Saya bukan seseorang yang mengenal budaya secara luas.
Saya juga bukanlah sesosok insan yang mendarah dagingkan budaya. Saya hanya gadis belasan tahun yang ingin menyuarakan suara. Memilih hidup merantau seorang diri hanya karena ingin tahu arti kebebasan.
Walaupun baru sebentar, proses ini mengajari saya untuk mau mengenal dan pada akhirnya peduli kepada kekayaan saya sendiri.
Terlahir dalam daerah yang kental dengan adat istiadat dan budaya bukanlah hal yang terlalu membahagiakan bagi saya. Banyak orang bertanya, kenapa hal itu terbesit di pikiran saya. Saya memanglah seorang gadis yang berontak. Bukan karena berpikir hal tersebut kuno atau ketinggalan zaman, namun rupanya daya saya bukanlah pada bidang itu. Hingga akhirnya, ketika kini keluar dari zona tersebut dan saya merasa menyesal…
Bali memiliki budaya tari yang tak terhitung jumlahnya. Mulai dari yang disakralkan hingga yang memang dipentaskan secara umum. Hal inilah kemudian yang menjadi “jimat” bagi pulau kecil ini. Daya tarik wisatawan seakan susah untuk lepas dari seledet mata para pregina dan lekuk agemnya yang begitu khas.
Namun, di balik semua keindahan dan kemeriahannya tersimpan sebuah keganjilan yang hingga kini masih susah untuk saya anggap sebagai budaya yang utuh.
Sebuah tari pergaulan yang ada sejak jaman dahulu menjadi sorotan saya saat ini. Tarian ini seakan-akan selalu menjadi titik fokus dalam sebuah kegiatan seni yang ada. Para pregina senantiasa berinteraksi dengan penontonnya yang disebut “pengibing”. Pada akhirnya mengundang keriuhan arti kagum dari penonton lainnya.
Namun, semua tak sesederhana itu. Apalagi di zaman sekarang, di mana pakem bukanlah fundamental dari tanggung jawab ketika berada di atas panggung.
Sayang sangat sayang, lekukan tubuh molek nan indah para pregina cantik tersebut terkadang melewati batasnya. Tak dapat ditolak, partisipasi dari pengibing yang seharusnya ikut meramaikan pentas malah menjadi ladang penyalur nafsu.
Bagaimana tidak? Untaian kain yang seharusnya menutupi betis dan rajutan indah kebaya seakan tak mampu untuk mengingatkan bahwa ini merupakan sebuah identitas dari Bali yang sebenarnya. Garis pembentuk payudara dan mulusnya paha menjadi daya tarik bagi mereka. Iya, mereka yang menganggap hiburan joged bumbung merupakan sebuah hal erotis.
Hei! Tak sadarkah engkau budaya ini merupakan tugas yang sangat berat untuk kau pikul dan junjung. Hal ini bukanlah sekedar gerak tubuh yang dengan seenaknya kau ubah demi pundi rezekimu.
Apakah dirimu tak malu menjadi buah bibir di masyarakat? Ingat, masyarakat bukan hanya ada di Bali. Seluruh daerah bahkan dunia membicarakanmu. Ayolah sadar dan bergerak, pelajari budayamu dengan benar, lakukan dan lestarikan sesuai dengan pakemnya. Mulai bangun kembali citra joged yang lama, siapa lagi kalau bukan kita? [b]
The post Surat Untukmu yang Katanya Berbudaya appeared first on BaleBengong.

Leave a Reply