Tag Archives: Bali

Virus Corona, Bagaimana Situasi di Bali Sejauh Ini?

Suasana sepi di Tanjung Benoa setelah merebaknya virus corona di Cina. Foto Anton Muhajir.

Berikut laporan terbaru perihal corona virus dan Bali sejauh ini.

Pertama, hingga Jumat, 14 Februari 2020 pukul 12.00 siang, belum ditemukan satu pun kasus virus corona di Bali. Kabar terbaru itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya melalui siaran pers kemarin malam.

Suarjaya menanggapi beredarnya informasi perihal adanya warga Cina yang positif virus corona setelah pulang berlibur di Bali. Berita itu dimuat The Jakarta Post dua hari lalu. Media berbahasa Inggris itu mengutip informasi resmi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Huainan, China (CDC) pada 6 Februari.

Menurut CDC, seorang warga setempat bernama Jin baru saja berlibur di Bali selama seminggu. Dia terbang dengan Lion Air JT 2618 dari Wuhan ke Bali pada 22 Januari. Setelah berlibur di Bali, dia kembali ke negaranya dengan penerbangan Garuda Indonesia GA 858 dari Bali ke Shanghai pada 28 Januari 2020.

Kedua, menurut perhitungan masa inkubasi dan riwayat perjalanan, tidak dapat dipastikan bahwa penularan pada turis tersebut terjadi di Bali. Menurut Suarjaya, karena dia pulang pada 28 Januari 2020 dan gejala serta konfirmasi laboratorium pada 5 Februari (8 hari), maka bisa saja penularan terjadi di Shanghai atau daratan Cina lain.

Apabila diambil masa inkubasi terlama, 14 hari, sedangkan hingga saat ini sudah hari ke-16 belum ada satu pun kasus yang teridentifikasi di Bali, menurut Suarjaya, itu berarti dia tidak menularkan atau membawa virus ke Bali.

Ketiga, Bali sudah melakukan observasi terhadap 20 orang sejak kasus ini mulai mencuat sekitar 2 minggu lalu. Sebanyak 14 di antaranya dikirim sampelnya ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan. Secara nasional, sudah ada 70 spesimen, termasuk 14 dari Bali, yang telah diperiksa. Semua hasilnya negatif.

Keempat, Pemerintah Provinsi Bali terus melakukan langkah-langkah antisipatif di Bandara Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa, maupun tempat-tempat wisatawan menginap. Petugas dari Dinas Kesehatan Bali, Kantor Kesehatan Pelabuhan, bahkan Puskesmas pun melakukan surveilanse aktif ke lokasi-lokasi tersebut.

Kelima, hingga saat ini seluruh penerbangan dari Cina ke Bali dan sebaliknya masih dihentikan. Hal ini sesuai dengan Keputusan Pemerintah Indonesia pada 5 Februari 2020 lalu. Akibatnya, turis dari Cina pun tak ada lagi yang bisa datang ke Indonesia.

Pada hari yang sama, Pemerintah Indonesia juga mencabut ketentuan bebas visa bagi turis Cina yang datang ke Indonesia. Akibatnya, warga Cina yang sudah kadung masuk Indonesia, termasuk Bali pun tak bisa kembali ke negaranya untuk sementara. Untuk itu, Pemerintah Indonesia sudah memberikan izin perpanjangan masa tinggal bagi turis Cina yang sudah selesai masa berlakunya.

Hingga Jumat sore, WNA Cina yang mengajukan izin perpanjangan masa tinggal di Bali sebanyak 581 orang. Mereka yang mendaftar di Kantor Imigrasi Ngurah Rai sebanyak 396 orang, di Kantor Imigrasi Denpasar 160 orang, dan di Kantor Imigrasi Singaraja 25 orang.

Keenam, sebagai bagian dari pelaksanaan Peraturan Menteri Hukum dan HAM (Permenkumham) Nomor 3 tahun 2020 tentang Penghentian Sementara Bebas Visa Kunjungan, Visa, dan Pemberian Izin Tinggal Keadaan Terpaksa bagi WNA Cina itu, Bali juga menolak beberapa WNA yang akan masuk Bali.

Hingga Jumat sore, Bali setidaknya menolak 91 WNA dari berbagai negara, termasuk Kanada, Turki, Swedia, Amerika Serikat, dan lain-lain. Mereka adalah WNA yang dalam waktu 14 hari selesai melakukan kunjungan ke Cina, pusat penyebaran virus corona saat ini.

Ketujuh, dampak dari tidak adanya kunjungan turis Cina maupun penolakan masuk WNA itu sudah terasa di beberapa tempat wisata di Bali. Tempat-tempat yang biasanya ramai, misalnya Pantai Kuta dan Tanjung Benoa, Badung, kini terlihat lebih lengang. Selain karena memang sedang musim sepi (low season), juga karena memang dampak virus corona.

Beberapa usaha pariwisata bahkan sudah merumahkan karyawannya.

Demikian sejumlah kabar terbaru soal virus corona dan bagaimana dampaknya di Bali sejauh ini. Kabar ini akan terus diperbarui jika ada informasi terbaru yang relevan.

Korban Kekerasan Anak dan Perempuan di Bali Terus Bertambah

Pelajar mengenal internet sehat di stan Balebengong

Kasus kekerasan pada anak dan perempuan terus bertambah. Siapkah kita menanganinya?

Kawin usia muda membuat sejumlah anak terpaksa putus sekolah. Guru sekolah mengaku menyurati dan ke rumah siswa untuk mencegah drop-out. Ada juga kasus bunuh diri dengan sejumlah latar belakang pada remaja. Ada yang minum pestisida, menceburkan diri ke danau, atau gantung diri. Demikian rangkuman curhat bersama guru dan siswa difasilitasi LBH APIK Bali di sebuah SMP di Songan, Bangli, Maret 2019 lalu.

Luh Putu Nilawati, Direktur LBH APIK Bali mengingatkan hak anak di antaranya untuk hidup, makan, belajar, kesehatan, rumah, tumbuh kembang, dan lainnya. Di luar rumah, anak berhak diberikan perlindungan dari guru, pemerintah, dan masyarakat.

Ada juga hak partisipasi, bicara, mengungkapkan pendapat, melalui kelompok muda di banjar seperti STT, Pramuka, dan lainnya. “Tidak boleh ada yang pegang Mulut, pipi, payudara, perut, bawah celana selain ibu dan dokter kalau sakit,” ingatnya untuk para siswa.

Jika terjadi pelecehan seksual, Nilawati menyarankan melapor ke orang tua atau guru. “Tidak dipenjara, dihukum. Tapi diobati. Kalau melakukan hubungan seksual pada anak, laki-laki dan perempuan bisa jadi pelaku,” sebutnya.

Diskusi yang sama namun lebih santai berlanjut di sebuah balai banjar kecil di Songan. Belasan anak dan remaja juga menyuarakan soal menikah muda dan masalah bunuh diri. “Ada yang bunuh diri karena diancam fotonya (telanjang) disebar,” cerita seorang anak perempuan.

Diskusi-diskusi dan mendengarkan suara anak-anak kini jadi keniscayaan. Tantangan perlindungan anak dan perempuan makin kompleks, sementara penanganannya masih kedodoran. Karena kurangnya sarana, sumber daya manusia, dan mekanisme kerjasama.

Catatan akhir tahun

Perempuan diusir setelah pisah padahal punya putra bagaimana haknya terkait anak? Banyak prajuru adat tidak tahu hukum perlindungan anak dan perempuan, sehingga dilatih sebagai paralegal, pendamping hukum oleh warga.

Demikian pemantik dari Luh Putu Anggreni, pengurus Lembaga Bantuan Hukum Aliansi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Bali pada diskusi Laporan Tahunan LBH APIK, 28 Januari 2020 di Kantor PHDI Bali, Denpasar.

Paralegal adalah seorang yang bukan advokat, yang memiliki pengetahuan di bidang hukum, baik hukum materiil maupun hukum acara dengan pengawasan atau Organisasi Bantuan Hukum. Paralegal berperan membantu masyarakat pencari keadilan. Ia bisa bekerja sendiri di komunitas atau bekerja untuk Organisasi Bantuan Hukum.

LBH APIK Bali melatih paralegal komunitas 24 orang yang terlatih di Denpasar, Badung, Gianyar, Bangli, dan Buleleng. Ada juga paralegal adat 26 orang, survivor orang dengan HIV/AIDS (ODHA) 10 orang, paralegal penyintas korban kekerasan 10 orang, dan lansia 20 orang.

Kasus kekerasan seksual terus muncul termasuk dilakukan keluarga. Ia mencontohkan seorang anak perempuan yang selalu marah jika lihat laki-laki usai peristiwa kekerasan seksual dari bapak tirinya. “Kami ajak ke UGD karena harus visum karena robekan dan trauma. Tiap ada dokter laki-laki datang langsung teriak. Seorang anak SD kelas 6 harus angkat kaki untuk periksa, saya saja periksa KB angkat kaki susah,” kisahnya.

Ibu kandung korban menurutnya cenderung melindungi pelaku, bapak tiri. “Dia peduli sama ibunya, kalau berani bicara, ibunya diancam dihabisi. Setelah 2 tahun tidak tahan dan cerita ke tantenya,” lanjut Anggreni. Kasus lain yang mirip, seorang anak SMA baru mau terbuka dengan kasus kekerasannya setelah sakit maag akut. Ibunya takut melaporkan pelaku, salah satu yang alasannya risau jika jadi janda lagi kalau dilaporkan ke polisi.

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) pun gagal disahkan 2019. Ia berharap semoga segera disahkan, terlebih saat ini Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dari Bali, IGA Bintang Darmavati yang akrab dikenal dengan Bintang Puspayoga.

Sejumlah pihak mendorong agar RUU PKS disahkan jadi UU segera karena ada kewajiban rehab sosial dan reintegrasi. Karena peristiwa kekerasan bisa berpengaruh pada korban setelah dewasa.

Kekerasan seksual terkait inses, dilakukan paman atau bapak tiri juga menyulitkan penanganan karena sulit masuk ke rumah yang pelakunya keluarga sendiri. “Tidak mudah, shelter belum ada,” ujarnya tentang rumah aman oleh pemerintah di Bali. Agar korban aman, pihaknya mina polisi agar segera menangkap pelaku. Tantangan lainnya, meyakinkan ibu kandung agar tidak membela suaminya. Di Bali, baru ada RSUP Sanglah yang punya tim cepat penanganan korban kekerasan seksual yang meliputi obgyn, forensik, dan psikiater siap menerima korban.

“Harusnya rumah sakit lain juga punya agar satu pintu. Saat ini perlu ada MoU menggratiskan biaya korban kekerasan seksual, jika tidak punya JKN,” harapnya.

LBH APIK Bali juga memiliki program mendampingi anak-anak ODHA, dengan tim penjangkau lapangan 3 orang yang bergerak di Denpasar, Gianyar, dan Badung. Perempuan Bali dengan HIV masih ada yang mendapat stigma di masyarakat.

“Kakek jual tanah lalu ke kafe-kafe, dadongnya dikasi oleh-oleh HIV. Menularkan ke istrinya. Anaknya mendiskriminasi tidak boleh satu piring, dekat anak dan cucu,” ceritanya salah satu kasus dari lapangan.

Ada juga Kepala Sekolah yang ingin memecat anak yang tertular HIV dari orang tuanya ketika dibawakan obat antiretroviral (ARV). Ini adalah pengobatan yang diwajibkan untuk menekan pertumbuhan virus dalam tubuh, ODHA bisa beraktivitas dan sehat jika rutin berobat. Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) dan Dinas Kesehatan pun diminta turun untuk selamatkan anak ini.

Untuk kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), saat ini ada antrean untuk minta perceraian sah sekitar 25 orang setelah cerai secara adat. “Anak-anak tak punya akte, mantan suaminya sudah nikah lagi. Sementara mantan istri tidak punya uang untuk bayar pengadilan pengesahan perceraian,” kata Anggreni yang berharap penambahan jatah subsidi dana untuk kasus seperti ini.

Sejumlah program tersebut didanai sejumlah lembaga donor seperti OXFAM dan Robert Lemelson Foundation. Program lainnya bersama Undef adalah program untuk lanjut usia. Menurutnya banyak lansia jadi korban anak menantu. Bersama Medan dan Jogja, jumlah lansia di Bali dinilai tinggi. Apalagi lansia tidak punya anak atau semua anak perempuan sudah nikah. Telantar, tak punya kartu lansia atau miskin. Tidak masuk KK karena anak sudah punya KK sendiri. Bali sudah punya Perda perlindungan Lansia, salah satunya rencananya, ada wadah berbagi antar lansia.

Data kasus LBH APIK Bali

Pada 2018, jumlah total 248 kasus yang ditangani. Kasus terbanyak adalah KDRT 159 kasus. Disusul kasus diskriminasi, kekerasan seksual persetubuhan, dan anak berhadapan dengan hukum (ABH). Terbanyak di Denpasar 154 kasus, lalu Gianyar, Buleleng, dan Badung.

Kemudian pada 2019 ada 408 kasus yang ditangani. Jumlah kasus KDRT meningkat jadi 236 kasus, disusul kekerasan seksual, dan ABH. Paling banyak melibatkan dewasa, anak-anak, lalu lansia.

Sementara data kompilasi BP3A Provinsi Bali pada 2018 tercatat sebanyak 571 kasus. Terbanyak di Denpasar 126, Badung 105, Gianyar 52, Klungkung 12, Karangasem 54, Bangli 21, Buleleng 37, Jembrana 27, Tabanan 39, data Polda Bali 28, dan data P2TP2A 70. Melibatkan laki-laki 154 orang, dan perempuan 417 orang.

Merujuk perbandingan data LBH APIK, ada kenaikan signifikan dua tahun terkahir. Dari segi latar belakang, kebanyakan korban belum bekerja sehingga mengakses bantuan miskin pada LBH APIK. “Ada yang bisa bayar tapi kami lebih murah dibanding kantor pengacara,” terang Anggreni.

Dari kasus KDRT, lebih banyak korban pilih bercerai dibanding menangani KDRT-nya jadi ada kemungkinan pelaku bisa melakukannya ke orang lain. Banyak kasus seperti ini penyelesaiannya ditelantarkan, atau melakukan cerai adat beberapa tahun tanpa mengurusnya ke pengadilan. Sejumlah dampak ikutannya adalah tak ada keadilan harta gono gini, anak, apalagi surat-surat administrasi yang dibutuhkan, misal ketika pindah ke rumah bajang. LBH APIK menyebut ada keterbatasan dana APBN yang bisa diakses, sehingga sedikit yang bisa dibantu untuk proses hukum formal.

Penanganannya dimulai dengan mediasi, jika sudah tak ada solusi baru pendampingan perceraian. Mediasi diutamakan, misalnya suami diundang ke P2TP2A untuk komunikasi soal hak asuh anak, dan lainnya.

Selain penanganan, rantai berikutnya adalah keamanan korban termasuk perlindungan identitas anak di media. Kasus terakhir yang dikeluhkan adalah publikasi 14 anak pelaku pembegalan yang diperlihatkan wajahnya, alamat rumah, dan sekolahnya dengan lengkap. Apalagi tersebar luas di media sosial. “Ada UU Sistem Peradilan Anak yang melarang, ternyata di-blowup,” keluh Anggreni.

Salah seorang psikolog di layanan P2TP2A Denpasar mengingatkan KDRT dimulai dari pacaran, dan ini bisa dicegah. Para pelaku sebagian masih muda, perli konseling pra nikah, namun tak banyak faskes yang menyediakan layanan konseling.

Dalam diskusi yang dihadiri sejumlah pihak terkait dalam penanganan kasus melibatkan anak dan perempuan ini dibahas pola sinergi penangannya. Siapa berbuat apa, melakukan apa? Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Bali meminta ada rasa memiliki selain regulasi yang ada. Pemerintah dan lembaga masyarakat berbagi peran.

LBH APIK memiliki 6 lawyer perempuan dan 3 laki-laki. Bagian dari Forum Pengada Layanan (FPL) 113 LSM di Indonesia yang tercatat di Komnas Perempuan.

Perda Bantuan Hukum pun sudah disahkan DPRD Bali, dan diharapkan bisa mengeluarkan anggaran agar tak banyak antre untuk yang perlu dana bantuan hukum perdata. Kecuali kasus pidana gratis.

Sita Van Bamellen, Dewan Pengawas LBH APIK Bali mengapresiasi program 3 tahun terakhir ini termasuk untuk lansia. Menurutnya banyak kasus sangat menyedihkan. Ia berharap tak hanya jumlah kasus tapi sejauh mana memberikan pendampingan efektif. Misalnya kasus terkait ODHA banyak yang berdimensi hukum, tapi tak mau melanjutkan ke proses hukum. Apakah cukup konsultasi saja?

Dokter Sri Wahyuni, psikiater tim LBH APIK menambahkan dalam kasus ODHA, banyak yang masih depresi karena belum terbuka dengan statusnya, terutama yang beragama Hindu. Sementara non Hindu kebanyakan di Bali tidak tinggal bersama keluarga besar, atau sudah cerai.

Kasus yang ditangani selama 2018-2019 sebanyak 40 orang tapi tak terus menerus dalam pendampingan hanya monitor mium obat. Pengasuhan anak sendirian oleh ibunya juga perlu dukungan karena anak yang terapi ARV seperti mabuk laut di awal-awal konsumsi. Perlu dukungan dan bantu pengasuhan agar tak putus obat. Untuk mencegah jadi AIDS, karena akan mudah terinfeksi paru atau toksoplasma. Ada juga seorang ibu dengan HIV dan terinfeksi TB mencari penghasilan membuat keripik, ini bisa berdampak buruk dari asap penggorengan.

“Di sekolah juga tak dibuka status HIV-nya, karena tak semua guru punya empati dan pengertian yang sama. Jika tersebar, anaknya bisa depresi. Padahal bisa hidup sehat dengan ARV dan pengetahuan kespro,” papar Sri. Dalam kasus ini, hal paling memberatkan adalah ketidaktahuan dan diskriminasi.

Luh Gede Yastini, anggota Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak (KPPAD) Bali yang fokus pada kasus ABH sebagai korban atau pelaku mengingatkan, merujuk pasal 105 UU SPPA setelah 5 tahun sarana harus ada seperti shelter. Pemulihan psikologi ini untuk melihat apakah ada persoalan dengan lingkungan atau peer group? Pemulihan psikologi dinilai penting untuk tak mengulang tindakan pidana.

Ia juga menyuarakan banyaknya kasus pembuangan bayi, menurutnya ada 9 bayi dibunuh dulu sebelum dibuang merujuk data RS Sanglah pada 2017-2019 dari total 42 kasus pembuangan bayi. “Perlu mendorong pemahaman reproduksi, layanan konseling kehamilan di luar nikah, dan lainnya,” harapnya.

Bali sebagai daerah yang menggenjot sektor pariwisata juga menghadapi kasus anak-anak terkait industri pariwisata. Ia berharap standar perlindungan anak di sektor pariwisata misalnya PHRI mencatat nama anak yang masuk ke hotel dalam manifes. “Jika ada musibah seperti bencana alam, anak-anak tercatat,” ujar Yastini.

Yohana dari Yayasan Gerasa, berbagi pengalamannya sebagai pendamping hukum. Saat ini ia mendampingi korban anak eksploitasi ekonomi yang terlibat pembegalan. Dari observasinya, pelaku anak ini mencuri untuk ibu angkat. Mereka perlu identitas anak seperti KIA. Ia berharap para pihak perlu koordinasi rutin untuk tindak lanjut sejumlah kasus.

Literasi dan Aksi Siberkreasi Class 2020 di Bali

Paramuda termasuk kawan penyandang disabilitas bergabung dalam literasi dan aksi Siberkreasi Class 2020 di Denpasar, Bali.

Sebanyak 150 orang peserta dan panitia Siberkreasi Class 2020 memadati Rumah Sanur, Denpasar pada 27 Januari 2020. Para peserta melebihi target 100 orang sehingga ruangan semi terbuka ini terlihat penuh. Dua orang Juru Bahasa Isyarat menjadi jembatan komunikasi pada kawan Tuli.

Sacha Stevenson, Youtuber dari Kanada yang fasih berbahasa Indonesia ini bercerita tentang pengalamannya melihat dampak penyebaran konten yang kurang valid di Bali. Ketika itu ada video viral seorang bule menabrak orang, dikejar banyak orang, lalu dihakimi. Menurutnya data korban dilebih-lebihkan, jauh dari kenyataan.

Video viral penghakiman massa juga tersebar luas di beberapa akun info dan medsos sekitar 26 Januari. Seorang laki-laki muda dipukul dan ditendang beramai-ramai oleh banyak orang, disebut sebagai pencuri helm. Fakta dari kepolisian menyatakan ia bukan pencuri helm, namun naas, korban sudah meninggal akibat kekerasan yang diterimanya.

Beberapa hal ini dibahas dalam sesi talkshow Siberkreasi Class 2020. Selain penyebaran hoaks dan mudahnya warga menghakimi, juga didiskusikan cara produksi konten-konten yang lebih bermakna. Sacha menyebut ia senang membuat konten cara belajar Bahasa Inggris dengan cara menyenangkan. “Harus entertaining, editingnya harus bagus, ada thumbnail, tapi tetap educate,” seru perempuan yang kerap terlihat di sejumlah film televisi dan mukim di Bali.

Di awal 2020 ini, Siberkreasi menginisiasi program baru, yakni “Siberkreasi Class” yang hadir untuk mengajak netizen Indonesia memahami pentingnya etika di dunia siber serta mampu memanfaatkan teknologi untuk memproduksi konten positif yang berguna bagi masyarakat luas. Inisiasi tersebut tentunya tidak terlepas dari keadaan yang mulai cukup mengkhawatirkan dengan masifnya perkembangan informasi dan teknologi yang tidak diimbangi dengan pemahaman literasi digital. Akibatnya, lahir mentalitas “sumbu pendek” saat melihat berita di media sosial dan internet.

Kegiatan Siberkreasi Class ini berlangsung pada Senin, 27 Januari 2020, di Rumah Sanur Creative Hub, Sanur, Bali. Dibuka oleh Prof Dr. Henri Subiyakto, Staf Ahli Menteri Bidang Hukum, dan Ida Bagus Ludra sebagai Kabid IKP Diskominfo Provinsi Bali. Dengan mengangkat tema “Be Social Media Peacemaker”, acara ini akan digelar dalam bentuk Gelar Wicara (Talkshow) dan Lokakarya (workshop).

Henri mengatakan perkembangan media digital yang marak saat ini sudah selayaknya diimbangi dengan literasi digital yang perlu dijalankan di semua lini masyarakat. Salah satunya dengan menggandeng komunitas-komunitas kreatif serta masyarakat untuk menyebarkan gagasan, meningkatkan kemampuan untuk memproduksi konten positif, dan mengeksekusi gerakan masif untuk meningkatkan kebijakan dalam bermedia sosial.

Gelar wicara ini menghadirkan Yosi Mokalu, ketua umum Siberkreasi, sebagai moderator panelis gelar wicara yang diisi oleh Akhyari Hananto (GNFI), Sacha Stevenson (kreator konten), Luh De Suriyani, (aktivis dan penggiat Literasi Digital BaleBengong), serta Putri Alam (Google Indonesia).

Ada sejumlah apresiasi dan program yang diberikan perusahaan medsos pada pembuat konten seperti Youtube for Change. Yosi, personil Project Pop adalah salah satu peraihnya dan berbagi pengalamannya dari London saat diundang mengikuti program. Misalnya reaching-out, menjangkau follower yang suka komen ngawur, dengan siasat komunikasi tertentu.

Selain gelar wicara, terdapat pula tiga lokakarya, pertama lokakarya “Pembuatan Konten untuk Difabel” yang diisi oleh Andi Muhyiddin (Liputan6.com). Kedua, lokakarya “Mesin AIS dan Dampaknya pada Platform Digital dan Jurnalisme” oleh Antonius Malau (Kasubdit Pengendalian Konten Internet Ditjen Aptika Kominfo), dan Dessy Sukendar (Facebook Indonesia). Terakhir, lokakarya mengenai “Fact Checking” oleh Giri Lumakto (Mafindo). Ketiga lokakarya bisa dipilih oleh peserta dan dilaksanakan secara paralel selama dua jam.

Masifnya perkembangan teknologi dan informasi ibarat pisau bermata dua, memiliki dua dampak, yakni positif maupun negatif. Dengan masifnya perkembangan tersebut, tidak jarang muncul berbagai dampak negatif, seperti perpecahan yang disebabkan oleh misinformasi hoax, dan, cyber bullying, hingga adanya berbagai penipuan secara daring.

Dengan ini, perlu ditingkatkan kemampuan masyarakat dalam penggunaan internet secara baik sehingga dampak negatif internet dapat lebih ditekan. Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi merupakan gerakan sinergis yang mendorong pengguna internet/netizen di Indonesia dalam menggunakan internet secara lebih bijak dan bertanggung jawab. Gerakan ini diinisiasi oleh beberapa kementerian, lembaga, komunitas/organisasi, media dan juga private sector.

Menkominfo Johnny G. Plate memberikan tanggapan atas terbentuknya gerakan Siberkreasi sebagai suatu program yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan literasi digital di era perkembangan internet dan teknologi yang semakin masif ini. “Mereka terlibat dalam memberdayakan masyarakat dalam memahami perlindungan data, literasi digital, pengembangan kurikulum, dan tata kelola ruang siber. Gerakan ini telah secara efektif bersama-sama dalam melawan hoax dan cyber-bullying yang merajalela”, ujarnya.

Setelah dua tahun sejak diluncurkan pada 27-29 Oktober 2017 di Jakarta, siberkreasi telah berhasil mewadahi 103 lembaga/komunitas dari berbagai unsur, menjangkau 442 lokasi dengan lebih dari 185.000 peserta aktif yang dikemas dalam program- program sinergi, dan menyebarluaskan 73 buku seri literasi digital yang telah diunduh sebanyak 180.000 kali.

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian 3

sumber: wayang.wordpress.com

“Kutebas lehermu!” kata Weksirsa kepada mayat yang telah dihidupkannya. Mayat yang dihidupkan itu bukan menjadi Zombie, tapi benar-benar manusia yang hidup seperti sedia kala.

Mayat yang dihidupkan itu berterimakasih karena telah dihidupkan kembali oleh Weksirsa dan Mahisawadana. Tapi sayang, terima kasih saja tidak cukup. Ia harus membayar lebih karena telah dihidupkan kembali. Ia harus mati.

Mayat dihidupkan, lalu dibunuh lagi. Begitu runtutan prosesi ritual yang dijalankan oleh Calwan Arang dan murid-muridnya. Tapi untuk apa yang sudah jadi mayat dihidupkan kembali? Saya belum mendapatkan informasi dalam teks sejauh ini. Tapi ada suatu penjelasan secara lisan, bahwa dalam ritual segala jenis Banten yang dipersembahkan terlebih dahulu “dihidupkan” lagi. Konon, orang tidak boleh mempersembahkan bangkai, maka dengan mantra, yantra, dan mudra dihidupkan terlebih dahulu.

Barangkali, praktik semacam ini memiliki hubungan yang serius dengan praktik ritual Calwan Arang. Agar lebih jelas, kita mesti merunutnya dengan teks-teks Puja sebagaimana dilangsungkan oleh Pendeta. Tentu saja, merunut teks semacam itu tidaklah mudah. Jadi kita istirahatkan dulu rasa ingin tahu kita sampai di sini.

Leher mayat yang dihidupkan tadi, benar-benar ditebas. Darah menyembur. Kepalanya terlempar. Calwan Arang menggunakan darah itu untuk mencuci rambut. Sampai saat ini ada dua tokoh perempuan yang menggunakan darah untuk mencuci rambut. Perempuan pertama adalah istri Pandawa, Drupadi. Ia menggunakan darah Dusssasana untuk mencuci rambutnya yang telah tergerai setelah tragedi penelanjangan saat Pandawa kalah judi. Saat itu Drupadi bersumpah akan mencuci rambutnya dengan darah Dussasana.

Dalam teks Calwan Arang, kita menemukan lagi adegan semacam itu. Tapi kali ini bukan karena sumpah. Entah karena apa Calwan Arang mencuci rambut dengan darah manusia. Mungkin ada suatu ajaran yang dapat kita telusuri mempraktikkan praktik-praktik spiritual dengan metode ini.

Ajaran apa namanya, saya juga belum tahu. Yang pasti, adegan ini tidak sesederhana seperti melihat perempuan mencuci rambut di kali atau sungai. Satu hal yang penting lagi, setelah Calwan Arang mencuci rambutnya dengan darah, rambutnya menjadi kusut. Kusut dalam bahasa teks Calwan Arang disebut gimbal [magimbal pwa kesanira]. Jadi kata gimbal bukan kata baru.

Bagaimana dengan tubuh mayat yang dihidupkan tadi? Menurut teks Calwan Arang, ususnya dijadikan kalung oleh Calwan Arang. Semua bagian tubuh itu diolah dan dijadikan persembahan berupa Caru kepada semua Bhuta. Dari sisi ini, kita bisa melihat suatu praktik yang tercatat dalam teks dan barangkali memang benar-benar terjadi pada suatu masa. Persembahan Caru yang kini dikenal di Bali kebanyakan menggunakan binatang dan bukan manusia.

Tapi teks Calwan Arang berkata lain. Manusia juga dipersembahkan sebagai upakara Caru. Catatan ini penting diketahui, agar ditimbang-timbang apa pula penyebab praktik itu tidak bisa ditemukan lagi jejaknya.

Cerita-cerita tentang persembahan daging manusia hanya bisa dinikmati lewat penuturan para tetua. Tentulah ada suatu klasifikasi yang harus dipenuhi agar praktik itu bisa dilakukan. Salah satunya adalah kemampuan pemimpin upacara dan juga tentang “siapa yang mesti dikorbankan”.

Dalam kakawin Ramayana, ketika raja Dasharata melakukan puja Homa, yang didaulat untuk memimpin upacara adalah Resyasrengga. Resyasrengga didaulat, karena ia adalah Rsi yang mahir dalam Shastra [widagda ring shastra]. Pada tingkat upacara Homa klasifikasi semacam itu diperlukan, apalagi pada tingkat persembahan manusia.

Bahwa Calwan Arang yang mempraktikkan ritual itu, artinya pada Calwan Arang kita cari klasifikasi pemimpin upacara korban Caru itu. Sampai pada saat ini, kita mengenal Calwan Arang sebagai Guru, sebagai Ibu, Janda sakti yang menguasai ilmu menghidupkan dan mematikan. Tidak hanya itu, Calwan Arang adalah kesayangan Bhatari Bagawati. Bahkan persembahan yang dilakukan Calwan Arang disebut persembahan yang utama [adinika inaturanya].

“Aku sangat senang dengan persembahanmu, tapi berhati-hatilah dalam bertindak anakku Calwan Arang,” demikian kata Bhatari Bagawati. Konon Bhatari merasa senang dengan persembahan yang dipersembahkan oleh Calwan Arang. Sayangnya, permintaan Calwan Arang agar seluruh kerajaan terkena penyakit membuat Bhatari Bagawati harus menasehatinya agar hati-hati dalam bertindak.

Meski anugerah Bhatari sudah didapat, Calwan Arang ternyata harus tetap hati-hati juga. Jika pemilik otoritas anugerah itu menasehati agar hati-hati, bagaimana mungkin Calwan Arang tidak hati-hati? Tapi hati-hati kepada apa? Kepada siapa? Tidak dijelaskan dalam adegan itu, kepada apa dan siapa Calwan Arang mesti hati-hati.

Setelah anugerah didapat, Calwan Arang segera menari sekali lagi. Tidak di kuburan, tapi di perempatan [catus pata]. Karena itu seluruh penduduk kerajaan menderita penyakit. Jenis penyakitnya adalah panas tis [panas dingin]. Penyakit panas dingin macam apa yang bisa membunuh banyak orang dalam dua malam?

Banyak orang mati di kerajaan itu. kuburan kekurangan tempat. Banyak mayat membusuk di selokan. Bahkan di dalam rumah-rumah penduduk. Weksirsa masuk ke dalam rumah dan tempat tidur penduduk. Ia meminta-minta Caru berupa daging dan darah mentah. Pada mayat yang belum membusuk, ia mengambil darah dengan cara merobek leher mayat-mayat itu. Benar-benar hari-hari huru hara.

Di Kerajaan, para pinisepuh menghadap raja. Para mantri tidak ketinggalan. Keputusannya? Adakan upacara Homa. Homa adalah upacara penyelesaian yang dilakukan ketika wabah terus menyerang. Begitu yang ingin disampaikan oleh pencerita Calwan Arang. Yang dipuja adalah Hyang Agni. Puja Homa dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Tengah malam, Sang Hyang Catur Bhuja muncul dari api Homa. Catur berarti empat. Bhuja berarti lengan. Dia yang berlengan empat keluar dari api itu. Tidak hanya sekadar keluar, tapi ada petunjuk yang diberikan kepada para pemuja di kala itu. “Carilah Sri Munindra Baradah, ia ada di Semasana Lemah Tulis,” begitu petunjuknya. Konon hanya Baradah yang mampu meruat [menyucikan] kembali negeri yang sudah terlanjur porak poranda itu.

Raja memerintahkan Kanuruhan untuk pergi menghadap Baradah di Lemah Tulis. Sesingkat-singkatnya cerita, Kanuruhan berhasil menemui Baradah. Tapi bukan Baradah yang akan datang ke kerajaan itu. Adalah Mpu Kebo Bahula, murid Mpu Baradah yang diutus untuk pergi mendahului. Yang diutus tidak menolak, maka pergilah Mpu Kebo Bahula bersama Kanuruhan. Rencananya, Mpu Kebo Bahula akan melamar Ratna Manggali, anak Calwan Arang.

“Tuanku, hamba adalah murid Mpu Baradah. Bahula nama hamba. Tujuan hamba datang adalah untuk memohon belas kasihan kepada Tuanku. Sudi kiranya Tuanku mengabulkan permintaan hamba yang hina ini. Hamba ingin melamar Ratna Manggali,” begitu kata Mpu Bahula tanpa ragu.

“Tidak ada yang perlu kau takutkan anakku. Tapi kau haruslah sungguh-sungguh dari hatimu. Ratna Manggali akan aku serahkan, hanya jika kau cinta,” Calwan Arang merasa senang.

“Baiklah Tuanku, hamba ini pesakitan yang diperintahkan untuk mencari obat oleh guru hamba. Hanya Ratna Manggali obat segala penderitaan hamba. Hamba meyakininya tanpa ragu. Lalu apa maharnya?”

“Anakku Bahula, bukan mahar itu yang terpenting. Tapi cinta dan kesungguhan. Apapun yang kau berikan, akan aku terima.”

Maka siaplah segala mahar diberikan oleh Mpu Bahula. Di antaranya sedah panglarang [sirih], pirak panomah [perak], patiba sampir [selendang], dan spatika nawaratna dipata [permata]. Dengan seperangkat mahar itu, Mpu Bahula dan Ratna Manggali dinikahkan. Bagaimana prosesi pernikahan mereka, tidak diceritakan. Saya ragu, apakah setelah ritual sakral pernikahan itu, Ratna Manggali dan Mpu Bahula juga menggelar acara resepsi.

Jenis riasannya pun tidak dijelaskan, siapa pula juru riasnya juga tidak ada penjelasan. Jangankan penjelasan tentang hal-hal semacam itu, bahkan pemimpin upacara pernikahan pun tidak disebutkan siapa. Hal ini akan menarik mengingat kedua mempelai memiliki orang tua yang sama-sama sakti. Maka seorang yang ditugaskan untuk menyelesaikan upacara pernikahannya pun, pastilah tidak kalah hebatnya.

Setelah mereka menikah, Calwan Arang tetap melakukan pemujaan kepada Bhatari Bagawati. Lipyakara sering diturunkan, ia juga sering pergi ke kuburan. Kejadian itu terus diperhatikan oleh Mpu Bahula. Sampai pada suatu saat, Mpu Bahula bertanya kepada Ratna Manggali. “Dewiku, Ratna Manggali. Apa sebabnya ibu selalu pergi dan baru kembali saat tengah malam? Kemana perginya? Aku sungguh khawatir.”

Cinta dan percaya, membuat Ratna Manggali tidak menaruh sedikit pun kecurigaan kepada Bahula. “Suamiku, janganlah sampai mengikuti jejak ibu yang demikian. Sungguh tidak baik perbuatan itu. Ibu saat malam selalu memuja Bhatari Bagawati. Menurunkan Lipyakara dan pergi ke kuburan. Itulah sebabnya banyak orang mati di kerajaan.”

“Dewiku, perkenankan aku mengetahui dan melihat Lipyakara itu. Aku juga ingin mempelajarinya.”

Tidak perlu pikir panjang, saat Calwan Arang pergi, Ratna Manggali menyelinap ke tempat penyimpanan. Mengambil Lipyakara dan menyerahkannya kepada Bahula. Dengan alasan untuk dipelajari dan ditanyakan kepada Pendeta Baradah, Bahula pergi menuju Lemah Tulis membawa Lipyakara.

Bahula sampai di Lemah Tulis. Baradah segera dihadapnya. Sebagaimana tradisi ketika itu, Bahula mendekati Baradah sambil membawa Lipyakara dan menjilati debu di kaki Baradah. Hasil jilatan itu diletakkannya di ubun-ubun [Bahula mamawa lipyakara, manambah eng jeng sang Mredu, teher mandilati lebu kang aneng talampakanira Sang Yogiswara, enahakenireng wunwunan]. Ada tradisi yang dipraktikkan oleh garis perguruan tertentu sebagai cara menghormati guru dengan menjilat debu di kaki guru dan diletakkan di ubun-ubun. Tradisi semacam ini, bisa kita baca dalam teks Calon Arang.

Mpu Bahula menyerahkan Lipyakara kepada Mpu Baradah untuk dilihat dan dipelajari. Saat mulai membukanya, Mpu Baradah terkejut, ternyata ajaran di dalamnya sangat utama. Isinya konon ajaran tentang kebenaran [kayogyan], tentang kesiddian [kasidyan], ajaran agama [telas pwa yeng agama].

Ajaran kebenaran, berarti ajaran tentang Dharma. Ajaran tentang kesiddhian, berarti suatu ajaran untuk sampai pada tingkat mendapat permata pikiran. Cirinya adalah semua yang dicari didapat, yang dinanti datang. Lalu apa yang dimaksud dengan telas pwa yeng agama? Artinya ajaran agama itu telah habis. Habis berarti tuntas, selesai, sampai, menjadi. Artinya isi Lipyakara adalah tentang menjadi Agama. Apakah yang dimaksud ajaran agama? Tidak sesederhana yang sedang kita pikirkan.

Bagian kedua serial kisah ini di sini.

Literasi Film di Desa Padangsambian Kaja

Literasi film dan produksinya meluas ke desa.

Minikino bersama Desa Padangsambian, Denpasar Barat menyelenggarakan rangkaian pelatihan Literasi Film dan Produksi Film selama 3 hari. Dimulai Jumat, 6 Desember dan berlangsung setiap hari sampai Minggu, 8 Desember 2019. Seluruh rangkaian workshop diadakan di Balai Desa Padangsambian Kaja, Jl. Kebo Iwa No.35, Denpasar.

Pra-aktifitas untuk pemanasan dilakukan Kamis, 5 Desember 2019. Seluruh peserta dan pengurus Desa Padangsambian Kaja diundang untuk terlibat dalam pemutaran dan diskusi program ReelOzInd! Award Winners di Art-House Cinema MASH Denpasar. Selain menonton program film pendek, acara ini menghadirkan diskusi online melalui skype dengan narasumber Jemma Purdey (Australia) selaku direktur ReelOzInd! & Melanie Filler, produser film “Posko Palu’. Dipandu moderator, keduanya narasumber melakukan tanya jawab langsung dengan penonton. Sesi diskusi berlangsung lancar selama 30 menit antara Denpasar, Melbourne, dan Sydney di Australia.

Modul pelatihan ini disusun oleh tim kerja Minikino dengan silabus yang padat. Para peserta remaja dari desa Padangsambian Kaja dilibatkan secara aktif mulai dari menonton dan berdiskusi dengan para profesional di bidangnya, mengikuti seminar tentang sejarah, dari sisi perkembangan kebudayaan serta teknologinya. Mereka juga mendapatkan pembekalan pemahaman kekuatan visual dan materi suara dalam film, hingga akhirnya mempraktikkan seluruh rangkaian proses produksi sebuah film. Mulai dari pengembangan ide, penulisan cerita, desain produksi, dan produksinya sendiri.

Hari pertama

Pelatihan dibuka Perbekel Padangsambian Kaja, I Made Gede Wijaya, S.Pt., M.Si. yang pada sambutannya menyatakan pelatihan semacam ini diharapkan bermanfaat bagi generasi muda. “Desa memanfaatkan teknologi, media film, serta industri kreatif yang dapat menjadi kekuatan desa supaya tidak ketinggalan jaman,” katanya.

Sesi pertama tentang Literasi Film: Sejarah Film Pendek di Dunia dan di Indonesia disampaikan oleh Edo Wulia, direktur Minikino yang sekaligus menjadi mentor pelatihan. Edo memberikan informasi sejarah film dunia dan memberi gambaran luas tentang bagaimana industri film di dunia berkembang seiring kemajuan teknologi. Edo Wulia juga menghubungkannya dengan Bali melalui film “Legong, Dance of the Virgins” yang diproduksi tahun 1935, yang ternyata merupakan salah satu film bisu produksi terakhir di Hollywood.

Selanjutnya, sesi “Visual Storytelling” disampaikan I Made Suarbawa untuk menekankan fokus terhadap alur cerita, mengingat produk dari pelatihan ini salah satunya ialah tulisan/ ide cerita untuk diproduksi pada hari ketiga pelatihan.

Hari kedua

Seminar “Literasi Film Dan Media Untuk Berpikir Kritis” menjadi tema pembuka di pagi hari. Materi ini disampaikan oleh Nurafida Kemala Hapsari dan Saffira Nusa Dewi. Diskusi menjadi lebih hangat ketika menyentuh topik pengaruh publikasi dan persepsi penonton bahkan tentang film yang belum ditonton. Modul dilanjutkan dengan presentasi mengenai “Kerjasama Tim dalam Produksi” disampaikan oleh Inez Peringga. Studi kasus disampaikan dari pengalaman pribadi Inez saat membuat film pendek pertama di masa kuliahnya di sekolah film.

Materi berikutnya “Suara dalam Film” menerangkan sisi audio pada film, diawali dari sejarah film bisu yang hampir selalu ditampilkan dengan iringan musik. Materi ini diberikan untuk membangun pemahaman tentang kekuatan audio dan pengaruhnya pada visual. Pengenalan teknis diiringi berbagai contoh dan praktik, serta berbagi pengalaman tim minikino melakukan audio dubbing untuk keperluan festival internasionalnya.

Hari kedua diakhiri dengan pembahasan cerita para peserta serta desain produksi meliputi pembedahan naskah termasuk lokasi, properti, pemain, dari ide cerita peserta di hari pertama. Para mentor dan fasilitator mengarahkan peserta untuk melakukan analisis mandiri ide cerita mana yang paling memungkinkan untuk diproduksi pada hari ketiga. Sesi terakhir namun yang paling panjang ini dipandu oleh I Made Suarbawa sebagai pendamping utama produksi.

Dari berbagai ide cerita yang dikembangkan hingga menjadi storyline, dipilih satu cerita yang kemudian ditulis menjadi skenario, yang kemudian dibedah dalam sesi desain produksi. Sesi ini mempersiapkan hari terakhir, di mana semua peserta akan mengambil peran masing-masing dalam sesi produksi.

Hari ketiga

Proses pengambilan gambar dan suara dimulai sejak pukul 8 pagi dan berlangsung secara intensif sampai 4 sore. Produksi ditutup dengan sesi evaluasi di akhir hari, para peserta secara umum merasakan ini pengalaman baru walaupun mereka sudah pernah membuat online konten sebelumnya.

Ngurah Ketut Hariadi, S.Kom selaku sekretaris Desa Padangsambian Kaja menyampaikan apresiasi positif tentang pelatihan ini, “Melihat antusiasme peserta saya berharap apa yang difasilitasi desa dapat dimanfaatkan para peserta. Bila 10 persen saja dari para peserta dapat memanfaatkan dengan baik, kegiatan ini dapat dinilai sukses,” sambungnya. Menurutnya pelatihan diberikan dengan profesional. “Awalnya saya tidak membayangkan bahwa dalam tiga hari pelatihan bisa benar-benar menghasilkan produk sampai film. Semoga minat dari masyarakat makin tinggi setelah nanti melihat hasilnya,” harapnya.

Menurut Cika selaku fasilitator acara berkegiatan dengan peserta di Padangsambian Kaja sangat menggairahkan secara kreatif, karena mereka antusias dan penuh perhatian. Para peserta sudah dekat secara keseharian dengan media audio visual serta dunia digital. Sebagian peserta sudah terbiasa dengan konten online, bahkan ada yang sudah menjadi idola milenial dengan 1 juta subscriber @aryanthisuastika dengan kanal @ricaricaa96 .

Saat ini, hasil produksi film masih melalui masa pasca produksi di meja editing. Film pendek hasil pelatihan di Desa Padangsambian Kaja ini direncanakan akan tayang perdana dalam acara tahunan Minikino Open Desember ke 17. Edo Wulia selaku direktur Minikino mengapresiasi masyarakat dan pengurus di kantor desa Padangsambian Kaja dalam program ini.

Walaupun sudah diadakan tahunan sejak tahun 2003, untuk pertama kalinya acara ini hadir dalam format layar tancap pada hari Sabtu tanggal 21 Desember 2019, mulai pukul 19:00 di Balai Pertemuan Dukuh Sari, Padangsambian Kaja, Jalan Gunung Sari.

The post Literasi Film di Desa Padangsambian Kaja appeared first on BaleBengong.