Tag Archives: Music

BUMBLEBEE & THE SMITHS

Finally had a chance to see Bumblebee last night. I bet most of you have seen it already. I don’t really follow Transformers, Star Wars, Star Trek, anything in that genre. I mean I’d still go to the cinemas to see those flicks. But mostly due to FOMO—fear of missing out. Plus I always like the ritual of going to the movies, watch motion pictures from a huge screen, and experiencing Dolby/THX/DTS, any sophisticated sound system.

Many of my good friends said Bumblebee is great. The media reviews also good. Mostly commented the music, the soundtrack, is very interesting. And it’s true, the first minute the movie started—the film is set in 1987—you’d hear New Kids on the Block. Whoa.

Wait, what?! Screw them. Fuck NKOTB. No, it’s The Smiths. “Bigmouth Strikes Again”, to be precise. Fucking whoa.

For me, it’s such a strong mood booster. Same as you—not you, Fred Durst—we all love The Smiths. The jangly pop miserabilists. Smiths songs are our loyal friends to get us through every stage of heartbreak.

Charlie Watson is wearing The Smiths’ t-shirt | Photo: Spotern.


“Bigmouth” isn’t the only Smiths’ tune in Bumblebee, there’s also “Girlfriend in a Coma”. While Charlie, the main character, wears The Smiths t-shirts most of the times in the film—take a look at the poster, too.

“I really fuckng like The Smiths. When I was 18 I got into The Smiths and … I just fucking love them. How can you not? Honestly, for me, The Smiths were like the first time that I was choosing my own music, weirdly. When I was younger I just listened to what ever was around. So when I listened to The Smiths I was like, ‘Oh yes! This is me. I love everything about them. I love the words. It is so weird. The songs are strange!’” Bumblebee writer Christina Hodson tells Metro USA.

Frankly, Mr. Shankly, go see Bumblebee now!

MAMBO ITALIANO

Hetty & The Jazzato Band | Photo: Stenberg Clarke

Today, 64 years ago, Rosemary Clooney was at no. 1 on the UK singles chart with “Mambo Italiano”. The song was banned by all ABC owned stations in the US because it “did not reach standards of good taste” (ha!)

Lagu ini penting bagi The Hydrant dan saya karena kerap memenuhi atmosfer musikal kami. Kala tampil di Viva Las Vegas 2016 dan 2018, menyusuri jalan bebas hambatan LA-Las Vegas-LA “Mambo Italiano” menjadi salah satu opsi wajib di playlist Spotify. Pun kala menyusuri Eropa tengah pada 2017 lewat jalan darat, gita ciptaan Bob Merril yang ditulis untuk Rosemary Clooney ini selalu diputar di stereo system van yang kami tumpangi.

“Mambo Italiano” banyak disenandungkan ulang oleh penyanyi lain. Di antaranya Lady Gaga, Shaft, Bette Middler, Dean Martin, Renato Carosone (ini versi yang kerap kami putar saat cruisin’ for a bruisin’, video ke-3), juga dengan nuansa rockabilly oleh Hillbilly Moon Explosion.

Berikut beberapa video “Mambo Italiano” dengan pendekatan yang berbeda-beda, beragam genre. Namun benang merahnya sama: jazz. Pula ada versi aslinya oleh Rosemary Clooney.

Yang menarik, video terakhir, dendang bertajuk “Astro Rockabilly Mambo” oleh kolektif asal Prancis, Les Ennuis Commencent. Rupanya ada beberapa pegiat skena rockabilly yang mencoba memperkenalkan sub-genre anyar: Rockabilly Mambo. Belum jelas perkembangan sejauh ini seperti apa. Tapi di YouTube ada beberapa. Sepertinya “Mambo Italiano” punya peran masif di sini, menjadi inspirasi.

Terakhir, tahukah anda bahwa biduan The Hydrant Marshello adalah penggemar berat musik Latin macam begini?

HAPPY BIRTHDAY, ELVIS PRESLEY!

Photo: dc-shoe.com

Happy birthday Elvis Presley!

Elvis merupakan sosok paling berpengaruh nomer 1 dalam berkesenian, nabi duhai mulia, inspirasi terbesar The Hydrant, pionir Rockabilly di Indonesia, band yang saya manajeri.

Yang paling gamblang terlihat adalah pengaruhnya pada sang biduan, Marshello. Ketika predikat “Brown Elvis” dijatuhkan padanya, kalian tak tahu seberapa ultra girang dan bangganya si Shello.

Untuk riang ria merayakan hari kelahiran pionir rockabilly ini mari kita beberkan gono-gini tak penting tapi penting soal dia:

1. Elvis Aaron Presley memang tenar dengan rambut hitam legamnya. Tapi itu karena disemir. Warna aslinya adalah coklat. 

2. Elvis memiliki gitar kala berusia 11 tahun. Tadinya ia hendak membeli senapan namun ibunya meyakinkannya agar mengambil gitar saja. 

3. Pada 1954 ia mengikuti audisi untuk kuartet gospel the Songfellows. Tapi tidak diterima.

4. Tembang pertama yang mengantarnya menjadi populer, “Heartbreak Hotel”, terinspirasi oleh artikel mengenai bunuh diri di sebuah koran lokal.

5. Nama rumah besar mewahnya di Memphis, Graceland, mengambil dari nama puteri dari pemilik sebelumnya, Grace.

6. Elvis telah merekam lebih dari 600 lagu dan tiada satu pun ditulis oleh dirinya.

7. Saat tampil di TV pada 1956 ia diminta beraksi tanpa gitar. Agar tetap atraktif Elvis lalu menggoyang pinggulnya. Amerika Serikat seketika heboh, ia dicap amoral. Ia lalu dinamai Elvis the Pelvis.

8. Di tahun yang sama seorang hakim menyebutnya “liar” serta musiknya dianggap merusak tatanan moral muda-mudi. Di sebuah konser ia dilarang bergoyang pinggul. Ia kemudian menggoyangkan jari-jarinya saja sebagai bentuk protes.

9. Little Elvis adalah sebutan khusus Elvis untuk penisnya.

10. Elvis kabarnya masih punya hubungan keluarga dengan 2 presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln dan Jimmy Carter.

Video yang diselipkan di sini, “A Big Hunk O’ Love”, semacam kompilasi Elvis the Pelvis.

Cheers on your birthday, the King of Rock and Roll!

PROTECT YA NECK

Photo: Clash Magazine.

Been spending most of my weekends in bed and watching this Netflix series, Hip-Hop Evolution.

A really great documentary. In-depth. Comprehensive. Geeky. The tv presenter is a true hip hop historian. The flyest storyteller.

One that got special attention in that doco is “Protect Ya Neck”, the debut single by Wu-Tang Clan. How the song came out. How hip hop universe was pretty shocked with the song structure and the rapping style: raw, dark, dirty, no hook, no verse.

The first time I heard this song, I wasn’t very interested. Same as songs from Cypress Hill’s Black Sunday. I guess due to minimum hook and less catchy compare to rapcore tunes, the trendy genre at the time.

As the time went by, it grew on me. I remember vividly when we drank bad and lethal arak with my buddies in Denpasar where we usually hung out and cranked up this song, we all laughed listening to it. So raw, gritty, gravely. Pure arak spirit. Has a strong punk rock vibe—we played punk rock a lot back then.

At Rumah Sanur – Creative Hub where I now run music department, We used to have a regular DJ set program called Protect Ya Deck. Obviously inspired by that Wu-Tang’s classic song. I guess, it’s time for a comeback.

Yes, Hip-Hop Evolution reminds me to show a better respect to RZA, GZA, Ghostface Killah, Ol’ Dirty Bastard, Method Man, Inspectah Deck, …who else, I always forget the rest. Sorry, Black Jesus.

Can I get a Suuuu?

GELIAT MUSIK BALI: KECIL, KUAT, BERBAHAYA

The Hydrant | Foto: Forceweb

Tanpa terasa, tiada dinyana, sebentar lagi kita bakal masuk ke tahun baru 2019. Jika seksama diperhatikan, di skena musik, ada fenomena menarik yang terjadi. Kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja yang tadinya seolah menggiring selera anak muda Nusantara, belakangan tampak berkurang. Terjadi pergeseran kekuatan.

Metropolitan yang selama beberapa dasawarsa berposisi dominan kini pengaruhnya agak melemah. Bali, pulau kecil yang bersebelahan dengan Jawa, mulai angkat bicara. Makin banyak musisi-musisi asal Pulau Dewata yang wira-wiri di konser-konser kelas nasional, kian melimpah paguyuban-paguyuban artis dari Pulau Seribu Pura yang menjadi perbincangan hangat di kancah musik Nusantara.

Jika ditarik sedikit ke belakang, pihak yang pantas “dituduh” paling bertanggung jawab menorehkan nama Bali ke peta musik nasional, tentu saja Superman Is Dead (SID). Bergabungnya trio punk rock ini dengan Sony Music Indonesia serta merilis album fenomenal Kuta Rock City membuat popularitasnya terdongkrak masif, menjangkau penjuru-penjuru Indonesia. Status cult mereka di jagat bawah tanah dalam jangka waktu cukup cepat berubah menjadi “artis nasional”, merangsek masuk ke pusaran arus utama. 

Kiprah mencengangkan dari SID ini sontak menginspirasi dinamika kesenian setempat. Mendadak, kehidupan bermusik di Bali menjadi begitu bergairah. Bejibun artis-artis baru muncul. Seniman-seniman era lama juga ada beberapa yang mencoba peruntungannya, turut memeriahkan belantika Dewata. Dua nama yang paling menonjol di skala lokal kala itu adalah Navicula dan Lolot. Dalam skala lokal mereka tergolong veteran, telah bermusik sejak pertengahan ’90an, hampir sepantaran dengan SID, dan cukup disegani di daerah sendiri.

Superman Is Dead | Foto: Instagram SID

Navicula mengikuti jejak SID lalu bekerja sama dengan Sony Music Indonesia, menjadi band kedua yang “go national” dalam makna sesungguhnya. Sementara Lolot—ia adalah pemain bas pertama SID, saat masih bernama Superman Silvergun—sukses besar menghentak atensi publik muda lokal. Ia menerbitkan album bergenre punk rock dengan menggunakan Bahasa Bali sebagai ujaran pengantar. Ini tergolong revolusioner bagi Bali. Belum pernah ada yang melakukannya sebelumnya. Sontak disambut gila-gilaan. Albumnya terjual hingga, kabarnya, 60 ribu kopi. Ditambah dengan jadwal manggung yang duhai padat. 

Navicula | Foto: Pica Magz

Meledak-ledaknya kancah musik di Bali ini sayangnya tak dibarengi dengan mutu produk, pengalaman, serta kesiapan sumber daya manusia yang memadai. Memang berlimpah artis yang eksis namun kebanyakan memilih jalan generik dan memainkan musik yang mirip dengan SID yaitu melodic punk. Sementara itu, di daerah-daerah lain di Nusantara juga bejibun band-band yang mengusung melodic punk, dengan mutu yang relatif lebih baik. Pun jika bicara soal pemasaran dan sisi manajerial, rata-rata masih kebingungan, apa strategi terbaik dalam menarik perhatian publik nasional. Belum lagi, stok manajer atau orang yang mau menjadi manajer—posisi vital agar fondasi nge-band lebih kuat—sangatlah terbatas, bahkan hampir nihil. 

Gejolak eksplosif ini berangsur meredup. Kerjasama Navicula dengan Sony Music Indonesia hanya menghasilkan letupan kecil, kurang signifikan. The Hydrant yang bergabung dengan EMI juga nasibnya segendang sepenarian. Lolot yang sempat meraih penghargaan di SCTV Music Award, sayup-sayup memudar. Ketiga “sinar harapan” Pulau Dewata tersebut bisa dibilang sekadar ribut sebentar lalu beringsut sirna. Navicula, The Hydrant, dan Lolot balik lagi jadi jago kandang.

Berakhir hingga di situ saja? Syukurnya tidak. Mereka konsolidasi ke dalam, mempersiapkan amunisi yang lebih canggih, menambahkan pengalaman agar lebih kaya. Hanya SID yang justru makin jaya wijaya menaklukkan percaturan musik nasional.

Sampai akhirnya sejak sekitar empat tahun lalu Bali kembali menyeruak ke permukaan. Balik dari masa meditasi dan penggemblengan diri yang lumayan lama, dengan kekuatan penuh. Back in full effect. Navicula dan The Hydrant, misalnya, beredar pesat lagi di skena musik nasional. Dibarengi dengan rangkaian tur luar negeri yang konstan. Minimum setahun dua kali—utamanya The Hydrant—terhitung sejak 2015.

Yang menarik, yang menampakkan diri bukan cuma wajah-wajah lama, tapi dibarengi muka-muka baru. Atau mungkin lebih tepat disebut sebagai “gelombang baru”. Sebut saja misalnya Zat Kimia, Nosstress, Rollfast, Jangar, Scared of Bums, Joni Agung & Double T, Leanna Rachel, Sandrayati Fay, dsb. Secara nasional nama-nama itu mampu menancapkan cakarnya dengan tajam. Lagu-lagu mereka dikenal dengan baik, sanggup mengundang sing along kala mereka manggung. Ajakan tampil bukan lagi sekadar dalam rangka promosi, dibayar sekadarnya. Tapi sudah secara profesional, diganjar dengan jumlah dana yang layak.

Zat Kimia | Foto: Teddy Drew

Mengapa bisa seperti tiba-tiba legiun musisi Bali keras menghentak belantika musik Indonesia? Dari sepengamatan saya terpapar beberapa faktor penting:

1. Bali Tolak Reklamasi.

Bisa dibilang nyaris semua musisi-musisi yang diidolakan di Bali turut berpartisipasi aktif di gerakan sosial ini. Mulai dari yang generasi lawas hingga milennial. Barangkali karena merasa senasib sepenanggungan, sama-sama berjuang untuk keselamatan Bali, dan kompak melawan kekuatan besar serta menakutkan, respek satu sama lain antar musisi tumbuh secara alami dan mempererat hubungan pertemanan. Berdampak kemudian menjadi saling mendukung dalam soal berkesenian. Yang namanya gontok-gontokan, saling sikut, apalagi permusuhan antar musisi, hampir tidak ada, nyaris nihil. Sangat harmonis. Situasi sehat macam begini menjadi dasar kuat dalam mencapai kemaslahatan skena musik.

2. Berlimpah Ruang Ekspresi

Tempat-tempat untuk unjuk gigi ada banyak bertebaran di Bali serta cenderung mudah diajak bekerjasama. Di sekitar Sanur ada Rumah Sanur, Taman Baca Kesiman, serta baru saja selesai direnovasi: Antida Sound Garden. Di seputaran Denpasar ada Two Fat Monks, Rumahan Bistro, serta CushCush Gallery yang sesekali menyelenggarakan sesi akustik. Jauh di Selatan, Uluwatu, Single Fin cukup sering menampilkan musisi-musisi lokal Bali. Di Kuta ada Twice Bar dan Hard Rock Cafe. Di Canggu terdapat Gimme Shelter, Sunny Cafe, Deus Ex Machina, Old Man’s, juga yang baru saja buka: Backyards. Setiap tempat yang disebut barusan semuanya amat terbuka dan nyaris tanpa birokrasi ribet kalau mau menggunakan tempat tersebut untuk, misalnya, pesta peluncuran album. Tinggal kontak dan cocokkan jadwal serta urusan penjualan tiket, bagaimana pola pembagian keuntungan. Gampang, ringan, lancar.

Konser musik di Rumah Sanur.

3. Intensitas Konser yang Frekuentif

Bisa dibilang selain di klub dan kafe yang membuat pertunjukan musik secara reguler, acara-acara konser lainnya (korporat, pensi, ulang tahun banjar, dll) hampir pasti ada di setiap akhir pekan. Entah di jantung kota Denpasar, di Sanur, Nusa Dua, Ubud, Kuta, di banyak penjuru di Bali. Ada terus. Sampai sering bingung memutuskan bagusnya pergi ke pertunjukan yang mana.

4. Fenomena Hijrah

Bejibunnya anak-anak muda yang hijrah di kantong-kantong kreatif macam Jakarta, Bandung, dan Jogja, membuat gairah bermusik di kota-kota tersebut terkesan agak menurun. Anak-anak mudanya lebih sibuk mengurusi agama. Malah, sebagian lagi, memusuhi musik, mencapnya haram. Ini sedikit “membantu” Bali mengisi kekosongan kreativitas di skena musik anak muda. Bali adem saja menjunjung tinggi rock and rolltanpa lupa pada kewajiban beragama/sisi kultural sebab sedari dulu telah terbiasa menjalankan dua hal tersebut secara beriringan. Pergi ke tempat ibadah jalan terus, aktivitas rock and roll pun berlangsung biasa. 

Nah, jika pulau sekecil Bali saja bisa lantang bersuara di belantika musik Indonesia, bagaimana dengan daerah kamu?

Selamat Tahun Baru 2019!

________

*Artikel yang saya tulis ini pertama kali tayang di situs web DCDC minggu lalu.