Tag Archives: Bali

Setia Itu Berat, Biar Hendra Saja!

Kali ini saya ingin mengenalkan seorang teman, yaitu I Gusti Ngurah Hendra Prenawa. Hidupnya mungkin tak istimewa, tapi ada satu sifat dan sikapnya yang membuat saya kagum kepadanya. Ia biasa dipanggil Hendra. Kadang saya memanggilnya dengan jik. Terserah saya, tergantung kehendak. Saya mengenal Hendra sudah cukup lama, sejak tahun 2008 kalau tak salah. Sama halnya … Continue reading "Setia Itu Berat, Biar Hendra Saja!"

Laporan Minggu IV: Bantuan APD untuk Tenaga Kesehatan

Beragam ajakan kolaborasi berdatangan minggu ini.

Imbauan untuk di rumah saja, sebagai upaya mencegah meluasnya penularan COVID-19, memasuki minggu keempat. Jenuh makin menggelayut. Putus asa semakin sering berkunjung. Harapan terasa samar-samar di depan pintu.

Hari-hari makin tidak mudah. Penduduk yang sebelumnya menggantungkan asa pada perkotaan kini memikul yang tersisa dan membawanya pulang ke kampung meski imbuan untuk #dirumahaja sudah dikumandangkan.

Apa mau dikata, struktur sosial kita yang sedari sebelum pandemi pun telah timpang, semakin lumpuh ketika pandemi menghantam. Para pencari mimpi di perkotaan kembali menggulung mimpi dan pulang.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pun telah diterapkan di beberapa kota besar. Namun, korban positif merangkak naik, korban meninggal juga semakin banyak. Ditambah lagi, terdapat ketidaksepakatan jumlah korban positif melalui pemerintah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Semakin menambah kebingungan.

Pasien yang berhasil sembuh juga banyak, tapi kabar tentang infeksi berulang juga tiba dari negeri tetangga yakni Singapura dan Korea Selatan. Akibatnya, kabar kesembuhan tak lantas membuat mantan penderita bisa imun terhadap virus SARS-COV 2 meskipun hal ini perlu lebih lanjut diteliti dan dikonfirmasi oleh para dokter.

Setiap kita saat ini saling menunggu kabar baik. Misalnya, kapan vaksin ditemukan? Kapankah pembatasan fisik ini berakhir? Kabar baik yang menjadi jawaban akan segala rindu pada kebiasaan hidup lampau.

Namun, mungkin masa depan nanti adalah sebuah kebiasaan yang baru, kelaziman yang mulai kita lakoni dengan kemauan. Agaknya, masa depan memang memiliki wajah berbeda dari apa-apa yang pernah kita tuliskan.

Untunglah, manusia adalah mamalia yang berhasil, setidaknya hingga saat ini. Keyakinan bahwa kita mampu melewati ini harus pelan dan teguh kita tanam. Mungkin hal itu membuat langkah setidaknya berayun.

Ini tidak mudah juga menampilkan ketidakadilan pada setiap sendi sosial dan norma. Kehidupan dari lapisan bawah tampak makin kelam. Segala yang ada di sana meringkuk terjepit. Manusia lapisan tengah mencoba mengandalkan tenaga yang tersisa. Sesekali mencoba bersiasat pada keadaan. Sementara itu manusia kalangan atas juga dihantam kaget. Tentunya membuat mereka tersentak walau mustahil kelaparan dan mati.

Pandemi ini menelanjangi dunia hingga pada lapisan terdalam.

Bagi kami, tim Putih Hijau, pandemi ini begitu pedih, membuat linglung terkadang. Namun, sama seperti manusia lain yang masih bernapas dan merajut asa, pandemi ini tidak berhasil menenggelamkan kami. Ada kalanya setiap kami berperang dengan rasa takut, kengerian, serasa waktu berhenti dan kepala diserang vertigo hingga isi nyawa ingin keluar karena takut.

Mungkin ini akan kalian rasakan ketika kalian memasuki ruang isolasi pasien COVID-19.

Rasanya sungguh mengerikan, seperti sesuatu mencekik lehermu dan kau tak bisa mengeluarkannya. Berhenti. Perasaan ini, saya alami dan tenaga kesehatan lainnya juga alami. Dan karena itu, penting sekali bagi kalian untuk menjaga kesehatan dan #dirumahaja.

Konser #JauhdiMataDekatdiHati memasuki minggu keempat. Dan, kami masih berusaha berjalan dan bersinergi, berbuat dengan segala daya upaya.

Pada minggu keempat ini, kami memulai istirahat sedikit lebih banyak, yakni Minggu & Senin. Ini kami lakukan untuk menjaga energi kami. Jika-jika pandemi lebih panjang maka usia gerakan ini pun lebih panjang. Hari Selasa, dimulai dengan penampilan duo Soul and Kith selama satu jam. Penampilan yang akrab dan hangat.

Lalu, hari Rabu kami bernostalgia dengan banyak puisi dalam lantunan musikalisasi bersama Mba Reda Gaudiamo. Penampilan selama dua jam yang memukau dan menawar rindu juga menentramkan hati.

Esoknya, kami belajar bersama dengan salah satu dokter saraf dari Satgas Covid-19 Denpasar dari bagian Perhimpunan Dokter Saraf Seluruh Indonesia (Perdossi) Denpasar yakni dr. Gusti Martin, Sp.S. Diskusi santai tapi berisi dipandu Iin Valentine dari tim kami. Antusiasme masyarakat juga tinggi, diskusi yang direncanakan satu jam, justru berlangsung dua jam.

Pada Jumat berlanjut dengan penampilan musik asik dari grup musik Coconightman. Penampilan yang menghibur sekali. Apalagi lagu-lagunya yang unik dan sederhana. Malam Minggu kali ini ditemani oleh Krisna Floop, malam minggu yang asoi dengan seruling dan suara khas Bli Krisna menemani selama satu jam.

Pada minggu ini, kami juga mendapat banyak ajakan untuk berkolaborasi. Ini sungguh kabar yang menyenangkan, karena tujuan awal kami adalah mengajak semua bersolidaritas dan menabung harapan.

Karena itu, minggu ini Tim Balebengong juga mengadakan #MusikBersuara dengan menampilkan live di Instagram Balebengong penampilan dua DJ yakni @mistral85 dan @mairakilla juga @artivak_. Kami juga berkolaborasi dengan Dialog Dini Hari (DDH), band folks dari Bali yang telah dikenal di seantero nusantara. DDH meluncurkan sebuah single bertajuk Kulminasi II.

Dalam peluncuran secara daring tersebut, band ini mengajak setiap penggemar berdonasi melalui tim Putih Hijau. Bahkan band ini menjual kaos merchandise khusus untung single ini yang 50 persen keuntungannya akan didonasikan juga.

Pun, kolaborasi yang tak kalah keren juga kami lakukan adalah dengan diskusi Bincang Sastra di Udara dengan Juli Sastrawan & Wahyu Heriyadi, dimana setiap penonton diajak untuk berdonasi melalui tim Putih Hijau.

Kami juga berkolaborasi dengan Thebaliflorist Sanur, di mana florist tersebut turut serta dengan mendonasikan sebuah surat kaligrafi bertuliskan ucapan terima kasih kami dan para donatur kepada tenaga kesehatan yang telah berjuang di garda terdepan.

Kami akan sangat senang jika ada kawan-kawan yang ingin berkolaborasi, dalam bentuk apapun. Meski begitu, ada beberapa hal yang menjadi perhatian serius kami yakni:

  1. Penggunaan tagar akan disesuaikan dengan tagar yang kami gunakan untuk menghindari tumpang tindih dengan kegiatan live milik teman-teman lainnya;
  2. Inisiator kolaborasi harus berkordinasi dengan anggota tim putih hijau yang telah ditentukan;
  3. Mencantumkan nomor rekening BPD BALI 0200215109141 a.n Ni Wayan Desy Lestari & OVO/GoPay 0895378736000 a.n Fenty Lilian;
  4. Inisiator tidak berafiliasi dengan pemerintah dan partai politik apapun; serta
  5. Insiator dan kegiatan acaranya wajib melaporkan sponsor jika ada, untuk ditentukan boleh tidaknya sponsor tersebut. Hal ini penting bagi kami, untuk menghindari isu-isu yang selama ini menjadi perhatian kami. Misalnya lingkungan hidup dan juga isu rasisme dan konflik tertentu. Karena ini adalah gerakan kolektif yang dibalik setiap donasi juga menjunjung tinggi nilai kesetaraan dan kemanusian dan cinta pada alam.

Adapun total donasi hingga Minggu sore, 19 April 2020 pukul 18.00 Wita adalah:

NoViaJumlah (Rp)
1BPD41,303,814
2Mayhem14,960,000
3OVO1,808,467
4GoPay2,324,666
TOTAL60,396,947

Adapun total pengeluaran hingga minggu sore, 19 april 2020 pukul 18.00 Wita adalah:

NoKeterangan BelanjaHarga Satuan (Rp)Total (Rp)
1Pembelian masker N95 BSA 250biji20,0005,000.000
2Pembelian masker bedah 22 kotak (DP 50%)180,0001.980.000
3Pembelian masker KN95 16 biji50,000800,000
4Pembelian hazmat spunbon 60biji (DP 50%)75,0002,250,000
5Pembelian hazmat waterproof 60biji (DP 50%)100,0003,000,000
6Pembelian kacamata gogles 92biji + ongkir9,900930.000
7Pembelian faceshield 200biji (DP 50%)15,0001.500,000
8Pembelian masker bedah 2 kotak260.000520,000
9Pembelian masker bedah 23 kotak (diskon Rp.100.000)290.000657,000
10Pembayaran sisa faceshield 50% + ongkir1,500,000 + Ongkir Rp.50,0001,550,000
11Pembayaran sisa hazmat (50%)2,250,000 + Rp. 3.000,0005,250,000
12Pemesanan ulang hazmat spunbond (60 biji) + hazmat parasut (30 biji)60x 75,000
30x 100,000
7,500,000
13Pembelian KN95 210 biji35,0007,350,000
14Pembelian masker bedah 39 kotak325.00012.675,000
15Biaya transfer Bank 11x6,50071,500
16Transfer donasi ke Gopay Fenty11.000,000
17Transfer donasi gopay dari Fenty ke BPD12,000,000
18Ongkir Gobox ke Sanglah1113,000
19Ongkir Gobox ke Wangaya1102,000
20Ongkir Gosend ke thebaliflorist11.50023,000
21Ongkir Gocar Hazmat1x20,000
22Ongkir Gojek Masker2x30.000
23Beli kardus & Selotip2x151,000
24Bayar Kargo Mito1x60,000
TOTAL57,980,000

Beberapa donasi telah kami kirimkan ke RSUP Sanglah, RSUD Wangaya dan Tim IGD RSUD Bangli, RSUD Sanjiwani, adapun jumlah donasi ke setiap rumah sakit adalah:

  1. RSUP Sanglah : Hazmat Spunbond : 40 buah, N95 1 kotak + 16 Biji, Faceshield: 30biji, kacamata gogles: 20 biji
  2. RSUD Wangaya : Hazmat spunbond : 40 buah, N95 1 kotak, faceshield : 30 biji , kacamata gogles: 20 biji
  3. Tim IGD RSUD Bangli : Hazmat Spunbond: 20 buah, KN95: 2 kotak, masker bedah: 3 kotak, Faceshield: 20 buah, kacamata gogles: 5 buah
  4. RSUD Sanjiwani : Hazmat Spunbond: 20 buah, KN95: 2 kotak, masker bedah: 3 kotak, Faceshield: 20 buah, kacamata gogles: 5 buah

Pengiriman donasi ke puskesmas di luar pulau Bali saat ini tengah proses untuk pengiriman melalui kargo. Kami akan jelaskan ketika donasi telah tiba di puskesmas tersebut. Semoga, sekalipun saat ini tengah pandemi namun proses pengiriman tidak mengalami kendala.

Kami berharap beberapa kabar baik dari kolaborasi-kolaborasi yang telah kami lakukan seperti kolaborasi dengan Thepojoks, AJAR, DDH. Kolaborasi tersebut memang baru saja dimulai sehingga membutuhkan waktu untuk mengumpulkan donasi.

Secara khusus, kolaborasi dengan AJAR saat ini ada beberapa kabar baik tentang pendonasi dari Australia, meski masih dalam proses regulasi akun bank di sana. Kami harap beberapa kabar baik akan segera kita terima. Dengan demikian pembelian donasi tahap selanjutnya dapat dilakukan yang mana tujuan donasi kami selanjutnya adalah RSUPTN Udayana, RSU Bali Mandara dan beberapa puskesmas di Jepara dan Nusa Penida.

Pada minggu kelima ini, kami terus berusaha mengajak para seniman dan penampil lain yang semoga bukan hanya saja menghibur, tapi juga menambah wawasan dan memperluas sudut pandang. Kami berharap dapat lebih melihat bagaimana pandemi di Indonesia bagian timur. Bagaimana sebenarnya teman-teman para medis yang berjuang di garda terdepan. Bagaimana pandemi berdampak pada industri kreatif dan usaha kecil menengah.

Karena itu jika teman-teman tahu ataupun memiliki ide para penampil yang kompeten untuk hal tersebut jangan ragu untuk memberi tahu kami.

Semoga, donasi akan terus mengalir sesuai dengan kebutuhan APD di lapangan juga semoga semangat kita tak kendur meski kabar berakhirnya physical distancing belum jua muncul. Semoga #konserdirumahaja dan #diskusidirumahaja dapat memberi sedikit jeda, pun menambah wawasan tentang bagaimana masa depan kita setelah pandemi berakhir.

Sampai jumpa Senin depan dengan laporan selanjutnya pun kolaborasi-kolaborasi lain yang semakin asyik dan beragam. Jangan ragu untuk memberi kami saran, kritik pun ide, mari bersama-sama menjaga kewarasan.

Salam sehat selalu, mari menabung harapan dan bersolidaritas.

Tim Hijau Putih.

Corona dan Cerita Kami yang di Desa

Petani masih sibuk di sawah di tengah ancaman pandemi COVID-19. Foto Wayan Martino.

Tak semua di antara kita dapat menulis tagar #dirumahsaja.

“Karena adanya wabah Corona, kita sekarang hanya di rumah dengan keluarga, menghadirkan kebersamaan. Kebersamaan menanggung masalah yang sama, minggu-minggu tanpa pemasukan.” Begitu unggahan Facebook seorang kawan.

Saya membacanya pagi-pagi buta sembari mengedip-ngedipkan mata melihat layar gawai lalu bergegas bangun tidur.

Kemudian masih banyak lagi beranda Facebook saya dipenuhi dengan berita soal Covid-19 yang dibagikan secara acak. Ada soal harapan. Ada pula soal rasa pesimis akan penularan wabah yang terus betambah.

Ada teman-teman sejawat yang secara kreatif memposting kegiatannya selama diam di rumah. Mereka berkampanye menggunakan tanda tagar #dirumahsaja, kemudian diteruskan secara berantai oleh yang lainnya.

Lalu ada pula soal anggota DPRD dalam bangga mengatakan dirinya adalah garda terdepan melawan virus sehingga harus di mendapat tes perdana. Tentang berita duka dari 25 pekerja medis yang meninggal karena merawat pasien Covid-19. Juga soal satu desa yang menolak jenazah positif Covid-19 saat mau dimakamkan.

Semuanya soal virus corona.

Petugas melakukan penyemprotan disinfektan untuk mencegah penularan virus corona. Foto Anton Muhajir.

Curhatan Tetangga

Namun, di luar kabar itu semua, yang paling menarik perhatian saya adalah soal curhatan para tetangga, ibu-ibu PKK Banjar dan Bapak-bapak paruh baya di desa. Mereka selalu jujur dan buka-bukaan soal situasi. Tentu tanpa ada muatan politik seperti anggota-anggota dewan kita.

Purnama di bulan April ini, Purnama Kedasa akan berlangsung upacara piodalan di Pura Dalem. Biasanya di tahun-tahun sebelumnya akan selalu ramai. Oleh segala usia dan semua status sosial.

Pura Dalem biasanya paling banyak orang yang bersembahyang (pemedek)-nya. Bisa sampai ribuan penangkil setiap harinya. Dudonan (susunan) upacara berlangsung selama empat hari.

Namun, piodalan kali ini akan berbeda. Waktu dan penangkil-nya dibagi per kelompok. Setiap giliran ngayah, pengayah-nya dibatasi hanya sepuluh orang.

Hal ini tentu disambut banyak pendapat. Mereka yang tidak setuju berpendapat bahwa niat baik meyadnya seharusnya tidak dibatasi. Toh, tujuannya adalah untuk mendoakan bumi ini rahayu tanpa bencana.

Mereka yang berpendapat seperti ini adalah golongan orang-orang yang paling rajin perihal upacara. Mereka pula yang taat dan selalu ada di garda terdepan saat ngayah. Juga paling mengerti soal upacara.

“Bagaimana kita bisa terus diam di rumah, sementara kebutuhan sehari-hari tak bisa didiamkan begitu saja,” ungkap Pak Made. Mantan peternak babi ini tak pernah menonton berita sejak munculnya wabah Covid-19.

Lalu, sambil melilit sate, warga lain menimpali dengan cepat. Mengatakan bahwa sudah ada kabar dari pemerintah bahwa akan ada tunjangan sembako segera. Juga biaya listrik akan mendapat keringanan.

Pak Made melanjutkan mengeluarkan isi curhatannya. “Pemerintah itu seperti polisi India, datangnya selalu terlambat. Mengapa tidak dari sebelum-sebelumnya. Corona harusnya bisa dicegah,” ujarnya.

“Sudah sebulan sepi tak ada bantuan apa-apa datang, kecuali mobil dengan toa berkeliling di jalan setiap hari,” lanjut Pak Made.

Dialah yang paling kritis di antara kami bertujuh yang sedang ngayah. Sebelumnya Ia juga bersikap sama, antipati sama pemerintah. Dia punya alasan sendiri, belasan anak babinya mati. Sampai saat ini dia belum mendapat solusi dan mengetahui penyebabnya.

Hampir semua peternak babi di desa merasakan hal sama. Harus rela kehilangan salah satu sumber nafkahnya.

Pemerintah itu seperti polisi India, datangnya selalu terlambat. Mengapa tidak dari sebelum-sebelumnya. Corona harusnya bisa dicegah.

Pak Made

Melanggar Imbauan

Obrolan di tengah lingkaran tumpukan sate yang dililit ini memang menarik. Semua bisa saling mengeluarkan pendapat. Tak ada hambatan strata dan status sosial. Walaupun memang meski sedikit melanggar imbauan pemerintah soal social distancing yang jaraknya tak bisa dihindari hanya setengah meter.

Lalu, ada dua pengayah mencurahkan keluhannya karena harus dirumahkan dari pekerjaannya. Satunya bekerja di hotel dan satunya lagi bekerja di restoran. Pekerja hotel sedang berpikir keras mencari cara untuk melanjutkan cicilan sepeda motor Yamaha Nmax di dealer, yang tak mendapat keringanan.

Lalu yang berhenti jadi koki di restoran sedang dalam dilema antara beralih profesi petani atau menjual sawahnya. Sebab, selama ini sawahnya tak ada yang menggarap, hanya ditanami anak pohon albesia yang kurus kering. Sebagian telah mati tak terurus setelah sekali panen.

Di antara kami para pengayah, selalu saja ada yang bijak menjawab. Dia terlihat paling tua dengan rambut dan brewok panjang. Namanya Pak Mangku, Ia bukan seorang pemangku di Pura manapun. Namun, hanya karena senang sembahyang di berbagai pura saat tengah malam sehingga disebut Mangku oleh orang-orang.

Ia mengatakan, “Kita semua, mendapat masalah sama. Tidak hanya di sini, bahkan di seluruh penjuru dunia.”

“Konon menurut berita, kasus yang paling banyak justru ada di negara maju, Amerika. Bahkan di negara yang ada Avengers-nya pun Corona bisa menyerang begitu dahsyat apalagi di negara kita yang hanya ada Si Buta dari Gua Hantu dan Wiro Sableng,” lanjutnya lalu tertawa.

Dengan lebih antusias Mangku melanjutkan. “Sebaiknya kita mulai dari diri sendiri, percuma menunggu pemerintah. Lakukan anjuran kesehatan dengan baik, agar corona tidak menyebar. Makanya pakai masker!”

Sambil dengan bangga dia memberi kode agar orang-orang melihat masker yang dia kenakan. Memang di antara kami hanya dia seorang yang memakai masker.

Pak Made pun tak mau kalah. Ia masih saja meyoalkan yadnya yang pemedeknya dibatasi. “Itu pemerintah, kita yang di Bali tak diizinkan meyadnya, tapi orang-orang dari Jawa dibiarkan masuk ke Gilimanuk!”

Kemudian dijawab oleh seorang yang sedang menyiapkan api untuk memanggang sate. “Kalau tak ada orang Jawa, kamu di mana bisa beli nomor!”.

Obrolan seketika berganti topik, dari virus corona beralih ke peruntungan jual beli nomor.

Kami pun menyelesaikan ayahan di pura pagi ini dalam obrolan yang tema utamanya corona dan nomor. Semenjak munculnya imbauan agar menghindari keramaian dan perkumpulan, judi nomor menjadi topik para lelaki yang paling sering dibicarakan. Sebab, tajen (sabung ayam) sudah tidak diperbolehkan sama sekali.

Mirip seperti peralihan pertemuan fisik menjadi obrolan video call conference yang hanya menggunakan gawai. Nomor pun bisa dibeli tanpa harus bertemu, cukup dengan pesan WhatsApp.

Pada pukul tujuh kami balik ke rumah masing-masing. Tumben bisa menyelesaikan ayahan begitu pagi. Semenjak ada imbauan pemerintah, jam ayahan pun dibuat terbatas dan sepagi-paginya. Namun, bagusnya ada kesempatan saya untuk olahraga pagi. Berolahraga di tempat biasa. Di jalanan di pinggir sawah yang sepi tanpa lalu-lalang kendaraan bermotor.

Imbauan menjaga jarak untuk mencegah penularan virus corona di Denpasar. Foto Anton Muhajir.

Situasi Berubah

Selepas pulang dari pasar, Ibu saya mengeluh dan seperti ngomong pada dirinya sendiri. Katanya sekarang bahan makanan susah dicari. Kadang harganya melonjak mahal. Lagi satu, katanya, dia sekarang menghabiskan banyak waktu di pasar. Sebab, semua pedagang memakai masker jadi butuh waktu menemukan dagang langganannya.

Dan, seperti biasa, saya tak mengubris keluhannya, dan lanjut pergi.

Sampai di jalan di tempat biasa sebagai arena kami untuk jogging, situasinya pun berubah. Sekarang jauh lebih banyak orang. Sebagian besar anak-anak muda. Laki maupun perempuan, baik mereka dari anak sekolahan atau para pekerja yang dirumahkan. Meski ramai tapi saya tak bisa menatap jelas wajah-wajah penuh keringat mereka. Sebagian besar memakai masker.

Seperti biasa saya selalu saja bertegur sapa dengan mereka yang sudah ada di sana sebelum para pelari kecil datang, adalah bapak-bapak petani. Selalu saya perhatian guratan wajah juga badannya yang nampak kekar dan mengilat di bawah mentari. Rasanya pikiran dan tubuh mereka tak gentar oleh corona dan virus apapun. Olahraga dan berjemur setiap hari.

Namun, kali ini berbeda. Mereka nampak bingung saat saya tanya soal kabar garapan padi yang siap panen. Katanya sejak adanya berita corona ini mereka kesusahan mencari teman penggarap lain. Pada bulan-bulan sebelumnya baik saat menandur atau panen, selalu mendapat bantuan tenaga oleh saudara-saudara penggarap dari Jawa dan Lombok.

Kini mereka harus saling menunggu satu sama lain karena di daerah sekitar para penggarap terbatas orangnya.

Kemudian saya membiarkan semua persoalan itu mengembang di udara, terbang bersama aroma tanah sawah. Tapi malah pikiran saya terhenti, saat mata tertuju pada kelompok pekerja keras yang tenggelam bersama padi-padi, berjemur dengan latar indahnya pegunungan.

Saat ini baru soal pembatasan akses dan imbauan untuk tetap rumah, sudah terjadi banyak persoalan. Bagaimana jika benar harus dikarantina (lockdown)?

Tentu dampaknya akan begitu terasa. Sebab, tidak semua bisa bertahan dalam kondisi diam saja. Juga tak semua di antara kita dapat menulis tagar #dirumahsaja, lalu mengunggahnya dalam perasaan aman di media sosial. [b]

Tak Mudah Menjadi Waria, Apalagi di Tengah Pandemi COVID-19

Mami Sisca mengabdikan hidupnya memperjuangkan hak para waria. Foto Maria Pankratia.

Tiap masa selalu terasa sulit bagi sebagian besar waria.

Sejak memilih identitas gendernya yang dianggap abu-abu, waria harus menghadapi dunia yang serba kaku. Bagi banyak orang, waria adalah tabu. Tidak mungkin ada dunia di antara. Hanya ada laki-laki atau perempuan. Di antara itu adalah dosa.

Standar moral arus utama yang disematkan kepada waria, membuat mereka dibuang dari kehidupan yang wajar. Diusir oleh keluarga. Dikeluarkan dari sekolah. Diasingkan oleh sesama manusia.

Tanpa status sosial yang setara, hidup tidak pernah mudah bagi waria. Tanpa pengakuan terhadap keberadaan mereka, waria tak bisa serta merta memperoleh hak-hak serupa warga pada umumnya, terutama pendidikan dan pekerjaan. Pilihannya kemudian banyak yang menjual diri. Sebatas yang pernah saya tahu selama lebih dari 15 tahun akrab dengan mereka terutama di Bali, tidak ada waria yang tidak menjajakan layanan seks sebagai bagian dari sumber kehidupan mereka.

Kini, ketika COVID-19 menjadi pandemi di hampir seluruh Bumi, kehidupan mereka jauh lebih sulit dari yang pernah mereka alami. Setidaknya begitulah cerita teman-teman waria yang secara kebetulan saya temui dua minggu terakhir di Bali.

Sebenarnya, pertemuan dengan teman-teman waria ini untuk sebuah pekerjaan yang lain. Kami sedang menulis kisah teman-teman minoritas: gay, mantan pengguna heroin, orang dengan HIV AIDS (ODHA), pekerja seks, dan waria. Namun, cerita waria selalu terasa lebih dramatis. Begitu pula kali ini, di tengah gempuran pandemi.

Waria-waria ini banyak yang bekerja untuk memberikan layanan seks. Ada yang daring (online), ada pula luring. Mereka yang menjajakan layanan seks lsecara daring ini biasanya menggunakan aplikasi semacam MiChat. Adapun mereka yang menjajakan secara langsung biasanya di dua lokasi paling terkenal di Denpasar, Bung Tomo dan Renon.

Karakter waria di dua lokasi ini berbeda. Di Bung Tomo, biasanya untuk waria yang status sosial dan pendidikannya lebih “rendah”. Tidak pernah sekolah. Baca tulis pun susah. Mereka tergabung dalam Warcan, singkatan dari Waria Cantik.

Di Renon, mereka bergabung dalam wadah Persatuan Waria Renon alias Perwaron. Waria-waria di sini umumnya lebih memiliki akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Ada yang lulusan S1. Malah, aku pernah dengar kalau ada yang lulusan S2 luar negeri meski aku tidak pernah ketemu langsung sama orangnya.

Di luar Denpasar, ada pula komunitas waria yang sangat terkenal adalah Wargas, singkatan dari Waria Singaraja. Mbak Siska, pentolannya, termasuk waria disegani di Bali. Karena karismanya itu pula, sebatas pengetahuan saya, waria di Singaraja termasuk yang paling merdeka di Indonesia. Termasuk untuk berekspresi dan menjajakan layanannya.

Mister and Miss Gaya Dewata 2016/Foto: Luh De Suriyani

Suka Duka

Meski berbeda lokasi dan status sosial, pelanggan mereka kurang lebih sama: anak-anak muda yang ingin melampiaskan berahinya, suami-suami yang tak terpuaskan oleh istrinya, atau sekadar laki-laki yang ingin mencoba fantasi berbeda.

Dalam sekali layanan, waria-waria ini mendapatkan bayaran beragam. Paling besar bisa sampai Rp 300 ribu atau bahkan lebih. Paling rendah Rp 50.000 sekali transaksi. Paling tidak enak? Dibawain balok besi sama pelanggan yang tidak bisa bayar.

“Kami pernah sampai harus merangkak di bawah kawat besi karena dikejar-kejar pelanggan preman yang tidak bisa bayar. Jadi waria tapi kayak tentara saja,” kata salah satu waria. Tawanya lalu lepas setelah bercerita.

Dina, sebut saja begitu namanya, sehari-hari menjajakan diri di Renon. Biasanya, dalam semalam dia bisa mendapatkan Rp 300.000 sampai Rp 500.000. Selain di Renon, dia juga menjual jasa lewat layanan aplikasi. Namun, kini dia tak bisa lagi mendapatkan pengguna jasa.

“Sepi. Gara-gara corona,” kata Selfie, nama samaran waria lainnya.

Meski sudah bekerja di salah satu layanan kesehatan, Selfie biasanya masih memberikan layanan melalui aplikasi. Selain untuk memuaskan hasrat seksual, karena statusnya sekarang tanpa pacar, Selfie juga menjajakan diri untuk mendapatkan tambahan pendapatan.

Makin Susah

Namun, seperti juga Dina, kini tak ada lagi pelanggan yang menggunakan jasa Selfie. Tak ada masukan tambahan yang biasa dia gunakan untuk hidup sehari-hari: makan, bayar kos, dan tentu saja biaya perawatan tubuh, aset penting mereka.

Tanpa pendapatan tambahan, menurut waria-waria itu, hidup jadi makin susah. Apalagi mereka juga hidup sendiri tanpa keluarga. Malah, ada yang menjadi tulang punggung keluarga seperti Kamila, nama samaran lainnya.

Kamila agak berbeda dengan Selfie dan Dina. Dia punya identitas gender “ganda”, laki-laki ketika siang dan perempuan ketika malam. Namanya queer. Berbeda dengan waria yang 24 jam memang tampil seperti perempuan.

Sebagai queer, Kamila bekerja menyanyi tanpa suara (lypsinc) dan menari di dua tempat hiburan di daerah Seminyak dan Kuta. Selain digaji bulanan, dia juga bisa mendapatkan bonus dari layanan seks pada tamu-tamu yang memesannya.

“Sekarang tidak ada sama sekali. Turis sudah pada pergi,” tuturnya.

Nyaris tak ada turis tersisa di Bali saat ini. Tempat-tempat wisata di Bali, terutama Kuta dan Legian, yang biasanya riuh hampir 24 jam, kini serupa kuburan. Lengang. Begitu pula dua tempat Kamila dulu bekerja. Keduanya sudah tutup dan merumahkan karyawannya.

Tanpa pendapatan sebagai queer, Kamila kini harus bertahan menghidup istri dan satu anaknya.

Ketika dunia sedang berperang melawan pandemi COVID-19, orang-orang seperti Selfie, Dina, dan Kamila pun makin terlupa. [b]

Catatan: Berikut tambahan informasi penggalangan bantuan untuk transpuan di Bali.

Halo teman-teman,

Mengingat situasi di Bali sekarang sedang menghadapi pandemik covid-19 (korona), masyarakat dihimbau untuk tetap di rumah dan mengurangi aktivitas sosial, belanja dan hiburan. Akibatnya banyak dari kita yang menjadi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari oleh karena terputusnya akses pendapatan.

Kondisi paling buruk dihadapi oleh mereka yang menjadi pekerja harian atau yang bergantung pada pendapatan harian. Banyak dari mereka tak dapat bekerja atau terpaksa bekerja tanpa punya pilihan sebab dengan tinggal di rumah itu berarti tak ada penghasilan sama sekali. Hal tersebut tentu meningkatkan risiko penularan pada mereka yang sudah rentan.

Salah satu kelompok yang paling terdampak itu adalah kawan-kawan waria atau transpuan (dan keluarga dekatnya) yang selama ini banyak bekerja sebagai pengamen jalanan, pekerja seks, serta perias/penjaja jasa salon. Oleh karena himbauan kepada masyarakat untuk tetap di rumah, kini banyak dari teman teman transpuan kini tak lagi punya pendapatan. Ancaman tersebut menyangkut kelangsungan hidup mereka yang paling mendasar, yaitu akses terhadap makanan.

Maka, kami-kawan-kawan sehati yang tergabung di dalam QLC Bali, sebuah tempat aman bagi kelompok queer di Bali – berinisiatif untuk melakukan penggalangan dan penyaluran dana/bantuan yang dikhususkan bagi teman-teman waria atau transpuan (dan keluarga dekatnya) yang paling terdampak.

Donasi bisa berupa uang dapat ditransfer melalui:

Bank BRI No. Rek. 002301022908505 a/n. ADI WICAKSONO

Atau

Bank BCA No. Rek. 1662626516 a/n. VENNA AGNIASARI

Harap memberikan tambahan 019 pada akhir nominal untuk mempermudah tracking donasi.
Contoh: 50.000 menjadi 50.019

Konfirmasi bukti transfer melalui WA narahubung di bawah.

Kami juga akan mengabarkan balik terkait penggunaan dan bukti penyaluran dana sebagai bentuk upaya terhadap akuntabilitas dan transparansi.

Karena kebutuhan yang mendesak, kami membatasi fase pertama penggalangan dana hingga akhir hari senin 30 Maret 2020 untuk bisa segera kami salurkan di hari berikutnya.

Kami sangat berterima kasih untuk bantuan kawan-kawan semua! Dan kami mohon agar informasi ini bisa disebarluaskan secara bijak dan terbatas mengingat kerentanan kelompok minoritas seksual dan gender di Indonesia.

Narahubung:
Venna, +62 812-1311-433
Natha, +62822-3178-3271

Kamu bisa berkoordinasi atau menyampaikan bukti transfer pada salah satu saja kontak tersebut.

Tak Mudah Menjadi Waria, Apalagi karena Corona

Tiap masa selalu terasa sulit bagi sebagian besar waria. Sejak memilih identitas gendernya yang dianggap abu-abu, waria harus menghadapi dunia yang serba kaku. Bagi banyak orang, waria adalah tabu. Tidak mungkin ada dunia di antara. Hanya ada laki-laki atau perempuan. Di antara itu adalah dosa. Standar moral arus utama yang disematkan kepada waria, membuat mereka Continue Reading