hate to the bone

have you ever hated someone to the bone?

tiba – tiba seseorang menanyakan itu ke saya. pada perbincangan di hari yang panas ditemani segelas es teh. pertanyaan yang sama yang ingin saya tanyakan ke dia, teman saya, dan teman saya yang lain.

tidak, setidaknya sampe saat ini tidak pernah.

lalu saya ingat beberapa tahun lalu, saya pernah begitu marah ke seorang teman, satu – satunya orang yang dekat dengan saya. saya marah padanya karena satu hal. dia juga marah ke saya karena menurutnya, saya terlalu ikut campur. lalu kami tidak berbicara sama sekali. tidak pernah saling sapa. selama bertahun – tahun. hingga suatu hari dia menelepon saya, mengenalkan saya pada anaknya. saya minta maaf, dia juga. lalu kami tertawa – tawa.

saya juga ingat dengan teman lainnya. kali ini tanpa alasan yang jelas dia marah ke saya. dan tanpa saya tau salah saya apa, saya terus meminta maaf padanya, just to makes everything right. tapi saya salah. untuk sesuatu yang tidak bisa diperbaiki, lebih baik dibiarkan saja. terus mencoba memperbaikinya hanya akan membuatnya menjadi lebih buruk. mungkin itu adalah klimaks dimana saya sudah lelah untuk meminta maaf untuk sesuatu yang saya tidak pahami. saya tidak membencinya. hanya saya sampai pada titik bahwa saya tidak peduli. lalu kami tidak lagi pernah bersapa. sampai saat ini.

dan jika ingatan saya putar kembali ke belakang, hanya memang tidak menyimpan kebencian pada siapapun sampai saat ini. saya pernah bergitu marah karena seorang teman membohongi saya, tapi ketika kemudian kami bertemu, maka kami akan tertawatawa bahagia. saya bukan malaikat yang tak pernah marah. saya marah. saya pernah sangat marah. lalu selanjutnya, itu berlalu begitu saja. beberapa akhirnya kami saling bersapa, selebihnya mungkin tak saling bicara.

bukan karena saya membencinya, tapi lebih karena saya sudah tidak lagi mempedulikannya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *