Mati Suri Regenerasi AJI Denpasar

Ah, percuma juga kami berdua ngomong di sana.

Toh, hasilnya akhirnya sama saja. Rofiqi Hasan tetap terpilih sebagai Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar untuk kedua kalinya. Padahal kami berdua, aku dan Lode, sudah menyampaikan keberatan.

Mas Rofiqi, panggilan kami untuk wartawan TEMPO di Bali tersebut, kembali terpilih secara aklamasi dalam Konferensi Kota AJI Denpasar Minggu kemarin. Konferta di kantor Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Bali itu diikuti sekitar 30 anggota AJI Denpasar.

Aku dan Lode tiba di sana pas pemilihan ketua. Karena harus urus anak dan rumah dulu, jadi kami tak bisa ikut sejak pagi. Begitu sampai tempat Konferta ternyata sudah masuk proses pemilihan ketua. Seperti sudah kuduga, tak ada satu pun anggota yang bersedia dicalonkan sebagai ketua untuk periode selanjutnya. Dan, anehnya, Mas Rofiqi ini kok ya mau diangkat lagi.

Mas Rofiqi ini senior kami. Dia salah satu pendiri AJI Denpasar. Dia bosku pas aku jadi office boy AJI Denpasar pada 2000-2001 silam.

Setahuku, Mas Rofiqi satu-satunya pendiri yang masih setia mengurusi AJI Denpasar hingga saat ini. Pendiri lain, sebatas aku ingat, sudah tidak aktif. Misalnya, Putu Wirata Dwikora, Pande Komang Yanes S, Ngurah Suryawan, Hartanto, dan lain-lain. Karena itu, Mas Rofiqi ini amat senior. Dalam tiap pengurus, dia hampir selalu jadi “ketua bayangan”.

Itu pula yang jadi keberatan kami berdua. AJI Denpasar perlu regenerasi. Mas Rofiqi sudah jadi ketua pada periode sebelumnya, 2009-2012. Karena itu perlu ada pergantian ketua untuk periode selanjutnya, 2012-2015.

Selain untuk regenerasi, menurutku, pergantian ketua ini juga penting untuk menghindari personifikasi. Sebagai pendiri, pengurus inti di semua periode kepengurusan, plus ketua di periode sebelumnya, sosok Mas Rofiqi ini amat identik dengan AJI Denpasar. Dan, sebaliknya juga, AJI Denpasar jadi identik dengan Rofiqi Hasan.

Menurutku sih itu tak sehat untuk organisasi. Tidak bagus jika sebuah organisasi kemudian identik dengan satu orang. Apalagi kalau organisasi tersebut berbasis anggota semacam AJI Denpasar ini.

Maka, AJI Denpasar perlu wajah baru di posisi ketua meskipun juga tak muda-muda amat. Kalau aku sih menjagokan Hari Puspita (Radar Bali) dan Made Nagi (European Pressphoto Agency – EPA) sebagai pasangan ketua dan sekretaris di kepengurusan selanjutnya. Cuma kok Pipit, wartawan Radar Bali yang juga teman lama ini, ternyata tetap saja menolak.

Tak cuma Pipit. Semua nama yang dicalonkan oleh peserta Konferta pada putaran pertama juga menolak. Muhammad Ridwan, Lukas Bundi, dan seterusnya juga tidak mau. Karena tak ada satu pun yang mau, akhirnya mentok. Regenerasi di AJI Denpasar mati suri.

Mas Rofiqi yang kemudian menyatakan bersedia kembali jadi ketua. Usulan kami tentang perlunya wajah baru pun menguap begitu saja. Tak berpengaruh sama sekali. Maka, untuk kedua kalinya, Mas Rofiqi pun jadi Ketua AJI Denpasar. Ini sejarah buat AJI Denpasar atau malah AJI seluruh Indonesia. Untuk pertama kalinya ada ketua yang menjabat dua kali secara berturut-turut.

Apa pun itu, hasil Konferta tetap harus diterima. Setidaknya kami berdua sudah bersuara. Daripada cuma ngedumel di belakang toh. Maka, selamat bekerja, Mas. Semoga periode ini bisa melahirkan generasi penerus untuk periode selanjutnya.

Keterangan: Foto punya Anggara Mahendra.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *