Pasar Tradisional Megah Kehilangan Nyawa

Pemerintah sedang merenovasi pasar-pasar tradisional dengan wujud baru bangunan megah. Namun melupakan konsep dasar pasar tradisional itu sendiri.

Beberapa pembangunan di Gianyar baru saja dirampungkan pada akhir 2021. Salah satunya perombakan pasar besar-besaran di Pasar umum Gianyar dan Pasar Seni Sukawati. Terlihat jelas perubahannya. Tersusun dari 4 lantai dengan bangunan yang berdiri di lahan seluas 1.297 hektare. Penulisan nama pasar menggunakan aksara Bali, menunjukkan ciri khas daerah.

Dilansir dari Tempo.co Gubernur Koster memberi sambutan mengatakan pembangunan Pasar Rakyat Gianyar ini sangat baik. “Arsitek bangunannya bagus sekali. Tampilannya juga sudah sesuai dengan peraturan Gubernur Bali di mana menggunakan aksara Bali di atas tulisan Pasar Rakyat Gianyar kemudian desain gedungnya telah menggunakan energi bersih ramah lingkungan dengan menggunakan panel surya. Ini sesuai dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2020 tentang Penggunaan Energi Bersih dari Hulu sampai Hilir,” sambutnya.

Revitalisasi Pasar Umum Gianyar menghabiskan anggaran sebesar Rp224,961 miliar. Dalam pantauan Tribunnews, pasar rakyat ini memiliki 1.619 unit bangunan untuk pedagang los, 121 unit pedagang kios, dan 123 lapak pedagang toko.

Sayangnya, hingga pertengahan Bulan Februari 2022 setelah pasar rakyat yang diklaim termegah di Indonesia resmi dibuka, kondisi masih sepi. Tak hanya pembeli, kios dagangan yang dibangun tersusun pun belum penuh terisi.

Seperti cerita Siti, salah satu pedagang hasil bumi yang berada di lantai 2. Ia berkeluh tak dapat jualan Rp 5 ribu pun di pagi hari itu. Setelah beberapa minggu berlalu, ia mulai membaca kondisi pasar. Menurut Siti, pasar Gianyar tempatnya mencari nafkah selama puluhan tahun, pasar bisa hidup karena ada transaksi antara pembeli besar. Ketika pasar ini dirombak, pembeli inilah yang hilang.

“Hanya yang punya langganan yang bisa bertahan jualan di pasar baru ini. Kalau tidak punya langganan, paling aget (untung) dapat jualan Rp 15 ribu,” tandasnya.

Kondisi seperti Siti tak hanya dirasakan sendiri. Dari pemantauan pasar secara langsung pun bisa menggambarkan betapa lengang pasar termegah ini seakan mati perlahan.

Mengapa setelah gedung pasar megah, justru pasar kehilangan penggunanya?

Menurut dosen arsitektur Universitas Warmadewa, I Nyoman Gede Maha Putra, ada karakteristik laku yang tidak nyambung dengan fasilitas yang tersedia. Diambil dari sejarah, pasar tradisional memiliki karakter waktu yang temporer. “Dia hanya di pagi hari, sehingga tidak memerlukan ruang permanen, ruangnya biasanya terbuka dan sangat casual,” imbuh Mang De, nama sapaannya.

Ia membandingkan karakter laku pasar tradisional dan modern. Seperti biasanya pasar tradisional dagang membuka dagangan di pagi hari, begitu habis pasar itu selsesai. Sedangkan pasar modern tidak seperti itu. Karakter pasar modern secara waktu adalah permanen. Pasar buka selama 24 jam, maka akan membutuhkan ruang yang permanen.

Yang terjadi sekarang karakter pasar tradisional yang temporer. Dibuatkan bangunan permanen. Secara karakter aktivitas sudah tidak nyambung, karena pasar tradisional tidak membutuhkan tempat yang permanen karena aktivitasnya temporer.

“Pasar tradisional ramainya di pagi hari. Jam 10-5 sore pasar akan sepi. Jam 6 sore akan menjadi pasar sengol/pasar malam. Hampir semua pasar tradisional begitu,” tandasnya.

Kedua, pengguna ruangnya berbeda. Di pagi hari digunakan oleh pedagang pasar tradisional. Di sore hari menjadi pasar makanan. Hal inilah menjadi hukum bahwa pasar harus memiliki ruang yang casual. Agar mudah dialihfungsikan. Mang De menegaskan kalau ruangnya dipermanenkan maka aktivitas ini tidak bisa ditangkap oleh pengguna gedung pasar yang seperti sekarang.

“Karakter pasar itu hadir karena kebutuhan bukan karena diatur. Kalau pedagangnya butuh, konsumennya butuh, maka akan terjadi pasar. Kalau diatur sistem pasar akan mati,” katanya.

Pasar tradisional tidak nyambung ketika diatur dengan peraturan yang rigid. Dengan jam buka yang juga dibuat rigid. Aktivitas pasar tradisional tidak seperti pasar modern, tidak sepanjang hari. Sehingga ruang-ruang yang dibutuhkan bukan ruang permanen.

Dari aktivitas ini, Mang De memaparkan ruang pasar tradisional memiliki bangunan terbuka yang dominan. Laku ini Mang De rekam bukan hanya di Bali. Di seluruh dunia pun karakter pasar tradisional adalah terbuka.

Ia menceritakan bagaimana asal muasal pasar itu terbentuk di Asia Tenggara. Yang mana dulu kota-kota memang asalnya dari pasar. Kedatangan pedagang dari Arab, India yang dari barat akan bertemu dengan pedagang yang dari Cina. Pertemuan yang terjadi di kawasan Asia Tenggara, sehinga Malaka, Singapura, Semarang, Banten, Surabaya, Singaraja, menjadi titik pertemuan pedagang dari Arab, India dan Cina. Mereka menggunakan lokasi itu sebagai ruang bertemu sehingga hidup sebuah sistem pasar.

Dari cerita ini, Mang De melihat pasar itu memiliki karakter yang harus bercampur. Ada multi pengguna. Terdiri dari kelompok pengguna yang berbeda-beda. Mereka akan membangun identitasnya masing-masing. Maka di sekitar pasar akan terbentuk Kampung Arab, Kampung Cina, Kampung Madura, Kampung Jawa. Ada akulturasi di sana.

Pengguna yang heterogen ini akan memperjuangkan identitasnya masing-masing. Kalau digunakan single identity. Apabila hanya didominasi oleh identitas masyarakat Bali, maka pasar akan mati. Inilah yang dilihat Mang De pada pasar sekarang. Dengan menonjolkan identitas daerah.

“Secara arsitektur pasar sekarang kan dibuat menjadi ‘Bali’ banget. Maka itu bisa mematikan hukum pasar. Karena karakter pasar tradisional harus heterogen. Kalau dia diubah menjadi homogen, mewakili satu kelas ngga akan cocok,” Mang De menegaskan.

Ia melihat pasar dengan bangunan baru saat ini dibuat untuk mewakili daerah, bukan mewakili pengguna. Begitu juga pasar rakyat Gianyar. Terkesan mewakili satu daerah saja. Bukan mewakili orang yang beraktivitas di dalamnya.

“Saya yakin di luar gedung akan muncul pedagang-pedagang tradisional. Para pedagang ini akan membentuk ruang nyamannya sendiri,” cetusnya.

Di pasar itu yang menjadi pengambil keputusan adalah pedagang dan pembeli. Mereka yang menentukan tempat yang nyaman buat mereka dimana. Bentuk yang nyaman seperti apa. Tapi yang terjadi sekarang adalah sistem top down. Pasar dibentuk berdasarkan keputusan yang diambil dari atas.

“Ini yang bikin nggak cocok lagi. Pedagangnya tidak mau begitu, tapi dipaksa seolah-olah mau begitu. Karena proses partisipasinya manipulatif. Ada pemimpin kelompok yang menyetujui seolah-olah mereka mewakili suara pedagang. Padahal sebenarnya tidak. Ini dugaan saya,” pendapat Mang De.
Menurutnya, pedagang, pembeli dan pasar terbentuk melalui hukumnya sendiri. Kalau hukum itu sekarang tidak mewakili mereka, maka pasar itu akan mati. Mereka tidak mau dipaksa. Kalaupun ada yang mau mengikuti pasti ada sedikit keterpaksaan sehingga mereka berjualan di sana. Bukan karena kerelaan.

Soal bangunan pasar Mang De memberi kritik untuk para arsitektur sekarang. Ia melihat perkembangan identitas yang digunakan sebagai konsep bangunan yang terlampau jauh. 10 tahun terakhir ini ketika politik identitas menguat, berimbas pada upaya menggali apa yang dianggap sebagai yang lokal. Tak jarang mempengaruhi pemilihan konsep bangunan. Termasuk yang terjadi pada pasar saat ini. Pemilihannya jadi kembali ke masa lalu. Terlalu jauh ke masa lalu.

Padahal menurut Mang De, arsitek harusnya memprediksi apa yang akan terjadi 10 tahun ke depan. Dengan kombinasi identitas di masa lalu dan masa yang akan datang, bisa menjadi perpaduan yang fleksibel.

“Yang terjadi sekarang arsitektur kita menggalinya ke masa lalu, terlalu dalam dan yang masa lalu dibawa ke hari ini. Sehingga muncul ornamen-organmen masa lalu yang bisa dilihat pada arsitektur pasar sekarang. Yang sebenarnya dagang itu tidak memerlukan ornamen yang banyak itu,” kritiknya.

Alhasil dari penggalian identitas terlalu jauh di masa lampau menyebabkan terus terjadi pengulangan-pengulangan. Di masa lalu tidak ada arsitektur pasar karena pasar adalah ruang terbuka. Jadi saat ini yang menjadi presedennya adalah pura. Maka di pasar ada bale kulkul. Di pasar ada candi bentar.

“Padahal pasar adalah ruang-ruang terbuka,” katanya kembali menegaskan.

Kritiknya kembali, ruang pasar juga dibuat mengikuti material kantor. Lantainya dari bahan licin, catnya putih. Padahal di pasar akan cepat kotor. Jendela kaca, padahal pasar tidak perlu kaca. Justru ketika keadaan darurat bisa membahayakan. Misalnya, ada gempa kaca bisa pecah, kata Mang De kembali.

Pasar terbentuk dari ruang-ruang keramaian. Seperti di perempatan jalan. Pasar juga terjadi jika ada acara yang mengundang keramaian. Setelah orang kembali bekerja, pasarnya akan bubar. Ruang yang sama dialihfungsikan berulang.

“Ruang pasar yang sekarang tidak bisa digunakan berulang karena sudah dipermanenkan. Bangunan rigid dibuat hanya untuk pasar.”

Sistem pasar yang sekarang, keputusannya diambil di atas. Yang bawah dipaksa mengikuti. Yang bawah pedagang dan pembeli ini kemungkinan besar mengalami kesulitan untuk mengikuti apa yang diputuskan di atas. Akhirnya mereka mencari ruang-ruangnya sendiri. Bagaimana masyarakat memutuskan ruang yang nyaman buat mereka.

The post Pasar Tradisional Megah Kehilangan Nyawa appeared first on BaleBengong.id.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *