Tag Archives: Bali

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian 3

sumber: wayang.wordpress.com

“Kutebas lehermu!” kata Weksirsa kepada mayat yang telah dihidupkannya. Mayat yang dihidupkan itu bukan menjadi Zombie, tapi benar-benar manusia yang hidup seperti sedia kala.

Mayat yang dihidupkan itu berterimakasih karena telah dihidupkan kembali oleh Weksirsa dan Mahisawadana. Tapi sayang, terima kasih saja tidak cukup. Ia harus membayar lebih karena telah dihidupkan kembali. Ia harus mati.

Mayat dihidupkan, lalu dibunuh lagi. Begitu runtutan prosesi ritual yang dijalankan oleh Calwan Arang dan murid-muridnya. Tapi untuk apa yang sudah jadi mayat dihidupkan kembali? Saya belum mendapatkan informasi dalam teks sejauh ini. Tapi ada suatu penjelasan secara lisan, bahwa dalam ritual segala jenis Banten yang dipersembahkan terlebih dahulu “dihidupkan” lagi. Konon, orang tidak boleh mempersembahkan bangkai, maka dengan mantra, yantra, dan mudra dihidupkan terlebih dahulu.

Barangkali, praktik semacam ini memiliki hubungan yang serius dengan praktik ritual Calwan Arang. Agar lebih jelas, kita mesti merunutnya dengan teks-teks Puja sebagaimana dilangsungkan oleh Pendeta. Tentu saja, merunut teks semacam itu tidaklah mudah. Jadi kita istirahatkan dulu rasa ingin tahu kita sampai di sini.

Leher mayat yang dihidupkan tadi, benar-benar ditebas. Darah menyembur. Kepalanya terlempar. Calwan Arang menggunakan darah itu untuk mencuci rambut. Sampai saat ini ada dua tokoh perempuan yang menggunakan darah untuk mencuci rambut. Perempuan pertama adalah istri Pandawa, Drupadi. Ia menggunakan darah Dusssasana untuk mencuci rambutnya yang telah tergerai setelah tragedi penelanjangan saat Pandawa kalah judi. Saat itu Drupadi bersumpah akan mencuci rambutnya dengan darah Dussasana.

Dalam teks Calwan Arang, kita menemukan lagi adegan semacam itu. Tapi kali ini bukan karena sumpah. Entah karena apa Calwan Arang mencuci rambut dengan darah manusia. Mungkin ada suatu ajaran yang dapat kita telusuri mempraktikkan praktik-praktik spiritual dengan metode ini.

Ajaran apa namanya, saya juga belum tahu. Yang pasti, adegan ini tidak sesederhana seperti melihat perempuan mencuci rambut di kali atau sungai. Satu hal yang penting lagi, setelah Calwan Arang mencuci rambutnya dengan darah, rambutnya menjadi kusut. Kusut dalam bahasa teks Calwan Arang disebut gimbal [magimbal pwa kesanira]. Jadi kata gimbal bukan kata baru.

Bagaimana dengan tubuh mayat yang dihidupkan tadi? Menurut teks Calwan Arang, ususnya dijadikan kalung oleh Calwan Arang. Semua bagian tubuh itu diolah dan dijadikan persembahan berupa Caru kepada semua Bhuta. Dari sisi ini, kita bisa melihat suatu praktik yang tercatat dalam teks dan barangkali memang benar-benar terjadi pada suatu masa. Persembahan Caru yang kini dikenal di Bali kebanyakan menggunakan binatang dan bukan manusia.

Tapi teks Calwan Arang berkata lain. Manusia juga dipersembahkan sebagai upakara Caru. Catatan ini penting diketahui, agar ditimbang-timbang apa pula penyebab praktik itu tidak bisa ditemukan lagi jejaknya.

Cerita-cerita tentang persembahan daging manusia hanya bisa dinikmati lewat penuturan para tetua. Tentulah ada suatu klasifikasi yang harus dipenuhi agar praktik itu bisa dilakukan. Salah satunya adalah kemampuan pemimpin upacara dan juga tentang “siapa yang mesti dikorbankan”.

Dalam kakawin Ramayana, ketika raja Dasharata melakukan puja Homa, yang didaulat untuk memimpin upacara adalah Resyasrengga. Resyasrengga didaulat, karena ia adalah Rsi yang mahir dalam Shastra [widagda ring shastra]. Pada tingkat upacara Homa klasifikasi semacam itu diperlukan, apalagi pada tingkat persembahan manusia.

Bahwa Calwan Arang yang mempraktikkan ritual itu, artinya pada Calwan Arang kita cari klasifikasi pemimpin upacara korban Caru itu. Sampai pada saat ini, kita mengenal Calwan Arang sebagai Guru, sebagai Ibu, Janda sakti yang menguasai ilmu menghidupkan dan mematikan. Tidak hanya itu, Calwan Arang adalah kesayangan Bhatari Bagawati. Bahkan persembahan yang dilakukan Calwan Arang disebut persembahan yang utama [adinika inaturanya].

“Aku sangat senang dengan persembahanmu, tapi berhati-hatilah dalam bertindak anakku Calwan Arang,” demikian kata Bhatari Bagawati. Konon Bhatari merasa senang dengan persembahan yang dipersembahkan oleh Calwan Arang. Sayangnya, permintaan Calwan Arang agar seluruh kerajaan terkena penyakit membuat Bhatari Bagawati harus menasehatinya agar hati-hati dalam bertindak.

Meski anugerah Bhatari sudah didapat, Calwan Arang ternyata harus tetap hati-hati juga. Jika pemilik otoritas anugerah itu menasehati agar hati-hati, bagaimana mungkin Calwan Arang tidak hati-hati? Tapi hati-hati kepada apa? Kepada siapa? Tidak dijelaskan dalam adegan itu, kepada apa dan siapa Calwan Arang mesti hati-hati.

Setelah anugerah didapat, Calwan Arang segera menari sekali lagi. Tidak di kuburan, tapi di perempatan [catus pata]. Karena itu seluruh penduduk kerajaan menderita penyakit. Jenis penyakitnya adalah panas tis [panas dingin]. Penyakit panas dingin macam apa yang bisa membunuh banyak orang dalam dua malam?

Banyak orang mati di kerajaan itu. kuburan kekurangan tempat. Banyak mayat membusuk di selokan. Bahkan di dalam rumah-rumah penduduk. Weksirsa masuk ke dalam rumah dan tempat tidur penduduk. Ia meminta-minta Caru berupa daging dan darah mentah. Pada mayat yang belum membusuk, ia mengambil darah dengan cara merobek leher mayat-mayat itu. Benar-benar hari-hari huru hara.

Di Kerajaan, para pinisepuh menghadap raja. Para mantri tidak ketinggalan. Keputusannya? Adakan upacara Homa. Homa adalah upacara penyelesaian yang dilakukan ketika wabah terus menyerang. Begitu yang ingin disampaikan oleh pencerita Calwan Arang. Yang dipuja adalah Hyang Agni. Puja Homa dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Tengah malam, Sang Hyang Catur Bhuja muncul dari api Homa. Catur berarti empat. Bhuja berarti lengan. Dia yang berlengan empat keluar dari api itu. Tidak hanya sekadar keluar, tapi ada petunjuk yang diberikan kepada para pemuja di kala itu. “Carilah Sri Munindra Baradah, ia ada di Semasana Lemah Tulis,” begitu petunjuknya. Konon hanya Baradah yang mampu meruat [menyucikan] kembali negeri yang sudah terlanjur porak poranda itu.

Raja memerintahkan Kanuruhan untuk pergi menghadap Baradah di Lemah Tulis. Sesingkat-singkatnya cerita, Kanuruhan berhasil menemui Baradah. Tapi bukan Baradah yang akan datang ke kerajaan itu. Adalah Mpu Kebo Bahula, murid Mpu Baradah yang diutus untuk pergi mendahului. Yang diutus tidak menolak, maka pergilah Mpu Kebo Bahula bersama Kanuruhan. Rencananya, Mpu Kebo Bahula akan melamar Ratna Manggali, anak Calwan Arang.

“Tuanku, hamba adalah murid Mpu Baradah. Bahula nama hamba. Tujuan hamba datang adalah untuk memohon belas kasihan kepada Tuanku. Sudi kiranya Tuanku mengabulkan permintaan hamba yang hina ini. Hamba ingin melamar Ratna Manggali,” begitu kata Mpu Bahula tanpa ragu.

“Tidak ada yang perlu kau takutkan anakku. Tapi kau haruslah sungguh-sungguh dari hatimu. Ratna Manggali akan aku serahkan, hanya jika kau cinta,” Calwan Arang merasa senang.

“Baiklah Tuanku, hamba ini pesakitan yang diperintahkan untuk mencari obat oleh guru hamba. Hanya Ratna Manggali obat segala penderitaan hamba. Hamba meyakininya tanpa ragu. Lalu apa maharnya?”

“Anakku Bahula, bukan mahar itu yang terpenting. Tapi cinta dan kesungguhan. Apapun yang kau berikan, akan aku terima.”

Maka siaplah segala mahar diberikan oleh Mpu Bahula. Di antaranya sedah panglarang [sirih], pirak panomah [perak], patiba sampir [selendang], dan spatika nawaratna dipata [permata]. Dengan seperangkat mahar itu, Mpu Bahula dan Ratna Manggali dinikahkan. Bagaimana prosesi pernikahan mereka, tidak diceritakan. Saya ragu, apakah setelah ritual sakral pernikahan itu, Ratna Manggali dan Mpu Bahula juga menggelar acara resepsi.

Jenis riasannya pun tidak dijelaskan, siapa pula juru riasnya juga tidak ada penjelasan. Jangankan penjelasan tentang hal-hal semacam itu, bahkan pemimpin upacara pernikahan pun tidak disebutkan siapa. Hal ini akan menarik mengingat kedua mempelai memiliki orang tua yang sama-sama sakti. Maka seorang yang ditugaskan untuk menyelesaikan upacara pernikahannya pun, pastilah tidak kalah hebatnya.

Setelah mereka menikah, Calwan Arang tetap melakukan pemujaan kepada Bhatari Bagawati. Lipyakara sering diturunkan, ia juga sering pergi ke kuburan. Kejadian itu terus diperhatikan oleh Mpu Bahula. Sampai pada suatu saat, Mpu Bahula bertanya kepada Ratna Manggali. “Dewiku, Ratna Manggali. Apa sebabnya ibu selalu pergi dan baru kembali saat tengah malam? Kemana perginya? Aku sungguh khawatir.”

Cinta dan percaya, membuat Ratna Manggali tidak menaruh sedikit pun kecurigaan kepada Bahula. “Suamiku, janganlah sampai mengikuti jejak ibu yang demikian. Sungguh tidak baik perbuatan itu. Ibu saat malam selalu memuja Bhatari Bagawati. Menurunkan Lipyakara dan pergi ke kuburan. Itulah sebabnya banyak orang mati di kerajaan.”

“Dewiku, perkenankan aku mengetahui dan melihat Lipyakara itu. Aku juga ingin mempelajarinya.”

Tidak perlu pikir panjang, saat Calwan Arang pergi, Ratna Manggali menyelinap ke tempat penyimpanan. Mengambil Lipyakara dan menyerahkannya kepada Bahula. Dengan alasan untuk dipelajari dan ditanyakan kepada Pendeta Baradah, Bahula pergi menuju Lemah Tulis membawa Lipyakara.

Bahula sampai di Lemah Tulis. Baradah segera dihadapnya. Sebagaimana tradisi ketika itu, Bahula mendekati Baradah sambil membawa Lipyakara dan menjilati debu di kaki Baradah. Hasil jilatan itu diletakkannya di ubun-ubun [Bahula mamawa lipyakara, manambah eng jeng sang Mredu, teher mandilati lebu kang aneng talampakanira Sang Yogiswara, enahakenireng wunwunan]. Ada tradisi yang dipraktikkan oleh garis perguruan tertentu sebagai cara menghormati guru dengan menjilat debu di kaki guru dan diletakkan di ubun-ubun. Tradisi semacam ini, bisa kita baca dalam teks Calon Arang.

Mpu Bahula menyerahkan Lipyakara kepada Mpu Baradah untuk dilihat dan dipelajari. Saat mulai membukanya, Mpu Baradah terkejut, ternyata ajaran di dalamnya sangat utama. Isinya konon ajaran tentang kebenaran [kayogyan], tentang kesiddian [kasidyan], ajaran agama [telas pwa yeng agama].

Ajaran kebenaran, berarti ajaran tentang Dharma. Ajaran tentang kesiddhian, berarti suatu ajaran untuk sampai pada tingkat mendapat permata pikiran. Cirinya adalah semua yang dicari didapat, yang dinanti datang. Lalu apa yang dimaksud dengan telas pwa yeng agama? Artinya ajaran agama itu telah habis. Habis berarti tuntas, selesai, sampai, menjadi. Artinya isi Lipyakara adalah tentang menjadi Agama. Apakah yang dimaksud ajaran agama? Tidak sesederhana yang sedang kita pikirkan.

Bagian kedua serial kisah ini di sini.

Literasi Film di Desa Padangsambian Kaja

Literasi film dan produksinya meluas ke desa.

Minikino bersama Desa Padangsambian, Denpasar Barat menyelenggarakan rangkaian pelatihan Literasi Film dan Produksi Film selama 3 hari. Dimulai Jumat, 6 Desember dan berlangsung setiap hari sampai Minggu, 8 Desember 2019. Seluruh rangkaian workshop diadakan di Balai Desa Padangsambian Kaja, Jl. Kebo Iwa No.35, Denpasar.

Pra-aktifitas untuk pemanasan dilakukan Kamis, 5 Desember 2019. Seluruh peserta dan pengurus Desa Padangsambian Kaja diundang untuk terlibat dalam pemutaran dan diskusi program ReelOzInd! Award Winners di Art-House Cinema MASH Denpasar. Selain menonton program film pendek, acara ini menghadirkan diskusi online melalui skype dengan narasumber Jemma Purdey (Australia) selaku direktur ReelOzInd! & Melanie Filler, produser film “Posko Palu’. Dipandu moderator, keduanya narasumber melakukan tanya jawab langsung dengan penonton. Sesi diskusi berlangsung lancar selama 30 menit antara Denpasar, Melbourne, dan Sydney di Australia.

Modul pelatihan ini disusun oleh tim kerja Minikino dengan silabus yang padat. Para peserta remaja dari desa Padangsambian Kaja dilibatkan secara aktif mulai dari menonton dan berdiskusi dengan para profesional di bidangnya, mengikuti seminar tentang sejarah, dari sisi perkembangan kebudayaan serta teknologinya. Mereka juga mendapatkan pembekalan pemahaman kekuatan visual dan materi suara dalam film, hingga akhirnya mempraktikkan seluruh rangkaian proses produksi sebuah film. Mulai dari pengembangan ide, penulisan cerita, desain produksi, dan produksinya sendiri.

Hari pertama

Pelatihan dibuka Perbekel Padangsambian Kaja, I Made Gede Wijaya, S.Pt., M.Si. yang pada sambutannya menyatakan pelatihan semacam ini diharapkan bermanfaat bagi generasi muda. “Desa memanfaatkan teknologi, media film, serta industri kreatif yang dapat menjadi kekuatan desa supaya tidak ketinggalan jaman,” katanya.

Sesi pertama tentang Literasi Film: Sejarah Film Pendek di Dunia dan di Indonesia disampaikan oleh Edo Wulia, direktur Minikino yang sekaligus menjadi mentor pelatihan. Edo memberikan informasi sejarah film dunia dan memberi gambaran luas tentang bagaimana industri film di dunia berkembang seiring kemajuan teknologi. Edo Wulia juga menghubungkannya dengan Bali melalui film “Legong, Dance of the Virgins” yang diproduksi tahun 1935, yang ternyata merupakan salah satu film bisu produksi terakhir di Hollywood.

Selanjutnya, sesi “Visual Storytelling” disampaikan I Made Suarbawa untuk menekankan fokus terhadap alur cerita, mengingat produk dari pelatihan ini salah satunya ialah tulisan/ ide cerita untuk diproduksi pada hari ketiga pelatihan.

Hari kedua

Seminar “Literasi Film Dan Media Untuk Berpikir Kritis” menjadi tema pembuka di pagi hari. Materi ini disampaikan oleh Nurafida Kemala Hapsari dan Saffira Nusa Dewi. Diskusi menjadi lebih hangat ketika menyentuh topik pengaruh publikasi dan persepsi penonton bahkan tentang film yang belum ditonton. Modul dilanjutkan dengan presentasi mengenai “Kerjasama Tim dalam Produksi” disampaikan oleh Inez Peringga. Studi kasus disampaikan dari pengalaman pribadi Inez saat membuat film pendek pertama di masa kuliahnya di sekolah film.

Materi berikutnya “Suara dalam Film” menerangkan sisi audio pada film, diawali dari sejarah film bisu yang hampir selalu ditampilkan dengan iringan musik. Materi ini diberikan untuk membangun pemahaman tentang kekuatan audio dan pengaruhnya pada visual. Pengenalan teknis diiringi berbagai contoh dan praktik, serta berbagi pengalaman tim minikino melakukan audio dubbing untuk keperluan festival internasionalnya.

Hari kedua diakhiri dengan pembahasan cerita para peserta serta desain produksi meliputi pembedahan naskah termasuk lokasi, properti, pemain, dari ide cerita peserta di hari pertama. Para mentor dan fasilitator mengarahkan peserta untuk melakukan analisis mandiri ide cerita mana yang paling memungkinkan untuk diproduksi pada hari ketiga. Sesi terakhir namun yang paling panjang ini dipandu oleh I Made Suarbawa sebagai pendamping utama produksi.

Dari berbagai ide cerita yang dikembangkan hingga menjadi storyline, dipilih satu cerita yang kemudian ditulis menjadi skenario, yang kemudian dibedah dalam sesi desain produksi. Sesi ini mempersiapkan hari terakhir, di mana semua peserta akan mengambil peran masing-masing dalam sesi produksi.

Hari ketiga

Proses pengambilan gambar dan suara dimulai sejak pukul 8 pagi dan berlangsung secara intensif sampai 4 sore. Produksi ditutup dengan sesi evaluasi di akhir hari, para peserta secara umum merasakan ini pengalaman baru walaupun mereka sudah pernah membuat online konten sebelumnya.

Ngurah Ketut Hariadi, S.Kom selaku sekretaris Desa Padangsambian Kaja menyampaikan apresiasi positif tentang pelatihan ini, “Melihat antusiasme peserta saya berharap apa yang difasilitasi desa dapat dimanfaatkan para peserta. Bila 10 persen saja dari para peserta dapat memanfaatkan dengan baik, kegiatan ini dapat dinilai sukses,” sambungnya. Menurutnya pelatihan diberikan dengan profesional. “Awalnya saya tidak membayangkan bahwa dalam tiga hari pelatihan bisa benar-benar menghasilkan produk sampai film. Semoga minat dari masyarakat makin tinggi setelah nanti melihat hasilnya,” harapnya.

Menurut Cika selaku fasilitator acara berkegiatan dengan peserta di Padangsambian Kaja sangat menggairahkan secara kreatif, karena mereka antusias dan penuh perhatian. Para peserta sudah dekat secara keseharian dengan media audio visual serta dunia digital. Sebagian peserta sudah terbiasa dengan konten online, bahkan ada yang sudah menjadi idola milenial dengan 1 juta subscriber @aryanthisuastika dengan kanal @ricaricaa96 .

Saat ini, hasil produksi film masih melalui masa pasca produksi di meja editing. Film pendek hasil pelatihan di Desa Padangsambian Kaja ini direncanakan akan tayang perdana dalam acara tahunan Minikino Open Desember ke 17. Edo Wulia selaku direktur Minikino mengapresiasi masyarakat dan pengurus di kantor desa Padangsambian Kaja dalam program ini.

Walaupun sudah diadakan tahunan sejak tahun 2003, untuk pertama kalinya acara ini hadir dalam format layar tancap pada hari Sabtu tanggal 21 Desember 2019, mulai pukul 19:00 di Balai Pertemuan Dukuh Sari, Padangsambian Kaja, Jalan Gunung Sari.

The post Literasi Film di Desa Padangsambian Kaja appeared first on BaleBengong.

Letupan Gairah Bali Poetry Slam

Slammer, begitu pembaca puisi di Poetry Slam kerap dipanggil yang mendapat nilai tertinggi akan diberi gelar Slam Champion. Peraih gelar tahun ini adalah Jong Santiasa Putra dan pemenang kedua, Kaizar.

JONG
Di Jalan Menuju Singaraja

November 2019
Aku menuju Singaraja
jalan-jalan melihat hutan cemara
jalan-jalan menghirup udara
jalan-jalan sambil bercerita
dengan kekasih dari jakarta

The shine at night
makes me want to light
a city that sparks
onto my heart

Katanya di Jakarta tidak ada udara
it is a place for a run
adanya orang-orang penuh duga
it is a place full of dust
adanya orang-orang berprasangka
it is a place to disguise
sebab di sana adalah kerja
di sini kita sedang bercinta

Sebelum sampai ke kota
kita singgah di tepi kata
ada yang hendak kita rangkai bersama
menjadi apa-apa
menjadi ada-ada
tapi semua bingung tentang arah
karena cemas dan pasrah
kita tanam saja kata-kata dalam tanah
semoga berbuah
dan penuh berkah.

We stand between the lines
move forward we’ll meet the right
move behind we’ll both fall
we see eye to eye
try to decide which way to run
but still there’s no sign
like this life we both enticed

Oh yah kami menaiki motor
To-tor-tor-tooooooooor-toooor
muka kami penuh debu jadi kotor
di jalan orang tergesesa-gesa ngeloyor
asyu, damn, oh my god, oh lord, shut up
umpatan-umpatan keluar dari mulut
cuacana buruk , dingin dan penuh kabut
kami paksa kan saja untuk ngebut
karena di jalan semua tampak kalang kabut.

Finally we arrived
and we know
what will stay
and what will away

GRAND SLAM POETRIES Ini karya puisi slammer lainnya.

Poetry Slam atau Adu Puisi adalah konsep pembacaan puisi yang pertama kali muncul di Amerika Serikat. Para pembaca puisi menyerukan karya orisinalnya kepada audiens selama maksimal tiga menit tanpa menggunakan property dan kemudian dinilai oleh Juri dengan rentan skor 1-9. Juri dipilih dari barisan penonton.

Pembacaan puisi ini terlihat sangat bergairah. Antusiasme penonton sangat terasa, mereka merespon para slammer, dengan menjentikan jari tanda persetujuan pesan di puisi, dan tepuk tangan meriah di akhir penampilan. Peserta open mic juga disambut meriah. “Ini perhelatan baca puisi yang sangat menarik, penontonnya menyimak dan heboh,” seru Iin, salah satu penonton.

Memasuki Tahun ke-2 Unspoken – Bali Poetry Slam kembali mengadakan tahap final dari program tahunan poetry slam yaitu The Grand Slam 2019: Unspoken Justice yang akan diselenggarakan pada 8 Desember 2019 di Betelnut, Jl. Raya Ubud pukul 8 malam. Tersaring 6 finalis yang sebelumnya telah menjadi pembaca puisi terbaik di tahap heats pada bulan Maret, Mei, dan Oktober dari berbagai kota di pulau Bali adalah Cleo Chintya, Gek Ning, Imam Barker, Jong Santiasa Putra, Kaizar Nararaya, dan Zeta Dangkua.

Di tiga kesempatan penyisihan sebelumnya, Unspoken – Bali Poetry Slam yang digerakkan oleh Virginia Helzainka, Trifitri Muhammaditta, Jasmin Kalaila, dan Doni Marmer mengangkat tema “Unspoken Dream” di bulan Maret, “Unspoken Pride” di bulan Mei, dan “Unspoken Passion” di bulan Oktober.

Selain ingin memberikan ruang apresiasi untuk puisi, Unspoken – Bali Poetry Slam juga ingin menyuarakan isu-isu yang umumnya sulit diungkapkan sebagai tema puisi pada setiap penyelenggaraannya. Panggung Unspoken – Bali Poetry Slam menjadi ruang nyaman untuk mengucapkan yang tak terungkapkan, tanpa prasangka, dan bebas melepaskan hasrat dalam bentuk puisi. Nama ‘unspoken’ atau ‘yang tak terungkapkan’ pun menjadi nama komunitas dan acara adu puisi ini.

Project Unspoken Poetry Slam ini berbasis komunitas sastra dan seni yang merayakan puisi dengan menyelenggarakan program yang menghibur dan mengedukasi seperti Poetry Slam (Adu Puisi), Open Mic (Panggung terbuka), dan Workshop (Loka karya). Menjalin silaturahmi dengan komunitas lokal dan festival sastra dan seni penikmat puisi di pulau Bali setiap dua atau tiga bulan sekali sepanjang tahun.

Sebanyak 6 slammers diberi kesempatan untuk membacakan karya orisinalnya di atas panggung Grand Slam 2019. Audiens turut merespons puisi secara leluasa dengan memetikan jari. Gerakan tersebut diartikan sebagai persetujuan penonton akan makna dan keindahan puisi yang dibacakan.

Turut meriahkan panggung, penyair tamu Doni Marmer, Kadek Sonia Piscayati, The Four Hinds serta penampil music The Brass Tax dan I The Band menyelingi acara pada awal, pertengahan, dan akhir acara untuk menjaga suasana tetap segar, hangat, dan semangat. Pada penghujung acara, penampil terbaik disematkan gelar Bali Poetry Slam Champion 2019 sesuai skor penilaian Juri dan membawa pulang hadiah dari pendukung acara (Cekindo Business International, Nonadansa Sanur, Littletalks Ubud, Bali Buda ®, Mahima Institute Indonesia, Minikino).

Keenam finalis The Grand Slam nantinya akan tur keliling Bali di tahun depan dengan mengadakan Open Mic dan Workshop puisi ke kota-kota lokasi kegiatan Unspoken Bali Poetry Slam. Sebagai bentuk apresiasi dari kami telah berpartisipasi di Unspoken – Bali Poetry Slam 2019.

Pemutakhiran detail acara “The Grand Slam 2019: Unspoken Justice” dapat dipantau melalui media sosial Fb Unspoken – Bali Poetry Slam dan Instagram @unspokenpoetryslam. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi unspokenpoetryslam@gmail.com.

The post Letupan Gairah Bali Poetry Slam appeared first on BaleBengong.

Kisah Penjaja Cinta dan Kesehatannya

Sebelum penggerebakan, LSM lebih mudah mengontrol pekerja seks dan pelanggannya. Foto Astarini Ditha.

Bagaimana penjaja cinta bergulat dengan isu kesehatannya?

Di sudut dekat gerbong
Yang tak terpakai
Perempuan ber-make up tebal
Dengan rokok di tangan
Menunggu tamunya datang
Terpisah dari ramai
Berteman nyamuk nakal
Dan segumpal harapan
Kapankah datang
Tuan berkantong tebal?

Potongan lirik lagu Iwan Fals yang berjudul Doa Pengobral Dosa mungkin menjadi gambaran keseharian Sinta (bukan nama sebenarnya), 42 tahun yang menjadi pekerja seks sekaligus sebagai penyuluh lapangan di Yayasan Kerti Praja (YKP), Denpasar.

“Di Bali kerja seks sudah tidak tabu,” katanya pada April 2019 lalu. Dengan kondisi itu kesadaran para pekerja seks untuk memeriksakan kesehatannya jadi lebih tinggi. “Kalau di Jawa, datang ngecek ke Puskesmas aja sudah dituduh HIV/AIDS,”

Perempuan asal Bandung ini diminta menjadi penyuluh lapangan oleh YKP karena rutin melakukan pemeriksaan kesehatan dan mengajak teman satu profesinya.

Menjadi penyuluh lapangan, kadang Sinta absen melakukan pekerjaan sebagai penjaja cinta sesaat. “Utamakan pelanggan saja, saat ini enggan mencari yang baru,” ujarnya. Ia juga lebih sering bertransaksi melalui internet atau online.

Sinta merinci setidaknya memiliki 20 orang pelanggan yang aktif diajaknya berhubungan melalui dunia maya. Umumnya, pelanggan perempuan bertindik di hidung ini adalah pebisnis yang datang ke Bali.

“Ada dari Jakarta, Jogja, Manado dan Makasar,” katanya.

Kadang Sinta menemukan rekan satu profesi yang masih enggan diajak untuk melakukan pengecekan HIV terutama yang ‘bermain’ di online. “Alasanya karena sudah punya dokter pribadi,” ujaranya. “Saya yakin itu ngk ada,”

Dalam memberikan pelayanan kepada pelanggannya, Susan mengutamakan kenyamanan dan kesehatan. Menurutnya hal itu yang membuat para pria ketagihan dengan servisnya. “Saya buat nyaman,” ujarnya.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah kesehatan pelanggan yang dilayani oleh Sinta. Hal pertama yang menjadi acuanya adalah kebersihan organ intim. “Jika rambut kelaminnya lebat, saya cek dulu,” katanya.

Ia pernah menemukan pelangganya yang terkena penyakit herpes pada organ intim. Setelah mengetahui hal itu, Sinta memberitahu dan meminta melakukan pemeriksaan ke dokter.

“Katanya malu, akhirnya saya yang konsultasi ke apotek dan mencarikan obat,” ujarnya.

Bonus Uang

Setelah pelanggan Sinta tersebut sembuh karena pengobatan rutin, akhirnya Sinta mendapatkan bonus berupa uang. “Saya sempat diajak ‘main’ tapi tak tolak,” katanya sembari tertawa. Selain itu, Sinta pernah menemukan calon pelanggannya terkena kutil kelamin.

“Kebersihan organ itim itu penting untuk mencegah Infeksi Menular Seksual (IMS),” ujarnya.

Perempuan yang bercerai dan akhirnya memutuskan menjadi pekerja seks karena tuntutan ekonomi ini menyebutkan, sebagai penyuluh lapangan kadang ada rekan satu profesi yang sudah melakukan pengobatan HIV dan kondisinya mulai membaik tidak konsisten melakukan pengobatan.

“Kalau sudah makin parah jadi repot,” katanya.

Saat ini di Yayasan Kerti Praja ada 11 orang pekerja seks termasuk kordinatornya menjadi penyuluh lapangan.

Puspa Reni, 52 tahun mantan pekerja seks yang saat ini menjadi penyuluh lapangan di Yayasan Kerti Praja menyebutkan dirinya sempat down mengetahui terjangkit HIV. “Dua bulan setelah menjadi PS (pekerja seks), itu terjadi,” ujarnya.

Reni akhirnya diajak ke Yayasan Kerti Praja oleh koordinator petugas lapangan bernama Pak Dewa. Dari perkenalannya itu Reni mulai membuka diri dan rutin melakukan pengobatan.

“Saat ini berat saya 65 kilogram, turun 3 kilo karena begadang nonton televisi,” katanya.

Setelah mengetahui menjadi seorang ODHA saat aktif menjadi pekerja seks, Reni mewajibkan pelanggannya menggunkan kondom. “Jika tidak mau, saya juga tidak melayani,” ujarnya.

Sejak 2009 hingga kini Reni mengalami banyak perubahan terutama pada kepercayaan dirinya sebagai orang dengan HIV AIDS (ODHA) setelah mulai terbuka. “Saya bangga karena menjadi pembicara dibanyak tempat soal masalah saya,” ujarnya.

Pada masa kampanye pemilihan legislatif perempuan dengan rambut sebahu ini sempat diajak oleh calon anggota dewan untuk penyuluhan di banjar-banjar. “Saya sudah biasa tampil di publik,” kata Reni. [b]

The post Kisah Penjaja Cinta dan Kesehatannya appeared first on BaleBengong.

Bali Tidak Diam, Berisik yang Baru

“Masak menuntut keadilan dibilang buat Bali ribut? Analisis dari mana? Ini kan menyampaikan aspirasi melalui seni.”

Demikian respon akun Solidaritas Perjuangan pada sebuah komentar di postingan ajakan berkarya dari Bali Tidak Diam.

“Gerakan apa ini? Jangan buat Bali ribut.” Begitu pertanyaan pemancingnya. Dari akun hantu, karena saat diricek, tidak ada postingan, tak ada follower, tiada following. Jadi, saya tidak akan membuang waktu menyebutkannya.

Menjadi kritis, membuat longmarch, ikut aksi bisa disebut keributan di Bali. Sebaliknya, suara mesin ekskavator mengurug laut, menambang batu kapur, lebih sering tak terdengar.

Sangat mudah membuat propaganda tak bertanggungjawab. Akun media sosial bisa dibuat 100 biji dalam waktu satu jam. Apalagi sudah berbekal sejumlah data yang bisa ditambang di mana saja.

Saat ini, pergerakan sosial politik merespon kebijakan negara yang tidak adil memang lebih berat. Menyiapkan studi analisis, merangkum pasal-pasal rumit melalui poster-poster edukasi, audiensi, public hearing, menyelip di konsultasi publik, sampai menyiapkan perangkat aksi di depan gedung-gedung pemerintah.

Di sisi lain, energi juga harus ditumpahkan di dunia maya. Ada pengintai yang meretas email dan percakapan di aplikasi chatting, akun-akun yang mengandalkan kata kunci tertentu untuk menyerang pengkritik pihak yang membayarnya, sampai oknum aparat yang siap ngejuk berbekal laporan polisi mengggunakan tameng UU ITE.

Padahal para penggerak ini, berharap hal sederhana. Negara dikelola dengan baik dan bertanggungjawab.

Memaknai Hari Pahlawan

Minggu (10/11/2019) baru menggelincir ke pukul 6, tapi udara panas sudah menyergap. Sumuk. Makin terasa panas setelah membaca pengumuman aksi unjuk suara melalui karya seni dari Bali Tidak Diam harus dipindah. Dari Lapangan Renon ke Taman Kota. Karena ada upacara bendera peringatan hari Pahlawan.

Informasi upacara bendera ini diketahui dari medsos, ada surat imbauan car free day di Renon ditiadakan untuk peringatan hari pahlawan. Beberapa jam sebelum hari Minggu tiba. Kenapa polisi yang menerima surat pemberitahuan kegiatan seni Bali Tidak Dian ini beberapa hari sebelumnya tak memberi tahu? Kan tak mungkin upacara peringatan hari pahlawan dihelat mendadak.

Minggu sudah pukul 7, saya dan dua bocah sudah di Taman Kota, lokasi baru. Di sebuah pojokan, belasan paramuda sudah menggelar kain-kain panjang bertuliskan #balitidakdiam #reformasidikorupsi. Tiga seniman melumuri tubuhnya dengan cat putih. Di titik jantungnya dipulas cat merah bertuliskan KPK. Dua bocah memandangnya takjub, duduk tak bergerak. Orang-orang yang berolahraga mulai menghampiri.

Ada yang berusaha mendekat, sebagian hanya menoleh lalu lanjut mengelilingi track jogging. Lima foto mahasiswa dan pelajar ditempel di sebuah kertas karton. Rest in power. Bagus Putra Mahendra (15), Maulana Suryadi (23), Akbar Alamsyah (19), Immawan Randi (22), dan Yusuf Kardawi (19).

Di pojok lain ada dua seniman yang membalut tubuhnya dengan cat putih, bagian dari instalasi seni #BaliTidakDiam kali ini. Mereka mengajak refleksi dengan diam, hanya dengan mimik wajah dan tubuh.

Menjelang siang, sejumlah seniman bersuara melalui kuas di spanduk dengan aneka respon, salah satunya gambar tulis dengan teks besar Oligarkhi.

Suasana lebih ramai di sisi musikalisasi puisi, akustikan, dan orasi. Ada belasan anak muda menembakkan amunisinya dalam puisi-puisi Widji Thukul dan sastrawan pergerakan sosial politik lainnya. Sebuah perlawanan tanpa kekerasan. Berkebalikan dengan respon oknum aparat pada sejumlah aksi di beberapa kota.

Sedikitnya ada 93 laporan orang hilang Tim Advokasi untuk Demokrasi setelah demonstrasi di Gedung DPR, Jakarta, 24-25 September kemarin. Mereka adalah mahasiswa dari beberapa kampus, pelajar STM, termasuk sipil biasa.

Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara menjatuhkan serangkaian sanksi disiplin terhadap enam polisi yang “menyalahgunakan senjata api” dalam demonstrasi yang menewaskan dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) pada 26 September 2019. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-50204352

Mereka dijatuhi hukuman disiplin berupa teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun, penundaan kenaikan gaji berkala selama satu tahun, penundaan pendidikan selama satu tahun, dan penempatan di tempat khusus selama 21 hari.

Tiada yang menghendaki kekerasan dari pihak pengunjuk rasa maupun petugas pengaman. Apalagi ada jiwa yang harus lepas dari raganya. Keluarga yang terluka. Seperti kisah seorang nelayan tua, saat mendarat ia disambut jenazah anaknya di dalam rumah.

Gempuran kebijakan pemerintah yang meruntuhkan harapan menyulut aksi protes selama beberapa bulan di sejumlah kota. Advokasi di forum-forum resmi tak dihiraukan. Akhirnya berlanjut di jalanan. Pemerintah seperti sengaja menunggu korban.

Demikian juga di Bali. Bagas, Anang, Chika, Bagus, Dodek, Japeng, Tobel, Bagus, dan ratusan lainnya pun bersuara. Berisik ini dimulai dari serangkaian aksi dan diskusi tahun 2019 ini. Tuntutan mereka runut, bahkan gedung yang diarahkan juga sesuai, gedung dewan perwakilan rakyat. Menulis kepanjangannya pun kini harus menahan diri untuk tak misuh-misuh karena memantik regulasi yang memundurkan pemberantasan korupsi dan RUU kontroversial lainnya.