Tag Archives: Komunitas

Bali Tatto Expo, Pameran Tato Pertama di Indonesia

Bali Tattoo Expo menjadi ajang pameran tato pertama dan terbesar di Indonesia.

Tato salah satu budaya paling tua di dunia. 

Begitu pula di Indonesia. Dia merupakan budaya yang sudah hidup cukup lama. Namun, beberapa ‘memori’ masa lalu membuat tato di negara ini identik dengan dunia kriminalitas. Tato pun mendapat citra buruk di masyarakat.

Hal ini berdampak pada termarjinalkannya para seniman serta penggemar tato di mata masyarakat umum.

Seiring berjalannya waktu, tato kembali menempati jalurnya. Tato beranjak menjadi counter culture, bahkan pop culture. Kini tato adalah sebuah spiritualitas, seni, ekspresi diri, bahkan dianggap sebagai gaya hidup oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Bisa kita lihat saat ini penggemar tato berasal dari berbagai kalangan seperti pengusaha, musisi, olahragawan, model, dan artis. Menariknya, tato tidak hanya didominasi oleh kaum laki-laki. Kaum hawa pun mulai berani menunjukan tato di tubuh mereka.

Hal ini berdampak pada industri tato yang mulai bergeliat kembali.

Bali merupakan daerah dengan industri tato paling maju di Indonesia sementara ini. Industri tato di Pulau Bali terus berjalan seiring dengan kemajuan dunia pariwisata.

Dengan latar belakang tersebut, kami kembali menghadirkan BALI TATTOO EXPO sebagai acara pertama yang diadakan dalam bentuk eksebisi. Selain sebagai ajang pameran, acara ini juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar seniman tato, serta menjadi ajang titik temu terbesar antara pelaku industri tato dengan penikmat seni tato.

Bagus Ferry, Penyelenggara Bali Tattoo Expo 2017, mengungkapkan secara konsep dan konten, Bali Tattoo Expo 2017 tidak akan berbeda dengan Bali Tattoo Expo yang telah berlangsung tahun sebelumnya.

“Namun tahun ini kami menghadirkan Bali Tattoo Expo 2017 dengan waktu lebih lama yakni selama 3 hari, dibandingkan tahun lalu yang hanya digelar selama 2 hari saja,” kata Ferry.

Bali Tattoo Expo 2017 berlangsung pada 12 Mei 2017 – 14 Mei 2017 mulai pukul 10.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita, dan bertempat di gedung Bali Creative Industry Center (BCIC).

Acara tato pertama di Indonesia selama 3 hari ini menghadirkan 88 booth yang terdiri booth tattoo studio dan booth non tattoo studio di dalam ruangan.

Selain booth tattoo studio maupun non tattoo studio, dalam Bali Tattoo Expo 2017 juga akan tersedia booth makanan dan minuman dengan lokasi di luar ruangan, dan pertunjukan musik yang akan digelar setiap hari mulai pukul 16.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita.

Acara ini juga mengundang beberapa teman-teman komunitas di Bali untuk berpartisipasi, sehingga menjadi ajang berkumpulnya banyak komunitas di Bali. [b]

The post Bali Tatto Expo, Pameran Tato Pertama di Indonesia appeared first on BaleBengong.

BEKRAF Developer Day Segera Hadir di Bali

Bekraf Developer Day Bali

Bekraf Developer Day bertujuan mendukung para pelaku ekonomi kreatif.

Dengan dukungan khususnya di subsektor aplikasi, web, IoT dan game, Bekraf Developer Day diharapkan mampu menginspirasi dengan pengalaman para developer yang telah sukses. Membuat komitmen dari industri untuk memicu semangat kemandirian kewirausahaan developer atau pengembang piranti lunak.

Bekraf Developer Day adalah acara dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia untuk mendukung tumbuh kembangnya dan mewujudkan kemandirian Bangsa melalui sektor industri kreatif (Web Developer / App Developer / Game Developer / IoT). Bekraf Developer Day sudah diadakan di kota-kota besar diseluruh Indonesia, dan sudah banyak membantu para developer muda Indonesia.

Mei ini BDD akan diadakan di Bali. Ini adalah BDD pertama yang dihadiri Google, Microsoft, IBM, dan Samsung dalam satu panggung.

Acara ini bersifat gratis dan dapat dihadiri oleh seluruh developer tanpa kecuali yang akan diadakan pada:

Jadwal Pelaksanaan 06 May 2017 07:00 s/d 06 May 2017 18:00
Lokasi Aston Denpasar Hotel & Convention Center, Jl. Gatot Subroto Barat No.283, Denpasar – Bali, Google Maps: https://goo.gl/LWmrjT
Tema dari acara Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Digital
Link Pendaftaran https://dicoding.id/e/577

Peserta akan mendapatkan update teknis dari para praktisi yang telah sukses dalam pengembangan aplikasi, web, game, dan Internet of Things yang dikemas dalam sesi inspirasi, workshop/masterclass, live coding, dan talkshow.

Tidak lupa juga akan ada banyak workshop/masterclass bagi teman-teman yang ingin belajar mengenai (Web Developer / App Developer / Game Developer / IoT) :

Talkshow Industri mengenai Dukungan Industri untuk Pengembang Lokal dari :

  • IBM Indonesia
  • Samsung Indonesia
  • Microsoft
  • Google
  • Dicoding

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan Dicoding dengan dukungan Asosiasi Game Indonesia, Codepolitan, Dicoding Elite, Google, Google Developer Expert, IBM Indonesia Intel Innovator, Komunitas ID-Android, Microsoft Indonesia, Samsung Indonesia, dan perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia.

Event Bekraf Developer Day 2017 ini juga didukung oleh Komunitas Lokal :
Startup Bali (SuBali) : https://www.facebook.com/groups/subali/
Game Developer Bali (Gamedev) : https://www.facebook.com/groups/gamedevbali/
BaliJS : https://www.facebook.com/groups/923989567684064/

The post BEKRAF Developer Day Segera Hadir di Bali appeared first on BaleBengong.

Rotaract Club se-Bali Menggelar Fellowship

Anggota Rotaract Club se-Bali berkumpul dengan tema SMA. Foto Herdian Armandhani.

Mengenang masa SMA sambil bakar ikan bersama.

Komunitas Rotaract Club se-Bali mengadakan kegiatan keakraban berupa barbeque atau manggang bersama hasil olahan laut. Acaranya pada Sabtu (22/4) 2017 di Villa Sanur Jalan Pengembak, Mertasari, Denpasar.

Acara diikuti setiap anggota komunitas ini di antaranya berasal dari Ubud, Denpasar, Seminyak, Nusa Dua, dan Canggu.

Rotaract Club merupakan organisasi anak muda non profit berskala internasional yang rata-rata berusia 18 hingga 30 tahun yang langsung dibina oleh Rotary Club. Kegiatan komunitas ini berfokus pada community service, leadership, dan professional development.

Anggota Rotaract Club di Bali merupakan bagian dari District 3420 untuk Indonesia bagian Timur. Anggotanya saat ini sekitar 200 orang. Club lain yang bernaung di District 3420 Indonesia tersebar di Kota Semarang, Malang, Solo, Surabaya, Makassar, dan Kupang.

Tema yang diangkat dalam kegiatan fellowship tahun ini adalah catatan akhir sekolah. Sesuai dengan temanya para anggota yang hadir harus menggunakan dresscode seragam sekolah. Suasana menjadi semakin erat manakala para anggota komunitas anak muda ini bersama-sama mengolah bahan untuk disantap bersama-sama.

Ketua Fellowship Rotaract Bali Area Marwah mengatakan tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkuat komunikasi dan sinergi antar club. Selain itu juga melalui kegiatan tersebut para anggota di masing-masing club bisa saling bertukar ide untuk sama-sama berinovasi dalam kegiatan di clubnya masing-masing.

“Semoga dengan adanya kegiatan bisa menjalin komunikasi dan sinergi yang lebih baik lagi serta bisa saling bertukar ide untuk kemajuan club,” ujarnya.

Sementara itu, City Rotaract Represtatif (CRR) Bali Area yaitu Ida Bagus Raden Raditya Manuaba berharap melalui kegiatan sederhana ini bisa memacu semangat para anggota Rotaract Club Se-Bali untuk terus melakukan pengabdian masyarakat khususnya di Bali dan berkarya positif disegala bidang.

“Melalui kegiatan ini saya berharap rekan-rekan anggota Rotaract Club Se-Bali terus bersemangat melakukan pengabdian masyarakat khususnya di Bali dan berkarya positif di segala bidang,” katanya.

Untuk menjadi anggota Rotaract Club sangatlah mudah. Cukup hadir saat rapat Rotaract Club terdekat dan menjadi volunteer aktif dalam setiap kegiatan sosial. Fellowship Rotaract Bali Area diakhiri dengan sesi games sharing Nostalgia saat duduk di bangku SMA dan foto bersama. [b]

The post Rotaract Club se-Bali Menggelar Fellowship appeared first on BaleBengong.

Om Bemo, Penyebar Rasa Malu Nyampah Sembarangan

Komang Sudiarta perintis Komunitas Malu Dong Buang Sampah Sembarangan. Foto Anton Muhajir.

Komunitas Malu Dong lahir dari rasa jengah, dan malu. 

Di antara beberapa komunitas peduli sampah di Bali, Komunitas Malu Dong Buang Sampah Sembarangan termasuk yang makin populer di kalangan anak-anak muda Pulau Dewata, terutama Denpasar saat ini.

Di akun media sosial paling hits saat ini, Instagram, komunitas ini punya lebih dari 11.600 pengikut. Bendera komunitas yang lebih akrab disingkat Malu Dong ini juga makin banyak berkibar di banjar-banjar, komunitas adat terkecil di Bali. Dalam tiap kegiatan bersih-bersih, sedikitnya 100 orang ikut kegiatan mereka.

Seperti namanya, kegiatan utama Malu Dong memang membersihkan sampah. Tiap minggu sore mereka mengadakan aksi membersihkan sampah di Pantai Mertasari, Sanur. Secara berkelompok, mereka memungut beragam jenis sampah ketika ratusan warga lain memilih duduk, berenang, atau jalan-jalan di pantai yang selalu ramai itu.

Pada beberapa even festival atau musik, anggota komunitas ini juga hadir sebagai bagian dari tim kebersihan. Anggota Malu Dong dari beragam latar belakang, seperti arsitek, pengacara, desainer, dan musisi tanpa sungkan bertindak layaknya pemulung. Mereka membawa alat penjepit untuk memungut sampah dan karung untuk tempat sampah.

Pada peringatan Hari Bumi 22 April nanti, komunitas ini akan menggelar Malu Dong Festival. Tujuannya untuk mengampanyekan perlunya warga mengurus sampah. Berbagai komunitas akan berkolaborasi selama dua hari festival di Lapangan Puputan Badung, Denpasar nanti.

Komunitas Malu Dong rutin mengadakan bersih-bersih sampah di Pantai Mertasari, Sanur. Foto Malu Dong.

Om Bemo Malu

Komang Sudiarta, 51 tahun, adalah sosok di balik Komunitas Malu Dong. Warga Banjar Tampak Gangsul, Denpasar ini memulai inisiatif untuk memungut sampah di lingkungannya sejak 2009. Waktu itu dia baru selesai bekerja di luar negeri, termasuk Amerika Serikat dan Australia. Ketika kembali ke tanah kelahiran, dia merasa malu melihat banyaknya orang yang membuang sampah sembarangan.

“Bali terkenal sebagai tempat wisata tapi banyak sekali sampah. Harus ada yang turun ke lapangan untuk membersihkannya,” kata bapak dua anak yang akrab dipanggil Om Bemo ini.

Sejak itu, Om Bemo terus memungut sampah dari tiap tempat yang dia kunjungi. Dia selalu membawa bendera Malu Dong yang berisi gambar simbol ekspresi wajah atau emoticon malu. Namun, dia justru mendapat cemoohan sebagian orang pada awalnya. Beberapa warga dan bahkan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang pernah mendukung kemudian pergi.

“Tapi saya tidak mau mundur. Saya harus konsisten untuk membuktikan keseriusan saya membersihkan sampah,” kata suami dari Made Ayu Silayanti ini.

Selain di lingkungan banjar sendiri, Om Bemo juga berkunjung ke sekolah-sekolah di Denpasar. Dia mendatangi sekitar 300 sekolah, dari SD sampai SMA, di ibu kota Provinsi Bali ini. Tanggapan terhadapnya bermacam-macam. Ada sekolah yang dengan senang hati menerima tapi ada pula yang mengabaikannya.

Dengan cara memungut sampah itu dia tak hanya ingin menunjukkan pada anak-anak muda tentang perlunya membuang sampah pada tempatnya tapi juga menyampaikan pesan kepada pemerintah agar lebih peduli pada pengelolaan sampah.

Menurut Om Bemo, sebagian besar sekolah di Denpasar belum serius memberikan pendidikan pada muridnya untuk mengelola sampah. Padahal, lanjuttnya, sekolah seharusnya menjadi tempat pendidikan terkati sampah juga. Dari sekitar 300 sekolah di Denpasar, menurutnya, baru sebagian kecil yang sudah serius mengelola sampah. SMP 3 dan SMA 3 Denpasar hanya dua contohnya.

“Seharusnya sekolah bisa mengajarkan cara menangani sampah sesuai dengan tingkat sekolah. Ketika SD belajar membuang sampah yang benar, SMP belajar memilah sampah, dan SMA belajar mengolah sampah,” katanya.

Sejumlah komunitas akan berkolaborasi dalam Malu Dong Festival. Foto Anton Muhajir.

Terus Bertambah

Banjar dan sekolah menjadi target awal Om Bemo ketika melakukan gerakan Malu Dong. Seiring waktu, makin banyak pihak tertarik dan kemudian bergabung. Tahun lalu, tepatnya pada 23 April 2016, Komunitas Malu Dong resmi diluncurkan kepada publik.

“Resmi itu maksudnya dengan memperkenalkannya kepada publik sebagai sebuah komunitas,” kata Anak Agung Yoka Sara, penggagas dan anggota komunitas. Yoka Sara mengatakan Malu Dong adalah komunitas di mana tiap orang bebas masuk jika ingin atau keluar jika bosan. Tidak terikat.

“Tapi kami mengatur pembagian tanggung jawab sesuai kemampuan dan waktu yang kami miliki masing-masing,” tambah arsitek ternama di Bali itu.

Saat ini, jumlah anggota mereka sekitar 175 orang. Banjar yang bergabung dalam gerakan Malu Dong juga makin bertambah. Pekan lalu, komunitas ini membagi 468 bendera yang dikibarkan di 4 kantor kecamatan, 43 desa, dan 420 banjar di Denpasar.

Menurut Sudiarta, media sosial menjadi salah satu pemicu makin banyaknya anak muda tertarik bergabung komunitas ini. “Itu yang membuat saya bangga,” ujarnya.

Hingga saat ini kegiatan rutin mereka masih sama, membersihkan sampah di Pantai Mertasari, Sanur dan bergabung dengan even-even semacam festival.

Om Bemo punya alasan sendiri kenapa Pantai Mertasari tetap jadi lokasi utama untuk bersih-bersih. “Karena Pantai Mertasari itu belum selesai dengan urusan sampah,” katanya. Baik pedagang maupun pembeli di pantai Denpasar bagian selatan itu masih suka membuang sampah sembarangan.

Sebagai salah satu lokasi pariwisata, Mertasari masih dibanjiri sampah. Tiap kali ada aksi bersih-bersih sampah, anggota Komunitas Malu Dong bisa mendapatkan sampah sampai 10 karung. “Kalau musim angin bisa sampai 50 karung,” ujar Om Bemo.

Lokasi Pantai Mertasari yang berada di hilir juga jadi alasan tersendiri. Banyaknya sampah di hilir menunjukkan bahwa sampah bisa datang dari mana saja. Perilaku di hulu berdampak hingga ke hilir.

Instalasi dari puntung rokok yang akan dipamerkan di Malu Dong Festival untuk shock therapy. Foto Malu Dong.

Shock Therapy

Karena itu, Om Bemo berharap pemerintah lebih serius mengelola sampah. Tak hanya di tingkat kebijakan tapi juga pelaksanaan di lapangan. Dia juga mengharapkan makin banyak komunitas terlibat dalam aksi peduli sampah. Salah satunya lewat Malu Dong Festival.

Sejumlah komunitas sendiri sudah mengatakan akan hadir dalam festival selama dua hari itu. Mereka dari kalangan musisi, seniman, aktivis LSM, komunitas kreatif, dan lain-lain. Kegiatannya antara lain pentas musik, lokakarya, pameran seni rupa, lelang karya, dan lain-lain.

Marlowe Bandem, panitia Malu Dong Festival mengatakan, festival bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terhadap perlunya kepedulian terhadap sampah. “Festival ini untuk melahirkan aksi baru, kampanye sampah melalui kesenian,” kata Marlowe.

Salah satu karya yang akan dipamerkan nantinya adalah instalasi dari puntung rokok hasil bersih-bersih di Pantai Mertasari maupun tempat lain sejak Oktober tahun lalu.

“Gagasannya untuk membangun media shock therapy untuk masyarakat, membangun mind set tentang akibat kalau buang puntung rokok sembarangan,” kata Yoka Sara yang berkolaborasi dengan Wayan Duduk, ahli membuat layang-layang dari Sanur.

Melalui kegiatan serupa Malu Dong Festival, Om Bemo berharap akan makin banyak komunitas terlibat dalam pengelolaan sampah. “Karena meskipun jumlah orang yang peduli sampah makin banyak, namun jumlah sampah juga terus bertambah. Itu yang tetap saja memalukan,” katanya. [b]

The post Om Bemo, Penyebar Rasa Malu Nyampah Sembarangan appeared first on BaleBengong.

Malu Dong Festival 2017: Menuju Bali Bersih

Pekan depan akan berlangsung “Malu Dong Festival”. 

Festival pada 22-23 April 2017 di Lapangan Puputan Badung ini ditujukan sebagai ajang edukasi untuk mengurai masalah sampah di Bali. Berbagai komunitas akan berkolaborasi untuk mengampanyekan Bali bersih.

Malu Dong Festival ini adalah ruang bersatunya beragam komunitas dari berbagai latar belakang dengan publik luas demi pengentasan kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan yang masih terjadi dewasa ini di sekeliling kita.

Festival yang terbuka untuk umum dan bertabur acara ini digelar pula dalam rangkaian memperingati Hari Bumi (22 April) dan Hari Ulang Tahun Malu Dong Community (MDC) yang pertama pada 23 April 2017.

Gelaran yang dikelola secara independen ini melibatkan banyak komunitas pegiat lingkungan, sekaa teruna-teruni, musisi, pelaku seni dan komunitas kreatif seperti Antida Music, NK13, Keduxgarage, dan PICA.

BDC bermula dari keresahan dua sahabat, Komang Sudiartha “Om Bmo” dan Putu Teryl. Sejak 2009, mereka getol mengatasi masalah sampah di lingkungan tempat tinggal mereka di seputaran Denpasar. Keresahan mereka direspon berbagai pihak secara konstruktif dan bergulir menjadi MDC yang kita kenal sekarang.

Hanya dalam setahun, komitmen dan keterlibatan sukarelawan yang lintas generasi-profesi dan swadaya mendorong MDC bertumbuh-kembang. Komunitas ini kian besar dan konsisten dalam menyikapi isu-isu lingkungan di Bali, khususnya melalui upaya kolektif di ranah publik dan dunia maya bertajuk “Malu Dong Buang Sampah Sembarangan.”

Trashveling
Kepedulian akan Bali Bersih terus disuarakan, dipropagandakan dan ditunjukkan dengan aksi nyata ‘trash walk’ atau bersih-bersih pantai di lingkungan Mertasari setiap hari Minggu, sore hari. MDC pun berada di garis depan penanggulangan sampah dalam pelbagai acara kawula muda di Denpasar, yang dibuktikan dalam Legian Beach Festival, Weekend Warrior Bali Chopper Camp (2016), dan PICA Festival (2016-2017).

Penyebaran “virus” kebersihan lingkungan terbaru MDC adalah melalui program Trashveling yaitu ‘berkelana dan membersihkan lingkungan’. Trashvekung dilakukan baru-baru ini di Labuhan Amuk, Karangasem. Sukarelawan MDC bersama masyarakat setempat bahu-membahu melakukan aksi edukasi dan peduli lingkungan sepanjang pesisir pantai.

Trashveling ini melengkapi program edukasi di sekolah-sekolah, pemasangan bendera “Malu Dong Buang Sampah Sembarangan” di titik-titik rawan sampah dan tempat umum seperti balai banjar, sekolah, sekitar pasar dan lokasi-lokasi strategis lainnya.

Ada beberapa kegiatan menjelang perhelatan Malu Dong Festival ini. Pertama penyerahan sebanyak 420 bendera “Malu Dong Buang Sampah Sembarangan” kepada perwakilan warga kota di Taman Lumintang Denpasar yang diterima Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra pada 3 April 2017 yang lalu.

Bendera-bendera beraneka warna itu kemudian dibagi di ratusan banjar yang tersebar di 4 kecamatan dan 43 desa di Denpasar.

Kemudian pada tanggal 9 April 2017, dilakukan pelatihan pembuatan lampion sebagai media komunikasi tentang akan pentingnya lingkungan yang bersih dan bebas sampah. Pelatihan ini menghadirkan narasumber, seniman serba-bisa, Marmar Herayukti dari Denpasar. Yang menarik, hasil karya para peserta ini akan ditampilkan dalam parade pada saat festival nanti.

Lalu, pada tanggal 17 April 2017, STT Banjar Tainsiat dan STT Banjar Tampak Gangsul akan melakukan pawai mengarak baliho-baliho Malu Dong Festival dan memajangnya di lokasi acara di Taman Puputan Badung Denpasar.

Titik Kritis
Ketika ditanya stimulus festival ini, Komang Sudiarta alias Om Bmo mengungkap kegelisahannya akan permasalahan sampah di Denpasar yang telah mencapai titik kritis. “Adalah fenomena yang aneh ketika seseorang lebih sibuk menyembunyikan sampahnya di bawah lembutnya bilur-bilur pasir dan di kaki pohon perindang daripada membuangnya di tong sampah,” katanya.

Kekesalannya bukan tanpa alasan. Menurutnya, setiap minggu, puluhan sukarelawan MDC mesti berkutat dengan timbulan sampah yang mengotori dan mencemari kawasan pesisir Mertasari. Puntung rokok, botol kaca dan plastik, kresek dan sedotan plastik, sampai alat kontrasepsi bekas adalah sekelumit sampah anorganik yang dipungut, dipilah dan dituntaskan pembuangannya ke TPA.

Yoka Sara yang dikenal sebagai desainer-arsitek ternama Bali, dan penggagas di balik perhelatan seni visual SPRITES Art & Creative Biennale – selaku ketua panitia – mengungkap bahwa Malu Dong Festival ini adalah fakta kebersatuan dan kepedulian generasi muda Bali yang multikultur akan keberlanjutan kehidupan masa kini dan mendatang yang sehat dan nyaman bagi semua.

“Malu Dong Festival adalah keniscayaan akan visi-misi bersama tentang mutlaknya kesucian alam Bali secara sekala dan niskala. Peluasan pengaruh dan jejaring MDC disampaikan secara “sundaram” yaitu bahasa estetika dan keindahan, merangkul semua pihak agar selalu teguh “satyam” dan penuh inovasi “siwam” demi Bali yang tak terkontaminasi pemikiran sempit bahwa kita hanyalah penonton di rumah sendiri,” tuturnya.

Pada hari-H, Malu Dong Festival akan diramaikan dengan berbagai pelatihan yang berkenaan dengan pengolahan sampah, pemutaran film dokumenter tentang lingkungan, diskusi, melukis mural, pameran fotografi dan pementasan berbagai atraksi kesenian termasuk pemanggungan band-band populer saat ini seperti Jangar, Lily of the Valley, Rollfast, Natterjack, Zat Kimia, Navicula, dan lain-lain.

Ngayah
Festival ini adalah sebuah show ‘pagelaran’ dalam sebuah kesatuan tata panggung dan cahaya dalam balutan scenography yang khas. Parade film pendek, poster, dan lampion terkait kepedulian alam-lingkungan turut pula memeriahkan festival dua hari ini.

Yoka Sara lanjut menjelaskan bahwa festival ini adalah bukti kesadaran dan bersatu-padunya generasi muda dengan spirit ketulusan ngayah ‘pengabdian’ yang kental. Ratusan sukarelawan dan pendukung acara dengan riang dan tak kenal lelah mengatur dan mengelola acara ini sejak enam bulan yang lalu.

Mewakili MDC, ia berharap masyarakat menikmati Malu Dong Festival dan menjadikannya sebagai refleksi agar meningkatkan kesadaran dan partisipasi sosial untuk menjaga dan melestarikan alam-lingkungan. Seperti halnya MDC, semua berawal dari diri sendiri, mengambil dan menuntaskan hal kecil yang mampu membawa perubahan yang besar.

Walau hanya berusia setahun, penetrasi MDC dalam meningkatkan kesadaran publik untuk merawat dan melestarikan telah menampakkan hasil positif. Setiap minggunya, jumlah sukarelawan yang turut dalam agenda beach cleaning ‘bersih-bersih pantai’ di Mertasari terus bertambah, tak hanya dari masyarakat umum, komunitas, tapi juga anak didik sekolah.

Ini nampak pula dari meluasnya branding MDC di pelbagai pelosok pulau yang dibarengi respon nyata untuk melakukan penanggulangan sampah pada acara-acara ritual dan adat oleh warga.

MDC kini telah berkembang menjadi MDC Denpasar, MDC Gianyar dan tak lama lagi MDC Jembrana dengan Base Camp Malu Dong Community berada di di Soul Kitchen Bali, Jalan Hayam Wuruk 156 Denpasar, Bali 80235. Aktivitasnya bisa disimak lebih lanjut melalui media sosial Facebook @MALU DONG dan Instagram @malu.dong atau contact information Dian Asri Utami +6281236789684 dan Hendra Arimbawa +6282339597441. [b]

The post Malu Dong Festival 2017: Menuju Bali Bersih appeared first on BaleBengong.