Hari ini saya melakukan setoran tunai alias menabung di Bank BNI di Jalan Raya Canggu yang tidak jauh dari rumah saya. Oya, sebelumnya saya ceritakan bahwa ada satu layanan yang saya sukai di Bank BNI yaitu kita tidak perlu menuliskan slip jika ingin melakukan setoran tunai. Cukup dengan mengetahui nomor rekening dan nama pemilik rekeningnya atau dengan membawa buku tabungannya. Berbeda dengan di bank lain yang saya ketahui kita harus tetap mengisi slip setoran jika ingin menyetor/menabung, bahkan jika menabung ke rekening sendiri dengan membawa buku tabungan.
Jadi, tadi seperti biasa saya langsung mengambil nomor antrian untuk ke teller. Saya lihat untunglah antriannya tidak banyak, saya mendapat nomor T79 sedangkan teller yang buka hanya satu dan sedang melayani antrian nomor (kalau tidak salah) T76. Semua berjalan lancar dan saya tidak lama menunggu hingga orang dengan nomor antrian T78 (tepat sebelum saya) dipanggil oleh petugas. Kebetulan saya duduk tidak jauh dari teller dan bisa melihat serta mendengar cukup jelas percakapan antara teller dengan nasabah.
Petugas teller seperti biasa memberikan greeting dan menanyakan keperluan nasabah. Si nasabah lalu mengatakan bahwa dia ingin mengirim uang ke nomor rekening sejumlah 350 ribu rupiah. Petugas pun lalu menerima dan menghitung uangnya. Dari awal saya sudah merasa kurang nyaman melihat nasabah ini di depan teller sambil sesekali mengutak-atik ponselnya. Selanjutnya petugas menanyakan nomor rekening yang akan dikirimkan uang. Disinilah yang membuat saya makin kurang nyaman karena si nasabah itu menelepon seseorang yang sepertinya kakaknya untuk menanyakan nomor rekeningnya.
Waduh, pikir saya ini orang kok aneh sekali ya. Kenapa tidak dari tadi menelepon dan menyiapkan nomor rekeningnya sebelum ke teller. Belum lagi beberapa saat sepertinya teleponnya tidak nyambung. Petugas teller pun saya lihat seperti berusaha sabar. Telepon pun tersambung dan si nasabah menanyakan nomor rekening, saya pikir masalahnya selesai. Si nasabah bertanya kepada teller, “Mbak, nomor ATM bisa ndak?”. Teller lalu mengatakan harus nomor rekening, nomor ATM hanya bisa jika setoran dilakukan oleh pemiliki ATM. Selesai? Belum.
Entah karena apa, si kakak dari nasabah tadi ngotot harus bisa dan bahkan minta bicara kepada teller. Untunglah si petugas teller tidak mau. Tapi si nasabah ini mencoba menawar lagi agar bisa. Wah, parah nih, pikir saya. Petugas teller sampai mengatakan “Kalau begitu suruh saja dia yang memproses sendiri transaksinya”. Dan pada akhirnya si nasabah ini menyerah.
Saya yang melihat hanya bisa senyum-senyum saja melihat tingkah nasabah yang satu ini. Saya tidak tahu apa sebabnya orang itu tidak bisa mencari nomor rekeningnya. Sebenarnya saya tidak masalah menunggu lama, tapi melihat nasabah yang kurang persiapan seperti itu kok rasanya ikut geregetan juga. Salut juga dengan mbak petugas teller itu yang tetap berusaha sabar. Kalau saya yang jadi petugas teller itu, mungkin sudah emosi duluan.

Leave a Reply