Tag Archives: UU Project

Lomba Foto UU Project: PR dari Indonesia Timur

banner-UUProject

1. Lomba terbuka untuk pelajar atau mahasiswa di seluruh Indonesia (dibuktikan dengan kartu mahasiswa atau kartu pelajar yang dikirimkan ke email kabar@balebengong.net)

2. Peserta harus like page UU Project dan follow akun @UUProject

3. Peserta mengunggah foto ke website Kabar3 untuk Indonesia dengan judul dan lokasi foto.

4. Foto yang diunggah harus diambil dengan ponsel, BUKAN dengan kamera SLR atau poket.

5. Tidak ada batasan jumlah foto yang diunggah dan diikutkan dalam lomba. Tiap peserta bebas mengirimkan foto sebanyak-banyaknya.

6. Pengiriman karya foto dibuka pada 1 Februari – 15 Maret 2014. Tenggat foto yang disertakan diunggah pada 15 Maret pukul 23.59 WIB.

7. Foto-foto peserta secara otomatis akan tampil di media sosial Twitter dan Facebook Kabar3 dan UU Project

8. Panitia akan memilih tiga foto terbaik dan satu foto favorit pada akhir lomba.

9. Setiap minggu selama lomba juga akan ada satu foto favorit. Juara favorit dinilai dari jumlah share dan vote terbanyak melalui Twitter dan Facebook yang ada di website Kabar3.com

10. Pengumuman hasil lomba akan disampaikan pada 22 Maret 2014 melalui Twitter, Facebook, website Kabar3 dan UU Project.

11. Keputusan panitia dan juri tidak bisa diganggu gugat

Mengulas Karya Terbaik di UU Project

Mandi Debu. Foto Shinta Annisa (Palembang)

Maaf agak telat membahas karya-karya terbaik dalam lomba foto UU Project.

Mohon maklum saja. Ini proyek probono alias modal kebaikan hati yang juga dikerjakan sambil cari amunisi. Jadi, ketika ada pekerjaan lain yang membuat dapur mengepul, urusan kerja sosial pun dikesampingkan dulu.

Tapi, baiklah. Kini kami sudah membuat catatan tersebut. Tentang kenapa foto-foto tersebut kami pilih sebagai foto terbaik dari ratusan peserta.

Sekadar mengingat lagi pengumuman kami dua pekan lalu. Tema lomba adalah Wajah Kota Kita. Lomba terbuka untuk pelajar dan mahasiswa se-Indonesia. Selama lebih dari sebulan pembukaan pendaftaran, kami menerima ratusan foto karya para peserta. Peserta lomba tersebar dari berbagai kota, seperti Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, Mataram, Makassar, Samarinda, dan lain-lain.

Pada umumnya, karya-karya peserta tersebut menarik. Bermodal telepon seluler, mereka bisa menangkap wajah kota masing-masing dari yang paling sederhana sampai paling kompleks. Misalnya pelanggaran lalu lintas, kemacetan, pengemis, pembangunan, taman kota, dan seterusnya.

Para peserta membuktikan bahwa ponsel bisa jadi alat untuk merekam wajah kota masing-masing sekaligus media untuk menyebarluaskannya. Ponsel adalah alat penting bagi pewarta warga.

Merah Putih Junir. Foto Asep Ardhie Nugroho (Ponorogo)

Perspektif
Tiga juri lomba ini adalah Beawiharta, fotografer Reuters; Catur Yudha Harian, koordinator Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali; dan saya sendiri sebagai pengelola jurnalisme warga. Kami ingin mengombinasikan perspektif dari fotografer profesional, aktivis lingkungan, dan pengelola media jurnalisme warga.

Dan, menurut saya, menarik melihat hasilnya perpaduan dari tiga perspektif tersebut. Saya sendiri cenderung memilih foto yang kuat pesannya dari sudut pandang jurnalisme warga. Teknis foto urusan belakangan. Di sisi lain, Mas Bea menekankan pada hal teknis seperti komposisi, angle, dan lain-lain. Adapun Mbak Catur cenderung memilih foto-foto yang memiliki pesan terkait dengan lingkungan.

Toh, dari sudut pandang berbeda tersebut, ternyata ada beberapa foto yang kami pilih bersama meskipun dengan nilai berbeda-beda. Foto-foto terpilih ini lalu kami nilai ulang untuk menyempitkan pilihan. Lalu, pilihan 10 foto terakhir itu kami nilai kembali agar mendapatkan tiga terbaik. Ternyata ya memang tak jauh beda dari pilihan-pilihan awal.

Setelah berdiskusi secara terpisah, antara Jakarta, Medan, dan Denpasar, kami pun sepakat memilih tiga foto terbaik yaitu terbaik I Mandi Debu karya Shinta Annisa (Palembang), terbaik II Merah Putih Junior karya Asep Adi Nugroho (Ponorogo), dan terbaik III Mobil Renang karya Luqman Arifin (Denpasar).

Ada beberapa alasan kenapa foto-foto tersebut kami pilih sebagai foto terbaik, setidaknya menurut saya.

Mobil Renang. Foto Luqman Arifin (Denpasar).

Berserakan
Pertama, kesesuaian dengan tema. Foto-foto pilihan tersebut mencerminkan pesan yang ingin kami gali dalam lomba ini, bagaimana wajah kota di mata warga. Wajah kota ini beragam dari tata kota, kemacetan, transportasi, dan lain-lain.

Karya Nisa, mahasiswa Universitas Sriwijaya, menceritakan bagaimana wajah Palembang yang sedang membangun. Ada kuli jalanan, debu berterbangan, juga bahan-bahan bangunan berserakan di pinggir jalan. Sementara itu para pemakai jalan lalu lalang di antara debu-debu dan bahan bangunan tersebut.

Karya Nisa menggambarkan wajah-wajah kota lainnya di Indonesia, bergerak dalam pembangunan namun di sisi lain kurang peduli pada keselamatan warga.

Secara teknis, foto ini juga menarik karena komposisi dan sudut pandangnya bagus. Dia memuat banyak objek dalam satu bingkai.

Kedua, kemampuan menyampaikan cerita. Luqman dari Denpasar, menurut saya, bisa menyampaikan bagaimana suasana banjir di salah satu jalan ketika hujan. Pada foto tersebut ada angkutan umum tanpa penumpang dan sepeda motor lalu lalang. Ini foto yang menurut saya bercerita banyak. Tentang drainase kota yang tidak bagus sehingga menyebabkan banjir. Ada pula pesan tak lakunya transportasi publik di kota ini.

Ketiga, tingkat kesulitan. Ini terlihat dari foto terbaik kedua karya Asep Adi Nugroho dari Ponorogo, Jawa Timur. Mahasiswa Universitas Airlangga ini menangkap anak-anak berangkat sekolah dalam bak mobil terbuka.

Secara teknis, foto ini tak terlalu bagus karena agak blur. Namun, ceritanya kuat. Bagaimana anak-anak sekolah tersebut harus berjuang demi pendidikan ketika transportasi publik tak terlalu memerhatikan aspek keselamatan.

Demikianlah kurang lebih hasil penilaian lomba foto UU Project.

Pada akhirnya, penilaian lomba foto bukanlah penilaian sepak bola yang dengan mudah dilakukan lewat angka-angka tak terbantahkan. Penilaian lomba foto tak bisa diobjektifkan, seperti Matematika. Pasti ada preferensi masing-masing juri. Pasti ada subjektivitas. Karena itu pula keputusan bisa diperdebatkan.

Selebihnya, silakan Anda menilai sendiri.

Teknik Memotret dengan Ponsel Pintar

citizen reporterBagi pewarta warga, ponsel pintar adalah senjata utama.

Dengan ponsel ini, warga bisa merekam hal-hal menarik di sekitarnya. Saat ini, semua ponsel pintar, dari yang paling canggih dan mahal hingga yang tiruan dan murah, pasti dilengkapi kamera.

Kualitas gambar dari ponsel pintar secara umum pun tidak kalah atau bahkan lebih bagus dibanding kamera SLR.

Dibandingkan kamera SLR, ponsel pintar justru memiliki beberapa kelebihan. Misalnya mudah untuk dibawa, praktis penggunaannya, dan gampang untuk langsung menyebarluaskan hasilnya. Atau Anda bahkan bisa memotret diam-diam tanpa harus terlihat mencolok jika pakai ponsel pintar.

Ternyata ponsel pintar tak hanya senjata tapi juga bisa jadi alat bagi mata-mata. Ponsel pintar bisa digunakan untuk menghasilkan foto jurnalistik yang lebih bercerita.

Agar hasil foto jurnalistik itu lebih bagus lagi, berikut adalah beberapa panduan sederhana bagaimana membuat foto berkualitas dengan ponsel pintar Anda.

PESAN UTAMA. Pastikan pesan utama yang ingin Anda sampaikan dalam foto. Makin jelas pesan yang ingin disampaikan maka makin mudah bagi Anda untuk memasukkan dalam foto.

BUATLAH AGAR HIDUP. Agar foto terlihat lebih hidup, masukkan unsur-unsur yang hidup dalam foto tersebut. Misalnya manusia, kucing, anjing, dan lain-lain. Jika memotret manusia (potret), usahakan agar objek ekspresinya juga lebih hidup. Daripada objek hanya diam mematung, tentu lebih baik kalau dia melakukan aktivitas tertentu.

ATUR KOMPOSISI. Secara alamiah, mata manusia lebih nyaman melihat sesuatu yang mendatar daripada vertikal. Karena itu, foto mendatar pun lebih nyaman dilihat daripada foto vertikal. Dalam foto horisontal, objek yang masuk pun bisa lebih banyak.

DIAM. Kamera dari ponsel pintar memiliki kelemahan dalam menangkap objek bergerak (cepat). Karena itu, memotret sesuatu yang diam akan lebih mudah daripada objek bergerak. Benda yang diam atau bergerak lambat akan terlihat lebih jelas sedangkan objek bergerak akan terlihat agak kabur terutama jika dia bergerak cepat.

MANFAATKAN CAHAYA. Sebagian besar ponsel pintar tidak dilengkapi dengan lampu (blitz). Karena itu pencahayaannya sangat tergantung cahaya di sekitarnya. Usahakan ketika memotret, posisi Anda sama dengan arah datangnya cahaya. Misalnya Anda memotret di luar ruangan pada pagi hari, maka sebaiknya Anda dari timur.

GUNAKAN BINGKAI. Agar foto lebih cantik, gunakanlah “bingkai” di sekitar tempat objek foto. Bingkai (frame) ini bisa berupa jendela, cabang-cabang pohon, lingkaran, dan lain-lain. Foto yang dibingkai akan terlihat lebih cantik dan menarik.

Jadi, masih bingung bagaimana menghasilkan foto bagus dengan ponsel?

Tidak usah pusing. Ambil ponsel pintar Anda sekarang juga, rekam hal-hal menarik di sekitar Anda, lalu sebarkan melalui dunia maya. Maka, Anda sudah menjadi pewarta warga. Anda sudah memproduksi informasi sendiri tak hanya mengonsumsi.

Ingat, Anda adalah informasi itu sendiri. No neuus without u!