Terkesima Keterbukaan dan Kemajuan Malaysia

Malaysia ternyata tak setertutup yang aku kira.

Sebelum akhirnya mengenal langsung negara serumpun ini, aku punya beberapa anggapan miring tentang Malaysia. Salah satunya tentang betapa konservatifnya negara kerajaan ini.

Anggapan itu lahir berdasarkan sebagian besar informasi di media maupun media sosial. Bahwa Malaysia negara yang sangat kaku menerapkan syariat Islam. Bahwa Malaysia negara yang sangat kaku mengatur warga negara non-muslim.

Mengaku atau tidak, kata syariat Islam di Malaysia memang jadi momok bagi banyak orang. Begitu pula bagiku. Aku membayangkan pakaian yang serba tertutup. Warga yang serba takut. Serta non-muslim yang serba tertekan.

Tapi, anggapan negatif alias stigma memang sering berlebihan. Begitu tiba di negara ini untuk pertama kali dan mengenalnya meskipun hanya empat hari pada 24-27 Mei lalu, banyak hal membuka mataku.

Apa yang aku lihat tidak semenakutkan yang aku kira. Sebaliknya, Malaysia ternyata amat terbuka, setidaknya berdasarkan apa yang aku alami sendiri selama di sana.

Di jalan-jalan, warga beragam etnis berjalan beriringan dan berdampingan. Mereka yang berjilbab rapi dan wangi, berjalan bersama pengguna rok ketat di atas lutut nan seksi. Padahal sebelumnya aku membayangkan di mana-mana hanya orang berpakaian tertutup ala syariat Islam, seperti yang juga aku bayangkan tentang Aceh.

Dari para warga yang hilir mudik di jalan-jalan, terlihat pula betapa negara ini terbuka pada keberagaman etnis. Mungkin karena secara fisik memang lebih mudah dilihat. Orang Melayu, China, dan India berjalan beriringan di jalan-jalan.

Kalau melihat statistik, negara dengan 30 juta penduduk ini memang terdiri dari tiga etnis utama itu Melayu 67,4 persen, China 24,6 persen, dan India 7,3 persen. Etnis lain 0,7 persen.

Dari sekilas pengamatan di jalan, terlihat semacam pembagian kelas sosial ataupun pekerjaan. Etnis China memegang pekerjaan kelas atas, Melayu di tengah, sedangkan India di kelas bawah.

Warga beragam etnis inilah pula yang membangun Malaysia dengan tenaga kerja buruh dari Indonesia. ?

Kemajuan Malaysia itu pula yang membuat terkesima. Mohon maklum, aku memang orang gumunan. Mudah kagum pada sesuatu meskipun kemudian diam-diam skeptis.

Selama di Kuala Lumpur, aku menginap di Hotel Le Apple kawasan Kuala Lumpur Convention Center (KLCC). Bisa dibilang, inilah jantung dan simbol kemajuan Malaysia. Menara Kembar Petronas, ikon Kuala Lumpur, ada di kawasan ini.

Dengan gedung-gedung tinggi menjulang dan pembangunan yang terus masih berkembang, Malaysia menjadi salah satu negara paling maju di kawasan ini. Namun, dia juga tetap mempertahankan sebagian identitas masa lalunya.

Pada hari terakhir di Kuala Lumpur, aku sengaja memilih hanya jalan kaki untuk menikmati kota ini. Lumayan jauh sih, sekitar 3 KM. Dari kawasan KLCC menuju kawasan kota tuanya di sekitar Masjid Jamek.

Selama hampir satu jam jalan kaki dari pusat modernisme ke masa lalu Kuala Lumpur ini, aku jadi bisa melihat bagaimana bangunan-bangunan tua, berisi tulisan Arab, China, Melayu, ataupun India, masih berdampingan di antara gedung-gedung pencakar langit. Masa lalu masih terpelihara rapi di ibu kota Malaysia.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *