Melihat foto2 jaman SMA yang disimpan oleh Yudha membawa kami kembali lagi ke sekitar tahun 2004-2006 jamannya nyali lebih besar daripada otak. Jalan dulu baru mikir mau kemana. bagi sebagian orang, foto-foto lama adalah kumpulan aib, masa ketika masih ingusan, masih sok tau, masih sama gebetan yang ditolak bahkan sebelum menyatakan perasaan.

Malahan kejadian temen yang ketinggalan itu ketika sembahyang ke Pura Besakih. Sampai sekarang ga paham kenapa bisa ada yg ketinggalan dan temen satu bis ga sadar temennya belum dateng.
Pernah juga naik gunung abang, naiknya biasa aja, tapi turunnya berbarengan dengan hujan, jadilah kami turun sambil prosotan dan curi-curi kesempatan pdkt sama gebetan. Eh trus guru agama kami yang ikut pendakian itu tiba2 lewat dan lompat kecil dan lincah sambil membawa sayur paku, “ayo semangat semua!” seru si bapak.
Kami bengong.
Masa lalu tidak harus dilupakan, tapi bisa juga sebagai cerminan dan tolak ukur sudah sampai mana kita saat ini. Sudah sejauh mana perjalanan. Apakah hanya ditempat yang sama atau melesat terbang jauh?
btw, melihat foto-foto ini jadi kepikiran, apa sih motivasi kami untuk ikut naik gunung?

Leave a Reply