Tag Archives: HIV AIDS

DANCE4LIFE BALI ON AIR

“Be The Change You Want To See, Take Responsibility”, jika kita artikan secara harfiah makna dari penggalan lirik lagu Dance4Life ini adalah jadilah perubahan yang ingin anda lihat, dan ambillah tanggung jawab. Itulah hal yang diharapkan pada remaja setelah mengikuti kegiatan journey4life yang merupakan sebuah perjalanan sebagai bagian dari program Dance4Life. Dalam Journey4Life ini, fasilitator...

Wanita Hebat dan HIV

Juwita (Jumpa Wanita Dewata) merupakan salah satu acara TV dari stasiun TVRI Bali. Acara tersebut menghadirkan wanita super yang penuh inspirasi bagi kita semua. Selasa, 4 Mei 2019 Kisara Bali diundang dalam acara Juwita (Jumpa Wanita Dewata). Selain Kisara Bali, Yayasan Kerti Praja dan Komisi Penanggulangan AIDS Kota Denpasar pun ikut hadir di dalam acara...

Belajar dari Ketangguhan ODHA untuk Bertahan

Inilah kisah para pekerja seks untuk menghentikan penyebaran HIV.

Reni, 52 tahun, salah satu ibu rumah tanggal tangguh yang sempat menjadi pekerja seks di Denpasar. Saat ini Reni merupakan orang dengan HIV AIDS (ODHA) sekaligus pendamping sebaya (PS) untuk pekerja seks di Yayasan Kerti Praja Denpasar (YKP).

Pengalaman berhubungan langsung dengan pekerja seks memberikan lebih banyak akses baginya untuk mensosialisasikan program penurunan penyebaran HIV AIDS.

Sepuluh tahun lalu Reni kali pertama menjadi pekerja seks. Ekonomi merupakan salah satu alasannya memilih pekerjaan tersebut. Perceraian dan mempunyai empat anak membuatnya menjadi penopang ekonomi keluarganya. Di tahun yang sama Reni tahu dirinya terkena HIV ketika ada pemeriksaan dari Puskesmas setempat.

“Saya merasa shock. Namun, lama kelamaan menjadi biasa, setelah ikut kelompok dampingan. Ternyata banyak yang seperti saya,” ungkap Reni.

Suris, nama samaran salah satu teman Reni yang juga menjadi pekerja seks dan pendamping sebaya, memberikan cara mereka menghadapi pelanggan.

Suris selalu deal untuk pake kondom dengan pelanggannya. Dia pernah dikasih uang banyak, tetapi menolak karena tanpa menggunakan kondom. Malahan dia pernah sekali dapat pelanggan dengan kutil kelamin. Dia pun langsung memberikan pelajaran tentang kesehatan kelamin.

“Akhirnya dia memberikan uang ke saya tanpa memberikan jasa,” katanya.

Dewa Nyoman Suyetna, Koordinator Lapangan YKP, mengatakan hingga akhir April saja sebanyak 489 orang telah melakukan voluntary counseling and testing (VCT) atau biasa dikenal dengan sebutan tes HIV. Empat belas di antaranya positif HIV.

YKP yang berdiri tahun 1992 memberikan layanan pendampingan dan perawatan untuk ODHA, terutama pekerja seks. Dalam pendampingan tersebut, YKP menghadapi sejumlah masalah. Di antaranya klien tidak mau untuk tes, belum siap menerima hasil, dan takut ketahuan temannya. Padahal, pasien HIV sangat dijaga privasinya agar tidak diketahui orang lain.

Masalah lainnya yaitu lost followup (hilang kontak). Banyak yang tidak bisa dikontak terutama populasi kunci (kelompok berisiko tinggi). “Setelah sakit parah baru datang kembali ke sini,” tutur Dewa.

Hingga kini belum ada obat yang bisa menyembuhkan infeksi virus HIV, tapi setidaknya terapi antiretroviral (ART) dapat membantu memperlambat perkembangan virus di dalam tubuh hingga menjadi AIDS. Orang terinfeksi dapat menjalani hidup lebih lama. Bahkan tetap dapat beraktivitas normal layaknya orang sehat.

Terapi antiretroviral (ART) adalah kombinasi beberapa obat antiretroviral digunakan memperlambat HIV berkembang biak dan menyebar di dalam tubuh. Obat antiretroviral sendiri adalah pengobatan untuk perawatan infeksi oleh retrovirus, terutama HIV.

Terbuka

Dengan terapi ART, ODHA bisa menghadapi hidupnya seperti orang sehat pada umumnya. Begitu pula dengan Reni.

Dia merasa bangga akan dirinya saat ini menjadi ODHA yang terbuka. Maksudnya dalam arti positif ia bisa menjadi jembatan untuk masyarakat maupun ODHA di luar sana, berani terbuka dan mengobati dirinya sendiri untuk kehidupannya, jangan sampai ada diskriminasi kepada ODHA.

Pengalaman paling berkesan menurut Reni saat ia diundang ke acara perkumpulan pastor Bali. Reni mengatakan dia tidak banyak menemukan diskriminasi terhadap ODHA maupun pekerja seks, khususnya di Bali.

“Saya pernah tampil di depan kumpulan pastor se-Provinsi Bali tapi tidak ada stigma dan hujatan,” ujarnya.

Menurut Reni dan Suris di luar Bali diskriminasi ODHA masih tinggi. Jangankan dipedulikan, untuk berobat saja mereka masih menjadi bahan pergunjingan. Datang ke Puskesmas masih mendapat diskriminasi dari masyarakan maupun pegawai Puskesmas.

“Perbedaan daerah selain Bali masih kurang edukasi, dan masih ada stigma yang saya ketahui. Itu memberikan hal yang tabu. Termasuk diskriminasi dari orang puskesmas,” tutur Reni dan Suris.

Meski bangga, Rini berpesan agar masyakat tetap menjaga dirinya untuk terhindar dari HIV AIDS. Satu hal penting, HIV AIDS itu jauhi penyakitnya, bukan orangnya. Karena menjauhi ODHA bukan sebuah solusi untuk mengurangi penyebaran, melainkan dapat menyebabkan kurangnya rasa percaya diri hingga menyebabkan kematian.

Di sisi lain, menurut Reni, ODHA juga harus berani dan bangkit. “ODHA jangan terpuruk. Harus berani bangkit, berjuang demi diri sendiri dan keluarga,” tegasnya. [b]

The post Belajar dari Ketangguhan ODHA untuk Bertahan appeared first on BaleBengong.

Ketika ODHA Bersahabat dengan Sang Kala


Raya dengan Sang Kala yang terpasang di tangannya. Foto Yuko Utami.

Pada akhirnya semua akan berangkat bersama Sang Waktu (kala.

Begitu pula dengan orang dengan HIV AIDS (ODHA) yang mengharap kesembuhan total. Meskipun mereka tahu itu hal yang belum bisa terjadi, setidaknya hingga saat ini.

Tak banyak ODHA yang mampu menjalin persahabatan dengan Sang Kala. Banyak di antara mereka yang tidak sabar atau bahkan gengsi untuk bersahabat dengan Sang Kala.

Namun, itu semua tak berlaku bagi Raya (52), nama samaran ODHA di Denpasar. Dia justru betah menjalin persahabatan dengan Sang Kala.

Raya yang telah menjalani pengobatan dengan kurun waktu 10 (sepuluh) tahun lamanya adalah sebuah bukti. Betapa Raya dengan ikhlas dan sabar bersahabat dengan Sang Kala.

“Pada tahun 2009 saya baru cek status dan akhirnya tahu bahwa positif HIV,” terang Raya tanpa ragu.

Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang ingin terjangkit virus mematikan ini. Begitu pula dengan Raya. Janda empat orang anak ini pun paham betul akan hal itu.

“Ya nasi sudah menjadi bubur, mau bagaimana lagi?,” ujar Raya pasrah.

Tuntutan ekonomi mengharuskan Raya untuk terjun ke dunia hiburan malam, mau tak mau membuatnya mesti menerima segala konsekuensi yang ada, termasuk terjangkit HIV.

Saya bertemu Raya di Yayasan Kerti Praja (YKP), Sesetan pada Senin (29/4/2019) lalu. Secara perlahan Raya menuturkan awal mula dirinya meniti pekerjaannya sebagai pekerja seks. Setelah menjadi janda, dia menumpang tinggal di rumah adik. Selama di sana tidak tahu mau kerja apa.

“Sampai akhirnya ditawari pacar adik saya untuk bekerja di hiburan malam,” ujar Raya pelan.

Sulitnya mencari pekerjaan ditambah kebutuhan hidup dirinya dan empat orang anaknya, membuat Raya dengan berat hati menerima pekerjaan itu.

Kalangan Remaja

Kelamnya dunia hiburan malam yang dilontarkan Raya, tidak serta merta menjadi pusat penularan HIV, virus penyebab AIDS. Bahkan tak sedikit pasien dari Yayasan Kerti Praja berasal dari kalangan remaja.

“Tidak hanya pekerja seks, bahkan ada remaja tertular karena berhubungan dengan pacarnya,” ungkap Putri Sawitri (35), dokter klinik dalam Yayasan Kerti Praja.

Kasus HIV AIDS yang telah menjadi bahaya laten merupakan bukti bahwa masa kini, seks bukanlah hal sakral di masyarakat. Gurat wajah Putri Sawitri kian masam, manakala mengingat kembali reaksi pasien yang tidak dapat dengan sabar mengikuti lika-liku pengobatan HIV.

“Ada yang baru minum obat sebentar, terus sudah merasa sehat. Padahal belum,” paparnya.

Keberadaan Raya sebagai pasien sekaligus pendamping sebaya merupakan langkah yang cukup efektif guna mendekati populasi kunci. Populasi kunci yang berasal dari kalangan pekerja seks, waria, LSL (Lelaki Seks Lelaki) memerlukan metode efektif agar mereka mau memeriksakan dirinya.

Ketika Raya memberanikan diri untuk membuka fakta bahwa dirinya positif HIV adalah sebuah batu loncatan dalam pengobatan HIV dan dirinya. Dia pertama kali mengakui positif HIV saat diajak pendampingan ke tempat hiburan malam.

“Saat saya bilang saya terkena HIV rekan-rekan pekerja pun tergugah untuk memeriksakan diri,” terang Raya.

Semakin hari keberanian Raya kian besar untuk terbuka mengakui kepada keluarga, rekan, maupun masyarakat luas. Sebab, Raya yakin bahwa ODHA berhak beraktivitas dan bekerja dengan normal.

Menerima Kenyataan

Bagi Raya, keberaniannya tak luput pula dari keberadaan Yayasan Kerti Praja, lembaga pendamping ODHA. YKP yang khusus menangani problematika HIV AIDS pun menjadi rumah baginya dan rekan-rekan lainnya untuk lebih berani dalam berproses dan menerima kenyataan.

Berdasarkan penuturan Koordinator Petugas Lapangan YKP, Dewa Nyoman Suyetna (51), setidaknya sudah 1.000 lebih pasien yang berobat di yayasan yang telah berdiri sejak tahun 1992 ini.

Suyetna pun menambahkan, kemungkinan pasien akan bertambah. Sebab, dari pendataan yang dilakukan pada April 2019, sebanyak 489 orang yang dites terdapat 14 orang positif HIV. Kalau sudah begini kondisinya, mengajak dan terus mengajak adalah hal yang tak henti-hentinya dilakukan Suyetna.

“Mengajak biar ngecek dan akhirnya bisa rajin berobat saya sudah syukur sekali,” harap Suyetna.

Suyetna pun kembali berujar bahwa, Raya merupakan bukti nyata sebuah kesabaran dalam proses pengobatan HIV AIDS. Jarang memang ada pasien yang dapat berdamai dengan dirinya sendiri layaknya Raya lakukan.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat, dan Raya pun tersadar akan ada sebelas, dua belas, hingga tahun selanjutnya untuk terus melanjutkan proses pengobatan. Hingga pada waktunya, Sang Kala dapat memutus persahabatannya, Raya pun sudah siap akan hal itu.

Meski kesembuhan total adalah hal nyaris mustahil, tetapi Raya tetap sabar mengonsumsi ARV (Antiretroviral). Sebab pada akhirnya, urursan hidup dan mati diserahkan kembali kepada Sang Kala (Sang Waktu).

Obat-obatan untuk mencari kesembuhan bagi ODHA. Foto Yuko Utami.

Peran Ganda

Kekuatan Raya juga terjadi karena adanya orang-orang dekat yang mendukungnya. Sisil salah satunya.

Menjalankan peran sebagai pendamping sebaya sekaligus pekerja seks adalah hal yang sangat bertolak belakang. Hal itulah yang dilakoni Sisil (42) yang merupakan rekan Raya sebagai pendamping sebaya. Sisil (nama samaran-red) masih beruntung.

Janda dua anak ini masih negatif HIV meski sudah lima tahun menggantungkan nasib di dunia hiburan malam. Berbeda dengan Raya yang masih terus berjuang meminum obat. Dulunya dua kali sehari yakni pukul 9 pagi dan 9 malam. Kini cukup sehari satu kali saja.

Raya menjadi sebuah cerminan untuk Sisil, bahwa Sang Waktu masih berbaik hati dengannya. Sebab itulah Sisil waspada dalam melayani pelanggan. “Saya selalu deal untuk pakai kondom. Pernah dikasih uang banyak, tapi saya menolak karena diminta tanpa menggunakan kondom,” ujar Sisil dengan mata melotot.

Sembari menggerakkan kedua tangannya, Sisil melanjutkan kisahnya yang terbilang unik. Sebelum beraksi di ranjang, Sisil selalu mengecek kesehatan kelamin pelanggannya. Tak jarang ia menemukan penyakit kelamin seperti kutil kelamin maupun herpes.

Ketika menemukan penyakit kelamin pada pelanggannya, Sisil pun dengan sigap mengedukasi. “Anehnya mereka manut-manut saja saya jelasin soal bahaya penyakit kelamin. Karena wanita itu dasarnya tidak cantik atau seksi saja yang dicari, tapi nyamannya itu loh,” terang Sisil sembari tertawa lepas.

Setelah tidak jadi melayani pelanggan, Sisil justru menjadi dokter dadakan. Menurut penuturannya, pernah ia temui satu pelanggan pria yang terkena herpes lalu sembuh karena dirinya. “Dik bantu aku ya, aku malu kalau cari obatnya sendiri,” ucapnya menirukan nada bicara pelanggannya.

Tanpa pikir panjang, dengan sigap Sisil yang tak tahu banyak soal kesehatan kelamin, justru datang sendiri ke klinik dan membeli sejumlah obat-obatan dan salep.

Selang beberapa bulan, pelanggan yang tidak disebutkan namanya itu pun sembuh dari penyakitnya. “Sembuh dia sembuh, dan langsung dia kasih uang se-amplop tanda terima kasih katanya,” ujar Sisil bahagia.

Lebih Waspada

Pengalaman demi pengalaman itulah yang merangkai Sisil menjadi pribadi yang lebih waspada. Sisil pun semakin gencar mengedukasi hingga melabuhkan bahtera karirnya di Yayasan Kerti Praja sebagai pendamping sebaya.

Sejak menjadi pendamping sebaya, Sisil pun mengurangi jam terbangnya. Ia merasa pekerjaannya sebagai pendamping sebaya, mampu mengurangi pekerjaan awalnya yang menjadi pekerja seks. Suka duka menjadi pendamping sebaya adalah kenikmatan tersendiri bagi Sisil. Saat melakukan sosialisasi kepada rekan-rekannya, tak jarang ia menemui penolakan.

“Terutama PS (pekerja seks-red) online. Mereka sombong karena ada uang terus bilang katanya udah punya dokter pribadi,” ungkap Sisil sedikit menggerutu.

Menghadapi rekannya yang angkuh, Sisil pun tetap mengingatkan bahwa ia sebagai pendamping sebaya dan YKP tempatnya bekerja, selalu terbuka.

Alur mulanya yakni menjangkau populasi kunci, melakukan pendampingan, pengobatan dengan ARV (Anti Retroviral) melalui ART (Anti Retroviral Treatment), hingga melanjutkan proses pengobatan sudah dijelaskan Sisil kepada rekan-rekannya. Bahwa masih ada harapan untuk hidup dan melanjutkan hidup seperti biasanya dengan menjadikan Raya sebagai bukti buah kesabaran mengikuti lika-liku pengobatan ARV.

Kini, bersama Raya dan YKP, Sisil tak melulu berpikir soal uang. Dalam benak mereka bagaimana agar terus sehat dan menyehatkan orang lain dengan caranya. Cara unik, tetapi mengulik rasa untuk sabar, menikmati proses, dan akhirnya sehat meski tak sembuh seutuhnya. [b]

The post Ketika ODHA Bersahabat dengan Sang Kala appeared first on BaleBengong.

WOMEN’S MARCH BALI 2019 BERANI BERSUARA, BERGERAK BERSAMA

Pada 21 Januari 2017 di Washington DC, tepatnya sehari setelah pelantikan Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump diselengarakan acara parade yang diberi nama Women’s March. Women’s March itu sendiri merupakan suatu acara parade yang mengangkat isu tentang pentingnya memerhatikan hak perempuan, hak imigran, isu lingkungan serta menuntut kesetaraan gender (prihandhini,2017). Gerakan tersebut tidak hanya dilakukan di Amerika...