Tag Archives: Bali

Gunung Agung Meletus Tipe Freatik, Ini Rekomendasi untuk Warga

Laporan warga di twitter @Balebengong

Letusan freatik bukan sesuatu yang aneh jika status gunungapi dalam kondisi siaga.

Gunung Agung yang meletus pada Selasa (21/11/2017) pukul 17:05 WITA, termasuk letusan jenis freatik. Tinggi asap kelabu tebal dengan tekanan sedang maksimum 700 meter.

Letusan freatik terjadi akibat adanya uap air bertekanan tinggi. Uap air tersebut terbentuk seiring dengan pemanasan air bawah tanah atau air hujan yang meresap ke dalam tanah di dalam kawah kemudian kontak langsung dengan magma. Letusan freatik disertai dengan asap, abu dan material yang ada di dalam kawah. 

Letusan freatik sulit diprediksi. Bisa terjadi tiba-tiba dan seringkali tidak ada tanda-tanda adanya peningkatan kegempaan. Beberapa kali gunungapi di Indonesia meletus freatik saat status gunungapi tersebut Waspada (level 2) seperti letusan Gunung Dempo, Gunung Dieng, Gunung Marapi, Gunung Gamalama, Gunung Merapi dan lainnya. Tinggi letusan freaktik juga bervariasi, bahkan bisa mencapai 3.000 meter tergantuk dari kekuatan uap airnya.

Jadi letusan freatik gunungapi bukan sesuatu yang aneh jika status gunungapi tersebut di atas normal. Biasanya dampak letusan adalah hujan abu, pasir atau kerikil di sekitar gunung.

Memang letusan freatik tidak terlalu membahayakan dibandingkan letusan magmatik. Letusan freatik dapat berdiri sendiri tanpa erupsi magmatik. Namun letusan freatik bisa juga menjadi peristiwa yang mengawali episode letusan sebuah gunungapi. Misalnya Gunung Sinabung, letusan freatik yang berlangsung dari tahun 2010 hingga awal 2013 adalah menjadi pendahulu dari letusan magmatik. Letusan freatik Gunung Sinabung berlangsung lama sebelum diikuti letusan magmatik yang berlangsung akhir 2013 hingga sekarang.

Letusan magmatik adalah letusan yang disebabkan oleh magma dalam gunungapi. Letusan magmatik ada tanda-tandanya, terukur dan bisa dipelajari ketika akan meletus.

Memang pemahaman masyarakat masih cukup terbatas mengenai gunungapi. Kita memiliki 127 gunungapi aktif yang masing-masing gunung memiliki watak berbeda-beda. Yang penting masyarakat mematuhi rekomendasi dari PVMBG. Iptek dikombinasikan dengan kearifan lokal setempat dapat efektif menyelamatkan masyarakat sekitar.

Status Gunung Agung hingga saat ini tetap Siaga (level 3). Tidak ada peningkatan status. PVMBG terus melakukan pemantauan dan analisis aktivitas vulkanik. Tremor menerus mulai terdeteksi. Rekomendasi juga tetap radius 6-7,5 km dari puncak kawah tidak boleh ada aktivitas masyarakat. Data pengungsi pada Selasa siang tadi sebanyak 29.245 jiwa yang tersebar di 278 titik pengungsian.

Pengungsi ini akan bertambah mengingat warga Dusun Bantas Desa Abaturinggit sudah turun menjauh dari radius 7.5 km ke Kantor Camat Kubu. Warga Dusun Juntal Kaje rencana malam ini juga turun ke balai-balai banjar yang ada di Desa Kubu. Begitu juga warga dukuh juga sudah bersiap-siap untuk mencari tempat yang lebih aman.

Masyarakat dihimbau tetap tenang. Jangan panik dan terpancing isu-isu menyesatkan. PVMBG akan terus memberikan informasi terkini. BNPB, TNI, Polri, Basarnas, BPBD, SKPD, relawan dan semua unsur terkait akan memberikan penanganan pengungsi.

Kondisi Bali tetap aman. Bandara Internasional Ngurah Rai masih aman dan normal. Pariwisata di Bali juga masih aman, selain di radius berbahaya di sekitar Gunung Agung yang ditetapkan PVMBG yang memang tidak boleh ada aktivitas masyarakat. (Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB)

Rekomendasi dari BPVMB:

  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan- Baratdaya sejauh 7.5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru. Daerah yang terdampak antara lain Dusun Br. Belong, Pucang, dan Pengalusan (Desa Ban); Dusun Br. Badeg Kelodan, Badeg Tengah, Badegdukuh, Telunbuana, Pura, Lebih dan Sogra (Desa Sebudi); Dusun Br. Kesimpar, Kidulingkreteg, Putung, Temukus, Besakih dan Jugul (Desa Besakih); Dusun Br. Bukitpaon dan Tanaharon (Desa Buana Giri); Dusun Br. Yehkori, Untalan, Galih dan Pesagi (Desa Jungutan); dan sebagian wilayah Desa Dukuh.
  2. Jika erupsi terjadi maka potensi bahaya lain yang dapat terjadi adalah terjadinya hujan abu lebat yang melanda seluruh Zona Perkiraan Bahaya. Hujan abu lebat juga dapat meluas dampaknya ke luar Zona Perkiraan Bahaya bergantung pada arah dan kecepatan angin. Pada saat rekomendasi ini diturunkan, angin bertiup dominan ke arah Selatan-Tenggara. Oleh karena itu, diharapkan agar hal ini dapat diantisipasi sejak dini terutama dalam menentukan lokasi pengungsian.
  3. Mengingat adanya potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar G. Agung maupun di Pulau Bali, segera menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata sebagai upaya antisipasi potensi bahaya abu vulkanik.
  4. Pemerintah Daerah beserta jajarannya maupun BNPB agar segera membantu dalam membangun jaringan komunikasi melalui telepon seluler (Grup WhatsApp) maupun komunikasi melalui radio terintegrasi untuk mengatasi keterbatasan sinyal telepon seluler di antara pihak-pihak terkait mitigasi bencana letusan G. Agung. Diharapkan agar proses diseminasi informasi yang rutin dan cepat dapat terselenggara dengan baik.
  5. Seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan agar terus mengikuti perkembangan aktivitas G. Agung secara rutin karena data pengamatan dapat secara cepat berubah sehingga upaya-upaya preventif untuk menjamin keselamatan udara dapat dilakukan.
  6. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Bali, tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.
  7. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Agung.
  8. Masyarakat di sekitar G. Agungdan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti himbauan Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota beserta aparatur terkait lainnya sesuai dengan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi sehingga jika diperlukan upaya-upaya mitigasi strategis yang cepat, dapat dilakukan dengan segera dan tanpa menunggu waktu yang lama.
  9. Seluruh masyarakat maupun Pemerintah Oaerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Karangasem, dan instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan tingkat aktivitas maupun rekomendasi G. Agung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.vsi.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Partisipasi masyarakat juga sangat diharapkan dengan melaporkan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan aktivitas G. Agung melalui fitur Lapor Bencana. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation. (Sumber Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

 

The post Gunung Agung Meletus Tipe Freatik, Ini Rekomendasi untuk Warga appeared first on BaleBengong.

Berbagi Ide Keberlanjutan di Bali Sustainability Jam 2017

BALISUSTAINABILITYJAM, BALI, THISISWHYWEJAM, GLOBALSUSTAINABILITYJAM, INDONESIA
Salah satu peserta Bali Sustainability Jam 2017 saat presentasi prototype di Kulidan Kitchen & Space, 12 November 2017.

Sore hari menjelang, satu per satu peserta datang.

Tak hanya dari Bali, mereka juga datang dari Jakarta hingga Yogyakarta. Sebanyak 24 peserta akan bertukar pengalaman, berbagi ide dalam Bali Sustainability Jam Denpasar 2017, 10-12 November 2017 lalu.

Bali Sustainability Jam 2017 hadir bukan untuk membuat konferensi, seminar, atau kelompok jaringan (meski mungkin diakhiri secara tidak sengaja). Kegiatan ingin mengumpulkan orang-orang dari seluruh Indonesia dan mendorong mereka agar bisa memberikan solusi pada permasalahan bumi dalam 48 jam.

Bali Sustainability Jam 2017 ini bagian dari Global Sustainability Jam yang merupakan acara tahunan tempat berkumpulnya para peminat isu keberlanjutan. Mereka bersama-sama menggali ide dan mendesain solusi atas sebuah isu yang tertuang dalam tema besar. Kegiatan ini berlangsung serentak di dunia, mulai dari Sydney hingga New York dan dari Bogota hingga Bali.

Marc-Antoine Dunais, Managing Director Catalyze Communications selaku pihak penyelenggara mengatakan ininsesuai dengan misi Catalyze yang selalu memberi inspirasi dan mempengaruhi orang untuk kebaikan yang lebih berkelanjutan. “Kami menyadari bahwa dalam melakukan ini, kita juga perlu mengubah pola pikir bagaimana orang mendekati masalah keberlanjutan khususnya di Indonesia,” ujarnya.

Peserta dari berbagai latar belakang, pengalaman, profesi hingga usia yang beragam ini justru menjadikan Bali Sustainability Jam jauh lebih menarik. Bagaimana latar belakang pekerjaan di bidang teknik, lingkungan, pariwisata, LSM, minyak dan gas, start-up, dan komunikasi, hingga mahasiswa, duduk bersama mencoba memecahkan suatu masalah hingga tercipta prototype sebagai solusi yang berkelanjutan.

BALISUSTAINABILITYJAM, BALI, THISISWHYWEJAM, GLOBALSUSTAINABILITYJAM, INDONESIA
Salah satu peserta Bali Sustainability Jam 2017 saat presentasi

Cinta Azwiendasari, perwakilan dari Catalyze Communications selaku penyelenggara mengungkapkan bahwa  pendekatan Global Sustainability Jam inilah yang menjadi akar peran Catalyze. Cinta mengatakan apabila solusi-solusi yang dibangun untuk mengatasi persoalan lingkungan tidak mempertimbangkan perilaku dan sikap manusia, maka solusi tersebut tidak akan efektif. P

erkembangan solusi ramah lingkungan mulai dari penggunaan energi berkelanjutan hingga menghindari pembakaran sampah sembarangan misalnya hanya akan berhasil jika ada manfaat yang jelas bagi pengguna. “Sayangnya saat ini, hal-hal seperti ini jarang dipertimbangkan oleh pemangku kepentingan di dunia lingkungan,” tambahnya.

Kegiatan akhir pekan selama 48 jam ini terlaksana berkat kerja keras sebuah tim kecil penuh energi dan semangat yang berbasis di Catalyze. Acara yang berbasis kerelawanan ini mampu meyakinkan banyak pihak dan berhasil mendapatkan dukungan dalam bentuk produk dan jasa yang memang memiliki perhatian lebih pada isu keberlanjutan.

Beberapa media lokal Bali pun tidak ketinggalan mendukung dengan menjadi mitra media. Bali Sustainability Jam sangat diupayakan menjadi salah satu contoh kegiatan yang menuju zero waste . Hal ini sangat mungkin terlaksana berkat tim penyelenggara yang solid, peserta yang peduli lingkungan, juga para mitra dan pendukung dengan misi yang sama. [b]

The post Berbagi Ide Keberlanjutan di Bali Sustainability Jam 2017 appeared first on BaleBengong.

Megending yuk Kita Megending

‘ngiring je sikiang manahe, sekadi i bungan…’ Liriknya sudah pasti hafal, meski sempat jua agak lupa ingatan pada saat pentas Rabu jelang siang tadi. Tapi yang sulit adalah menghafal gerak tangannya di sela sorak sorai penonton dan gemerlapnya lampu sorot atas panggung. Baru kali ini saya merasakan grogi yang minta ampun. Padahal kalo soal membuka […]

BaleBengong 2017-11-07 13:22:06

Mister and Miss Gaya Dewata 2016/Foto: Luh De Suriyani

Menerima Keberagaman dalam Kehidupan

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini pastilah ingin mendapatkan yang terbaik dalam kehidupannya. Tetapi manusia hanyalah menjalankan kehidupannya sesuai dengan apa yang telah Tuhan gariskan pada setiap orang dan tidak lebih dari pada itu.

Dalam kehidupan di dunia, ada siang dan juga ada malam. Tetapi diantara siang dan malam ada pagi dan sore. Dalam warna, ada warna hitam dan juga ada warna putih. Dan di antara warna hitam dan putih juga ada warna pelangi.

Sementara manusia yang lahir ke dunia ini jika dilihat dari jenis kelamin hanya ada laki-laki dan perempuan. Tetapi gender yang ada tidak hanya ada laki-laki dan perempuan saja, tapi juga ada Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

Sebenarnya tidak ada seorangpun bayi yang lahir kedunia ini untuk menjadi LGBT. Dan juga tidak seorangpun orang tua, ibu atau ayah yang melahirkan bayinya menginginkan anaknya untuk menjadi LGBT. Tetapi semua ini adalah karunia Tuhan yang telah diberikan pada umatnya yang harus diterima dan dijalaninya.

Jika semua orang bisa memahami, menerima dan menghargai adanya perbedaan ini, alangkah indahnya dan damainya hidup ini. Tetapi kenyataan yang ada tidak seindah yang diharapkan. Masih ada sebagian orang yang belum bisa menerima keberadaan orang-orang minoritas di masyarakat seperti ini.

Sejak komunitas LGBT mulai menemukan identitas gender dan orientasi seksualnya (masa kanak-kanak atau remaja), dalam perjalanannya mereka sering mendapat kekerasan (psikis dan fisik). Diolok-olok, diejek dan bahkan juga ada yang sampai dipukuli oleh anggota keluarganya sendiri karena sebagai LGBT. Belum lagi kekerasan dari lingkungan bermain, sekolah, juga keluarga yang semestinya sebagai tempat yang aman malah menjadi tempat yang tidak nyaman.

Dalam situasi seperti ini, akhirnya banyak komunitas waria kabur dari rumah tanpa dibekali pendidikan dan keterampilan yang cukup (karena masih usia remaja), dan mereka mencari kehidupannya sendiri.

Kalaupun ada waria yang bertahan dengan kekerasan yang diterimanya sampai berhasil menyelesaikan pendidikan, mereka juga tidak bisa diterima bekerja di sektor formal karena pilihanya menjadi waria. Walaupun waria berpendidikan sarjana, tapi ketika dia melamar di sektor formal tidak diterima karena penampilannya sebagai waria. Begitu juga kalau kerja di perusahaan dll, sehingga banyak Waria yang terjun ke dunia kecantikan (salon) dan dunia hiburan.

Begitu juga halnya dengan Gay, Lesbian maupun Biseksual, mereka juga sering mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan jika diketahui orientasi seksualnya dengan sesamanya sehingga mereka lebih menutup diri terhadap perilaku seksualnya.

Dalam hal pendidikan, banyak waria yang tingkat pendidikannya rendah. Sedangkan pada gay tingkat pendidikannya kebanyakan menengah keatas sehingga mudah dalam hal mencari pekerjaan.

Dari sinilah akhirnya memunculkan pemikiran di benak beberapa komunitas gay di Bali untuk membuat suatu organisasi dengan tujuan supaya ada tempat untuk berbagi dalam segala hal terkait dengan kehidupan LGBT, dan akhirnya pada hari Valentine 14 Februari 1992 terbentuklah Organisasi Gaya Dewata oleh beberapa orang dari komunitas Gay di Bali. Dalam perjalanannya, Yayasan Gaya Dewata (YGD) bukan hanya untuk tempat berbagi dan memberi dukungan kepada sesama, tetapi juga dalam program penanggulangan IMS, HIV dan AIDS.

Seperti yang terjadi sampai saat ini, situasi epidemi HIV di Indonesia dan juga Bali masih menjadi perhatian. Hal ini disebabkan karena angka prevalensi HIV pada usia muda di masyarakat terus meningkat. Peningkatan ini bisa kita ketahui berdasarkan hasil Survei Terpadu Biologis dan Perilaku yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Melihat fakta tersebut diatas, Gaya Dewata juga berperan aktif dalam menekan laju perkembangan kasus HIV yang terjadi di masyarakat khususnya pada komunitas LGBT bisa ditekan. Komunitas LGBT sebagai bagian dari masyarakat juga bisa dilibatkan dalam program penanggulangan HIV dan AIDS dan mereka juga dapat dijadikan sebagai role model perubahan perilaku dalam menekan laju epidemi HIV dan AIDS.

Memanfaatkan momentum edutainment sebagai salah satu strategi untuk melakukan promosi dan sosialisasi tempat layanan kesehatan secara umum agar dapat diakses oleh setiap orang. Disamping itu juga diharapkan momentum edutainment dapat menjadi upaya untuk mereduksi stigma dan diskriminasi terhadap komunitas LGBT dan ODHA.

Kegiatan edutainment ini kami kemas dengan sangat menarik dalam bentuk pemilihan “Mister dan Miss Gaya Dewata 2017”. Rangkaian kegiatan ini telah dilakukan beberapa tahapan yaitu babak penyisihan dilakukan pada tgl 25 Oktober di Santika Hotel Seminyak yang diikuti 26 peserta MISTER dan 27 peserta MISS , sehingga terpilih 12 pasang finalis Mister dan Miss. Para finalis juga diberikan pembekalan tentang HIV & AIDS, SOGIEB, Hukum & HAM, test tulis dan Public Speaking terkait dengan HIV & AIDS.

Dan malam pucak acara final  dari 12 finalis katagori Mister dan 12 finalis katagori Miss akan digelar pada hari Rabu, 8 November 2017, jam 19.00 – 22.30, di BHUMIKU Convention Hall, Jln. Gunung Soputan No. 49, Denpasar.

Menyelenggarakan event “Pemilihan Mister & Miss Gaya Dewata 2017” untuk komunitas LGBT adalah satu strategi program edutainment YGD yaitu menggabungkan antara acara hiburan dan pemberian informasi untuk komuntas LGBT di Bali.

“Pemilihan Mister & Miss Gaya Dewata 2017” merupakan event tahunan YGD, dan untuk tahun 2017 akan menjadi tahun kedua event ini.

Mister & Miss Gaya Dewata 2017 yang terpilih nantinya diharapkan akan memiliki pengetahuan yang lebih banyak sehingga dapat membantu peran YGD dalam memberikan informasi yang benar tentang HIV dan AIDS kepada komunitas nya dalam hal ini adalah komunitas LGBT. Selain itu mereka bisa menjadi role model bagi komunitasnya dalam melakukan kegiatan kegiatan advokasi.

Kegiatan ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa komunitas LGBT juga bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat sama seperti yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya dan juga untuk menyalurkan bakat komunitas LGBT dalam dunia fashion, juga untuk memberikan informasi yang benar tentang HIV & AIDS, juga tentang SOGIEB sebagai upaya mereduksi stigma dan diskriminasi terhadap LGBT bahwa LGBT juga bisa berprestasi.

Dengan kegiatan ini juga berharap bisa menciptakan strategi komunikasi yang baru dengan pesan-pesan yang lebih positif, sehingga dapat mengurangi stigma dan diskriminasi yang sering terjadi di masyarakat. Dengan menggunakan saluran-saluran yang lebih bervariasi, sehingga daya jangkau penyampaian pesan akan menjadi lebih luas. (Christian Supriyadinata, S.Pd-Yayasan Gaya Dewata).

The post Final Pemilihan Mister & Miss Gaya Dewata 2017 appeared first on BaleBengong.

Kenapa Ini Bukan Nosstress?

Ketika Masing-masing Zat Bekerja Sendiri Sebelum Kembali Bersenyawa

Usai menelurkan dua album penuhnya, Perspektif Bodoh I (2011) Perspektif Bodoh II (2014), serta album kolaborasi bareng Mitra Bali Fair Trade berjudul “Viva Fair Trade” (2015), trio folk Bali, Nosstress, membagi sesuatu yang baru di tahun ini. Adalah Perspektif Bodoh III,sebuah album yang bahkan menjadi wacana, sejak tahun 2016. Namun ternyata lanjutan dari dua album sebelumnya ini kembali tertunda di tahun ini. Ketidaksiapan akan merampungkan trilogy ini dituturkan secara gamblang oleh Nosstress.

Tertundanya Perspektif Bodoh III ini, justru mendorong mereka melahirkan karya yang lain tepatnya di kuartal keempat tahun 2017 ini. Ini Bukan Nosstress, menjadi hasil rilisan album penuh yang akhirnya mampu terealisasi. Walaupun terselip di antara trilogi yang belum kunjung rampung, di album ini, baik Man Angga, Kupit dan Cok sepakat, tidak ingin menyebut karya satu ini sebagai album Nosstress. Walau mencoba menghadirkan konsep lain, kehadiran mereka yang notabene adalah personel Nosstress sehingga sulit untuk tidak menafsirkan bahwa album ini adalah bagian Nosstress.

Secara materi, lagu-lagu mereka kali ini memang hadir secara personalnya masing-masing. Masing-masing lagu, diciptakan hingga kemudian dilantunkan langsung oleh sang empunya, tidak lagi bertiga. Itulah mengapa mereka tak ingin menyebut album ini sebagai bagian dari album Nosstress.

“Seharusnya tahun ini atau tahun lalu, adalah waktu bagi Perspektif Bodoh menjadi trilogi. Tapi sepertinya kami belum siap untuk membuat lagu bersama. Kami sebagai musisi, setidaknya harus tetap siap membuat lagu masing-masing, bagi diri sendiri,” kata Angga.

Total 9 lagu yang disuguhkan Angga, Kupit dan Cok yang masing-masing dari mereka menelurkan 3 buah lagu. Namun tak murni hadir sendiri-sendiri sebagai personal. Di album ini juga menghadirkan beberapa sahabat musisi yang ikut menuangkan kebolehannya. Adalah Dadang SH. Pranoto (Dialog Dini Hari, Navicula) yang juga berperan sebagai produser album ini, Deny Surya (Dialog Dini Hari), Sony Bono, WayanSanjaya, Windu Estianto, FendyRizk dan Dony Saxo.

Oh, Ini Bukan Nosstress?

Secara lirik dan konsep, lagu-lagu di album Ini Bukan Nosstress memang tak bisa dikatakan senada dengan lagu-lagu di dua album Perspektif Bodoh yang cenderung lebih kritis terhadap persoalan social dan lingkungan di sekitar mereka. Sembilan lagu di album ini terasa sekali nuansa personal masing-masing empunya lagu. Namun dalam hal aransemen musik, khususnya karena kolaborasi dengan para musisi tersebut, justru terdengar lebih berwarna dibandingkan music mereka, yang biasanya cenderung lebih minimalis dengan konsep folk akustik-nya.

“Kami mencoba memberi kebebasan pada individu pembentuk Nosstress untuk bebas berkarya, mengembangkan pikirannya sendiri. Untuk suatu saat kembali berkarya sebagai Nosstress,” tambahnya.

Setelah dirilis lewat iTunes, Spotify, Deezer, Joox, dan format digital lainnya, pada 3 Oktober 2017 yang lalu, Ini Bukan Album Nosstress juga akan dirilis secara fisik. Saat ini fisik album tersebut pun tengah dalam proses produksi. Begitu juga dengan launching concert yang masih dalam tahap perenungan, kapan, di mana dan bagaimana akan terjadi.

Yang pasti, mereka tetap menegaskan bahwa album ini adalah Ini Bukan Nosstress. Ini adalah album di mana ketika para zat pembentuk Nosstress tengah bekerja sendiri, sebelum siap kembali bersenyawa satu dengan yang lainnya.

“Tidak. Meskipun banyak yang menyarankan ini untuk tetap sebagai album Nosstresss aja, kami tetap pada Ini Bukan Nosstress,” tutup Angga.

 

 

The post Kenapa Ini Bukan Nosstress? appeared first on BaleBengong.