DUNIA BELUM BERAKHIR

Barangkali mengejutkan, tembang power pop “Dunia Belum Berakhir” oleh Shaden yang dirilis di tahun 2000 ini oh-ternyata punya peran lumayan signifikan di skena punk rock Bali Selatan, utamanya Twice Tape Shop (jalan raya Legian). Anak skena macam Superman Is Dead, Jihad (sebelum berubah nama ke The Dji Hard), Emocore Revolver, Commercial Suicide, dsb, mereka adalah saksi kunci.

The post DUNIA BELUM BERAKHIR appeared first on RUDOLF DETHU.

Continue ReadingDUNIA BELUM BERAKHIR

GELIAT MUSIK BALI: KECIL, KUAT, BERBAHAYA

Tanpa terasa, tiada dinyana, sebentar lagi kita bakal masuk ke tahun baru 2019. Jika seksama diperhatikan, di skena musik, ada fenomena menarik yang terjadi. Kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja yang tadinya seolah menggiring selera anak muda Nusantara, belakangan tampak berkurang. Terjadi pergeseran kekuatan. Metropolitan yang selama beberapa dasawarsa berposisi dominan kini pengaruhnya agak melemah. Bali, pulau kecil yang bersebelahan dengan Jawa, mulai angkat bicara. Makin banyak musisi-musisi asal Pulau Dewata yang wira-wiri di konser-konser kelas nasional, kian melimpah paguyuban-paguyuban artis dari Pulau Seribu Pura yang menjadi perbincangan hangat di kancah musik Nusantara. Jika ditarik sedikit ke belakang, pihak yang pantas “dituduh” paling bertanggung jawab menorehkan nama Bali ke peta musik nasional, tentu saja Superman Is Dead (SID). Bergabungnya trio punk rock ini dengan Sony Music Indonesia serta merilis album fenomenal Kuta Rock City membuat popularitasnya terdongkrak masif, menjangkau penjuru-penjuru Indonesia. Status cult mereka di jagat bawah tanah dalam jangka waktu cukup cepat berubah menjadi “artis nasional”, merangsek masuk ke pusaran arus utama.  Kiprah mencengangkan dari SID ini sontak menginspirasi dinamika kesenian setempat. Mendadak, kehidupan bermusik di Bali menjadi begitu bergairah. Bejibun artis-artis baru muncul. Seniman-seniman era lama juga ada beberapa yang mencoba peruntungannya, turut memeriahkan belantika Dewata. Dua nama yang paling menonjol di skala lokal kala itu adalah Navicula dan Lolot. Dalam skala lokal mereka tergolong veteran, telah bermusik sejak pertengahan ’90an, hampir sepantaran dengan SID, dan cukup disegani di daerah sendiri. Navicula mengikuti jejak SID lalu bekerja sama dengan Sony Music Indonesia, menjadi band kedua yang “go national” dalam makna sesungguhnya. Sementara Lolot—ia adalah pemain bas pertama SID, saat masih bernama Superman Silvergun—sukses besar menghentak atensi publik muda lokal. Ia menerbitkan album bergenre punk rock dengan menggunakan Bahasa Bali sebagai ujaran pengantar. Ini tergolong revolusioner bagi Bali. Belum pernah ada yang melakukannya sebelumnya. Sontak disambut gila-gilaan. Albumnya terjual hingga, kabarnya, 60 ribu kopi. Ditambah dengan jadwal manggung yang duhai padat.  Meledak-ledaknya kancah musik di Bali ini sayangnya tak dibarengi dengan mutu produk, pengalaman, serta kesiapan sumber daya manusia yang memadai. Memang berlimpah artis yang eksis namun kebanyakan memilih jalan generik dan memainkan musik yang mirip dengan SID yaitu melodic punk. Sementara itu, di daerah-daerah lain di Nusantara juga bejibun band-band yang mengusung melodic punk, dengan mutu yang relatif lebih baik. Pun jika bicara soal pemasaran dan sisi manajerial, rata-rata masih kebingungan, apa strategi terbaik dalam menarik perhatian publik nasional. Belum lagi, stok manajer atau orang yang mau menjadi manajer—posisi vital agar fondasi nge-band lebih kuat—sangatlah terbatas, bahkan hampir nihil.  Gejolak eksplosif ini berangsur meredup. Kerjasama Navicula dengan Sony Music Indonesia hanya menghasilkan letupan kecil, kurang signifikan. The Hydrant yang bergabung dengan EMI juga nasibnya segendang sepenarian. Lolot yang sempat meraih penghargaan di SCTV Music Award, sayup-sayup memudar. Ketiga “sinar harapan” Pulau Dewata tersebut bisa dibilang sekadar ribut sebentar lalu beringsut sirna. Navicula, The Hydrant, dan Lolot balik lagi jadi jago kandang. Berakhir hingga di situ saja? Syukurnya tidak. Mereka konsolidasi ke dalam, mempersiapkan amunisi yang lebih canggih, menambahkan pengalaman agar lebih kaya. Hanya SID yang justru makin jaya wijaya menaklukkan percaturan musik nasional. Sampai akhirnya sejak sekitar empat tahun lalu Bali […]

Continue ReadingGELIAT MUSIK BALI: KECIL, KUAT, BERBAHAYA

JRX Tak Harus Kere untuk Bersuara Melawan

Salam hohahohe, Mas Elki.. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih karena tulisan panjenengan telah menemani saya menyeruput kopi saset di trotoar pinggir jalan Legian, Kuta sembari menunggu tamu yang masih sarapan di restouran hotel. Tulisan panjenengan juga telah membuat saya, sebagai tamatan Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali (Unud) dan skrup […]

The post JRX Tak Harus Kere untuk Bersuara Melawan appeared first on BaleBengong.

Continue ReadingJRX Tak Harus Kere untuk Bersuara Melawan

UNITY FOR ACEH

UNITY FOR ACEH Rilis Pers Ketika terjadi bencana, kala korban beruntun berjatuhan, yang dibutuhkan adalah gerak cepat, segera mengulurkan tangan menolong, membantu yang kesusahan. Sekarang. Sekarang juga. Demikian latar belakang utama dari munculnya i...

Continue ReadingUNITY FOR ACEH