Pulau dengan Ketergantungan Sandang Pangan Hampir 100%

Berkualitas adalah ingatan warga yang mengenal kualitas pangan dari tanah karang dan berkapur Nusa Penida. Seiring membeludaknya pebangunan sarana wisata, ingatan itu kini memudar.

Pasar Toyapakeh, Desa Ped, Pulau Nusa Penida, pada pukul 9 pagi sudah lengang. Pedagang sayur dan buah-buahan sudah santai membersihkan dagangannya.

Namun salah satu kios yang tak sepi pengunjung adalah milik Hajah Bariah. Ia sedang melayani para pembeli yang datang silih berganti membeli beras, jagung, air galon, dan lainnya.

Dalam warungnya paling banyak tersedia aneka merk beras putih, jagung butiran dan remuk yang sudah dibungkus, telur, gula pasir, minyak sawit, dan air galon. Seorang nenek, Meme Putu membeli satu kilogram beras dan jagung.

Harga beras hampir sama dengan di Pulau Bali, merk Supermama dijual Rp 12 ribu/kg. “Biaya transport ke Nusa lebih mahal, untungnya lebih banyak untuk pedagang di Pulau Bali,” kata Bariah, perempuan tengah baya yang lahir di Nusa Penida ini. Bapak dan ibunya juga sudah mukim lama di kepulauan yang kini makin ramai wisatawan ini.

Kiosnya memasok beras sekitar satu ton per bulan untuk memenuhi permintaan pelanggannya. Ia mengatakan dari seluruh sembako yang dijual, sembako dari Nusa hanya jagung, itu pun tak rutin yang bisa didapatkan dari Nusa. Lainnya, harus dibeli grosir dari Klungkung. Baru kemudian dilayarkan ke Nusa dari Kusamba menuju Pelabuhan Toyapakeh.

Kebutuhan minyak juga tak bisa dipenuhi walau di Nusa Penida ada pohon kelapa. Menurutnya selain lebih mahal, orang yang buat juga langka. “Lebih banyak dijual kelapa mudanya,” tambahnya. Masuk akal, karena di sejumlah lokasi objek wisata, kelapa muda bisa dijual sampai Rp 20 ribu per biji. Buah kelapa tak menunggu tua, karena habis dipetik saat menghasilkan kuud, daging kelapa muda. Tak sedikit ladang kelapa hilang berganti jadi villa atau hotel.

Ketika bersua Bariah, pada 12 Februari 2020, sudah lebih seminggu ini Nusa Penida terdampak penutupan penerbangan dari dan menuju Cina daratan karena penyebaran virus Corona Baru (COVID-19). Suasana di sejumlah pelabuhan lebih sepi dibanding biasanya, karena turis Cina datang dalam rombongan.

“Dagang sayur yang kena, kalau saya sih tidak, orang kan perlu beli tiap hari,” ujarnya sambil menunjuk rekannya sesama pedagang di dalam pasar.

Sebuah pick-up berisi tumpukan kardus air mineral dan air galon tiba depan warungnya. Ia segera mengambil uang pembayaran. Para pekerja distributor air ini dengan sigap memindahkan belasan kardus ke gudang.

Pasokan air kemasan dan air galon dari Pulau Bali menjadi komoditas makin penting saat ini. Harganya dua kali lipat lebih mahal, sekitar Rp 34 ribu per galon. “Apalagi pas Pelabuhan Padangbai perbaikan, harga naik, barang susah,” seru salah seorang pekerjanya.

Bariah mengatakan Desa Ped cukup beruntung ada PDAM, namun warga sudah terbiasa konsumsi air untuk minum dengan membeli galon atau kemasan. Beda dengan masa kecilnya, masih memasak air sumur. Air PDAM juga kadang mati, sama dengan listrik.

Memasok sembako untuk kebutuhan warga Nusa Penida adalah sebuah kisah perjalanan untuk Bariah. Lima tahun lalu, Bariah masih harus menginap di Klungkung daratan untuk menunggu jukung bermesin yang membawa dagangannya. Setelah Nusa Penida mendadak ramai turis, perjalanan sembako dengan sampan bermesin atau speedboat makin mudah diakses, tiap hari dari pagi sampai sore. Titik pelabuhan juga terus bertambah.

Pertumbuhan hotel, villa, rumah makan, dan jumlah penduduk melipatgandakan kebutuhan sembako dan logistik lainnya. Termasuk semen, pasir, dan bahan bangunan yang terus dikapalkan, tanpa henti.

Pelabuhan Kusamba di Klungkung daratan adalah lokasi pengiriman material bangunan. Di areal pantai ada gunungan pasir dan koral, pasir dalam karung-karung siap diangkut ke kapal, tumpukan semen, kayu, besi, dan lainnya. Saat gelombang tinggi, dipastikan kapal-kapal ini tak bisa berlayar ke Nusa Penida. Saat itulah, warga Nusa mulai kesulitan mencari kebutuhannya.

Wahyudi, salah satu koordinator pengangkutan barang terlihat sibuk mencatat order. Sebanyak 27 orang tergabung dalam kelompoknya sebagai buruh angkut. Para pekerja harus fit karena barang yang akan diangkut ke sampan bermesin sudah menunggu, dan hampir tiap saat bekerja dalam kondisi pakaian dan tubuh basah terendam air laut.

Tak heran harga logistik dan barang di Nusa Penida bisa dua kali lipat karena biaya angkut terbagi di jasa buruh di pelabuhan asal dan tujuan, serta biaya transportasi. Misalnya untuk beras per 100 kg, biaya angkut saja sekitar Rp 31 ribu. Artinya tiap karung beras 25 kg, tambahan biaya di satu pelabuhan saja Rp 8000.

Sementara biaya angkut semen Rp 3500 per sak, dan air galon Rp 2000. Biaya transportasi dengan sampan bermesin bisa lebih tinggi tergantung cuaca, karena risiko lebih tinggi.

Sembako tanah Nusa

Lalu apa hasil tanah Nusa yang bisa dikonsumsi penduduknya? Hal ini bisa dilihat di pasar-pasar tradisional. Dua pasar terbesar Toyapakeh di Desa Ped dan Mentigi di Batununggul contohnya.

Pagi jelang matahari menyembul di kaki langit adalah saat paling ramai di Pasar Mentigi atau yang lebih populer dengan peken (pasar) Sampalan, nama pelabuhan yang berdampingan dengan pasar. Di dalam maupun luar pasar, para pedagang menyemut, dan pembeli bersesakan melewati lorong-lorongnya. Salah satu keramaian adalah di pedagang emperan dekat pantai.

Menariknya, para pedagang hasil tanah Nusa ada di sini. Termasuk pedagang ayam kampung. Mereka bediri di pinggiran jalan, menunjukkan wadah-wadah anyaman bambu berisi ayam kampung dan ayam jantan. Sementara ayam broiler memiliki tempat tersendiri dengan los khusus.

Sementara pedagang ayam kampung dan ayam jantan tanpa tempat khusus, hanya mencari celah kosong di pinggir jalan, bersisian dengan laut. Salah satunya adalah peternak muda dari Desa Suana. Sekitar pukul 6 pagi, ia baru mendapat garus di hari pasar jelang Hari Raya Galungan ini.

Harga satu ekor ayam kampung hasil ternaknya dijual antara Rp 50-75 ribu per ekor tergantung beratnya. Ia mengaku memiliki 5 ekor indukan atau pengina.

“Beternak ayam kampung tak mudah, menunggu cukup lama karena tidak dikurung,” ujarnya. Untungnya ia memiliki kebun untuk bertanam jagung, salah satu pakan ternaknya.

Satu jam berlalu, ia baru menjual satu ekor ayam. Ada sejumlah pedagang ayam kampung lain juga sehingga pembeli bisa membandingkan harga dan kualitas ayam.

Ada juga Men yang tekun duduk lesehan di trotoar pinggir jalan areal Pasar Mentigi. Bersama rekannya, di satu deret dagang yang berjualan tanpa sarana meja dan los ini, hasil pertanian tanah Nusa harus bersaing keras dengan produk-produk lain yang kuantitasnya lebih banyak dan berwarna cerah.

Perempuan lanjut usia ini menjual pisang gedang saba, pandan wangi untuk sarana canang, dan janur. Jumlahnay sedikit, hanya beberapa sisir pisang yang bisa dipanennya hari itu atau dapat dibeli dari tetangga. Namun semangatnya untuk menunjukkan hasil pertanian sendiri terus menyala.

Di deretan pedagang emperan ini ada juga yang menjajakan jagung yang terlihat baru dipetik dengan daun dan rambutnya masih segar, sayur kacang, dan pisang raja. Sayur kacang ini khas Nusa dan digunakan dalam sejumlah pangan tradisional seperti bubuh (bubur) Ledok.

Dilihat dari penampilannya, hasil pertanian Nusa ini cukup menggugah karena segar. Bahkan banyak orang meyakini, kualitas tani dari tanah berkapur dan berbatu lebih enak.

Lansekap pertanian

Jika menjelajah Nusa Penida di bagian pebukitan, masih nampak banyak lahan hijau yang saat musim penghujan ini ditanami jagung, singkong, daun kacang, dan ketela rambat.

Batu putih terlihat jelas di terasering pertanian untuk menyesuaikan kontur lahannya yang berbukit. Pemandangan ini tak bisa dinikmati jika di Nusa hanya mengunjungi daerah pantai dan tebing-tebingnya.

Misalnya jika menjelajah Nusa Penida dari arah Selatan kemudian menuju Desa Sakti, Batumadeg, sampai Tanglad. Jalan raya jauh lebih sunyi dibanding area pesisir. Kehidupan pertanian lahan kering tak seramai lahan basah seperti sawah dan sayur usia pendek yang harus dirawat rutin tiap hari. Namun para petani terlihat merawat lahannya sehingga nampak rapi, dibuat undakan, dan campur sari. Setidaknya dalam satu petak ladang, ada pohon kelapa, jagung, dan ketela.

Jika menelusuri program pertanian di Nusa Penida, tak banyak informasi yang ada. Terbanyak adalah untuk ternak. Misalnya dikutip dari laman Litbang Pertanian, http://bali.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita/51-info-aktual/850-bptp-bali-perkenalkan-teknologi-flushing-sapi-di-kepulauan-nusa-penida

Pemerintah memperkenalkan teknologi pakan tambahan pada induk sapi bunting dua bulan sebelum dan sesudah melahirkan, dalam dunia peternakan dikenal dengan nama teknologi Flushing. Kepulauan Nusa Penida sebagai salah satu kawasan penghasil bibit sapi Bali unggul di Bali, tahun 2018 ini menjadi sasaran pengembangan teknologi Flushing oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP Bali).

Untuk memperkenalkan teknologi Flushing kepada petani, pada 10 April 2018, BPTP Bali melaksanakan sosialisasi kajian teknologi Flushing dan penggunaan hormon PGF2@ dalam penanganan gangguan reproduksi (berahi) pada sapi Bali, pada kelompok ternak di Desa Batumadeg, Kecamatan Nusa Penida. Sosialisasi dihadiri oleh Kabid Produksi Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung, Kepala UPT DPPK Nusa Penida, Kepala Desa Batumadeg, Petugas IB se-Nusa Penida, dokter hewan UPT DPPK Kecamatan Nusa Penida dan petani kooperator.

Menurut drh. I Putu Agus Kertawirawan (Peneliti BPTP Bali), dari kajian tersebut diharapkan nantinya dapat memberikan kontribusi kepada pemangku kebijakan, terkait upaya peningkatan produktivitas sapi Bali khususnya di kepulauan Nusa Penida. “Harapan kami dengan kajian ini penetapan Nusa Penida sebagai salah satu kawasan penghasil bibit sapi Bali unggul di Bali dapat terwujud,” jelasnya.

Sementara itu pertanian terintegrasi tak banyak yang bertahan. Di beberapa desa ada jejak instalasi biogas dari kotoran ternak yang sudah terbengkalai. Dari buku hasil pemetaan partisipatif yang dibuat Yayasan Wisnu dan mitranya dengan dukungan GEF/SGP tercatat, untuk pengembangan energi alternatif tahun 2012, kelompok Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di dusun Mawan, Batumadeg mendapatkan bantuan 2 unit biogas. Di awal kegiatan program, biogas sempat digunakan sebentar sekitar 3 bulan namun saat ini sudah tidak berfungsi. Kondisi tersebut dipengaruhi faktor sulitnya air bersih sehingga kotoran menjadi kering dan gas tidak dapat terbentuk banyak.

Mitos yang dipercaya oleh warga Mawan yaitu apabila burung Gagak mengeluarkan suara maka dipercaya akan ada kejadian aneh maupun kematian hewan ternak. Mitos lainnya yaitu jika menyakiti atau membunuh kera, dipercaya akan terjadi malapetaka.

Menemukan strategi bertani

Lalu apa model pertanian yang sesuai dan bermanfaat bagi warga Nusa? Sejumlah lembaga dan komunitas yang bekerja di bidang pertanian sedang berkolaborasi dengan warga melalui Program Ekologis Nusa Penida – GEF/SGP yang dikelola Yayasan Wisnu.

Yayasan Idep mengembangkan permakultur pekarangan rumah tangga, dengan menanam aneka jenis sayuran seperti timun dan sawi hijau. Yayasan Idep memperkenalkan juga banana pit, yaitu lubang dengan diameter sekitar 1 meter dengan kedalaman 1 meter.

Lubang berfungsi sebagai tempat pengolahan limbah, pembuatan kompos, dan kebun. Lubang diberi kerikil/batu sedalam 50 cm, bagian bawah untuk tempat pengolahan air limbah, di atasnya untuk sampah organik. Di sekitar lubang ditanam pohon pisang, dan di antara pohon pisang bisa ditanam sayuran. Fungsi pohon pisang adalah untuk menyimpan air ketika musim hujan dan melepas air di musim kering.

Sementara itu Yayasan Taksu Tridatu memperkenalkan pembuatan pakan kering untuk ternak sapi. Pakan kering dibuat dari rerumputan dan daun-daun yang sudah kering, kemudian difermentasi, dan ditambahkan untuk memberikan nutrisi. Salah satu tempat pengembangan ternak sapi dengan pakan kering bisa dilihat di Rumah Belajar Bukit Keker, Banjar Nyuh Kukuh, Ped. Di area ini bisa dilihat juga teknik pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dan pemanfaatan cahaya matahari jadi listrik dengan panel surya.

I Made Silip, petani di Banjar Pulagan, Desa Kutampi menanam sorgum di satu area cutak (petak terasering) dari sekitar 1,5 hektar lahan yang dimilikinya. Sisanya bertanam jagung. Pada Maret 2020, rumpun sorgum sudah berbiji. Tanaman pangan ini dulu biasa ditanam warga, namun perlahan menghilang. Komoditas lahan kering ini kini kembali dilirik untuk dibudidayakan.

Para petani mengandalkan air dari cubang (sumur penampung air hujan) sebagai sumber air pertaniannya dan kebutuhan sehari-hari. Walau PDAM sudah mengaliri beberapa desa di Nusa Penida, warga masih memanfaatkan cubang, sebuah siasat hidup berkelanjutan.

Pertanian di Nusa yang potensial dikembangkan agar mandiri pangan adalah jagung, singkong, daun kayu manis, daun kemangi, kelor, dan lainnya. Ini terlihat dari ledok-ledok, makanan khas warga yang ngangenin dan memperlihatkan ragam hasil tani Nusa dalam satu mangkok. Jagung ketan direbus bersama kacang merah, bayam, kayu manis, kelor, dibumbui base genep. Gurih, sehat, dan organik.

Ada juga model kebun untuk memasok kebutuhan sebuah komplek pura Khayangan Jagat, Pura Puser Sahab di Desa Batumadeg. Kelompok Wisanggeni mengajak warga pengempon (pengelola) pura untuk kembali menghijaukan lahan sekitarnya dengan aneka pohon umur panjang sebagai peneduh dan juga memasok kebutuhan ritual upacara.

Bowo, salah satu pegiat Wisanggeni yang sedang bekerja di pura tersenyum lebar ketika melihat sayuran okra tumbuh subur, bergelantungan di sepetak lahan halaman pura. Ada juga sayur kangkung, dan hijau, dan lainnya. “Pernah dibilang nak jawa medagang sayur,” ia tertawa. Warga saat itu datang membeli aneka hasil kebun ke pura, dan hasilnya dijadikan dana punia (donasi) untuk pura. Warga yang biasanya ke pura untuk sembahyang atau nunas kelapa gading, kini bisa panen hasil tanaman umur panjang seperti sayuran dan bunga, dari menghijaukan sepetak halaman.

Sementara di sekeliling pura, hutan yang dulunya lebat kini sebagian dibabat untuk perluasan. Hutan ini dihijaukan kembali dengan menambah pepohonan yang bermanfaat bagi pura dan sekitarnya.

Ketut Sutama, Ketua Kelompok Tani Saren II yang juga Kelihan Pura Sahab mengatakan, penebangan dilakukan karena sebelumnya sebuah pohon menimpa salah satu tugu pelinggih karena hutan dinilai terlalu mepet dengan bangunan pura. Pada 2017, pihaknya mengajukan program pergantian pohon ke pemerintah dan berhasil mendapat 200 pohon nyuh gading dan jenis lainnya. Ratusan bibit tambahan juga datang.

Sampai pada 2018 ada bantuan bibit lagi dari Yayasan Wisnu untuk menghijaukan pelaba pura. Direncanakan membuat hutan gumi banten dengan pendampingan Wisanggeni. Dari Program Ekologis Nusa Penida GEF/SGP yang dikelola Yayasan Wisnu ini, warga diberi pengetahuan tambahan untuk memastikan daya hidup bibit. Misalnya saat tanam bibit, semak jangan dicabut dulu agar tak terilhat dan dicabut monyet yang banyak mukim di area ini. Penanaman juga dilakukan sebelum musim hujan, jadi ketika hujan datang, bibit sudah tertanam.

Warga juga menanam aneka pohon buah untuk monyet untuk mengurangi pengerusakan kebun. Misalnya juwet, sirsak, sawo kecik, dan lainnya. Melengkapi tanaman untuk kebutuhan upakara seperti intaran, gaharu, cendana, dan lainya. Tanaman asli dan terlihat paling meneduhi adalah genitri yang juga diyakini bisa mengobati aneka penyakit. Buah yang jatuh direbus kemudian diminum untuk demam, mengurangi sesak naafas, dan lainnya.

Buah-buah yang jatuh memenuhi dasar tanah ini diolah jadi gelang dan kalung rudraksha. Pengelola pura melubangi tengahnya dan meronce untuk tambahan penghasilan dana punia. Sutama berencana akan mengelola area pohon genitri ini karena secara filosofis memiliki makna mendalam misalnya membuatkan taman untuk semedi atau kunjungan ekowisata.

Melalui strategi bertani yang baru dikenalkan ini diharapkan pertanian Nusa Penida akan semakin menjanjikan dan berkelanjutan.

Bagaimana Kelola Sampah di Pulau Kecil?

Sampah menjadi tambahan masalah bagi Nusa Penida.

Papan dengan gantungan beberapa karung terlihat di depan sejumlah rumah Banjar Nyuh Kukuh, Desa Ped, Nusa Penida. Tiap papan berisi 4 titik gantungan dengan tulisan, organik, anorganik bernilai, anorganik tidak bernilai, dan B3. Di pengaitnya tergantung karung berwarna putih.

Gantungan karung ini terasa mencolok karena sejauh mata memandang, sampah nampak dikumpulkan di sebuah ladang atau ruang hijau dalam sebuah lubang. Sisa-sisa pembakaran sampah anorganik masih terlihat di sana.

Program pemilahan sampah ini pada Februari 2020 ini baru setahun dilaksanakan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, salah satu mitra program kerja Program Ekologis Nusa Penida GEF/SGP yang dikelola oleh Yayasan Wisnu.

Selain mengajak rumah tangga memilah sampah, juga menyediakan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) yang berlokasi di Rumah Belajar (learning center) Bukit Keker di Banjar Nyuh Kukuh. Sebuah moci, kendaraan roda tiga dengan bak terparkir di sana.

Kadek Warta dan Warcika adalah warga yang mendapatkan papan dengan pengait sampah itu. Dua papan dipasang berjajar di tembok depan rumahnya. Satu papan dengan empat pengait karung untuk satu KK. Menurutnya karung terlalu kecil dan papannya kurang kuat menempel di temboknya. Ditemui 12 Februari lalu, papan terlihat nyaris lepas, bisa jadi karena terlalu berat digantungi karung sampah.

Warta mengakui baru belajar memilah sampah. Namun belum sepenuhnya bisa mengikuti. Sementara Warcika sejauh ini masih membuang sampah ke TPA karena merasa lebih cepat.

Kebiasaan memilah sampah memang tak mudah langsung terjadi sekejap mata. Tantangan ini juga dialami sekolah sekitar yang kini berupaya tak lagi membakar sampah. Agus Gede Mudita, Kepala Sekolah SDN 3 Ped mengatakan dulu ada pengepul yang mengambil sampah anorganik namun kemudian tak datang lagi. Jadilah sampah yang menumpuk dibakar saat siswa sudah pulang sekolah untuk menghindari asap. “Anak-anak sudah belajar pilah sampah, tapi ini tak mudah,” urainya.

Bak sampah sekolah diletakkan di dekat tembok di areal kantin sekolah. Melihat aneka jajanan anak-anak yang masih didominasi kemasan plastik, jumlah sampahnya pasti jadi persoalan. Hal yang sama terjadi di sekolah-sekolah lain di Bali, mungkin juga Indonesia.

Dwita dan Nova dari PPLH Bali yang sedang mengunjungi SDN 3 Ped bahkan sedang menyiapkan tandon air bersih untuk memasok air ke kamar mandi dan lokasi cuci tangan siswa. Bak pembuangan sampah direncanakan terpisah antara organik dan anorganik.

Hasil survei timbulan sampah rumah tangga di Banjar Nyuh oleh PPLH sekitar 550 kg per hari, ini bisa memenuhi 5 moci. Sebagian besar berupa sampah organik sekitar 60%.

PPLH juga membentuk tim relawan Nyuh Kedas dalam mengelola sampah. Diawali dengan pelatihan pengelolaan sampah (kompos, mol, daur ulang kertas). Saat ini ada 7 orang anak yang aktif mengelola sampah di Banjar Nyuh, terutama untuk mengajak warga memilah sampahnya.

Di Bali, mulai ada beberapa sekolah yang menerapkan minim sampah plastik pada kantin-kantinnya sebagai upaya pengurangan sampah sekali pakai. Misalnya SMP PGRI 3 Denpasar yang menerapkan nol plastik di sekolahnya pada awal 2019. Pemicunya adalah Peraturan Walikota Denpasar No.36/2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik dan Peraturan Gubernur Bali No.97/2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.

Sebagai kawasan pengembangan pariwisata, sampah adalah masalah tambahan bagi pulau-pulau kecil seperti gugusan Pulau Nusa Penida, Lembongan, dan Ceningan ini. Saat ini kebun kosong masih tersedia terutama di Nusa Penida yang berukuran paling besar sehingga disebut nusa gede ini.

Kebun kosong atau teba dalam bahasa Bali digunakan sebagai halaman belakang dan tempat menumpuk serta bakar sampah. Terutama untuk rumah tangga yang tak terakses jasa pengangkutan sampah. Bagaimana jika teba habis? Ini masuk akal karena pembangunan sarana wisata seperti hotel, penginapan, dan restoran tak pernah berhenti di sini. Sementara sampah bukannya habis, malah berlipat karena aktivitas warga bertambah akibat industri pariwisata.

Pusat tumpukan sampah adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Biaung untuk Desa Ped. Di area ini ada papan bertuliskan jadwal buang sampah, pukul 8-12 siang. Di luar jam itu, gerbang TPA ditutup. Nampak gundukan sampah setinggi pohon pisang di sejumlah titik penimbunan. Penampungan air lindi nampak kering petanda jalurnya tersumbat atau masalah lain di bawah tumpukan sampah itu.

Di beberapa sudut ada tumpukan kardus dan botol plastik yang dikumpulkan pemulung. Salah satu cara mengurangi beban sampah TPA yang menaungi 4 desa ini adalah dengan kehadiran pemulung. “Kami menggaet pemulung agar beban TPA berkurang, saya suruh ajak teman-temannya mengambil sampah yang bisa dijual,” ujar Ketut Mudra, staf UPT Persampahan Kecamatan Nusa Penida yang ditemui saat itu.

Ia berharap segera ada program pengelolaan sampah seperti program TOSS yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Klungkung. Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) diyakini sebagai strategi pengelolaan sampah yang tepat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Agung Kirana mengatakan TOSS Center sudah beroperasi sejak akhir Januari 2020. Demikian kutipan dari web Kabupaten Klungkung.

Lokasi TOSS Center di Karang Dadi, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan. TOSS Center ini disebut akan menjadi Learning Center semua teknik pengolahan sampah. Mulai dari pemilahan sampah organik dan plastik, pencacahan sampah plastik, pengolahan sampah plastik menjadi paving block dan aspal serta mengolah sampah plastik menjadi minyak. Selain diolah, sampah plastik juga ada yang akan dijual. Sementara itu sampah organik akan diolah menjadi pupuk osaki, diolah dengan proses penyeumisasi serta diolah menjadi pelet sebagai bakan bakar pembangkit listrik.

Sampah yang ditangani TOSS Center berasal dari sampah Kota Klungkung dan sampah dari Desa Kusamba. Per hari TOSS Center menerima 3 mobil pick up sampah dan mampu mengolah sampah sebanyak 6 meter kubik atau satu truk sampah.

Namun menumbuhkan perilaku memilah sampah dari sumbernya seperti rumah adalah akar perubahan. Bagaimana menumbuhkan akar ini? Kabupaten Klungkung perlu menganalisis sejumlah kasus dan masalah di beberapa TPA di Bali.

TPA overload

Sejumlah TPA di Bali sudah kelebihan (overload) sampah karena volumenya tak terbendung, semua sampah bercampur termasuk organik, dan pengelolaannya jadi makin sulit ketika sudah tercampur jadi gunung sampah. TPA Suwung di samping perairan Teluk Benoa terakhir kali ditutup warga sekitar karena baunya makin menyengat dan truk pengangkut sampah antre sampai jalan raya.

Demikian juga TPA Temesi di Kabupaten Gianyar yang beberapa kali terbakar karena gunungan sampah terus muncul dan gas buangnya memicu api dalam tumpukan sampah. Padahal di area ini ada UPT khusus yang mengelolanya dengan cara mengupah pemulung untuk memilah. Kemudian organik diolah jadi kompos, sementara anorganik dikelola bank sampah. Ketika volume sampah masih bisa dipilah, Temesi terlihat rapi dan menyisakan sedikit gundukan sampah.

Masalahnya penduduk makin banyak termasuk aktivitas dengan timbulan sampah anorganik. TPA kekurangan lahan dan terus memperluas sanitary landfill-nya ke area persawahan. Saat musim angin kencang, Temesi pun dengan mudah terbakar dan memicu protes warga sekitarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Klungkung, Anak Agung Kirana yang diwawancara pada 9 Maret 2020 mengatakan pihaknya sudah merencanakan sejumlah proram untuk pengelolaan sampah di Klungkung. Di Nusa Penida, pihaknya akan merevitalisasi dua TPA yang ada saat ini.

Selain itu, mulai 2020, persyaratan izin seperti UKL-UPL tak akan dikeluarkan bagi pengusaha wisata jika tak mematuhi syarat pengelolaan sampah.

Revitaliasasi ini bekerjasama dengan Kementrian PU, TPA akan dibuat ulang sel-selnya untuk merapikan blok penimbunan sampah. Juga akan ditaruh alat berat sampah agar lebih rapi. Ia juga berharap peran serta desa adat seperti membuat peraturan adat seperti perarem. Kirana merujuk Peraturan Gubernur Bali No 47/2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di mana desa adat bertanggungjawab pada sampah yang dihasilkan masayarakat.

Selain TOSS, ada juga imbauan membuat lubang daur ulang sampah (Bang Daus) untuk sampah organik. Sementara non organik akan ada kerjasama dengan asosiasi pengusaha sampah Indonesia. Kendalanya masih belum ada MoU, tingginya biaya pengangkutan sampah plastik ke Klungkung daratan sehingga perlu subsidi.

Ia mengakui saat ini belum banyak pengusaha wisata mengelola sampahnya, karena itu menurutnya perarem oleh desa adat penting untuk memanggil mereka. “Di Klungkung ada istilah sampahku tanggungjawabku. Perlu edukasi tak mudah seperti membalikkan telapak tangan,” sebutnya.

Data DLHK Klungkung menyebutkan, jumlah sampah di Kecamatan Nusa Penida hampir 34 ribu kg per hari ( 250 m3) dari jumlah penduduknya lebih dari 67 ribu orang. Artinya tiap warga memproduksi sampah 0,5 kg per hari. Terbesar adalah volume sampah di Kecamatan Klungkung sebanyak 34.141 kg per hari (255 m3) dari jumlah penduduk lebih dari 68 ribu orang.

Komposisi sampah terbanyak adalah organik sebanyak 68%, disusul debu, batu, dan sejenisnya 8%, gelas dan botol plastik 7%, disusul plastik lembaran 5%, dan kresek 4%.