Kontroversi Pengaku Raja Majapahit Bali

Arya Wedakarna

Kisah Raja Majapahit Bali kembali riuh di media. 

Pemicunya tokoh Puri Jembrana AA Gde Benny Sutedja saat bedah buku Kisah Penculikan Gubernur Bali, Sutedja, 1966 pada Mei lalu. Anak dari Gubernur Bali pertama itu meminta Arya Wedakarna berhenti mengklaim sebagai Raja Majapahit.

“Saya minta agar Arya Wedakarna stop mengaku-ngaku sebagai Raja Majapahit Bali, keturunan trah Dalem Kepakisan. Uli Dije Tekane to? “ ujarnya sebagaimana ditulis Berita Bali.

Benny Sutedja, anak dari mantan gubernur pertama Bali Anak Agung Bagus Sutedja itu melalanjutkan. “Kita harus bicara jujur saat bicara sejarah. Arya Wedakarna jangan lagi mengaku-ngaku sebagai Raja Majapahit. Saya tahu asal-usulnya. Saya tahu betul siapa bapaknya. Jadi jangan lakukan pembohongan publik lagi kepada masyarakat. Kalau tidak terima, cari saya di Kota Negara (Jembrana),” tegasnya.

Arya Wedakarna yang dimaksud tersebut adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Bali. Sejak 31 Desember 2009, Wedakarna mengaku sebagai Raja Majapahit di Bali. Dia juga terus menyatakan diri sebagai Raja Majapahit dari Bali melalui berbagai media ataupun acara.

Di kartu namanya, Wedakarna menulis gelar panjangnya, Raja Majapahit Bali, Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX. Kadang-kadang dia menulis nama lain Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III. Di waktu lain dia melengkap gelar dan nama lengkapnya, Ratu Ngurah Shri I Gusti Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Kaping III, Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX. Gelar dan nama sampai 22 kata!!

Melalui akun instagramnya, Wedakarna mengatakan enggan berdebat dengan Benny Sutedja terkait tudingan agar tidak mengaku-aku sebagai Raja Majapahit tersebut. Berikut komentar lengkapnya.

Kakanda AA Benny Sudteja adalah kawan baik keluarga kami. Beliau pernah datang ke Istana saya di Mancawarna Tampaksiring dan bertemu saya. Tiang juga pernah ke Puri beliau di Negara. Saat beberapa kali bertemu tdk pernah beliau langsung bertanya didepan saya ttg Gelar Raja Majapahit. Kalau beliau bertanya pasti tiang jawab sejarah puri kami. Harusnya bicara dpn tiang nggih. Mungkin ada kaitan dgn sejarah orang tua kami.

Anda boleh tanya ke tokoh tua2 di Bali, pada zaman persaingan politik PKI dan PNI di Bali jelang G30S 1965. kedua ayah kami memang bersaing secara politik.. Ayah kami pernah bertarung fisik di podium disaksikan ribuan rakyat dilapangan. kebetulan ayah tiang tokoh PNI yg getol melawan PKI di Bali.

Ayah kami Shri Wedastera Suyasa (Ketua Umum Trah Arya Kenceng Tegeh kori pd zamannya) adalah teman seperjuangan dgn Cok Sayoga asal Puri Satria (ayah Senator Cok Rat dan Menteri Puspayoga). Ikatan sejarah kami kuat sekali antara Puri Satria dgn Puri Tegeh Kori. Kami sama sama warih, termasuk ketika Raja Denpasar Cokorda Samirana mengangkat tiang jadi salah satu Wakil Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).

Kami juga prihatin bahwa Gubernur Bali AA Sutedja menjadi korban akibat situasi politik saat itu padahal AA Sutedja adalah tokoh yg baik dan disayang Bung Karno. Jadi saya tdk mengerti jika ada pernyataan beliau thd titiang dan memasalahkan gelar Raja.

Dokumentasi sejarah PNI Bali lengkap ada di The Sukarno Center termasuk juga sejumlah saksi sejarah seperti Ibu Sukmawati Soekarno Putri dan keluarga BK. Bisa diperiksa. Jadi demi menjaga nama baik beliau (AA Benny Sutedja) tiang akan sabar manten, semoga beliau sehat dan diberkati. Beliau juga keluarga kami… Tak elok tiang berdebat dgn senior.

Gara-gara kontroversi pengaku Raja Majapahit Bali kembali muncul di media, saya jadi ingat tulisan lama tentang kontroversi pengaku raja Majapahit di Bali. Tulisan bersama Eka Juni Artawan dan Andy Putera ini dimuat BaliPublika pada Februari 2013. Karena medianya sudah tidak terbit, jadi saya masukkan kembali di sini dengan sedikit revisi.

Dua Alasan
Dalam wawancara dengan saya dan dua teman pada Januari 2013, Wedakarna bercerita, penahbisan dirinya sebagai raja Majapahit di Bali dilakukan pada 31 Desember 2009 silam di Pura Besakih oleh pendeta Siwa Budha.

Bapak satu anak yang lahir di Denpasar pada 23 Agustus 1980 ini menyebut alasan kenapa dia layak sebagai Raja Majapahit di Bali. Pertama, trahnya dari Tegeh Kori Kresna Kepakisan adalah keturunan Raja Badung. “Trah saya adalah Tegeh Kori Kresna Kepakisan yang dalam sejarah tercatat sebagai pendiri dan Raja Badung pertama,” begitu Wedakarna mengklaim.

Menurut Wedakarna, sejak 2009 silam, dia juga menjadi Sekjen Pasemetonan Agung Arya Benculuk Tegeh Kori sehingga layak terpilih sebagai raja meneruskan trahnya tersebut.

Alasan kedua, dia mengaku diberikan mandat oleh masyarakat trah Majapahit dari Jawa untuk memegang gelar dan melanjutkan kembali trah Majapahit. Menurutnya, para trah Majapahit tersebut mendapatkan pawisik, semacam wahyu, bahwa harus ada orang yang meneruskan kejayaan Majapahit. Penerus ini termasuk mengurusi pusaka-pusaka Majapahit yang tersebar di banyak tempat. Tak hanya di Bali. Pawisik tersebut merujuk kepadanya.

Namun, ketika ditanya trah Majapahit itu di mana agar bisa dikonfirmasi, Wedakarna tak bisa menyebut pasti ketika itu. “Mereka tidak berupa organisasi resmi tapi menyebar di mana-mana,” ujarnya.

A photo posted by SENATOR DPD RI Bali Indonesia (@senator_gusti_arya_wedakarna) on

Gugatan
Klaim oleh Wedakarna menyisakan beberapa pertanyaan sekaligus gugatan. Pertama, datang dari para raja di Bali. Secara adat, beberapa puri di Bali, masih memiliki raja, seperti Badung, Tabanan, Gianyar, Klungkung, dan lain-lain. Penanggung jawab atau pemimpin tertinggi puri disebut penglingsir. Sebagian penglingsir yang sudah di-abhiseka (ditahbiskan) baru disebut raja, seperti dari Puri Klungkung dan Tabanan.

Pada 9 Oktober 2011 para raja dan penglingsir dari puri-puri Bali berkumpul di Puri Peliatan, Ubud, Gianyar untuk membahas klaim sepihak Wedakarna. Seluruh wakil puri besar di Bali, yaitu Gianyar, Klungkung, Denpasar, Tabanan, Bangli, Karangasem, Badung, Singaraja, dan Jembrana menghadiri pertemuan. Ada pula 57 puri kecil dari seluruh Bali.

Bersama para penglingsir tersebut hadir pula perwakilan Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP), pemerintah, dan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Gubernur Bali Made Magku Pastika juga turut serta.

Salah satu topik pertemuan adalah kontroversi pengaku Raja Majapahit Bali itu. Muncul gugatan terhadap Wedakarna. Hasil rapat itu, para penglingsir dan raja menolak klaim tersebut. “Kami menolak oknum yang mengaku sebagai raja Majapahit di Bali,” kata Raja Klungkung Ida Dalem Semara Putra yang juga Ketua Paiketan Puri-Puri se-Jebag Bali.

Hingga saat ini, secara tradisional Puri Klungkung masih menjadi semacam puri pengikat para penglingsir di Bali. Semara Putra dianggap sebagai penglingsir bagi raja-raja lain di Bali. Dia menjadi semacam koordinator para raja di Bali.

Menurut Semara Putra, berdasarkan bukti sejarah, di Bali tidak pernah ada keturunan Raja Majapahit. Meskipun Bali pernah dikuasai Majapahit pada tahun 1352 hingga 1677, namun saat itu Raja Majapahit tidak memerintah dari Bali melainkan melalui para wakilnya di Bali. “Karena itu, kami tidak mau mengakui adanya Abhiseka Raja Majapahit di Bali,” ujarnya.

Penolakan tersebut bahkan dibuat dalam bentuk surat pernyataan atas nama Paiketan Puri-puri se-Jebag (seluruh) Bali yang terdiri dari lima poin. Pernyataan tidak mengakui dan menolak klaim tersebut menjadi salah satu dari lima poin pernyataan. “Menyikapi oknum yang mengaku sebagai Raja Majapahit Bali I, kami menolak dan tidak mengakui,” demikian pernyataan tersebut.

Surat pernyataan tersebut juga dikirimkan kepada Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN). Dalam surat tertanggal 17 Oktober 2011 tersebut, FSKN Bali mengatakan dengan lugas dan tegas menolak adanya oknum yang mengaku sebagai Abhiseka Raja Majapahit Bali. Dalam surat yang ditandatangani Ketua FSKN Bali Anak Agung Gde Agung dan Sekretaris Anak Agung Ngurah Putra Dharmanuraga tersebut, mereka juga meminta agar para raja dan pemangku adat di Bali maupun Indonesia mengetahui hal tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Komentar lain terhadap klaim Wedakarna juga datang dari beberapa raja dan penglingsir di Bali, termasuk dari A.A Ngurah Gede Kusuma Wardana, Raja Puri Kesiman, Denpasar. “Dia (Wedakarna, red) menyebut dirinya raja. Dia itu bukan orang bodoh, orang pintar itu. Pintar mengibuli sejarah,” demikian komentar Kusuma Wardana.

Namun, ketika ditanya tentang penolakan tersebut, Wedakarna menjawab santai. “Selama (gugatan) itu belum tertulis saya tidak menganggapnya sebagai gugatan tetapi merupakan curhatan dari raja-raja tersebut,” jawabnya.

“Secara psikologis, siapa sih orang tua di Indonesia, apalagi di Bali yang mau tersaingi sama anak muda seperti saya. Gitu, lho,” katanya saat itu.

Membingungkan
Baik Raja Klungkung maupun Penglingsir Kesiman, dua tokoh puri yang jelas wilayah dan asal muasalnya, menegaskan bahwa berdasarkan data dan bukti sejarah, di Bali tidak pernah ada keturunan Raja Majapahit.

Sejarawan I Nyoman Wijaya pun mengatakan hal serupa. Inilah pertanyaan kedua.

Menurut Dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali tersebut, secara genealogis keturunan Raja Majapahit tidak ada yang di Bali. Para bangsawan Jawa, yang dikirim Raja Majapahit pada tahun 1300-an setelah mereka menguasai Bali, adalah mereka yang memiliki hubungan secara politis, bukan biologis, dengan Raja Majapahit saat itu.

“Penerus Raja Majapahit secara genealogis itu justru di Demak (Jawa Tengah),” kata doktor alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini.

Menurut Wijaya, ketika Majapahit menguasai Bali sejak tahun 1343, Bali tidak terlalu stabil. Karena itu pada 1350, Majapahit mengutus Sri Kresna Kepakisan yang juga dikenal sebagai Raja Samprangan I. Pendamping Kresna Kepakisan adalah Arya Kepakisan. Pusat kekuasaan ini kemudian pindah ke Gelgel, Klungkung. Sebelum terpecah menjadi banyak kerajaan kecil pada zaman kolonial, perwakilan Majapahit di Bali terpusat di Klungkung.

Oleh karena itulah hingga saat ini, Puri Klungkung masih dituakan oleh puri-puri lain di Bali. Ida Dalem Semara Putra, Raja Klungkung saat ini, pun sudah diabhiseka pada 10 Oktober 2010. Dia menjadi Penglingsir Agung Paiketan Puri-puri se-Bali sejak 6 Juni pada tahun yang sama.

Salah satu cara membuktikan klaim Wedakarna, kata Wijaya, adalah dengan melihat purusa atau asal usulnya. Jika ada yang mengaku sebagai raja, tinggal ditanya di mana istananya, siapa pengikutnya, atau di mana saja wilayah kekuasaannya.

Selain dari sejarawan, yang lebih akademis dan ilmiah, bantahan terhadap klaim Wedakarna sebagai Raja Majapahit tersebut juga datang dari kalangan keturunan Sri Arya Kepakisan. Gusti Ngurah Harta, mantan Ketua Pasemetonan Sri Nararya Kepakisan, mengatakan klaim Wedakarna sebagai Raja Majapahit di Bali jelas keliru.

Jika mengacu kepada gelar panjangnya, Wedakarna menggabungkan dua trah, yaitu Arya Kepakisan dan Tegeh Kori. Menurut Ngurah Harta, dua soroh tersebut tidak mungkin bisa dijadikan satu sebagai sebuah gelar. “Mereka soroh yang berbeda. Makanya Wedakarna itu membingungkan, dia Tegeh Kori atau Kepakisan. Tidak jelas,” tambahnya.

Mengacu kepada Babad Balabatuh terbitan Pustaka Balimas pada tahun 1958, Tegeh Kori bukanlah keturunan Raja Majapahit meskipun menjadi bangsawan pada saat itu. Tegeh Kori ini, menurut Ngurah Harta, awalnya di Tegal, Denpasar sebelum pindah ke Tegal Tamu, di Batubulan. “Saya tidak tahu apakah Tegeh Kori ini yang dimaksud Wedakarna,” ujar Ngurah Harta.

Meskipun mendapat banyak bantahan dari kalangan puri, sejarawan, dan keturunan trah Arya Kepakisan, Wedakarna toh cuek bebek. Dia tetap menyebarluaskan klaimnya sebagai Abhiseka Raja Majapahit Bali.

Ketika ditanya di mana istananya sebagai Abhiseka Raja Majapahit di Bali, Wedakarna menjawab bahwa istananya berada di Istana Mancawarna, Tampaksiring, karena pada tahun 1927 raja-raja Nusantara mengadakan rapat di Tampaksiring.

“Jadi, saya ingin kembali membangkitkan Tampaksiring,” ujarnya.

Mengenai wilayah kekuasaan, Wedakarna mengatakan dia bukanlah raja dengan wilayah tertentu seperti raja-raja lain di Bali maupun Indonesia. Abhiseka Majapahit, menurutnya, adalah gelar budaya, bukan gelar teritori. “Saya tidak mau terkontaminasi dengan teritori, seperti di Bali ada raja satu kabupaten. Itu kan sangat kecil,” ujarnya. [b]

The post Kontroversi Pengaku Raja Majapahit Bali appeared first on BaleBengong.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *