Teringat Kembali: “Untuk Ketut”

kid hivSuasana hati saya kembali mengingat sebuah untaian kata yang sempat saya tulis kira-kira setahun lebih lalu. Hari ini kembali saya bertemu dengan seorang anak. Masih sangat muda. Terinfeksi HIV.  Dan saya teringat kembali.

Letih.
Letih sekali.
Kaki ini hampir mati rasa.
Tak kuat lagi melangkah.
Tapi ku tak boleh berhenti.
Berhenti berarti pecundang.
Karena ada yang lebih letih.
Anak-anak itu.
Lebam dan radang tengah terjadi.
Nafas tidak lagi segar.
Darahpun kini berlumur mahluk asing.
Mahluk yang tidak diharap hadir.
Si virus itu.
Yang telah merenggut orang yang disayangi.
Hari ini, mahluk itu masih menjadi sahabat.
Hari ini, mereka masih bermain bersama.
Esok hari, tidak akan lagi sama.
Virus licik itu akan merubah segalanya.
Ketut, ini kubawakan buku tulis.
Buku buatmu menulis.
Tulislah semua.
Tentang hari yang masih indah.

“untuk ketut”
by okanegara, 1 Desember 2008

Untuk semua anak-anak yang ditinggal orangtuanya, anak-anak yang terdampak oleh HIV AIDS. Kepedulian adalah kata yang dinanti di jaman ini bagi segelintir orang. Sebuah buku tulis dan buku bacaan bagi banyak orang adalah hal biasa. Tetapi tidak bagi mereka, anak-anak yatim piatu yang tidak lagi punya sandaran harta. Sekali lagi ini bukan tentang harga, tetapi tentang kepedulian. Kita bisa berbagi apa saja yang dibutuhkan anak-anak ini. Bagi sebagian orang bisa jadi kecil, tetapi itu bisa berarti banyak untuk yang lain. Tidak perlu menunggu sayap itu tumbuh untuk menjadi malaikat. Semua orang bisa menjadi malaikat bagi orang lain.

foto: www.zipthumbs.com/wow/HIV.html


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *