Tag Archives: Air

BATI, Rumah Belajar Teknologi Sederhana

Pompa air dengan sumber energi dari aliran sungai. Foto Anton Muhajir.

Tempat tersembunyi ini memberikan beragam solusi.

Sebuah gerabah raksasa betuliskan BATI, Rus dan Made menyambut di pintu masuk. Wadah air tradisional ini adalah petunjuk apa yang akan ditemui di rumah dan kebun sekitar 2 hektar ini.

Setelah menempuh perjalanan berkendara 43 km dari pusat Kota Denpasar, akhirnya kami tiba di Desa Wanagiri Kauh, Kecamatan Selemadeg, Tabanan. Melewati jalanan desa yang sepi, sebagian rusak, menyusuri kebun dan persawahan, dan bertanya pada warga.

Lalu, tibalah kami di BATI, singkatan dari Bali Appropriate Technology Institute. BATI adalah rumah percontohan sekaligus tempat belajar teknologi tepat guna untuk keseharian terutama akses air dan biogas. Energi yang menjadi kebutuhan sehari-hari ini sudah diwujudkan secara swadaya sejak tahun 1975.

Di depan gerabah papan nama BATI, sebuah pabrik produksi virgin coconut oil (VCO) terlihat dari spanduk terpasang. Jalan setapak kombinasi beton dan rumput membelah kebun berisi kelapa, durian, pisang, dan lainnya di sisi kanan dan kiri. Sejumlah bak beton terlihat tertanam di atas tanah, berisi nama-nama pembuatnya, dicoret saat semen basah.

Setelah menuruni jalan setapak cukup terjal, gemericik air mengepung telinga. Terlihat dua jalur sungai mengelilingi BATI. Aliran Tukad Yeh Le ini menjadi halaman depan dan belakangnya. Riuh yang menenangkan.

Di sepanjang jalan setapak menanjak terjal ini terpasang sejumlah pipa-pipa menuju pemukiman di atas BATI. Pipa-pipa ini menyemprotkan air dari bawah, aliran sungai melalui pompa ramp hidrolik yang terpasang. Mendorong air secara vertikal.

Ada tiga pompa hidrolik yang dibuat I Gusti Made Rus Alit, pria kelahiran 6 November 1946 ini di sekitar rumahnya. Pompa pertama sekitar 1974-1975. Saat itu ia berusia sekitar 28 tahun, ijazah terakhir hanya SMP. Sempat melanjutkan SMA tapi tak tamat, lalu lanjut sekolah teologi di Selandia Baru selama tiga tahun.

Rus, panggilannya, membuat pompa pendorong air sungai ini untuk membantu warga yang saat itu terlihat kesulitan mencari air ke sungai menuruni tebing terjal tiap hari.

Gusti Ketut Ediputra, sepupu Rus berkisah pada tahun 1970-an ia tiap hari bertugas ambil air ke sungai dengan memikul keropak, pelepah kering dari pohon buah yang berfungsi sebagai ember. Waktu pagi dan sore dihabiskan untuk mencari air minum dan masak, sementara mandi langsung di sungai.

“Pagi sebelum sekolah penuhi gentong dan sore. Untuk masak dan minum, mandi di sungai atau telabah. Ibu ambil air pakai kendi air tanah,” ingatnya.

Memompa air dari sumur serapan dengan manual. Foto Anton Muhajir.

Berubah

Kerepotan Ediputra berubah sekitar 10 tahun kemudian ketika pompa hidrolik berhasil mengalirkan air dari sungai ke atas bukit. Dalam video arsip dokumentasi BATI yang ditayangkan di Kick Andy Show pada 2017, nampak para perempuan dan anak-anak gembira lalu membasuh wajahnya saat pipa mengalirkan air di dekat pemukiman mereka. Beban kerja kini berkurang. Rus mendapat apresiasi sebagai salah satu Kick Andy Hero pada 2017.

Sampai kini, pompa masih bisa berfungsi, walau pengguna air dari sungai ini makin berkurang setelah PDAM masuk. “Masih diakses sekitar 20 KK,” kata Rus. Mereka tidak mengeluarkan biaya bayar air.

Rus mengembangkan kemampuan pompa untuk menggerakkan alat penggiling yang diletakkan di area semburan air. Alat penggiling di pinggir sungai ini bisa menggiling beras atau ketan jadi tepung, menggiling daging, dan lainnya.

Instalasi penting nan sederhana yang terpasang di sejumlah halaman BATI adalah bak penampung air hujan. Tak terlihat mencolok karena tertanam di bawah tanah sekitar 3 meter. Jika hujan, air di ujung talang jatuh ke permukaan rumput yang diisi saringan, kemudian mengalir ke bak dalam tanah itu.

Permukaan atas bak juga tertutup rapat, hanya menyisakan lubang tersambung pipa paralon dengan klep. Jika pipa ditekan, klep membuka, maka air langsung muncrat keluar di ujung pipa lainnya. Tak perlu mesin penarik. Saat diperlukan, air tinggal dipompa dengan Rus pump, istilah yang diberikan oleh mereka yang belajar ke BATI.

Menghitung Potensi

Rus yatim piatu sejak bayi, saat berusia 26 tahun ia sekolah di Selandia Baru walau belum bisa Bahasa Inggris. Ia mengaku takjub dengan kemajuan negeri dengan lebih banyak hewan ternak dibanding warganya itu. “Kita jauh terbelakang,” ujarnya.

Kembali ke desa, ia melihat kampungnya kotor karena hewan ternak seperti babi dan sapi berkeliaran. Dari pembicaraan dengan seorang teman, ia ingat kotoran menghasilkan gas. “Saya petani. Kalau injak lumpur kadang muncul blup-blup (gelembung), nah itu kan gas. Tinggal ditampung,” celotehnya.

Dicobalah proyek biogas pertama, ternak dikandangkan dan menghasilkan gas. Menggunakan kombinasi drum dan beton sebagai penampung kotoran. Warga pun heran.

Setelah itu ada persoalan lain kerepotan mengambil air ke sungai melewati tebing terjal. Dibuatlah pompa hidrolik itu. Menurutnya teknologi ini sudah dikenal lama namun jarang digunakan. Hanya menggunakan pipa galvanis, karet, dan menghitung potensi terjunan air.

Rus di kampung sekitar 1972-1980. Setelah itu pindah ke Jakarta karena ada World Vision, NGO internasional yang tertarik pada sepak terjangnya dan memanfaatkan untuk membantu lebih banyak komunitas di dalam dan luar negeri.

Sejak 1981 ia mulai keliling dunia termasuk kepulauan Pasifik dengan misi yang mirip, memecahkan masalah di daerah setempat. Terutama untuk akses air dan energi. Kemudian pindah kerja di WV Australia sekitar 1996, dan pada tahun 2000 mendirikan BATI di Tabanan, kampungnya.

“Saya capek, biar mereka yang belajar ke sini,” sahutnya. Namun, sampai kini ia masih diundang ke sejumlah daerah untuk membantu warga.

Ia merangkum, sejumlah persoalan sanitasi dan kesehatan bersumber dari air, seperti akses dan kualitas airnya. Pun di Bali, sampai kini masih ada daerah yang paceklik air dan harus membeli mahal air tangki. Saat musim kemarau, embung atau bendungan kering.

“Lebih baik tiap rumah memiliki bak penampungan sendiri, ini akan menimbulkan rasa memiliki. Kalau rusak, mereka perbaiki,” ingat Rus. Infrastruktur besar dan terpusat masih menyulitkan warga, terlebih jika rusak atau bocor dan menunggu lama untuk perbaikannya.

Sumber air di Bali termasuk melimpah tetapi kurang dimanfaatkan. Foto Anton Muhajir.

Tak Tertampung

Ia setuju potensi air permukaan masih melimpah terutama air hujan namun tak tertampung. Karena itu ia kini menggiatkan pembuatan bak kapasitas 10 ribu liter yang bisa dibuat dengan dana sekitar Rp 3 juta. Sebagai cadangan saat musim kemarau.

Sementara pompa hidrolik yang dibuatnya paling tinggi adalah semprotan vertikal ke atas sekitar 130 meter. Ia juga mencoba merakit pengeringan tenaga surya, pemanasan air tenaga surya, dan tungku hemat energi.

Rus mengaku semua keahlian ini tak didapatkan dari Selandia Baru tapi otodidak. Namun, semangat untuk membuat perubahan, mengejar kemajuan negeri orang yang memompa semangatnya untuk membuat solusi. Apa yang bisa dibuat untuk tinggal di sebuah tempat dengan nyaman.

Ia pernah tinggal di kampung Dayak, Kalimantan dan kesulitan saat buang air besar. Tiap malam ia diikuti babi yang menunggu kotoran. Karena tak mau diikuti babi terus, ia membuat jamban dengan kloset sederhana. Eh, makin banyak warga yang buat kloset sendiri.

Demikian juga di Gurun Gobi, pedalaman China air susah. Ia mengajak warga buat tangki air dalam tanah, salju ditampung jadi air minum. “Saya bermimpi orang dengan mudah dapat air. Teknologi sederhana bisa mengatasi masalah itu. Sebelum lari ke laut ditangkap sehingga tak banjir. Tak perlu beli air,” serunya.

Di sejumlah sudut halaman BATI, makin banyak bak yang dibuat sebagai hasil karya praktik warga dalam dan luar negeri yang datang. Ada juga percontohan aquaponic, cara menyaring air organik dengan tumbuhan, ikan, lalu lapisan kerikil dan pasir. Juga kincir air dan kolam-kolam ikan dari pengolahan air sungai dan hujan.

Tebing terjal diubah lanskapnya jadi sebuah tempat tinggal, lokasi retreat, dan kursus. Tempat yang nyaman untuk belajar dan refleksi atas persoalan-persoalan bumi. Kemudian mencari solusinya. [b]

Tulisan ini pertama kali terbit di Mongabay Indonesia.

The post BATI, Rumah Belajar Teknologi Sederhana appeared first on BaleBengong.

Benarkah Kita Butuh 8 Gelas Air Setiap Hari? Baca Mitos Minum Air Lainnya

Air sangat penting bagi tubuh manusia agar tetap bisa berfungsi dengan optimal. Hal ini tidak mengherankan karena sebagian besar tubuh kita terdiri dari air. Untuk menjaga agar tubuh tidak dehidrasi atau kekurangan air, kita perlu minum air yang cukup setiap harinya. Air yang diminum adalah air yang  bersih dan sehat, gak masalah itu air mineral atau air minum yang lain.

Baca juga: Ancaman Kesehatan di Balik Beningnya Air Kolam Renang

Bicara tentang air, ada beberapa mitos yang berkembang di masyarakat tentang kebiasaan minum air. Ada yang menganggap minum air dapat membantu menurunkan berat badan, ada yang menganggap minum air dapat mengatasi sembelit dan lain lain. Benarkah anggapan atau mitos tersebut?

Berikut 7 mitos tentang kebiasaan minum air yang penting untuk diketahui:

1. Minum air selalu dapat mengatasi sembelit

Bila sebelumnya kamu pernah berhasil mengatasi konstipasi atau sembelit dengan minum air yang banyak, cara itu belum tentu berhasil saat kamu melakukan lagi di masa yang akan datang. Mengatasi sembelit dengan cara minum yang banyak hanya berhasil bila sembelitnya disebabkan oleh dehidrasi. Saat tidak dehidrasi, minum air yang banyak tidak akan membantu mengatasi sembelit.

2. Orang bisa dengan mudah mengalami kelebihan air di dalam tubuh

Tidak sedikit orang yang mengkhawatirkan terjadinya overhidrasi atau tubuh kelebihan air saat minum air yang banyak. Memang benar tubuh bisa mengalami overhidrasi, tetapi proses terjadinya tidaklah mudah. Orang bisa mengalami overhidrasi saat minum air yang banyak dalam waktu yang singkat. Hal ini tentu sangat jarang dilakukan dalam kondisi normal. Kebanyakan dari kita minum air dalam jumlah besar yang dibagi dalam beberapa gelas sepanjang hari.

3. Kita butuh delapan gelas air setiap hari

Delapan gelas air setiap hari memang ideal untuk beberapa orang, tapi tidak untuk semua orang. Jumlah air yang dibutuhkan tubuh sangat tergantung dari tingkat aktivitas, ukuran tubuh, jenis kelamin, usia dan kelembaban udara. Sebagai contoh, orang yang aktivitasnya tinggi dengan ukuran tubuh yang besar akan membutuhkan air lebih banyak dari delapan gelas setiap hari.

4. Urine berwarna kuning selalu merupakan tanda dehidrasi

Urine berwarna kuning memang merupakan salah satu tanda tubuh mengalami dehidrasi, tetapi harus diingat, warna kuning pada urine juga dipengaruhi oleh makanan yang kita makan. Misalnya saat kita mengonsumsi suplemen vitamin B maka warna urine akan berubah menjadi kekuningan. Jadi harap diingat, jika warna urine tiba tiba berwarna kuning, jangan buru buru minum air yang banyak, pertama tama cobalah untuk menelaah makanan yang kita makan sebelumnya, apakah ada makanan jenis baru yang kita makan.

5. Kita membutuhkan air dalam kemasan yang mengandung elektrolit

Ada anggapan yang salah tentang keharusan minum air berelektrolit saat kita berolahraga. Memang benar, minum minuman yang mengandung elektrolit dapat membantu menggantikan elekrolit tubuh yang hilang saat berolahraga, tetapi hal itu bukanlah suatu keharusan. Kamu bisa mendapatkan elektrolit dari makanan seperti pisang, semangka dan lain lain saat berolahraga.

6. Kopi dapat menyebabkan dehidrasi

Sebelumnya berkembang anggapan yang mengatakan kafein dalam kopi memiliki efek diuretik (merangsang kencing) sehingga berisiko menyebabkan seseorang mengalami dehidrasi. Sayangnya, penelitian belum bisa dengan valid membuktikan hal ini. Bahkan sebaliknya, ada penelitian yang menyimpulkan, minum 4 cangkir kopi setiap hari sama baiknya dengan air untuk mencegah dehidrasi.

Baca juga: Mengapa Air Mata Keluar Saat Kita Menguap?

7. Kita tidak dehidrasi saat tidak haus

Sangat mungkin mengalami dehidrasi saat kita tidak haus, khusus pada mereka yang sudah berusia lanjut. Pada orang usia lanjut, sinyal haus yang diterima otak tidak lagi kuat. Jadi, mereka harus tetap minum yang cukup meskipun saat itu mereka tidak haus.

The post Benarkah Kita Butuh 8 Gelas Air Setiap Hari? Baca Mitos Minum Air Lainnya appeared first on BlogDokter.

Catatan dari Sarasehan Peradaban Air PKB

Gubernur Bali Made Mangku Pastika membuka sarasehan PKB ke-39. Foto Iin Valentine.

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39 sudah sebulan berjalan.

Sejak dibuka pada 10 Juni 2017 lalu, telah banyak geliat seni ditampilkan para seniman dari seluruh penjuru Bali hingga luar Bali. Seperti tahun-tahun sebelumnya, PKB tahun ini menampilkan banyak kegiatan.

Mungkin masih banyak juga yang belum tahu. Sebenarnya PKB tumbuh dalam enam bidang cabang utama: parade budaya, seni pertunjukan, pameran produk budaya, lomba kreativitas, film dokumenter, dan yang terakhir sarasehan.

Pada tahun ini, sarasehan terkait PKB bertemakan “Pemuliaan Air Sumber Kehidupan, Penghidupan, dan Peradaban”. Gubernur Bali Made Mangku Pastika membuka sarasehan di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar.

Pastika menyatakan bahwa PKB tidak hanya olahan para seniman, tetapi juga cendekiawan dan akademisi untuk mengkritisi dan mencari solusi dari masalah-masalah sosial dan kebudayaan.

“Air itu bisa jadi sumber damai sekaligus sumber konflik,” tegas Pastika. Menurut Pastika di masa depan, selain udara bersih, air bersih pun berpeluang menjadi komoditas termahal. Karena itu, melalui sarasehan ini Pastika mengharapkan ada solusi bagaimana memanajemen air bersih khususnya di Bali.

Terdapat tiga tujuan utama sarasehan. Pertama membuka dialog kritis, komprehensif, dan konstruktif tentang Ulun Danu sebagai representasi peradaban air bagi kehidupan, penghidupan, dan kesejahteraan. Kedua, membahas secara multidisipliner tentang link age kebudayaan dalam bidang ekologi, ekonomi, humanisme, teknologi, dengan dimensi konflik kedamaian atau kesejahteraan.

Ketiga, sarasehan juga bertujuan merumuskan kebijakan, strategi, dan roadmap aksi menuju cita-cita kemanfaatan sumber daya air bagi kehidupa, penghidupan, dan kesejahteraan berkelanjutan.

Ada empat pembicara. Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid RI sebagai pembicara utama. Tiga pemakalah lainnya Ida Bagus Yudha Triguna, Nyoman Jampel, dan I Nyoman Darma Putra.

Menurut Hilmar Farid, Bali sangat unggul di bidang seni dan kebudayaan. Masyarakat Bali pun sangat memegang teguh tradisi, meskipun mengikuti juga perkembangan dunia global.

Salah satu organisasi sosial berbasis kebudayaan yang ada di Bali adalah Subak. Seperti yang diketahui secara umum, subak adalah organisasi di bidang agraris yang berkaitan dengan irigasi dan pembagian air.

Subak sebenarnya bukan hanya mengurus irigasi dan pembagian air. Subak itu adalah organisasi yang kompleks. “Saat ini, tantangan terbesar subak adalah menemukan masalah-masalah yang dulu tidak terbaca. Misalnya keberadaan air untuk kepentingan ekonomi, industri, dan lain-lain. Masalah air ini sepintas mudah, tapi ngga kelar-kelar,” ujar Farid.

Saat ini telah ada UU Pemajuan Kebudayaan tentang tata kelola kebudayaan. Bahwa kebudayaan bukan hanya ada pada tarian dan tradisi, tetapi juga pada karakter luhur yang akan diwariskan pada generasi-generasi selanjutnya. UU Pemajuan Kebudayaan ini menekankan empat hal yaitu: pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Pelindungan dan pembinaan kebudayaan dapat dilakukan dengan mencatat, merekam, dan mendokumentasikan pengetahuan tentang budaya yang dimiliki, baik itu berupa produk kesenian, kekayaan sumber daya alam, dan lainnya. Selain itu, perlu dilakukan pula peningkatan jumlah barisan orang berpengetahuan dan berkualitas agar dapat mengajak masyarakat luas untuk berpikir serta meningkatkan kesadarannya bahwa sebenarnya kita ini kaya, dan bersama-sama melakukan perlindungan maupun pembinaan kebudayaan.

Dalam pengembangan kebudayaan, kita tidak menolak pertemuan antara tradisi dan modernitas. Masyarakat tetap harus maju, pembangunan harus berkembang, tetapi nilai tradisi yang menghidupi perjalanan itu. Untuk pengembangan kebudayaan, perlu juga dilakukan penyebarluasan, pengkajian, dan peningkatan objek kebudayaan.

“Sedangkan dalam pemanfaatan, kebudayaan dapat digunakan untuk membangun karakter dan meningkatkan kesejahteraan serta kedudukan Indonesia di mata dunia,” tambah Farid.

“Air tidak cukup hanya dilestarikan dan dilindungi melalui kebijakan-kebijakan dari pemerintah. Karena kebijakan yang tidak dibarengi dengan perbaikan perilaku pribadi, mustahil untuk membawa perubahan. Misalnya, cara yang sangat sedehana yang bisa dimulai dari diri sendiri adalah dengan mengurangi sampah terutama plastik. Karena sampah plastik memiliki andil yang cukup besar dalam pencemaran air dan lingkungan hidup,” begitu tanggapan daDiah, salah satu peserta sarasehan.

Hilmar Farid menjadi pembicara utama di sarasehan PKB ke-39. Foto Iin Valentine.

Masalah Edukasi

Diskusi sesi kedua dilanjutkan ketiga pemakalah panel. Ida Bagus Yudha Triguna, mantan Dirjen Bimas Hindu, Kementerian Agama membahas keberadaan air dari segi keagamaan. Judul makalahnya “Pelestarian Air Sumber Kehidupan, Penghidupan, dan Peradaban dalam Perspektif Sinergi Agama, Kebudayaan, dan Kearifan Lokal”.

Menurut Yudha Triguna, kemuliaan air telah disebutkan dalam kitab suci Weda. Bagaimana air dan surya membawa sumber kehidupan dan penghidupan pun ada di dalamnya. Maka dari itu, berbagai macam ajaran kebaikan untuk memuliakan air, hutan, maupun laut, telah dilaksanakan. Tetapi, mengapa alam belum juga lestari?

“Terdapat problem yang mendasari hal itu. Salah satunya problem edukasi. Upacara pemuliaan air dan lain-lain itu hanya dipahami oleh lingkungan terbatas, masyarakat yang hadir. Tujuannya lebih untuk sembahyang. Tidak memaknainya sebagai upaya memuliakan sumber air, hutan, danau, maupun laut,” katanya.

Yudha menambahkan transformasi nilai agama tergantung pada kelompok terbatas (sulinggih, penekun sastra & agama, ilmuwan) yang tidak memiliki otoritas dan jejaring. “Sementara, umat bersandar pada pengetahuan dan keputusan dari kelompok terbatas itu,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, salah satu peserta sarasehan menyayangkan. Dalam pelaksanaan upacara pemuliaan air itu, sisa-sisa sesajen pasti dibuang atau ditinggalkan di lokasi, seperti laut dan sungai.

Padahal, sampah upacara tersebut sangat berpotensi pula merusak kelestarian air itu sendiri. Jadi, belum ada kesinambungan antara tujuan dengan realitasnya.

Sedangkan Nyoman Jampel, Rektor Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja membawakan makalah berjudul “Pendidikan Karakter yang Mengapresiasi Sumber Daya Air, Manusia, terhadap Peluang dan Tantangan di Era Kekinian”.

Menurutnya, salah satu media strategis yang mampu membangun kesadaran ekologi dan menumbuhkembangkan keterampilan mengapresiasi sumber daya air khususnya di kalangan mahasiswa adalah melalui pendidikan karakter yang dilakukan melalui lima tahap, yaitu; (1) melalui contoh dan tauladan, (2) pelatihan, (3) pembiasaan, (4) pembudayaan, dan (5) kebudayaan.

Contoh dari dosen, tokoh masyarakat, pemangku kebijakan, penegak hukum, maupun orang tua akan menjadi dasar yang kuat untuk menetapkan nilai-nilai karakter yang mesti diikuti. Kurangnya contoh yang baik, sering kali berimplikasi pada karakter yang kontraproduktif, bahkan tak jarang berperilaku amoral.

Setelah mendapatkan contoh yang memadai, juga dilatih untuk bersikap dan berperilaku yang bertanggung jawab pada lingkungan. Pelatihan secara berkesinambungan diyakini akan menjadikan mahasiswa terbiasa dengan sikap dan perilaku yang baik, yang pada akhirnya menjadi sebuah budaya.

Jampel juga mengaitkan pendidikan karakter tersebut dengan salah satu ajaran Hindu, yaitu Tri Hita Karana atau tiga sumber penyebab adanya kesejahteraan dan kebahagiaan. Ketiga penyebab kebahagiaan itu akan terwujud melalui hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesamanya (Pawongan), dan antara manusia dengan lingkungan alamnya (Palemahan).

Sehingga poin-poin ini menjadi dasar bagi pembinaan dan pengembangan sikap, nilai-nilai, perilaku, maupun pola hubungan sosial masyarakat Bali.

Tiga pemakalah dalam sarasehan PKB ke-39 tentang peradaban air. Foto Iin Valentine.

Fakta atau Fiksi?

Adapun I Nyoman Dharma Putera membawakan makalah “Fakta atau Fiksi: Dekonstruksi Wacana Krisis Air di Bali dengan Kisah Tantri”. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa industri pariwisata sering dijadikan kmabing hitam sebagai penyebab krisis air.

Memang, pemakaian air di industri pariwisata jauh lebih besar daripada pemakaian air di rumah tangga. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa Bali, tidak pernah krisis air secara sesungguhnya, seperti halnya yang dirasakan di Brisbane tahun 2009, ketika pemerintah membatasi penggunaan air untuk menyiram tanaman.

“Bukan berarti Bali bebas dari krisis air tingkat awal, lalu dapat menggunakan air secara boros. Tidak. Kalau pun terjadi kekurangan supply air, itu terjadi bukan karena sumber daya air terbatas, tetapi masalah tata kelola atau manajemen,” ujarnya.

Terdapat dua fragmen dalam kisah Ni Diah Tantri yang ceritanya berkaitan dengan krisis air. Yang pertama adalah kisah Empas (kura-kura) dan Angsa, di mana krisis air adalah fakta cerita. Sementara yang kedua adalah kisah burung bangau yang tamak, di Bali dikenal dengan nama Pedanda Baka, di mana krisis air adalah fiksi sebagai bahan tipu muslihat.

Dalam makalahnya juga disebutkan bahwa dari studi yang dikaji dalam artikel di dalamnya, tidak satu pun menyajikan potensi air yang dimiliki Bali, angka kebutuhan progresif, kebutuhan proyektif, sehingga tidak begitu jelas apakah pernyataan bahwa “Bali mengalami kekurangan air” itu fakta atau fiksi.

Jangan sampai kita salah langkah mengambil keputusan seperti ikan-ikan di Telaga Kumudasara yang ditipu bahwa kolam akan kekurangan air, padahal itu hanya jebakan bangau rakus untuk memangsa ikan-ikan.

Jangan sampai isu krisis air di Bali digunakan bangau-bangau rakus untuk menjatuhkan industri pariwisata Bali.

Beberapa partisipan dalam sarasehan tersebut menyayangkan mengapa para narasumber tidak to the point mengaitkan keberadaan air dengan kondisi di Bali yang beberapa tahun belakangan diguncang oleh isu reklamasinya.

Sekalipun ada yang menanyakan hal itu, para narasumber tidak memberikan penjelasan yang gamblang. Memang sedikit disayangkan, diskusi panjang namun mengawang.

Pada sarasehan PKB mendatang, diharapkan lebih banyak melibatkan anak-anak muda agar diskusi lebih bervariasi dan bisa berbagi ide segar. Di samping itu, beberapa tokoh juga mengusulkan agar perjalanan sarasehan ini dibukukan untuk menambah literasi dan bagian dari bukti perjalanan PKB itu sendiri. [b]

The post Catatan dari Sarasehan Peradaban Air PKB appeared first on BaleBengong.

Diskusi Air: Harmoni Bumi dan Diri

Dulunya, air adalah nama “agama” di Bali. Sejalan dengan program “Sedulur Air”, Bentara Budaya Bali (BBB) akan menggelar penayangan film Bali 1928 dan dialog. Acara yang terangkum dalam Bali Tempo Doeloe #16 ini akan berlangsung Selasa besok (14/3) di BBB, Ketewel, Gianyar.

Mulainya pukul 19.00 WITA.

Merujuk tajuk “Air: Harmoni Bumi dan Diri”, acara kali ini mengetengahkan perbincangan seputar Air sebagai bagian dari memori kultaral masyakarat Bali, berikut upaya-upaya pemuliaan dan konservasinya kini.

Tampil sebagai narasumber Koordinator Arsip Bali 1928 Marlowe M. Bandem dan Dosen Jurusan Biologi Universitas Udayana Deny Suhernawan Yusup.

Selain sebagai sumber kehidupan, masyarakat Bali memaknai air sebagai simbol penyucian dan pembersihan. Tirtha atau Air Suci merupakan sarana pokok dalam pelaksanaan kegiatan dan upacara di Bali. Pada waktu-waktu tertentu, masyarakat Bali juga melakukan ritual melukat guna menyucikan jiwa-raga di sumber-sumber mata air, seperti laut, sungai atau pancuran.

Bahkan, tinggalan arkeologis dan jejak historis di DAS Pakerisan serta Petanu mencerminkan kepercayaan masyarakat Bali yang pada beberapa teks lontar sering disebut agama Tirtha, di mana air merupakan unsur penting dalam setiap ritual upacara dan agama. Tercermin pada sejumlah candi yang dapat ditemui di seputar lokasi semisal Candi Gunung Kawi, Candi Kerobokan, Candi Kelebutan, dan Candi Jukut Paku.

Di tengah upaya memuliakan Air, kita juga mendapati kenyataan betapa air telah dianggap seperti komoditi dengan wacana sosio-ekonomi yang menyertainya. Misal debit air bersih di perkotaan, pencemaran di hulu maupun muara, abrasi kawasan pesisir, dan sebagainya.

Penghormatan kita terhadap air, sang sedulur yang menghidupi manusia dan makhluk lainnya, diuji oleh arus perubahan yang membutuhkan sikap konkret atas upaya-upaya pelestariannya.

Penayangan film Bali 1928 ini didukung oleh STMIK STIKOM Bali dan Arbiter Cultural Traditions. Menurut Marlowe Bandem yang juga Koordinator Arsip Bali 1928 di Indonesia, kali ini akan diputar cuplikan-cuplikan rekaman bersejarah Bali masa tahun 1930-an.

Gambar-gambar tersebut bersumber dari film-film Colin Mcphee, Miguel Covarrubias, Rolf de Mare dan Jane Belo yang merupakan hasil repatriasi Arsip Bali 1928.

“Terangkum dalam cuplikan-cuplikan film tersebut pelbagai panorama alam dan upacara keagamaan Hindu Dharma yang merupakan ‘perayaan’ akan dimensi Air di Bali. Termasuk juga cuplikan ‘kawi agung’ Bali, Ida Pedanda Made Sidemen yang melakukan prosesi Nyurya Sewana,” ungkap Marlowe Bandem.

Bali Tempo Doeloe adalah agenda yang memutar seri-seri dokumenter tentang Bali Tempo Doeloe, dipadukan dengan diskusi bersama para pengamat dan pemerhati budaya, dalam memaknai perubahan kondisi Bali dari masa ke masa. D

ialog berkala dan berkelanjutan yang telah digelar sedari tahun 2013 ini tidak hanya mengetengahkan sisi eksotika dari Bali masa silam, melainkan juga menyoroti problematik yang menyertai pulau ini selama aneka kurun waktu, termasuk kemungkinan refleksinya bagi masa depan.

Beberapa tema yang pernah dihadirkan dalam program ini antara lain: “Denpasar Dalam Tantangan Zaman”, “THE GODS OF BALI: Antara Ritual Sakral Dan Pertunjukan Profan”, “Gema Gamelan Bali ke Masa Depan”, “Citra Dalam Sinema”, “Rudolf Bonnet dan Arie Smit: Cerita Seni Rupa Bali”, “Mistis dan Turistik Bersisian di Nusa Penida”, “Bioantropologi: Tenganan Pegringsingan Dalam Dua Perspektif”, “Jejak DAS Pakerisan Dalam Arkeologi dan Seni”, dan lain-lain.

Marlowe M. Bandem adalah koordinator proyek repatriasi rekaman-rekaman Bali 1928. Di luar rutinas mengelola dua lembaga keuangan mikro, Marlowe juga adalah wakil ketua yayasan Widya Dharma Shanti yang menaungi STMIK STIKOM Bali, salah satu perguruan TIK terbesar di Bali.

Ia juga adalah seorang pesepeda, penggiat kreativitas musik elektronika dan desain. Pelopor gerakan Design Against Tyranny di tahun 2007, Marlowe kini banyak meluangkan waktunya melakukan roadshow terkait kreativitas seni, kewirausahaan, teknologi dan lingkungan.

Sebagai Koordinator Proyek Bali 1928 di Indonesia, Marlowe juga akan berbagi cerita tentang lika-liku dan proses pemulangan kembali rekaman-rekaman bersejarah Odeon dan Beka berikut film-film yang pertama kalinya dibuat di Bali pada tahun 1930-an.

Deny Suhernawan Yusup lahir di Ciamis Jawa Barat, 9 Mei 1964. Ia merupakan dosen program studi Biologi FMIPA Universitas Udayana dengan spesialisasi Ekologi Kelautan / Budidaya Perikanan. Ia menamatkan stusi S1 di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman dan S2 di School of Zoology University of Tasmania , Hobart-Australia.

Aktif dalam berbagai penelitian, di antaranya Pemanfaatan Bahan Pakan Rumput Laut Pada Usaha Pembesaran (Budidaya) Abalon Jenis Haliotis Squamata (Sumber dana Dikti, 2016), Perilaku Makan Dan Formulasi Ransum Juvenil Abalon Haliotis Squamata Berbasis Alga Makro (Sumber dana DIKT, 2015), Potensi dan kondisi sumberdaya abalon H. squamata; Cemagi Kec. Mengwi Kab. Badung (Sumber dana DIKTI, 2014), dll.

Ia juga aktif dalam sejumlah pertemuan ilmiah dan seminar internasional, di antaranya International Seminar Sains and Technology, Indonesian Seagrass Workshop dan International Conference Bali. [b]

The post Diskusi Air: Harmoni Bumi dan Diri appeared first on BaleBengong.