Tag Archives: Vlogger

Perjuangan kita masih panjang!





 “Mereka menunggu kita lelah, mereka menunggu kita bosan!”

“Jangan pernah lelah, jangan pernah bosan, jangan pernah putus asa!”

“Begitu kita lelah, mereka akan senang dan akan memainkan agendanya”

“Selamatkan Teluk Benoa! #BaliTolakReklamasi!”

Tanda tangani petisi ini:
informasi lebih lanjut : forbali.org

Ber – kontemplasi Bali saat Galungan

Sebenarnya postingan ini muncul tidak disiapkan secara khusus. Kebetulan saya sedang membuat tugas kampus yang harus dikumpul jumat lusa. Iseng ingin refreshing sekilas malah terbersit pikiran – pikiran ringan seperti biasanya.






17 Desember 2014. Hari Rabu dan beberapa hari lagi sebelum Tahun Masehi Berganti. Hari ini di Bali sedang terdapat perayaan Galungan. Sebuah hari yang dipercaya sebagai hari kemenangan Dharma (kebaikan) terhadap Adharma (kebatilan). Rentetan dari hari raya Galungan ini kemudian berlanjut kepada Perayaan Kuningan tepat 10 hari setelah Galungan. Oke, untuk penjelasan Galungan, kita semua bisa lihat di internet. Ketik saja di mbah google kata Galungan, akan ada rentetan situs terkait yang berhubungan dengan Galungan.

                Selebrasi Galungan dan Kuningan kita sering alami di pulau Bali ini. Semua orang bersuka cita terhadap hari spesial ini dengan cara sembahyang kepada leluhur dan hiasan penjor – penjor menghiasi lebuh (depan) rumah. Bau dupa, bunga dari canang, segarnya air tirta dan kidung mantra berdampingan dengan para pemedek (masyarakat)  yang membludak di pura serta merajan, menandakan antusiasme untuk melakukan persembahyangan. Desa – desa di Bali kemudian kembali ramai. Meninggalkan hiruk – pikuk Denpasar maupun kuta yang biasanya padat penduduk. Bisa dipastikan saat ini keluarga besar sedang bersenang hati berkumpul di desa mereka masing – masing. Ditambah juga para leluhur yang datang untuk ikut mengisi kebahagiaan keturunannya di dunia.

                Setelah merayakan Galungan, masyarakat kembali menjalankan aktivitasnya dan menunggu untuk perayaan Kuningan yang akan datang. Sama. Persembahyangan yang padat dengan tingginga antusiasme masyarakat di tengah pesona adat. Setelah itu? Biasanya akan kembali terhadap kegiatan biasa. Mungkin setelah ini dapat sedikit bersenang diri karena secara berturut akan muncul perayaan Natal bagi umat Kristiani dan pergantian tahun yang, menurut saya, akan terasa peningkatan hingar bingar keceriannya.

                Ketika semua sedang bersuka cita, apakah ada waktu untuk diri sendiri? Di saat masyarakat lelah untuk bekerja, ada saatnya mereka menghabiskan waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan energi untuk esok hari. Ketika weekend datang, harus ada hal yang di rungu (diurus) diluar kegiatan sehari – hari. Apel ke tempat pacar. Kumpul bersama teman sejawat. Bertamasya dengan keluarga kecil. Sungguh sedikit rasanya memberikan diri kesempatan untuk sendiri.

                Saya hanya mengenal lebih dekat diri saya. Maafkan jika saya salah jika ternyata teman – teman ternyata telah mampu menyisihkan waktu untuk diri sendiri. Memberikan waktu untuk memanjakan diri melalui renungan kapada setiap pertanyaan pada fenomena di sekitar kita. Sama seperti saya. Yang ingin memberi waktu untuk diri melihat Bali dari sudut tertentu. Yang saat ini saya mengambil fokus pariwisata yang ada di Bali. Sebuah kontemplasi Bali. Buah pemikiran sederhana yang mungkin menjadi berguna di malam ini. Di malam Galungan. Di malam kemenangan Dharma. Dengan pemikiran saya dan perhatian anda. Mungkin setelah ini kita akan menjadi lebih gemar berdiam diri untuk merenung dan memberikan waktu untuk diri melihat hal – hal sekitar yang kadang terlewat dari perhatian. Rahajeng Galungan Lan Kuningan Semeton tyang Sinamian. Amerta Swaha.




Ber – kontemplasi Bali saat Galungan

Sebenarnya postingan ini muncul tidak disiapkan secara khusus. Kebetulan saya sedang membuat tugas kampus yang harus dikumpul jumat lusa. Iseng ingin refreshing sekilas malah terbersit pikiran – pikiran ringan seperti biasanya.






17 Desember 2014. Hari Rabu dan beberapa hari lagi sebelum Tahun Masehi Berganti. Hari ini di Bali sedang terdapat perayaan Galungan. Sebuah hari yang dipercaya sebagai hari kemenangan Dharma (kebaikan) terhadap Adharma (kebatilan). Rentetan dari hari raya Galungan ini kemudian berlanjut kepada Perayaan Kuningan tepat 10 hari setelah Galungan. Oke, untuk penjelasan Galungan, kita semua bisa lihat di internet. Ketik saja di mbah google kata Galungan, akan ada rentetan situs terkait yang berhubungan dengan Galungan.

                Selebrasi Galungan dan Kuningan kita sering alami di pulau Bali ini. Semua orang bersuka cita terhadap hari spesial ini dengan cara sembahyang kepada leluhur dan hiasan penjor – penjor menghiasi lebuh (depan) rumah. Bau dupa, bunga dari canang, segarnya air tirta dan kidung mantra berdampingan dengan para pemedek (masyarakat)  yang membludak di pura serta merajan, menandakan antusiasme untuk melakukan persembahyangan. Desa – desa di Bali kemudian kembali ramai. Meninggalkan hiruk – pikuk Denpasar maupun kuta yang biasanya padat penduduk. Bisa dipastikan saat ini keluarga besar sedang bersenang hati berkumpul di desa mereka masing – masing. Ditambah juga para leluhur yang datang untuk ikut mengisi kebahagiaan keturunannya di dunia.

                Setelah merayakan Galungan, masyarakat kembali menjalankan aktivitasnya dan menunggu untuk perayaan Kuningan yang akan datang. Sama. Persembahyangan yang padat dengan tingginga antusiasme masyarakat di tengah pesona adat. Setelah itu? Biasanya akan kembali terhadap kegiatan biasa. Mungkin setelah ini dapat sedikit bersenang diri karena secara berturut akan muncul perayaan Natal bagi umat Kristiani dan pergantian tahun yang, menurut saya, akan terasa peningkatan hingar bingar keceriannya.

                Ketika semua sedang bersuka cita, apakah ada waktu untuk diri sendiri? Di saat masyarakat lelah untuk bekerja, ada saatnya mereka menghabiskan waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan energi untuk esok hari. Ketika weekend datang, harus ada hal yang di rungu (diurus) diluar kegiatan sehari – hari. Apel ke tempat pacar. Kumpul bersama teman sejawat. Bertamasya dengan keluarga kecil. Sungguh sedikit rasanya memberikan diri kesempatan untuk sendiri.

                Saya hanya mengenal lebih dekat diri saya. Maafkan jika saya salah jika ternyata teman – teman ternyata telah mampu menyisihkan waktu untuk diri sendiri. Memberikan waktu untuk memanjakan diri melalui renungan kapada setiap pertanyaan pada fenomena di sekitar kita. Sama seperti saya. Yang ingin memberi waktu untuk diri melihat Bali dari sudut tertentu. Yang saat ini saya mengambil fokus pariwisata yang ada di Bali. Sebuah kontemplasi Bali. Buah pemikiran sederhana yang mungkin menjadi berguna di malam ini. Di malam Galungan. Di malam kemenangan Dharma. Dengan pemikiran saya dan perhatian anda. Mungkin setelah ini kita akan menjadi lebih gemar berdiam diri untuk merenung dan memberikan waktu untuk diri melihat hal – hal sekitar yang kadang terlewat dari perhatian. Rahajeng Galungan Lan Kuningan Semeton tyang Sinamian. Amerta Swaha.




Ber – kontemplasi Bali saat Galungan

Sebenarnya postingan ini muncul tidak disiapkan secara khusus. Kebetulan saya sedang membuat tugas kampus yang harus dikumpul jumat lusa. Iseng ingin refreshing sekilas malah terbersit pikiran – pikiran ringan seperti biasanya.






17 Desember 2014. Hari Rabu dan beberapa hari lagi sebelum Tahun Masehi Berganti. Hari ini di Bali sedang terdapat perayaan Galungan. Sebuah hari yang dipercaya sebagai hari kemenangan Dharma (kebaikan) terhadap Adharma (kebatilan). Rentetan dari hari raya Galungan ini kemudian berlanjut kepada Perayaan Kuningan tepat 10 hari setelah Galungan. Oke, untuk penjelasan Galungan, kita semua bisa lihat di internet. Ketik saja di mbah google kata Galungan, akan ada rentetan situs terkait yang berhubungan dengan Galungan.

                Selebrasi Galungan dan Kuningan kita sering alami di pulau Bali ini. Semua orang bersuka cita terhadap hari spesial ini dengan cara sembahyang kepada leluhur dan hiasan penjor – penjor menghiasi lebuh (depan) rumah. Bau dupa, bunga dari canang, segarnya air tirta dan kidung mantra berdampingan dengan para pemedek (masyarakat)  yang membludak di pura serta merajan, menandakan antusiasme untuk melakukan persembahyangan. Desa – desa di Bali kemudian kembali ramai. Meninggalkan hiruk – pikuk Denpasar maupun kuta yang biasanya padat penduduk. Bisa dipastikan saat ini keluarga besar sedang bersenang hati berkumpul di desa mereka masing – masing. Ditambah juga para leluhur yang datang untuk ikut mengisi kebahagiaan keturunannya di dunia.

                Setelah merayakan Galungan, masyarakat kembali menjalankan aktivitasnya dan menunggu untuk perayaan Kuningan yang akan datang. Sama. Persembahyangan yang padat dengan tingginga antusiasme masyarakat di tengah pesona adat. Setelah itu? Biasanya akan kembali terhadap kegiatan biasa. Mungkin setelah ini dapat sedikit bersenang diri karena secara berturut akan muncul perayaan Natal bagi umat Kristiani dan pergantian tahun yang, menurut saya, akan terasa peningkatan hingar bingar keceriannya.

                Ketika semua sedang bersuka cita, apakah ada waktu untuk diri sendiri? Di saat masyarakat lelah untuk bekerja, ada saatnya mereka menghabiskan waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan energi untuk esok hari. Ketika weekend datang, harus ada hal yang di rungu (diurus) diluar kegiatan sehari – hari. Apel ke tempat pacar. Kumpul bersama teman sejawat. Bertamasya dengan keluarga kecil. Sungguh sedikit rasanya memberikan diri kesempatan untuk sendiri.

                Saya hanya mengenal lebih dekat diri saya. Maafkan jika saya salah jika ternyata teman – teman ternyata telah mampu menyisihkan waktu untuk diri sendiri. Memberikan waktu untuk memanjakan diri melalui renungan kapada setiap pertanyaan pada fenomena di sekitar kita. Sama seperti saya. Yang ingin memberi waktu untuk diri melihat Bali dari sudut tertentu. Yang saat ini saya mengambil fokus pariwisata yang ada di Bali. Sebuah kontemplasi Bali. Buah pemikiran sederhana yang mungkin menjadi berguna di malam ini. Di malam Galungan. Di malam kemenangan Dharma. Dengan pemikiran saya dan perhatian anda. Mungkin setelah ini kita akan menjadi lebih gemar berdiam diri untuk merenung dan memberikan waktu untuk diri melihat hal – hal sekitar yang kadang terlewat dari perhatian. Rahajeng Galungan Lan Kuningan Semeton tyang Sinamian. Amerta Swaha.




Kumalagita


Kumalagita [Part 1]


Kumalagita [Part 2]

     Pertengahan tahun 2013 kemarin, saya memiliki pengalaman yang sangat menyenangkan. Nama pengalaman itu adalah Kumalagita. Projek band yang anggotanya merupakan comotan dari teman – teman dekat seperti Willy, Yoga, Risky dan Indra. Mereka asyik. Keasyikan itu bisa dilihat selanjutnya dari video di atas.


     Jika terbentuknya Kumalagita adalah kesenangan fase satu, kegembiraan fase berikutnya adalah manggungnya Kumalagita di acara Festival Budaya UKM Kesenian Udayana. Merupakan tantangan yang (sekali lagi) menyenangkan. Menantang karena dalam waktu kurang dari dua bulan, Kumalagita mempersiapkan kolaborasi dengan talenta UKM Kesenian Udayana seperti Tari Daerah, Paduan Suara, Musik  dan Tari Modern. Tidak lupa featuringdengan salah dua penghuni UKM Kesenian, Ary dan Irmey. Oh ya, Gung De dari Emoni Bali juga ikut meramaikan panggung ini bersama kami. List lagu adalah medley dari lagu – lagu nusantara. Dimulai dengan sinar tiga lampu motor seadanya. Dukungan penuh dari teman – teman yang sangat loyal. Panggung sederhana namun penuh makna. Di sini saya semakin yakin, bekerja sama dengan generasi (yang lebih) muda sangatlah menyenangkan. Semangat dan kreativitas kalian mampu membuktikan hal yang terasa tidak mungkin bagi sebagian orang. Menciptakan penampilan menarik bagi semua yang melihat dan mendengar. Terima kasih Kumalagita dan UKM Kesenian Udayana. Akhirnya saya bisa melaksanakan cita – cita saya mengibarkan bendera merah putih di panggung musik :D 

Kalau mau tahu lebih jauh teman – teman kreatif dari UKM Kesenian Udayana, Just click :