Tag Archives: Wisata

Indahnya Cahaya di Nusa Dua Light Festival

Nusa Dua Light Festival bisa menjadi pilihan selama liburan hingga Juli nanti. Foto Herdian Armandhani.

Nusa Dua Light Festival bisa jadi destinasi wisata baru.

Festival cahaya di Nusa Dua ini bisa menjadi alternatif lokasi libur Lebaran di Bali bersama keluarga, rekan kerja, maupun sahabat. Lokasinya di Kawasan BTDC, Peninsula Island, Nusa Dua, Kabupaten Badung.

Mengangkat tema “ The Shine of Peninsula Island”, festival menawarkan taman cahaya yang menawarkan keindahan lampu-lampu dengan beraneka warna dan bentuk memukau. Di sini kita akan menemukan ornamen gapura dari negara lain seperti India dan China, adang bunga yang begitu luas, naga, romantic garden dan masih banyak lagi.

Nusa Dua Light Festival hadir menemani masyarakat Bali dari 17 Juni hingga 31 Juli. Waktu yang tepat untuk mengunjungi Nusa Dua Light Festival adalah saat matahari akan terbenam.

Harga tiket masuk untuk warga lokal sangat terjangkau. Pada Senin hingga Kamis dikenakan Rp 20.000. Hari Jumat dan Sabtu harga tiket menjadi Rp 30.000. Hari libur dikenakan biaya Rp 30.000. Adapun wisatawan mancanegara harga tiket Senin hingga Kamis dikenakan Rp 75.000. Hari Jumat, Sabtu, dan hari Libur dikenakan biaya tiket Rp 100.000 saja.

Festival buka dari pukul 17.00 sampai 22.00 WITA. Pengunjung yang ingin ke Nusa Dua Light Festival bisa memarkir kendaraannya di sebelah timur Peninsula Island. Ada baikknya menggunkan kendaraan roda dua untuk berkunjung ke lokasi.

Warna-warni Nusa Dua Light Festival cocok untuk tempat selfie. Herdian Armandhani.

Pengunjung yang berada di Lokasi juga disediakan stand-stand food court yang siap melayani dengan ramah. Lokasi festival sangat cocok untuk berswafoto. Namun, perlu diingat gunakan kamera yang pencahayaannya cukup bagus sebab bila tidak gambar yang dihasilkan akan sedikit gelap.

Pengunjung dilarang menyentuh maupun memegang lampu-lampu demi kenyamanan dan keamanan bersama.

Ngurah Sudarsana salah seorang pelajar yang berkunjung ke Nusa Dua Light Festival mengatakan bahwa even Nusa Dua Light Festival sangat menakjubkan dan sayang untuk tidak berkunjung kesana.

“Keren banget lampu-lampu di lokasi Nusa Dua Light Festival, gak rugi jauh-jauh datang kesini. Banyak spot untuk mengabadikan momen disini yang begitu indah,” ungkapnya. [b]

The post Indahnya Cahaya di Nusa Dua Light Festival appeared first on BaleBengong.

Bali Turut Meriahkan Festival Pariwisata di Perancis

Tari Penyembrama meriahkan pembukaan Festival Pariwisata Internasional di Perancis. Foto Darma Putra.

Bali hadir di festival pariwisata melalui tari dan presentasi.

Tari Panyembrama memeriahkan pembukaan ”Festival International du Tourisme” (Festival Pariwisata Internasional) di kota Angers, Perancis pada Jumat (16/6).Selain tarian Bali, juga ditampilkan tari Jawa, keduanya menambah suasana Indonesia dari Festival Pariwisata Internasional.

Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Perancis, Letjen (Pur) Hotmangaradja M.P. Pandjaitan, membuka festival yang dihadiri sekitar 300 orang dari pemerintah setempat, pengusaha biro perjalanan, dan peserta seminar. Pembukaan di Mercure Hotel Angers, dimeriahkan dengan bursa wisata yang diikuti biro perjalanan setempat yang menjual tur ke berbagai negara seperti Afrika, Amerika, dan tentu saja Indonesia.

Kesenian Indonesia disajikan oleh kelompok penari Asosiasi Pantcha Indra yang berkedudukan di Perancis. Selain tampil dalam pemeran pariwisata internasional, mereka juga tampil dalam jamuan makan malam semalam sebelumnya di David Galeries Angers, di mana ditampilkan tari topeng dan jaipongan.

Festival Pariwisata Internasional di Perancis mempromosikan kesenian lain dari Indonesia. Foto Darma Putra.

 

Kedubes Dukung Festival

Kedubes Indonesia di Perancis menjadi undangan utama dalam mendukung acara tersebut. Kota Angers secara rutin mengadakan festival internasional setiap tahun tetapi kali ini tema yang diambil adalah ‘Pariwisata’. Tema ini baru pertama kali diangkat, sebelumnya tema yang diambil berbeda-beda.

Menurut dosen pariwisata dan hospitalitas University of Angers, Dr. Sylvine Pickel–Chevalier, salah satu penganggas acara ini pada mulanya adalah ide menggelar seminar pariwisata Indonesia di Angers. Lalu, muncul gagasan untuk melaksanakan Festival Internasional dengan tema pariwisata.

“Gagasan itu disetujui pemerintah lokal sehingga bisa terlaksana,” kata Sylvine, yang kemudian beranggung jawab sebagai panitia untuk seminar. Sementara itu, panitia festival internasional ditangani tim lain.

University of Angers khususnya Fakultas Pariwisata dan Hospitalitas memiliki hubungan baik dengan Kedubes Indonesia di Perancis dan dengan institusi pendidikan di Indonesia, lewat kerja sama pendidikan seperti double degree dengan Universitas Udayana, Bali.

Kedekatan itu memperlancar usaha mendapatkan dukungan dari Kedubes RI di Perancis, termasuk dalam kegiatan-kegiatan selama festival.

Dalam festival pariwisata dan simposium ini, Kedubes Indonesia memberikan kontribusi dalam penampilkan kesenian. Selain dalam menyajikan tari-tarian dalam pembukaan festival dan makan malam, juga dalam penampilan parade gamelan Bali baleganjur, pelatihan angklung, pementasan tari Jawa, dan pertunjukan Bali.

“Saya berharap agar kegiatan seni dan budaya Indonesia di Angers mendapat liputak luas media sehingga masyarakat tertarik menikmati,” ujar Dubes Letjen (Pur) Hotmangaradja M.P. Pandjaitan.

Dubes Hotmangaradja M.P. Pandjaitan berharap agar hubungan yang baik antara kedua negara dapat meningkat terus, baik antar-pemerintah (G to G), antar pengusaha (B to B), dan antar-warga (P to P).

Sesi presentasi tentang pariwisata Indonesia di festival pariwisata internasional. Foto Darma Putra.

Memupuk Hubungan Baik

Selain menyajikan beberapa pertunjukan dalam festival, perwakilan pemerintah Indonesia di Perancis juga ambil bagian dalam simposium. Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Prof. Dr. Surya Rosa Putra, M.S. tampil sebagai salah satu panelis dalam diskusi tentang peran pendidikan dalam membangun pariwisata berkelanjutan.

Dalam presentasinya, Prof. Surya Putra menyampaikan bahwa pariwisata tidak saja sumber pendapatan ekonomi, tetapi juga saran untuk mengharmoniskan hubungan antar-negara.

“Lewat pariwisata kita bisa mempromosikan pendidikan bersama, memperkenalkan kuliner, melakukan berbagai kegiatan bersama untuk memupuk hubungan baik kedua negara,” katanya.

Dari Universitas Udayana hadir Ketua Prodi Doktor Pariwisata Prof. K.G. Bendesa dan Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Prof. I Nyoman Darma Putra yang menyajikan makalah bersama dengan Sylvine tentang desa wisata terpadu dan sebagai pimpinan sidang untuk presentasi makalah.

Hadir juga pengamat dari Kementerian Pariwisata Indonesia yaitu Sumarni (Kabid Strategi Pemasaran Pariwisata Pasar Asia Tenggara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara) dan Desty Murniati (Kasubbid Perancangan Amerika Afrika, Asdep Strategi Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara).

Keseluruhan acara berlangsung lancar, penuh arti, dan membuka peluang meningkatkan jaringan profesional antara dosen dan peneliti. [b]

Catatan: Tulisan ini pertama kali terbit di blog Dasar Bali.

The post Bali Turut Meriahkan Festival Pariwisata di Perancis appeared first on BaleBengong.

Penakluk Ombak yang Membuat Bali Semarak

Kuta menjadi salah satu lokasi favorit bagi pemburu ombak yang datang ke Bali. Foto Anton Muhajir.

Pantai-pantai Bali demikian indah dan menantang untuk ditaklukkan.

Saat terbang ke Perancis lewat Hong Kong dengan maskapai Cathay Pacific, Selasa, 13 Juni 2017, saya agak kaget melihat sejumlah penumpang antre dengan papan selancar gede-gede. Suasananya seperti hendak terbang ke Australia, negeri yang warganya banyak gemar berselancar.

Antrean panjang dan bergerak sedikit lambat. Bukan saja karena penumpangnya banyak, tetapi juga karena pelayananpelaporan (check in) agak lama karena petugas pasasi harus mengurus alat berselancar.

Pemandangan turis membawa papan selancar di Bandara Ngurah Rai sebetulnya tidak aneh. Banyak turis Australia yang datang dan pergi membawa surf board mereka. Di konter-konter pelaporan pesawat tujuan ke Negeri Kanguru, antrean panjang papan selancar merupakan pemandangan biasa.

Begitu juga kalau check in di bandara-bandara di Australia untuk penerbangan ke Bali. Sudah pasti banyak wisatawan yang membawa papan selancar, untuk mereka gunakan menyemarakkan liburan mereka dengan bermain ombak di Bali.

Kalau mau, mereka bisa menyewa papan selancar di Bali, tetapi membawa sendiri papan kesayangan dan biasa dipakai, adalah alasan menggendongnya ke Bali. Maka jadilah suasana pelaporan seperti suasana dekat pantai karena pemandangan piranti berselancar.

Syukurlah Bali memiliki alam indah terutama pantai dengan ombak menantang untuk peselancar dunia berdatangan.

Tidak Sebanyak Biasanya

Saya menyampaikan keheranan kepada petugas check in di Cathay Pacific, kok banyak turis membawa papan surfing? Mereka dengan ramah dan tersenyum menyampaikan. ”Sering, Pak, tetapi tidak sebanyak hari ini. Biasanya ada saja satu dua, tetapi hari ini memang agak banyak,” katanya.

Petugas tadi menambahkan bahwa wisatawan laki-laki yang memabwa papan surfing itu bukan tinggal di Hong Kong tetapi Amerika.

“Last destination mereka Amerika, Pak,” tambahnya menuturkan tujuan akhir penerbangan para peselancar bertubuh atletis itu.

Ramainya penumpang Cathay Pasific saat itu karena merupakan codeshare alias penerbangan bersama dengan dua maskapai lainnya yaitu American Airlines dan Japan Airlines. Ke negeri Amerika itulah peselancar terbang mengakhiri liburannya di Bali.

Pemandangan di depan konter penerbangan itu menunjukkan bahwa penggemar surfing di Bali tidak saja datang dari negeri dekat seperti Australia, tetapi juga jauh dari Amerika. Untuk terbang ke Amerika bisa perlu waktu 20-an jam untuk datang ke Bali.

Penggemar selancar tidak peduli jarak kiranya. Mereka sudi datang jauh mungkin karena gelombang ombak di pantai-pantai Bali demikian indah dan menantang untuk ditaklukkan dengan menari di papan selancar.

Syukurlah Bali memiliki alam yang indah terutama pantai dengan ombak yang menantang untuk peselancar dunia berdatangan terus ke Pulau Dewata.

Selain kekayaan budaya, nyata bahwa daya tarik pariwisata budaya Bali adalah aktivitas bahari. Pariwisata bahari memperkuat pariwisata budaya. Jayalah pariwisata Bali dengan aneka daya tarik! [b]

The post Penakluk Ombak yang Membuat Bali Semarak appeared first on BaleBengong.

Penakluk Ombak yang Membuat Bali Semarak

Kuta menjadi salah satu lokasi favorit bagi pemburu ombak yang datang ke Bali. Foto Anton Muhajir.

Pantai-pantai Bali demikian indah dan menantang untuk ditaklukkan.

Saat terbang ke Perancis lewat Hong Kong dengan maskapai Cathay Pacific, Selasa, 13 Juni 2017, saya agak kaget melihat sejumlah penumpang antre dengan papan selancar gede-gede. Suasananya seperti hendak terbang ke Australia, negeri yang warganya banyak gemar berselancar.

Antrean panjang dan bergerak sedikit lambat. Bukan saja karena penumpangnya banyak, tetapi juga karena pelayananpelaporan (check in) agak lama karena petugas pasasi harus mengurus alat berselancar.

Pemandangan turis membawa papan selancar di Bandara Ngurah Rai sebetulnya tidak aneh. Banyak turis Australia yang datang dan pergi membawa surf board mereka. Di konter-konter pelaporan pesawat tujuan ke Negeri Kanguru, antrean panjang papan selancar merupakan pemandangan biasa.

Begitu juga kalau check in di bandara-bandara di Australia untuk penerbangan ke Bali. Sudah pasti banyak wisatawan yang membawa papan selancar, untuk mereka gunakan menyemarakkan liburan mereka dengan bermain ombak di Bali.

Kalau mau, mereka bisa menyewa papan selancar di Bali, tetapi membawa sendiri papan kesayangan dan biasa dipakai, adalah alasan menggendongnya ke Bali. Maka jadilah suasana pelaporan seperti suasana dekat pantai karena pemandangan piranti berselancar.

Syukurlah Bali memiliki alam indah terutama pantai dengan ombak menantang untuk peselancar dunia berdatangan.

Tidak Sebanyak Biasanya

Saya menyampaikan keheranan kepada petugas check in di Cathay Pacific, kok banyak turis membawa papan surfing? Mereka dengan ramah dan tersenyum menyampaikan. ”Sering, Pak, tetapi tidak sebanyak hari ini. Biasanya ada saja satu dua, tetapi hari ini memang agak banyak,” katanya.

Petugas tadi menambahkan bahwa wisatawan laki-laki yang memabwa papan surfing itu bukan tinggal di Hong Kong tetapi Amerika.

“Last destination mereka Amerika, Pak,” tambahnya menuturkan tujuan akhir penerbangan para peselancar bertubuh atletis itu.

Ramainya penumpang Cathay Pasific saat itu karena merupakan codeshare alias penerbangan bersama dengan dua maskapai lainnya yaitu American Airlines dan Japan Airlines. Ke negeri Amerika itulah peselancar terbang mengakhiri liburannya di Bali.

Pemandangan di depan konter penerbangan itu menunjukkan bahwa penggemar surfing di Bali tidak saja datang dari negeri dekat seperti Australia, tetapi juga jauh dari Amerika. Untuk terbang ke Amerika bisa perlu waktu 20-an jam untuk datang ke Bali.

Penggemar selancar tidak peduli jarak kiranya. Mereka sudi datang jauh mungkin karena gelombang ombak di pantai-pantai Bali demikian indah dan menantang untuk ditaklukkan dengan menari di papan selancar.

Syukurlah Bali memiliki alam yang indah terutama pantai dengan ombak yang menantang untuk peselancar dunia berdatangan terus ke Pulau Dewata.

Selain kekayaan budaya, nyata bahwa daya tarik pariwisata budaya Bali adalah aktivitas bahari. Pariwisata bahari memperkuat pariwisata budaya. Jayalah pariwisata Bali dengan aneka daya tarik! [b]

The post Penakluk Ombak yang Membuat Bali Semarak appeared first on BaleBengong.