Tag Archives: Grunge

SANUR STRIP WITH STEVE NANURU & THREESIXTY

Bringin’ back Seattle Sound, sleaze rock, hair metal, and godless-glam groove!

SANUR STRIP with Steve Nanuru & ThreeSixty
Down & Dirty Rock ‘n’ Roll
Thursday, 30 May 2019
7pm
Teras Gandum – Beer Garden
Free entry

Interstate grunge songs! Bang your head! Balls to the wall!

DWI DOMINASI DI ANUGERAH MUSIK BALI

Ada dua nama yang amat menonjol di acara Anugerah Musik Bali pada Senin silam, 18 Feb. Paling pertama adalah pendatang baru yang sedang jadi buah bibir di skena musik Pulau Dewata akibat bakatnya yang luar biasa, Alien Child. Berikutnya Navicula, paguyuban musisi veteran yang telah lantang berteriak soal lingkungan jauh sebelum aksi membela bumi menjadi tren dan dianggap seksi.

Keduanya masuk nominasi di banyak sekali kategori lalu berlimpah memenanginya.

Tentang Navicula, barangkali tak perlu bejibun basa-basi, publik Nusantara rata-rata telah mahfum apa-siapa-kenapa kuartet ini begitu dihormati. Matang pengalaman, lirik yang bernas, kemampuan bermusik nan sakti mandraguna, kepedulian gigantik pada keadilan sosial, kepribadian yang hangat, pokoknya nyaris sempurna (yang sepenuhnya sempurna cuma Lagavulin 16) alias memang pantas diberi respek lebih.

Bicara Alien Child sama dengan bicara keajaiban. Kakak-adik Aya dan Laras yang menghabiskan masa kecilnya di Vancouver, Kanada, relatif belum terlalu lama wira-wiri di skena berkesenian Bali. Namun saking menonjol talenta duo remaja yang baru lewat akil balik ini—mutu bersenandung sungguh istimewa, menulis lirik duh-gusti brilian, mencipta lagu yang nyaman didengar kuping—segera saja menggaet perhatian publik. Tawaran manggung kian sering, lagu-lagunya makin jadi favorit, pula barisan aliens—julukan untuk penggemarnya—mulai pesat bertumbuh.

Saat semua semakin lambat, Bali berani cepat, dan penuh percaya diri.

DWI DOMINASI DI ANUGERAH MUSIK BALI

Ada dua nama yang amat menonjol di acara Anugerah Musik Bali pada Senin silam, 18 Feb. Paling pertama adalah pendatang baru yang sedang jadi buah bibir di skena musik Pulau Dewata akibat bakatnya yang luar biasa, Alien Child. Berikutnya Navicula, paguyuban musisi veteran yang telah lantang berteriak soal lingkungan jauh sebelum aksi membela bumi menjadi tren dan dianggap seksi.

Keduanya masuk nominasi di banyak sekali kategori lalu berlimpah memenanginya.

Tentang Navicula, barangkali tak perlu bejibun basa-basi, publik Nusantara rata-rata telah mahfum apa-siapa-kenapa kuartet ini begitu dihormati. Matang pengalaman, lirik yang bernas, kemampuan bermusik nan sakti mandraguna, kepedulian gigantik pada keadilan sosial, kepribadian yang hangat, pokoknya nyaris sempurna (yang sepenuhnya sempurna cuma Lagavulin 16) alias memang pantas diberi respek lebih.

Bicara Alien Child sama dengan bicara keajaiban. Kakak-adik Aya dan Laras yang menghabiskan masa kecilnya di Vancouver, Kanada, relatif belum terlalu lama wira-wiri di skena berkesenian Bali. Namun saking menonjol talenta duo remaja yang baru lewat akil balik ini—mutu bersenandung sungguh istimewa, menulis lirik duh-gusti brilian, mencipta lagu yang nyaman didengar kuping—segera saja menggaet perhatian publik. Tawaran manggung kian sering, lagu-lagunya makin jadi favorit, pula barisan aliens—julukan untuk penggemarnya—mulai pesat bertumbuh.

Saat semua semakin lambat, Bali berani cepat, dan penuh percaya diri.

GELIAT MUSIK BALI: KECIL, KUAT, BERBAHAYA

The Hydrant | Foto: Forceweb

Tanpa terasa, tiada dinyana, sebentar lagi kita bakal masuk ke tahun baru 2019. Jika seksama diperhatikan, di skena musik, ada fenomena menarik yang terjadi. Kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja yang tadinya seolah menggiring selera anak muda Nusantara, belakangan tampak berkurang. Terjadi pergeseran kekuatan.

Metropolitan yang selama beberapa dasawarsa berposisi dominan kini pengaruhnya agak melemah. Bali, pulau kecil yang bersebelahan dengan Jawa, mulai angkat bicara. Makin banyak musisi-musisi asal Pulau Dewata yang wira-wiri di konser-konser kelas nasional, kian melimpah paguyuban-paguyuban artis dari Pulau Seribu Pura yang menjadi perbincangan hangat di kancah musik Nusantara.

Jika ditarik sedikit ke belakang, pihak yang pantas “dituduh” paling bertanggung jawab menorehkan nama Bali ke peta musik nasional, tentu saja Superman Is Dead (SID). Bergabungnya trio punk rock ini dengan Sony Music Indonesia serta merilis album fenomenal Kuta Rock City membuat popularitasnya terdongkrak masif, menjangkau penjuru-penjuru Indonesia. Status cult mereka di jagat bawah tanah dalam jangka waktu cukup cepat berubah menjadi “artis nasional”, merangsek masuk ke pusaran arus utama. 

Kiprah mencengangkan dari SID ini sontak menginspirasi dinamika kesenian setempat. Mendadak, kehidupan bermusik di Bali menjadi begitu bergairah. Bejibun artis-artis baru muncul. Seniman-seniman era lama juga ada beberapa yang mencoba peruntungannya, turut memeriahkan belantika Dewata. Dua nama yang paling menonjol di skala lokal kala itu adalah Navicula dan Lolot. Dalam skala lokal mereka tergolong veteran, telah bermusik sejak pertengahan ’90an, hampir sepantaran dengan SID, dan cukup disegani di daerah sendiri.

Superman Is Dead | Foto: Instagram SID

Navicula mengikuti jejak SID lalu bekerja sama dengan Sony Music Indonesia, menjadi band kedua yang “go national” dalam makna sesungguhnya. Sementara Lolot—ia adalah pemain bas pertama SID, saat masih bernama Superman Silvergun—sukses besar menghentak atensi publik muda lokal. Ia menerbitkan album bergenre punk rock dengan menggunakan Bahasa Bali sebagai ujaran pengantar. Ini tergolong revolusioner bagi Bali. Belum pernah ada yang melakukannya sebelumnya. Sontak disambut gila-gilaan. Albumnya terjual hingga, kabarnya, 60 ribu kopi. Ditambah dengan jadwal manggung yang duhai padat. 

Navicula | Foto: Pica Magz

Meledak-ledaknya kancah musik di Bali ini sayangnya tak dibarengi dengan mutu produk, pengalaman, serta kesiapan sumber daya manusia yang memadai. Memang berlimpah artis yang eksis namun kebanyakan memilih jalan generik dan memainkan musik yang mirip dengan SID yaitu melodic punk. Sementara itu, di daerah-daerah lain di Nusantara juga bejibun band-band yang mengusung melodic punk, dengan mutu yang relatif lebih baik. Pun jika bicara soal pemasaran dan sisi manajerial, rata-rata masih kebingungan, apa strategi terbaik dalam menarik perhatian publik nasional. Belum lagi, stok manajer atau orang yang mau menjadi manajer—posisi vital agar fondasi nge-band lebih kuat—sangatlah terbatas, bahkan hampir nihil. 

Gejolak eksplosif ini berangsur meredup. Kerjasama Navicula dengan Sony Music Indonesia hanya menghasilkan letupan kecil, kurang signifikan. The Hydrant yang bergabung dengan EMI juga nasibnya segendang sepenarian. Lolot yang sempat meraih penghargaan di SCTV Music Award, sayup-sayup memudar. Ketiga “sinar harapan” Pulau Dewata tersebut bisa dibilang sekadar ribut sebentar lalu beringsut sirna. Navicula, The Hydrant, dan Lolot balik lagi jadi jago kandang.

Berakhir hingga di situ saja? Syukurnya tidak. Mereka konsolidasi ke dalam, mempersiapkan amunisi yang lebih canggih, menambahkan pengalaman agar lebih kaya. Hanya SID yang justru makin jaya wijaya menaklukkan percaturan musik nasional.

Sampai akhirnya sejak sekitar empat tahun lalu Bali kembali menyeruak ke permukaan. Balik dari masa meditasi dan penggemblengan diri yang lumayan lama, dengan kekuatan penuh. Back in full effect. Navicula dan The Hydrant, misalnya, beredar pesat lagi di skena musik nasional. Dibarengi dengan rangkaian tur luar negeri yang konstan. Minimum setahun dua kali—utamanya The Hydrant—terhitung sejak 2015.

Yang menarik, yang menampakkan diri bukan cuma wajah-wajah lama, tapi dibarengi muka-muka baru. Atau mungkin lebih tepat disebut sebagai “gelombang baru”. Sebut saja misalnya Zat Kimia, Nosstress, Rollfast, Jangar, Scared of Bums, Joni Agung & Double T, Leanna Rachel, Sandrayati Fay, dsb. Secara nasional nama-nama itu mampu menancapkan cakarnya dengan tajam. Lagu-lagu mereka dikenal dengan baik, sanggup mengundang sing along kala mereka manggung. Ajakan tampil bukan lagi sekadar dalam rangka promosi, dibayar sekadarnya. Tapi sudah secara profesional, diganjar dengan jumlah dana yang layak.

Zat Kimia | Foto: Teddy Drew

Mengapa bisa seperti tiba-tiba legiun musisi Bali keras menghentak belantika musik Indonesia? Dari sepengamatan saya terpapar beberapa faktor penting:

1. Bali Tolak Reklamasi.

Bisa dibilang nyaris semua musisi-musisi yang diidolakan di Bali turut berpartisipasi aktif di gerakan sosial ini. Mulai dari yang generasi lawas hingga milennial. Barangkali karena merasa senasib sepenanggungan, sama-sama berjuang untuk keselamatan Bali, dan kompak melawan kekuatan besar serta menakutkan, respek satu sama lain antar musisi tumbuh secara alami dan mempererat hubungan pertemanan. Berdampak kemudian menjadi saling mendukung dalam soal berkesenian. Yang namanya gontok-gontokan, saling sikut, apalagi permusuhan antar musisi, hampir tidak ada, nyaris nihil. Sangat harmonis. Situasi sehat macam begini menjadi dasar kuat dalam mencapai kemaslahatan skena musik.

2. Berlimpah Ruang Ekspresi

Tempat-tempat untuk unjuk gigi ada banyak bertebaran di Bali serta cenderung mudah diajak bekerjasama. Di sekitar Sanur ada Rumah Sanur, Taman Baca Kesiman, serta baru saja selesai direnovasi: Antida Sound Garden. Di seputaran Denpasar ada Two Fat Monks, Rumahan Bistro, serta CushCush Gallery yang sesekali menyelenggarakan sesi akustik. Jauh di Selatan, Uluwatu, Single Fin cukup sering menampilkan musisi-musisi lokal Bali. Di Kuta ada Twice Bar dan Hard Rock Cafe. Di Canggu terdapat Gimme Shelter, Sunny Cafe, Deus Ex Machina, Old Man’s, juga yang baru saja buka: Backyards. Setiap tempat yang disebut barusan semuanya amat terbuka dan nyaris tanpa birokrasi ribet kalau mau menggunakan tempat tersebut untuk, misalnya, pesta peluncuran album. Tinggal kontak dan cocokkan jadwal serta urusan penjualan tiket, bagaimana pola pembagian keuntungan. Gampang, ringan, lancar.

Konser musik di Rumah Sanur.

3. Intensitas Konser yang Frekuentif

Bisa dibilang selain di klub dan kafe yang membuat pertunjukan musik secara reguler, acara-acara konser lainnya (korporat, pensi, ulang tahun banjar, dll) hampir pasti ada di setiap akhir pekan. Entah di jantung kota Denpasar, di Sanur, Nusa Dua, Ubud, Kuta, di banyak penjuru di Bali. Ada terus. Sampai sering bingung memutuskan bagusnya pergi ke pertunjukan yang mana.

4. Fenomena Hijrah

Bejibunnya anak-anak muda yang hijrah di kantong-kantong kreatif macam Jakarta, Bandung, dan Jogja, membuat gairah bermusik di kota-kota tersebut terkesan agak menurun. Anak-anak mudanya lebih sibuk mengurusi agama. Malah, sebagian lagi, memusuhi musik, mencapnya haram. Ini sedikit “membantu” Bali mengisi kekosongan kreativitas di skena musik anak muda. Bali adem saja menjunjung tinggi rock and rolltanpa lupa pada kewajiban beragama/sisi kultural sebab sedari dulu telah terbiasa menjalankan dua hal tersebut secara beriringan. Pergi ke tempat ibadah jalan terus, aktivitas rock and roll pun berlangsung biasa. 

Nah, jika pulau sekecil Bali saja bisa lantang bersuara di belantika musik Indonesia, bagaimana dengan daerah kamu?

Selamat Tahun Baru 2019!

________

*Artikel yang saya tulis ini pertama kali tayang di situs web DCDC minggu lalu.

Navicula: Ayo Bawa Harimau-Harimau Ini ke Roma!

HarimauMenujuRoma-mnpg

RILIS PERS

Ada satu hal yang pantas diteladani dari Navicula: sifat pantang menyerahnya. Walau tak selalu tegap tegak menantang, terkadang limbung juga diterjang badai di skena musik, namun bersikeras maju terus. Lanjutkan langkah. Harus sampai. Mesti tercapai.

Bayangkan, empat sekawan ini telah berkesenian sejak 1996, pantas menyandang gelar veteran. Mulai dari manggung di acara-acara kecil di banjar, bazaar, hingga bar. Berlanjut dengan “nyaris” go-national ketika bergabung dengan label raksasa, Sony BMG/Sony Music Indonesia, dan merilis Alkemis. Namun cita-cita Navicula ketika itu belum bisa kesampaian. Sepertinya penikmat musik Indonesia masih kagok memahami apa maunya paguyuban cadas asal Bali ini. Bisa jadi mereka sedikit terlampau mendahului jaman. Menjadi musisi sekaligus environmentalis, bahkan pada tahun 2005, masih anomali, aneh sendiri, belum se-hipster hari ini.

Robi (gitar, vokal), Dankie (gitar, vokal), Indra (bas), Gembull (drum), kemudian memilih untuk memisahkan diri dengan Sony dan memutuskan indie lagi. Bayangan akan jalur bebas hambatan yang telah menanti—pendistribusian album rekaman yang lancar mencapai pelosok Nusantara, promosi besar dan gencar di berbagai media, tawaran manggung nan melimpah ruah—harus dikubur dalam-dalam. Mesti mengulang dari awal. Restrukturisasi strategi. Balik jadi gembel.

Kondisi sedemikian celeng ternyata tak sanggup membunuh semangat Navicula. Dukungan moral kuat dari para sahabat, penghormatan dari sesama musisi dan kritikus seni yang gamblang bilang bahwa karya-karya Navicula adalah adiluhung, jitu menggelorakan gairah untuk terus maju. Sirna menghilang bukan pilihan. Apalagi, seperti kata Robi, “Musik adalah agama kami.”

Sejak itu mereka, meski ngos-ngosan, nekat lagi ngoyo menerbitkan sendiri album-albumnya, di antaranya, Beautiful Rebel (2007) dan Salto (2009), tetap keukeuh bicara rasa cinta pada lingkungan, kebebasan, dan kasih kepada sesama mahluk hidup. Sikap sedikit memaksa macam begitu nyatanya pelan tapi pasti meneguhkan kembali kedigdayaan mereka di skena musik lokal. Hingga akhirnya sifat pantang menyerah mereka mulai terbukti sakti. Selain tawaran manggung yang perlahan-lahan deras datang, pula kesempatan untuk main di manca negara terkuak terbuka. Tampil di Envol et Macadam Festival di Quebec, Kanada, September 2012, sebagai gebrakan perdana. Diikuti kesempatan rekaman di studio legendaris, Record Plant, di Hollywood di bawah asuhan sosok kawakan Alain Johannes—dan sekalian tur di seputaran Kalifornia, November 2012. Lalu muncul di Sydney Festival segera setelahnya, Januari 2013.

Di antara kesibukan sedemikian rupa, Navicula, didukung oleh Greenpeace, sebagai pejuang lingkungan, bersikukuh bersepeda motor menempuh 2000 kilometer selama 12 hari menembus hutan di Kalimantan. Aksi yang difilmkan ini, yang ditajuki “Mata Harimau”, adalah demi mengecek sendiri apa harimau masih ada, atau telah habis terbasmi oleh ketamakan penguasa yang bermufakat jahat dengan pengusaha. (Catatan: saat film ini diputar di hadapan penonton di Manning Bar, Sydney Festival, penonton tercekat, campur baur antara marah dan terharu. Marah terhadap pemodal dan pemerintah serakah. Terharu penuh hormat akan kepedulian Navicula kepada keberlangsungan kehidupan alam.)

Yang paling mutakhir, duo sinematografer beken, Riri Riza dan Mira Lesmana, bahu membahu bersama Navicula membikin videoklip untuk lagu “Harimau! Harimau!” dari album tergres Love Bomb dalam rangka menyebarkan pesan tentang bahaya kepunahan harimau di Nusantara ini.

Nah, apa yang kita semua bisa lakukan agar suara musisi berbakat nan pemberani ini lebih nyaring tersiar hingga ke penjuru jagat? Kebetulan Navicula ikut serta dalam lomba Hard Rock Rising 2014 yang di tahap pertamanya menyandarkan pada metode partisipatoris yaitu sistem voting. Sahabat sekalian tinggal klik “vote”—dengan bonus bisa mengunduh bebas bea lagu “Harimau! Harimau!”—di sini. Atau jika anda tinggal di Bali bisa padu padan antara berperan serta di Voting Party di Hard Rock Cafe, Kuta, besok mulai jam 9 malam, seraya meneriakkan soal kemerosotan kualitas lingkungan hidup, sekalian bersenandung, berjingkrak, bersenang-senang.
NaviculaHRRB-votingparty
Ya, jika bersikukuh pantang menyerah, boleh kita berharap harusnya sampai, semestinya sampai.