa Bali, “Mentul menceng, mentul menceng. Glendang glendong, glendang glendong…

Hanya bertelanjang dada dengan kamen (sarung) diikat setinggi lutut, anak laki-laki mendahului. Anak-anak perempuan, sebagian besar masih anak-anak dan remaja, menyusul di belakang. Mereka menyusuri jalur air di tengah hutan bakau. Tinggi air tak lebih dari mata kaki.

Bagi warga desa di Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, kawasan hutan bakau itu dianggap sakral atau tenget. Di sisi timur, ada Pura Prapat yang dianggap sebagai penjaga kawasan itu. Karena itu, warga tidak boleh melakukan perbuatan yang dianggap bisa mengotori ataupun berkata-kata kasar.

Di lokasi itu mula terdapat lumpur khas kecoklatan yang oleh warga disebut buug. Lumpur tersebut dianggap lebih bersih sehingga tidak membuat tubuh gatal.

Di sanalah satu per satu warga adat Desa Kedonganan itu masuk ke lumpur. Ada yang hanya masuk lumpur setinggi lutut. Namun, ada pula yang terjebak hingga pinggang. Toh, mereka seperti tidak pedulu.

Mereka mengambil lumpur kecoklatan untuk melumuri sekujur tubuh: punggung, perut, dada, leher, muka, bahkan rambut mereka.

Tak cukup melumuri tubuh dengan lumpur, sebagian juga saling melempar lumpur sekepal tangan mereka. Ada pula yang berbalas membasah wajah temannya dengan lumpur sama.

Toh, tidak ada permusuhan. Mereka saling tertawa sepanjang pelaksanaan ritual.

Sore itu, warga desa berjarak sekitar 2 km di selatan Bandara Internasional Ngurah Rai Bali itu melaksanakan ritual mebuug-mebuugan, mandi lumpur setelah Nyepi.

I Wayan Wiliana, termasuk salah satu dari warga Kedonganan yang mengikuti mebuug-mebuugan sore itu. Tak hanya melumuri sekujur tubuhnya dengan lumpur, dia juga mengambil pucuk dahan bakau lalu disematkan pada ikat kepala layaknya mahkota.

“Buat hiasan saja,” kata Wiliana.

Setelah mandi lumpur di pantai timur, tempat di mana hutan bakau berada, warga berjalan kaki menuju pantai di sisi barat desa. Masih dengan bertelanjang kaki, mereka melewati Jalan By Pass Ngurah Rai yang beraspal hitam.

Sepanjang jalan sebagian peserta “mengganggu” penonton atau warga lain yang tidak ikut ritual dengan cara mengoleskan lumpur itu pada wajah atau tangan.

Sekitar 3 km perjalanan itu berakhir di Pura Segara di Pantai Kedonganan. Tempat sembahyang umat Hindu ini berderetan dengan kafe-kafe yang menyajikan menu khas boga bahari (seafood). Di pantai inilah warga lalu mandi untuk membersihkan diri setelah mereka melakukan kegiatan lain, bermain tradisional dan berjoget tradisi.

Peserta mebuug-buug berjalan kaki 3 km menuju Pantai Kedonganan. Foto Anton Muhajir.

Lama Mati

Mebuug-buugan adalah ritual kuno warga adat Kedonganan. Namun, warga baru menghidupkan lagi ritual ini sejak empat tahun lalu.

Kepala Desa (Bendesa) Adat Kedongan I Wayan Mertha mengatakan tradisi ini sebenarnya sudah berlangsung lama, tetapi terhenti lama. Selain karena letusan Gunung Agung pada 1963 juga akibat tragedi politik 1965. “Tonggak pemberhentian tradisi mebuug-buug karena peristiwa 1965. Saat itu banyak persoalan politik yang berpengaruh pada ritual ini,” kata Mertha.

Sejak empat tahun lalu, kata Mertha, warga berusaha menghidupkan kembali tradisi yang sempat mati itu. Salah satu alasannya, warga merasa ada yang kurang seusai mereka melaksanakan Nyepi.

I Wayan Sudarsana, warga setempat yang juga alumni S2 Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, menghidupkan kembali ritual tersebut sejak 2015. Melalui risetnya, Sudarsana menemukan bahwa warga dulunya memiliki tradisi mebuug-buug yang kemudian terhenti selama 40 tahun.

Pada 2015, warga memulai lagi ritual mebuug-buug itu.

Bendesa Adat Kedonganan Mertha mengatakan ada dua makna kegiatan mebuug-buug. Pertama, terkait dengan rasa syukur dan terima kasih pada Ibu Pertiwi atas semua anugerah, seperti kesuburan tanah. “Kami bersujud pada Ibu Pertiwi dan melumuri tubuh dengan lumpur sebagai ucapan terima kasih,” katanya.

Kedua, Mertha melanjutkan, untuk pembersihan secara skala (lahir) dan niskala (batin). “Selama satu tahun perjalanan pasti ada hal-hal kurang baik, baik kita sadari ataupun tidak. Jadi ini kami bersihkan keburukan. Hal-hal yang kurang baik kami bersihkan selama ritual mebuug-buug,” ujar Mertha.

Lumpur sendiri merupakan simbol dari hal buruk atau kotor. Warga kemudian melumur sekujur tubuhnya dengan lumpur sebagai pertanda hal-hal buruk yang mereka alami selama setahun itu. Setelah itu, mereka akan membersihkannya.

Pembersihan dilakukan di pantai barat Desa Kedonganan yang berada di antara Jimbaran dan Bandara Ngurah Rai ini. Di pantai berpasir putih, warga yang mengikuti mebuug-buug berkumpul berdasarkan nama banjar masing-masing.

Di sana mereka bermain seperti anak-anak. Ada megala-gala (semacam gobak sodor) dan ngibing. Turis, sebagian besar dari China, berbaur bersama warga melihat suka cita itu.

Usai bersuka cita dengan permainan dan jogetan, warga akan membersihkan diri di laut. Ratusan orang seperti berlomba-lomba masuk ke dalam air dan membersihkan lumpur mengering di tubuh dan pakaian mereka.

Akhir dariritual mebuug-buug adalah ketika warga bersembahyang di Pura Segara, Kedonganan. Pemangku akan memercikkan air suci (tirta). “Pembersihan di laut bertujuan untuk membersihkan secara fisik sedangkan upacara di Pura Segara dengan memercikkan tirta untuk menyucikan secara spiritual,” kata Mertha.

Bagi warga ritual mebuug-buug adalah kegembiraan sekaligus pembersihan. “Ini bagus sekali untuk membersihkan diri kami setelah Nyepi,” kata Ketut Sukarta, salah satu warga.

Warga membersihkan lumpur di pantai sebagai bagian dari ritual mebuug-buug di Kedonganan. Foto Anton Muhajir.

Simbol Harapan

Mebuug-buug merupakan salah satu ritual yang sudah lama mati, tetapi kemudian dihidupkan lagi oleh warga setempat. Ritual ini dilaksanakan sehari setelah Nyepi atau Ngembak Geni.

Dalam pandangan Dosen Filsafat Universitas Indonesia Luh Gede Saraswati Putri, mebuug-buugan termasuk ritual yang mendekatkan masyarakat pada alam, seperti juga ritual Bali pada umumnya. Apalagi ketika ritual itu dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian Nyepi, puasa 24 jam di Bali dengan tidak menyalakan lampu (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bersenang-senang (amati lelanguan), dan tidak bepergian (amati lelungan).

Menurut Saras Dewi, panggilan akrabnya, Nyepi menunjukkan bahwa Bali masih menjadi simbol harapan. Ada perubahan yang berorientasi lingkungan oleh warga secara luas dan sadar. Partisipasi publiknya besar.

“Nyepi itu menjadi oase di antara begitu banyak problem dan karut marutnya lingkungan,” ujar Saras Dewi.

Saras mengatakan seiring dengan masifnya pariwisata massal, Bali makin menghadapi masalah lingkungan di tiga wilayah utama: pedesaan, perkotaan, dan pesisir. Namun, akhir-akhir ini dia melihat ada kesadaran publik untuk merehabilitasi lingkungan.

“Saya keinginan untuk memperbaiki lingkungan itu puncaknya ada di Nyepi,” katanya.

Saras memberikan contoh pada munculnya revitalisasi ritual-ritual tua, seperti Sang Hyang Dedari di Karangasem dan mebuug-buug di Kedonganan, sebagai upaya menemukan kembali hubungan antara ritual dengan alam.

Sang Hyang Dedari merupakan tarian sakral yang digelar sejalan dengan kalender agraris petani di Desa Duda Utara, Karangasem. Adapun mebuug-buug dilakukan masyarakat dengan budaya pesisir.

“Ada upaya sporadis bahwa mereka mau melakukan sesuatu,” lanjutnya.

Tidak hanya melalui ritual-ritual kuno yang dihidupkan lagi, Saras melihat upaya memperbaiki lingkungan itu juga terlihat dalam kebijakan Wali Kota Denpasar yang melarang penggunaan plastik sekali pakai ataupun anak-anak muda yang tidak lagi menggunakan gabus ketika membuat ogoh-ogoh.

“Saya lihat ada upaya pembenahan meskipun tertatih-tatih. Ada harapan di masa depan,” ucapnya. [b]

Keterangan: versi lain tulisan ini terbit di Beritagar.

The post Mabuug-buugan, Mandi Lumpur untuk Sucikan Diri appeared first on BaleBengong.

Tumpek Kandang, Penghormatan Bali pada Hewan

Lukisan yang menggambarkan masyarakat Bali dan anjingnya. Foto Agus Juniantara.

jing anjing anjing anjing kintamani
beli dari pulau bali
jing anjing anjing anjing kintamani
senyumnya manis sekali

Lagu Shaggy Dog berjudul Anjing Kintamani itu asyik sekali untuk didengarkan. Band dari Yogyakarta itu mengutip tentang anjing asal Bali yang dijadikan tema lagu ini. Mereka mengisyaratkan bahwa anjing Kintamani ini merupakan hewan yang ramah untuk dipelihara.

Ternyata kata “Bali” tidak hanya merujuk pada pantai pasir putihnya, tetapi juga hewan endemik berkaki empat yang setia.

Hubungan masyarakat Bali dengan hewan tidak hanya sebatas tuan dan majikan. Masyarakat Bali memiliki tradisi dan hari raya yang secara khusus sebagai bentuk penghormatan kepada para hewan. Hal ini tercermin dari perayaan hari raya Tumpek Kandang yang jatuh hari Sabtu Wuku Uye (Pawukon dalam kalender Bali) kemarin.

Pada hari Tumpek Kandang, masyarakat melakukan upacara untuk Dewa Siwa dalam wujud Rare Angon (seorang anak pengembala). Para peternak, yang memiliki hewan peliharaan, serta masyarakat Bali umumnya merayakan ritual ini setiap 210 hari sekali.

Nilai-nilai menyayangi dan saling menghormati sesama makhluk ciptaan Tuhan di dunia ini juga tertuang dalam filosofi Tri Hita Karana. Tiga hal penyebab kebahagiaan di dunia dengan hidup selaras. Selaras dengan alam beserta isinya salah satunya contohnya.

Bahkan, dalam cerita Mahabarata, sang Yudistira dalam perjalannya menuju Kahyangan ditemani seekor anjing yang setia. Hewan bukan hanya sebagai alat kesenangan penyalur hobi atau pembajak sawah, tetapi hewan sebagai “teman yang mendukung” manusia dalam kesehariannya.

Pesan moral ini juga terdapat dalam kebudayaan agama lain semisal The Seven Sleepers.

Manusia bukan sebagai subjek yang berdiri sendiri, tetapi berdampingan dan selaras dengan seluruh ciptaan Tuhan. Perlindungan-perlindungan tentang hewan beserta alam secara turun temurun terwarisi melalui cerita folklor kedaerahan. Dunia  kekinian mengenalnya dengan sebutan animal welfare.

Animal atau hewan memiliki hak sama untuk hidup dengan layak di dunia sebagaimana kodratnya. Sekali lagi, sesuai sesuai kodratnya. Bukan memanjakanya secara berlebihan hingga menjadikannya lelucon ataupun menyiksa dan mengonsumsinya dengan brutal.

Dok Akun Instagram @Blungbangperkasa

Kepedulian saat Nyepi

Kembali lagi pada budaya Bali tentang rasa menyayangi dan mengasihi para hewan. Tahun ini Tumpek Kandang jatuh pada Sabtu, 17 Maret 2019. Perlu adanya nostalgia kembali tentang relevansi nilai animal welfare cita rasa Bali ini. Perlu disadari, perayaan ini bukanlah sekadar seremonial tetapi juga  bagaimana sekilas ingatan untuk selaras terhadap alam menjadi kesadaran bersama.

Pada rangkaian hari raya Nyepi pekan lalu, terdapat fenomena sosial yang dituangkan dalam beragam wujud ogoh-ogoh. Adanya ogoh-ogoh Save Dog Bali, ogoh-ogoh Himsa Karma yang dipersonifikasikan bagaimana manusia menyiksa binatang demi kepuasannya, dan yang paling menarik yakni ogoh-ogoh Sog? Manu Petaka.

Ogoh-ogoh Sog? Manu Pataka buah karya STT Acarya Perkasa Banjar Blungbang, Penarungan, Mengwi, Badung mengangkat tema tentang unsur kehidupan di alam. Konsep ogoh-ogoh ini mengambarkan ketika manusia menjadi malapetaka bagi alamnya sendiri. Rakus, tamak, dan terlalu sombong karena menganggap manusia berdiri sendiri.

Manusia dapat memunahkan makhluk lain dengan semena-menanya. Mungkin di Bali isu tentang pelanggaran animal welfare lebih mengarah kepada anjing Bali. Anjing yang dibiarkan liar tak terurus hingga mengidap virus rabies dan berujung pada eliminasi massal.

Tidak semua anjing mungkin berakhir mati dengan tenang, bisa saja singgah dulu di piring para penyantap. Untuk hal ini bukan hanya anjing liar, tetapi yang terpelihara dengan baik pun bisa menjadi target jika dibiarkan berkeliaran terlalu jauh dari rumahnya.

Sementara isu di luar Bali? Beraneka! Tentang plastik yang menjadi bagian jeroan ikan. Macan dan monyet yang diburu dan dipamerkan di media sosial. Penyimpangan orang utan yang “viral”. Gajah yang berontak dan balas dendam karena rumahnya digusur dan dibakar untuk lahan pertanian. Masih dan terlalu banyak untuk dijadikan contoh. Masih dan terus terjadi hingga hari ini.

Kebenarannya, bukan hanya Bali yang memiliki filosifi tentang menjaga alam, menyayangi hewan, dan hidup selara. Hampir di seluruh pelosok Indonesia, budaya dan tradisi tentang animal welfare dapat dirujuk dan menjadi panutan. Andai manusia di Indonesia “eling” dengan akar budaya dan jati dirinya. Mungkin memang perlu pematik tentang fenomena ini. Influencer dari negara barat misalnya. Karna bangsa ini masih menjadi pengikut arus deras budaya dan tren negri orang. Bukanlah hal negatif memang karena Indonesia masih “galau” tentang karakternya.

Menuju pada bagian penutup, bukan kesimpulan positif ataupun kritik yang perlu ditekankan dalam tulisan ini. Semoga ini menjadi nostalgia dan pengingat tentang budaya Indonesia serta relevansinya pada hari ini. Indonesia tetaplah bangsa yang besar meski masih banyak hal compang camping yang membalut kesehariannya. [b]

The post Tumpek Kandang, Penghormatan Bali pada Hewan appeared first on BaleBengong.