Tag Archives: WWF Indonesia

Ini Dia Beasiswa Anugerah Jurnalisme Warga 2018

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) kali ini datang berbeda.

Pada tahun ini AJW dilakukan melalui kolaborasi dengan CI Indonesia, WWF Indonesia, Yayasan Kalimajari, dan Mongabay Indonesia. Bentuknya dengan memberikan beasiswa liputan kepada kontributor BaleBengong untuk melakukan liputan mendalam bertema “Mendengar Kabar dari Akar”. Tema ini tentang kabar-kabar baik pemberdayaan di akar rumput .

Sub Tema
• Petani kakao lestari Jembrana menembus manisnya pasar dunia
• Nyegara gunung melestarikan lingkungan gunung dan perairan di Karangasem
• Signing Blue demi mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Bali
• Kesiapan tanggap bencana warga di Pulau Dewata

Caranya
• Peserta adalah kontributor BaleBengong. Silakan mendaftar di tautan berikut jika belum terdaftar sebagai kontributor,
• Peserta mengirimkan usulan liputan mendalam tentang salah satu dari sub tema dengan mengisi formulir yang disediakan panitia,
• Peserta melampirkan usulan liputan, fotokopi identitas diri, dan bukti tulisan yang pernah dimuat di media, termasuk blog pribadi,
• Liputan bisa dilakukan secara pribadi ataupun oleh tim dengan anggota maksimal tiga orang,
• Batas akhir pengiriman usulan liputan mendalam adalah 10 September 2018 pukul 24.00 WITA,
• Panitia akan menyeleksi usulan liputan mendalam berdasarkan kesesuaian topik, fokus, dan contoh karya.

Semua berkas persyaratan dikirimkan dalam bentuk digital (format pdf, doc, atau odt) ke alamat surel kabar@balebengong.id.

Dukungan
Lima usulan terbaik akan mendapatkan:
• Beasiswa liputan masing-masing sebesar Rp 2,5 juta untuk memproduksi laporan mendalam dalam bentuk multiplatform (kombinasi tulisan, foto, video pendek, dan audio)
• Pendampingan selama proses produksi karya.

Tentang Anugerah Jurnalisme Warga
AJW merupakan agenda tahunan media jurnalisme warga BaleBengong untuk mengapresiasi para pewarta warga. Sebagai salah satu pelopor media jurnalisme warga di Indonesia, BaleBengong berkomitmen untuk menghadirkan kabar-kabar dari akar rumput, dengan sudut pandang warga-warga biasa.

Informasi Lebih Lanjut
Surel: kabar@balebengong.id
Twitter/Instagram: @BaleBengong
Facebook Page: /BaleBengong.id
Narahubung: Iin Valentine (+62 857-3803-5151)

The post Ini Dia Beasiswa Anugerah Jurnalisme Warga 2018 appeared first on BaleBengong.

Karena Ikan Bukan untuk Dihabiskan, tapi Diwariskan

PT Bali Barramundi termasuk perusahaan perikanan yang menerapkan prinsip perikanan berkelanjutan. Foto Anton Muhajir.

Dengan sekuat tenaga, Hamdani melemparkan pakan ikan ke keramba.

Begitu pelet-pelet jatuh ke air, ikan-ikan pun langsung naik ke permukaan. Air berkecipak ketika ikan-ikan kakap yang siap dipanen itu saling berebut makanan pada Kamis, 10 Mei 2018 lalu.

Dibantu karyawan lain, Kepala Bagian Pembesaran di PT Bali Barramundi, itu kembali mengambil pelet dari karung, memindahkan ke ember, lalu melempar pelet-pelet itu lagi ke dalam keramba. Ikan-ikan kembali berebutan.

Keramba tempat Hamdani dan temannya memberi pakan petang itu adalah salah satu dari 29 keramba milik PT Bali Barramundi, perusahaan budi daya ikan di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Lokasinya di pantai utara Bali berjarak sekitar 40 km di utara Singaraja, ibu kota kabupaten di bagian utara Bali ini.

Selain bertugas memberi pakan, Hamdani juga mengawasi kesehatan ikan. Tiap hari, dia dan karyawan lain memeriksa ikan-ikan tersebut dengan cara menyelam. “Jika ada yang mati, ikan yang mati langsung diambil agar tidak menular ke ikan lainnya,” katanya.

Hamdani menambahkan, saat ini perusahaan tempat bekerjanya itu semakin memperhatikan aspek kesehatan ikan-ikan yang mereka budidayakan.

PT Bali Barramundi memulai usahanya sejak 2012 dengan empat keramba. Dalam enam tahun mereka sudah berkembang menjadi 29 keramba, dengan 18 keramba perawatan (nursery) dan 11 keramba untuk pembesaran (grow up). Mereka juga memiliki tempat pembenihan (hatchery) tak jauh dari lokasi tersebut.

Perusahaan budi daya ini memasok ikan kakap dan kerapu ke pasar domestik, seperti restoran dan hotel di Bali, maupun ekspor terutama ke Jepang, Australia, dan Amerika Serikat. Proporsinya kurang lebih sama: masing-masing 50 persen.

Tak semata bisnis, selama setahun terakhir, PT Bali Barramundi juga mulai memperhatikan aspek lain yaitu sosial dan lingkungan. Perubahan yang mereka lakukan, misalnya, dengan membuat tempat pengelolaan sisa ikan rucah di pantai.

“Sebelumnya, kami membuang sisa ikan rucah begitu saja ke laut karena sebenarnya memang tidak berbahaya juga untuk lingkungan laut,” kata Dharma Manggala, Manajer PT Bali Barramundi.

Ikan rucah adalah ikan jenis kecil-kecil yang biasanya jadi makan ikan yang dibudidayakan. Dari sebelumnya dibuang begitu saja ke laut, kini sisa ikan rucah itu dikelola ke semacam tangki pembuangan (septic tank) agar tidak langsung ke laut. “Karena standarnya memang mengatur demikian,” Dharma menambahkan.

Kampanye sustainable seafood WWF Indonesia di Bali pada Juli 2015. Foto Anton Muhajir.

Standar FAO

Standar yang dimaksud Dharma merupakan standar sesuai prinsip Seafood Savers, landasan antar-pelaku usaha (business-to-business) perikanan agar berkelanjutan. Seafood Savers mengacu pada standar Kode Perilaku Perikanan yang Bertanggungjawab (CCRC) dari Badan PBB untuk Pertanian dan pangan (FAO).

Standar ini diturunkan menjadi dua sertifikasi ekolabel. Marine Stewardship Council (MSC) untuk perikanan tangkap di laut lepas dan Aquaculture Stewardship Council (ASC) untuk perikanan budi daya.

WWF Indonesia menginisiasi program Seafood Savers sejak sembilan tahun lalu. Organisasi lingkungan ini bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan perikanan tangkap maupun budi daya agar mereka menerapkan prinsip-prinsip perikanan berkelanjutan sesuai standar FAO tadi. WWF Indonesia mendampingi agar mereka bisa mendapatkan sertifikat ASC maupun MSC.

Menurut Imam Musthofa, Pemimpin Program Bentang Sunda dan Perikanan WWF Indonesia, pada dasarnya standar MSC dan ASC itu menekankan pada pentingnya bisnis perikanan memerhatikan aspek lingkungan dan sosial. Untuk standar MSC, misalnya, ikan yang ditangkap harus memperhatikan ketercukupan di area penangkapan.

“Ikan yang masih kecil harus dibiarkan hidup,” kata Imam.

Contoh lain, lanjutnya, cara penangkapan tidak boleh berdampak buruk pada ekosistem, misalnya terumbu karang dan padang lamun. “Selain itu, harus ada tata kelola yang baik (good governance) dalam bisnis mereka, baik itu lewat masyarakat, pemerintah, ataupun komunitas,” ujar Imam.

Saat ini ada 17 perusahaan perikanan di Indonesia menjadi anggota Seafood Savers, terdiri dari sembilan perusahaan perikanan tangkap, enam perikanan budi daya dan dua pembeli (grosir dan ritel).

Pada 2017 – 2018, dua anggota Seafood Savers dari perikanan budi daya berhasil mendapatkan sertifikasi ekolabel perikanan berkelanjutan ASC. Mereka adalah tambak windu binaan PT Mustika Minanusa Aurora seluas 115 hektar di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara dan 18 tambak udang vanamei seluas 9 hektar binaan PT Tiwandi Sempana di Probolinggo, Jawa Timur.

Laut ini bukan warisan nenek moyang yang bisa kita apakan saja, tetapi alam yang harus kita wariskan pada anak cucu.

Membantu Usaha

Bagi perusahaan yang bergabung, program Seafood Savers membantu mereka untuk lebih mematuhi standar yang telah ditentukan. Begitu pula PT Bali Barramundi yang baru bergabung sejak tahun lalu.

Menurut Dharma, mereka pun segera melakukan beberapa perbaikan. Selain lebih memerhatikan kesehatan ikan dan pengelolaan sisa ikan runcah untuk pakan, mereka kini juga membuat toilet terapung sebagaimana disyaratkan.

“Biayanya lumayan, sampai Rp 200an juta, karena terbuat dari fiber agar bisa mengapung,” kata Dharma.

Dari sisi sosial, PT Bali Barramundi kini juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial di desa tempat mereka berada. Mereka membuat balai untuk kelompok nelayan, memperbaiki jalan desa, bahkan menyumbang untuk masjid di desa dengan jumlah penduduk muslim cukup banyak itu.

Dharma mengatakan kesediaan perusahaannya terlibat dalam program Seafood Savers pada awalnya memang karena permintaan konsumen. Namun, seiring waktu, dia mengaku jmakin menyadari bahwa bisnis memang seharusnya tak semata mencari untung tetapi juga memperhatikan lingkungan dan sosial.

“Kalau laut tercemar, kita juga yang salah dan rugi karena ikan bisa mati. Laut ini bukan warisan nenek moyang yang bisa kita apakan saja, tetapi alam yang harus kita wariskan pada anak cucu kita nanti,” katanya. [b]

Catatan: tulisan ini juga diterbitkan Mongabay Indonesia.

The post Karena Ikan Bukan untuk Dihabiskan, tapi Diwariskan appeared first on BaleBengong.

Kumbang 2017, Lebih Dekat dengan Konservasi Lingkungan

Kumbang adalah kegiatan Komunitas 60+ Earth Hour Denpasar untuk belajar lingkungan. Foto Herdian Armandhani.

Kumbang yang ini bukan si serangga terbang.

Kumpul belajar bareng (Kumbang) adalah kegiatan Komunitas 60+ Earth Hour Denpasar (EH). Tahun ini, Kumbang Komunitas EH Denpasar diadakan pada 8-9 Juli 2017 di D’Abode Villa Jalan Pengembak No 42, Sanur, Denpasar.

Kegiatan ini dihadiri 20 peserta yang terdiri dari pengurus dan para relawan Komunitas 60+ EH Denpasar. Acaranya diisi dengan berbagai materi yang berkaitan dengan Konservasi Lingkungan.

Sutan Tantowi Dermawan, Ketua Kegiatan acara Kumbang 2017, memaparkan materi tentang organisasi WWF dan kegiatan konservasi yang dilakukan selama ini. Materi yang dibawakan Sutan merupakan materi agenda Kumbang Nasional di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sutan juga menjelaskan creative campaign WWF dalam mengangkat isu-isu lingkungan yang hangat di masyarakat.

Koordinator EH Denpasar Andri Purba membawakan dua buah materi yakni Konservasi Spesies Hiu Paus beserta tantangannya dan Kampanye Beli yang Baik. Dalam materi tentang paus, Andri secara detail menjelaskan mengenai satwa hius paus (nama lokal gurano bintang) patut untuk dilindungi.

Hiu Paus dilindungi karena spesiesnya saat ini mulai terancam. Satwa yang sangat jinak dan bersahabat dengan manusia ternyata tidak memiliki taring seperti hiu pada umunya. Hiu paus mengambil makanan dengan cara membuka dan menutup mulutnya layaknya mesin penghisap.

Hanya saja karena tidak bisa membedakan antara sampah dan plankton maka cepat sekali satwa ini mati. Secara tidak langsung manusia membunuh satwa betotol ini karena sampah plastik yang dibuang dan mengalir begitu saja ke laut.

Secara tidak langsung manusia telah membunuh hiu paus karena sampah plastik yang dibuang mengalir begitu saja ke laut.

“Untuk itulah melalui kegiatan Kumbang 2017 ini kami mengajak teman-teman sekalian untuk mengedukasi masyarakat di lingkungannya masing-masing agar mengurangi sampah plastik yang secara tidak langsung mempengaruhi kepunahan hiu paus,” pungkasnya.

Sementara itu, untuk materi Kampanye Beli yang baik, Andri mengajak para pengurus dan relawan EH Denpasar untuk menjadi green consumer dengan cara membawa botol minuman (tumbler) ketika bepergian, menggunakan alat transportasi publik, beralih ke makanan yang cara pengolahannya tidak merusak lingkungan, menghemat pemakaian listrik, membawa tas belanja dari kain saat pergi belanja ke pasar tradisional atau Supermarket, dan masih banyak lagi.

Kegiatan Kumbang 2017 juga diisi dengan rapat evaluasi kegiatan EH yang telah berjalan dan akan dilakukan. Hal paling seru adalah kegiatan bermain di kolam renang yang diikuti oleh semua anggota Komunitas EH. Semua peserta nampak begitu gembira dan menikmati sesi games ini.

Teddy C Putra salah satu relawan EH mengaku kegiatan Kumbang 2017 sangat bermanfaat bagi para relawan. Peserta bisa lebih menambah wawasan mengenai konservasi lingkungan dan cara melakukan aksi nyata untuk mendukung pelestarian lingkungan.

“Sangat bermanfaat bagi saya dan lebih paham mengenai konservasi lingkungan dan aksi nyata dalam pelestariannya,” tuturnya. [b]

The post Kumbang 2017, Lebih Dekat dengan Konservasi Lingkungan appeared first on BaleBengong.

Switch Off 2017 Ajak Warga Bali Hemat Energi

Kampanye Switch Off untuk mengampanyekan hemat energi. Foto Herdian Armandhani.

Komunitas Earth Hour mengadakan kembali Kampanye Switch Off. 

Kegiatan tahunan ini dipusatkan di Lippo Mall Kuta Jalan Kartika Plaza, Kuta, Kabupaten Badung pada Sabtu (25/3) 2017. Switch Off merupakan kegiatan mematikan lampu selama satu jam.

Waktunya dari pukul 20.30 WITA hingga 21.30 WITA.

Kegiatan Swich Off serentak dilakukan di 35 Kota di Indonesia dan Kota-Kota lainnya di seluruh dunia. Kegiatan Switch off di Lippo Mall Kuta dihadiri ratusan masyarakat yang berdomisili di Denpasar dan Badung.

Tak ketinggalan berbagai Komunitas turut meramaikan kegiatan ini mulai dari Komunitas One Piece Dewata Bali, Komunitas Rotaract Club Bali Area, Komunitas Kawan Kita, Komunitas Receh Indonesia Regional Bali, Komunitas Leo Club Bali Shanti, Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara, WWF Bali, Marine Buddies Denpasar, Teman Edukasi, dan Komunitas Sobat Bumi.

Para tamu undangan beberapa jam sebelum perayaan Switch Off 2017 dihibur dengan aksi atraktif Marching Band Universitas Udayana, Tarian Tradisional dari Penari Ikatan Mahasiwa Sumatera Utara, Fire Dance, dan Zumba bertema Glow in the Dark.

Tamu undangan tampak begitu menikmati sajian hiburan yang dikemas dengan menarik. Turis asing pun banyak yang mengabadikan sajian hiburan pihak penyelenggara kegiatan Switch Off 2017 bahkan sampai berselfie ria.

Koordinator Earth Hour Kota Denpasar, Andri Purba dalam sambutannya mengatakan ucapan terimakasih kepada seluruh Masyarakat Bali dan Komunitas yang turut andil untuk melakukan kegiatan Switch Off 2017.

Kegiatan Switch Off 2017 bukan saja kegiatan mematikan kegiatan mematikan lampu selama satu jam saja tetapi bisa mengubah gaya hidup kita untuk hemat energi 1 jam setelahnya seperti menyalakan listrik seperlunya saja, tidak menggunakan air secara berlebihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan mengurangi penggunaan kantung plastik saat berbelanja.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakata Bali dan Komunitas yang turut andil datang dalam perayaan Switch Off 2017. Kegiatan ini tidak hanya mematikan lampu selama satu jam, namun bisa mengubah gaya hidup kita untuk hemat energi seperti menyalakan listrik seperlunya saja, tidak menggunakan air secara berlebihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan mengurangi penggunaan kantung plastik,” ungkapnya.

Sementara itu, Muhammad Erdi Lazuardi selaku Project Lead Leser Sunda WWF mengatakan bahwa satu jam mematikan lampu adalah simbol bijak menggunakan energi listrik, BBM , dan sumber energi lainnya. Satu jam tidak akan berarti bila tidak ada aksi. WWF turut serta ikut mendukung dalam gerakan Switch 0ff 2017. WWF memberikan ucapan terimakasih setinggi-tingginya bagi Masyarakat Bali di Bali dalam perayaan Hari Nyepi karena ikut andil besar dalam hemat energi.

Banyak saudara-saudara di luar Indonesia yang pasokan listriknya terbatas bahkan ada yang belum teraliri energi listrik.

“Mematikan lampu adalah simbol bijak menggunakan bijak energi, WWF sangat mendukung kegiatan Switch Off 2017, Kami ucapkan terimakasih unuk masyarakat Bali yang merayakan Nyepi karena Nyepi ikut andil dalam kegiatan hemat energi. Banyaka saudara kita di Indonesia yang krisis energi listrik bahkan ada yang belum teraliri listrik,” tuturnya

Erdi menambahkan bahwa kegiatan Switch Off 2017 adalah momentum masyarakat Indonesia khususnya di Bali untuk bisa bijaksana dalam penggunaan energi listrik.

Detik-detik jelang kegiatan Switch Off pihak panitia sudah membentuk kartus putih berbentuk 60+ di tengah panggung utama. Para tamu undangan diberikan lilin yang nantinya saat Switch Off akan dipasang di titik-titik gambar 60+ yang telah ditandai.

Saat MC menghitung mundur lampu di Mall Lippo Kuta serentak dimatikan. Undangan berduyun-duyun membentuk lingkaran besar dan meletakkan lilin simbol 60+. Ini Aksiku, Mana Aksimu? [b]

The post Switch Off 2017 Ajak Warga Bali Hemat Energi appeared first on BaleBengong.

Belajar dari Para Pejuang Lingkungan Papua

Membayangkannya saja aku sudah capek. Perjalanan para staf WWF Indonesia Program Papua ini benar-benar penuh perjuangan. Selain medan jauh dan menantang, transportasi juga susah. Aku bayangkan, misalnya, perjalanan Agus Wianimo yang sekarang menjadi Koordinator Program Hutan di wilayah Asmat. Dari Jayapura ke Asmat, dia harus naik pesawat ke Timika selama satu jam. Setelah menginap satu Continue Reading