Tag Archives: Music

THOMAS DOLBY’S JOIE DE VIVRE

Thomas Morgan Robertson turned 61 today, 14 October 2019. Better known by the stage name Thomas Dolby, the English musician, producer, entrepreneur and teacher; came to prominence in the 1980s, releasing hit singles including “She Blinded Me with Science” and “Hyperactive!”.

He has also worked in production and as a session musician. In the 1990s he founded a Silicon Valley sound technology company, Beatnik, whose technology was used to create the Nokia tune. He was also the Music Director for the TED Conference.

The stage name Thomas Dolby originated from a nickname that he picked up in the early 1970s, when he was “always messing around with keyboards and tapes”. His friends nicknamed him “Dolby”, from the name of the audio noise-reduction process of Dolby Laboratories used for audio recording and playback.

Though he never had many hits, Thomas Dolby became one of the most recognisable figures of the synthpop movement of early-80’s new wave. This was largely due to his skillful marketing. Dolby promoted himself as a kind of mad scientist, an egghead who had successfully harnessed the power of synthesizers and samplers & used them to make catchy pop and light electro-funk.

“I’m not a very proficient keyboard player, so the computer became my musical instrument … None of the equipment is essential, though. In a way, I was happier when I just had one monophonic synthesizer and a two-track tape deck.”

Before he launched a solo career, Dolby had worked as a studio musician, technician, and songwriter; his most notable work as a songwriter was “New Toy”, which he wrote for Lene Lovich, and Whodini’s “Magic’s Wand”.

In 1981 he went solo, which resulted in a number of minor hits and two massive hits: “She Blinded Me with Science” in 1982 and “Hyperactive” in 1984.

Happy birthday, Thomas Dolby! You blinded me with science!

_____________

Featured image of Thomas Dolby via bandsintown.com

The post THOMAS DOLBY’S JOIE DE VIVRE appeared first on RUDOLF DETHU.

AMB 2019 BEST MOMENTS

This was way back in February 2019. But still worth checking out. I was invited to Anugerah Musik Bali—Bali’s own version of Grammy Awards—to read two of the nominations (together with Leanna Rachel). The video, some kind of highlights, best moments from the event.

The event itself, it’s pretty interesting, I’d say Bali is the first and so far the only province in Indonesia that organises its own music award. The organiser, Adnyana and co., already announced that they’d have the second AMB next year in February. Great job, buddies!

The post AMB 2019 BEST MOMENTS appeared first on RUDOLF DETHU.

PANGKUPARA TERANYAR SENI DAN SOSIAL SANG FLAMBOYAN PULAU SERIBU PURA, RUDOLF DETHU

Rudolf Dethu bak Sasangkala dari pulau Dewata, yang secara berkala menyerukan ide-ide kreatif maupun positif, agar yang terjadi di sekitarnya selalu berjalan seimbang. Beberapa tahun lalu dia berteriak keras, sekaligus berdiri paling depan, untuk menentang reklamasi Teluk Benoa Bali melalui jurnal-jurnal ofensifnya. Mundur lagi ke belakang, pria ini sempat menyibak waktu demi berterimanya warga Nusantara terhadap populasi LGBT. Untuk perihal kesenian, terutama seni suara, dia turut berjasa dalam membenihi invasi band serta musisi Bali demi keluar dari kandang. Salah tiganya Superman is Dead (SID), Navicula, serta The Hydrant. Berikut tanya jawab mengenai kesibukan terbaru sang flamboyan, yang tak pernah berhenti berinovasi.

Kegiatan Anda sekarang lebih banyak di Bali, ya? Dan masih bergelut di seputar showbiz?
Ya, sekarang saya sepenuhnya tinggal di Bali. Sudah 2 tahunan lebih. Masih bergelut di showbiz, juga aktif bergerak di gerakan sosial kemasyarakatan, utamanya Drink Responsibly dan Designated Smoking Area.

Ini menarik! Boleh tolong dijelaskan sedikit, mengenai gerakan Drink Responsibly & Designated Smoking Area?
Drink Responsibly dan Designated Smoking Area ini merupakan gerakan pengurangan risiko, penyadaran lewat pendekatan pragmatis. Tidak melarang atau frontal menolak apa yang mereka (peminum dan perokok) lakukan. Namun memberi pemahaman, ngasih opsi, dan melokalisir. Drink Responsibly ini berupa menjadi talk show tentang bagaimana minum yang bertanggung jawab. Silahkan minum-minuman beralkohol, jika itu memang bentuk rekreasi kamu, tapi jangan mengendarai kendaraan bermotor setelah menenggak minuman beralkohol dalam kadar tertentu. Gampangnya: 2 botol bir kecil atau 1 gelas/single spirit.

Talk show tersebut melibatkan pemilik bar, polisi, Gojek/Grab/taksi, pihak Banjar setempat (Banjar adalah pembagian wilayah administratif di Provinsi Bali, di bawah Kelurahan atau Desa, setingkat dengan Rukun Warga). Kami juga mengecek silang apa yang mereka lakukan, ketika ada aktivitas minum miras.
Designated Smoking Area juga mirip-mirip. Kami memasang beberapa asbak besar di sepanjang pantai Sanur. Memasangnya pun serius, tampak indah, tidak asal-asalan. Agar orang-orang tidak membuang puntung rokok sembarangan di pantai. Juga mereka terlokalisir saat merokok, tak berdampak pada perokok pasif. Setelah di Sanur, saya juga sudah pasang di Besakih, masing-masing 5 asbak besar. Bulan depan lanjut ke Tabanan, dipasangnya di taman kota.

Cerkas! Bagaimana Anda bisa ber-ide sebagus dan se-visioner ini? Apa penyebab awalnya yang membuat Anda serius dengan pergerakan tersebut? Ada peristiwa-peristiwa yang menginspirasi-kah?
Drink Responsibly terinspirasi saat saya tinggal di Sydney beberapa tahun. Masyarakat di sana tertib sekali mengenai miras. Mereka memang hobi menenggak miras, tapi miras itu tidak mudah untuk didapatkan, hanya dapat dibeli di bottle shop, tidak dijual di supermarket, dan aturannya ketat banget! Anak-anak di bawah umur bisa dipastikan sulit mendapatkannya. Dan, mereka takut banget berkendara saat sedang berada di bawah pengaruh miras. Hukumannya super berat! Lalu yang kedua karena salah satu sohib saya, anak band, meninggal akibat drink driving.
Kalau Designated Smoking Area ini karena dulu saya kan perokok berat. Saya lebih memilih pendekatan pragmatis dalam berhadapan dengan perokok. Biar saja Dinas Kesehatan dan siapa gitu yang bergerak menghentikan orang merokok. Saya tahu, bagaimana sulitnya untuk berhenti merokok. Jadi ya sudah, saya sediakan asbak saja, melokalisir perokok, agar sampah puntung rokok tak berserakan, perokok pasif bisa diminimalisir. Tagarnya #KurangiResiko.

Ini sempat Anda terapkan ketika membuat komunitas kecil Ragunan Whiskey Warrior (RGNWW) di Jakarta beberapa tahun lalu? Atau ketika Anda menjadi kontributor Beergembira? (Beergembira adalah online media mengenai bir serta budaya yang berkaitan dengannya)
Saya terapkan itu saat di RGNWW. Sebelumnya ya disiplin sendiri saja. Tidak mudah, karena di Indonesia Anda mudah tergoda untuk tetap memaksakan diri mengemudi, karena kebanyakan orang merasa mampu. Dan, di sini pun peraturannya tidak ketat. Di Beergembira kebetulan mereka sudah punya program mirip, namanya #TahuBatasnya.

Kan Anda minum dari dulu ya, nah, Anda sendiri pernah mengalami masa-masa terliar nggak? Minum hingga teler berat, berantakan di club, berantem dengan sesama pengunjung, atau hal-hal sejenis
Haha, pernahlah. Kita semua pasti sempat melewati masa-masa itu. Yang paling bodoh sih mabok dan berkendara. Kalau mati sendiri ya nggak apa-apa, resiko. Parahnya itu kalo bikin orang lain juga ikut mati. Itu yang mesti kita segera sadari. Mati ya mati saja sendiri. Jangan ngajak-ngajak. Kian tambah usia kesadaran pun semakin tumbuh. Silahkan minum sampai dead drunk, asal jangan membahayakan orang lain. Itu bentuk tanggung jawab kita, wujud kedewasaan.

Ok. Kita bicara soal Rudolf Dethu Showbiz, sekarang siapa saja musisi dan band yang tergabung?
Karena kesibukan yang kayak setan ini, saya lebih fokus ngurus satu band saja: The Hydrant. Selebihnya, saya lebih sekadar membantu saja. Ada Manja dan Truedy, juga Rebecca Reijman. Selebihnya, untuk urusan yang berkaitan dengan musik, saya ngurusin acara, bikin program di Rumah Sanur, di mana di sini saya menjabat sebagai Co-Director. Oh, saya belum sebut juga bahwa saya ikut di komunitas creative hub Ruangtuju. Yang cita-citanya ambisius: mengintegrasikan creative hub yang ada di seluruh Nusantara. Cikal Bakal Lokal. Ruangtuju ini ikut di Soundrenaline. Menyodorkan bakat-bakat lokal hasil kurasi dari beberapa creative hub di beberapa kota di Indonesia. Creative hub adalah wadah baru bagi anak-anak muda untuk bertemu, bergaul, saling bertukar pikiran serta berbagi ilmu. Ruangtuju Ini merupakan kolaborasi tiga creative hub: Rumah Sanur, Earhouse (Tangerang), Kedubes Bekasi. Sekarang banyak bertebaran creative hub di pelosok Nusantara. Kami bertiga yang paling solid. Dan, sepakat mencoba mengumpulkan satu demi satu creative hub itu agar kita semua bisa bekerjasama, membantu mendorong talenta-talenta lokal, sesuai dengan rekomendasi dari masing-masing creative hub. Bukan hanya soal musik, ya, tapi segala rupa berkesenian. Di mana saat seniman-seniman itu hendak pergi ke daerah baru, mereka tinggal kontak creative hub yang ada di daerah tersebut, dan bisa bertanya, misalnya, apakah bisa memfasilitasi konser, pameran, atau sejenisnya. Di website-nya sudah ada beberapa paparan, di mana saja ada creative hub.

Keren! Sekarang saya mau bertanya mengenai perbedaan nightlife di Bali dan Jakarta, versi Anda, karena Anda terbiasa bolak balik berkegiatan di kedua provinsi tersebut
Nightlife di Bali lebih variatif. Karena sekarang ada banyak opsi beach club, open airNggak melulu di tempat tertutup. Nightlife juga teramat variatif, ada beach club (outdoor, semi outdoor — live music, DJs), night club (indoor, DJs), bar (live music, DJs), creative hub (indie bands). Untuk daerah sekecil Bali, Denpasar dan Badung, utamanya, ada banyak sekali opsi. Dan, kantong-kantong keramaian itu terus melebar. Canggu, Seminyak, Kuta, Jimbaran, Ungasan, Nusa Dua. Itu pun baru Bali Selatan saja. Belum lagi Sanur. Masing-masing daerah, gaya serta jenis audiens-nya berbeda.
Untuk Jakarta, Tetap berkesan. Terutama jenis-jenis orang yang datang. Metropolitan banget! Cenderung formal.Terutama yang ke klub-klub malam. Kalau semisal beerhouse seperti Beer Garden mungkin lebih santai ya, meski kesan kurang rileks tetap ada. Nggak kayak di Bali, beda banget sama Bali. Kehidupan malam di Jakarta salah satu yang saya suka adalah banyak ketemu yang sadar busana dan enak dipandang. Kesan metropolitannya dapet. Sebagai orang Bali, enak sesekali dapet pemandangan seperti itu.

Hahaha. Ok, Dethu. Thank you! Saya memang hanya mau memberi tahu kesibukan terbaru Anda saja ke pembaca Vantage, sekaligus seperti apa nightlife Bali serta Jakarta di mata Anda, sebagai dua kota tempat Anda biasa bolak balik beraktivitas. Thank you so much brother!
Senang bisa ngobrol lagi, Nicko! Likewise, brother. Have a good one!

• Artikel di atas dipinjampakai dari Vantage.

The post PANGKUPARA TERANYAR SENI DAN SOSIAL SANG FLAMBOYAN PULAU SERIBU PURA, RUDOLF DETHU appeared first on RUDOLF DETHU.

RAY PETERSON: TELL LAURA I LOVE HER

On this day, 13 September, 59 years ago, a campaign was started in the UK to ban the American hit, teenage tragedy tune “Tell Laura I Love Her” by Ray Peterson. The song was being denounced in the press as likely to inspire a teen-age “glorious death cult.”

Released in 1960 on RCA Victor Records, reaching #7 on the US Billboard Hot 100 chart, it has been a hit in 14 countries and has sold over seven million copies.

The story told of a lovesick youngster, Tommy, who drives in a stock car race to win the hand of his sweetheart, Laura. He crashes, totally injured, and just before dying, groans out the words “Tell Laura I love her … My love for her will never die.”

An answer song, “Tell Tommy I Miss Him,” was released by Marilyn Michaels in 1960. A year later country singer Skeeter Davis released the same song on her album Here’s The Answer.

The post RAY PETERSON: TELL LAURA I LOVE HER appeared first on RUDOLF DETHU.

PAUL YOUNG: WHEREVER I LAY MY HAT (THAT’S MY HOME)

Been listening to this song on repeat lately. One of my most favourite pensive adagios back in the day. “Wherever I Lay My Hat (That’s My Home)” was first recorded by Marvin Gaye in 1962. Nearly two decades later Paul Young covered it and the tune was a UK No. 1 single for three weeks in July 1983.

The Paul Young version, from the album No Parlez, is stylistically notable for its use of fretless bass, played by Pino Palladino. Though a major UK hit that broke Young as a star, the song fared less well on the Billboard Hot 100, where it peaked at No. 70, but was later used in the 1986 film Ruthless People and its accompanying soundtrack album.

According to Young, when he was making the album No Parlez, the label sent him a number of songs that he thought were too complex. He said: “I just want a simple three-chord trick with a melody.” He remembered a B-side track by Marvin Gaye he heard when he was 14, found a recording, and decided to record the song. He slowed the song down, and added more melancholy to the vocal.

Palladino was then recruited from the Jools Holland’s band, Jools Holland and His Millionaires. The song was produced by Laurie Latham, who asked for an intro for the song, and Palladino quoted the bassoon melody at the opening of Stravinsky’s The Rite of Spring for the opening bass line. Palladino however thought that the bass line in the recording was too loud and out of tune. The keyboard player Ian Kewley added a keyboard motif to the song, and it was then decided that the song should be released as a single.

In a retrospective review, AllMusic journalist Dave Thompson wrote that Young’s version of the song “left mouths hanging open in awe” and described it as “a beautifully impassioned take on what was, in all fairness, never one of Marvin Gaye’s greatest performances.”

• Featured image by Simon Fowler.

The post PAUL YOUNG: WHEREVER I LAY MY HAT (THAT’S MY HOME) appeared first on RUDOLF DETHU.