Tag Archives: Lalu lintas

Kring Kring.. Ada Sepeda

1 menit waktu bacaJakarta berbenah, terutama pada infrastruktur jalan raya. Tidak melulu menambah jalan, tapi juga membuka jalur khusus sepeda. Meskipun belum memuaskan, tapi saya suka. Lalu lintas kendaraan di jalanan Jakarta sejak dulu dikenal semrawut. Belakangan, di beberapa titik semakin semrawut. Bukan cuma karena semakin padatnya pengguna jalan, tapi juga disebabkan oleh pengerjaan pelebaran … Continue reading "Kring Kring.. Ada Sepeda"

Kemacetan Makin Parah, Solusi Makin Tak Terarah

Lalu lintas Denpasar dan kota-kota lain di Bali bagian selatan makin macet. Foto Anton Muhajir.

Masalah tranportasi di Bali serupa benang yang sudah terlalu kusut.

Dalam sebuah diskusi yang saya pandu di Warung 63 Denpasar beberapa waktu lalu Prof. Rumawan Salain, akademisi Fakultas Teknik Universitas Udayana (Unud) menyinggung tentang jumlah kendaraan di Bali. Jumlahnya ternyata nyaris sama dengan jumlah penduduk Bali.

“Ini artinya secara statistik setiap penduduk dari yang balita sampai usia tua masing-masing memiliki satu kendaraan,” ujarnya dalam bertema “Menyongsong Bali Era Baru” itu.

Banyaknya jumlah kendaraan yang diungkap Rumawan Salain ini menjadi jawaban paling mudah atas pertanyaan, mengapa kawasan di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita) lazim ditemui kemacetan yang makin hari makin parah. Ironisnya, kemacetan sepertinya menjadi persoalan yang dibiarkan tanpa solusi pasti sehingga makin parah. Kalaupun ada, solusinya tak punya arah.

Saya mencoba mencari data berapa sebenarnya jumlah kendaraan di Bali. Biro Pusat Statistik Bali tahun 2017 menyebutkan jumlah kendaraan di seluruh Bali mencapai 3.907.094 unit. Hampir sama dengan jumlah penduduk Bali.

Jumlah terbesar kendaraan di Bali numplek di bagian selatan. Di Denpasar tercatat ada 1,2 juta unit, di Badung 769,6 ribu unit, Tabanan dan Gianyar masing-masing 386,8 ribu unit dan 408,5 ribu unit. Artinya hampir 73 persen kendaraan di Bali berada di kawasan Sarbagita.

Dari jutaan kendaraan yang berseliweran di Bali, persentase angkutan umum tidak lebih dari 3 persen. Ini menurut data yang disodorkan oleh DPD Organda Bali.

Kondisi ini jauh bertolak belakang dengan era 1970 an hingga 1990-an, di mana perbandingan jumlah kendaraan di Bali 80 persen angkutan umum dan 20 persen kendaraan pribadi. Wajarlah jika jalanan terutama di kawasan Bali bagian selatan hampir selalu diwarnai kemacetan karena terlalu banyaknya kendaraan pribadi.

Pemerintah daerah bukannya tidak pernah mengupayakan kebijakan menangulangi kemacetan. Salah satu kebijakan adalah memperbaiki transportasi umum.

Pada tahun 2011, diluncurkanlah Bus Trans Sarbagita dengan menyediakan 25 bus yang melayani 3 trayek atau koridor. Ketika itu, pemerintah merencanakan akan menyediakan setidaknya 17 koridor untuk kawasan Sarbagita.

Ironisnya, dalam perkembangan tahun-tahun berikutnya, koridor bukannya bertambah melainkan justru menyusut. Dengan alasan terus merugi, anggaran dari Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Bali yang dipergunakan menghidupkan Bus Trans Sarbagita terus dipangkas.

Pada tahun 2018 pemotongan anggaran luar biasa drastis yakni dari Rp 13 miliar menjadi hanya Rp 4 miliar. Padahal dari Rp 3,39 triliun pendapatan asli daerah (PAD) Bali hampir 70 persen diraup dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).

Pemotongan anggaran Bus Trans Sarbagita menunjukkan ketidakpahaman pengambil kebijakan tentang prinsip penyediaan sarana transportasi umum sebagai kewajiban dari negara. Transportasi dalam konsep negara kesejahteraan (welfare state) termasuk salah satu sektor yang wajib diperhatikan di samping pendidikan dan kesehatan. Transportasi adalah urat nadi ekonomi yang memajukan atau menghancurkan ekonomi sebuah negara.

Dalam kajian teori-teori akademik, tidak ada cara efektif yang dapat digunakan mengatasi kemacetan di kawasan perkotaan selain memperbaiki sarana transportasi umum. Penambahan ruas-ruas jalan atau rekayasa-rekayasa lalu lintas hanyalah solusi tambal sulam. Sayangnya, solusi penyediaan transportasi umum layu sebelum berkembang, bahkan justru “dibunuh” pengambil kebijakan.

Namun demikian, penyebab utama makin kusutnya tranportasi di Bali yang berwujud kemacetan juga disumbang perilaku budaya masyarakat. Kenyamanan yang dirasakan menggunakan kendaraan pribadi enggan diusik. Mengendarai kendaraan pribadi apalagi dengan merek tertentu adalah kebanggaan yang enggan ditanggalkan. Menumpang angkutan umum seolah-olah aib.

Memang kondisi ini diperparah dengan ketidakmampuan pemerintah menyediakan sarana transportasi umum yang aman, nyaman dan mendukung aksesibilitas masyarakat.

Membicarakan solusi masalah tranportasi di Bali seperti mencoba mengurai benang yang sudah terlalu kusut. Tidak mudah lagi menemukan mana ujung mana pangkal dan dimana kekusutan harus diurai.

Namun, solusi mau tidak mau harus dicarikan karena bagi Bali risikonya adalah terancamnya sektor pariwisata. Siapa yang mau berlibur ke Bali jika harus dihadapkan pada kondisi jalanan yang selalu macet bak neraka? Bahkan bisa saja, mengutip tulisan Michel Picard, predikat Bali sebagai The Last Paradise (Surga yang tersisa) akan berubah menjadi The Lost Paradise (Surga yang Hilang) gara-gara jalanan di Bali selalu macet. [b]

The post Kemacetan Makin Parah, Solusi Makin Tak Terarah appeared first on BaleBengong.

5 Tips Ampuh Hindari Macet Saat Mudik Lebaran

Para pemudik menunggu menjelang keberangkatan di Terminal Ubung, Denpasar pada Juni 2017. Foto Anton Muhajir.

Kemacetan adalah cerita lama yang masih terjadi hingga saat ini di Indonesia.

Selain karena jumlah penduduk yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kendaraan, akses jalan yang belum mendukung juga menjadi penyebab terjadinya macet yang menyebalkan.

Terlebih lagi saat musim mudik lebaran seperti sekarang ini, di mana semua orang sangat ingin untuk mudik ke kampung halaman atau pergi liburan ke tempat-tempat wisata.

Berikut lima tips ala Carsome untuk menghindari kemacetan berikut ini agar Anda bisa menghindari macet yang menyebalkan saat mudik lebaran:

1. Pilih Waktu Berangkat yang Tepat

Macet biasanya terjadi karena jumlah pemudik yang berangkat pada waktu bersamaan terlampau banyak. Hal ini menyebabkan ledakan jumlah pengguna jalan yang sangat besar sehingga terjadilah macet.

Oleh karena itu untuk menghindari mudik lebaran Anda menjadi tidak asik karena terjebak macet, Anda perlu mensiasati waktu keberangkatan mudik dengan cerdas.

Jika kebanyakan orang mudik lebaran secara bersamaan pada saat hari libur dimulai, maka berangkatlah lebih awal.

Terutama jika Anda bukanlah seorang pekerja yang bekerja di instansi negara atau perusahaan yang biasanya memberikan hari libur serentak. Berangkat lebih awal adalah solusi paling jitu untuk menghindari macet.

2. Pantau Terus Informasi Seputar Arus Mudik

Sebelum melakukan perjalanan mudik Anda perlu untuk terus mengikuti update informasi seputar arus mudik.

Informasi ini bisa Anda peroleh baik melalui media televisi ataupun media online. Hal ini akan sangat berguna sebagai patokan untuk menentukan jalur mudik yang paling tepat agar terhindar dari kemacetan.

Untuk bisa mendapatkan informasi terbaru setiap saat, mungkin Anda bisa memfollow akun-akun media sosial resmi satuan lalu lintas setempat. Biasanya pada saat musim mudik lebaran seperti ini mereka akan selalu mengupdate informasi seputar aktivitas mudik yang terjadi.

Hal ini akan sangat bermanfaat untuk memberikan informasi yang real time guna menghindari kemacetan saat mudik.

3. Kuasai Jalur Mudik

Carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai jalur mudik yang akan Anda gunakan. Sebelum memilih jalur yang akan dilalui Anda perlu untuk mengetahui kondisi jalan dan tingkat kerawanan terhadap macet.

4. Persiapkan Jalur Alternatif

Selain menguasai jalur mudik yang akan Anda lalui, mempersiapkan jalur alternatif juga sangat penting.

Saat ini ada banyak teknologi navigasi yang memudahkan kita dalam melakukan perjalanan mudik. Anda bisa memanfaatkan google maps untuk mencari jalur alternatif saat jalur utama ternyata sangat rawan terkena macet.

Selain bisa menghindari macet, mungkin hal ini akan memberikan pengalaman baru yang bisa membuat Anda lebih fresh.

5. Jangan Gunakan Kendaraan Pribadi

Penyebab utama terjadinya kemacetan saat mudik lebaran adalah banyaknya pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi. Orang-orang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi untuk mudik daripada menggunakan angkutan umum. Inilah yang menjadi masalah.

Padahal jika masyarakat lebih banyak yang menggunakan angkutan umum seperti kereta api atau bus mungkin macet pada saat mudik lebaran bisa dihindari. Makanya jual Mobil Pribadimu di Carsome aja. Jual Mobil dalam 3 langkah mudah. Apa aja? Input data dan atur inspeksi gratis, inspeksi di lokasi anda dan penawaran terbaik!

Selain itu menggunakan kendaraan umum juga lebih hemat dan tidak melelahkan jika dibandingkan dengan menggunakan kendaraan pribadi. Karena jika terkena macet, menyetir sendiri pasti sangat melelahkan. Semoga 5 Tips untuk Menghindari Kemacetan Pada Saat Mudik Lebaran ini bisa membantu Anda. [b]

The post 5 Tips Ampuh Hindari Macet Saat Mudik Lebaran appeared first on BaleBengong.

Kepadatan Lalu Lintas Jelang Akhir Tahun 2016

Sejak tadi sore kepadatan lalu lintas atau peningkatan jumlah volume kendaraan mulai terasa di Bali, khususnya di daerah Bali Selatan yaitu Kuta dan sekitarnya. Saya sendiri bisa merasakan langsung karena di titik-titik tertentu atau persimpangan terasa lebih macet dari biasanya.

Contohnya di Jalan Darmawangsa, Kampial, Kuta Selatan, deretan bus-bus yang mengangkut wisatawan domestik terlihat lebih banyak. Apalagi di titik Puja Mandala yang merupakan pusat peridabahan, jumlah bus yang parkir atau lalu lalang sangat terlihat penambahannya.

Contoh lain lagi ketika tadi saya menjemput adik ipar ke bandara, sepanjang perjalanan di setiap persimpangan antrian kendaraan terasa sekali lebih banyak dari hari-hari normal. Di underpass dewa ruci dari arah Sunset Road yang sangat jarang padat tadi sudah padat merayap.

Tahun baru 2017 sudah semakin dekat, malam tahun baru akan datang 9 hari lagi. Pemandangan kemacetan di Bali Selatan sudah menjadi hal yang rutin terjadi apalagi menjelang momen pergantian tahun. Banyaknya kendaraan khususnya mobil plat luar juga sudah biasa.

Semoga saja macetnya tidak terlalu parah sehingga wisatawan dan juga penduduk Bali bisa tetap menikmati momen pergantian tahun dengan nyaman.

Baca Juga:

Prihatin Bis Kota

Dalam sehari, 2 tragedi terjadi di jalanan ibu kota, Jakarta. Pertama, ada bis Kopaja terbalik di jalan Thamrin. 1 orang tewas, beberapa lainnya luka. Kedua, ada bis Metromini menerobos palang kereta di Tubagus Angke trus dihajar KRL Bogor-Jatinegara. 18 orang tewas, belasan lainnya luka parah. Kejadiannya hampir bersamaan di hari Minggu (6/12) kemarin. Ini juga bukan yang pertama […]