Tag Archives: Wisata

Perjuangan Menemukan Keindahan Guwang Hidden Canyon

Pancuran di Tukad Beji digunakan oleh warga setempat untuk mandi maupun mencari air suci. Foto Anton Muhajir.

Gemericik air menyambut tiap pengunjung Sungai Beji.

Air mengalir tidak hanya dari sumber-sumber air alami tapi juga pancuran-pancuran buatan di sungai yang berlokasi di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar ini.

Untuk mencapai sungai atau Tukad Beji, pengunjung harus menapaki tangga turun tak sampai 100 meter dari loket tiket masuk. Tangga itu agak curam tapi relatif mudah dilalui karena sudah ditata rapi.

Sampai di bawah, suasana masih asri. Teduh dengan banyaknya pohon besar di kanan kiri tangga. Mendekati sungai, masih dari tangga turun, terlihat air mancur, Pura Beji, dan sungai dengan air jernih maupun batu-batu raksasa. Udara segar.

Warga menyebut lokasi itu Tukad Beji. Lokasinya di pinggiran desa berjarak sekitar 15 km dari Denpasar ke arah timur itu. Petunjuk masuknya di dekat Pura Dalem Desa Guwang. Air sungai dari empat pancuran di Pura Beji menjadi tempat mandi sehari-hari bagi warga setempat. Kadang-kadang mereka juga berendam di sungai.

Namun, sejak 2015 lalu, anak sungai Tukad Unda itu punya nama baru, Guwang Hidden Canyon alias Ngarai Tersembunyi di Guwang. Dinding tebing sepanjang sekitar 1 km itu mendadak populer bagi banyak orang.

Padahal, bagi warga setempat, sungai itu sebelumnya terkenal angker.

Batu-batu raksasa sebesar 1-2 meter menjadi salah satu tantangan menyusuri Tukad Beji. Foto Anton Muhajir.

Guwang Hidden Canyon memang baru populer 1,5 tahun lalu. Made Aryawan, salah satu warga mengatakan, Tukad Beji dulunya hanya menjadi tempat mandi bagi warga. Sungai lebih dalam, berjarak sekitar 50 meter dari Pura Beji di mana terdapat batu-batu sungai setinggi kira-kira 2 meter, sering menjadi tempat anak-anak berenang.

Namun, maraknya media sosial Instagram dan Facebook membuat tempat ini jadi terkenal sebagai tempat wisata dari sebelumnya hanya tempat mandi dan mencari air suci bagi umat Hindu Bali. Beberapa anak muda yang melihat sisi lain Sungai Beji mengunggah foto-foto mereka dengan latar belakang tebing.

Setelah itu, makin banyak pengunjung menjelajah sisi lain Tukad Beji. Warga pun mengelola tempat itu sebagai lokasi wisata.

Karena menantangnya medan, pengunjung harus pakai tali untuk menyeberang Sungai Beji. Foto Anton Muhajir.

Medan Menantang

Pengelola Guwang Hidden Canyon mengenakan tiket masuk seharga Rp 15.000 per porang. Mereka biasanya menawarkan juga pemandu lokal dengan biaya tambahan Rp 50 ribu per pemandu.

Sebaiknya, pengunjung memang menggunakan pemandu yang juga warga setempat. Selain sebagai penunjuk jalan, mereka juga akan membantu selama perjalanan. Sebab, percayalah, menjelajah Guwang Hidden Canyon memang tidak mudah. Apalagi bagi mereka yang tak biasa menjelajah medan sungai licin dan curam.

Seperti namanya, pesona utama Guwang Hidden Canyon memang pada tebing-tebing tersembunyi. Lokasi tebing itu tersembunyi di bagian tengah. Untuk itu pengunjung harus menyusuri sungai dengan melawan arus sepanjang sekitar 1 km dengan medan sangat menantang. Namun, justru itulah yang menjadi keseruan perjalanan menjelajah wisata alam Tebing Tersembunyi Guwang.

Tantangan pertama, batu-batu raksasa sepanjang sungai. Untuk mencapai tebing tersembunyi, pengunjung harus melewati batu-batu raksasa. Tingginya rata-rata 1-2 meter. Pengunjung harus mendaki batu-batu yang sebagian di antaranya licin dan berlumut.

Batu-batu besar itu ada terutama di bagian awal perjalanan menyusuri sungai. Dia jadi pijakan sebelum mencapai tantangan kedua, tebing-tebing licin.

Tidak mudah untuk menyusuri sungai dengan tebing setinggi kira-kira 10 meter ini. Di beberapa bagian, pengunjung harus memanjat tebing layaknya pemanjat tebing profesional. Kaki berpijak pada batu kecil yang menempel di tebing. Begitu pula dengan tangan sebagai penarik untuk mencapai titik selanjutnya.

Di sinilah perlunya pemandu lokal. Mereka tidak hanya tahu bagian-bagian mana saja tebing yang aman untuk dijadikan pijakan dan pegangan tapi juga membantu. I Made Aryawan menceritakan pernah ada turis dari India jatuh gara-gara tidak mau dikasih tahu oleh pemandu.

“Turisnya bengkung. Tidak mau dikasih tahu. Pas loncat dia jatuh ke sungai. Untung hanya jatuhnya ke air,” kata Aryawan yang juga pemandu lokal.

Dinding sungai serupa stalagmit menjadi keindahan tersembunyi di Tukad Beji. Foto Anton Muhajir.

Bisa Terjatuh

Sepanjang sekitar 1 km menyusuri sungai, perlu setidaknya lima kali memanjat naik turun dinding sungai. Jika tidak hati-hati, bisa-bisa terjatuh dan menghadapi tantangan ketiga, derasnya arus sungai.

Arus di Sungai Beji sendiri relatif kecil pada saat tidak ada hujan. Namun, menurut Aryawan, pada hari tertentu arus sungai bisa lebih besar misalnya setelah hujan. Toh, meskipun air juga tidak terlalu besar, kedalamannya tetap bisa sampai leher orang dewasa.

Di beberapa titik, air sungai tetap deras sehingga perlu berhati-hati. Sebagian turis ada yang memilih masuk ke air dan berenang daripada menempel ke dinding sungai. Tapi, lebih banyak yang memilih menempuh jalur biasa, melewati batu-batu raksasa lalu memanjat naik turun dinding sungai yang licin.

Aryawan mengatakan warga setempat memang tidak memberikan tambahan alat apa pun yang bisa merusak dinding sungai, misalnya tangga atau pijakan dan pegangan buatan untuk memudahkan. “Kami sengaja membiarkan alami dan apa adanya,” katanya.

Mike dan Owen, turis dari Thailand, termasuk di antara yang memilih cara melewati batu dan memanjat dinding. Dengan celana pendek dan tas punggung, pakaian biasa ala turis, bukan khas petualang, mereka menyusuri Tukad Beji bersama Aryawan.

“Menakjubkan meskipun melelahkan,” kata Mike yang baru pertama kali ke Bali.

Dia mengaku tahu tentang Guwang Hidden Canyon dari pemandunya selama di Bali. Meskipun awalnya ragu-ragu, dia kemudian menyelesaikan juga satu jam perjalanan hingga lokasi utama tebing-tebing tersembunyi di Tukad Beji.

Lokasi utama itu berupa dinding sungai, tebing di kanan kiri, serupa stalakmit. Batu-batu kehitaman itu tergerus air sehingga membentuk lekukan-lekukan serupa lukisan. Di atasnya, rimbun dan hijau pohon membuat suasana terasa segar bercampur air di sungai ataupun yang merembes dari dinding-dinding sungai.

Setelah sampai titik itu, pengunjung bisa memilih naik dan kembali ke lokasi awal sebelum mulai. Piliha lain, bisa juga melanjutkan perjalanan menyusuri sisi lain Tukad Beji. “Tapi pemandangannya sudah tidak seindah di sini,” kata Aryawan.

Tukad Beji menyembunyikan keindahan dindingnya di balik menantangnya jalur menuju tebing tersebut. Foto Anton Muhajir.

Tiga Persiapan

Agar lebih bisa menikmati perjalanan menyusuri Tebing Tersembunyi Tukad Beji, sebaiknya pengunjung mempersiapkan diri.

Pertama, pakaian. Dengan medan menantang dan naik turun, gunakanlah pakaian luar ruang (out door) yang lebih fleksibel. Misalnya celana pendek dan kaos. Untuk perempuan, hindari pakai rok jika mau ke sini. Tidak akan bisa menyusuri sungai.

Kedua, alas kaki. Lebih baik gunakan sandal gunung, bukan sepatu kets atau sandal jepit karena medannya yang licin. Selain itu juga pasti masuk air. Jika punya, lebih baik gunakan sepatu khusus untuk panjat tebing. Lebih mudah memanjat dinding sungai dengan sepatu khusus ini.

Pilihan lain, cukup telanjang kaki tapi harus hati-hati terutama di bagian tertentu yang batunya tajam.

Ketiga, hormati budaya lokal. Tukad Beji adalah lokasi di mana terdapat Pura Beji yang disucikan umat Hindu setempat. Jadi, bersikaplah sopan dengan tidak berkata-kata kotor selama perjalanan. [b]

Catatan: Artikel ini pertama kali terbit di website lingkungan Mongabay.

The post Perjuangan Menemukan Keindahan Guwang Hidden Canyon appeared first on BaleBengong.

Indahnya Cahaya di Nusa Dua Light Festival

Nusa Dua Light Festival bisa menjadi pilihan selama liburan hingga Juli nanti. Foto Herdian Armandhani.

Nusa Dua Light Festival bisa jadi destinasi wisata baru.

Festival cahaya di Nusa Dua ini bisa menjadi alternatif lokasi libur Lebaran di Bali bersama keluarga, rekan kerja, maupun sahabat. Lokasinya di Kawasan BTDC, Peninsula Island, Nusa Dua, Kabupaten Badung.

Mengangkat tema “ The Shine of Peninsula Island”, festival menawarkan taman cahaya yang menawarkan keindahan lampu-lampu dengan beraneka warna dan bentuk memukau. Di sini kita akan menemukan ornamen gapura dari negara lain seperti India dan China, adang bunga yang begitu luas, naga, romantic garden dan masih banyak lagi.

Nusa Dua Light Festival hadir menemani masyarakat Bali dari 17 Juni hingga 31 Juli. Waktu yang tepat untuk mengunjungi Nusa Dua Light Festival adalah saat matahari akan terbenam.

Harga tiket masuk untuk warga lokal sangat terjangkau. Pada Senin hingga Kamis dikenakan Rp 20.000. Hari Jumat dan Sabtu harga tiket menjadi Rp 30.000. Hari libur dikenakan biaya Rp 30.000. Adapun wisatawan mancanegara harga tiket Senin hingga Kamis dikenakan Rp 75.000. Hari Jumat, Sabtu, dan hari Libur dikenakan biaya tiket Rp 100.000 saja.

Festival buka dari pukul 17.00 sampai 22.00 WITA. Pengunjung yang ingin ke Nusa Dua Light Festival bisa memarkir kendaraannya di sebelah timur Peninsula Island. Ada baikknya menggunkan kendaraan roda dua untuk berkunjung ke lokasi.

Warna-warni Nusa Dua Light Festival cocok untuk tempat selfie. Herdian Armandhani.

Pengunjung yang berada di Lokasi juga disediakan stand-stand food court yang siap melayani dengan ramah. Lokasi festival sangat cocok untuk berswafoto. Namun, perlu diingat gunakan kamera yang pencahayaannya cukup bagus sebab bila tidak gambar yang dihasilkan akan sedikit gelap.

Pengunjung dilarang menyentuh maupun memegang lampu-lampu demi kenyamanan dan keamanan bersama.

Ngurah Sudarsana salah seorang pelajar yang berkunjung ke Nusa Dua Light Festival mengatakan bahwa even Nusa Dua Light Festival sangat menakjubkan dan sayang untuk tidak berkunjung kesana.

“Keren banget lampu-lampu di lokasi Nusa Dua Light Festival, gak rugi jauh-jauh datang kesini. Banyak spot untuk mengabadikan momen disini yang begitu indah,” ungkapnya. [b]

The post Indahnya Cahaya di Nusa Dua Light Festival appeared first on BaleBengong.

Bali Turut Meriahkan Festival Pariwisata di Perancis

Tari Penyembrama meriahkan pembukaan Festival Pariwisata Internasional di Perancis. Foto Darma Putra.

Bali hadir di festival pariwisata melalui tari dan presentasi.

Tari Panyembrama memeriahkan pembukaan ”Festival International du Tourisme” (Festival Pariwisata Internasional) di kota Angers, Perancis pada Jumat (16/6).Selain tarian Bali, juga ditampilkan tari Jawa, keduanya menambah suasana Indonesia dari Festival Pariwisata Internasional.

Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Perancis, Letjen (Pur) Hotmangaradja M.P. Pandjaitan, membuka festival yang dihadiri sekitar 300 orang dari pemerintah setempat, pengusaha biro perjalanan, dan peserta seminar. Pembukaan di Mercure Hotel Angers, dimeriahkan dengan bursa wisata yang diikuti biro perjalanan setempat yang menjual tur ke berbagai negara seperti Afrika, Amerika, dan tentu saja Indonesia.

Kesenian Indonesia disajikan oleh kelompok penari Asosiasi Pantcha Indra yang berkedudukan di Perancis. Selain tampil dalam pemeran pariwisata internasional, mereka juga tampil dalam jamuan makan malam semalam sebelumnya di David Galeries Angers, di mana ditampilkan tari topeng dan jaipongan.

Festival Pariwisata Internasional di Perancis mempromosikan kesenian lain dari Indonesia. Foto Darma Putra.

 

Kedubes Dukung Festival

Kedubes Indonesia di Perancis menjadi undangan utama dalam mendukung acara tersebut. Kota Angers secara rutin mengadakan festival internasional setiap tahun tetapi kali ini tema yang diambil adalah ‘Pariwisata’. Tema ini baru pertama kali diangkat, sebelumnya tema yang diambil berbeda-beda.

Menurut dosen pariwisata dan hospitalitas University of Angers, Dr. Sylvine Pickel–Chevalier, salah satu penganggas acara ini pada mulanya adalah ide menggelar seminar pariwisata Indonesia di Angers. Lalu, muncul gagasan untuk melaksanakan Festival Internasional dengan tema pariwisata.

“Gagasan itu disetujui pemerintah lokal sehingga bisa terlaksana,” kata Sylvine, yang kemudian beranggung jawab sebagai panitia untuk seminar. Sementara itu, panitia festival internasional ditangani tim lain.

University of Angers khususnya Fakultas Pariwisata dan Hospitalitas memiliki hubungan baik dengan Kedubes Indonesia di Perancis dan dengan institusi pendidikan di Indonesia, lewat kerja sama pendidikan seperti double degree dengan Universitas Udayana, Bali.

Kedekatan itu memperlancar usaha mendapatkan dukungan dari Kedubes RI di Perancis, termasuk dalam kegiatan-kegiatan selama festival.

Dalam festival pariwisata dan simposium ini, Kedubes Indonesia memberikan kontribusi dalam penampilkan kesenian. Selain dalam menyajikan tari-tarian dalam pembukaan festival dan makan malam, juga dalam penampilan parade gamelan Bali baleganjur, pelatihan angklung, pementasan tari Jawa, dan pertunjukan Bali.

“Saya berharap agar kegiatan seni dan budaya Indonesia di Angers mendapat liputak luas media sehingga masyarakat tertarik menikmati,” ujar Dubes Letjen (Pur) Hotmangaradja M.P. Pandjaitan.

Dubes Hotmangaradja M.P. Pandjaitan berharap agar hubungan yang baik antara kedua negara dapat meningkat terus, baik antar-pemerintah (G to G), antar pengusaha (B to B), dan antar-warga (P to P).

Sesi presentasi tentang pariwisata Indonesia di festival pariwisata internasional. Foto Darma Putra.

Memupuk Hubungan Baik

Selain menyajikan beberapa pertunjukan dalam festival, perwakilan pemerintah Indonesia di Perancis juga ambil bagian dalam simposium. Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Prof. Dr. Surya Rosa Putra, M.S. tampil sebagai salah satu panelis dalam diskusi tentang peran pendidikan dalam membangun pariwisata berkelanjutan.

Dalam presentasinya, Prof. Surya Putra menyampaikan bahwa pariwisata tidak saja sumber pendapatan ekonomi, tetapi juga saran untuk mengharmoniskan hubungan antar-negara.

“Lewat pariwisata kita bisa mempromosikan pendidikan bersama, memperkenalkan kuliner, melakukan berbagai kegiatan bersama untuk memupuk hubungan baik kedua negara,” katanya.

Dari Universitas Udayana hadir Ketua Prodi Doktor Pariwisata Prof. K.G. Bendesa dan Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Prof. I Nyoman Darma Putra yang menyajikan makalah bersama dengan Sylvine tentang desa wisata terpadu dan sebagai pimpinan sidang untuk presentasi makalah.

Hadir juga pengamat dari Kementerian Pariwisata Indonesia yaitu Sumarni (Kabid Strategi Pemasaran Pariwisata Pasar Asia Tenggara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara) dan Desty Murniati (Kasubbid Perancangan Amerika Afrika, Asdep Strategi Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara).

Keseluruhan acara berlangsung lancar, penuh arti, dan membuka peluang meningkatkan jaringan profesional antara dosen dan peneliti. [b]

Catatan: Tulisan ini pertama kali terbit di blog Dasar Bali.

The post Bali Turut Meriahkan Festival Pariwisata di Perancis appeared first on BaleBengong.

Penakluk Ombak yang Membuat Bali Semarak

Kuta menjadi salah satu lokasi favorit bagi pemburu ombak yang datang ke Bali. Foto Anton Muhajir.

Pantai-pantai Bali demikian indah dan menantang untuk ditaklukkan.

Saat terbang ke Perancis lewat Hong Kong dengan maskapai Cathay Pacific, Selasa, 13 Juni 2017, saya agak kaget melihat sejumlah penumpang antre dengan papan selancar gede-gede. Suasananya seperti hendak terbang ke Australia, negeri yang warganya banyak gemar berselancar.

Antrean panjang dan bergerak sedikit lambat. Bukan saja karena penumpangnya banyak, tetapi juga karena pelayananpelaporan (check in) agak lama karena petugas pasasi harus mengurus alat berselancar.

Pemandangan turis membawa papan selancar di Bandara Ngurah Rai sebetulnya tidak aneh. Banyak turis Australia yang datang dan pergi membawa surf board mereka. Di konter-konter pelaporan pesawat tujuan ke Negeri Kanguru, antrean panjang papan selancar merupakan pemandangan biasa.

Begitu juga kalau check in di bandara-bandara di Australia untuk penerbangan ke Bali. Sudah pasti banyak wisatawan yang membawa papan selancar, untuk mereka gunakan menyemarakkan liburan mereka dengan bermain ombak di Bali.

Kalau mau, mereka bisa menyewa papan selancar di Bali, tetapi membawa sendiri papan kesayangan dan biasa dipakai, adalah alasan menggendongnya ke Bali. Maka jadilah suasana pelaporan seperti suasana dekat pantai karena pemandangan piranti berselancar.

Syukurlah Bali memiliki alam indah terutama pantai dengan ombak menantang untuk peselancar dunia berdatangan.

Tidak Sebanyak Biasanya

Saya menyampaikan keheranan kepada petugas check in di Cathay Pacific, kok banyak turis membawa papan surfing? Mereka dengan ramah dan tersenyum menyampaikan. ”Sering, Pak, tetapi tidak sebanyak hari ini. Biasanya ada saja satu dua, tetapi hari ini memang agak banyak,” katanya.

Petugas tadi menambahkan bahwa wisatawan laki-laki yang memabwa papan surfing itu bukan tinggal di Hong Kong tetapi Amerika.

“Last destination mereka Amerika, Pak,” tambahnya menuturkan tujuan akhir penerbangan para peselancar bertubuh atletis itu.

Ramainya penumpang Cathay Pasific saat itu karena merupakan codeshare alias penerbangan bersama dengan dua maskapai lainnya yaitu American Airlines dan Japan Airlines. Ke negeri Amerika itulah peselancar terbang mengakhiri liburannya di Bali.

Pemandangan di depan konter penerbangan itu menunjukkan bahwa penggemar surfing di Bali tidak saja datang dari negeri dekat seperti Australia, tetapi juga jauh dari Amerika. Untuk terbang ke Amerika bisa perlu waktu 20-an jam untuk datang ke Bali.

Penggemar selancar tidak peduli jarak kiranya. Mereka sudi datang jauh mungkin karena gelombang ombak di pantai-pantai Bali demikian indah dan menantang untuk ditaklukkan dengan menari di papan selancar.

Syukurlah Bali memiliki alam yang indah terutama pantai dengan ombak yang menantang untuk peselancar dunia berdatangan terus ke Pulau Dewata.

Selain kekayaan budaya, nyata bahwa daya tarik pariwisata budaya Bali adalah aktivitas bahari. Pariwisata bahari memperkuat pariwisata budaya. Jayalah pariwisata Bali dengan aneka daya tarik! [b]

The post Penakluk Ombak yang Membuat Bali Semarak appeared first on BaleBengong.