Tag Archives: branding

Rumah Sanur, Modal Manusia, Musik dan Militansi


Jah Megesah Vol. 03 menghadirkan Rudolf Dethu dan Ayip Budiman. Foto Wendra Wijaya.

Membangun peradaban adalah membangun mental manusia.

Manusia menjadi energi besar kemajuan jika memiliki kebanggaan dan keterlibatan aktif bagi apa yang diperjuangkannya. Dua pembicara Jah Megesah Vol. 03, Rudolf Dethu dan Ayip Budiman, sepakat menempatkan manusia menjadi unsur vital, melalui kreativitas dan militansi yang dimilikinya.

Jah Megesah kali ini mengambil tema Rumah Sanur: Modal Manusia, Musik, dan Militansi. Obrolan di Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya, Negara, Jembrana ini dimoderatori Umam al Maududy.

Diskusi ini mendapat perhatian serius dari banyak pihak. Sebab aktivasi ruang, baik berupa komunitas ataupun wilayah atau kota, memiliki persamaan mendasar meski dengan tantangan yang beragam.

“Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan terhadap apa saja yang diperjuangkan. Jika kebanggaan ini melekat, otomatis militansi akan tumbuh sebagai modal dasar untuk membangun sesuatu. Apa pun itu,” ungkap Ayip.

Ayip merupakan inisiator Rumah Sanur. Sejak awal, ia memang membentuk Rumah Sanur menjadi rumah kreatif bagi siapa saja. Melaui Rumah Sanur, Ayip berupaya mengarahkan pembangunan kreativitas yang inklusif. Caranya dengan membentuk ekosistem kreatif untuk mendorong inovasi sosial yang berfokus pada pengelolaan sumber daya dan pengembangan produk.

Untuk mencapainya, ada tiga hal mendasar yang menjadi titik berangkat Rumah Sanur, yakni sense of place, 3rd space, dan serendipity space. Ketiganya bersinergi untuk memberi sensasi pertemuan bagi setiap orang.

Menurut Ayip kesan sebuah tempat sangat penting di dalam menumbuhkan keinginan untuk selalu datang. Menariknya adalah ketika orang-orang dari berbagai latar belakang mengunjungi Rumah Sanur, pengelola menskenariokan kedatangan itu agar terjadi hubungan baru di antara pengunjung.

“Karena itu, konsep yang dibangun di Rumah Sanur memungkinkan untuk terjalinnya relasi baru di antara sesama pengunjung. Sekali lagi, kita sengaja skenariokan jalinan relasi itu,” terangnya.

Media Musik

Di sisi lain, Rudolf Dethu mengungkapkan strategi untuk menarik kedatangan pengunjung adalah lewat media musik. Ia percaya, musik merupakan alat komunikasi paling efektif untuk mempertemukan, sekaligus merekatkan berbagai kalangan.

“Musik bisa merangkul siapa saja, paling gampang ditularkan untuk menciptakan crowd. Karena itu, musik yang kita programkan mesti lintas genre dan berjenjang untuk menarik massa yang berbeda,” ungkapnya.

Dethu yang selama ini dikenal sebagai propagandis mengingatkan bahwa modal manusia adalah segala-galanya. “Melelahkan itu pasti. Kita mesti menjadi host, menyambut setiap orang yang datang dan menciptakan suasana yang akrab ke sesama audience,” ujar Dethu.

“Selain itu, kita juga melakukan pendampingan terhadap musisi. Memang benar kita open terhadap segala genre musik, tapi bukan berarti kita tidak mengkurasinya. Kurasi penting untuk menjaga kualitas pertunjukan sekaligus sebagai tanggung jawab kita juga kepada publik,” tambahnya.

Namun, tiap kota punya ceritanya masing-masing.

Pengelola Rompyok Kopi sekaligus Koordinator Komunitas Kertas Budaya, Nanoq da Kansas, mengisahkan bagaimana ia dan kawan-kawan di Jembrana cukup militan untuk membangun tempat yang diproyeksikan sebagai rumah singgah tersebut.

Hampir setiap hari, selalu saja ada aktivitas utamanya mengenai pembelajaran seni kepada pelajar di Jembrana. “Tapi akhirnya malah warga yang seperti enggan datang. Rompyok jadi terkesan tenget dan hanya jadi tempat bagi ‘orang-orang serius’,” ungkapnya.

Terkait hal ini, sekali lagi Dethu menerangkan jika segalanya akan bisa cair lewat musik. Namun yang mesti digarisbawahi adalah, komunikasi yang ditawarkan harus lebih ngepop. Karena itu, pengelola mesti mampu merangkul setiap kalangan dari berbagai usia.

Sementara Ayip menjelaskan bahwa keberadaan tempat harus memberi manfaat dan mampu mengakomodasi aktivitas warga. Hal ini berarti, penting untuk menciptakan persamaan antara sesama manusia, tidak ada perlakuan yang berbeda.

Di sisi lain, lanjut pria yang juga merupakan konsultan branding beberapa kota di Indonesia, pemahaman terhadap peta potensi wajib dimiliki. Namun, tak berhenti sampai di sana, pemuktahiran juga menjadi keharusan karena selalu berlaku dinamis. Setiap tempat, termasuk kota memiliki karakternya masing-masing, entah itu karena pengaruh historis atau lainnya.

Dengan demikian, setiap kota mesti memiliki story telling-nya sendiri untuk memproduksi wacana yang mampu mencerminkan identitas masing-masing, tanpa mengabaikan siapa saja yang menjadi bagian di dalamnya.

“Segalanya harus dirangkul. Bergerak bersama dan menciptakan kesamaan visi untuk mencapai apa yang diharapkan. Interaksi harus dibangun dengan titik berat pada transformasi pengetahuan,” demikian Ayip.

Sementara Wakil Bupati Jembrana, Made Kembang Hartawan, mengapresiasi program Jah Megesah yang diselenggarakan Jimbarwana Creative Movement (JCM) bersama Komunitas Kertas Budaya. Menurutnya program ini penting sebagai media edukasi, utamanya di era digital yang demikian pesat.

Menurut Kembang orang-orang yang survive adalah mereka yang kreatif dan mampu meningkatkan nilai produk. Kreativitas masyarakat Jembrana tentu juga merupakan kekayaan daerah yang mesti diapresiasi dengan serius.

“Karena itulah, Pemda (Pemkab Jembrana) ingin memaksimalkan kreatif muda Jembrana, salah satunya dengan membangun creative hub,” tukasnya. [b]

The post Rumah Sanur, Modal Manusia, Musik dan Militansi appeared first on BaleBengong.

Brand Activation Brings Your Brands to Life

When I first discovered or used brand activation as a marketing tool, I was amazed at the simplicity and ability to produce instant results. Yes, I say its instant result. Most marketers are interested in the brand equity brand building because it is easy to run and not easily measured in the short term, that is, market research is required to measure changes in attitudes that have been made by the consumption of media products such as print, electronic and outdoor advertising while the value, brand sales can be measured instantly by doing a volume drive that you can set a specific volume target.

The best brand activation in its simplest form is a road show where you bring your brand to people so they can feel the brand. Your favorite band is a brand and as you attend their live performances and feel their music brand directly, it is activation. This is known as a marketing experience and is a popular method for creating brand experiences for customers or consumers. It works really well for Fast Moving Consumer Goods according to my experience.

There are products that are not always in demand and sometimes there is a request. Brand activation is a tactic that you can use to get sales within a limited time frame. The objective is to inform and to educate members of the public about the main attributes of the product and demonstrate it in its use. The benefit of this is that the response is direct because it is interactive. This could be a launch or post-launch event.

This activity not only creates excitement and makes the business wonder why so much money is invested and what the results are. Participation in brand fun activities where multiple prizes can be awarded is based on the purchase of the brand, in fact, making it easy for sales managers to measure effectiveness through additional sales. When you create opportunities for brands to relive on relevant channels, you are well connected with consumers and thus achieve brand awareness.

Merancang Infografis

Sebagai sebuah media komunikasi, pembuatan infografis tidak berbeda jauh dengan pembuatan media komunikasi visual lainnya seperti brosur, poster, dan lain-lain. Yang sedikit membendakannya adalah muatan data/informasi yang disampaikan telah diolah dan ditampilkan dengan lebih menarik. Umumnya tampilan grafis tersebut berupa tabel, diagram, alur proses dibuat lebih ringkas dan menarik.

Pembuatan infografis tidak hanya bermodal tampilan visual yang menarik namun juga kekuatan olah data dan narasi sehingga pesan yang ingin disampikan menjadi kuat dan mudah dipahami target audiences.

Berikut infografis singkat tentang alur pembuatan infografis. Dibuat cepat dengan layanan canva.com

Merancang Infografis

Alur Langkah Membuat Infografis

 

Semoga bermanfaat dan selamat berkarya.

Disiplin – #tanggu hari ke 6

Salah satu alasan saya melakukan  #tanggu adalah meningkatkan kadar kedisiplinan pribadi. 

Saya meyakini, kedisiplinan menentukan keseluruhan kinerja pribadi seseorang. Definisi disiplin  menurut saya adalah taat dan bertanggung jawab terhadap komitmen atau nilai.

 

sedikit lari dan sedikit senam

sedikit lari dan sedikit senam


Dan saya menyadari, disiplin saya relatif kurang. Indikator yang saya gunakan untuk menilai disiplin pribadi adalah seringnya daftar pekerjaan/tugas yang bertumpuk pada satu waktu. Hal ini biasanya disebabkan oleh:

  1. Perencanaan yang buruk.
  2. Ketidakdisiplinan akan rencana yang sudah ada.

Melalui #tanggu saya berusaha untuk melatih disiplin diri melalui komitmen yang sudah saya tetapkan sehingga akan menjadi kebiasaan baik.

Seperti pesan mas Paimin, Prestasi besar diperoleh melalui disiplin dalam hal-hal kecil. Saya yakin ini adalah resep generik yang bisa diterapkan dalam segala bidang. 

Salah satu upaya melatihnya, postingan blog #tanggu saya upayakan terbit pukul 8.00 pagi keesokan harinya. 

#tanggu hari ke 6. Saya masih sanggup untuk tidak merokok. Pagi hanya latihan ringan menggunakan dumbel. Sorenya lari 2,3 km. Gak terlalu jauh, tapi ini kali pertama saya menjaga pace dengan berlari penuh tandapa jalan. Ya kuatnya baru segini :)

Olah raga sore ditutup dengan mengulang latihan pushup, squats, dan crunch yang benar sehingga hasilnya lebih optimal. Target hanya 2 set 10 rep.:)

Baliho kampanye, cermin calon pemimpin.

Hingar bingar pemilihan kepada daerah (pilkada) Bali sebentar lagi akan mencapai klimaksnya. 15 Mei 2013.

Spanduk, baliho, bendera, dan atribut kampanye pasangan calon Gubernur dan wakilnya sudah dibersihkan sejak beberapa hari yang lalu. Pemandangan perempempatan, pertigaan, dan tempat-tempat strategis ‘hampir’ pulih seperti sebelum masa kampanye pilkada. 10 April 2013, saya membuat status di Facebook “Besar dan banyaknya baliho/spanduk calon gubernur Bali tidak mempengaruhi saya untuk memilih mereka.” Sebanyak 38 likes dari kawan yang memiliki pandangan sama dengan saya.

Mengapa spanduk dan baliho kampanye menjadi salah satu acuan saya dalam menentukan pilihan dalam pilkada Bali 2013? Beberapa pertimbangan saya:

  1. Lebih dari 1 spanduk/baliho kampanye atau dukungan kepada salah satu calon di satu titik (pinggir jalan atau tempat strategis lainnya) menunjukan tidak adanya koordinasi dan strategi kampanye terpadu para calon Gubernur Bali. Selain itu merupakan pemborosan sumberdaya.
    Saya tidak mau dipimpin oleh Gubernur yang tidak berkoordinasi dengan tim sukses dan pendukungnya. Tugas Gubernur terpilih nantinya adalah berkoordinasi dengan SKPD dan Pemda tingkat II untuk mensukseskan program-program mereka.Foto yang sempat saya ambil beberapa waktu yang lalu diseputar Denpasar. 
  2. Baliho dan spanduk yang menggangu fasilitas publik seperti menutupi rambu lalu lintas dan trotoar. Para calon kepala daerah dan tim suksesnya mengesampingkan kepentingan publik yang lebih luas demi tujuan mereka. Harusnya mereka (pasangan calon) membuat aturan/acuan untuk tim sukses dan pendukungnya untuk berkampanye dengan tidak mengesampingkan kepentingan publik yang lebih luas. Jika mereka tidak mampu mengelola tim sukses dan pendukungnya, bagaimana mereka akan mengelola satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan masyarakat yang lebih luas?

    Baliho menutupi trotoar. Lokasi Jalan tukad Balian Denpasar.

  3. Untuk foto baliho dukungan dibawah ini saya tidak berkomentar banyak. Hanya berharap tidak ada kekerasan dan pertumpahan darah dalam pilkada Bali 2013 ini.
  4. Baliho dan Spanduk media kampanye satu arah. Bukankah ditiap spanduk bisa dipromosikan website, twitter, facebook page para calon untuk mendapat informasi lebih lengkap tentang profil dan program para calon. Sehingga spanduk/baliho itu memiliki manfaat lebih selain memajang foto dan kata-kata pemanis. Minimal nomor telepon untuk sms atau menelpon jika masyarakat ingin formasi lebih detail. No tersebut juga untuk melaporkan  jika spanduk dan baliho tersebut mengalami kerusakan dan menggangu kepentingan umum.
Demikian pandangan saya tentang baliho dan spanduk yang menjadi media komunikasi luar ruang selama masa kampanye pilkada Bali. Saya pribadi menggunakan media kampanye luar ruang tersebut sebagai bahan pertimbangan saat pemilihan 15 mei 2013. Bagaimana dengan anda?
Selamat menggunakan hak pilih anda. :D