Tag Archives: Budaya

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #7

Singkat cerita, akhirnya Baradah sampai di Bali. Tempat Baradah berlabuh di Bali bernama Kapurancak. Dari Kapurancak, Baradah berjalan menuju arah timur. Tempat yang ditujunya adalah Silayukti.

Baradah pulang. Putrinya, Wedawati menyambut dengan sekantung rindu. Entah apa yang mereka lakukan untuk menghabiskan rindu mereka. Yang pasti keduanya merasa senang, sebab bertemu kembali dengan yang dikasihi.

Sementara itu, Raja Airlangga memerintahkan para punggawanya untuk membuka jalan. Tujuannya agar tercipta desa-desa, dan mengusir para penyamun yang mengganggu. Tidak lupa, ia memerintahkan untuk menanam pohon beringin dan pohon bodi. Kedua pohon itu ditanam berjajar-jajar.

Tampaknya Airlangga tidak lupa melakukan penghijauan di seputaran kerajaannya. Airlangga memang panutan. Itu bedanya pemimpin yang belajar sungguh-sungguh dengan pemimpin yang tidak pernah belajar. Airlangga belajar tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan otak, tapi juga hatinya. Hati inilah yang dalam teks-teks kadiatmikan disebut Hredaya.

Sekarang yang banyak adalah pemimpin yang belajar sekenanya untuk keperluan formalitas. Katanya, gelar-gelar mentereng itu dipakai untuk mendapatkan kekuatan. Kekuatan itu berupa pengakuan dan uang. Begitu biasanya, dan memang biasanya sudah begitu. Kita biasanya akan manggut-manggut dan menerima begitu saja. Hal-hal begitu sudah biasa kita temui, tapi kita selalu dibuatnya berpikir. Seolah-olah ada yang belum selesai dalam yang sudah selesai.

Keputusan-keputusan yang diambil oleh Airlangga, barangkali karena ia memiliki pembisik-pembisik yang benar-benar mumpuni. Kehadiran pembisik bagi seorang pemimpin sangat penting. Dia bisa menjadi otak bantuan untuk memikirkan hal-hal yang tidak terpikirkan. Itu mungkin sebabnya, Airlangga terlihat sangat bijaksana.

Karena Airlangga dianggap bijaksana, maka seluruh rakyat Nusantara sungguh-sungguh mengabdi padanya. Dalam teks Calon Arang, beberapa daerah disebutkan sebagai wilayah kekuasaan Airlangga, di antaranya: Sabrang, Malayu, Palembang, Jambi, Malaka, Singapura, Patani, Pahang, Siyam, Cempa, Cina, Koci, Keling, Tatar, Pego, Kedah, Kutawaringin, Kate, Bangka, Sunda, Madura, Kangayan, Makasar, Seran, Goran, Pandan, Peleke, Moloko, Bolo, Dompo, Bima, Timur, Sasak, Sambawa.

Semua wilayah itu menyerahkan pajak kepada raja. Dari daftar nama itu, saya tidak melihat nama Bali. Airlangga konon memang salah satu putra Bali. Dia adalah anak dari raja Udayana yang terkenal itu.

Nama Bali muncul dalam teks Calon Arang saat Airlangga diceritakan kebingungan untuk mengangkat dua orang anaknya sebagai raja. Ia hendak mengangkat seorang anak menjadi raja di Jawa, sedangkan yang satunya di Bali. Karena itu, diperintahkanlah punggawa istana untuk menghadap ke hadapan Baradah di Buh Citra.

Saya sama sekali tidak bisa mengerti, untuk apa Airlangga meminta pertimbangan kepada Baradah. Sementara di dalam kerajaan, Airlangga sudah memiliki pendeta yang tergolong sebagai Brahmana, Bhujangga dan Rsi. Ketiga golongan pendeta itu mestinya mampu memberikan pertimbangan yang bagus kepada rajanya agar Airlangga terlepas dari ikatan kebingungan. Apakah ada suatu maksud tertentu yang tidak dikatakan dalam teks? Tidak cukupkah tiga pembisik di lingkungan kekuasaan itu sehingga harus memohon pertimbangan kepada pendeta yang ada di luar lingkaran kepemerintahan?

Ken Kanuruhan adalah orang beruntung yang diutus oleh raja Airlangga untuk memohon arahan kepada Baradah. Arahan itu nantinya akan dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan. Kanuruhan segera berangkat dan menemui Baradah, Mpu yang telah mengalahkan Calon Arang. Mpu yang kemudian disebut-sebut namanya dalam lontar-lontar berbau mistis. Contohnya adalah lontar Kaputusan Mpu Baradah yang berarti ajaran-ajaran dari Mpu Baradah. Lontar ini membicarakan tentang cara-cara melihat diri sendiri. Melihat diri sendiri maksudnya, melihat dari bagian paling kasar sampai paling halus. Yang paling kasar dari diri disebut badan. Yang halus disebut ruh.

Tampaknya, keinginan Airlangga untuk menjadikan salah satu anaknya raja di Bali akan sia-sia. Sebab di Bali ada seorang Mpu yang tidak kalah bijaksananya dengan Baradah. Mpu itulah yang harus ditemui oleh Baradah kemudian.

“Aku akan pergi ke Bali,” begitu kata Baradah pada Kanuruhan. Kanuruhan disuruh pulang, sementara Baradah bersiap-siap menuju Bali. Setelah Baradah menemui putrinya, berangkatlah ia ke Bali. Tempat yang ditujunya adalah Sukti, tempat Mpu Kuturan. Sebelum berangkat, Baradah berpesan kepada putrinya, “kita akan moksa bersama-sama, setelah tugas ini berhasil ayah selesaikan. Sabarlah putriku.”

Dalam perjalanan itu, ada beberapa desa yang dilewati oleh Baradah. Beberapa nama desa itu yakni Watulambi, Sangkan, Banasara, Japana, Pandawan, Bubur Mirah, Campaluk, Kandikawari, Kuti, Koti.

Di Koti, Mpu Baradah bermalam. Esok paginya melanjutkan perjalanan sampai di Kapulungan, Makara Mungkur, Bayalangu, Ujungalang, Dawewihan, Pabayeman, Tirah, Wunut, Talepa, We Putih, Genggong, Gahan, Pajarakan, Lesan, Sekarawi, Gadi.

Di Gadi, Mpu Baradah berbelok ke arah utara melewati daerah Momorong, Ujung Widara, Waru-waru, Daleman, Lemah Mirah, Tarapas, Banyulangu, Gunung Patawuran, Sang Hyang Dwaralagudi, Pabukuran, Alang-alang Dawa, Patukangan, Turayan, Karasikan, Balawan, Hijin, Belaran, dan Andilan. Itulah daerah yang dilewati oleh Mpu Baradah, dan akhirnya sampai di Sagara Rupek.

Mpu Baradah harus menyeberang dari Sagara Rupek ke Bali. Masalahnya, saat itu tidak ada seorang pun yang bisa mengantarkan sebab disana mendadak sepi. Karena itu, Mpu Baradah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan menyeberang sendiri. Meski tidak ada perahu, bukan berarti proses penyeberangan tidak akan berhasil. Diambilnya daun Kalancang, diletakkan di atas air, lalu Baradah berdiri di atasnya. Penyeberangan dimulai.

Jangan bertanya bagaimana caranya Baradah menyeimbangkan diri di atas daun Kalancang. Jangan juga bertanya daun Kalancang yang bagaimana yang bisa tetap mengambang di atas air sementara di atasnya berdiri seorang manusia. Saya tidak tahu caranya. Tidak ada di dalam cerita disebutkan cara-cara teknis yang dilakukan oleh Baradah. Pokoknya, dengan bantuan daun Kalancang, lautan bisa diseberangi oleh Baradah. Daun Kalancang konon nama latinnya Artocarpus incisa.

Singkat cerita, akhirnya Baradah sampai di Bali. Tempat Baradah berlabuh di Bali bernama Kapurancak. Dari Kapurancak, Baradah berjalan menuju arah timur. Tempat yang ditujunya adalah Silayukti.

Tidak diceritakan tempat-tempat di Bali yang dilewati oleh Baradah. Di dalam cerita, pembuat cerita memotong penggambaran daerah-daerah itu. Entah apa sebabnya. Perjalanan dari Kapurancak menuju Silayukti, sangat menarik untuk dicari-cari. Barangkali kalau sudah menemukannya, kita bisa tahu peta Bali pada masa itu. Kita juga akan diberitahu, tempat-tempat yang menjadi petilasan Mpu Baradah di Bali. Masalahnya, adakah petunjuk yang bisa kita andalkan untuk pencarian ini? Mungkinkah tempat-tempat itu sudah menjadi Pura di Bali sebagaimana dilakukan belakangan?

Sesampainya di Asrama Silayukti, Baradah tidak langsung bertemu dengan Kuturan. Mpu Kuturan saat itu masih melakukan Yoga yang ketat. Yoga dalam konteks ini, tidak seperti Yoga yang sering kita lihat pada zaman kekinian. Yoga yang dilakukan Mpu Kuturan, pastilah dahsyat. Kita bisa melihat, berbagai sumber-sumber yang mengajarkan praktik Yoga. Sumber-sumber itu bisa disebut kuno. Contohnya: homa dhyatmika, swacanda marana, yoga nidra, dan lain sebagainya.

Kuturan tidak kunjung muncul dari tempatnya melakukan Yoga, maka Baradah menciptakan air sebatas leher Mpu Kuturan. Air ciptaan itu, tampaknya bukan persoalan bagi Mpu Kuturan. Ia tetap dengan teguh melakukan Yoga. Baradah segera menambahkan Semut Gatal pada air itu. Semua semut itu mengambang di atas air, dan bisa membuat tubuh gatal. Tetapi, Kuturan tetap tidak bergeming.

Air itu pelan-pelan surut dan mengering. Semut Gatal itu pun lenyap tidak bersisa. Tidak lama berselang, Mpu Kuturan keluar dari tempatnya beryoga. Baradah diterima dengan sangat baik, “Adikku Baradah, lama kita tidak berjumpa. Tentu ada tujuanmu datang kemari. Katakanlah.”

“Terimakasih kakakku Mpu Kuturan. Betul, aku memang hendak meminta keikhlasanmu. Ini tentang raja Jawa bernama Airlangga, bergelar Jatiningrat. Ada dua anaknya. Semoga berkenan agar diangkat menjadi Raja Bali salah satunya.”

“Tidak. Ya rikapan ana jageki makawaniha, kaprenah putu deninghulun, yeka jagadegaken mami ratw i bali [Nanti akan ada yang lain, dia masih merupakan cucuku, itulah yang akan aku jadikan raja di Bali],” kata Mpu Kuturan.

“Tapi seluruh kerajaan di Nusantara ini, patut menghaturkan upeti kepada Airlangga.”

“Apa? Aku bahkan tidak paham, mengapa seluruh kerajaan itu harus membayar upeti. Jika semua kerajaan itu membayar upeti, biarkan Bali tetap tidak! Kalau perlu, suka nghulun lurugen sabumeka [aku akan sangat senang menghancurkan seluruh bumi itu]. Kecuali, setelah aku mati nanti, terserah apakah ingin menyerang Bali.”

Mendengar ucapan Kuturan, Baradah mengerti kalau usahanya tidak akan berhasil. Ia lalu keluar dari asrama Silayukti itu. Baradah membuat gempa saat itu. Seluruh kerajaan Bali terkena gempa yang besar. Seluruh wilayah bergoncang. Hal itu membuat penduduk panik. Beberapa punggawa diperintahkan oleh raja Bali untuk menanyakan hal itu kepada Mpu Kuturan, apa gerangan yang sedang terjadi?

Baradah pergi dari Silayukti tanpa pamit. Segera, Kapurancak ditujunya. Ia ingin segera menyeberang. Tapi gagal. Daun Kalancang yang dikendarainya terus saja tenggelam. Berulang kali daun itu diletakkannya di atas air, lalu tenggelam berkali-kali. Ia seperti kehilangan kesaktian. Apa sebabnya?

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #6

Nyepi dan Wabah Covid19

Rangkaian menuju Nyepi di tahun 2020 kali ini berjalan sepi. Pasalnya rangkaian persiapan menyambut hari raya Nyepi diinstruksikan oleh berbagai pemerintah daerah untuk tidak mengadakan kegiatan membuat orang berkerumun dan berkumpul dalam jumlah banyak.

Di desa saya, sejak tanggal 15 Maret sudah ada imbauan untuk belajar dan bekerja di rumah. Tetapi di kantor desa tempat saya bekerja sebagai kantor pelayanan publik belum menerapkan sistem bekerja dari rumah. Kami para aparat desa dan staf masih masuk seperti biasa dan masih melayani warga di bidang administrasi. Sedangkan di tempat kerja saya di yayasan, les pun diliburkan selama dua minggu.

Meski demikian, kegiatan adat di banjar tetap berjalan hampir seperti biasa untuk kegiatan persiapan Nyepi. Kegiatan ngayah di Pura Puseh Desa Angkah masih berjalan. Memang di desa kami tidak ada kebiasaan membuat dan mengarak ogoh-ogoh, sehingga kami lebih fokus ke persiapan mecaru dan melasti. Bagaimanapun juga kegiatan ngayah itu adalah wadah berkumpulnya banyak orang. Saya sendiri datang ngayah tetapi hanya menyetor urak banten yang menjadi bagian saya. Ngeri juga membayangkan bahwa masyarakat masih mementingkan adat dan kepercayaan mereka daripada logika pencegahan penyebaran virus Corona.

Untuk melasti yang harusnya membawa pratima ke laut, tahun ini telah mendapat instruksi untuk dilakukan di beji yang ada di desa. Dari surat tersebut maka saya simpulkan kegiatan melasti tahun ini harus dilokalisir hanya di desa pakraman setempat. Biasanya desa kami melakukan melasti hingga ke Pantai Soka dan itu arak-arakannya bisa menggunakan truk, mobil dan motor. Jarak dari desa ke Pantai Soka ada sekitar 10 km. Saya takut juga membayangkan jika melasti berjalan seperti biasa di tengah wabah virus Corona ini, bisa-bisa warga desa kami dari berbagai penjuru yang merantau pada pulang kampung dan ikut melasti. Lalu para umat Hindu jadi satu bertemu di Pantai Soka, karena bukan warga desa kami saja yang melasti ke Pantai Soka.

Akhirnya iring-iringan melasti di Desa Angkah jalan ke Pura Pangkung Sakti sebagai pura segara desa. Pura Pangkung Sakti ini cukup dekat dari Pura Puseh, kurang lebih hanya 1 km. Jadi para pengiring bisa berjalan kaki dari Pura Puseh ke Pura Pangkung Sakti. Saya sendiri tidak ikut melasti, tetapi dari status Whatsapp yang saya lihat dari tetangga saya, ternyata yang ikut banyak juga! Bukannya dari surat edaran bersama dari Gubernur Bali, PHDI Dan MDA, peserta yang mengikuti melasti harusnya dibatasi?

Akhirnya hari Nyepi datang dan saya melakukan aktivitas di rumah saja, seperti yang sudah dilakukan oleh sebagian besar orang sejak datangnya penyakit akibat virus Corona di Indonesia atau sejak imbauan untuk membatasi aktivitas, hingga sekolah-sekolah dan kantor ditutup dan mulai menerapkan belajar dan bekerja dari rumah. Nyepi ini berjalan 24 jam, dari jam 6 pagi pada hari Rabu, 25 Maret 2020 hingga jam 6 pagi pada hari Kamis, 26 Maret 2020. Apa saja yang saya dan anggota keluarga saya lakukan di rumah?

Biasanya saya puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam, tetapi karena saya sedang tidak fit akibat sakit tenggorokan seperti kena flu, maka puasa tidak saya lakukan. Sebenarnya saya suka dengan konsep puasa untuk mendetoksifikasi badan dan saluran pencernaan saya, maka kali ini yang saya lakukan adalah membatasi makan dengan minum air putih dan makan buah saja. Selama hari Nyepi saya hanya makan buah pepaya dan buah naga serta minum air putih. Tidak makan yang lainnya.

Pukul 05.30 WITA saya bangun lalu minum air putih dilanjutkan dengan mandi. Setelah mandi, saya membuka halaman tutorial online untuk kuliah saya sampai pukul 06.15 WITA halaman tuton masih bisa diakses lalu akhirnya melambat dan terhenti. Akhirnya saya melanjutkan dengan kegiatan menulis blog tentang pengalaman saya, yang akan saya posting setelah post ini.

Lalu pukul 8.00 WITA saya melakukan latihan otot perut dengan aplikasi di HP yang bernama Abs Exercise selama 25 menit. Saya melakukan olah raga ditemani oleh Kalki, anak saya. Dia menghitung berapa jumlah repetisi yang saya lakukan. Saya sangat senang dan terbantu sekali dengan bantuan Kalki sehingga saya bisa fokus ke pernapasan dan otot tanpa lupa hitungan. Di sisi lain, adik Kavin sedang menggambar menggunakan Paint di laptop.

Pukul 09.00 WITA saya makan buah pepaya dan minum air putih. Setelah itu bercengkrama dengan anak-anak dan mengajak mereka belajar.

Pukul 10.00 WITA saya membaca buku kuliah Pengantar Statistik Sosial. Saya pikir kok relevan sekali dengan adanya wabah penyakit COVID-19 saya jadi banyak membaca data statistik di media.

Pukul 11.00 WITA anak-anak makan siang, sedangkan saya makan buah naga. Setelah itu saya ajak mereka untuk tidur siang. Eh, ternyata yang berhasil diajak tidur siang hanya Kalki, sedangkan Kavin masih asyik bermain dengan papa.

Pukul 13.00 WITA saya bangun tidur siang tetapi Kalki masih terlelap. Saya pun bangun untuk makan buah Pepaya dan ngobrol dengan suami.

Pukul 14.00 WITA saya kembali membaca buku modul Pengantar Statistik Sosial dan mengerjakan latihan soal hingga akhirnya menyelesaikan modul 2.

Pukul 16.15 WITA Saya selesai membaca buku materi kuliah dan ke halaman rumah untuk memandikan anjing peliharaan saya, Golden. Saat mau memandikan Golden, ternyata Kalki sudah bangun dari tidur siang dan ikut membantu memberi shampoo pada si guguk.

Pukul 17.00 WITA memandikan anak-anak.

Pukul 17.30 WITA saya melakukan yoga Surya Namaskar 12 putaran.

Pukul 18.00 WITA saya mandi. Lalu makan buah naga bersama Kavin. Dan anak-anak pun makan soto ayam dan ketipat yang udah dipersiapkan sehari sebelum Nyepi. Lalu saya belajar kembali, kali ini materi Writing 4, Unit 1 tentang Prewriting.

Menjelang malam, welcome to the absolute darkness! Saya selalu suka dengan gelap gulitanya malam Nyepi, karena saya bisa lihat bintang di luar.

Pukul 19.30 WITA Saya ajak anak-anak lihat bintang di halaman. Saya pun berbincang-bincang dengan suami sambil mengagumi indahnya bintang. Saya bergumam, “kira-kira di tata bintang lainnya ada peradaban tidak ya seperti di tata surya kita? Planet kita sedang diserang wabah Corona.”

Suami saya menjawab, “Bintang di luar angkasa itu jumlahnya lebih dari jutaan, ya kemungkinan dari jumlah sekian bisa terdapat peradaban seperti di tata surya kita.”

Saya berkata sambil menerawang ke bintang yang bertaburan di bagian langit selatan, “bagaimana ya keadaan peradaban di luar sana?”

“Kurang lebih ya sama seperti peradaban kita.” Kata suami saya.

“Pengen tau bagaimana tingkat peradabannya, spesiesnya, dan keadaan alam planetnya.” Jawab saya sambil berlalu menyudahi menikmati bintang di angkasa.

Saat melihat bintang, Kalki dan Kavin juga bergumam terpesona dengan indahnya kelap-kelip cahaya di angkasa. Tetapi Kalki dibarengi dengan tingkah polahnya lompat-lompat dan ambil posisi berdiri sambil setengah jungkir-balik di atas rumput halaman.

Pukul 20.00 WITA Saya gosok gigi, anak-anak pun demikian, lalu kami sekeluarga bercengkrama di dalam tenda yang telah dibuatkan suami untuk anak-anak di ruang keluarga. Tendanya terbuat dari pondasi 4 buah kursi dan bangku panjang sebagai tulang atap lalu ditutup oleh sprei. Tenda ini sudah dibuat dari sebelum hari Nyepi untuk wahana bermain anak-anak supaya mereka tidak bosan.

Dari yang awalnya tenda hanya beralaskan matras Kalki dan Kavin, hingga pas hari Nyepi tenda tersebut sudah dilengkapi kasur. Kata suami, semalam sebelumnya Kavin minta tidur di tenda, tapi karena hanya beralaskan matras, badan suami saya jadi sakit semua. Saat suami kesakitan badannya tidur di lantai beralaskan matras, dia minta pindah ke kamar, tetapi Kavin nggak ngasih! Pas suami nanya, “Kavin badannya sakit nggak, tidur disini?”, Kavin menjawab, “Enggak.”

Akhirnya malam penghujung hari Nyepi saya yang diajak Kavin untuk tidur di tenda, sedangkan Kalki dan suami tidur di kamar. Begitulah saya dan keluarga menjalani hari Nyepi dan memaknainya. Saya berusaha memaknai hari Nyepi sebagai hari untuk merefleksikan diri dan berkontemplasi. Saya juga sempat memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai apa itu hari Nyepi dan apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya mereka lakukan pada hari Nyepi. Tapi ya namanya anak-anak, mereka masih aja suka bermain sambil teriak-teriak heboh dan ketawa cekikikan keras.

Keadaan selama hari raya Nyepi sebagai hari tahun baru Saka Umat Hindu memang dirayakan dengan tenang dan menyepi diri dari kehingar-bingaran atau pesta. Saya maknai tujuannya adalah menjauhkan diri dari keduniawian atau hedonisme sejenak. Tidak boleh bekerja, tidak boleh menyalakan api, tidak boleh bepergian dan tidak boleh mencari hiburan. Keadaan seperti itu adalah kesempatan untuk berhenti dari kesibukan yang sudah terpola bagi manusia masa kini hidup di dunia. Itulah kesempatan untuk menenangkan diri dan merenungkan kehidupan. Menghubungkan diri dengan alam dan Tuhan secara spiritual.

Maka selama Nyepi kali ini, hampir tetap saya berjalan seperti sebelumnya, yaitu tidak ada siaran televisi, tidak ada akses internet, tetapi aliran listrik tetap ada. Suara kendaraan bermotor di luar pun sama sekali tidak ada, tidak ada suara anak-anak bermain di jalan, dan tidak ada tetangga yang menyetel musik keras-keras atau pun memainkan alat musik rindik. Semuanya hening.

Keadaan Nyepi di Bali lebih ketat dari pada Nyepi di Jawa. Saya ingat dulu waktu masih merayakan Nyepi di Jawa, saat saya masih kecil masih bisa nonton TV di rumah dengan mama dan adik saya. Mau keluar rumah pun tidak takut ada pecalang yang akan menegur. Saat masih kecil mama saya selalu menyediakan stok makanan dan cemilan-cemilan untuk anak-anaknya. Tetapi semakin besar semakin diajarkan untuk berpuasa seharian oleh orang tua dan oleh guru agama di sekolah.

Kini saya sudah 8 kali merayakan Nyepi di Bali sejak menikah tinggal di Bali, dan hingga Nyepi kali ini, menyalakan kompor dan lampu masih saya lakukan di rumah untuk keperluan yang penting. Tapi kami tidak membuat masakan apa-apa, hanya menghangatkan masakan yang sudah dipersiapkan dari hari sebelum Nyepi. Karena bagi saya mematikan api bagian dari catur brata penyepian adalah mematikan api yang di dalam diri sendiri, bukan hanya secara simbolis mematikan api kompor dan api penerangan di rumah. Dan yang paling tau mengenai rumah terkecil kita yaitu badan kita tempat jiwa bernaung adalah diri kita sendiri.

Selamat Tahun Baru Saka 1942~

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #6

Ekspresi tari Calon Arang/id.wikipedia.org

Ajaran kalepasan akan diberikan Baradah kepada Airlangga. Sebelum itu, ada syarat yang harus dipenuhi sang raja yakni “mempersiapkan Sang Hyang Dharma.” Dharma sudah lama menjadi kata yang abstrak. Ada banyak terjemahan Dharma jika dicari dalam kamus.

Dalam teks Calon Arang, yang dimaksud dengan Dharma adalah menggelar asurud ayu dan meninggalkan budi yang buruk. Asurud ayu, berarti memohon kesucian dan menjadi pendeta. Meninggalkan budi buruk maksudnya berperilaku adil semenjak dari dalam pikiran.

Melakukan surud ayu, berarti Airlangga akan dinobatkan sebagai pendeta. Jika hendak menanggalkan budi buruk, ada yang harus diperhatikan oleh raja demi belajar kalepasan: bangga [sombong], kuhaka [tidak sopan], paradara [zinah], caracara mareda [kebiasaan moral], dremba [serakah], moha [bingung], lobha [tamak], damacreyan [pengendalian diri], tresna gang [tangkai ikatan], sungsut [marah]. Semua itulah yang mesti diperhatikan oleh Airlangga. Semuanya berpusat pada pikiran dan perilaku yang baik. Inilah susila, inilah etika. Jelaslah mengapa ada yang mengatakan jika ingin belajar kalepasan, tamatkan dulu pelajaran moral, susila.

Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh Airlangga jika ingin belajar kepada Baradah? Jumlahnya disebut Pirak Sabuwana. Pirak Sabuwana berarti perak sedunia. Juga disebut dengan istilah Pongkab Sabda. Pongkab Sabda berarti pembuka suara, maksudnya pembuka ucapan.

Pongkab Sabda ini terdiri dari nista [kecil], madya [menengah] dan utama. Sepaha [1.600] adalah nista. Patang iwu [4.000] adalah madya. Walung iwu [8.000] adalah utama. Yang paling utama dari yang utama adalah walung laksa [80.000]. Tapi, menurut Baradah meskipun tanpa Pirak Sabuwana itu pun, Airlangga bisa belajar. Caranya adalah dengan memiliki kesungguhan belajar, tidak pernah merasa bosan dan lelah, jika disuruh oleh guru pasti dilakukan, dan tidak membantah perintah. Siswa yang memiliki klasifikasi itulah yang disebut siswa utama.

Menurut tradisi, murid yang baik adalah murid yang tidak melawan perkataan guru. Murid itu pun harus memiliki kesungguhan belajar. Kesungguhan belajar bisa dicek lewat keseharian. Apakah murid-murid itu sudah tepat waktu? Sudahkan mereka belajar menjaga susila? Jika memang betul seorang murid diperiksa oleh gurunya, di dunia ini tidak akan ada murid yang dengan mudah melewati beraneka rangkaian ujian.

Hubungan guru dan murid dalam konteks ini adalah hubungan guru-murid spiritual. Jika ada suatu kaum spiritual yang murid-muridnya bertindak amoral, artinya ia tidak benar-benar melewati ujian ketat gurunya. Pada akhirnya, gurunyalah yang harus diperiksa. Caranya memeriksa, salah satunya dengan membandingkan apa yang ditulis dalam sumber-sumber sastra dengan perilakunya. Tapi, apakah seluruh garis perguruan spiritual di dunia ini memiliki sumber yang jelas?

Mari kita tinggalkan sejenak pertanyaan tadi. Sekarang kita baca lagi, apa yang dilakukan oleh Airlangga ketika diberitahu perihal syarat-syarat menjadi murid. Ternyata Airlangga memutuskan, “hamba akan membayar sebanyak 8.000 Tuanku.” Sudah diputuskan, bahwa Airlangga yang konon menguasai Nusantara itu akan membayar 8.000 perak kepada Baradah.

Baradah lalu mengajarkan Airlangga tentang bunga [tingkah ikang puspa], katanya “Bukan beringin yang paling sakti. Susun 27 sirih dan oles dengan kapur. Letakkan pada sangku [mangkuk] emas. Di puncaknya isi permata mirah, lengkapi dengan sekar ura [bunga taburan] emas, dan perak yang bersinar lembut. Tempa agar tipis lalu potong, bijinya adalah mirah seadanya.”

Itulah yang disiapkan oleh raja, tujuannya agar semua orang di dunia tunduk di hadapannya. Saya tidak menemukan petunjuk apapun untuk menjelaskan perlengkapan upacara ini. Saya juga tidak ingin berasumsi bahwa pada masa teks Calon Arang ditulis, ada praktik-praktik mistik yang dilakukan oleh raja demi tunduknya musuh dan rakyat.

Di dalam tradisi Bali, saya hanya pernah mendengar bahwa memang ada suatu ritual yang bisa dilakukan agar orang-orang terkagum-kagum, tertunduk-tunduk. Ilmunya konon disebut panangkeb. Untuk lebih jelasnya, silahkan tanyakan kepada para praktisi. Saran saya, jangan tanyakan pada yang pura-pura praktisi.

Raja Airlangga tidak sendiri disucikan, tapi beserta permaisuri yang tidak disebutkan namanya. Dalam proses penyucian itu, konon para Rsi dari langit juga datang untuk menyaksikan peristiwa bersejarah itu. Airlangga, raja gagah perkasa yang konon menjadi pelindung Mpu Kanwa kini disucikan oleh Mpu Baradah.

Baradah meminta raja untuk mendekat, lalu berkata “Aku belum melakukan puja homa [angomani] padamu sampai aku sedepi basaja.” Sedep berarti menyenangkan terkait bau, rasa atau perilaku sopan santun. Basaja berarti alami, polos, sederhana, jujur, tulus. Sedepi basaja berarti menyenangi kesederhanaan. Mpu Baradah menyenangi kesederhanaan, kejujuran, ketulusan yang ditunjukkan oleh Airlangga. Karena itu pula dengan senang hati Baradah memberi gelar pada Airlangga sebagai Jatiningrat.

Upacara dilanjutkan dengan memindahkan bunga yang telah disiapkan tadi. Bunga-bunga itu didasari dengan emas lalu kengsar tiga kali. Kengsar diterjemahkan menjadi ‘digetarkan’. Barangkali maksudnya disentuh-sentuhkan sebanyak tiga kali pada bagian tubuh Airlangga dan permaisurinya. Prosesi menyentuh-nyentuhkan peralatan upacara masih bisa ditemukan dalam ritual pabayuhan atau ngotonin dalam tradisi Bali. Fungsinya memang sebagai ritual penyucian.

Airlangga lalu diajarkan tentang kelahiran [dumadi] dan tidak dilahirkan [tan daden]. Sayangnya ajaran ini tidak dijelaskan secara terperinci dalam teks Calon Arang. Airlangga juga diajarkan cara bertapa di kerajaan [atapeng rajya] dan bertapa di hutan gunung [atapeng giri wana]. Dua jenis cara bertapa ini juga tidak dijelaskan lebih lanjut oleh pencerita, mungkin karena bersifat teknis. Ajaran-ajaran yang tidak dijelaskan dalam teks, barangkali bisa kita cari dalam teks lain.

Baradah juga mengajarkan tentang Catur Asrama: Agrahastana, Awanapastra, Abiksukana, Brahmacarina. Menurut teks Calon Arang, masing-masing bagian dari Catur Asrama memiliki pengertian. Pengertiannya adalah sebagai berikut.

Agrahastana artinya wiku [pendeta] yang menikah, memiliki anak serta cucu. Awanapastra artinya yang menyepi [adukuh] di hutan. Adukuh dalam hal ini berarti melakukan kerja atau kegiatan sebagai dukuh. Dukuh berarti orang yang menyepi di hutan. Dalam teks Calon Arang, orang yang menjalankan Wanaprasta [Dukuh] adalah orang yang ‘maryamangan yan tan olihnya angrenggut suket godong kanang dukuhnya’ [tidak lagi makan jika tidak didapatnya memetik daun semak di padukuhannya].

Artinya, orang yang menjalankan janji diri [brata] sebagai Dukuh, menurut teks Calon Arang menjauh dan menyepi ke tempat sepi. Ia akan berhenti makan, jika seluruh dedaunan dan semak-semak yang ada di padukuhannya sudah tidak ada lagi. Lebih tegas lagi, teks Calon Arang menyatakan ‘matya uripa, tan kencak pwa ya sakeng sana’ [saat mati atau hidup, tidak pindah dari tempatnya]. Dukuh berarti pendeta yang menyerahkan dirinya kepada semesta.

Tempat yang layak menjadi padukuhan menurut teks Sewasasana adalah hutan. Tetapi bukan sembarang hutan yang boleh dijadikan padukuhan. Idealnya, padukuhan dibangun dengan syarat ‘lamun alas wus ?inukuhan de ning wong len, haywandukuhi’ [jika hutan yang telah dihuni [dinukuhan] oleh orang lain, jangan ditempati]. Memang sulit. Justru karena sulit, hal itu disebut brata. Tidak ada brata yang mudah dilakukan. Yang mudah, hanya mengatakan.

Abiksukana artinya pendeta yang menikmati kesejahteraan [mahapandita mukti]. Ia boleh membunuh [wenang amatyani]. Boleh memiliki pelayan secukupnya [wenang adrewya kawula]. Boleh beristri dan berhubungan seksual [mapatni majajamaha]. Pendeta yang demikian tidak boleh dihukum oleh raja, sebab memang ada aturannya demikian. Pendeta jenis ini tampaknya diberikan kebebasan dalam artian yang luas. Teks Calon Arang, tidak menjelaskan syarat bagi seseorang yang ingin menjalankan brata sebagai pendeta abiksukana. Tidak dijelaskan, bukan berarti tidak ada.

Brahmacarina, dapat dibagi menjadi empat jenis. Pertama, Suklabrahmacari berarti anak yang Lebu Guntung. Lebu Guntung berarti belum tahu rasa nasi dan daging, belum tahu rasa berhubungan suami istri. Anak Lebu Guntung ini belajar tentang ajaran sedari kecil, itulah Suklabrahmacari.

Kedua, Tan Tresnabrahmacari berarti orang yang dahulu memiliki pikiran sombong, tidak sopan, lalu mendapatkan ajaran kebaikan [warah ayu], merasakan rasa sekecap dua kecap, karena itu dirasa penuh olehnya. Karena rasa yang utama itu telah dirasakannya, ia memutuskan untuk meninggalkan asalnya, juga meninggalkan anak-istri tanpa sebab, lalu ia belajar sungguh-sungguh tentang ajaran. Tan Tresna berarti tidak terikat.

Ketiga, Sawalabrahmacari artinya jalan yang ditempuh oleh orang yang berselisih paham dengan pasangannya. Ia dikalahkan dan merasa malu jika mengadu kepada tuannya. Tetapi tidak dibenarkan jika malu, lalu ia belajar sungguh-sungguh.

Brahmacari Temen, artinya sang wiku yang memahami seluruh rasa. Ia juga paham jalan keluar masuk di dunia. Intinya, segala ajaran telah berhasil dipahaminya. Begitu juga dengan hakikat Darma.

Keempat tahapan hidup menurut teks Calon Arang, dijalani oleh orang yang disebut sebagai wiku. Seorang wiku adalah seorang pendeta. Teks Calon Arang pada bagian ini sedang menjelaskan tentang aturan-aturan yang mestinya dipelajari oleh pendeta. Jika semua aturan ini dipelajari oleh pendeta dan calon-calon pendeta, entah bagaimana jadinya.

Saya meyakini, dalam satu garis perguruan kependetaan ada aturan-aturan yang sudah ditetapkan, disepakati dan dijalani. Aturan-aturan semacam itu mestinya ditulis dalam sebuah sasana. Jadi akan ada rujukan tekstual yang bisa dijadikan pedoman dalam dunia kependetaan. Dengan begitu, yang menjadi pendeta memang orang-orang terpilih dan mampu menjadi mataharinya dunia. Bukankah tujuan menjadi pendeta adalah untuk mencapai pencerahan? Bukankah kecerahan itulah yang disebut sebagai Widya? Bukankah Widya adalah terjemahan untuk pengetahuan? Menjadi pendeta berarti membadankan pengetahuan.

Setelah upacara selesai, Baradah hendak kembali ke pertapaannya di Lemah Tulis. Airlangga menghaturkan biaya belajar, tapi tidak sesuai dengan janjinya. Airlangga mempersembahkan 50.000 yatra, 50 pakaian lengkap, emas, permata, juga pengikut di antaranya: pekerja sawah 100 orang, pemahat 100 orang, kerbau, sapi.

Apa yang dimaksud dengan kawula [pengikut] oleh teks Calon Arang? Apakah budak? Perbudakankah?

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #5

sumber: wayang.wordpress.com

Sebatang pohon beringin besar hancur hanya karena ditatap oleh Calon Arang. Penghancuran beringin itu bertujuan untuk menunjukkan kesaktian pada besannya.

Bukannya takut, Baradah justru meminta Calon Arang untuk menunjukkan kesaktian yang lebih dahsyat. Tidak tanggung-tanggung, Calon Arang mengeluarkan api dari tubuhnya. Api berkobar keluar dari mata, hidung, telinga, dan mulut Calon Arang lalu membakar Mpu Baradah. Sedikit pun, Baradah tak bergeming. Tidak ada rasa panas dirasanya. Kini giliran Baradah membalas, ia memakai Hastacapala.

Apakah Hastacapala? Hastacapala menurut kamus, berarti perbuatan kasar dengan tangan. Singkatnya, mungkin sejenis tinjuan. Tapi saya masih ragu kalau Hastacapala hanya sekadar tinjuan semata. Sebab hanya dengan sekali serang saja, Hastacapala mampu mengalahkan Calon Arang. Entah tinjuan sedahsyat apa yang mampu mengalahkah Calon Arang hanya dengan sekali serang.

Calon Arang tak berkutik. Ia mati di tempatnya berdiri. Baradah sadar, ia belum menyampaikan ajaran kalepasan pada Calon Arang. Karena itu, Calon Arang dihidupkan kembali. Yang dihidupkan, bukannya senang malah marah pada Baradah. “Kenapa kau hidupkan aku kembali?”

Dari pertanyaan Calon Arang, kita tahu kalau orang mati belum tentu suka dihidupkan kembali. Mengapa? Barangkali karena Calon Arang tahu, hidup ini hanya untuk ‘menikmati ikatan’ suka dan duka. Mungkin saja dia bosan, karena seolah dipaksa menikmati ikatan hidup. Atau karena ia paham, jika hidup belum cukup hanya dengan menikmati suka-duka tapi juga sakit [lara] dan mati. Terus saja begitu.

Baradah menjawab, “Karena aku belum menyampaikan ajaran kalepasan padamu. Belum menunjukkan surgamu. Belum pula ku sampaikan cara menghilangkan segala penghalangmu. Yang terpenting kau belum paham tentang putusnya ajaran. ”

Dari jawaban Baradah, kita tahu bahwa ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang ingin mati dengan cara yang benar. Menurut Baradah, setidaknya seseorang harus menguasai ajaran kalepasan. Ajaran kalepasan, berarti ajaran yang menunjukkan cara melepaskan ruh dari tubuh. Ajaran ini banyak ditulis pada lontar-lontar yang kini diwarisi di Bali. Sayangnya, ajaran kalepasan tidak boleh dipelajari tanpa pengawasan yang ketat dari guru. Ternyata hidup menikmati ikatan tidak mudah, belajar cara mati tidak gampang.

Melepaskan ruh dari tubuh mengisyaratkan bahwa tubuh adalah ikatan bagi ruh. Penjelasan mengenai hal ini, bisa dicari-cari pada teks-teks kalepasan. Terutama teks-teks yang menjelaskan perihal kasunyatan.

Salah satu penjelasannya, kenapa tubuh disebut sebagai ikatan terdapat di dalam teks Wrehaspati Tattwa. Tubuh disebut sebagai Yoni. Yoni adalah penyebab manusia terlahir. Konon, Yoni inilah sebagai hasil segala jenis perbuatan. Singkatnya, tubuh berasal dari segala jenis perilaku yang dilakukan manusia. Mulai dari makanan, minuman, pikiran, perkataan dan sebagainya. Karena melakukan berbagai macam hal mengakibatkan ikatan, maka ada juga ajaran yang mengajarkan agar manusia mendiamkan segala potensi geraknya. Tujuan pendiaman itu, adalah mempersedikit ikatan karma. Contoh usaha pemberhentian karma itu adalah tidak makan, tidak minum, tidak bergerak, tidak berucap, tidak berpikir.

Dalam teks Calon Arang, tidak dijelaskan secara spesifik apa saja ajaran yang dimaksud oleh Baradah. Ceritanya sangat singkat, tiba-tiba Calon Arang diceritakan telah berhasil menguasai seluk beluk kematian [tingkeng kapatin]. Setelah segala ajaran Baradah dipegang teguh, Calon Arang merasai dirinya telah dilukat. Dilukat berarti dibersihkan secara lahir dan batin. Tidak ada lagi kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Calon Arang yang telah dilukat itu, lalu mati. Dia mati setelah memberikan penghormatan di kaki Baradah. Jadi, Calon Arang mati bukan karena dibunuh oleh Baradah. Tapi atas dasar kesadarannya sendiri. Barangkali ilmu kalepasan itulah yang dipraktikkan oleh Calon Arang. Setelah lepas, Calon Arang masih menyisakan jasad. Jasadnya dibakar oleh Baradah. Dua murid kesayangan Calon Arang, Weksirsa dan Mahisawadana tidak dapat dilukat begitu saja oleh Baradah. Mereka harus dijadikan wiku.

Menarik juga struktur cerita Calon Arang sampai pada titik ini. Sebab Calon Arang yang dikatakan keji karena telah membunuh banyak orang, bisa dilukat oleh Baradah dengan ajarannya. Tapi justru muridnya, Weksirsa dan Mahisawadana tidak bisa dilukat dengan cara yang sama. Malah keduanya harus menjadi wiku. Menjadi wiku berarti menjadi pribadi yang telah berhasil melepaskan kulit-kulitnya. Apakah yang dimaksud kulit? Salah satunya adalah wangsa. Salah duanya adalah wasana [sisa-sisa karma]. Struktur cerita ini, sangat mirip dengan teks Aji Terus Tunjung. Pada teks Aji Terus Tunjung, pelakunya adalah Bhatari Durga yang diiringi oleh Ni Maya Kresna [disebut juga dengan Batur Kalika]. Bhatari Durga berhasil dilukat oleh Sahadewa, sedangkan Maya Kresna tidak. Ia mesti mencari Wiku Sangkan Rare agar bisa kembali menjadi bidadari. Apakah yang dimaksudkan oleh kedua cerita itu? Apakah agar bisa dilukat, orang mesti menjadi wiku atau menjadi sekelas wiku?

Saya belum tahu jawabannya sekarang. Tapi saya yakin, ada sesuatu yang disembunyikan secara sangat rahasia lewat kedua cerita tadi. Karena begitulah tugas cerita, ia menyembunyikan yang ada. Hanya dengan membaca dan mencari rujukan lain segala yang tersembunyi itu bisa diungkap. Sayangnya, setelah rahasia-rahasia itu diungkap, tidak kepada sembarang orang hasil pengungkapan boleh diberitahukan. Alasannya barangkali agar rahasia tetap menjadi hal yang menarik untuk dicari-cari, digali-gali, dipaham-pahami. Dengan begitu, cerita tidak berhenti pada satu otak.

Cerita berlanjut, Bahula lalu dipanggil oleh Baradah dan diberitahu tentang kematian mertuanya. Bahula diberi tugas menyampaikan kematian Calon Arang dan pertobatan kedua murid Calon Arang kepada Raja Airlangga. Pertobatan itu dalam teks diistilahkan sebagai anyurud ayu. Istilah itu jika diterjemahkan, menjadi ‘memohon anugerah’ meski tidak benar-benar tepat. Kata Anyurud sebenarnya kata kerja yang berkata dasar surud.

Di Bali, kata ini lebih sering digunakan dengan pola surudan [sesajian yang telah dipersembahkan]. Karenanya, apapun yang dipersembahkan, itulah yang disurud [ditunas, dimohon kembali]. Maka anyurud ayu bisa berkonotasi sisa-sisa persembahan kebaikan [ayu] yang dimohonkan kembali [disurud]. Di dalam kamus, anyurud ayu berarti memohon anugerah agar disucikan menjadi pendeta.

Kenapa bukan Baradah yang menyampaikan berita itu langsung kepada Raja? Karena Baradah masih disibukkan dengan segala jenis upacara pembersihan di tempat tinggal Calon Arang. Terutama sekali terhadap Banaspati milik Calon Arang akan dilakukan upacara pembersihan. Banaspati itu nantinya agar dipuja oleh seluruh orang yang ada di Jirah.

Saya tidak tahu pasti apa yang dimaksud dengan Banaspati milik Calon Arang. Nama Banaspati pernah saya baca, tapi tidak berhubungan dengan Calon Arang. Nama itu ada di dalam teks Kanda Pat. Nama Banaspati dalam teks Kanda Pat bukanlah sebentuk patung, peliharaan, atau tempat, tapi nama salah satu saudara yang dilahirkan bersama dengan manusia. Jadi saya belum menemukan satu petunjuk apapun mengenai Banaspati yang dimaksud dalam teks Calon Arang ini. Yang lebih menarik lagi, Banaspati dalam teks Calon Arang konon akan dipuja oleh orang-orang di Girah setelah disucikan oleh Baradah.

Baradah melakukan penyucian itu, tidak sendirian tapi dibantu oleh Kanuruhan. Segala jenis biaya yang ditimbulkan dari usaha upacara penyucian itu, ditanggung oleh raja. Semuanya. Setelah berhasil disucikan, tempat itu bernama Rabut Girah. Baradah diiringi Kanuruhan dengan menaiki kuda merah lalu kembali ke kerajaan. Mereka disambut dengan sangat baik.

Raja Airlangga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia memohon kepada Baradah agar diajarkan seluk beluk ajaran kalepasan. Tidak mudah ajaran itu bisa didapat, ada syarat yang harus dipenuhi oleh sang Raja. Syaratnya terdiri dari sikap dan perlengkapan berguru. Ada beberapa syarat yang disebutkan dalam teks secara mendetail. Karena sangat panjang prosesi dan syarat itu, sebaiknya kita bicarakan nanti.