Tag Archives: Music

Ubud Village Jazz Festival 2017 menampilkan musik jazz dengan cara yang berbeda.

Festival Jazz Internasional “berbasis komunitas lokal” yang dimulai pada tahun 2013 ini, sedang gencar mempersiapkan diri untuk kelima kalinya. Tahun ini Ubud Village Jazz Festival akan diselenggarakan pada tanggal 11 dan 12 Agustus 2017 di ARMA Museum, Ubud, Bali. Selain memperoleh banyak pujian dari para kritikus, musisi serta penonton, dan dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata, […]

LEANNA RACHEL: COFFEE

Rilis Pers

LEANNA RACHEL: COFFEE

Nestapa namun nrimo.

Demikian pemaparan ringkas-padat paling pas untuk menggambarkan “Coffee”.

Tembang terbaru milik biduanita jelita asal Los Angeles, Leanna Rachel, ini berkisah soal hubungan asmara yang awalnya mesra berseri-seri tapi ternyata berujung pada patah hati. Segala kenangan manis yang dijalani bersama-sama mesti dilupakan, ditinggalkan sepenuhnya. Hati harus dikuatkan. Menjalani kehidupan sendiri menjadi pilihan.

“Coffee” yang begitu saja tercipta di sepucuk hari kala Leanna tertimpa gelisah, paradoksal senang-sedih, kontradiktif pasif-agresif, mencoba meyakinkan kita bahwa perasaan duka tak mesti terus diratapi. Bahwa duka seyogianya dirangkul, dipeluk saja, terbuka diterima.

Selain mengandung pesan positif—hidup tawakal dijalani, badai pasti berlalu—lagu setengah riang ini juga menjadi semacam pertanda bahwa Leanna serius mengakrabi Indonesia, Sabang-Merauke adalah rumahnya kini. Tahun lalu, 2016, misalnya, merupakan masa paling lama perempuan blasteran Amerika-Filipina ini tinggal di Indonesia. Lebih dari 1 tahun tanpa jeda. Di “Coffee” pula Leanna mulai memasukkan secuplik lirik berbahasa Indonesia.

“Saya senang mendengar ketika orang berbicara dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja saya girang saat menyanyi dalam Bahasa Indonesia. Bagi saya, semua pengalaman itu terasa alami dan cair.”

“Saya masih belajar agar bisa lebih lancar, makanya saya hanya memasukkan satu verse saja sebagai permulaan,” ujar Leanna semringah.

Pun “Coffee” menegaskan pekatnya “Selera Nusantara” di diri Leanna sebab seluruhnya direkam di Bali serta para partisipan adalah musisi anak negeri yaitu Noriz Kiki (drum) serta Edi Pande Kurniawan (bas) dengan melibatkan produser sakti mandraguna Dadang Pranoto.

Mari teguk kopi dan sambut hari baru sendiri, mandiri!

__________

https://leannarachel.bandcamp.com/track/coffee
Lagu dan Lirik: Leanna Rachel & Rudolf Dethu
Produser: Dadang Pranoto
Mixing and mastering by: Trigan Young
Studio: Seminyak Pro Studio

Brother Keepers Forever, Menyelamatkan Subak dan Ruang Bermain

Save Subak Bali

Sepetak sawah itu tanahnya telah mengering.

Dia dipenuhi plastik-plastik bekas yang menjadi artefak sisa makanan. Sebuah bendera besar tegak berkibar tertiup angin di tengah sawah tersebut. Bendera Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) menjadi pernyataan sikap warga sekitar terhadap rencana Reklamasi Teluk Benoa.

Terlihat pelantang suara (oudspeaker), drum, dan gitar yang masih terbungkus rapat. Panggung kecil telah terpasang di sawah yang telah mengering. Rumput dan jerami menguning memenuhinya. Di sisi bentangan sawah lainnya, tampak sebuah traktor masih terbungkus rapi dengan terpal hijau pudar ditinggal pengembalanya pulang berhari raya.

Sebuah papan bertuliskan SAVE SUBAK BALI dipajang di pematang sawah. Dia menjadi penanda pergelaran yang akan dihelat hari itu.

Subak sebagai sistem tata kelola persawahan di Bali memang sudah cukup populer dan mulai terancam punah. Hal ini jelas merupakan salah satu akibat aktivitas alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan.

Pembengkakan jumlah penduduk berbanding lurus dengan kebutuhan akan tempat tinggal. Pemukiman pun terus melebar dan mempersempit area sawah yang akhirnya tak lebih menjadi jeda pendek antara dua bangunan.

Subak sebagai sebuah sistem irigasi bisa bertahan karena ada sawah. Sawah bisa bertahan karena masih ada yang tidak tergoda untuk menjualnya dan memilih untuk bertani. Ketika petani dan sawah tidak lagi, ada maka subak hanya akan menjadi kenangan.

Berbicara tentang sawah tidak hanya masalah lahan penghidupan atau sumber tradisi, tetapi juga sebagai ruang bermain. Anak-anak menjadikan sawah sebagai tanah lapang tempat mereka bermain. Mulai dari bermain bola, perang lumpur dan yang tidak kalah seru dan telah menjadi tradisi adalah bermain layang-layang.

Ada ingatan romantis masa kecil akan sawah lapang dan luas, yang biasa digunakan untuk arena bermain. Meskipun bermain di sawah akan diselingi teriakan orang tua yang sedikit bawel karena lumpur memenuhi sekujur tubuh. Atau tangisan akibat luka kecil karena terjatuh saat sedang asyik berlarian di sawah.

Sayangnya ingatan itu terancam oleh kekhawatiran. Bahwa anak-anak di masa mendatang tidak akan lagi memiliki kesempatan mendapat pengalaman sama. Sebab, lahan mereka telah habis oleh bangunan beton.

“Anak-anak masih sering melayangan, sedangkan pendatang tambah banyak, batako dan beton terus bertambah. Kami ingin suasana pedesaan ini masih ada sehingga ada tempat bermain bagi anak-anak,” kata Koden, salah satu personel grup band Netterjack.

Akhirnya, kami pun menggagas acara Brother Keepers Forever yang bertemakan SAVE SUBAK BALI. Acara ini berlangsung pada Minggu (2/7) di Banjar Apuan, Singapadu, Sukawati, Gianyar.

“Ini juga karena dorongan dari Jes. Dia yang bilang kalau tempatnya asyik untuk sebuah acara,” Koden menambahkan.

Anak-anak muda Banjar Apuan Singapadu, Sukawati, Gianyar pun kembali memenuhi sawah. Meski bukan untuk mencangkul, setidaknya ini menjadi stimulan untuk mengingat kembali kenangan masa kecil. Kenangan yang semakin hari semakin terhapus oleh ruinitas dan pergeseran intensitas komunikasi dunia maya.

Kekhawatiran Koden memang beralasan. Melihat bangunan-bangunan perumahan yang menjorok semakin dalam ke lahan-lahan sawah produktif. Perlahan-lahan menimbun ingatan masa kecil akan sawah dengan campuran semen, pasir dan batako.

Orang-orang baru hadir entah dari mana. Tiba-tiba menjadi tetangga. Ada sekitar 250 kepala keluarga  pendatang dan membuka pemukiman baru di lingkungan tersebut. Hal ini diutarakan oleh Pak Made Parwira, warga setempat yang memberikan sawah garapannya untuk dijadikan lokasi acara.

“Mungkin sekitar 8 hektar sawah di sini telah habis menjadi perumahan. Ada sekitar 70 are, yang dulunya sawah kini sudah bertransformasi menjadi rumah-rumah hunian,” katanya sambil mengarahkan telunjuk ke arah timur, menunjuk sebuah perumahan yang berdiri di tengah-tengah sawah.

Anak-anak muda yang memiliki kenangan romantis akan sawah saling bersolidaritas. Meminjamkan listrik, seperangkat sound system serta instrumennya, dan waktu untuk berdendang.

Ada pula yang  memberikan karya-karya mural yang dilukis di dinding. Ada 735art yang menggambar seekor kodok hijau raksasa di atas dinding batako telanjang. Di sisi lainnya seekor kera mengenakan pakaian belang (bojog poleng) sedang menggunakn cat spray.

Salah satu karya mural dari @mardiadinata.

Ada 735art, Frenk (Mardia Dinata), Antox, Peng, Egix dan kawan-kawan yang telah memulai karya mereka beberapa hari sebelumnya. Sedangkan Easy Tiger, Unkle Joy, Tockibe dan kawan-kawan lain masih asyik dengan dinding yang disediakan untuk menjadi media bagi mereka dalam berkarya.

Semakin malam penonton semakin ramai. Suara genset yang menjadi sumber energi untuk sound system seolah menjadi background bagi band-band yang bermain. Ada Moron Bross, Rograg, Matarantai, Rastaflute, Bebangkan Oi! Squad dan tentu saja tidak ketinggalan Koden Netterjack.

Salah satu band yang ikut memeriahkan acara Save Subak Bali.

Malam itu, suara jangkrik terpaksa menyingkir dan diganti dengan alunan musik dari band-band pengisi acara. Nyamuk-nyamuk pun harus menjauh untuk menghindari kepulan asap dari api unggun yang memanggang beberapa jenis bahan makanan. Tidak lupa minuman lokal yang menjadi pelengkap untuk merayakan kebersamaan tersebut.

Keintiman muncul dari setiap wajah yang hadir di malam itu. Keintiman di tempat yang dahulu pernah menjadi arena bermain para pemuda ini. Tempat yang telah mereka abaikan akibat kesibukan rutinitas akan tuntutan yang mengikuti umur (semakin bertambah usia semakin menuntut).

Tempat yang mereka coba pertahankan agar anak-anak mereka masih bisa menikmati kesegaran udara dan bermain di atas lumpur. Bebas berlari dan menerbangkan layang-layang seperti halnya yang mereka lakukan dulu di masa kecil. [b]

The post Brother Keepers Forever, Menyelamatkan Subak dan Ruang Bermain appeared first on BaleBengong.

THE HYDRANT: TRANS-EUROPE RAMBLERS • ROCKABILLY GYPSY TOUR

Photo by Indra Gunawan.

Hari ini, 1 Juli 2017, tepat tengah malam nanti The Hydrant bakal meninggalkan Indonesia untuk tampil di dua festival kelas wahid: Pohoda di Slovakia serta Mighty Sounds di Ceko.

Di Indonesia sepertinya hanya segelintir orang—termasuk personel The Hydrant sendiri—yang ngeh segigantik serta seberapa keren Pohoda juga Mighty Sounds.

Publik ditanggung terhenyak saat disodorkan fakta bahwa Pohoda tahun ini berusia 20 tahun. Pada 2016 Pohoda yang berpopulasi rata-rata 30 ribu pengunjung masuk 10 besar Best Festival Line-up (bersanding dengan Glastonbury dan Primavera); Michal Kaščák, dedengkot Pohoda, tercatat dalam nominasi Award for Excellence & Passion (bersaing dengan seniman kawakan Damon Albarn, direktur Lollapalooza Berlin Fruzsina Szép, bos Eurosonic Ruud Berends); pula dipilih sebagai 1 dari 10 Best European Medium-Sized Festival (sejajar dengan Hideout, Let it Roll, Weekend, Azkena Rock, dsb).

Grup-grup musik dan artis-artis terhormat macam Public Enemy, PJ Harvey, Nick Cave & the Bad Seeds, Bjork, Portishead, Pulp, Moby, dll; pernah menjajal panggung Pohoda.

Untuk tahun ini, 6-8 Juli, pengisi acaranya tetap dengan konsep genre nan puspawarna di antaranya The Jesus & Mary Chain, Mark Lanegan, Slowdive, Alt-J, M.I.A, dsb.

Sementara Mighty Sounds kini menyentuh umur 12 tahun dengan rekor jumlah audiens mencapai 12 ribu orang. Di kategori festival punk rock beserta sub genrenya Mighty Sounds menjadi salah satu pagelaran terbesar di Eropa.

Daftar penampil pun impresif. Mulai dari Buzzcocks, Subhumans, The Aggrolites, Anti-Flag, The Casualties, Adolescents, Biohazards, hingga Batmobile.

Pada 2017 deretan musisi yang beraksi kian mencengangkan: Gogol Bordello, Cock Sparrer, Ignite, The Adicts, Agnostic Front, H2O, dan masih banyak lagi.

Kuartet asal Bali yang dikenal pula sebagai The Pompadour Four ini dijadwalkan tampil pada Jumat, 7 Juli 2017 di panggung utama Pohoda. Sedangkan di Mighty Sounds sendiri Marshello (biduan, harmonika, gitar), Adi (bas, vokal latar), Vincent (gitar utama), dan Chris (drum berdiri); akan bergoyang tepat seminggu berikutnya, 14 Juli 2017, di Lucky Hazzard stage—ajang beraksi band yang belum populer secara global namun dikategorikan punya masa depan gemilang.

 

Oh, sudah tahu belum bahwa penampilan The Hydrant di Pohoda ini sejatinya sudah yang kedua kali? Yang pertama pada 2009. Nanti akan dikisahkan!

Let’s roll the dice! Kickstart Trans-Europe Ramblers • Rockabilly Gypsy Tour!

−Foto di halaman depan adalah karya Abottsky.

THE HYDRANT: TRANS-EUROPE RAMBLERS • ROCKABILLY GYPSY TOUR

Photo by Indra Gunawan.

Hari ini, 1 Juli 2017, tepat tengah malam nanti The Hydrant bakal meninggalkan Indonesia untuk tampil di dua festival kelas wahid: Pohoda di Slovakia serta Mighty Sounds di Ceko.

Di Indonesia sepertinya hanya segelintir orang—termasuk personel The Hydrant sendiri—yang ngeh segigantik serta seberapa keren Pohoda juga Mighty Sounds.

Publik ditanggung terhenyak saat disodorkan fakta bahwa Pohoda tahun ini berusia 20 tahun. Pada 2016 Pohoda yang berpopulasi rata-rata 30 ribu pengunjung masuk 10 besar Best Festival Line-up (bersanding dengan Glastonbury dan Primavera); Michal Kaščák, dedengkot Pohoda, tercatat dalam nominasi Award for Excellence & Passion (bersaing dengan seniman kawakan Damon Albarn, direktur Lollapalooza Berlin Fruzsina Szép, bos Eurosonic Ruud Berends); pula dipilih sebagai 1 dari 10 Best European Medium-Sized Festival (sejajar dengan Hideout, Let it Roll, Weekend, Azkena Rock, dsb).

Grup-grup musik dan artis-artis terhormat macam Public Enemy, PJ Harvey, Nick Cave & the Bad Seeds, Bjork, Portishead, Pulp, Moby, dll; pernah menjajal panggung Pohoda.

Untuk tahun ini, 6-8 Juli, pengisi acaranya tetap dengan konsep genre nan puspawarna di antaranya The Jesus & Mary Chain, Mark Lanegan, Slowdive, Alt-J, M.I.A, dsb.

Sementara Mighty Sounds kini menyentuh umur 12 tahun dengan rekor jumlah audiens mencapai 12 ribu orang. Di kategori festival punk rock beserta sub genrenya Mighty Sounds menjadi salah satu pagelaran terbesar di Eropa.

Daftar penampil pun impresif. Mulai dari Buzzcocks, Subhumans, The Aggrolites, Anti-Flag, The Casualties, Adolescents, Biohazards, hingga Batmobile.

Pada 2017 deretan musisi yang beraksi kian mencengangkan: Gogol Bordello, Cock Sparrer, Ignite, The Adicts, Agnostic Front, H2O, dan masih banyak lagi.

Kuartet asal Bali yang dikenal pula sebagai The Pompadour Four ini dijadwalkan tampil pada Jumat, 7 Juli 2017 di panggung utama Pohoda. Sedangkan di Mighty Sounds sendiri Marshello (biduan, harmonika, gitar), Adi (bas, vokal latar), Vincent (gitar utama), dan Chris (drum berdiri); akan bergoyang tepat seminggu berikutnya, 14 Juli 2017, di Lucky Hazzard stage—ajang beraksi band yang belum populer secara global namun dikategorikan punya masa depan gemilang.

 

Oh, sudah tahu belum bahwa penampilan The Hydrant di Pohoda ini sejatinya sudah yang kedua kali? Yang pertama pada 2009. Nanti akan dikisahkan!

Let’s roll the dice! Kickstart Trans-Europe Ramblers • Rockabilly Gypsy Tour!

−Foto di halaman depan adalah karya Abottsky.