Tag Archives: Komunitas

Saatnya Bersama Melawan Hoax di Dunia Maya

Mari melawan hoax alias berita dusta yang kian meresahkan.

Berita bohong alias hoax sering beredar melalui jejaring media sosial belakangan ini. Berita-berita dusta itu menyebar melalui Facebook, YouTube dan saluran lain secara sangat cepat secara berantai.

Tentunya berita-berita yang tidak bisa dipercaya kebenarannya ini meresahkan masyarakat. Tidak saja meresahkan, pada sakala tertentu berita dusta juga bisa berpotensi menyebabkan disintegrasi bangsa.

Melihat kondisi itu beberapa kalangan prihatin. Mereka ICT Watch, Watch Doc yang bekerja sama dengan BaleBengong.net, Nusa Penida Media, Cine Klungkung, Bali Blooger Comunity, Nusa Penida Media dan SAFENET membuat acara nonton bareng Film dan diskusi “Lentera Maya Melawan Hoax”.

Nobar dan diskusi akan diadakan di Balai Budaya Semarapura pada Rabu, 22 Maret 2017 jam 17.30 Wita sampai 20.00 Wita. Diskusi ini akan menghadirkan pembicara Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, Kapolres Klungkung AKBP FX Arendra Wahyudi, SIK, Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semmy Pangerapan, pegiat ICT Watch Matahari Timoer serta Diah Dharmapatnni dari BaleBengong.net.

Para pembicara akan berbagi informasi dan pandangan tentang bagaimana melawan hoax yang lagi marak saat ini.

Menurut penyelenggara Diah Dharmapatni, saat ini isu hoax sudah meresahkan masyarakat. “Berita hoax sudah meresahkan masyarakat melalui jejaring media sosial,” katanya.

“Masyarakat sebagai penerima berita bisa memilih berita-berita yang bisa dipercaya kebenarannya. Melalui nobar film dan diskusi ini diharapkan pengguna media sosial lebih arif menggunakan bermedia sosial,” ujar Diah.

Senada dengan Diah, Osila dari Cinema Klungkung menyambut baik acara nonton bareng untuk mengedukasi melawan hoax tersebut.

Osila yang juga aktif di Bali Blogger Community itu menceritakan ketika ada keinginan ada acara nonton film dan diskusi tentang melawan hoax, dia menawarkan diri untuk tempat di Klungkung.

“Karena Klungkung juga rentan terhadap isu hoax. Kemarin saja isu penculikan anak cukup santer di media sosial. Tetapi ketika diklarifikasi ke pihak kepolisian ternyata hanya berita hoax,” kata Osila yang juga aktif di Bali Blogger Community itu. [b]

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Osila

The post Saatnya Bersama Melawan Hoax di Dunia Maya appeared first on BaleBengong.

Cerita Visual tentang Mereka yang Tak Terceritakan

Para fotografer dan mentor dalam pameran foto Unspoken. Foto Wirasathya.

Photography is a small voice, at best, but sometimes one photograph, or a group of them, can lure our sense of awareness.” W Eugene Smith

Seorang bapak tua mengayuh sepeda gayung pelan-pelan, melewati jalanan paving yang penuh debu. Jalan itu membelah Setra Agung Badung (kuburan).

Tiap sore, sepulang dari kantor, Candra Dewi melewati jalan itu juga. Bertemu orang-orang seperti si bapak tua pengayuh sepeda, menikmati suasana setra dengan berbagai aktivitas sore. Sebagai perempuan Bali yang menghabiskan masa anak-anak di luar pulau, pada mulanya Candra tidak begitu akrab dengan keriuhan tersendiri yang diciptakan kompleks pemakaman ini.

Namun, seiring waktu, proses adaptasi yang cukup panjang membuat Candra mempunyai sudut pandang yang menarik. Alih-alih menganggap setra ini sebagai jalanan yang dilewati tiap pulang ke rumah, Candra justru menemukan sebuah perenungan. Dia mempertanyakan tentang jalan pulang yang lain, jalan pulang menuju rumah yang abadi.

Pada karya berjudul “Jalan Pulang”, Candra mengajak kita berjalan melewati lingkungan setra yang dia lewati tiap sore. Membaca berbagai peristiwa dan situasi yang dia tangkap dalam foto-foto yang didisplay di atas meja. Sekaligus mengajak kita merenungi batas-batas kematian dan kehidupan yang bersisian.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak cerita sederhana di sekitar kita yang menarik. Cerita-cerita yang tidak dikatakan, atau jarang dikatakan, tapi sebenarnya mempunyai keunikan tersendiri jika kita membicarakannya.

Cerita-cerita itu terkadang menggelitik, lucu, haru, serta tak jarang pula membuat kita intropeksi dan belajar.

Seperti karya Nyoman Arya Suartawan yang berjudul “Ikan Cupang”, dia menceritakan tentang hubungan personal dia dengan ikan-ikan cupang hias. Berawal dari iseng memelihara 1 ekor ikan cupang hias, kemudian dia ketagihan dan memelihara hingga lebih dari 70 ekor.

Dia mempelajari segala macam hal yang berhubungan dengan ikan cupang, cara merawat, makanan, obat, perkembang biakan dan lain-lain. Begitu besarnya minat dia kepada ikan cupang, dia bahkan merawat ikan-ikan cupangnya seperti bagian dari keluarganya. Istri dan anak-anaknyapun juga ikut merawat dengan penuh kasih.

Keberadaan ikan-ikan cupang di rumahnya menjadi sebuah hal amat penting. Setiap pulang kerja, ikan-ikan cupang ini dimanfaatkan sebagai media refreshing, Arya duduk santai di depan aquarium-aquariumnya untuk menikmati liukan gerakan ikan-ikan cupang itu mengelilingi ruang aquariumnya.

Wayan Martino juga mempunyai cerita menarik, tentang keseharian bapaknya dengan radio, yang membuat Martino berhadapan dengan situasi antara khawatir dan cemas, sekaligus sebagai media belajar kepercayaan diri. Tiap pagi suara radio yang fals itu membangunkan tidurnya, sekaligus membuat dia kuatir, suara kencang radio bapaknya itu akan mengganggu tetangganya yang masih terlelap. Rupanya radio itu bersuara lebih cepat dari kokokan ayam jago.

Karya Martino berjudul “Radio Bapak” ini unik, kita diajak untuk bertatap muka dengan bapaknya. Bercakap-cakap dengan suasana rumah dan tempat-tempat yang hampir setiap hari dilewati bapaknya sambil mendengarkan radio.

Membaca foto-foto Martino seperti masuk ke dalam kehidupan personalnya sebagai anak seorang bapak yang beberapa kali menginap di rumah sakit jiwa, dan ikut serta dalam proses pembelajaran Martino menjadi seorang yang percaya diri.

Karya Candra, Arya dan Martino ini adalah tiga dari 7 karya foto yang dipresentasikan dalam Pameran Foto “UNSPOKEN” di Uma Seminyak, 11-23 Maret 2017. Pameran foto ini menampilkan 7 foto cerita personal yang dikerjakan dalam beberapa bulan ini, karya dari angkatan pertama kelas #SayaBercerita.

Fotografer menjelaskan kepada pengunjung pameran Unspoken. Foto Wirasathya.

Dengan pendekatan fotografer sebagai subyek, karya-karya mereka menjadi sangat personal. Melalui karya mereka, kita bisa melihat cerita-cerita yang selama ini dianggap tidak ada, namun sebenarnya terjadi di sekitar kita sendiri.

Seperti karya Ratnayanti Sukma, dia menceritakan tentang keluarganya. Ratna sebagai anak pertama yang menginjak usia dewasa, menyadari bagaimana sistem komunikasi keluarganya yang telah pasif bertahun-tahun.

Kesadaran itu muncul ketika dia tidak sengaja pertama kalinya mempunyai foto keluarga lengkap, tepat saat hari ulang tahun ayahnya. Dari foto itu dia berusaha merekonstruksi apa yang terjadi dalam sistem komunikasi di keluarganya, bagaimana sosok ayahnya sebagai satu-satunya pria di keluarganya menjalani keseharian.

Pada proses pengerjaan karya fotonya ini, dia menemukan banyak cerita di keluarganya, yang akhirnya membuat dia dan adik-adiknya menjadi lebih dekat lagi dengan sosok ayah, dan tentu dengan ibunya. Ratna mengemas karya fotonya dengan apik dalam bentuk sebuah buku harian besar yang dia rancang sendiri.

Hampir sama dengan Ratna, karya Dodik juga menceritakan tentang dirinya dalam keluarganya. Dodik bercerita tentang ke-lupa-an, tentang hal-hal yang tanpa dia sadari telah terlewatkan begitu saja hingga umurnya beranjak dewasa. Dia mencoba merekontruksi album foto masa kecilnya yang ditemukan di rak kamarnya, lalu diterjemahkan melalui foto-foto yang dia ambil di masa sekarang.

Dengan jeli dia mengambil bagian-bagian cerita masa lalunya, lalu ditata ulang membentuk mozaik-mozaik peristiwa yang amat momentum bagi dia. Dengan menggunakan teknik kolase, karyanya dipajang tidak beraturan pada sebuah papan abu-abu.

Banyaknya hal-hal terlupakan yang disampaikan pada foto-foto pilihannya tersebut sebenarnya justru menujukkan bahwa dirinya sedang dalam titik ingat yang cukup detail. Mungkin karya ini selanjutnya menjadi sebuah titik balik dari perjalanan hidupnya mencari identitas.

Fotografi sebagai media komunikasi visual terkadang memang mampu membuat kita bercermin dan membentuk kesadaran tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Fotogra? sebagai cara untuk melihat, menggambarkan masa lalu dan sepenggal sejarah yang tidak hanya ketika foto diambil tetapi juga saat foto itu dilihat di waktu yang berbeda.

Seperti hal sederhana yang diceritakan oleh Anton Aryadi dalam karyanya berjudul “Odah”. Setiap hari, odah atau nenek Anton menghaturkan makanan dan secangkir kopi di depan sebuah foto almarhum suaminya di salah satu meja di rumahnya. Meski foto itu sudah terlihat usang, namun mempunyai nilai kenangan yang amat berarti bagi odah.

Beliau merasa suaminya masih ada di rumah itu. Foto itu menjadi perantara komunikasi secara tak langsung. Menghaturkan makanan dan secangkir kopi itu merupakan representasi dari kebiasaan makan bersama saat suaminya masih hidup.

Cerita odah pada karya Anton ini mewakili cerita-cerita yang sebenarnya banyak terjadi di lingkungan kita, sebuah cerita tradisi yang mungkin bakal hilang dimakan zaman. Karya Anton ini selanjutnya menjadi dokumentasi kebudayaan yang bisa kita kaji bersama di kemudian hari.

Berbicara tentang dokumentasi, kita juga perlu mengkaji karya Tria Nin yang berjudul “Kotak Memori.” Tria mengajak kita bermain-main dengan waktu, membaca pada benda-benda yang dia kumpulkan sepanjang hidupnya.

Pada karyanya, dia menghadirkan kotak memorinya lengkap dengan isinya, sebanyak 21 buah benda yang penuh dengan kenangan berbagai peristiwa dan momen. Yang menarik, benda-benda tersebut ditampilkan bukan dalam wujud aslinya, melainkan dengan medium 2 dimensi, yaitu fotografi.

Foto benda-benda itu dimasukkan dalam amplop, sehingga seperti tampak bernilai dan personal sekaligus sebagai batasan momen dengan (foto) benda-benda lainnya. Fotografi sendiri adalah alat untuk merekam kenangan, menjadi menarik ketika Tria memilihnya sebagai representasi dari benda-benda yang sengaja dia simpan karena kenangan dan memori dalam perjalanan hidupnya.

Karya-karya dari 7 orang angkatan 1 Kelas #SayaBercerita dalam pameran foto UNSPOKEN ini berikutnya menjadi arsip visual kita bersama, menjadi literasi baru untuk kita diskusikan. Dalam perwujudannya, karya-karya ini mungkin tampak berbeda dengan foto bercerita pada umumnya.

Bagaimanapun juga fotografi hanyalah salah satu medium untuk menyampaikan idea tau gagasan. Selamat membaca.. ?

Denpasar, 11 Maret 2017
Syafiudin Vifick | mentor kelas #SayaBercerita

The post Cerita Visual tentang Mereka yang Tak Terceritakan appeared first on BaleBengong.

Nonton Bersama Komunitas One Piece Dewata

Komunitas One Piece Dewata Bali saat nonton bersama di Renon. Foto Herdian Armandhani.

Sambil nonton bersama membangun kekompakan.

Komunitas One Piece Dewata Bali (OPD Bali) mengadakan kegiatan nonton bareng film Anime Jepang berjudul Kimi No Na Wa (Your Name) pada Sabtu kemarin di Eternia Lounge and Café Renon Jl Tukad Batanghari, Denpasar.

Kegiatan Nobar ini dalam rangka agenda kumpul bareng setiap dua minggu OPD Bali. Nobar dihadiri 40 anggota komunitas ini ataupun komunitas anime lainnya. Dalam kegiatan ini juga dibagikan Jaket Komunitas One Piece Indonesia bagi para anggota yang telah memesan jaket dari pengurus OPD Bali.

Film Kimi No Na Wa merupakan salah satu film anime terkenal di Jepang. Baru diputar di Bioskop Indonesia tanggal 07 Desember 2016. Film Kimi No Na Wa bercerita tentang kehidupan Mistusha, Gadis Desa yang tinggal di Itomori.

Mitsuha begitu jenuh dengan kehidupan yang ada di Desa hingga pada akhirnya ia berteriak ingin pindah ke Kota Tokyo, Jepamg. Sampai pada suatu ketika kehidupan Mitsuha terbalik 360 derajat. Ia terbangun dari tidur tidur dan bertukar jiwa dengan seorang pemuda SMA di Tokyo bernama Taki.

Awalnya Mitsuha tidak menyadari bahwa ia bertukar tubuh sampai pada akhirnya ia tersadar. Bumbu cerita yang tidak membosankan dan problemantika kehidupan Mitsuha dan Taki menjadi daya tarik film ini.

Project Officer Nobar Kimi No Nawa yang juga Pengurus One Piece Dewata yaitu Antonia Eleonora Dewi Anjarsari atau akrab disapa Annele mengatakan bahwa kegiatan Nobar Film Kimi No Na Nawa merupakan sarana untuk menguatkan kesolidan dan kekompakan anggota Komunitas One Piece Dewata Bali.

Melalui nobar ini diharapkan seluruh anggota OPD Bali bisa semakin aktif dalam kegiatan yang diadakan pengurus OPD Bali.

“Kegiatan Nobar Film Kimi No Nawa merupakan sarana untuk menguatkan kesolidan dan kekompakan anggota OPD Bali, selain itu saya berharap seluruh anggota OPD bisa semakin aktif dalam kegiatan yang diadakan pengurus OPD Bali,” tandasnya.

Para anggota OPD yang hadir juga berhak mengikuti undian yang diadakan pengurus OPD Bali. Sepuluh orang beruntung mendapatkan sticker karakter di serial One Piece. [b]

The post Nonton Bersama Komunitas One Piece Dewata appeared first on BaleBengong.

Tahun Kedua Kemah Denpasar Film Festival

Peserta Kemah Pelatihan Produksi Film Dokumenter Bersama Narasumber, Rio Helmi. Foto: Dokumentasi DFF

Industri film di Denpasar mulai menggeliat.

Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar terus mendorong tumbuhnya industri kreatif yang kompeten. Berbagai program dan kegiatan berkelanjutan pun terus digalakkan, termasuk film dokumenter ataupun film pendek.

Untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang perfilman, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar menggandeng Yayasan Bali Gumanti menggelar kemah film dokumenter. Kemah diadakan pada 7-11 Maret di seputaran Danau Buyan, Bedugul, Tabanan.

Denpasar Film Festival adalah ajang film dokumenter yang diselenggarakan sejak 2010. Selain lomba, festival ini menggelar pelatihan, pemutaran film, pendampingan produksi,  pameran, diskusi, lomba, dan malam penganugerahan.

Sebagaimana tahun lalu, rangkaian program Denpasar Film Festival tahun ini pun diawali dengan Kemah Pelatihan Produksi Film Dokumenter. Sebelumnya, pelatihan biasa dilakukan di seputaran kota Denpasar dan terfokus dalam ruangan. Peserta tak merasakan pengalaman menginap, berinteraksi lebih lama dengan peserta lain dan panitia serta mempelajari materi lebih mendalam bersama para nara sumber.

Instruktur utama pada kemah pelatihan produksi film dokumenter tahun ini adalah Panji Wibowo. Sutradara film dokumenter ini juga sehari-hari berprofesi sebagai dosen di Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Panji telah menerbitkan modul pelatihan produksi film yang terhitung sangat minim di Indonesia. Paparan Panji akan diperkuat oleh instruktur lain yang merupakan praktisi-praktisi yang mumpuni seperti Rio Helmi (Fotografer Senior), I Wayan Juniartha (Juri DFF, Jurnalis, Ketua Program Ubud Writers and Readers Festival, Editor The Jakarta Post), Anton Muhajir (Jurnalis, Pengelola Sloka Institute dan Editor BaleBengong.net), Totok Parwatha (Fotografer Senior) dan Olin Monteiro (Aktivis Perempuan, Produser Film Dokumenter dan Koordinator Peace Woman Across The Globe Indonesia).

Peserta pelatihan adalah pelajar SMP dan SMA di Kota Denpasar yang dipilih melalui seleksi. Ada sepuluh kelompok yang terdiri dari satu kelompok siswa SMP, empat kelompok siswa SMA dan lima kelompok siswa SMA. Mereka merupakan kelompok yang berhasil lolos dari 27 kelompok peserta seleksi.

“Tiap kelompok terdiri dari sutradara, penulis cerita, kameramen dan editor,” ungkap Budi selaku Ketua Panitia Kemah Pelatihan Produksi Film Dokumenter ini.

Pada pelatihan ini kita juga mengundang peserta pemantau dari Jaringan Festival Denpasar Film Festival yakni dari Malang Film Festival dan Solo Documentary Film Festival. Sedangkan Panitia terdiri dari Komunitas film, Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar jurusan Fotografi, Film dan Televisi. Mahasiswa magang dari ISI Surakarta jurusan Fotografi, ISI Yogyakarta jurusan Film dan Televisi, dan juga Mahasiswa Universitas Pasundan jurusan Film dan Televisi.

Dalam perkemahan, selain teori peserta juga dituntun untuk melakukan praktik lapangan tahap demi tahap. Pada akhir pelatihan semua kelompok peserta diwajibkan menyerahkan karya dokumenter berdurasi dua hingga empat menit yang sudah dikerjakan selama pelatihan.

Direktur Denpasar Film Festival, Agung Bhawantara mengatakan dalam kemah pelatihan film dokumenter yang telah memasuki tahun kedua penyelenggaraan  ini para peserta yang terdiri dari siswa SMP, SMA/SMK dan komunitas film Sekota Denpasar akan dilatih tentang tata cara produksi film dokumenter dan pembuatan foto esai.

Dalam prosesnya nanti para peserta terlebih dulu akan diberikan pelatihan dan konsepsi mengenai film dokumenter selama lima hari. Setelahnya para peserta akan mulai masuk proses berkarya.

“Hasil karya terpilih nantinya akan diikutsertakan ke dalam festival-festival film baik skala regional, nasional maupun internasional,” ujar Agung

Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra pada sambutan yang dibacakan Kadis Kebudayaan di acara pelepasan peserta kemah pelatihan menyatakan, melalui penyelenggaraan kemah pelatihan film dokumenter ini diharapkan mampu membangun kualitas sumber daya manusia terutama di bidang perfilman di Kota Denpasar.

Rai Mantra juga mengharapkan setelah mengikuti kemah film dokumenter ini para peserta diarahkan jangan hanya sekadar bisa membuat karya film dokumenter, melainkan kegiatan pembuatan film tersebut dapat dijadikan mata pencaharian.

Selain itu, hal ini bisa menghasilkan outcome bermanfaat bagi masyarakat seperti pemanfaatan film dokumenter sebagai media promosi pelayanan program pemerintah. Agar nantinya sosialisasi program pemerintah menarik bagi masyarakat dan pesan yang disampaikan mudah dicerna oleh masyarakat.

Kreativitas dalam berkarya dapat dijadikan landasan moral, namun yang harus dipikirkan juga bagaimana mengarahkan suatu karya film sebagai mata pencaharian.

Plt Kadis Kebudayaan Kota Denpasar Ni Nyoman Sujati mengatakan, kegiatan ini sejalan dengan program Pemkot Denpasar membangun industri kreatif yang kuat. Di mana salah satunya diwujudkan dengan pengembangan sektor perfilman maupun animasi yang akhir- akhir ini industrinya semakin bergairah.

Pelatihan di bidang perfilman ini juga secara tidak langsung menguntungkan Pemkot Denpasar, di mana pemahaman masyarakat mengenai film dokumenter nantinya bisa saja membantu pemerintah dalam hal pengarsipan warisan budaya di Kota Denpasar yang dapat dijadikan database bagi pemerintah Kota Denpasar. [b]

The post Tahun Kedua Kemah Denpasar Film Festival appeared first on BaleBengong.

Update Your City, Karya Graffiti untuk Bali

Graffiti buka hanya asal corat-coret, melainkan seni untuk mempercantik kota.

KIND MAGZ merupakan platform online berbasis di Indonesia yang berdiri pada 2010. Sejak 2011, media ini mulai aktif mengulas informasi seputar graffiti, street art dan sub budaya urban di Asia Tenggara.

Hingga sekarang KIND MAGZ telah merilis 5 edisi majalah yang dipublikasikan secara online.

UPDATE YOUR CITY merupakan proyek terbaru dari KIND MAGZ. Mengajak para pelaku  seni yang berhubungan dengan ruang publik untuk berbagi informasi maupun pengetahuan mengenai proses berkarya, spot gambar serta perkembangan street art di tiap-tiap kota.

“Kami yakin tiap kota memiliki keunikan tersendiri. Sebagai langkah nyata, kami melakukan tur di beberapa kota di Indonesia untuk mengajak pelaku lokal lebih peduli terhadap skena dan lokalitas di kotanya masing-masing,” jelas Djehovan, perwakilan KIND MAGZ.
Bali menjadi pemberhentian kedua proyek ini. Pulau yang menjadi tujuan wisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara ini memiliki lokalitas yang sangat khas dan unik. Selain itu, perkembangan street art di Bali mulai tumbuh subur. Terbukti dari kuantitas acara street art skala nasional maupun internasional yang telah berhasil diselenggarakan di pulau dewata ini.
Dari hal tersebut KIND MAGZ ingin mengajak para pelaku lokalnya untuk lebih peduli terhadap lokalitas baik dari segi budaya maupun pola perilaku agar dapat berperan serta dalam menyelaraskan antara seni modern dengan kearifan lokal di pulau Bali.
UPDATE YOUR CITY di Bali akan berlangsung selama tiga hari, 10-12 Maret 2017 dengan bekerja sama dengan berbagai komunitas street art. Berikut jadwal lengkapnya:
Jumat, 10 Maret 2017
Kulidan Kitchen, Gianyar mulai dari pukul 15.00-18.00
STREET ART CLASS FOR KIDS
Kelas ini akan dipandu langsung oleh @rharharha dan @poetry88_
Kelas hanya untuk peserta berumur 7-15 tahun
Pendaftaran: bit.ly/kelasanak

Sabtu, 11 Maret 2017
ALLCAPS Gallery, Canggu mulai pukul 18.00

OPENING EXHIBITION “STREET MYTHS”
Exhibition artist :
735ART @735art | BOMBDALOVE @bombdalove | DNZTWO @dnztwo | EASYTIGER STICKER MUSEUM @easytiger_stickersmuseum | HENIK @henik__ | KINS @gudzkins | MARK @brutal_mark | MUTASEIGHT @mutaseight | ROBERTVANDAL @robert_vandal | SLINAT @slinat | TOCKIBE @tockibe | SWOOFONE @swoofone | UNKLEJOY @unklejoy | YAPSTWO @yapstwo | ZOLA @zolabaripermana

WORKSHOP AND PRESENTATION “Street art and their impact on Balinese culture”
Speaker : CUBE @cubewsa | ANDI RHARHARHA @rharharha | SLINAT @slinat | TOSCA @toscaroc.id

LIVE PAINTING by CUBE @cubewsa | FEEDESCHIENS @feedeschiens | LITTLE BENI @littlebeni | POETRY88 @poetry88

LIVE MUSIC by 1ESCV @1escv | KASET KULCHA @kasetkulcha | MOTB @motb361

SKETCH BATTLE COMPETITION
Pendaftaran: bit.ly/sketchbattle

Minggu, 12 Maret 2017
Donkey Skateboarding Ent, Kuta mulai pukul 09.00

LIVE COLLABORATION GRAFFITI AND MURAL
Artists : 735ART @735art | AWSHIT @awshitttttt | BGSFOUR @bgsfour | EASYTIGER STICKER MUSEUM @easytiger_stickersmuseum | KIDNEY @ardikidney | NEDSONE @nedsonesuck_semblehuks | PEANUTDOG @peanutdog_bali | PICKO @pickoeffect | RAMPSTWO @rampstwo2 | SLEECK @sleeck.id | SLINAT @slinat | SWOOFONE @swoofone | THEDANKENS @thedankens | UNKLEJOY @unklejoy | VAST05 @vast05 | XENICOSH @xenicosh | ZANY @zzzany13

PHOTOGRAFFITI COMPETITION
Pendaftaran: bit.ly/photograff

 

The post Update Your City, Karya Graffiti untuk Bali appeared first on BaleBengong.