Tag Archives: Bali

Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian

Setelah lepas dari tubuh, ruh tidak pergi begitu saja.

Tulisan ini saya buat sebagai catatan atas hasil bacaan terhadap salah satu jenis kakawin berjudul Aji Palayon. Kakawin ini umumnya ditembangkan dalam ritual kematian, khususnya di beberapa wilayah di Bali yang kebetulan saya singgahi.

Seperti berikut inilah isinya yang saya campur adukkan dengan tafsir-tafsir.

Pertama, kakawin ini mengucapkan rasa rendah hati pengarangnya yang menyebut dirinya orang yang serba kekurangan [para tucca], ibarat burung kecil yang banyak omong. Saya tidak tahu, burung jenis apa yang dimaksud. Mungkin burung kakak tua yang tidak hinggap di jendela. Atau burung hantu yang tidak seram tapi lucu.

Cerita dimulai dengan adegan ketika ruh berada di Kahyangan. Keadaan yang demikian, menyebabkan sahabat serta keluarga merasa bahagia. Bagaimanakah caranya keluarga dan sahabat tahu saat ruh berada di Kahyangan? Dalam kakawin ini tidak dijelaskan.

Ada satu petunjuk yang bisa digunakan untuk mengetahui caranya. Bait selanjutnya menjelaskan perihal orang mati yang konon telah melepaskan lima indria yang mengikat. Lima indria itu berturut-turut ialah mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit.

Kenapa kelimanya disebut mengikat? Karena dari kelima indria itulah manusia menikmati objek indrianya. Mata menikmati rupa dan warna. Hidung menikmati aroma. Telinga menikmati suara. Lidah menikmati rasa. Kulit menikmati sentuhan. Kelima objek itulah yang dinikmati oleh lima indria.

Lalu siapakah biang kerok dari segala perilaku penikmatan itu? Menurut shastranya, biang kerok itu bernama Pikiran.

Pikiranlah yang menginginkan terus menerus menikmati objek indria karena pikiran telah berhasil diikat. Kakawin Aji Palayon menjelaskan, orang yang mati dengan cara yang benar telah berhasil melebur segala racun pikiran yang mengikat itu.

Apa yang digunakan untuk melebur? Menurut pencerita Aji Palayon, peleburan itu dilakukan dengan sepuluh aksara suci dan Aji Kalepasan. Kita bicarakan nanti saja tentang kedua hal ini, sebab konon rahasia. Rahasia artinya halus, jadi untuk membicarakannya kita harus menggunakan suara yang halus. Bisik-bisik.

Bahagialah ruh yang merasa lepas dari kurungannya. Apakah kurungan ruh? Tubuh. Tubuh ini tidak lebih dari sekadar kurungan yang mengurung ruh. Lepas dari kurungan tubuh sudah sangat dinanti-nanti oleh ruh. Tentu saja, tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada terlepas dari penantian.

Setelah lepas dari tubuh, ruh tidak pergi begitu saja. Menurut ceritanya, ruh akan bertemu dengan sosok Barong Hitam yang diselimuti oleh kabut putih. Terkejutlah ruh itu. Kemudian ia ingat kembali dengan tubuhnya. Didekati tubuhnya sambil berucap sedih.

“O, tubuhku tempatku belajar dulu. Aku tak akan melupakan kasihmu. Tapi karena telah tiba waktuku, aku harus meninggalkanmu. Semoga kelak kita bertemu kembali”

Meminjam Tubuh

Tidak hanya sampai di situ, sang ruh ingin berbicara dengan orang-orang yang datang menjenguknya. Tapi tidak bisa. Tidak akan ada manusia hidup yang bisa mendengar suara Ruh, apalagi menyentuhnya. Tetapi ada satu jalan yang bisa ia tempuh. Ia bisa meminjam tubuh orang lain, saat orang tidur dan memakai wangi-wangian.

Artinya, Ruh bisa saja masuk saat menemukan orang yang tepat. Orang yang tepat ditemukan pada saat yang tepat pula. Saat yang tepat adalah saat tidur, orang yang tepat adalah orang yang memakai wangi-wangian. Saya sangat yakin, maksudnya bukanlah parfum. Mungkin kemenyan?

Meski demikian, jika ruh berhasil bicara dengan meminjam tubuh orang lain. Mestilah yang masih hidup memilih kata-kata yang dikatakan. Maksudnya menyaring, mana ucapan Ruh yang boleh atau tidak dilakukan. Hati-hati, katanya!

Kerasukan. Tampaknya itulah yang dimaksudkan oleh Aji Palayon. Dalam konteks ini, kerasukan terjadi karena ruh menginginkan mediator untuk mengatakan sesuatu. Saya penasaran juga, bagaimana jika ruh yang merasuki itu ingin melakukan sesuatu dan tidak hanya sekadar berkata-kata. Membelai kekasih misalkan?

Di dalam tradisi Bali, kerasukan bukanlah sesuatu yang tabu. Komunikasi ruh, barangkali itulah yang dimaksudkan. Ruh orang mati ditanya tentang ini dan itu. Tetapi Aji Palayon menyebutkan dengan jelas, bahwa segala yang dikatakan saat komunikasi itu berlangsung haruslah disaring-saring. Jangan sampai terjerumus.

Aji Palayon menceritakan bahwa ruh mengatakan terimakasih kepada seluruh orang yang menjenguknya. Ruh itu juga mendoakan agar semua orang yang datang mendapatkan kebahagiaan. Tidak terkecuali Pendeta yang menyelesaikan upacara kematiannya. Pada upacara itu, Pendeta juga bertugas membersihkan ruh menjadi Dwijati. Dwijati berarti lahir dua kali. Maksudnya adalah semacam ritual penyucian ruh agar lebih suci.

Dwijati juga sebutan untuk orang yang melakukan penyucian saat masih hidup. Penyucian ini dilakukan dengan ritual tertentu. Penjelasan tentang ritual ini sangatlah panjang. Jadi saya tidak akan menerangkannya lebih lanjut dalam tulisan ini.

Ruh yang telah lepas itu kemudian terbang mengawang-awang. Diibaratkan seperti api yang meninggalkan sumbunya. Seperti burung bebas dari sangkarnya. Kemana perginya ruh itu? Menurut Aji Palayon, perginya ke Sanggar. Yang dimaksud Sanggar adalah Merajan. Di sana menghadap kepada Tri Sakti.

Siapakah Tri Sakti juga tidak dijelaskan secara detail dalam teks. Tapi kita bisa menelusurinya tidak dalam teks, tapi dalam kontek. Sangat mungkin yang dimaksudkan sebagai Tri Sakti adalah Dewa-dewa yang berada di Rong Tiga. Kehadapan Rong Tiga, sang Ruh mengucapkan selamat tinggal.

Kemudian Ruh menghadap ke Pura Dalem. Di kuburan didengarnya suara menjerit. Ternyata Dewi Durga sedang dihadap oleh para punggawanya. Ada beberapa nama yang disebutkan: Anja-anja, Kumangmang, Raregek, Papengka, Kalika, Keteg-keteg, dan Bragala. Semua makhluk itu mendekat hendak memakan sang ruh.

Sang Ruh ketakutan dan hendak lari. Saat itu Dewi Durga menahannya, dan mengatakan agar jangan takut. Sang Ruh kemudian memuja Dewi Durga. Ada beberapa nama Dewi Durga yang disebutkan oleh sang Ruh.

Nama-nama itu sesuai dengan keberadaannya: Sang Hyang Bhagawati saat berada di Bale Agung. Sang Hyang Durga saat ada di kuburan. Sang Hyang Bherawi saat ada di Patunon. Dewi Putri saat berada di Gunung Agung. Dewi Danu saat ada di puncak Gunung Batur. Dewi Gayatri jika berada di pancuran dan telaga. Sang Hyang Gangga saat berada di segala sungai. Dewi Sri saat berada di sawah.

Setelah pujaan itu dilakukan, Dewi Durga mempersilahkan sang Ruh untuk melanjutkan perjalanan. Ada suatu ciri yang diberikan oleh pencerita Aji Palayon tentang kapan mestinya ruh itu pergi dari Pura Dalem. Cirinya bernama Bintang Siang. Bintang Siang konon juga menjadi ciri kalau matahari akan segera terbit.

Bagaimanakah wujudnya? Sebaiknya kita lihat dengan mata kepala sendiri. Bintang jenis apa yang berada di antara peralihan gelap dan terang itu. Peralihan atau perbatasan selalu saja mistis, dan jika perbatasan itu dicirikan oleh Bintang Siang. Artinya Bintang Siang juga mistis. Setidaknya begitulah menurut Aji Palayon.

Lalu kemanakah perginya Ruh setelah selesai menghadap Durga di Pura Dalem? Mari kita lanjutkan nanti. [b]

The post Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian appeared first on BaleBengong.

Ayam di Bali, dari Aduan hingga Persembahan

Ada yang menganggap keramat, banyak pula yang mengadunya hingga tamat.

Kebun itu luasnya tak seberapa. Persis berada di seberang jalan, sebelum Pura Dalem Gunung Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Badung. Klangsah, anyaman kelabang yang terbuat dari daun kelapa tua, memagari kebun sekaligus menjadi atap peneduh beberapa bilik.

Sekitar 20 ayam dalam kurungan, dijajarkan rapi di depan pintu masuk. Di sebelahnya, berdiri papan memajang potret-potret lelaki berdestar, berambut gondrong memegang ayam.

Pelestarian Ayam Bali Exhibition, kata-kata itu begitu jelas terpampang. Lelaki dalam potret itu, Apung namanya.

Apung, lahir di tanah Bali, sejak kecil sudah memiliki kecintaan terhadap alam khususnya ayam. Awalan isi buklet itu, saya baca sepintas.

Kemudian menjadi amat menarik karena kalimat berikutnya: “Mulai tahun 1993, Apung berekseperimen dengan pembiakan, menghadirkan isi naskah lontar menjadi bentuk ayam yang layak seutuhnya menjadi persembahan di berbagai upacara adat sesuai dengan kitab.”

“Bagi masyarakat Hindu, ayam adalah representasi dari tiga tingkatan eksistensi manusia: etis, estetis dan religius. Karenanya ayam lazim digunakan dalam upacara keagaman sebagai bentuk dari harmonisasi hubungan vertikal manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa.”

“Beda upacara, beda pula ayam yang harus dihadirkan. Begiu pula beda daerah, beda pula dengan tradisinya walaupun sama-sama di tanah Bali”.

Begitu isi buklet itu dengan sedikit pemenggalan alinea biar lebih enak dibaca.

Ayam Ganteng

Di satu kesempatan, Pak Apung lalu bercerita di antara ayam-ayam kesayangannya. Semenjak kelas 4 SD ia sudah menyukai ayam. Baginya ayam itu adalah seni yang indah.

Ayam yang ganteng, ia jaga supaya tidak dipotong. Dia senang melihat bulunya, bentuknya, semisal tanpa ekor – sangkur namanya, bentuk jambul, kuncir, kaki dan sebagainya.

Budidaya ayam Bali telah ia rintis sejak tahun 1993. Ia mendapat filosofi besar dari orang-orang yang datang ke rumahnya. Yang memberi identifikasi tentang jenis ayam- ayam tertentu untuk upacara.

“Begini, kalau ayam itu berhasil saya ternak ada orang cari ke rumah ternyata ayam itu layak untuk dipakai upacara,” katanya.

“Untuk mencross-checknya, saya mencari buku-buku dan bertanya dengan sulinggih-sulinggih. Kalau sulinggih, Wrespati Kalpa, kalau bebotoh, Pengayam-ayam,” tambahnya lagi.

Ia baca naskahnya berkali-kali. Membayangkan bentuknya lalu berusaha mengembangbiakkannya. Bertanya-tanya ke kampung-kampung, lalu mengawinkannya di rumah. “Saya bayangkan. Ayamnya tidak ada di gambar,” ceritanya.

Betul saja, lontar pengayam-ayam yang ia sebutkan memuat 43 jenis ayam dengan sekian ciri keutamaan, hari baik, arah dan seterusnya. Sedangkan Wrespati Kalpa, memuat perihal jenis ayam-ayam tertentu sebagai kelengkapan upacara meruwat atau mebayuh.

Untuk Mengharmoniskan

Seorang pendeta yang hadir, Ida Ratu Peranda Ishana Manuaba, menjelaskan tentang fungsi ayam dalam ritual keagamaan hindu di Bali. Dalam penjelasannya, fungsi ayam dalam agama hindu paling banyak digunakan pada caru, yadnya caru bhuta yadnya.

Beliau menjelaskan, caru itu asal katanya dari car yang artinya harmonis. Kita mengharmoniskan energi mikrokosmos yang ada di dalam diri kita dengan energi alam semesta, makrokosmos, dengan sarana ayam yang disebut dengan caru.

“Kenapa pakai ayam? karena ayam punya energi, kreatifitas dan etos kerja yang baik,” dalam sebuah video dokumenter yang diputar disana, beliau menjelaskan.

Video pendek berjudul The Chosen Rooster juga turut diputar. Ada tiga sulinggah yang menjadi narasumber. Selain Ida Ratu Peranda Ishana Manuaba, ada juga Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Beliau menjelaskan bahwa bagi masyarakat Bali, ayam adalah kebutuhan yang sama sekali tidak bisa dikesampingkan.

Segala ritual di Bali pasti memakai ayam dengan berbagai warna bulu, warna kaki dan banyak sekali warna-warna spesifik untuk upacara.

Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Ananda juga turut menjelaskan kaitan ayam dengan sistem religi bagi umat Hindu di Bali. Ayam hampir tak pernah absen dalam setiap upacara.

Menurut Mpu Jaya Acharya, dalam klasifikasi tentang karakter dari binatang ada tiga pembagian: klaster wise (kebijaksanaan; satyam), klaster enerjik – rajasik, klaster pemalas. Ayam masuk dalam klaster enerjik.

“Kehadiran ayam dalam bentuk ritual di bali itu adalah bagaimana membangun kreatifitas dan dinamiasasi. Karena ayam itu kreatif,” jelasnya.

Ayam Keramat

Video The Chosen Roster adalah bentuk kerja sama Apung Thanks To Bali dengan Cinemawithoutwall. Videonya sendiri bisa ditonton di Youtube.

Di eksibisi Pelestarian Ayam Bali Apung Thanks To Bali itu, Pak Apung turut mengajak karibnya dan mereka yang ia temukan dalam perjalanan preservasi ini. Ada Mangku Gede Sandi yang datang dari Celukan Bawang, Gerokgak, Buleleng. Mereka bertemu di Pasar Hewan Beringkit ketika Pak Apung membeli ayamnya.

Ada juga Ibu Kadek Sasmitara dari desa Dawan Klungkung yang piawai membuat Tali Kupas dari Gedebong, pelepah batang pisang kering. Juga ada kakek berusia 68 tahun dari Dawan yang piawai membuat tas ayam kisa dari daun kelapa tua.

Apung mengundang teman-temannya dari delapan kabupaten untuk ia titipi ayam-ayamnya dan kemudian dibudidayakan lagi.

Ayam Bali adalah ayam yang keramat. Disebutkan dalam literatur-literatur kuno, yang fungsinya sama pentingnya dengan sarana-sarana persembahan lain yang mengantarkan pada satu tujuan. Bila tujuan itu mulia, tak ada usaha yang sia-sia.

Dalam laman Instagram yang bernama apungthankstobali, tertulis: I cannot stand here. I have to do something to make sure that they are here to stay, with us Balinese People. This is my path to nirvana.

Bagi Pak Apung, ini adalah jalannya. [b]

The post Ayam di Bali, dari Aduan hingga Persembahan appeared first on BaleBengong.

Sejauh Mana Cakupan Pengobatan ARV di Indonesia?

Seorang bapak dan anaknya di Tabanan yang mengonsumsi ARV untuk terapinya sehari-hari. Foto Anton Muhajir.

ODHA di Indonesia tergolong kurang beruntung di dunia.

Terapi antiretroviral (ARV) dianggap telah menjadi penolong bagi orang dengan HIV AIDS (ODHA). Namun, hal ini tak berjalan mulus. Hingga saat ini, ARV merupakan pencegahan HIV AIDS yang paling efektif. Sayangnya, distribusi ARV untuk ODHA di Indonesia masih terganjal.

Cakupan pengobatan ARV di Indonesia tercatat hanya 17 persen. Angka ini adalah terburuk di regional Asia Pasifik bahkan dunia. Dengan hanya ada sekitar 140 ribu ODHA berada dalam pengobatan ARV. Artinya ada 500.000 ribu lain masih belum ada dalam pengobatan. Bahkan masih belum mengetahui dirinya terinfeksi HIV.

Capaian yang buruk ini dipengaruhi banyak faktor. Yang utama adalah kurangnya kemauan politik dari pemerintah dan layanan untuk memberlakukan test and treat (tes dan penanganan). Selain itu, akibat keterlambatan dalam mengadopsi pembelajaran terbaik dari negara lain yang mendukung program AIDS.

Penyebab lain adalah masih tingginya stigma dan diskriminasi kepada kelompok terdampak AIDS. Misalnya pada ODHA, pekerja seks, lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), pengguna narkotika, serta perempuan dan anak.

Hal itu menjadi penyumbang faktor capaian ini. Mahalnya harga obat ARV yang dibeli oleh pemerintah Indonesia dari industri farmasi BUMN turut mempengaruhi distribusi pengobatan.

Indonesia AIDS Coalition (IAC), sebuah organisasi kelompok aktivis kesehatan menyerukan agar Menkes segera melakukan audit menyeluruh terhadap program penanggulangan AIDS termasuk pelaksananya.

“Dengan hanya 17 persen cakupan obat ARV, tidak heran jika angka kematian akibat AIDS berdasarkan permodelan akan terus meningkat sampai dengan 2020 nanti,” kata Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif IAC.

UNAIDS, sebagai badan PBB yang bertanggung jawab untuk program AIDS, telah membuat sebuah permodelan. Dengan perkiraan kematian akibat AIDS akan meningkat dari 45 ribu di tahun 2018 menjadi 48 ribu di tahun 2020. Angka ini akan terus meningkat seiring dengan rendahnya cakupan ARV pada ODHA.

Tanda Bahaya

IAC menilai ini adalah sebuah tanda bahaya bagi Indonesia. Sebab dengan angka cakupan ARV yang rendah, potensi penularan juga akan menjadi tinggi. Hal ini karena obat ARV selama ini diyakini secara ilmiah mampu mencegah penularan HIV baru.

Masih banyak prosedur yang dijalankan oleh layanan kesehatan sebelum memberikan obat ARV kepada ODHA. Diyakini juga turut menjadi pemicu rendahnya cakupan pengobatan ARV ini.

“Begitu tahu status HIV-nya, seharusnya berdasarkan evidence global, ODHA itu bisa langsung diberikan obat ARV. Namun, dalam faktanya, ODHA masih diminta untuk melakukan tes-tes penyerta lain sebelum bisa diberikan obat ARV. Sementara semestinya tes-tes ini bisa dilakukan belakangan,” ungkap Sabam Manalu, Kordinator Advokasi dan Hak Asasi Manusia IAC.

ODHA di Indonesia sendiri, tergolong sebagai ODHA yang kurang beruntung di dunia. Sebab pengobatan ARV yang diberikan pada ODHA masih menggunakan jenis-jenis regimen obat ARV yang jadul.

“Masih banyak ODHA yang diberikan obat-obatan ARV dari jenis regimen AZT. Sementara AZT sendiri telah digunakan sejak tahun 1960-an sebagai obat kanker dan terapi HIV. AZT digunakan pada tahun-tahun awal epidemi AIDS ditemukan di dunia tahun 1980-an. Sedangkan saat ini telah ada obat-obatan baru yang berdaya kerja tinggi seperti Dolutegravir namun belum diperkenalkan di Indonesia,” tambah Aditya yang juga biasa dipanggil Edo.

Obat ARV jenis Dolutegravir ini selain lebih ampuh. ARV jenis ini bisa lebih cepat memulihkan kondisi kesehatan ODHA. Selain itu, harganya jauh lebih murah dibanding obat-obatan ARV yang saat ini digunakan dan dibeli oleh Kementerian Kesehatan.

Dalam pertemuan Fast Track Cities minggu lalu di London, banyak kota di dunia yang telah melaporkan keberhasilan mereka dalam cakupan obat ARV ini. Sampai pada keberhasilan memberikan pengobatan ARV kepada sebesar 90% dari total orang dengan HIV di wilayahnya seperti kota London, Amsterdam, Manchester dan Brighton.

Berdasarkan data yang dilaporkan kepada UNAIDS, ada 16 kota yang telah sukses mencapai target 90 persen ODHA dalam pengobatan. Sementara Jakarta masih tertinggal jauh terbelakang dengan angka yang terburuk di Asia.

Bahkan negara seperti India saja melaporkan telah berhasil memberikan obat ARV kepada 1,2 juta ODHA di negaranya. Kamboja telah berhasil mencapai target 90 persen angka pengobatan ARV. Dengan memberikan ARV kepada 62 ribu ODHA dari total 67 ribu ODHA yang ada di Cambodia.

Audit

Pemerintahan Jokowi sendiri, dalam rancangan teknokratik RPJMN 2019-2024 dengan percaya diri memberikan target bisa menurunkan angka insiden penularan HIV. Dari 0,24 persen menjadi 0,18 persen.

“Kami yakin bahwa Indonesia akan gagal mencapai target RPJMN mendatang yaitu penurunan angka penularan HIV baru ini, jika berkaca pada buruknya cakupan pengobatan ARV sekarang,” tambah Aditya. Oleh karena itu, pemerintah harus segara melakukan audit program jika masih ingin on-track dalam mencapai target RPJMN mendatang.

Terhadap pemerintah baru yang nanti akan dibentuk pemerintah Jokowi-Amien, IAC mengimbau agar Menteri Kesehatan sesegera mungkin melakukan audit menyeluruh terhadap program penanggulangan AIDS. Hal ini sangat diperlukan agar pemerintahan yang baru nanti bisa mengambil langkah-langkah cepat penyelamatan sehingga angka kematian ODHA akibat AIDS bisa terkoreksi menjadi lebih rendah.

Selain itu, IAC juga menghimbau kepada pemerintah untuk bekerja lebih serius dalam menurunkan harga obat ARV. Sebab ODHA yang membutuhkan obat ARV ini masih banyak.

“Dengan tingginya harga obat ARV seperti sekarang ini, tahun 2019 pemerintah harus menganggarkan dana sebanyak 1,2 trilyun hanya untuk memberikan pengobatan ARV pada 150 ODHA. Sementara berdasarkan hitungan kami, harga yang rasional itu hanya 40 persen dari tingkat harga yang sekarang,” kata Aditya.

IAC meminta kepada Menteri Kesehatan dan juga kepada pemerintahan yang baru, Jokowi-Amin agar membuka ruang pelibatan dari ODHA sebagai penentu kebijakan program AIDS mendatang. Sebab di banyak negara, keterlibatan ODHA dalam level tertinggi di program penanggulangan AIDS telah terbukti mampu memberikan masukan-masukan yang membumi dan dibutuhkan.

Masukan yang memberikan daya ungkit keberhasilan program penanggulangan AIDS. Di banyak negara, ODHA sudah bukan lagi sekadar dijadikan obyek, namun sudah menjadi pembuat keputusan dalam program penanggulangan AIDS di pemerintahan. [b]

The post Sejauh Mana Cakupan Pengobatan ARV di Indonesia? appeared first on BaleBengong.

Pengertian dan Penggunaan Sor Singgih Basa (Bahasa) Bali

Pada artikel ini saya akan mencoba menuliskan pengertian dan penggunaan Sor Singgih Basa (Bahasa) Bali, apa maksudnya, seperti apa contohnya. Sebagai orang Bali, walaupun bukan ahli dalam Basa (Bahasa) Bali, saya akan mencoba memberikan pengertian dan penggunaan tentang Sor Singgih Basa Bali secara sederhana sehingga semoga bisa lebih mudah dimengerti. Selain itu tentunya penjelasan saya […]

WALHI Bali Minta Gubernur Koster Buka Isi Surat ke Pelindo III

Walhi Bali kirimkan surat ke Gubernur Bali perihal reklamasi oleh Pelindo III. Foto Walhi Bali.

Agar warga mendapatkan informasi yang jelas perihal Teluk Benoa.

WALHI Bali mengirimkan surat permohonan informasi publik kepada Gubernur Bali Wayan Koster pada Kamis 26 September 2019. Permohonan informasi publik ini diminta guna menindaklanjuti pemberhentian reklamasi yang dilakukan Pelindo III Cabang Benoa.

Sebelumnya Gubernur Bali, Wayan Koster pada 22 Agustus 2019 sempat mengirimkan surat kepada Pelindo III Cabang Benoa. Gubernur meminta agar Pelindo III menghentikan reklamasi seluas 85 hektare yang diketahui oleh tim monitoring Dinas Lingkungan Hidup pengerjaannya tidak sesuai dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan menyebabkan kematian vegetasi mangrove seluas 17 ha.

Menurut Direktur Eksekutif WALHI Bali I Made Juli Untung Pratama penting kemudian WALHI Bali meminta salinan surat tersebut kepada Gubernur Bali Wayan Koster WALHI Bali. Hal itu karena Walhi Bali merupakan organisasi yang konsen di advokasi lingkungan hidup dan representasi masyarakat Bali yang mengkritisi reklamasi di areal pelabuhan Benoa.

Terlebih selama ini WALHI Bali bersama dengan ForBALI juga memang mengadvokasi pembangunan di Bali Selatan khususnya Teluk Benoa.

Selain itu I Wayan Adi Sumiarta, tim hukum WALHI Bali, juga menambahkan bahwa dasar atau alasannya meminta surat yang dikirimkan oleh koster kepada Pelindo III cabang Benoa adalah berdasarkan dari statemen yang utarakan oleh Gubernur Bali sendiri.

“Agar kita yang selama ini konsen mengadvokasi Teluk Benoa bersama rakyat mendapatkan informasi yang jelas,” tungkasnya.

Lebih lanjut Untung Pratama meminta Gubernur Bali Wayan Koster untuk membuka dokumen-dokumen informasi publik tersebut. Pembentukan tim koordinasi pemantau juga akan dibentuk oleh Pemerintah Provinsi Bali. Tim ini terdiri dari lembaga-lembaga terkait dari pemerintah daerah dan akademisi. Nantinya mereka akan mengumpulkan data terkait permasalahan yang berkembang dan dapat menyampaikan masukan serta rekomendasi kepada Pemerintah Provinsi dan Pelindo III terkait dengan tindak lanjut pengembangan pelabuhan Benoa Bali.

“Pembentukan Tim pemantau ini menjadi dasar WALHI Bali meminta informasi mengenai kinerja tim pemantau yang dibentuk Pemerintah Provinsi Bali,” tegasnya.

Di dalam surat yang dikirimkan ada beberapa hal yang menjadi tuntutan WALHI Bali yakni. Pertama, WALHI Bali meminta salinan surat yang dikirimkan Gubernur Bali kepada Direktur Utama Pelindo III terkait penghentian reklamasi di areal Pelabuhan Benoa. Kedua, meminta salinan hasil laporan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang memuat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Pelindo III. Ketiga, meminta informasi susunan Tim Koordinasi Pemantau yang bertugas untuk mengumpulkan data dan informasi beserta lampiran dan dokumen dokumen pendukungnya.

Surat tersebut telah dikirimkan pada 26 September 2019 dan diterima oleh staf kantor Gubernur Bali Gede Sulastrawan. [b]

The post WALHI Bali Minta Gubernur Koster Buka Isi Surat ke Pelindo III appeared first on BaleBengong.