Tag Archives: Bali

Balada Wartawan Milenial, Antara Berita dan Titipan

Mungkin cerita ini sedikit sensitif dan penulis telah memikirkan konsekwensi atas tulisan ini, hingga tulisan ini publish. Ini sebenarnya pengalaman penulis saat menjalani profesi sebagai seorang wartawan atau penulis lebih asik menyebutnyan sebagai “Pengepul Berita”. Sejak penulis menjalani profesi tersebut di tahun 2016 penulis semakin mengerti jika “upeti” dalam dunia media itu ada. Okrlah kalau […]

The post Balada Wartawan Milenial, Antara Berita dan Titipan appeared first on kabarportal.

Perayaan Hidup Perempuan di Teater 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung

Siapa pahlawan? Mereka yang memaknai hidupnya. Inilah 11 kisah dari 11 ibu di 11 panggung Bali Utara.

Tuti Dirgha, panggung ke-8, pentas di rumahnya.

Bulan November, tak terasa pentas 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah sebuah karya teater dokumenter Kadek Sonia Piscayanti yang merupakan hibah Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi sudah memasuki pentas ke delapan. Sonia seperti sengaja memilih momen Hari Pahlawan sebagai tanggal pementasan sebab memang pentas ini diniatkan sebagai sebuah peringatan bahwa 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah adalah sebuah dedikasi bagi dunia Ibu yang adalah pahlawan sejati di dunia nyata.

Bertempat di Puri Buleleng, pentas kedelapan digelar dengan aktor Sumarni Astuti yang lebih dikenal dengan nama penulis Tuti Dirgha. Pementasan ini terasa istimewa karena sang aktor adalah guru dan pelatih baca puisi sang sutradara Kadek Sonia Piscayanti ketika duduk di SD dan berlanjut hingga kini telah menjadi ibu. Hubungan Sonia dan Ibu Tuti seperti layaknya ibu dan anak, begitu banyak kenangan yang Sonia simpan di benaknya tentang Ibu Tuti.

Ibu Tuti disebutnya sebagai ibu sabar, yang berjuang sangat keras menjadi single parent sejak kematian suaminya. Ibu melahirkan 6 jiwa, satu meninggal dunia dalam usia 6 bulan, membuatnya  belajar dengan bijak apa itu kematian. Setelah kematian anaknya bertubi-tubi cobaan mengujinya, namun ia tetap tangguh dan sabar. Ia kehilangan 5 jiwa hampir berturutan yaitu kematian mertua, ipar-ipar yang diajaknya bersama dan kematian suaminya yang sangat menghentak dan membuatnya hampir tak kuasa.

Jika saja ia bukanlah perempuan yang sabar dan tangguh, kematian serupa badai beruntun bisa saja menghempas dan menenggelamkannya. Namun ia tidak. Sekali lagi ia berdiri, menyelamatkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil untuk menatap masa depan.

Pahlawan adalah julukan yang tepat bagi Ibu Tuti, dan juga 10 ibu lain di projects 11 Ibu ini. Hampir semua ibu adalah pahlawan bagi keluarganya dan hampir semua ibu berjuang mati-matian untuk anak-anaknya.

Di project ini, kita tentu masih ingat profil perjuangan masing-masing ibu. Setidaknya ada tujuh pentas sebelumnya. Ada Ibu Erna Dewi, seorang pembaca tarot yang berjuang untuk keluarga. Ada Ibu Watik, seorang tukang batu yang merantau ke Bali untuk menghidupi keluarganya di Jawa.

Ada Ibu Hermawati, seorang keturunan China yang menikah dengan lelaki Bali yang berjuang di keluarga mencari asal usul leluhur di tengah kerinduannya mencari rumah jiwa. Ada Diah Mode seorang desainer yang merancang baju seperti merancang hidupnya sendiri. Ia tak pernah mengenyam pendidikan formal namun berjuang belajar otodidak hingga karyanya dikenal bahkan di tingkat nasional.

Ada Ibu Simpen seorang bidan senior yang berjuang menolong kelahiran ribuan bayi dan menolong dirinya sendiri keluar dari persoalannya. Ia pernah mengalami trauma karena isu kekerasan domestik di pernikahan pertamanya namun bangkit lagi dan menata pernikahan keduanya. Ada ibu Sukarmi yang tuna rungu dan tuna wicara namun tetap menjadi tulang punggung keluarga. Ia pernah menikah dua kali, dan gagal. Kini ia menikah untuk ketiga kalinya dan menata kembali hidupnya.

Yang akan pentas setelah pentas ke delapan ini adalah Ibu Tini Wahyuni, seorang pelukis, pemusik dan penyuka kesunyian yang kini berdamai dengan dirinya sendiri. Ia pernah mengalami gagal dua kali berumah tangga dan kini memilih sendiri dan menghayati hidupnya yang sederhana berteman dengan kanvas, piano dan anjing-anjingnya. Ibu Tini akan pentas pada tanggal 17 November 2018.

Pentas berikutnya adalah pentas kesepuluh Ibu Cening Liadi yang mengambil kisahnya berjuang menemani anaknya yang sakit. Sakit anaknya adalah sakit misterius yang hampir membuatnya putus asa, namun ia bisa bangkit lagi. Ibu Cening akan pentas pada tanggal 7 Desember 2018.

Pentas terakhir adalah pentas Prof. Pk Nitiasih atau Ibu Titik yang  menjadi seorang ibu peracik menu masa depan bagi keluarga dan anak-anaknya. Prof. Titik berjuang menjadi pengayom, penyokong, pelindung keluarga di samping menjadi akademisi dan pejabat di kampus. Perjuangannya bisa kita saksikan di rumah beliau sendiri pada tanggal 15 Desember 2018.

The post Perayaan Hidup Perempuan di Teater 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung appeared first on BaleBengong.

Bersiaplah untuk 200 Film Pendek, 41 Program, 9 Lokasi

Suasana registrasi jumpa pers Minikino Film Week 4. Foto Wayan Martino

Festival film pendek internasional di Bali Minikino Film Week (MFW) kembali terselenggara pada 6 – 13 Oktober 2018 mendatang. Festival yang diinisiasi Minikino ini telah memasuki tahun keempat dan semakin berkembang dengan ragam inovasi serta perluasan jaringan kerja internasional.

Direktur Festival Minikino Film Week 4 Edo Wulia mengungkapkan, tahun ini tampil lebih dari 200 film pendek dari seluruh dunia yang dikemas dalam 41 program. Di dalamnya termasuk program tahunan Indonesia Raja 2018 serta seleksi istimewa dari jaringan kerja S-Express 2018.

Lokasi acara festival bekerja sama dengan sembilan titik yang tersebar di berbagai penjuru Pulau Bali. Jenis lokasi terbagi menjadi dua, yaitu Micro Cinema di enam lokasi dan Pop Up Cinema di tiga lokasi.

Tahun ini, festival lounge bertempat di Rumah Sanur Creative Hub, Jalan Danau Poso no. 51A, Sanur, Denpasar, di mana meja informasi serta perpustakaan film pendek diaktifkan. Lokasi lainnya adalah Irama Indah, Uma Seminyak, Omah Apik di Pejeng, Rompyok Kopi Kertas Budaya di Jembrana, Rumah Film Sang Karsa di Lovina, Buleleng; dan Danes Art Veranda sebagai venue pameran poster, opening dan closing night. Adapun Pop Up Cinema diadakan di Bale Banjar Kebayan Desa Nyambu, Tabanan; Puri Klungkung; dan Wantilan Desa Pedawa, Buleleng.

Direktur Eksekutif Minikino Film Week I Made Suarbawa. Foto Wayan Martino

Program Khusus

Direktur Program Minikino Film Week 4 Fransiska Prihadi menerangkan beberapa program khusus yang akan ditampilkan di MFW 4 adalah hasil dari hubungan langsung antara Minikino dengan badan-badan perfilman, baik nasional maupun internasional. Tahun ini, Minikino Film Week 4 dengan bangga mempersembahkan Austin Film Festival: Reality Check, Image Forum Festival Selected Works: Multi-Modes of Independent Filmmaking in Japan, serta Made in Indonesia: Nia Dinata, dalam seleksi film pendek “Keluarga Ala Indonesia”.

Selain pemutaran program film pendek, MFW4 juga menghadirkan MFW4 Talks, acara talk show dengan pembicara-pembicara dari dalam negeri mau pun mancanegara, seperti Paul Agusta, Putri Ayudya, Nia Dinata, Marlowe Bandem, Seruni Audio, dan Dread Team Bali. Dari mancanegara hadir Liew Seng Tat, seorang sutradara terkemuka dari Malaysia; Koyo Yamashita dari Image Forum Jepang; Aurelian Michon dari Institut Francais Indonesia; serta programmer S-Express 2018, Helene Ouvrard yang akan terbang langsung dari Laos.

Pertunjukan yang juga menarik perhatian tahun ini adalah live dubbing film pendek Korea Selatan berjudul Be the Reds ke dalam Bahasa Bali. Live dubbing ini akan diperagakan oleh Teater Kalangan bersama Sanggar Anak Tangguh. Selain pada malam pembukaan festival, Sabtu 6 Oktober 2018 di Danes Art Veranda, Live Dubbing juga akan ditampilkan pada Pop Up Cinema di lokasi Bale Banjar Kebayan, Desa Nyambu, Tabanan, Minggu, 7 Oktober 2018. Acara ini akan dihadiri langsung oleh sutradara film tersebut, Kim Yoongi.

MFW4 telah diawali dengan beberapa pra-event, antara lain Youth Jury Camp 2018, sebuah terobosan kreatif MFW4 yang mengundang remaja berusia 13-17 tahun dari berbagai kota di Indonesia untuk berkumpul di Bali. Mereka menjalani pelatihan intensif selama tiga hari dan dinobatkan sebagai 2018 Youth Jury Board.

Para remaja terpilih ini mendapat kesempatan bergengsi, menonton dan menilai program-program internasional dalam kategori anak-anak dan remaja, kemudian menentukan nominasi internasional untuk dipertimbangkan sebagai peraih penghargaan International Youth Jury Award 2018.

Selain itu, Begadang Filmmaking Competition 2018 juga telah menjadi bagian tetap sejak tahun lalu, sebuah kompetisi skala nasional yang menantang pesertanya memproduksi film pendek hanya dalam waktu 34 jam.

Tahun ini terdaftar 17 tim produksi dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun, hanya 10 tim yang berhasil masuk penjurian. Terpilih 4 nominasi yang akan memperebutkan juara utama Begadang Filmmaking Award 2018. Pemenang akan diumumkan di International Awarding Night, Sabtu, 13 Oktober 2018 di Danes Art Veranda.

Dari kiri ke kanan Edo Wulia, Roufy Nasution (sutradara film pendek Barakabut), Winner Wijaya (sutradara film pendek Ojek Lusi), I Gede Gandhi Bramayusa (sutradara film pendek Trunyan (Beyond the Lake). Foto Wayan Martino.

Direktur Eksekutif Minikino Film Week 4 I Made Suarbawa memaparkan, Minikino Film Week sejak awal dirancang sebagai yang masuk ke dalam keseharian masyarakat, di mana layar-layar film dikembangkan membangun kembali suasana menonton film bersama, tempat bertemu untuk membicarakan pengalamannya, dan merangsang sikap kritis terhadap apa yang baru saja mereka tonton.

Memasuki tahun keempat ini, MFW juga mulai memberlakukan festival pass yang dapat dibeli melalui website mfwpass.minikino.org. Festival pass terbagi menjadi tiga jenis yaitu Supreme Pass, Mezzo Pass dan Daily Pass, masing-masing dengan cakupan akses dan harga berbeda-beda. Bagi para pelajar dan mahasiswa yang memiliki kartu pelajar sebagai bukti, bisa mendapatkan bebas biaya sepenuhnya, tetapi tetap harus mendaftarkan dirinya pada tautan yang tersedia.

MFW 4 juga bekerja sama dengan RDR-Rotary Disaster Relief, Bali School Kids dan Rotary Club Bali Denpasar untuk roadshow pascafestival ke Lombok selama tiga malam (2-4 November 2018) untuk menyelenggarakan acara layar tancap bersama para pengungsi korban bencana di pulau Lombok. [b]

Publikasi MFW4:
Nurafida pr@minikino.org 085770224226
Fransiska Prihadi, Program Director of Minikino cika@minikino.org
Website minikino.org/filmweek
Instagram, Facebook, Twitter @minikinoevents

The post Bersiaplah untuk 200 Film Pendek, 41 Program, 9 Lokasi appeared first on BaleBengong.

Perdagangan Berkeadilan untuk Menjawab Ketimpangan

Mitra Bali sebagai pelaku usaha dengan prinsip fair trade di Bali ikut meluncurkan International Fair Trade Charter. Foto Mitra Bali.

Tiga tahun lalu PBB mengesahkan dokumen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Sustainable Development Goals (SDGs) tersebut tepatnya disahkan pada 25-27 September 2015. Pengesahan agenda bertema Transforming our world : The 2030 the Agenda for Sustainable Development itu dihadiri 193 negara anggota PBB, termasuk Indonesia.

SDGs ini merupakan kelanjutan dari ambisi global sebelumnya yaitu Tujuan Pembangunan Milenium atau Milineum Development Goals (MDGs) yang ditetapkan pada tahun 2000. Agenda utamanya adalah agar semua negara anggota PBB bekerja sama untuk memerangi kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.

Dari sebelumnya 9 target MDGs yang ingin dicapai, target SDGs diperluas lagi menjadi 17. Target tersebut di antaranya adalah dunia tanpa kemiskinan, tidak ada kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan warga, kesetaraan gender, mengurangi kesenjangan, dan kemitraan untuk mencapai tujuan. Target dan Tujuan SDGs pada intinya memiliki lima pondasi utama yakni (1) Manusia, (2) Planet, (3) Kesejahteraan, (4) Perdamaian dan (5) Kemitraan untuk mencapai tujuan mulia di tahun 2030: mengakhiri kemiskinan, mencapai kesetaraan dan kesejahteraan lingkungan.

Tiga tahun setelah pengesahan, saat ini sejumlah target SDGS masih jauh dengan apa yang diharapkan. Padahal, waktu terus berjalan. Target SDGs hanya tinggal 12 tahun utuk mencapai target pada 2030 nanti.

Salah satu penyebabnya adalah karena model pembangunan yang berorientasi perdagangan bebas (free trade). Kebijakan perdagangan ini hanya menekankan penumpukan laba di atas segalanya. Akibatnya kemudian melahirkan kesenjangan antar kelompok masyarakat kaya dan miskin. Mereka yang kaya kian kaya ketika yang miskin kian terpuruk.

Fair Trade terbukti menjawab salah satu masalah ketimpangan gender. Foto Anton Muhajir.

Menjawab Tantangan, Mewujudkan Harapan

Berangkat dari situasi tersebut, para pelaku perdagangan berkeadilan (fair trade) seluruh dunia yang terhimpun dalam organisasi payung World Fair Trade Organitation (WFTO) sepakat meluncurkan Piagam Perdagangan Berkeadilan Internasional atau Internasional Fair Trade Charter. WFTO beranggotakan 300 organisasi di 70 negara di mana Mitra Bali adalah salah satu dari dua organisasi anggotanya di Bali.

International Fair Trade Charter menyuguhkan rangkuman 10 prinsip Fair Trade yang menjadi acuan dalam praktik nyata untuk memerangi kemiskinan dan mengurangi eksploitasi manusia maupun lingkungan, sebagaimana yang tertuang dalam tujuan SDGs. Adapun 10 prinsip tersebut adalah memerangi kemiskinan dan pemiskinan; transparansi & bertanggung jawab; berorientasi kesejahteraan; pembayaran cepat, tepat dan layak; tidak menggunakan tenaga kerja anak dan tenaga kerja paksa; tidak membedakan tenaga kerja laki-laki dan perempuan; lingkungan kerja sehat, aman dan nyaman; mengembangkan kemampuan pekerja; mempraktikkan prinsip Fair Trade; dan peduli lingkungan.

Apa yang sudah dan sedang dipraktikkan para pelaku Fair Trade hasilnya terbukti dan nyata mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Begitu pula dengan Mitra Bali sebagai salah satu fair trader yang sejak 1993 aktif mempraktikkan Fair Trade di Indonesia. Mitra Bali merupakan anggota Forum Fair Trade Indonesia (FFTI) dan WFTO.

Agung Alit, Pendiri dan Direktur Mitra Bali Fair Trade mengatakan, praktik Fair Trade yang dilakukan Mitra Bali sudah terbukti mampu menjawab tantangan sekaligus mewujudkan harapan sebagaimana diinginkan secara global melalui target SDGs. Agung Alit memberikan contoh target untuk menghapus kemiskinan, mengurangi kesenjangan, kesetaraan gender, pelestarian lingkungan, serta membangun kemitraan.

Di Bali, menurut Alit, Mitra Bali menerapkan Fair Trade dalam bentuk pembayaran yang adil kepada perajin-perajin ketika sebagian besar perajin di Bali masih sering dieksploitasi oleh para tengkulak (middle man). Mitra Bali juga memberikan tempat untuk perajin-perajin perempuan sehingga mereka tidak hanya bisa meningkatkan pendapatan dan taraf hidup, tetapi juga mandiri sebagai perempuan maupun ibu rumah tangga.

Dalam tradisi Bali yang sangat patriarki, Fair Trade telah terbukti mendukung perempuan-perempuan agar mandiri secara finansial dan kemudian setara dalam kehidupan ekonomi sosial.

“Dalam tradisi Bali yang sangat patriarki, Fair Trade telah terbukti mendukung perempuan-perempuan agar mandiri secara finansial dan kemudian setara dalam kehidupan ekonomi sosial. Itulah pentingnya Fair Trade untuk menjawab target SDGs ataupun masalah sosial kultural,” tegas Alit.

Contoh lain, Alit melanjutkan, adalah tidak adanya tenaga kerja anak dalam Fair Trade untuk memerangi eksploitasi anak (child labour) dan penggunaan kayu dengan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) untuk memastikan agar Fair Trade menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pengelolaan sampah dan limbah kerajinan juga harus jelas sebagai bagian dari komitmen pada lingkungan.

“Melalui peluncuran International Fair Trade Charter ini, kami menyampaikan pesan bahwa Fair Trade adalah alat tepat untuk mewujudkan cita-cita pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan, baik untuk kesejahteraan rakyat maupun lingkungan di mana saja. Another wonderful World is possible!” ujar Agung Alit. [b]

The post Perdagangan Berkeadilan untuk Menjawab Ketimpangan appeared first on BaleBengong.

kamar kecil 2018-09-18 00:44:58

Terima kasih atas kontribusinya pada Anugerah Jurnalisme Warga 2018. Saran dan masukan atas #BazarSembako ini mohon dikirim ke kabar@balebengong.id atau kirim pesan lewat akun twitter/ig @balebengong.

Selamat menikmati pangan lokal berkualitas dari sekitar kita. Semua produk dalam satuan terus tersedia di Kios Balebengong.

Beras Merah Umawali-Tabanan

Hama tikus terkendali dan petani Dusun Pagi senyum lagi. Beras merah dari bibit lokal berkualitas dan burung hantu adalah pemandangan indah di desa kecil ini.

Silakan berkunjung ke Dusun Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan. Sekitar 2 jam dari Kota Denpasar. Saat malam, hiasan burung-burung hantu mengeluarkan pendar cahaya dari lampu di dalamnya.

Burung hantu adalah predator alami hama tikus yang membuat hasil panen sengkarut. Beras merah dipanen enam bulan sekali. Dusun ini juga baru memulai meninggalkan asupan kimiawi.

Garam laut Amed-Karangasem

Pada abad ke-15 Raja Karangasem yang pertama meminta masyarakat Amed untuk meminta upeti berupa garam.

Artinya garam Amed dari jaman tersebut sudah memiliki kualitas yang bagus. Namun
saat ini kondisi garam Amed sangat memprihatinkan, lahan garam sudah menyusut oleh pesatnya pembangunan pariwisata.

Namun masih ada kurang dari 25 KK petani garam yang terus menghidupkan warisan Amed dengan cara tradisional. Cara yang membuatnya kaya nutrisi dan tidak mengandung logam.

Kios Balebengong adalah etalase, anda bisa kontak langsung petani dan pengerajinnya jika memerlukan. Karena itu membutuhkan dukunganmu untuk meningkatkan misi kios serta meningkatkan kualitasnya. Kontak kami ya.

Gula merah dusun Besan, Dawan-Klungkung

Gula merah yang berbahan baku nira kelapa oleh para petani di Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung. Pembuatan gula merah ini masih dengan cara tradisional yaitu menggunakan kayu bakar dan tungku tanah serta tanpa campuran bahan pengawet.

Lengis Nyuhtebel-Karangasem

Minyak goreng dari olahan kelapa ini dilakukan sejumlah pengerajin di desa dengan sejarah kebun Kelapa lebat, Nyuhtebel, Karangasem. Mereka ingin merevitalisasi kebun kelapa ini dengan mengolahnya, di tengah gempuran minyak sawit.

Dewi umbi
Kue-kue ini dibuat dari beberapa jenis umbi, ubi kayu (singkong), ubi jalar, ubi ungu, dan talas. Pembuat kue-kue berbahan umbi ini adalah para perempuan yang memiliki kepedulian dengan pangan lokal, berkomitmen mengurangi ketergantungan pada terigu dan beras (yang angka impornya sangat tinggi).

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) adalah program tahunan Balebengong, media jurnalisme warga yang berdiri sejak 2007.
Tahun ini memberikan apresiasi pada warga yang akan mendokumentasikan suara-suara dari akar rumput. Kabar dari Akar.

Liputan mendalam, disajikan dalam multiplatform. Anda juga bisa mewartakan kabar dengan mengirimkan cerita sekitar kita, foto, atau video pendek ke: kabar@balebengong.id.
Karena NO NEUUS WITHOUT U. Tiada kabar tanpa kamu.