Membangkitkan Seni Ukir Guwang melalui Ragam Workshop Inklusif

Penjelajahan berbagai medium untuk mengingat memori Guwang sebagai desa dengan seni ukir ini dilakukan dengan beragam cara. Kegiatan ini juga membawa pesan kesenian yang inklusif untuk anak-anak disabilitas. Mulai dari workshop, diskusi, sketsa, lino cut, dan mono print.

I Made Susanta Dwitanaya, kurator pameran INKLUSI menyatakan pameran sebagai sebuah peristiwa mengandung berbagai layer pemaknaan. Sebagai ruang apresiasi seni sekaligus sebagai sebuah wahana terjadinya transfer pengetahuan yang bersifat terbuka dan cair.

Kulidan Kicthen Space sebagai salah satu ruang kreatif sedari awal dihadirkan dan digerakkan oleh semangat inisiatif sebagai ruang yang bersifat terbuka terhadap berbagai kemungkinan peristiwa kebudayaan. Kulidan selalu berusaha menjadi salah satu ruang kreatif yang mewadahi banyak peristiwa seni lintas disiplin dan juga berbagai program seni dan kebudayaan yang didalamnya terdapat aspek edukatif seperti kegiatan workshop seni rupa untuk anak anak secara berkala dan berkelanjutan.

INKLUSI adalah pameran seni rupa hasil beberapa kegiatan workshop yang diselenggarakan di ruang ini yang melibatkan anak anak, remaja dan anak berkebutuhan khusus. Mulai dari anak anak di sekitar desa Guwang sebagai lokus tempat Kulidan ini berdiri maupun anak anak dan remaja dari berbagai sekolah dan komunitas di Bali.

Sebelum pameran ini terjadi Yayasan Rumah Berdaya Saraswati dan Kulidan Kitchen Space menginisiasi serangkaian kegiatan workshop yang menjadikan ornamen sebagai sebuah tema umum yang diturunkan menjadi tiga kegiatan workshop. Dimulai dengan workshop menggambar ornamen, workshop membuat ornamen dengan pendekatan grafis (printmaking) melalui teknik cetak tinggi (cukil) dan monotype, serta workshop mengukir ornamen dengan material batu padas.

Pemilihan ornamen sebagai sebuah tema dan materi pokok dalam peristiwa workshop dan pameran ini bertimbang pada aspek historis dan sosial masyarakat terdekat tempat ruang Kulidan Kitchen Space ini berdiri yakni Desa Guwang, sebagai salah satu desa di Bali yang dikenal dengan tradisi dan aktivitas mengukir dan menjadi salah satu basis pertumbuhan dan perkembangan seni ukir di Bali.

Beberapa situs yang ada di Desa ini seperti Pura Dalem, Pura Desa dan Puseh, serta beberapa situs lainya memperlihatkan jejak jejak peninggalan kegemilangan seni ukir desa Guwang. Jejak jejak tersebut juga terekam dalam memori kolektif masyarakat Desa Guwang dimana sebagaian besar masyarakat Desa ini punya ingatan tentang bagaimana mereka melakukan aktivitas mengukir sejak masa kanak kanak.

Memori kolektif ini masih dirasakan terutama oleh anak anak yang tumbuh hingga dekade 90an. Namun mulai terkikis di memori anak anak yang lahir dan tumbuh di dekade 2000an kedepan. Bertimbang dari kondisi tersebutlah maka Yayasan Rumah Berdaya Saraswati dan Kulidan Kitchen Space berinisiatif untuk melakukan sebuah upaya membangkitkan memori dan pengalaman kolektif ikhwal seni ukir dengan pendekatan edukasi berbasis program kesenirupaan seperti workshop dan bermuara pada kegiatan pameran ini.

Melalui kegiatan workshop dan pameran ini diharapkan mampu menjadi pemantik dengan memperkenalkan kembali seni ukir kepada anak anak dan remaja hingga diharapkan dimasa yang akan datang anak anak dan remaja di Desa Guwang tertarik untuk meneruskan dan mengembangkan kembali seni ukir yang pernah sedemikian masif berkembang di Desa Guwang.

Sebagai sebuah peristiwa kesenirupaan yang mengedepankan aspek edukasi dalam kesadaran dan semangat terbuka dan inklusif dalam setiap kegiatan workshop juga melibatkan partisipasi dari peserta kalangan difabel dan anak berkebutuhan khusus. Pameran ini juga dirancang sebagai sebuah pameran yang tidak hanya menampilkan hasil karya tapi juga serangkaian informasi tentang bentuk-bentuk dan jenis jenis ornamen, alat, dan berbagai pengetahuan lainya tentang ornament yang diharapkan mampu menjadi ruang belajar bersama bagi anak anak dan generasi muda dalam semangat kebersamaan dan inklusifitas.

Tradisi ukir yang makin memudar

Sedangkan I Komang Adiartha, Founder Kulidan Kitchen Space memberi catatan prosesnya. Dalam Menjalankan program ini, Yayasan Rumah Berdaya Saraswati, bekerja sama dengan Kulidan Kitchen & Space. Adapun tema dari program ini adalah Pemanfaatan Kulidan Art Space Sebagai Sarana Untuk Proses Kreasi dan Apresiasi yang Inklusif.

Untuk merealisasikan program ini, dirancang rangkaian program mulai dari Seminar, Workshop Menggambar Ornamen Bali, Workshop Lino Cut dan Mono print: Ornamen Bali dan Workshop Mengukir Batu Padas: Ornamen Bali. Program seminar, yang menjadi target sasaran adalah Lembaga-lembaga yang memiliki program yang berkaitan dengan anak dan remaja difable dan berkebutuhan khusus, serta lembaga-lembaga yang aktif dalam memperjuangkan inklusifitas, para orang tua anak dan remaja difable dan anak serta remaja berkebutuhan khusus, juga para akademisi.

Video workshop oleh BaleBengong https://www.instagram.com/reel/Chrm-K0pMsb/?igshid=YmMyMTA2M2Y= 

Sedangkan untuk workshop, tema yang diambil adalah tentang Ornamen Bali. Mengapa Ornamen Bali. Karena lokasi Kulidan Art Space, berada di desa Guwang. Desa Guwang memiliki tradisi mengukir Ornament Bali yang sudah terkenal. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bangunan Candi Bentar yang ada di pura Dalem dan Pura Desa Guwang, dimana kedua candi bentar ini dipenuhi dengan ukiran ornamen di bagian bangunan candi.

Desa Guwang juga memiliki seniman patung dan ukir yang diakui kehebatanya. Para seniman ini banyak melakukan proses pembuatan candi ataupun mengukir candi di beberapa daerah. Yang sampai saat ini jejak karya mereka masih dapat dilacak, karya-karya mereka dapat dilihat di pura Purnama, Sukawati. Selekarang, di Bukit Jangkrik, Gianyar. dll.

Dari penuturan salah satu tokoh seniman Bapak Made Ritug, yang saat ini sudah berumur lebih dari 90 tahun, bahwa beliau menuturkan dulu banyak pekerjaan mengukir dan mematung yang beliau lakukan, baik dengan mengambil upah atau dengan ngayah. Bukti ketiga adalah, dengan didirikannya sekolah dekorasi ukir pertama di Guwang,

Kemudian sekolah ini berubah menjadi SMIK (Sekolah Menengah Industri Kerajinan). Dari hasil diskusi yang kami lakukan dengan team Yayasan Rumah Berdaya Saraswati dan Kulidan Kitchen Space, kami melihat permasalahan, saat ini khususnya di desa Guwang, dan Bali Pada umumnya, adalah ketrampilan mengukir sudah sangat langka, terutama untuk generasi muda yang lahir diatas tahun 2000an, sangat jarang yang bisa mengukir.

Kondisi ini, berbeda dengan generasi sebelumnya di mana mengukir dijadikan sebagai mata pencaharian di samping, bertani dan berdagang. Permasalahan kedua, adalah bahwa jarang, anak-anak muda yang memahami filosofi dari ukiran yang mengiyasi bangunan-bangunan purbakala yang ada. Kondisi ini dikarenakan minimnya akses informasi dan ketersediaan arsip ataupun literasi tentang hal ini, masih sangat terbatas.

Untuk merespon permasalahan tersebut, kami menyelenggarakan workshop menggambar dengan tema Ornamen Bali. Workshop menggambar diselenggarakan, karena untuk dapat mengukir, diawali dengan membuat sketsa, dalam istilah Balinya “mengorten”. Dengan kemampuan gambar ini, akan dapat diimajinasikan tentang pencahayaan, gelap-terang dan antara yang di atas atau yang dibawah (yang dihilangkan) atau dalam istilah balinya, Yang di “aed”. Pengetahuan ini akan sangat berguna ketika mengukir, untuk membentuk kontur, overlapping, dan tekstur dari ukiran tersebut.

Setelah memiliki skil menggambar, workshop ke 2, yang diselenggarakan adalah Workshop Lino Cut dan Mono Print, dengan tema Ornamen Bali. Pemilihan Worshop Lino Cut, dimaksudkan untuk mengenalakan proses mengukir awal kepada para peserta. Karena proses pembuatan Lino Cut, hanya menggunakan 5 pahat, sedangkan untuk proses mengukir menggunakan 36 pahat. Pemilihan Mono Print, dikhususkan untuk peserta anak-anak dan para penyandang difable dan anak serta remaja yang berkebutuhan khusus, karena pertimbangan mereka belum cakap dalam memegang benda tajam, yang dapat membahayakan atau melukai tubuh mereka.

Workshop yang ketiga adalah workshop mengukir. Untuk mendekatkan dengan tujuaan workshop, dimana para peserta dapat merasakan seperti mengukir candi bentar, maka bahan yang dipilih adalah mengukir Batu Padas. Batu padaspun yang dipilih adalah batu padas hijau yang diambil dari sungai di sekitar sungai Wos, di mana padas inilah yang banyak dipakai sebagai material candi bentar Pura, selain batu hitam dan padas palimanan.

Setelah ketiga workshop tersebut terlaksana. Hasil dari proses workshop tersebut dipamerkan dalam sebuah pameran. Rangkaian proses dari seluruh program, dipameran dengan tajuk INKLUSI. Pameran INKLUSI, dirangkai demngan pementasan, oleh Sanggar Sekar Dewata, sebuah sanggar yang aktif bergelut, beraktivitas dan melakukan pendampingan untuk anak-anak difable, khususnya penyandang tuna rungu (bisu tuli). Pameran mempresentasikan Gambar, Lino Cut dan Mono Print dan juga pameran ukiran pada batu padas.

Pada pameran ini akan dapat diamati proses dimana para peserta dikenalkan dengan dasar-dasar ukiran, terutama untuk anak-anak mereka dikenalkan denagn motif-motif dasar, seperti motif: paku pipid, kuping guling, taluh kakul dan patra wayah. Sedangkan untuk remaja, mereka membuat patra punggel, patra sari, karang gowak, dan lain sebagainya.

The post Membangkitkan Seni Ukir Guwang melalui Ragam Workshop Inklusif appeared first on BaleBengong.id.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *