Karmapala

Karma manusia tak kan hilang jiwa Meninggalkan raga
Walau bayang terhapus musnah pupus ditelan masa
Karma manusia tetap tersirat Jejak langkahnya
Walau sampai akhir hayat pala selalu kan terbawa

Ini adalah sepenggal lirik lagu Karma yang ditulis oleh Putu Wijaya dan dinyanyikan oleh Tri Utami. Tak sengaja mendengarkan kembali lagu lama ini dan mengingatkanku pada perbincangan religius ringan sama bli. Yang aku tanyakan pada saat itu adalah “Kalau karma itu melekat pada jiwa meski melewati akhir hayat, lalu bagaimana dengan konsep saling memaafkan saat hari raya Idul Fitri? Kan katanya setelah saling memaafkan kita bisa kembali NOL lagi”.

Bli menjawab, karma itu ada  2 yaitu karma baik dan karma buruk. Kita ibaratkan karma buruk itu adalah garam dan karma baik itu kita ibaratkan air. Anggap saja sekarang kamu memiliki 1 sendok makan garam dan segelas air. Ketika diaduk jadi satu, bagaimana rasanya? Sudah pasti asin. Kamu melakukan perbuatan baik ibaratnya menambahkan air tadi. Ketika kamu nemambahkan seember air, apakah garamnya masih terasa asin?. Tidak asin lagi kan? Tapi apakah kamu bisa mengatakan tidak ada garam dalam larutan tadi? Air memudarkan kandungan garam tapi belum tentu menghilangkannya.

Aku jadi ngerasa seperti anak kecil yang diajari oleh bapaknya. Dan seperti itulah kenyataannya. Dalam memahami kepercayaan ini aku masih Balita. Dan penjelasan itu memunculkan pertanyaan lanjutan , “Jika garam itu tetap ada disana bagaimana  caranya agar aku bisa mengurangi atau menghilangkan keberadaanya”

Bli memberikan jawabannya yang sangat manjur. Disanalah peran agama untuk mengajarkan kepada kita bagaimana caranya, kamu tinggal melakukannya sesuai ajaran yang kamu yakini.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *