Media Baru, Alat Perlawanan Baru

Alat baru untuk menyuarakan perlawanan itu ada di internet.

Para aktivis demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) dari 16 negara di Asia pun mengakui dan memanfaatkan kekuatan baru tersebut. Melalui berbagai blog, Facebook, Twitter, dan bentuk media baru (new media) lainnya, para aktivis itu bergerilya melakukan perlawanan.

Sekitar 30 aktivis tersebut bertemu di Kuta, Bali 6-8 Desember kemarin. Mereka berdiskusi tentang situasi demokrasi dan HAM di negara masng-masing dalam pertemuan regional Forum Asia. Ada peserta dari Maldives, Bangladesh, Vietnam, Singapura, Filipina, Timor Leste, dan lain-lain.

Pertemuan tahunan ini merupakan paralel event alias kegiatan yang berdampingan dengan Bali Democracy Forum (BDF). Jika BDF adalah ruang di mana para pemimpin negara-negara di Asia bertemu, maka Forum Asia adalah tempat bagi suara masyarakat sipil.

Hasil diskusi ini kemudian direkomendasikan ke para peserta BDF. Soal diterima atau tidak itu urusan belakang. Yang lebih penting kan ada tempat untuk bersuara dan merumuskan apa yang hendak disampaikan kepada para pemimpin tersebut.

Mereka yang hadir di Forum Asia adalah aktivis organisasi non-pemerintah (ornop) yang bekerja di isu demokrasi dan HAM. Dari Indonesia, antara lain hadir Indonesian Corruption Watch (ICW), Imparsial, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Aku hadir mewakili Aliansi Jurnalis Independen (AJI), organisasi jurnalis di mana aku bergabung.

Meski tak menjadi tema khusus dalam pertemuan regional tentang demokrasi dan HAM, toh isu kebebasan berekspresi dan informasi tetap menjadi bahan diskusi yang muncul berkali-kali dan amat menarik. Setidaknya bagiku.

Tema kebebasan berekspresi, termasuk kebebasan informasi dan media, hanya jadi salah satu tema dalam diskusi kelompok membahas tentang bagaimana mengukur tingkat demokrasi di satu negara. Dia jadi sub-tema bersama antara lain tingkat partisipasi warga serta kebebasan berpolitik.

Cuma, ya itu tadi, meski tak menjadi tema khusus, nyatanya isu tentang kebebasan informasi di internet plus penggunaannya sebagai amunisi perlawanan masyarakat sipil ternyata tetap berkali-kali muncul, termasuk saat diskusi bersama, bukan hanya di diskusi kelompok.

Wong Chin Huat, dosen Monash University dalam sesi pengantar, misalnya, mencontohkan gerakan-gerakan besar di dunia saat ini, seperti di Arab dan Amerika Serikat. Jika di Arab ada gelombang demokrasi, termasuk di Tunisia, Mesir, Bahrain, dan seterusnya, maka di Amerika Serikat ada gerakan global Occupy Movement.

Dua gerakan tersebut punya alat bersuara dan penggerak yang sama: new media. Anak-anak muda tersebut berjejaring dan bergerak dengan koordinasi melalui Facebook dan Twitter. Media-media baru ini jadi alat untuk menggerakkan.

Tak Cukup
Hasilnya, menggerakkan orang lain atas nama solidaritas kemudian terasa lebih mudah. Dari Tunisia, angin perubahan kemudian berhembus ke negara-negara lain meski tak mudah dan harus berdarah-darah. Media baru menjadi katalis gerakan tersebut untuk melawan rezim otoriter.

Begitu pula dengan Occupy Movement. Berawal dari Wall Street, gerakan global melawan korporasi dan ketidakadilan ekonomi ini kini beranak pinak ke lebih dari 2.500 komunitas di seluruh dunia. Sekali lagi, media baru mempercepat gaung dan pengaruh gerakan global ini.

Di negara-negara yang masih otoriter dan penguasanya represif, media baru ini pun jadi alat baru untuk menyuarakan suara alternatif atau bahkan perlawanan. Aktivis yang juga jurnalis kritis di Vietnam menggunakan blog sebagai alat untuk bersuara. Begitu pula di Thailand dan Malaysia di mana mengkritik kerajaan menjadi hal amat haram bagi warganya.

Namun, media tetaplah media. Dia tetap alat. Butuh sesuatu yang lebih nyata daripada hanya suara di dunia maya. Perlu ada aksi lebih tak sekadar chit chat di jejaring sosial.

Suara-suara di dunia maya harus berpadu gerak dengan aksi di dunia nyata.

Anak-anak muda Mesir akhirnya berkumpul di Alun-alun Tahrir. Aktivis Occupy Movement harus menduduki Wall Street secara fisik. Dengan begitu suara mereka tak hanya bergema di dunia maya. Suara perlawanan di dunia maya saja kadang tak cukup membawa perubahan. Dia hanya katalis.

Jadi, mari beraksi lagi. :)

Ilustrasi dari Blogger Arab.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *