Arusaji Mendobrak Stigma dan Berkarya

“Punk itu kasar, sampah masyarakat dan sebagainya,” itulah ungkapan Dedika, Personel band Arusaji pada pembuka video yang berjudul Punk, Stigma, dan Mental Health yang dirilis di laman youtube mereka.

Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan Punk adalah kombinasi maut band ini. Bagi Arusaji, membentuk band dan keluar berkarya adalah jalan. Jalan untuk keluar bersuara. Jika bukan menghilangkan stigma,  setidaknya mereka bisa puas telah berkarya.

Anggapan yang menyepelekan diterima Loster, pemain Bass Band Arusaji. Ia juga bercerita bahwa band ini dianggap tak bisa berkarya. Lebih parah, mereka bahkan dianggap tidak bisa berpikir dan tidak berfungsi di tengah dunia yang sebenarnya juga tidak terlalu waras juga. Bukan berbalik dan merasa kecil, Arusaji tetap berlanjut, menghiraukan kata-kata orang yang mencela.

“Kami bisa (berkarya),” ujar Loster dalam video yang sama.

Dan buktinya, awal tahun lalu, Arusaji telah merilis sebuah mini album. Dalam mini album tersebut, Arusaji konsisten menanyakan kembali kepada orang-orang yang merasa dirinya waras tentang hal-hal mengerikan, penerimaan yang salah pada para ODGJ. Simak, dalam lagu yang berjudul “Jangan Pasung Aku”, Arusaji menggambarkan bagaimana kejamnya ODGJ yang tidak mendapatkan perawatan yang layak dan malah dipasung.

“Jangan samakan aku dengan anjing peliharaanmu yang diam di rumah, aku memang sedikit tidak umum, tapi aku bukanlah gila…”

Getirnya lirik lagu ini membuat saya teringat salah satu dialog di serial televsi The End of the F***ing World season 1 beberapa tahun lalu. Di adegan serial tersebut, salah satu karakter berkata,  “To be mad in a deranged world is not madness; it’s sanity.”

Sekarang, kita harus kembali bertanya, siapa yang sebenarnya waras?

Kemarahan dan keresahan yang dibawa oleh Band Arusaji valid. Bukan hanya mereka mengalaminya sendiri, mereka juga dekat dengan orang-orang yang sering dianggap sepele.

Lagu  “Jangan Pasung Aku” merupakan pengalaman nyata Dedika. Dia bercerita, dirinya pernah melihat salah satu warga yang sebelum dipindahkan ke rumah berdaya warga tersebut dipasung.

“Saya lihat pemasungan itu gak layak buat manusia. Makanya saya buat lagu untuk menyuarakan hati saya. Sangat miris saya melihat itu,” ujar Dedika.

Oleh karenanya, Dedika pada akhirnya hanya ingin bersuara. Menyuarkan orang-orang yang dia rasa perlu didengar dan dilihat lebih dekat. Bukan dengan melakukan tindakan yang tidak-tidak, Dedika dan Arusaji keluar dengan cara menyuarakan apa yang mereka anggap perlu disuarakan, yaitu dengan bermusik dan bersenang-senang.

“Kami hanya ingin berkarya, meluapkan kejujuran di dalam hati kami, dan mendobrak stigma masyarakat,” kata Dudik bersemangat masih dalam video yang sama.

Ahh, sampai di sini saja, kita bahkan seharusnya memberi tepuk tangan.

Arusaji sendiri merupakan band punk rock asal kota Denpasar. Nama Arusaji sendiri merupakan akronim dari Alumni Rumah Sakit Jiwa. Arusaji beranggotakan tiga orang. Tiga personil Arusaji Band yaitu, Dedika (vokal dan gitaris), Loster (bassis), dan Pak Man (Kajoon). Sekitar Bulan Februari lalu, Band ini merilis mini album yang terdiri dari tujuh lagu. Ketujuh lagu tersebut adalah, Di Rumah Berdaya, Jangan Pasung Aku, I’m Skizofrenia, Halusinasi, Gadis Jalanan, dan Anarchy War, dan Penjahat.

Arusaji akan tampil di malam puncak Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) Balebengong 2022, Minggu 26 Juli 2022. Mereka akan tampil bersama para penampil lain untuk bersuara. Bersuara lewat musik-musik mereka. Bersuara agar mereka didengar. Bersuara agar mereka tidak melulu dibungkam. Bersuara untuk hak-hak mereka yang dikeberi. Dan bersuara untuk diri mereka sendiri.

The post Arusaji Mendobrak Stigma dan Berkarya appeared first on BaleBengong.id.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *