Tag Archives: SASTRA

‘Sadisme’ Juli Sastrawan dalam Lelaki Kantong Sperma

Sampul buku Lelaki Kantong Sperma karya Juli Sastrawan. Foto Widyartha Suryawan.

Seks barangkali hanya latar bagi menyuguhkan cerita sadistis.

Saya pertama kali bertemu Juli Sastrawan dalam suatu aksi Bali Tolak Reklamasi di Renon pada penghujung 2017. Namun, kami sudah berteman di media sosial sejak cukup lama.

Dalam perkenalan di dunia maya itu, saya mengenal Juli sebagai aktivis gerakan gemar membaca dan pendiri Literasi Anak Bangsa. Juli termasuk manusia langka di Bali. Dia begitu gigih menyebarkan virus-membaca-buku di tengah banjir bandang informasi di platform digital.

Dedikasi Juli terhadap dunia literasi tidak sekadar mengajak anak-anak untuk giat membaca. Dia juga menulis. Ia menulis esai dan karya fiksi.

Baru-baru ini, Juli meluncurkan buku kumpulan cerpen pertamanya yang bertajuk Lelaki Kantong Sperma. Meskipun awam terhadap karya sastra, dan tentunya saya bukan kritikus sastra, saya ingin mencoba mengulas buku yang merangkum sembilan cerpen tersebut. Anggaplah tulisan ini sebagai wujud apresiasi saya terhadap cerpen-cerpen Juli.


Antologi cerpen Lelaki Kantong Sperma dibuka dengan kisah Setia yang bermukim di Rumah Sakit Jiwa. Cerpen pertama ini berjudul Menggiring Belia. Setia, tokoh utama yang dulunya seorang guru PAUD itu, dijebloskan ke RSJ lantaran kepergok telanjang bulat di kamar mandi sekolah bersama muridnya yang mungil.

Setia berusaha menjelaskan bahwa dirinya hanya mengantar anak itu untuk buang air. Namun, tak satupun yang percaya.

Dalam cerpen ini, Juli tidak membiarkan Setia terpojok sebagaimana pandangan orang pada umumnya tentang orang gila. Juli seolah memberi ruang kepada narator untuk pembelaan diri Setia, si gila pedofilia: “…Ia ditafsir gila oleh banyak orang, tapi baginya, orang tersebutlah yang sebenarnya gila. … pada dasarnya memang semua orang di dunia ini gila, cuma yang membedakan hanyalah level gilanya. Ada yang gila ingin membela Tuhan… Ada yang gila membunuh keluarga dan saudara hanya karena warna bendera politik yang berbeda. Dan ada yang gila…”

Cerpen Menggiring Belia cukup berhasil menggiring pembaca untuk merasakan pergulatan batin Setia yang dituduh gila. Suatu hari di RSJ, Setia berencana kabur. Sebelum minggat secara diam-diam, Setia membayangkan dirinya bercinta dengan seorang gadis 13 tahun bernama Belia.

Gadis dengan mata berbinar itu juga penghuni RSJ yang sama dengan Setia. Belia menjalani perawatan karena mengalami rasa cemas dan ketakutan yang mendalam. Ia sempat diperkosa oleh 11 orang pemuda sepulang bermain dari rumah temannya.

Malam saat akan minggat, Setia berencana untuk merasakan tubuh Belia. Diam-diam, dia melangkah ke ruang tempat Belia biasanya berbaring. Tetapi, Juli sang pengarang tidak menampilkan apakah kemudian Setia benar-benar ‘menyetubuhi’ Belia atau tidak. Juli menampilkan bahasa yang agak samar saat kedua tokohnya itu berusaha kabur dari RSJ.

Memang, sebelum mengakhiri cerita ini, Juli menulis: “…Waktu hanya bisa menjawab, betapa ganasnya nafsu seseorang pria berumur tiga puluh tahun yang dianggap gila karena hasrat bercinta yang memuncak.”

Kalimat itu tak cukup untuk meyakinkan pembaca bahwa di luar RSJ Setia benar-benar akan menyetubuhi Belia. Seperti kata Barthes, pengarang telah mati! Bisa saja Setia menaruh cinta yang sesungguhnya, dengan segenap perasaan dan kasih sayang tulus tanpa pretensi nafsu birahi terhadap Belia. Sebab, ending cerpen ini cukup mencengangkan: Belia adalah anak Setia!

Cara Juli mengakhiri cerita dengan sesuatu yang mengejutkan seperti itu juga terasa dalam cerpen keempat berjudul Bipolar. Cerpen ini adalah kisah tentang karma. Ada sisi eksistensial dari seorang anak laki-laki keenam dari sebuah keluarga. Ia bernama Ewa, yang sejak lahir diperlakukan diskriminatif oleh ayahnya. Ayahnya menginginkan anak perempuan, tapi Tuhan memberikan kelamin laki-laki pada tubuh Ewa.

Karena tekanan batin dan terus diperlakukan tidak adil, suatu hari Ewa memilih untuk tinggal bersama laki-laki kenalannya bernama Endru. Keputusan itu diambilnya pada suatu malam saat Endru mabuk. Ia berterus terang menyayangi Ewa yang juga sesama lelaki.

Awalnya Ewa kaget dengan pengakuan Endru. Namun, setelah bercinta dan berhubungan badan dengan Endru, Ewa menjadi sosok yang masokhistis. Ewa mengaku telah mendapatkan kenyamanan yang tak pernah dia dapat di keluarganya. “…Aku lebih memilih tinggal bersama Endru, pria yang mencintaiku sebenar-benarnya dan senyata-nyatanya.”

Serupa Menggiring Belia, Juli mengakhiri Bipolar dengan cara yang nyaris sama: menyudahi cerita dengan hal tak terduga saat konflik sedang enak dinikmati oleh pembaca. Cerita ini berakhir ketika Ewa dikejutkan dengan kabar bahwa ayahnya telah ditahan di Polres. Ia ditangkap seusai kepergok melakukan pesta seks bersama 125 gay lainnya!

Selain itu, cerpen-cerpen Juli juga banyak yang berangkat dari persoalan keluarga para tokohnya yang broken home. Situasi tersebut kemudian menyebabkan guncangan psikologis, baik menyisakan trauma ataupun menjadikan tokohnya sebagai aktor penyimpangan seksual. Hal itu tercermin dalam beberapa cerpen seperti Lelaki Kantong Sperma, Bipolar, Di Ujung Percakapan Kontemporer, dan Parafilia.

Dugaan saya salah. Beberapa ulasan tentang buku ini menyimpulkan kentalnya muatan seksual.

Sebelum membaca antologi cerpen Lelaki Kantong Sperma, saya sempat membayangkan Juli akan membikin pembacanya berfantasi mengenai seks yang nikmat. Tetapi dugaan saya salah. Beberapa ulasan tentang buku ini menyimpulkan kentalnya muatan seksual. Mungkin bisa saja ya. Namun, saya cenderung beranggapan unsur sadisme lebih kuat dalam cerita-cerita Juli.

Seks barangkali hanya menjadi latar bagi Juli untuk menyuguhkan cerita yang sadistis. Saking menggebu-gebunya, beberapa cerpen Juli terkesan terlalu meluap-luap. Misalnya, saya menemukan kata ‘persetan’ dia sebut sebanyak tiga kali; yaitu dalam cerpen Menggiring Belia, Aurat Si Mayat, dan Bipolar. Demikian pula cara Juli menggambarkan kekerasan seksual yang terkesan sangat benderang dan vulgar.

Andai saja Juli membahasakannya dengan metafora atau diksi yang lebih halus, pembaca mungkin tidak akan merasa jijik sehabis melahap satu per satu cerpen dalam antologi ini.

Terlepas dari itu, kita patut bersyukur sebab Juli sudah berusaha membuat karya yang tidak sekadar meletup-letup. Pada cerpen Menggiring Belia dan Aurat Si Mayat, Juli menyebut istilah-istilah medis seperti valdimex diazepam dan nekropsi. Itu menunjukkan dia cukup serius menggarap cerita-ceritanya.

Sekali lagi, selamat untuk kawan saya, Juli Sastrawan! [b]

The post ‘Sadisme’ Juli Sastrawan dalam Lelaki Kantong Sperma appeared first on BaleBengong.

Prosa Liris ‘Bulan Sisi Kauh’ Raih Hadiah Rancagé 2018

Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Ajip Rosidi (kanan) didampingi istrinya, Nani Wijaya mengumumkan pemenang Hadiah Sastera Rancage 2018 di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, Rabu (31/1). Foto Adi Marsiela.

Buku sastra ‘Bulan Sisi Kauh’ memperoleh Hadiah Sastra Rancage 2018.

Satu-satunya penerbitan prosa liris dalam bahasa Bali ini terpilih dari enam judul buku sastra yang terbit pada tahun 2017. Penghargaan diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancagé, yang konsisten memberikan penghargaan pada pengarang yang menulis dalam bahasa ibu.

“Tidak banyak sastrawan Bali yang menulis prosa liris. Dalam 44 prosa liris, penulis mengantar pembaca masuk ke dalam hutan kata-kata yang menjadi jembatan menuju pencarian ke luar maupun ke dalam diri,” tutur Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancagé Ajip Rosidi di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, Rabu, 31 Januari 2018.

Prosa liris itu tampil dengan ekspresi bahasa Bali yang kuat, segar, dan orisinal. Begitu penilaian panitia atas karya pertama Nirguna, sapaan akrab I Gdé Agus Darma Putra.

Bagi pembaca filsafat Bali terkait tatwa dan tutur, Ajip mengungkapkan, bakal langsung merasakan prosa liris itu adalah usaha pengarang menginterpretasikan filsafat-filsafat tersebut dengan fenomena aktul dan nilai-nilai universal. Contohnya terlihat pada prosa liris bertajuk Bibi (ibu).

Wantah kenyung Bibik, sane dados ubad tiange
Titiang nyadia mangapayah
Getih titiang anggen ngwangsung sariran bibi.

(Hanya senyum ibu yang jadi obat bagiku
Aku bersedia menjadi pelayan
Darahku gunakan membasuh tubuh ibu)

Yayasan Kebudayaan Rancagé memandang kehidupan sastra Bali modern secara keseluruhan cukup dinamis. Salah satunya karena karya-karya itu hadir dalam rubrik berbahasa Bali di koran lokal setiap pekannya. Selain itu, sastra Bali modern juga muncul dalam media daring Suara Saking Bali.

Keberadaan grup diskusi lewat media sosial yang dikelola sanggar sastra Bali modern, Bangli Sastra Komala (Baskom) juga mendukung kehidupan sastra di Pulau Dewata. Grup diskusi ini sekarang memiliki 1.078 anggota dengan beragam latar belakang namun punya minat sama, sastra Bali modern.

Semaraknya apresiasi karya sastra Bali tidak lepas dari beragam kegiatan diskusi dan bedah buku yang pada tahun 2017 tercatat setidaknya ada tujuh kegiatan. Ajip juga mengapresiasi inisiatif kompetisi cipta sastra ‘Gerip Maurip’ atau Pena Hidup yang dirintis sastrawan muda I Made Sugianto.

Dari delapan kumpulan cerpen yang diterima panitia ‘Gerip Maurip’, ada dua yang terpilih dan diterbitkan oleh Penerbit Ekspres. Masing-masing, ‘Joged lan Bojog Lua Ane Setata Ngantiang Ulungan Bulan Rikala Bintang Makacakan di Langite’ (Penari Joged dan Monyet Betina yang Selalu Menanti Jatuhnya Bulan Ketika Bintang Bertebaran di Langit) karya Putu Supartika dan ‘Surat Uli Amsterdam’ (Surat dari Amsterdam) karya Ketut Sugiartha.

Buku Joged lan Bojog Lua memuat 16 cerpen yang semuanya berjudul kalimat lengkap. Supartika menghadirkan cita rasa baru dalam dunia cerpen Bali modern. Sebagian ceritanya menyajikan kritik sosial terhadap fenomena yang terjadi di Bali belakangan ini.

Tengok saja cerpen Saka Joged ane Malajah Apang Sekaane Setata Laku yang menyorot polemik joged porno yang sempat membuat gerah kalangan seni dan masyarakat umum karena merendahkan seni tari pergaulan di Bali. Kekuatan Supartika adalah kemampuannya mengolah konflik dan membangun kisahan yang berbingkai.

Sementara kumpulan cerpen karya Ketut Sugiartha menghadirkan berbagai kisah hidup manusia Bali di tengah arus modernisasi. Cerita yang dijadikan judul buku ini menggambarkan pergaulan bebas manusia Bali dalam pusaran pariwisata. Kisah asmara sesama jenis jadi inti kepercayaan manusia Bali pada ilmu hitam seperti terungkap dalam cerpen ‘Balian’ (Dukun). Tema dominan dalam antologi ini adalah persoalan manusia Bali modern yang tarik menarik dengan dunia tradisi.

Selain dua buku ini, panitia Rancagé juga menilai kumpulan cerpen ‘Cetik Dadong Tanggu’ (Racun Nenek Tanggu). Buku ini memuat empat karya Wayan Selat Wirata dan tiga karya siswa binaannya, serta sebuah cerpen dalam bahasa Indonesia.

Cerpen ini jadi usaha perlawanan pengarang terhadap kepercayaan berlebih masyarakat pada unsur-unsur black magic. Pengarang memberikan gambaran keyakinan berlebihan pada suatu hal justru berakibat ketersesatan paham. Ajip menilai rata-rata cerpen ini beralur linear dan terkesan terburu-buru menyelesaikan kisahan.

Antologi puisi Gebug Ende (Permainan Saling Pukul) karya penulis muda yang baru muncul, I Wayan Wikana hadir dengan gaya berpuisi sederhana. Kekuatannya adalah rima yang terjaga dengan baik.

Menurut Ajip, penulis menggiring pembacanya supaya sadar fenomena-fenomena sosial di sekitarnya. Wikana juga banyak menggugah kecintaan dan kerinduan pada tradisi di kalangan anak muda dalam sajak-sajaknya.

Terkait kumpulan puisi ‘Sangsiah Kehilangan Somah’ (Burung Sangsiah Kehilangan Isteri) karya I Gdé Nala, Ajip memaparkan, kekuatannya ada pada diksi yang apik dan jalin menjalin. Tidak ada tema pusat dalam karya ini karena dihadirkan semacam catatan perjalanan dalam bentuk puisi.

Meski mengandalkan irama dalam ekspresi, ungkap Ajip, sajak-sajak dalam antologi ini padat dengan catatan tentang perubahan sosial seperti dalam dunia pariwisata Bali. “Dari dunia penuh rezeki jadi dunia penuh dilema,” begitu Ajip memaparkan penilaiannya.

Selain karya sastra berbahasa Bali, panitia juga memberi hadiah pada lima pengarang lain yang menulis dalam bahasa Sunda, Jawa, Lampung, Batak, dan Banjarmasin. “Senang sekaligus sedih saat ada penerbitan dalam bahasa ibu. Senang karena ada yang baru menjadi buku, sedih karena bingung mempersiapkan hadiahnya,” kata Ajip.

Masing-masing pemenang mendapatkan hadiah berupa piagam dan uang sebesar Rp 5 juta. Hadiah uang itu berasal dari kantong Ajip sendiri meski kemudian diberikan melalui Yayasan Kebudayaan Rancagé. “Sampai sekarang tidak pernah mengerti dapat dari mana (sumbangan), tapi selalu ada,” kata Ajip yang berusia 80 tahun saat mengumumkan Hadiah Sastera Rancagé 2018 ini. [b]

The post Prosa Liris ‘Bulan Sisi Kauh’ Raih Hadiah Rancagé 2018 appeared first on BaleBengong.

Jalan Pulang Bernama Puisi – Pengantar “Catatan Pulang”

Menulis bagi saya sebuah terapi dan katarsis.

Terlebih setelah saya divonis mengidap skizofrenia pada usia 25 tahun, sesuatu yang membuat langit terasa runtuh dan memorak-porandakan mimpi serta harapan.

Saya menekuni puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya, komunitas seni di kota kelahiran saya, Negara. Di sana saya mengenal dunia sastra dan puisi menjadi oase yang menyejukkan serta mengisi dahaga batin dan pencarian saya akan makna hidup. Ada kegembiraan yang saya rasakan saat puisi-puisi saya dimuat di koran lokal. Saya makin bersemangat menulis dan mengirimkan karya ke media massa.

Kegemaran menulis puisi berlanjut saat saya pindah ke Denpasar melanjutkan studi di universitas, hingga musibah itu datang pada 2009; saya mengalami gangguan jiwa yang membuat saya tak bisa menyelesaikan studi dan kembali ke kampung halaman. Dalam masa penyembuhan, puisilah tempat saya berekspresi dan mengeluarkan semua beban yang mengganjal.

Puisi menjadi tempat pulang, tempat saya menemukan rumah yang sebenarnya. Saya mendapat kekuatan dan optimisme melalui jalan sunyi puisi.

Pada 2014 saya memberanikan diri untuk keluar dari kampung halaman dan bekerja. Ternyata tidak mudah, saya mengalami pergulatan hebat tetapi saya tak menyerah pada keadaan dan penyakit yang saya derita. Menjadi jurnalis adalah pilihan saya setelah beberapa kali mencoba berbagai pekerjaan. Di sela-sela rutinitas saya tetap menulis puisi dan merambah pada esai seni budaya yang dimuat di beberapa media cetak dan online.

Impian menerbitkan buku puisi tercapai berkat dukungan Komunitas Peduli Szikofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Rumah Berdaya Denpasar, tempat saya bergiat beberapa tahun terakhir. Maka lahirlah buku puisi “Catatan Pulang”, di mana judul diambil dari salah satu sajak dalam buku tersebut.

Sebanyak 67 sajak terhampar dalam buku kumpulan puisi pertama saya ini yang ditulis dalam kurun waktu 16 tahun, 2001 hingga 2017 dan menjadi “cacatan” atas berbagai hal yang saya alami dan rasakan; tentang cinta, perjuangan menghadapi skizofrenia, kerinduan dan pencarian makna hidup. Saya berharap buku ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja, terutama bagi teman-teman ODS (Orang Dengan Skizofrenia) yang sedang berjuang menghadapi penyakit dan juga stigma.

Peluncuran buku puisi “Catatan Pulang” akan digelar pada Sabtu, 20 Januari 2018 bertempat di Rumah Berdaya Denpasar, Jalan Hayam Wuruk 179 Denpasar. Acara akan diisi dengan tour galeri seni Rumah Berdaya, pemutaran film dan ngobrol sore bersama Abu Bakar (Aktor/sutradara teater) dan Nanoq da Kansas (Penyair, aktivis seni) serta pembacaan puisi.

Kehadiran kerabat dan sahabat pencinta sastra akan sangat berarti bagi saya. Terima Kasih. [b]

The post Jalan Pulang Bernama Puisi – Pengantar “Catatan Pulang” appeared first on BaleBengong.

Seleksi Penulis UWRF 2018 Telah Dibuka!

Jadilah satu dari 15 penulis muda di UWRF 2018 mendatang.

Yayasan Mudra Swari Saraswati, lembaga nirlaba yang menaungi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), dengan bangga mengumumkan bahwa Seleksi Penulis Emerging Indonesia untuk UWRF 2018 kembali dibuka. Seleksi ini adalah sebuah program festival yang diadakan untuk menemukan calon-calon bintang sastra Indonesia.

Dari seleksi ini, UWRF akan memilih 15 Penulis Emerging Indonesia yang kehadiran serta partisipasinya di Festival akan didanai sepenuhnya oleh UWRF. Pemilihan akan didasari pada sejumlah kriteria, termasuk kualitas karya, prestasi, dan konsistensi dalam berkarya, serta dedikasi pada pengembangan kesusastraan Indonesia.

Seleksi akan dilakukan oleh tim UWRF dan Dewan Kurator yang beranggotakan penulis-penulis senior Indonesia. Nama-nama anggota Dewan Kurator akan dirahasiakan hingga pengumuman pemenang.

Seleksi yang ditujukan khusus untuk penulis berkewarganegaraan ini memiliki syarat dan ketentuan sebagai berikut:

  • Penulis adalah warga negara Indonesia.
  • Tidak ada batasan umur untuk mengikuti seleksi ini.
  • Menulis karya sastra, baik berupa puisi, prosa (cerpen, novel atau novelet), naskah drama maupun karya non-fiksi.
  • Karya dapat berupa buku dan kumpulan naskah yang belum ataupun sudah pernah diterbitkan di media massa.
  • Penulis yang sudah menerbitkan buku dapat mengirimkan beberapa buku karyanya.
  • Bagi penulis yang belum menerbitkan buku dapat mengirimkan 30 karya puisi terbaik atau 8 karya cerpen terbaik, atau 5 karya essai, atau 3 naskah drama.
  • Koresponden dan pengumuman seleksi akan dilakukan melalui email.
  • Penulis yang mengikuti seleksi wajib mengisi formulir online di www.ubudwritersfestival.com.

Batas akhir untuk pengiriman karya jatuh pada 8 Februari 2018. 15 pemenang terpilih akan diumumkan pada akhir Mei 2018.

Sebanyak 15 penulis yang terpilih akan diterbangkan dari kota asal masing-masing ke Ubud, Bali untuk mengikuti UWRF 2018 pada 24-28 Oktober 2018 sebagai pembicara dan berpartisipasi dalam kegiatan festival yang meliputi; panel diskusi, pembacaan karya, workshop, peluncuran buku, pementasan, serta beberapa acara Satellite yang diadakan di beberapa kota di Indonesia.

Karya-karya terpilih mereka juga akan diterbitkan dalam buku bilingual Antologi 2018 dan diluncurkan di UWRF 2018. Seluruh biaya penerbangan dan akomodasi pemenang selama di Ubud akan ditanggung oleh Emerging Writers Patron, yaitu program pendanaan khusus bagi para pemenang terpilih.

Sejak diadakan untuk pertama kalinya pada tahun 2008, Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini sukses memperkenalkan penulis-penulis Indonesia ke dalam kancah internasional. Beberapa alumni Seleksi Penulis Emerging Indonesia adalah Aan Mansyur (2009), Kurnia Effendi (2010), Avianti Armand (2011), Sunlie Thomas Alexander (2012), Mario F. Lawi (2013), Faisal Oddang (2014), Norman Erik Pasaribu (2015), Rio Johan (2015), Ni Made Purnamasari (2016), Joseph Rio Haminoto (2016), dan Azri Zakkiyah (2016).

Emerging adalah istilah yang digunakan oleh UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas namun belum memperoleh publikasi yang memadai. Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini adalah bagian dari komitmen Yayasan Mudra Swari Saraswati untuk mendukung kehidupan masyarakat Indonesia melalui program-program seni dan budaya. Selain itu, tujuan diselenggarakannya program ini adalah untuk menemukan bakat-bakat sastra dari pelosok nusantara Indonesia. [b]

The post Seleksi Penulis UWRF 2018 Telah Dibuka! appeared first on BaleBengong.

Dicky Senda dan Tanggung Jawab Sosial Orang Mollo

Dunia sihir Mollo dari Dicky Senda di UWRF 2017

Gempita Ubud Writers and Readers Festival 2017 telah berakhir pada penghujung bulan Oktober lalu, akan tetapi kesan dan pesan dari setiap momen yang dilewati masih tersisa hingga kini.

Salah satu yang cukup menarik perhatian khalayak ramai adalah kehadiran salah satu orang muda dari pedalaman Mollo, Timor Tengah Selatan pada festival penulis dan pembaca terbesar di Asia Tenggara itu.

Christian Dicky Senda atau biasa disapa dengan Dicky, lahir pada tahun 1986 di Mollo Utara, salah satu kecamatan yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Ia seorang penikmat sastra, film, dan kuliner.

Dicky telah menerbitkan beberapa buku, di antaranya puisi Cerah Hati (2011), kumpulan cerpen Kanuku Leon (2013) dan Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi (2015). Dicky pernah hadir dan memperkenalkan karyanya di Makassar International Writers Festival (2013), Temu I Sastrawan NTT (2013), Asean Literary Festival (2014 dan 2016), Temu II Sastrawan NTT (2015), Festival Sastra Santarang (2015), Bienal Sastra Salihara (2015) dan Literature & Ideas Festival Salihara (2017). Pernah mengikuti program residensi seni dan lingkungan di Bumi Pemuda Rahayu Jogjakarta (2015) dan Asean-Japan Residency Program (2016).

Dicky cukup aktif bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Solidaritas Giovanni Paolo dan Forum SoE Peduli. Dicky kini menggagas kewirausahaan sosial bernama Lakoat Kujawas, sebuah proyek integrasi komunitas kesenian, perpustakaan, ruang kerja, dan homestay di desa Taiftob.

Hadir pada UWRF kali ini, Dicky mengisi empat program menarik di antaranya; Preserving Culture untuk memperkenalkan budaya dan tradisi orang Mollo bersama empat pembicara lainnya di Taman Baca, Ubud. Mempresentasikan Lakoat Kujawas pada Festival Club @Bar Luna. Mendemonstrasikan kemampuannya memasak aneka masakan khas Timor pada program The Kitchen-Food Memories from The Heart of Timor di Toko Toko.

Selain itu, Dicky meluncurkan buku kumpulan cerpen ketiganya berjudul “SAI RAI” di Sri Ratih Cottage pada tanggal 28 Oktober 2017 lalu. Peluncuran ini dihadiri oleh banyak pengunjung, baik itu penulis, pembaca maupun juga mereka yang terlanjur penasaran dengan isi buku yang mengangkat fiksi penyihir Mollo ini.

 

Dicky Senda pada program The Kitchen-Food Memories from The Heart of Timor di Toko Toko.

Sai Rai merupakan kumpulan 19 cerita pendek, berkisah tentang dunia sihir orang Mollo yang selama ini mendapat stigma. Sesungguhnya, orang-orang yang disebut penyihir atau Suanggi dalam bahasa setempat adalah orang-orang yang sama seperti masyarakat kebanyakan (di Bali terkenal sebutan “Leak”). Mereka hanya kebetulan memiliki kemampuan tertentu yang membuat mereka terlihat berbeda. Menurutnya ini harus diangkat dan menjadi bahan untuk didiskusikan terutama kaum muda yang selama ini telah hanyut dalam pemahaman keliru.

Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur pada umumnya, Suanggi adalah orang-orang yang selalu memberikan energi negatif, mereka pasti orang yang membunuh dan hal buruk lain disematkan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Dicky menemukan bahwa di Mollo ada jenis-jenis penyihir adalah orang-orang baik. Mereka menolong dan menyelamatkan manusia, seperti dukun. Terkadang mereka juga meramalkan nasib kehidupan, baik itu kehidupan manusia maupun juga lingkungan sekitar. Mereka hadir sebagai pengantara spiritual yang menjaga keseimbangan alam dan manusia.

Alex Jebadu dalam bukunya berjudul Bukan Berhala menuliskan, pengantara spiritual berperan sebagai penyembuh ulung dan peramal yang sanggup melihat apa yang terjadi di masa datang dan membaca titipan pesan dari dunia seberang, menyingkapkan pengetahuan mulia dengan kekuatan gaib. Ia juga berperan sebagai pelindung bagi semua anggota masyarakat yang datang kepadanya. Ia merupakan semacam roh pelindung karena ia diyakini berada dalam persekutuan dengan roh-roh dunia. Ia dipandang sebagai yang Ilahi dalam rupa manusia.

Raja-raja dan kaisar-kaisar diyakini sebagai dewa-dewi dalam rupa manusia-mahluk adikodrati. Mereka merupakan pengantara rakyat dengan dunia roh-roh. Dan peran ini telah ada jauh lebih dahulu dari pahlawan yang mengandalkan kekuatan fisik atau pemerintah politis. Praktik keagamaan ini masih terpelihara bentuk aslinya di dalam sejumlah masyarakat tradisional Afrika dan Melanesia. Pengantar spiritual dianggap sebagai mahluk transenden yang mulia, sebuah saluran komunikasi bagi para dewa dan roh-roh untuk berkomunikasi dengan manusia.

Setelah kaum misionaris Katolik masuk dan Kristenisasi terjadi di daratan Pulau Timor, orang-orang yang dipercaya sebagai pengantara spiritual ini justru dipandang sebagai orang yang buruk, yang tidak menjalankan hidup sesuai dengan perintah dan menjauhi larangan Tuhan seperti yang dituliskan di dalam kitab suci.

Belum lagi, isu politik yang berkembang dan mengharuskan warga  Indonesia memeluk salah satu agama yang diakui Negara. Sehingga mau tidak mau, pilihan terbaik untuk bertahan hidup adalah meninggalkan semuanya atau siap dibumihanguskan.

Dicky meyakini bahwa kehadiran para penyihir (Suanggi) atau pengantara spiritual ini telah membuat suatu komunitas/kebudayaan berjalan dengan sangat harmonis. Ia menyebut saat ini adalah sebaliknya, kita malah semakin meninggalkan hal tersebut. Kita berjalan sangat mundur dan dengan bangganya kita mengklaim diri bahwa kita adalah manusia-manusia modern.

Manusia modern sesungguhnya adalah mereka yang selalu memikirkan tentang keberlangsungan alam semesta ini. Menyiapkan tempat yang layak untuk dihuni anak cucu, generasi kita berpuluh-puluh tahun mendatang.

Bagi Dicky, penting untuk menulis hal tersebut dan diketahui banyak orang. Oleh karena itu, sebagai anak muda Mollo, ia merasa memiliki tanggung jawab sosial untuk mengembalikan semua pada tempat yang seharusnya.

“Jangan sampai kita terpengaruh oleh stigma yang telah dibentuk oleh kelompok tertentu dan meninggalkan semuanya karena merasa itu adalah pilihan terbaik. Kita akan sangat rugi besar,” Ungkap Dicky

Mengapa orang Mollo sangat hebat dengan dongeng atau cerita-cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat? Karena kecintaan dan keterikatan mereka kepada alam yang begitu kuat. Hal-hal seperti itu yang sudah mulai dilupakan oleh generasi-generasi yang akan melanjutkan kehidupan orang Mollo, mungkin juga ini terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia termasuk di Nusa Tenggara Timur.

Hutan Fatumnasi di Kaki Gunung Mutis. Dok. Herworld

Berbicara tentang kekuatan orang Mollo akan dongeng yang tersebar di antara masyarakat, tidak terlepas dari mitos. Seorang pemikir strukturalis berkebangsaan Perancis, Roland Barthes yang getol mempraktikan model linguistic dan semiology Saussurean mengungkapkan Mitos lahir dari pengalaman kultural dan personal seseorang yang dibentuk sebagai makna konotasi yang kemudian berkembang kembali menjadi makna denotasi atau makna sebenarnya/harfiah.

Salah satu yang bisa menjadi gambaran atau contoh, masih diambil dari salah satu cerpen Dicky Senda berjudul “Kanuku Leon.” Ada sebuah kalimat yang berbunyi; Kenyataan tentang sebuah gunung purba di Timor yang konon menjadi tempat bersemadi seorang raja bernama Fatuneno yang sering berganti rupa menjadi manusia dan seekor ayam jantan sakti. Karena kesaktiannya, ia mampu menikahi matahari dan lahirlah anak-anak dari matahari; si sulung Penguasa Negeri Timur, berikutnya Penguasa Mataair, dan si bungsu Penguasa Gunung Emas. Dengan persetujuan raja langit, raja bumi dan segenap alam semesta, mereka bertiga tumbuh menjadi tiga lelaki berjiwa ksatria.

Secara denotasi, kalimat tersebut hanya menceritakan tentang sebuah gunung purba, seorang Raja yang bisa berganti rupa menjadi manusia dan seekor ayam jantan dan Sang Raja yang menikahi Matahari. Akan tetapi seturut makna konotasi, bagi orang Mollo, Gunung merupakan simbol tempat berlindung bagi masyarakat zaman purba. Tempat di mana sumber rasa aman dan kekuatan. Raja Fatuneno melambangkan seorang pencipta yang mahakuasa dan pemurah serta dapat menjelma dalam banyak rupa, mampu mengendalikan matahari dan alam semesta. Demikianlah mitos berkembang dalam bentuk dongeng di tengah kehidupan masyarakat Mollo, menjadi sebuah kontrol sosial yang mendatangkan keseimbangan dalam keberlangsungan hidup manusia dan alam semesta secara turun temurun.

Orang-orang Mollo. Dok. Dicky Senda

Dicky berharap, cerita-cerita yang telah ia tulis mendapat tempat di hati dan pikiran para generasi muda, khususnya di NTT. Agar isu-isu seperti ini menjadi akrab di telinga dan masuk ke dalam ruang-ruang diskusi sehingga suatu waktu dapat menjadi pertimbangan oleh pihak tertentu, seperti pemerintah dalam menentukan kebijakan yang mendukung kehidupan masyarakat NTT itu sendiri.

Tentu saja setiap orang bisa memakai caranya untuk kembali ke lingkungan mereka, ke kampung halaman masing-masing. Dicky telah membukanya dengan jalan sastra, teman-teman seniman yang lain atau akademisi mungkin bisa melakukannya dengan caranya sendiri.

Sebuah pesan yang ingin Dicky sampaikan bahwa, “penting bagi orang muda di Indonesia dan NTT khususnya untuk mulai sadar dengan situasi lingkungan di sekelilingnya. Kesadaran tentang, “siapa saya?”

Dalam hal ini, kita berbicara tentang identitas. Roh kita, ke mana saja kita pergi, identitas itu harus selalu dibawa. Sebagai anak muda NTT, kita tidak seharusnya malu dengan kebudayaan kita sendiri.

Pada akhirnya, SAI RAI adalah tentang bagaimana kita memilih jalan pulang untuk kembali ke dalam pelukan ibu semesta. Menemukan siapa kita sesungguhnya dan memaknai itu di sepanjang hidup kita. Sudahkah kamu membacanya?

 

The post Dicky Senda dan Tanggung Jawab Sosial Orang Mollo appeared first on BaleBengong.