Tag Archives: Anugerah Jurnalisme Warga 2017

Masyarakat Bhinneka Ide, Tunggal Indonesia

Bhinneka Tunggal Ika
@ Tropico Festival 2016

Rayakan Perbedaan. Demikian slogan salah satu media massa di Indonesia.

Idealnya di Indonesia memang terkandung dalam dua huruf tersebut. Perbedaan di Indonesia sangat banyak dan perlu untuk dirayakan. Tetapi perayaan tersebut haruslah dalam batas yang wajar dan sesuai norma serta hukum sebab Indonesia memiliki batasan itu juga, konstitusi dan hukum.

Indonesia saat ini memang sangat merayakan perbedaan namun sangat liar. Kemudahan teknologi dan konsep “citizen journalism” memudahkan penulisan serta penyebaran ide tanpa banyak filter. Juga kebebasan berpendapat dijamin oleh UUD 1945. Masyarakat dengan bhinneka latar belakang membuat banyak ide. Hal ini seharusnya tidak menjadi perdebatan. Yang menjadi perdebatan adalah tentang ragam ide tersebut apakah mendukung Indonesia yang tunggal, seperti sumpah para pemuda 1928, yang baru saja kita peringati. Dan media massa harus menjadi wasit dalam ragam ide tersebut.

Namun dalam kondisi saat ini, kenetralan media massa juga mulai diragukan. Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa tidak ada satu pun media massa yang netral di mana pun. Menurut beliau, dulu media massa memang dianggap bisa obyektif. Namun kehadiran media massa berbasis jurnalisme warga seperti BaleBengong dan jejaringnya bisa menjadi alternatif wasit. Keberpihakan media massa idealnya ditujukan kepada warga dan Indonesia.

Ide masyarakat beragam seharusnya menjadi ajang uji dan saling mempertajam ide untuk memajukan Indonesia. Ibarat lukisan, warna-warna yang digunakan saling memperindah gambar dasarnya. Lukisan dihidupkan dan diperkaya oleh warna-warni goresan cat yang terkecil sekalipun. Gambar dasar inilah Indonesia dan hidup karena keberagaman. Dan media menjadi wasit yang menimbang dan menyebarkan ide dengan kemampuan yang dimiliki sebagai wadah yang tahu uji tulisan serta ide yang berimbang.

Keaktifan masyarakat dalam mengabarkan ide-ide beragam tidak lagi susah dalam perkembangan teknologi sekarang. Namun dibutuhkan kearifan dalam menimbang kepatutan ide tersebut. Ibarat mata pedang, keterbukaan teknologi sekarang juga memungkinan masyarakat menyebarkan hoax maupun ide yang bisa merusak harmonis masyarakat maupun Indonesia. Peran media massa khususnya yang berbasis warga memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam membangun opini masyarakat.

Media massa harus diarahkan membawa kenetralan dan memelihara kebhinnekaan ide masyarakat. Setiap ide diuji apakah mendukung serta memperkuat Indonesia atau malah mengganggu proses yang sudah dibangun sejak lama. Media massa harus menjadi wasit dalam setiap perdebatan ide yang bergulir dari masyarakat. Media tidak bisa hanya sekedar menulis dan menyebarkan ide yang laris saja, namun tetap memiliki daya kritis. Media tidak saja harus mencari pembaca sebanyak-banyak namun harus tetap bisa mengedukasi pembaca dengan tulisan yang benar dan netral.

Media massa memiliki peran yang penting dalam mendukung konsep demokrasi di Indonesia dan keberagaman memiliki peranan penting bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Media yang netral akan menjadi bagian masyarakat untuk menyampaikan pendapat serta menjadi media edukasi mengenai kebangsaan dan kebaragaman. Seperti pendapat Marshall McLuhan, seorang sosiolog asal Kanada yang mengatakan ”media is the extension of men”. Media massa menjadi citra masyarakat.

Media massa menjadi alat untuk merayakan perbedaan serta menjadi wasit dalam perayaan tersebut. Media massa menjadi unsur yang tetap melihat kebhinnekaan dalam mendukung ke-ika-an Indonesia, khususnya dalam masa makin banyaknya berita hoax. Media massa harus menjadi unsur yang memegang teguh semangat bhinneka tunggal ika.

Jika kita lihat kembali peristiwa Sumpah Pemuda 1928, pemuda merayakan perbedaan mereka tetapi terbingkai dalam satu semangat. Komposisi peserta kongres dari Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb sangat merepresentasikan keberagaman di Indonesia. Tetapi kita tahu hasil sumpah mereka, yaitu bersumpah untuk satu tanah air, bangsa dan bahasa. Bhinneka tidak menjadi sebuah hambatan untuk merealisasikan sebuah ide tunggal tentang Indonesia.

Presiden Jokowi dalam masa kebebasan ide ini menjadi teladan yang baik dalam merayakan perbedaan. Mulai dari pidato kemenangan beliau di atas kapal Phinisi sampai acara kenegaraan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2017 yang menggunakan baju daerah yang sangat indah.

Ide keberagaman ini sebisanya mewarnai setiap ide dari masyarakat namun tidak lepas dari koridor kebangsaan. Menulis Indonesia berarti menuliskan keberagamannya, sebab cerita tentang Indonesia tidak bisa dilepas dari kata keberagaman. [b]

The post Masyarakat Bhinneka Ide, Tunggal Indonesia appeared first on BaleBengong.

Budaya Bali yang Tergerus Game Online

Permainan tradisional bersam Kang Zaini.

Teknologi secara perlahan telah “membunuh” sebagian budaya Bali.

Meong meong alih je bikule bikul gede gede buin mokoh mokoh kereng pesan ngerusuhin juk meng juk kul mate nengeng caplok bikul…” Demikian petikan gending rare Bali berjudul meong-meong. Lagu ini ibarat mengingatkan masa anak-anak yang begitu menyenangkan. Terlebih lagi, begitu banyaknya gending rare yang ada maupun ragam peplaian (permainan) yang ada di Bali.

Bermain! Kata-kata tersebut cukup akrab di telinga anak-anak. Hampir semua anak memiliki masa bermain, sebagai bentuk perkembangan psikologis kejiwaan mereka.

Dahulu, anak-anak dikatakan bermain jika mereka sudah berkumpul dengan teman sebaya dan melakukan kegiatan bersama-sama. Penuh canda dan suka cita, serta yang paling penting adalah tumbuhnya rasa saling menghargai, menyayangi, dan membutuhkan dalam diri sang anak terhadap lawan bermainnya.

Tapi kini, hal tersebut nyaris tenggelam. Anak-anak bisa bermain tanpa melibatkan teman sebayanya. Contoh nyata adalah keberadaan game online. Perkembangan teknologi yang begitu pesat mendorong terciptanya beragam permaian baru.

Celakanya, hal tersebut memicu tumbuhnya sikap individualistis pada diri anak. Bisa dibayangkan, dengan koneksi internet dan layanan komputer, seorang anak bisa bermain sendiri, tanpa harus berinteraksi dengan anak yang lain.

Dengan demikian, rasa saling menghormati, menyayangi dan saling membutuhkan pada diri anak lambat laun kian memudar. Padahal, sebagai mahkluk sosial, manusia tidak bisa melepaskan diri dari keberadaan orang lain.

Hal itu merupakan contoh kecil dari dampak negatif game online, yang merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi jelas bukan hal yang salah. Apalagi di era globalisasi saat ini, teknologi sangat dipelukan oleh umat manusia, agar mampu bertahan hidup.

Namun, disadari atau tidak, teknologi secara perlahan telah “membunuh” sebagian budaya bangsa.

Contoh sederhana adalah punahnya permainan tradisional yang merupakan bagian dari budaya bangsa. Saat ini, nyaris tak pernah terlihat lagi anak-anak yang bermain metajok. Termasuk pula keengganan untuk bermain megoakan yang merupakan bagian dari cerita budaya masyarakat Buleleng. Entah berapa banyak lagi budaya Bali yang tenggelam dan nyaris tidak diketahui oleh anak-anak zaman sekarang.

Jika dibandingkan dengan game online ataupun permainan modern masa kini, permainan tradisional jelas kalah mengasyikkan. Ditambah lagi dengan minimnya prasarana seperti tanah lapang yang kian menciut. Hal tersebut jelas membuat anak-anak kian tidak mengenal budaya mereka sendiri.

Game online tidak memerlukan tempat yang luas. Cukup satu kursi dan meja, anak-anak dapat puas bermain. Apalagi sejumlah pakar mengatakan, bahwa permainan modern yang dikembangkan saat ini, ikut mengasah daya kreativitas anak usia dini.

Lantas, akankan budaya tradisional tergerus oleh permainan masa kini?

Jika dicermati secara mendalam, banyak permainan modern yang justru mengandung sisi negatif. Salah satunya adalah game online. Selain “mencetak” anak menjadi seorang individualistis, game online juga berdampak buruk pada kesehatan. Umumnya, ketika bermain game online, anak-anak sampai lupa waktu, lupa makan, dan terus-terusan berada di depan layar monitor. Hal tersebut jelas berdampak kurang bagus pada kesehatan mata.

Belum lagi dari sisi finansial, keberadaan game online jelas menambah banyak jumlah pengeluaran belanja orang tua. Tidak hanya itu saja, permaian modern juga mencetak anak malas untuk belajar. Banyak kasus menyebutkan, prestasi anak didik merosot ketika mereka mengenal game online dan mulai melupakan waktu untuk belajar.

Lantas, apakah salah jika teknologi berkembang? Jelas tidak, perkembangan teknologi sangat diperlukan di era kekinian. Namun, tetap perlu adanya kontrol sosial untuk menyaring dampak negatif dari perkembangan teknologi.

Peran orang tua sangat diperlukan pada diri anak untuk mencegah pengaruh negatif teknologi. Sedangkan dari sisi budaya, juga diperlukan perlindungan khusus, agar tidak mengalami kepunahan. Pelestarian budaya tradisional tetap diperlukan, untuk mengenalkan anak cucu kita kelak pada kebudayaan warisan leluhur, termasuk permainan tradisional. [b]

The post Budaya Bali yang Tergerus Game Online appeared first on BaleBengong.

Bahu Membahu Merawat Kebhinnekaan (Sebuah Refleksi)

Indonesia Berbhineka, Indonesia yang Ceria. Foto Made Argawa.

Patut kita (anak-anak Indonesia) berterima kasih karena atas perjuangan pendiri bangsa dan negara kita, (the founding father and mother), sehingga bangsa dan negara Indonesia berhasil dibangun berdasarkan semangat persatuan dan perjuangan dari berbagai elemen masyarakat yang heterogen.

Berterima kasih merupakan salah satu wujud dari penghormatan anak-anak Indonesia terhadap setiap perjuangan pendiri bangsa dan negara. Hal ini sekaligus sebagai komitmen untuk merawat bangsa dan negara menjadi lebih baik. Kemerdekaan Indonesia sejak 17 Agustus 1945 kiranya tidak  dipandang sebagai perjuangan yang telah selesai. Sebab kemerdekaan adalah perjuangan yang belum selesai.

Maka dari itu, kemerdekaan harus dipandang sebagai jembatan untuk membuat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Perjuangan belum selesai

Kemerdekaan Indonesia sebagai perjuangan yang belum selesai, kiranya dapat dibuktikan dengan masih banyaknya persolan yang terjadi dan belum bisa diselesaikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satunya adalah polemik kebhinekaan.

Mengapa harus kebhinekaan? Sebab, kebhinekaan itu sendiri dapat menciptakan 2 (dua) potensi peristiwa. Pertama, kebhinekaan dapat menciptakan semangat persatuan, sehingga integrasi bangsa dan negara tetap terawat. Potensi ini hanya akan terjadi, apabila setiap elemen masyarakat yang berbeda suku, agama, ras, budaya, dan pilihan politik dapat saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya.

Kedua, kebhinekaan dapat menciptakan konflik sosial kemasyarakatan maupun konflik vertikal dalam pemerintahan, sehingga dapat mengancam integrasi bangsa dan negara Indonesia. Potensi ini akan terjadi, apabila setiap elemen masyarakat yang heterogen tersebut, tidak saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada.

Jika kita menilik ke belakang maka sejarah akan menyadarkan kita, bahwa kebhinnekaan itulah yang merupakan fondasi, sehingga bangsa dan negara Indonesia dapat berdiri sampai saat ini. Oleh karena itu lahirlah semboyan, bhinneka tunggal ika.

Dalam negara heterogen diperlukan tujuan dan ideologi yang sama. Jika kita tidak memiliki hal itu, maka akan sulit menjaga keberagaman di bumi pertiwi. Perlu kita pahami bahwa seluruh nusantara bersatu karena ada kesamaan tujuan dan kesepakatan ideologi bangsa yang merangkul keberagaman yang ada.

Kebhinnekaan: Jantung Indonesia

Penulis mengibaratkan kebhinnekaan Indonesia seperti jantung yang bekerja memompa darah ke seluruh bagian tubuh agar subyeknya (Indonesia) dapat hidup sehat dan kuat. Oleh sebab itu, apabila jantung Indonesia terserang penyakit (intoleran, rasisme, diskriminasi dll) maka Indonesia akan menjadi bangsa dan negara yang hidupnya tidak sehat dan tidak kuat. Oleh sebab itu, sewaktu-waktu akan “sakit” (terjadi perpecahan) jika tidak dirawat dengan baik. Maka dari itu, untuk mencegah hal tersebut maka perlu mengkonsumsi “makanan-makanan” yang sehat pula, yakni saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada.

Pemilu, Pendidikan dan Penjaga Kebhinnekaan

Bukan menjadi hal baru lagi bagi rakyat Indonesia untuk mengetahui, bahwa pemilu sering dimanfaatkan untuk memunculkan isu-isu intoleran. Maka politik Machiavelisme (menghalalkan segala cara) sangat mungkin terjadi dalam kontestasi pemilu. Apalagi di era melek teknologi saat ini, tentu isu-isu tersebut akan sangat mudah disebar. Oleh sebab itu, tidak heran kalau Indonesia saat ini diserang oleh banyaknya berita hoax.

Melihat peristiwa-peristiwa tersebut maka masyarakat membutuhkan pengetahuan dan pola pikir yang baik untuk dapat mencegah hal tersebut bisa terjadi. Hal itu tentu dapat kita peroleh melalui pendidikan, baik formal maupun informal.

Pendidikan merupakan senjata untuk melawan anti-toleransi. Peran pendidikan bukan hanya untuk sekedar tahu dan memahami suatu materi atau persoalan. Tan Malaka pernah berkata, “tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”. Pendidikan tentu sangat berpengaruh terhadap setiap pembentukan karakter maupun tindakan yang akan diambil oleh setiap individu maupun kelompok masyarakat.

Selain itu, pendidikan juga diperlukan untuk mencegah tercemarnya pola pikir individu atau kelompok masyarakat dari paham-paham yang menyesatkan. Di mana, sewaktu-waktu bisa melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengancam keberangaman.

Eksistensi dan keterlibatan para pendidik, yakni keluarga, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh bangsa, guru, dan organisasi keagamaan, serta kepala negara sebagai penjaga kebhinnekaan (guard of diversity) sangat diperlukan untuk menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mengapa demikian? Karena dalam fenomena polemik kebhinnekaan yang hangat terjadi saat ini maka bangsa Indonesia membutuhkan panutan.

Harapannya dapat menjadi magnet yang kuat, sehingga jarum kompas dapat mengarah ke arah bhinneka tunggal ika yang lebih baik. Penulis mengatakan bhinneka tunggal ika yang lebih baik karena berdasarkan kesadaran akan realita yang ada, bahwa polemik kebhinnekaan memang tidak dapat dipulihkan secara total tetapi dapat diminimalisir. Ketika polemik kebhinnekaan dapat diminimalisir maka kelompok-kelompok yang mengancam kebhinnekaan akan tenggelam dalam lautan mayoritas masyarakat yang bhinneka tunggal ika. [b]

The post Bahu Membahu Merawat Kebhinnekaan (Sebuah Refleksi) appeared first on BaleBengong.

Susah Senang Hidup di Tempat Pengungsian

Pengungsi Gunung Agung di Desa Bungaya, Karangasem selesai mengikuti kelas jurnalisme warga BaleBengong pada Minggu (22/10). Foto Anggara Mahendra.

Oleh Ni Luh Astiti

Perkenalkan nama saya Ni Luh Astiti, biasa disapa Astiti. Saya berasal dari Desa Muntig tetapi sekarang mengungsi di Desa Culik. Di pengungsian saya dan keluarga tidur di atas karpet dan makanan kami nasi telur dan mie.

Di sana kami hidup mandiri dan saling bagi-berbagi. Setiap pagi saya bangun pukul 4.30 mengantar orang tua pulang dan bersiap-siap mau ke sekolah. Di pengungsian saya pun dapat belajar Bahasa Inggris. Kami dibimbing oleh kakak-kakak yang ada di Rumah Sehat.

Hal yang paling membuat saya malu ialah di saat mandi kami mandi bersama-sama. Putra-putri bercampur hanya memakai celana pendek dan baju dalam.

Sebenarnya kami sudah bosan tinggal di pengungsian karena setiap malam orang-orang ribut bercerita, saya jadi susah tidur.

Dan makanannya hanya mie telur nasi itu yang membuat saya bosan.
Hal paling terkesan ialah di saat kami dikunjungi artis dan ibu Bupati Karangasem. Kami pun dapat foto selfie di pengungsian.

Kami bermain setiap pagi kami berangkat ke sekolah. Sekolah kami hanya menumpang. Awalnya kami sekolah di SMKN 1 Kubu tetapi sekolah kami ditutup. Karena itu kami menumpang sekolah di SMK 1 Abang. Di sana siswa-siswanya ramah. Halaman sekolahnya dipenuhi tanaman obat.

Hal paling menyenangkan di saat sore kami olahraga bersama seperti bulutangkis, voli dan yang lain. Malamnya kami menonton karena sudah disediakan televisi oleh-orang yang menyumbang.

Jika hari petang kami diajak sembahyang di tempat pengungsian. Karena tempat yang kami tinggali adalah Pura Dalem Setra, maka kami diajak sembahyang setiap hari memohon lindungannya.

Di tempat pengungsian banyak orang-orang yang menyumbang. Hal yang membuat saya sedih saya harus berpisah dengan kakek nenek saya. Kakek saya dirawat di rumah sehat. Hal yang paling membuat saya sedih setiap malam saya teringat almarhum ayah saya karena saya baru ditinggalkan.

Hal yang membuat saya bertanya-tanya kapan Gunung Agung akan meletus. Kami sudah lama mengungsi tapi Gunung Agung tidak kunjung meletus hanya berstatus Awas, Awas dan Awas.

Yang membuat saya malu kepada ibu saya setiap pagi saya meminta uang bekal untuk ke sekolah di samping itu ibu saya tidak bekerja hanya mengandalkan hewan ternak. Ibu saya kebingungan kemana harus mencari uang untuk bekal saya. Setiap pagi saya hanya bisa mengantar pulang dan sore menjelang malam saya menjemput ibu saya. [b]

The post Susah Senang Hidup di Tempat Pengungsian appeared first on BaleBengong.

Kepanikan Saat Datang dari Rumah Sakit

Salah satu warga Karangasem yang mengungsi meskipun dalam keadaan sakit setelah Gunung Agung naik statusnya menjadi Awas. Foto Anton Muhajir.

Oleh Ni Komang Ayu Napia Gari

Tepat pada 22 September 2017 ketika kakeku sedang menjalani pengobatan di rumah sakit, dan aku sedang merawatnya, dan sudah malam aku pulang dan pada saat itu memang aku tak tahu apa yang terjadi.

Ibuku pun menyuruh untuk mengemasi barang dan aku bertanya-tanya. Buk kita mau kemana? Dan apa yang terjadi? Kenapa barang-barang kita kemasi?

Ibu pun menyatakan bahwa Gunung Agung berada di level Awas dan aku pun menangis karena masih mengingat kakekku yang terbaring lemas!!!

Dan akhirnya ayahku menjelaskan di sana ada petugas rumah sakit. “Selamatkan dulu nyawa kita,” ujar bapak. Saat itu juga aku mulai berkemas, pukul 09.43 malam.

Sesampainya aku di Desa Jasri terjadi kemacetan! Hingga pukul 04.03 pagi aku baru sampai di Desa ‘Wisma Kerta’ di rumah nenekku. Aku di sana selama 3 bulan.

Selama berada di pengungsian, aku merasakan manis pahitnya kehidupan berujung. Makanan pertamaku adalah nasi dari banjar. Terasa hati ini sedih karena mendapat lauk dan sayur yang tak aku suka dan pahit rasanya.

Aku pun sekolah di sana di SMP 3 Sidemen. Di sana aku memiliki teman 4 orang aku di sana merasa senang tetapi juga merasakan sedih. Kangen dengan teman-teman. Aku pun merasa bosan dan memaksa pulang.

Akhirnya ibu, ayah, dan keluarga mau pulang hatipun merasa bahagia.

Sesampai di rumah, kondisi rumah sangat buruk dan banyak sampah rumahku terlihat seperti rumah kosong yang tak terawat. Aku dan ibu mulai bersih-bersih dan merapikannya.

Aku mulai sekolah lagi ke sekolah asalku. Hari pertama sekolah teman-temanku memelukku. Sangat bahagia rasanya aku kembali ke desa dan sekolah asalku. Itulah teman-teman kisah dan pengalaman saya dalam kepanikan erupsi Gunung Agung. [b]

The post Kepanikan Saat Datang dari Rumah Sakit appeared first on BaleBengong.