Tantangan Remaja di Internet dari Sanggar Seni Kelakar

Sanggar Seni Kelakar di malam AJW 2022 di Taman Baca Kesiman, 26 Juli 2022.

“Banyak dampak dan hal besar yang tidak terlihat dari tindakan kecil manusia di dunia maya.” Begitu premis yang dipilih sebuah kelompok sanggar anak-anak ketika diminta merespon fenomena perilaku dunia digital.

Pertunjukan seni yang dibawakan oleh 5 aktor Sanggar Seni Kelakar pada Malam Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2022 ini menggambarkan bagaimana realitas dampak dunia digital di kelompok anak-anak. Peran yang dekat dengan dunia mereka semakin dihayati karena aktor-aktor Sanggar Seni Kelakar merupakan klub siswa-siswi yang berstatus aktif maupun alumni SMP Dharma Wiweka Denpasar. AJW 2022 membawa topik hak-hak digital melalui Tri Hita Digital, tiga hak digital untuk kesejahteraan.

Adegan dimulai oleh seorang aktor bernama Ariel dengan peran murung yang tersirat dari bahasa tubuhnya. Duduk dengan kedua kaki ditekuk dan menghadap ke samping. Alur cerita dibuka dengan pengenalan latar belakang tokoh Ariel yang berperilaku sedih akibat dunia maya masa lalu keluarganya.

Sebuah kisah masa lalu orang tuanya yang disanksi secara adat karena kritik sang ayah terhadap proyek di desanya melalui media sosial. Refleksi dampak itu dituangkan dalam narasi-narasi yang disampaikan dalam garapan Sanggar anak-anak SMP Dharma Wiweka itu.

“Koneksi-data seolah memiliki kuasa yang menggiring mimpi dan imajinasi umatnya. Dunia maya yang dapat mempersatukan orang-orang asing membuat keluarga kami berubah; pertemananku berubah,” begitu narasi Ariel.

Permasalahan semakin jelas, sejak berhari-hari Ariel dibombardir pesan spam dari orang tak dikenal. Namun, ia tak pernah menghiraukan pesan itu setelah ia dan keluarganya memutuskan segala bentuk komunikasi pasca sanksi adat karena kritik di media sosial.

Dampak tak selesai di kehidupan online Ariel. Latar kehidupan Ariel sebagai seorang siswa juga terusik oleh perlakuan lingkaran pertemanannya. Keputusannya menutup diri dari komunikasi, menjadikan ia tokoh yang murung. Tak banyak bergaul. Berbanding terbalik dengan teman-temannya di sekolah yang sibuk dengan aplikasi gawai kekinian. Ariel menjadi tokoh yang tak diajak, sering diomongin karena kejadian yang pernah menimpa ayahnya.

Salah seorang tokoh bernama Lukasari yang tak memiliki akses ke dunia digital karena tidak menggunakan gawai, mencoba mendekati Ariel membuka alasan dari sikap murungnya.

“Aku pengen tahu siapa yang sebenarnya pelaku dari trolling-nya Ariel. Siapa ya? Pasti orang itu dekat banget dengannya. Pasti, pasti pelakunya adalah teman sendiri di kelas. Tapi siapa?” narasi Lukasari menduga sikap Ariel.

Pertemuan Ariel dengan Lukasari mampu meluluhkan sikap tertutupnya. Setelah melihat ketulusan Lukasari bersungguh-sungguh berteman dengan Ariel. Meski Lukasari hampir menjauh dan menangis Setelah sekian lama tak berinteraksi di dunia maya, Ariel menulis status “Menutup diri sama dengan mengunci kehidupan. melempar kesempatan serupa melontarkan keberuntungan. Salahkah aku? Jika benar maka aku telah melukai temanku, melukai diri sendiri. Maaf sahabat karena aku bersikap buruk.”

Permohonan maaf Ariel yang sekaligus meruntuhkan rasa tertutupnya selama ini mencairkan suasana. Sejak itu berlima tokoh berteman baik. Pergi bersama-sama. belajar bersama. Saling bertukar cerita.

“Mungkin saja benar, bahwa ada jejaring dunia-maya dan dunia nyata yang saling memengaruhi. Saling membentuk dan saling mengaitkan segalanya. Mari bergembira…..” tutup salah satu aktor menutup pertunjukan.

Begitu pertunjukan selesai ditutup dengan tarian dan nyanyian ceria remaja. Garapan teater di kalangan remaja ini seakan menjadi refleksi realitas di kehidupan mereka. Perilaku-perilaku di dunia digital yang mereka ikuti seperti arus, berlalu begitu saja. Tanpa disadari telah menjadi korban dari aktivitas dunia maya. Begitu juga bisa menjadi pelaku kejahatan digital di lingkungan pertemanan sendiri.

Melalui garapan ini, Sanggar Seni Kelakar merupakan kelompok belajar yang berdiri sejak 2017 mendekatkan sekaligus mengedukasi remaja terkait perilaku digital. Para anggota Sanggar ini dikelola untuk mengembangkan potensi anak-anak dalam kegiatan sastra, seni pertunjukan modern, dan pembinaan akademik (Bahasa Indonesia).

“Selain proses kreatif secara internal, Sanggar Seni Kelakar juga membuka ruang kolaborasi dan kerja sama pada komunitas seni yang ada,” ungkap Desi Nurani, guru Sanggar Seni Kelakar.

Sejak dibentuk, beberapa prestasi mulai dari tingkat kota-nasional telah diraih. Pernah mendapat penghargaan dari tingkat kota-nasional. Pernah bergabung dengan kelompok teater lain untuk berkolaborasi pertunjukan seperti twater kalanga, capung hantu project, mengikuti worksho dari cushcush galeri dan seniman di luar sekolah.

The post Tantangan Remaja di Internet dari Sanggar Seni Kelakar appeared first on BaleBengong.id.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *