Kelelahan itu Tuntas Jua Akhirnya

Delapan Bulan… Ya, delapan bulan. Perlu waktu delapan bulan untuk bisa menyelesaikan ini semua. Untuk satu pengalaman yang tak akan pernah terlupakan. Rasanya Plong sejauh ini. Entah bagaimana nanti. Yang penting semua usaha dan upaya sudah membuahkan hasil. Tidak disangka ini bisa terjadi. Kelelahan yang pada akhirnya saya lepas dan pasrahkan pada-Nya, hari ini selesai […]

Cegukan

Cegukan adalah gerakan menarik nafas yang terjadi secara tiba tiba akibat dari konstraksi diafragma yang terjadi tanpa disadari disertai dengan menutupnya rongga pita suara (glottis).

Tarikan nafas yang pendek dan tiba tiba saat cegukan terjadi karena konstraksi tiba tiba dari diafragma. Menutupnya rongga pita suara disaat yang bersamaan menyebabkan tersendatnya aliran udara yang masuk. Menutupnya rongga pita suara yang menyebabkan tersendatnya aliran udara masuk ini menyebabkan suara yang unik saat terjadinya cegukan.

Cegukan biasanya berlangsung secara ritmis. Cegukan umumnya tidak menimbulkan masalah kesehatan yang berarti, namun bila cegukan berlangsung lama bisa menjadi masalah kesehatan yang serius.

Tips Mencukur Rambut Kemaluan

Mungkin kamu menyangka bahwa mencukur rambut kemaluan merupakan sesuatu yang mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Tahukah kamu? Menurut data terbaru di Amerika Serikat, banyak orang yang harus masuk UGD hanya gara gara salah mencukur rambut kemaluan.

Sedemikian berbahayakah mencukur rambut kemaluan sehingga bisa masuk UGD? Tidak juga seandainya kamu bisa melakukannya dengan benar.

Berikut beberapa hal yang bisa kamu lakukan saat mencukur rambut kemaluan agar terhindar dari bahaya:

1. Gunakan alat cukur yang baru

Selain tumpul, alat cukur yang sudah lama bisa menjadi sarang bakteri. Menggunakan alat cukur yang lama hanya akan menunggu terjadinya infeksi. Dan bila infeksi terjadi pada area kemaluan maka kondisinya akan lebih para bila dibandingkan dengan infeksi di bagian tubuh yang lain.

2. Gunakan sabun atau krim cukur

Sempatkan untuk mengoleskan sabun atau krim cukur pada area rambut yang akan dicukur, meskipun pada beberapa alat cukur sudah dilengkapi dengan strip lotion. Untuk mendapatkan hasil yang bagus memang membutuhkan sedikit pengorbanan waktu.

3. Mencukurlah pelan pelan

Jangan mencukur rambut kemaluan jika kamu sedang buru buru. Bila kamu memaksa diri buru buru saat mencukur rambut kemaluan maka ada kemungkinan besar kulit akan tergores pisau sehingga menimbulkan masalah.

4. Jangan memanaskan wax

Bila kamu menggunakan wax, jangan sampai wax yang kamu gunakan kena paparan panas sehingga fungsinya tidak optimal.

5. Bersihkan kulit setelah mencukur

Segera bersihkan area yang telah dicukur begitu proses mencukur selesai. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi atau tumbuhnya jamur pada area tersebut.

Saling Mendukung untuk Menguatkan Mental

Oleh Angga Wijaya

Hari masih pagi saat saya tiba di bangunan tua yang terletak di Jalan Hayam Wuruk Denpasar. Di halaman tampak dua pemuda sedang menyapu, sedangkan yang lain duduk di pelataran. Mereka layaknya orang normal. Namun tak banyak yang tahu bahwa mereka adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan orang dengan skizofrenia (ODS) dalam pengobatan.

Mereka tergabung dalam Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali. Tempat mereka berkarya bernama Rumah Berdaya. Rumah Berdaya para ODGJ dan ODS ini mendampingi para penderita ODGJ dan ODS membuat karya seperti dupa, sabun, jasa cuci motor dan melakukan aktivitas seni seperti melukis dan membuat kerajinan tangan.

Berdiri sejak Agustus 2016, Rumah Berdaya Denpasar memfokuskan diri pada pemberdayaan dan rehabilitasi sosial bagi para ODGJ dan ODS di Kota Denpasar. Berdirinya Rumah Berdaya Denpasar berawal dari keinginan untuk membentuk wadah bagi para ODGJ dan ODS sehingga mereka bisa berkarya dan berbuat sesuatu untuk mendukung pengobatan mereka.

I Nyoman Sudiasa, Koordinator Rumah Berdaya menuturkan, sebelum Rumah Berdaya berdiri para ODGJ dan ODS dan keluarga ODGJ dan ODS di Denpasar telah mengadakan acara berkumpul rutin sejak 2015. Mereka lalu berinisiatif membentuk KPSI simpul Bali. “Kami memikirkan membuat wadah sehingga perhatian dan kepedulian pemerintah menjadi lebih besar. Dan memiliki daya tawar dibanding jika sendiri dan tak mempunyai wadah,” ujarnya.

Seiring waktu berjalan Rumah Berdaya Denpasar makin dikenal masyarakat. Perhatian Pemerintah Kota Denpasar telah dirasakan warga Rumah Berdaya. Pemerintah memberikan lahan dan bangunan sebagai sekretariat Rumah Berdaya Denpasar dan tempat berkarya bagi para ODGJ dan ODS di Kota Denpasar.

Kegiatan sehari-hari warga Rumah Berdaya adalah membuat dupa, sabun, disamping berkebun dan melakukan kegiatan seni seperti melukis dan setiap akhir pekan warga Rumah Berdaya berlatih yoga dan meditasi. Mereka membuktikan diri bahwa penghuni Rumah Berdaya mampu berkarya.

“Agar pandangan masyarakat awam tentang penderita gangguan jiwa sebagai orang yang berbahaya, tak mempunyai masa depan, dan stigma lainnya bisa terkikis dan hilang,” kata Sudiasa menambahkan.

Pengobatan para ODGJ dan ODS selama ini menggunakan Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM). Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) Provinsi Bali ini menuai respon postitif masyarakat Bali karena meringankan beban warga Bali yang hendak berobat di puskesmas maupun di rumah sakit daerah yang bekerja sama dengan pemerintah.

Namun sejak pemerintah pusat mencanangkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) otomatis daerah yang mempunyai Jamkesda mesti berintergrasi dengan JKN, termasuk JKBM di Bali yang terhitung sejak 1 Januari 2017 tak berlaku lagi. Peraturan baru ini membuat resah karena banyak warga miskin tak mampu membayar premi BPJS secara mandiri termasuk para ODGJ dan ODS di Rumah Berdaya.

Dari 35 orang penghuni Rumah Berdaya, pada Juni lalu 14 orang yang telah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), sisanya 21 orang belum memiliki KIS. Menurut I Nyoman Sudiasa, warga Rumah Berdaya yang belum memiliki KIS disebabkan karena belum memiliki e-KTP sehingga menyulitkan mengurus KIS.

Ia mengatakan sejak November 2016, saat berita JKBM akan dihapus Pemerintah Bali, upaya koordinasi dengan dinas terkait untuk mengurus KIS telah dilakukan. “Masalahnya data masih lemah dan beberapa teman belum memiliki e-KTP sehingga tak terdaftar di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil,” katanya saat ditemui pada awal Juni lalu.

Para ODGJ dan ODS yang belum memiliki KIS berimbas pada layanan kesehatan jiwa yang mereka dapatkan. Terhitung sejak Januari hingga Maret 2017, pengobatan warga Rumah Berdaya yang belum memiliki KIS ditanggung sebagiannya oleh dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ, psikiater yang menginisiasi berdirinya KPSI Simpul Bali dan Rumah Berdaya.

Pada Maret 2017 warga rumah berdaya berinisiatif untuk mencari dana untuk pengobatan warga Rumah Berdaya yang belum memiliki KIS dengan membuat sabun yang mereka namai dengan “Sabarya”. Kepanjangan dari “Sabun Rumah Berdaya” dan juga bisa dimaknai dengan anjuran untuk bersabar bagi warga yang sudah mengurus pembuatan KIS namun belum jadi.

Sabun “Sabarya’ awalnya kerja sama Rumah Berdaya Denpasar dengan sebuah hotel di Denpasar di mana pihak hotel memberikan sabun bekas dan juga pelatihan mengolah sabun bekas menjadi sabun siap pakai. Sekarang bahan baku coba dipasok dari donatur-donatur lain. Pembuatan sabun “Sabarya” juga melibatkan seniman yang tergabung dalam “Ketemu Project Space” yang melakukan eksperimen dan melatih warga Rumah Berdaya dalam membuat sabun.

Satu paket sabun “Sabarya” yang terdiri dari lima keping sabun yang telah diolah kembali ini dibanderol dengan harga Rp100 ribu. “Hasilnya digunakan menanggung pengobatan para ODGJ dan ODS yang belum mendapatkan KIS,” Sudiasa menjelaskan.

Pembuatan sabun “Sabarya” akan terus berlanjut untuk membiayai pengobatan para ODGJ dan ODS di Denpasar baik yang ada di Rumah Berdaya maupun di luar Rumah Berdaya. I Wayan Sueca, orang tua Agus Widiasputra, salah satu ODS yang merupakan warga Rumah Berdaya termasuk salah satu yang belum mendapatkan KIS. Ia sejak Maret 2017 mengurus KIS dan hingga kini belum ada kejelasan kapan bisa mendapatkan KIS.

Sueca berkisah pengalamannya sempat “dipingpong” ketika mengurus KIS saat JKBM berakhir. Ketika mendatangi Dinas Sosial, petugas memintanya melampirkan Kartu Keluarga (KK) dan KTP anaknya yang sakit. Tak hanya itu, ia diminta kembali mendatangi kepala desa tempatnya tinggal.

“Saya jadi bertanya kenapa disuruh ke kepala desa lagi, kesannya saya dipingpong?” katanya.

Setelah Dinsos Denpasar berkoordinasi dengan Rumah Berdaya, akhir Juni lalu anaknya mendapat KIS. Ia berharap ke depan pengurusan PBI KIS berada di satu pintu dan antardinas terintegrasi. “Agar dukungan untuk ODGJ tidak dicederai birokrasi yang rumit sehingga warga disabilitas mental bisa mendapatkan KIS dan pengobatannya ditanggung pemerintah,” ujarnya.

Dinas Sosial Kota Denpasar hingga kini bekerja sama dengan Rumah Berdaya menyelesaikan verifikasi PBI JKN bagi ODGJ. I Nyoman Sudiasa memimpikan layanan kesehatan yang adil untuk warga miskin dan difabel termasuk ODGJ dan ODS. Idealnya, layanan kesehatan bagi penderita disabilitas fisik maupun mental sama. Jaminan kesehatan bagi para ODGJ dan ODS ditanggung pemerintah.

“Karena banyak ODGJ dan ODS yang untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja masih sulit sehingga perlu kebijakan menggratiskan biaya pengobatan mereka,” kata I Nyoman Sudiasa.

Ia menambahkan, JKN dikatakan ideal jika tak ada lagi perbedaan antara disabilitas mental dan fisik. Pemerintah perlu memperbaiki sistem layanan termasuk pendataan karena menurut pantauannya antardinas satu dengan lainnya belum terintegrasi.

Kepala BPJS Kesehatan Denpasar Kiki S. Marbun berinisiatif menggalang donasi dari pegawai BPJS Kesehatan Cabang Denpasar bagi pasien skizofrenia di Yayasan Rumah Berdaya. Dana yang terkumpul digunakan untuk membantu pendaftaran pasien serta keluarganya dalam program JKN, dengan manfaat di kelas 3.

“Agar pasien skizofrenia tidak mengalami putus obat,” kata Kiki.

Para pegawai di Kantor Cabang Denpasar BPJS Kesehatan memberikan bantuan iuran JKN selama satu tahun. Pemberian bantuan iuran JKN bagi penderita skizofrenia disesuaikan dengan jumlah dana yang terkumpul dari sumbangan pegawai secara sukarela.

Ia berharap inisiatif ini dapat memberikan contoh serta dapat mengguggah badan usaha ataupun perorangan ikut serta melakukan donasi, membantu masyarakat yang kurang mampu mendaftar sebagai peserta JKN. Sehingga masyarakat yang tidak mampu mendapat jaminan kesehatan.

Selain itu saat pada 2019, Kiki berharap BPSJ Denpasar telah menginventarisir jumlah penderita ODGJ di wilayahnya, dan memastikan NIK penderita ODGJ selain mengalokasikan anggaran agar peserta ODGJ terdaftar di BPJS Kesehatan.

Kopi Kental

Sebuah komunitas di Tabanan pada 21 Juni lalu mengukuhkan diri akan mendampingi ODGJ berat khususnya dipasung. Salah satunya mengakses pengobatan dan akses PBI JKN atau KIS.

Pertemuan ini berlangsung di kantor Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos dan P3A) Kabupaten Tabanan diikuti lebih dari 20 orang. Pengukuhan ini dibarengi penyuluhan dari RSJ Bangli tentang kondisi gangguan jiwa di Bali dan cara penangannya. Para relawan Kopi Kental berasal dari beragam latar belakang seperti wirausaha, PNS, dan pengurus desa.

Driana Rika Rona, Sekretaris Kopi Kental menyebut sebagai petugas rehabilitasi sosial tantangannya adalah ketika ODGJ dipasung lagi. Kopi Kental akan mendampingi mengakses kesehatan dan menyiapkan tempat sementara untuk yang telantar, misalnya Rumah Singgah di Kantor Dinsos dan P3A Tabanan.

Kepala Dinsos P3K I Nyoman Gede Gunawan juga ingin memastikan para ODGJ tercover JKN, termasuk untuk mereka yang belum punya identitas. Agar 2018 Tabanan bebas pasung. Meski kendala di lapangan seperti keluarga menyembunyikan pasien dengan tidak memasukkan dalam kartu keluarga dan mengabaikan hak identitasnya.

“Kalau (pasien, red) punya keluarga bisa kita urus. Kami akan mencari yang seperti itu bersama petugas catatan sipil,” ujarnya.

Ia mengatakan akan mengirim pasien ke RSJ Bangli dan memastikan sudah punya KIS. Bagi pasien yang tidak memiliki identitas, ia berjanji akan mengupayakan surat keterangan sebagai pengganti, sembari menunggu pasien mendapatkan nomor induk kependudukan (NIK). “Agar tak dipulangkan lagi,” katanya.

Dinas Sosial juga menyiapkan rumah singgah. “Saya ingin dukungan dari komunitas seperti ini sebagai partner kerja di Dinsos,” katanya tentang dukungan Surat Keputusan pengukuhan Kopi Kental.

Usai pengukuhan, tim Kopi Kental bersama Tim RSJ Bangli mengunjungi dua ODGJ di Tabanan. Salah satunya melihat perempuan 43 tahun yang dikurung dalam sebuah bangunan dengan jendela berteralis besi. Kakaknya sudah meninggal dalam kondisi ODGJ saat terkurung di ruang yang sama. Mereka tak diobati dengan layak.

Kepala Desa Kesiut Gusti Putu Gede Purwa Adnyana melaporkan ODGJ ini dan koordinasi dengan kakak laki-lakinya yang tinggal terpisah. Tim Kopi Kental meyakinkan keluarga agar korban diobati dengan lebih baik agar tak lagi terpasung. [b]


Tulisan ini merupakan bagian ketiga dari laporan mendalam berbasis data (data driven journalism) tentang akses jaminan kesehatan nasional untuk orang dengan gangguan jiwa. Anggota tim liputan Luh De SuriyaniHappy Ary SatyaniAngga Wijaya, dan fotografer Wayan Martino.
Pengerjaan laporan ini dengan dukungan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) melalui program data driven journalism di isu kesehatan.
Tulisan pertama Tak Terdata Lagi Setelah Integrasi.
Tulisan kedua Semrawut Data, Sulit Terbuka.
Tulisan ketiga Saling Mendukung untuk Menguatkan Mental.

The post Saling Mendukung untuk Menguatkan Mental appeared first on BaleBengong.

Semrawut Data, Sulit Terbuka

Oleh Luh De Suriyani

Apakah anggaran kesehatan pemerintah sudah mengalokasikan akses kesehatan warga ODGJ?

Seorang perempuan muda 20-an tahun duduk bengong di dalam sal Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli, Bali. Sudah semingguan ia dirawat setelah dibawa Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dari sekitar Terminal Ubung, Denpasar. Rini, sebut saja demikian saat itu linglung, tak bisa menunjukkan identitas, dan tidak tahu hendak ke mana.

Namun pada akhir Juni lalu ditemui di RSJ Bangli, Rini sudah bisa diajak bicara dan menjawab pertanyaan. Dia mengaku dari Sidoarjo dan bisa menyebut nama keluarga maupun alamat rumahnya. “Tolong bantu mencarikan keluarganya ya. Dia sudah boleh pulang. Kasihan kalau lama di sini,” ujar Darsana, petugas RSJ.

Menjelang lebaran lalu, koordinasi informal dengan petugas sosial Kementerian Sosial di Sidoarjo, Jawa Timur membuahkan hasil. Mereka menemukan keluarga Rini. Namun, ia tak bisa segera diberangkatkan karena kantor pemerintah masih cuti sampai usai lebaran. Akhirnya 4 Juli lalu Rini dijemput keluarganya di RSJ Bangli.

Rini termasuk pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) telantar. Tak sedikit yang bernasib seperti dirinya. Pemerintah Provinsi Bali mengalokasikan dana kesehatan agar RSJ merawat pasien telantar, tanpa identitas atau keluarga, tak hanya ODGJ. Pada 2016, anggarannya berjumlah lebih dari Rp2 miliar.

Menurut proyeksi Riset Kesehatan Dasar 2013 Bali oleh Kemenkes, jumlah pengidap gangguan jiwa (ODGJ) berat atau skizofrenia adalah 2,3 dari 1000 penduduk.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan beban penyakit atau burden of disease penyakit jiwa di Tanah Air masih cukup besar. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, mencatat prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan sebesar 6 persen untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang. Adapun prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia adalah 1,7 per 1.000 penduduk atau sekitar 400.000 orang.

Berdasarkan jumlah tersebut, ternyata 14,3 persen di antaranya atau sekira 57.000 orang pernah atau sedang dipasung. Angka pemasungan di pedesaan sebesar 18,2 persen. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka di perkotaan, yaitu sebesar 10,7 persen.

Dalam dokumen Riskesdas 2013 disebutkan yang didata adalah gangguan jiwa berat (psikosis atau skizofrenia) yang dapat dikenali oleh masyarakat umum. Sehingga gangguan jiwa berat dengan diagnosis tertentu dan memerlukan kemampuan diagnostik oleh dokter spesialis jiwa, kemungkinan tidak terdata. Prevalensi Bali 2,3 per 1.000 penduduk, artinya dari sedikitnya 4 juta penduduk Bali, ada sekitar 9.000 ODGJ.

Bali termasuk 5 terbesar bersama Yogyakarta (2,7), Aceh (2,7), Sulawesi Selatan (2,6), dan Jawa Tengah 2,3).

 

Belum ada data detail hasil pemetaan seluruh Bali. Hanya pasien ODGJ yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Bangli tahun ini sampai Mei 2017 sebanyak 448 orang pasien baru rawat inap dan jalan.

Saat ini baru Denpasar yang mencatat ODGJ nama dan alamat (by name by address) karena memiliki pelayanan di rumah (homecare) oleh puskesmas. Hingga awal tahun 2017 jumlah yang terdata sekitar 400 orang tetapi ini mereka yang bisa mengakses layanan kesehatan saja. Mereka didaftarkan sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bali. Namun, baru sebagian yang mendapat kartu KIS sebagai tanda sudah terdaftar akses JKN.

Total jumlah warga yang mendapat PBI dari anggaran daerah di Bali 400.749 orang dengan nilai Rp110 miliar lebih. Hanya kabupaten Badung yang tidak ikut alokasi PBI daerah. Kabupaten terkaya di Bali ini memberi jaminan kesehatan seluruh warganya sendiri, seperti era Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) milik Pemprov Bali dulu.

Hingga 1 Juni 2017 sisa kuota PBI lebih dari 58 ribu orang. Ada lebih dari 58 ribu orang yang mendapat hak PBI dan bisa didaftarkan untuk memenuhi kuota.

Alokasi anggaran iuran PBI pada 2017 di Bali terbanyak untuk Kabupaten Buleleng yakni 117.439 orang, total pembagian anggaran provinsi dan kabupaten lebih dari Rp32miliar. Kemudian Karangasem untuk 84.323 orang, disusul Tabanan 56.240 orang, Gianyar 48.457 orang. Paling sedikit alokasi PBI untuk warga Kota Denpasar, yakni 10.592 orang.

Namun, dibandingkan alokasi anggaran jaminan kesehatan daerah yang disebut JKBM, nilai iuran PBI JKN ini jauh lebih kecil. Tak heran masih banyak warga kaget karena sekarang tak ada jaminan kesehatan gratis untuk seluruh warga dengan KTP Bali seperti era JKBM.

Alokasi anggaran JKBM Provinsi Bali pada 2016 lebih dari Rp383 miliar. Bahkan pada 2015 lebih dari Rp418 miliar. Tiga kali lipat lebih banyak dibanding anggaran PBI daerah untuk JKN. Daerah yang mendapat alokasi terbesar JKBM adalah Buleleng sebesar Rp 26 miliar lebih, kemudian Bangli lebih dari Rp 22 miliar, disusul Jembrana, dan Karangasem.

Urutan alokasinya berbeda dengan PBI JKN yang berbasiskan jumlah penduduk dan 40 persen penduduk termiskin versi Badan Pusat Statistik (BPS).

Jomplangnya alokasi PBI daerah dengan anggaran JKBM salah satunya karena anggaran kesehatan juga difokuskan untuk pembangunan Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM) yang baru selesai tengah tahun 2017 ini. “Dananya dipakai untuk JKN dan membangun RSBM,” ujar Made Suwitra, Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Alokasi anggaran kesehatan sudah ada tetapi masih banyak ODGJ yang belum mendapat haknya sebagai penerima PBI. Tidak ada detail siapa saja kelompok penerima PBI daerah. Berapa alokasi untuk warga miskin, difabel fisik, dan difabel mental. Padahal PBI diberikan spesifik by name by address. “Semuanya jadi satu, tidak ada pengelompokannya. Didasarkan pada 40 persen dari penduduk termiskin,” kata Suwitra.

Profil Kesehatan Provinsi Bali 2016 menyebutan Langkah-langkah Integrasi JKBM ke JKN di Provinsi Bali. Masyarakat Bali yang dianggap miskin dan tidak mampu adalah 40 persen dari total penduduk (Berdasarkan Perpres No. 2 tahun 2015 RPJMN 2015-2019). Data ini berdasarkan verifikasi dan validasi yang dilaksanakan pada tahun 2015 oleh BPS dan dikeluarkan oleh Tim Nasional Percepatanan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

Jumlah 40 persen penduduk termiskin di Bali yang belum memiliki Jaminan Kesehatan Nasional sebagai berikut:

Rekapitulasi 40% Termiskin Masyarakat Bali dan Kepesertaan JKN

Dalam proses integrasi yang akan diintegrasikan ke JKN sebagai PBI Daerah adalah masyarakat miskin dan tidak mampu Non JKN. Data Non JKN di atas diverifikasi dan divalidasi Dinas Sosial kabupaten dan kota dan ditetapkan oleh bupati atau walikota sebagai peserta PBI Daerah. Terkecuali Kabupaten Badung, jadi jumlah peserta PBI daerah dan anggarannya berkurang. Peserta PBI Daerah yg sudah ditetapkan bupati atau walikota didaftarkan ke BPJS oleh pemerintah daerah di kelas III dengan premi Rp23.000 per orang per bulan.

Penduduk yang sudah dibiayai sebagai PBI Pusat sebanyak 912.613 orang, dan yang jadi tanggungan PBI Daerah 400.749 orang. Apabila besaran premi PBI Rp23.000, maka jumlah dana yang harus disiapkan Pemda Bali adalah = 400.749 x 12 bulan x Rp23.000 = Rp101.606.724.000/tahun. Nilai ini jauh lebih kecil dibanding anggaran jaminan kesehatan daerah sebelumnya JKBM pada 2015 dan 2016.

Di sisi lain anggaran kesehatan APBD kabupaten dan kota di Bali cukup besar di atas rata-rata nasional. Jadi ada peluang untuk beri akses lebih banyak pada warga miskin atau kebutuhan khusus yang membutuhkan premi PBI JKN. Tak hanya 40 persen.

Tidak semua peserta JKBM otomatis menjadi peserta JKN PBI daerah. Yang berhak menjadi peserta PBI JKN adalah fakir miskin dan orang tidak mampu termasuk yang mengalami disabilitas/cacat total.

Mengumpulkan Serpihan Data

Jumlah ODGJ by name by address tidak ada. Hanya ada perkiraan dari Riskesdas 2013 sebanyak 9.000 orang ODGJ berat. Untuk itu kami mengumpulkan data berbagai versi.

Pertama, data RSJ Bangli menyebut kunjungan rawat jalan berturut dari 2014 sampai 2016 adalah lebih dari 27.907 orang, 20.076, dan 20.564 orang. Kunjungan rawat inap antara 5.000-6.000 orang per tahun.

Jumlah di atas adalah kunjungan bukan jumlah orangnya karena bisa jadi orang yang sama, satu orang rawat jalan atau inap berkali-kali atau belasan kali per tahunnya. Tidak ada data jumlah orangnya.

Untuk memperkirakan jumlah orang ODGJ yang pernah dirawat di RSJ Bangli, Dokter Basudewa Wakil Direktur RSJ Bangli menyebut secara kasar mungkin bisa melihat pasien kronis yang dalam dua tahun dirawat inap rata-rata 3 kali. Misalnya jika ada pasien 6.000 orang per tahun rawat inap, jika dikali 2 tahun kemudian bagi 3 kali hasilnya sekitar 4.000 orang. Kemungkinannya, masih ada sebagian ODGJ berat yang belum terakses kesehatan di Bali.

Kedua, data pasien jangkauan Suryani Institute for Mental Health (SIMH) yang menjangkau pasien di rumah di 4 kabupaten dari 9 kabupaten atau kota di Bali. Hingga kini mendampingi 758 orang ODGJ berat sejak 2008. Namun lebih dari 70 persen diperkirakan sudah bolak balik dirawat di RSJ Bangli. Jadi datanya sebagian besar sudah termasuk dalam data RSJ Bangli.

Hingga Mei 2017, jumlah ODGJ yang menggunakan JKN (PBI pusat dan daerah) sebanyak 333 pasien rawat inap dan 1.578 rawat jalan. Ini sekali lagi jumlah kunjungan, terlebih yang rawat jalan bisa jadi satu orang beberapa kali datang dalam 5 bulan.

Angka tersebut memperlihatkan betapa pentingnya akses kesehatan bagi ODGJ. Jika putus obat dampaknya sangat besar penderita dan lingkungan sekitar. Ketiadaan data terintegrasi, termasuk verifikasi administrasi kelayakan para penerima bantuan iuran, menyulitkan memetakan berapa ODGJ yang belum terjangkau kesehatan.

I Made Suwitra mengatakan jika angka kemiskinan di Bali berdasar Badan Pusat Statistik (BPS) sekitar 5 persen dari penduduk atau sekitar 200 ribu orang. Sementara alokasi PBI daerah 400-an ribu warga, harusnya akses jaminan kesehatan sudah menjangkau seluruh warga berkebutuhan khusus, seperti ODGJ. “Apakah proses verifikasinya terbuka?” katanya.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali I Nyoman Wenten menyebut dari 4 juta penduduk Bali, yang mendapat PBI berjumlah lebih dari 1,5 juta. Harusnya warga miskin dan difabel semuanya tercakup. Namun hambatannya ada yang belum punya NIK, atau datanya salah. Sementara BPJS mengejar harus ada NIK. “Kami sedang proses kerja sama dengan Dukcapil. Kalau keluarganya tak bisa ditemukan, bisa didaftarkan Dinas Sosial,” ujarnya.

Ia setuju jika seluruh WNI punya hak sama, apalagi ODGJ menurutnya negara harus hadir. Misalnya sulitnya mencari e-KTP juga harus segera dicari terobosan. Menurutnya orang bisa meninggal nunggu KTP jadi. “Yang punya kewenangan kita, ya cari solusinya,” katanya meyakinkan.

Sayangnya pihaknya juga tak punya data detail, dari penerima PBI itu berapa yang miskin, difabel, dan sebagainya. [b]


Tulisan ini merupakan bagian kedua dari laporan mendalam berbasis data (data driven journalism) tentang akses jaminan kesehatan nasional untuk orang dengan gangguan jiwa. Anggota tim liputan Luh De SuriyaniHappy Ary SatyaniAngga Wijaya, dan fotografer Wayan Martino.
Pengerjaan laporan ini dengan dukungan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) melalui program data driven journalism di isu kesehatan.

Tulisan pertama Tak Terdata Lagi Setelah Integrasi.
Tulisan kedua Semrawut Data, Sulit Terbuka.

 

The post Semrawut Data, Sulit Terbuka appeared first on BaleBengong.