Tag Archives: video

Belajar Membuat Video Tutorial di Youtube

Saya sedang belajar membuat video tutorial di youtube dengan isi materi yang ringan-ringan saja. Sebenarnya sebelumnya saya sudah mengupload beberapa video di youtube channel saya tetapi isinya sangat random dan sebagian besar merupakan video pribadi. Dari beberapa video itu ternyata ada beberapa video yang view-nya lumayan banyak dibandingkan video lainnya, misalnya video tentang layangan knock […]

Bom Benih, Sebuah Gerilya di Tengah Ledakan Pariwisata Nusa Penida

Hari beranjak gelap, sebuah perempatan jalan dengan tugu yang berdiri di tengahnya ramai oleh warga, mereka berkumpul. Tua, muda, anak-anak, laki-perempuan, semua menjadi satu.

Sebagian berdiri, sebagian lain duduk atau jongkok, membentuk sebuah lingkaran, perhatian mereka tertuju pada area lapang di tengah lingkaran. Dua sosok penari topeng sedang mementaskan naskahnya, disusul barok lalu dilanjutkan dengan rangda. Pecalang-pemangku siaga, beberapa warga kerauhan.

Warga Banjar Tangglad malam itu sedang menggelar sebuah prosesi upacara yang mereka namakan “nanggluk merana.” Belakangan, serangkaian peristiwa terjadi di tengah-tengah warga. Hujan yang sempat turun tia-tiba hilang tanpa jejak, cuaca kembali panas menyengat. Ulat menyerbu dan dengan rakus menggilas daun-daun jagung yang baru tumbuh dan berusaha bertahan dari cuaca yang kembali panas menyengat. Ulat-ulat yang tak juga pergi walau serangkaian usaha telah dilakukan.

Dan peristiwa-peristiwa lain yang tampaknya tidak wajar yang kemudian menjadi pertanda. Dari peristiwa-peristiwa yang saling kait tak biasa tersebut, warga bersepakat menggelar sebuah prosesi upacara yang digelar tepat saat purnama kaulu.


Ketika semua warga terpusat di perempatan jalan, mengikuti prosesi dengan penuh harap, sekelompok pemuda di sebuah halaman kecil tak jauh dari perempatan, sedang khusuk dengan niat mereka. Alunan gamelan yang masih jelas terdengar seolah tak membuat mereka berpaling dan ikut larut bersama warga.

Mereka larut dengan niat mereka untuk berhasil membuat “bom”. Mereka membuat “bom” berbentuk seperti telur seukuran genggaman tangan. Tepat ketika warga larut dengan doa dan prosesinya, para pemuda tersebut fokus merealisasikan rencana mereka, membuat “bom” yang akan mereka ledakkan ketika hujan tiba.

Tepatnya di balik gerbang terali hitam, di depan bangunan Artshop Bu Luh, segerombolan pemuda yang dikomandani Gede “timbool” Agustinus meracik material. Buliran biji-biji berukuran kecil dicampurkan ke dalam tanah dan humus yang telah basah. Lalu dikepal dibentuk bulat. Ukurannya dibuat sedemukian rupa sehingga cukup pas digenggaman tangan, memudahkan untuk dilempar.

Timbool dan kawan-kawannya berencana mengajak warga sekitar untuk gerilya menggunakan bom benih yang berhasil mereka buat. Melemparkannya ke lokasi-lokasi strategis hingga nanti “bom-bom” tersebut akan meledak dengan sendirinya ketika waktu tiba.

Biji kecil tersebut merupakan benih Orok-Orok, Kaliandra, Turi, dan Tarum, yang kemudian menjadi empat jenis bom. Upaya gerilya pemboman ini dilakukan untuk mendukung upaya perjuangan kelompok Alam Mesari memperoleh kemerdekaannya atas pewarna alam. Pewarna alam merupakan pewarna yang sebelumnya telah digunakan oleh tetua-tetua mereka ketika membuat tenun cepuk. Kain khas nusa penida yang hingga kini masih diproduksi oleh warga Desa Tanglad.

Kondisi geografis Nusa Penida yang didominasi dengan batuan kapur, lapisan tanah yang relative tipis, iklim kering dengan curah hujan yang sedikit tentu membuat penanaman langsung tanaman pewarna alam memiliki resiko kegagalan yang tinggi. Bom benih (seed bom) orok-orok, kaliandara, turi, dan tarum menjadi sebuah usaha untuk mengimbangi situasi lingkungan yang ada. Pemboman ini menjadi penting karena berpotensi besar akan menjadi humus dan menambah lapisan tanah di atas batuan kapur. Sehinga akan menyuburkan tanaman-tanaman lain yang menjadi sumber pewarna alam.

Teknik pembuatan “bom benih” dipelajari Timbool dan rekan-rekannya merupakan hasil dari hasutan Bang Berto (Roberto Hutabarat) seorang gerilyawan “Bertani karena Benar.” Diaplikasikan oleh gerombolan Timbul setelah mendapat informasi beberapa kali hujan mulai turun di Nusa Penida.

Biji benih yang sudah bercampur dalam kombinasi tanah liat dan humus dengan sedikit air yang kemudian dikeringkan dalam kerat-kerat (bekas telor). Setelah siap, “bom-bom benih” akan dilempar warga ke tempat-tempat yang area ladang warga.

Bom benih sangat tergantung pada cuaca, hujan sekali lalu kemudian panas kembali menyengat seperti apa yang terjadi di awal Januari 2020. Ini bukan momentum yang tepat untuk melakukan eksekusi pemboman. Dibutuhkan curah hjan yang lebih rutin untuk memastikan pemboman berhasil. Hal tersebut membuat penting bagi Timbool untuk mencari tahu dan mendapatkan informasi tentang curah hujan di Desa Tanglad dari warga lokal.

Tidak seperti granat yang langsung meledak sesaat setelah dilemparkan, bom benih akan meledak setelah bereaksi dengan air hujan yang mengguyur.

Ketika hujan sudah mulai rutin turun, bom-bom akan dilemparkan dan “bom” berisi benih ini pecah. Ledakan pertama terjadi.

Seed bomb itu kalau kena air hujan akan pecah tanahnya, dan di dalam tanah tersebut sudah mengandung nutrisi untuk makanan si benih tadi ketika tumbuh,” Timbool menjelaskan bagaimana proses seed bom tersebut ketika bertemu air hujan.

Bongkahan tanah pecah, benih yang terkandung di dalamnya tersebar mengikuti aliran air. Benih yang hanyut mengikuti aliran air akan tertahan oleh semak, pematang atau batuan, lalu perlahan tumbuh menjadi tunas, mencipta akar-batang-daun hingga kemudian kembali meledak menjadi rimbunan semak belukar. Semak belukar yang nantinya akan menghasilkan humus dan nutrisi bagi tanah.

“Itu adalah tanaman perintis,” Timbool menjelaskan tipe tanaman yang dikandung dalam seed bomb yang dibuatnya. “Di sini kan tanahnya berbatu, untuk merintis tanah berbatu, jadi tanahnya tipis sekali. Supaya guguran daunnya itu nanti bisa menjadi tanah yang lebih banyak untuk tegalan di Tanglad ini,” lanjutnya menjelaskan maksud aksi mereka bergerilya melemparkan seed bomb.

Bom Benih telah dilemparkan oleh ibu-ibu dari kelompok Alam Mesari ke ladang-ladang mereka, sebuah usaha kecil ketika hujan mulai rajin turun di Tanglad dan sekitarnya. Sebuah upaya kecil yang nantinya akan menunjang usaha yang lebih besar, menjaga keberlangsungan tradisi kain tenun cepuk. Menjaga agar ladang-ladang mereka cukup subur untuk ditumbuhi tanaman-tanaman yang akan menjadi sumber warna dari tenun-tenun yang mereka buat. Usaha untuk memintal kembali hubungan antara ruang hidup dengan kerajinan dan dampak ekonomi yang ingin dihasilkan.

Usaha pemboman dengan bom benih kaliandra, taru, orok-orok dan turi tentu jauh lebih kecil dan sangat tidak sebanding dibandingkan dengan Bom Pariwisata yang kini melanda Nusa Penida. Limpahan wisatawan yang berlalu lalang, pasir, dan kerikil yang meunggu untuk didistribusikan membangun villa atau akomodasi wisata lainnya yang cenderung seragam. Diikuti bom sampah sesuai jumlah kunjungan dan konsumsi orang-orang ke pulau Nusa Penida.

Link video: https://youtu.be/QoMtQ10PUaU

Sebuah usaha kecil oleh Alam Mesari bekerjasama dengan Timbool dan rekan-rekannya untuk menjaga keberlangsungan ekosistem di tengah iklim yang telah berubah dan semakin sulit diprediksi. Menjaga keberlangsungan tradisi tetua Nusa Penida dalam mencipta kain tenun tradisional. Tak kalah penting, menjaga tradisi kemandirian Nusa Penida. Tradisi kemandirian telah dilakoni para tetua terdahulu, yang telah membuktikan bagaimana cara bertahan hidup di sebuah pulau kecil dengan bentang alam yang keras.

Zio Luncurkan video lirik “See The Sun” untuk hati hati yang tersenyum.

Dirilis Agustus 2017, album perdana Zio bertajuk “See The Sun” masih menjadi daftar putar wajib bagi pendengarnya di kanal-kanal musik digital. Single “See The Sun” seperti yang diprediksikan menjadi single terkuat di album ini, terlihat dari jumlah putar di Spotify saja sudah didengarkan hampir selama 161.980 jam. Untuk mengawali album “See The Sun” sebelumnya Zio […]

Mengungkap Sisi Lain Bali lewat Seni Video


Lokakarya seni media untuk beradaptasi dengan teknologi baru. Foto Bentara Budaya Bali.

Media-media baru seringkali menghadirkan realitas virtual semu.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kembali melaksanakan kegiatan Workshop Seni Media. Tentang bagaimana membuat video dalam berbagai lingkup gagasan, medium, konten dan penyajiannya.

Tahun ini kegiatan diadakan di Bandung, Tangerang Selatan, Surabaya dan Bali. Kegiatan di Bali bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali (BBB) dan SEHATI Films pada 21 – 24 Maret 2019.

Kegiatan ini bertajuk “Sisi Bali”. Dia berfokus pada pembekalan dan praktik seputar Video Editing, Estetika Video Art, dan Kolaborasi Intermedia. Narasumbernya Bandu Darmawan (seniman visual dan video art), Dr. I Wayan Kun Adnyana (Kurator, Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar) dan Hanne Ara (sutradara, editor).

Hadir pula perupa Nyoman Erawan yang membagi pengalaman sebagai kreator. Erawan kerap kali mengaplikasikan seni multimedia atau video art dalam bidang seni rupa.

Seni media dapat diartikan sebagai gabungan dari seni visual dan teknologi atau sebuah karya seni berbasis teknologi digital. Namun, lokakarya kali ini bukan semata membahas pemanfaatan teknologi digital terkini. Ada pula pendalaman pengalaman sewaktu proses cipta. Juga bagaimana dalam video pendek, kuasa menampilkan keutuhan visual dan menyampaikan pesan pentingnya.

Adapun Workshop Seni Media untuk memfasilitasi dan mengapresiasi keberadaan dan kemandirian para komunitas, pelaku dan penggiat seni media. Kegiatan ini mewadahi kreativitas generasi milenial dan mengembangkan dunia seni media di tanah air.

Workshop ini diharapkan dapat mengakomodir dan mentransformasikan potensi dan minat publik pada seni media. Dia sekaligus menjadi media pengenalan pengetahuan dan praktik seni media di kalangan dunia pendidikan.

Rangkaian

Rangkaian workshop ini telah dimulai di Bandung pada 18-21 Maret 2019. Selanjutnya akan berlangsung di Tangerang Selatan (4-7 April 2019) dan Surabaya (23-26 April 2019).

Workshop melibatkan peserta dari kalangan praktisi, seniman, mahasiswa, guru, dan peminat seni media. Beberapa narasumber di kota-kota lain adalah Andang Iskandar, Helmi Hardian, Benny Wicaksono, Hilmi Fabeta, Banna Rush, Edi Bonetski, dan Popomangun.

Direktur Kesenian, Restu Gunawan menaruh perhatian khusus terhadap eksistensi seni media sebagai bentuk ekspresi seni masa depan. Menurutnya workshop seni media ini sejalan dengan agenda strategis pemerintah sebagai fasilitator pemajuan kebudayaan. Utamanya dalam hal meningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Restu mengatakan perlu upaya terus menerus untuk memberi ruang ekspresi dan ruang presentasi bagi para praktisi seni media. Hal ini diimbangi pula dengan menumbuhkan dan meningkatkan daya apresiasi masyarakat terhadap karya seni media dalam berbagai penciptaan.

Lokakarya video art kali ini akan mengetengahkan pembekalan teori, diskusi, praktik pengambilan gambar di sekitar lokasi, hingga penyuntingan video yang diakhiri evaluasi dan pemutaran video hasil peserta workshop.

Pada acara penutupan, video art karya peserta diputar secara khusus dan diselenggarakan secara terbuka untuk umum. Ada pula pertunjukan kolaborasi seni, sastra, teater, dan multimedia oleh sanggar/ komunitas setempat. Boleh dikata merupakan pra-acara menuju Festival Video Art 2019/2020 di BBB.

Perspektif Baru

Kepala Pengelola BBB, Warih Wisatsana mengatakan lokakarya ini untuk memperkenalkan ragam video art, kreativitas, dan kerja seni, berikut penggalian wacana dalam konteks lebih luas, internasional. Dengan demikian generasi muda bisa menemukan perspektif baru di tengah penggunaan video dan teknologi canggih. Tidak semata hanya untuk memuaskan gaya hidup dan hal-hal yang cenderung tidak kreatif.

Hal ini berangkat dari kesadaran bahwa media-media modern audio-visual, terlebih televisi, media online, cenderung lebih menyuguhkan realitas imajiner, dunia rekaan yang seakan-akan lebih nyata dari kenyataan yang sebenarnya. Tak heran, bila citraan-citraan semu ini ‘mencekam’ sebagian masyarakat dengan aneka peristiwa rekayasa yang manipulatif atau ‘hoax’, dipenuhi sosok-sosok ‘fiktif’ yang tiba-tiba menjadi figur-figur publik, serta hal-hal sebaliknya—di mana tokoh dan pelaku sesungguhnya malah terpinggirkan, tak memperoleh pemberitaan adil dan semestinya.

Editing dan framing atau pembingkaian yang (sengaja) tak akurat, membuahkan sederet gambar yang bersifat mimikri dan cenderung mengelabui, mungkin elok dan molek, tetapi sesungguhnya berlebihan. Giliran berikutnya, karena tampil berulang secara ritmis dan sugestif, gambar-gambar itu seolah menjelma mantra yang lambat laun ‘menyulap’ penonton— terutama pemirsa televisi, pengguna dunia maya dan gawai—dari sang subyek yang merdeka berubah menjadi obyek yang tersandera.

Tanpa kontrol publik, media-media tersebut seringkali terbawa hanyut ke dalam pusaran realitas virtual ciptaannya sendiri. Entah karena pertimbangan rating atau perolehan iklan, akhirnya tergelincir menjadi media partisan yang tak jelas juntrungannya.

Sebelumnya, Bentara Budaya Bali pernah menyelenggarakan Kelas Kreatif Bentara “Workshop Video Mapping” bersama Jonas Sestakresna dan Bimo Dwipoalam (26 November 2017), Kelas Kreatif Bentara “Workshop Video Pendek” bersama kreator Krisna Murti (8-9 Februari 2018), serta dilanjutkan “Workshop Video Art: Rancang Festival dan Komunitas” (11 Maret 2018).

Program-program kolaboratif dan lintas bidang ini, kata Warih, diharapkan dapat mendorong terjadinya perubahan sosial kultural masyarakat menuju kehidupan lebih terbuka. Program itu sekaligus menjadi sarana pergaulan sosial untuk membangun kolaborasi kreatif yang mengedepankan nilai-nilai toleransi, solidaritas, dan kemanusiaan melalui capaian karya seni unggul. [b]

The post Mengungkap Sisi Lain Bali lewat Seni Video appeared first on BaleBengong.