Keamanan digital dan privasi seharusnya menjadi perhatian pengguna internet juga. Sumber Privacy International
Orang tak kita kenal itu terus membuntuti kita.
Ke mana pun kita pergi, dia merekamnya. Apa pun yang kita cari, dia mencatatnya. Bahkan, saat kita di kamar mandi, dia pun mengintipnya. Lalu, mereka menggunakan rekaman dan catatan itu untuk mengganggu kita.
Orang yang tidak kenal itu punya banyak wajah. Ada perekam aplikasi jejak (tracker). Ada kukis (cookies), atau situs tertentu. Mereka ada di mana-mana. Sebagian besar tidak kita sadari kehadirannya. Tapi tak sedikit pula yang datang karena kita sendiri memang membuka pintu lebar-lebar untuk mereka.
Begitulah para pengintai membuntuti kita di dunia maya. Mereka memburu kita dan merekam jejak-jejak digital itu.
Bagaimana itu terjadi?
Sebagian karena sudah tercantum dalam cara penggunaan (term of use) dari perangkat dan aplikasi yang kita gunakan. Hampir semua memang meminta data-data pribadi tentang kita.
Contoh sederhana dari media sosial miliaran umat, Facebook. Dalam aturan penggunaannya, perusahaan ini memang sudah menyatakan bahwa mereka punya hak untuk mengakses data-data pribadi kita. Misalnya, kontak atau foto di ponsel kita.
Ketika baru daftar akun media sosial ini, kita juga diminta memasukkan data-data pribadi semacam nama, email, atau bahkan nomor telepon.
Masalahnya, sebagai pengguna kita memang tak peduli dengan aturan pakai yang panjang dan ribet itu. Kita hanya gulir-gulir ke bawah ketika membaca aturan pakai itu. Lalu…. Agree!
Kita tidak pernah benar-benar membaca, apalagi memahami, apa yang sudah kita setujui itu. Padahal, begitu kita klik setuju, ketika itu pula kita sudah menyerahkan kedaulatan atas data pribadi kita ke mereka.
Tapi, banyak pula yang memang menyerahkan begitu saja data pribadi tanpa sadar akibatnya. Contoh ekstrem mungkin pada aplikasi berbasis lokasi, seperti Foursquare. Beberapa orang dengan santainya mengunggah statusnya dari akun ini dengan informasi akurat. Sebenar-benarnya.
Ada yang bahkan berkabar, “Mengantar anak sekolah.” Lengkap dengan foto anak dan lokasi sekolahnya. Bayangkan ada orang berniat jahat mau mencari anaknya. Mudah banget bagi dia untuk menemukan.
Memikirkan Ulang
Sebelum jadi korban, mari memikirkan ulang tentang keamanan digital dan privasi kita di dunia maya. Apa yang bisa kita lakukan?
Strategi berikut berdasarkan apa yang saya pelajari selama pelatihan keamanan digital dan privasi di Myanmar pekan lalu. Sebagian materi juga diterjemahkan dari website tentang keamanan digital yang amat keren ini, MyShadow.
Pertama, kurangi.
Makin banyak informasi pribadi yang kita sebar, makin rentan keamanan kita di dunia maya. Maka, kurangilah mempublikasikan data-data pribadi yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya alamat rumah, nama pacar, foto ciuman di kasur, dan semacamnya.
Untuk bisa eksis tidak harus narsis.
Banyak cara untuk tetap eksis tapi tetap melindungi data-data pribadi. Kita bisa unggah foto lokasi yang kita kunjungi daripada sekadar foto selfie. Kita bisa sebar informasi soal kondisi jalan daripada tujuan perjalanan kita.
Strategi mengurangi ini berlaku pula untuk aplikasi yang kita gunakan. Coba cek ulang berapa banyak aplikasi di ponsel kita. Cek lagi aplikasi apa saja yang sudah lama tidak kita gunakan.
Lalu, hapus saja aplikasi nganggur itu. Lumayan mengurangi beban memori di ponsel juga kan?
Kedua, kendalikan.
Semua perangkat dan aplikasi yang kita gunakan sebenarnya sudah memiliki pengaturan terkait keamanan digital dan privasi ini. Komputer dan ponsel yang kita gunakan sehari-hari, memiliki fitur ini. Pelajari lagi bagaimana kita bisa mengatur ulang privasi.
Ada gawai, misalnya iPhone, yang memiliki pengaturan melacak lokasi (location tracking) di pengaturan privasi atau global position system (GPS). Matikan fitur ini. Gunakan sesekali saja jika kepepet seperti ketika pesan transportasi berbasis daring.
Pengaturan privasi ini juga ada di aplikasi yang kita gunakan. Amat penting untuk mengatur ulang, misalnya Facebook, Twitter, dan Google, agar tidak secara otomatis memberitahukan lokasi kita.
Kecuali memang sengaja memamerkan kita lagi jalan-jalan ke mana ya silakan saja.
Ketiga, lindungi.
Cara paling klasik biar aman beraktivitas di dunia maya tentu melindungi akun-akun media sosial kita dengan kata kunci (password). Buat kata kunci yang mudah kita ingat tapi tidak diketahui orang banyak.
Membuat kata kunci dengan nama panggilan dan tanggal lahir tentu amat mudah ditebak. Gunakan kata kunci semacam tulisan para @l4Y karena biasanya mudah kita ingat tapi susah ditebak orang lain.
Di tingkat lebih lanjut, perlindungan data pribadi ini juga bisa pada perlindungan data-data kita. Dalam pemilihan aplikasi obrolan ringkas (instant messenger), misalnya, pastikan bahwa obrolan kita sudah menggunakan end-to-end encryption.
Sekarang sih WhatsApp dan Telegram sudah melakukan enkripsi dari awal hingga akhir ini. Jadi lumayan aman.
Keempat, bersembunyilah.
Beberapa website, terutama Google dan Facebook, amat senang merekam apa saja yang kita lakukan saat online. Mereka merekam kata kunci yang kita cari. Lalu, kata kunci itu mereka gunakan untuk menyerbug balik dengan iklan-iklan kepada kita.
Sekilas amat membantu. Tapi, dari sudut pandang lain, mereka justru amat mengganggu.
Karena itu, bersembunyilah saat online.
Caranya dengan menggunakan aplikasi yang menyamarkan aktivitas kita atau perambah yang memang tidak merekam jejak kita. Di perambah Chrome, misalnya, ada fasilitas Incognito di mana kita bisa berselancar tanpa harus ketahuan apa saja yang kita buka.
Ada pula perambah semacam Tor Browser yang bisa mengibuli alamat komputer (IP address) kita dari mana. Perambah ini berfungsi untuk “membohongi” dari mana asal kita. Dia berguna pula untuk mengakses situs-situs tertentu yang diblokir.
Kelima, gunakan alternatif.
Banyak jalan berselancar di dunia maya. Banyak pilihan aplikasi dan situs. Cobalah gunakan mereka sebagai alternatif, terutama dari sisi keamanan dan privasi.
Untuk mesin pencari, misalnya. Karena Google mencatat apa saja yang kita cari, maka gunakanlah DuckDuckGo. Dia keren. Sama saktinya dengan Google tanpa mencatat apa saja yang kita cari.
Pilihan lain, misalnya, pada aplikasi obrolan. Selain WhatsApp dan Telegram, ada aplikasi lain semacam Signal yang lebih aman.
Internet menyediakan sumber daya melimpah ruah. Selalu ada cara alternatif dibanding apa yang sudah kadung dipakai selama ini. Manfaatkanlah.. [b]
The post Melindungi Diri dari Pengintai dan Pencuri appeared first on BaleBengong.
Leave a Reply