Tag Archives: Komunitas

Menjelang Nyepi, KNB Berbagi dengan Lansia


Relawan Komunitas KNB berkunjung ke Panti Jompo menjelang Nyepi. Foto Herdian Armandhani.

Karena sejatinya orang tua hanya butuh kasih sayang dan perhatian dari anak.

Menyambut Nyepi tahun ini, Komunitas Ketimbang Ngemis Bali (KNB) mengadakan pengabdian sosial untuk lansia. Lokasinya di Panti Jompo Bhumi Santu, Klungkung dan Panti Sosial Werdha Santi Bongan, Tabanan.

Kunjungan dan pemberian uluran tali kasih diselenggarakan selama dua hari pada 2 – 3 Maret 2019. Panti Wredha Bhumi Santu merupakan Panti Sosial khusus lansia milik seorang dermawan berhati mulia. Panti ini menampung tujuh orang lansia yang tidak diurus keluarganya. Kondisi Lansia yang tinggal di sana sangat terurus dan dalam kondisi sehat wal afiat.

Pada hari kedua, Komunitas KNB berkunjung ke Panti Sosial Werdha Santi Bongan. Panti Sosial ini menampung sepuluh lansia dan sebelas orang dengan ganguan mental. Penghuni panti yang mengalami gangguan mental rutin dirawat dan dikunjungi oleh para dokter dari Rumah Sakit Jiwa Bangli.

Agar para lansia yang tinggal disini tidak jenuh dan mengisi waktu maka pihak panti memfasilitasi kegiatan membuat ketupat dari bahan janur (daun pohon kelapa) dan sarana upacara Agama Hindu seperti banten.

Komunitas KNB memberikan sejumlah bantuan sembako berupa beras, minyak goreng, telur, kopi, gula, teh, buah semangka,minyak gosok, minyak angin, popok dewasa, kebaya, dan kamen (kain untuk sembahyang dalam Agama Hindu).

Seorang relawan yang berprofesi sebagai dokter, Komang Prasetia, dengan sukarela memeriksa kesehatan para lansia satu per satu. Relawan Komunitas KNB lain mengajak mengobrol dan berinteraksi karena mereka jarang dijenguk bahkan tidak dipedulikan keluarga mereka sendiri. Adapula relawan yang menyuapi lansia penderita gangguan mental dengan penuh kasih sayang tanpa canggung.

Relawan Komunitas KNB Sri Kholifatul Arifah membagi pengalaman ketika berkunjung di dua panti jompo. Sri berujar mengenai curhatan seorang Nenek bernama Nenek Resik yang berusia 80 tahun. Nenek Resik sudah dua tahun tinggal di Panti Jompo.

Nenek Asal Penebel ini dititipkan oleh menantunya. Anak kandungnya sudah lama berpulang dan memiliki satu cucu. Nenek Resik menangis manakala bercerita mengenai kisah hidupnya yang tidak pernah dijenguk oleh menantu dan cucu.

Sri mengaku sedih mendengar curhatan nenek Resik dan mendapatkan pesan moral dari kunjungan ke Panti Jompo, sayangilah kedua orang tua.

“Karena sejatinya orang tua hanya butuh kasih sayang dan perhatian dari anak. Kebahagiaan bukan diukur dari uang, rumah, tanah atau barang mewah lainnya,” ucapnya menyeka air mata.

Koordinator Aksi kegiatan KNB, Muhammad Imran Syaban mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur yang sudah mendukung kegiatan sosial KNB sehingga acara baksos jelang hari raya Nyepi terselenggara.

“Terima kasih kepada seluruh donatur. Semoga apa yang kita lakukan bersama bisa menular kepada banyak orang. Agar lebih peduli dengan orang-orang di sekitarnya,” pungkas pria berkacamata ini. [b]

The post Menjelang Nyepi, KNB Berbagi dengan Lansia appeared first on BaleBengong.

Menikmati Musik dan Pakaian Trendi di PICA Fest 2019


Berikut ini adalah laporan saya tentang PIC fest 2019.

Saya selalu ingin mengunjungi Paradise Island Clothing Association (PICA) Fest. Namun, saya selalu tidak datang ketika acara itu diadakan. Tahun ini, untungnya saya bisa hadir dan menikmatinya.

Biasanya PICA fest diadakan di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Tahun ini diadakan di pantai Matahari Terbit. Di tahun ini saya pun akhirnya mengunjungi PICA fest.

Pihak penyelenggara mengatakan acara di tahun ini akan memiliki tiga panggung paling menerang dan berwarna. Saya tidak tahu apa artinya. Ketika di sana saya hanya melihat dua panggung. Mungkin saya melewatkan satu panggung.

Penyelenggara menyatakan lokasi acara lebih luas memungkinkan menampung lebih banyak tenant. Ada 62 brand clothing, 25 tenant makanan, dan 12 komunitas di Bali.

Salah satu hal yang membuat saya enggan mengunjungi PICA Fest adalah area parkir yang tidak memadai. Ketika diadakan di GOR Ngurah Rai, area parker tersebar di berbagai tempat dan membuat macet jalan di sekitar lokasi acara.

Di lokasi baru, tempat parker lebih memadai. Menemukan tempat parker tidaklah sulit, tetapi keluar dari tempat parker cukup sulit terutama untuk pengendara motor. Ketika parkir akan ada motor yang parkir di belakang kita.

Nampaknya pihak yang mengurus parkir kewalahan dengan jumlah pengunjung di malam ketika saya datang.

Saya suka dengan tata lokasi tenant dan panggung. Terkesan lapang dan tidak sesak meskipun pengunjung terus berdatangan. Saya mendapat kesan lokasi acara ditata seperti Coachella atau Tomorrow Land. Saya terkesan.

Ada dua titik pemeriksaan sebelum masuk. Di titik kedua petugas mengatakan tidak boleh membawa masuk minuman. Saya harus menghabiskan seluruh air minum di tumbler saya. Alhasil, selama di dalam saya berusaha untuk menahan kencing karena toilet berada di luar lokasi acara.

Setelah melewati pos pemeriksaan, saya masuk. Area yang pertama saya temui adalah pameran motor. Bukan stand pameran motor Honda atau Yamaha, tapi motor seperti Kawasaki dan Royal Enfield.

Di area ini juga terdapat DJ yang sedang beraksi. Mungkin ini yang dimaksud dengan area panggung ketiga. Di sini hanya terlihat satu orang yang menikmati musik. Orang lain yang berada di area ini hanya duduk dan melihat orang menari. Mungkin mereka menahan kencing seperti saya.

Dua panggung lain adalah PICA Mags dan PICA Fest. Meskipun ada tiga lokasi, suara dari tiga panggung tidak saling menganggu, sehingga pengunjung dapat menikmati musik di panggung pilihan mereka. Saya mengamati pengunjung menikmati musik yang mereka tonton.

PICA Fest kali ini lebih bersih dari sampah plastik.

Fashionable

Pengunjung terlihat dari berbagai usia dari balita, remaja, dewasa, dan yang sudah lebih dewasa dapat menikmati musik yang awalnya saya kita tidak dapat dinikmat oleh masyarakat luas. Saya kira awalnya tidak akan meniknati musik di sini, tetapi saya salah. Saya menikmatinya.

Karena sudah makan, saya tidak mengunjungi area makanan. Jadi saya bisa mengalihkan energi dan uang saya ke tenant pakaian. Mungkin hampir semua tenant pakaian di sini adalah distro. Awalnya saya kira style pakaian seperti baju distro pada umumnya. Berwarna gelap, dengan gambar tengkorak, dan dengan tulisan peringatan tentang hari kiamat.

Ternyata style pakaian yang dijual sangat fashionable. Seperti dan sebagus merek streetwear papan atas. Untuk harga yang ditawarkan, satu toko rata-rata sama dengan yang lain. Rp 80 ribu untuk kaos oblong, Rp 100 ribu untuk kemeja lengan pendek, dan Rp 200 ribu untuk kemeja lengan panjang.

Saya kurang tahu dengan acara tahun sebelumnya, tapi tahun ini MC di salah satu penggung mengatakan bahwa acara ini mendukung gerakan ramah lingkungan dan bebas kantong plastik. Saya tidak melihat adanya kantong plastik, meskipun baju yang dijual masih dibungkus dengan plastik.

Stand Earth Hour seperti menegaskan bahwa acara ini memang mendukung gerakan ramah lingkungan. Namun, stand earth hour terletak di pojok dan terlihat remang-remang sehingga tidak menarik untuk dikunjungi.

Satu stand yang cukup menarik adalah milik STD Bali. Di sini kita bisa berfoto dalam ruangan kecil. Foto yang dihasilkan akan membuat kita terlihat seperti action figure yang masih dalam kemasan.

Saya sangat menikmati kunjungan saya di PICA Fest 2019. Saya menikmati musiknya, pakaian yang dijual, dan suasana acaranya. Saya ingin kembali mengunjungi PICA fest berikutnya.

Jika Anda ingin menikmati musik, berbelanja pakaian yang trendi, dan bersenang-senang, saya merekomendasikan Anda untuk mengunjungi PICA fest.

The post Menikmati Musik dan Pakaian Trendi di PICA Fest 2019 appeared first on BaleBengong.

Menjenguk Odah untuk Berbagi Kebahagiaan

Komunitas KNB saat menjenguk Ni Wayan Lepug di Ubud. Foto Herdian Armandhani.

Di usia 85 tahun Ni Wayan Lepug harus hidup sebatang kara.

Anak satu-satunya telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Cucunya kandung nenek yang tinggal di Ubud ini sudah setahun belakangan tidak pernah menjenguknya ke rumah mungil berukuran 3×3 meter di Jalan Gatotkaca Gang Buntu Denpasar.

Dahulu saat masih sehat, Nenek Ubud berprofesi sebagai pedagang buah Salak di Pasar Badung, Denpasar. Ia mulai berjualan dari tahun 1951. Hingga suatu musibah terjadi menyebabkan pingganggya separuh mati rasa dan susah untuk duduk secara normal.

Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari ia mengandalkan belas kasihan tetangga ataupun dermawan yang mengetahu nasibnya.

Kondisi rumah mungil Nenek Ubud bisa dikatakan tidak sehat. Rumah mungil ini tidak begitu terawat dan penuh debu. Jika musim hujan datang, rembesan dan tetesan bocor menjadi tak terbendung.

Mengetahui kondisi Nenek Ubud yang sangat memprihatinkan, Komunitas Ketimbang Ngemis Bali (KNB) menggagendakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan menjenguk dan merawat Nenek Ubud secara sukarela seminggu dua kali yakni setiap Selasa dan Sabtu.

Tim Komunitas KNB membagi diri menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok akan melakukan piket untuk merawat Nenek. Saat disambangi tim Komunitas KNB pada Selasa, 12 Februari 2019, kemarin Nenek Ubud sedang rebahan di ranjang usangnya. Ia pun tergopoh-gopoh bangkit menyambut relawan Komunitas KNB.

Nenek Ubud cara berjalannya membungkuk sambil berpegangan pada benda di sekelilingnya.

Relawan Komunitas KNB membawakan sarapan bubur ayam hangat untuk disantap pagi itu. Sedangkan relawan lain ada yang merapikan ranjang Nenek Ubud istirahat, mencuci gelas dan piring , serta mengajak Nenek Ubud mengobrol.

Beberapa tim juga ada yang membelikan lauk pauk Nenek saat makan siang. Nenek Ubud begitu senang ada yang memperhatikannya.

“Odah (red: sebutan nenek dalam bahasa Bali) tidak dapat membalas kebaikan adik-adik sekalian,” ucapnya sambil berkaca-kaca.

Ketua Project Kunjungan ke Nenek Ubud Ayu Zulalina mengatakan kegiatan mereka semata-mata untuk membahagiakan Nenek sehingga bisa hidup lebih layak.

“Mudah-mudahan kegiatan sederhana kami bisa membuata hati nenek senang. Kami mengaisihi dan merawat beliau seperti Nenek kami sendiri. Setidaknya apa yang kami lakukan bisa membuat kehidupan nenek menjadi lebih layak,” ungkapnya. [b]

The post Menjenguk Odah untuk Berbagi Kebahagiaan appeared first on BaleBengong.

Futuwonder Seni Rupa untuk Melawan Patriarki


Para perempuan muda ini mendobrak kondisi kultural nak mule keto.

Perjumpaan pertama dengan geng Futuwonder ini adalah sebuah sesi setengah hari untuk menulis dan mengarsipkan biografi seniman perempuan Bali ke Wikipedia. Para relawan dibekali beberapa artikel untuk dirangkum dalam beberapa paragraf. Nantinya itu menjadi pintu masuk mengembangkan artikel-artikel lanjutan.

“Sangat sedikit profil seniman perempuan yang tersedia dan bisa diakses publik,” urai Citra Sasmita.

Citra salah satu perintis Futuwonder bersama Seni Savitri, Ruth Onduko, dan lainnya.

Dalam sesi saat itu kami agak terburu-buru membuat konten karena sebagian waktu diisi belajar cara memasukkan dan aturannya dulu di Wikipedia. Namun, sesi itu tetap produktif dan mendorong kami untuk mengenal lebih jauh para seniman perempuan di Bali.

Setelah sesi itu, saya jadi sangat ingin bersua atau berkunjung ke salah satu seniman. Mengenal karya, gagasannya, dan suka duka mereka.

Ketika itu saya kebagian merangkum profil Mangku Muriati. Sosok perempuan pelukis tradisional khas Wayang Kamasan di Klungkung yang membuat lukisan mengejutkan berjudul Wanita Karir.

Terlihat sosok perempuan sedang mengajari laki-laki, menunjukkan pekerjaannya sebagai guru. Ada juga perempuan dalam figur wayang mengenakan pakaian resmi jas menenteng tas. Di tengah keseragaman lukisan Kamasan, pengembangan ide untuk merekam kehidupan sosial ke lukisan tradisi sangat menyegarkan dahaga.

Beberapa bulan kemudian, Futuwonder membuat pameran bertajuk Efek Samping: Masa Subur. Judul unik dan mendorong pertanyaan, tebak-tebakan, dan rasa penasaran. Sebelumnya ada serial poster publikasi di medsos dari akun @Futuwonder yang memberi tahu ada undangan (open call) bagi seniman perempuan dan akan diseleksi untuk pameran Efek Samping pada 20 Oktober hingga 9 November 2018, di Karja Art Space, Ubud.

Tercatat lebih dari 100 aplikasi dari berbagai kota dan daerah di Indonesia. Tidak hanya peserta dari Jawa dan Bali tetapi juga peserta dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Mereka turut mengirimkan karya dan ide terbaik dalam mengangkat permasalahan keperempuanan, pengalaman sosial dan kultural serta tantangan yang mereka hadapi sebagai perempuan.

Seniman yang akhirnya terpilih dari proses seleksi adalah Ika Yunita Soegoro, Ni Luh Listya Wahyuni, Sekar Puti, Santy Wai Zakaria, Siti Nur Qomariah, Patricia Paramita, Nuri F.Y, Tactic Plastic Project, Findy Tia Anggraini, A.Y Sekar F, Christine Mandasari Dwijayanti, Venty Vergianti, Irene Febry, Osyadha Ramadhana, Evy Yonathan, Caron Toshiko Monica, Khairani Larasati Imania, Luna Dian Setya, Dea Widya, Sumie Isashi, dan Salima Hakim. Sedangkan seniman undangan yang dipilih untuk merepson tema Masa Subur adalah Mangku Muriati, Ika Vantiani, Andita Purnama, dan Citra Sasmita.

Saya tidak menghadiri pembukaan pameran, tetapi untungnya bisa hadir saat diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” menghadirkan Saras Dewi (dosen filsafat) dan Sinta Tantra (seniman Bali mukim di Inggris) pada 27 Oktober 2018.

Belasan orang, laki-laki dan perempuan duduk lesehan. Salah satunya mantan Menteri Luar Negeri di era Presiden SBY, Marty Natalegawa bersama keluarganya. Ia menjadi salah satu pembicara di perhelatan Ubud Writers and Readers Fest (UWRF), dan pameran ini jadi salah satu mata acara yang didukung.

Ketika tiba di lokasi pameran, mata langsung terarah pada rangkaian plastik bening yang disusun tergantung. Isinya kutipan-kutipan isi Kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI) yang memuat pengertian kata “perempuan” dan hasilnya sangat mengejutkan. Sebuah politik bahasa yang perlu digugat.

perempuan/pe·rem·pu·an/ n 1 orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: — nya sedang hamil; 3 betina (khusus untuk hewan);bunyi — di air, pb ramai (gaduh sekali);
— geladak pelacur;
— jahat 1 perempuan yang buruk kelakuannya (suka menipu dan sebagainya); 2 perempuan nakal;
— jalan pelacur;
— jalang 1 perempuan yang nakal dan liar yang suka melacurkan diri; 2 pelacur; wanita tuna susila;
— jangak perempuan cabul (buruk kelakuannya);
— lacur pelacur; wanita tuna susila;
— lecah pelacur;
— nakal perempuan (wanita) tuna susila; pelacur; sundal;
— simpanan istri gelap;

Apakah anak-anak dibiarkan mengutip arti kata perempuan ini dari KBBI, kitab bahasa yang menjadi pedoman formal. Ada beberapa versi KBBI yang rutin diperbaharui, namun uraian kata ini sama saja.

Gerakan Dialektika

Ingatan pun terbang ke dua sosok pemikir dan perangkum pengetahuan. Paulo Freire protes atas “kebudayaan bisu” yang menimpa lingkungannya kala itu. Ini adalah kondisi kultural masyarakat yang memiliki ciri takut mengungkapkan pikiran dan perasaanya sendiri. Ada lagi Socrates yang senang mendengar gagasan orang lain, memertentangkan, kemudian mengeksplorasi menjadi sebuah pemikiran baru.

Futuwonder kemudian adalah wujud gerakan dialektika, untuk mempertanyakan, melawan, dan memberikan pengetahuan untuk keluar dari kondisi kultural “nak mule keto.” Ungkapan dalam basa Bali yang bermakna biarkan saja, sudah dari sononya.

Karya lain dalam Efek Samping ini sangat beragam, mengeksplorasi keramik, kain, game board, dan lainnya. Saya akan bernapas dulu sebelum menyelesaikan merangkum karya mereka. 🙂

Saras Dewi, dosen Universitas Indonesia yang juga menulis puisi dan menyanyi mengingat sosok Miguel Covarrubias, seniman Meksiko yang mukim di Bali. Menurut penulis buku Island of Bali pada 1938 ini, (pada saat itu) semua orang Bali adalah seniman. Mereka melakukan pekerjaan sehari-hari bak seniman, dengan menari, megambel, sembahyang, membuat ragam sarana upakara, dan lainnya.

“Dia memiliki kepekaan pada situsi estetik,” tutur Saras memulai bahasan soal seni. Namun secara sosial kegiatan luar domestik didominasi laki-laki, situasinya menjadi patriarkhi.

Sinta Tantra yang mukim 30 tahun di Inggris merasakan kehidupan berkesenian yang multikultural. Ini berpengaruh pada minatnya pada kebebasan eksplorasi. Tidak ada yang membatasi bentuk seni menurut gender. Ia menyukai street art, membuat mural di gedung dan jalanan.

“Bali sangat turisme, lebih kontemporer di Jogja dan Jakarta,” sebut perempuan muda ini.

Futuwonder memberi ruang untuk jeda sekaligus jalur marathon. Mulai mengenal isunya jika belum familiar dari evolusi kata perempuan dari KBBI terbitan 80an sampai 90an yang sangat diskriminatif. Kemudian mendorong penikmat Efek Samping: Masa Subur untuk sprint, lari kencang atau maraton. Pembelajaran harus dipercepat karena terlalu banyak yang harus dilakukan, untuk bersuara.

“Masa Subur dianggap tanggungjawab rahim. Menerjemahkan kesuburan di luar pengertian tradisional. Kesuburan ingin berkarya, saya lihat tak hanya jadi objek tapi pengetahuan ketimpangan gender masih ada di Bali,” Citra Sasmita memaparkan pemikirannya. Ini adalah sebuah aktualisasi gagasan jadi karya seni.

Karja, pemilik galeri yang juga melukis masih merasakan stereotip dalam karya seni.

Menurutnya sebagai seniman ia mengeksekusi inspirasi. Tapi kemudian ada pengkotak-kotakan, cap tradisi atau turisme?

Futuwonder dibentuk pada awal tahun 2018 oleh empat perempuan pekerja seni dari berbagai latar belakang profesi. Mereka adalah Citra Sasmita (perupa), Putu Sridiniari (konsultan desain lepas), Savitri Sastrawan (kurator/penulis), dan Ruth Onduko (manajer seni).

Masa Subur adalah awalnya diajukan untuk salah satu hibah seni, tapi sayangnya tidak lolos. Meskipun gagal dapat dana hibah, tetap dilaksanakan secara swadaya dan swadana.

Tantangan yang masih dirasakan adalah sulitnya apresiasi dan kesempatan memamerkan karya yang tidak mengikuti arus utama estetika dalam ruang yang representatif. [b]

The post Futuwonder Seni Rupa untuk Melawan Patriarki appeared first on BaleBengong.

Volunteer Field untuk Tanggap Mitigasi Bencana


Banyak cara siaga dan membantu saat terjadi bencana.

Masyarakat Relawan Indonesia – Aksi Cepat Tanggap (MRI-ACT) mengadakan kegiatan “Volunteer Field” untuk calon relawan-relawan barunya pada Sabtu (26/1) 2019. Kegiatan organisasi yang fokus pada bencana dan kemanusiaan itu diadakan di Its Milk Café Jalan Gunung Rinjani Denpasar

Kegiatan ini dihadiri puluhan calon relawan dari latar belakang pendidikan dan profesi. Tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran kemanusiaan lebih tinggi ketika ada bencana alam di Indonesia.

Selain itu kegiatan ini juga mengajak para relawan untuk lebih peka terhadap fenomena kemanusiaan di sekitar lingkungan sekitar. Hal paling penting juga apabila terjadi bencana di Indonesia para relawan dapat bahu membahu menggalang donasi bantuan secara swadaya tanpa bergantung dengan pemerintah.

Para calon relawan yang hadir dalam kegiatan “Volunteer Field” mendapatkan ilmu-ilmu baru mengenai kebencanaa dari pembicara berkompeten. Dua pembicara adalah Ketua Divisi Sumber Daya Manusia MRI Bali Antony dengan tema mitigasi kebencanaan dan Divisi Disaster Emergency Recovery Management MRI Bali Deny mengisi materi mengenai ilmu kerelawanan.

Kedua pembicara ini mengisi acara “volunteer Field” selama tiga jam. Kedua pembicara mengemas kegiatan dengan metode materi dan diskusi interaktif.

Antony, dalam penjelasannya mengenai mitigasi bencana secara jelas dan mudah dimengerti. Mitigasi menurut Antony merupakan pengurangan risiko kebencanaan agar tidak berdampak secara luas. Mitigasi sangatlah penting dipelajari masyarakat Indonesia khususnya di Bali.

Indonesia secara umum dikelilingi Ring of Fire (Cincin Api) dan Patahan Sesar Bumi sehingga bencana alam bisa terjadi kapan saja. Bencana Alama pada dasarnya tidak mencelakai mayarakat, tetapi masyarakat kurang paham cara menghindari suatu bencana karena edukasi kebencanaan yang kurang banyak diketahui.

Antony mengatakan penting untuk mengenali lokasi tinggal untuk memahami cara mitigasi bencana. Misalnya di Bali ketika ada gempa bumi selama 10 detik maka yang bisa dilakukan adalah lindungi kepala sebagai bagian tubuh yang vital.

Jika memungkinkan segera cari ruang terbuka seperti lapangan atau area terbuka yang aman dari bagunan. “Jika tidak memungkinkan untuk cari lokasi aman segera cari tempat perlindungan dibawah meja dan posisi membungkuk,” jelasnya.

Antony juga menambahkan apabila apabila ada gempa bumi dan sedang berada di sekitar pantai segera lari ke tempat tinggi dan kokoh. Bila melihat air laur surut dan banyak bangunan rata segera menjauh dan tidak masuk kekendaaan supaya tidak tersapu oleh Tsunami.

Ia juga mengajarkan para relawan untuk bertahan hidup ketika tertimbun bangunan akibat gempa.

Apabila kita tertimbun bangunan karena runtuh oleh getaran gempa disarankan jangan panik. Tutup hidung agar debu tidak masuk. “Cari benda terbuat dari besi untuk membuat suara konstan memberikan sinyal minta pertolongan kepada petuga SAR/BNPB yang menyisir lokasi berdampak bencana,” ulasnya.

Hal menarik lagi dari penjelasan Antony ialah metode Triangle of Life ketika ada gempa. Metode ini digunakan apabila terjadi gempa di lokasi tanpa perlindungan seperti di bawah meja. Menurut Antony metode ini cukup melindungi seseorang dari reruntuhan gempa bumi. Caranya dengan mencari tiang yang kokoh dalam bangunan dengan badan posisi membungkuk melindungi kepala.

Deni, pembicara lain lebih membangkitkan semangat mengenai kerelawanan. Deni mengatakan bahwa semua orang sebenarnya merupakan relawan. Relawan tidak harus turun ke lapangan. Cukup dengan peduli dengan orang disekitar kita yang membutuhkan dan memiliki niat untuk menolong sudah diklasifikasikan sebagai relawan.

Menjadi relawan bisa dengan menginformasikan sesuatu lewat media sosial, mengumpulkan dana bantuan, atau bila memiliki keahlian khusus seperti jurnalis, keperawatan, trauma healing dan lain-lain sebaginya.

“Jangan takut sebagai relawan jika tidak memiliki banyak waktu karena bekerja. Menjadi relawan bisa dilakukan dengan kompetensi yang dimiliki,” tegasnya.

Untuk mematangkan mental calon relawan pada Maret 2019 di minggu ketiga akan dilaksanakan “Volunteer Camp” di Bedugul, Kabupaten Tabanan. [b]

The post Volunteer Field untuk Tanggap Mitigasi Bencana appeared first on BaleBengong.