Tag Archives: Nusa Tenggara Timur

Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. III. habis]





Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Ende. Dok. Pribadi

*Catatan cukup penting: Jika tampilan gambar di artikel ini kurang jelas, silakan klik dua kali.

Akhir tahun ini, saya menghabiskan waktu di Ibu Kota, Jakarta. Sebut saja, ini perjalanan menguji kemampuan diri, menakar kualitas, baik secara akademis maupun juga sebagai manusia yang tak pernah luput dari kekurangan.

Saya bertemu banyak orang, yang entah mengapa, mereka adalah orang-orang baik dan memberi kesan dengan caranya masing-masing.

Perjalanan ini berawal dari sebuah antusiasme yang percayalah, saya sendiri tidak tahu datang dari mana sebenarnya.

Pagi itu, saya sedang bermalas-malasan di kasur kos Nana Haibara sebab tak punya kesibukan apa pun. Pengangguran total. Mengecek beberapa notifikasi di Grup What’s App, saya akhirnya menemukan pengumuman Tes CPNS pada beberapa Kementrian di Republik Indonesia tercinta ini dari Grup Bali Blogger Community. Pengumuman itu dibagikan oleh seorang teman Blog yang cukup tersohor di kancah nasional, maka saya pastikan bukan hoax.

Ada pada daftar teratas, lowongan CPNS dari Kementrian BUMN. Saya iseng membuka dan menelusuri kebutuhan formasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, Sarjana Ilmu Komunikasi. Mereka membutuhkan (3) Tiga Analis Publikasi. Cukup menyesakkan tetapi kesempatan ini perlu dicoba. 

Alasan lain, yang membuat saya akhirnya memutuskan mengikuti seluruh proses tes cpns ini, selain untuk mencoba peruntungan dan menakar diri seperti yang saya sebutkan di paragraf awal, saya percaya sistem perekrutan CPNS di rezim ini, tak lagi dibumbui hal-hal berbau Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme sebagaimana di tahun-tahun lawas. Ketika, tidak semua orang bisa memiliki mimpi dan harapan yang sama jika bukan berasal dari keluarga mampu atau memiliki garis keturunan orang penting alias pejabat. Lagipula, syaratnya tak ribet seperti yang sudah-sudah dan yang pernah saya bayangkan. Semuanya bisa dilakukan secara online dari bilik bambu nan sendu.

Saat itu, saya masih berada di Kupang, saya harus ke Ende untuk mengurus kembali KTP dan Kartu Keluarga yang blunder sebelumnya. Jika kamu ingin tahu cerita mirisnya, bisa baca bagian I di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian I] dan lanjutan bagian II di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian II]

Dari Kupang ke Ende, saya berhutang kebaikan pada beberapa kawan, sebab isi rekening sangat memprihatinkan. Beberapa hal yang patut saya syukuri dan masih membuat saya tercengang hingga saat ini adalah, semuanya berjalan sangat lancar dan tanpa hambatan, bantuan seperti datang dari berbagai penjuru.

E-KTP yang saya nanti-nantikan selama enam tahun, ternyata sudah lama menginap di Kantor Lurah Paupire bersama kartu tanda penduduk milik warga kelurahan yang lain, yang mungkin ketika ke Kantor Dispenduk untuk memeriksa, tidak mendapatkan informasi yang memadai atau dikatakan belum jadi, lalu memutuskan menunggu lagi dan tidak mau membuang-buang waktu mencari yang belum tentu ada di Kantor Kelurahan. Saya dibantu Bibi saya, istri dari Om, adik Ibu saya, yang kebetulan bekerja di Kantor Lurah Paupire (saya tidak menduganya, pernah mendapatkan cerita ini dari Ibu, tetapi kemudian saya lupa). 

KTP AKOHHH...

Kami mencarinya bersama-sama, satu demi satu di antara tumpukan ktp-ktp lain yang sebagian kondisinya mulai mengenaskan, seperti sebagian plastiknya terkelupas, saking lamanya dibiarkan di sana. Beberapa nama di ktp-ktp tersebut saya kenal baik, mereka adalah tetangga, kakak kelas dan adik kandung, anak ketiga dari ibu dan bapak saya. Yassss… hahahahahaha… 

KTP dengan foto dekil saya di zaman semester awal di Undiknas Denpasar tersebut, masih menampilkan status saya sebagai Mahasiswa dengan masa berlaku hanya sampai pada hari ulang tahun saya di tahun ini. HellTheWhat. (Di kemudian hari, ketika saya mengurus Kartu Keluarga di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, saya mengkonsultasikan hal ini. Petugas kemudian meminta saya membaca poin Undang-Undang yang ditempelkan di pintu masuk ruangan, isinya seperti pada gambar di bawah ini).


Lihat Poin 02

Selanjutnya mengurus Kartu Keluarga.

Kartu Keluarga saya, di awal tahun 2018 kemarin, direvisi oleh adik saya demi beberapa urusan. Ketika Kartu Baru tersebut tercetak, nama saya sebagai anak pertama telah hilang. Setelah saya mendatangi lagi Kantor Dispenduk Kabupaten Ende beberapa waktu lalu, ternyata terjadi pendobelan NIK akibat perekaman yang saya lakukan sebanyak dua kali sejak tahun 2012. Maka, mau tak mau, status masih menjadi anak pertama dari kedua orang tua saya harus segera dikembalikan kepada tempatnya.

Nah, pertemuan tak sengaja dengan Bibi saya yang bekerja di Kantor Lurah Paupire tadi, sebenarnya berawal dari kedatangan saya ke kantor untuk meminta tanda tangan Lurah pada formulir pengajuan kartu keluarga yang telah saya lengkapi. Pada akhirnya formulir tersebut tidak digunakan oleh petugas, sebab itu hanya digunakan saat mengurus Kartu Keluarga baru, bukan untuk revisi. Perbincangan tentang KTP muncul secara tidak sengaja, yang kemudian berakhir pada penemuan kartu tanda penduduk saya dan adik saya yang telah lama mendekam di sana.

Saya ingat, saya memasang alarm pukul 05.30 pada pagi hari Jumat 28 September 2018. Bangun lalu berangkat ke Kantor Dispenduk untuk mencatat nama demi mendapatkan nomor antrian teratas, supaya bisa mendapatkan kesempatan tercepat mengubah kartu keluarga tersebut. Saya mendapat nomor antrian (5) Lima. 




Setelah mencatat nama, saya kembali ke rumah untuk tidur lagi, sejam, lalu bangun dan bersiap-siap berangkat lagi ke Kantor Dispenduk. Operasional dimulai Pukul 08.00 pagi, yang yeah birokrasi di mana-mana, hanya judulnya saja jam delapan. Pukul 09 lewat 15 menit baru nomor antrian pertama masuk. Belum lagi, hanya antrian 1-5 yang boleh masuk dan menunggu di dalam ruangan, sisanya silakan menadah panas atau meminta belas kasihan dari ranting dan dedauan pohon mangga di depan ruangan. Saat tiba di dalam ruangan, pendingin ruangan seolah tak berfungsi, hampir semua petugas memasang wajah seperti ingin membunuh. Ha-da-pi dengan senyuman. Demikian.

Sekalian rujakan, enak kali yakh..hihihi

Sialnya, saya tidak memeriksa sebelumnya, bahwa selain nama saya yang harus dimunculkan kembali, status pendidikan akhir saya juga harus diperbaharui. Saya bukan lagi mahasiswi. Saya lupa membawa fotokopi Ijazah. Duh berabe! Petugas Dispenduk yang saat itu membantu, menanyakan kepada saya, apakah akan tetap dicetak tanpa mengubah status pendidikan? Saya tidak diperbolehkan mencetak ulang kartu keluarga hingga tahun depan (2019). Ia menatap saya dengan tajam dan memastikan bahwa saya tidak boleh mengubah pendirian lagi. Dengan sedikit gugup, saya berpikir cepat, karena untuk tes CPNS hanya dibutuhkan nomor kartu keluarga/NIK kepala keluarga, maka saya menjawab dengan tidak masalah, silakan dicetak saja sesuai keterangan yang ada.

Nomor Antrean akohhhh

 Saya pulang ke rumah dengan isi kepala yang penuh, penuh dengan kemungkinan ini dan itu. Saya tidak ingin hanya karena kesalahan yang sepele, tujuan yang cukup besar dan langka untuk terjadi pada saya ini, malah jadi berantakan.

Sore hari, setelah mengajukan cetak ulang kartu keluarga tersebut, saya ke sekolah. Maksud saya, Almamater. SMAK Syuradikara Ende menyelenggarakan Reuni Akbar dalam rangka Ulang Tahun Sekolah yang ke-65. Di tengah keramaian dan basa-basi antara para alumni, saya bertemu dengan K Norman Soludale, salah satu anggota Syuradikara Bali Community. Saat itu, K Norman tengah asik ngobrol bersama kawan-kawan angkatannya.

Saya kemudian dikenalkan kepada dua orang yang paling dekat, salah satunya sungguh tidak asing di ingatan saya. Namanya K Detty Paul. Rupanya, kaka nona adalah Petugas di Kantor Dispenduk yang pagi tadi membantu saya mengurus cetak ulang Kartu Keluarga. Awalnya, kaka nona sempat berkelit bahwa mungkin saya salah orang, barangkali kakaknya ingin mengerjai saya atau bisa jadi tak ingin terbebani (sensitif kan gue hihi). Akan tetapi, saya sulit melupakan wajah orang. Lupa nama, sering. Pada akhirnya kaka nona mengakui dan kami terlibat obrolan panjang.

Pulang dari acara reuni tersebut, saya mengecek isi kertas keterangan pengambilan cetak ulang kartu keluarga yang diberikan petugas siang tadi. Masih tujuh hari lagi, saya baru boleh mengambil hasil cetak ulang. Masih banyak waktu. Karena hari itu, hari Jumat, saya harus menunggu hingga hari Senin, jika ingin membawa fotokopi ijazah untuk mengajukan tambahan perubahan.

Saya menanti Senin dengan berdebar-debar, saya bukan tipe yang bisa memanfaatkan relasi dengan mudahnya, apa lagi baru pernah bertemu dua kali. Tetapi, saya ingin tetap mencobanya, dengan asumsi proses pencetakan ulang belum berlangsung karena setelah hari jumat, dua hari berikutnya bukan hari kerja efektif. Berkas saya pasti masih dalam antrian. Jika pun permohonan tambahan perubahan ini tidak diterima, hal terburuk yang akan saya hadapi adalah amukan petugas dan diusir keluar ruangan. Gak sampai bikin mampus, malu dikit ajah. Gak papalah.

Senin pagi 01 Oktober 2018, pukul 08.00 wita, saya kembali ke kantor Dispenduk. Setelah mengumpulkan keberanian, saya nekat masuk ke dalam ruangan sembari membawa fotokopi ijazah di tangan. Saya mengamati situasi dari bangku depan, mencoba memperhitungkan beberapa hal, menunggu peluang untuk langsung ke meja K Detty. Saya sempat ditanyakan oleh petugas lain yang ada di situ, apakah sudah mengambil nomor antrian? Jika belum, silakan datang lagi besok dengan prosedur yang sama yang telah saya lalui pada hari Jumat kemarin. Tentu saja, itu akan memakan waktu yang sangat lama, padahal urusan saya tersisa menyerahkan fotokopi ijazah terakhir ini.

Suasana pagi hari nan cerah ceria di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, yeah...

Peluang tersebut muncul sekitar lima belas menit kemudian, setelah giliran konsultasi seorang ibu, saya melangkah cepat ke depan meja K Detty. Kami tidak sempat berbasa-basi, entahlah barangkali sudah demikian karakter beliau. Masih tetap profesional, kaka nona menanyakan apa keperluan saya. Saya menjelaskan secara singkat padat dan jelas, sempat K Detty menanyakan berkas-berkas saya yang lain, yang saya jawab dengan menunjukkan kertas keterangan pengambilan yang ia berikan pada hari Jumat yang lalu. Tak butuh waktu lama, ia mengecek beberapa hal, meminta fotokopi ijazah terakhir saya dan selesai. Saya dipersilakan datang mengambil kartu keluarga yang telah direvisi, sesuai jadwal pengambilan yang telah diinformasikan sebelumnya. 

Dengan demikian proses melamar PNS Kementrian BUMN sesuai rencana saya, bisa dimulai.

Berat bukan jadi orang Ende, yang di tahun 2018-2019 ini, kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipilnya masih memakai gaya konvensional dalam melayani masyarakat banyak. Padahal, boleh dikatakan, lembaga ini adalah jantung dari kehidupan masyarakat sipil. Hari-hari ini, bagaimana kau bisa hidup tanpa indentitas dan dokumen-dokumen pendukung? Bagaimana eksistensi dan kelancaran urusanmu dapat terjamin dari kantor dengan ruang tunggunya seperti LAPAK PASAR INPRES MBONGAWANI?! S E R I U S !!!

***

Ikuti terus cerita perjalanan akhir tahun saya di Blog ini! Saya berniat menyicil cerita-cerita saya, pelan-pelan dari sekarang….

Doakan yah~

Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. II]


Su macam detektif siang itu. 

Berikut kelanjutan kisah KTP saya yang sejauh angan-angan. Kisah sebelumnya bisa cek di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag.I]

Saya ke kantor Dispenduk lagi hari Jumat 29 Juni lalu, bertemu seorang Ibu yang sangat ramah dan kemudian mengarahkan saya ke Ruang 7 untuk urusan E-KTP. Wah nomor keberuntungan saya ini, semoga yah alamat baiks.

Tiba di sana, saya lalu menyerahkan kertas bukti pengambilan yang lecek lumutan itu dan Kartu Keluarga versi lama. 

Wih saya diomelin, karena itu kartu keluarga zaman bahula, sudah tidak terpakai lagi. Ya iyalah, 2009 hahaha. Oke, saya kasih Kartu Keluarga baru, yang tidak ada nama saya, Petugasnya bingung dan mulai lihat saya atas bawah. 

Oh Come on saya bukan buronan. 

Lalu saya  ditanya lagi, pernah urus surat pindah domisili? Saya merasa tidak pernah mengurus itu, jadi saya jawab tidak. 

Sang Ibu di Ruangan 7 itu, yang demi tuhan, saya kenapa bisa lupa namanya padahal saya sudah sempat bertanya dan saling berjabat tangan, beliau mengajak saya ke ruangan lain, yang di depannya ada tulisan Kartu Keluarga itu (sebelumnya, sempat saya ceritakan di tulisan bagian I). Oh yah Ibu ini berkacamata.

Kami masuk, menuju pojok ruangan dan bertemu dua orang wanita berkerudung, yang satu masih muda, sedang serius di hadapan layar monitor sambil sesekali menimpali obrolan seorang wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.

Wanita kedua ini, tengah asik meliuk-liukkan badannya mengikuti irama dari pemutar musik handphone dan terus nyerocos tentang hasil Pilkada Kabupaten Ende yang katanya sangat fenomenal, pas dengan lagu yang sedang mengiringinya bergoyang.

Kamu mau tahu lagu apa yang sedang ia dengarkan? 

GOYANG DUA JARI! YANG BIASA DI APLIKASI SAKTI TIKTOK ITU. 

Makin lama, jarinya ikutan naik, membentuk angka dua sambil tubuhnya tetap bergerak. 

Saya tiba-tiba pusing. Ugh ada apa dengan masya-raqat Ende ini? Mereka suka punya euforia yang sia-sia, mungkin saya dulu juga begitu kah? Duduk nganga di jalan hanya mau ikut rame, gegi mau ikut pawai keliling sampai goyang tidak jelas, sementara Pasangan yang menang tidak kenal kita sama sekali. #Eh Huft…

Sebelum saya, sudah ada seorang laki-laki duduk di depan meja wanita muda itu, tetapi sepertinya dia sedang berusaha menelpon seseorang untuk urusan yang sama, Kartu Keluarga. 

Urusan saya didahulukan, Sang Ibu dari Ruangan 7 menyerahkan dua lembar Kartu Keluarga milik saya untuk diperiksa. 

Ada lima atau enam kali, saya tak sempat menghitung karena mulai pening, wanita muda berkerudung merah muda itu bolak-balik dari komputer yang ada di hadapannya ke komputer yang ada di seberang mejanya. 

Usut punya usut, voila: karena saya pernah melakukan perekaman sebanyak dua kali yaitu pada tahun 2012 di Denpasar dan 2016 di Ende, maka Nomor Induk Kependudukan (NIK) saya terdeteksi ada dua. 

Oleh karena itu, nama saya tidak masuk di Kartu Keluarga baru. Ugh. 

Sabar dulu, ada yang lebih menakjubkan lagi, ternyata oh ternyata, berdasarkan keterangan di sistem, E-KTP saya statusnya sudah “SIAP CETAK” sejak tahun 2012, beberapa bulan setelah perekaman di Gedung Rektorat Unud itu. Oh Anakku…… ENAM TAHUN lamanya pencarian ini. Hadeh kok bisa yah?

Mendadak saya ingin ke Jakarta, bawa serta peralatan lengkap, mungkin mutilasi saja Setya Novanto dan antek-anteknya kah?! SipalomasekiyaBarzulBollock!

Sedangkan perekaman yang saya lakukan pada tahun 2016 di Kantor Camat Ende Tengah, tidak dijelaskan nasibnya bagaimana, saya juga bingung bagaimana analisanya, tetapi karena alasan itu, NIK saya menjadi GANDA, yang berbuntut pada nama saya tidak ada di Kartu Keluarga dan sampai sekarang E-KTP saya belum ada. FIX BLUNDER!

Solusi yang akhirnya berlaku: Sang Ibu dari Ruangan 7 akan mengajukan permohonan Print E-KTP atas nama saya ke “bagian entah,” beliau tidak menjawab pertanyaan saya. 

Ketika saya menanyakan, berapa lama proses pencetakan ini? Jawabannya sungguh menyedihkan: “Ade, saya tidak bisa janji e, kapan ini jadi. Nanti, satu bulan lagi, datang cek ke sini. Datang saja dan cek, siapa tahu sudah ada.” 

OmowahaiGad. Adakah yang bisa menjamin bahwa ketika saya datang sebulan lagi, E-KTP itu minimal bisa di-cek alias jelas juntrungannya, udah sampai di mana dia? Duh!

Ternyata angka 7 di depan ruangan tersebut, tidak mempan sama sekali. T.T

Alhasil, yep, kertas baru lagi wkwkwkw… dengan sebagian kolom yang dikosongkan. Ya Tuhan, butuh kerja keras dan loyalitas benar yah, menguras segala-galanya.


Oh yah, untuk Kartu Keluarganya, saya hanya perlu membawa KK asli yang versi baru untuk selanjutnya dikeluarkan KK pengganti, yang jelas tertera nama saya nantinya di sana. 

Masalah berikutnya adalah: lembar asli Kartu Keluarga dimaksud, masih ada di Denpasar sekarang, dibawa serta adik saya sejak bulan Januari lalu untuk urusannya itu.

Kembali lagi, yah mungkin sudah nasib saya, bahwa ketika saya memutuskan pulang ke NTT, saya sudah harus siap jika SEBAGIAN BESAR WAKTU SAYA DIHABISKAN UNTUK MENUNGGU.

Menunggu di tengah ketidakpastian, kapan E-KTP jadi?

Menunggu lembar asli KK dikirim dari Denpasar.

Sementara saya harus segera kembali ke Kupang. Arghhhhh.

Trus, trus… ini aku kudu ngera emba lagi?! Akan ada berapa bagian lagi untuk curhat panjang lebar kali tinggi bagi luas ini?

Njlimet Kabeh!


Tenang, Nanti Tuhan Tolong!


Menghidupi Literasi: Susah-Susah Gampang



Dalam rangka kegiatan hari ketiga Gathering Nasional Buku Bagi NTT – 15 April 2018 nanti, kami mengadakan survei ke lokasi Taman Baca Masyarakat (TBM) yang akan menjadi tujuan kunjungan para Relawan Komunitas Buku Bagi NTT.

TBM tersebut bernama Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, berlokasi di Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang.

Dari Kupang, kami berangkat berempat, saya, dua Relawan BBNTT Regional Kupang, Tri dan Neno serta salah satu teman kantor Tri, Mesakh. Kami menggunakan dua motor dan membawa serta satu dos buku untuk adik-adik di Lopo Belajar. Berangkat pukul 11.00 WITA dan sempat nyasar selama kurang lebih lima belas menit karena salah arah hohoho, untung insting bekerja baik sehingga bertanya ulang-ulang pada warga yang lewat. Jalanan menuju Fatule’u barat ini beragam, seperti pulau-pulau di Indonesia. Ada pulau besar, lalu menyusul teluk dan lautan kemudian pulau kecil lalu pulau besar lagi hahaha…






Sekitar tiga puluh menit sebelum tiba ke tempat tujuan, kami bertemu dengan KALI YANG PERTAMA (Kali BUKAN sungai). Kami belum tahu, ada berapa KALI yang harus kami lewati untuk tiba di Desa Poto, berdasarkan info dari kakaknya Neno, ada kurang lebih SEPULUH dengan volume arus yang berbeda-beda. Pada perjalanan berangkat ini, hari masih cerah, memang terlihat awan hitam di kejauhan tetapi kami pikir hujan masih akan tiba nanti malam.

Memasuki Desa setelah KALI yang pertama, kami kehilangan sinyal dan sudah tidak nampak tiang-tiang listrik di sepanjang jalan. Kami mengambil kesimpulan, memang tidak ada sinyal dan listrik di sini, maka kami berjalan sembari tetap bertanya karena kami sendiri belum tahu tujuan kami di mana. Ternyata ada DUA LAGI KALI yang harus kami lewati. KALI YANG KETIGA, airnya mengalir deras di atas jembatan beton yang entah kapan dibangun. Setelah KALI yang ketiga ini, kami bertemu seorang ibu dan pemuda yang sedang mengaso di pinggir kali, kami bertanya lagi. Tempat tujuan kami sudah dekat.

Kali yang KEDUA


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, kami sudah menemukan Kantor Desa Poto dan Lopo Belajar tujuan kami yang berada tepat di sebelahnya. Ada mama-mama yang sedang duduk di situ, kami bertanya lagi. Dari mama-mama ini, kami diarahkan ke rumah Bapak Simon Seffi yang mengelola Lopo Belajar tersebut. Rumahnya tidak jauh, tepat di jalan masuk samping Kantor Desa, berhadapan dengan Puskemas Desa Poto.


Kantor Desa Poto


Tiba di rumah Bapak Simon, beliau ternyata sedang keluar. Kami menunggu sembari melemaskan tubuh dan pikiran dari medan perjalanan yang luar biasa hasoy. Saya mencuri lihat koleksi buku Bapak Guru Simon yang kebetulan sedang berbaris rapi pada rak di depan kamar kosnya. Canggih! Tidak lama kemudian, Pak Simon muncul. Kami saling berjabat tangan, memperkenalkan diri lalu mulai ngobrol. Perlahan keluar, pisang goreng, pisang rebus, ikan goreng hasil pancingan Pak Simon dari laut terdekat dan tentu saja sambal kemangi serta kopi.




Koleksi buku Bapak Simon Seffi


Bapak Guru Simon adalah seorang Guru Matematika asal Amfoang yang ditugaskan di Desa Poto sejak tahun 2015. Jarak Amfoang ke Poto sendiri, kurang lebih masih 80 KM lagi. Bermula dari beliau menemukan fakta bahwa banyak sekali siswa/I di Sekolah Menengah Atas di Desa Poto belum bisa membaca, menulis dan menghitung dengan baik. Beliau kemudian mengadakan riset kecil-kecilan dengan instrumen yang sederhana dan menemukan kenyataan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan Guru-Guru hampir di seluruh sekolah di Kecamatan Fatule’u Barat, baik SD, SMP maupun juga SMA , semuanya sama. Menggunakan kekerasan dan hukuman. Kekerasan dan hukuman ini, menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman kepada siswa/I yang menyebabkan  siswa/I hanya melakukan apa yang diperintahkan Guru. Mereka bersekolah untuk menyenangkan Guru, bukan untuk mendapat ilmu. Belum lagi, tidak ada kegiatan belajar pendukung setelah waktu di sekolah telah selesai, mereka harus membantu orang tuanya bekerja di ladang atau di sawah.



Bapak Guru Simon bekerja sama dengan salah satu tetua adat setempat, membuka sebuah Lopo Belajar yang kemudian diberi nama sesuai dengan nama suku besar setempat. Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomane yang berlokasi di halaman rumah Bapak Tetua Adat. Kurang lebih ada 20 anak yang diasuh oleh Bapak Guru Simon, sebagian besar sudah duduk di kelas lima dan enam. Saat pertama bergabung, anak-anak ini samasekali masih kesulitan membaca. Melalui metode belajar kreatif, anak-anak perlahan termotivasi dan bisa lancar membaca. Kami tidak sempat bertemu anak-anak tersebut, karena di hari Minggu, Lopo Belajar tutup.

Meskipun tutup di hari Minggu, kami tetap mampir melihat-lihat dan mengambil beberapa gambar sebagai dokumentasi. Selain itu, sangat nikmat berjalan kaki dari rumah Bapak Guru Simon ke Lopo Belajar di siang hari tanpa ada suara bising di sana-sini.


Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana




Salah satu hal menggembirakan pada cerita perjalanan ini adalah, mendapat sebuah suguhan menarik dari Bapak Guru Simon Seffi yang ternyata sudah sempat membukukan hasil penelitian beliau tentang kekeliruan metode pembelajaran serta solusi yang bisa beliau tawarkan. Buku tersebut telah dicetak sebanyak dua kali, saat ini beliau tengah berusaha mencari donatur yang mau membantu mencetaknya lagi karena sudah tidak ada stok yang tersisa. Masih ada satu buku saja yang menjadi arsip beliau. Saya sudah sempat membacanya, luar biasa bermanfaat. Harapan saya, Komunitas Buku Bagi NTT bisa membantu memperbanyak buku ini dan membaginya secara gratis ke seluruh Taman Baca di Nusa Tenggara Timur. Judul bukunya: Bermain dengan Sentuhan Personal – Agar Siswa Bisa Baca Tulis Sejak Kelas Satu SD.

Buku Hasil Penelitian Bapak Guru Simon Seffi

Dalam perjalanan mengasuh anak-anak di Lopo Belajar serta mensosialisasikan metode belajar yang sudah beliau kembangkan dalam bentuk buku, Bapak Guru Simon Seffi tentu juga menghadapi berbagai penolakan dan kecurigaan yang terkadang melemahkan posisi beliau. Beliau pernah mengadakan audiensi dengan Dinas terkait bahkan Bupati Kabupaten Kupang, akan tetapi hingga saat ini, belum ada langkah konkrit yang diambil demi mengatasi permasalahan ini. Para Guru Senior, melihat sepak terjang beliau sebagai bentuk mempermalukan mereka atau sok pintar yang sebaiknya diabaikan saja. Sangat khas NTT!

Jika tidak mengingat waktu dan perjalanan pulang yang masih panjang serta awan hitam yang berarak di langit, kami mungkin tidak beranjak sedikitpun dari kediaman Bapak Guru Simon. Sebagaimana perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, ini adalah perjumpaan luar biasa yang kesekian. Di sebuah Desa di tengah belantara dan pegunungan, ada sosok gemilang yang bertahan dan mencoba peruntungan hidupnya dengan cara yang begitu mulia. Saya seperti di-charge penuh kembali batereinya.



Nasib pakai timer :D




Pukul 16.00 WITA lewat sedikit, kami mohon pamit kembali ke Kupang. Kami sungguh tidak tahu apa yang menanti kami di perjalalan pulang ini hahaha.. Jika pada perjalanan berangkat, kami selalu berhati-hati dan baik-baik saja, maka di perjalanan pulang ini, kami agak ceroboh dan menyedihkan wkwkwkw.

Motor yang ditumpangi saya dan Neno, nyungsep di KALI YANG PERTAMA harus kami lewati, sebelumnya adalah KALI YANG KETIGA pada saat kami datang, yang di mana saya harus turun jika tidak ingin basah kuyup. Kali ini, saking nekatnya dan keasikan ngobrol, Neno menerjang air begitu saja dan alhasil, kami terjebak.

Di tengah perjalanan menuju KALI YANG KEDUA, gerimis mulai turun perlahan yang kemudian menjadi sangat deras. Kami berhasil melewati KALI YANG KEDUA tanpa ada rintangan yang berarti. Dan beberapa meter sebelum mencapai KALI YANG KETIGA, saya melihat ada aliran cokelat yang begitu pekat dari kejauhan. Banjir besar datang dari hulu, jalan terputus dan kami tidak bisa lewat, rupanya sudah ada beberapa orang yang duduk lemas lebih dulu di pinggiran kali bersama kendaraan mereka. Waktu menunjukkan pukul 16.45, pupus sudah harapan kami untuk tiba lebih cepat di Kupang, sementara besok ada audiensi berkaitan dengan Gathering Nasional BBNTT juga yang harus saya hadiri.



Alternatif pertama adalah, menunggu air surut dan kami menyebrang. Sekitar dua jam kami harus menunggu, bisa jadi lebih dari itu. Alternatif kedua, kembali ke rumah Bapak Guru Simon dan menginap, tetapi bagaimana dengan Tri dan Mesakh yang besok pagi-pagi harus bekerja. Lalu, tanpa kami duga, alternatif ketiga itu muncul. Pasukan Profesional Pemuda Fatule’u, Para Pengangkut Motor tangguh dengan biaya yang tidak disangka-sangka, sangat murah. 30.000/motor. Motor diangkut dan kami boleh memilih nyebrang sendiri atau digendong ke sebelah. Alamak! Yang laki-laki memilih yang kedua, saya dan Tri meskipun kami perempuan, kami juga tetap memilih yang kedua. Masih ada sisi lain dari KALI yang cukup dangkal dan bisa kami sebrangi.





Saya menikmati proses memindahkan motor ini dengan hikmat. Sejak awal, ketika mereka mulai turun ke sungai satu per satu untuk mengecek kedalaman air dan deras arus. Lalu, mencari alat bantu berupa kayu yang cukup keras untuk menopang motor sehingga motor tetap stabil saat dipikul dan tidak terasa terlalu berat saat melintasi arus air yang deras. Tips agar kayu tidak ikut berputar dengan roda motor saat dipikul adalah, gigi motor dimasukkan dulu agar roda tetap diam dan kayu bisa menopang kuat, tidak bergerak. Sebuah pengalaman yang cukup ekstrim dan fenomenal tentu saja. Ketika kami berjalan ke sisi lain sungai untuk menyebrang ke sebelah sementara motor telah tiba lebih dulu, kami sungguh tidak menyangka bahwa akhirnya kami bisa kembali ke Kupang hari itu juga.

Video lengkap tentang aksi heroik ini, bisa dilihat di Instagram saya: @maria_pankratia

Setelah selebrasi yang cukup heboh dan alay, hahaha ditonton oleh warga masyarakat yang sedang nongkrong di pinggiran sungai -rupanya ini menjadi hiburan tersendiri bagi mereka di kala senja hahahaa- kami melanjutkan perjalanan ke Kupang. Di tengah perjalanan, kami diterpa hujan yang lumayan deras sehingga harus dua kali berhenti dan berteduh. Pukul 20.00 WITA lebih atau kurang sedikit, saya lupa, kami akhirnya tiba di Kupang dengan kondisi masih utuh.



Di akhir cerita perjalanan ini, saya hanya mau bilang, Tempat yang kami kunjungi ini hanya dua jam dari Kota Kupang. Tak ada jembatan, tak ada listrik, tak ada sinyal hape kecuali tenaga surya yang tentu saja mengandalkan matahari –belakangan kami dikasitahu oleh isteri Bapak Guru Simon tentang TS ini- Di musim penghujan, mustahil ada nyala lampu neon berpendar. Tetapi orang-orang di tempat ini tetap hidup dan bertahan bahkan sangat kuat dan tegar. Mereka dapat dibilang menjadi sangat profesional saat dibutuhkan seperti di situasi sore kemarin. Lalu, orang-orang seperti saya, kau dan dia masih saja mengeluh ketika siang terlalu panas atau hujan terlampau sering, cemas karena telkomsel terus kirim sms kuota data anda tersisa 498KB saja, kesal karena ditanya kapan kawin #eh nikah #HapaSih hahaha...

Jika demikian, pantas saja kalau banyak orang mudah mati saat ini.

Demikian laporan #BBNTTGATHERINGPREPARATION dari kunjungan ke Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang di hari Minggu, 11 Maret 2018.


Salam Literasi,
Maria Pankratia – Relawan Buku Bagi NTT

PS. Semua dokumentasi dalam perjalanan ini berasal dari Handphone saya dan Tri. ^^






Dicky Senda dan Tanggung Jawab Sosial Orang Mollo

Dunia sihir Mollo dari Dicky Senda di UWRF 2017

Gempita Ubud Writers and Readers Festival 2017 telah berakhir pada penghujung bulan Oktober lalu, akan tetapi kesan dan pesan dari setiap momen yang dilewati masih tersisa hingga kini.

Salah satu yang cukup menarik perhatian khalayak ramai adalah kehadiran salah satu orang muda dari pedalaman Mollo, Timor Tengah Selatan pada festival penulis dan pembaca terbesar di Asia Tenggara itu.

Christian Dicky Senda atau biasa disapa dengan Dicky, lahir pada tahun 1986 di Mollo Utara, salah satu kecamatan yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Ia seorang penikmat sastra, film, dan kuliner.

Dicky telah menerbitkan beberapa buku, di antaranya puisi Cerah Hati (2011), kumpulan cerpen Kanuku Leon (2013) dan Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi (2015). Dicky pernah hadir dan memperkenalkan karyanya di Makassar International Writers Festival (2013), Temu I Sastrawan NTT (2013), Asean Literary Festival (2014 dan 2016), Temu II Sastrawan NTT (2015), Festival Sastra Santarang (2015), Bienal Sastra Salihara (2015) dan Literature & Ideas Festival Salihara (2017). Pernah mengikuti program residensi seni dan lingkungan di Bumi Pemuda Rahayu Jogjakarta (2015) dan Asean-Japan Residency Program (2016).

Dicky cukup aktif bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Solidaritas Giovanni Paolo dan Forum SoE Peduli. Dicky kini menggagas kewirausahaan sosial bernama Lakoat Kujawas, sebuah proyek integrasi komunitas kesenian, perpustakaan, ruang kerja, dan homestay di desa Taiftob.

Hadir pada UWRF kali ini, Dicky mengisi empat program menarik di antaranya; Preserving Culture untuk memperkenalkan budaya dan tradisi orang Mollo bersama empat pembicara lainnya di Taman Baca, Ubud. Mempresentasikan Lakoat Kujawas pada Festival Club @Bar Luna. Mendemonstrasikan kemampuannya memasak aneka masakan khas Timor pada program The Kitchen-Food Memories from The Heart of Timor di Toko Toko.

Selain itu, Dicky meluncurkan buku kumpulan cerpen ketiganya berjudul “SAI RAI” di Sri Ratih Cottage pada tanggal 28 Oktober 2017 lalu. Peluncuran ini dihadiri oleh banyak pengunjung, baik itu penulis, pembaca maupun juga mereka yang terlanjur penasaran dengan isi buku yang mengangkat fiksi penyihir Mollo ini.

 

Dicky Senda pada program The Kitchen-Food Memories from The Heart of Timor di Toko Toko.

Sai Rai merupakan kumpulan 19 cerita pendek, berkisah tentang dunia sihir orang Mollo yang selama ini mendapat stigma. Sesungguhnya, orang-orang yang disebut penyihir atau Suanggi dalam bahasa setempat adalah orang-orang yang sama seperti masyarakat kebanyakan (di Bali terkenal sebutan “Leak”). Mereka hanya kebetulan memiliki kemampuan tertentu yang membuat mereka terlihat berbeda. Menurutnya ini harus diangkat dan menjadi bahan untuk didiskusikan terutama kaum muda yang selama ini telah hanyut dalam pemahaman keliru.

Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur pada umumnya, Suanggi adalah orang-orang yang selalu memberikan energi negatif, mereka pasti orang yang membunuh dan hal buruk lain disematkan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Dicky menemukan bahwa di Mollo ada jenis-jenis penyihir adalah orang-orang baik. Mereka menolong dan menyelamatkan manusia, seperti dukun. Terkadang mereka juga meramalkan nasib kehidupan, baik itu kehidupan manusia maupun juga lingkungan sekitar. Mereka hadir sebagai pengantara spiritual yang menjaga keseimbangan alam dan manusia.

Alex Jebadu dalam bukunya berjudul Bukan Berhala menuliskan, pengantara spiritual berperan sebagai penyembuh ulung dan peramal yang sanggup melihat apa yang terjadi di masa datang dan membaca titipan pesan dari dunia seberang, menyingkapkan pengetahuan mulia dengan kekuatan gaib. Ia juga berperan sebagai pelindung bagi semua anggota masyarakat yang datang kepadanya. Ia merupakan semacam roh pelindung karena ia diyakini berada dalam persekutuan dengan roh-roh dunia. Ia dipandang sebagai yang Ilahi dalam rupa manusia.

Raja-raja dan kaisar-kaisar diyakini sebagai dewa-dewi dalam rupa manusia-mahluk adikodrati. Mereka merupakan pengantara rakyat dengan dunia roh-roh. Dan peran ini telah ada jauh lebih dahulu dari pahlawan yang mengandalkan kekuatan fisik atau pemerintah politis. Praktik keagamaan ini masih terpelihara bentuk aslinya di dalam sejumlah masyarakat tradisional Afrika dan Melanesia. Pengantar spiritual dianggap sebagai mahluk transenden yang mulia, sebuah saluran komunikasi bagi para dewa dan roh-roh untuk berkomunikasi dengan manusia.

Setelah kaum misionaris Katolik masuk dan Kristenisasi terjadi di daratan Pulau Timor, orang-orang yang dipercaya sebagai pengantara spiritual ini justru dipandang sebagai orang yang buruk, yang tidak menjalankan hidup sesuai dengan perintah dan menjauhi larangan Tuhan seperti yang dituliskan di dalam kitab suci.

Belum lagi, isu politik yang berkembang dan mengharuskan warga  Indonesia memeluk salah satu agama yang diakui Negara. Sehingga mau tidak mau, pilihan terbaik untuk bertahan hidup adalah meninggalkan semuanya atau siap dibumihanguskan.

Dicky meyakini bahwa kehadiran para penyihir (Suanggi) atau pengantara spiritual ini telah membuat suatu komunitas/kebudayaan berjalan dengan sangat harmonis. Ia menyebut saat ini adalah sebaliknya, kita malah semakin meninggalkan hal tersebut. Kita berjalan sangat mundur dan dengan bangganya kita mengklaim diri bahwa kita adalah manusia-manusia modern.

Manusia modern sesungguhnya adalah mereka yang selalu memikirkan tentang keberlangsungan alam semesta ini. Menyiapkan tempat yang layak untuk dihuni anak cucu, generasi kita berpuluh-puluh tahun mendatang.

Bagi Dicky, penting untuk menulis hal tersebut dan diketahui banyak orang. Oleh karena itu, sebagai anak muda Mollo, ia merasa memiliki tanggung jawab sosial untuk mengembalikan semua pada tempat yang seharusnya.

“Jangan sampai kita terpengaruh oleh stigma yang telah dibentuk oleh kelompok tertentu dan meninggalkan semuanya karena merasa itu adalah pilihan terbaik. Kita akan sangat rugi besar,” Ungkap Dicky

Mengapa orang Mollo sangat hebat dengan dongeng atau cerita-cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat? Karena kecintaan dan keterikatan mereka kepada alam yang begitu kuat. Hal-hal seperti itu yang sudah mulai dilupakan oleh generasi-generasi yang akan melanjutkan kehidupan orang Mollo, mungkin juga ini terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia termasuk di Nusa Tenggara Timur.

Hutan Fatumnasi di Kaki Gunung Mutis. Dok. Herworld

Berbicara tentang kekuatan orang Mollo akan dongeng yang tersebar di antara masyarakat, tidak terlepas dari mitos. Seorang pemikir strukturalis berkebangsaan Perancis, Roland Barthes yang getol mempraktikan model linguistic dan semiology Saussurean mengungkapkan Mitos lahir dari pengalaman kultural dan personal seseorang yang dibentuk sebagai makna konotasi yang kemudian berkembang kembali menjadi makna denotasi atau makna sebenarnya/harfiah.

Salah satu yang bisa menjadi gambaran atau contoh, masih diambil dari salah satu cerpen Dicky Senda berjudul “Kanuku Leon.” Ada sebuah kalimat yang berbunyi; Kenyataan tentang sebuah gunung purba di Timor yang konon menjadi tempat bersemadi seorang raja bernama Fatuneno yang sering berganti rupa menjadi manusia dan seekor ayam jantan sakti. Karena kesaktiannya, ia mampu menikahi matahari dan lahirlah anak-anak dari matahari; si sulung Penguasa Negeri Timur, berikutnya Penguasa Mataair, dan si bungsu Penguasa Gunung Emas. Dengan persetujuan raja langit, raja bumi dan segenap alam semesta, mereka bertiga tumbuh menjadi tiga lelaki berjiwa ksatria.

Secara denotasi, kalimat tersebut hanya menceritakan tentang sebuah gunung purba, seorang Raja yang bisa berganti rupa menjadi manusia dan seekor ayam jantan dan Sang Raja yang menikahi Matahari. Akan tetapi seturut makna konotasi, bagi orang Mollo, Gunung merupakan simbol tempat berlindung bagi masyarakat zaman purba. Tempat di mana sumber rasa aman dan kekuatan. Raja Fatuneno melambangkan seorang pencipta yang mahakuasa dan pemurah serta dapat menjelma dalam banyak rupa, mampu mengendalikan matahari dan alam semesta. Demikianlah mitos berkembang dalam bentuk dongeng di tengah kehidupan masyarakat Mollo, menjadi sebuah kontrol sosial yang mendatangkan keseimbangan dalam keberlangsungan hidup manusia dan alam semesta secara turun temurun.

Orang-orang Mollo. Dok. Dicky Senda

Dicky berharap, cerita-cerita yang telah ia tulis mendapat tempat di hati dan pikiran para generasi muda, khususnya di NTT. Agar isu-isu seperti ini menjadi akrab di telinga dan masuk ke dalam ruang-ruang diskusi sehingga suatu waktu dapat menjadi pertimbangan oleh pihak tertentu, seperti pemerintah dalam menentukan kebijakan yang mendukung kehidupan masyarakat NTT itu sendiri.

Tentu saja setiap orang bisa memakai caranya untuk kembali ke lingkungan mereka, ke kampung halaman masing-masing. Dicky telah membukanya dengan jalan sastra, teman-teman seniman yang lain atau akademisi mungkin bisa melakukannya dengan caranya sendiri.

Sebuah pesan yang ingin Dicky sampaikan bahwa, “penting bagi orang muda di Indonesia dan NTT khususnya untuk mulai sadar dengan situasi lingkungan di sekelilingnya. Kesadaran tentang, “siapa saya?”

Dalam hal ini, kita berbicara tentang identitas. Roh kita, ke mana saja kita pergi, identitas itu harus selalu dibawa. Sebagai anak muda NTT, kita tidak seharusnya malu dengan kebudayaan kita sendiri.

Pada akhirnya, SAI RAI adalah tentang bagaimana kita memilih jalan pulang untuk kembali ke dalam pelukan ibu semesta. Menemukan siapa kita sesungguhnya dan memaknai itu di sepanjang hidup kita. Sudahkah kamu membacanya?

 

The post Dicky Senda dan Tanggung Jawab Sosial Orang Mollo appeared first on BaleBengong.

Mahasiswa Kecamatan Boleng Desak Pemerintah Sigap Tangani Bencana Boleng

kabarportal.com – Sejumlah mahasiwa yang berasal dari kec. Boleng, kab. Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak Dinas Pertanian Manggarai Barat untuk segera memberikan bantuan terhadap petani di Lando, desa Mbuit, Boleng. Hal itu menyusul bencana banjir yang melanda puluhan hektar (ha) sawah di wilayah tersebut.   Mahasiswa Boleng di Jakarta, Heri Bahang (29) mengatakan, […]