Tag Archives: Bali

Contoh Percakapan Bahasa Bali

Berikut ini contoh percakapan dalam Bahasa Bali yang mungkin bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi yang baru ingin mencoba menggunakan bahasa Bali. Contoh percakapan ini juga bisa digunakan bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali dan ingin sekedar lebih akrab dengan mencoba berkomunikasi dalam bahasa Bali.
Contoh percakapan dalam Bahasa Bali misalnya bagi orang sudah lama tidak bertemu dan ingin melakukan percakapan seputar kabar dan tempat tinggal.

  • Kenken kabare? (Apa kabar?)
  • Punapi gatra? (Apa kabar?)
  • Gatra becik (Kabar baik)
  • Kabar becik (Kabar baik)
  • Dija ngoyong/nongos jani? (Dimana tinggal sekarang?)
  • Umah tiange di Kerobokan (Rumah saya di Kerobokan)
  • Tiang nginep di hotel (Saya menginap di hotel)
  • Suba mekelo di Bali? (Sudah lama di Bali?)
  • Tiang mara ibi neked di Bali (Saya baru kemarin tiba di Bali)
Selain itu berikut contoh percakapan dalam Bahasa Bali untuk yang mungkin belum kenal dan melakukan percakapan seputar nama dan perkenalan.

  • Nyen adan ragane? (Siapa nama anda?)
  • Adan tiange Wayan (Nama saya Wayan)Uli dija? (Dari mana?)
  • Tiang uli/saking Jakarta (Saya dari Jakarta)
  • Tiang nembe/tumben ke Bali (Saya tumben ke Bali)
  • Lakar kija? (Mau kemana?)
  • Tiang lakar melali ke Sanur (Saya akan jalan-jalan ke Sanur)
  • Tiang megae di Bali (Saya kerja di Bali)

Selain beberapa percakapan diatas, masih banyak lagi contoh kalimat untuk melakukan percakapan lainnya dalam bahasa Bali, tergantung situasi dan kondisi. Semoga bermanfaat.

Baca Juga:

Kaos, eh Kaus, yang Keos di Pesta Baca

kaos2/ka·os/ n keadaan kacau-balau. (https://kbbi.web.id/kaos-2-)

“Arak Connecting People” sebuah kalimat di salah satu kaus, plesetan dari salah satu raksasa telekomunikasi. Di awal kemunculan telepon genggam menjadi merek yang menghiasi tangan, telinga, dan saku masyarakat. Merek ini awalnya begitu berjaya, tetapi akhirnya limbung dan kini entah ke mana.

Toh, jargon dalam kaus tersebut masih mudah ditemui dalam lingkaran pergulan hingga kini.

Arak merupakan salah satu alkohol lokal. Minuman ini berhasil membuat lingkaran-lingkaran yang melahirkan obrolan konyol hingga perbincangan serius. Dari persoalan ringan koin jatuh hingga persoalan berat tentang negara bahkan agama.

Lingkaran-lingkaran yang tidak berhasil dibentuk secara turun temurun, bertukar pendapat hingga gagasan. Jauh sebelum merek yang mengklaim menghubungkan orang tersebut hadir dan semakin memisahkan setiap individu dalam ruang-ruang privat. Ruang yang membuat kebijakan publik pun menjadi urusan personal masing-masing, dan harus diselesaikan sendiri-sendiri.

Baju kaus tersebut tentu tidak hadir hanya sekadar memplesetkan sebuah jargon, tapi menggambarkan bagaimana jemawanya sebuah perusahaan mengklaim dirinya begitu berjasa menghubungkan setiap orang. Sementara ada hal kecil seperti arak (dan alkohol lokal lain seperti tuak, sopi dll) yang lebih dahulu melakukannya dan tentu saja menghubungkan dalam arti sebenarnya.

Tidak hanya sebuah suara ke telinga, tetapi menghubungkan dalam bentuk lebih intim, kehadiran seseorang dalam sebuah lingkaran. Kehadiran yang memungkinkan pertukaran pendapat dan gagasan di tempat yang sama. Mempererat lingkaran menjadi sebuah kelompok dan membuka kemungkinan bergerak menjadi kesatuan.

Melampau Jarak

Kata “connecting” yang didefinisikan oleh merek itu hanya membuat setiap orang terhubung melampaui jarak (pak pos sudah lakukan lebih dahulu) tapi mengabaikan kehadiran secara fisik. Tanpa disadari itu membuat setiap orang larut dalam persoalan dan kesendiriannya masing-masing. Padahal kehadiran satu sama lain bisa memunculkan dan menumbuhkan solidaritas.

Di barisan baju kaus yang lain sebuah kalimat tidak kalah nyentil juga hadir, “Dicari agama murah meriah” tertera di baju kaus belel yang sudah pudar, entah berapa kali perlakuan kering-cuci-pakai. Perlakuan yang bisa jadi timbul akibat si pemilik kaus harus bekerja keras memenuhi keinginan agama yang nyatanya tidak murah.

Baju kaus yang menyentil bagaimana gemercik rupiah harus dikeluarkan untuk membiayai keberlangsungan pesta sebuah agama. Menemukan agama yang murah meriah tentu menjadi sebuah misi mustahil. Kepercayaan yang diyakini akhirnya dilembagakan dalam sebuah agama akan memunculkan biaya. Biaya yang harus dikeluarkan pemeluk agama walau Tuhan tidak pernah menuntut.

Bahkan kalimat “tuhan maha pemurah” menunjukkan bagaimana kasih tuhan sering kali didengar walau pada kenyataannya tetap saja biaya harus dihadirkan untuk menjaga eksistensi agama tersebut.

Ada juga “Naskleng” baju kaus merah dengan font tulisan dan logo mirip dengan merek yang diplesetkan dari kata tersebut. Di bagian belakang ada sebuah kalimat ”acces to water sould NOT not be a public right”, sebuah kutipan dari Peter Brabeck, CEO Nestle (saat itu).

Naskleng dengan seekor burung terbaring mati adalah protes dari pernyataan itu.

Sosok pengusaha dengan kekuatan modalnya, secara sepihak dan seenaknya melihat dan menganggap air, kebutuhan utama semua makhluk hidup sebagai sebuah komoditi yang bisa dijual seenaknya. Sekali lagi bagaimana suara-suara gerah muncul dan berseliweran di antara kelakuan perusahan besar dengan kekuatan modal mereka.

Tidak ada banyak suara dari beragam kekacauan akibat kerakusan pengusaha dengan modalnya yang berhasil berkongsi dengan pemerintah. Membuat kebijakan hukum yang pada kenyataannya merebut ruang-ruang hidup warganya.

Informasi tentang pameran Kaos Keos. Foto Baskara

Miris

Ada yang miris dan menumpahkan lewat kaus, bahwasanya republik ini tak seperti “republic indomie”, ketika semua dikelola dan diorientasikan secara instan. Juga kalimat kutipan puisi Wiji Thukul “Ini tanah airmu di sini kita bukan turis”. Sampai plesetan cK (circle) menjadi circle Kleng, suara protes invasi retail 24 jam.

Ada pula kaus plesetan BALI “Bali Amblas Lantaran !nvestor” (tanda seru mewakili I ). Juga teriakan warga Kendeng yang menolak kehadiran pabrik semen yang merusak alam, dan warga Banyuwangi yang menolak tambang emas merenggut Gunung Tumpang Pitu. Kaus penolakan warga Bali menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan menuntut pencabutan Perpres 51 Tahun 2014 cukup banyak dari beragam daerah dengan desain masing-masing.

Teriakan seorang anak yang kehilangan ayahnya di masa rezim Suharto yang otoriter, hingga teriakan penolakan pembangunan PLTU Batu Bara di Celukan Bawang di rezim Jokowi yang bebal.

Semua suara dari berbagai lapisan warga dari berbagai wilayah yang termuat dalam baju kaus berkumpul, membentuk sebuah barisan. Menunjukkan bahwa ada sikap kritis di antara dominasi penguasa pengusaha. Lahir kesadaran kritis yang menyeruak di antara sikap pengabaian dan abai berjamaah. Ada yang mengepalkan tangan dan melawan di antara ketakutan dan kepatuhan yang melanda.

Suara kritis perlawanan, dari masalah lingkungan, desakan adat dan tradisi, kuasa modal, kelakuan penguasa (pemerintah). Suara kecil yang menggendor dominasi perampasan ruang hidup yang terjadi. Suara dari masa ke masa, dari era Taring Padi yang baju kausnya telah belel, hingga kini ke era baju kaus Bali Tolak Reklamasi yang masih kinclong.

Barisan baju kaus ini dipajang, ditata berundag hingga menjadi sebuah karya instalasi berjudul “Kaos Keos” dari Agung Alit yang menghiasi halaman belakang Taman Baca Kesiman. Karya instalasi ini dibuat dan dipertontonkan dalam rangkaian Pesta Baca, perayaan ulang tahun yang ke-5 dari Taman Baca Kesiman. Karya yang mengingatkan bahwa baju kaus bukan hanya sebuah sarana untuk tampil gaul, tetapi juga media untuk menyuarakan sikap. Menyuarakan keberpihakan.

Sebuah karya yang kemudian tanpa disadari mendokumentasikan bagaimana suara-suara itu lahir dan terus didengungkan. Dari satu masa ke masa lain, dari generasi ke generasi berikutnya terhubung lewat media baju kaus. berhasil dikumpukan dan menjadi sebuah karya instalasi .

Sebuah karya seni instalasi bagaimana Sukarno sebagai proklamator dibandingkan dengan SiBuYa (SBY) sebagai reklamator, presiden di balik terakomodasinya ide reklamasi Teluk Benoa. Bagaimana perhatian seharusnya lebih diberikan pada dunia (bumi) bukan bank dengan rayuan kredit-kredit murah yang memenjara setiap orang pada kewajiban membayar bunga dari setiap kredit yang mereka dapatkan. “More World, Less Bank” hingga sentilan “For Sale, otak masih waras dijual karena jarang dipakai.”

Teriakan warga bahwa Bali akan hancur ketika sawah sebagai dasar tradisi dan budaya punah “Sawah punah, Bali benyah” sampai parodi Visit Bali Years.

Instalasi “Kaos Keos” menjadi gambaran bagaimana kekacauan situasi sosial jika kekuasaan modal (pengusaha) didukung penguasa (pemerintah) telah mengeksploitasi alam dan merenggut nilai-nilai warga. Ruang hidup mereka direbut. Alih-alih berpihak dan melindungi mereka sebagai kesatuan ruang-manusia yang dihidupi, malah merenggut ruang dan merampas ruang tersebut.

Jika suara-suara dalam baju kaus akhirnya bisa berkumpul dan berteriak bersama, semoga juga gerakan-gerakan perlawanan di setiap daerah bisa berkumpul, bersatu, dan saling menyuarakan. Bukankah Belanda berkuasa sedemikian lama akibat perlawanan terlokalisir di daerah, tidak bersatu. Bersatu dengan satu tujuan, merebut kembali ruang hidup yang dirampas penguasa-pengusaha dan menunjukkan suara rakyat bukan suara yang bisa dengan mudah diabaikan.

Semoga seni instalasi Kaos Keos bisa memicu perlawanan yang awalnya gelinding kecil menjadi sebuah gelindingan bola salju. Bisa menghancurkan dominasi oligarki dan kekuasaan rakus, bagaimana nyala kecil bisa bisa berkobar menjadi api yang berkobar untuk membakar kerakusan kongsi pengusaha-penguasa.

Ada teks di seni instalasi ini yang tidak kalah penting, “Kaos keos ulian bansos” dan “Wangun zat kimia lokal Bali.” Jika bansos memunculkan bentuk bantuan yang memanjakan, pembungkaman serta penundukan, mengebiri kesadaran dan sikip kritis warga. Penggunan zat kimia serta eksploitasi alam Bali sama kencangnya dengan jargon pemerintah yang menggunakan frase lokal.

Kebijakan yang akan membuat Bali harus menanggung beban infrastruktur atas nama pembangunan, kemajuan, dan kemakmuran masyarakat. Silakan cari tahu bagaimana rancang bangun yang mereka rencanakan untuk panglima yang bergelar, Industri Pariwisata”. [b]

The post Kaos, eh Kaus, yang Keos di Pesta Baca appeared first on BaleBengong.

White Swan Kepakkan Sayap Lebih Tinggi


Namanya mungkin masih terbilang baru di skena musik independen Bali.

Namun, White Swan, band asal Denpasar yang digawangi oleh Sugeng (vocal), Reza (gitar), Satriya (bass), dan Maha (drum) sejak 2016 silam ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka baru saja resmi menelurkan debut album pada 20 April 2019. Album ini sendiri diberi nama CYGNUS.

Sebelumnya, mereka juga merilis E.P (mini album) Brain Teaser pada 10 Agustus 2016 dan single Bow Surfer pada 9 Desember 2017 serta menyelesaikan tour Jawa Timur-nya.

Secara harafiah, CYGNUS adalah suatu rasi bintang di belahan utara. Rasi ini juga salah satu dari 48 rasi bintang Ptolemy dan satu dari 88 rasi bintang modern. Selain itu, rasi bintang ini memiliki bentuk menyerupai seekor angsa. Unggas inilah yang menjadi entitas bagi band itu sendiri.

Secara konsep album, CYGNUS mempunyai arti band ini telah lahir dari sebuah galaksi. Harapannya mereka mampu membagikan sinar-sinar positif layaknya si rasi bintang itu sendiri. Selain itu, masing-masing lagu dari album ini memiliki artwork tersendiri yang nantinya mampu menjelaskan cerita dan maksud dari lagu tersebut.

Dalam album CYGNUS terdapat 10 track yakni Venturead, Nicotian, Rock n’ Roll Lady, Wolf in Sheep’s Skin, Delusion, Cygnus, Doctor Element, The Sun ft. Ian J. Stevenson (Zat Kimia), Bow Surfer, dan Liar. Seluruh lagu ini dapat dinikmati dalam format kepingan CD seharga Rp 50 ribu.

White Swan sendiri menuturkan bahwa dalam album ini mereka membawa warna berbeda dari materi-materi sebelumnya. Musik rock yang mereka sajikan akan lebih segar ditambah balutan nada-nada manis. Dengan demikian pendengar lebih mudah meresapi dan memaknai karya-karya dalam album ini.

Setelah perilisan debut album ini, White Swan berencana akan menggelar lauching pada Mei dan tour di akhir tahun 2019. Mereka juga menjual merchandaise berupa produk-produk siap pakai seperti baju, tote bag, tumblr, dll.

Info lebih langkah silahkan cek White Swan via media sosial yang telah tertera.

Spotify : White Swan
Instagram : @whiteswanrock
Facebook : facebook.com/whiteswanrock
Wix site : whiteswanrock.wixsite.com
Youtube : White Swan TV

The post White Swan Kepakkan Sayap Lebih Tinggi appeared first on BaleBengong.

Pesta Baca, cara asyik usir picik rayakan 5 tahun Taman Baca Kesiman

Taman Baca Kesiman (TBK) hadir pertama kali di Denpasar pada tanggal 30 April 2014. Sejak muncul di ruang publik 5 tahun silam dengan tujuan menjadi tempat asyik mengusir picik.

Perpustakaan alternatif yang sering disebut “TBK” ini menjadi semacam oase segar bagi pecinta buku di tengah-tengah suntuknya dunia pariwisata massal di Bali yang semakin keras dan berisik.

Tapi TBK dibangun bukan untuk anti pada arus besar pembangunan pariwisata yang begitu dipuja, namun justru hendak menawarkan alternatif kesadaran kritis. Agar publik yang berkunjung di TBK bisa melihat dan menikmati Bali dengan cara berbeda dari wisata mainstream, yakni: membaca buku, berdiskusi dan berkolaborasi, dengan terus merawat dan memberi hormat pada kebhinekaan Indonesia.

Dilengkapi dengan koleksi lebih dari 4,000 buku, warung kecil, kebun organik sehat dan play ground hijau, TBK juga sering didapuk menjadi venue acara-acara alternatif dan independen oleh kalangan muda di Denpasar dan sekitarnya, seperti: launching album musik, buku, nonton bareng film-film indie, pagelaran musik, hingga acara ultah beragam komunitas.

https://www.youtube.com/watch?v=KsADrhMtHTk Berdendang TBK

5 tahun lalu TBK lahir, ia didirikan dari ide dan tangan dingin pasangan pebisnis dengan bendera Fair Trade, Agung Alit dan Hani Duarsa. Memanfaatkan tanah kebun warisan orangtua, pasangan ini memilih “mewakafkan” tanah waris itu menjadi ruang perpustakaan yang terbuka untuk publik, alih-alih mengubahnya untuk membangun hotel atau villa mewah pribadi. Tapi tentu saja pilihan itu bukan tanpa konsekuensi. Ribuan koleksi buku pribadi Agung Alit dan Hani Duarsa dipindahkan dari rumah pribadi ke perpustakaan TBK ini untuk bisa diakses dan dibaca khalayak banyak.

Ubi dan jagung urab

Masuk di umur ke-5, Taman Baca Kesiman memang belum bisa memenuhi harapan semua orang agar menjadi perpustakaan ideal dan mapan. Sebagai tempat membaca buku, TBK masih terus berproses. Kami berusaha untuk terus hidup dan berdinamika di saat laju pesat teknologi informasi begitu mendominasi gaya hidup masyarakat urban kekinian.

Sumber informasi yang membludak dari berbagai platform media sosial dan berita online, seolah mengharuskan orang untuk membaca cepat dan singkat. Aktivitas membaca buku offline apalagi di perpustakaan, dianggap menjadi sebuah aktifitas kemewahan, tapi sekaligus bisa juga dikira kurang kerjaan. Kebiasaan membaca buku, apalagi menulis dan mendiskusikan buku memang belum membudaya bagi orang Indonesia pada umumnya. Tak heran jika tingkat literasi di Indonesia masih sangat rendah, di level internasional tingkat literasi kita bahkan setara dengan negara Botswana di Afrika.

Minat baca buku dan kesadaran literasi yang rendah tersebut menjadi dorongan tersendiri bagi Taman Baca Kesiman untuk berkontribusi dalam upaya mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Semangat untuk mendorong penguatan minat baca, berdiskusi, menghargai perbedaan pendapat, berpikir kritis dan progresif akan terus dipelihara dan bergelora di Taman Baca Kesiman.

Taman Baca Kesiman merupakan salah satu perpustakaan asyik di Denpasar.

Untuk terus memantik minat baca tersebut, dalam rangka peringatan 5 Tahun Taman Baca Kesiman, kami menggelar PESTA BACA pada 30 April-2 Mei 2019. Berlokasi di Taman Baca Kesiman, Jalan Sedap Malam 234, Denpasar.

Puncak perayaan “Pesta Baca” 5 Tahun TBK akan digelar 30 April, pukul 17.30 WITA, dengan acara utama “Sobyah Kebudayaan” dari Bapak Soesilo Toer (sastrawan cum pemulung) yang khusus diundang di acara ini dan datang langsung dari Blora, Jawa Tengah. Soesilo Toer juga penulis banyak judul novel, dan adik bungsu dari sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Pesta Baca pada hari 2 dan 3 akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti Bedah Buku dan diskusi, Lapak Buku, Kaos Keos Art, Mendongeng, dan Bermusik.

The post Pesta Baca, cara asyik usir picik rayakan 5 tahun Taman Baca Kesiman appeared first on BaleBengong.

Sabun Muka yang Tepat untuk Mencegah Jerawat

Seringkali wajah pria mempunyai tipe kulit yang mudah berminyak daripada wajah wanita. Alasannya adalah, kondisi hormon pria secara alami berbeda dengan wanita, sehinghga kulit pria akan menghasilkan minyak lebih banyak. Demikian juga pria mempunyai kelenjar keringat yang memproduksi keringat lebih banyak daripada wanita. Tentu melihat produksi wajah yang banyak membuat Anda harus mencari sabun muka […]

The post Sabun Muka yang Tepat untuk Mencegah Jerawat appeared first on kabarportal.