Legenda, Tuak Manis yang Tak Memabukkan

Ida Bagus Kade Dwi Darmada mengenalkan tuak manis Legenda kepada pembeli. Foto Luh De Suriyani.

Ida Bagus Kade Dwi Darmada mengenalkan tuak manis Legenda kepada pembeli. Foto Luh De Suriyani.

Dia sering muncul di sejumlah kegiatan. 

Mereknya Legenda, tuak manis yang sering hadir di kegiatan pameran dan pasar hasil pertanian. Ida Bagus Kade Dwi Darmada ingin menjadikannya populer serupa es teh dan es jeruk di warung-warung. Bisa diminum siapa saja.

Konsumen mula-mula ragu membeli karena citra tuak telanjur disandingkan dengan judi. Namun pria ini sabar melayani pembelinya dan mendorong mereka mencoba. Jadilah banyak perempuan dan remaja meneguk manisnya air bunga kelapa dingin ini.

Pembeli harus sabar meneguk dengan tandas karena tuaknya membeku. Harus dikocok-kocok untuk mempercepat pencairan es.

Tiap hari ia menampung beberapa liter air dari irisan bunga kelapa segar dari petani di kampungnya, Jembrana. “Baru turun dari pohon kelapa langsung saya kemas di botol dan masukkan freezer biar tidak sampai fermentasi dan beralkohol,” kata mahasiswa Program Master Agribisnis Universitas Udayana ini.

Tagline tuak manis dalam botol ini adalah go local, tuak manis: metuakan tanpa mabuk.

Tuak manis Legenda di pameran produk pertanian. Foto Luh De Suriyani.

Tuak manis Legenda di pameran produk pertanian. Foto Luh De Suriyani.

Gus De, panggilannya, fasih menceritakan semangatnya memulai wirausaha dengan tuak manis ini. Misalnya ketika jualan ia didatangi sekelompok siswa dan guru yang sedang belajar wirausaha.

Ia menceritakan motivasinya berdagang tuak karena merasa produk ini berpeluang laris dan belum banyak yang mengemasnya seperti minuman botolan lain.

“Tuak manis ini aman untuk siapa saja, tak berlakohol dan mengandung sukrosa gula buah yang baik,” jelasnya.

Ia mengajak remaja yang mengerumuninya itu untuk melihat potensi sekitar jadi ide bisnis. “Apa pun yang ada di lingkungan seitar bisa jadi bisnis. Kalau ada ide garap saja,” dorong sarjana pertanian ini.

Ia menyebut omzetnya dengan berjualan paruh waktu sekitar Rp 5 juta per bulan. Gusde menjual sendiri ke even-even atau pesan antar (delivery) dengan harga lebih mahal. “Layanan delivery kini kan sedang tren, saya bawakan dengan cooler box,” tambahnya.

Pembeli mencoba tuak manis Legenda. Foto Luh De Suriyani.

Pembeli mencoba tuak manis Legenda. Foto Luh De Suriyani.

Sejumlah remaja masih takut-takut membeli tuak manis ini karena takut memabukkan. Gus De meyakinkan rasanya hanya manis tak kecut seperti hasil fermentasi.

Ia juga memberi penjelasan jika tuak manis sehat mengandung 17 asam amino. “Kelapa serap unsur hara melalui batang kemudian dimasak di daun dan disebarkan ke buah. Petani kelapa motong jalur dengan mengiris buahnya sehingga nutrisi yg dimakan kelapa kita curi,” jelasnya.

Ia menyebut produknya bisa memberi nilai tambah pada petani karena mereka bisanya menjual tuak beralkohol dengan harga murah, itu pun tak rutin. Sementara ia menjual tuak dalam botol kecil Rp 6.000 per unit. Jika delivery jadi Rp 10.000.

Tuak manis juga bahan baku gula merah. Selain tuak kelapa, masyarakat Bali juga membuat tuak dari enau dan lontar. Petani menggores bunganya lalu menampungnya dalam wadah-wadah. Biasanya dipanen pagi dan sore hari.

Gus De mengaku ingin menambah mitra pemasok tuak di desa-desa lain jika produknya sudah meluas. Pengemasan dalam botol menurutnya sangat penting karena harus masuk freezer secepat mungkin. Sementara saat ini kendalanya pemasoknya dari petani Jembrana yang jauh, sekitar tiga jam perjalanan dari Denpasar, lokasi pasar produknya. [b]

The post Legenda, Tuak Manis yang Tak Memabukkan appeared first on BaleBengong.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *