Tag Archives: Wisata

Tempat Wisata Paling Hits di Sekitaran Cirebon Majalengka

Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa Provinsi Jawa Barat memang terkenal dengan keindahan destinasi wisatanya. Ya, salah satunya adalah di daerah Cirebon dan Majalengka, yang menyimpan banyak keindahan panorama alamnya. Ada berbagai moda transportasi umum yang bisa kita gunakan untuk menuju ke sana. Tapi, kebanyakan dari kita lebih memilih berangkat dengan menggunakan kereta api. Selain praktis dan efisien, harga tiketnya juga cukup bervariasi dan relative murah. Nah, bagi kalian yang hendak pesan tiket kereta secara online, silahkan kunjungi situs Misteraladin.com. Tanpa banyak panjang lebar lagi, inilah beberapa tempat wisata paling hits disekitaran Cirebon dan Majalengka :

  1. Goa Lalay

Goa Lalay ini lebih dikenal dengan nama Green Canyonnya Majalengka, dikarenakan keindahannya memang sangat mirip dengan Grand Canyon yang ada di Amerika. Selain dapat menikmati keindahan goa-nya, disini juga terdapat sebuah curug (air terjun) yang airnya begitu jernih dan menyegarkan. Tapi kalian harus berhati-hati, sebab jalanannya cukup licin serta terdapat jurang yang curam. Tentu saja Goa Lalay ini sangat cocok bagi kamu yang memiliki jiwa penakluk petualangan. Lantas, dimanakah lokasinya? Mengenai lokasinya, Goa Lalay ini bisa kamu jumpai di Desa Sukadana, Kec. Argapura, Kab. Majalengka.

  1. Puncak Gunung Ciremai

Masih di sekitar Majalengka, dimana Puncak Gunung Ciremai ini juga tidak kalah ngehits-nya dengan Goa Lalay. Akan tetapi, Puncak Gunung Ciremai ini juga masih termasuk kedalam kawasan Kuningan. Menurut informasi yang di dapat, Gunung Ciremai ini merupakan salah satu gunung yang tertinggi di Provinsi Jawa Barat lho. Ya, terang saja demikian, sebab ketinggian dari Gunung Ciremai ini mencapai 3078 meter diatas permukaan laut. Tempat wisata yang satu ini sangat direkomendasikan bagi kamu yang hobi mendaki atau camping. Disini juga kamu dapat menikmati keindahan panorama alamnya, sembari menikmati keindahan sunset dan sunrise dari atas puncaknya. Nah, bagi kalian yang ingin mengunjunginya, Puncak Gunung Ciremai ini berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Majalengka, Jawa Barat.

  1. Batu Lawang

Dari kawasan Majalengka, mari kita beralih ke kawasan Cirebon. Ya, Batu Lawang ini merupakan salah satu objek wisata paling populer di daerah Cirebon. Batu Lawang itu sendiri memiliki tinggi sekitar 30 hingga 100 meter, dengan ukuran lebar kurang lebih sekitar 200 meter. Tebing tersebut diselimuti oleh lumut hijau dan rimbunnya pepohonan, sehingga terciptalah sebuah pemandangan yang begitu memanjakan mata. Adapun mengenai berbagai kegiatan yang bisa kalian lakukan di Batu Lawang ini mulai dari berkemah, membuat api unggun, panjat tebing, dan lain sebagainya. saat perut mulai keroncongan, dikawasan Batu Lawang ini terdapat warung atau lesehan yang menjajakan makanan dan minuman. Mengenai lokasinya, Batu Lawang ini bisa kalian jumpai di Desa Cupang, Kec. Gempol, Kab. Cirebon, Jawa Barat.

  1. Gua Sunyaragi

Tempat wisata di sekitar Cirebon berikutnya yang jangan sampai kalian lewatkan, yakni bernama Gua Sunyaragi. Saat berada disini, maka kamu akan disuguhi oleh pemandangan menakjubkan yang berupa bangunan-bangunan kuno khas kerajaan. Bahkan, arsitektur bangunan yang ada di Gua Sunyaragi ini sangat kental dengan nuansa Bali lho. Mengenai lokasinya, Gua Sunyaragi ini berada di Kelurahan Sunyaragi, Kec. Kesambi, Cirebon, Jawa Barat.

Itulah beberapa tempat wisata paling ngehits yang ada disekitaran Cirebon dan Majalengka. Selamat berlibur dan selamat berakhir pekan.  

 

The post Tempat Wisata Paling Hits di Sekitaran Cirebon Majalengka appeared first on Devari.

Tips Pergi Berlibur Bersama Anak-Anak

Hasil gambar untuk jakarta aquarium

Liburan memang menjadi momen yang paling menyenangkan, baik untuk orang dewasa ataupun anak-anak. Tidak heran, liburan akan selalu hadir dalam wishlist yang harus terpenuhi. Karena, dengan berlibur akan memberikan banyak manfaat termasuk mendapatkan waktu yang berkualitas dengan keluarga.

Pergi liburan seringkali dijadikan cara oleh para orang tua untuk tetap menjaga komunikasi dan kedekatan dengan anggota keluarga lainnya. Namun, pergi berlibur dengan membawa anak-anak menjadi hal yang paling merepotkan untuk para orang tua.

Banyak sekali pertimbangan untuk merealisasikan liburan bersama dengan anak-anak dengan harapan semua berjalan lancar. Namun, ada saka kendala yang akan dihadapi oleh para orang tua saat bepergian membawa anak-anak.

Hal ini yang seringkali membuat orang tua mengurung niat untuk bisa pergi liburan dengan membawa anak-anak. Padahal, ada tips yang bisa diikuti lho untuk tetap bisa pergi bersama dengan anak-anak dan sedikit meminimalisir cranky dari anak saat liburan nanti.

Berikut ini tips pergi berlibur bersama anak-anak yang bisa kamu baca.

  • Bawa Bekal untuk Di Perjalanan

Penting sekali, selama perjalanan menuju tempat wisata, pastikan orang tua membawa bekal berupa makanan dan minuman untuk anak. Hal ini bisa membuat mereka merasa lebih santai selama di perjalanan tanpa khawatir mereka akan merasa lapar atau haus. Dengan begitu, anak tidak akan rewel selama di perjalanan.

  • Pertimbangkan Lokasi

Jalan-jalan membawa anak memang perlu untuk mempertimbangkan lokasi tempat wisata. Sebaiknya, hindari tempat wisata dengan rute yang jauh dan rawan terjadi macet. Karena, hal ini bisa membuat anak-anak merasa bosan dan menjadi rewel. Selain anak yang merasa tidak nyaman karena lamanya waktu di jalan, orang tua pun jadi kehilangan mood deh.

Mungkin kamu bisa menyiasatinya dengan pergi di sekitar lokasi tempat tinggal. Seperti pergi ke Aquarium Jakarta yang juga menjadi destinasi liburan keluarga. Letak Aquarium Neo Soho yang berada di tengah kota bisa memudahkan kamu untuk pergi berlibur tanpa perlu menempuh jarak yang jauh.

  • Bawa Mainan

Nah, senjata yang ampuh ini jangan sampai terlupakan. Saat anak mulai bosan dan rewel, mengeluarkan mainan kesukaannya bisa sedikit mengurangi rasa bosan mereka. Jadi, siapkan satu tas khusus untuk membawa keperluan yang dibutuhkan anak-anak.

Itu dia tips singkat yang bisa menjadi acuan agar liburan bersama dengan anak-anak tetap menyenangkan. Selamat berlibur!

The post Tips Pergi Berlibur Bersama Anak-Anak appeared first on Devari.

Wisata Berkelanjutan Terbukti Lebih Menguntungkan

Pohon-pohon di Griya Santrian Sanur tetap dibiarkan seperti sejak sebelum ada hotel. Foto Anton Muhajir.

“Ini gimana, kok masih pakai sedotan plastik?”

Begitu melihat sedotan plastik di segelas jus yang disajikan, Ida Bagus Sidharta Putra langsung memanggil stafnya kembali dan bertanya. “Ngawur sekali. Kita kan sudah ganti sama yang kertas,” ujar pemilik Hotel Griya Santrian, Sanur, Bali itu.

Stafnya segera mengambil dua jus di meja. Sekitar lima menit kemudian dia sudah menyajikan lagi dua gelas jus semangka itu dengan sedotan berbeda.

“Nah, ‘kan cantik kalau begini,” Gus De, panggilan akrabnya, begitu melihat jus di depannya.

Segelas jus semangka merah muda itu kini menggunakan pipet dari kertas berwarna putih biru. Gus De menyeruputnya lalu melanjutkan obrolan. “Problem kita memang konsistensi. Makanya perlu kepemimpinan yang kuat. Paling tidak di Bali ini,” ujarnya pertengahan Oktober lalu.

Gus De tak hanya pemilik Griya Santrian, salah satu hotel perintis di Sanur, Bali. Dia juga Ketua Yayasan Pembangunan Sanur (YPS). Yayasan ini yang menaungi para pelaku pariwisata di Sanur, termasuk Griya Santrian. Selain Griya Santrian, hotel lain dalam grup Santrian adalah Puri Santrian di Semawang dan Royal Santrian di Tanjung Benoa, Badung.

Sebagai pelaku usaha pariwisata, Gus De ingin menunjukkan bahwa pariwisata yang menerapkan konsep keberlanjutan baik dari sisi sosial, budaya, ataupun lingkungan justru lebih menguntungkan. Menggunakan pipet dari bahan ramah lingkungan seperti kertas dibandingkan plastik hanya salah satu contohnya.

Grup Santrian sudah membuktikan. Sejak berdiri 46 tahun lalu, hotel yang berada persis di pinggir Pantai Sanur ini mengedepankan aspek keberlanjutan, termasuk lingkungan. Begitu masuk kawasan hotel ini suasana terasa lebih lapang dan asri. Tidak layaknya hotel-hotel murah (budget hotel) yang makin memenuhi daerah lain di Bali.

“Kami menerapkan konsep dalam koefisien dasar bangunan (rasio bangunan dan tanah), 40 persen. Artinya hanya 40 persen untuk bangunan, 60 persen untuk pendukung,” kata Gus De. Pendukung itu, menurut Gus De, antara lain halaman, taman, kolam, dan lain-lain.

Di hotel terbaru mereka sekaligus yang paling mahal, Royal Santrian, bahkan perbandingan antara bangunan dengan sarana pendukung lebih besar lagi. Dengan luas lahan 3 hektar, jumlah kamar di Royal Santrian hanya 22. “Ini tentunya memberi ruang lebih banyak untuk lingkungan. Misalnya penyerapan air, tetapi juga faktor estetik,” ujarnya.

Suasana hotel terlihat lebih asri dengan pohon-pohon besar berumur puluhan tahun. Sebagian besar adalah pohon yang sudah ada bahkan sebelum hotel berdiri. Umumnya mereka jenis pohon pesisir seperti kelapa dan bakau (Calophyllum inophyllum L.) yang disebut camplung dalam bahasa Bali.

Pohon-pohon besar itu memang sengaja dijaga seperti sebelum ada hotel. Di beberapa bagian hotel, bangunan kamar bahkan mengikuti bentuk pohon. Bukan pohon yang ditebang, tetapi bangunan yang menyesuaikan.

Tiap pohon berisi papan berisi nama masing-masing, seperti kemoning (Murraya paniculata), kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), dan lain-lain. Tiap pohon juga berisi informasi dalam bahasa Inggris.

“Kami juga mengajak tamu untuk menanam pohon di hotel kami,” lanjutnya. Dia menunjukkan pohon di halaman berisi tulisan “Planted by Mr. Kristian French & Family. September 2016”.

Warga berlari pagi di Sanur, kawasan pariwisata yang relatif lebih terjaga lingkungannya dibandingkan daerah lain di Bali. Foto Anton Muhajir.

Pentingnya Zonasi

Sanur, yang terkenal dengan wisata pantai dan matahari terbitnya, termasuk perintis pariwisata di Bali. Sejak 1920-an, tempat ini menjadi tujuan pariwisata. Ketika sebagian besar tempat di Bali dipenuhi dengan hotel-hotel murah yang menjulang tinggi, Sanur relatif bisa menjaga.

Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Nyoman Sukma Arida mengatakan Sanur memang lebih berkelanjutan dibandingkan pusat pariwisata lain di Bali, misalnya, Kuta. Selain karena fokus pada pasar penikmat pariwisata matang (manula) juga karena kuatnya peran desa adat. “Sanur juga dikelola dengan prinsip small scale tourism,” kata doktor di bidang kajian ekowisata ini.

Pada umumnya, hotel di Sanur masih berupa pondokan (cottages) dan bungalo dengan bangunan-bangunan kecil dan terpisah. Mereka juga masih membiarkan halaman luas nan asri dengan pohon-pohon perindang.

Salah satu alasan masih relatif terjaganya Sanur ini adalah adanya Peraturan Wali Kota (Perwali) Denpasar nomor 6 tahun 2013 tentang Peraturan Zonasi Kawasan Strategis Sanur. Secara umum Perwali ini mengatur Sanur dalam tiga zona.

Zona satu berada paling dekat Pantai hingga Jalan Danau Tamblingan, yang bisa disebut sebagai jalan terdekat ke pantai. Sebagai zona inti, zona satu ini mengharuskan hotel yang dibangun maksimal tiga lantai. Salah satu alasannya karena dia berada paling timur di mana matahari terbit sehingga tidak akan menghalangi sinar matahari ke tempat lain di sisi baratnya.

Ukuran kamar di zona satu minimal 30 m persegi. Tiap 100 meter harus ada satu pohon. Karena itu tidak mungkin dijual murah dan jumlahnya massal. “Kita tidak bisa biarkan hotel murah di zona ini dan juga melarang bus besar masuk hotel kawasan ini agar tidak macet,” kata Gus De.

Zona dua di antara Jalan Danau Tamblingan hingga Jalan By Pass Ngurah Rai. Aturannya di zona ini lebih ringan. Misalnya dari bangunan bisa sampai lantai 4. Begitu pula di zona 3 yang umumnya adalah pemukiman.

Selain zonasi, hal penting lain untuk menjaga lingkungan Sanur adalah komitmen untuk menjaga lingkungan hidup, seperti mengelola sampah dan limbah. Karena komitmen itu pula maka Griya Santrian mendapatkan penghargaan Tri Hita Karana (THK) Award dari Yayasan Tri Hita Karana sejak 2000 silam.

Tri Hita Kirana merupakan konsep Bali dalam menjaga keseimbangan dengan tiga hal yaitu Tuhan (parahyangan), manusia (pawongan), dan alam (palemahan). Penghargaan tersebut diberikan tiap tahun oleh Yayasan THK kepada pelaku pariwisata Bali yang dianggap bisa menerapkan konsep THK dalam operasional mereka.

Gus De mengatakan secara tradisi, masyarakat Bali memang memiliki kearifan untuk menjaga lingkungan. Selain konsep THK, beberapa ritual pun bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam, seperti Tumpek Bubuh, perayaan untuk menghormati tumbuh-tumbuhan, dan Nyepi, kegiatan untuk memberikan Bumi rehat selama 24 jam.

Dengan keberhasilannya mempraktikkan pariwisata berkelanjutan, teramsuk menjaga lingkungan, hotel-hotel di Sanur pun justru mendapat keuntungan lebih besar. Dari sisi harga, mereka termasuk mahal. Griya Santrian, misalnya, harga paling murah per malam hampir Rp 2 juta. Royal Santrian bahkan sampai Rp 5,3 juta per malam.

Toh, meskipun harganya lebih mahal, tingkat huniannya relatif stabil, antara 70-80 persen.

Panduan Penerapan

Ketika Bali makin terjebak pada pariwisata massal, yang menekankan pada jumlah dibandingkan mutu turis, penting untuk mengingatkan lagi pentingnya Bali menerapkan pariwisata berkelanjutan. Organisasi non-pemerintah WWF yang selama ini fokus pada pelestarian alam pun memperhatikan hal tersebut.

Sejak 2015, WWF Indonesia meluncurkan platform Signing Blue sebagai panduan untuk praktik pariwisata berkelanjutan, terutama wista bahari. Tak hanya bagi pelaku bisnis tetapi juga turis itu sendiri. Pelaku usaha pariwisata bahari dalam dibedakan menjadi empat yaitu akomodasi, pelaksana jalan-jalan (trip organiser), restoran, dan kapal rekreasi.

Menurut Indarwati Aminuddin, Koordinator Nasional Pariwisata Berkelanjutan WWF Indonesia, Signing Blue diharapkan bisa menjawab sejumlah tantangan pariwisata baharai saat ini. Misalnya konflik lahan, eksploitasi lingkungan, dan marginalisasi warga lokal.

“Tanpa standardisasi pengelolaan pariwisata, kita tidak akan menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan,” kata Indarwati.

Indarwati menambahkan Signing Blue, bukanlah sertifikasi, tetapi dia memberikan penilaian sejauh mana pelaku usaha pariwisata telah menerapkan sejumlah kriteria dalam bisnisnya. Misalnya aspek sosial, ekonomi, ataupun lingkungan. Dalam aspek lingkungan, misalnya, bagaimana pelaku usaha itu memerhatikan jejak ekologis, pengelolaan sampah, dan lain-lain.

Kriteria itu kemudian diukur berdasarkan alat ukur sehingga nantinya pelaku usaha mendapatkan angka tertentu untuk menunjukkan sejauh mana mereka sudah menerapkan kriteria tersebut. Ada lima tingkat dalam penilaian Signing Blue yang disebut dengan Bintang Laut. Bintang laut 1 berarti pengelola usaha itu sudah berkomitmen. Bintang Laut 5 sudah menunjukkan secara nyata upaya konservasi, termasuk misalnya membuat cetak biru dalam kebijakan usahanya.

Saat ini, anggota Signing Blue di Bali baru tujuh perusahaan. Griya Santrian, yang memperoleh Bintang Laut 2, termasuk salah satu di antaranya. Selain itu ada pula The Haven Bali dan Sea Track yang sudah mendapatkan Bintang Laut Tiga bersama The Santa Villa Ubud.

Di seluruh Indonesia saat ini terdapat 104 perusahaan yang ikut Signing Blue. Mereka tersebar di 12 provinsi dengan jumlah paling banyak di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). “Tidak hanya menyatakan komitmen, mereka juga sudah menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan,” kata Indar.

Menurut Indar jika bisnis tidak dikelola dgn bijaksana, secara perlahan ataupun cepat, ekosistem dan sumber daya alam mengalami penurunan kualitas.

Indar menambahkan, dengan menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan, pelaku usaha pariwisata bisa memperoleh manfaat ekonomi. Karena proses berkelanjutan itu sendiri meningkatkan nilai jual pelaku pariwisata. “Saat ini mayoritas usaha pariwisata bergantung dari ekosistem yang sehat, dan di Indonesia, alam telah berbaik hati menyediakan semua yang dibutuhkan,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Gus De dan Sukma Arida. “Dengan menaikkan perhatian pada keberlanjutan, kita bisa dapat menaikkan tarif. Itu menaikkan nilai jual. Aspek lingkungan sangat berpengaruh pada nilai jual,” tegas Gus De.

Sukma menambahkan pariwisata berkelanjutan memberi keuntungan lebih besar dalam jangka panjang. “Dalam jangka pendek ia mungkin merugi, tetapi pariwisata berkelanjutan memberikan keuntungan non finansial jauh lebih besar karena meletakkan unsur lingkungan sebagai panduan,” ujarnya. [b]

The post Wisata Berkelanjutan Terbukti Lebih Menguntungkan appeared first on BaleBengong.

Butuh Kreativitas dalam Pengelolaan Dana Desa

Sumber: Dolanyok.com

Tidak jarang kita melihat balai banjar yang masih kuat dan kokoh dirubuhkan.

Tempat pertemuan warga di Bali itu kemudian dibangun kembali dengan bantuan dana desa, maupun bansos dari Pemerintah, Anggota DPR, dan lainnya. Padahal, secara fungsi, banjar tersebut mungkin sudah bisa memfasilitasi segala kegiatan adat yang sudah biasa dilakukan sejak dahulu.

Namun, tren ini menimbulkan satu pertanyaan: Kenapa bisa terjadi?

Mungkin ada pemikiran lain sehingga harus diratakan dengan tanah dan dibangun kembali dengan yang lebih megah. Misalnya karena banyak duit bantuan diterima banjar sehingga mereka pun membangun sesuatu yang sebenarnya sudah ada dan berfungsi dengan baik.

Dalam melakukan perencanaan penggunaan dana tersebut diperlukan pemikiran lebih bijak dan kreatif. Kepentingan jangka panjang sepertinya lebih penting untuk direncanakan dibandingkan sebatas membuat fasilitas umum yang lebih megah sedangkan secara fungsi fasilitas umum tersebut masih layak untuk digunakan.

Perencanaan dengan manfaat jangka panjang dan berkelanjutan untuk menghasilkan potensi ekonomi akan membuat banjar atau desa tersebut memiliki pemasukan keuangan yang tujuan akhirnya adalah meringankan beban masyarakat dalam berbagai aspek. Dalam konteks ini banjar ataupun desa seharusnya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya secara mandiri (tanpa bantuan pihak luar) dan berkesinambungan dalam jangka panjang.

Mari kita belajar dari Jawa Tengah. Berikut adalah dua contoh perencanaan dan pengelolaan yang menarik untuk kita pelajari yaitu di Desa Banjarrejo, Kabupaten Gerobogan dan Desa Ponggok, Kabupaten Klaten.

Sumber Kompas.

Perencanaan dan pengelolaan yang kreatif akan menimbulkan potensi ekonomi yang tidur. Keberanian untuk mengesampingkan kepentingan-kepentingan lain juga salah satu kunci keberhasilannya. Dua desa di jawa tengah tersebut diatas telah berhasil membuat destinasi wisata baru yang pada akhirnya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat desanya.

Desa Ponggok malah bisa membayarkan premi bulanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk seluruh warganya sehingga kesehatan warganya terjamin. Semoga masyarakat Bali bisa terinspirasi dan bertindak nyata dengan tulisan singkat ini. [b]

The post Butuh Kreativitas dalam Pengelolaan Dana Desa appeared first on BaleBengong.

Come to Lombok

Tidak ada yang menduga bahwa siang ini kami berkesempatan menikmati keindahan alam Lombok setelah semalam berjibaku dengan proses verifikasi bantuan rumah di Dusun Kebaloan Bawah, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Rasa capek dan penat seharian pun sirna di sela tawa canda kami sepanjang perjalanan. Lombok itu indah Kawan. Mirip sekali dengan kampung halaman […]