Tag Archives: Press Release

Hari AIDS Sedunia, KISARA Sukses Gelar Peringatan WAD 2018

Hari AIDS Sedunia atau World AIDS Day (WAD) diperingati pada tanggal 1 Desember setiap tahunnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, KISARA selalu mengadakan peringatan Hari AIDS Sedunia. Peringatan kali ini diadakan di Podium Bebas Bicara Renon (02/12). Kegiatan ini mengambil tema “We Care To Be Health” dan bertujuan untuk mengajak orang lain untuk peduli kesehatan dan mengurangi...

LEANNA RACHEL: COFFEE

Rilis Pers

LEANNA RACHEL: COFFEE

Nestapa namun nrimo.

Demikian pemaparan ringkas-padat paling pas untuk menggambarkan “Coffee”.

Tembang terbaru milik biduanita jelita asal Los Angeles, Leanna Rachel, ini berkisah soal hubungan asmara yang awalnya mesra berseri-seri tapi ternyata berujung pada patah hati. Segala kenangan manis yang dijalani bersama-sama mesti dilupakan, ditinggalkan sepenuhnya. Hati harus dikuatkan. Menjalani kehidupan sendiri menjadi pilihan.

“Coffee” yang begitu saja tercipta di sepucuk hari kala Leanna tertimpa gelisah, paradoksal senang-sedih, kontradiktif pasif-agresif, mencoba meyakinkan kita bahwa perasaan duka tak mesti terus diratapi. Bahwa duka seyogianya dirangkul, dipeluk saja, terbuka diterima.

Selain mengandung pesan positif—hidup tawakal dijalani, badai pasti berlalu—lagu setengah riang ini juga menjadi semacam pertanda bahwa Leanna serius mengakrabi Indonesia, Sabang-Merauke adalah rumahnya kini. Tahun lalu, 2016, misalnya, merupakan masa paling lama perempuan blasteran Amerika-Filipina ini tinggal di Indonesia. Lebih dari 1 tahun tanpa jeda. Di “Coffee” pula Leanna mulai memasukkan secuplik lirik berbahasa Indonesia.

“Saya senang mendengar ketika orang berbicara dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja saya girang saat menyanyi dalam Bahasa Indonesia. Bagi saya, semua pengalaman itu terasa alami dan cair.”

“Saya masih belajar agar bisa lebih lancar, makanya saya hanya memasukkan satu verse saja sebagai permulaan,” ujar Leanna semringah.

Pun “Coffee” menegaskan pekatnya “Selera Nusantara” di diri Leanna sebab seluruhnya direkam di Bali serta para partisipan adalah musisi anak negeri yaitu Noriz Kiki (drum) serta Edi Pande Kurniawan (bas) dengan melibatkan produser sakti mandraguna Dadang Pranoto.

Mari teguk kopi dan sambut hari baru sendiri, mandiri!

__________

https://leannarachel.bandcamp.com/track/coffee
Lagu dan Lirik: Leanna Rachel & Rudolf Dethu
Produser: Dadang Pranoto
Mixing and mastering by: Trigan Young
Studio: Seminyak Pro Studio

KITA KINTAMANI: ACARA AMAL BAGI KORBAN LONGSOR KINTAMANI

Press Release

KITA KINTAMANI: Acara Amal bagi Korban Longsor Kintamani

Pemerintah negara Indonesia beserta gurita jajaran birokrasi di bawahnya merupakan salah satu institusi yang paling tidak becus dalam menangani bencana. Baik pra, di Hari H, serta pasca.

Apa pun jenis bencananya, tak pernah pemerintah benar-benar mampu menanggulanginya secara baik. Hampir selalu sifatnya reaksioner. Begitu bencana terjadi langsung kalang kabut mengambil tindakan. Segala cara dilakukan. Sebagian sukses, sebagian kurang efektif. Tapi yang paling sering terjadi: bantuan melimpah namun jenis bantuannya kurang tepat. Akhirnya hanya terbuang percuma, menumpuk membusuk.

Dan kala bencana yang sama datang, seharusnya bisa dicegah adanya korban yang jatuh serta segala gerak cepat yang efisien-efektif. Atau akan lebih baik jika bencana tersebut bisa dicegah sama sekali karena manuver preventif yang kompak dan menyeluruh.

Kita, rakyat biasa, seyogianya jangan terpengaruh menjadi gamang seperti pemerintah. Kita tetap mesti lugas pro-aktif menolong sesama. Dengan terukur dan terstruktur.

Setelah sebelumnya kami bergotong royong membantu korban bencana Aceh—berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp40 juta lebih—maka kali ini kami tergerak lagi untuk kembali bergerak membantu sesama. Tragedi tanah longsor di Kintamani, kabupaten Bangli, Bali; yang menimpa lima desa—Songan, Batur Selatan, Sukawana, Awan, dan Subaya—yang menewaskan hingga 13 orang pada 10-11 Februari 2017 silam menjadi fokus kami kali ini.

Strategi kami mirip dengan apa yang telah kami lakukan sebelumnya: menyelenggarakan acara amal dengan menggunakan musik sebagai media penegas pesan. Hasil sumbangan nanti sepenuhnya bakal digunakan untuk membantu pembangunan rumah bagi para korban yang tertimpa musibah.

Besok, Jumat, 24 Februari kami akan menyelenggarakan KITA KINTAMANI di Rumah Sanur – Creative Hub dengan menampilkan mulai dari grup-grup kebanggaan Pulau Dewata macam Devildice feat. Lolot, The Hydrant, The Crotochip, hingga si cantik bersuara sendu-menghipnotis dari Los Angeles, Leanna Rachel. Selain itu bakal ada juga lelang barang-barang seni milik seniman-seniman berbakat lokal seperti Apel, Bayak, Aswino Aji, dsb.

Untuk turut berpartisipas di acara ini anda diharapkan membeli tiket seharga Rp50 ribu di hari penyelenggaraan di pintu masuk.

Sampai jumpa besok. Kita semua cinta Kintamani!

• Narahubung: Rudolf Dethu 08111882502

PRISON OF BLUES: GRAVEYARD PARTY


Kian horor dan lebih eksplor. Garang, lugas, menderu-deru, rock-n-roll kotor.

Demikian deskripsi Graveyard Party dalam 2 kalimat ringkas-padat. Album kedua Prison of Blues setelah EP Trick or Threat ini bertaburkan 12 tembang khas psychobilly, 10 bersyair Bahasa Inggris, sisanya Bahasa Indonesia. Pula band asal Temanggung ini mengajak 3 penyanyi tamu: 2 WNA, 1 WNI.

Memilih “Horrible Dorms” sebagai single pertama, kuartet ini masih asik bermain-main di sekitar kuburan, peti jenazah, makam, dan gagak hitam, banyak kisah mencekam berjejer mengitari Graveyard Party.

Sebut saja Daniel Deleon, misalnya. Biduan Rezurex asal Los Angeles ini bisa dibilang punya peran “mengerikan” untuk lahirnya album ini. Sahabat pena Bowo, biduan Prison of Blues, tersebutlah yang mengusulkan pertama kali untuk duet bareng. Sepucuk tawaran yang sulit ditolak. Bowo mengiyakan seraya terinspirasi untuk melakukan hal senada−selain terdorong untuk kenapa tidak sekalian saja menerbitkan album penuh perdana. Temanggung Danse Macabre ini lalu mengajak tokoh kawakan kancah psychobilly, Titch, untuk berkolaborasi. Ternyata vokalis Klingonz itu menyambar dengan cepat, menyambut hangat.

Agar lebih durjana digamit juga Ika Zidane. Perempuan pendekar punk rock dari Havinhell ini dianggap klop sebagai pasangan berdendang. “Karakter vokalnya pas untuk lagu Killer Illusion,” terang Bowo.

Pengerjaan album yang sebagian besar dikerjakan di Blast Off Studio, Temanggung, ini termasuk lama, lebih dari setahun. Ada beberapa faktor penyebab. Sang pembetot contrabass tinggal di Jakarta. Lokasi yang berjauhan ini membuat susah untuk berkoordinasi sehingga cukup banyak makan waktu. Ditimpali dengan belasan kali retake vokal, drum, organ, gitar; yang membuat peluncurannya molor terus.

Bowo, penanggung jawab departemen senandung serta penulis sebagian besar lirik dan musik, mengakui proses penyelesaian yang berlarut-larut. “Kepulangan kami dari konser di Inggris tambah membuka mata kami soal kompetisi yang ketat. Tidak bisa lagi kami asal-asalan dalam bermusik. Saingannya gila-gila. Makanya kami kali ini jauh lebih teliti dalam pengerjaan album. Maunya biar benar-benar maksimal hasilnya. Harus berkelas. Nah, setelah kami merasa puas baru deh album dirilis.”

Berdiri sejak 2007, Prison of Blues menjadi satu dari sedikit pemain lama di kancah psychobilly. Mereka termasuk pionir di skenanya, merupakan grup psychobilly yang kedua terbentuk−setelah Suicidal Sinatra. Penampilan mereka di festival Bedlam Breakout di Northampton, sejam dari kota London jika naik kereta api, menjadi sejarah tersendiri sebagai band psychobilly Indonesia−atau malah di Asia−pertama yang tampil di festival psychobilly terkemuka di manca negara. Personel termutakhir Prison of Blues adalah Bowo Prisoner (vokal, gitar), Nho Heart (gitar utama), Aldino (contrabass), dan Joe Hard (drum).

Y’all ghoul greasers! Pack up your coffins, let’s go to the graveyard and psycho-wrecking party!

Susunan lagu Graveyard Party:
01. Straight From Hell
02. City Of The Dead feat. Daniel Deleon
03. Mimpi Buruk
04. Graveyard Party
05. Strangers
06. Sindrom Likantrof
07. Black Xmas
08. Horrible Dorms feat. Titch
09. Killer Illusion feat. Ika Zidane
10. Schizophrenic Doctor
11. Psychoprisonphobia
12. Who Killed Your Friends

Studio: Blast Off Studio Recording
Mixing & Mastering: Ardi
Label: Zombie Attacks Records

Videoklip “Horrible Dorms” adalah sekaligus single pertama dari album penuh perdana milik Prison of Blues, Graveyard Party. Di video tersebut tampak juga Titch, biduan dari grup veteran psychobilly asal Inggris, Klingonz.

Memang, konsep lagu “Horrible Dorms” adalah Bowo berduet dengan penyanyi tamu. Di Graveyard Party sendiri ada 2 lagi lagu lain dengan konsep serupa.

Video oleh grup asal Temanggung bentukan 2007 ini seluruhnya mengambil lokasi di Inggris tepatnya London dan Northampton—sejam berkereta dari London. Syuting dilaksanakan ketika mereka menghadiri festival psychobilly Bedlam Breakout di Northampton.

Gambar hidup yang disutradarai oleh videografer kepercayaan SID dan Navicula, Erick EST, ini resmi tayang pertama kali hari Sabtu silam, 7 Januari 2017, berbarengan dengan pesta peluncuran Graveyard Party yang diadakan di Temanggung.

Titik Normal: Menggugat Status Quo

TitikNormal-mnpg

Titik Normal adalah trio musisi yang justru ajaib, band yang tak pantas dicap normal.

Bayangkan, personelnya satu bermukim di Sydney, Australia, dua sisanya di Jawa. Genrenya jauh dari pop—definisi umum untuk “normal”. Ditambah kemampuan bermusik masing-masing personel yang bukan biasa-biasa saja, di atas rata-rata. Barangkali yang masih bisa disebut “normal” adalah prilaku dari tiap anggotanya yang hangat, rendah hati, bak saat bersua dengan kawan lama saja.

Tapi memang, Titik Normal maksudnya bukan mendeskripsikan tentang sesuatu yang normal. Malah mempertanyakan keabsahan dari standar normal. “Abnormal or unusual for many but for a few people it’s a normal thing. Titik Normal is in fact questioning the normal,” jelas Haniel Ko, pendiri Titik Normal.

Selain Haniel, grup yang baru resmi berdiri di awal tahun 2016 ini beranggotakan Arief Ramadhan serta Uziel Jayadi. Haniel (bas) sendiri sempat berkiprah di grup alternative rock Nutrix saat ia berkuliah di Universitas Udayana, Denpasar – Bali, mengisi bas di album kompilasi 1000 Gitar untuk Anak Indonesia keluaran majalah Rolling Stone Indonesia, membantu Baron di album Baron Soulmate, menjajal beragam klub musik di Sydney, Australia. Sementara Arif Ramadhan (gitar) merupakan personel grup musik metal Tumenggung, dan terlibat dalam konser monumental Duel Rock 2015 (Gribs vs Sangkakala). Sedangkan Uziel Jayadi (drum) adalah sosok lumayan beken lewat keterlibatannya di unit heavy metal veteran, Down For Life.

Tiga sekawan yang bersikeras menempuh jalur indie serta menolak terpaku pada satu jenis musik dan lebih doyan mencampur aduk metal, pop, groove rock, industrial, ini bakal unjuk kebolehan di panggung Festival Mata Air.

Jika anda termasuk orang yang gerah dikatai normal alias ogah disebut membosankan dan menolak status quo, sudah saatnya membuka pikiran serta segera memberi ruang di hati anda kepada Titik Normal.

Screw the norms!

________________

Rilis pers ini saya tulis di sekitar pertengahan Februari 2016, beberapa hari sebelum Festival Mata Air 2016 dimulai.