[Satua Bali] Tuah Tuuh Butha

ULIAN pédalém teken pegaen sékaane, dugas ngerupuké térunane tusing je sanget ngoggah ogoh-ogoh. Mélenan dugase pidan, anak ngae ogoh-ogoh mule lakar uwugang. Ogoh-ogoh uwug ento cirin i manusa nyiksik bulu, apang bisé masesuluh, tusing nuutang indria tur bisé buka i butha. Nanging, yening suluhin care jani ne, saje mule buka ogoh-ogohe ane metuuh mekelo, bikas […]

The post [Satua Bali] Tuah Tuuh Butha appeared first on kabarportal.

Pulang ke Kotamu



*Cerpen ini tayang di Rubrik Inspirasi Pos Kupang, Edisi Minggu, 21 Oktober 2018



Matahari Terbenam 29/9/18 dari Jl. Wirajaya, Ende (depan Gereja St. Yosep Onekore) - dok.pribadi

Kota ini, tiba-tiba menjadi begitu syahdu, di tengah musim yang tak pasti. Angin bertiup kencang dari arah timur dan hujan mendadak tumpah-ruah semalaman di bulan Juni yang seharusnya melimpahkan sinar matahari.

Ia termangu di jok belakang sepeda motor tukang ojek yang ia sewa menuju jalan pulang. Di kejauhan kabut tebal masih menutupi puncak Gunung Wongge dan pendampingnya Gunung Kengo. Jika melihat bentangan alam ini, ia selalu teringat pada impiannya, ia tak akan pernah bisa mewujudkannya, mendaki jauh tinggi hingga ke puncak kedua gunung tersebut. Ada jarak yang tak mampu dibahasakan, tak hanya dari sudutnya memandang secara nyata, tetapi juga dari kedalaman pikiran dan hatinya yang kadang tak bisa ia jelaskan dengan leluasa. 

Hanya pernah sekali waktu, ia mencapai kaki gunung wongge, memanen jagung, membakarnya dan menikmati langsung di tempat, bersama kawan-kawan sepermainannya. Dulu sekali, saat kebebasan bukanlah sebuah perihal yang begitu sangat berharga. Hari-harinya adalah kesenangan belaka.

Ojek melintasi Jalan Wirajaya, sebuah jalan bertabur kenangan di mana seluruh waktunya sepanjang dua belas tahun dihabiskan. Dari seragam merahputih, lalu biruputih, dan akhirnya abuabuputih. Jika ditanya, apakah ia tidak bosan, menghabiskan hidup selama itu melalui jalanan dan lingkungan yang sama? Ia tak akan menjawab, sebagian besar karena ia lupa, lupa apa saja yang telah ia lakukan untuk menghabiskan waktu sebanyak itu pada lintasan yang itu-itu melulu.

Banyak bangunan sekolah berdiri di Jalan Wirajaya, mereka bertetangga dengan akurnya. Oleh karena itu, tidak heran, jika dua belas tahun, ia hanya berpindah gedung dan menyebrang dari sisi jalan yang satu ke sisi jalan yang lain. TKK, SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi. Juga ada gereja dan masjid, biara bagi para pastor, bruder dan suster, yang terakhir cukup mencolok, Kompi Senapan C. Rumah-rumah penduduk, hanyalah sebagian yang menyempil di antara bangunan-bangunan penting tersebut.

Ia tidak ingin membayangkan masa-masa sekolah atau membahas perubahan yang terjadi dengan bangunan dan lingkungan sekolahnya. Ia terlalu sering bernostalgia tentang hal tersebut dengan sahabat-sahabatnya yang saban hari bertemu. Mereka menamai kegiatan tersebut, Reuni Daur Ulang, sebab terjadi terus-menerus dan mereka tak kunjung bosan menceritakan hal yang sama berulang-ulang. Sungguh konyol!

Kompi Senapan C, Lingkungan Angkatan Darat-Tentara Nasional Indonesia yang selalu berusaha ia hindari. Hingga saat ini, ia masih berusaha menemukan alasan, mengapa Ia sangat gugup ketika bertemu orang-orang berpakaian loreng sembari memanggul senjata itu, belum lagi sepatu mereka yang bisa melabrak kepala hingga terbelah dua. Ia teringat sebuah peristiwa, seorang kawan, ia lupa nama dan wajahnya, tetapi tidak dengan kisah yang masih melekat erat di kepala. Sesekali timbul ke permukaan ketika bertemu pemicu.

Senja itu, pukul delapan belas tepat waktu Indonesia tengah. Mereka berjalan kaki cepat agar segera tiba di rumah, setelah melewati sore yang melelahkan untuk menjalani persiapan Ujian Akhir Nasional di sekolah. Kebun belakang SD dan selokan yang mengalir di sepanjang lingkungan Kompi Senapan C, hanya dibatasi sebuah tembok batako yang mulai kusam. Saat melewati Gapura Depan yang bertuliskan Yonif 743-Kompi Senapan C, mendadak terdengar rekaman Lagu Indonesia Raya. Di kejauhan, bendera merah putih menukik turun, perlahan, pada sebuah tiang bercat putih dengan bantuan tiga orang tentara. Para lelaki berseragam itu sungguh gagah. Mereka kemudian mempercepat langkah. Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari balik tugu di samping gapura yang bergambar dua prajurit tengah bertempur di medan perang. Rupanya pos jaga di belakang tugu tersebut, berpenghuni.

“Heh, berhenti! Kalian tidak lihat, itu bendera sedang diturunkan? Anak sekolah apa ini, tidak ada rasa hormat pada Bangsa dan Negara.”

Mereka terdiam di tempat, wajah keduanya pucat pasi. Ia menoleh, mendapatkan temannya menggengam buku dan pulpennya lebih kencang, seakan-akan ada yang akan merebutnya, demikian pula yang terjadi padanya. Ia membayangkan, mereka mungkin tidak dapat kembali ke rumah malam ini. Cilaka!

Lelaki bersepatu tinggi, berseragam kacang hijau, bersenapan dan mengenakan helm tersebut kembali membentak,

“Sikap siap dan hormat bendera! Lihat ke arah tiang di atas itu, jangan bergerak sampai lagu selesai.”

Mereka melakukan apa yang diperintahkan, dengan terbata-bata, karena bercampur rasa takut akibat membayangkan hal-hal mengerikan yang bisa terjadi kapan saja.

Ketika Lagu Indonesia Raya selesai dan bunyi yang datang dari pengeras suara menghilang, laki-laki yang memberi aba-aba tadi melihat tepat di mata mereka. Satu per satu dan berkata,

“Sekarang boleh lanjut jalan. Lain kali, kalau lewat di depan sini lagi dan pas bendera sedang dinaikkan atau diturunkan seperti tadi, berhenti dulu, sikap siap dan beri hormat macam tadi. Mengerti?”

“Mengerti, om.” Jawab mereka

“Apa? Ulang?” prajurit tersebut bertanya, memastikan

“Meeeeengeeeertttiiii, Oooom.” Jawab mereka tegas dan meyakinkan seraya menyembunyikan suara yang bergetar karena rasa takut yang masih bersarang

“Baek su. Jalan su. Hati-hati e, sugelap.” Demikian sang prajurit mempersilakan mereka berlalu pulang.

Setelah berjalan cukup jauh, ada sepuluh meter kira-kira, sang kawan memohon berhenti. Napas mereka terengah-engah, seolah tengah berusaha lari menjauh dari kejaran hantu.

Ja’o pucelana basah.” Ujar sang kawan

“Ha, apa?” Ia bertanya, memastikan telinganya tidak salah mendengar

Ja’o pu celana basah, ja’o kencing di celana ko. Ja’o takut ngeri tadi na.”

Ia terkesima. Yang terjadi selanjutnya, pantatnya bertemu tanah, ia terduduk dan ngakak sepuasnya. Sementara temannya berusaha menjepit paha yang lembab dan berbau pesing. Mbingu betul!

Ojek berhenti di lampu merah, di persimpangan jalan wirajaya dan jalan el tari, juga jalan menuju kantor pos (demikian mereka biasa melafalkannya sehari-hari). Jalan el tari kini telah menjadi dua jalur yang tak begitu sibuk. Di kiri-kanannya berdiri gedung-gedung kantor baru maupun juga gedung-gedung hasil renovasi dari bangunan kantor yang lama. Jika melalui jalan ini, ia terkenang pada dua ruang membaca yang tak pernah menolak kedatangannya dan kawan-kawan, ketika hari sabtu tiba atau pun hari-hari lain, di mana sekolah berakhir lebih cepat.

Bunyi bel pulang sekolah adalah seperti berkat yang dinanti-nantikan. Perjalanan sejauh tiga puluh menit, tidak lagi melelahkan ketika tiba di ruang membaca tersebut. Mereka menempuh jalanan yang lebih singkat, yang hanya diketahui tuan tanah setempat dan mereka, para penjelajah kebun dan lorong perumahan. Wangi lembaran buku dan majalah, cahaya ruangan yang memadai, membuat aktivitas membaca menjadi sangat menyenangkan. Sekarang, ruang membaca itu, tak ada lagi. Telah diubah sepenuhnya menjadi toko buku yang hanya dikunjungi sesekali oleh orang-orang yang membutuhkan buku. 

Sedangkan satu ruang baca lain, dulu menjadi bagian dari sebuah gedung perkantoran. Kantor tersebut kini berpindah lokasi, entah di bagian mana kota ini. Bersamaan dengan itu, ruang baca itu pun ikut menghilang. Dilupakan begitu saja. Kota ini tidak begitu antusias dengan Buku.

“Kaka turun di mana ni?” Suara tukang ojek memecah lamunannya

“Oh, itu, di depan rumah cat biru tuh. Turun di depan situ.”

Seperti biasa, larutan masa lalu begitu kental dan membuat lupa waktu. Ia turun, membayar ongkos perjalanan dan berusaha memijak kembali pada kenyataan. Sudah dua puluh tahun rupanya, semua begitu cepat berlalu.

Ende, Juni 2018



Keterangan
Ngakak           : Tertawa lepas
Mbingu           : (Ende, red) Gila
Ja’o                  : (Ende, red) Saya, Aku




Versi Koran



Versi digital Rubrik Inspirasi Pos Kupang 21 Oktober 2018

#latepost waktu itu senin pagi, saya bangun pagi dengan enggan karena tak tahu mau bikin apa di hari yang bagi semua orang adalah malapetaka kesibukan. Lalu, saya menemukan sebuah pesan dengan gambar Koran Pos Kupang ini sebagai salah satu informasi. Gambar kedua dikirim kemudian oleh teman yang lain. Saya selalu memiliki dua arsip ketika cerpen muncul di Koran. Dalam bentuk koran dan dalam bentuk digital.
Maksudnya biar pernah menulis untuk kampung halaman, kota kelahiran dan kenangan masa kecil dan dibaca Bapak sendiri. Hanya saja, apakah Pos Kupang hari kemarin sudah tiba di rumah?

Tepat SATU BULAN. Tanpa konfirmasi apa pun, tiba-tiba dapat kabar beginian dari kawan dan sudah lewat sehari. Okkay fainnnns.

Sepesial Danke dr. Ronald Susilo dan Mas Abu Nabil Wibisana 

Karya Gelap nan Murung Lily Of The Valley


Restless Soul menunjukkan keprihatinan sekaligus kemarahan.

Lily of The Valley resmi merilis tunggalan teranyar bertajuk Restless Soul pada 9 Maret 2019. Lagu ini bercerita tentang pengalaman merasakan kemurungan dan depresi kawan.

Serangkaian sudut pandang, kesedihan, kehilangan dan empati ketika menyadari seorang kawan berubah tabiat dalam seketika, kemudian menjadi pribadi yang sama sekali tak dapat mereka kenali. Keterasingan ini dialami sosok depresif dengan jiwa yang lelah. Terbelenggu dalam misteri akan ketakutannya sendiri (gangguan mental).

Berdasarkan pengalaman tersebut, karya ini merupakan lagu paling gelap dan murung yang pernah mereka tulis dibandingkan lagu-lagu sebelumnya. Wujud keprihatinan sekaligus kemarahan akan hal yang tak dapat mereka jamah, tetapi dapat dirasa dan dimaknai.

Materi dalam lagu ini diharapkan dapat menggambarkan musikalitas Lily of The Valley. Juga mampu menjadi entitas dari berbagai eksplorasi yang telah dilakukan. Band ini menekuni musik selama kurang lebih empat tahun.

Kelompok musik asal kota Denpasar ini sebelumnya telah merilis tunggalan perdana “I Saw You” (2016), kemudian menggelar tour Jakarta-Bandung berbekal demo yang sempat direkam live. Demo tersebut berisikan track lainnya; “Fire” dan “Wild” dengan bantuan Ian J. Stevenson sebagai sound engineer.

Amost Famous

Pada tahun sama, Lily of The Valley juga menjuarai kompetisi Almost Famous dan berkesempatan menjajal panggung festival Soundrenaline 2016. Masa sulit dialami pada tahun-tahun berikutnya terkait prioritas individu seperti urusan studi dan pekerjaan.

Pada tahun 2019 ini, mereka seakan ingin membuktikan bahwa Lily of The Valley masih tetap bernapas, kemudian menunjukan keberadaan mereka melalui tunggalan kedua, Restless Soul. Lagu ini merupakan buah pemikiran yang ditulis berdasarkan peristiwa yang dialami sendiri oleh lingkungan personil.

Materi dalam lagu ini pun memiliki dinamika cukup berbeda. Cenderung repetitif untuk lagu berdurasi sembilan menit, bahkan tak ada bagian chorus.

Sesi rekaman dilakukan di Antida Music, studio yang juga digunakan saat merekam single “I Saw You”. Peran sound engineer terkait mixing dan mastering dipercayakan kepada Tude Arta Sedana (Kubuku Studio). Sosok yang kerap berada di balik layar panggung Lily of The Valley selama ini.

Tambahan personil dinilai memberi perkembangan yang signifikan. Kini, formasi Lily of The Valley terdiri dari lima personil; Baihaki Sifa (vocal, guitar), Komang Tri Lugiantara (bass), Ijlal Faiz B. P. (lead guitar), Roy Khun Thawin (drum), dan Muhammad Andra (synth/keyboard).

Kemunculan Andra memperkaya warna musik Lily of The Valley dengan tambahan instrumen serta bertindak mengisi vokal latar pada Restless Soul. Distribusi single dilakukan melalui beberapa media, radio, serta kanal digital seperti Spotify, iTunes, Joox, dan sebagainya.

Perlahan namun pasti, Restless Soul tak hanya mendongeng sendirian. Konon, single ini akan menjadi sebuah jembatan untuk peluncuran album yang selama bertahun-tahun berproses dan dinantikan. Beberapa hal kreatif juga telah diwacanakan.

Semoga Restless Soul menjadi sebuah langkah yang baik untuk mengawali tahun ini. Jika boleh berharap, tak ada hal lain yang lebih menyenangkan selain apresiasi oleh khalayak pendengar. [b]

The post Karya Gelap nan Murung Lily Of The Valley appeared first on BaleBengong.

DRINKING RESPONSIBLY

DRINKING RESPONSIBLY—Stay Sane, Safe, and Sensible!

Sampai jumpa Jumat depan di acara temu wicara dengan sponsor utama Diageo dan berfokus pada isu mengkonsumsi minuman beralkohol secara bertanggungjawab.

Acara edukasional berpadu dengan hiburan musik ini adalah edisi ke-2 setelah sebelumnya diadakan pada pertengahan Februari lalu.

Akan hadir para nara sumber dengan beragam latar belakang:
1. Dendy Borman – Corporate Relation Director Diageo Indonesia
2. Ngurah Arya Wayushantika – District Operations for GO-CAR
3. Sugi Lanus – Founder of Hanacaraka Society
4. Venusia Indah – Music Curator and Creative at Single Fin & The Lawn
5. Brigadir Putu Vindi Mahendra – Dit Pamobvit Polda Bali

Lalu dilanjutkan dengan hiburan musik, menampilkan:
1. DJ Marlowe Bandem
2. Sendawa
3. The Hydrant

15 Mar 2019
Rumah Sanur
18.00-23.00

Ini sekaligus untuk mengenang kepergian karib tercinta kita semua, almarhum Made Indra dan Afi, yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, setahun lalu.

Pasca kejadian memilukan tersebut saya beserta Ewa Wojkowska berjanji untuk menebus kesedihan dengan menyebarkan pemahaman serta kiat-kiat soal minum bertanggungjawab. Menikmati minuman beralkohol seraya selalu mawas diri.

Senang sekali kami berdua bisa menepati janji pada Made serta Afi. Setelah yang kedua ini semoga bisa terus berkeliling berbagi pengetahuan tentang minum bertanggungjawab.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Enjoy alcohol and drink responsibly!

Kegelisahan Suta pada Plastik Pembunuh Samudera


Bertebaran di mana-mana, plastik mudah sekali ditemukan.

Jelas ini hal buruk bagi lingkungan. Parahnya, kebiasaan ini telah membudaya, termasuk membuang sampah sembarangan. Masalah ini telah menjadi musuh bersama yang harus diperangi secara berkelanjutan. Mulai dari diri sendiri.

Berbagai upaya untuk memberantas keberadaan sampah plastik akan tetap kembali pada diri sendiri. Kesadaran mutlak dilakukan untuk melawan arus budaya yang buruk. Bibir mungkin gampang mengucapkan tetapi tangan tetap ringan melepaskan plastik secara sembarangan.

Pemandangan tidak elok mata itu termasuk melihat sampah plastik bertebaran termasuk di laut. Imbasnya, satwa laut pun kena dampak. Ikan, penyu, lumba-lumba, dan seterusnya bisa memakan sampah atau terlilit sampah yang mengamcam keberadaan mereka.

Banyaknya sampah plastik terjadi akibat gaya hidup kita sendiri.

Plastik mudah sekali digunakan sebagai pembungkus ataupun tas jinjing untuk berbagai keperluan. Setelah digunakan, plastik lalu dibuang dan mendatangkan beragam sampah.

Polutan plastik dikategorikan ke dalam mikro, meso atau makro, sesuai ukurannya. Apapun bentuknya, mereka tetap lama diurai di tanah maupun laut dan mengakibatkan pencemaran lingkungan.

Indonesia menempati urutan kedua sebagai penghasil sampah laut terbanyak kedua setelah China sebanyak 3,2 ton. Setelah itu Filipina 1,8 ton, Vietnam 1,4, dan Thailand 1,3 juta ton per tahun.

Lukisan I Made Suta Kesuma berjudul Laut dan Sampah Plastik (2019). Sumber Instagram Suta Kesuma.

Berangkat dari keresahan itu, perupa I Made Suta Kesuma melampiaskan emosinya melalui berkesenian. Dia pun menggerakan tangan mengambil kuas dan valet untuk menyampaikan kegelisahan melihat fenomena dampak lingkungan yang terjadi.

Suta mengaku teringat pada masa kecil ketika diajak neneknya ke carik atau sawah membawa bekal yang sering disebut tekor, pembungkus makanan terbuat dari daun pisang. Saat itu sampahnya langsung dibuang tetapi bagus untuk tanah karena termasuk organik.

Namun, perilaku sama tetap dilakukan ketika pembungkus makanan itu tidak lagi daun pisang, tetapi berupa plastik. Lalu sampah itu mencemari ke laut dan membunuh para penghuninya. [b]

The post Kegelisahan Suta pada Plastik Pembunuh Samudera appeared first on BaleBengong.