Tag Archives: Wisata

Wisata Berkelanjutan Terbukti Lebih Menguntungkan

Pohon-pohon di Griya Santrian Sanur tetap dibiarkan seperti sejak sebelum ada hotel. Foto Anton Muhajir.

“Ini gimana, kok masih pakai sedotan plastik?”

Begitu melihat sedotan plastik di segelas jus yang disajikan, Ida Bagus Sidharta Putra langsung memanggil stafnya kembali dan bertanya. “Ngawur sekali. Kita kan sudah ganti sama yang kertas,” ujar pemilik Hotel Griya Santrian, Sanur, Bali itu.

Stafnya segera mengambil dua jus di meja. Sekitar lima menit kemudian dia sudah menyajikan lagi dua gelas jus semangka itu dengan sedotan berbeda.

“Nah, ‘kan cantik kalau begini,” Gus De, panggilan akrabnya, begitu melihat jus di depannya.

Segelas jus semangka merah muda itu kini menggunakan pipet dari kertas berwarna putih biru. Gus De menyeruputnya lalu melanjutkan obrolan. “Problem kita memang konsistensi. Makanya perlu kepemimpinan yang kuat. Paling tidak di Bali ini,” ujarnya pertengahan Oktober lalu.

Gus De tak hanya pemilik Griya Santrian, salah satu hotel perintis di Sanur, Bali. Dia juga Ketua Yayasan Pembangunan Sanur (YPS). Yayasan ini yang menaungi para pelaku pariwisata di Sanur, termasuk Griya Santrian. Selain Griya Santrian, hotel lain dalam grup Santrian adalah Puri Santrian di Semawang dan Royal Santrian di Tanjung Benoa, Badung.

Sebagai pelaku usaha pariwisata, Gus De ingin menunjukkan bahwa pariwisata yang menerapkan konsep keberlanjutan baik dari sisi sosial, budaya, ataupun lingkungan justru lebih menguntungkan. Menggunakan pipet dari bahan ramah lingkungan seperti kertas dibandingkan plastik hanya salah satu contohnya.

Grup Santrian sudah membuktikan. Sejak berdiri 46 tahun lalu, hotel yang berada persis di pinggir Pantai Sanur ini mengedepankan aspek keberlanjutan, termasuk lingkungan. Begitu masuk kawasan hotel ini suasana terasa lebih lapang dan asri. Tidak layaknya hotel-hotel murah (budget hotel) yang makin memenuhi daerah lain di Bali.

“Kami menerapkan konsep dalam koefisien dasar bangunan (rasio bangunan dan tanah), 40 persen. Artinya hanya 40 persen untuk bangunan, 60 persen untuk pendukung,” kata Gus De. Pendukung itu, menurut Gus De, antara lain halaman, taman, kolam, dan lain-lain.

Di hotel terbaru mereka sekaligus yang paling mahal, Royal Santrian, bahkan perbandingan antara bangunan dengan sarana pendukung lebih besar lagi. Dengan luas lahan 3 hektar, jumlah kamar di Royal Santrian hanya 22. “Ini tentunya memberi ruang lebih banyak untuk lingkungan. Misalnya penyerapan air, tetapi juga faktor estetik,” ujarnya.

Suasana hotel terlihat lebih asri dengan pohon-pohon besar berumur puluhan tahun. Sebagian besar adalah pohon yang sudah ada bahkan sebelum hotel berdiri. Umumnya mereka jenis pohon pesisir seperti kelapa dan bakau (Calophyllum inophyllum L.) yang disebut camplung dalam bahasa Bali.

Pohon-pohon besar itu memang sengaja dijaga seperti sebelum ada hotel. Di beberapa bagian hotel, bangunan kamar bahkan mengikuti bentuk pohon. Bukan pohon yang ditebang, tetapi bangunan yang menyesuaikan.

Tiap pohon berisi papan berisi nama masing-masing, seperti kemoning (Murraya paniculata), kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), dan lain-lain. Tiap pohon juga berisi informasi dalam bahasa Inggris.

“Kami juga mengajak tamu untuk menanam pohon di hotel kami,” lanjutnya. Dia menunjukkan pohon di halaman berisi tulisan “Planted by Mr. Kristian French & Family. September 2016”.

Warga berlari pagi di Sanur, kawasan pariwisata yang relatif lebih terjaga lingkungannya dibandingkan daerah lain di Bali. Foto Anton Muhajir.

Pentingnya Zonasi

Sanur, yang terkenal dengan wisata pantai dan matahari terbitnya, termasuk perintis pariwisata di Bali. Sejak 1920-an, tempat ini menjadi tujuan pariwisata. Ketika sebagian besar tempat di Bali dipenuhi dengan hotel-hotel murah yang menjulang tinggi, Sanur relatif bisa menjaga.

Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Nyoman Sukma Arida mengatakan Sanur memang lebih berkelanjutan dibandingkan pusat pariwisata lain di Bali, misalnya, Kuta. Selain karena fokus pada pasar penikmat pariwisata matang (manula) juga karena kuatnya peran desa adat. “Sanur juga dikelola dengan prinsip small scale tourism,” kata doktor di bidang kajian ekowisata ini.

Pada umumnya, hotel di Sanur masih berupa pondokan (cottages) dan bungalo dengan bangunan-bangunan kecil dan terpisah. Mereka juga masih membiarkan halaman luas nan asri dengan pohon-pohon perindang.

Salah satu alasan masih relatif terjaganya Sanur ini adalah adanya Peraturan Wali Kota (Perwali) Denpasar nomor 6 tahun 2013 tentang Peraturan Zonasi Kawasan Strategis Sanur. Secara umum Perwali ini mengatur Sanur dalam tiga zona.

Zona satu berada paling dekat Pantai hingga Jalan Danau Tamblingan, yang bisa disebut sebagai jalan terdekat ke pantai. Sebagai zona inti, zona satu ini mengharuskan hotel yang dibangun maksimal tiga lantai. Salah satu alasannya karena dia berada paling timur di mana matahari terbit sehingga tidak akan menghalangi sinar matahari ke tempat lain di sisi baratnya.

Ukuran kamar di zona satu minimal 30 m persegi. Tiap 100 meter harus ada satu pohon. Karena itu tidak mungkin dijual murah dan jumlahnya massal. “Kita tidak bisa biarkan hotel murah di zona ini dan juga melarang bus besar masuk hotel kawasan ini agar tidak macet,” kata Gus De.

Zona dua di antara Jalan Danau Tamblingan hingga Jalan By Pass Ngurah Rai. Aturannya di zona ini lebih ringan. Misalnya dari bangunan bisa sampai lantai 4. Begitu pula di zona 3 yang umumnya adalah pemukiman.

Selain zonasi, hal penting lain untuk menjaga lingkungan Sanur adalah komitmen untuk menjaga lingkungan hidup, seperti mengelola sampah dan limbah. Karena komitmen itu pula maka Griya Santrian mendapatkan penghargaan Tri Hita Karana (THK) Award dari Yayasan Tri Hita Karana sejak 2000 silam.

Tri Hita Kirana merupakan konsep Bali dalam menjaga keseimbangan dengan tiga hal yaitu Tuhan (parahyangan), manusia (pawongan), dan alam (palemahan). Penghargaan tersebut diberikan tiap tahun oleh Yayasan THK kepada pelaku pariwisata Bali yang dianggap bisa menerapkan konsep THK dalam operasional mereka.

Gus De mengatakan secara tradisi, masyarakat Bali memang memiliki kearifan untuk menjaga lingkungan. Selain konsep THK, beberapa ritual pun bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam, seperti Tumpek Bubuh, perayaan untuk menghormati tumbuh-tumbuhan, dan Nyepi, kegiatan untuk memberikan Bumi rehat selama 24 jam.

Dengan keberhasilannya mempraktikkan pariwisata berkelanjutan, teramsuk menjaga lingkungan, hotel-hotel di Sanur pun justru mendapat keuntungan lebih besar. Dari sisi harga, mereka termasuk mahal. Griya Santrian, misalnya, harga paling murah per malam hampir Rp 2 juta. Royal Santrian bahkan sampai Rp 5,3 juta per malam.

Toh, meskipun harganya lebih mahal, tingkat huniannya relatif stabil, antara 70-80 persen.

Panduan Penerapan

Ketika Bali makin terjebak pada pariwisata massal, yang menekankan pada jumlah dibandingkan mutu turis, penting untuk mengingatkan lagi pentingnya Bali menerapkan pariwisata berkelanjutan. Organisasi non-pemerintah WWF yang selama ini fokus pada pelestarian alam pun memperhatikan hal tersebut.

Sejak 2015, WWF Indonesia meluncurkan platform Signing Blue sebagai panduan untuk praktik pariwisata berkelanjutan, terutama wista bahari. Tak hanya bagi pelaku bisnis tetapi juga turis itu sendiri. Pelaku usaha pariwisata bahari dalam dibedakan menjadi empat yaitu akomodasi, pelaksana jalan-jalan (trip organiser), restoran, dan kapal rekreasi.

Menurut Indarwati Aminuddin, Koordinator Nasional Pariwisata Berkelanjutan WWF Indonesia, Signing Blue diharapkan bisa menjawab sejumlah tantangan pariwisata baharai saat ini. Misalnya konflik lahan, eksploitasi lingkungan, dan marginalisasi warga lokal.

“Tanpa standardisasi pengelolaan pariwisata, kita tidak akan menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan,” kata Indarwati.

Indarwati menambahkan Signing Blue, bukanlah sertifikasi, tetapi dia memberikan penilaian sejauh mana pelaku usaha pariwisata telah menerapkan sejumlah kriteria dalam bisnisnya. Misalnya aspek sosial, ekonomi, ataupun lingkungan. Dalam aspek lingkungan, misalnya, bagaimana pelaku usaha itu memerhatikan jejak ekologis, pengelolaan sampah, dan lain-lain.

Kriteria itu kemudian diukur berdasarkan alat ukur sehingga nantinya pelaku usaha mendapatkan angka tertentu untuk menunjukkan sejauh mana mereka sudah menerapkan kriteria tersebut. Ada lima tingkat dalam penilaian Signing Blue yang disebut dengan Bintang Laut. Bintang laut 1 berarti pengelola usaha itu sudah berkomitmen. Bintang Laut 5 sudah menunjukkan secara nyata upaya konservasi, termasuk misalnya membuat cetak biru dalam kebijakan usahanya.

Saat ini, anggota Signing Blue di Bali baru tujuh perusahaan. Griya Santrian, yang memperoleh Bintang Laut 2, termasuk salah satu di antaranya. Selain itu ada pula The Haven Bali dan Sea Track yang sudah mendapatkan Bintang Laut Tiga bersama The Santa Villa Ubud.

Di seluruh Indonesia saat ini terdapat 104 perusahaan yang ikut Signing Blue. Mereka tersebar di 12 provinsi dengan jumlah paling banyak di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). “Tidak hanya menyatakan komitmen, mereka juga sudah menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan,” kata Indar.

Menurut Indar jika bisnis tidak dikelola dgn bijaksana, secara perlahan ataupun cepat, ekosistem dan sumber daya alam mengalami penurunan kualitas.

Indar menambahkan, dengan menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan, pelaku usaha pariwisata bisa memperoleh manfaat ekonomi. Karena proses berkelanjutan itu sendiri meningkatkan nilai jual pelaku pariwisata. “Saat ini mayoritas usaha pariwisata bergantung dari ekosistem yang sehat, dan di Indonesia, alam telah berbaik hati menyediakan semua yang dibutuhkan,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Gus De dan Sukma Arida. “Dengan menaikkan perhatian pada keberlanjutan, kita bisa dapat menaikkan tarif. Itu menaikkan nilai jual. Aspek lingkungan sangat berpengaruh pada nilai jual,” tegas Gus De.

Sukma menambahkan pariwisata berkelanjutan memberi keuntungan lebih besar dalam jangka panjang. “Dalam jangka pendek ia mungkin merugi, tetapi pariwisata berkelanjutan memberikan keuntungan non finansial jauh lebih besar karena meletakkan unsur lingkungan sebagai panduan,” ujarnya. [b]

The post Wisata Berkelanjutan Terbukti Lebih Menguntungkan appeared first on BaleBengong.

Butuh Kreativitas dalam Pengelolaan Dana Desa

Sumber: Dolanyok.com

Tidak jarang kita melihat balai banjar yang masih kuat dan kokoh dirubuhkan.

Tempat pertemuan warga di Bali itu kemudian dibangun kembali dengan bantuan dana desa, maupun bansos dari Pemerintah, Anggota DPR, dan lainnya. Padahal, secara fungsi, banjar tersebut mungkin sudah bisa memfasilitasi segala kegiatan adat yang sudah biasa dilakukan sejak dahulu.

Namun, tren ini menimbulkan satu pertanyaan: Kenapa bisa terjadi?

Mungkin ada pemikiran lain sehingga harus diratakan dengan tanah dan dibangun kembali dengan yang lebih megah. Misalnya karena banyak duit bantuan diterima banjar sehingga mereka pun membangun sesuatu yang sebenarnya sudah ada dan berfungsi dengan baik.

Dalam melakukan perencanaan penggunaan dana tersebut diperlukan pemikiran lebih bijak dan kreatif. Kepentingan jangka panjang sepertinya lebih penting untuk direncanakan dibandingkan sebatas membuat fasilitas umum yang lebih megah sedangkan secara fungsi fasilitas umum tersebut masih layak untuk digunakan.

Perencanaan dengan manfaat jangka panjang dan berkelanjutan untuk menghasilkan potensi ekonomi akan membuat banjar atau desa tersebut memiliki pemasukan keuangan yang tujuan akhirnya adalah meringankan beban masyarakat dalam berbagai aspek. Dalam konteks ini banjar ataupun desa seharusnya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya secara mandiri (tanpa bantuan pihak luar) dan berkesinambungan dalam jangka panjang.

Mari kita belajar dari Jawa Tengah. Berikut adalah dua contoh perencanaan dan pengelolaan yang menarik untuk kita pelajari yaitu di Desa Banjarrejo, Kabupaten Gerobogan dan Desa Ponggok, Kabupaten Klaten.

Sumber Kompas.

Perencanaan dan pengelolaan yang kreatif akan menimbulkan potensi ekonomi yang tidur. Keberanian untuk mengesampingkan kepentingan-kepentingan lain juga salah satu kunci keberhasilannya. Dua desa di jawa tengah tersebut diatas telah berhasil membuat destinasi wisata baru yang pada akhirnya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat desanya.

Desa Ponggok malah bisa membayarkan premi bulanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk seluruh warganya sehingga kesehatan warganya terjamin. Semoga masyarakat Bali bisa terinspirasi dan bertindak nyata dengan tulisan singkat ini. [b]

The post Butuh Kreativitas dalam Pengelolaan Dana Desa appeared first on BaleBengong.

Come to Lombok

Tidak ada yang menduga bahwa siang ini kami berkesempatan menikmati keindahan alam Lombok setelah semalam berjibaku dengan proses verifikasi bantuan rumah di Dusun Kebaloan Bawah, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Rasa capek dan penat seharian pun sirna di sela tawa canda kami sepanjang perjalanan. Lombok itu indah Kawan. Mirip sekali dengan kampung halaman […]

Di Bukit Asah, Berkemah jadi Begitu Mudah dan Indah

Berkemah di Bukit Asah bisa mendapatkan pemandangan laut biru di bagian timur Bali. Foto Ahmad Muzakky.

Tenda, kursi, bahkan makanan pun sudah tersedia.

Matahari mulai beranjak menuju ufuk barat seiring dengan semburat oranye yang mulai muncul di langit. Gemuruh ombak menghantam batu karang bersahutan dengan riuh wisatawan yang mulai berdatangan.

“Sebelah sini, biar kelihatan pulau kecil yang di seberang itu,” seru Ella, salah satu wisatawan memberi instruksi kepada Anis, temannya untuk berfoto. Kedua mahasiswi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) asal Karangasem itu mengunjungi Bukit Asah bersama tiga temannya.

Bukit Asah terletak di Desa Bugbug, Karangasem. Berjarak sekitar 60 km dari pusat kota Denpasar. Jika berangkat dari Denpasar menggunakan kendaraan bermotor akan memakan waktu kurang lebih sekitar 1,5 jam. Lokasi Bukit Asah dekat dengan jalan utama Karangasem sehingga akan mudah ditemukan wisatawan.

“Sebenarnya kami sudah beberapa kali ke sini, kebetulan kami ke sini lagi karena ada teman yang minta diantarkan,” ujar Anis. “Jadilah kita guide lokalnya mereka,” sahut Ella menimpali sembari menunjuk ketiga temannya. Mereka lantas tertawa bersama.

Menjelang sore hari, wisatawan mulai memadati setiap sudut Bukit Asah. Kegiatan mereka bermacam-macam. Ada yang memburu sunset seperti Ella dan keempat temannya, memancing ikan, berkencan menikmati pemandangan dengan pasangan, hingga berkemah.

Api Unggun Gratis

Di sudut lain yang berbeda dengan Ella beberapa wisatawan yang akan berkemah terlihat asyik bercengkrama. Mereka duduk di deretan kursi di depan tenda. Sembari menikmati suasana senja mereka mengobrol tentang apa saja. Barangkali soal pekerjaan hingga masalah cinta. Tak lupa mereka memakan dan meminum bekal yang sudah dibawa di atas meja.

Kemah bawa kursi dan meja? Kok bisa? Bagaimana caranya?

Kursi dan meja yang digunakan bukanlah milik wisatawan. Ia adalah salah dua fasilitas yang disediakan Taman Harmoni Bali. Taman Harmoni Bali adalah penyedia wisata kemah manja atau lebih akrab disebut dengan glamour camping (glamping) di bukit Asah. Di dunia travelling, glamping menjadi tren saat ini, tak terkecuali di Bali.

Tak hanya itu, di lokasi perkemahan Taman Harmoni Bali juga menyediakan tenda, matras, bantal, serta hal-hal lainnya yang dibutuhkan saat perkemahan. Lapar? Tak jadi masalah. Taman Harmoni Bali juga menyediakan beberapa fasilitas umum seperti dapur umum, toilet, hingga pos keamaan bagi wisatawan.

Jadi wisatawan tidak perlu repot-repot membawa perlengkapan perkemahan ke lokasi. Mereka hanya tinggal duduk manis menikmati fasilitas-fasilitas ini.

Suasana berkemah kurang asyik tanpa api unggun? Tak perlu khawatir. Taman Harmoni Bali memberikan kayu bakar untuk api unggun, gratis bagi penyewa tenda sedang maupun VIP.

Sore beranjak pulang digantikan malam. Wisatawan-wisatawan tadi bersiap menyalakan api unggun sembari tetap melanjutkan berbincang. Denting gitar terdengar mengalun menemani obrolan melewati malam yang panjang.

Pengunjung bersantai menikmati pemandangan di Bukit Asah. Foto Ahmad Muzakky.

Dikelola Desa

Sudah sejak tahun 2000-an, bukit Asah menjadi lokasi perkemahan. “Namun saat itu hanya ada satu atau dua orang saja wisatawan yang berkemah di sini,” ujar Komang Purna atau yang lebih akrab disapa dengan Bagoes, bagian marketing Taman Harmoni Bali.

Pada tahun 2016 Desa Bugbug melalui Badan Pengembangan Pariwisata Desa Adat Bugbug (BP2DAB) yang diprakarsai anak-anak muda memulai proyek pengembangan wisata Bukit Asah dan Pantai Bias Putih, atau yang lebih populer dengan nama Pantai Virgin. Pantai Virgin tentu tidak kalah mempesonanya dengan Bukit Asah.

“Akses menuju ke lokasi wisata Bukit asah dan Pantai Virgin jadi lebih mudah. Dulunya hanya jalan setapak, kini bisa dilewati mobil,” kenang Komang Purna.

Bersamaan dengan itu BP2DAB membentuk Taman Harmoni Bali yang bertugas mengelola wisata perkemahan bukit Asah.

“Dinamakan Taman Harmoni Bali karena dalam pengelolaannya kami mengedepankan keharmonisan. Hal tersebut sejalan dengan falsafah Tri Hita Karana yang kami pegang, yakni keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam,” jelas Komang Purna.

April 2017 wisata perkemahan di Bukit Asah mulai dibuka.

Kini di bumi perkemahan bukit Asah, Taman Harmoni Bali menyediakan 40 tenda berukuran sedang dan 18 tenda VIP. Tenda berukuran sedang kapasitas tampung hingga 4 orang. Sementara tenda VIP daya tampungnya hingga 6 orang.

Harga sewa tenda berukuran sedang adalah Rp 150.000 per-malam, Tenda VIP disewakan dengan harga Rp 300.000 permalam dengan tambahan charge untuk orang kelima dan keenam. Tenda sedang dan VIP tentu memiliki fasilitas berbeda.

Tenda-tenda tersebut sudah berdiri di lokasi perkemahan. Sehingga wisatawan tidak perlu repot-repot memasangya. Mereka hanya tinggal memilih tenda mana yang akan digunakan untuk bermalam.

Memanfaatkan Sosial Media

Dalam mempromosikan potensi pariwisata Desa Bugbug, Taman Harmoni Bali betul-betul memanfaatkan sosial media. Taman Harmoni Bali membuat akun sosial media Instagram, Facebook, hingga website.

Hingga pekan lalu, salah satu postingan Facebook Taman Harmoni Bali yang berisikan promosi glamping dibagikan hingga 4.900 kali dan dikomentari 4.400 kali.

“Melalui sosial media juga membantu kami dalam memasarkan, kan sekarang lagi tren jalan-jalan di kalangan anak-anak muda,” tutur Komang Purna.

Menurut Komang Purna, wisatawan yang berkemah di sini sebagian besar adalah anak-anak muda. Ada juga sebagian yang sudah berkeluarga yang sedang berlibur akhir pekan.

Jika merencanakan berkemah di Bukit Asah, wisatawan bisa membooking tenda jauh-jauh hari melalui akun WhatsApp Taman Harmoni Bali untuk mengantisipasi penuhnya pemesanan. “Terutama untuk hari Sabtu dan Mingggu. Soalnya hampir selalu penuh,” jelas Komang Purna.

Berkemah di Bukit Asah bisa menjadi pilihan tepat untuk menyegarkan pikiran dari rutinitas harian. Pemandangan Bukit Asah adalah pemandangan yang menghipnotis setiap mata yang memandangnya. Ia adalah komposisi sempurna dari rindangnya pepohonan, birunya air laut, dan tingginya tebing-tebing yang mengelilingi. [b]

Catatan: Tulisan ini dimuat pertama kali di Mongabay Indonesia.

The post Di Bukit Asah, Berkemah jadi Begitu Mudah dan Indah appeared first on BaleBengong.

Guliang Kangin Mengubah Pola Pikir tentang Pariwisata

Bendesa Adat Guliang Kangin, Ngakan Putu Suarsana, menceritakan terbangunnya Desa Wisata Guliang Kangin saat menerima kunjungan mahasiswa Program Studi Arsitektur Pertamanan, Fakultas Pertanian Unud, Sabtu, (26/5).

Pada awalnya, ide I Ketut Sediyasa ditolak masyarakat.

Pada 2012 lalu, I Ketut Sediayasa mempunyai ide untuk mengembangkan tempat kelahirannya, Desa Adat Guliang Kangin, Desa Tamanbali, Bangli menjadi destinasi wisata. I Ketut Sediayasa menyampaikan ide itu pada forum adat.

Miris, idenya ditolak oleh masyarakat.

Meski ditolak, ide I Ketut Sediayasa disambut baik oleh beberapa tokoh masyarakat. Mereka menyadari ide yang ditawarkannya itu bukan tanpa alasan. Berbekal pengalaman dibidang travel agent, Sediayasa telah mengunjungi berbagai daerah yang berkembang menjadi destinasi wisata.

Dampak yang dilihatnya, daerah-daerah tersebut mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Atas dasar inilah I Ketut Sediayasa berkeinginan untuk mengembangkan tanah kelahirannya menjadi salah satu destinasi wisata di Pulau Dewata.

“Kebetulan beliau sering mengantarkan tamu. Kesimpulan yang beliau dapat, di manapun daerah berkembang menjadi daerah pariwisata, beliau melihat ada perkembangan ekonomi yang lumayan bagus,” kata Bendesa Adat Guliang Kangin, Ngakan Putu Suarsana.

Ngakan mengisahkan perjalanan terbentuknya Desa Wisata Guliang Kangin ketika menerima kunjungan mahasiswa Program Studi Arsitektur Pertamanan, Fakultas Pertanian Unud, Sabtu, (26/5).

Suarsana menilai wajar apabila masyarakat pada awalnya menolak adanya gagasan membangun desa wisata itu. Secara umum masyarakat memang belum pernah melihat wisatawan berkunjung ke Desa Adat Guliang Kangin, terlebih berinteraksi secara langsung dengan mereka. Ia menilai hal inilah yang menyebabkan ide membangun desa wisata itu sempat ditolak oleh masyarakat.

“Mereka pesimis itu bisa dilakukan,” kisah Suarsana.

Sikap pesimis masyarakat ini juga didasari dari keberadaan Desa Adat Guliang Kangin yang lokasinya berada di daerah pinggiran. Letaknya berbatasan langsung dengan Kabupaten Gianyar di sebelah selatan dan Kabupaten Klungkung di sebelah timur sehingga tidak dilalui oleh jalan raya.

Mengubah ‘Mindset’

Guna menampung ide dari I Ketut Sediayasa, para tokoh masyarakat melakukan berbagai upaya. Harapannya, ide itu dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Selama kurung waktu enam bulan, masyarakat selalu diajak untuk berdiskusi mengenai pariwisata.

Diskusi itu dilakukan diberbagai kegiatan seperti paruman adat, diskusi kelompok maupun diskusi kecil, sampai pada diskusi melalui jalur perorangan. Diskusi itu menitikberatkan pada kelebihan, kekurangan dan permasalahan yang dihadapi dalam mengembangkan desa wisata.

“Akhirnya sekitar bulan September (2012) kita sepakat bahwa mengambil peran dalam dunia pariwisata atau menjadi destinasi pariwisata,” terang Suarsana.

Suarsana menceritakan dalam upaya mengubah pola pikir masyarakat mengenai pariwisata memang tidak mudah. Berbagai upaya dikerahkan untuk melakukan proses tersebut. Bagi Suarsana, forum-forum adat memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan tersebut kepada masyarakat.

Desa Adat Guliang Kangin memiliki jadwal paruman adat setiap sebulan sekali. Paruman adat ini biasanya dipakai untuk melaksanakan berbagai pembahasan mengenai adat. Lewat kesempatan itu Suarsana dan tokoh masyarakat lain selalu menyelipkan pembahasan materi mengenai pariwisata dan desa wisata. Selain itu, inisiator dalam hal ini I Ketut Sediayasa selalu diundang dalam forum adat untuk memparkan ide-ide mengenai desa wisata tersebut.

Pada paruman adat biasanya hanya dihadiri oleh laki-laki. Meski demikian Suarsana dan para tokoh masyarakat tidak kehabisan ide. Demi edukasi  sampai kepada para perempuan, mereka melakukannya melalui forum Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

“Sebelum odalan ada pesangkepan (rapat, red) istri namanya, di sana juga kita susupi materi ini setengah jam,” tutur Suarsana.

Tidak hanya itu, untuk mengedukasi kalangan generasi muda, Suarsana melakukannya lewat forum rapat Seka Teruna-Teruni dan pasraman remaja. Sedangkan untuk anak-anak diedukasi melalui pasraman anak-anak. “Nah untuk anak-anak selain kita masuk dari situ, kita juga masuk melalui sekolah,” tuturnya.

Melalui jalan ini, menurut Suarsana telah terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan desa wisata yang sudah sampai 80 persen. Dicontohkan Suarsana, masyarakat selalu aktif dalam kegiatan wisata seperti ada penjemputan tamu di Pelabuhan Benoa, pelibatan dalam berbagai atraksi dan berbagai hal lainnya.

“Kalau ada wisatawan yang mengambil paket dari penjemputan di Benoa, kita bisa kerahkan masyarakat sampai 60 orang. Dari penari, tukang gambel dan sebagainya,” terang Suarsana.

Meski demikian, Suarsana juga tidak menampik masih ada masyarakat yang belum bisa disentuh dengan edukasi yang demikian.

Lebih lanjut Suarsana menilai, meski masih ada masyarakat yang belum berpartisipasi dalam kegiatan desa wisata dirinya tetap bersyukur. Ia berkaca dari daerah lain yang masyarakatnya enggan berpartisipasi biasanya mengganggu aktivitas wisata. Kejadian semacam ini, menurut Suarsana, tidak terjadi di Desa Wisata Guliang Kangin.

Fokus pada Atraksi

Meski telah disetujui oleh masyarakat untuk terjun ke dunia pariwisata, nyatanya tidak mudah bagi Desa Adat Guliang Kangin untuk mengembangkan diri.

Pada tahap awal, mereka belum menemukan hal unik yang harus ‘dijual’. Kawasan Desa Adat Guliang Kangin tidak memiliki sebuah view yang bagus dan unik, pun sesuatu yang menantang untuk ditawarkan kepada wisatawan. Mereka bercermin pada desa wisata lain seperti Penglipuran yang mempunyai ciri khasnya yang memikat.

Namun, di tangan I Ketut Sediayasa, hal semacam ini dapat diselesaikan. Seperti yang diceritakan Suarsana, Sediayasa mengonsepkan pengembangkan wisata Desa Adat Guliang Kangin bertumpu pada aktivitas atau atraksi. Kegiatan metekap, masak, yoga, dan kini sudah bertambah dengan melukat menjadi atraksi andalan yang ditawarkan Desa Adat Guliang Kangin.

“Yang paling laris itu (atraksi) masak. Wisatawan, terutama Eropa, suka sekali kegiatan memasak seperti membuat klepon. lawar dan lain sebagainya,” tambah Suarsana.

“Terbangunnya desa wisata Guliang Kangin memang muncul dari masyarakat dan hampir tidak ada inisiasi dari pemerintah. Oleh karena itu, kami sering disebut sebagai community based tourism,” tuturnya lagi.

Diakui Pemerintah

Bukan hanya itu, kendala berikutnya dalam pengembangan desa wisata yakni masyarakat kebingungan ketika sudah terdapat wisatawan yang berkunjung. Dilihat oleh Suarsana, hal itu dikarenakan masyarakat belum mengerti mengenai standar operasional prosedur (SOP) atau tata cara menerima wisatawan dengan baik. Ditambah lagi masyarakat masih banyak yang belum fasih dalam berbahasa asing serta belum mengetahui mengenai adanya Sapta Pesona dalam pariwisata.

“Atas dasar inilah kita mulai menghubungi Dinas Pariwisata (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli, red) agar mendapat pembinaaan. Kita juga melakukan kursus bahasa Inggris dengan modal sendiri,” kata Suarsana.

Melalui jalan itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli membina Desa Adat Guliang Kangin dalam pengembangan kelompok sadar wisata (pokdarwis). Atas dasar ini pula Desa Adat Guliang Kangin pada akhirnya ditetapkan menjadi desa wisata berdasarkan SK Bupati Bangli. [b]

The post Guliang Kangin Mengubah Pola Pikir tentang Pariwisata appeared first on BaleBengong.