Tag Archives: community

Menghidupi Literasi: Susah-Susah Gampang



Dalam rangka kegiatan hari ketiga Gathering Nasional Buku Bagi NTT – 15 April 2018 nanti, kami mengadakan survei ke lokasi Taman Baca Masyarakat (TBM) yang akan menjadi tujuan kunjungan para Relawan Komunitas Buku Bagi NTT.

TBM tersebut bernama Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, berlokasi di Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang.

Dari Kupang, kami berangkat berempat, saya, dua Relawan BBNTT Regional Kupang, Tri dan Neno serta salah satu teman kantor Tri, Mesakh. Kami menggunakan dua motor dan membawa serta satu dos buku untuk adik-adik di Lopo Belajar. Berangkat pukul 11.00 WITA dan sempat nyasar selama kurang lebih lima belas menit karena salah arah hohoho, untung insting bekerja baik sehingga bertanya ulang-ulang pada warga yang lewat. Jalanan menuju Fatule’u barat ini beragam, seperti pulau-pulau di Indonesia. Ada pulau besar, lalu menyusul teluk dan lautan kemudian pulau kecil lalu pulau besar lagi hahaha…






Sekitar tiga puluh menit sebelum tiba ke tempat tujuan, kami bertemu dengan KALI YANG PERTAMA (Kali BUKAN sungai). Kami belum tahu, ada berapa KALI yang harus kami lewati untuk tiba di Desa Poto, berdasarkan info dari kakaknya Neno, ada kurang lebih SEPULUH dengan volume arus yang berbeda-beda. Pada perjalanan berangkat ini, hari masih cerah, memang terlihat awan hitam di kejauhan tetapi kami pikir hujan masih akan tiba nanti malam.

Memasuki Desa setelah KALI yang pertama, kami kehilangan sinyal dan sudah tidak nampak tiang-tiang listrik di sepanjang jalan. Kami mengambil kesimpulan, memang tidak ada sinyal dan listrik di sini, maka kami berjalan sembari tetap bertanya karena kami sendiri belum tahu tujuan kami di mana. Ternyata ada DUA LAGI KALI yang harus kami lewati. KALI YANG KETIGA, airnya mengalir deras di atas jembatan beton yang entah kapan dibangun. Setelah KALI yang ketiga ini, kami bertemu seorang ibu dan pemuda yang sedang mengaso di pinggir kali, kami bertanya lagi. Tempat tujuan kami sudah dekat.

Kali yang KEDUA


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, kami sudah menemukan Kantor Desa Poto dan Lopo Belajar tujuan kami yang berada tepat di sebelahnya. Ada mama-mama yang sedang duduk di situ, kami bertanya lagi. Dari mama-mama ini, kami diarahkan ke rumah Bapak Simon Seffi yang mengelola Lopo Belajar tersebut. Rumahnya tidak jauh, tepat di jalan masuk samping Kantor Desa, berhadapan dengan Puskemas Desa Poto.


Kantor Desa Poto


Tiba di rumah Bapak Simon, beliau ternyata sedang keluar. Kami menunggu sembari melemaskan tubuh dan pikiran dari medan perjalanan yang luar biasa hasoy. Saya mencuri lihat koleksi buku Bapak Guru Simon yang kebetulan sedang berbaris rapi pada rak di depan kamar kosnya. Canggih! Tidak lama kemudian, Pak Simon muncul. Kami saling berjabat tangan, memperkenalkan diri lalu mulai ngobrol. Perlahan keluar, pisang goreng, pisang rebus, ikan goreng hasil pancingan Pak Simon dari laut terdekat dan tentu saja sambal kemangi serta kopi.




Koleksi buku Bapak Simon Seffi


Bapak Guru Simon adalah seorang Guru Matematika asal Amfoang yang ditugaskan di Desa Poto sejak tahun 2015. Jarak Amfoang ke Poto sendiri, kurang lebih masih 80 KM lagi. Bermula dari beliau menemukan fakta bahwa banyak sekali siswa/I di Sekolah Menengah Atas di Desa Poto belum bisa membaca, menulis dan menghitung dengan baik. Beliau kemudian mengadakan riset kecil-kecilan dengan instrumen yang sederhana dan menemukan kenyataan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan Guru-Guru hampir di seluruh sekolah di Kecamatan Fatule’u Barat, baik SD, SMP maupun juga SMA , semuanya sama. Menggunakan kekerasan dan hukuman. Kekerasan dan hukuman ini, menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman kepada siswa/I yang menyebabkan  siswa/I hanya melakukan apa yang diperintahkan Guru. Mereka bersekolah untuk menyenangkan Guru, bukan untuk mendapat ilmu. Belum lagi, tidak ada kegiatan belajar pendukung setelah waktu di sekolah telah selesai, mereka harus membantu orang tuanya bekerja di ladang atau di sawah.



Bapak Guru Simon bekerja sama dengan salah satu tetua adat setempat, membuka sebuah Lopo Belajar yang kemudian diberi nama sesuai dengan nama suku besar setempat. Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomane yang berlokasi di halaman rumah Bapak Tetua Adat. Kurang lebih ada 20 anak yang diasuh oleh Bapak Guru Simon, sebagian besar sudah duduk di kelas lima dan enam. Saat pertama bergabung, anak-anak ini samasekali masih kesulitan membaca. Melalui metode belajar kreatif, anak-anak perlahan termotivasi dan bisa lancar membaca. Kami tidak sempat bertemu anak-anak tersebut, karena di hari Minggu, Lopo Belajar tutup.

Meskipun tutup di hari Minggu, kami tetap mampir melihat-lihat dan mengambil beberapa gambar sebagai dokumentasi. Selain itu, sangat nikmat berjalan kaki dari rumah Bapak Guru Simon ke Lopo Belajar di siang hari tanpa ada suara bising di sana-sini.


Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana




Salah satu hal menggembirakan pada cerita perjalanan ini adalah, mendapat sebuah suguhan menarik dari Bapak Guru Simon Seffi yang ternyata sudah sempat membukukan hasil penelitian beliau tentang kekeliruan metode pembelajaran serta solusi yang bisa beliau tawarkan. Buku tersebut telah dicetak sebanyak dua kali, saat ini beliau tengah berusaha mencari donatur yang mau membantu mencetaknya lagi karena sudah tidak ada stok yang tersisa. Masih ada satu buku saja yang menjadi arsip beliau. Saya sudah sempat membacanya, luar biasa bermanfaat. Harapan saya, Komunitas Buku Bagi NTT bisa membantu memperbanyak buku ini dan membaginya secara gratis ke seluruh Taman Baca di Nusa Tenggara Timur. Judul bukunya: Bermain dengan Sentuhan Personal – Agar Siswa Bisa Baca Tulis Sejak Kelas Satu SD.

Buku Hasil Penelitian Bapak Guru Simon Seffi

Dalam perjalanan mengasuh anak-anak di Lopo Belajar serta mensosialisasikan metode belajar yang sudah beliau kembangkan dalam bentuk buku, Bapak Guru Simon Seffi tentu juga menghadapi berbagai penolakan dan kecurigaan yang terkadang melemahkan posisi beliau. Beliau pernah mengadakan audiensi dengan Dinas terkait bahkan Bupati Kabupaten Kupang, akan tetapi hingga saat ini, belum ada langkah konkrit yang diambil demi mengatasi permasalahan ini. Para Guru Senior, melihat sepak terjang beliau sebagai bentuk mempermalukan mereka atau sok pintar yang sebaiknya diabaikan saja. Sangat khas NTT!

Jika tidak mengingat waktu dan perjalanan pulang yang masih panjang serta awan hitam yang berarak di langit, kami mungkin tidak beranjak sedikitpun dari kediaman Bapak Guru Simon. Sebagaimana perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, ini adalah perjumpaan luar biasa yang kesekian. Di sebuah Desa di tengah belantara dan pegunungan, ada sosok gemilang yang bertahan dan mencoba peruntungan hidupnya dengan cara yang begitu mulia. Saya seperti di-charge penuh kembali batereinya.



Nasib pakai timer :D




Pukul 16.00 WITA lewat sedikit, kami mohon pamit kembali ke Kupang. Kami sungguh tidak tahu apa yang menanti kami di perjalalan pulang ini hahaha.. Jika pada perjalanan berangkat, kami selalu berhati-hati dan baik-baik saja, maka di perjalanan pulang ini, kami agak ceroboh dan menyedihkan wkwkwkw.

Motor yang ditumpangi saya dan Neno, nyungsep di KALI YANG PERTAMA harus kami lewati, sebelumnya adalah KALI YANG KETIGA pada saat kami datang, yang di mana saya harus turun jika tidak ingin basah kuyup. Kali ini, saking nekatnya dan keasikan ngobrol, Neno menerjang air begitu saja dan alhasil, kami terjebak.

Di tengah perjalanan menuju KALI YANG KEDUA, gerimis mulai turun perlahan yang kemudian menjadi sangat deras. Kami berhasil melewati KALI YANG KEDUA tanpa ada rintangan yang berarti. Dan beberapa meter sebelum mencapai KALI YANG KETIGA, saya melihat ada aliran cokelat yang begitu pekat dari kejauhan. Banjir besar datang dari hulu, jalan terputus dan kami tidak bisa lewat, rupanya sudah ada beberapa orang yang duduk lemas lebih dulu di pinggiran kali bersama kendaraan mereka. Waktu menunjukkan pukul 16.45, pupus sudah harapan kami untuk tiba lebih cepat di Kupang, sementara besok ada audiensi berkaitan dengan Gathering Nasional BBNTT juga yang harus saya hadiri.



Alternatif pertama adalah, menunggu air surut dan kami menyebrang. Sekitar dua jam kami harus menunggu, bisa jadi lebih dari itu. Alternatif kedua, kembali ke rumah Bapak Guru Simon dan menginap, tetapi bagaimana dengan Tri dan Mesakh yang besok pagi-pagi harus bekerja. Lalu, tanpa kami duga, alternatif ketiga itu muncul. Pasukan Profesional Pemuda Fatule’u, Para Pengangkut Motor tangguh dengan biaya yang tidak disangka-sangka, sangat murah. 30.000/motor. Motor diangkut dan kami boleh memilih nyebrang sendiri atau digendong ke sebelah. Alamak! Yang laki-laki memilih yang kedua, saya dan Tri meskipun kami perempuan, kami juga tetap memilih yang kedua. Masih ada sisi lain dari KALI yang cukup dangkal dan bisa kami sebrangi.





Saya menikmati proses memindahkan motor ini dengan hikmat. Sejak awal, ketika mereka mulai turun ke sungai satu per satu untuk mengecek kedalaman air dan deras arus. Lalu, mencari alat bantu berupa kayu yang cukup keras untuk menopang motor sehingga motor tetap stabil saat dipikul dan tidak terasa terlalu berat saat melintasi arus air yang deras. Tips agar kayu tidak ikut berputar dengan roda motor saat dipikul adalah, gigi motor dimasukkan dulu agar roda tetap diam dan kayu bisa menopang kuat, tidak bergerak. Sebuah pengalaman yang cukup ekstrim dan fenomenal tentu saja. Ketika kami berjalan ke sisi lain sungai untuk menyebrang ke sebelah sementara motor telah tiba lebih dulu, kami sungguh tidak menyangka bahwa akhirnya kami bisa kembali ke Kupang hari itu juga.

Video lengkap tentang aksi heroik ini, bisa dilihat di Instagram saya: @maria_pankratia

Setelah selebrasi yang cukup heboh dan alay, hahaha ditonton oleh warga masyarakat yang sedang nongkrong di pinggiran sungai -rupanya ini menjadi hiburan tersendiri bagi mereka di kala senja hahahaa- kami melanjutkan perjalanan ke Kupang. Di tengah perjalanan, kami diterpa hujan yang lumayan deras sehingga harus dua kali berhenti dan berteduh. Pukul 20.00 WITA lebih atau kurang sedikit, saya lupa, kami akhirnya tiba di Kupang dengan kondisi masih utuh.



Di akhir cerita perjalanan ini, saya hanya mau bilang, Tempat yang kami kunjungi ini hanya dua jam dari Kota Kupang. Tak ada jembatan, tak ada listrik, tak ada sinyal hape kecuali tenaga surya yang tentu saja mengandalkan matahari –belakangan kami dikasitahu oleh isteri Bapak Guru Simon tentang TS ini- Di musim penghujan, mustahil ada nyala lampu neon berpendar. Tetapi orang-orang di tempat ini tetap hidup dan bertahan bahkan sangat kuat dan tegar. Mereka dapat dibilang menjadi sangat profesional saat dibutuhkan seperti di situasi sore kemarin. Lalu, orang-orang seperti saya, kau dan dia masih saja mengeluh ketika siang terlalu panas atau hujan terlampau sering, cemas karena telkomsel terus kirim sms kuota data anda tersisa 498KB saja, kesal karena ditanya kapan kawin #eh nikah #HapaSih hahaha...

Jika demikian, pantas saja kalau banyak orang mudah mati saat ini.

Demikian laporan #BBNTTGATHERINGPREPARATION dari kunjungan ke Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang di hari Minggu, 11 Maret 2018.


Salam Literasi,
Maria Pankratia – Relawan Buku Bagi NTT

PS. Semua dokumentasi dalam perjalanan ini berasal dari Handphone saya dan Tri. ^^