hacklink hack forum hacklink film izle hacklink deposit 5ktaraftarium24สล็อตสล็อต먹튀검증 리뷰testsahabettipobetrovbet girişjojobet 1163slogan bahis bonustipobetcasibomcasibomjojobetroyalbet girişmarsbahismadridbettipobetbetebetjojobet girişlunabetlunabetlunabetcasino utan spelpausholiganbetbbo303z-librarygalabettaraftarium24padişahbetbetofficegalabet girişizmir escortimajbetjojobetmarsbahismarsbahis girişjojobetjustin tv

menjelang sekolah dasar

pada bulan-bulan ini, banyak orang tua yang mulai ketar-ketir untuk mencari sekolah untuk anak, karena memang beberapa sekolah swasta sudah mulai membuka pendaftaran. bahkan beberapa sekolah yang terhitung favorit, sudah mulai mengadakan tes-tes ujian masuk.

errrrr..ujian masuk? yup! tidak cukup lah hanya ujian masuk perguruan tinggi, sekarang masuk SD saja sudah ada ujian masuknya.

lalu apa yang akan diuji? entahlah. dari beberapa cerita yang saya dengar sih, ada yang hanya konsultasi untuk memahami psikologis anak, mengenal perkembangan motoriknya, atau bahkan ada yang terang-terangan mengadakan ujian baca tulis. lha padahal bukannya TK tidak ada pelajaran baca tulis? yaaaa..demikianlah gap kurikulum dan pelaksanaannya di lapangan. pemerintah boleh buat aturan untuk tidak memasukkan kegiatan membaca, menulis dan berhitung di TK, tapi banyak guru-guru SD yang ngga mau repot ngajarin anak didiknya membaca. jadi, banyak orang tua yang akhirnya memasukkan anak ke bimba – bimbingan minat baca & belajar anak (errr…dulunya saya pikir bimba itu bimbingan baca :D) untuk mengejar gap ini. dan banyak juga orang tua yang memasukkan anaknya ke les2/bimba meski anaknya sudah masuk TK.

lalu bagaimana dengan G?

sejauh ini saya cukup puas lah sama TKnya sekarang. pilihan yang diambil 2 tahun dan review setahun lalu sepertinya masih valid dan belum melenceng jauh dari value keluarga kami, jadi sepertinya kami akan meneruskan di sekolah yang sama untuk sekolah dasarnya. lagipula di depok tidak banyak sekolah swasta yang plural.

tapi kan ada sekolah negeri ?

mempertimbangkan beberapa hal, antara lain sekolah negeri hanya menerima murid yang satu wilayah//rayon/area/apalah itu namanya, dan melihat sd negeri di sekitar kami belum mencukupi ekspektasi kami, SD negeri kami coret dalam pilihan dari 2 tahun lalu sejka G masuk TK. bukan maksud untuk mengatakan bahwa SD negeri itu jelek, -karena toh saya dan suami adalah produk SD negeri-, tapi kami melihat SD Negeri dengan segala carut marut kurikulumnya saat ini belum bisa mengimbangi kebutuhan dan perkembangan anak-anak generasi Z yang serba cepat ini.

lalu kenapa tidak sekolah swasta lainnya dan kenapa sekolah swasta yang sekarang? 

sekolah yang plural dan inklusif adalah hal yang sangat penting buat kami, dan di depok tidak banyak sekolah swasta yang demikian. inilah pertimbangan penting yang mendasari kami untuk melanjutkan di sekolah yang sama. jika ditanya, apakah lebih baik? saya tidak bisa membandingkan. karena pastilah setiap keluarga memiliki value / prioritas terhadap pendidikan yang akan diterapkan ke anak-anaknya, dan buat kami itu adalah diversity & tolerance , karena hal tersebutlah yang akan dihadapi G seumur hidupnya.

mulai dari perbedaan selera, perbedaan pendapat, perbedaan agama, warna kulit, bahasa dan lainnya. karena setiap manusia adalah berbeda, setiap manusia unik, karena itu penting buat kami agar G bisa hidup damai dengan perbedaan-perbedaan tersebut. jangankan sama lingkungan yang lebih besar, dalam keluarga kami saja sering ada adu argumen dan kadang kalau komunikasi tidak bagus, bikin ngambeg.. (errr..itu saya sih! :D)

dan pastinya “sesuatu yang penting” ini bagi masing-masing keluarga berbeda, mempengaruhi pertimbangan untuk memilih sekolah seperti apa. belum lagi pilihan tersebut juga pastinya dipengaruhi oleh minat dan karakter anak, target yang ingin dicapai dan blablabla lainnya yang pasti makin bikin pusing banyak orang tua 😀

tak jarang saya melihat beberapa orang tua yang “sepertinya” salah membuat keputusan. ini murni asumsi dan penilaian saya, hahaha. banyak orang tua yang memilih memasukkan anaknya ke sekolah alam, tapi dalam perjalanannya mengeluhkan dan menghawatirkan akademis anak yang dinilai lamban. lalu mereka memasukkan anak ke les ini-les itu, untuk mengejar ketertinggalan akademisnya. bukankah seharusnya disadari dari awal kalau sekolah alam memang tidak fokus pada akademis dan lebih mengeksplore potensi alami si anak?

ada juga orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah berbasis agama dengan harapan anak akan memiliki dasar ilmu agama yang lebih kuat, tapi pada perjalanannya anak tidak merasa enjoy dengan hal tersebut dan berhenti di tengah jalan.

ini saya tidak membahas tentang sekolah berdasarkan biaya masuk dan gengsinya ya! karena jujur saya memang tidak fokus kesitu dan tidak paham lah tentang pertimbangan orang tua (kalau ada…) yang memasukkan anaknya ke sekolah tertentu demi gengsi 😀

keinginan orang tua, tekanan lingkungan sosial (gengsi, pertanyaan “anakmu sudah bisa apa?” dll) , dan potensi anak ini seringkali membuat orang tua terjebak pada situasi awkward, dan ngga jarang juga berdampak pada anak. dari orang tua yang tidak puas menginginkan anaknya begini tapi memilih sekolahnya begitu, anak yang tidak bahagia karena maunya begini tapi yang dijalaninya begitu, dan sekolah yang kadang tidak mau tahu akan keduanya.

lalu bagaimana menjelang pusingnya mencari sekolah?

meski beberapa pendapat praktisi pendidikan mengatakan bahwa anak lahir dengan potensi bawaan yang perlu kita gali, bukan kertas kosong yang bisa begitu saja ditulisi, tapi ada baiknya sebelum mengenal anak, kenalilah dulu diri sendiri : orang tua. membuat prioritas, merinci hirarki nilai-nilai keluarga, dan barrier apa yang sekiranya akan dihadapi ke depannya.

apakah kita orang tua ambisius yang tidak siap menerima keunikan anak yang mungkin beda dengan kunggulan anak-anak lainnya. seberapa target yang akan kita capai, sehingga kita tak terseret standard orang lain?

saya percaya, orang tua yang percaya diri dan yakin dengan apa yang dilakukan, akan menuntun anak-anak optimis yang lebih tangguh, lebih tahu apa yang dimiliki dan apa yang diinginkan, anak-anak yang tak mudah galau gitu loh..


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hosted by BOC Indonesia