Tag Archives: Komunitas

Minikino Dekatkan Film Pendek dengan Anak-anak

Anak-anak sedang latihan merekam adegan. Foto oleh Putu Sumerta

Kebanyakan anak SD mungkin tak pernah membayangkan untuk membuat sebuah film.

Mungkin mereka hanya menonton di televisi, atau sebagian lain punya kesempatan lebih untuk menonton film di bioskop. Namun, membuat sebuah film apalagi dari awal menyusun ide film hingga praktik merekam gambar sepertinya jarang. Atau bahkan belum pernah sekalipun mereka lakukan.

Beruntung bagi 34 orang anak dari SD 1, 2 dan 3 Sobangan yang ikut dalam workshop pengenalan film pendek dan menulis ide film dari Minikino, Jumat (13/10).

Bertempat di Wantilan Desa Pura Sari, Banjar Narungan, Desa Sobangan, workshop diawali dengan mengenal jenis-jenis profesi dalam film. Setelah itu, anak-anak diajak untuk mengenal peralatan dasar pembuatan film, praktek menulis ide cerita dan praktik merekam gambar.

Workshop yang dimentori oleh Made Birus ini diakhiri dengan presentasi ide cerita di depan kamera. Acara dimulai pukul 09:00 WITA dan berakhir pukul 12:00 WITA. Seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan anak-anak merasa senang mendapat kesempatan berharga untuk mengenal film pendek lebih jauh.

Workshop ini merupakan salah satu dari rangkaian acara 3rd Minikino Film Week (MFW) tahun 2017. Kegiatan yang diselenggarakan atas kerja sama Minikino dengan Yayasan Pelangi Anak Bali Rotary Club Bali Denpasar (RCBD) ini adalah workshop pembuatan film pertama kali yang melibatkan anak-anak sebagai pesertanya.

Workshop ini begitu menarik perhatian anak-anak. Meskipun di awal workshop anak-anak terlihat begitu tegang. “Awalnya terasa kaku, karena mereka mungkin merasa belum tahu apa-apa, bertemu dengan sesuatu yang baru buat mereka seperti ada keraguan, berani ga ya, bisa ga ya,” jelas Made Birus Mentor Workshop saat itu.

Made Birus juga menambahkan kalau workshop ini adalah workshop pembuatan film yang pertama mereka ikuti. “Apa yang kita kasi di workshop belum pernah mereka dengar atau alami sebelumnya. Walaupun mereka sudah terpapar oleh gadget (hp pintar, dan tv),” tambahnya.

Beruntung suasana tegang langsung berubah ceria ketika mereka dibagi kedalam kelompok untuk bekerja sama. Mereka menuliskan satu ide cerita, berbagi tugas dalam sesi shooting, dan presentasi sederhana. “Setelah beberapa menit, wajah mereka mulai terlihat lega, seakan pertanyaan mereka terjawab, oh ternyata begitu, oh ternyata saya bisa loh,” jelas Made Birus.

Dua anak sedang latihan membaca naskah. Foto oleh Fahrianoor.

Bagi anak-anak seumuran mereka, apa yang sudah mereka kerjakan mungkin adalah suatu hal yang sangat luar biasa membanggakan. Kita harus selalu memuji apa yang sudah mereka kerjakan. Besar harapan dengan diselenggarakannya kegiatan sejenis, mampu membuka jendela informasi baru bagi anak-anak untuk mengenal proses kreatif di belakang film atau tontonan yang mereka sudah lihat.

Ini merupakan kesempatan yang langka bagi mereka, karena tidak pernah mereka dapatkan di sekolah. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga menjadi pengalaman baru untuk mereka, mengenal teman baru, bekerja sama satu sama lain, dan juga mengenal alat-alat dalam pembuatan film. [b]

The post Minikino Dekatkan Film Pendek dengan Anak-anak appeared first on BaleBengong.

Nobar 3rdMFW bersama Sushrusa Deaf School

Anak-anak dari Sushrusa Deaf School ikut nonton bareng di 3rd MFW. Foto Vifick Bolang.

Minikino Film Week (MFW) memang sayang untuk dilewatkan.

Tahun ini, festival film pendek yang masuk tahun ketiga tersebut menghadirkan 209 film pendek yang dikemas dalam 42 program. Jumlah tersebut meningkat dari 88 film pendek di tahun pertama, dan 158 film di tahun kedua.

Dalam 42 program Minikino Film Week ketiga (3rdMFW) tersebut, program anak (Children Program) telah dilaksanakan di Gedung Merdeka, Kantor BPDP Provinsi Bali pada Senin, 9 Oktober kemarin.

Children Program ini dihadiri oleh puluhan anak-anak tuna rungu dari Sushrusa Deaf School. Acara dimulai pukul 10:00 WITA.

Ada 2 program film yang diputar, yaitu Tangible Dreams dan Children Program. Menurut penuturan seorang guru, anak-anak sudah bertanya-tanya film apa yang akan segera ditonton. “Anak-anak sangat terkesan sekali dengan kegiatan ini, bahkan sebelum acara mereka nanya nanti filmnya kayak apa?” jelas Ibu Raka, Kepala Sekolah di Sushrusa Deaf School.

Acara berlangsung begitu menyenangkan. Selama acara anak-anak sangat antuasias untuk mengikuti kegiatan. Mulai dari pemutaran bahkan hingga proses diskusi berlangsung.

Setelah nobar, anak-anak Sushrusa Deaf School mengikuti diskusi dan tanya jawab mengenai film. Foto Julian La Wele.

Setelah menonton film pendek bersama, acara dilanjutkan dengan proses diskusi dan tanya jawab mengenai film. Setiap anak yang berani menjawab pertanyaan mendapatkan hadiah sebuah tas dari Minikino.

Ini adalah pengalaman pertama bagi anak-anak di Sushrusa Deaf School untuk datang ke festival film. “Ini pengalaman pertama anak-anak, di sekolah sempat sih ada kegiatan nobar tapi layarnya kecil,” jelas Ibu Raka.

Di Sushrusa Deaf School anak-anak berjumlah 51 orang dan 7 orang guru. Yang datang ke acara berjumlah 52 orang termasuk guru-guru yang mendampingi.

Anak-anak begitu senang bisa diajak ikut datang ke festival. Beberapa teman mereka ada yang sakit, karena itu ada yang tidak bisa ikut datang ke acara.

Saat ditanya kesan setelah mengikuti acara, guru-guru menyatakan sangat senang. Sebab, Minikino sudah mengundang anak-anak sehingga mereka punya pengalaman baru dan akan menambah wawasan mereka. “Saya pribadi suka dengan kegiatan tadi, kegiatannya bagus, karena dengan melihat film kita jadi menambah wawasan,” jawab Bu Raka. [b]

The post Nobar 3rdMFW bersama Sushrusa Deaf School appeared first on BaleBengong.

Festival Ditunda, Kontes Surfing Tetap Jalan

Nusa Penida Festival tahun ini tertunda.

Penundaan kegiatan promosi pariwisata di Nusa Penida itu karena situasi terkini Gunung Agung. “Pelaksanaannya kita tunda sampai batas waktu tidak ditentukan,”ujar Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, beberapa waktu lalu.

Pemerintah Klungkung memfokuskan menangani warga pengungsian di berbagai titik dengan pusat posko di GOR Swecapura. “Semoga dalam waktu dekat situasi ini segera berakhir. Setelah itu akan kita lanjutkan kembali,” lanjutnya.

Namun, meskipun pelaksanaan Nusa Penida Festival tertunda tanpa batas waktu yang belum ditentukan, kontes surfing di Nusa Lembongan, Klungkung tetap digelar.

Menurut Ketua Lembongan Surf Team I Wayan Lena, kontes surfing tetap dilakukan sesuai dengan agenda kegiatan kontes.

Pertimbangan pertama, menurut Lena bulan ini kondisi ombak baik sekali untuk dipakai berselancar. Pertimbangan ini merupakan acuan kita bersama teman komunitas surfing.

Kontes ini sebuah tanggung jawab kita terhadap pecinta olahraga ini kepada dunia. “Selain sebagai penjaringan bakat juga ruang mencari pengalaman bagi mereka yang masih butuh jam terbang,” kata Lena.

Sangat spesial sekali kontes yang sudah digelar. Pasalnya kita juga mengundang peselancar nasional dan internasional.

Sebanyak 36 peselancar terbuka untuk semua kategori masing-masing 10 peselancar lokal dan nasional. Sisanya 16 peselancar merupakan undangan spesial dari negara tetangga Australia dan beberapa negara lainya Kanada, Brasil, Prancis dan Jepang.

Dalam penilaian setiap peselancar harus mampu memikat juri baik menaklukan ombak besar dan panjang serta action tatkala meliuk-liuk di atas papan. [b]

The post Festival Ditunda, Kontes Surfing Tetap Jalan appeared first on BaleBengong.

Empat Hal Menarik dari 3rd Minikino Film Week

Minikino Film Week memasuki tahun ketiga.

Festival Film Pendek Internasional yang digagas Minikino ini akan kembali hadir pada 7-14 Oktober 2017. BaleBengong sangat bangga menjadi rekanan media selama tiga tahun belakangan ini. Untuk itu, mari melihat apa saja hal menarik dari festival ini.

1. Ratusan Film Pendek dalam Sepekan

Tahun ini, Minikino menghadirkan 209 film pendek yang dikemas dalam 42 program. Jumlah film pendek memang cenderung meningkat dari tahun sebelumnya. Minikino Film Week tahun pertama menayangkan 88 film pendek, sedangkan pada tahun kedua sejumlah 158 film.

Penambahan film ini rupanya berkaitan dengan lokasi pemutaran yang juga bertambah. Pada Minikino Film Week tahun ini, terdapat 17 lokasi pemutaran film yang tersebar di berbagai Kabupaten/Kota di Bali.

Selain itu, 3rd Minikino Film Week juga menyediakan perpustakaan video di Festival Lounge, lantai 1 Gedung Merdeka, kantor BPPD Denpasar, Jalan Surapati No. 7. Perpustakaan ini berisi lebih dari 500 judul film pendek Indonesia maupun internasional. Namun, perpustakaan ini hanya untuk undangan dan semeton Minikino Film Week.

Ingin jadi semeton Minikino Film Week? Daftar di sini.

2. Menonton Film Tak Harus Ke Bioskop

“Siapa yang menonton film ke bioskop selama satu bulan terakhir?” Pertanyaan ini dilontarkan oleh Edo Wulia, Festival Director 3rd Minikino Film Week kepada para jurnalis saat jumpa pers, Senin (2/10). Hasilnya memang tak sampai setengah hadirin yang mengacungkan tangan.

Inilah fenomena yang terjadi di Bali, bioskop hanya hiburan bagi segelintir orang. Minikino berupaya memberikan akses seluas-luasnya untuk menikmati film. 17 titik pemutaran terbagi dalam 11 lokasi pemutaran Micro Cinema dan 6 lokasi Pop-Up Cinema.

Edo Wulia dalam jumpa pers 3rd Minikino Film Week. Foto oleh Wayan Martino.

Edo Wulia menjelaskan Micro Cinema adalah ruang pemutaran film yang telah memiliki infrastruktur untuk pemutaran film. Ruang ini bisa jadi di dalam maupun luar ruangan. Secara teknis, peralatan pemutaran film juga telah tersedia.

Lokasi Micro Cinema di antaranya Akubank Denpasar, Gedung Merdeka BPPD Denpasar, Bentara Budaya Bali Gianyar, Campuhan College Ubud, Danes Art Veranda Denpasar, Fame Hotel Kuta, Irama Indah Denpasar, Omah Apik Pejeng, Rompyok Kopi Kertas Budaya Jembrana, Rumah Film Sang Karsa Buleleng dan Uma Seminyak.

Sementara itu, Pop-Up Cinema berarti layar tancap dalam Bahasa Indonesia. Minikino mengunjungi lokasi pemutaran di luar Kota Denpasar dengan menyediakan seluruh keperluan teknis. Enam lokasi Pop-Up Cinema di antaranya, Banjar Jemeluk (Amed Karangasem), Banjar Tengah Desa Duda (Selat, Karangasem), Wantilan Desa Banyuatis (Buleleng), Wantilan Desa Sobangan, Wantilan Desa Sukawati (Gianyar) dan Lapangan Volly Dusun Jeruk Mancingan (Bangli).

3. Menonton Film Hasil Begadang

Kompetisi unik turut digelar dalam rangkaian 3rd Minikino Film Week, yaitu Begadang Filmmaking Competition. Kompetisi nasional pembuatan film pendek ini menantang para peserta memproduksi film dalam 34 jam. Kompetisi berlangsung pada 2-3 September 2017 lalu diikuti oleh 30 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Ada enam semi-finalis yang terpilih dalam kompetisi.

Penasaran dengan hasilnya? Pemutaran film karya Begadang Filmmaking Competition akan dilaksanakan pada tiga lokasi dan waktu yang berbeda, yaitu Rompyok Kopi Kertas Budaya Jembrana (Rabu, 11 Oktober 2017, 21.30), Uma Seminyak (Kamis, 12 Oktober 2017, 18.30) dan Campuhan College Ubud (Jumat, 13 Oktober 2017, 16.45).

4. Belajar Akting atau Bikin Video? Bisa!

3rd Minikino Film Week tidak hanya menyediakan ruang menikmati film. Mereka juga memberikan kesempatan untuk belajar beberapa hal yang berkaitan dengan film. Bagi yang ingin mendalami seni peran, ada pelatihan akting oleh filmmaker sekaligus aktor, Paul Agusta.

Pelatihan ini terbuka bagi remaja berusia 13 tahun ke atas. Ada tiga pilihan lokasi dan waktu, yaitu Omah Apik Pejeng (Minggu, 8 Oktober 2017, 10.00), Fame Hotel Kuta (Selasa, 10 Oktober 2017, 13.00) dan Gedung Merdeka BPPD Denpasar (Rabu, 11 Oktober 2017, 13.00).

3rd Minikino Film Week akan segera dimulai 7 Oktober 2017. Foto oleh Wayan Martino.

Jika tertarik dengan pembuatan video, ada pula pelatihan sinematografi digital 4K bersama  Benny Kadarharianto, filmmaker yang aktif sejak tahun 1987. Pelatihan ini terbuka untuk umum, terutama para peminat videografi yang ingin memahami perangkat kamera dan penggunaannya dalam pembuatan film fiksi maupun dokumenter.

Peserta dapat memilih salah satu dari dua lokasi, yaitu Omah Apik Pejeng (Kamis, 12 Oktober 2017, 13.00) dan Gedung Merdeka BPPD Denpasar (Jumat, 13 Oktober 2017, 13.00).

Selain produksi film, ada juga jenis video musik yang turut jadi tema diskusi dalam agenda Minikino Bandstand. Dalam sesi diskusi ini, Agus Wiranata (sutradara video klip musik ‘Bayu Cuaca’) dan Andy Praditya (Art Director ‘Pool Moon Elephant’) akan bercerita pengalaman mereka dalam menggarap video musik. Acara ini berlangsung pada Minggu, 8 Oktober 2017, pukul 17.30 di Omah Apik Pejeng.

Informasi dan jadwal 3rd Minikino Film Week selengkapnya dapat dilihat di sini. Selamat menikmati 3rd Minikino Film Week! [b]

The post Empat Hal Menarik dari 3rd Minikino Film Week appeared first on BaleBengong.

Sambil Membantu juga Menghibur Pengungsi Gunung Agung

Bantuan dari Komunitas Ngemis Bali untuk pengungsi Gunung Agung. Foto Herdian Armandhani.

Selain memberikan bantuan, KNB juga menghibur anak-anak pengungsi.

Puluhan ribu warga Kabupaten Karangasem, Bali mengungsi sejak status Gunung Agung ditetapkan menjadi Awas, level tertinggi untuk gunungapi. Sebagian warga mengungsi keluar Kabupaten Karangasem. Sebagian lagi mengungsi di tanah lapang. Ada pula yang mengungsi ke kantor kepala desa di zona aman.

Sebagai bentuk kepedulian dan empati terhadap warga Karangasem yang saat ini mengungsi, Komunitas Ketimbang Ngemis Bali (KNB) menyerahkan bantuan ke pos pengungsi di Kantor Perbekel (Kepala Desa) Desa Timbrah, Karangasem pada Minggu (1/10) lalu.

Bantuan Komunitas Ketimbang Ngemis Bali di antaranya kebutuhan panga, sayuran, popok bayi, pembalut perempuan, hingga makanan dan mainan untuk anak-anak.

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Muhammad Imran Syaban selaku koordinator kegiatan kepada Kepala Perbekel Desa Timbrah I Gusti Ayu Biksuni. Di Desa Timbrah terdapat tiga posko salah satu posko utamanya di Kantor Perbekel Desa Timbrah. Tercatat 1.220 pengungsi yang terbagi dalam tiga posko.

Selain menginap di Kantor Perbekel, para pengungsi juga menginap di Bale Banjar yang telah disulap menjadi posko darurat. Dalam sambutannya I Gusti Ayu Biksuni mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang telah diberikan.

“Terima kasih untuk Komunitas Ketimbang Ngemis Bali yang jauh-jauh datang membantu saudara-saudara di Karangasem yang harus meninggalkan rumah mereka hingga level Gunung Agung menjadi normal. Semoga kebikan adik-adik dibalas karma kebaikan oleh Tuhan Yang Maha Esa,” ungkapnya.

Secara simbolis bantuan diserahterimakan Muhammad Imran Syaban kepada I Gusti Ayu Biksuni di hadapan para pengungsi yang telah berkumpul di pelataran halaman Kantor Perbekel Desa Timbrah.

Anak-anak pengungsi Gunung Agung menggambar sebagai hiburan di tempat mengungsi. Foto Herdian Armandhani.

Hibur Anak-Anak

Sebagian pengungsi di Desa Timbrah adalah banyak-anak-anak balita dan usia sekolah. KNB Bali tak sekadar memberikan bantuan berupa barang tetapi juga psikologis, terutama untuk anak-anak yang mengungsi.

Di Aula Banjar Desa Timbrah, anak-anal diajak untuk melakukan tarian dengan musik “Baby Shark” sambil dipandu para pengurus KNB. Beberapa anak awalnya malu-malu mengikuti gerakan yang telah dibuat, namun pada akhirnya bisa mengikuti gerakan yang diajarkan.

Kak Ridho dari Komunitas Kampung Dongeng, juga memberikan dongeng yang berjudul “Kejujuran Ani”. Kak Ridho sengaja datang dari Jakarta untuk mengembalikan psikologis anak-anak di posko pengungsian agar bisa kembali tersenyum.

Dongeng yang dibawakan oleh Kak Ridho kembali mencuri perhatian anak-anak pengungsi. Seluruh anak-anak tertawa terpingkal-pingkal oleh dongeng sangat atraktif yang dibawakan oleh Kak Ridho hingga usai.

Ada juga kegiatan mewarnai pemandangan alam dan tokoh-tokoh kartun dengan menggunakan crayon untuk melatih kreativitas anak-anak. Hadiah untuk para pemenang lomba mewarnai telah dipersiapkan dengan kado yang dihias semenarik mungkin.

Para orangtua yang mengungsi turut menemani di samping mereka. Beberapa juga ada yang duduk di sisi bale banjar sambil mengempu bayi mereka.

Games paling seru adalah memasukkan paku ke dalam botol air mineral. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing perwakilan kelompok akan maju, sisanya memberikan teriakan yel-yel penyemangat. Keriuhan memecah keheningan Bale Banjar yang siang itu nampak lengang.

Made Aditya salah seorang anak pengungsi yang mengikuti kegiatan yang diadakan oleh KNB Bali mengaku senang bisa datang ke sana.

“Makasih kakak sudah mau mengajak bermain,” ujarnya malu-malu. [b]

The post Sambil Membantu juga Menghibur Pengungsi Gunung Agung appeared first on BaleBengong.