Om Chris, kenapa mesti London? Dan kita mesti nyanyiin laa laa laa di pekuburan ini. Apa aku tersesat? Oh tidak. Aku tersedak, yang artinya berhenti sejenak untuk meneguk lebih banyak. Jarak kita itu jauh ya Tuan. Aku belum lihat Tuan lho sedekat jarak yang bisa aku angankan. Aku sedang Kangen Tuan. Sedang tidak ingin bicara masa lampau. Aku tidak mau menggali cerukan purba yang rentan ambruk. Ah masa lalu, kadang-kadang tamasya itu mujarab. Aku selalu menuju. Tapi tak juga tahu ke labuhan mana yang aku tuju. Kapal-kapal menjerit agar dilepaskan kekangnya. Bapa Baruna, ajarkan anak-anak ini mengenal hulu: memulangkan doa-doa. *Kalo kangen mesti nyebut nama, sayangnya aku ga punya nama buat disebut. Ah Kamu Tuan, hati aku sudah lebih dari bersih untuk dilumuri balada asmara paling nyinyir sekalipun. Cepet dateng, ke hati aku ya* Menuju Selasa, tujuh belas bulan tujuh. A.Ditha Filed under: Puisi, Sekitar, […]![]()
Leave a Reply