Nyaris Semingguan ‘Diasingkan’ ke Grand Santhi

Bukan tanpa alasan saya dikirim kesini. Selain karena memang bidang kerja terkait sehingga menjadi ‘tersangka utama’ saat pimpinan mendisposisikan dua surat undangan rapat koordinasi yang berlangsung selama 5 hari kerja totalnya, tapi juga karena diantara tiga kepala seksi yang ada di ruangan, hanya saya saja yang tidak banyak kegiatan jelang akhir tahun begini. ‘Diasingkan’ ke […]

Mari Mengenal Mini Stroke

Mini stroke atau transient ischemic attack (TIA) adalah gangguan pada saraf (neurologis) yang ditandai dengan munculnya gejala stroke, tetapi gejala ini berangsur angsur hilang dalam waktu yang tidak terlalu lama. Mini stroke atau TIA terjadi karena adanya gangguan aliran darah ke otak yang sifatnya sementara sehingga jaringan otak mengalami kekurangan oksigen dan darah (iskemia). Gangguan aliran darah ini biasanya terjadi karena adanya penyempitan pada pembuluh arteri karotis (pembuluh arteri utama yang terletak pada leher yang bertugas mengalirkan darah ke otak).

Baca juga: Mengenal Perdarahan Pada Otak

Gejala yang dirasakan oleh penderita TIA diantaranya gangguan penglihatan, pusing, kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh dan kesulitan berbicara. Gejala ini berangsur angsur hilang dalam 2 sampai 30 menit.

Mini stroke yang tidak ditangani dengan baik akan sangat berisiko menjadi stroke di masa yang akan datang. Pasien yang pernah menderita TIA, akan mengalami peningkatan risiko stroke dan komplikasi serius lainnya sampai 25% dalam 90 hari.

Dalam sebuah penelitian disebutkan, mereka yang pernah menderita TIA setelah diikuti selama 3 bulan didapatkan, sekitar 10% menderita stroke, setengah dari yang menderita stroke itu terjadi 2 hari pasca mengalami TIA. Peningkatan risiko menderita stroke pada pasien TIA bahkan hampir 50 kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan terjadinya stroke tanpa diawali dengan TIA.

Data menyebutkan, stroke adalah salah satu penyakit yang sangat mematikan. Angka kematian penderita stroke mencapai 1 berbanding 5, artinya dari lima penderita stroke, seorang diantaranya meninggal dunia. Disamping mematikan, stroke juga dapat menyebabkan terjadinya disabilitas. Lebih dari dua pertiga penderita stroke mengalami disabilitas jangka panjang.

Berikut gejala TIA yang sangat berisiko berubah menjadi stroke:

  • TIA terjadi pada penderita yang usianya lebih dari 60 tahun.
  • TIA terjadi pada penderita diabetes.
  • TIA berlangsung lebih dari 10 menit.
  • Penderita TIA mengalami kelumpuhan atau kesulitan berbicara.

Baca juga: Kegemukan Mengganggu Fungsi Otak

Penderita TIA harus segera mendapatkan penanganan dokter. Perbaikan aliran darah pada pembuluh arteri karotis merupakan salah satu cara mencegah terjadinya stroke pada penderita TIA. Pada pasien yang mengalami penyempitan pembuluh arteri karotis, tetapi tidak menderita TIA bisa diobati dengan obat obatan seperti aspirin dan obat penghencer darah lainnya.

Literasi Digital melalui Apresiasi Anugerah Jurnalisme Warga

Siaran Pers Literasi Digital melalui Apresiasi Anugerah Jurnalisme Warga Apa yang bisa melawan berita bohong (hoaks) dan penyebar kebencian? Salah satunya memproduksi dan menyebarkan konten-konten yang lebih berguna untuk orang banyak dan diri sendiri. Anugerah Jurnalisme Warga (AJW), sebuah apresiasi untuk pewarta warga di Indonesia merayakan semangat warganet pada malam apresiasi Minggu (11/11) petang di […]