Pakai Twitter Agar Lebih Pinter


Ketika semakin jarang ngeblog, aku justru makin rajin mantengin Tweetdeck.

Di aplikasi Tweetdeck, pengguna bisa mengatur banyak akun jejaring sosial. Selain Facebook dan Twitter, pengguna bisa menambah akun Foursquare (penanda lokasi), Myspace (musik), Buzz (mikroblogging ala Google), dan Linkedin (profil profesional).

Dari sekian layanan jejaring sosial yang bisa dipakai itu, aku pakai tiga. Buzz, Facebook, dan Twitter. Buzz itu tak jauh beda dengan Twitter. Setidaknya itu yang aku tahu. Bedanya, Buzz, seperti juga Facebook, tak terbatas pada 140 karakter untuk memerbaharui status di akun.

Di dua akun ini, bisa dikatakan aku hanya sehari memerbaharui status. Malah, kadang sehari juga melewatkannya.

Akun Twitter yang justru sekarang terus aku pakai untuk dua hal utama: membagi tulisan dan mendapatkan informasi. Seperti jejaring sosial lain, penggunaan Twitter terlihat hanya untuk main-main. Padahal, menurutku, Twitter sangat bisa mendukung kegiatan jurnalistik juga.

Untuk konteks jurnalisme, aku setidaknya menggunakan Twitter untuk tiga hal, yaitu belajar menulis pendek, menyebarluaskan tulisan, serta menyerap info dari sumber lain. Inilah tiga manfaat Twitter untuk jurnalis ala aku tersebut.

Belajar menulis kalimat pendek
Karena ada batasan jumlah karakter yang bisa ditulis di Twitter cuma 140, maka mau tak mau pengguna harus menurutinya. Memang ada beberapa aplikasi yang bisa membuat status agar melebihi batasan jumlah ini. Tapi, untuk apa. Seninya Twitter, ya, pada 140 karakter itu.

Konsekuensinya, pengguna Twitter harus bisa menyampaikan pesan singkat lewat statusnya. Dalam 140 karakter ini, pengguna harus bisa menyampaikan pesan dengan materi yang bisa dipahami pembaca atau pengikut (followernya).

Menurutku, sih, ini menjadi latihan tersendiri bagi jurnalis. Jurnalis yang biasa menggunakan Twitter akan terbiasa menulis kalimat lebih pendek.

Menulis dalam kalimat lebih pendek ini penting, terutama untuk jurnalis media online. Pada media cetak pun rasanya tak jauh beda. Makin pendek kalimat, makin mudah pembaca untuk memahaminya. Tentu saja harus ada kelengkapan unsur tulisannya. Setidaknya apa, siapa, dan di mana.

Menyerap informasi
Twitterland itu ibarat pasar burung. Banyak sekali burung berkicau, termasuk orang yang menawarkan burung itu sendiri. Tiap hari Jumat ada istilah #FF alias Follow Friday di mana para pengguna Twitter akan memromosikan “burungg-burung” yang mereka anggap layak untuk didengarkan kicauannya.

Nah, sebagai jurnalis, kita jadi bertambah informasi tentang siapa sih orang yang tahu dan ahli di bidang tertentu.

Di Twitterland pula jurnalis bisa mendapatkan informasi secara real time dari lapangan. Tiap orang cenderung ingin segera mengabarkan tiap informasi yang mereka punya. Begitu juga pengguna Twitter alias Tweeps. Di sini mereka bisa mengabarkan kemacetan, banjir, cuaca, atau apa saja yang mereka alami.

Kadang-kadang memang menyebalkan melihat garis waktu atau time line, garis di mana kita bisa melihat apa saja kicauannya, seseorang Tweep hanya berisi keluh kesah tentang dirinya. Kalau yang begini, sih, tinggalkan saja. Apalagi kalau aku tak kenal secara personal.

Menyerap informasi dari Twitter ini tak hanya dari orang-orang “biasa”, tapi juga media lain sebagai referensi. Misalnya, apa yang ditulis Kompas.com bisa segera disampaikan oleh akun Kompas di Twitter. Begitu pula informasi dari detik.com, Vivanews, BBC, Poynter, Wikileaks, dan seterusnya.

Mengikuti akun media-media ataupun lembaga memudahkan jurnalis untuk mendapatkan informasi ataupun peluang.

Menyebarkan tulisan (amplifier)
Salah satu fungsi jejaring sosial adalah untuk membuat suara media lebih bergema. Lagi-lagi sih ini untuk media yang punya akun online. Twitter pun demikian salah satu fungsinya.

Melalui Twitter, jurnalis bisa menyebarluaskan tulisannya dalam bentuk tautan (link) sebagai update status. Ini sama saja dengan Facebook sebenarnya. Bedanya, di Facebook status bisa terlihat lebih lama. Kalau di Twitter sangat cepat perubahannya, apalagi kalau menggunakan dari aplikasi Tweetdeck.

Kita memang tak bisa memengaruhi, apalagi memaksa, pembaca untuk membuka tautan itu lalu membaca isinya. Tapi, lewat status tersebut, kita telah memberi tahu mereka lewat alat pengeras suara, “Woi, aku barusan selesai menulis, lho. Ini linknya..”

Agar pembaca tertarik membaca, judul tulisan atau status di Twitter itu harus semenarik mungkin. Pakai Toa saja tidak cukup kalau informasinya garing.

Suara kita makin bergema kalau ada pengguna Twitter yang mengicaukan ulang alias me-retweet (RT) kicauan kita. Setelah itu, biarkan kekuatan viral dunia maya bekerja. Dia akan berjalan sendiri sesuai hukum ia maya. Ke sana ke mari tanpa bisa kita kendalikan.

Foto dari OnMilwaukee.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *