masih menyoal kegigihan yang pernah saya tuliskan sebelumnya, pada suatu waktu saya pernah berbincang dengan teman blogger angkatan lama (hahaha…angkatan dimana blog masih jadi curahan hati dan menye-menye! 😀 )
waktu itu kami sedang berada di atas kapal cruise yang membawa kami ke pulau lembongan, bali. perjalanan yang diinisiasi oleh client tersebut memang ditujukan untuk blogger dan beberapa wartawan dari media cetak. melalui para blogger, client berharap bahwa potensi pangan lokal (sesuatu yang sesuai dengan value company si client..) sampai ke khalayak yang lebih luas, melalui media cetak dan blog. dan karena itulah teman blogger tersebut ada di perjalanan kali itu.
awalnya kami membicarakan tentang pekerjaan, tentang profesi blogger, hingga akhirnya kami membahas tentang saya dan blog. kenapa saya tidak ngeblog lagi.
“gimana ya, aku tuh menemukan kesulitan untuk menulis. aku tidak bisa menulis seperti dulu lagi, pun aku tidak menemukan sesuatu yang bisa kutuliskan dengan kondisi(ku) sekarang. maksudku, hidupku berubah, perjalanan juga berganti cerita. kalau aku disuruh menulis kayak dulu, aku ngga bisa. aku ngga lagi menemukan sense of menye-menye kayak dulu…”
hahaha, itulah yang saya katakan padanya. MENYE-MENYE. bahasa blog jadul banget kan?!
padahal, mari kita bedah satu per satu kenapa saya tak lagi menulis.
pertama, karena saya sudah melewati fase menye-menye itu. perjalanan hidup saya berpindah ke fase yang jauh lebih stabil. keluarga, pekerjaan dan yang paling penting adalah perasaan. itulah yang menyebabkan saya susah untuk menulis seperti dulu.
tapi-tapi, banyak orang yang melakukan perjalanan hingga melalui beberapa fas,e tapi mereka tetap bisa menulis. nah, itulah yang saya coba asah lagi. toh tulisan tak melulu soal kegelisahan dan penderitaan kan ya?
alasan kedua adalah pekerjaan, ini yang paling sering menjadi kambing hitam. menulis untuk client, sampai lupa untuk menulis pada diri sendiri. sebelum menulis saya melakukan riset, mencari mood. tapi seringali saya menulis karena deadline makin dekat. sesuatu yang tidak pernah saya terapkan ke diri sendiri, hingga akhirnya saya memanjakan kemalasan saya untuk menjadi lebih peka, hingga akhirnya tumpul.
alasan ketiga adalah ketika era blog suda berubah. tidak hanya fase hidup saya, tapi blogpun sudha ngga jamannya lagi untuk emnjadi tempat curhat. beberapa menuliskan pengalaman traveling, resep masakan, review ini, review itu. dan saya, yang asalnya adalah suka curhat, mulai jauh tertinggal. saya tak terbiasa menuliskan sesuatu tanpa melibatkan perasaan, kecuali itu untuk pekerjaan. lalu lagi-lagi, kembali ke alasan kedua, blog ini terabaikan begitu saja.
keempat, distraksi sosial media. sigh. untuk alasan terakhir ini mungkin tak berlaku bagi semua orang, toh masih banyak tuh ornag yang aktif di twitter, tetap upload foto-foto di facebook dan instagram, curhat di path, tapi masih bisa tetap menulis di blognya. hanya saja, sosial media menjadi distraksi untuk saya yang minim multitasking ini. jika sudha nyampah di path, maka malas buat menuliskannya lebih panjang. atau jika sudah upload foto-foto perjalanan di facebook, maka malas kali untuk menuliskan rinciannya di blog. dan kalau sudah curhat colongan di caption instagram, maka pikiran menjadi lebih cepat lega sehingga yasudah semua berhenti saja di sana.
mungkin saya perlu lebih mengurangi aktivitas nyampah sedikit – sedikit dimana-mana itu, lebih banyak membaca, lalu menuliskanna di blog saja. mungkin saya akan mencobanya…
Leave a Reply