Tag Archives: Music

KARTU SARACEN PINTAR


Selamat kepada Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih DKI Jakarta periode 2017-2022, Anies Baswedan serta Sandiaga Uno.

Dari sebegitu berlimpah program dan inovasi yang dijanjikan, sebagai warga Jakarta saya berharap agar Anies-Sandi juga di kemudian hari menerbitkan Kartu Saracen Pintar.

Barangkali dari program Ok Oce bakal bisa dijaring penggiat start-up yang mampu menemukan chip super sensitif pendeteksi SARA – Suku Agama Ras dan Antar golongan.

Chip ini nanti ditanam di Kartu Saracen Pintar. Diharapkan setiap warga yang memiliki Kartu Saracen Pintar akan cepat bisa mendeteksi lawan bicaranya, individu di sekitar, atau orang dalam radius 100 meter apakah ia:
– Pribumi
– Kafir
– Antek asing
– Keturunan Aseng
– Penista agama
– Yahudi

Bercita-cita agar pribumi jadi tuan rumah di negerinya sendiri? Kartu Saracen Pintar bisa bikin pribumi kian cetar!

NB: Inovasi “sadar pribumi” seperti Kartu Saracen Pintar ini barangkali akan lebih jitu, tepat sasaran, jika menunjuk saudara Pandji sebagai ketua satgas Kartu Saracen Pintar.

Soundrenaline 2017, Pesta Musik dan Wisata Baru

Soundrenaline 2017 awalnya hanya sebatas kemungkinan.

Keputusan untuk akhirnya mendatangi even yang digadang-gadang sebagai festival musik terbesar dalam tingkat nasional Indonesia ini pun baru tercetus di H-1. Kali ini yang menguatkan keinginan saya adalah menonton Float dan Homogenic.

Float tampil untuk pertama kali di Bali sekaligus membuka Soundrenaline hari pertama. Homogenic di hari kedua. Sesungguhnya menonton Float secara langsung bukan sesuatu yang baru bagi saya. Tidak bisa dikatakan sering juga, mungkin ini kali kelima saya menonton mereka secara langsung.

Menonton Float dengan masa teramai pun ternyata saya alami tahun lalu di Folk Music Festival (FMF) Malang. Lalu bagaimana di Soundrenaline?

Suasana area amphiteater atau yang dinamai Refine Slim Stage selama dua hari perhelatan Soundrenaline 2017 cukup ramai dan terus bertambah hingga pengujung penampilan mereka. Namun, tidak penuh sesak seperti saat saya menonton mereka di Malang.

Bisa jadi karena Float hadir di jam awal, 16.00 Wita, bersamaan dengan Efek Rumah Kaca yang tampil di Burst Stage. Tampil di panggung amphiteater dengan, dua gitar, bass dan drum menjadi set sederhana band yang digadang-gadang sebagai raksasa folknya Indonesia.

Total 10 lagu yang mereka bawakan. Lagu-lagu dari soundtrack film 3 Hari Untuk Selamanya, album “10”, hingga single paling baru mereka Keruh (2016) Indah Hari Ini (I.H.I) menjadi penutup band yang sudah 13 tahun malang melintang di industri musik indie tanah air pun berhasil mengobati rindu. Saya dan seisi amphiteater semakin kompak bernyanyi bersama Meng pada lagu Pulang.

Namun, perlu diakui bahwa repertoar dari band yang kini hadir dengan formasi baru, setelah Bontel hengkang yang kemudian disusul oleh Raymond, Float Reborn, begitu mereka menyebutnya pun masih menampilkan lagu-lagu lama. Memang kerap menjadi pertanyaan apa yang menjadi materi band yang kini diperkuat Timur Segara, Binsar H. Tobing dan David Lintang, menemani vokal dan gitar Meng. Apalagi tahun ini sudah menjadi tahun ke-13 bagi Float.

Hingga ada celetukan, “Benar-benar lewat sudah nih 3 Hari untuk Selamanya…”

Is “Payung Teduh” sempat berseloroh bahwa musisi dan karyanya adalah sebuah KTP yang memiliki batas waktu berlaku. Karena itu, saat lewat masa berlaku dan tidak diperpanjang, maka bukan tidak mungkin kena razia. Semacam simbol eksistensi. Jika lewat dari batas tersebut maka tidak diakui, yang kemudian mau tak mau mendorong mereka kembali mengumbar janji akan kelahiran album anyar mereka di November mendatang.

Tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, langsung pada Float juga. Tadinya.

Hingga kemudian, jadwal jumpa pers band ini batal. Dan pertanyaan tersebut kembali mengapung atau mungkin Float memilih menggunakan KTP seumur hidup.

Kolaborasi Stars and Rabbit dan Bottle Smoker (SRXBS) di Soundrenaline 2017.

Dimensi Lain

Namun, patah hati sedikit terobati dengan penampilan kolaborasi Stars and Rabbit dengan Bottle Smoker. Kolaborasi yang mereka namai dengan SRXBS ini menurut saya adalah yang paling berhasil di antara total 9 kolaborasi yang dihadirkan di Soundrenaline 2017.

Menyaksikan Stars and Rabbit sendiri saja sudah mampu menghipnotis para audiensnya. Setidaknya itu yang tampak pada Soundrenaline 2016 yang lalu di tempat yang sama yang disesaki penonton. Itu yang kembali terjadi tahun ini.

Bukan lagi suasana magis yang kerap saya rasakan saat menonton perform Elda dan Adi, sebagai Stars and Rabbit. Kali ini lewat kolaborasi SRXBS, saya seperti dibawa ke dimensi lain.

Lagu-lagu milik Stars and Rabbit hadir berbeda. Begitu juga Bottle Smoker, dengan karya-karya nir lirik, yang kemudian diisi vokal dan lirik oleh Elda, pada lagu Frozen Scratch Cerulean. Tak hanya itu, sebagai bentuk kolaborasi seutuhnya, mereka pun menelurkan dua lagu baru dalam penampilannya tersebut.

Kali ini dua lagu milik proyek SRxBS, yang sesungguhnya sudah digagas bahkan sejak 2013 yang lalu, bukan lagi secara pribadi Stars and Rabbit ataupun Bottle Smoker.

Di sini, baik Stars and Rabbit dan Bottle Smoker melepaskan atribut mereka masing-masing dan mencoba melebur bersama. Tidak hanya di antara keduanya. Bahkan dalam penampilannya malam itu, seluruh penonton bangkit dari tempat duduknya menyanyi bersama menutup penampilan mereka lewat lagu Man Upon The Hill.

Kematangan ini mungkin lahir dari kebersamaan SRxBS yang akhirnya sudah dimulai sejak akhir tahun 2016 yang lalu. Panggung Soundrenaline 2017 ini pun sesungguhnya menjadi yang kesekian, namun untuk kedua lagu barunya, penonton di Bali mendapatkan kesempatan pertama mendengarkannya secara langsung.

“Di sini kami berusaha melepaskan atribut kami masing-masing. And its quite refreshing, di saat saya tengah jenuh mengerjakan album kedua Stars and Rabbit, di sini saya justru seperti menemukan jalan,” kata Elda di kesempatan berbeda.

Sayangnya, hal tersebut tak saya rasakan ketika menyaksikan Homogenic X Neonomora pada hari kedua. Di tempat yang sama, amphitheater, seluruh seat memang terisi penuh. Set panggung sendiri bahkan menghadirkan 3 synthesizer untuk mengiringi kolaborasi.

Saya sendiri awalnya sangat penasaran, segawat apa kolaborasi mereka. Pertunjukkan ini dibuka oleh HMGNC, trio elektronik ini hadir dengan lagu-lagu baru mereka. Secara bergiliran dengan Neonomora. Setelah itu barulah keduanya tampil bersama.

Neonomora identik dengan karakter vokal kuatnya, mengingatkan saya pada Adele. Dan yang saya rasakan dalam kolaborasi ini justru Amandia Syachridar ikut tertarik ke sana. Secara pribadi, saya tidak mendapatkan “blend” keduanya.

Namun kembali, musik adalah masalah selera. Walaupun saya kurang menikmatinya, bukan berarti itu jelek. Nyatanya penonton tetap bertahan hingga akhir dan memberikan applause untuk kolaborasi kental elektronik ini.

Lebih Rapi

Secara keseluruhan Soundrenaline tahun ini tampak dan terasa lebih rapi dibandingkan sebelumnya. Walau permasalahan teknis tetap terjadi namun dengan tanggap segera diatasi. Antrean berdesak-desakan yang terjadi di tahun lalu, tidak terjadi lagi sekarang.

Relaxing area atau tempat bersantai pun tampak lebih banyak di tahun ini. Sehingga penonton bisa melipir sejenak, untuk sekadar rehat atau melakukan fun activity yang disediakan pihak penyelenggara.

Untuk konten pengisi acara, kembali lagi pada selera. Pandangan akan band-band jalur mainstream yang absen tahun ini menjadi sorotan. Walau sebenarnya nama-nama seperti Sheila on 7, NAIF, /RIF, Andra and The Backbone masih bertahan. Namun bagi penikmat band indie, nama besar seperti ERK, Float, Payung Teduh, Stars and Rabbit hingga pendatang baru, Barasuara yang memiliki massa tersendiri, tentu menjadi magnet.

HMGNCXNEONOMORA

Dan untuk musisi internasional, kali ini Soundrenaline menggaet 4 musisi, JET, MEW, Cults, Dashboard Confessional.

Kimokal

Yang cukup menarik, musisi dengan balutan elektronik cukup meramaikan line up Soundrenaline 2017. Sebut saja Bottle Smoker, Goodnight Electric, Diskopantera, HMGNC, Kimokal hingga Dipha Barus yang kerap hadir di berbagai panggung electronic dance musik (EDM) Indonesia.

Namun pihak Soundrenaline sendiri membantah bahwa mereka mengikuti pasar EDM yang memang tengah naik daun. Mengembalikan pada tema United We Loud yang diusung untuk Soundrenaline 2017, di mana event ini sebagai bentuk perayaan keberagaman musik di Indonesia.

“Kalau melihat pasar EDM, tidak ada arah ke sana. Jadi seperti tema, Soundrenaline ini benar-benar sebagai showcase musik Indonesia dengan beragam genre di dalamnya,” kata Novrial Rustam, Managing Director KILAU Indonesia.

Sesungguhnya, perubahan konsep secara signifikan sendiri sudah terasa sejak tahun 2015 yang lalu. Dengan tema “Change The Ordinary”, Soundrenaline hadir dengan suguhan musik multi-genre termasuk musisi internasional sebagai headliner, selama dua hari di GWK. Jika di tahun-tahun sebelumnya Soundrenaline digelar di beberapa kota, sejak tahun 2015 lalu secara tetap, puncak acara dihelat di Bali.

Adapun Road to Soundrenaline, pra-event yang menjadi rangkaiannya yang digelar sebelumnya di beberapa kota. Road to Soundrenaline 2017 sendiri hadir di 50 titik di berbagai kota di Indonesia.

“Di tahun 2017 ini musisi multi genre semakin bermunculan. Ini sebagai pesan untuk menyuarakan keberagaman lewat musik dan ruang kreatif,” ujar Rustam.

Gaet Pariwisata

Festival musik sesungguhnya menjadi bagian tersendiri dalam perkembangan skena musik di satu daerah dan seiring perkembangannya menjadi gaya hidup bagi masyarakat urban.

Di Bali setiap tahunnya, festival musik seolah menjadi satu kalender event yang tak hanya ditargetkan untuk memberikan wadah bagi musisi, seniman dan penikmatnya dalam hal ini audiens, namun juga menjadi gaya hidup hingga gaet pariwisata yang memang diamini oleh beberapa penggagasnya.

Untuk tahun 2017 ini, berdasarkan data yang diberikan panitia Soundrenaline 2017, ada sekitar 83.151 penikmat musik yang hadir di Soundrenaline 2017. Tidak hanya dari lokal Bali, namun penonton yang hadir dalam dua hari perhelatannya tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga para turis dari luar negeri yang ingin menikmati sajian musik di tanah eksotis dengan branding pariwisatanya ini.

Soundrenaline pun hanya satu di antaranya. Masih banyak deretan festival yang hadir dari awal hingga penghujung tahun. Tidak hanya yang digelar oleh lokal Bali sendiri, festival musik bertaraf nasional hingga internasional hadir. Sebut saja Jazz Market By The Sea, Bali Blues Festival, Sanur Mostly Jazz, Pacha Festival, Ubud Village Jazz Festival, Ultra Beach Bali, Bestival, Bali Reggae Festival dan pelbagai festival lainnya, belum termasuk yang digelar oleh kalangan pelajar maupun mahasiswa. [b]

The post Soundrenaline 2017, Pesta Musik dan Wisata Baru appeared first on BaleBengong.

Ubud Village Jazz Festival 2017 menampilkan musik jazz dengan cara yang berbeda.

Festival Jazz Internasional “berbasis komunitas lokal” yang dimulai pada tahun 2013 ini, sedang gencar mempersiapkan diri untuk kelima kalinya. Tahun ini Ubud Village Jazz Festival akan diselenggarakan pada tanggal 11 dan 12 Agustus 2017 di ARMA Museum, Ubud, Bali. Selain memperoleh banyak pujian dari para kritikus, musisi serta penonton, dan dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata, […]

LEANNA RACHEL: COFFEE

Rilis Pers

LEANNA RACHEL: COFFEE

Nestapa namun nrimo.

Demikian pemaparan ringkas-padat paling pas untuk menggambarkan “Coffee”.

Tembang terbaru milik biduanita jelita asal Los Angeles, Leanna Rachel, ini berkisah soal hubungan asmara yang awalnya mesra berseri-seri tapi ternyata berujung pada patah hati. Segala kenangan manis yang dijalani bersama-sama mesti dilupakan, ditinggalkan sepenuhnya. Hati harus dikuatkan. Menjalani kehidupan sendiri menjadi pilihan.

“Coffee” yang begitu saja tercipta di sepucuk hari kala Leanna tertimpa gelisah, paradoksal senang-sedih, kontradiktif pasif-agresif, mencoba meyakinkan kita bahwa perasaan duka tak mesti terus diratapi. Bahwa duka seyogianya dirangkul, dipeluk saja, terbuka diterima.

Selain mengandung pesan positif—hidup tawakal dijalani, badai pasti berlalu—lagu setengah riang ini juga menjadi semacam pertanda bahwa Leanna serius mengakrabi Indonesia, Sabang-Merauke adalah rumahnya kini. Tahun lalu, 2016, misalnya, merupakan masa paling lama perempuan blasteran Amerika-Filipina ini tinggal di Indonesia. Lebih dari 1 tahun tanpa jeda. Di “Coffee” pula Leanna mulai memasukkan secuplik lirik berbahasa Indonesia.

“Saya senang mendengar ketika orang berbicara dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja saya girang saat menyanyi dalam Bahasa Indonesia. Bagi saya, semua pengalaman itu terasa alami dan cair.”

“Saya masih belajar agar bisa lebih lancar, makanya saya hanya memasukkan satu verse saja sebagai permulaan,” ujar Leanna semringah.

Pun “Coffee” menegaskan pekatnya “Selera Nusantara” di diri Leanna sebab seluruhnya direkam di Bali serta para partisipan adalah musisi anak negeri yaitu Noriz Kiki (drum) serta Edi Pande Kurniawan (bas) dengan melibatkan produser sakti mandraguna Dadang Pranoto.

Mari teguk kopi dan sambut hari baru sendiri, mandiri!

__________

https://leannarachel.bandcamp.com/track/coffee
Lagu dan Lirik: Leanna Rachel & Rudolf Dethu
Produser: Dadang Pranoto
Mixing and mastering by: Trigan Young
Studio: Seminyak Pro Studio

Brother Keepers Forever, Menyelamatkan Subak dan Ruang Bermain

Save Subak Bali

Sepetak sawah itu tanahnya telah mengering.

Dia dipenuhi plastik-plastik bekas yang menjadi artefak sisa makanan. Sebuah bendera besar tegak berkibar tertiup angin di tengah sawah tersebut. Bendera Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) menjadi pernyataan sikap warga sekitar terhadap rencana Reklamasi Teluk Benoa.

Terlihat pelantang suara (oudspeaker), drum, dan gitar yang masih terbungkus rapat. Panggung kecil telah terpasang di sawah yang telah mengering. Rumput dan jerami menguning memenuhinya. Di sisi bentangan sawah lainnya, tampak sebuah traktor masih terbungkus rapi dengan terpal hijau pudar ditinggal pengembalanya pulang berhari raya.

Sebuah papan bertuliskan SAVE SUBAK BALI dipajang di pematang sawah. Dia menjadi penanda pergelaran yang akan dihelat hari itu.

Subak sebagai sistem tata kelola persawahan di Bali memang sudah cukup populer dan mulai terancam punah. Hal ini jelas merupakan salah satu akibat aktivitas alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan.

Pembengkakan jumlah penduduk berbanding lurus dengan kebutuhan akan tempat tinggal. Pemukiman pun terus melebar dan mempersempit area sawah yang akhirnya tak lebih menjadi jeda pendek antara dua bangunan.

Subak sebagai sebuah sistem irigasi bisa bertahan karena ada sawah. Sawah bisa bertahan karena masih ada yang tidak tergoda untuk menjualnya dan memilih untuk bertani. Ketika petani dan sawah tidak lagi, ada maka subak hanya akan menjadi kenangan.

Berbicara tentang sawah tidak hanya masalah lahan penghidupan atau sumber tradisi, tetapi juga sebagai ruang bermain. Anak-anak menjadikan sawah sebagai tanah lapang tempat mereka bermain. Mulai dari bermain bola, perang lumpur dan yang tidak kalah seru dan telah menjadi tradisi adalah bermain layang-layang.

Ada ingatan romantis masa kecil akan sawah lapang dan luas, yang biasa digunakan untuk arena bermain. Meskipun bermain di sawah akan diselingi teriakan orang tua yang sedikit bawel karena lumpur memenuhi sekujur tubuh. Atau tangisan akibat luka kecil karena terjatuh saat sedang asyik berlarian di sawah.

Sayangnya ingatan itu terancam oleh kekhawatiran. Bahwa anak-anak di masa mendatang tidak akan lagi memiliki kesempatan mendapat pengalaman sama. Sebab, lahan mereka telah habis oleh bangunan beton.

“Anak-anak masih sering melayangan, sedangkan pendatang tambah banyak, batako dan beton terus bertambah. Kami ingin suasana pedesaan ini masih ada sehingga ada tempat bermain bagi anak-anak,” kata Koden, salah satu personel grup band Netterjack.

Akhirnya, kami pun menggagas acara Brother Keepers Forever yang bertemakan SAVE SUBAK BALI. Acara ini berlangsung pada Minggu (2/7) di Banjar Apuan, Singapadu, Sukawati, Gianyar.

“Ini juga karena dorongan dari Jes. Dia yang bilang kalau tempatnya asyik untuk sebuah acara,” Koden menambahkan.

Anak-anak muda Banjar Apuan Singapadu, Sukawati, Gianyar pun kembali memenuhi sawah. Meski bukan untuk mencangkul, setidaknya ini menjadi stimulan untuk mengingat kembali kenangan masa kecil. Kenangan yang semakin hari semakin terhapus oleh ruinitas dan pergeseran intensitas komunikasi dunia maya.

Kekhawatiran Koden memang beralasan. Melihat bangunan-bangunan perumahan yang menjorok semakin dalam ke lahan-lahan sawah produktif. Perlahan-lahan menimbun ingatan masa kecil akan sawah dengan campuran semen, pasir dan batako.

Orang-orang baru hadir entah dari mana. Tiba-tiba menjadi tetangga. Ada sekitar 250 kepala keluarga  pendatang dan membuka pemukiman baru di lingkungan tersebut. Hal ini diutarakan oleh Pak Made Parwira, warga setempat yang memberikan sawah garapannya untuk dijadikan lokasi acara.

“Mungkin sekitar 8 hektar sawah di sini telah habis menjadi perumahan. Ada sekitar 70 are, yang dulunya sawah kini sudah bertransformasi menjadi rumah-rumah hunian,” katanya sambil mengarahkan telunjuk ke arah timur, menunjuk sebuah perumahan yang berdiri di tengah-tengah sawah.

Anak-anak muda yang memiliki kenangan romantis akan sawah saling bersolidaritas. Meminjamkan listrik, seperangkat sound system serta instrumennya, dan waktu untuk berdendang.

Ada pula yang  memberikan karya-karya mural yang dilukis di dinding. Ada 735art yang menggambar seekor kodok hijau raksasa di atas dinding batako telanjang. Di sisi lainnya seekor kera mengenakan pakaian belang (bojog poleng) sedang menggunakn cat spray.

Salah satu karya mural dari @mardiadinata.

Ada 735art, Frenk (Mardia Dinata), Antox, Peng, Egix dan kawan-kawan yang telah memulai karya mereka beberapa hari sebelumnya. Sedangkan Easy Tiger, Unkle Joy, Tockibe dan kawan-kawan lain masih asyik dengan dinding yang disediakan untuk menjadi media bagi mereka dalam berkarya.

Semakin malam penonton semakin ramai. Suara genset yang menjadi sumber energi untuk sound system seolah menjadi background bagi band-band yang bermain. Ada Moron Bross, Rograg, Matarantai, Rastaflute, Bebangkan Oi! Squad dan tentu saja tidak ketinggalan Koden Netterjack.

Salah satu band yang ikut memeriahkan acara Save Subak Bali.

Malam itu, suara jangkrik terpaksa menyingkir dan diganti dengan alunan musik dari band-band pengisi acara. Nyamuk-nyamuk pun harus menjauh untuk menghindari kepulan asap dari api unggun yang memanggang beberapa jenis bahan makanan. Tidak lupa minuman lokal yang menjadi pelengkap untuk merayakan kebersamaan tersebut.

Keintiman muncul dari setiap wajah yang hadir di malam itu. Keintiman di tempat yang dahulu pernah menjadi arena bermain para pemuda ini. Tempat yang telah mereka abaikan akibat kesibukan rutinitas akan tuntutan yang mengikuti umur (semakin bertambah usia semakin menuntut).

Tempat yang mereka coba pertahankan agar anak-anak mereka masih bisa menikmati kesegaran udara dan bermain di atas lumpur. Bebas berlari dan menerbangkan layang-layang seperti halnya yang mereka lakukan dulu di masa kecil. [b]

The post Brother Keepers Forever, Menyelamatkan Subak dan Ruang Bermain appeared first on BaleBengong.