Karena, Lain Orang Lain Wataknya

Bagaimana sih watak orang Bali itu?

Topik itu diangkat Bale Bengong di linimasanya sekitar seminggu lalu. Maka, ramailah orang berkomentar. Ada yang bilang orang Bali itu ramah. Ada yang bilang beraninya sama saudara sendiri. Macam-macam.

Tapi, menurutku, tidak ada itu watak orang Bali. Watak orang Bali itu sama saja dengan etnis lain di mana pun juga. Cuma, sebagian orang kadang melakukan penyederhanaan dan pukul rata alias simplifikasi dan generalisasi.

Ambil contoh sederhana. Ada yang bilang orang Bali itu ramah-ramah. Menurutku tidak juga. Tergantung orangnya. Di gangku saja, sesama orang Bali juga bisa tidak bertegur sapa meski kami satu gang. Tapi, ada juga yang ramah sekali pada kami sementara lainnya sama sekali membalas senyum atau sapa yang kami berikan.

Begitu pula sifat lain. Ada yang bilang orang Bali itu pemalas. Ah, ini tentu tak berlaku untuk bapak ibu mertuaku. Hingga saat ini pun, di umur 50an tahun, mereka masih rajin bangun pukul 3 pagi untuk belanja ke Pasar Badung lalu jualan soto dari pagi hingga malam. Masak begitu mau disebut pemalas?

Kalau ngomong soal watak ini, aku selalu ingat salah satu lokakarya yang pernah aku ikuti pada tahun 2002 setelah terjadinya bom di Legian pada Oktober 2002. Aku dan beberapa jurnalis ikut lokakarya tentang keberagaman.

Di salah satu sesi, kami dikelompokkan berdasarkan etnis, Bali dan non-Bali, terutama Jawa. Tiap kelompok kemudian disuruh membuat daftar sifat atau watak, baik maupun buruk, dari etnis lain.

Hasilnya bisa ditebak. Sifat buruknya orang Bali itu, antara lain pemalas, suka berjudi, boros, dan semacamnya. Sifat baiknya, ramah, tenggang rasa, permisif, dan semacamnya. Lalu, sifat buruk orang Jawa, antara lain eksklusif, sombong, fanatik, dan seterusnya. Sifat baiknya, ulet, berani, dan semacamnya.

Namun, itu semua ternyata hanya stereotipe. Diskusi kami selanjutnya ternyata membantah semua stereotipe itu. Contohnya sederhana. Jika dibilang orang Bali itu pemalas, apakah ada orang Bali yang ulet? Ternyata banyak. Tak hanya di Bali itu sendiri, para transmigran Bali di luar Bali sudah membuktikannya.

Cara lain untuk membantah semua stereotipe, baik orang Bali maupun Jawa tersebut, adalah dengan melihat lingkungan terkecil kita, keluarga atau teman-teman. Coba deh cek teman kita yang beretnis lain dan bandingkan dengan stereotipe yang ada di pikiran kita. Aku cek sih ternyata teman-teman Bali terdekatku banyak pekerja keras dan berpikiran terbuka. Mereka jauh dari stereotipe bahwa orang Bali itu pemalas dan pikirannya sempit.

Begitu pula dengan teman-temanku yang orang Jawa. Jika dibilang eksklusif atau konservatif pada agama, ternyata teman-teman terdekatku justru hampir semua justru alergi sama orang-orang yang fanatik dalam beragama. Mereka, seperti juga aku, amat terbuka pada keragaman dan menolak jadi orang fanatik.

Maka, stereotipe, simplifikasi, generalisasi, dan seterusnya itu berbahaya. Kenapa? Karena sifat satu orang tidaklah bisa mewakili keseluruhan etnisnya. Aku sebagai orang Jawa, misalnya, tidaklah mungkin bisa mewakili sifat semua orang Jawa. Begitu juga dengan istriku yang orang Bali. Mustahil menganggap sifat semua orang Bali itu sama dengan sifatnya.

Menurutku, tidak ada itu sifat tunggal pada etnis mana pun. Begitu pula dengan orang Bali. Tiap manusia punya sifat tersendiri. Dan tak usah disederhanakan dalam satu dua sifat pasti. Lha wong satu orang saja kadang-kadang bisa berubah-ubah sifatnya tergantung suasana hati atau apa yang dialaminya kok.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *